Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan. Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 tahun ini juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya.

Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal.

Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan.  Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat.  Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.

Oktober 2003 lalu saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan  wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mangatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan (rincinya silakan baca blog saya http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/ ). Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.

Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berulang-ulang, yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern). Lalu berkembang hisab imkan rukyat (visibilitas hilal, menghitung kemungkinan hilal teramati), tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya masih rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria ijtimak qablal ghurub dan wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kurang keterlibatan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteria imkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.

Muhammdiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kelendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamal rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis  kadang mengidentikan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan.

Demi penyatuan ummat melalui kalender hijriyah, memang saya sering mengkritisi praktek hisab rukyat di NU, Muhammadiyah, dan Persis. NU dan Persis sangat terbuka terhadap perubahan. Muhammadiyah cenderung resisten dan defensif dalam hal metode hisabnya. Pendapatnya tampak merata di kalangan anggota Muhammadiyah, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal. Itu sudah menjadi keyakinan mereka yang katanya sulit diubah. Gerakan tajdid (pembaharuan) dalam ilmu hisab dimatikannya sendiri. Ketika diajak membahas kriteria imkan rukyat, tampak apriori seolah itu bagian dari rukyat yang terkesan dihindari.

Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kalendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!

Baca juga:

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/08/01/unifikasi-kalender-islam-nasional-regional-dan-global-mudah-asal-mau-bersepakat/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/11/04/hisab-wujudul-hilal-muhammadiyah-menghadapi-masalah-dalil-dan-berpotensi-menjadi-pseudosains/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/10/25/menuju-titik-temu-hisab-wujudul-hilal-dan-hisab-imkan-rukyat/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/03/mengalah-demi-ummat/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/10/05/kita-kritisi-wujudul-hilal-tetapi-kita-semua-mencintai-dan-menghormati-muhammadiyah/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/10/04/wujudul-hilal-tidak-ada-dasar-pembenaran-empiriknya/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/30/muhammadiyah-menuju-persatuan-semangat-kalender-unifikasi-didasarkan-pada-hisab-imkan-rukyat/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/05/wujudul-hilal-yang-usang-dan-jadi-pemecah-belah-ummat-harus-diperbarui/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/01/19/kritik-pakar-astronomi-muslim-dari-timur-tengah-dan-amerika-atas-penetapan-idul-fitri-1432-dan-penggunaan-wujudul-hilal/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/dalam-ranah-ilmiah-pakar-falak-muhammidyah-terbuka-terhadap-imkan-rukyat/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2013/08/05/peran-astronomi-dalam-penyatuan-penetapan-awal-bulan-qamariyah/

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2013/08/07/penyatuan-kalender-islam-selangkah-lagi/

 

About these ads

1.431 Tanggapan

  1. Saya kira Muhammadiyah ormas yang terbuka buat pembaruan demi kebenaran. Di sini peran pakar astronomi diperlukan untuk memberi pengertian kepada ormas ini. Atau, Muhammadiyah yang proaktif mengundang para pakar astronomi yang bidang terkait untuk berdiskusi tetang metode mana yang tepat untuk menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri.
    :) Salam,

    Mochammad

    http://mochammad4s.wordpress.com

    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    • atau penulis sendiri yg memaksakan, bukan untuk pencerahan spt yg dmaksud, tp malah memperkeruh keadaan, bagaimana penetaban hari raya id 2010.. apa dbenarkan kita baru hari raya sedang jmaah haji sehari sebelumnya sdh melakukan wukuf… tlg bpk.djamaluddin jgn sok2an jd org mntang2 d anggap ahli lalu lupa daratan…

      • ^^ Hijriyah patokanya bulan bro, bukan “even”

      • Saudaraku..”jganlah kebencianmu menyebabkan engkau berbuat tidak adil”(firman Allah)..”Serahkanlah suatu urusan kepada ahlinya”
        (sabda nabi)..prof Djamaluddin dan staf2nya adalah org ahli, saya pikir tidak ada tendensi seperti yg saudara maksud.baik jg setelah membaca artikel beliau kita semua lebih banyak lagi belajar agar tidak terjebak dalam Kejumuddan itu.

      • setuju,,,,kuman diseberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak,,,

      • Statement terakhir yang tak pantas di ungkapkan oleh Bapak Djamaluddin. Sadarlah dengan peryataan itu, jgn sampai menjadi boomerang buat bapak.

      • Kopas status Ust Abduh Zulfidar Akaha: “skrg mngkn hanya indonesia negara yg umat islamnya bebas menentukan awal puasa n lebarannya. di mesir n saudi yg lbh buanyak ulamanya (ulama beneran), mereka smua manut pd pemerintahnya dlm hal ini. bahkan qaradhawi yg pro hisab pun, mensyaratkan tdk boleh menyelisihi pmrnth. hukmul hakim yarfa’ul khilaf*

      • demikian pula, jika tidak ada standar pegangan (dalam hal ini pemerintah) maka kepada siapa lagi umat berpegang?? sebab udah pasti masing2 akan datang dgn pendapat yang lebih ia cenderungi, hingga akan terus-menerus melahirkan perbedaan. “Perbedaan itu buruk”, kata Ibnu Abbas. makanya jauh hari Nabi memberi arahan: “Berpuasalah bersama manusia (myoritas/pemerintah) dan berlebaranlah bersama manusia pula”.

        Maksud perkataan Ibnu Abbas ini bukan pada hal-hal yang memang telah sunnatullah dijadikan oleh Allah sebagai sebuah perbedaan… akan tetapi perbedaan dalam hal ijtihad yang masih bisa dikompromikan dan dicarikan jalan keluar yang lebih baik tanpa harus berbeda apalagi berpecahbelah…

        Afwan,, perkataan “perbedaan itu buruk, adalah perkataan Abdullah bin Mas’ud. Ini riwayatnya,, dan mengapa beliau mengeluarkan statement tersebut, dan dalam hal apa ia dikeluarkan: Imam Abu Dawud menyebutkan sebuah atsar dimana ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat dengan ijtihad beliau, maka Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (di Mina) 2 rakaat, dan bersama Abu Bakar 2 rakaat, dan bersama Umar 2 rakaat ” yaitu dengan mengqashar shalat 4 rakaat.
        Akan tetapi ketika beliau shalat di belakang ‘Utsman beliau shalat 4 rakaat , maka beliau ditanya, kenapa melakukan demikian? Maka beliau menjawab: Perbedaan itu jelek ” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya 1/602 no: 1960)

      • komentar antum kurang bernash… hanya berangkat dari prasangka dan fanatisme buta sepertinya …

      • Dalam menentukan hari Iedul Fitri 1432 Hi, saya pikir Muhammadiyah sudah kompak dengan sebagian besar negara-negara Islam di belahan muka bumi ini, misalnya Arab Saudi (Masjidil Haram), Palestina (Masjil Aqsha), Malaysia, dll)

        Sementara keputusan Menag kita yang didukung oleh beberapa ormas malah nyeleneh.

      • saya kira beliau menyajikan pandangannya secara ilmiah, anda saja yg meresponnya dg emosional, jdnnya kurang bisa menyerap dan memahami tulisan beliau. Dilihat dari bahasa anda, juga tampak kalau anda bukan orang yg memiliki dasar keilmuan

      • BODOH!!! coba lihat alquran, Rasullullah bilang lihatlah bulan!!

      • Waduh, ada org Muhammadiyah tersinggung neh. Penolakan sama spt saat heliosentris diperkenalkan dari mainstream geosentris

      • ilmu hisab bulan itu sebenarnya bukan ilmu matematika tapi dasarnya ya dari Ru’ya ( melihat ) kemudian dirumuskan menjadi ilmu hisab, krn nabi memerintahkan berpuasa dg melihat bulan dan berhari raya dg melihat bulan ya kita berusaha untuk sami’na wa atho’na

      • BETUL SEKALI

        Penulis melakukan PROVOKASI dg menyerang Muhammadiyah,

        kl mau provokasi lakukan di sekitar lo dan keluarga lo saja !
        Kl semua orang bikin Tulisan seperti ini dan saling menyerang satu sama lain apa jadinya??

        Memangnya lo doang yg bisa bikin Artikel ga jelas seperti ini??!!

      • Mas, coba anda lihat web ini: http://moonsighting.com/1432shw.html

        Ternyata negara2 Islam dengan jumlah populasi paling banyak dari negara lain seperti India, Pakistan, Bangladesh, Iran, China berlebaran tanggal 31 Agustus tuh. Yang lebarannya tanggal 30 kebanyakan gara2 ngikut saudi. Brunei, tetangga kita lebaran tanggal 31. Silakan pilih mana….

      • Coba kita renungkan bersama, betapa banyak manusia yg mengaku dirinya ahli, ahli agama, ahli astronom, ahli falak dll. begitupun mayoritas penganut ormas islam indonesia (NU) yang hanya menghadalkan kuantitas bkn kualitas sehingga apa yg menjadi ucapan atau perintah para kyai’nya smuanya dianggap benar, ajaran2 bid’ah pun sdh menjadi kbutuhan primer bahkan suatu kwajiban yg tdk bisa ditinggalkan, tampak pula rebutan kekuasaan yg tidak berujung baik kekuasaan internal’nya maupun kekueasaan perebutan PARTAI KEBANGKITAN BUBAR yg sekrang tdk jelas arahnya dg visi MAJU TAK GENTAR MMBEKA YG BAYAR.
        jujur saya katakan, saya bukanlah org Muhammadiyah bukan pula NU bkn pula yg lainya karna NABI MUHAMMAD sndiri tdk mengenl yg gtuan yg beliau yakini hanya Allah. sehingga sy bisa menilai mana yg bnr2 konsisten dlm ajaranya mana yg tdk, ingt! kita ibadah haji ke negara arab, kiblat kita juga makkah, sgala sswtu yg berkaitan dg islam sllu arab yg menjadi rujukan lalu knp dlm penetuan lebaran kita melenceng darinya? pengertian taat pd pemerintah itu yg luas, taat jika pemerintah kita bnr2 jujur dan tanpa adanya tendensi atau apiliasi terhadap salah satu ormas atau parpol dlm menntukan kebijakan seperti penentuan hari raya dll. kita liaht para peneliti yg ada dicakung mrk menyatakan dg ssungghnya bhw mrk melihat hilal tp apakah diikutsertakan dlm sidang itsbat? jwbnya adalh tdk. knp? krn org2 NU malu mengakui kbnran dan konsistensi org2 Muhammadiyah dalam menentukan sswtu yg sngt tepat, sehingga mellui kekuasaanya orng2 NU yg berkedok pemerintah brani melakukan kedzoliman dan pembohongan publik, makanya tdk aneh klo org2 NU diberbagai parpol, ormas dll sllu pecah dab berebut kekuasaan krn mrk tdk dilandasi dg ke’istiqoma;an dlm mlkkan apaun, cntoh kecil lihat PKB skrng pch berkeping2 mnjdi tikus2 parpol yg mencari hidup. lihat lah ketua PKB asli pnakanya abdurahman wahid sekarang menjadi seorang koruptor. sadarlah wahai saudaraku idup ini hanya smntra jgnlah berlebihan meyakini sswtu yg tak pasti hingga mengurangi keyakinan engkau terhadap ALLAH.

      • Ibadah itu bergantung tempat dan waktu. Untuk arah kiblat, sesuai perintah syariat harus ke arah ka’bah di Mekkah. Wukuf hanya ada di Arafah dengan waktu Arafah. Soal waktu, ibadah itu bersifat lokal, karena waktu di masing-masing daerah berbeda. Shalat dan shaum bergantung pada waktu lokal. Kalau kita merujuk pada waktu Mekkah, kita menyalahi syariat.
        Tentang kesaksian hilal, kita harus sadar bahwa melihat hilal perlu ilmu, bukan sekadar keyakinan, karena hilal itu sangat tipis dan dengan gangguang yang menyulitkan dari cahaya syafak (cahaya senja) dan awan. Jadi, kesaksian harus diuji juga dengan ilmu. Saudara-saudara kita di Cakung tidak merukyat murni, tetapi dipengaruhi oleh hisab taqribi yang menyatakan hilal sudah tinggi. Dengan sumpah kiat yakini saksi merasa benar dan yakin, tetapi belum tentu benar. Merasa yakin melihat hilal, belum tentu benar. Hilal yang terlalu rendah tindak mungkin mengalahkan cahaya syafak yang masih cukup terang di atas ufuk.

      • MELIHAT dengan MATA, merupakan SYARIAT ataukah METODA?
        ====================================================

        Perbedaan yang terjadi ini, berpangkal dari dua pandangan yang berbeda,
        1. MELIHAT batas waktu dengan MATA merupakan SYARIAT.
        2. MELIHAT batas waktu dengan MATA merupakan METODA.

        Jika mempunyai pandangan No.1 yang benar, maka suka tidak suka tentunya aspek “melihat dengan mata” harus terus dilibatkan. Dan ini menginspirasi timbulnya metode baru yaitu IMKANUR-RUKYAT (metode yang digunakan pemerintah) untuk menggeser metode lama yaitu melihat dengan mata telanjang. Sedangkan yang berpandangan No.2, sama sekali tidak melibatkan kriteria kemampuan mata dalam menentukan batas waktu dan ini direpresentasikan dalam metode hisab Wujudul Hilal.

        Pandangan No.2 lebih dinamis dan fleksibel daripada No.1. Bila ada ada metode baru yang lebih baik dan akurat dalam menentukan batas waktu, metode yang lama bisa ditinggalkan. Sedangkan pandangan No.1, harus dan terus-menerus dibatasi dengan aturan “melihat dengan mata“.

        Yang memiliki Pandangan No.1 cenderung tidak konsisten untuk penentuan batas waktu ibadah lain. Misalnya penentuan batas waktu Sholat, ternyata mereka menggunakan hisab tanpa melibatkan faktor kemampuan “melihat dengan mata“.

        Adalah wajar apabila di jaman Rasullah SAW menggunakan mata dalam menentukan batas waktu karena metode hisab di zaman beliau sulit untuk diverifikasi kebenarannya. Dan yang paling penting, tidak ada satupun nash di dalam Al-Qur’an maupun Hadist bahwa untuk menentukan batas waktu harus melibatkan mata.

        Wassalam,
        Hamba Alloh

      • tatah pasti orang muhammadiyah jg tuh, makanya ngeyel mbelain ormasnya. apa memang orang muhammadiyah itu egois2, ga mau dengerin orang lain ya? mari kita bicara pakai hati jangan asal dibibir saja, muhammadiyah sok intelek sih jd ga mau dengerin orang lain sekalipun yg bilang pakar astronomi. ojo jengkel bro… rilex aja

      • Pada dasarnya, matahari itu satu, bulan itu satu dan bumi itu juga satu. Artinya, perbedaan waktu hanya pada jam bukan pada tanggal antar negara. Saudi memiliki daerah istimewa, yaitu tanah haram. Apa mungkin keputusan yg berkaitan dgn ibadah yg dilakukan di tanah haram itu salah????
        Allah pasti menjaga lokasi tanah haram beserta apa yg dilakukan disana. Ingat itu.
        kenapa Indonesia selalu berbeda dgn saudi, karna Asia Tenggara memakai teori Danjon Limit yg tidak dipakai negara-negara lain.
        Tahukah kalian apa itu Danjon Limit????
        kalimat itu diambil dari nama seorang astronom asal prancis yg bernama andre louis danjon….dalam biodata agama nya tidak jelas.
        apa kepentingan dia membahas masalah hilal???
        Ingat, Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridho terhadap Islam sampai kita mengikuti apa yg mereka inginkan. INGAT…..!!!!

      • Allah tidak menjamin orang di tanah haram bebas dari kesalahan. Rukyatul hilal dilakukan oleh manusia dan keputusan juga dilakukan oleh manusia. Dalam beberapa kasus, rukyatul hilal di Arab Saudi kontronversial secara astronomi. Hilal di yang terlalu rendah atau bahkan di bawah ufuk dilaporkan terlihat. Limit Danjon bukan satu-satunya kriteria visibilitas hilal. Dalam astronomi dan sains secara umum, latar belakang agama menjadi tidak relevan, karena sains dibangun dengan data empirik yang harus bisa diuji oleh siapa pun, tanpa memandang latar belakang budaya dan agamanya. Kriteria visibilitas hilal dibangun dengan data yang berasal dari pengamat internasional, banyak di antaranya adalah para pengamat Muslim. Baca juga : http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/01/19/kritik-pakar-astronomi-muslim-dari-timur-tengah-dan-amerika-atas-penetapan-idul-fitri-1432-dan-penggunaan-wujudul-hilal/

      • Orang seperti Tatah ini tendensius tertutup dari informasi kebenaran

    • Ini Profesor maunya apasih ….sebelum komentar…baca dulu alasan muhammadiyah yang jelas…..komentar prof terkesan tidak mencerahkan …tapi menyudutkan… kita tidak akan menemukan titik temu dengan cara pikir sempit seperti ini. Prof kan tinggal baca alasan muhammadiyah di http://www.muhammadiyah.or.id

      • Saya kira Muhammadyah dalam hal ini sdh berkelakuan seperti Jahudi. Inilah yangt sudah dilakukan bapa_bapa kami, yang lain itu pasti salah. Dan Jahudi itupun menutup akal dan hatinya rapat-rapat. Tidak mau menerima pembaharuan yang telah dilontarkan ahlinya.Masya Allah.

      • Bung Apria, emang alasan Muhammadiyah itu gak jelas, gak Qurani..

    • sebenarnya bulan-nya ad brapa to????kok di malaysia sdh bisa menetapkan 1 syawal tgl 30 agustus 2011 artinya bulan telah terlihat di malaysia…..sementara di indonesia kok belum ya….
      apa perbedaan teknologi yg digunakan d indonesia dan di malaysia ya???

      • Itulah yang aneh, jangan-jangan justru kita terbelenggu oleh kepentingan asing agar umat islam di Indonesia selalu terpecah, ga masuk akal perbedaan antara Indonesia dan Malayasia padahal kita satu rumpun yang perbedaan waktunya hanya hitungan menit jangan jadi manusia bego ah!

    • Mendengarkan alasan-alasan wakil Muhammadiyah semalam di televisi, saya berpendapat bahwa sukar bagi Muhammadiyah mau berubah damn mau menerima saran dan terkesan mengoirbankan kebenaran demi “gengsi” Ini sangat merugikan Muhammadiyah itu sendiri. Argumentasinya menetapkan Lebaran jauh hari sebelum lebaran agar mudah menyediakan lapangan unyuk sholat, sangatlah tidak bisa diterima “akal” sehat, terkesan menyepelekan persoalan. Dampaknya sangatlah besar termasuk terhadap kesatuan ummat Islam, yang disebabkan hanya oleh “gengsi”. Semoga Muhammadiyah mau berubah. Amin Iswandi Anas

      • ..justru itu untuk kepentingan umat..karna umat islam itu sdh sangat banyak dengan berbagai macam aktifitasnya..kalau caranya mepet seperti sidang isbat..itu membuat kacau segala aktifitas..dijaman muhammad itu bisa dilakukan karna umatnya tak sebanyak sekarang dan berada dalam satu lingkungan..apa juga tiap mau buka puasa juga harus mengamati matahari..?

      • Muhammadiyah hanya menjaga amanah dan melindungi ummat dari orang-orang yang berusaha menyesatkan umat, Kalau Pak Thomas tidak mau mengakui WUJUDUL HILAL, sama saja tidak mengakui kebesaran ALLAH SWT. Telah terbukti nyata, pada tanggal 30-08-2011 jam 17.40 WIB, bulan sudah terlihat jelas dan cukup besar, saat itu ALLAH telah menunjukkan kuasanya bahwa pada malam TAKBIRAN (Versi Depag) adalah tanggal 2 Syawal. Kalau ALLAH SWT telah menunjukkan sepertinya itu, masihkan kita ragu dengan Wujudul Hilal ?

      • kesatuan Umat islam untuk ormas2 di Indonesia apa kesatuan Umat Islam dunia???

      • Ada 3 lasan yg kurang masuk akal, sedikit kebohonagan dan cenderung dipaksakan pd saat sidang itsbat:
        1. Pemerintah mencari argumen penolakan terhadap 2 posisi yang sudah melihat Hilal (4 org di Cakung dan 1 orang di jember). sejak kpn hadist mensyaratkan yang merukyah harus seorang professor astronom?. cukup melihat dan dan bersumpah.
        2. Pemerintah & beberapa ormas lupa sholat Ied itu sunah (yg wajib menyatukan umat Islam seluruh dunia bukan umat Islam diIndonesia).
        hanya 5 negara yang merayakan sholat id hari Rabu; baca detiknews.
        Arab Saudi/makkah (yg menjadi kiblat kita) & bbrp negara asia hari selasa. padahal sebelumnya Sdg Itsbat mengatakan kerjasama ahli rukyah 3 negara Brunai, Singapore & Indonesia tidak lihat hilal kecenderungan lebrn hari Rabu paktanya Negara tsb hari Selasa (kebohongan kah?)
        3. Professor ini boleh jadi mengerti tentang astronomi tapi saya pikir orang ini ngk paham pemahaman Qur’an dan sunnah dan cenderung mengedepankan Ilmiah to.

      • Nyatanya, keputusan Muhammadiyah sama dg sebagian negara muslim di dunia, Malaysia, Singapuran dan Filipina yg dekat dg Indonesia 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa. Jadi siapa yg aneh….?

      • Dari satu hadist yg diriwayatkan dari Jabir dari Nabi saw: Apabila malam akhir Ramadhan tiba, maka menangislah seluruh langit, bumi dan para malaikat karena musibah yang menimpa ummat Muhammad saw. Rasulullah ditanya, “musibah apakah itu ya Rasulullah”? Beliau menjawab:”perginya bulan Ramadhan”. “Karena di dalam bulan Ramdahan itu semua doa dikabulkan, semua syahadat diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya, sementara siksapun dihentikan”. Banayak lagi hadist2 yang senada dengan ini, serta ungkapan para Ulama: ” Seandainya tdk memberatkan ummat, hendaknya 11 bulan yang lain itu juga dijadikan Ramdhan”. Laaaah, sekarang ummat Muhammad kok mencari-cari alasan ya, utk memilih puasa 29 hari ketimbang 30 hari? Kok malah buru-buru mau mendapatkan musibah, Boro-boro mau 11 bulan lainnya menjadi Ramadhan, untuk puasa 1 hari lagi aja cari-cari alasajn. Wooy, ketuk aqalmu, dan tanya imanmu dalam hati. Masya Allah.

      • reply saya terhadap yangdiatas, lalu kalo tanggal 30 itu bener 1 syawal, gimana?

      • Ibadah didasarkan pada keyakinan. Keyakinan harus didasarkan pada ilmu. Silakan pilih mana yang diyakini berdasarkan ilmu yang dimiliki.

      • To: Hilaludin dan Sjafruddin: ketinggalan berita banget sih …Kan Raja Arab Saudi aja sudah kasih ganti rugi ke rakyatnya, gara-gara salah nentuin hari raya…..gak usah ngotot laaah….Yang lebaran hari Rabu termasuk AS, Australia, dan banyak negara-negara Eropa..
        Sedangkan to: dhea…..yaaa sudah jelas, tanggal 30 itu salah lah…..orang bukti dan argumen gak mendukung………..jangan ngotot mau menang….mau benar….

      • Saya bukan pakar dalam masalah ini, tp bila dasar dari penggunaan metode hisab dan rukhyat sama kuatnya, maka saya yg awam ini lebih memilih metode hisab.
        Apalagi saya pernah membaca salah satu tulisan dr seorang Profesor dr Indonesia yg berdomisili di Den Haag di detik.com bhw menurut beliau rukhyat itu bukan ritual dan sebenarnya ketentuan utk menggunakan rukhyat tdk melarang metode hisab, maka bagi saya Idul Fitri yg serentak dan terencana adalah kondisi yg paling baik utk kita semua menurut saya yg awam ini. Walahualam.

      • Bung Siregar;
        Sepertinya anda yg terbelenggu egoisme pendapat anda karena Berita ttg Raja Saudi ganti rugi kpd rakyatnya itu ternyata adalah berita hoax yg disebarkan orang Indonesia.

        Silakan liat link ini

        http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/01/hoax_saudi-arabia-1-syawal-adalah-rabu-31-agustus-2011/

        dan

        http://www.detiknews.com/read/2011/09/02/161525/1714705/10/ada-kabar-salah-penetapan-1-syawal-warga-saudi-tenang-saja

      • mas amin iswandi yang saya hormati, kalo sya liat bukannnya yng tidak sependapat muhamadiyah gengsi,buktinya mesir saudi,malaysia yng letak negaranya di barat kita duluan hari raya, apa anda mau katakan dhuhur di indonesia tpi sudah ashar di saudi, ato anda mo katakan ulama di mesir lebih bodoh tehnologinya di banding Prof thomas jalaludin. kenapa hari raya idul adha tahun lalu beda kok haji indonesia wukufnya ikuti saudi, dan yng paling sederhana logikanya tanpa rukyah dan hisab.tu liat sejarah nabi selama puasa,80% jumlah harinya 29, lah kita kok ngotot selalu 30 hayo,dan selalu bilang pas sholat ied,,,, oh iya ya bulannya udah gede he.he.kalo sya mah lebih percaya ama ulama mesir ama saudi,kita ribet, ingat mas amin iswandi yang mulia, pernah rasululullah didatangi orang mengabarkan penampakan bulan yng oleh rasulullah tidak meliatnya,tpi rasulullah hanya tanya, kamu beriman pada ALLAH dan rasulnya ? saaat orang itu mengatakan ya, rasulullah langsung berhari raya, lah ini kok ada yang melihat tpi tidak dianggap sah karena yng lainnya tidak melihat, pemilihan presiden kale perlu suara terbanyak. tpi yang penting sekarang liatlah bulan saat tgl 31 agustus, udah gede ato bru muncul, kalo baru muncul, moga Allah mengampuni kehilafan Muhammadyah dan fatwa di mesir dan saudi, tapi kalo bulan gede mohon ampunlah dan akui kalo yang fatwa 31 agustus hari rasa itu salah. karna bulan setitik rusah opor sebelanga he.he.he

      • yth : profesor, iswandi anas, siregar.
        saya mempertanyakan satu hal pada anda bertiga : apa anda org muslim?
        kok saya meragukan hal ini?

        yth:siregar, hadist sanadnya tidak jelas kok dikutip…belajar lagi deh…

      • Baca dlu alasan Muhammadiyah sebelum mulai

      • semprul indonesia aja yang sontoloyo pemerintahnya yang gengsi tu…. orang di luar sudah puasa kita belum puasa, orang sudah wukuf di mekah kita belum lebaran, coba liat setiap terjadi perbedaan pasti karena kebodohan pemerintah tapi ingatlah silahkan tanggung dosa” yang puasa pada saat sudah lebaran.

    • Prof yang terhormat,
      Saya ada pertanyaan yg masih mengganjal…. Dalam sidang Isbat 29 Agt 2011, dari 30 saksi dikatakan ada 4 saksi yang telah melihat Hilal. Sebagaimana kita ketahui bersama, saksi2 tsb sebelumya telah disumpah dan dianggap menguasai ilmu tentang perhilalan.

      Bukankah dgn adanya saksi yg melihat hilal (walaupun minoritas jumlahnya) sudah cukup dipakai dasar utk meyakini 1 Syawal.
      Yg buat saya yg awam, saya tidak bisa menerima keputusan penentuan 1 Syawal pada akhirnya diputuskan hari rabu berdasarkan hasil rapat pemerintah dgn para ormas.

      Dgn alasan kurang lebih, berdasarkan ilmu sains, hilal tidak dapat dilihat secara kasat mata. Apakah kesaksian penglihatan hilal tsb dieliminir berdasarkan pendapat para ormas dan juga pendapat astronomi (berarti menggunakan pendekatan Hilal donk) yg berpendapat hilal ‘Tidak Mungkin’ terlihat karena berbagai alasan dsb dsb.

      Jika pada akhirnya penentuan 1 syawal, ditentukan berdasarkan hasil rapat tsb – buat apa diperlukan saksi2 yg disebar diseluruh Indonesia, toh pada akhirnya kesaksian tsb tersebut akhirnya tdk digunakan sebagai dasar keputusan penentuan 1 syawal.

      Kemudian mohon jawabannya, sebagaimana diketahui bahwa hilal yg disepakati adalah >2 derajat. Apakah besaran derajat tsb akan berbeda bagi orang yg melihat dari tempat yg rendah (seperti dipantai) dengan yg melihat dari tempat tinggi seperti di gunung.

      Mohon pencerahannya, trims

      • Kesaksian di Cakung dan Jepara sesungguhnya tidak murni berdasarkan rukyat, tetapi terpengaruh oleh hasil hisab (perhitungan) mereka yang berdasarkan hisab taqribi (aproksimasi) yang tidak akurat lagi. Hisab mereka menghasilkan ketinggian sekitar 3,5 derajat (kesaksian di Cakung) dan sekitar 2,5 derajat (kesaksian di Jepara). Padahal sesungguhnya berdasarkan astronomi modern, tinggi bulan kurang dari 2 derajat. Pada ketinggian sangat rendah tersebut, cahaya hilal yang redup tidak mungkin mengalahkan cahaya senja di ufuk barat. Itulah sebabnya kesaksian tersebut ditolak, karena sangat meragukan. Lagi pula itu bertentangan dengan saksi lain di lokasi yang berdekatan.

      • @prof TDjamaludin..
        saya mau bertanya kepada bapak. apakah metode imkanur ru’yat tdk menggunakan metode hisab?? terus darimana kita bisa bahwa bulan telah mencapai posisi 4 derajat seperti yg bapak inginkan..

        mohon diluruskan..

      • Assalamua’alaikum wr wb

        @pak tb djamaludin Boleh tau pak kesaksian itu bukan didasarkan pada rukyat akan tetapi hisab, atau jangan2 bapak asal menuduh seperti tuduhan bapak di fb mengatakan malaysia mengikuti saudi, yang kemudian dibantah oleh salah satu ahli hisab juga dari malaysia dan menegaskan kalau malaysia memakai kriteria mabims.

        Kalau bapak mau jujur sebaiknya pak djamaludin melakukan verivikasi kepada yang bersangkutan melihat hilal bukan dengan mudahnya membantah apalagi mendukung, setahu saya 3 orang saksi dari fpi tidak ada hubungannya dengan pesantren nu yang anda bilang memakai hisab model lama. Atau jangan-jangan pak djamaludin sendiri yang terkungkung kriteria visibilitas hilal sehingga menafikkan beberapa data tanpa melakukan verivikasi terlebih dahulu. Bukannya bapak sendiri yang bilang Indonesia harus mengumpulkan data sendiri untuk menentukan kriteria imkan rukyat sehingga sesuai dengan wilayah Indonesia. Selama ini kita menggunakan data mabims dan mohammad odeh yang dikumpulkan berdasarkan pada data pengamatan hilal yang dapat terlihat, akan tetapi data ini bukan harga mati.

        Wassalamua’alaikum wr wb

      • METODE HISAB SKALA PLANET VS METODE RUKYAT SKALA LOKALISASI, MENANG MANA??
        kebayang gak sih, kalo seandainya Indonesia puluhan atau seratus tahun kemudian luas wilayahnya cuma sepulau jawa atau sepulau nusakambangan aja, tentu akan semakin sempit wilayah pemantauan hilalnya. Jadi orang-orang yang ngotot dengan metode hilal terlokalisasi akan semakin sempit peluang memantau hilal. Masalahnya sekarang ini adalah : terjadi kepincangan antara Metode Hisab seperti yang dilakukan Muhammadiyah dengan Metode Rukyat yang dilakukan pemerintah RI. Hisab yang dilakukan Muhammadiyah yang menggunakan ijtima bulan bumi matahari adalah dalam skala planet (kalo saya istilahkan), sedangkan Metode Rukyat yang dilakukan pemerintah RI sekarang ini dan yang lain-lainnya masih terlokalisasi di wilayah Indonesia saja. Jadi seperti yang saya kemukakan di atas, andaikata wilayah Indonesia besok puluhan tahun atau ratusan tahun yang akan datang cuma seluas pulau jawa atau nusakambangan, orang-orang yang ngotot dengan metode rukyat terlokalisasi ini akan semakin sempit persentase peluangnya melihat hilal. Justru inilah yang saya katakan sebagai KEPINCANGAN. Metode Hisab yang dilakukan Muhammadiyah berskala Planet sedangkan Metode Rukyatnya skala lokalisasi. Betul Kan???
        Btw, kalo saya seh pengennya Indonesia besok puluhan atau ratusan tahun kemudian wilayahnya sampai ke indochina bahkan ke jepang (mimpi kali ya). Tapi gak apa-apa kan bermimpi seperti itu? toh para sahabat dulu juga bermimpi bisa merebut mesir sampai konstantinopel dan impiannya terwujud puluhan/ratusan tahun kemudian.
        Maka dari itu saya usul supaya Metode Rukyat juga ditingkatkan, tidak hanya dari segi peningkatan peralatan untuk rukyatnya saja tapi juga dari segi wilayah pemantauan hilalnya juga diperluas, tidak hanya di wilayah RI tapi juga di luar wilayah RI yang satu dimensi waktu dengan wilayah RI. Disini saya usul ke pemerintah RI supaya pada waktu penentuan hilal, tidak hanya memantau hilal di wilayah Indonesia saja tapi juga mengirim duta-dutanya yang telah disumpah dan diberi mandat untuk memantau hilal di luar wilayah RI yang mempunyai prosentase melihat hilalnya lebih besar dan masih satu dimensi waktu dengan Indonesia.
        Jadi kalo pemerintah bisa melalukan itu, metode rukyatnya bisa disandingkan dengan metode hisab skala planet. he3x

      • Assalamu ‘alaikum, sebuah data yang dilupakan tentang hilal kurang 2 drajat tidak dapat terlihat.

        khabar sidang istbat idhul adha tahun kemarin yang intinya, bulan telah terlihat (mereka menyatakan begitu) tapi karena kurang 2 drajat maka hari digenapkan 30 hari.

        ini suatu fakta yang membatah bahwa kurang 2 drajat hilal tidak terlihat

        untuk profesor, bagaiman kejadian terlihatnya bulan yang kurang dari 2 drajat pada sidang istbat idhul adha kemarin ?

        untuk mengecek kebenaran, lihat file-file tentang sidang istbat idhul adha tahun kemarin !!!

        jazakumulloh khoir, wassalamu ‘alaikum (mohon jawaban dikirim ke email saya)

    • Setuju dengan pendapat bahwa “kunci utamanya” adalah problem utamanya adalah di KRITERIA. Metode silahkan beda, dalil silahkan beda, tapi KRITERIA sebaiknya sama. Selama KRITERIA sama, hasil akhir Insya Allah akan sama.

      Sekiranya dapat dipertimbangkan plus minus masing-masing metode:

      1. Hisab (wujudul hilal)

      Kelebihan:
      – Mudah membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan

      Kekurangan:
      – Bersifat dugaan, tidak dapat dibuktikan secara pasti bahwa bulan baru benar-benar sudah masuk
      – Tingkat kepercayaan: Sedang

      2. Hisab (imkaanur ru’yah)

      Kelebihah:
      – Mudah membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan
      – Bersifat dugaan yang bersifat mendekati “pasti”. Kepastiannya dapat dilakukan dengan melakukan rukyat bil fi’li mata/teropong
      – Tingkat kepercayaan: Tinggi

      Kekurangan:
      – Menentukan batas-batas atau kriteria visibilitas hilal, perlu melibatkan banyak ahli, dan perlu ditetapkan oleh semua komponen (ulama, umaro, scientist)

      3. Hisab (imkaanur ru’yah) + Ru’yah fisik/bil fi’li (mata/teropong)

      Kelebihan:
      – Bersifat “pasti”, karena hitungan di verifikasi dengan penglihatan fisik (mata/teropong)
      – Tingkat kepercayaan: Sangat Tinggi

      Kekurangan:
      – Sukar membuat Kalender Qomariah untuk beberapa tahun kedepan, karena tiap akhir bulan harus meru’yat mata/teropong
      – Menentukan batas-batas atau kriteria visibilitas hilal, perlu melibatkan banyak ahli, dan perlu ditetapkan oleh semua komponen (ulama, umaro, scientist)

      Source: http://de.tk/0jOUa

    • titelnya aja PROFESORR..!!! tp ilmunya cetek.. ga’ bs bedain antara pengamatan dengan hitungan.. !!! mestinya lu thomas belajar lagi kosakata bahasa dengan bener.. !!! jangan2.. lulus SD aja nyogok..!!

      • Eh..Nova….kamu udah gak bertitel…pake suudzon lagi….lebih buruk deh kamu daripada yang kamu maki-maki…..

      • Akhlak Nova buruk sekali ya….suka maki2 orang lain,yang ahli saja dimaki-maki..apalagi yg awam ..hiihhh..menjijikkan

      • nova-nova… buat pendapat kok kaya gitu.. jangan-jangan kamu santri monas atau sejenisnya. Sudah pinter duluan sebelum belajar..

    • baca saja dengan baik,Prof.ini terlalu merasa hebat dan orang lain pasti salah

    • yth mochamad dan prof td : http://ramadan.detik.com/read/2012/07/19/123817/1969456/631/absen-sidang-itsbat-bukti-muhammadiyah-bukan-kaum-peragu?992204cbr
      monggo dibaca
      agar mata hati dan pikiran anda LEBIH terbuka

    • Muhammadiyah merupakan perwujudan Islam modern yang sangat yang sangat tinggi dibidang intelektualnya dan saya suka cara Ormas Muhammadiyah berpikir.

      • Anda perlu membaca sampai tuntas uraian Prof diatas bahwa metode yang digunakan Muhammadiyah adalah Hisab Wujudul Hilal (WH) yang sudah kuno. Kalau mau modern pakai Hisab Imkan Rukyat (IR). Hadits jelas mensyaratkan melihat (dengan mata bukan dengan hitungan). Muhammadiyah sebagai Ormas yang menentang bid’ah, malah terang-terangan melakukan bid’ah dalam hal ini dengan memelintirkan penafsiran melihat dengan ilmu, padahal ilmu yang digunakan sudah kuno. Sebagai simpatisan Muhammadiyah saya malah tidak simpati akan kejumudan pikiran Ormas ini dan ke taqlidan para pengikutnya tanpa mau belajar dan membuka wawasan.
        Saya Jeffry Lisra adalah pengajar pada Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

    • Kalau pemahaman soal melihat hilal diterjemahkan begini gimana: ada hadist yang supaya kita belajar berkuda, gulat dam memanah, nah kudanya ganti mobil atau pesawat. memanahnya ganti menembak dg senapan atau yg lebih canggih (unttuk tentara). kalau melihat hilal dihitung secara astronomi saja seperti penanggalan biasa karena sekarang ilmunya sudah sangat cukup apa masih kurang? kalau saya koq mikirnya ya sudah jaman modern dan sudah ada ilmunya, kita kan diminta untuk “membaca” atau belajar juga tho? jadfi hadist untuk berkuda itu kan nggak harus berkuda betul to? saya kira seorang ilmuwan mestinya berfikir yang masuk akal dong.

    • ada hadist yang meminta kita belajar berkuda, gulat (beladiri) dan memanah, masih mau naik kuda juga?, kalau lihat bulannya pakai teropong yang diluar angkasa pasti tidak perlu 2 derajat udah kelihatan kan? saya bukan astronom tapi insinyur, metode rukyat yg kemarin nggak masuk akal sama sekali buat saya. kalau udah bisa memprediksi gerhana matahari dalam satu tahun ke depan, apa salahnya dihitung? hasilnya sama kan? istilahnya sebagai insinyur, andaikata menentukan awal/akhir romadhyon kerjaan saya jadi nggak bikin repot kalau dihitung, malah pas hasilnya sama orang US, arab, Ausie, eropa. dll.

      • Mas Ganteng yang ganteng. Gak usah merasa diri ahli menggunakan logikalah mentang-mentang anda insinyur, saya juga insinyur dan yang komen-komen disini banyak yang lebih hebat pendidikannya dari anda. Orang lain sudah membahas mengenai astronomi modern sementara logika anda sangat dangkal.

        Logika itu harus tunduk kepada iman, bukan sebaliknya anda tahu kenapa??? Karena tidak semua kejadian bisa dinalar oleh logika. Kemampuan otak manusia ada batasnya. Dalam ilmu matematika yang logik sekalipun ada dikenal bilangan irrasional, betul gak!

        Perkara hadits yang menyuruh kita berlatih memanah, berkuda dan berenang, apa anda kira keterampilan tersebut tidak diperlukan dalam pertempuran zaman sekarang dan dimasa akan datang? Anda salah menggunakan logika mas, coba pikirkan lagi Pak Insinyur, perluas cakrawala berpikir anda, jangan lupa barengi dengan pemahaman ilmu agama yang banyak agar anda bisa menemukan jawabannya.

  2. O begitu to dasar berpikir Muhammadiyah dalam penentuan hari raya. Makanya kok mereka sering beda, saya sampai berpikir mereka yang penting beda.
    Terima kasih kritik terhadap Muhammadiyah ini sangat bermanfaat. menambah pengetahuan. Salam http://Jendelakatatiti.wordpress.com.

    • Muhammadiyah itu sudah ada sejak Indonesia belum lahir. Sejak Indonesia belum merdeka. Dan sejak Muhammadiyah berdiri itu sudah bisa menentukan sendiri kapan puasa dan hari raya. Dan juga sekaligus mengajarkan dan juga menyebarkannya ke seluruh ummat muslim. Lha sekarang kok Muhammadiyah malah disuruh ikut ke pemerintah…??!!!

      Sungguh aneh, idul fitri dan awal puasa bisa berbeda. Tapi kalo maulud nabi, isra’ mi’raj, tahun baru hijriah, dan peringatan lainnya yang berdasarkan bulan qomariah, tidak pernah berbeda…!!! Dan Muhammadiyah sudah menetapkan jauh2 hari sebelumnya…!!! Nyatanya semuanya sama tanggal peringatannya…!!! Kalo sudah begini, apalagi yang masih diragukan…!!!???

      apa pemerintah (atau golongan tertentu yang sebagian besar duduk di pemerintahan/MUI) yang malu untuk mengikuti Muhammadiyah??

      TANYA KENAPA??

      • ngikutin Al qur’an dan Hadis lah, bukan NU, Muhammadiyah, atau Persis. klo cm masalah khilafiyah saja diributin terus_ kapan Islam akan bangkit ?

      • ..benar mas..memang itu orang2 kolot yg tidak berpikir untuk umatnya..dengan metode hisab kan semua bisa direncanakan dan diatur..bukan metode dadakan yg tidak lagi layak diterapkan untuk umat yg sudah sekian banyak dan tersebar dimana mana. Umat itu kan beraktifitas yang betuh perencanaan.

      • dan hanya 4 negara saja yang sholat ied untuk besok (31/08) yaitu :
        – Indonesia
        – Oman
        – Selandia baru
        – Afrika selatan
        dan Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

      • Dari 9 kali Rasulullah berpuasa Ramadhan, 1 kali berjumlah 30 hari. Artinya, mayoritas hitungan hari dalam 1 bulan kalender islam ialah 29 hari. Aneh banget ga sih, beberapa tahun ini kita puasa 30 hari..?
        Kira-kira siapa yang mau terbuka?
        Menurut saya, bumi dan bulan sebagai bagian dari universal, baik rotasi maupun revolusinya, tidak akan mengalami perubahan hanya dalam 1400 tahun.

      • Bukan ikut pemerintah. Tapi ikut perkembangan ilmu astronomi. Baca yang betul !!!

      • SETUJU……!!!
        Pemerintah pasti malu, apalagi pakar yg profesor seperti T. DJAMALUDIN, jelas-jelas akan malu. Emang siapa sih dia ?

      • kalian semua ternyata setan iblis semua.
        kalian beragama tetapi perkataan anda semua seperti setan iblis yang tidak tau sopan santun saja.
        katanya beragama tetapi omongan kalian, ucapan kalian masih saja seperti iblis, setan yang terkutuk.

        JANGAN SALAHKAN ORANG LAIN….

        OMONGAN ORANG LAIN HANYA SEBAGAI MASUKAN SAJA…

        SALAHKAN DIRI ANDA DULU…

        APA BENAR DIRI ANDA SUDAH BENAR SEBELUM MENYALAHKAN ORANG LAIN.

        TAK SEMUA NU, MUHAMMADIYAH, MUI, DLL THU SALAH….

        TUHAN KITA SATU….

        KITAB KITA SATU………..

        HAY UMAT !!!!!!!!!!!!!!!!!!!

        KITA SEMUA THU DIGODA SETAN IBLIS SUPAYA KITA TERJEBAK DALAM PERPECAHAN UMAT …..

        JIKA TERUS MENERUS TERJADI PERPECAHAN UMAT ITU SUDAH TANDA SEBAGIAN DARI KIAMAT….

        INGAT BRO….

        KITA BERMUNAJAT SAJA PADA ALLAH SWT.

        AKU TIDAK PERCAYA ALIRAN QW APA ITU…

        AKU PERCAYA ALLAH SWT TUHANKU….

        AKU PERCAYA NABI MUHAMMAD SAW ITU NABI QW…

        AL QUR’AN KITABKU

        MEKKAH KIBLATKU

        MUSLIM MUSLIMAT SAHABATKU…

  3. “Dari segi syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan. Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.”

    ada penjelasan lebih detilnya kenapa disebut ‘dipaksakan’ dan ‘usang’ pak? supaya lebih objektif

      • ass. Prof Jamal. Terkait dengan masalah hisab ini.,sesuai tulisan bapak, saya melihat masalahnya semata-mata ada pada belum adanya teknologi yang mampu melihat hilal pada elevasi antara ~1-4 deg. Memang pada ketinggian tersebut akan sulit klo tidak ingin dikatakan mustahil untuk melihat hilal karena adanya albedo. Menurut saya sepanjang perhitungan hisab dan wujud hilal meskipun secara teori sudah diatas ufuk, maka semestinya sudah dapat diterima sebagai bulan baru. Seandainya cara perhitungan hisab tersebut salah tentnya hal ini yg menjadi persoalan. Menurut saya sepanjang teori hisabnya dapat dipertanggungjawabkan maka tidak menjadi masalah. Insya Allah hanya butuh waktu untuk menemukan teknologi yang mampu melihat hilal pada ketinggian rendah tersebut. Hal ini tentu menjadi PR kita sesama ummat muslim untuk mewujudkannya. Ingatlah ketika perdebatan tentang pusat tata surya dimulai dan pada akhirnya dengan teknologi hal itu bisa dibuktikan. teknologi yang mampu melihat hilal pada ketinggian rendah tersebut. Oleh karena itu tidak bijak rasanya untuk menyalahkan metode masing2, hanya karena ketidakmampuan kita untuk membuktikan bahwa teori yang digunakan itu salah. Sama dengan NU yg kemudian beradaptasi dari tidak menggunakan teropong kemudian menggunakan teropong, kita pun semestinya berusaha untuk membuktikan berapa sih limitasi elevasi yang mampu dilihat dengan teknologi. Mungkin teknologi kita yg digunakan sekarang yang sudah usang, jika kita menganggap cara berhisab kita sudah benar. Mudah2an akan semakin banyak umat islam yang terdorong untuk memperkuat teknologi yg dapat dimanfaatkan untuk kemajuan Islam. Semoga Allah meridhoi.

      • Assalamu’alaikum,

        Sekedar himbauan untuk saudara2ku seiman, marilah kita saling menghargai perbedaan. Bukankah manusia berbeda kadarnya? coba kita bayangkan, saudara2 muda kita (baru belajar dan menerima dien Islam) yang blm banyak mengerti, mungkin mereka masih membaca Qur’an dengan terbata2 apalagi utk mengerti tentang hisab dan hilal, apa tdk malu kita pd mereka, yg seharusnya kt dpt memberi contoh yg baik agar yg msh rentan dpt menambah tebal imannya, alih-alih kt msh ribut yg dpt membuat mereka bingung. Utk bapak Thomas, maaf jika sy menghimbau, tdk brmksud menggurui, krn saya tidak berpendidikan tinggi. Apakah tdk sbaiknya Bpk memaparkan ilmu sbagai amal ibadah Bapak tanpa menyebut pihak lain yg tdk atau belum mengetahui banyak soal ilmu perbintangan? Begitupun pihak yg tdk sesuai dgn Bpk Thomas, membaca dan mempelajari sesuatu ilmu tdk dilarang bukan? akhirnya pilihan dikembalikan pd masing2 individu sesuai kadarnya. Semua berproses. Bisa saja hari ini msh berbeda tetapi jika Allah berkehendak besok bs sama. Jadi untuk apa diperdebatkan terlalu jauh yg dpt menimbulkan kerusakan? Marilah umat muslim Indonesia kita bersatu dalam perbedaan kadar pemikiran dan ilham masing2. Sdh takdir negara kita adalah negara dengan umat muslim yg terbesar di dunia yg patut kita syukuri. Bersatu bukan berarti harus sama.

        Selamat lebaran utk saudara2ku yg berlebaran hari ini (30/8/2011). Mohon maaf lahir dan Bathin.

        Tabik

      • Astaghfirullah. Istighfar Saudaraku..”jganlah kebencianmu menyebabkan engkau berbuat tidak adil”(firman Allah)
        Muhammadiyah sudah berbuat banyak dan mempunyai banyak ahli yang tidak kalah dari bapak Djamaluddin ini. Jagalah lisanMu, jangan membuat perpecahan dan kebencian di kalangan Umat Islam.
        Janganlah pengetahuan yang anda miliki membuat anda sombong dan merasa lebih pintar dari orang-orang Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

      • Kalo kita tidak bisa melihat Bulan (hilal) pada posisi 0-2 derajat, jangan salahkan Bulannya dong…. artinya Alat yang dipakai untuk melihat Hilal itu yang harus diperbaharui, semua akan terbukti kalau sudah tanggal 2, seperti pada malam takbiran (versi depag) kemarin… itukan sudah tanggal 2 yang artinya sebagian umat islam kebaran pada tanggal 2 syawal. Ini bukti yang tidak bisa dibantah lagi…

      • kesan saya pak Prof terlihat tidak akurat, karena kalender di blog nya ada pengakuan 1 Syawaal 1432 H jatuh 30 Agustus 2011. Tolongkoreksi dulu kalendernya. Kalo di zaman nabi riwayat hadis lewat orang seperti Prof, pasti dianggap lemah, karena orangnya ‘tidak akurat’
        SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN

    • mesir…malaysia juga sama dengan NU…..saya juga harus banyak belajar…bapak sendiri juga yang gharus banyak belajar….he…he…

    • Metode rukyat juga harus ditingkatkan. bukan cuma dalam masalah alat pengamatannya saja, tapi juga wilayah pemantauannya diperluas agar kemungkinan melihat hilal lebih besar. Saya usul ke pemerintah agar pada waktu-waktu pelaksanaan rukyat tidak hanya mengirim pengamat di wilayah RI saja, tapi juga mengirim duta-duta pengamat rukyat yang telah disumpah dan diberi mandat, untuk mengamati hilal di luar wilayah RI yang masih satu dimensi waktu dengan Indonesia. Terutama ke tempat-tempat yang berpeluang besar untuk memantau hilal di luar wilayah RI yang masih satu dimensi waktu dengan RI. Masak malaysia singapura sudah lebaran kita malah belum, padahal masih satu planet. He3x.. aneh kan?? Semoga bisa jadi masukan.

    • Profesor itu bukan ahli Tafsir dan bukan nabi…….
      Saya berdo’a, semoga MUHAMMADIYAH tetap istiqomah dengan WUJUDUL HILAL, kenyataannya ALLAH SWT. telah menunjukkan bahwa tanggal 31-08-2011 adalah tanggal 2 Syawal 1432 H. Sudah jelas bahwa WUJUDUL HILAL itu tidak USANG menurut ALLAH SWT.

      • Beginilah reaksi org yg lebih mencintai ormas daripada Islam itu sendiri. Hujjah gak ada, eh malah bilang “Allah SWT telah menunjukkan bahwa tanggal 31-08-2011 adalah tanggal 2 Syawal 1432 H?”. Anda lebih parah lagi, seolah-olah kata Muhammadiyah adalah kata Allah. Moga2 Allah melapangkan hati anda.

  4. Kita tunggu aja tanggapan dari ormas Muhammadiyah, mudah-mudahan bisa menjelaskan kreteria wujudul hilalnya secara gamblang dan tidak dibuat-buat atau di ada-adakan ya Prof ….

  5. Muhammadiyah sudah ujub terhadap dirinya, merasa paling hebat, tapi tdk memikirkan persatuan umat. Ilmu astronomi sudah bekembang sangat pesat, tapi mereka sudah merasa cukup. Mestinya muhammdiyah mengirimkan anggotannya kuliah di astronomi ITB biar bisa lebih melek…

    • menurut saya ga usah sampai memojokan ormas tertentu..

      • Faktanya hari ini (30 Agustus 2011) Muhamammadiiyah ternyata tidak lebaran sendirian, saudara-saudara kita yang berada di Arab Saudi dan Mesir pun merayakan Iedul Fitri 1432 H di hari yang sama

        Padahal secara geografis, mereka berada di Wilayah yang lebih jauh dari terbitnya matahari dibandingkan dengan Indonesia..
        Jadi, kenapa Indonesia yang nota bene lebih dulu dilalui lintasan matahari harus berlebaran belakangan?

        Demikian, komentar saya yang awam dan maaf jika saya keliru.

    • saling menasehati dalam kebaikan, bukan malah menjelekkan apalagi menghina dan merasa benar! ok..syukron

    • jangan suudzon masbro, saya yakin muhammdiyah jg punya ahli yang kalibernya melebihi ahli di ITB, tidak hanya ilmunya tapi juga Ibadahnya, insyaallah, CMIMW

    • muhammadiyah katanya pemegang sunnah Rasulullah SAW, faktanya dari dulu Rasulullah selalu menggunakan rukyatul hilal untuk menentukan kapan puasa, kapan berbuka.
      harusnya hadis dari dari Rasulullah ttg rukyat di pake dong.

      • yuk ikut sunnah Rasul, untuk lihat langit waktu mau berbuka, jangan percaya adzan di TV, krn Rasul tdk pakai ilmu hisab untuk menentukan waktu shalat.

      • klo ngomong jangan cuma bs ngaco..!!! blajar dulu bener2 arti hisab… bego..

    • YG HARUS MELEK TUH KAMU….

    • ..justru itu untuk kepentingan umat..agar umat bisa membuat rencana..bukan kebingungan nunggu pengumuman..umat islam itu sudah banyak dan tersebar dimana mana dengan segala macem aktifitasnya..kalau caranya dadakan kaya gitu..bagaimana? Dijaman muhammad itu bisa dilakukan karna umatnya ga sebanyak sekarang dan masih dalam satu lingkungan..

    • Ternyata, Hanya Empat Negara yang Lebaran di Hari Rabu!
      Dalam laman Moonsighting.Com disebutkan bahwa hanya ada empat negara yang merayakan Lebaran pada hari Rabu, 31 Agustus 2011. Keempat negara itu adalah Indonesia, Selandia Baru, Oman, dan Afrika Selatan. Kesemuanya mengandalkan pada pengamatan hilal di level lokal.-(RMOL)

    • ILMU tanpa IMAN akan menyesatkan…..
      Kalo saudara melihat ketinggian bulan pada tanggal 30-08-2011 jam 17.40 WIB, apakah Saudara juga akan menyalahkan ALLAH SWT, mestinya kalau tanggal 1 Syawal, bulannya jangan sebesar dan setinggi itu YA ALLAH…. GITU…. kalo komen diatur DONG….

    • Tolong anda yang Melek ya 1 SYAWAL 1432 H
      Ternyata, Hanya Empat Negara yang Lebaran di Hari Rabu!

      • Sekarang baru tahu ya, bahwa yang merayakan Ied pada hari Rabu, termasuk Negara negara Eropa, Amerika dan Australi. Dan mereka-mereka itu dari negara yang maju teknologinya Oooooom. Sapa yang harus melek. Membangunkan orang bangun memang repoooot.

      • bang siregar ini ngerti bahasakah?

    • persatuan umat? untuk apa? apa biar masuk neraka bareng2?

    • itu mah sama artinya nyuruh ulama mesir dan saudi belajar di ITB. kalo saya mah ikut muhamadyah aja sama ulama mesir dan saudi, ngak nyambung ama keputusan pemerintah yng di di dukung oleh ulama yng sebagian besar bukan muhamadyah,entar kalo hajian pas wukufnya beda, wukuf aja sendiri,jngan biarin jamaah kita ikutan wukuf ama saudi. he.he.he

    • apakah anda juga sudah cukup dengan ilmu agama anda kalau anda ngomong gitu

    • mbak satiri. mbak aja yg dikirim ke ITB biar juga lbh melek. Atau dikirim ke pondok aja ya?
      keep your word sis, if you are moslem

  6. Saya simpatisan Muhammadiyah, semoga kritik ini mendapat tanggapan ahli hisab Muhammadiyah

    • Semoga. Ini juga demi kemajuan Muhammadiyah sendiri.

      • jd kasian liat ilmuwan yg diperalat umaro. hhe..

      • Jadi kasian liat para ulama yang diperalat oleh ego komunitasnya …..

      • kasian banget liat prof jamaludin… semoga beliau tetap diberi kekuatan dan kesehatan…diterangkan hati dan pikirannya…

      • Nanya Pak Prof,…lazimnya kalau mengukur itu khan dari nol, jadi walaupun posisi bulan 2 derajat tidak mungkin dilihat, tapi udah masuk dalam hitungan khan…dengan kata lain udah masuk bulan baru. Apakah yang 0-2 derajat itu dicatut…???.

  7. semoga tulisan ini membawa berkah bukan permusuhan…agar tdak terkukung pd satu pendekatan.
    mengapa tak mencoba sedang mencoba tak mengapa

  8. Saya masih belum mengerti Pak. Jadi walaupun berdasarkan perhitungan, bulan sudah di atas ufuk namun tidak teramati, belum bisa dikatakan bulan baru? Lalu bagaimana misalnya ketika dilakukan pengamatan di Indonesia tidak terlihat hilal, tetapi di negara lain yg lebih barat dan berbeda beberapa jam dari indonesia, ternyata dapat mengamati hilal karena pd saat matahai terbenam di sana posisi bulan sudah lebih tinggi? Apakah di indonesia tetap berpuasa ataukah ikut berlebaran mengikuti negara yg lebih barat itu? Mohon pencerahan dan terima kasih

  9. layak di diskusikan….alangkah baiknya duduk bersama antara Prof. T. Djamaluddin dan Ahli Falak Muhammadiyah….tentu dengan melepas ego masing2……

  10. harusnya Muhammadiyah, NU, Persis dll bisa mengalah satu sama lain…Kalau tidak ada yang mau mengalah lebih baik tidak diikutsertakan saja dalan sidang itsbat..malah bikin repot dan publikasinya membuat bingung publik awam…. :)
    Kalau Muhammadiya mau naik sekian derajat utk kriteria, NU turun dikit walaupun tidk terlihat tapi menurut “empiris” sudah terliaht, Persis juga disetarakan kriterianya…DIJAMIN tidak akan berbeda… :)

    • Sebenarnya sudah ada jalan menuju kesepakatan itu. Ramadhan 1428/2007 Wapres Pak Jusuf Kalla mempertemukan Pak Din dan Pak Hasyim yang mencapai kesepakatan untuk menyamakan persepsi. Tindak lanjutnya pertemuan di PB NU pada 2 Oktober 2007 dan di PP Muhammadiyah 6 Desember 2007. Ada penyataan akhir yang bagus sekali. Pak Syamsul Anwar (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid) menutup dengan kata-kata, “Kita harus mengalah demi ummat”. Sementara wakil daru Lajnah Falakiyah NU Pak Slamet Hambali menyatakan, “Kita harus berubah, dan NU sudah banyak berubah”. Sayang pertemuan lanjutan terhenti untuk merumuskan kriteria yang disepakati.
      Persis sudah lebih maju lagi. saat ini sudah menerapkan kriteria imkan rukyat.

      • Sayang pertemuan lanjutan terhenti untuk merumuskan kriteria yang disepakati

        pertemuan selanjutnya untuk merumuskan kriteria bersama terhenti padahal secara prinsip sudah ada kesepakatan, ini tipikal masalah organisasi dengan birokrasi yang rumit, jadi masalahnya sudah bukan substansi lagi, tapi masalah lain… publik harus bisa memberi tekanan supaya mereka lebih termotiviasi menyelesaikan pekerjaan besar ini

      • ooo… begitu, berarti pemerintahan setelah pak JK gak wapres lagi yang gak ada kemauan untuk menuntaskan masalah ini… coba kalo pak JK presiden nya… pasti dah selesai kali ya…

      • sama saja tidak jadi prof….

      • WIJUDUL HILAL telah banyak membuktikan dan bukti terakhir pada tanggal 30-08-2011, posisi bulan sudah jelas…… Jangan salahkan bulannya(hilalnya) kalau manusia tidak bisa melihat bulan (hilal).
        Yang perlu dicerahkan itu adalah tafsir melihat bulan (hilal), apa memang harus melihat dengan mata dengan alat-alat tertentu buatan manusia ? seperti halnya kalau kita memaknai IQRO’ (membaca) kita kan tidak harus membaca tulisan…. ???

      • saya sarankan prof cukup memberikan fakta2 ilmu falak saja, jgn dicampuri dgn memberi komentar NU berubah dan Muhammadiyah kuno…biarkan itu wilayah masyarakat yg menilai. Nanti terjebak ‘politisasi’ para pemimpin organisasi

      • Muhammadyah deserse ya, Masya Allah

  11. penyatuan ummat yg mana maksud Bapak? saya pikir selama ini perbedaan itu sudah menjadi hal yang lumrah dan g ada yg mempermasalahkannya kecuali Bapak sendiri mungkin —
    *bapak boleh merasa bapak adalah pakar, tapi Muhammadiyah juga memiliki pakar yang saya yakin ga kalah sama Bapak
    Tulisan Bapak ini yang saya kira malah ‘memecah belah’ ummat karena tidak menghormati hasil ijtihad. Biarlah Umat Islam memilih (ijtihad) menurut keyakinannya masimg2. Ini dperbolehkan dalam Islam. Jika ijtihad kita keliru, kita tetap dapat satu pahala, jika ijtihad kita benar dapat dua pahala.

    • Berbeda memang boleh tapi kalo yang seharusnya tidak terjadi perbedaan terus dibeda-bedakan ya itu namanya nyari-nyari. Saya setuju dengan tulisan ini karena memang metoda Muhammadiyah sudah seharusnya ditinjau kembali. Mbak aisyahputri ini cuma melihat dari segi emosional saja dengan mengatakan “bapak boleh merasa bapak adalah pakar, tapi Muhammadiyah juga memiliki pakar yang saya yakin ga galah sama Bapak”. Kayaknya mbak aisyahputri ini ga tau permasalahannya, ga tau apa kriteria Muhammadiyah yang dikritik bahkan ga tau ilmu falak sama sekali, dia cuma merasa tersinggung karena Muhammadiyah dikritik, cuma itu aja. Jadi modalnya mbak aisyahputri ini cuma “rasa tersinggung” saja yang tidak ada dasarnya sama sekali. Kalo menurut saya betapapun hebatnya pakar-pakar di Muhammadiyah tapi dengan metoda yang mereka pegang saya jadi bertanya dari mana kepakaran itu mereka dapat? Jangan-jangan cuma merasa doang. Jadi sekali lagi tanpa mengurangi rasa hormat memang seharusnya Muhammadiyah perlu (untuk tidak mengatakan harus) meninjau kembali kriterianya itu.

      • @Pak Haris Ontowiryo : maaf ya pak..sebelum ngomong saya juga berfikir dulu kok, meski saya awam di “astronomi” tapi saya melek ilmu pengetahuan dan punya dasar sehingga tentu saja saya tahu metode yang digunakan oleh Muhammadiyah. Ga harus jadi profesor untuk mengerti ilmu falak pak karena saat ini informasi sudah dapat kita peroleh dgn sangat mudah.
        *seorang ilmuwan sejati akan menghargai pemikiran ilmuwan lainnya

      • emang mbak asyahputri ini jumud…..dan keras kepala…..sussah deh….

      • Biasa mengkritisi, tiba-tiba dikritisi …. yaaa pastinya kaget dan gak trima lah. Apalagi disebut usang dan jumud !!!

      • Kalau Saudara mengatakan “metoda Muhammadiyah sudah seharusnya ditinjau kembali” sama halnya saudara mengatakan “Posisi Bulan pada tanggal 30-08-2011 sekitar jam 17.40 s/d 18.15 WIB perlu ditinjau kembali ? hebat benar Saudara ini…… !!! Buktinya sudah jelas, dalam penentuan 1 Syawal 1432 H kemarin, WUJUDUL HILAL adalah yang benar…..

    • Dalil tentang perbedaan adalah rahmat itu maudhu, perbedaan fiqih masalah sudut pandang masing2 pihak, yang mungkin benar mungkin salah, tapi perbedaan tersebut jangan dipelihara karena tidak baik bagi umat atau mungkin karena ada pihak2 tertentu yang ingin memelihara perbedaan untuk keuntungan pihaknya, ijtihad dan tajdid terus berkemang seiring tingkat pemahaman dan keilmuan yang juga berkembang semua harus diarahkan kepada kemaslahatan umat dan kesatuan baik dalam ibadah maupun muamalah.

      • Dengan ilmu orang non-muslim dapat menentukan kapan akan terjadi Gerhana, jamnya, harinya, bulannya…..dan tidak meleset.

        Mungkin kesalahannya…..banyak orang yang tidak memperoleh TAQWIL dari Alloh terus mencoba menafsirkan ayat-ayat mustasyabihat. USUL :
        Kumpulakan para Ulama yang ditengarai memperoleh taqwiil-alloh untuk mempu menafsirkan ayat-ayat mustasyabihat. Keluarkan tafsir agar tidak berbeda.
        Wajibkan membaca terjemahan ayat-ayat muhkamat yang bisa langsung dimengerti oleh semua lapisan dari SD sd DR/Prof.
        Hentikan anjuran membaca al quran / ngaji untuk memperoleh pahala Hentikan berhablumminanlloh + minannas dengan tujuan peroleh PAHALA. Jangan ada lagi iming-iming sholat di Masjidil Harom pahalanya 100.000 kali, di Madinah pahalanya 50.000 kali. Tidak aneh bila WNI bertitel haji jumlahnya lbh dari 5 juta yang hidup tetapi tidak membawa barokah bagi Bangsa & Negara. Disetiap kantor Departemen telah difasilitasi Masjid dan jadual ceramah, tetapi tidak ada manfaatnya. Bahkan infaq dari para jamaah jumat sampai tersimpan diatas 30 juta setiap masjid……dibiarkan. Tidak tergerak menyegerakan amanat infaq dari jamaah jumat.
        Sekedar beramar ma’ruf dan mengajak berlomba kebajikan. Salam djiddan 085890170326. / 021.70051510.

    • ini sebuah perspektif mbak..bukan untuk memecah belah… :)
      justru dengan tulisan ini kita semua bisa mengkoreksi diri, bagian mana yang perlu dipahami untuk disepakati…bukan soal matematika pahala..tapi kejadian yang berulang2 untuk alasan yang sama dan penyebabnya pun sama :)

      • Bapak terlalu membesarkan dan memaksakan pikiran bapak sendiri…jangan merasa pintar dan menyalahkan pihak lain bapak…

      • okelah sebuah perspektif, tapi saya melihat tulisan prof. jamaludin menurut saya kurang objektif dan tkesan ingin memaksakan warga muhammadiyah untuk mengikuti “pemikiran” beliau *sebagai wakil pemerintah tentunya* yang menurut beliau paling benar, akurat dan terupdate.
        Saya dari kecil sudah sering mengalami “perbedaan hari raya” bahkan dlm keluarga saya sendiri maupun lingkungan sekitar tempat tinggal dan ga pernah ada masalah karena kita saling menghormati keyakinan masing-masing.Masih banyak PR buat pemerintah yang lebih penting untuk dilakukan dibanding membuat permasalahan baru dengan memaksakan umat muslim untuk mengikuti keputusan terkait hari raya misalnya.
        Saya pernah mendengarkan ceramah dari seorang anggota badan hisab muhammadiyah mengenai metode hisab yang digunakan, dan saya *meskipun awam di bid. astronomi* sangat meyakini bahwa metode yang digunakan sudah sangat tepat karena logis dan juga sesuai dengan apa yang ada di dlm Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dalam sebuah HR Bukhari Muslim diceritakan bahwa Rasulullah SAW puasa 29 hari dari 9 kali Ramadhan, puasa 30 hari 1 kali karena tidak melihat bulan – Tentu saja ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi,namun hanya sekitar 4 jam (lbh cepat Indonesia) , dan jika saya amati, selama ini keputusan pemerintah hampir selalu 30 hari.
        Pada intinya sih, saya pikir seharusnya pemerintah tidak perlu memaksakan kehendaknya seperti misalnya terkait penentuan hari raya ini, karena setiap pihak pasti juga telah memiliki dasar dan keyakinan masing-masing :)
        *Sesama umat muslim itu bersaudara tho…mau Muhammadiyah, NU, persis atau apapun, jadi marilah saling menghormati hasil ijtihad masing-masing.

      • manusia diciptakan bersuku,berbangsa, untuk saling mengenal.. untuk bersilaturahmi… selalu ada hikmah dibalik perbedaan… tetapi selama kelemahan dan kekurangan yang dikemukakan… mustahil kesepahaman didapat… mohon semua memahami dan mengikhlaskan… tidak ada manusia yg boleh mengharuskan melainkan yg seharusnya terdapat dalam kalam Illahi.

      • Sesama muslim jgnlah kita saling menyalahkan…si A yg benar atau si B yg benar, yg penting yakin apa yg telah menjadi keputusan masing2 pimpinan ormas islam yg kita ikuti, seandainya keputusan pimpinan islam atau pemerintah yg keliru menentukan 1 Ramadhan atau 1 syawal, yang menanggung dosa kan pimpinan yg mengeluarkan keputusan….gitu aja kok repot….Allah Maha Tahu…

      • Saya sangat sepakat dengan sdri. Aisyah Putri. dan perlu diingat “PROFESOR ITU BUKAN ALLAH DAN NABI” kalo tulisan dan ejekan Prof. Thomas Djamaluddin terhadap WUJUDUL HILAL sudah dijawabh oleh ALLAH SWT, apa kita masih meragukan kebenaran WUJUDUL HILAL…. jangan salahkan Bulan/Hilal (ALLAH yang kuasa terhadap itu).

    • saya setuju dgn mbak aisyahputri,, bpk djamaluddin kesannya menggiring muhammadiyah untuk mengikuti apa yg jd keyakinan beliau.. tanpa ada rasa merendahkan tentunya saya blh mengatakan SDM muhammadiyah tentu jauh lebih hebat dr bpk. djamalludin. mereka jg ahli2 falak..

    • Tulisan ini memang bertendensi memecah belah bagi mereka yang tidak mau membuka dan belajar lebih banyak pada para ahli,mudah2an kritik terbuka beliau ini bisa menjadi wasilah/jalan bagi kita semua untuk belajar.

    • @aisyahputri:pret haleluya anda penuh emosi….
      bukan kasih komen ilmiyah malah ngaco…tolol loe…haleluya

    • bener itu yang mbak sampaikan seorang ilmuwan sejati harus bisa menghargai pendapat orang lain. Nah, sekarang ini lah pendapat orang lain yang mau disampaikan kepada Muhammadiyah. Lalu kenapa mbak menanggapi nya dengan emosional. Seorang ilmuwan juga bisa salah, bisa jadi itu ilmuwannya Muhammadiya, bisa jadi juga yang buat blog ini. Tapi tidak ada salahnya kan untuk mencoba mempelajari apa yang orang lain sampaikan? Bahkan menurut saya itu suatu keharusan.

      Perbedaan itu wajar memang, malah disebut rahmat. Tapi, kalau perbedaan itu terjadi ditempat yang sama, dalam kondisi yang sama, di negara yang sama. Nah, pasti ada sesuatu yang berbeda sehingga membuat hasil yang berbeda kan? Lalu perbedaannya dimana? Perbedaan itu lah di bagian perhitungannya. Coba kita samakan cara kita berhitung, pasti hasilnya juga akan sama. Nah, sekarang cara berhitung siapa yang paling benar dan paling pas? Tinggal dipelajari aja. Sekian terima kasih :)

      • Cara berhitungnya sama Mas tidak ada selisih dimulai dari Nol yang sama dengan panduan ilmu yang sama dan dengan software yang sama, cara menafsirkannya itu yang berbeda.

    • Dari kacamata orang bodoh dan awam seperti saya, yang bukan simpatisan salah satu ormas Islam manapun…jujur kalau perbedaan ini sangat mengganggu hati kecil saya…di ucapan kita bisa bilang indahnya perbedaan..tapi dalam hati ini sedih kenapa harus ada perbedaan perayaan hari Raya ini karena kita tidak bisa merayakannya bersama2

    • “maaf ya pak..sebelum ngomong saya juga berfikir dulu kok, meski saya awam di “astronomi” tapi saya melek ilmu pengetahuan dan punya dasar sehingga tentu saja saya tahu metode yang digunakan oleh Muhammadiyah. Ga harus jadi profesor untuk mengerti ilmu falak pak karena saat ini informasi sudah dapat kita peroleh dgn sangat mudah”
      Terkesan sombong banget malahan.. hanya emosional

      • maaf ya .. sepertinya anda menyudutkan aisyahputri, coba di analisa lagi.. yang emosional itu siapa dan yang terkesan sombong itu siapa.. sebaiknya seorang ilmuwan yang baik (menurut kacamata orang awam seperti saya).. dia bijak dalam mengemukakan teorinya dan tidak menyudutkan pihak manapun..
        terimakasih

      • iya si aisyahputri emang yang sombong….songong lagi…..belajar nak aisyah….jgn jadi org bodo…..

    • ibadah bukan brdasarkan ego,akal,taklid pada tokoh atau organisasi saudara. kata nabi klw kita dalam perselisihan hendaklah kita kembalikan kepada Alloh dan rasulnya.Allah subhana wata’ala memerintahkan kita ta’at kepada Allah, rasul dan ulil amrinya, terlebih dalam hal syiar agama yg mana kaum kafir mengamati langsung perpecahan ini. dan pemerintah kita sudah maksimal dlm memutuskan untuk ummat ini yn trbaik, masalah akurasi dan tidaknya itu adalah tanggung jawab dunia akhirat mereka, kalau kita mengaku sbagaipengikut nabi, petunjuknya adalah penentuan pengamatan hilal langsung dan patuhilah rambu2 darinya yg mana kita diperintahkan dalam hal jihad, shalat,puasa, idul fitri idul adha harus mengikuti imam(uli amri)..

      • jadi kalau pakai hisab bukan pengikut nabi yang baik? ketahuilah bahwa masing2 memiliki dasar yang kuat untuk berpegang pada caranya masing2 untuk menentukan bulan baru.

    • Sayang sekali @aisyah putri berstatemen seperti ini “saya pikir selama ini perbedaan itu sudah menjadi hal yang lumrah dan g ada yg mempermasalahkannya kecuali Bapak sendiri mungkin”, bangsa Indonesia ini luas umat Islam ini terbesar di dunia. Dan masalah perbedaan menentukan awal bulan ini merupakan masalah yang serius….

    • ..benar sekali mbak..pak profesor ini tidak layak untuk dipercayai..ini adalah contoh orang2 yg mengobarkan permusuhan..jika memang pak profesor ini tidak sependapat dengan muhammadiyah..tak perlu kali menghasut orang2 awam disini..cukup itu konsumsi bapak dengan orang muhammadiyah..dan sebagai orang awam saya setuju dengan cara muhammadiyah..karna bisa diprediksikan jauh2 hari..karna umat islam itu sudah sangat banyak dan tersebar dimana mana dengan berbagai macam aktifitas..

    • Ingatlah bahwa kebenaran menurut manusia tdk ada yg 100% sbgmana jg kebenaran menurut pakar baik pakar astronomi maupun juga pakar Muhammadiyah (kalo punya). Jika demikian kembalikan saja ke petunjuk AlQuran dan Rasulnya. Sdh pasti kebenarannya.

    • Satu kesalahan yang fatal,
      dengan sedikit pemahaman merasa diri sudah tahu banyak dan menyamakan diri dengan mereka yang sudah menggeluti bidangnya selama sekian tahun, diakui secara akademis dan hari-harinya memang di situ aktifitasnya.
      Belum lagi dilihat dari ilmu syar’i, bagaimana menyikapi perbedaan, bagaimana bersikap/adab terhadap ulil amri.
      Wajar kalau P Jamaluddin ‘malas’ menanggapi yang seperti ini.

  12. Kritikan yg bagus utk bisa saling mengoreksi, tapi menyalahkan secara total pihak lain adalah juga hal yg bija apalgi itu dikeluarkan dari org yg “berilmu”. Bukannya org berilmu saling menghargai ke-ilmuwan orang lain. Karena kebenaran hakiki itu hanya milik Allah SWT.

    Perbedaan itu hal yg wajar karena semua org punya latar belakang keilmuwan yg berbeda2. Ilmu yg satu tidak lenih penting dari ilmu yg lain. Sepanjang itu bukan bersepakat utk kebathilan.

    Perbedaan lebaran tdk usah dibesar2kan karena bisa jadi masalah besar itu datang krn org berilmu selalu bertengkat pendapat dan selalu mengatasnamakan “rakyat or ummat jadi bingung”. Pertanyaannya “ummat yg mana…???” To semua kelompok punya garis masing2.

    Ide menyatukan ide bagus, tapi kalo mau menyatukan dengan memakasakan pendapat yg dianggap paling benar ke kelompok lain hanyalah mengundang masalah baru. Baik imuwan astronomi, ilmu falak, hisab dan rukyat or apalah namanya… kalau ilmunya mau berkah, ikhlaslah mengajarkan…Hidayah kebenaran BUKAN dari tangan dan mulut MANUSIA, itu datangnya dari Allah swt.

    Jazakallah kaheran katsiran and mahalo nui loa…:)

    • Banyaknya pertanyaan, “kapan kepastian lebaran?” menunjukkan kebingungan di masyarakat. Dua versi hari raya pasti membingungkan masyarakat. Mungkin sebagian saudara-saudara kita di Muhammadiyah dengan nyamannya melaksanakan shalat ied dan makan minum pada saat saudara-saudara lainnya masih berpuasa. Mungkin pula ada yang provokatif menyatakan haramnya puasa pada hari itu. Kondisi itu sungguh tidak nyaman bagi sebagian besar masyarakat. Hari raya bukan sekadar ibadah individu, tetapi terkait juga dengan aspek sosial yang berdampak luas.

      • Memang ada pak warga Muhammadiyah yang menyatakan haram puasa karena mereka sudah lebaran ?

        Berapa orang sih yang begitu saya kebetulan juga warga Muhammadiyah ?

        Siapa yang mempermasalahkan masalah perbedaan ini, bukannya bapak sendiri ?

        Selama ini kalau saya lebaran duluan, saya tidak pernah makan dan minum didepan orang yang masih puasa apalagi sampai menyatakan “haram berpuasa”

        Tulisan bapak sangat menghina Muhammadiyah sekali, sebenarnya bapak orang islam bukan sih ?

        Bapakkan seorang professor seharusnya lebih beretika dari pada kami-2 ini yang hanya sekumpulan orang bodoh

      • “Mungkin sebagian saudara-saudara kita di Muhammadiyah dengan nyamannya melaksanakan shalat ied dan makan minum pada saat saudara-saudara lainnya masih berpuasa.”
        “Mungkin pula ada yang provokatif menyatakan … ”

        Profesor tapi kalimatnya semua diawali dengan MUNGKIN ditambah dengan kalimat2 yg provokatif.
        Insya Allah, mas orang2 MD tidak seperti yang anda bayangkan, saya jadi berpikir, sementara anda menggambarkan kejumudan Muhammadiyah, yg terjadi malah anda yang sedang mundur dengan memaksakan pendapat anda ke pihak lain. Ingat prof, perbedaan ini sudah terjadi berabad-abad dan alhamdulillah, tidak ada masalah. Saya malah berharap, para penceramah dan ulama serta profesor seperti anda mengkampanyekan sisi toleransi bukan pemaksaan kehendak. Agak heran, untuk Natalan, dorongan untuk toleransi dikumandangkan dengan kencang, tapi untuk toleransi sesama ummat malah saling paksa.

      • maaf sebelumnya. tanpa maksud apapun saya hanya ingin menyampaikan pendapat. saya sendiri yn mengalami tekanan dimana teman saya yn notabene muhammadiyah (walaupun tidak semua) merasa percaya diri dengan keyakinan mereka bahwa hari ini lebaran dan haram hukumnya berpuasa. sebenarnya saya tidak mempermasalahkan rasa percaya diri tersebut, hanya sedikit merasa pedih jika mendengar beberapa statement yn menganggap penganut NU itu salah, kemudian NU dan muhammadiyah saling memojokkan. saya tidak tahu harus merasa geli apa sedih melihat masing2 kubu saling berdebat dibalik kekukuhan mreka akan pkiran sendiri2 seperti ini. tapi jujur untuk orang2 seumuran saya yn haus ilmu dalam mencari jatidiri, keadaan ini cukup membuat sesak.

      • saya dukung pak tdjamaludin maju terus memberi wawasannya… jangan gubris orang-orang yang hatinya keras dan ga mau terbuka dengan kemajuan iptek…

        saya kira apa yang disampaikan pak tdjamaludin cukup fair tanpa memihak kemana pun.

        umumnya orang indonesia awam yang jadi was-was dan ragu bahkan membatalkan puasanya apa maksudnya muhammadiyah telah menetapkan tanggal lebaran dari jauh-jauh hari?…padahal ormas-ormas lain juga punya hasil perhitungan hisab yang bahkan lebih tepat (seperti NU dan jami’at khaer tapi di umumkan melalui sidang isbat sebagai bahan pertimbangan) lalu ga sedikit dari warga muhammadiyah yang menggiring umat dengan pertanyaan(kalo dimekkah lebaran kenapa disini engga?,belum lagi ditambah orang awam yang mau enaknya aja lantaran lebih cepat lebaran)

        tolong dong…kenapa muhammadiyah ga mau terbuka sama masukan dari segi ilmiah?kenapa ingin selalu tampil beda?(dan terkesan cari popularitas terkait dengan pengumuman dari jauh-jauh hari dikhalayak ramai,padahal harusnya intern saja) menurut saya itu bukan hal yang bijak.

      • ..saya rasa ini profesor abal abal..dari kata2nya saja sangat tidak mencerminkan seorang ilmuwan..dan hanya mengobarkan permusuhan..

      • kalo saya presiden, saya akan istirahatkan dulu prof jamaludin, karena dia berkomentar melebihi kapasitasnya sebagai ahli, cenderung mengomentari perangai ‘jelek’ organisasi muhammadiyah, awas jangan terjebak prof..

      • dari peryataan pak profesor ini, sudah jelas bahwa pak profesor mnyudutkan Muhammadiyah. dan tampak ingin menyalahkan muhammadiyah. bukan mendinginkan malah menambah dengan item msalah yg lain.
        cobalah berada di kedua sisi yg berbeda. jangan dari sisi yg sekarang anda anggap paling benar. kalo anda seorang ilmuwan, saya melihat anda tampaknya seperti menganggap agama berdasar ilmu, bukan ilmu berdasar agama, karena pendapat anda dikomen ini menunjukkan demikian.sekian banyak komentar, tapi anda berkomentar seperti ini.
        saya tidak mau menyalahkan anda, tapi kembalilah ke topik. seharusnya yg dibahas ini keilmuan, bukan mremen ke hal yg lain dulu. dan seharusnya anda sebagai ilmuwan, ya komentarnya berbobot dan berilmu, tidak dengan komentar seperti ini. dengan komentar anda seperti ini, saya cuma bisa mengambil ilmu yg pak PROFESOR buat, bukan penyudutan, atau komentar2 seperti ini.

    • ini sebuah perspektif..bukan untuk memecah belah… :)
      justru dengan tulisan ini kita semua bisa mengkoreksi diri, bagian mana yang perlu dipahami untuk disepakati…bukan soal matematika pahala..tapi kejadian yang berulang2 untuk alasan yang sama dan penyebabnya pun sama :)

      • menaanggapi sebuah ilmu dengan emosi,apakah ini tidak lebih jumud lagi? ayolah kawan kader Muhammadiyah…terbukalah…jangan tanggapi ulasan keilmuan dengn emosi.maaf prof..ternyata banyak teman warga Muhammadiyah yang nampaknya sudah kadung terdoktrinasi dan wegah ngaji dan mengkaji.sehingga bukanya terbuka untuk di kajoi tapi malah tersinggung nihhh

  13. Bagi kalangan akar rumput Muhammadiyah kondisinya lebih parah lagi dalam mengagung2kan hisab. Bahkan ada kata2 yang keluar bahwa pemerintah telah menghabiskan uang negara untuk pelaksanaan rukyatul hilal, na’udzubillah. Sekali lagi kalo ane mau berkomentar ttg wujudul hilal Muhammadiyah,” persoalan metodologis telah beralih menjadi persoalan teologis {Susiknan Azhari}.” Ayo kita diskusikan lagi QS Yasin/36 ayat 39.

  14. Assalamu’alaikum wr wb
    Saya termasuk yang menikmati masukan dan koreksi yang diberikan oleh Pak Thomas. Djamaluddin mengenai kriteria wujudul hilal. Kesan saya selama ini, baik via ber-sms-an atau dalam diskusi-diskusi, Pak Thomas Djamaluddin memang penganut rukyat murni. Beliau berpadangan kriteria wujudul hilal itu tidak syar’i. yang syar’i hanya rukyah. Suatau pandangan yang relevan untuk diskusikan. Belakangan beliau sedikit bergeser pada imkan al-ru’yah tapi tetap dalam rumah rukyah. Beliau mensyaratkan tinggi hilal pada kriteria imkan al-ru’yah yang ditawarkan itu harus teruji pada ketinggian hilal pasti bisa dilihat melalui observasi. Yakni ketinggian antara 5 hingga tujuh derajat. Dengan kriteria imkan al-ru’yah dan posisi hilal antara 5 hingga 7 derajat, hilal bisa dilihat atau tidak bisa dilihat, tanggal dan bulan baru dianggap telah tiba. Imkan al-ru’yah seperti ini, sesungguhnya juga tidak syar’i KALAU acuannya harfiah praktek melihat hilal zaman Nabi saw sebagai satu-satunya yang syar’i, meskipun tidak saya temukan teks yang mendukung. Yang saya temukan, di samping praktek melihat hilal yang sudah ada waktu itu, Nabi saw memberikan peluang adanya cara lain untuk menentukan awal bulan dalam pernyataan beliau; faqduruu lah.
    Pak Thomas membawa pemahaman kriteria wujudul hilal dalam rumah rukyah. Beliau selalu mempertanyakan, hilal dalam kriteria wujudul hilal, terutama dalam ketinggian yang masih rendah, pasti tidak bisa dilihat. Padahal dalam kriteria wujudul hilal, hilal bisa dilihat atau tidak bisa dilihat bukan persyaratan. Jadi tidak akan pernah ketemu. Plus minus, koreksi beliau tetap relevan untuk dijadikan diskusi dalam perjalanan menuju yag diridhai oleh Allah. Yang unik, meski pak Thomas memberikan koreksi relatif tajam kepada krieria wujudul hilal sebagai wujud keseriusan beliau menuju jalan yang diridhai oleh Allah, shubuh tadi sehabis shalat shubuh di masjid UIN Jakarta, ada seorang dosen menemui saya untuk menyatakan bahwa dirinya semakin yakin dengan krteria wujudul hilal.
    Pertanyaan kemudian, masuk kategoari apa perbedaan dalam menentukan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan 1 Dzul Hijjah? Perbedaan lebaran adalah wilayah khilafiah karena merupakan produk pemahaman terhadap suatu nash. Umat Islam dibenarkan memilih sesuai dengan kemantapan dan keyakinannya. Beda lebaran tidak identik dengan merusak ukhuwah.
    Dengan mengacu pada QS. 49: 10, Al-Alusi dalam kitab Rauhu al-Ma’ânỉ fỉ Tafsỉr al-Qur’ânỉ wa al-Sab’i al-Masânỉ, berpandangan bahwa fondasi ukhuwah adalah keimanan. Dengan keimanan itu, setiap individu muslim diikat dalam suatu persaudaraan permanen yang menempatkan satu sama lain hidup dalam satu ikatan. Ikatan seiman dan keimanan kepada Allah, kapada para malaikat, kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah, kepada Rasul-Rasul Allah, kepada hari akhir (QS. 4: 136) dan keimanan kepada qadar Allah (HR. Muslim dari Abu Hurairah dan Umar ibn a-Khaththab). Mengabaikan unsur-unsur keimanan tersebut menempatkan seseorang pada kesesatan (QS. 4: 136) dan tercerabut dari fondasi ukhuwah. Substansi ukhuwah dengan demikian, bukan terletak pada keseragaman akan tetapi pada terpeliharanya fondasi ukhuwah dan adanya semangat saling menghargai, saling mendukung, saling memperkokoh (yasyuddu ba’dhuhû ba’dhan) dan saling mengasihi serta saling peduli (fỉ talâthufihim wa tarâhumihim). Substansi lain adalah, adanya upaya secara terus menerus melakukan ishlah, perbaikan, kedamaian dan keharmonisan betatapapun dalam perbedaan pandangan dan pemikiran.

    Yang ideal memang memiliki fondasi dan substansi ukhuwah, sekaligus ada keseragaman pandangan. Tapi manakala keseragaman belum bisa digapai, fondasi dan substansi ukhuwah relevan untuk dikedepankan. Bagi mereka yag memilih berlebaran 30 Agustus 2011, dituntut tetap menghargai, menghormati dan melindungi mereka yang memilih berlebaran 31 Agustus 2011. Begitu pula, mereka yang memilih berlebaran 31 Agustus 2011, dituntut tetap menghargai, menghormati dan melindungi mereka yang memilih berlebaran 31 Agustus 2011. Apapun pilihan yang diambil, semangat saling menghargai, saling mendukung, saling memperkokoh dan saling mengasihi serta saling peduli, selalu dikedepankan. Wallahi A’lam bi al-Shawaab

    • Secara astronomi, kita tidak mungkin memilah-milah hisab dan rukyat. Keduanya terintegrasi. Terkait dalil syar’i, wujudul hilal jelas terkesan dipaksakan (lihat http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/). Sayangnya, teman-teman Muhammadiyah seolah sudah mengidentikkan hisab dengan hisab wujudul hilal. Mengapa tidak mengikuti trend astronomi yang kini sudah mengarah pada hisab imkan rukyat untuk mendekatkan dengan praktek rukyat yang bagi sebagain kalangan harus dilakukan, walau hisab diperbolehkan.

      Masalah hari raya, keseragaman menjadi cermin yang kasat mata untuk dilihat. Apakah nyaman sekelompok orang sudah makan-makan, sedangkan kelompok lainnya masih berpuasa? Apalagi kemudian ada ungkapan haramnya puasa pada hari itu. Bagaimana pun ummat agama lain melihat berbedanya hari raya ummat Isalm digambarkan sebagai perpecahan. Dengan perbedaan itu, kita tidak pernah mempunyai sistem kelender hijriyah yang mapan yang berlaku dalam skala nasional dan global. Muhammadiyah tampaknya cukup puas kerdilnya sistem kalender hijriyah yang terkotak-kotak dalam kalender-kelender ormas.

      “Saling menghormati” adalah obat sementara untuk menyembuhkan keresahan. Sedangkan penyakit kronisnya dibiarkan tak tersentuh. Keresahan itu akan muncul berulang. Tiga tahun berturut-turut 1433 – 1435/2012-2014 kita juga dihantui potensi perbedaan awal Ramadhan kalau Muhammadiyah tidak mengubah kriteria wujudul hilalnya. Mungkin ada rasa “kepuasan” kalau Muhammadiyah berbeda, dengan nuansa “unggul” dengan metode hisabnya (yang sesungguhnya menggunakan kriteria usang dalam pandangan astronomi modern).

      Satu hal lagi, betapa berat tanggung jawab ahli hisab Muhammadiyah ketika memutuskan Idul Fitri sementara ummat Islam yang lain masih berpuasa. Ijtihad memang tidak ada yang berdosa, kalau niatnya ikhlas didasarkan pada kebenaran dalil dan ilmunya. Tetapi, benarkah niat itu yang ada di dalam hati, bukan niat ego organisasi? Benarkah ilmunya sudah memadai untuk menkaji kebenaran itu, karena bisa jadi itu sekadar ilmu warisan yang diikuti secara taqlid? Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh para pemikir di Muhammadiyah dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Tetapi dengan keenganan untuk mengkaji wujudul hilal yang dikritik kalangan ahli falak-astronomi, mungkin niat ikhlas berdasar kebenaran tercemar dengan niat mempertahankan keputusan organisasi, karena menutup diri dengan menganggap keyakinannyalah yang paling benar.

      Ibaratnya seorang muadzin mengumandangkan adzan maghrib berdasarkan jadwal lama di masijd. Jamaah di masijd itu yakin dengan ijtihad waktu shalat berdasarkan jadwal lama itu, tanpa mau mengoreksi dengan kondisi matahari terbenam. Padahal sudah ada jadwal shalat baru yang lebih akurat. Ego kelompok mempertahankan jadwal shalat lama itu, tanpa peduli dengan dampak adzan yang berkumandang sebelum matahari terbenam. Masyarakat di sekitar masjid yang resah dengan adzannya diabaikannya, hanya diimbau “marilah kita saling menghormati”.

      • Kayaknya bapak senang memaksakan pikiran sesat ya pak….menganggap kerdil orang atau pihak lain saya kira bukan pemikiran seorang ilmuwan besar atau jangan2 bapak antek-antek pihak yang mau mendeskriditkan pihan lain bapak????…..Janganlah arogan dan merasa benar bapak “DIATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT” dan ilmu yang paling luas hanyalah milik ALLAH SWT…

      • Dengan ada kata2 bpk “Tetapi, benarkah niat itu yang ada di dalam hati, bukan niat ego organisasi?” tsb, saya yg tadinya agak simpatik jadi agak anti pati dikit, yg tadinya saya rasa objektif jadi agak subjektif pemikiran bpk ini. Coba tampil yg elegan pak tdk emosional, itu salah satu ciri pemikir (ulil albab). lagian kalau min 4 derajat saya rasa puasa akan selalu 30 hari, padahal jaman Nabi 30 hari itu hanya alternatif, silakan bpk pelajari kata alternatif baik menurut bhs Inggris maupun bhs Indonesia…

      • Dulu kyai Ahmad Dahlan juga merubah arah kibalt dengan ilmu pengetahuan. Kenapa sekarang generasi Muhammadiyah tidak mau instropeksi dengan berkembanganya ilmu pengethuan?

      • masalah niat janganlah bapak pertanyakan, hanya org yang bersangkutan dan Allah swt yang paling tahu tetang apa isi hati org. saya yakin niat bapak juga baik, karena memang akan lebih baik bila hari raya dapat dirayakan secara serempak. tapi kalau bapak dan muhammadiyah sama2 BERTAHAN di posisi masing2, niscaya cita-cita kita bersama untuk merayakan hari raya secara serempak akan sulit untuk diwujudkan.

        kalau saya boleh menambahkan, mari kita hindari kata-kata menuduh org lain dengan sebutan kuno anti pembaruan, saya yakin niat muhammadiyah juga ingin melakukan pembaruan dgn tidak menggunakan metode rukyat.

        kiranya Allah memberikan ampunanNya untuk kita. amin.!

      • kalau Bpk. prof. yg merasa terakurat terus mengungkit-ungkit keseragaman, paksa umat lain masuk islam. bicara soal ego, bagaimana dengan ego bpk proff sendiri. Apakah Proff. nyaman melakukan hal semacam ini..? Apa org lain nyaman …?
        Mungkin proff, sudak terlalu tua, lelah dan letih karena sudah tidak bisa berbuat byk sedangkan ini sudah menjelang akhir zaman. IKHLASKAN saja proff… anda tak akan merubah apapun dengan cara begini.

      • Semoga Umat muhamadiyyah meu berubah, dan bisa lebih bijak untuk merumuskan gagasan agar kriteria penetapan awal bulan bisa bersatu dan itu tidak akan tercapai apabila hanya mengedepankan ego organisasi, tetapi dengan hati nurani dan niat yang suci insya Alloh kebersamaan dalam berhari raya bisa terpenuhi, dari seorang hamba yang mengidam-idamkan kebersamaan dan ukhuwah islamiyah

      • “Dengan perbedaan itu, kita tidak pernah mempunyai sistem kelender hijriyah yang mapan yang berlaku dalam skala nasional dan global. Muhammadiyah tampaknya cukup puas kerdilnya sistem kalender hijriyah yang terkotak-kotak dalam kalender-kelender ormas”

        …kalo kita bicara sistem kalender hijrayah global, mestinya yang betul adalah caranya hisab muhammadiyah, bukan nya cara pemerintah dll, buktinya 1 syawal 1432 H di Indonesia versi muhammadiyah yang jatuh pada selasa (30/8/2011) sama dengan malaysia, singapura, arab saudi, mesir, bahrain, qatar, uni emirat arab, dll. kan aneh kalo ada dua negara berdekatan seperti indonesia – malaysia pada hari yang sama memiliki tanggal berbeda… mohon pencerahannya pak prof…

      • saling menghormati memang adalah kata yg dapat meredam perbedaan. tetapi bukan kunci untuk menyelesaikan masalah.
        saya tidak memiliki background astronomi. saya hanya sekedar ingin berbeagi cerita ttg penentuan shalat ied negeri tempat saya tinngal (USA). awalnya, banyak organisasi islam di sini menggunakan metode global or local moon sighting, yg belakangan diplesetkan menjadi “moon fighting”. ketika kita mememsan tempat/hall untuk shalat ied, kita selalu memesan dua hari, karena kita blm bisa memastikan kapan ied akan tiba. suatu saat, pengurus satu hall bertanya, mengapa kita tidak bisa memastikan kapan bulan baru akan datang? bagi mereka ini suatu yang aneh, termasuk bagi saya pribadi. They have already landed on the moon, but we are still fighting to calculate a new moon.
        berdasarkan kesepakatan para ulama di sini, maka sekarang penentuan ramadahan dan syawal mayoritas mennugakan metode hisab. sehingga untuk 2-3 tahun ke depanpun, kita telah dapat menentukan kapan ramadhan, syawal, hajj dll.

        merujuk pada tulisan bapak, saya jadi bertanya-tanya. siapa gerangan kah yang menonjolkan ego? sebegitu sulitkan menentukan bulan baru sementara kalender NASA (lembaga antariksa terbaik di dunia) selalu membuat perhitungan bulan baru berdasarkan kalkulasi tanpa melihat metode rukyat atau metode hisab. kenapa pula kita harus menentukan 1-7 derajat untuk hilal? mengapa kita mempersulit diri sendiri dan menjadikan kita nampak bodoh di mata umat lain? benarkan metode yg NU, Persis, dan pemeritnah indonesia gunakan saat ini telah teruji? secara pribadi, saya lebih meyakini perhitungan yg dikeluarkan oleh NASA. lembaga ini bagi saya tidak terkontaminasi oleh ego pribadi, kelompok maupun pengaruh politik. jika kalender NASA menunjukkan bahwa bulan baru adalah 30 august dan bahkan mayoritas muslim di dunia menyatakan 1 syawal adalah 30 august, bagaimana mungkin anda menyatakan 1 syawal 31 august????? PERTANYAAN BESAR BAGI SAYA!!!!!!!!!!!!!

      • Menurut saya, persoalan pokok yg susah untuk dikompromikan adalah pandangan pak thomas yg masih belum dapat melepaskan diri dari terminologi ‘rukyat’. Kalau kita masih ada sedikit ruang untuk berhusnudzon, sebenarnya dibalik ‘kengototan’ Muhammadiyah mempertahankan hisab wujudul hilal, tersembunyi agenda besar yg sangat ambisius, yaitu bagaimana mewujudkan impian dunia Islam memiliki kalender hijriyah tunggal yg berlaku satu untuk planet bumi ini. Tulisan ini (http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-153-det-sekali-lagi-mengapa-menggunakan-hisab-.html) menggambarkan bagaimana langkah Muhammadiyah bersama masyarakat dunia Islam memulai impian itu (saya tidak tahu apakah pak prof thomas ikut dlm beberapa temu pakar tsb. Setahu saya, Indonesia hanya diwakili oleh Bos-nya Majelis Tarjih PP Muhammadiyah). Lompatan besar Muhammadiyah, disamping penerimaan hisab secara total dan tidak lagi berpegang pd ‘rukyat’, adalah penerimaan Garis Tanggal Internasional (IDL= International Date Line) sebagai prinsip yg menentukan dlm penyusunan kalender hijriyah. Di kalangan Muhammadiyah pun sudah dikenalkan 3 kriteria lain (diluar Wujudul Hilal) sebagaimana yg ada pd tulisan tsb. Tetapi Wujudul Hilal masih tetap dipakai (sembari menunggu kriteria yg disepakati dan berlaku mengikat secara global), karena kriteria ini yg memberikan pembelajaran yg sangat penting ketika kriteria hisab global nantinya akan disepakati. Di dalam penentuan 1 Syawal 1432 H ini memberikan pembelajaran yg sangat berharga. Bayangkan, ketika garis peta ketinggian hilal 0 derajat membelah wilayah negeri ini, warga Muhammadiyah yg berada di wilayah timur harus berlebaran bersama dgn saudaranya yg ada di wilayah barat, pdhal wilayah timur jelas2 masih berada di wilayah ‘bulan masih dibawah ufuk’. Bagi kita yg masih berpaham ‘rukyat minded’ akan gagal memahami kenyataan ini. Tetapi bagi saya, ini adalah investasi besar masa depan bagi berlakunya kalender hijriyah tunggal yg berlaku satu utk planet bumi. Karena apapun kriteria yg nantinya disepakati berlaku global, sepertinya wilayah negeri ini akan sering ‘ketiban sial’ karena fitrahnya sebagai negeri muslim terbesar paling timur. Ketiban sial, karena seringkali nantinya akan kita temui pada penentuan mulai puasa, berlebaran dan ber’idul adha (terutama sekali berkaitan dgn puasa arafah), wilayah ini secara geografis belum masuk wilayah ‘imkanur rukyat’ bahkan ‘masih di bawah ufuk’ (tetapi wilayah negeri lain sudah ‘imkanur rukyat’), kita di Indonesia akan (“dipaksa”) melaksanakan ibadah2 itu bersama2 pd hari yg sama dengan umat Islam di belahan bumi lain. (Inilah mungkin salah satu dari makna TAUHID, ketika masalah ibadah sudah tidak lagi terkotak2 oleh batas wilayah administratif politik negara). Dan, pada saatnya nanti kita boleh berbangga, karena kita mempunyai kalender hijriyah tunggal yg berlaku, bukan hanya utk kepentingan administratif, tetapi juga untuk kepentingan ibadah. Sehingga dalam melaksanakan ibadah akan lebih pasti dan dapat direncanakan jauh2 hari… cukup hanya dengan melihat kalender, kapan kita berpuasa, berlebaran, berpuasa arafah… tanpa perlu menunggu sidang itsbat lagi… allahu a’lam..

      • Menurut seorang teman di Tuban, pada 30 Agustus 2011, saat pagi hari, warga kampungnya melihat hilal yang sangat jelas di langit. Karena mereka mengikuti Sidang Istbat, mereka sempat melakukan Sahur. Akan tetapi, setelah melihat hilal di pagi hari, mereka segera membatalkan puasa.

        Begitulah mungkin orang awam menjalankan ibadah. Saya sendiri, juga melakukan hal yang sama, membatalkan puasa pada 30 Agustus 2011 di pagi hari. Sebab, salah satu keluarga yang ahli Tarekat, dan diyakini mampu menembus alam kebatinan, menyatakan bahwa pukul 08.00 WIB (pagi) pada 30 Agustus 2011 hilal sudah terlihat. Hal ini terjadi di kota Ciamis dan di lingkungan warga NU.

        Saya menyayangkan kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Pak Thomas yang cenderung provokatif. Ada agenda apa, sesungguhnya, selain penyeragaman kalender? Saya juga sempat bertanya-tanya, mengapa rukyat hanya dilakukan pada 29 Agustus, dan 30 Agustus tidak dilakukan? Dan, mengapa pada 31 Agustus 2011 lalu harus puasa sampai Magrib jika misalnya jam 12 siang sudah tampak hilal?

        Jika menggunakan hisab, pada 29 Agustus 2011, saat Magrib hilal sudah 1 derajat 50 menit. Logikanya, jam 20.00 WIB sudah masuk 2 derajat lebih (masuk imkan). Dan, jika keesokan harinya sekitar jam 08.00 WIB perkiraan hilal sudah lebih dari 10 derajat. Lalu, dalam rukyat, berapa derajat hilal bisa dilihat?

      • Ibadah itu harus dengan ilmu. Kalau tanpa ilmu, nanti ibadahnya tidak sah. Tidak mungkin hilal terlihat padi hari. Kalau terlihat menjelang matahari terbit, namanya bulan sabit akhir bulan. Hilal fenomena mata fisik, tidak tepat kalau digunakan mata batin untuk melihatnya.
        Tidak mungkin hilal makin tinggi di lokasi yang sama, karena hilal akan terbenam bersama dengan benda-benda langit lainnya.

      • kok sepertinya pak djamaludin sendiri masih keras hati, masih blm bisa terima kenyataan, apa bapak masih bisa mnjelaskan, hilal tanggal 30 agustus malam?kalo itu awal bulan ya aneh aja udah seterang itu, dan tadi mas samijan bilang, kalo jam20.00 harusnya diperiksa lagi. lha wong hilal pagi hari 10derajat. knp anda tidak mengomentari yang itu?tadinya, saya simpati, tapi lama2 melihat komen2 ini bnr2 antipati sama anda. anda sendiri menyudutkan teori hisab, tapi anda tidak bisa netral dan malah bersuuzon, malah semakin memaksakan teori anda. apa anda sadar?kalo anda masih tidak sadar ya sudah, omongan anda ini saya GAK PERCAYA!!

    • Sangat bijak nampaknya, dan peran Muhammadiyah selama ini tidak terbukti memecah ummat bahlan amal usaha Muhammadiyah tidak hanya menolong orang Muhammadiyah. Mhn Muhammadiyah juga tetap mau mengoreksi ilmu-nya.

      salam

      • kebanyakan sudah kadung merasa paling tepat dalam methodologi jadi mana mau membuka diri Mas?

    • Like this..

    • Benar, ‘otoritas tunggal’ itulah kuncinya. dan itu termasuk dalam ranah aqidah.
      Kenapa masih saja berputar2 sementara ulil amri sudah menetapkan dan berusaha sebaik mungkin.

    • Senang membaca pandangan anda Ki Ageng AF. Wibisono & Prof Djamaludin. Saya Warga Muhammadiyah yang sampai saat ini masih meyakini Hisab Wujudul Hilal sebagai landasan yang tepat dengan berbagai latar belakang dan tujuannya.

      Tetapi tetap saya meminta kepada pemimpin dan cendikiawan Muhammadiyah tidak berdiam diri dan merasa puas dengan metode yang ada saat ini. Cobalah jawab dengan bijak dan santun seperti Ki Ageng AF Wibisono semua kritikan dari Prof Djamaludin. Kalau Wujudul Hilal dianggap usang coba dijawab dengan baik dan uraikan kelemahan atau kelebihan dari metode yang baru yang dianggap lebih baik oleh Prof Djamaludin.

      Tetapi Prof Djamaludin juga harus bersabar dan melihat ini tidak bisa dengan ukuran waktu tertentu atau membandingkan dengan yang lain sudah “mau” melakukan perubahan tetapi Muhammadiyah tidak mau berubah. Tetapi jika semua ini Prof niatkan agar Muhammadiyah juga menjadi lebih baik,silahkan kritik Muhammadiyah tanpa harus kehabisan kesabaran. Insya Allah niatannya saja sudah mendapat Pahala…

      Trims untuk Ki Ageng AF Wibisono atas pandangannya….

      • @Moh. Sofyan Abdullah ; Alhamdulillah… saya warga Muhammadiyah merasa terwakili dengan komentar Bapak yang mencerahkan ini, smoga Allah selalu menuntun langkah2 kita dalam beribadah.. Amien.

  15. sebagai simpatisan Muhammadiyah, saya memohon para ahli Muhammadiyah menanggapi tulisan ini untuk kemaslahatan ummat.

  16. Ass,wr.Wb.
    Sedikit pertanyaan,
    apakah di zaman Nabi prnh terjadi perbedaan penentuan 1 syawal ? Tlng dijawab mas krn msh ada pertanyaan lanjutan.

    • Tidak ada, karena ada otoritas tunggal, yaitu Nabi. Saat ini terjadi perbedaan karena adanya beberapa otoritas.

      • Imam Muslim meriwayatkan:
        Diriwayatkan dari Kuraib bahwa Ummul fadhl binti harits pernah mengutusnya ke syam. Kata kuraib, “akupun datang ke syam lalu aku sampaikan pesan ummul fadhl dan tibalah awal ramadhan ketika aku berada di syam, maka aku melihat bulan DI MALAM JUM’AT, lalu aku datang ke madinah di akhir bulan, kemudian aku ditanya oleh Abdulloh bin Abbas, lalu dia membicarakan tentang hilal kemudian dia bertanya , “Kapan kamu melihat hilal, ?”
        aku menjawab, “Kammi melihatnya pada malam jum’at.”
        Dia bertanya, ” Kau melihatnya ?”
        aku jawab, ” Ya, dan orang orang juga melihatnya, lalu mereka berpuasa, mu’awiyah juga berpuasa”
        Kata ibnu abbas, ” Tapi kami melihat hilal pada malam sabtu, maka kami selalu berpuasa sehingga kami sempurnakan 30 hari, kecuali kalau kami melihat hilal.”
        Lalu kami bertanya, “Mengapa kamu tidak mengikuti ru’yat mu’awiyah dan puasanya ?”
        Dia Menjawab, “TIDAK, Demikianlah Rasululloh Mengajarkan pada kami”.

        Dari hadits atsar diatas pernah terjadi perbedaan ru’yat dikalangan Para sahabat.

      • perbedaan yang ada dasarnya itu masalah matlak tunggal, bila satu tempat lihat hilal seluruh dunia ikut. Atau matlaknya ikut daerah masing-masing.

        Tapi untuk seri muhammadiyah ini, bukan masalah matlak, tapi masalah metode hisab, yang tidak pernah dicontohkan oleh nabi dan para sahabat meskipun di kalangan sahabat pun ada yang bisa hisab (tapi gak terpakai) meskipun gak secanggih sekarang.

  17. “….. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya……”
    “……Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat……”
    – Mengapa koq HANYA Muhammadiyah yang diharapkan berubah ????
    – Mengapa pula cuma masalah awal ramadhan, 1 syawal, atau 10 dzulhijjah yang diributkan “orang-orang pintar” sehingga masyarakat (katanya) dibikin bingung. Padahal kalo mau konsisten mestinya jadwal shalat yang hasil hisab hakiki itu nggak usah dipakai aja. Dan orang-orang mestinya menunggu “pengumuman pemerintah” setiap kali mau melaksanakan shalat yang 5 kali sehari itu…..kan nggak ada dalilnya, kalo waktu shalat itu berdasarkan jadwal…..

    • Mengapa hanya Muhammadiyah yang diharapkan berubah? Karena hanya Muhammadiyah yang enggan berubah. Ormas-ormas lain sudah mau berubah. NU yang semula tidak mempercayai hisab imkan rukyat kini mereka menerapkannya untuk memandu rukyat, termasuk untuk menolak kesaksian rukyat. Persis yang sama-sama Muhammadiyah mendasarkan pada hisab sudah meninggalkan hisab wujudul hilal, beralih ke hisab imkan rukyat.
      Tanggapan kedua tidak relevan, karena tampak kental nuansa dikhotomi “hisab-rukyat”. Padahal secara astronomi, hisab dan rukyat setara.

      • Prof. selain bulan Ramadhan dan Zhulhijah kok tidak dirukyat? Mengapa? Pake apa dalam menentukan bulan Safar, Muharram dan 10 bulan lainnya?

      • @muhammad sayuti
        mohon cek qur’an anda dahulu di surat Al-baqoroh ayat 183 dst, bulan romadhon ini ada perintah untuk melihat.(melihat loh ya, bukan menghitung) Maka berpuasalah…

      • Untuk menentukan awal bulan hijriyah semua memang menggunakan ilmu hisab dan nantinya digunakan untuk membantu kita dalam pelaksanaan ru’yah. dan ru’yah tanpa ilmu hisab juga dipertanyakan keakuratannya. dan untuk bulan selain 3 bulan tersebut tidak serta merta/ terekspose dimedia massa, namun para ahli falak ataupun ahli astronomi tentu ingin membuktikan kebenaran dan keakuratan hitungan ilmu hisabnya dengan melaksanakan ru’yah, namun tidak mengundang media masa sehingga anda (m sayuti) tidak mengetahuinya. lha dari sinilah para pakar falak, Astronomi selalu ingin membuktikan secara ilmiyah kebenaran ilmu yang telah dia dapat untuk mendapatkan ilmu yang baru dari Allah sehingga ilmu falak (hisab-red) selalu berkembang mulai dari urfi, taqribi sampai yang tahqiqi semua itu tidak muncul serta merta, tapi itu merupakan menyempurnaan karena memang dilihat ada kekurangan yang ditunjukkan Allah. Jadi kagak benar kalo orang mengkritik itu menunjukkan bahwa orang tersebut itu paling hebat itu adalah persepsi yang sangat salah dan tidak beretika dalam kaidah ilmu pengetahuan.

        perlu diketahui bahwa bumi ini bulat, sehingga permukaannya melengkung namun mata manusia melihatnya sebagai garis lurus karena memang keterbatasan manusia sehingga dalam melihat hilal tentunya ada koreksi dan batas kemampuan manusia untuk melihat sesuatu di balik bumi tersebut lha faktor koresksi itulah yang saat ini dikenal sebagai “IMKANUR RU’YAH”

        Wallahu A’lam bishowaf

      • Bung Djamal, kalau beberapa ormas pindah dari rukyat murni ke imkan rukyat itu berarti secara implisit mereka sudah pusing tujuh keliling dengan metoda rukyat dan diam2 mulai mengakui tepatnya pilihan hisab. Hanya saja krn malu ngikut hisab wujudul hilal lalu dibuatlah kriteria baru yg “banci”: Rukyat bukan, Hisab pun bukan.
        La imkan rukyat yg 2 derajad itu dasarnya apa? Anda juga tahu itu tidak berdasar, tapi anda pasti tidak akan mempermasalahkan seperti mempersalahkan metoda yg dipakai muhammadiyah seandainya nanti hilal 2.3 derajad terus ada yg ngaku bisa merukyat dan oleh krnnya diterima dalam sidang isbat krn sdh “sesuai” kriteria, padahal anda tahu persis 2.3 pun masih mustahil teramati.
        Jadi ini justru meyakinkan saya bahwa cara hisab wujudul hilal lah yg paling masuk akal dan applicable unt memecahkan semua permasalahan kalender islam.
        Unt Muhammadiyah jangan berkecil hati. Prediksi saya suatu saat nanti semua akan realistis pakai wujudul hill.

    • membaca tulisan pak tj jamaluddin,kami yang awam merasa ada harapan mengenai perbedaan penetapan 1syawal,tapi harapan ini sirna melihat tertutupnya hati saudara2 kami Muhammadiyah yg justru tidak mau menerima masukan ini dengan pemikiran jernih.Mereka terkesan emosi.Nu,Persis udah mau berubah hanya Muhammadiyah yg kaku.Dari umat Islam yang ada di Indonesia itu yang paling banyak umat yg tdk terikat oleh organisasi Islam manapun,tolong ini diperhatikan,dimana mereka binggung oleh perbedaan 1syawal.Utk itu organisasi2 Islam NU,Muhammadiyah,presis dll,juga pemerintah duduk satu meja cari solusi/titik temu tentang penetapan 1 syawal. InsyaAllah bisa.Apa yg disampaikan oleh Prof itu terobosan positif yg patut ditindak lanjuti.Semoga Allah selalu bersama Prof dlm mempersatukan umat Isam di Indonesia ini

    • Berbicara mengenai ru’yat sebagai suatu dalil yang bisa digunakan untuk penetapan waktu-waktu ibadah boleh dikatakan semua orang muslim memahaminya dalam tataran konsep.Walaupun dalam tataran praktis penggunaan hisab bukanlah hal yang baru, apalagi untuk penetapan waktu-waktu shalat. Hampir bisa dikatakan bahwa kita tidak bisa lepas dari yang namanya hisab. Hal ini bisa dibuktikan dari hampir selalu adanya jadwal waktu-waktu shalat di masjid-masjid maupun mushalla-mushalla yang kita jumpai. Demikian pula halnya dengan keberadaan kalender hijriyah yang secara praktis merupakan produk hisab, masih bisa diterima di seluruh lapisan muslim. Sedikit berbeda ketika berhubungan dengan penetapan awal dan akhir Ramadhan dan awal Dzulhijjah, perbedaan mengemuka di kalangan ummat dengan kepentingannya dan argumentasinya sendiri-sendiri. Secara garis besar terdapat tiga faham yang berbeda dalam penetapan penanggalan Islam:
      1.Hanya menggunakan ru’yat khususnya untuk bulan-bulan ‘ibadah.

      2. Menggunakan ru’yah, dan hisab digunakan untuk validasi kebenaran kesaksian ru’yat

      3. Hisab dapat digunakan secara mandiri untuk penetapan penanggalan dan waktu-waktu ‘ibadah lainnya.

      Kelompok-kelompok yang ada tersebut tidak ada yang menolak mengenai sahnya penetapan penanggalan dengan ru’yat, hanya saja bagi yang bermadzhab hisab, hisab memiliki lebih banyak aspek mashlahatnya karena lebih memberikan kepastian mengenai posisi hilal yang menjadi dasar penetapan penanggalan Islam. Sementara bagi penganut ru’yat, ru’yat hilal merupakan aspek ta’abbudi yang harus diikuti untuk mengawali dan mengakhiri bulan-bulan ‘ibadah.

      Namun bila dinyatakan bahwa hisablah sebenarnya yang dianjurkan Islam untuk penetapan waktu-waktu ‘ibadah mungkin banyak orang yang mempertanyakannya termasuk mungkin bagi mereka yang menggunakan hisab.

      Hisab sesuai Sunnatullah

      Ilmu hisab falak adalah ilmu yang diajarkan Allah kepada hamba-Nya secara langsung, sekaligus sebagai bukti al-Qur’an kalam Allah bukan buatan Muhammad seorang yang ummi sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang-orang kafir, sekaligus sebagai bukti kebenaran berita al-Qur’an yang merupakan mu’jizat sepanjang zaman. Dalil-dalil ini di antaranya:

      الرحمن علم القرءان خلق الإنسان علمه البيان الشمس والقمر بحسبان (الرحمن:1-5)

      (Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur’an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

      هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب ما خلق الله ذلك إلا بالحق يفصل الآيات لقوم يعلمون(يونس:5)

      Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui

      Pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa ilmu hisab bukan sebagai ilmu Islam justru bertentangan dengan banyak dalil dari al-Qur’an, dan jelas suatu pendustaan terhadap firman Allah.

      Pandangan sebagian ulama terdahulu yang menentang hisab terutama muncul dari kalangan mereka yang kurang memahami Ilmu ini dan mengabaikan firman-firman Allah dalam al-Qur’an mengenai hisab dan ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian diikuti fara muqallidin dari kalangan ulama khalaf yang mengikuti pendahulunya dengan menisbahkannya sebagai sunnah. Inilah yeng menjadi akar timbulnya pertentangan di kalangan ummat karena mereka telah meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

      Sikap penolakan terhadap ilmu hisab khususnya untuk penetapan bulan-bulan ‘ibadah terutama dilatarbelakangi oleh:

      Ketidak-fahaman sebagian ulama (bukan ahli hisab) tentang hakikat ilmu hisab dan menganggapnya sebagai ilmu meramal yang tidak bisa mencapai derajat yakin.
      Adanya anggapan bahwa ilmu hisab sebagai bagian dari ilmu peramalan nasib dengan bintang yang ditentang Islam, sehingga haram menggunakannya.
      Ketidak-fahaman para penentang hisab yang menganggap hisab sama-sekali lepas dari ru’yat dan menyalahi sabda-sabda Rasulullah tentang penetapan penanggalan Islam terutama bulan-bulan ‘ibadah.

      Alasan-alasan di atas dengan jelas ditentang oleh Allah seperti dalam dalil-dalil tersebut di atas, yang menyatakan bahwa sifat ‘bi-husbaan’ merupakan sunnatullah yang sama sekali berbeda dengan ilmu meramal nasib oleh para ahli nujum (astrologi), bahkan mendalami astronomi sangat dianjurkan oleh Allah Ta’ala.

      Penolakan terhadap ketetapan Allah ini jelas-jelas merupakan kekufuran terhadap ayat-ayat Allah yang tidak mungkin dilakukan oleh generasi awal ummat ini, dengan demikian terbantahlah anggapan bahwa telah adanya ijma’ dari generasi awal ummat bahwa mereka menolak hisab. Yang benar adalah mereka belum menguasai ilmu hisab falak sehingga mereka tidak sepenuhnya menggunakannya, sebagaimana yang akan kita bahas berikut ini.

      Anggapan bahwa ilmu hisab sebagai bagian dari ilmu peramalan nasib dengan bintang yang ditentang Islam, sehingga haram menggunakannya sama sekali tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan bertentangan dengan firman Allah bahwa itu merupakan ketetapan-Nya yang haq (sunatullah) dan sama sekali tidak sama dengan ilmu ramalan bintang. Pendapat ini muncul dari kebodohan orang tentang ilmu ini dan enggan untuk mentafakuri ayat-ayat Allah tentang alam semesta, sebagaimana tersebut dalam firman Allah

      إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب(190)الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار (أل عمران: 191)

      “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

      Anggapan bahwa hisab sama-sekali lepas dari ru’yat dan menyalahi sabda-sabda Rasulullah tentang penetapan penanggalan Islam jelas suatu pendapat yang sangat keliru, karena ilmu hisab falak ini lahir dari serangkaian penelitian data-data ru’yat yang dilakukan selama periode yang panjang bahkan dari generasi ke generasi, serta melalui tahap ujicoba dan analisis yang cermat sehingga ditemukan formulasi hisab, yang akurat dan teruji dengan baik.

      Al-Qur’an menekankan Hisab untuk Penentuan Penanggalan

      Landasan penanggalan kalender Islam (kalender hijriyyah) ditetapkan langsung oleh Allah dalam al-Qur’an dalam beberapa ayat yang terpisah-pisah.

      إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين (التوبة:36)

      Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

      Berdarakan ayat di atas, Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita bagaimana kalender Islam seharusnya dibangun yang berbeda dengan kalender luni-solar yang sebelumnya digunakan oleh Arab pra Islam. Kalender Arab pra-Islam adalah kalender qamariyah yang disesuaikan dengan periode pergantian musim tahunan, sehingga setelah periode tertentu, satu tahun ada penambahan satu bulan untuk menyesuaikan dengan musim tahunan. Bulan tersebut dikenal dengan bulan Nasi. Dan oleh Islam kebiasaan tersebut dibatalkan. Selanjutnya Allah berfirman:

      إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ(التوبة:37)

      Sesungguhnya an-nasi’ (mengundur-undurkan bulan haram) itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

      Allah juga menegaskan bahwa wujud hilal-lah yang menjadi batas-batas berawal dan berakhirnya suatu bulan, yaitu hilal yang dapat disaksikan di akhir setiap bulan. Dan oleh karena pergantian hari kalender Islam adalah maghrib maka hilal tersebut adalah hilal yang muncul bersamaan dengan terbenamnya Matahari. Allah berfirman:

      يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج (البقرة:189)

      Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji

      Allah menjelaskan suatu fenomena sekaligus mengajarkan bahwa Matahari dan bulan beredar mengikuti perhitungan.

      الرحمن علم القرءان خلق الإنسان علمه البيان الشمس والقمر بحسبان (الرحمن:1-5)

      (Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Qur’an, Yang telah menciptakan manusia, Yang mengajarinya ilmu pengetahuan. Matahari dan bulan beredar mengikuti perhitungan.

      Bahkan Allah menjelaskan bahwa sebagai akibat dari peredaran tersebut, fase-fase bulan terbentuk dan membentuk siklus bulanan. Allah berfirman:

      وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ(يس: 39)

      Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

      Fase dari hilal pertama ke hilal berikutnya dari satu siklus itulah yang dinamakan satu bulan. Allah Ta’ala menjelaskan bahwa terbentuknya fase-fase tadi merupakan suatu ketetapan Allah yang semuanya bisa diukur, bisa dihitung dan dengannyalah Allah mengajarkan ilmu bagaimana menghitung tahun dan menghisabnya kepada kita.

      هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب ما خلق الله ذلك إلا بالحق يفصل الآيات لقوم يعلمون إن في اختلاف الليل والنهار وما خلق الله في السموات والأرض لآيات لقوم يتقون(يونس:5-6)

      Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.

      Allah menjelaskan dengan itu bukti-bukti kebenaran firmanNya, bahwa al-Qur’an adalah kalamullah mustahil dibuat oleh Muhammad saw seorang yang ummi melainkan semata-mata wahyu Allah yang diterimanya dan disampaikannya kepada ummatnya apa adanya.

      Bukti-bukti ini memang pada masa-masa awal Islam belum bisa dipahami sepenuhnya oleh kaum muslimin karena kebanyakan dari mereka adalah kaum yang ummi, namun al-Qur’an adalah mu’jizat sepanjang zaman yang akan membatalkan setiap tuduhan siapapun yang mengatakan al-Qur’an buatan Muhammad. Dan bukti-bukti ini telah terbukti bagi kita sekarang. Lalu apakah kita masih akan ragu dengan kebenaran al-Qur’an? Inilah mungkin rahasia yang terungkap dari turunnya ayat al-Qur’an surat Ali Imran 190-191.

      إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب(190)الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار (أل عمران:191)

      “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

      Dalam suatu riwayat dijelaskan setelah turun ayat ini Rasulullah terus menerus menangis sepanjang malam bahkan ketika Rasulullah melaksanakan shalat malam, hingga ketika waktu shubuh datang dan Rasulullah belum hadir Bilal mengunjunginya dan menanyakannya apa gerangan yang membuat seorang Rasul yang ma’shum menangis. Rasulullah menjawab turunnya ayat inilah yang membuatnya menangis. Lantas beliau mengatakan celakalah orang yang membacanya tapi tidak mau mentafakurinya.

      Rasulullah Mengajarkan Prinsip-prinsip Dasar Hisab

      Penggunaan hisab ini sebagai dalil penentuan penanggalan qamariyah maupun waktu-waktu ibadah lainnya ditetapkan dan dijamin oleh Allah, namun kaum muslimin saat itu bukanlah orang-orang yang bisa menghisab bulan. Pengetahuan ilmu hisab belum berkembang saat itu dikalangan kaum muslimin. Perhitungan yang dikenal dan dikuasai umumnya sebatas perhitungan-perhitungan sederhana yang biasa digunakan dalam transaksi jual-beli, takar-menakar, dan sebagainya. Untuk menentukan waktu harian mereka biasa melihat posisi Matahari; dan untuk menentukan penanggalan, mereka melihat posisi dan fase bulan. Praktek ru’yat ini merupakan praktek yang sudah terbiasa dikalangan bangsa Arab pra Islam, tidak ada yang asing dalam hal bagaimana meru’yat hilal, dan memahami perubahan fase-fase bulan. Mereka bisa secara langsung memprediksi tanggal berapa hanya dari melihat posisi dan fase bulan yang muncul.

      Rasulullah menyampaikan sesuatu yang baru dalam menetapkan penanggalan dalam Islam sesuai ketentuan Allah. Beliau mengoreksi sistem penanggalan era pra-Islam yang mengenal adanya bulan ke-13 pada tahun-tahun tertentu dan menetapkan hanya ada 12 bulan dalam satu tahun sebagaimana telah dijelaskan di muka. Beliau juga menjelaskan dan memperkenalkan hisab secara sederhana dan bertahap tanpa secara langsung meninggalkan ru’yat. Apa yang dijelaskan Rasulullah adalah membimbing kaum muslimin bagaimana memahami hisab secara sederhana dengan menekankan pada kaidah-kaidah dasar yang harus dipenuhi, yang bisa dijadikan rujukan baik bagi kalangan awam maupun para ulama Islam berikutnya.

      Berikut ini di antara dalil-dalil yang menceritakan panduan-panduan yang diajarkan Rasulullah untuk menghisab bulan.

      وحدثني زهير بن حرب حدثنا إسماعيل عن أيوب عن نافع عن بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إنما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له ( مسلم )

      وحدثني حميد بن مسعدة الباهلي حدثنا بشر بن المفضل حدثنا سلمة وهو بن علقمة عن نافع عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم الشهر تسع وعشرون فإذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فاقدروا له ( مسلم )

      Dari Nafi’ dari Ibn ‘Umar ra, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya satu bulan itu 29 (hari), maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihatnya dan janganlah kamu berbuka sehingga melihatnya, maka jika terhalang atasmu maka perkirakanlah ia. (Muslim)

      حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أبو أسامة حدثنا عبيد الله عن نافع عن بن عمر رضي الله عنهما ثم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر رمضان فضرب بيديه فقال الشهر هكذا وهكذا وهكذا ثم عقد إبهامه في الثالثة فصوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن أغمي عليكم فاقدروا له ثلاثين

      وحدثنا بن نمير حدثنا أبي حدثنا عبيد الله ثم بهذا الإسناد وقال فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين نحو حديث أبي أسامة ( مسلم )

      وحدثنا عبيد الله بن سعيد حدثنا يحيى بن سعيد عن عبيد الله بهذا الإسناد وقال ثم ذكر رسول الله صلى الله عليه وسلم رمضان فقال الشهر تسع وعشرون الشهر هكذا وهكذا وهكذا وقال فاقدروا له ولم يقل ثلاثين ( مسلم )

      Dari Nafi’ dari Ibn ‘Umar ra, ia berkata, kemudian Rasulullah saw menyebut Ramadhan memberi isyarat dengan kedua tangannya kemudian bersabda: “Satu bulan itu begini, begini dan begini kemudian nabi melipat jempolnya pada yang ketiga, maka berpuasalah kamu karena melihatnya dan berbukalah kamu karena melihatnya, maka jika terhalang atasmu maka perkirakanlah 30. Di riwayat lain dari Ubaidillah dengan isnad ini kemudian Rasulullah saw menyebut Ramadhan kemudian beliau bersabda: “Satu bulan itu 29, satu bulan itu begini, begini dan begini dan berkata maka perkirakanlah baginya, dan beliau tidak menyebut 30. (Muslim)

      وحدثني عن مالك عن عبد الله بن دينار عن عبد الله بن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ثم الشهر تسعة وعشرون فلا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له ( مالك )

      Dari Ibn Dinar dari Abdullah bin ‘Umar ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: “Kemudian satu bulan itu 29 (hari), maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal dan janganlah kamu berbuka sehingga melihatnya, maka jika terhalang atasmu maka perkirakanlah ia. (Malik)

      Hadits-hadits tersebut mengajarkan bagaimana prinsip-prinsip hisab dibangun, sekaligus Rasulullah menjelaskan mengenai apa yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an:

      Dasar lamanya satu bulan adalah 29 hari.

      Dalam banyak hadits yang shahih Rasulullah mengatakan bahwa satu bulan adalah 29 hari (malam). Pengenalan ilmu hisab pertama dari Rasulullah. Bahwa satu bulan cukup menghitung 29 hari dari saat pertama terlihatnya hilal tanpa harus mengamati perubahan fase bulan dari hari-ke hari. Hilal baru tidak mungkin muncul di hari-hari kurang dari itu. Dan ini merupakan batas minimal satu bulan yang diajarkan Rasulullah, selanjutnya:

      Yakinkan wujudnya hilal pada akhir hari ke-29 (saat ghurub), jika hilal diyakini ada maka tetapkanlah lama bulan 29 hari.
      Jika wujud hilal pada saat itu dipastikan tidak ada maka tetapkanlah hitungan bulan 30 hari.

      Kaidah ini merupakan kaidah hisab praktis yang dapat dengan mudah diterima oleh kaum muslimin, karena sesuai dengan realita. Jika pada akhir tanggal 29 hilal dipastikan tidak wujud, maka dapat dipastikan bahwa keesokan harinya sudah jauh di atas ufuk, walaupun mendung menghalangi pandangan. Dengan demikian tidak diperlukan lagi adanya ru’yat, cukup hisablah bulan 30. Dan tentunya kesimpulan ini didukung oleh bukti-bukti ru’yat yang cukup panjang.

      Meyakinkan wujudnya hilal dengan hisab bukanlah hal yang sulit, namun dalam kondisi awal-awal Islam kaum muslimin boleh dikata belum menguasai ilmu hisab, kemampuan ilmu hisab hanya terbatas penjumlahan dan pengurangan sederhana yang sering dipakai dalam transaksi jual beli atau takar menakar. Bahkan alat ukur waktu seperti yang ada sekarang belum pernah diberitakan ada semua dibaca dari tanda-tanda alamiah alam, sehingga diperlukan suatu kaidah transisi, yang diajarkan Rasulullah yang kemudian diceritakan dan atau disampaikan para sahabat apa adanya atau sesuai pemahaman mereka.

      Jika pada akhir hari ke-29 (saat ghurub) hilal tidak terlihat (tidak wujud) karena terhalang, maka yakinkanlah akan wujudnya hilal, dan tetapkan hitungan 30 hari saat wujud hilal tidak bisa dibuktikan (tidak ada berita kesaksian hilal).

      Pernyataan ini menolak anggapan bahwa penghalang menjadi illat hukum ikmal jumlah hari menjadi 30, karena illat hukumnya sendiri adalah wujud hilal (diyakini wujudnya hilal). Dan ini sesuai kaidah ushul:

      الحكم يدور مع علته وجودا و عدما

      “Hukum berjalan sesuai ‘illatnya ada dan tiada.”

      Wujud hilal itulah yeng menjadi illat hukum ditetapkannya tanggal baru, bukan mendung sebagaimana difahami sebagian orang. Kaidah ikmal menjadi tiga puluh hari saat mana hilal diyakini belum wujud pada akhir tanggal 29 adalah sejalan dengan kaidah ushul ini, karena bila pada tanggal 29 hilal tidak wujud naka dapat dipastikan bahwa hilal wujud pada tanggal 30 walaupun pandangan kita terhalang untuk melihatnya. Argumentasi bahwa wujud hilal sebagai illat hukum ditetapkan awal bulan sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

      يسألونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج (البقرة:189)

      Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji

      Dan ini secara praktis diakui oleh kaum muslimin bahwa terhalangnya pandangan dari segolongan besar muslim akan melihat hilal gugur manakala ada kesaksian walaupun sebagian kecil tentang adanya hilal. Dengan demikian sesungguhnya yang menjadi ijma’ di kalangan shahabat adalah wujud hilal sebagai dalil ditetapkannya awal bulan, dan bukan melihatnya itu sendiri. Dan ini sesuai dengan firman Allah di atas. Dari uraian ini maka akan jelaslah makna firman Allah Ta’ala:

      فمن شهد منكم الشهر فليصمه

      “Maka barang siapa di antara kami menjadi syahid (datangnya) bulan maka hendaklah ia berpuasa.”

      Makna syahid berdasarkan banyak dalil lebih mengarah kepada pengetahuan dan keyakinan dan bukan kepada kesaksian dengan mata. Dan keyakinan datangnya bulan bisa diketahui dengan melihat langsung, dengan kesaksian orang lain atau dengan hisab sebagaimana yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an. Coba perhatikan bagaimana Rasulullah menuntun para sahabatnya yang ummi untuk bisa menghisab dengan mengajarkan bahwasanya satu bulan 29 hari tanpa harus mengamati perubahan fase bulan dari hari ke hari, kemudian apa yang kemudian difahami para sahabat tentang menghisab atau menetapkan hitungan 30 saat sama sekali hilal tidak bisa disaksikan mata pada akhir tanggal 29.

      Dan dengan penggunaan hisab prediksi wujudnya hilal lebih bisa dipastikan daripada dengan ru’yat dan inilah yang disinyalir dalam al-Qur’an:

      هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب ما خلق الله ذلك إلا بالحق يفصل الآيات لقوم يعلمون

      Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

      Berdasarkan ayat ini Allah memberitakan bahwa Dia telah menetapkan fase-fase bulan dan memungkinkan untuk menghisabnya. Sehingga fase-fase hilal tersebut sebenarnya bisa dihitung untuk menetapkan apakah hilal sudah ada atau belum. Ayat inipun memberi indikasi bahwa ilmu hisab tidaklah lahir dengan sendirinya tetapi melalui proses yakni proses ru’yat dan pencatatan data-data ru’yat yang Selanjutnya dianalisis, diuji dan diformulasikan sehingga dihasilkan formulasi hisab seperti yang ada sekarang. Namun kaum muslimin saat itu adalah kaum tidak menguasai ilmu hisab, sehingga untuk meyakinkan hadirnya hilal dimintailah kesaksian orang-orang dari daerah-daerah sekitar tentang tampaknya hilal pertama tadi. Di satu daerah bisa jadi berkabut, mendung atau karena halangan-halangan lainnya sehingga hilal tidak bisa disaksikan, namun di daerah-daerah lainnya yang berdekatan bisa jadi hilal bisa dilihat. Dan kesaksian inilah yang diakui. Ini menggambarkan bahwa begitu ada halangan melihat hilal tidak serta merta satu bulan dihitung menjadi 30, tapi menunggu kepastian ada tidaknya hilal dari hasil penglihatan orang-orang lainnya. Hal inilah bisa jadi rahasia mengapa Allah menekankan hisab, karena kemampuan melihat seseorang bisa terhalang oleh berbagai hal seperti lokasi, mendung, debu dan sebagainya.

      Berkaitan ini saya nukilkan beberapa riwayat yang menggambarkan fenomena ini:

      Dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Manusia mencari-cari hilal, maka aku kabarkan kepada Nabi bahwa aku melihatnya, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pun menyuruh manusia berpuasa.” (HR Abu Daud (2342), Ad Darimi (2/4), Ibnu Hibban (871), Al Hakim (1/423), Al Baihaqi (4/212), dari dua jalan, yakni dari jalan Ibnu Wahb dari Yahhya bin Abdullah bin Salim dari Abu Bakar bin Nafi’ dari bapaknya dari Ibnu Umar, sanadnya hasan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam At Talkhisul Habir (2/187)[i].

      Dikisahkan ketika seorang Arab Badui melapor kepada Nabi bahwa ia menyaksikan hilal, maka Nabi menerimanya padahal ia berasal dari daerah lain dan Nabi juga tidak minta penjelasan apakah mathla’-nya berbeda atau tidak. (Majmu’ Fatawa, 25/103) Hal ini mirip dengan pengamalan ibadah haji jaman dahulu di mana seorang jamaah haji masih terus berpegang dengan berita para jamaah haji yang datang dari luar tentang adanya ru’yah hilal. Juga seandainya kita buat sebuah batas, maka antara seorang yang berada pada akhir batas suatu daerah dengan orang lain yang berada di akhir batas yang lain, keduanya akan memiliki hukum yang berbeda. Yang satu wajib berpuasa dan yang satu lagi tidak. Padahal tidak ada jarak antara keduanya kecuali seukuran anak panah. Dan yang seperti ini bukan termasuk dari agama Islam. (Majmu’ Fatawa, 25/103-105)[ii]

      1993 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ يَعْنِي ابْنَ أَبِي ثَوْرٍ ح و حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ يَعْنِي الْجُعْفِيَّ عَنْ زَائِدَةَ الْمَعْنَى عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ الْحَسَنُ فِي حَدِيثِهِ يَعْنِي رَمَضَانَ فَقَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ فَلْيَصُومُوا غَدًا *(أبو داود)

      Fenomena di atas menjelaskan bahwa kepastian hilal yang dilakukan melaui ru’yat perlu dikonfirmasi dengan kesaksian-kesaksian yang lainnya untuk mendapatkan informasi yang meyakinkan tentang wujudnya hilal. Sehingga untuk kasus ini berlaku kaidah bahwa yang melihat secara langsung setelah diketahui kejujurannya didahulukan dari yang tidak bisa melihat, bahkan informasi yang tertunda tetap diterima walau hari sudah berjalan.

      Dengan demikian jelaslah sebenarnya hisablah yang ditekankan dalam Islam dan diajarkan Rasulullah. Rasulullah telah mengajarkan prinsip-prinsip dasar hisab kepada kaum muslimin saat itu sebagai bahan rujukan bagi generasi sesudahnya, sekaligus memandu bagaimana ilmu hisab itu bisa terwujud dengan digalakkannya ru’yat hilal, yang dari data-data yang ada yang dikumpulkan selama waktu yang panjang, para ulama yang terpanggil dengan seruan Allah bisa mempelajarinya, merumuskannya, lantas mengujinya dan menuangkannya menjadi suatu ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu hisab (falak).

      Ayat-ayat al-Qur’an ini tidak hanya memandu orang beriman, bahkan juga telah memberi inspirasi dan mendorong orang-orang kafir mempelajari ilmu pengetahuan tentang jagat raya dan mengungkap rahasia-rahasia kebesaran Allah lainnya di alam semesta ini sehingga mereka bisa mencapai pengetahuan dan teknologi seperti yang terjadi sekarang ini.

      Dan inilah salah satu hujjah atas orang-orang kafir yang membantah kebenaran al-Qur’an sebagai kalamullah. Namun adakah mereka masih meragukannya, setelah bukti-demi bukti kebenaran al-Qur’an dibukakan dihadapan mereka?

      Lalu bagaimana mungkin ada segolongan yang mengatakan beriman dan mau tunduk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah justru mengatakan ilmu ini sebagai bagian dari ajaran paganisme? Kalau memang demikian keimanan kepada siapakah yang dianut ketika ungkapan penolakan ini dilontarkan. Ingatlah saudara-saudaraku dan segeralah kalian bertaubat kepada Allah agar kalian diampuni-Nya.

      أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ(الجاثية: 23)

      Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

      • jangan lupa dalam memahami apalagi menafsirkan alquran harus dengan ilmu dan petunjuk dr rasulullah serta para sahabat para tabi’in tabiut tabi’in akhi, karena sahabat atau assaabikuunalawwalunlah yg lebih paham dan menyaksikan langsung wahyu diturunkan kpd nabi, makanya ada sunnah(hadist nabi) yg mejelaskan kitabullah. nabi shallallahu’alaiwassallam jg memerintahkan ke kita sdelalu menggigit sunnahnya sedangkan perkataan beliau yang keluar bukanlah hawa nafsunya yang berbicara, melainkan sama jg datangnya dari Allah ‘Azzawajalla, beda dg kita yg jauh sekali jarak hidupnya dan tingkat keimanannya dg mereka, apakah kita menafsirkan dg akal kita yg sangat terbatas apalagi mendahului mereka seperti imam2 empat yg mana tidak satupunpun generasi-generasi terbaik dan para jumhur ulama sebelum kita ini yg mengadakan sesuatu yg baru seperti model hisab ini, padahal di jaman nabipun hisab itu sudah ada, pertanyaannya kenapa nabi lantas tidak memakainya/? bukankah akan sangat membantu.. justru nabi memerintahkan dengan melihat langsung hil;al dan apabila tdk memumngkinkan hilal tidak nampak maka lebaran digenapkanlah jadi 30 hari, karena disitulah hikmah dr penegasan melihat langsung hilal yg sesuai dengan sunnahnya. nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda; “puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa.dan berbuka kalian ialah pada hari kalian (semua) berbuka. dan hari penyembelihan kalian(idul adha), ialah hari ketika kalian menyembvelih”. dalam menjelaskan hadist ini At tirmidzi berkata: ” sebagian ahli ilmu menfsirkan hadist ini; berpuasa & berbuka bersama jama’ah (kaum muslimin pada umumnya)”. lihat sunan Tirmidzi bertsama Tuhfah(3/383)

  18. Tulisan ini terkesan emosional dan subjektif. Karena penulis adalah profesor, mestinya setiap klaim metode Muhammadiyah lemah atau metode NU kuat, disertai dgn evidence sehingga terungkap kebenaran hakiki, bukan kesan subjektif. Karena ditulis pakar astronomi, alangkah asiknya jika ada penjelasan ilmiah mengapa metode NU bagus, akurat dan modern, dan mengapa metode Muhammadiyah tidak akurat dan kadaluarsa? Setelah membaca alasan alasan ilmiahnya masyarakat bisa menentukan mana yg lebih akurat, sesuai tuntunan agama, dan perlu diikuti. Jadi pilihan masyarakat bukan karena ikut ikutan pakar tapi karena memang benar.

    • Bagi yang faham ilmu hisab-astronomi, mereka tahu bahwa hisab wujudul hilal sudah kaladuwarsa alias usang. Trend astronomi sekarang mengarah pada hisab imkan rukyat yang kini dipakai NU dan Persis. Ingin tahu lebih banyak? Silakan baca tulisan-tulisan saya di blog saya ini. Jika berminat, saya mengajak untuk belajar ilmu hisab juga untuk memperkuat Muhammadiyah. Ilmu hisab itu mudah.

      • Kesombongan hanya milik pemilik Jagat Raya ini bapak…jangan menempatkan seakan-akan anda yang paling pintar bapak……kalo memang bapak mau berniat memperbaiki keadaan jangan malah menjelekan MUHAMMADIYAH dan mengagungkan PERSIS dan NU….semua ada pijakan dan dasarnya bapak sebagai ahli astronomi kok malah memberikan pencerahan yang dangkal dan murahan…Allah SWT maha segalanya kalaupun Allah SWT berkehendak pada ukuran berapa derajatpun posisi bulan akan terlihat bila Allah SWT berkehendak….

      • @Manis Suharjo :
        Anda benar, yang mempunyai ilmu hanya Allah dan Allah akan menempatkan ilmuNya pada orang-orang yang tepat dan benar. Sebagai seorang Ilmuwan sudah sepantasnya beliau Prof. Djamaludin memberikan kritik terhadap ilmu-ilmu yang telah kedaluarsa, karena memang ada kesalahan-kesalahan serta kelemahan yang muncul. dan para ilmuwan itu memang tugasnya adalah selalu bereksperimen dan membuktikan secara empirik dengan kenyataan yang ada.

        dalam hal ini ilmu adalah (HISAB) sedangan pembuktiannya yaitu dengan (RU’YAH) melihat langsung.

        Tidak mungkin seorang Profesors dari LAPAN tugasnya hanya menghitung dan meru’yah pada bulan Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah saja.

      • Imkanu rukyat bisa dinafikan dengan real ruyat (istilah saya) gak , ato mabni? toh ketika ada 2 ato 3 orang yang melihat hilal dan di sumpah tetep aja di tolak karena gak sesuai dg imkanu rukyat, padahal zaman nabi ada satu orang saja yg disumpah melihat hilal sudah dipercaya dan diambil kesaksiannya.

      • Boleh gak sih sombong sama orang yang sombong ! Kayaknya boleh, deh !

      • @Prof T. Djamaluddin :

        gini pak, sedikit pertanyaan dari kami orang awan tentang astronomi….

        td pada saat berbuka puasa (tgl 30 agustus 2011)ada beberapa kawan kami di daerah saya (jayapura) sudah melihat bulan / hilal..
        pertanyaan saya . apakah tadi hari selasa sudah masuk 1 syawal atau hari rabu baru masuk 1 syawal…

        Mohon Penjelasannya pak prof.. terima kasih

      • ngerti gax son, masalahnya bukan jadul atau gax, methode itulah yg dianggap paling tepat (bagi Muhammadiyah), apalagi rukyat itu kan super jadul, tapi bagi sbagian kel. tertentu itu yg paling pas. begitu masalahnya son, jangan terbawa bhs bpk professsssor TeHHomas.

      • Agak lucu juga tim pemantau rukyat ini. Seharusnya tim-tim pemantau ini ditujukan untuk melihat hilal, dengan hasil laporanTERLIHAT atau TIDAK TERLIHAT.
        Menjadi aneh, bila Badan Hisab dan Rukyat sebelum dilakukan pemantauan Rukyat, sudah punya kesimpulan. Dimana KESIMPULAN itu adalah HILAL HARUS TIDAK TERLIHAT. Sehingga ketika Tim dari Jepara dan Cakung melaporkan MELIHAT HILAL, LANGSUNG DITOLAK. Lalu kalau kesimpulan itu sudah ada di kantong BADAN HISAB RUKYAT sebelumnya, jadi untuk apa dilakukan Pemantauan lagi. Itu buang-buang biaya, juga kasihan kepada yang sudah bersusah payah melakukan rukyat, tapi hasilnya tidak diakui walau sudah disumpah. Betul-betul ini KEANEHAN YANG LUAR BIASA.

      • sbnarnya yg di buat muhammadiyyah ap teorinya ap bd dngn yg anda buat…..jadi semrawut………

      • Sederhana masalahnya, hanya beda kriteria (batasan). Saya sedang mengupayakan penyatuan kriteria untuk membangun kalender Hijriyah yang mapan. Kriteria itu harus bisa mempersatukan para pengamal rukyat dan pengamal hisab. Kalau digunakan kriteria wujudul hilal (WH) tidak mungkin, karena WH jadi penyebab perbedaan ketika bulan rendah. Maka diusulkan untuk sama-sama menggunakan kriteria imkan rukyat (kemungkinan bisa dirukyat) dengan syarat ketingggian tertentu. Semua ormas Islam palaksana hisab rukyat sudah sepakat, hanya Muhammadiyah yang masih menolak.

    • Harusnya sebagai seorang yg bergelar Prof bisa duduk dalam posisi di tengah tidak provokatif dan membela satu pihak. Silahkan di informasikan ke masyarakat. kapan waktu saat bulan sudah 2 derajat dan kapan pada saat matahari tengggelam dan muncul tanpa melihat derajat. Sehingga masyarakat dipersilahkan memilih. Jadi tehnologi yg bapak punya untuk dua posisi ini bukan memaksakan yang 2 derajat saja. Jangan jual prof anda untuk mencari popularitas satu golongan. Cari nama dan cari aman dengan membela pemerintah, silahkan. Allah yg akan membalasNya.

  19. aku ikut yang cocok sajahhh dweeeh…..

  20. Wawasan yang mencerahkan…terima kasih! Salam kenal.

  21. Penyatuan kalender akan berdampak besar utk syiar dan dakwah. Berubah uldemi kemakmuran Islam, insya Allah mendapat ridho Allah. Amiin.

    • PERMASALAHAN MENYATUKAN SISTEM PENANGGALAN ISLAM
      (Tanggapan Profesor terhadap tulisan Profesor juga….)

      Tentu merupakan suatu keprihatinan bahwa umat Islam sampai saat ini belum dapat menyatukan sistem penanggalannya sehingga selebrasi momenmomen keagamaan penting seperti puasa Ramadan, Idul fitri atau Idul adha belum selalu dapat disatukan. Memang harus diakui pula bahwa penyatuan tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena aspek-aspek syariah dan astronomis harus dikaji secara seksama. Persoalan sulitnya penyatuan tersebut bukan selalu dan tidak terutama karena perselisihan pendapat fikih antara pengguna hisab dan pendukung rukyat. Akan tetapi terutama adalah karena masalah bagaimana memformulasikan suatu sistem kalender yang dapat mencakup baik urusan agama (ibadah) maupun urusan sivil dan administratif (maksudnya urusan muamalat) serta bagaimana agar kalender itu juga dapat menyapa seluruh umat Islam di berbagai penjuru bola bumi ini secara sama. Jangan sampai kalender itu memaksa satu kelompok orang di kawasan tertentu tertunda memasuki bulan baru padahal hilalnya sudah terpampang di ufuk mereka. Sebaliknya juga jangan sampai kalender itu memaksa mereka masuk bulan baru sementara belum terjadi kelahiran bulan.
      Dalam pada itu penulis membaca sebuah tulisan berjudul “Kalender Hijriyah Bisa Memberi Kepastian Setara dengan Kalender Masehi.” Tulisan ini dibuat oleh seorang pakar senior dalam astronomi dan dikenal luas dalam masyarakat bidang ini serta sudah banyak malang melintang dalam masalah hisab-rukyat. Dalam tulisan tersebut penulisnya mengajak untuk bermimpi membuat suatu kalender hijriah yang mapan. Sayang sekali tulisan tersebut terlalu singkat sehingga tidak dapat memuat gagasan yang mendalam dan terkaji secara seksama. Namun barangkali hal itu mungkin karena tulisan itu tidak ingin membebani pembaca dengan pikiran yang berat-berat. Sebetulnya dari kepakaran beliau sangat diharapkan suatu rancangan kalender pemersatu yang handal.
      Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa ada tiga syarat bagi terwujudnya suatu sistem kalender yang mapan, yaitu:
      1) ada otoritas (penguasa) tunggal yang menetapkannya,
      2) ada kriteria yang disepakati,
      3) ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).
      Pada tahap sekarang, demikian tulisan tersebut, sudah dipenuhi dua syarat, yaitu sudah ada otoritas yang menetapkannya, dalam hal ini pemerintah melalui Menteri Agama, dan satu lagi adanya batas wilayah keberlakuannya, yaitu wilayah hukum Indonesia. Tulisan tersebut menyerukan lebih lanjut agar jangan jauh-jauh mencita-citakan pembuatan kalender hijriah global. Mulailah dari yang sudah ada di depan mata kita, yaitu kalender hijriah nasional. Artinya menurut beliau satukan dulu kalender hijriah pada tingkat nasional, kemudian baru melakukan penyatuan internasional.
      Menurut tulisan tersebut lebih lanjut lagi, kalau kita berhasil menjadikan kalender hijriah mapan di Indonesia dengan 3 prasyarat terpenuhi, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, kita bisa menjadikannya sebagai prototipe sistem kalender Hijriyah global yang mapan. Insya-Allah, kita dapat menyepakati kriteria yang bersifat global yang ditetapkan oleh suatu otoritas kolektif negaranegara Islam. Batas wilayahnya bukanlah batas wilayah tetap (seperti Garis Tanggal Internasional), tetapi batas wilayah yang dinamis sesuai dengan kemungkinan terlihatnya hilal. Itu mudah ditetapkan berdasarkan kriteria yang disepakati. Demikian inti pokok tulisan tersebut.
      Bila boleh menanggapi, menurut penulis, otoritas penguasa saja untuk menetapkannya tidak cukup apabila tidak ada suatu rancangan kalender yang autoritatif berdasarkan argumen syar’i dan ilmiah yang kuat yang dibuat oleh pakar serta yang dapat menjawab akar permasalahan. Kalau tidak, yang akan terjadi hanyalah semacam pemaksaan yang sulit diterima oleh yang merasa bahwa ketetapan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i dan keilmuan namun dipaksakan. Selama ini yang sering dihandalkan dalam upaya penyatuan adalah otoritas ulil amri yang didukung dengan kaidah fikih hukmul-hakim yarfa’ulkhilaf” (ketetapan penguasa mengakhiri pertikaian pendapat). Bagaimana ketetapan ulil amri dapat mengakhiri pertikaian pendapat apabila ketetapan itu sendiri tidak autoritatif, malah sebaliknya bisa jadi menimbulkan permasalahan ?
      Soal kesepakatan mengenai kriteria semata juga belum cukup, karena perumusan kalender Islam tidak hanya sekedar soal kriteria awal bulan. Masalah kriteria hanya sebagian saja dari keseluruhan masalah penyatuan penanggalan. Persoalan lain yang harus dipecahkan meliputi (1) masalah konsep hari dari mana dan kapan dimulai (garis batas tanggal), (2) masalah penerimaan hisab karena tidak mungkin membuat kalender berdasarkan rukyat fikliah, (3) masalah transfer imakanu rukyat.
      Selain itu kalender hijriah itu harus merupakan sebuah kalender global dalam sifatnya, bukan kalender lokal. Hal itu karena adanya problem puasa hari Arafah. Oleh karena adanya problem puasa hari Arafah ini, maka rumusan kalender Islam harus dapat membuat suatu penanggalan yang dapat menjatuhkan hari Arafah pada hari yang sama di seluruh dunia. Kalau tidak, maka akan timbul masalah kapan orang melaksanakan puasa Arafah karena hari Arafah di Mekah jatuh berbeda dengan di tempat lain. Misalnya di Mekah sudah hari Arafah
      sementara di Indonesia baru tanggal 8 Zulhijah. Kalender seperti ini tidak memenuhi syarat kalender Islam lantaran kalender tersebut tidak dapat menepatkan waktu ibadah umat Islam pada momen sesungguhnya. Akan banyak orang yang menolak kalender tersebut, karena di Indonesia banyak yang berkeyakinan bahwa puasa Arafah itu adalah puasa pada hari jamaah haji wukuf di padang Arafah di Mekah dan memang ini yang benar. Inilah artinya bahwa kita harus membuat kalender global, bukan lokal. Soal dari mana mulai pemberlakuannya apakah diberlakukan dulu dalam wilayah Indonesia kemudian kita mengajak masyarakat dunia Islam untuk menerimanya, itu silahkan saja. Untuk itu kalender tersebut harus teruji validitasnya secara syar’I dan astronomis agar dapat diberlakukan di seluruh dunia dan dapat diterima oleh masyarakat Islam global.
      Apabila dibuat kalender lokal yang bertujuan menyatukan penanggalan di Indonesia saja lebih dulu dan kalender itu tidak bersifat global, maka pertama pada bulan Zulhijah tahun tertentu akan timbul kekacauan pelaksanaan ibadah puasa Arafah, dan kedua akan membuat kita bekerja dua kali, di mana kita menyatukan penanggalan secara lokal lebih dulu, kemudian setelah bersatu, kalender diubah untuk dibuat yang baru yang sifatnya global. Secara psikologis mengubah kalender yang sudah diterima dengan mapan itu tidak mudah. Kita mengharapkan para astronom Muslim Indonesia menggagas suatu sistem kalender hijriah global. Sejauh ini penulis belum pernah mendengar adanya upaya demikian dari para pakar astronomi kita. Pemikiran yang sering terdengar baru soal kriteria awal bulan. Penyatuan kriteria saja belum akan memecahkan masalah penyatuan penanggalan Islam, karena masalahnya jauh lebih kompleks dari sekedar kriteria awal bulan. Bahkan termasuk para pakar astronomi dan ilmu falak Muhammadiyah, sebuah organisasi yang dikenal berpegang kuat kepada hisab, belum banyak yang tertarik untuk mengikuti perkembangan upaya pembuatan kalender global hijriah. Kalender Muhammadiyah yang berlaku pun juga masih kalender lokal. Namun telah ada kemajuan karena telah berani meninggalkan rukyat dan memegangi hisab secara konsisten. Hisab yang digunakan bukan hisab tertentu, melainkan yang penting bagaimana dengan hisab itu dibuat sebuah kaidah dan rumusan kalender yang dapat menyatukan penanggalan Islam dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia.
      Di dunia Islam sekarang Tim Kerja ISESCO (yang lahir dari rekomendasi Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam tahun 2008) telah membuat empat rancangan kalender global hijriah. Rancangan-rancangan kalender tersebut sekarang dalam proses uji validitas untuk waktu selama hampir satu abad ke muka hingga akhir tahun 2100 guna menemukan satu yang paling baik dan reliabel di antaranya. Hasil uji validitas telah mencapai 93 tahun. Hendaknya para pakar astronomi Muslim Indonesia yang mempunyai perhatian terhadap masalah penyatuan penanggalan Islam mengikuti perkembangan ini dan
      bila perlu ikut mengujinya sehingga apabila masih mempunyai kelemahan, maka buat rancangan kelima, keenam dan seterusnya yang lebih akurat dan lebih teruji.
      Penulis agak sulit memahami pernyataan dalam tulisan yang disebut di atas bahwa batas wilayah kalender Islam global yang harus dibuat bukanlah batas wilayah tetap (seperti Garis Tanggal Internasional), tetapi batas wilayah yang dinamis sesuai dengan kemungkinan terlihatnya hilal. Apa yang dimaksud dengan statemen ini? Barangkali maksudnya bahwa kalender Islam global yang hendak dibuat itu menerapkan sistem garis batas tanggal bergerak yang diusulkan oleh Mohammad Ilyas (astronom Malaysia) dan Syaraf al-Qudah (pakar syariah Yordania). Meskipun kedua pakar ini sama-sama mengusulkan garis batas tanggal bergerak, namun konsepnya sedikit berbeda. Garis batas tanggal versi Ilyas, yang disebutnya International Lunar Date Line (ILDL), merupakan batas memulai tanggal baru hijriah yang mengikuti garis lengkung kurve imkanu rukyat yang menjorok ke timur. Kawasan yang berada dalam lengkungan garis kurve rukyat tersebut adalah kawasan yang bisa merukyat sehingga keesokan harinya memulai bulan kamariah baru. Kawasan di luar garis lengkung kurve merupakan kawasan yang tidak dapat melihat hilal, sehingga ia harus menggenapkan bulan berjalan tiga puluh hari dan memulai bulan kamariah baru pada hari lusa.
      Apabila garis batas tanggal versi Ilyas adalah melengkung, maka garis batas tanggal versi Syaraf al-Qudah tegak lurus yang ditarik dari utara ke selatan pada ujung paling timur dari garis lengkung kurve rukyat bulan bersangkutan. Hanya saja apabila garis ini membelah-dua negara yang dilewatinya, maka garis itu ditarik ke batas timur negara bersangkutan. Semua negara yang terletak di sebelah barat garis tersebut memasuki awal bulan kamariah baru keesokan harinya dan negara-negara di sebelah timurnya lusa. Pada dasarnya kedua versi
      garis batas tanggal ini sama, hanya bedanya dalam versi Ilyas garis itu melengkung dengan lengkungan menjorok ke arah timur sesuai dengan garis kurve imakanu rukyat, sementara versi Syaraf al-Qudah tegak lurus dari utara ke selatan dengan catatan menyesuaikan dengan garis batas timur negara yang dilewatinya.
      Kedua garis batas tanggal ini akan timbul di tempat berbeda-beda dari bulan kamariah ke bulan kamariah lain sesuai dengan perbedaan timbulnya garis kurve imkanu rukyat setiap bulan. Itulah mengapa ia disebut garis tanggal bergerak karena kemunculannya yang berpindah-pindah dari satu ke lain tempat. Pergerakan itu adalah dari timur ke barat muka bumi. Apabila ujung kurve itu pada suatu bulan kamariah timbul jauh di timur, misalnya di Indonesia, maka bulan berikutnya ia akan timbul lebih ke barat, misalnya, di Afrika, kemudian bulan berikutnya lagi di benua Amerika atau Samudra Pasifik.
      Kedua versi garis batas tanggal ini tidak dapat dipedomani guna menyatukan kalender Islam karena konsep garis batas tanggal bergerak ini sendiri bermasalah. Apabila garis batas tanggal tersebut hanya dijadikan sebagai batas memulai bulan baru dan tidak dijadikan batas di mana dan kapan hari dimulai (hari tetap dimulai di Garis Tanggal Internasional [GTI] yang ada sekarang), maka kalender tersebut tidak akan menyatukan karena garis itu hanya akan membelah kawasan dunia antara kawasan yang bisa merukyat dan kawasan yang tidak bisa merukyat sehingga kedua kawasan itu akan memulai bulan kamariah pada hari yang berbeda. Apabila garis bergerak tersebut dijadikan juga batas memulai hari, maka akan lebih kacau lagi karena akan timbul dualisme hari di dunia, yaitu hari konvensional yang dimulai dari GTI dan hari “Islami” yang dimulai dari garis tanggal bergerak yang berubah setiap bulan. Selain itu juga akan berakibat bahwa durasi hari dari bulan kamariah pada kawasan yang terletak antara dua garis tanggal bulan kamariah berurutan adalah 30 hari sementara di luarnya 29 hari sehingga tidak sama memasuki bulan kamariah baru. Atau kalau diharuskan bulan baru serentak dimulai di seluruh dunia, maka hari terakhir bulan kamariah pada kawasan yang terletak di atara dua garis tanggal bulan kamariah berurutan harus diperpanjang menjadi empat puluh delapan jam. Artinya hari yang sama harus diulang lagi. Ini tentu tidak masuk akal.
      Selain itu garis batas tanggal bergerak ini akan lebih banyak lagi menimbulkan problem pelaksanaan puasa Arafah. Hal itu karena bilamana garis batas tanggal tersebut pada bulan Zulhijah muncul di sebelah barat Mekah, maka itu akan menimbulkan masalah puasa Arafah bagi kawasan di sebelah barat garis tersebut dan apabila timbul di sebelah timur Mekah akan timbul problem puasa Arafah bagi kawasan di sebelah timur garis itu. Penggunaan garis batas tanggal bergerak tidak akan membantu apa-apa terhadap upaya penyatuan kalender Islam. Justeru malah membuat lebih banyak problem daripada memecahkan masalah. Atas dasar itu tidak ada jalan lain kecuali menerima GTI yang ada sekarang yang terletak di tengah-tengah Samudera Pasifik tanpa banyak membelah pemukiman padat penduduk.
      Sebagai penutup ingin ditegaskan bahwa:
      1) kalender Islam harus dibuat bersifat global, tidak lokal, untuk mengatasi masalah pelaksanaan puasa Arafah;
      2) kalender Islam terpaksa harus meninggalkan rukyat karena rukyat tidak dapat menyatukan dan membuat kalender dan harus menggunakan hisab, namun hisab yang digunakan bukan aliran tertentu, melainkan adalah bagaimana hisab digunakan sebagai sarana membuat sebuah rumusan dan kaidah kalender hijriah global yang akurat;
      3) tidak mungkin menggunakan sistem garis batas tanggal bergerak karena penggunaan garis semacam itu lebih banyak menimbulkan problem daripada memecahkan masalah;
      4) kalender Islam tidak boleh mamaksa satu kelompok orang Muslim di kawasan tertentu dari muka bumi memasuki bulan baru sebelum kelahiran Bulan;
      5) kalender Islam juga tidak boleh menyebabkan sekelompok umat Islam di kawasan tertentu tertunda masuk bulan baru padahal di ufuk mereka hilal bulan kamariah baru telah terlihat.

      (dari makalah Prof. Syamsul Anwar)

  22. tapi bukan muhamadiyah yg harus dipersalahkan, krn semua hari lebaran kmrn semuanya tepat hasilnya….coba kita lihat dimalaysia waktunya sesuai gn muhammadiyah…kalo pemerintah selalu terlambat 1 hari……krn berpatokan kpd yg kurang benar…..jadi tulisan ini isinya hanya mengada-ada saja……

    • ckckckckc Ash: gw kasian ma loe kok malaysia, malaysia tu blajar agama di indonesia bung!!!! loenya ja yang tolol baca yang teliti tulisan baru bisa komen….haleluya?!!!

      • haleluya mau berhari raya..hahaha..dasar..malaysia belajar dari siapapun tapi lebih modern dari Indonesia..sekarang yang lebih tau..kita akui saja

    • astaghfirullahalazim.. sabar mbak… kan permasalahannya hanya penyamaan penentuan penanggalan Islam dg hisab dan rukyat, kok malah melenceng dan mengait-ngaitkan dg keyakinan?? wah2 itu itu nggak betul mbak.. buktinya tahun ini antara brunei, malaysia, singapura, dan indonesia sama kok jatuhnya tgl 31. sah-sah aja wong udah bisa dibuktikan dengan kenampakan hilal. jangan ditanggapi dengan emosi tapi marilah kita pahami…!

  23. Sebagai warga Muhammadiyah, saya berterima kasih atas perhatian Anda, Prof. Insya Allah, Muhammadiyah tetap menyatu dengan komponen umat Islam secara keseluruhan. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik dan hidyah kepada kita sekalian. Amin.

  24. dulu pernah dapat pelajaran pengamatan matahari, bintang serta observasi benda benda angkasa…..tdk ada yg konstatn….changeable sekali….apalagi sekedar visibility. Mungkin enggan keluarkan dana buat observasi….??? karena yg sosial dan muamalaha nya ckp banyak….??? namun rukyat : juga disarankan bahkan dengan perintah, knapa Muhamadiyah msh dg ” lagu lama ” sdg alat alat/ instrumentasi ckp support…???

  25. insya Allah bermanfaat tulisannya… Sungguh mengagumkan ternyat astronomi itu… Allahu Akbar.

  26. Duhai pemimpin umat, sungguh engkau akan ditanya Allah SWT: “Knp anda begitu pelit memberi Umat ini satu hari saja untuk bisa BERSATU?”
    tanyalah pd umat ini, adakah mereka yg ingin Idul Fitri BERBEDA? tapi knp “pemimpin” umat ini bebal?

    • Belajar islam yang baik dulu bapak, karena Islam itu satu tetapi diyakini oleh hati, fikiran, dan kepala yang beragam. Ke depan akan slalu ada perbedaan, bapak pasti stress kalau mikir perbedaan sebab di otak bapak semua ingin seragaam dan sama.

      Sudah jelas, musyawarah, berbeda pendapat, adalah rahmat dan sama sekali bukan bencana

      • Ooo… Tidak bissa boss.. Perbedaan urusan Hari Raya itu jgn ditutupi dgn apologi “perbedaan itu rahmat” ini murni masalah arogansi alias kepala batu… Mohon Maaf Lahir Batins

    • gk boleh menyalahkan ulil amri tanpa dasar akhgi, sungguh hanya Allah tabaarokawata’ala yg berhak menghakimi beliau dalam masalah ini.. apalagi mereka sudah niat ikhlas berijtihad insya Allah.. seandainya ummatnya menghendaki persatuan,mengapa mencela pemimpin ummat yg mana mereka megusahakan persatuan sedangkan ummatnya sendiri yg ingin berpecah tida mau bersatu. bukanhkah pemerintah sudah memfasiliytasi segalanya dengan adanya sidang isbat itu/? sesungguhnya muslim itu adalah cerminan sesama muslim. ‘atiiullaha wa’atiurrosuul wa uulililamri mingkum

  27. Alhamdulillah… Semoga Tulisan ini bermanfaat bagi semua ^_^

  28. assalamu’alaikum..
    saya setuju dengan paparan bapak. dan saya berharap Muhammadiyah berani merevisi dalam masalah ini. Atau mungkin karena saking pobianya dengan rukyat sehingga muhammadiyah bersikukuh dengan metode wujudul hilal?

    • PERMASALAHAN RUKYAT

      Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah,
      disidangkan pada hari Jumat 22 Juli 2011 / 20 Syakban 1432 H, dimuat dalam Suara Muhammadiyah,
      No. 16 / Th. Ke-96, 16-31 Agustus 2011.

      Tanya:
      Saya mahasiswa Semarang, yang dahulu pernah wawancara dengan bapak.
      Saya mau tanya, apa kelemahan rukyat menurut Muhammadiyah? [Pertanyaan disampaikan lewat pesan pendek (sms). Penanya adalah mahasiswa S2 Ilmu Falak IAIN Walisanga, Semarang. Tidak ada nama).

      Jawab:
      Hal yang perlu difahami adalah bahwa di zaman Nabi saw metode penentuan awal bulan kamariah, khususnya bulan-bulan ibadah, adalah rukyat. Nabi saw sendiri memerintahkan melakukan rukyat untuk memulai Ramadan dan Syawal, sebagaimana dapat kita baca dalam hadis beliau,
      “Berpuasalah kamu ketika melihat hilal dan beridulfitrilah ketika melihat hilal pula; jika Bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Syakban tiga puluh hari [HR al-Bukhari, dan lafal di atas adalah lafalnya, dan juga diriwayatkan Muslim].”
      Dalam hadis lain beliau diriwayatkan mengatakan,
      “Janganlah kamu berpuasa sebelum melihat hilal dan janganlah kamu beridulfitri sebelum melihat hilal; jika Bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka estimasikanlah [HR al-Bukhari dan Muslim].”
      Hadis pertama jelas memerintahkan berpuasa atau beridul fitri ketika hilal bulan bersangkutan terlihat; hadis kedua melarang berpuasa atau beridul fitri sebelum dapat merukyat hilal bulan bersangkutan. Oleh karena itu para fukaha berpendapat bahwa penentuan awal bulan kamariah, khususnya bulan-bulan ibadah, dilakukan berdasarkan metode rukyat.
      Namun dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, muncul gagasan untuk menggunakan hisab sebagai metode penentuan awal bulan kamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Tercatat bahwa ulama pertama yang menyatakan sah menggunakan hisab adalah Mutharrif Ibn ’Abdillah Ibn asy-Syikhkhir (w. 95/714), seorang ulama Tabiin Besar. Kemudian Imam asy-Syafi‘i (w. 204/820), dan Ibn Suraij (w. 306/918), seorang ulama Syafiiah abad ke-3 H. Memang mula-mula penggunaan hisab dibatasi saat bulan tertutup awan saja. Namun kemudian pemakaian hisab itu meluas hingga mencakup penentuan awal bulan dalam semua keadaan tanpa mempertimbangkan keadaan cuaca. Di zaman modern penggunaan hisab semakin meluas dan didukung oleh ulama-ulama besar seperti Muhammad Rasyid Rida, Mustafa al-Maraghi, Syeikh Ahmad Muhammad Syakir, Muastafa Ahmad az-Zarqa, Yusuf al-Qaradawi, Syeikh Syaraf al-Qudhah, dan banyak yang lain.
      Dalam “Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam” tahun 2008 di Maroko, diputuskan bahwa, “Para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan kamariah di kalangan kaum Muslimin tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penggunaan hisab untuk menetapkan awal bulan kamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu salat …”
      Apabila dilihat secara fakta alam, maka penggunaan rukyat di zaman Nabi saw itu tidak bermasalah karena umat Islam di zaman itu hanya berada di Jazirah Arab saja. Islam belum tersebar ke luar kawasan itu. Apabila hilal terukyat di Madinah atau di Mekah, maka tidak ada masalah bagi daerah lain, karena belum ada umat Islam di luar rantau Arabia itu. Begitu pula sebaliknya apabila di Mekah atau Madinah hilal tidak dapat dilihat, maka tidak ada dampaknya bagi kawasan lain di timur atau di barat. Namun setelah Islam meluas ke berbagai kawasan di sebelah barat dan timur serta utara (pada abad pertama Hijriah Islam sudah sampai di Spanyol dan di kepulauan Nusantara), maka rukyat mulai menimbulkan masalah.
      Permasalahannya adalah bahwa rukyat itu terbatas liputannya di atas muka bumi. Rukyat pada saat visibilitas pertama tidak mengkaver seluruh muka bumi. Artinya pada hari pertama terjadfinya rukyat tidak semua bagian muka bumi dapat merukyat. Rukyat hanya bisa terjadi pada bagian muka bumi tertentu saja, sehingga timbul masalah dengan bagian lain muka bumi. Hilal mungkin terlihat di Mekah, tetapi tidak terlihat di kawasan timur seperti Indonesia. Atau hilal mungkin terlihat di Maroko, namun tidak terlihat di Mekah. Apabila ini terjadi dengan bulan Zulhijah, maka timbul persoalan kapan melaksanakan puasa Arafah bagi daerah yang berbeda rukyatnya dengan Mekah. Perlu dicatat bahwa Bulan bergerak (secara semu) dari timur muka bumi (dari Garis Tanggal Internasional) ke arah barat dengan semakin meninggi. Oleh karena itu semakin ke barat posisi suatu tempat, semakin besar peluang orang di tempat itu untuk berhasil merukyat. Jadi orang di benua Amerika punya peluang amat besar untuk dapat merukyat. Sebaliknya semakin ke timur posisi suatu tempat, semakin kecil peluang orang di tempat itu untuk dapat merukyat. Orang Indonesia peluang rukyatnya kecil dibandingkan orang Afrika yang lebih di barat. Apalagi orang Selandia Baru, Korea atau Jepang akan lebih banyak tidak dapat merukyat pada saat visibilitas pertama hilal di muka bumi.
      Problem pertama yang muncul sehubungan dengan masalah keterbatasan rukyat ini adalah apa yang dicatat dalam hadis Kuraib yang amat terkenal itu :
      “ Dari Kuraib (diriwayatkan) bahwa Ummul-Fadhl Binti al-Haris mengutusnya menemui Mu‘awiyah di Syam. Kuraib menjelaskan: Saya pun tiba di Syam dan menunaikan keperluan Ummul-Fadhl. Ketika saya berada di Syam, bulan Ramadan pun masuk dan saya melihat hilal pada malam Jumat. Kemudian pada akhir bulan Ramadan, saya tiba kembali di Madinah. Lalu Ibn ’Abbas menanyai saya tentang hilal. Katanya: Kapan kalian melihat hilal? Saya menjawab: Kami melihatnya malam Jumat. Ia bertanya lagi: Apakah engkau sendiri melihatnya? Saya menjawab: Ya, dan banyak orang juga melihatnya. Mereka berpuasa keesokan harinya dan juga Mu‘awiyah berpuasa (keesokan harinya). Lalu ia menimpali: Akan tetapi kami melihatnya malam Sabtu. Oleh karena itu kami akan terus berpuasa hingga genap tiga puluh hari atau hingga kami melihat hilal (Syawal). Lalu saya balik bertanya: Apa tidak cukup bagimu rukyat Mu‘awiyah dan puasanya? Ia menjawab: Tidak! Demikianlah Rasulullah saw memerintahkan kepada kita [HR Muslim].”
      Rukyat Ramadan yang dilaporkan Kuraib dalam hadis ini, menururt suatu penelitian, adalah rukyat Ramadan tahun 35 H, bertepatan dengan hari Kamis sore (malam Jumat), 03 Maret 656 M. Permasalahn rukyat dalam hadis ini adalah bahwa di Damaskus rukyat berhasil dilakukan pada malam Jumat, sementara di Madinah malam Sabtu 04 Maret 656 M. Timbul pertanyaan dapatkah rukyat Damaskus diberlakukan ke Madinah? Ibn Abbas dalam hadis tersebut mejelaskan tidak dapat. Jadi awal Ramadan tahun itu berbeda antara Damaskus dan Madinah, meskipun kedua kota itu masih dalam satu negara Khulafa Rasyidin. [Catatan: Tidak terlihatnya hilal Ramadan 35 H di Madinah pada sore Kamis / malam Jumat 03 Maret 656 M itu bukan karena hilal masih rendah. Hilal sudah amat tinggi (sekitar 14º). Tidak terlihatnya hilal tersebut mungkin karena langit Madinah berawan.
      Masalah ini kemudian dalam sejarah Islam berkembang menjadi apa yang dikenal dengan “masalah matlak”. Matlak adalah batas berlakunya rukyat yang terjadi di suatu tempat. Pertanyaannya adalah apakah rukyat yang terjadi di suatu tempat dapat diberlakukan kepada tempat lain yang tidak dapat merukyat? Kalau dapat, sejauhmana? Mengenai ini terdapat dua pendapat dalam fikih.
      Pertama, pendapat yang menolak doktrin matlak. Bagi mereka tidak ada matlak. Rukyat yang terjadi di suatu tempat berlaku untuk seluruh penduduk di muka bumi. Pendapat ini dipegangi oleh para fukaha Hanafi dan beberapa ulama Syafiiah. Imam Nawawi (w.676/1277), seorang ulama Syafiiah, menyatakan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa rukyat di suatu tempat di muka bumi berlaku untuk seluruh muka bumi (VII: 197). Kebanyakan ulama lain memegangi doktrin matlak, yaitu bahwa rukyat dibatasi berlaku pada tempat tertentu, tidak dapat diberlakukan ke seluruh dunia. Namun mereka tidak sepakat tentang batasan itu. Ada yang mengatakan rukyat di suatu tempat hanya berlaku dalam batas salat belum bisa diqasar (± 90 km). Ada yang berpendapat rukyat dapat berlaku dalam satu negeri, dan ada pula dalam beberapa negeri berdekatan. Ibn Taimiah (w. 728/1327) menolak semua pendapat ini dan mengatakan bahwa “rukyat tidak ada kaitannya dengan qasar salat dan negeri atau negeri-negeri tidak ada batas yang jelas.” Memang di zaman dahulu tidak ada batas geografi wilayah suatu negara seperti halnya sekarang ini.
      Kini pada abad ke-21, umat Islam sudah berada di seantero keliling bola bumi yang bulat ini. Bahkan di pulau-pulau terpencil di Samudera Pasifik pun sudah ada umat Islam, seperti di kepulauan Tongga dan Samoa. Rukyat yang terjadi pada hari pertama visilitas hilal tidak dapat mengkaver seluruh umat Islam di dunia. Justeru rukyat akan memaksa umat Islam di dunia berbeda memulai bulan baru karena rukyat hanya bisa dilakuan di sebagian muka bumi saja.
      Dengan demikian sangatlah jelas problem yang ditimbulkan oleh rukyat. Kalau ini mau disebut kelemahan silahkan sebut demikian. Secara ringkas keseluruhan problem rukyat itu adalah:
      1) rukyat tidak bisa membuat sistem penanggalan yang akurat karena penanggalan harus dibuat jauh hari ke depan, sementara dengan rukyat tanggal (awal bulan baru) baru bisa diketahui sehari sebelumnya;
      2) rukyat tidak dapat menyatukan sistem penanggalan (kalender) hijriah sedunia secara terpadu dengan konsep satu hari satu tanggal di seluruh dunia karena rukyat akan selalu membelah muka bumi antara yang bisa merukyat dan yang tidak bisa merukyat;
      3) rukyat tidak dapat dilakukan secara normal pada kawasan lintang tinggi di atas 60º LU dan LS;
      4) rukyat menimbulkan problem puasa Arafah karena tidak dapat menyatukan hari Arafah di Mekah dan kawasan lain pada bulan Zulhijah tertentu.
      Oleh karena itu tidak berlebihan apabila Temu Pakar II di Maroko menyatakan bahwa penyatuan kalender Islam se dunia tidak mungkin dilakukan kecuali dengan berdasarkan hisab. Memang, sebagaimana dikemukakan oleh Nidhal Guessoum, adalah suatu ironi yang memilukakan bahwa setelah hampir 1,5 milenium perkembangan peradaban Islam, umat Islam belum mampunyai suatu sistem penanggalan terpadu yang akurat, pada hal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik. Menurut Prof. Dr. Idris Ibn Sari, Ketua Asosiasi Astronomi Maroko, sebab umat Islam tidak mampu membuat kalender terpadu adalah karena mereka terlalu kuat berpegang kepada rukyat.
      Kini dalam rangka mewujudkan kalender Islam tunggal (terpadu) yang dapat menyatukan selebrasi umat Islam sedunia, sedang dilakukan perumusan kalender Islam yang dibuat dan diuji selama kurang lebih satu abad ke muka hingga akhir tahun 2100. Ada empat rancangan yang diuji dan telah sering diberitakan. Perkembangan paling mutakhir tentang uji validitas ini adalah bahwa uji tersebut telah mencapai 93 tiga tahun, dan akan segera diadakan Temu Pakar III untuk membahas hasil uji validitas tersebut.

      • Mahasiswa yang bertanya adalah mahasiswa S2 Ilmu Falak bimbingan saya di IAIN Walisongo Semarang. Pertanyaan dalam kerangka survai pendapat ormas-ormas terkait penyatuan kalender Islam.
        Terkait substansi kelender Islam terpadu, baca tanggapan saya di http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/25/menuju-kalender-hijriyah-tunggal/

      • Berbeda itu adalah wajar karena memang ada riwayatnya, misal nya tentang hilal di syam dan madinah, seperti hadis yang saya kutip diatas, masalah shalat asar utusan Nabi di bani Quraizah, asalkan tidak menyelisihi SUNNAH dan Tho’at serta ittiba’ kepada Rosul semuanya oke 2 saja yang salah adalah mengadakan hal baru yang diatasnamakan dan dinisbahkan kepada Nabi SAW, Seperti kata INI yang terlontar dari mulut seseorang Yang shubhat

        ” Rasululloh adalah orang yang sangat menghargai Ilmu Pengetahuan, Seandainya Rasululloh masih hidup maka Beliau SAW akan menggunakan / menyetujui Hisab yang kami lakukan “.

        ini adalah pernyataan yang terlalu berani dan mengada ada yang menisbatkan hawa nafsu seseorang terhadap pribadi seorang rasul yang hanya bertindak berdasarkan Wahyu . Bukan logika
        Wallohu A’lam

      • Terima kasih atas penjelasan yang lebih rasional ini.

      • info yang bagus pak asep.
        berarti muhammadiyah menggunakan perhitungan (hisab) yang hasilnya akurat dan bisa digunakan untuk semua wilayah di muka bumi.

        yang saya bingung pak profesor jamal, sepertinya beliau mempermasalahkan metode perhitungan (hisab).
        bukankah hasilnya jelas, bulan sudah positif derajatnya meskipun belum 2 derajat.
        artinya hari selasa 30 agustus merupakan bulan syawal.
        apakah menurut profesor jamal tanggal 30 agustus belum bulan syawal karena bulan belum terlihat?

      • Prof Djamaluddin… untuk ide anda tersebut saya pikir sudah ketinggalan jaman… karena sudah ada “Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam” tahun 2008 di Maroko, dan ssudah menghasilkan keputusan. Sifatnya sudah GLOBAL… ida anda itu baru bersifat LOKAL…

    • saya setuju dengan komentar bapak, demi mencari kebenaran..

  29. Assalamu alaikum..

    Sebelum menyepakaiti kriteria Hisab Hilal, satu lagi yang harus disepakati bersama terlebih dahulu. Yaitu definisi HILAL itu sendiri. Yang saya pahami dan yakini, hilal adalah cahaya yang nampak pada sebagian piringan bulan yang teramati di tempat kita berada karena adanya pancaran cahaya matahari. Dan hal ini memerlukan syarat2 tertentu, di antaranya ketinggian bulan sekian derajat. MABIMS mensyaratkan minimal 2 derajat, itupun elongasi (jarak) bulan – matahari minimal 3 derajat. Menurut kriteria Wujudul Hilal, ketinggian berapapun asalkan bulan sudah di atas ufuk, dianggap HILAL sudah wujud. Karena itu dalam menghitung ketinggian mar’i-pun faktor semidiameter bulan harus ditambahkan terhadap ketinggian hakiki. Dengan demikan yang dihitung dalam hal ini adalah bagian piringan bulan sebelah atasnya, dan jika dikaitkan dengan pemahaman saya di atas jelas berbeda, karena tidak mungkin HILAL wujud pada ketinggian 0,5 derajat misalnya. Jika seperti ini yang dimaksud dengan Wujudul Hilal, HILAL sudah wujud meskipun pada ketinggian 0,5 derajat. Lagi2 pemahaman saya yang dho’if, jika benar demikian maka saya menganggap yang wujud itu bukan HILAL, melainkan QAMAR (wujud bulan mati, berlum bercahaya). Jadi bukan Wujudul HILAL, tetapi Wujudul QAMAR. Masih perlu adanya redefinisi HILAL…

    Wallahu A’lam…

  30. Perhitungan dengan Imkanur Rukyat, sangat mustahil utk mendapatkan kalender Hijriah Global…karena dalam satu wilayah bisa saja berbeda. Bagaimana Pak..mohon tanggapan

  31. Sebagai orang awam soal ilmu Falaq, sekilas melihat tulisan bapak ini terlalu kuat merepresentasikan kubu pemerintah yang (lucunya) selalu mengakhirkan 1 Syawal dan anti pati terhadap yang mau 1 syawal duluan. Aromanya seperti tulisan Jubir yang sedang menyerang Pak Dien karena memang selama ini Pak Dien sangat kritis ke Pemerintah lalu sekarang digelontorkan isu bahwa Muhammadiyah menjadi ‘pemecah belah ummat”.

    Ini sungguh tidak bijak, Muhammadiyah atau organisasi apa pun pasti berubah tinggal menunggu waktu dan perubahan Muhammadiyah memang akan terjadi, tetapi tidak selalu karena peran Bapak dengan subjectifitas yang beku. Semoga pemerintah ini bukan orde baru, yang selalu mau seragam dan sama. Ini dunia sudah berubah masak nanti muncul ‘corong pemerintah yang sok ilmiah’ sedang memerangi ummat islam yang berdakwah melalui Muhammadiyah; bapak harus bijak ya meskipun itu kebenaran harus dismapaikan dengan bijak dan bajik.

    salam hormat

  32. saya kira tidak seperti itu pak thomas… hisab penentuan awal bulan memang acuannya atau patokannya adalah wujudul hilal berapapun ketinggiannya diatas ufuk. tidak bisa kita memaksakan kriteria imkanurrukyat (visibilitas hilal) pada ketinggian hilal tertentu walaupun dalam prakteknya memang hilal hanya bisa terlihat pada ketinggian tertentu itu. perbedaan sering terjadi dan niscaya terjadi jika wujudul hilal di suatu negara di bawah kriteria imkanurrukyat dan rukyat dibatasi oleh wilayatul hukmi negara tersebut. sekiranya rukyat itu tidak dibatasi oleh wilayatul hukmi suatu negara adalah sebuah keniscayaan pula bahwa pasti di seluruh dunia ada tempat atau daerah yang bisa melihat bulan sehingga jadilah kesatuan antara hisab dan rukyat. dan bahwa hasil hisab itu juga adalah sebuah kebenaran karena berlandaskan wahyu (QS Yasin 39-40) dan metode ilmiah (ilmu falak). dan itu sudah diverifikasi dari fakta yang ada. jika hari ini hisab menentukan wujudul hilal pada ketinggian di bawah visibilitas hilal maka besoknya pasti ketinggian hilal sudah bertambah 12 derajat. apakah kita akan kekeh mengatakan hilal (awal bulan / bulan tanggal 1) pada ketinggian di atas 12 derajat???? (tidak mungkin dan tidak rasionil). bagaimana pak thomas menjelaskan hal ini????? wallahu a’lam

    • saya setuju dengan anda..

    • sejak jaman dulu hilal itu dengan cara dilihat. padahal syarat terlihat adalah 2 derajat (bahkan ada yg bilang 6 derajat). jikalau dipakai standarnya jadi nol derajat (wujudul hilal) berarti standarnya berubah donk.
      seharusnya standar khn tak pernah berubah sejak pertama ditetapkan jaman dulu. seperti halnya adzan maghrib yang selalu setelah matahari tenggelam sempurna, bukan ketika matahari menyentuh cakrawala.

      • setau saya, zaman Rosulullah, blm ada perhitungan seperti ini, g ada hadist atau dalam Quran yg mnyatakan bahwa hilal haruslah terlihat 2 derajat atau 6 derajat. apakah hilal 1,5 derajat ttp bukan hbilal namanya kalo terlihat waktu magrhib?

  33. Saya setuju dengan Hisab, tapi tanpa menghapus atau menghilangkan Rukyat, sebagaimana keputusan tarjih muhamadiyah di Padang yang menegaskan bahwa penetapan awal bulan hijriyah bisa dilakukan dengan hisab dan rukyah. Hisab punya dasar hukum yang kuat dan sangat memudahkan, Tetapi Rukyat juga merupakan sunnah fi’liyyah Rasulullah serta para sahabat, Sehingga Rukyat bukan perbuatan Bid’ah.

    Dalam penentuan awal bulan hijriyyah apa YANG DIHISAB? Bulan atau hilal? Hisab apa yang digunakan? Apakah hisab “wujudul hilal” satu-satunya hisab yang paling benar & akurat?

    Hisab dan Rukyat itu berkembang, tidak mungkin ada Hisab tanpa Rukyat, begitu pula Rukyat yang baik memerlukan panduan hisab. Ahli hisab sering membuktikan akurasi hisabnya dengan Rukyat. Selanjutnya berdasar hasil rukyat akurasi hasil hisab sering diperbaiki/dikoreksi, sehingga dalam kitab-kitab Falak dan Hisab, selalu ada “ta’dil” (koreksi). Begitu pula pada beberapa program hisab yang menggunakan komputer ada up date/up grade.

    Muhamadiyah dan Persatuan Islam (persis) semula menggunakan Hisab Ijtima qobla ghurub, yang menetapkan awal bulan dimulai jika jitima terjadi sebelum maghrib. prinsip ini menggunakan kaidah “ijtima’in-nayyiroini itsbatun baina syahrain” Ternyata pada beberapa kondisi ditemukan saat maghrib (setelah ijtima) bulan terbenam mendahului matahari. Kemudian Persis berubah menggunakan prinsip wujudul hilal (tepatnya wujudul-qomar), yaitu tidak hanya menghisab ijtima saja tapi ditambah dengan ketinggian (irtifa) hilal setelah matahari terbenam.
    Kelemahan wujudul hilal adalah tidak didukung argumentasi ilmiah dan dalil yang kuat. Kriterianya terlalu sederhana, belum mencerminkan kriteria BULAN sebagai HILAL, yaitu hanya memperhitungkan ijtima dan ketinggian (irtifa) saja, padahal agar bulan menjadi hilal harus pula menghitung variabel lainnya seperti elongasi, umur bulan, iluminasi dll. Jadi wujudul hilal hanya menghitung kapan BULAN berada di atas ufuk setelah maghrib. Wujudul hilal tidak menghitung kapan bulan menjadi HILAL. Sehingga kriteria tersebut kurang tepat menggunakan istilah wujudul hilal tapi lebih tepat istilahnya wujudul qomar.

    Walaupun kriteria wujudul-hilal sangat jelas dan sederhana, tetapi tidak didukung argumen ilmiah dan Syara yang qathi, tak ada dalil yang menyatakah bahwa awal bulan ditetapkan jika matahari terbenam mendahului bulan, Quran Surat Yasin ayat 40 yang digunakan kelompok wujudul hilal sebenarnya menegaskan bahwa matahari dan bulan masing-masing memiliki peredaran yang berbeda (kullun fi falakin yasbahun) tidak ada kaitan dengan awal bulan (hilal).
    QS Yasin 40 merupakan rangkaian dari ayat 38 yang menjelaskan peredaran matahari, ayat 39 menjelaskan peredaran bulan dan ayat 40 menerangkan bahwa bulan dan matahari tidak saling mendahului karena keduanya memeliliki garis edar masing-masing yang berbeda.

    Hisab imkanur-rukyat didukung oleh dalil yang kuat serta berdasarkan argumentasi ilmiah yang teruji. Prinsipnya mengacu pada pengalaman zaman Rasulullah walaupun bulan berada positif diatas ufuk, tetapi kalau “gumma” bulan dalam posisi tersebut oleh Rasulullah dianggap bukan hilal sehingga ibadah shaum dilaksanakan 30 hari (Muslim 1808). Hisab ImkanurRukyat merupakan upaya menghisab kapan bulan muncul sebagai HILAL atau kapan bulan manyerupai ‘urjunil qadim seperti yang digambarkan dalam QS Yasin 39

    Awalnya imkanRukyat yang digunakan Persis menggunakan kriteria kesepakatan MABIMS, tetapi mulai tahun 2009 kriteria MABIMS sudah tidak lagi digunakan Persis, karena ternyata kesepakatan MABIMS tsb banyak bertentangan dengan hasil pengamatan empirik di lapangan. Saat ini Persis cenderung menggunakan kriteria Prof. Dr. T Djamaluddin (astronom yang sudah puluhan tahun bergelut dalam Hisab Rukyat di Indonesia)

  34. berdasarkan astronomi hilal < 2* itu ada atau tidak ada ?

  35. kalau kriteria visibilitas hilalnya sudah disepakati, lalu pada saat rukyat ternyata tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Kaidah mana yang mau dipakai ?

  36. Tidak semuanya yang tidak terlihat itu tidak ada kan ? Ayo siapa berani bilang Allah itu tidak ada karena tidak terlihat ?

    • KALAU KITA MENINGGALKAN SUNNAH RASULULLUAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM AKHIRNYA BINGUNG SENDIRI KAN/? PADAHAL SUDAHJELAS DITERANGKAN OLEH NABI KITA APABILA HILAL TERHALANG MAKA GENAPKANLAH BILANGAN 30 HARI. DARIPADA HANYA DISIBUKKAN DG MEMPERTAHANKAN METODE BUATAN MANUSIA SENDIRI!! PADAHAL ALLAH DAN RASULNYA SUDAH MENYODORKAN METODENYA YG SEDERHANA YAITU RUQYAH HILAL.. KENAPA HARUS BERTAHAN DG PENDAPAT HAWANAFSU EGO SENDIRI DG MEMBUANG SUNNAH YG DI SEDIAKAN UTK AGAMA ISLAM YG SUDAH SEMPURNA AJARANNYA..

      • - Bukankah hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar juga bisa dipakai (itu lho yang ada faqduru lah-nya).
        – Melihat hilal dengan mata kepala versus melihat hilal dengan akal pikiran. (ini juga patut dihargai…donk)
        – dari 9 kali Rosul shaum ramadlan, hanya 2 kali saja yang 30 hari (ini juga hadis…….khan)
        – “Faman Syahida minkumus syahro” : syahida itu artinya menyaksikan, bersaksi. Dasar kesaksian khan bisa penglihatan mata kepala, bisa juga ilmu pengetahuan.
        – Ala kulli halin…….prof ini memang cerdas : “melempar wacana kontroversi di penghujung bulan di saat orang diuji kesabarannya setelah sebulan berpuasa”. Sebagai “syetan”, wacana ini telah mampu memperlihatkan hasilnya (bisa kita lihat di koment-koment itu). Bagi saya, syetan sekalipun, eksistensinya perlu kita syukuri.

      • - Bukankah hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar juga bisa dipakai (itu lho yang ada faqduru lah-nya).
        – Melihat hilal dengan mata kepala versus melihat hilal dengan akal pikiran. (ini juga patut dihargai…donk)
        – dari 9 kali Rosul shaum ramadlan, hanya 2 kali saja yang 30 hari (ini juga hadis…….khan)
        – “Faman Syahida minkumus syahro” : syahida itu artinya menyaksikan, bersaksi. Dasar kesaksian khan bisa penglihatan mata kepala, bisa juga ilmu pengetahuan.
        – Dalam masalah agama seperti ini orang nggak bisa seenaknya merekomendasikan satu kelompok merubah prinsipnya untuk mengikuti kelompok lain atau orang kebanyakan. Coba dech logikanya dibalik…..
        – Ala kulli halin…….prof ini memang cerdas : “melempar wacana kontroversi di penghujung bulan di saat orang diuji kesabarannya setelah sebulan berpuasa”. Sebagai “syetan”, wacana ini telah mampu memperlihatkan hasilnya (bisa kita lihat di koment-koment itu) baik positif maupun negatif. Bagi saya, syetan sekalipun, eksistensinya perlu kita syukuri.

      • @saudara MUFLIH :

        oke sekarang kita pake metode Ruqyah Hilal.. tp kita harus tau jelas neh metode lokal apa global…
        contoh kasus di daerah kita indonesia belom lihat hilal, sedangkan sudara kita di malaysia dan arab saudi sudah melihat hilal… apakah kita harus memperpanjang 1 hari lagi untuk dapat melihat hilal pada esok harinya ataukah kita mengikuti saudara kita yg di arab saudi ataupun malaysia>>???

        terus satu lagi, kamarin pada saat tim hisab dan rukyat memantau hilal, ternyata di darah cakung dan jepara sdh melihat hilal, tp kenapa oleh pemerintah/MUI di batalkan.. sedangkan pada zaman rasullulah dulu ketika ada 1 orang saja sahabat yg melihat hilal maka rusullullah mengatakan bahwa sudah masuk bulan baru…

        mungkin saudara bisa bantu jelaskan kepada saya yg orang awam ini..

      • dengan sunnah rasul ada yang sudah melihat hilal..kenapa tidak dipercaya ??

  37. perbedaan idulfitri, tidak hanya menyangkut sekelompok orang sudah makan sedangkan yang lain masih saum, tetapi juga menyangkut ibadah lain yang sangat terkait dg 1 syawal, yaitu zakat fitrah..

  38. Zaman Rasul walaupun bulan berada diatas ufuk tapi kalau “ghumma” maka bulan tidak ditetapkan sebagai hilal dan nabi shaum 30 hari (Hadits Muslim nomor 1808). Muhamadiyah menganggap zaman sekarang tak ada “ghumma”.

    Untuk jadi HILAL harus pula dihisab umur bulan, jarak sudut, iluminasi bulan, dll. Hisab Muhamadiyah hanya menghisab ketinggian saja, jadi belum lengkap. Bulan yang saat maghrib tingginya kurang dari 4 derajat belum menjadi hilal baru calon hilal

  39. Alhamdulillah….., ada pencerahan baru di persimpangan ini….

  40. Dampak sosial perbedaan Hari Raya ini sangat besar…..bisakah kita sepakat agar yang menetapkan awal syawal cukup pemerintah saja?….Bagi kami di Maluku yang hidup berdampingan dengan komunitas agama lain sangat terganggu dengan perbedaan ini…..bahkan menjadi bahan olok-olok oleh umat lain……..

  41. menyangkut soal kreteria, sy mau tanya kreteria apa yg digunakan Muhammadiyah dalam menentukan bulan Ramadhan, syawal, dan Dzulhijjah, selama zaman orde baru, mengingat perbedaan tsb tampak lebih sering pasca reformasi. Apakah pada saat itu Muhammadiyah pakai imkanu rukyat, tapi pasca reformasi lantas ganti pakai sistem murni wujudul hilal? Yg mengakibatkan sering tjd perbedaan dg kalangan imkanu rukyat? Mohon pencerahan sejarah tsb. Trims

    • di orde baru pemerintah ikut muhamadiyah,kemudian yang berbeda tidak boleh woro-woro secara nasional karena bisa diciduk aparat…stlh reformasi sdh bebas informasi tersebar bahkan berskala nasional merebak…jadi, utk urusan ramadhan dan syawal memang harus ada ketegasan pemerintah,blokir akses yang berbeda khusus utk ramadhan..gitu aja koq repot…sisa,beranikah ?!?!

    • Hampir pasti karena ketika itu Menag-nya Muhammadiyah = Mukti Ali

  42. Sy org yg sama skl awam soal hisab, rukyat & semacamnya.sy hny tergelitik sekelumit tulisan “apakah nyaman sekelompok orang sudah makan-makan, sedangkan kelompok lainnya masih berpuasa? Apalagi kemudian ada ungkapan haramnya puasa pada hari itu”.kalimat itu (& yg senada) bbrp kali muncul. maaf kl kesan sy kalimat itu ditujukan utk kaum muhammadiyah.seingat sy bbrp thn yg lalu, sekitar dekade 80-90an (persisnya thn brp sy ndak ingat), NU bbrp kali pernah mendahului lebaran.

    • betul itu…klo yang diatas atau yang paham sih tidak mungkin bicara begitu…tapi,akar rumput yang ela-elu selalu bilang bgt,haram puasa karena sdh ada yang lebaran,begitu juga yang puasa bilang haram berbuka karena belum waktu sdh lebaran,nah lho?..

    • anehnya,yang ela-elu/ikut-ikutan dr akar rumput hanya cari enaknya saja,yang penting kalo sdh ada yang lebaran tidak puasa sholat id besoknya, dibilang pengikut muhammadiyah bukan,dibilang pengikut NU jg bukan…jadinya hanya mengikut hawa nafsu,mereka selalu puasa 29 hari tdk pernah 30 hari…inilah masalahnya…

  43. Terlalu mendiskreditkan walau dikemas dalam bahasa intelek dan penuh argumen pribadi…..mohon bapak memberikan pencerahan yang lebih humanis dan tidak menyalahkan pihak lain seakan-akan kita paling benar….

  44. Terima kasih Pak atas penjelasannya. Memberikan pencerahan atas permasalahan penetapan awal romadhon.

  45. saya lebaran,mengikuti Muhammadiyah,krn ktanya hilal akan tampak meskipun tak mencapai 2 derajat.Dan td di tv saya lihat pak kepala Lapan mengatakan bahwa hilal akan tampak namun tdk akan melebihi 2 derajat..Krn yg saya pahami,walopun tdk sampe 2derajat,kalo hilal nampak,berarti menandakan awal bulan syawal kan?Definisi 1 bln spt itu kan?Dimulai dr munculnya bulan hingga nanti bulan mati lg

    • saya sependapat dengan panjenengan

    • setuju….selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1432 h

    • wah..wah..terlalu emosional nich…nampak oleh apa ? oleh mata telanjang atau mata tekhnologi? mata telanjang atau yang bersarung sekalipun kecil kemungkinan hilal dilihat…kalo mata tekhnologi sdh jelas nampak dan sdh bulan baru…masalahnya adalah perintah rukyah itu apakah bisa di qiyaskan ke mata tekhnologi? wallahu a’lam…
      untuk sementara saya tetap sepakat dengan metode muhamadiyah,namun idul fitri ikut pemerintah yang punya otoritas hukum…karena saya warga negara indonesia bukan warga negara muhamadiyah meski saya lahir dari komunitas muhamadiyah

      • Itulah yang menjadi perbedaannya. Ada perbedaan penafsiran di sini. Saya ingin berdiskusi dengan anda (Irfan Ashari). Tolong baca gambaran yang saya tulis ini: Di Yaman ada masjid lama, yang dibangun oleh seorang sahabat Nabi. Di masjid itu ada jam matahari untuk menunjukkan waktu sholat dzuhur. Misalnya nih (sekali lagi, ini misalnya), kita sudah punya jam seperti jam jaman sekarang. Terus saya nanya ke sahabat nabi tersebut..jam berapa saat sholat dzuhur? Pasti beliau akan jawab, “LIHAT jam matahari itu. Klo bayangan matahari ada di tengah, berarti sudah waktunya sholat dzuhur. Tp bgmn kalo mendung?Kalau mendung, ingat kemarin, jam berapa kemarin sholat dhuhur, supaya aman, tambahkan 10menit (krn klo sudah nambah 10 menit, dijamin udah masuk waktu dzuhur kan?)”. Nah, disini yang saya tangkap, Saat sholat dzuhur itu dilaksanakan adalah saat matahari ada tepat ada di atas kita. Sehingga akan meninggalkan bayangan di tengah (betul demikian?). Nah,beberapa tahun kemudian, perhitungan matematika dan astronomi berkembang. Lalu dengan perhitungan itu saya bisa mengetahui dengan pasti, setiap hari kapan matahari akan berada tepat di atas kita, baik itu dalam keadaan mendung atau tidak. Di sini, kalo saya gak lagi pake jam matahari, apakah saya berarti mengingkari perintah sahabat nabi tersebut, karena saya tidak pernah MELIHAT jam matahari lagi??

    • Prof, saya ada pertanyaan yg masih mengganjal…. Dalam sidang Isbat 29 Agt 2011, dari 30 saksi dikatakan ada 4 saksi yang telah melihat Hilal. Sebagaimana kita ketahui bersama, saksi2 tsb sebelumya telah disumpah dan dianggap menguasai ilmu tentang perhilalan. Bukankah dgn adanya saksi yg melihat hilal (walaupun minoritas jumlahnya) sudah cukup dipakai dasar utk meyakini 1 Syawal.
      Yg buat saya yg awam, saya tidak bisa menerima keputusan penentuan 1 Syawal pada akhirnya diputuskan hari rabu berdasarkan hasil rapat pemerintah dgn para ormas. Dgn alasan kurang lebih, berdasarkan ilmu sains, hilal tidak dapat dilihat.
      Tolong jelaskan kepada kami, apakah kesaksian penglihatan hilal tsb dieliminir dgn asumsi para ahli sains yg berpendapat hilal ‘Tidak Mungkin’ terlihat karena berbagai alasan dsb dsb. Jika pada akhirnya penentuan 1 syawal, ditentukan berdasarkan hasil rapat tsb – buat apa diperlukan saksi2 yg disebar diseluruh Indonesia, toh pada akhirnya kesaksian tsb tersebut tdk digunakan sebagai dasar keputusan penentuan 1 syawal.

      Mohon pencerahannya

    • setuju..andai kita masih berpuasa pd hari ke 30 sedang yang lain sydah berlebaran..puasa di hari tasryk berpahala kah? ikut Muhammadiyah dan selama ini sama dgn Mekkah..puasa wajib bisa diganti dari pd berdosa ..

  46. Klo misalkan gerhana dan solat 5 waktu bukanya pake hisab…??

  47. Astaghfirullah…semoga Allah SWT memberikan jalan yang lurus kepada pak Profesor…Jangan mengkerdilan, menjelekan, mengusangkan ataupun sebagainya yang membuat anda merasa paling pintar..paling mutakhir..atau paling bagus…Semua ada pijakan dan dasarnya…Kesombongan hanya milik Sang Pemilik Jagat bukan milik pak profesor..pak profesor jangan terjebak pada ego dan keyakinan bapak sebagai seorang penganut paham tertentu..letakkan ilmu sebagai jalan kebenaran bukan sebagai pesananan ataupun jalan meraih jabatan didunia..AMIN..

    • emosi kok nggak habis-habis… sabar sabar…

      • Bagi warga muhammditah sabar dan jangan merasa selalu benar, dan bagi yg bukan m juhammdiyah jangan merasa muhammdiyah sudap pasti slah. ini ranah ilmu dan belajar dan berusaha lebih baik

    • Belajarlah lebih dewasa dalam menyampaikan pernyataan, cobalah pakai nurani, jangan pakai hawa nafsu, insya Alloh dengan kelapangdadaan dan komitmen bersama kita bisa persatukan hari raya, tinggal kita bikin kesepakatan bersama tentang kriteria dalam menetapkan awal bulan, saya lihat pak Profesor sdh memberikan alternatif dan jalan pemecahan dari kebuntuan yang berujung bedanya umat indonesia dalam berhari raya

  48. satu lagi nambah ilmune, semoga bermanfaat….barokallah fii umrik

  49. Asslkm Wr.Wb.

    Terus terang sy orang yg awam mengenai penentuan Ramadhan dan Idul Fitri, akan tetapi ingin saya sampaikn 2 hal dlm tulisan ini. 1) sebenarnya seluruh ormas Islam bisa dan pasti bisa menyeragamkan penentuan hal2 tersebut di atas andaikata tidak menonjolkan Egonya masing2. sbgmana disebutkan dlm tulisan2/komen di atas bahwa kalender Islam itu tidak kurang dari 29 dan tidak lebih dari 30 hari..oleh karena itu andaikata ormas2 Islam tidak egois dgn ke ilmuannya maka bs sj di seragamkan asalkn tidak kurang dan tidk lebih dari hari dalam kelnder trsbut. 2.) Tidak adanya ketegasan pemerintah sbgai UMARA (Pemimpin) untuk memutuskan hal tersebut, seolah-olah tidak ada gunanya Sidang Isbat yg diikuti oleh ormas2 Islam di Indonesia kalo akhirnya tetap sj ormas2 Islam trsebut menjalankan keyakinan dan ke Ilmuan masing2, dan pemerintah membiarkan hal tersbut terjadi berulang2 seolah2 tidak ada jalan keluar. Yang di khawatirkan Justru Umat Islam ini mendapat cemoohan dari penganut agama lain, dan saya yakin hal ini pasti terjadi (penganut agama lain mentertawakan agama Islam).. Mudah2an Allah S.W.T memberikan petunjuk dan membukakan hati para pemimpin baik dari kalangan ormas Islam maupun dari pemerintah, shingga tdk mmbuat umat (makmum) dalm ke ragu2an dan justru bisa membawa kemaslahatan buat umat Islam seluruhnya.

  50. Wooow kt itu terbesit dlm benak saya manakala membaca kritikan anda yg sangat porno tentang hisab muhammadiyah wuah anda profesor berani mempertaruhkan keakademikan anda untuk menyatakan bahwa hisab wujudul hilal adalah usang, wuah hebat benar anda!
    Pak Profesor, saya hanyalah orang awam tentang ini namun setelah membaca tulisan tanggapan prof. SyamsulAnwar yg sangat taktis akademis dan sy jg baca tanggapan anda spt dlm link anda. Tdk menampilkan urgensi dr tanggapan prof. Syamsul…
    Terima Kasih Mas Asep atas tulisan dan panduan anda dalam memahami profesor yg satu ini. Apa yg anda keluarkan tdk ada tanggapan yg dramatis dr sang Profesor. Justru dari situ nampak keterkedilan sang Prof. dalam menyikapi perbedaan ini…
    Pak Prof justru andalah yg hrs merenungkan diri.

  51. prof, solusi yang bapak berikan insya alloh bisa menjadi rujukan kawan2 dan saya sendiri yang masih belum terlalu mendalami ilmu falak. terima kasih. sedikit tambahan, ada beberapa negara yang memang menggunakan rukyat murni seperti saudi, dan beberapa negara timteng. adapula yang menggunakan hisab murni seperti ormas MD dan negara Libya. tetapi memadukan hisab dan rukyat tentu akan lebih bijaksana, disamping itu telah menempuh thoriqotul jami’, menjalankan matan ayat dan hadits tanpa ada yang dinafikan.

  52. Tolong dijawab Prof. menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, boleh tidak arang menetapkan sudah pergantian bulan Hijriyah? berdosakah mereka?

  53. Saya cuma punya pertanyaan, mengapa muhammadiyah yang harus berubah? Menurut saya harus dicari ilmunya dl krn peredaran matahari, bulan dan bumi kan sudah fix. Bahkan memperkirakan kapan gerhana saja sdh bisa padahal masih dimasa depan. Mosok menghitung ganti bulan tidak bisa. Mengamati hilal tentusaja perlu tapi tolong tidak dilupakan bahwa Allah mengkaruniakan akal untuk digunakan. Jadi temukan standar ilmunya, dan semua ormas islam dpersilahkan siap berubah tidak hanya muhammadiyah

    Salam

    Intan

  54. Saya tidak mengerti ilmu falak,tapi yg saya tahu adalah ini merupakan domein nya pemerintah.Wilayah Indonesia itu sangat luas,jadi untuk penentuan kapan idul adha, idul fitri dapat mengakomodir seluruh wilayah indonesia.apabila disalah satu wilayah sudah dapat ditentukan saat itu idul fitri/idul adha maka seyogya nya itu membawa seluruh wilayah indonesia untuk mengikutinya.Tulisan ini sangat bagus,tapi disampaikan di forum masyarakat awam (seperti saya), menurut saya ini tidak bagus karena mestinya ada forum tersendiri yang dilakukan pemerintah dengan mengundang para pakar,krn kalo disampaikan ke masyarakat awam maka masyarakat akan smakin bingung.Biarkanlah hal ini berjalan sebagaimana keyakinan masing-masing.Kalo mau dibahas gak perlu dgn kami (orang awam).Gak perlu lah menyampaikan ilmu yang tidak dapat kami pahami.kami yakin Bapak bisa memaklumi…

  55. Kalau astronot yang cenderung tiap saat lihat bulan, bagaimana menentukan kalendernya Pa? Pake Hisab saja atau mesti ru’yat dulu?

  56. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H
    Mohon Maaf Lahir & Batin

  57. Alhamdulillah atas tulisan yang bermanfaat, namun dengan kata2 terakhir “ormas modern tapi memakai kalender usang” saya melihat ada tendensi yang kurang baik dari si penulis. Kebetulan saya dekat dengan kalangan profesor. Ciri khas Prof adalah merasa paling benar. Mudah2an tulisan ini memang benar adanya untuk pengetahuan bersama bukan untuk memojokkan pihak tertentu. Wallahualam bishowab.

  58. Tulisan Pak Professor sangat jitu!

  59. saya manut pemerintah,

  60. Meskipun penulis di blog ini seorang guru besar di bidangnya, namun ada beberapa hal yang dapat saya tangkap:
    1. Mental akademik yang masih cukup rendah. Ini terkait dengan sikap beliau yang tidak mau menerima perbedaan.
    2. Kecakapan akademik yang dimiliki tidak diimbangi oleh kematangan emosional. Sehingga tulisan yang diberikan bukan memberikan pencerahan, namun lebih bersifat provokatif.

  61. Guru besar yang berjiwa kerdil…Mhn maaf lahir dan batin Prof. Belajarlah ilmu tasawuf agar Prof lebih dapat menghargai orang lain…

  62. Tulisan anda ini sangat tendensius sekali terhadap muhammadiyah.
    Anda tidak ojektif dalam melihat persoalan perhitungan yang dipakai muhammadiyah…Mengapa hanya muhammadiyah yg anda persoalkan..? terlihat sekali anda apatis terhadap metode hisab muhammadiyah.

  63. Model hisab Muhammadiyah akurat untuk menghitung mundur sekitar 1400 tahun ke Zaman Nabi Muhammad (masih hidup), yaitu saat terjadi Hari Raya yang bertepatan dengan hari Jum’at. Perhitungan hisab Muhammadiyah bisa mengidentifikasi hari raya apa dan tahun ke berapa hijriyah peristiwa itu terjadi. Peristiwa ini kemudian menghasilkan hadits tentang pilihan untuk shalat salah satu saja antara shalat Ied dan shalat Jum’at. Apakah metode yang Prof Djamaluddin tawarkan memiliki kelebihan yang sama?
    Terimakasih.

  64. anologinya gini menurut saya. Shalat dzuhur dimulai ketika tergelincir matahari. Tergelincirnya berapa derajat? kalau saya gak pake derajat-derajatan ketika tergelincir pokoknya sudah masuk waktu dzuhur, yg mau pake 2 drajat monggo bahkan yg mau pake 45 drajat pun monggo toh sama2 masih masuk waktu dzuhur, yg mau memaksakan 4 drajat karena lebih afdhol krn 2 drajat khawatir belum masuk waktu dzuhur itupun monggo. ummat Islam secara keseluruhan dan Allah lah yg akan menilai. trm kasih

  65. apakah ketika menetapkan munculnya bulan baru itu secara hisab bulan sudah ada tapi belum terlihat dengan mata telanjang, atau memang melihat bulan itu harus secara kasat mata sehingga baru bisa dianggap sah? berarti selama ini beberapa ibadah kita harus rukyat dulu dong, seperti mau sholat harus nunggu ketetapan pemerintah, di rukyat dulu, baru ditentukan masuknya waktu sholat, nggak bisa pake jadual berdasarkan jadual sholat abadi secra hisab, , sy kira pernyataan ilmiah memang harus jujur apa adanya, tetapi ketika ia dilontarkan untuk merendahkan satu pemikiran ilmiah lain nya, apa masih layak ia menjadi panutan prof?

  66. ini pada ngributin apa tho…?
    wah akhir puasa mengajarkan kita untuk ribut dech kayaknya,,…,,

  67. Inilah sebenarnya sosok pribadi muslim yang diharapkan ..untunglah prof perintah pertama dalam kalam Allah adalah “BACALAH” bukan dengarkanlah atau ikutilah. Wahai orang NU, Muhammadiyah, Persis dan semua orang yang mengaku Islam bacalah (belajarlah dengan sungguh2 agar kamu bisa mendapat ilmu yang mencerahkan). Maju terus prof semua ormas Islam memang harus terus didorong untuk berubah. Karena sekarang Muhammadiyah, NU, Persis dan bahkan FPI sudah menjadi “seperti” agama. Kalau dikritik langung marah (padahal nabi Muhammad s.a.w.meskipun diludahi tetap tabah dan malah mendo’akan yang meludahi/menyakiti). So mereka yang suka marah dan gampang tersinggung meniru siapa ya?

  68. PENULIS NYA PENGURUS NU KAH???????????????????
    MEMOJOKKAN SATU GOLONGAN?? mudah2an pembaca dapat menilai sendiri bagaimana karakter orang ini. masih kah bisa dipercaya tulisan nya, yg menganggap pendapat nya paling benar. tanpa mau belajar mencari tau kenapa dan bagaimana dasar keyakinan menentukan hilal. sungguh egois. orang modern yg ortodok :)

  69. Artikel yang sangat bermanfaat Pak.. Semoga dengan Artikel ini Ummat mendapatkan pemahaman yg lebih jernih.. Nice Share Prof..

  70. orang sudah sampe di bulan kita masih ribut bagaimana cara kita melihat bulan, kasian…..deh…

  71. alangkah indahnya perbedaan! NAmun, jauh lebih indah PERSATUAN… hehehehe…
    Seru sekali diskusinya, terus terang saya orang yg sangat awam sekali tentang penentuan hari idul fitri, menjadi bingung. Semuanya dengan pendapatnya masing-masing, dengan sumbernya masing-masing pula. Hmmm… hal ini mengindikasikan bahwa ‘sebenarnya’ orang Islam itu sangat sangat sangat pandai, pintar dan ahli.
    Semua hal tercakup dalam islam.
    Namun, mengapa kita selalu kalah oleh ‘yang lainnya’???
    menurut saya, karena mentang-mentang kita diberi kebebasan untuk berpendapat, kita terlalu asyik bercumbu dengan dunia perbedaan, sehingga kita lupa NIKMATNYA PERSATUAN.

  72. Saya sepakat dengan artikel ini.

    Saya tumbuh di keluarga yang sangat Muhammadiyah. Namun sangat menyayangkan “kekeraskepala-an” Muhammadiyah untuk terus menggunakan metode hisab yang jelas tidak syar’i (Apakah Allah melalui Rasulullah dahulu memerintahkan untuk menggenapkan Ramadhan menjadi 30 ketika tertutup awan, namun tidak mengetahui bahwa ilmu hisab itu ada, dan berkembang terus sampai akhir zaman? Tentu TIDAK. Islam sudah sempurna ketika Ayat terakhir diturunkan).

    Dalilnya sudah jelas, bahwa untuk kriteria penentuan awal dan akhir Ramadhan tidak hanya Terjadi, namun juga harus Terlihat. Kalau hanya terjadi, tentu bisa dihitung menggunakan ilmu hisab.

    Saya bersyukur, pemerintah Indonesia masih mengamalkan Rukyat, yang memang syar’i. Semoga Muhammadiyah dapat kembali meninjau metode yang telah digunakan selama ini.

    Seperti yang telah Pak T. Djamaluddin sampaikan, kebingungan di masyarakat itu sudah menjadi indikator yang sangat jelas. Mana mungkin perselisihan seperti ini adalah rahmat? (dan itu jelas mengacu pada sebuah hadist yang tidak ada asal usulnya. Jelas tidak bisa dijadikan hujjah)

    Semoga kita semua bisa bersatu dalam Sunnah Rasulullah..

    Terima kasih Pak T. Djamaluddin, atas penjelasan yang gamblang ini. Semoga Allah membalas dengan kebaikan.

  73. Klo menyatukan Ied sj repot, bgm mungkin ormas2 itu bisa menyatukan ummat dalam skala yg lebih luas?!. Saatnya mengalah untuk ummat. Ikuti pengumuman pemerintah. Kita harus memahami bhw ada wilayah publik yg seharusnya pemerintah yang punya otoritas! Wallahu a’lam

  74. pertanyaan utk Prof:
    1. karena imkan rukyat merupakan trend vs wujudul hilal adalah kriteria usang; bagaimana sebaran (persentase) penggunaan kedua metode tersebut di dunia utk penanggalan?
    persepsi saya: bila hanya menggunakan trend biasanya akan berubah! masa ibadah pake trend? trend dunia atau trend lokal?
    2. Zaman Nabi SAW, romadhon 29 hari lebih banyak dibanding 30 hari (9 banding 1), bagaimana perbandingan lama romadhon di negara kita dalam 10 dan 20 tahun terakhir?
    persepsi saya: rasanya di kita lebih banyak yg 30 hari. dan kalo itu benar, secara astronomi, mungkinkah ada pergeseran rasio tersebut?

    hanya saran dari orang awam utk Prof:
    1. dunia maya dunia ragam orang, meskipun ada istilah “blog aing nu aing kumaha aing” tapi lebih bijak kalau kita menulis untuk semua orang (ini saya baca di blog juga, lupa alamatnya)
    2. mudah2an tidak lupa diri karena sudah profesor terutama dengam tendensi menyebut metode lain sudah usang
    3. dijawab terima kasih, tidak dijawab terima kasih, yang penting selamat idul fitri mohon maaf lahir dan bathin

  75. SELAMAT JALAN RAMADHAN

    Assamu’alaikum wr. wb.

    Pada hari ini SAYA melihat Ramadhan berkemas, tepatnya besok Selasa 30 Agustus 2011 akan meninggalkan kita Mukinin dan Mukminan. SAYA bertanya … akan kemana engkau ya Ramadhan? Dengan lembut mereka menjawab…Aku akan pergi jauh selama 11 bulan. ….. Tolong sampaikan kepada MUKMININ MUKMINAN terimakasih-ku, karena mereka telah menyambut-ku dengan ikhlas BERPUASA dan menahan semua nafsu, MENGHIASI malam-ku dengan SHALAT TARWIH, TADARUS, DAN I’TIKAF, serta MEMPERBANYAK SEDEKAH…. dan …… Sampaikan kepada mereka kalau merindukan-ku… INSYA ALLAH aku akan datang lagi tahun yang akan datang, tapi….jika mereka sudah berpulang ke hadirat Allah……mereka akan aku tunggu di SURGA lewat pintu AR-RAYYAN. …..SELAMAT TINGGALl saudaraku MUKMININ MUKMINAN. Sebenarnya .. kalian masih ada kesempatan beberapa hari ini untuk bertemu denganku.. manfaatkan ! manfaatkan! sekali lagi manfaatkan!. Kataku… Insya Allah akan aku manfaatkan sisa hari itu …. dan aku sampaikan terimakasih-ku kepada Engkau Ya Ramadhan, SAYA tunggu kehadiran-mu tahun depan….karena aku sangat rindu kepada-mu.

    Kepada semua sahabat handai-tolan… saya sampaikan SELAMAT IDUL FITRI 1432 H. dengan iringan doa “taqabbalallahu minna wa minkum” mohon maaf lahir dan batin.

    Salam dari Tjipto Subadi dan Keluarga
    Dosen UMS, Sekretaris ISPI Jawa Tengah

  76. Kalau saya ikut cara yang dipraktekkan nabi Muhammad saw saja, lihat dulu ada bulan baru nggak (melihatnya pakai mata telanjang atau teleskop), kalau tidak bisa karena ada gangguan awan barulah dihitung-hitung lewat komputer.

  77. Mengapa muhammadiyah(dan ormas2 lain tentunya) tidak mau berhari raya dg pemerintah?bukankah itu lebih bermaslahat daripada memaksakan pemikirannya?mungkin bisa saja bicara saling menghormati,tetapi bukankah jika ada yg mengalah itu lebih baik lagi?hanya pemikiran dari orang awam yg merindukan bersatunya umat tanpa dipecahbelah atas nama ‘organisasi’.

    http://muslim.or.id/ramadhan/berhari-raya-dengan-siapa.html

  78. Banyak sekali orang yang tidak ahli tp bnyk berkomentar ttg sesuatu yang bukan pada ahlinya/bidangnya, akibatnya akan memperkeruh suasana dan hanya lebih mementingkan ego golongan semata, mg2 masukan Prof. Djamaludin yang memang pakar dibidang astronomi bisa memberikan masukan yang berarti dan lebih diintensifkan komunikasi antar organisasi sehingga persatuan ummat tetap terjaga. Kritik yang membangun semoga dapat mencerahkan.

  79. Kriteraia 2 derajat juga tidak kalah dipaksakannya. saya yakin 100% kesimpulan 2 derajat adalah hasil observasi. tentu observasi tidaklah benar mutlak.
    Okelah pak Djamal pakai imkanurrukyat, tapi mengapa mesti 2 derajat?

    Untuk yang ingin menilai Hisab Muhammadiyah, sebaiknya baca dulu pedoman dan argumen yang digunakan Muhammadiyah, bukan dari tulisan blog ini semata.

    Tendensi “memojokkan” sangat terasa di blog ini, maupun cara bicara pak Djamal di metro tv (yg tidak menghadirkan ulama dari Muhammadiyah). Kalau memang istilah yg bapak gunakan tidak memiliki makna pejoratif secara ilmu alam, tapi secara sosiologis ada efeknya pak, mohon tidak menutup mata. Buktinya di blog ini saja sampai ada yg komen berucap “Muhammadiyah sudah ujub terhadap dirinya, merasa paling hebat, tapi tdk memikirkan persatuan umat.”…
    Mohon para ilmuwan juga membina kerukunan umat.

    salam

  80. Terima kasih atas penjelasannya. Saya jadi tahu bahwa perbedaan yg ada pada dasarnya terletak pada “kesepakatan” kriteria. Namun, sy pikir masalah kesepakatan adalah ranahnya orang politik sehingga memang susah mengharapkan hal itu diterapkan pada ranah ilmu pengetahuan. Sejarah Galileo adalah salah satu contohnya. \
    Sukar bagi saya membayangkan perasaan seorang ayah yang mencoba menjelaskan kejadian ini kepada anaknya sbb: ” secara ilmu falak memang hari ini kita sudah memasuki bulan baru, tetapi demi persatuan bangsa maka tanggal 1 kita sepakati besok”.
    Oleh sebab itu, saya tetap menghormati mereka yang memegang prinsip dalam ber(beda) pendapat. Soal perbedaan, saya pikir di dunia sosial dan politik memang sudah biasa kok. Yang penting bagaimana kita semua saling menghormatinya dengan berbekal pandangan bahwa perbedaan itu adalah berkah dan sangat manusiawi.
    Kepada kepada seluruh saudaraku, saya mengucapkan Selamat Iedul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
    Saya juga berdoa semoga hari Iedul Fitri yang akan kita rayakan. dapat berlangsung pada hari yang sama. Amiin ya Rabb.

  81. apik apik apik
    jooosssssssssss

  82. Hari ini masih puasa. Mari menahan diri dari menuliskan kata-kata yang dapat menyinggung orang.

    Beda-beda lebarannya, santun-santun bicaranya.

  83. ass. Prof Jamal. Terkait dengan masalah hisab ini.,sesuai tulisan bapak, saya melihat masalahnya semata-mata ada pada belum adanya teknologi yang mampu melihat hilal pada elevasi antara ~1-4 deg. Memang pada ketinggian tersebut akan sulit klo tidak ingin dikatakan mustahil untuk melihat hilal karena adanya albedo. Menurut saya sepanjang perhitungan hisab dan wujud hilal meskipun secara teori sudah diatas ufuk, maka semestinya sudah dapat diterima sebagai bulan baru. Seandainya cara perhitungan hisab tersebut salah tentnya hal ini yg menjadi persoalan. Menurut saya sepanjang teori hisabnya dapat dipertanggungjawabkan maka tidak menjadi masalah. Insya Allah hanya butuh waktu untuk menemukan teknologi yang mampu melihat hilal pada ketinggian rendah tersebut. Hal ini tentu menjadi PR kita sesama ummat muslim untuk mewujudkannya. Ingatlah ketika perdebatan tentang pusat tata surya dimulai dan pada akhirnya dengan teknologi hal itu bisa dibuktikan. Oleh karena itu tidak bijak rasanya untuk menyalahkan metode masing2, hanya karena ketidakmampuan kita untuk membuktikan bahwa teori yang digunakan itu salah. Sama dengan NU yg kemudian beradaptasi dari tidak menggunakan teropong kemudian menggunakan teropong, kita pun semestinya berusaha untuk membuktikan berapa sih limitasi elevasi yang mampu dilihat dengan teknologi. Mungkin teknologi kita yg digunakan sekarang yang sudah usang, jika kita menganggap cara berhisab kita sudah benar. Mudah2an akan semakin banyak umat islam yang terdorong untuk memperkuat teknologi yg dapat dimanfaatkan untuk kemajuan Islam. Semoga Allah meridhoi.

  84. Heran juga nih liat profesor yang satu ini… ga ada kerjaan lain ya? atau anda malah sengaja merusak kedamaian ummat Islam di negeri ini?

  85. Diskusi yang sangat baik, mudahan dibarengi dengan bilhikmah. saya setuju bahwa kalender islam seharusnya bersekala nasional seperti apa yang disampaikan pak prof. cuma ada sedikit yang mesti saya tanyakan kepada pak prof. sebenarnya diseluruh dunia hari itu apa sama? terus perbedaan jam apa berpengaruh pada bilangan hari sebab kalo berpengaruh bilangan hari bisa jadi di negara lain 31 hari di indonesia 30 hari.
    Selain itu sy tertarik dengan penyampaian pak prof bahwa belajar hisab itu mudah supaya saya bisa tambah ilmu apa bisa pak Prof kirimkan saya ebook atau tutorial atau apalah yang bisa saya pelajarai tentang rukyat dan hisab. terima kasih lanjutkan diskusinya

  86. alhamdulillah … kita saling membuka apa yang ada dalam diri ini.. sungguh ya Allah ternyata meskipun berulang-ulang saya berpuasa …..masih kuat hawa nafsu tidak menyukai orang lain, ujub pada pengetahuan yang saya miliki… memandang salah itu berada pada orang lain sangat mudah bagi saya menghujat orang lain ….sehingga saya menjadi lupa akan MISI RAMADHAN yang Engkau Tugaskan Ampunilah saya ya Allah

  87. Terima kasih Prof.. ini pencerahan bagi saya yang awam… semoga kesombongan-kesombongan para elit, siapapun itu bisa terbuka fikirannya dan lebih mementingkan umat Islam secara keseluruhan bukan fanatisme golongan/aliran yang sempit… Konon katanya cuman Indonesia yang berbeda-beda… Sudahlah Siapapun penetap dengan methode apapun mereka adalah orang yang harus siap mempertanggung jawabkan hasil penafsirannya di depan Allah… Bagi saya seorang makmum… kami serahkan ke ahlinya saja karena saya awam…. Silahkan anda-anda para ahli merumuskan… asal untuk kemaslahatan semua umat pasti saya mendukungnya… Lahaulawalakuwata Illabillah…

  88. QURAN MEMBOLEHKAN PERBEDAAN TETAPI HRS ADA SOLUSI. Hikmah perbedaan berkepanjangan membawa petaka dan perpecahan Sampai sekarang ada ummat Islam yang tidak percaya manusia bisa kebulan dan keliling angkasa. Menembus atmosfir dengan sulthon / kekuatan / roket yang menemukan non-muslim. Padahal mengambil ilmunya dari Bagdad / Mesir.
    Bagi kaum yang tidak memiliki PEMIKIR silahkan gunakan rukyat (tanda-tanda alam). Bagi yang telah memilki bahkan dilengkapi peralatan canggih ya seharusnya gunakan AQAL/OTAK.
    Masih inget di Tajug Agung Cirebon bila akan azan sholat jua’at, petugas Tajug melihat bayangan besi (bancet). Kini cukup melihat Jadual Waktu Sholat yang dibuat untuk 1 tahun bahkan bisa lebih. Aqal menciptakan teknologi untuk kemudahan manusia. Menunjjuk Adam menjadi khalifah tanpa aqa tidak mungkin, makanya ditiup RUH-Alloh yang membawa pula aqal / rasa peduli / siap berkorban dll yang positif. Isalam pernah jaya menguasai dunia dari selat Giblatar sampai ke Cina didukung ilmu pengetahuan. Setelah kita hanya menegadahkan tangan dan non-muslim mengembangkannya setalh belajar di Timur tengah…..mereka menguasai dunia. Janji Alloh : Aku tingkatkan beberapa derajat bagi orang yang beriman diantaramu dan berilmu pengetahuan.
    Bahkan Ulama tempo doeloe saudagar kaya-raya seperti Muhammad saat sebelum jadi Rusul, penuh ikhlas, jihad mengembangkan islam.
    Sekarang lahir dari kelompok menengah bawah……..tanpa ihlas, bahkan jual ayat. Semoga kita bisa merubahnya untuk diwariskan kepada generasi penerus. Allohu Akbar.

  89. bagaimana prof kalo manusia sudah tinggal di planet lain bukan bumi mungkin pada tahun 5000??? apa harus ke bumi dulu me rukyat ???

  90. Gw orang bodo dalam bidang agama…penulis dgn bhs bijak menerangkan secara rinci baik b`sifat ilmiyah maupun kauniyah, namun justru gw sedih dengan para komentator justru ngawur bukan malah kasih pndaat yg ilmiyah juga malah emosi ga karuan….buat penulis aku suka gaya loe
    Wat yang komen ga jelas penuh emosi menandakan kapasitas kedangkalan pola pikir…..last haleluya…..

  91. terimakasih prof, tulisannya membuka wawasan.

  92. Semoga ada titik temu di antara 2 pndapat yg berbda dan tdk malah menimbulkan perpecahan bahkan permusuhan.

  93. hmmm…jadi ingat cara strategi yahudi memecah belah Islam…. akhirnya umat Islam jd saling menjatuhkan, saling hujat… siapa pun itu… ANDA berhasil….

  94. tulisannya bagus n sangat cerdas…..

  95. apik banget ulasane jadi kayak kuliah s2 diskusinya menukik

  96. assalamu’alaikum.
    selama ini saya cukup respek dgn profesor fdjamaluddin melalui tulisan-tulisannya utamanya yang dimuat di sarat kabar.
    tapi setelah membaca tulisan prof yang satu ini saya malah menjadi kurang respek karena jauh dari sikap seorang ilmuwan yang profesor.
    justru terkesan arogan, ada kebencian dan nafsu keilmuannya.
    atau pak prof sendiri sedang frustasi?
    jadilah profesor pemerintah yang arif dan bijak
    wassalamu’alaikum

  97. Semoga dengan adanya tulisan ini tidak membuat ormas baru yang menyakini suatu temuan baru…

  98. Saya 3 tahun ini mempelajari Hisab Rukyat, Dan kesimpulan saya sama dengan kesimpulan Prof Jamaluddin. Mudah2an ini bisa dijadikan Muhammadiyah untuk secara jernih menelaah kembali metodenya.

  99. kalo disaudi seorang ahli falak mengeluarkan pendapat “Imkan Ru’yatul Hilal” hasilnya bulan tidak mungkin terlihat pada tgl. 29/8/2011….ditegur oleh kiyai saudi dia bilang: semua kalo Allah kehendaki mungkin…karena sang ahli falak tdk bilang “Bi Idznillah/InsyaAllah” hasil imkan ru’yatul hilal bulan tdk terlihat….

  100. Assalamualaikum Prof,

    Sebelum nya saya minta maaf karena memang saya masih awam dalam masalah ini,

    yang ingin saya tanyakan

    – Apakah umat islam bisa menentukan tanggalan untuk satu tahun kedepan (qomariyah), bila setiap tanggal 1 syawal harus melihat bulan terlebih dahulu?

    – Untuk menentukan tanggal 1 bulan berikutnya, apakah harus selalu melihat bulan ?

    terimakasih atas perhatian dan tanggapannya.

    Kurang lebih mohon maaf,

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

  101. Bismillahirrahmaanirrahim,
    Hati2 semua saudaraku yang membaca tulisan ini ” Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab” . menurut saya penulis seperti inilah yang memecah belah ummat ini dengan kalimat atau kata yang provokatif dibungkus ilmiah,
    (Perhatikan beberapa kalimat yang memojokkan yang satu dan memprovokasi yang lain)

    Bayangkan jika saya juga membuat tulisan dengan judul misal “NU Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab”

    atau “Persis Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab”

    Kata2 NU,Muhammadiyah, Persis, tentu sangat sensitif bagi sebagian orang, maka jangan heran jika pada sebahagian komentar tulisan ini (coba anda perhatikan) isinya adalah saling membantah atau membela metode dakwah (organisasi) masing2.

    Mohon Koreksi Bapak THOMAS djamaluddin
    1. Tulisan anda cukup tendensius tidak bersifat netral
    2. Disini Mau cari dukungan ya pak ? (dengan tulisan ilmiah)
    3. Sudah dapat berapa duit dana dari luar negeri untuk semua kegiatan bapak?
    4. Semangat bapak bukan semangat mencari kebenaran, tapi semangat memecah belah ummat, bersama dengan kesombongan bapak.
    5. Beberapa Tulisan bapak yang kurang santun dan bijak (malah terdengar provokatif)
    – Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya. (ooo, jadi Muhammadiyah harus ngalah ya pak, ikut pemerintah?)
    – Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan. (ooo, jadi muhammadiyah itu biang keroknya ya pak?)
    – Banyaknya pertanyaan, “kapan kepastian lebaran?” menunjukkan kebingungan di masyarakat (masyarakat tidak bingung cuma bertanya kapan lebaran, bapak saja yg bingung dan membuat-buat kebingungan itu). Dua versi hari raya pasti membingungkan masyarakat (tidak pasti, hanyal Allah yang pasti dan Maha memastikan). Mungkin sebagian saudara-saudara kita di Muhammadiyah dengan nyamannya melaksanakan shalat ied dan makan minum pada saat saudara-saudara lainnya masih berpuasa (Provokatif). Mungkin pula ada yang provokatif menyatakan haramnya puasa pada hari itu (Provokatif). Kondisi itu sungguh tidak nyaman bagi sebagian besar masyarakat (Provokatif). Hari raya bukan sekadar ibadah individu, tetapi terkait juga dengan aspek sosial yang berdampak luas.(masyarakat sudah dewasa dan bisa berfikir luas, hanya bapak saja yg mungkin sombong dan menganggap orang2 gak punya otak secerdas bapak).

    AKhir Kesimpulan Saya
    Menurut saya bapak telah tertabiri oleh ilmu bapak sendiri, atau kemungkinan bapak telah disusupi oleh fihak2 yg tidak menginginkan ummat ini rukun, atau malah bapak menggunakan Agama untuk kepentingan duniawi semata. Segeralah Bapak bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.
    Mohon PetunjukNya ke jalan yg lurus, Ingatlah Azab Allah sangat Pedih

    • Cuma setan yang mempunyai sifat sombong…..bisa dalam jelmaan manusia. Padahal Allah berfirman “Aku lebih mengetahui….”, maka malaikat pun tunduk, kecuali setan dengan sikap sombongnya.

  102. hisab dpake utk membantu prediksi posisi bulan. Rukyat dgunakn utk memastikn bulan. Saat kt merukyat tp bulan mungkn sdh ada atau dpastikn sdh ada menurt hisb tp tdk dpt drukyat krn terlindung awan mk menurut syar’i kt harus cvkupkn bil buln 30 hari dan bukanx mengikuti hisab.

  103. mau Selasa ke, Rebo ke, sama aja, emang gue pikirin, yang penting make baju ma kolor baru……gua juga ga tau gua orang Muhamadiyah apa Nu, yang penting gua ngikut bareng orang-orang sekampung gua aja…..he..he..he…

  104. tulisan yg bagus..jika masing2 ormas islam memiliki kriteria sendiri2 yg berbeda satu sama lain dlm menentukan masalah ini, maka akan semakin membuat rakyat awam semakin bingung dan terpecah belah.

    Menaati keputusan ulil amri (pemerintah) dlm masalah ini adalah salah satu solusi pemersatu umat. Jika mereka (pemerintah) benar smg mendapatkan pahalanya, dan jika salah maka kita sbg rakyat tidak menanggung dosanya dan smg Allah mengampuni mereka

  105. harusnya bapak mempublikasikan tulisan ini jauh-jauh hari, bukan sekarang ketika masyarakat sudah bingung kapan 1 syawal, apalagi dikalender nasional sudah ditetapkan tgl 30 sebagai hari raya!

  106. tulisan yang nggak penting…:)

  107. wah iya nih. Bapak saya juga pengikut Muhammadiyah. nampaknya dia beranggapan waktu di Arab sama dengan waktu di Indonesia. tapi emang selisih waktunya berapa ya? atau apakah sekedar mengamalkan wujudul hilal seperti yang disebutin diatas? saya masih kurang ngerti dan nggak mau salah bicara. tapi dengan segala hormat saya masih pengen tahu bagaimana yang sebenarnya yang diyakini pengikut Muhammadiyah. terimakasih.

  108. Saya salah satu Warga Muhammadiyah berterimakasih atas masukan nya….., saya berharap kedepannya Bapak akan lebih bijak lagi dalam memaparkan masalah……. Minal aidzin walfaidzin…..

  109. Prof Djamaluddin, yg saya inin tanyakan apakah anda seorang yg beragama? Terimakasih

  110. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Wah Idul Fitri ada yang berbeda hari lagi, apa mau samapai hari kiamat begini terus ?
    Sebenarnya definisi penanggalan Hijriah itu apa sih ? Setahu saya itu kalender yang dimulai pada jaman Nabi Muhammad Hijrah, tentu saja dimulainya di daerah Arab sana, tepatnya barangkali di Madinah. Tapi kenapa banyak yang melakukan mulai perhitungan di masing-masing daerah, misalnya di Jawa melihat hilal di pulau Jawa (seperti mulai kalender Jawa saja !).
    Kalau mau disebut kalender Hijriah, saya pikir mestinya dimulainya dari Medinah sana. Begitu terlihat hilal di Medinah, maka dimulai hari pertama bulan baru Hijriah, sehingga seluruh duniapun menjadi tanggal 1 bulan baru Hijriah teserah waktu di lokasinya pagi siang atau malam. Bahkan seandainya kalau ada penduduk di bulan atau planet lain, itupun harus mengikuti tanggal 1 (namanya juga tahun Hijriah).

    Kalau sudah sepakat definisi kalender Hijriah seperti itu, kirim saja ahli rukyat ke Medinah sana. Jaman sekarang dunia sudah menjadi satu, informasi dari Arab Saudi sana bisa langsung sampai ke seluruh dunia.
    Kalau jaman dulu sih, tentu saja rukyat di masing-masing lokasi dibutuhkan, karena info dari Arab sana perlu waktu berbulan-bulan untuk menyebar ke seluruh dunia, keburu ganti hari bahkan bulan.

    Karena dimulainya bakda magrib, terserah tanggal masehinya berapa saja.

    Jaman sekarang dunia ini satu, kalender Masehi juga cuma satu, kalender Hijriah juga cuma satu, kalender Jawa juga satu. Kenapa umat Islam berbeda menentukan kalender Hijriah ? Mungkin karena Kalender Hijriah diperkosa dengan sistem lokal, seperti memulai kalender Jawa saja.

    Hanya Allah yang Maha Tahu.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

    • ha..ha..ha..betul,betul,betul…kalo konsisten seharusnya madinah jadi patokan kalender hijriyah…skrg sudah global village,tinggal klik sdh bisa dpt info..islam adalah kaffatan linnas….

  111. Hooooih dimana tanggapan anda koq tdk muncul2 juga!!
    Orang goblok akan terlihat sangat goblok manakala dia menggoblokkan orang lain. Astagfirullah! Rendah sekali anda
    Kalau perlu merukyat rukyat dulu tradisi hindu pitung dinoan, 40 hari,100hari dst sebab hisabnya akan sangat berat di pengadilan akhir

  112. Assamu’alaikum wr. wb.

    Marilah semua organisasi islam untuk membuat kalender hijriyah yang sudah disepakati bersama dan sebarkan kepada seluruh umat muslim di indonesia supaya tidak menjadi perbedaan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak senang dengan islam…..!

    Silahkan berasumsi, tetapi hati-hati media ini dapat menjadi baik dan menjadi buruk bila ada yang saling mencela antara umat islam. Lebih baik berkirim melalui email saja untuk hal-hal yang dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan, karena saya pun merasa risi dengan beberapa kalimat yang ada.

    Bukankah bulan Ramadhan adalah bulan yang suci, dimana kita harus digidik untuk dapat mengendalikan diri dari amarah yang dapat merusak pada diri kita dibulan berikutnya?

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

  113. Bukankah Muhammadiyah akan lebih tepat untuk ukuran negara sebasr Indonesia… kalau berdasarkan pengamantan mata.. akan tidak valid karena cuaca yang tidak sama.. karena ketinggian yang tidak sama.. dan yang paling penting karena persepsi penulis yang pro NU seandainya ia adalah MUHA tulisan di atas akan lain… betul tidak ?

  114. 1 sywal jatuh pada 30 agustus 2011.
    Teori Visibilitas Hilal terbaru telah
    dibangun oleh para astronom dalam
    proyek pengamatan hilal global yang
    dikenal sebagai Islamic Crescent
    Observation Project (ICOP) berpusat di
    Yordania berdasar pada sekitar 700 lebih data observasi hilal yang
    dianggap valid. Teori ini menyatakan
    bahwa hilal hanya mungkin bisa
    dirukyat jika jarak sudut Bulan dan
    Matahari minimal 6,4° (sebelumnya
    7°) yang dikenal sebagai “Limit Danjon”. Kurva Visibilitas Hilal sebagai
    hasil perhitungan teori tersebut
    mengindikasikan bahwa untuk
    wilayah sekitar Katulistiwa
    (Indonesia) hilal baru mungkin dapat
    dirukyat menggunakan mata telanjang minimal pada ketinggian di
    atas 6°. Di bawah itu hingga
    ketinggian di atas 4° diperlukan alat
    bantu penglihatan seperti teleskop
    dan sejenisnya. Melihat lokasi Indonesia menurut peta
    visibilitas di atas sesuai dengan teori
    visibilitas hilal maka seluruh wilayah
    Indonesia mustahil dapat menyaksikan hilal pada hari pertama
    ijtimak sore setelah Matahari terbenam
    walaupu menggunakan teleskop.
    Dengan demikian maka diberlakukan
    ISTIKMAL sehingga awal bulan akan
    jatuh pada: Rabu, 31 Agustus 2011.
    Tolong pencerahannya.

  115. Pada intinya tulisan ini prookatif dan dapat memecah belah umat…. tak hanya ditulisan ini saya kira tapi jga dari pencapat beliau tadi pada sidang penentuan 1 syawal dengan ormas- ormas hari ini. seorang Prof. seharusnya berpikir ilmiah apa pengaruh dari kata – katanya tersebut… apa mungkin si Profesor ini sangat embenci Muhamadiyah hingga berani bertindak provokatff seperti ini ????

  116. Yang penting kita saling menghargai perbebedaan berkeyakinan Biar Allah yang menentukan mana yg salag dan mana yg benar.

  117. saya walaupun awam terhadap ilmu astronomi, tetap menganggap astonomi bisa diandalkan untuk mempersatukan umat
    mengenai komentar diatas yang bilang “tahun 80an NU juga pernah beda2 kok” itu sudah dijelaskan oleh Prof Djamaluddin kalo NU sudah mengubah metodenya…

    mungkin saya tidak memihak Muhammadiyah atau NU…tapi tendensi untuk mempertahankan pendapat yang tidak relevan saya pikir terlalu naif…
    saya takut justru egosentris dasar manusia, narsistik timbul…berbeda itu lebih keren…
    “menghormati perbedaan” sebenernya merupakan suatu tameng yang tidak boleh dipakai saat sesuatu bisa diputuskan dengan suatu kriteria yang tetap.

    Prof Djamaluddin mengatakan bakal dibuat suatu kalender hijriyah tetap…disini kan terlihat bahwa “perbedaan” itu sebenernya bisa disatukan…bukan dengan mengedepankan ego narsistik dengan menggunakan tameng menghormati perbedaan…

    Prof Djamaluddin tidak memojokkan Muhammadiyah saya rasa, tapi mengkritisi cara nya saja…dan cara itu bisa disamakan persepsinya…

    Semoga kita dilindungi dari sikap merasa benar sendiri, dan terbuka terhadap kritik ilmiah..
    mungkin banyak yang mengatakan bahwa prof Djamaluddin “ngomong gini karena sok pinter, diatas langit masih ada langit”
    itu komentar yang ga relevan…karena keilmuan yang sudah diputuskan pemerintah pasti didasarkan pada pembuktian ilmiah, tahapan pertanggungjawaban ilmiah, dan lain2 sehingga valid…jadi seandainya Prof Djamaluddin nganggep dirinya “benar”, berarti seluruh orang yang terlibat dalam proses penyusunan “kebenaran” itu juga akan berkata demikian…

    My point is…Prof Djamaluddin ga bener sendirian, yang lain juga ngomong gitu…

    kritik klise “diatas langit masih ada langit “bisa juga disampaikan kepada ahli falaq muhammadiyah…bukan berarti kritik itu tidak berlaku dipakai apabila suatu pihak “menghormati pihak lain”
    jadi saat suatu oknum “kita berbeda, tapi kita menghormati pihak lain”, kritik klise tersebut relevan juga ditempatkan….

    • mungkin kita perlu putar ulang pernyataan propesor ini di sidang isbat yang begitu sarkastik ( menurut saya ) tentang opini nya pada metode hisab muhammadiyah sementara jawaban dari pihak muhammadiyah begitu santun dan mencerminkan akhlaqul karimah ( menurut saya lagi yang bukan propesor )

    • Bila pihak-pihak yang berbeda masing-masing mempertahankan prinsipnya, dan resiko dari perbedaan itu SUDAH BISA DIPREDIKSI untuk beberapa tahun ke depan :
      – Mengapa hari ini repot-repot mempermasalahkan harus ada pihak yang mau merubah prinsipnya untuk keseragaman ?
      – Mengapa tidak memikirkan sosialisasi resiko yang akan terjadi beberapa tahun ke depan itu kepada masyarakat, agar mereka tidak kaget lagi ??
      – Bukankah perbedaan seperti tahun ini pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, dan belum pernah terjadi keretakan ukhuwwah karenanya ?
      – Mengapa harus ada kelucuan-kelucuan sbb :
      > BHR menugaskan tidak kurang dari 100 orang perukyat, padahal BHR sudah tahu bahwa mereka tidak akan bisa melaksanakan tugasnya “berhasil merukyat hilal” karena posisi hilal memang invisible berdasarkan hisab, kalaupun ada yang berhasil pasti ditolak.
      > Dua hari tanggal merah libur Iedul Fitri di kalender (yang katanya SKB 3 menteri itu) ternyata tanggal 30 Ramadlan 1432 dan 1 Syawwal 1432, bukannya tanggal 1-2 syawal 1432.
      > Mengumumkan hasil hisab jauh-jauh hari kepada masyarakat dianggap “meresahkan”. Padahal itulah bedanya hisab dari rukyat. (memberi kesaksian dengan kemampuan akal-pikiran versus memberi kesaksian dengan kemampuan mata-kepala — “faman syahida minkumus syahro”)

  118. tadi di televisi saya juga menyaksikan bagaimana perdebatan penentuan 1 syawal terjadi…..sebagian besar tidak melihat hilal…karena secara hisab juga ketinggian hilal dibawah 2 derajat….tapi ternyata ada yang melihat hilal yaitu dicakung jakarta dan jepara…dicakung ada 3 ustad yang sudah disumpah oleh pimpinan NU setempat menyatakan melihat hilal dengan ketinggian 3,5 derajat sd 4 derajat…tapi oleh ketua MUI berdasarkan acuan beberapa hadis katanya itu diabaikan…..saya juga merekam data kalau yang di cakung rata rata berusia muda dibawah 30 tahun sedangkan yang 30 orang dri 30 tempat berbeda usianya rata rata 50 tahunan..bila secara logika yang usia muda pasti penglihatannya lebih baik dari yang tua…saya juga bingung kenapa yang melihat hilal tadi diabaikan…..daripada pusing yahhh..saya dan keluarga tetap ber idul fitri besok…karena banyak hal yang membingungkan disini…prinsip saya bulan sdh nampak meski ada yang bilang dibawah 2 derajat dan juga ada yang sudah melihat meski diabaikan….ALLAH maha besar…semoga yang salah mendapatkan ampunan dari ALLAh SWT…aminnn…

  119. Assalamu’alaikum
    Pak Tomas, kenapa kok sangat provokatif dan arogan. Padahal sebagai pakar mestinya bapak bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat bukan memprovokasi. Lebih dari itu, saya bisa menghargai pendapat bapak tentang astronomi karena itu kepakaran bapak. Akan tetapi dalam ilmu Syari’ah, bapak bukan pakar. Oleh karena itu,bapak tidak berkompeten dalam masalah itu. Argumen Muhammadiyah menggunakan hisab wujudul hilal semakin diperkuat hasil penelitian disertasi di UIN Jakarta ttg hadis-hadis ttg penetapan awal Ramaadan . Setelah dilakukan takhrij, ternyata hadis “faqdurulah” (hadis Ibn Umar) sebagai landasan hisab Muhammadiyah lebih kuat (rajih) dari pada hadis-hadis tentang istikmal (hadis Abu Hurairah) yang dijadikan rujukan ormas lain. Ini hasil kajian ilmiah dalam ulumul Hadis yang bukan kepakaran bapak.Apakah bapak akan menolak hasil penelitian tersebut dengan dasar Astronomi ? Kalau ini yang terjadi, tidak nyambung pak ? Oleh karena itu, akan lebih arif apabila bapak membatasi diri dalam kepakaran bapak di bidang astronomi. Semoga, tanggapan saya ini dapat dipertimbangkan. Mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan.
    Wassalam,
    Sopa

    • Pak Sopa, saya sudah berdiskusi dengan teman-teman Muhammadiyah lebih dari 10 tahun. Tahun 2003 pun saya diundang ke Munas Tarjih di Padang khusus untuk mengkritik wujudul hilal. Saat ini saya hanya mengungkapkan secara lebih lugas agar publik tahu bahwa perbedaan Idul Fitri yang terjadi berulang-ulang disebabkan karena Muhammadiyah masih menggunakan kriteria usang. Masalah kriteria adalah domainnya astronomi, bukan fikih. Masalah fikih saya singgung juga karena dalil QS 36:40 terlalu dipaksakan. Bukan masaah hisabnya, karena bagi saya hisab dan rukyat setara. Saya berbicara pada kompetensi saya di bidang astronomi, yaitu soal kriteria wujudul hilal, bukan soal dalil hisab yang sudah saya yakini benarnya. Silakan baca lebih seksama tulisan saya. Saya khawatir Muhammadiyah kebanyakan ahli “fikih hisab” untuk memperkuat posisinya, tetapi kekurangan ahli hisab karena sudah puas dengan hisab wujudul hilal yang sudah usang. Maaf, atas kelugasan saya yang bersifat provokatif bagi Muhammadiyah yang saya maksudkan agar Muhammadiyah terbangun dari kejumudan hisabnya. Saya mengenal hanya 3 ahli hisab Muhammadiyah (Pak Oman, Pak Susiknan, dan Pak Sriyatin), tetapi saya mengenal lebih banyak ahli fikih hisabnya yang siap berdebat soal dalil hisab.

      • Prov (=Provokator, bukan Prof), menurut saya kalau sudah kutip kutip ayat alquran itu ya masalah agama. Mana ada ilmu astronomi pakai dalil alquran. Begitu kok masih ngeles saja. Kalau anda ngomong hisab saja atau posisi kritis hilal saja, atau probabilitas visibilitas hilal, mungkin itu benar soal astronomi, tapi kalau sdh dikaitkan dengan soal “kelayakan” atau “pilihan cara” ber ibadah, itu ya sudah masuk wilayah agama. Sama dengan kalau kita cuma bicara soal “laser” itu ya otoritasnya ahli fisika/laser, Tapi kalau sudah dikaitkan dengan aplikasinya misalnya boleh tidak laser untuk sunat karena jaman nabi belum ada laser, ini jelas sudah masuk wilayah agama. Dan mestinya anda juga begitu.
        Lebih dari itu, sebenarnya menurut saya anda SANGAT tidak layak untuk ikut mengkritisi muhammadiyah bukan karena modal agama anda yg minim, tapi lebih karena kepicikan dan sempitnya pikiran anda.
        Saya jadi makin bisa membaca “internal map” dalam diri anda. Sepertinya anda punya masa lalu yg kuper, MERASA rendah diri dan MERASA dilecehkan oleh komunitas tertentu (kelompok muhammadiyah?) sehingga terus hati anda dirasuki dendam, iri, dan dengki yg tiada habis-habisnya yg mengakibatkan tindakan anda sekarang jadi ngawur, subyektif dan tidak rasional.
        Saran untuk anda: Sadar Prov!! Jadikan puasa kemarin sebagai tempat belajar anda untuk menjadi Prof yg sebenarnya!!!

  120. terimakasih banyak atas penjelasannya :)

  121. [...] Catatan: 1. H.R. Bukhari no. 1900. 2. Sumber: Blog Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN dan anggota badan hisab rukyat, Kementerian Agama RI. [...]

  122. apakah sistem falak yang digunakan Muhammadiyah bersifat global ? jika kita ingin bersama, maka begitu mudah bagi jiwa untuk bisa bergembira ria, dan jika dengan keyakinan dan tawadlu’, mengakui kebenaran dari mana datangnya, mengapa sulit untuk merobah diri ?

  123. Ini orang cuma gelarnya saja yang profesor, tapi isi kepalanya kosong! ga malu apa sama negara-negara tetangga, Malaysia saja yang udah lebih canggih dari indonesia, menetapkan 1 Syawalnya tanggal 30,

    ini sama saja menghina ilmuwan2 astronomi dan astrofisikawan Islam zaman dulu, maklumlah.. Thomas ini kan orang pemerintah, berarti imamnya adalah pemerintah, pemerintah dijadiin patokan, ngurusin si Udin aja ga becus, apalagi ngurusin umat? huft…

    dia sendiri orang LAPAN, mana pernah dia makan uang halal 100%, pasti ada duit2 KKN-nya, wkwk… sok-sokan menyalahkan ormas lain lagi,

    • mas REGE,, kok jadi bahas KKN? ada bukti??
      memangnya mas REGE makan uang halal 100%? tolong dijawab, agar tidak jadi komentar sampah… terimakasih

  124. sayangnya waktu sidang isbath yg ditayangkan tv ,bapak menggunakan kata2 yang mengeruhkan suasana. buat saya yg tidak menjadi anggota ormas manapun, hal tersebut menurunkan rasa simpati pada pemikiran bapak yg boleh jadi benar.

  125. penulis sudah rancu dengan memandang negatif pihak tertentu.
    dalam benaknya kebenaran sudah tidak lagi objektif.
    merendahkan dan menjelekkan pihak lain.
    kebetulan saya bukan NU dan bukan Muhammadiyah.
    walau sebenarnya ada kebenaran di dalam tulisan ini, tetapi sisi negatif memandang rendah pihak lain adalah negetifitas, semacam teror kepada pihak lain.
    hal semacam ini yang mesti dibersihkan di tengah kegelisahan. salam.

  126. ternyata berdasarkan hasil rukyat dan hisab di malaysia lebarannya selasa prof, saya baca di internet di arab saudi juga selasa prof, trus di berita kompas dotcom ada orang jepang yang menulis lebaran di jepang juga besok selasa prof, kan jepang dan indonesia selisihnya cuman 2 jam, sementara malaysia malah nggak ada selisih nya, mungkin ilmu propesor bisa menjelaskan knapa ipin upin bisa lebaran bareng ama metode kuno model muhammadiyah, juga orang jepang en arab saudi

  127. Prof, Saya Syahrul, mahasiswa UNAIR..saya sudah membaca artikel anda…saya UMI (tidak mengerti) tentang hisab, tapi saya tertarik untuk belajar..agar tidak hanya ikut2an tapi paham…Tolong di bagi ilmunya ya prof… :)

    mohon penjelasan tentang ayat “berpuasalah ketika melihat hilal” apakah yang dimaksud disini jika hilal itu sudah muncul walaupun tidak teramati oleh mata (karena faktor cuaca, dll) kita sudah bisa mulai puasa atau lebaran Prof?

    di artikel dikatakan ada kriteria imkanur rukyat (menghitung kemungkinan hilal teramati) ada kriteria Wujudul Hilal (hilal wujud di ufuk.. tapi saya tidak paham apakah wujud itu maksudnya tampak?).. Profesor menganjurkan menggunakan imkanur rukyat, yang saya masih bingung bagaimana jika menurut hisab Pada hari itu Hilal kemungkinan sudah muncul, tapi menurut hisab pula Pada hari itu Hilal kemungkinan belum bisa teramati dan baru bisa di amati besok… apakah 1 syawal dimulai pada hari itu atau besoknya prof ??

    mohon penjelasannya…terima kasih sebelumnya…

  128. Assalamualaikum…
    Saya orang yang awam .
    artikel ini sangat menarik terlepas pro dan kontra.
    artikel dan semua komentar di blog ini menambah wawasan ,membuat pikiran saya terus berpikir dan bertanya.
    Pak Thomas ada ga gambar hilal tiap derjatnya?
    terima kasih

  129. Pertanyaan tambahan untuk Prof (pertanyaan senada di komen posting lain, tapi tidak ada jawaban dari Prof)
    – dengan teknologi yang tersedia saat ini, hilal kurang 2 derajat tidak mungkin teramati, meskipun sudah positif diatas ufuk! zaman Nabi SAW, hilal teramati jauh lebih tinggi karena hanya dengan mata telanjang. Artinya, kemajuan teknologi memungkinkan kita mengamati hilal pada posisi lebih rendah. APAKAH TIDAK MUNGKIN, KE DEPAN, TEKNOLOGI YANG ADA MEMUNGKINKAN KITA MENGAMATI HILAL POSITIF DIATAS UFUK (KURANG 2 DERAJAT)? bila hal itu mungkin, sama saja dengan membatasi visibilitas hilal saat ini pada kelemahan teknologi yang sudah dicapai manusia! lho kok bisa??? jadi, dimana letak kepakaran???
    maaf bila salah memaknai, mohon pencerahan secara ilmiah!!

  130. Dari semua peserta sidang itsbat 2011 semuanya menyampaikan pendapat berdasarkan pemahaman terhadap hadits dan Alqur’an. Dan gak da yang berani menyalahkan pemahaman kelompok lain terhadap hadits dan Al Quran kecuali si profesor yang ngomong ayat di surah Yassin aja gak becus. Jadi justru dia ini yang provokator dan mau membesar2kan perbedaan di kalangan masyarakat

  131. Prof maaf mau tanya;
    1. seberapa kuat hujjah 2 derajat untuk hilal?
    2. sudahkah ilmu pengetahuan modern menjelaskan posisi standar derajat hilal?
    3. apakah relevansi astronomi saat ini setara dengan maqosid syar’i?

    terima kasih atas jawabannya

  132. yang jadi masalah knapa jauh hari sebelumnya tidak di ingatkan ke pemerintah kalau hilal yang terjadi pada tanggal 29 agustus hanya kurang dari 2 derajat padahal sdh dpt di prediksi sebelum tanggal 29 agustus. dan itu dikatakan belum cukup,Prof juga sdh mengetahui tapi tdk di ingatkan ke pemerintah,sehingga yang terjadi bingung,ibu2 yang sdh masak hidangn untuk idul fitri terpaksa harus di panaskan kembali…hahaha

  133. dan sekali lagi mohon dibaca lebih dahulu,,
    jangan menjadikan isalm terpecah belah hanya mengedepankan EGO suatu kaum

    http://www.tribunnews.com/2011/08/29/penentuan-lebaran-harus-berkiblat-pada-arab-saudi

  134. Terima kasih bapak prof atas tulisan anda . Saya jadi terpacu untuk mendalami ilmu tsb . Tetapi, saya kurang setuju dengan tulisan anda yang terkesan memojokkan muhammadiyah . saya yakin semua ormas punya pedoman masing-masing . Maaf sebelumnya prof. Saya tau anda mungkin mengganggap diri anda adalah ahli dalam bidang ini . Tatapi apakah pantas anda seolah menyalahkan muhammadiyah yang menjadi sumber masalah utama perbedaan hari raya ini ? Karena setau saya hari ini pun ada sekelompok masyarakat (saya lupa namanya) yang sudah melaksanakan shalat id . Bagaimana itu prof ?
    Terima kasih .

  135. tepatnya bukan muhammadiyah tapi mukamadiyah…

    • Sebenarnya pokok persoalannya bukan disitu, tapi verifikasi hasil PERKIRAAN hisab (dengan berbagai formula dan pendekatan) dengan KEJADIAN AKTUAL (sebenarnya). Metode hisab apapun memuat galat (error) yg dpt diketahui setelah melihat yg sebenarnya. Rasulullah shollalohu ‘alaihi wa sallam sudah sangat tepat, menetapkan melakukan ru’yat pada tanggal 29 Sya’ban atau 29 Ramadhan “Berpuasalah kamu ketika melihat bulan (hilal) dan berlebaranlah kamu karena melihat bulan,dan jika tidak dapat melihat maka genapkanlah hitunganmu menjadi 30″.
      Jadi solusi hisab harus diposisikan sebagai putusan tentatif (sementara),yang harus diuji dengan melakukan obeservasi langsung. Mustinya dengan teknologi inderaja dan astronomi serta pengolahan citra dan video, akan lebih memudahkan kita,untuk mengumpulkan data, mengolah data,menganalisis dan menyimpulkannya. Data yang dikaji adalah video capture saat-saat terakhir terbenamnya matahari (sunset). Dan pengamatan dilakukan di beberapa titik pemantauan di seluruh negeri, agar peluang untuk menemukan hilal dapat dimaksimalkan. Kita dapat memanfaatkan jaringan dan infrastruktur teknologi informasi dan media, shg masyarakat dengan mudah dapat mengaksesnya secara obyektif dan transparan.

      Saya heran saja, 1300 tahun lebih pemerintah dan masyarakat Islam dapat mempraktekan sabda Rasulullah tsb dan bersepakat, meskipun dengan cara sangat sederhana dan bersahaja (metode hisab klasik dan dibuktikan dengan pandangan mata telanjang). Sekarang, dengan teknologi (teleskop, kamera, inderaja, IT, dsb) yang sangat memudahkan, kok menjadi ruwet ???
      Ingat, ilmu dan teknologi itu untuk memudahkan (menyederhanakan) pekerjaan/masalah yang rumit, bukan sebaliknya. Ingat juga bahwa dengan keterbukaan informasi dan pengetahuan, maka masyarakat menjadi semakin kritis dan menuntut transparansi dan rasionalitas.

      Terakhir, saya menangkap sepertinya ada pandangan yang melecehkan terhadap upaya tulus sebagian ummat Islam yang ingin mengamalkan sunnah Nabi, dengan ru’yatu hilal. Sepertinya mereka dianggap masyarakat yg terbelakang (krn tdk percaya dan mengikuti perkembangan metode hisab).

      Wallahu a’lam.

    • tulisan pelecehan anda ini akan tercatat lauhul mahfuz…mau ditarik ? atau gak ditarik ?

  136. saya warga nahdiyin, tapi saya tidak setuju dengan tulisan anda yang provokatif ini, benar-benar tidak mencerminkan kualitas seorang profesor.. maaf.

    lebih baik tidak usah menulis daripada tulisan seperti ini di posting, saya yakin anda sedang berbahagia karena respond yang luar biasa tulisan anda.

    dan saya juga yakin, anda bukan negarawan yang baik, ataupun bukan seorang nahdiyin yang baik

  137. Sy orang yg awam mengenai ilmu agama, terlebih lagi ilmu falaq ini. Dan sy bukanlah pengikut NU maupun Muhammadiyah. Oleh karena itu sy hanya mau mengomentari masalah etika komunikasi dalam berdiskusi atau menyampaikan pendapat. Begini, pernyataan dan komentar prof thomas yg menganggap org lain kerdil, dangkal n keras kepala menrut sy malahan mencerminkan pribadi prof sendiri . Menurut sy etika dalam berdiskusi hrslah saling menghargai n tidak merasa paling pintar/tahu sendiri. Setahu sy cendikiawan muhammadiyah sudah terkenal sejak dahulu ttg intelegensia n modernitasnya. Kalau sy secara pribadi akan sgt berhati2 dalam melontarkan statement bhw org lain adalah kerdil, dangkal dan keras kepala dalam pemikiran, terlebih kepada organisasi se”canggih” muhammadiyah. Kalau memang pendapat prof yg benar gak ada masalah, tetapi kalau ternyata di kemudian hari atau di akhirat nanti ternyata salah, bagaimana pertanggung jawabannya??? Sementara prof telah mendiskreditkan kelompok tertentu yg berisi jutaan orang.
    Menurut sy, kata2 yg prof lontarkan sangat tidak bijak, marilah kt belajar menghargai pendapat org lain dan lebih santun dalam menyampaikan pendapat, itu saja..sy pikir prof lebih tahu akan hal itu, terimakasih atas perhatiannya.
    Wassalamualaikim Wr. Wb.

    • yang jelas tanggung jawab pemerintah .. kan prof thomas hanya mengusulkan .. jadi dosa yg nanggung pemerintah lah .. tenang aja prof .. sampeyan aman dari dosa kok ..

      • Iya nggak dosa tapi pikirannya dangkal, kerdil, arogan, tidak beretika, keras kepala dan hobi memaksakan kehendak.

  138. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Wah Idul Fitri ada yang berbeda hari lagi, apa mau samapai hari kiamat begini terus ?
    Sebenarnya definisi penanggalan Hijriah itu apa sih ? Setahu saya itu kalender yang dimulai pada jaman Nabi Muhammad Hijrah, tentu saja dimulainya di daerah Arab sana, tepatnya barangkali di Madinah. Tapi kenapa banyak yang melakukan mulai perhitungan di masing-masing daerah, misalnya di Jawa melihat hilal di pulau Jawa (seperti mulai kalender Jawa saja !).
    Kalau mau disebut kalender Hijriah, saya pikir mestinya dimulainya dari Medinah sana. Begitu terlihat hilal di Medinah, maka dimulai hari pertama bulan baru Hijriah, sehingga seluruh duniapun menjadi tanggal 1 bulan baru Hijriah teserah waktu di lokasinya pagi siang atau malam. Bahkan seandainya kalau ada penduduk di bulan atau planet lain, itupun harus mengikuti tanggal 1 (namanya juga tahun Hijriah).

    Kalau sudah sepakat definisi kalender Hijriah seperti itu, kirim saja ahli rukyat ke Medinah sana. Jaman sekarang dunia sudah menjadi satu, informasi dari Arab Saudi sana bisa langsung sampai ke seluruh dunia.
    Kalau jaman dulu sih, tentu saja rukyat di masing-masing lokasi dibutuhkan, karena info dari Arab sana perlu waktu berbulan-bulan untuk menyebar ke seluruh dunia, keburu ganti hari bahkan bulan.

    Karena dimulainya bakda magrib, terserah tanggal masehinya berapa saja.

    Jaman sekarang dunia ini satu, kalender Masehi juga cuma satu, kalender Hijriah juga cuma satu, kalender Jawa juga satu. Kenapa umat Isalam berbeda menentukan kalender Hijriah. Mungkin Kalender Hijriah diperkosa dengan sistem lokal, seperti memulai kalender Jawa.

    Hanya Allah yang Maha Tahu. Wassalamu’alaikum.

  139. ingin memberi argumen dan wawasan : (copy dari blog anggota Muhammadiyah)

    “mengapa Muhammadiyah menggunakan metode hisab (wujudul hilal)”

    Salah satu saat Muhammadiyah ‘naik’ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab terkenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Ramadhan dan 1 Syawal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini.

    Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits yaitu “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan bebukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tigapuluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Saw) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan yang diringkaskan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431.H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY.

    Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.

    Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

    Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

    Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

    Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat. Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

    Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

    Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.

    Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian system waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita menggunakan hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariahdi kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”.
    (Disalin sesuai dengan aslinya oleh PD IPM Kabupaten Magelang dari: http://immugm.web.id ).

    • Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kamu karena melihat hilal (bulan) dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) 30 hari.“
      Berdasarkan hadits tersebut Nahdhatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam berhaluan ahlussunnah wal jamaah (ASWAJA) yang berketetapan mencontoh sunah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) dalam hal penentuan awal bulan Hijriyah wajib menggunakan rukyatul hilal bil fi’li, yaitu dengan melihat bulan secara langsung. Hukum melakukan rukyatul hilal adalah fardlu kifayah dalam pengertian harus ada umat Islam yang melakukannya; jika tidak maka umat Islam seluruhnya berdosa.
      Bila tertutup awan atau menurut Hisab hilal masih di bawah ufuk, warga nahdliyyin tetap merukyat untuk kemudian mengambil keputusan dengan menggenapkan (istikmal) bulan berjalan menjadi 30 hari. Hisab bagi NU hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu masuknya awal bulan qamariyah. Sementara hisab juga tetap digunakan, namun hanya sebagai alat bantu dan bukan penentu awal bulan Hijriyah.
      Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1)-Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau (2)-Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak/konjungsi berlaku.
      Ketentuan ini berdasarkan Taqwim Standard Empat Negara Asean, yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS)
      Sementara itu organisasi Islam Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis) juga mengakui Rukyat sebagai awal penentu awal bulan Hijriyah. Namun, Muhammadiyah mulai tahun 1969 tidak lagi melakukan Rukyat dan memilih menggunakan Hisab. Muhammadiyah berpendapat rukyatul hilal atau melihat hilal secara langsung adalah pekerjaan yang sangat sulit sementara Islam adalah agama yang tidak berpandangan sempit, maka hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan Hijriyah.
      Hisab yang dikemukakan oleh Muhammadiyah bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak, sebagaimana dilakukan NU, akan tetapi dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus jadi bukti bahwa bulan baru sudah masuk atau belum. Pasca 2002 Persatuan Islam (Persis) mengikuti langkah Muhammadiyah menggunakan Kriteria Wujudul Hilal.
      Sebagian muslim di Indonesia lewat organisasi-organisasi tertentu yang mengambil jalan pintas merujuk kepada negara Arab Saudi atau terlihatnya hilal di negara lain dalam penentuan awal bulan Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Cara ini dinamakan Rukyat Global.

  140. Sebenarnya pokok persoalannya bukan disitu, tapi verifikasi hasil PERKIRAAN hisab (dengan berbagai formula dan pendekatan) dengan KEJADIAN AKTUAL (sebenarnya). Metode hisab apapun memuat galat (error) yg dpt diketahui setelah melihat yg sebenarnya. Rasulullah shollalohu ‘alaihi wa sallam sudah sangat tepat, menetapkan melakukan ru’yat pada tanggal 29 Sya’ban atau 29 Ramadhan “Berpuasalah kamu ketika melihat bulan (hilal) dan berlebaranlah kamu karena melihat bulan,dan jika tidak dapat melihat maka genapkanlah hitunganmu menjadi 30″.
    Jadi solusi hisab harus diposisikan sebagai putusan tentatif (sementara),yang harus diuji dengan melakukan obeservasi langsung. Mustinya dengan teknologi inderaja dan astronomi serta pengolahan citra dan video, akan lebih memudahkan kita,untuk mengumpulkan data, mengolah data,menganalisis dan menyimpulkannya. Data yang dikaji adalah video capture saat-saat terakhir terbenamnya matahari (sunset). Dan pengamatan dilakukan di beberapa titik pemantauan di seluruh negeri, agar peluang untuk menemukan hilal dapat dimaksimalkan. Kita dapat memanfaatkan jaringan dan infrastruktur teknologi informasi dan media, shg masyarakat dengan mudah dapat mengaksesnya secara obyektif dan transparan.

    Saya heran saja, 1300 tahun lebih pemerintah dan masyarakat Islam dapat mempraktekan sabda Rasulullah tsb dan bersepakat, meskipun dengan cara sangat sederhana dan bersahaja (metode hisab klasik dan dibuktikan dengan pandangan mata telanjang). Sekarang, dengan teknologi (teleskop, kamera, inderaja, IT, dsb) yang sangat memudahkan, kok menjadi ruwet ???
    Ingat, ilmu dan teknologi itu untuk memudahkan (menyederhanakan) pekerjaan/masalah yang rumit, bukan sebaliknya. Ingat juga bahwa dengan keterbukaan informasi dan pengetahuan, maka masyarakat menjadi semakin kritis dan menuntut transparansi dan rasionalitas.

    Terakhir, saya menangkap sepertinya ada pandangan yang melecehkan terhadap upaya tulus sebagian ummat Islam yang ingin mengamalkan sunnah Nabi, dengan ru’yatu hilal. Sepertinya mereka dianggap masyarakat yg terbelakang (krn tdk percaya dan mengikuti perkembangan metode hisab).

    Wallahu a’lam.

    • …………..Berpuasalah kamu ketika melihat bulan (hilal) dan berlebaranlah kamu karena melihat bulan,dan jika tidak dapat melihat maka genapkanlah hitunganmu menjadi 30

      tapi boleh ngak tambah lagi puasanya sampai hari kamis.?soalnya sy mulai puasanya setelah 2 harinya bulan puasa…biar cukup sih…30 hari…

  141. [...] Purwanto Sejak kemarin saya diminta seorang sahabat untuk membaca tulisan Prof Thomas Jamaluddin (http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang…) tentang pandangan beliau atas hisab Muhammadiyah. Karena saya di kampung agak jauh dari akses [...]

  142. wah, prof Thomas Djamaluddin yang pinter ini sekarang namanya naik hitnya… pasti besok dipromosikan jadi menteri agama dech… atau paling tidak jadi dirjend urusan penentuan ramadhan dan syawwal.. selamat ya prof….

  143. Ass. Ayo, kita buat workshop yang dihadiri oleh para pakar agama maupun keilmuan, sejarah islam maupun astronomi. Hasilnya: bagaimana membuat satu hari raya, satu kalender Hijriah. Selamat datang untuk upaya pembaharuan, kesimpulan akhir serahkan kepada masing-masing, yakin yang mana? Kalau ada yang lebih baik untuk persatuan ukhuwah islamiyah, mengapa egois dan harus terpecah belah. Wass

  144. yah semoga kelak umat Islam mengadopt semua ilmu yg berasal dari Islam yang murni…karena setau saya ilmu kedokteran pun yg dicuri dari Avicena dikembangkan dengan istilah dan metode2 barat..tidak tertutup kemungkinan astronomi baik metode, rumus dsb masih berbau2 barat…kembali lagi deh ke asal…jam ya bukan GMT, kalender bukan syamsiyah, riba menjadi bagi hasil, dll…dijamin meski ada beda ga separah ini…yang pasti nyaman deh..dan ga bakal ada lagi cerita bahwa nenek moyang manusia dari kera…aduhh…semoga

    • Terima Kasih atas penjelasan Prof T.Djamaludin, jadi semakin jelas keyakinan akan jatuhnya 1 syawal.

      Perpaduan antara Teknologi dan Ilmu Hadis yang luar biasa indah…

      Masalah penyampaian, kritik ketika diadakan untuk membangun, saya kira tidak ada salahnya… Bagi yang berbeda mestinya mengeluarkan dalil-dalil yang lebih baik, namun ketika argumennya non-sence ya mustinya legowo.

  145. yang menarik adalah…jika memang bapak Profesor benar….coba bapak dan teman2 lainnya lihat…winget sebelah kanan (fase bulan saat ini) sendiri menyatakan bahwa BESOOKKKKK ADALAH 1 SYAWAL hi..hi..hi.luce deh…mending di apus pak plug-innya mantabbbbb

    • ironis ya

    • Maju terus pak prof, tolong real time moon phase widget nya dimodifikasi sekalian, agar sesuai dengan apa yang sampeyan sampaikan. Lain kali mesti berhati-hati pak prof, zaman sekarang ini semua orang punya akses ilmu dan informasi lho, jadi jangan ada salah sedikit pun. Mantap pak prof silakan lanjutkan, berkat bapak, banyak semua orang jadi ingin melek astronomi.

      Menurut saya, tidak apa2 rakyat dibuat bingung, mereka tetap eksis kok, tetap bayar pajak, tetap lebaran berkumpul bersama keluarga, bahagia, mereka itu tangguh, bingungnya gak lama2, masih banyak urusan yang lebih penting bagi mereka. jangan2 hanya kita kita ini yang bingung.

      Respek juga dengan Muhammadiyah yang kelihatannya tidak sedangkal seperti yg anda tulis prof, mereka berbicara tentang memperjuangkan kalendar islam internasional, yg saya pikir sangat mulia. semoga Allah memberi pahala atas usaha kalian, pak prof maupun orang2 muhamadiyah.

      Thanks prof, bagaimanapun anda telah jadi pintu masuk ke dunia pendalaman ilmu.

  146. assalamualaikum..

    “Tidak satupun orang mau dikatakan rumahnya buruk dibandingkan dengan rumah orang lain, walaupun memang rumah orang lain itu lebih bagus dan mewah dari rumahnya, dan ini manusiawi sekali”
    -apakah cat-nya itu kusam?
    -apakah kayunya itu lapuk?
    -apakah lantainya itu ubin?
    marilah dibantu supaya rumahnya menjadi indah… walaupun tidak akan sama.

    wassalamualaikum..

  147. maaf prof…widget (di bagian kana atas liat deh) anda sendiri menunjukan bahwa hari ini sudah 1 syawal tuh…..omelin yang bikin software gih wkwkwkwkwkwk

  148. saya ga akan ambil pusing dengan dengan perbedaan Muhammadiyah dan NU tentang penetapan ! syawal. yang jadi pertanyaan saya Bapak ini dengan yakin mengatakan 1 Syawal 1432H tanggal 31 Agustus 2011 tapi di windgatnya sendiri 1 syawal 1432H tanggal 30 Agustus 2011???

  149. bila arab saudi berbeda idul fitri dg indonesia, wajar karena posisi hilal berbeda! Tapi bagaimana dg malaysia? Apakah karena kriteria malaysia berbeda dg kriteria indonesia (lapan? Prof?)?
    Ah, saya mau ikutan muhammadiyah saja meskipun bukan warganya! Karena, tidak ada penjelasan dari Prof atas banyak pertanyaan di komentar hari ini (kecuali justru penjelasan profokatif di sidang itsbat)!
    Maaf, lho, pak Prof!

  150. apa yang sampeyan cari prof….. perbedaan itu hal yg lumrah… memaksakan pemikiran itu yang gak lumrah… saya menghormati pendapat anda tetapi tidak respek terhadap gaya bahasa anda… marilah jalani idhul fitri dg keyakinan hati atas para pemimpin (ulil amri) diantara kita… selamat idhul fitri 1432 h bagai yg merayakan tgl 30 maupun 31 agustus… tetap jaga ukuwah.. mg Allah meridhoi. amin

  151. Perbedaan merupakan anugrah…. jgn dibesarkan shg memecah umat. Yg benar adalah apa yg engkau yakini.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H.

  152. Terima kasih Prof atas tulisan yang mencerahkan. Saya sudah sering membaca analisa ilmiah mengapa muncul perbedaan pendapat dalam menentukan awal bulan dalam kalender hijriah, namun tulisan Prof adalah tulisan terbaik yang pernah saya baca. Saya langsung lahap beberapa tulisan sekaligus, dari perbedaan penentuan tanggal Arab Saudi dengan Indonesia sampai dengan usulan kalender islam global . Tulisan Prof sangat mudah dibaca dan tidak terlalu teknis, saya pikir kontribusi inilah yang sangat diperlukan bagi masyarakat kita. Perbedaan itu ada (dan saya tetap yakin bahwa perbedaan itu rahmat), namun diperlukan keberanian untuk menjelaskan duduk perkaranya, sehingga kita bisa menimbang dan membandingkan argumentasi kedua pihak tersebut.

    Saya setuju dengan Prof, jelas sekali bahwa hisab dan rukyat tidak bisa dipisah, keduanya saling melengkapi dan memperkuat. Wujudul hilal hanyalah ada di atas kertas, namun mata manusia dengan teknologi secanggih apapun tidak akan mampu memastikannya. Jika para ahli astronomi telah sepakat bahwa 2 atau 4° adalah batas minimum penampakan hilal yang bisa dicerna, maka saya setuju saja. Dalam hal ini Pemerintah telah menggunakan kriteria tersebut, sehingga saya semakin yakin bahwa tanggal 1 Syawal adalah hari Rabu, 31 Desember.

    Tentunya yang berpuasa hari Selasa tidak bisa kita salahkan, karena mereka menggunakan kriteria yang berbeda. Adalah tugas para ahli astronomi dan alim ulama untuk meluruskan kriteria mana yang lebih baik. Kebenaran mutlak hanya ada pada Allah, kita manusia hanya berusaha mendekatinya.

    Lucunya, walau saya ikut pemerintah, saya malah minoritas karena orang tua, adik-kakak, keluarga besar dan mertua sudah memutuskan untuk berlebaran pada hari Selasa. Tidak mengapa, justru saya punya alasan untuk datang, silaturahmi dan mohon maaf lahir batin dua kali hehehe.

    • tp Ternyata padi hari selasa tanggal 31 agustus 2011di daerah jayapura telah terlihat hilal, apakah kita harus sholat pada keesokan harinya dan tetap menajalnkan ibadah puasa kita???

      menurut pak profesor gmna??
      mohon di jawab..

  153. untuk 2011, malaysia, dan saudi arabia dikabarkan 1 syawal pada tanggal 30 agustus.. Bagaimana menurut anda? Sedangkan indonesia pada 31 agustus.

  154. saya benar-benar telah muak dengan perbedaan tanggal lebaran, bila tidak ada kesepakatan kriteria dari semua ormas di Indonesia tentang derajad hilal terhadap ufuk. Saya yang akan angkat kaki dari negara ini sebelum bom waktu ini pecah, bila Allag mengizinkan saya akan pergi dari negara tanpa persatuan ini. Muak saya muak sekali membaca keEGOISAN Muhammadiyah dan Ketidak pedulian Pemerintah. Muak saya dengan tetinggi NU dan Muhammadiyah dalam keengganannya duduk bersama dengan kepala dingin dan keEGOISAN Muhammadiyah yang tidak pernah menjalankan setiap keputusan mufakat rapat. MUUUAAAAK…. pikir sapa senang kalau terus terkotak kotak? Sopo? Dengkulmu

  155. he.he..
    makan ketupat dulu yuukk…
    saya suka dengan wordpress. gratis sih.
    hadduuhh….gretongan choy..

  156. Tergelitik juga kalau mendengar kalimat ‘perbedaan itu indah dan merupakan rahmat’
    Menurut saya ya perbedaan itu akan menjadi indah dan merupakan rahmat dari Allah, ketika perbedaan itu adalah merupakan buah dari hasil berfikir positif dalam mencari kebenaran. Bukan perbedaan yang terjadi karena hanya sekedar ikut aliran A atau aliran B tanpa berfikir sedikitpun. Kenapa ribut soal hilal, hisab, rukyat dan lain sebagainya kok hanya muncul pada saat menjelang akhir ramadhan? Kenapa tidak setiap waktu dimunculkan atau didiskusikan secara publik, seperti sidang isbat tadi malam? Kalo perlu dibuatkan pansusnya di DPR he he he. Intinya kenapa umat muslim secara keseluruhan tidak diajak untuk lebih mau tau tentang hal ini. Sehingga akhirnya umat secara pribadi (privat) dapat membuat keputusan sendiri kapan dia harus berlebaran, tidak dibuat bingung seperti sekarang ini.
    Seperti yang termaktub dalam UUD negara kita tugas pemerintah adalah memberikan jaminan dan fasilitas warga negaranya untuk melakukan ibadah sesuai agama dan keyakinannya. Tidak tersirat ataupun tersurat bahwa pemerintah

  157. bacalah dengan otak bukan hati…..tulisan ini menggugah…..nampak sebagian besar pengikut ormas yang dikritik lgs defensif…persis yang digambarkan oleh prof t djamaluddin. ITULAH YANG DISEBUT JUMUD (BEKU PIKIRAN) sampe kapan juga sulit maju dan berkembang.

  158. Wong Kok do RIBUT atau CEREWET. Gek malaysia, Brunei, Singapura aja Lebarannya Tanggal 30 Agust 2011. Masak Indonesia tgl 31 ????? Piye hare???? Masak dalam satu garis lurus bisa berbeda??? Kalau beda dengan Arab sih gak papa,,,, tp ini dengan tetangga sendiri masak beda…. BODHO……. FPI yang ormas besar masak gak diajak sidang istbath, Pada takut sma FPI apa ya??? Dalam blog ini aja udah kelihatan bulannya…… Dihapus aja gambar bulannya kalo gak dipakek….

  159. Mohon izin… saya warga Muhammadiyah sekaligus Anggota Pemuda Muhammadiyah mau lebaran duluan hari Selasa 30 Agustus 2011…. Fastabiqul Khairat..

  160. ancuuurr!!!!

    ga ada rukun” nya nih umat muslim…

  161. Tergelitik juga kalau mendengar kalimat ‘perbedaan itu indah dan merupakan rahmat’
    Menurut saya ya perbedaan itu akan menjadi indah dan merupakan rahmat dari Allah, ketika perbedaan itu adalah merupakan buah dari hasil berfikir positif dalam mencari kebenaran. Bukan perbedaan yang terjadi karena hanya sekedar ikut aliran A atau aliran B tanpa berfikir sedikitpun. Kenapa ribut soal hilal, hisab, rukyat dan lain sebagainya kok hanya muncul pada saat menjelang akhir ramadhan? Kenapa tidak setiap waktu dimunculkan atau didiskusikan secara publik, seperti sidang isbat tadi malam? Kalau perlu dibuatkan pansusnya di DPR he he he. Intinya kenapa umat muslim secara keseluruhan tidak diajak untuk lebih mau tau tentang hal ini. Sehingga akhirnya umat secara pribadi (privat) dapat membuat keputusan sendiri kapan dia harus berlebaran, tidak dibuat bingung seperti sekarang ini.
    Seperti yang termaktub dalam UUD negara kita tugas pemerintah adalah memberikan jaminan dan fasilitas warga negaranya untuk melakukan ibadah sesuai agama dan keyakinannya. Tidak tersirat ataupun tersurat di dalamnya bahwa pemerintah berhak untuk memutuskan bagaimana seseorang harus beribadah. Tetapi memberikan fasilitas agar seorang warga negara menjadi ahli ibadah yg benar adalah kewajiban negara. Bagaimana caranya? Ya jadikanlah warga negara ini (dalam hal ini umat muslim khususnya) menjadi orang yang berfikir aktif dan positif, bukan menjadi keputusan pemerintah.
    Beragama adalah hak manusia yang bersifat haqiqi, tidak ada hak siapapun untuk mempengaruhinya.

  162. Ya Allah, disini ramai sekali. senang melihatnya, semoga semua ini adalah sebuah pengantar yang manis untuk hubungan ummat yg lebih harmonis.

    Bagi yg hari ini merayakan idul fitri harus lebih berhati-hati dan waspada sebab iblis telah bebas dari kerangkengnya dan siap menggodamu melalui segala celah dan dengan berbagai upaya. Dan bagi yang hari ini masih menjalankan ibadah puasa, saya ucapkan selamat menikmati ibadah puasa yang nikmat.

    *mari dukung fatwa “MESJID WAJIB MEMILIKI PERPUSTAKAAN.”

  163. Tumben wordpress rame masalah kayak gini. Biasanya gak ada yang nanggapi.

    Mau nanya prof, jika tertutup mendung, berarti dianggap tidak keliatan (biarpun secara hisab sudah lebih dari 3 drajat, upamanya)?

    Trima kasih.

  164. hhe.. kesepakatan sesat itu yg 2°!
    klo astronomi itu ilmu pasti & tdk terbantahkan.

  165. hhe.. kasian jg liat umat yg kek gini!

  166. sebenarnya saat terjadi rukyat dngan ketinggian 1 drjat 48 menit di atas afuk itu berapa lama lagi baru berada di ketinggian 2 drajat di atas ufuk?

  167. Katanya Muhammadiyah kolompok pembaharu, ternyata masih memakai cara kuno & tidak melek Teknologi (ngotot lagi)..Wkwkkwkwkkw… Sangat Miris…

    • Oh ya,, yang kuno siapa?? Nanti lo kalo mau sholat, gak usah pake jadwal sholat ya, teropong dulu tuh matahari ma bulan, karena kalo pake jadwal sholat, itu pake hisab lho, caranya muhammadiyah,,

      ngerti kan,,??!!
      gag ya??
      goblok jugag sih….

  168. A : “Kamu Natal atau Lebaran?”
    B : ” Lebaran”
    A : “Selasa atau Rabu?”
    B : “Selasa”
    A : “Muhammadiyah atau bukan?”
    B : “Bukan”
    A : “Jadi kok selasa?”
    B : “iya, klo ikut pemerintah, penentuan hari rayanya itu berdasarkan hasil korupsi, kolusi dan nepotisme!”
    A : “kwkwkwkwkwkwk….”

  169. metode rukyat yang tertuang dalam hadits Rasulullah SAW H.R. Bukhari-Muslim tentang menggenapkan bulan menjadi 30 hari memang pernah dilakukan. Rasulullah SAW puasa 29 hari dari 9 kali Ramadhan, puasa 30 hari 1 kali karena tidak melihat bulan.

    Di jaman Rasulullah SAW tentunya ilmu astronomi belum sehebat sekarang, sehingga metode hisab yang digunakan pun masih manual, seperti tertuang dalam hadits tersebut.

    Tapi disayangkan, seringkali memulai puasa Ramadhan dan mengakhirinya tidak sesuai dengan suara minoritas Muslim yang benar telah melihat al hilal, atau mendengar kabar hilal di negara lain.

    Keputusan pemerintah berbeda dengan suara minoritas Muslim selama ini, karena keputusan pemerintah masih diartikan sebagai keputusan mutlak benar dan harus ditaati oleh rakyat Indonesia.

    Padahal sejak dimulainya berpuasa Ramadhan, sejak tahun ke-2 Hijriyah, selama di Madinah, Rasulullah lebih sering berpuasa 29 hari, dan hanya sekali saja berpuasa genap 30 hari, karena gagal melihat al hilal.

    Sedangkan, di Kerajaan Saudi, berpuasa 29 hari bukanlah hal aneh. Mereka biasa berpuasa seperti itu, dan lebih jarang berpuasa 30 hari. Artinya, usaha melihat al hilal juga lebih banyak suksesnya, daripada gagalnya.

    Tapi di Indonesia lain lagi. Mayoritas puasa di negeri kita 30 hari, jarang sekali 29 hari. Padahal panjang wilayah Indonesia jauh lebih panjang daripada Kerajaan Saudi. Ini menjadi pertanyaan yang penuh misteri.

    Satu kelemahan fundamental penentuan ru’yatul hilal di Indonesia adalah pihak yang berhak melihat hilal itu hanyalah orang-orang tertentu yang ditunjuk oleh negara, dengan SK, fasilitas, serta honor tertentu(golongan tertentu). Adapun kaum Muslimin yang melihat secara mandiri alias swasta tidak akan diterima hasil penglihatannya, meskipun dia Muslim yang adil dan benar-benar telah melihat al hilal.

    Kalau merujuk ke sistem kaum Muslimin di masa Rasulullah, setiap Muslim yang benar-benar telah melihat al hilal, bisa diterima kesaksiannya. Dan proses melihat al hilal itu tidak harus dimonopoli oleh pemerintah. Semua Muslim boleh melihat dengan caranya masing-masing dan di tempat masing-masing.

    Penetapan 1 Syawal dalam proses pengamatan al hilal sejatinya tidak menjadi monopoli badan tertentu. Ia bebas milik umat Islam dan melibatkan siapapun yang mampu dan sempat melakukannya. Jangan sampai, ketika ada seseorang yang telah melihat al hilal, hanya karena dia tidak tergabung dalam panitia ru’yatul hilal, pengamatannya ditolak.

    semoga menjadi pencerahan bagi profesor Jamaluddin (karena menurut saya pikirannya masih keruh)

    JANGAN MALU UNTUK MENERIMA KEBENARAN, APALAGI BERUSAHA MENUTUP-NUTUPINYA

  170. namanya aja thomas christiani banget

  171. Saya semakain faham setelah membaca artikel ini. perbedaan MU-NU’ tapi mohon ulama’ MU-NU untuk mengkaji, sehingga hari raya sama, memaqng beda itu rohmat, tapi kalo masalah bisa dikompromi mengapa tidak !, saya mohn tahun depan tidak ada perbedaan lagi ttg hari raya, tinggaalkan EGO. ayo bersatu, jangan sampai meniru “cerai” itu halal kenapa tidak

  172. Assalamu’alaikum..wr.wb.
    Thanx prof atas pncrahan-a.
    Tampak-a bnyk yg kbakaran jenggot dg tulisan prof d atas, hahaha…
    Ga usah dtanggepin prof, krn tampak skli comen2-a hanya luapan emosi. Jd abaikan saja n maafkan mrk yg menggunakan kata2 yg kurang sopan.
    Lanjutkan perjuanganmu prof.

    Oh ya sy minta tanggpan saja trkait berita dbwh ni :

    http://m.detik.com/read/2011/08/30/041448/1713399/10/prof-sofjan-jangan-sakralkan-rukyah

  173. wallahu alam

  174. bahasa nya di perbaiki sedikt dong pak prof…?biar gak memecah umat dong… ni terlalau kasar menurutku…

  175. alhamdulillah, diskusi ini bisa dijadikan buku. sungguh luas khazanah ilmu islam. tapi tolong edit kata-kat yang saling menghina.

  176. Seharusnya seperti ibadah haji di Saudi, begitu ditentukan harinya oleh raja, maka semua jamaah mengikutinya, walaupun pasti ada yang berbeda pendapat tentang itu. Jadi demi persatuan umat seharusnya kita taati satu keputusan dari pemerintah. Jika Rosulullah masih ada, apakah beliau akan mentolerir perbedaan ini????

  177. Jauh-jauh hari udah ngumumin lebaran, giliran keputusannya ga sama dg maunya, eh marah-marah. Jd ky anak kecil, lucu.
    Klo mau bilang egois atau sombong, itu yg ngumumin duluan yg egois & sombong plus sok pinter.
    Emang di ormas-ormas lain apa ga ada yg ngerti hisab, ga ngerti wujud hilal ? Ngerti broo.. Org-org yg ahli hijab bnyak, softwarenya aja ada. Kita semua bisa ngitung.

  178. Ilmu Anda hanya pas buat indonesia ya? Koq satu dunia 1 Syawal sama, indonesia aja yg beda. Jangan2 muhammadiyah udah buka cabang di Malaysia, Eropa, dan Timur Tengah..

  179. Salut Untuk Pak Menteri Agama, Prof T.Djamaludin dan ulama-ulama yang hadir

    Pemerintah Indonesia sangat akomodatif, dan sama sekali tak mengingkari perhitungan HISAB (metode ilmiah dengan ilmu astronomi modern) seperti yang dipegang secara ‘harga mati’ oleh ormas Muhammadiyah.

    Kalau Pemerintah mau menang sendiri, karena 30 Agustus itu sudah ditetapkan sebelumnya di kalender nasional sebagai 1 Syawal, bisa saja dengan otoritas kekuasaannya (seperti yang dilakukan pemerintah Arab Saudi saat ini meskipun para astronomnya juga berpendapat, HILAL tak mungkin terlihat di Mekkah dan seluruh Arab Saudi pada 29 Agustus itu), menetapkan tanggal 1 syawal 1432H jatuh hari Selasa, 30 Agustus 2011. Tapi karena justru mengakomodasi semua pandangan di negeri ini, dan mayoritas mereka (yang pendapatnya juga berdasarkan al-Qur’an dan hadits, bukan hanya Muhammadiyah aja) yang umumnya berpandangan bahwa HILAL tak terlihat pada akhir puasa hari ke 29 itu, makanya kemudian menginginkan puasa digenapkan selama 30 hari.

    Tanggal 1 syawal sendiri memang jatuh 30 Agustus 2011, karena kalender Islam yang menganut sistem lunar (qomariah) yang mana maksimal jumlah harinya adalah 29 hari setiap bulannya, tapi karena sepakat para akhli falak dan astronomi se dunia bahwa tadi malam (29 Agustus malam) HILAL belum tampak di Indonesia, termasuk di Arab Saudi. Nabi saw berpesan melalui haditsnya, bahwa kalau puasa sudah 29 hari, tapi belum tampak bulan sabit baru di langit (HILAL) akibat tertutup awan misalnya, beliau memerintahkan ummatnya melengkapkan puasa selama 30 hari. Berdasarkan itulah, Ulama Islam di Indonesia menetapkan bahwa puasa digenapkan 30 hari karena saksi mata tak ada yang mengaku melihat bulan sabit. Kalau ada, ternyata HOAX.

    Banyak umat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang mau lain sendiri dan bahkan Pimpinannya mengaku kecewa dengan sidang isbhat, yang justru sangat demokratis. Bahkan PERSIS saja pun membulatkan puasanya 30 hari. Sekiranya saat ini baginda Nabi Muhammad saw masih hidup di Madinah atau Mekkah sana, pasti di hari akhir ke 29 berpuasa Ramadhan kemarin itu, beliau pun meminta sahabatnya untuk menyaksikan bulan baru yang diperkirakan akan terlihat dan muncul untuk menghentikan puasa atau berbuka. Dan, karena berdasarkan perhitungan ilmu falak modern (astronomi) ternyata tak mungkin terlihat, maka karena itu juga hukum sunatullah, pastilah tak banyak bedanya dengan pengamatan secara riel (rukyat). Insya Allag, nabi juga akan mengenapkan puasanya 30 hari. Karena beliau pernah juga bersabda, ketika beliau menanyakan soal pertanian (sahabatnya sedang melakukan perserbukan bunga kurma pada waktu itu), yang menurut beliau saat itu bahwa kalau soal ilmu dunia, sahabatnya yang memang punya keahlian di bidang pertanian itu, pasti lebih paham di bidangnya itu dibanding diri beliau meskipun dirinya adalah nabiullah. Ilmu astronomi modern adalah ilmu dunia, seperti halnya ilmu pertanian pada waktu zaman nabi masih hidup saat itu. Wallahu’alam!

  180. mohon pencerahan,
    1. di jaman nabi muhammad saw sudah ada teropong untuk lihat hilal paa belum yaa………….???
    2. berapa derajat kah hilal itu bisa dilihat dengan mata telanjang (tanpa terhalang oleh mendung)……………???
    mohon jawaban valid para ahli astronom dan juga ahli sejarah.
    makasih banged sebelumnya………..

  181. Situasi diskusi memang terkadang menuntut bahasa yang seperti itu. Ndak perlu dirisaukan dan dibesar-besarkan sebagai bentuk egois atau provokatif. Menunjuk itu sebagai bahasa ego dan provokatif dengan bahasa yang setara menunjukkan derajat bahasa yang sama. Ini soal komunikasi diskusi. Hanya saja, umat jangan terjebak hanya karena kehalusan bahasa atau kerasnya suatu istilah.
    Sikap terhadap perbedaan (Idul Fitri) memang bisa berbeda-beda, tapi jika perbedaan itu didasarkan pada pegangan terhadap landasan ilmu, insya-alloh, tidak berbahaya. Saya pernah berbeda hari Idul Fitri dengan seluruh anggota keluarga, tidak menjadi masalah, tetapi coba terus dibicarakan dan didiskusikan secara internal keluarga dengan baik, tanpa sikap emosional. Alhamdulillah, akhirnya, bapak saya sebagai kepala keluarga bisa luluh melepaskan kebiasaan berbeda hari raya ini karena dari sekian kali diskusi yang berkesinambungan itu mungkin -akhirnya- beliau sampai pada kesimpulan bahwa “pandangan” yang saya lontarkan lebih argumentatif.
    Riwayat tentang “Perbedaan sebagai rahmat” sudah masyhur kelemahannya. Tidak perlu “dipaksakan” menjadi dalil bagi setiap perbedaan. Sikap terhadap perbedaan bergantung pada kondisi keyakinan dan keteguhan agama masing-masing.

    Akhir kata, jadikanlah tulisan Pak Thomas Jamaluddin ini sebagai bahan perimbangan dan kejelasan dalam memperkukuh landasan kita dalam beribadah yang waktunya berdasar pada hitungan astronomi. Insya-alloh, dengan sikap bijak, tulisan ini bisa menjadi pencerah. Tinggalkan saja subjektivitas, jika ada kata-kata yang mengarah ke sana. Ambil ilmunya. Insya-alloh, sangat bermanfaat.

  182. Nah loh, singapur, malaysia & arab saudi lebaran hari ini, indonesia yg lebih cepat 4 jam dr arab kok malah besok?
    Apakah pakar2 di negara2 tersebut salah? Ataukah pakar kita yg error?
    Sombong tiada guna :D

  183. tulisan ini bagus kok, mencerahkan. jadi satu masukan. ga ada kata2 merendahkan di dalamnya, hanya mengajak muhammadiyah berfikir ulang.

    jadikan satu wacana saja. kawan2 muhammadiyah juga tidak usah mencak2, ini wacana, dan ilmiah.

    setuju, terima. tak setuju dan punya pandangan lebih kuat, ya monggo.

  184. Drpd ulama2 kita sibuk “baku panas” mending kedepanx kt patokan sj sm Idul Fitri & Idul Adha Saudi Arabia .. Beda 4 jam sy kira gak masalah.. Yg penting seragam lah.. Klo ada yg bilang perbedaan itu Rahmat .. Untuk urusan Hari Raya its Bullshit ! 1 Syawal itu cm 1 hari .. Bukan 2 hari atau 1 1/2 hari..

  185. Mending patokan sm Lebaran di Arab Saudi deh.. Gitu aja kok repots !

  186. Bagaimana Prof. Thomas menjelaskan idul fitri 30 Agustus 2011 di Mekkah, Malaysia dlsb, apa mereka juga memakai metode usang?

    • woi anda diindonesia, mana bisa disamakan, lawong gerhana dibenua lain dikita aja tak tampak, saya melihat banyak yang jahil yang tak menegrti masalah koment diblog ini, sebagian fanatik buta, sebagian taklid buta, sebagian marah buta, itulah muhammadiayah, semenjak kemunculannya hanya meringankan syariat dan bikin pecah belah keluarga dan masyarakat, boh te saboh

      • Kejayaan persatuan islam bukan hanya di inginkan hanya ada di Indonesia Bung..
        Tapi di seluruh permukaan bumi.
        Arab, Malaysia dan Jepang aja tanggal 30 kok..

      • Woi, ini berdasarkan riwayat zaman Rasulullah dimana ada seorang Badui yng datang kepada Rasulullah mengabarkan bahwa ia telah melihat bulan dan berdasarkan itu Rasulullah memerintahkan sahabatnya berbuka. Rasulullah tidak ertanya Anda dari negeri mana. Sekarang yg kurang referensi itu saya atau And??

      • Kaender itu mesti internasional Bung,justru lucu kalau kalendernya lokal, testnya ya dikonversi ke kalender Miladiah /Masehi

      • knapa awal puasa sama..knapa kalendernya sama..mestinya bulan yang laen jg beda…knapa 1muharam tdak liat hilal..knapa idul adha bisa sama…toh yang dipakai perhitungan jg..bukan meliat hilal

  187. ma`af anda seorang ahli bhkan prof. tp gya bahasa anda seperti seorang profokator
    ….ma“aaf sebelumnya

  188. Prof seharusnya memahami arti sebuah rahmat.Tak aneh zaman sahabat perbedaan selalu ada.Jangan menjustice bahwa Muhammadiyah terkesan terkungkung dan tertinggal oleh ormas lain.Adakalanya sebuah ormas memiliki paham idealisme dan ke-kitaban.Memang kalau terus dibiarkan, perbedaan akan selalu ada.Merujuk pada hadits Nabi saja tidak cukup.Butuh ilmu jarh wa ta’dil demi melengkapi keabsahan suatu hadits.Kalau misalnya masih ada budaya “ormas di atas segalanya”, sebaiknya sudahi saja dengan cara yang bijak.Tetap rujukan pada Alquran dan Sunnah Shohihah.Intinya, lebih luas lagi pemahaman kita tentang Islam dan Teknology._a religion without science is blind, and science without religion is lame_

  189. [...] konstruktif dari Prof Thomas Djamaluddin pakar astronomi untuk menstandarkan dan memperbarui kriteria-kriteria hisab yang digunakan di metodo… nampaknya disambut angin lalu saja. Padahal ini hal penting yang sering diseplekan [...]

  190. Perbedaan adalah rahmat dan kita tidak harus memaksakan diri untuk menyatukan metode perhitungan hilal … Dan saya menegur dengan baik-baik Pak Thomas Djamaludin atas pengungkapan pendapatnya yang kurang santun pada sidang itsbat tadi malam yang secara langsung “menyerang” Muhammadiyah … Insya Allah semua perbedaan ini akan sirna manakala Khilafah kedua ‘ala minhaj nubuwwah terbentuk lagi, sesuai dengan skenario Akhir Zaman yang direncanakan oleh Allah … “Allah membuat makar, mereka membuat makar, dan makar siapakah yang lebih baik daripada makarnya Allah ?” (Al-Qur’an) … Wallahu’alam bishshowab …

  191. ko di widget di pinggir to 1 shwaal tg 30ya?

  192. pokok permasalahan bukan pada muhamadiyah,mereka tdk bisa juga di salahkan buktinya,hilal juga sdh muncul meskipun msh krng dari 2 derajat,mereka konsisten.ttp pemerintah tdk konsisten buktinya seluruh masyarakat indonesia mengacu pada kalender hijriah 30-31 idil fitri,ini yg jadi pkok prmasalahan,pemerintah menerbitkan kalender ttp,di ralat lagi,jadi tdk ada yang bisa di salahkan seluruh ormas smuanya benar,tapi mslhnya jauh hari sebelumnya permasalahan ini tdk di antisipasi sehingga menimbulkan kebingungan pada orang awam………….

  193. anehnya arab saudi dan negara2 uni emirat arab idul fitri jatuh pada 30 agustus 2011,muhamadiyah konsisten yang lain silahkan tanya sendiri…………………..

  194. Tapi perlu diingat ,ratyatkan masih banyak yg ga tau jadi kenyataanya memang membingungkan umat, kan rasul juga memerintahkan agar kita menuruti pemerintah,please. Taklid pada suatu paham juga kan dilarang ..? ga usah gengsi bro.

  195. owalah dalah,orang diajak maju dalam ilmu kok gak mau..padahal ilmu tiap tahun berubah,.dikaji dari saar i saja kuat yg dipakai nu dan persis. muhamadiyah gak malu sama persis..yg lbh maju.coba dilihat dari sudut pandang ilmu jangan ormas..jawabanya tehnik ilmu yg dipakai muhamadiyah memang ketinggalan akui saja.
    SALUT DAN SUPORT UNTUK PROF T JAMALUDIN DEMI KEMAJUAN ..yg ngomong panas paling juga gak tahu astronomi dan kajian sarr i,.sudah tahu ilmu awam kok bantah.akui saja dan jujur .

    • Bukannya gk mau di ajak maju mas,cm mslhnya apa iya kita di ajak maju?wong semua negara tgl 30 agustus lebaran kok kita mlh mundur.Mbok ya yg lain jg introspeksi,tmasuk Mr Thomas ini

  196. Kenapa ikutin arab saudi.,sudah jelas ulamanya sekarang alim2 orang indonesia.kalau bangga as ya jgn disini.
    AS=AS (ARAB SAUDI = AS(AMERIKA SERIKAT) DUA NEGARA YG BEDA TAPI KOMPAK..?

  197. secara kultur, masyarakat Indonesia memang susah menerima kritik dan saran. Tugas akademisi sudah dijalankan dgn tepat dan benar oleh Prof. Jamaluddin. Lanjutkan prof!

  198. saya pengen banget merasakan kebersamaan bukan perbedaan…….persis, nu bisa bareng kenapa muhammadyah tidak mau bareng…..tolong dong kasih alasan yg gampang ga usah mbulet2 kayak benang…

    • Coba aja logikanya dibalik Mas…..mengapa orang Indonesia kebanyakan nggak mau diajak bareng oleh Muhammadiyah untuk lebaran bareng dengan kaum muslim sedunia…….
      Tapi nggak masalah kayanya bagi Muhammadiyah, karena nampaknya sejak awal berdiri di tahun 1912 suratan taqdir Muhammadiyah memang kebagian disalahkan melulu oleh orang kebanyakan……bahkan oleh NKRI yang pernah dibidaninya….

      • Masalahnya, kan katanya YANG BANYAK, BELUM TENTU BENAR !
        Saya melihat, penetapan 1 Syawal 1432 yang dilakukan oleh para ulama kita, lebih keren ketimbang – maaf – para raja (Saudi, Malaysia, brunei misalnya). Mereka sering mengabaikan hitung-hitungan astronomi, dan lebih memercayai hasil rukyat para perukyat. Di Saudi, misalnya, teleskop mereka yang di Jeddah itu aja tidak bisa melihat hilal (karena hilal masih sangat rendah), tapi ndilalah…. katanya ada beberapa orang yang bisa melihatnya. Karena Saudi pake rukyat hakiki (mungkin mengabaikan hisab), ya diketuk palu Selasa. Dan beberapa negara Teluk pun mengikutinya. Beda banget dengan ulama kita! Disamping kita gunakan hisab dan rukyat, juga minta pandangan para ahli di bidang astronomi. Hasilnya, silakan disimpulkan sendiri ….

  199. dh qta ikut di mekkah aja klo di sana puasa 29hari qta ikut 29hari klo 30hari qta ikut puasa 30haru …
    #pendapat orang awam nih

  200. Pemerintah bohong mengatakan ada kesepakatan dengan Malaysia, Singapura lebaran 1 syawal tanggal 31 Agustus, ternyata Mereka (malaysia dan singapura) ditambah lagi beberapa negara arab seperti Saudi Arabia, Mesir, Qatar dan UEA menetapkan 1 syawal tanggal 30 Agustus, bagaimana logikanya pak prof, karena saudi arabia itu terlambat 5 jam dari indonesia, atau penetapan 1 syawal nggak perlu pakai logika, hanya nafsu saja

  201. bapak profesor aneh, tulisan banyak salah ketik lagi, entah apa niat bapak di balik tulisan seperti ini..memalukan!

  202. Paparan yang menarik, disini fungsi pemerintah untuk menyatukan yang berbeda. Semoga ke depan pemerintah bisa lebih menekankan adanya persatuan

  203. emmm…..tulisan ini bagus untuk dipelajari….tentunya dengan kepala dingin dan cermat mempelajari sebab musababnya,,,,,,,banyak hal yang terkait disini dan banyak juga yang mempunyai dasar masing-masing dalam penentuan hari raya. mohon untuk para bapak dan ibu disini…ingatlah seseorang yang beragama islam adalah saudara kita. mari kita hargai pendapat satu sama lain.
    mari kita mau menerima kritik walaupun tajam.
    salam ukhuwah…
    Mustafit.

  204. Ilmu mukasyafah (Haqiqat dan Ma’rifat) sudah tak digubris lagikah atau etah di kemanakan ketika Ilmu Mu’amalah (Syari’at dan Thoriqoh) dijadikan hujah / alasan paling telak? Padahal kedua ilmu atau keempat ilmu tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kajian dan pengamalannya, termasuk untuk mengurus ketepatan (ukuran dan satuan) masa (mongso) demi penetapan pergantian hari (sedino-sewengi), bulan (komariyah), dan tahun hijriyah. Jika subyek atau obyek yang dibuktikan pasti sama dari segi hakekatnya, mengapa masih ada perbedaan cara pandang, peralatan, proses, dan hasil penyaksian terhadap peristiwa alam? Peristiwa kasat mata saja sering berbeda hasil pandangan, bagaimana dengan kesaksian adanya keenam hal yang patut diimani (Rukun Iman) oleh semua muslim di dunia? Subhanalloh, tentu saja pihak yang kurang mampu menjangkau ilmu mu’amalah dan ilmu mukasyafah bakal cukup mendapat hiburan berupa wejangan: ‘perbedaan adalah rahmat’, selama segala sesuatu masih sulit dibuktikan (baca: disaksikan) hingga menggunakan ilmu dan amalan berdasar ilmu mukasyafah. Mungkin hanya ulama warotsatul anbya’i (mewarisi keutuhan ilmu Sang Nabi) yang tak mudah memproduksi fatwa perbedaan (atau berbeda fatwa). Agak untunglah jika ‘kita orang yang dihibur’ ini masih bisa mengingat sebuah pangkal bijak: ‘kulit tanpa isi = kosong-bolong, isi tanpa bungkus = batal’ (hadist).

  205. Terimakasih pak T atas pencerahannya yang sangat menarik. Tapi lebih menarik lagi bagi saya melihat tanggapan-tanggapan yg defensif dan agresif sekali ingin menembak si pembawa berita (shoot the messenger) tanpa menghiraukan isi beritanya. Mereka kelihatannya tidak mampu mengambil nilai positif dari sebuah perspektif dan menganggap memberikan pendapat sesuai dengan keahlian hanyalah sebuah kesombongan. Menyedihkan kalau mereka mewakili cara berfikir ormas tersebut, tapi mudah-mudahan tidak.

  206. tapi saudi arabia,
    yg sbg pusat Islam
    mnntukan hariraya sekarang
    tgl 30 agustus 2011

  207. Info untuk Profesor : berikut daftar Negara yang menetapkan 1 Syawal 1432H pada 30 Agustus 2011 Mekah,Madinah (Arab Saudi), Malaysia, Thailand, Jepang, New York, California, Hawaii, London, Belanda, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Australia, Yordania, Rusia, Turki, Irlandia, Hong Kong.

    • yang berbeda siapa sekarang, yang usang siapa sekarang,, yg membuat idul fitri beda “Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI” sok bener tp keblinger

    • Udah jelas yang usang itu pemikiran prof, itu sendiri… Hahahaha

  208. [...] Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab Posted on 27 Agustus 2011 by tdjamaluddin 20 Votes [...]

  209. Perkembangan ilmu Astronomi yang semakin canggih, membuat ilmu hisab menjadi semakin akurat,,, perbadaan sekarang ini bukan perbedaan metode hisab melainkan kriteria yang ditetapkan dalam menentukan tanggal syamsyiah. Kriteria penentuan tanggal tersebut menggunakan “imkanur rukyat” dan “wujudul hilal’. terlepas dari perbedaan kriteria tersebut dengan ilmu hisab kita sudah bisa memastikan penentuan tanggal pada tahun-tahun berikutnya tanpa harus menggunakan metode rukyat. Timbul sebuah pertanyaan apakah metode rukyat harus ditinggalkan karena sudah ada metode hisab yang telah akurat (untuk menentukan posisi hilal)?

  210. membingungkan !!!!!!!!!!!……..itulah indonesia,,,,kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah……kita sebagai umat yang awam hanya dijadikan bola yg bisa ditendang sana tendang sini… lempar sana sini apa tdk lbh baik kalo di indonesia itu hanya ada satu forum ajayaitu umat islam indonesia….bayangkan di ponorogo ada 2 masjid ( yang kalau ditarik garis lurus tdk ada 50 m ) yang masing-2 di klaim oleh milik warga aliran tertentu dalam satulingkungan tepatnya di kelurahan kertosari sehingga umat terpecah belah….sungguh memprihatinkan masing masing mengedepankan egonya…..

  211. Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari: hari Fithr dan hari Adha. (HR Muttafaq ‘alaihi)

  212. Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari: hari Fithri dan hari Adha. (Hadist Riwayat Muttafaq ‘alaihi).
    Jika di hari kiamat nanti diputuskan tgl 30 masih ramadhan, masih bisa dibayar lain waktu, tapi jika ternyata 1 syawal dan puasanya haram, gimana bayarnya dan siapa yg nanggung dosanya ???

    lebaran tgl 30, shalat ied tgl 31, beres kan ???

    • Saya bingung, Muhammdiyah yang biasanya “Social Oriented” (ingat Surat Al-Mau’n itu dasar pendiriannya!)…. kok tiba-tiba menjadi “Ritual Oriented” jika bicara tentang 1 Syawal ….

  213. kayaknya metode yg berkembang bukan hal yg harusnya diperdebatkan, tp didiskusikan lebih lanjut antar tokoh/ahli yg selisih paham..
    Menurut sy Muhammadiyah hanya perlu mengikuti lebaran yg ditetapkan Pemerintah, masalah masih puasa atau belum, tergantung keyakinan masing2 pada metode yg dipilih.
    ada yg bisa kasi dalilnya mengenai keharusan mengikuti pemerintah dalam hal hari raya ??

    • ngaco !!!, itu bid’h namanya masa shalat ‘Idul fitri tgl 2 dilaksanakan oleh warga muhammadiyah ?! Lagian nanti suatu saat kalau ulil amri condong kpd pemahaman Muhammadiyah, apk yg tdk sepaham dg Muhammadiyah harus shalat ‘Id padahal mrk masih berpuasa?? yg benar mah Pemerintah jangan ikut campur, kalau mau ikut campur berantas saja perbedaan, contohlah Islam Iran, disana hanya ada satu pemahaman, mesjid2 yg tdk sepaham diberantas. Beres kan…

      • @uut maaf, bukannya biasanya Muhammadiyah sdh berbuka duluan ?
        jadi tidak masalah khan jika shalat iednya ikut sama pemerintah ?
        apakah hal tsb bid’ah ?
        bukannya adalah kewajiban bagi kita untuk patuh sama pemerintah ?
        dalam hal penentuan lebaran (shalat ied) adalah hak dan tanggungjawab pemerintah…
        bukankah shalat ied itu dianjurkan agar gema takbir dikumandangkan di negeri ini secara bersama2.. bukan sendiri2…
        Jadi, tdk ada perbedaan yg mesti diberantas.. yg ada hanyalah turun ke jalan bertakbir bersama, dan shalat ied bersama2 pula..

        Dalam hal ini tentu saja sy tidak condong ke Muhammadiyah ataupun NU, dalil keduanya cukup masuk akal, tetapi krn sy kurang ilmu, sy tdk cukup berkompeten untuk menyatakan siapa yg paling benar..

        hanya saja, menurut sy tanggungjawab mesti kita serahkan pada pemegang tanggungjawab, dalam hal ini pemerintah… sedangkan penentuan apakah sdh masuk 1 syawal atau tdk kembali kpd keyakinan pribadi masing atas metode mana yg dianggap yg paling benar.

        perlu diingat, puasa adalah urusan manusia dgn tuhannya
        sedang Lebaran / shalat ied adalah SYIAR ISLAM.. wanita berhalangan pun disuruh ke lapangan untuk meramaikan…

        makanya sy katakan sebelumnya, Muhammadiyah seharusnya tdk membuat lebaran sendiri.. tapi ikut pemerintah.. karna ini adalah SYIAR ISLAM
        sedangkan jika keyakinan Muhammadiyah, 1 syawal tgl 30/08/11 maka mereka yg berkeyakinan sama tdk berpuasa pada hari itu adalah sesuatu yg tdk perlu diperdebatkan…

  214. .
    Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari: hari Fithri dan hari Adha. (Hadist Riwayat Muttafaq ‘alaihi).

    Nah lo, kalo ternyata di hari kiamat nanti diputuskan bahwa 30 agustus 2011 adalah Hari Raya Fitri, siapa yg mau menanggung dosa ratusan juta muslim Indonesia yg berpuasa pada Hari itu ??? :(

    • Tidak ada yag berdosa mas, kalau yang mereka lakukan itu ijtihad dan syar’i, tapi sekali lagi dengan hisab itu tidak syar’i, melainkan ada orang yang berani disumpah melihat hilal….

    • Kalau ternyata di akhirat nanti diputuskan 31 agustus 2011 adl 1 syawal, siapa pula yg nanggung?
      #tidak ada manfaat berdebat kusir, sebaiknya dipahami saja argumen masing2.

  215. sekarang bnyak negara sudah lebaranan.so ya sudahlah. yang nanggung dosa adalah ulil amri kan, juga yang meyakinkan dan memaksakan pendapatnya ke ulil amri tersebut. okelah

  216. to bapak djamaluddin,perbedaan itu biasa.jdi kita harus slg menghormati…………Saya tahu bapak ahli dalam hal ini.tapi hal tersebut (1 Syawal) sangat berhubungan dgn masalah kemantapan hati.wajar donk kalo beda,…..

  217. janganlah tendensius ke satu ormas saja dalam hal ini ke (M)… lihat aja negara2 lainnya. mereka pun pastinya ahli dan alatnya lebih canggih dari indonesia. dan sebagai muslim n mu’min mestinya punya sandaran syar’i dong tentang penetapan 1 ramadhan n 1 syawal ini. ada hadits Rasulullah Saw yg menyatakan walaupun hanya 1 org saja yg berani disumpah sudah melihat hilal,maka itu sah.(Hr. Abu Dawud).

    • benar mas, kalau tdk salah tahun-tahun sebelumnya justru cakung yg dijadikan patokan, eh pas gikliran ada org lihat hilal di Cakung dan Jepara malah ditolak, alasanya ini dan itu …kakkakkkakkkkakkak… lucu kan ???

    • Penulis diatas memojokan ormas M karena ormas itulah yg bertentangan dengan cara atau hasil penelitaian mereka. Makanya gak perlu itu hisab, satukan pendapat sesuai dg hadits nabi mengikuti ru’yah, untuk penetapan romadhon dan Syawal, Ibadah haji.

      • yg rukyat juga gx diakui kalo gx sesuai dg ketentuan penafsirannya, ntuh contohnya yg di cakung n jepara kaga diakui. Maunya opo sih..?

  218. Ass. Pak thomas sy gak mihak salah satu ormas, hari raya skrang ktnya tgl 31/8/2011, tp yg aneh, arab saudi udah lebaran tgl 30/8, khan arab saudi mulai puasa sama dng indonesia tgl 1/8/2011, hrsnya indonesia puasa tgl 2/8/2011, gimana ini, trus terang saya sempat puasa tp tak batalin?

  219. Menurut saya, kriteria muhammadiyah itu lebih tepatnya wujudul qamar (moon) bukan wujudul hilal (crescent). Karena yang namanya hilal itu adalah cahaya tipis berbentuk bulan sabit yang pertama kali muncul setelah bulan baru akibat pantulan cahaya matahari yang diterima manusia saat ba’da maghrib. Artinya, wujud-nya hilal itu ya yang visible. Secara perhitungan bisa saja dikatakan telah mengalami konjungsi. Tetapi dalam derajat tertentu, tidak visible. Nah, dalil syar’i menunjuk pergantian bulan (syahru, month) itu wujudul qamar (moon) atau wujudul hilal (crescent)?

  220. @awam
    Agar bisa merukyat bulan, jarak bulan dan matahari minimal 6,4 derajat dan beda antara tinggi bulan dan matahari dari ufuk minimal 4 derajat. Sampai saat ini di dunia tidak ada teleskop yang mampu melihat hilal dengan ketinggian di bawah 4 derajat. http://www.tutiempo.net/en/moon/phases_8_2011_S.htm

  221. komennya pake metode TBC mereka (ini seandainya jika yang pake HIsab adalah golongan non Wahabi)—

    “Hilal bisa dibawah 2 derajat itu TAHAYUL yang percaya TAHAYUL itu Musryik.”

    “Hisab tak pernah dicontohkan nabi, Itu perbuatan BID’AH semua BID’AH itu sesat dan semua yang sesat masuk neraka”

    “Secanggih-canggihnya hitungan matematis tak ada yang 100% akurat, Merupakan KHUROFAT bagi yang percaya bahwa hasil hitungan akurat 100%, Coba berapa konstanta Phi yang paling akurat”

    • hakkkakkakk….
      masih aja memaksakan pikiran ne….. (wong jowo omong mekso.. wagu..)

    • Tambahan lagi, melihat hilal di Indonesia itu bisa jadi bid’ah, gak ada contohnya dari nabi. Lihatlah hilal di Medinah !

    • @irwan: koq bilang2 orang goblok,, anda lebih goblok lagi, di jaman Rasulullah gak ada Internet,, berarti itu bid’ah….
      Kuno sekali cara anda…
      Itu jadwal sholat, pake apa??? hisab kan,,
      kalo emang bid’ah, teropong dulu tuh matahari ma bulan, baru sholat, jangan pake jadwal sholat,,
      ini koq bilang2 bid’ah tapi gak konsisten…..

    • @rendah hati, yg ga kebalik tu….
      biasanya omongan mencerminkan tingkat pendidikannya…. (biasanya lo)
      kayaknya dengan kata2 anda tu dah tercermin mana yg lbh g*bl*g :D :p

  222. Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

    “(Waktu) puasa itu adalah ketika kalian berpuasa dan (waktu) Idul Fitri adalah ketika kalian beridul Fitri dan (waktu) Idul Adha adalah ketika kalian Beridul Adha.”
    Hadits ini tidak menyinggung sama sekali tentang ru’yah atau hisab. Tapi ia menegaskan bahwa puasa dan Idul Fitri serta Idul Adha adalah ibadah jama’iyah (yang dilakukan secara bersama) umat Islam, sebagaimana yang dijelaskan maknanya oleh para ulama Hadist dan para fuqaha.(Shahih Imam Tirmidzi, Silsilah ash-Shahihah, Syaikh al-Albani, I/440 dan al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, II/ 9374-9375)

    Lengkapnya silahkan baca Menyatukan Idul Fitri Secara Syar’i Dalam Semangat Ukhuwah dan Persatuan Ummat:

    http://wahdah.or.id/

    Wallohu’alam.

  223. Bismillah…
    Wasshalaatu wassalaamu `alaa Rasuulillaah, wa ba`d:

    Standar penetapan awal Ramadhan dan Syawal itu adalah “Rukyatul Hilal (Melihat hilal)”

    sesuai sabda Nabi Saw..Shuumuu lirukyatihi wa afthiruu lirukyatihi… bukan “Wujud Hilal”,

    tidak ada dalilnya bahwa wujud hilal adalal standar menentukan awal Ramadhan/Syawwal. Karena

    idul fitri adalah perkara ibadah, maka ia seharusnya didasarkan pada dalil yg jelas…

    Ketika rukyat tidak bisa dilakukan sekalipun, Nabi Saw telah memberikan metode lain

    menghadapi problem ini, yaitu metode Ikmaal. Sebab lanjutan hadits abi Saw diatas berbunyi

    kurang lebih: “fa in gumma `alaikum fa akkmiluu Sya’baana tsalaatsiina yaumman…” (kalau

    kalian tak dapat merukyat karena mendung, maka genapkanlah bilangan Sya’ban menjadi

    tigapuluh hari). Nabi tidak lantas menyuruh menggunakan hisab, ataumemerintahkan untuk

    bertanya kepada ahli hisab.

    Betul bahwa umat Muhammad Saw kala itu adalah umat Ummi, sebagaimana sabada baliau: “Kami

    adalah bangsa yang Ummi, tidak membaca dan berhitung hisab”. Tapi tentu tidak semua mereka

    demikian. Perhatikanlah perkataan imam Ibnu Hajar di bawah ini dalam kitabnya Fathul Baari:

    “Orang-orang Arab disebut sebagai bangsa ummy (ketika itu) karena tulis-menulis adalah hal

    yang sulit bagi mereka. Allah—Subhânahu wata`âlâ—berfirman: “Dialah yang mengutus kepada

    bangsa yang ummy itu seorang Rasul dari kalangan mereka.” Hal ini tidak berarti di antara

    mereka tidak ada sama sekali orang yang bisa menulis dan berhitung. Hanya saja tulis-menulis

    bagi mereka tergolong sedikit dan langka. Yang dimaksudkan dengan hisâb dalam hadits di atas

    ialah perhitungan bintang dan peredarannya. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hal

    ini kecuali sedikit saja. Maka Nabi menetapkan hukum puasa dan ibadah lainnya dengan rukyat

    hilal guna mengatasi kerumitan perhitungan bintang bagi mereka. Penetapan hukum (dengan

    hilal) ini tetap berlaku dalam masalah puasa walau setelah itu ada orang yang mengerti

    masalah hisab. Bahkan konteks hadits mengisyaratkan penolakan penggunaan metode hisab sama

    sekali. Hal ini dijelaskan dengan sabda beliau: “Jika terjadi mendung, maka genapkanlah

    bilangan (bulan Sya`ban) tiga puluh hari”, beliau tidak menyabdakan, “Tanyakanlah kepada

    ahli hisab?”

    Ayat-ayat yang menegaskan bahwa matahari dan bulan telah ditetapkan bagi keduanya manzilah-

    manzilah untuk mengetahui perhitungan tahun dan hisab (waktu), telah dikhususkan oleh hadits

    di atas. Nabi pasti tahu akan ayat-ayat tentang matahari dan bulan tersebut, tetapi dalam

    menentukan awal puasa dan lebaran Nabi Saw menyuruh kita menggunakan rukyat.. dan siapakah

    yang paling memahami makna ayat Al-Quran selain Nabi Saw?!

    Selain itu Allah Swt berfirman dengan tegas: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.

    Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah ‘mawaaqiit’ (tanda-tanda waktu) bagi manusia dan (bagi

    ibadat) haji” (Al-Baqarah: 189). Menjelaskan hal ini Imam Ath-Thabari berkata: “Ia adalah

    mawaaqiit bagi manusia, menjadikannya untuk (ketentuan awal) puasa kaum muslimin dan awal

    Idul Fitri mereka, untuk manasik dan haji mereka, masa iddah istri-istri mereka, tenggat

    waktu hutang mereka…”

    Menurut saya tidak penting ketepatan akurat atau tidaknya hasil hisab dalam menentukan awal

    Ramadhan/Syawal ini… Yang terpenting adalah persatuan umat…. Persatuan itu hukumnya

    wajib, sementara hari raya itu Sunnat, tentu tidak layak mendahulukan Sunnat dan mengabaikan

    yang wajib… Jikapun seandainya hasil rukyat salah/tidak akurat, tidak akan ada yang

    berdosa… karena prosedur penetapan telah dijalankan sesuai perintah Nabi Saw. Bahkan salah

    pun akan mendapat pahala satu, karena hal ini termasuk perkara ijtihadiyah….

    Nabi Saw pernah bersabda kepada Aisyah: “Kalaulah kaummu tidak hadiitsu `ahdin bil islaam

    (baru masuk Islam), niscaya aku akan mengubah bangunan ka’bah sesuai dengan pondasi yang

    dibangun oleh Ibrahim….” Tetapi Nabi tidak melakukannya demi supaya tidak terjadi

    perpecahan..dan mempertahankan persatuan umat. Padahal pondasi ka’bah yang sekarang tidak

    seratus persen benar/tidak sesuai dengan yang sebenarnya, yang dibangun oleh nabi Ibrahim As

    dahulu…Para shahabatpun tidak melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Nabi Saw.

    Sebaliknya jika hasil hisab Salah, tentu lain masalah. Selain hasil yanKarena tidak hanya

    salah hasil tapi juga menyalahi perintah Nabi Saw… Dan kalaupun benar, tetap saja

    menyalahi perintah Nabi Saw, karena beliau memerintahkan menggunakan metode rukyat….

    Menggunakan hisab dalam hal ini bukanlah ijtihad, karena kaidah fikih mengatakan: “Tidak ada

    ijtihad pada hal-hal yang ada nasnya…”

    Hadits Kuraib juga sering menjadi alasan untuk tetap berbeda dan mengajak orang untuk tetap

    berbeda. Berikut bunyi haditsnya:

    “Aku pernah pergi ke negeri Syâm dan hilal Ramadhan terbit ketika aku berada di sana. Aku

    melihat hilal pada malam Jumat. Kemudian aku datang di Madinah pada akhir bulan (Ramadhan).

    Lalu Ibnu `Abbâs bertanya kepadaku: “Kapan kalian melihat hilal?” Aku menjawab: “Kami

    melihatnya pada malam Jumat.” “Engkau yang melihatnya sendiri?” Tanya Ibnu `Abbâs. “Ya, dan

    dilihat juga oleh orang-orang, mereka berpuasa dan Mu`awiyah pun berpuasa”, jawabku. Lalu

    Ibnu `Abbâs berkata: “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami akan berpuasa

    hingga menyempurnakan (bilangan Ramadhan) tiga puluh hari atau (29 hari jika) kami melihat

    hilal.” Lalu aku berkata: “Tidakkah cukup bagi Anda rukyat Mu`awiyah.” Ibnu `Abbâs menjawab:

    “Tidak, beginilah yang diperintahkan kepada kami oleh Rasulullah—Shallallâhu `alaihi

    wasallam.” [HR. Muslim].

    Memang sebagaian ulama berpendapat bahwa rukyat setiap negeri menjadi dasar penetapan awal

    bulan bagi negeri itu sendiri berdasarkan hadits di atas. Akan tetapi mayoritas ulama

    menjawab hadits ini, bahwa hadits ini khusus bagi orang yang berpuasa mengikuti rukyat

    negerinya, kemudian ia mendapatkan informasi di tengah-tengah bulan puasa bahwa di negeri

    lain orang-orang melihat hilal lebih dahulu satu hari. Dalam keadaan seperti ini ia harus

    meneruskan puasanya bersama penduduk negerinya hingga menyempurnakan (bilangan Ramadhan)

    tiga puluh hari atau (29 hari jika) penduduk negerinya melihat hilal (tanggal satu pada sore

    hari ke-29 itu). Tidak ada di dalam hadits itu anjuran untuk tetap berbeda dalam satu

    negeri.

    Yang ideal menurut saya adalah “Rukyat Global”, dimana ketika ada salah satu negeri Islam

    yang berhasil merukyat hilal, maka negeri-negeri Islam yang lain harus mengikut. Terutama

    masalah (penyatuan awal puasa) ini menjadi mudah di zaman ini (dengan majunya media

    informasi dan komunikasi). Akan tetapi kalaupun hal ini belum bisa terwujud, karena

    dibutuhkan perhatian yang serius dari seluruh negeri-negeri Islam, minimal kita jangan

    berbeda dalam satu negeri. “Tak elok kelihatannya dan tak nyaman rasanya.”

    Selain itu penting juga untuk melihat siapa yang memiliki wewenang menentukan itsbat awal

    Ramadhan/Syawal… Wewenang adalah milik pemimpin, sesuai perintah Al-Quran dan Sunnah yang

    mewajibkan untuk menaati pemimpin…. Siapa saja para sahabat Nabi boleh merukyat … tetapi

    tetap saja yang menentukan akhirnya adalah Nabi Saw… Begitu juga di Negara kita, siapa

    saja boleh merukyat dan meng-hisab, tetapi tetap saja pemerintah yang berwenang untuk

    menentukan….bukan pribadi atau golongan tertentu…. apalagi umat Islam wajib mengikuti

    pemimpin selama dalam hal kebaikan dan kemaslahatan umat, bukan dalam hal maksiat…

    Maka wewenang adalah milik Pemerintah,,,, dan tidak wajib, bahkan termasuk ketidaktaatan

    kepada perintah Allah jika tidak menaati pemerintah selama mereka memerintahkan kepada

    kemaslahatan dan kebaikan…. Mengikuti keputusan Muhammadiyah dalam hal ini adalah

    mengikuti keputusan Ormas yang tidak berwenang memberi keputusan untuk ummat dalam hal ini, karena Muhammadiyah bukanlah Ulil Amri (Pemimpin)…

    Saya menyampaikan hal ini bukan berarti anti Muhammadiyah atau Hisab… Saya justru

    simpatisan Muhammadiyah. Saya hanya tidak ingin “ngototnya” para petinggi Muhammadiyah

    menjaga gengsi mereka menjadikan Organisasi ini dijauhi dan tidak disukai oleh sebagaian

    warga non Muhammadiyah…serta mempertajam perbedaan terutama antara warga NU dan

    Muhammadiyah… Saya tidak ingin kebahagiaan beridul fitri harus terganggu gara-gara

    perbedaan ini.

    Muhammadiyah berarti nisbat ke-Pengikut-an kepada Muhammad Saw, maka seharusnya Muhammadiyah

    harus mengikuti Nabi Muhammad dalam hal ini…. dan Nabi Muhammad Saw tidak menggunakan

    Hisab tapi Rukyat….. “In uriidu illal ishlaaha mastatha’tu, wamaa taufiiqi illaa billaahi

    ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.”

    • Koq tidak disinggung-singgung hadis-hadis yang dari Ibnu Umar ya….. yang ada “faqduru lah” atau hadis-hadis yang menjelaskan bahwa dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari….. Di samping ada hadis lain yang dibaca Muhammadiyah, ternyata satu hadis yang sama pun bisa difahami berbeda……

    • Sayangnya rukyat yg sudah bisa melihat hilal ditolak dgn alasan hisab…, apakh tidak ironi. Maaf klo salah krn saya masih awam

  224. Alhamdulillah

    bertambah pengetahuan lagi, sukron

    http://www.pandawarepo.com

  225. Pak Thomas, mohon tanggapi ya pemahaman saya ini, dimana kelirunya:

    1. Qamar (Ar) Moon (En): Benda langit yg menjadi satelit bumi, bentuknya selamanya BULAT seperti BOLA (tidak pernah berbentuk sabit, setengah lingkaran, atau bundar ceper/cakram). Ia tidak memancarkan cahaya, melainkan hanya memantulkan cahaya matahari. Orang Indonesia menyebutnya Bulan.

    2. Syahr (Ar) Month (En): Periode waktu synodic Qamar/Moon mengelilingi bumi hingga ke titik semula. Orang Indonesia menyebutnya Bulan juga (mis: bulan Mawlid).

    3. Hilal (Ar) Crescent (En): Cahaya matahari yang dipantulkan Qamar ke arah bumi dan nampak terlihat berbentuk Sabit. Orang Indonesia menyebutnya Bulan juga (ditambah ‘sabit’).

    4. Badr (Ar) Full Moon (En): Cahaya matahari yang dipantulkan Qamar ke arah bumi dan nampak terlihat berbentuk Cakram. Orang Indonesia menyebutnya Bulan juga (ditambah ‘purnama’).

    Nah, empat hal yang dalam Bahasa Arab dan Inggeris disebut dengan istilah berbeda itu, dalam Bahasa Indonesia semuanya disebut dengan istilah yang sama: Bulan (dengan tambahan sabit atau purnama).
    Ini yg membuat banyak awam (termasuk muballigh yg awam astronomi) sering saling berdebat dengan istilah yg rancu.

    Kasus Muhammadiyah:
    Kalau posisi Qamar/Moon sangat rendah, ya gak bakalan ada Hilal/Crescent (cahaya matahari yg dipantulkan qamar ke arah bumi dlm bentuk sabit). Jadi sebenarnya yg sudah ada di atas ufuk adalah Qamar/Moon, bukan Hialal/Crescent. Jadi bukan “wujudul Hilal” melainkan “wujudul Qamar”.

    Hemat saya penggunaan istilah “wujudul Hilal” (padahal “wujudul Qamar”) adalah penyesatan opini umat, agar tetap terkesan berpegang pada hadits, padahal jelas obyeknya sudah bukan Hilal lagi.

    Juga problem utama mengapa hari raya berbeda tidak terletak pada penggunaan METODE (Hisab maupun Rukyah) karena kedua metode sudah sangat akurat dan saling mendukung. Problem ada pada APA yang mau dihisab dan yang mau dirukyat, QAMAR atau HILAL!

    Repotnya, Muhammadiyah menyamakan Qamar dengan Hilal. Padahal Qamar selamanya berbentuk bulat dan tak kan dapat dilihat mata manusia karena tak memancarkan cahaya.
    Beda dengan Hilal atau Badr, karena memang cahaya matahari yg dipantulkan Qamar maka dapat dilihat dengan mata.

    Saran saya, dalam komunikasi dan sosialisasi:
    a. pertajam pengertian Qamar dan pengertian Hilal.
    b. jelaskan perbedaan Qamar dan Hilal.

    Supaya umat tidak lagi terbingungkan dengan istilah “wujudul Qamar” yang disebut sebagai “wujudul Hilal”.

    Muhammadiyah pun harus jujur mengatakan, yg mereka jadikan patokan adalah “wujudul Qamar”, bukan “wujudul Hilal”!

    Terima kasih

  226. aslm sebaiknya di carikam solusi atas perbedaan 1 syawal pada tahun2 yang akan datang..berpikirlah untuk slalu mencari penyelesaiaan pada suatu permasalahan apalagi ini adalh permasalah ummat yang akan melahirkan sikap emosional dan fanatisme pd kelompok2 tertentu. sangat tak baik jika pada hari yang baik ini hati kita di selimuti prasangka buruk..apalagi sampai emosional dan akan melahirkan perpecahan…dari kasus ini tampak resistensi pada pemerintah dan fanatisme pada kelompok masing2… prof sebaiknya lebih banyak sosialisasi dr pada hanya menangapi pernyataan sampai menimbulkan persepsi prof dianggap provokator…wassalam

  227. Wah Prof tulisan anda sangat menyudutkan salah satu ormas, sama seperti perkataan dalam sidang isbat anda semalam dengan menyudutkan ormas tertentu. Maaf prof yang pintar ilmu falaq bukan hanya anda. ormas yang anda sudutkan juga mempunyai orang2 ahli falaq. Walau pun di dunia maya ini orang bebas mengepresikan bukan berarti anda boleh menyudutkan, anda seorang akedemis tp tidak mencerminkan itu. Saya bukan seorang warga ormas yang anda sudutkan.

  228. Dalam ilmu Aqoid ada 2 dalil yang itu dalil Aqli dan naqli. Menurut sepengetahuan kami metode hisab itu “dalil’aqli digunakan sebagai obor ditangan untuk penunjuk jalan … dan rukhyat itu dalil naqli digunakan sebagai otak dan mata dalam menentukan arah dan tujuan”

  229. Sampai tahun depan pun nggak akan beres masalah penentuan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.
    Atau mungkin muslim Indonesia akan “dipaksa” berpuasa 30 hari penuh setiap tahunnya gara-gara Professor yang terhormat. Selamat kpd muslim Indonesia, kita tidak akan pernah seragam, jangankan dengan muslim di negara lain, di negara sendiripun tidak bisa bersama-sama.

  230. Mungkin ini bisa jadi bahan Pertimbangan sementara terkait Metode Rukyat & Hisab yg menjadi Pembicaraan ….

    http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-365-detail-apa-permasalahan-ruyat.html

  231. Thanks Prof atas ilmu nya….
    Sukses buat anda!!!

  232. saya jadi bingung, ya allah tunjukan kami jalan yang benar, maaf saya mengatakan jalan yang benar bukan jalan yang lurus, karena kalau ikut jalan yang lurus kita tidak akan sampai rumah, jalan berkelok-kelok semua.
    saya membaca buku-buku tentang astronomi kalau bulan sideris lamanya 27,5hari dan bulan sinodis 29,5 hari (dari bulan baru ke bulan baru lagi), saya jadi pusing, saya mau dong ikut di kursus bagaimana cara menentukan hilal

  233. lucu jaman modern kok malah maen tropong2an,

  234. Nabi saw dalam beberapa hadisnya menyatakan bahwa umur bulan itu 29 hari atau terkadang 30 hari. Jadi orang yang berpuasa 29 hari dan berlebaran besok adalah sah karena sudah berpuasa selama satu bulan. Secara astronomis, pada hari ini, Senin 29 Agustus 2011, Bulan di langit telah berkonjungsi (ijtimak), yaitu telah mengitari bumi satu putaran penuh, pada pukul 10:05 tadi pagi. Dengan demikian bulan Ramadan telah berusia satu bulan. Dalam hadis-hadis Nabi saw, antara lain bersumber dari Abu Hurairah dan Aisyah, dinyatakan bahwa Nabi saw lebih banyak puasa Ramadan 29 hari daripada puasa 30 hari. Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

    Mengenai dasar penetapan Idulfitri jatuh Selasa 30 Agustus 2011 adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria (1) Bulan di langit untuk bulan Ramadan telah genap memutari Bumi satu putaran pada jam 10:05 Senin hari ini, (2) genapnya satu putaran itu tercapai sebelum Matahari hari ini terbenam, dan (3) saat Matahari hari ini nanti sore terbenam, Bulan positif di atas ufuk. Jadi dengan demikian, kriteria memasuki bulan baru telah terpenuhi. Kriteria ini tidak berdasarkan konsep penampakan. Kriteria ini adalah kriteria memasuki bulan baru tanpa dikaitkan dengan terlihatnya hilal, melainkan berdasarkan hisab terhadap posisi geometris benda langit tertentu. Kriteria ini menetapkan masuknya bulan baru dengan terpenuhinya parameter astronomis tertentu, yaitu tiga parameter yang disebutkan tadi.

    Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah:

    Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan,
    Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan hisab.

    Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem:

    Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),
    Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat merukyat,
    Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik, yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4) faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat.

  235. kami umat yang awan cukup setia pada pemegang otoritas spiritual atau pun pemerintah yang bijak .jika berbeda biasa jika sama juga lauar biasa. yang kami harap bukan beda ataupun sama .tapi apa yang kami laksanakan yaitu bisa menjadi tujuan yang muttaqin dan berlandaskan perintah rosul rosul terdahulu,akhirnya kami bersukur kalau peristiwa ini menjadi perhatian para cerdik pandai dan pemerintah…

  236. Yang ngerti ilmunya aja dimaki maki, mungkin sebentar lagi keluar kata kata kafir hehehehe…..maju terus Prof….kemarin kemarin kan kaum ini merasa paling banyak Doktornya :), sebagai orang yg netral mungkin saran aja Prof memperbaiki gaya bahasa komunikasi, tapi yaa saya paham ilmuwan itu seperti …Jjadi KAUM SANG PENCERAH ini memang kudu DICERAHKAN…..mungkin mataharinya sudah mo redup kalee :)….pisssss

  237. tadi kami mengadakan shalat ‘Id di depan perguruan Muhammadiyah Cikampek dihadiri sekitar 1000 orang. Yang memukau, kami dibantu pengamanannya oleh Banser-NU, demi Allah tanyakan saja kpd pak Emay (ketua GP ansor merangkap ketua KPU kab. Karawang), bahkan 2 th yg lalu yg memimpin takbirannya salah seorang tokoh muda NU. Artinya di akar rumput kalau gak dipanas-panasin sama tokoh2 di atas seperti orang2 yg berebut mik semalam pd waktu sidang Isbath yg bahasanya semuanya menyadur dari pak Thomas-seperti direkayasa saja?, niscaya di akar rumput sangat kondusif ukhuwah Islamiyah terasa, kami pun sbg warga Muhammadiyah tdk ada yg berani makan dan minum secara bebas. Itulah persaudaraan yg sesungguhnya, dg sesama saudara meskipun berbeda khilafiyah tetap akrab. Bisakah bapak2 yg diatas yg antusias memegang mik serta pak Thomas Jamaludin meniru kami, di sini di Cikampek???

    • kita syukuri pemimpin dan penguasa bukan Wahabi sehingga masih kondusif spt diatas, harus berhati2 ketika Wahabi seperti di Saudi memegang pimpinan, keras dan kejam membunuhi para ulama yg berbeda haluan, baca referensi buku sejarah berdarah sekte wahabi

      • saya tahu maksud anda, persepsi wahabi anda sama dg persepsi ahlusunnah wal jama’ah anda, yg sangat berbeda dg persepsi wahabi serta ahlus sunah waljama’ah saya. gx bakalan nyambung bro… yg jelas dunia ini saling tarik menarik, jika kita elegan yg lain pun simpatik, meskipun beban Muhammadiyah amat berat krn sejak awal sdh dijustifikasi oleh sekelompok “ulama tertentu” sbg kafir,sesat, bukan Ahlusunah waljamaah dan pengikut wahabi (yg konotasi wahabi dinisbatkan kpd teror).

  238. http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=37929

    bukan provokasi atau apa, cuman ingin bertanya, rakyat islam indonesia sekarang dilanda keragu – raguan dalam hari 1 syawal. Dari lampiran link yang saya lampirkan di atas, bahwa hanya 4 negara saja yang 1 syawal hari rabu, yaitu oman, indonesia, selandia baru dan afrika selatan. Yang kita ketahui kenapa ada perbedaan yang begitu besar? sampai 1 hari? padahal jarak kita antar negara lain tak beda hanya 1 jam/2jam contoh malaysia/singapura, dan dari saudi pun kita berbeda 4 jam? bagaimana itu bisa terjadi? mohon masukannya mas thomas makasih. saya bukan muhammadiah tapi kami pun ragu, dan saya yakin banyak non muhammadiah yang ragu juga, makasih

  239. yang jelas di sini kita saudara…. apapun organisasi nya, ISLAM agamanya MUHAMMAD Rosulnya ALLAH tuhanya… kita semua harus saling banyak belajar dan belajar… mari kita saling hormat menghormati antar sesama MUSLIM, tidak perlu saling salah dan menyalahkan, apa yang kita percayai dan yg kita yakini itu lah yg kita jadikan pedoman. mohon maap lahir dan bathin wahai saudara muslim ku……..

  240. Tapi, kenyataannya pada malam sebelum sidang Isbath sudah ada 2 daerah yang menyatakan melihat bulan yaitu Daerah Jakarta Cakung dan Jepara tetapi kenapa tidak dipakai untuk disumpah sebagai dasar penetapan 1 Syawal 1432 H dan kenyataannya Negara Tetangga kita Singapura dan Malaysia,serta Mesir ,UEA dan Arab SAudi menetapkan 1 syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011.

  241. Sangat boleh jadi, Idul Fitri di Indonesia tahun ini berbeda lagi. Padahal di kebanyakan negara muslim lainnya tidak terjadi. Entahlah, kenapa begitu sulit menyatukan dua pendapat mayoritas itu disini. Padahal keduanya sama-sama bisa menghisab dan sama-sama bisa merukyat…

    Sulitnya menyatukan dua pendapat ini, seakan-akan menjadi cermin atas ego partisan yang masih begitu kuat di antara golongan-golongan umat Islam. Padahal, mestinya solusinya tidaklah sulit untuk dipecahkan. Masalah sebenarnya bukanlah ’tidak bisa’, melainkan ’tidak mau’ saja. Dengan kata lain, jika kedua pihak yang berbeda itu ’mau’ semua ini akan selesai dengan ending yang sangat melegakan umat yang sudah lama terombang-ambing dalam kebingungan yang tidak perlu ini.

    Masalah utamanya tidak lebih dari sekedar ’kesepakatan definisi’ tentang datangnya ’bulan baru’ alias penampakan hilal. Dalam hal ini adalah bulan Syawal. Bahwa, dalam kalender Hijriyah yang berpatokan pada putaran Bulan terhadap Bumi, satu bulan disandarkan pada lamanya Bulan mengitari Bumi satu putaran. Dari titik A ke titik A lagi, dari horison ke horison lagi, yang lamanya 29,5 hari.

    Periode satu putaran Bulan terhadap Bumi itu terlihat oleh manusia dari permukaan Bumi sebagai munculnya Bulan dalam bentuk Bulan sabit yang sangat tipis, kemudian semakin menebal, dan mencapai Bulan Purnama, lantas menjadi berbentuk sabit lagi sampai tenggelam.

    Maka, datangnya bulan baru (dalam hal ini Syawal) selalu ditandai oleh munculnya bulan sabit alias hilal di ufuk barat, yang tampak pada saat matahari tenggelam di hari terakhir Ramadan. Perbedaan muncul dikarenakan adanya prinsip yang berbeda.

    Kelompok pertama berpendapat, bahwa jika hilal sudah berada di atas horison alias diatas nol derajat garis datar Bumi, itu sudah menunjukkan datangnya bulan baru. Berapa pun ketinggian hilal, pokoknya sudah diatas nol derajat, itu artinya bulan Ramadan sudah habis, dan tidak boleh berpuasa lagi. Esok hari adalah 1 Syawal.

    Kelompok kedua berpendapat, bahwa untuk bisa disebut sebagai bulan baru hilal itu harus ’terlihat’. Karena ada hadits Nabi yang menyebutkan bahwa, barangsiapa melihat hilal maka hentikanlah puasa Ramadan. Dan jika hilal belum terlihat, maka genapkanlah puasanya menjadi 30 hari.

    Masalahnya memang, satu bulan Hijriyah itu berumur 29,5 hari. Sehingga kadang, kita berpuasa 29 hari, dan di waktu lain kita berpuasa 30 hari karena menggenapkan sampai terbenamnya matahari. Kita akan berpuasa 29 hari, jika 0,5 harinya itu sudah muncul di awal Ramadan. Dan kita berpuasa 30 hari, jika 0,5 harinya hadir di akhir Ramadan.

    Untuk tahun ini, sebenarnya 0,5 hari itu sudah muncul di awal Ramadan. Sehingga, di akhir Ramadan ini hilal sudah berada di atas horison meskipun tidak sampai 2 derajat. Bagi kelompok pertama, ini dianggap sudah cukup sebagai bukti bahwa bulan Syawal sudah datang. Karena itu, puasanya hanya 29 hari. Dan tanggal 30 sudah shalat Idul Fitri.

    Namun, bagi kelompok kedua, belum cukup hitungan di atas kertas itu, karena bisa saja salah. Karena itu harus dibuktikan dengan ’melihat’ munculnya hilal di ufuk Barat. Jika tidak terlihat, keputusannya adalah menggenapkan puasa menjadi menjadi 30 hari. Tetapi jika terlihat, mereka akan mencukupkan puasanya hanya 29 hari. Dan kita shalat Id bersama. Oh, betapa indahnya…

    Sayangnya, kemungkinan besar, hilal tidak akan terlihat karena bulan sabit itu demikian tipisnya. Ia akan menampakan diri di atas horison tidak sampai 2 derajat. Dari pengalaman para ahli astronomi, bulan sabit baru akan tampak oleh mata atau bahkan oleh peralatan jika berada di ketinggian minimal 4 derajat. Karena itu, di sejumlah negara dibuat kesepakatan, bahwa yang disebut bulan baru itu adalah jika hilal sudah setinggi minimal 4 derajat di atas horison.

    Nah, selama kedua belah pihak bersikukuh dengan pendapat masing-masing tentang datangnya bulan baru, maka ’masalah yang tidak perlu’ ini akan terus ada. Di Mesir, perbedaan ini dengan sangat mudah diatasi oleh pemerintah. Yakni, dengan menyerahkan kepada ahlinya. Masing-masing golongan yang berbeda tidak boleh melakukan perhitungan dan rukyat sendiri-sendiri, melainkan diserahkan kepada lembaga astronomi milik negara.

    Para ahli Astronomi itulah yang menghitung, dan kemudian merukyat di lapangan dengan menggunakan peralatan yang mereka miliki. Hasilnya diserahkan kepada lembaga fatwa yang dikenal sebagai Darul Ifta’ yang berisi para ahli fiqih dari Universitas Al Azhar. Maka, sidang isbat yang terjadi sangatlah singkat dan tidak ruwet. Cukup melakukan cross-check hasil pengamatan lembaga astronomi dari berbagai wilayah, dan kemudian melegitimasi. Hasilnya diumumkan oleh pemerintah, dan ditetapkan sebagai keputusan resmi yang harus diikuti oleh seluruh warga.

    Di Indonesia belum ada ketegasan dan kesepakatan seperti itu sehingga masalahnya tidak selesai-selesai. Tapi kita semua berharap, mudah-mudahan perbedaan ini tidak akan berlarut-larut ke masa depan. Tentu saja seiring dengan kedewasaan kita dalam beragama. Bahwa berbeda itu memang membawa rahmat, jika digunakan untuk kemaslahatan umat. Tetapi, menjadi mudharat jika umat menjadi terpecah belah dan tidak nyaman dalam beribadah. Allah tidak pernah mempersulit hamba-hamba-Nya dalam beribadah. Ambillah yang mudah, jangan dipersulit…

    QS. Al Baqarah (2): 185
    (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan maka (berpuasalah) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki KEMUDAHAN bagimu, dan TIDAK menghendaki KESUKARAN bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

  242. untuk pak thomas, karena kemarin masih belum di atas dua derajat, jadi hari ini pak thomas bisa tolong melihat lagi nanti sore sehabis magrib hilal sudah berada di ketinggian berapa? dan mohon untuk dipublikasikan ke rakyat Indonesia supaya rakyat tahu bahwa besok benar – benar bulan syawal… trims
    supaya dapat berlaku adil saja, hari ini ditunggu beritanya hilal sudah berada di ketinggian berapa.trims

  243. Buat yang komentarSudahlah ga usah saling menyalahkan,mau negara lain hari ini lebaran ya silahkan yang mau besok silahkan gitu aja kok repot, ngurus diri sendiri aja ga becus apalagi mau ngurusin lebaran orang lain

  244. bapak professor,gelar anda memang bagus tp itu cuma pemberian manusia bukan pemberian ALLAH SWT,tolong bapak kalau berbicara jangan memperkeruh suasana dengan menjudge suatu ormas tertentu,perbedaan dalam islam itu sudah biasa dan menjadi rahmat karnanya,anda berbicara seolah-olah paling ahli dan paling tau tp perlu anda ketahui hanya ALLAH SWT yg maha tau segala-galanya,muhammadiyah punya alasan tertentu dan NU jg demikian jd biarkanlah mereka sama-sama menjalankan keyakinannya,islam itu akan terpecah menjadi 73 bagian tp cuma satu bagian yg masuk surga,itu kata rasulullah,kita tak tahu Muhammadiyah atau NU yg masuk surga atau kedua-duanya tertolak wallahu’alam bissawab.

  245. dari dulu muhammadiyah itu sudah banyak salah jalan,titik!!!katanya ormas modern tp kok alergi pake toeri modern, membid’ahkan org padahal banyak bid’ah sendiri yang dijalankan, spt cara trwh yang dilakukan setelah isya’,pdhl rosul trwhnya tengah malam,apa itu jg gak bid’ah?!kalo mau murni kayak rosul ya tiap hari pake jubah,surban,imamah,trwh tengan malam,kyk rosul gitu..trs pergi haji ya jangan naik pesawar,soalnya rosul nggak naik pesawat waktu itu,apa bukan bid’ah itu?persis yang saudara dengan muhammadiyah aja lebih maju dan terbuka terhadap perubahan..dasar kepala batu!

    • iya yah dasar organisasi. bid’ah, jaman rosul gx ada organisasi, makan harus dg kurma, kendaraan pake unta-pakai bhs arab lagi. segala bikin sekolah ama rumah sakit segala, kalau mo mencontoh Nabi, orang2 muhammadiyah hrs punya istri lebih dari satu, bawa pedang, dasar muhammadiyah kelompok sesat sesesat-sesatnya. sholatnya gx pakai ushalli, qunut shubuh, orang mati kaya anjing gx ditahlilan, itu kan contoh Nabi..!!! nabi juga shlatnya pakai ushalli, siti Khadijah wafat ditahlili, banyak baca kitab dong…

    • WOOOOOOOOOI, pak propesor nya MANAAAAAAAAAAAAAA, kasi jawaban dong buat tanggapan kita, knapa kita beda sendiri lebarannya? knapa sumpah orang2 yang lihat hilal itu di tolak padahal nabi nggak pernah menolak sumpah arab badui yang menyatakan melihat hilal? Ayo dong pak propesor, kami tunggu kebesaran hati anda dan jawaban ilmiah anda untuk menjelaskan masalah ini, biar kami tau dan makin yakin dengan kualitas ilmu astronomi panjenengan, matur nuwun

    • sebetulnya muhammadiyah terpercik ludah sendiri, banyak bidah dijalankan dan juga taklid dg pemimpin2nya yg bisa salah memberikan fatwa

  246. yang ingin saya tanyakan APAKAH ANDA YANG BERANGGAPAN 1 SYAWAL JATUH HARI RABU 31 AGUSTUS berarti pula menyalahkan pelaksanaan shalat Id di Masjidil Haram yang terlakasana pada hari ini, selasa 30 Agustus.2011? MOHON JAWABAN DAN PENJELASAN.

  247. ini mah sudah basi…
    (saling menyalahkan pihka lain tanpa ada diskusi yang terbuka dan komprehensif)
    pak prof sekolahnya dibiayai sama pemerintah….
    hidupnya juga dibiayai sama pemerintah….
    diberi gelar professor riset malah, sama pemerintah….
    jadi wajar saja kalo membeo sama pemerintah…

    ga’ usalah pak bikin makalah panjang Lebar buat menegaskan kalo metodenya paling benar (yang ga’ menyentuh sama sekali dengan pokok persoalan). Kalo memang pake hisab kita sudah bisa menentukan pergantian bulan, ngapain mesti Pake hilal…
    Sama saja kita jihadnya pake pedang di zaman modern sekarang (maaf kalo saya naif)….
    Islam itu agama uiversal, berlaku sepanjang zaman,,,,
    kalo memang rukyat memiliki keterbatsan, kenapa harus kita pertahankan…
    masa’ mo disamakan status kita sama nabi…
    nabi mah dituntun sama wahyu…
    jadi tanpa hisab pun ga’ mungkin meleset perhitungannya itu bulan sudah berganti apa belum…
    di zaman sekarang teknologi astronomi sudah jauh lebih maju… (pak prof pasti lebih tahu itu)

    artikel yang bapak berikan di Link

    http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/25/menuju-kalender-hijriyah-tunggal/

    sama sekali tidak memberikan penejelasan yang memadai mengenai keunggulan metode imkan rukyat yang bapak propagandakan itu terhadap metode hisab…
    malah hanya terkesan sebagai pembelaan emosional dari seorang professor (kaki tangan pemerintah) yang seharusnya memberikan uraian yang mesti lebih dari itu…
    saya hanya mendapat kesan kalo pernyataan bapak bahwa “metode yang dipake Muhammadiyah sudah ketinggalan zaman” itu hanya pernyataan kosong yang g’ berdasar sama sekali…

    lagian ngapain para anggota MUI gaya -gayaan jadi astronomer sampe pake teropong yang dipake galileo 600 tahun lalu buat mengamati hilal, kalo seandaianya data astronomi (yang diperoleh dari alat yang lebih canggih dari itu) mengenai pergantian bulan sudah ada sama mereka… (kan bapak sendiri jauh lebih tahu kalo operator matematik dikategorikan sebagai alat dalam astronomi)
    emang nabi dan sahabat2 jaman dahulu pake teropong buat melihat hilal..?? kan tidak….
    lalu darimana dasarnya bapak sampe mengatakan kalo metode imkan rukyat itu lebih Bagus dari Metode HIsab..??
    tolong pak diberikan penjelasan yang lebih detail..
    bila perlu sekakian sama dokumennya yang bisa di download….
    soalnya saya dan teman2 saya sangat penasaran dengan masalah ini…
    dan kebetulan saya juga masih awam…

    • kayaknya terbalik deh bos …. pemerintah dengan ketidak tahuannya butuh masukan … dan biar terkesan elegan maka masukannya harus dari profesor yg membidangi astronomi dan LAPAN adalah lembaga yg tepat. Jadi sebagai manusia dimana tempatnya salah dan lupa bisa saja seorang profesor salah melakukan diagnosa. Dan sudah kadung di lempar ke publik jadi meski salah harus dibela mati2 an demi wibawa pemerintah … hayoooo

  248. Yang saya heran, seperti kata teman saya : gerhana saja kita sudah bisa memastikan kapan terjadinya, dan ternyata pada saatnya terjadi, persis dari jam, menit hingga detiknya. Lha masalah 1 Syawal kok kisruh terus. Dan ini hanya terjadi di Indonesia. Atau memang ada kepentingan lain antara penguasa / pemerintah dengan ormas tertentu ? Yang pasti dengan kisruhnya tentang hal itu, yang senang adalah kaum non-Muslim.

    • persoalannya bukan disitu non…menurut perhitungan sdh jelas bahwa jam dan tanggal muncul bulan…yang jadi masalah adalah apakah terlihat hilal atau belum oleh mata telanjang (bersarung ?)…mudheng ?!?!

  249. Yang membela Muhammadiyah justru bukan orang Muhammadiyah, tapi fakta bahwa 1.Indonesia ditertawakan oleh negara negara OKI (hanya 4 negara yg 1 Syawalnya tgl.31) 2.Anda bilang alatnya canggih, ternyata dah ketinggalan 3.Anda bilang Muhammadiyah terbelenggu, ternyata anda sendiri yang terbelenggu dalam teori yg telah ktinggalan 4.Yg saya tau Muhammadiyah itu bagian dari jaringan Islam Internasional, jadi gak mungkin klo dibilang gak tau masalah ini.

  250. Untuk menentukan pertanggalan bukan hanya berdasarkan teknologi yang katanya moderen, mutakhir, tapi juga mengikuti dalil cara mana yang lebih sohih yang sesuai dengan pemahaman ataupun pengamalan nabi dan para sohabatnya, baru dibantu dengan teknologi astronomi, terbukti di saudi masih menjalankan sistem yang menurut artikel diatas udah ketinggalan teknologi atau banyak ditinggalkan. Mungkin juga perlu indonesia mengadakan studi banding ke saudi dalam penentuan pertanggalan, (bukan berarti kita tdak tahu teknologi), tapi menentukan cara yang shohih, berdiskusi dengan para pakar hadits dan ilmuwan saudi agar bisa diterima oleh semua kalangan di Indonesia. Sehingga Indonesia sepakat mempunyai satu cara dalam penentuan pertanggalan. Terima kasih.

  251. wah wah wah,, rame ya disini, sebagai orang awam, saya juga bisa liat koq sidang isbat tadi malam, siapa yang sangat “sok pintar” dan langsung menolak ada dua pendapat yang berbeda dengan pikirannya…
    Saya pikir Muhammadiyah tidak ada mendesak harus berlebaran tanggal 30, mereka hanya minta izin saja…
    urusan haram gak haram ya,, sama Allah aja,,

  252. Klo teori yg prof jelaskan ini benar, berarti negara-negara islam seperti malaysia, singapura, UEA, arab saudi dan beberapa negara islam lainnya salah dalam menentukan 1 Syawal donk?.

  253. pak thomas teh best dech muhamdiayah cuma ego, malu mengakui kebenaran, karena terlanjur berpendapat sebalik yang sudah ada, capek dech aku

  254. Wah makin banyak aja nih yg sok pinter dan nge”guru”in Muhammadiyah?Padahal untuk menutupi malunya mereka,krn metode terbarunya justru tidak dipakai negara asal agama Islam ataupun negara tetangga yg berdekatan?Yg merasa dirinya paling benar siapa?Mohon berkaca sebelum menghakimi.Kenapa hanya Indonesia yg lebaran tgl 31,knp Malaysia dan Singapur tetap tgl 30?Bisa jadi teori anda benar…Makanya,yg disuruh lihat hilal jgn yg matanya udah rabun atau katarak…Kita dikasih akal untuk berfikir,maka berfikirlah!Tidak perlu membela golongan tertentu dan menyudutkan golongan lain.Sekalipun Muhammadiyah tidak lebaran hari ini,saya tetap lebaran…Akal saya tidak boleh mandek seperti kalian,yang hanya menerima saja atau taklid buta terhadap pemimpin,meskipun pemimpin salah?Semoga saja yg dijadikan pimpinan bukanlah org yg masih percaya nyi roro kidul dan kirim-kirim sesajen serta diruwat dirinya karena percaya dengan dewa dewi…Karena saya org yg kurang paham agama,namun logika saya terhadap agama tidak demikian seperti yg diterapkan pemerintah atau yg dianggap kalian sebagai pemimpin…Mau lebaran tgl 30,atau tgl 31,kalian tetap muslim bukan?Kenapa harus menjatuhkan?Tidak malu dilihat non muslim?Ini kenapa Islam tidak bisa bangkit…Semua hanya mementingkan golongannya!Semoga kalian semua bertobat,karena mungkin kiamat sudah dekat…

  255. Ini profesor atau provokator? Orang ini benar-benar tidak beretika! Dalam berbagai tulisannya dengan mencolok dia menuliskan titel dan profesinya sebagai “Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN”. Sebagai seorang ilmuwan (Seperti yang selalu diiklankan dalam tulisannya itu) sudah selayaknya dia bebas nilai dan hanya bicara hal-hal yang berhubungan dengan disiplin ilmunya saja.
    Mestinya dia hanya bicara hal-hal yg berhubungan dengan astronomi dan bukan malah ikut-ikutan memberi penafsiran terhadap suatu masalah agama atau membuat penilaian terhadap hasil ijtihad yg dilakukan oleh kelompok agama lain. Apalagi kalau lalu diperparah dengan kreatifitasnya ikut2an menentukan kapan hari Idul Fitri yg benar .
    Sungguh memalukan, memanfaatkan titel untuk menggiring opini pembaca terhadap bidang lain diluar kompetensinya!

    Pada kenyataannya, sejak ada tulisan-tulisan rovokatif yg dipublikasikan secara luas dari profesor berhati dengki ini, keresahan dan “pergesekan” umat malah makin keras, Padahal soal perbedaan idul fitri ini kan bukan soal baru, dan selama ini elite-elite masing-masing ormas yg berbeda keyakinan selalu arif dan mengedepankan toleransi dalam bersikap atau pada saat membuat statement. La ini kok tiba-tiba ada orang yg ngaku2 pakar terus mengipas-ngipasi kerukunan dan toleransi yang selama ini sdh dibangun dengan baik.

  256. Pak Prof Kok belum juga memberikan Comment nya ya… sedang sibuk mudik kali ikut lebaran tanggal 30 Agustus 2011 (my be)… Mohon Maaf Lahir Bathin untuk semua yang comment di sini inga…. Inga… perdebatan berdasarkan ilmu dan hikmah jangan berdasarkan esmosi…. maaf sy hanya orang awam…

  257. iya deh indonesia paling bener nentuin lebaran tgl 31 agustus besok.., tapi kenapa negara2 lan yg notabene deket sama indonesia kok lebarannya tgl 30 agustus??…. yg jauh dari indonesia -eropa- dan arab saudi juga sama tgl 30 agustus??…
    jawabannya…. negeri kita polusi korupsi sampe2 si hilal aja ga mau muncul… takut dikorup juga pak!!!

  258. Mari kita baca tulisan Pak Thomas Djamaluddin ini secara bijak. Saya yakin bukan maksud beliau untuk mengecilkan suatu pihak. Malah beliau bermaksud agar yang bersangkutan bisa berlaku lebih adil.

    Menurut saya Muhammadiyah memang lebih baik mengedepankan semangat persatuan daripada mengunggulkan metode hisab yang dianutnya. Toh, Islam memungkinkan kita untuk bersepakat dalam hal ini berdasarkan dalil-dalil yang umum diketahui. Muhammadiyah tidak mungkin mengharamkan rukyat karena ilmu hisab adalah perumusan hasil observasi (rukyat). Maka, mengapa belum rela mengalah demi persatuan umat?

    Kriteria 2 derajat, walau dinilai tidak ilmiah, menurut saya tidak apa-apa digunakan sebagai nilai awal sebelum ditemukan nilai yang lebih tepat melalui penelitian yang berkesinambungan.

    Saya mengajak kita semua untuk membayangkan manfaat yang diperoleh jika kita bersepakat mengenai hilal ini dan hanya melihatnya dari sisi kerugian yang bisa dihindari berkat sikap saling menghargai yang mampu kita wujudkan (seperti dikatakan oleh beberapa orang).

    • ralat paragraf terakhir:

      Saya mengajak kita semua untuk membayangkan manfaat yang diperoleh jika kita bersepakat mengenai hilal ini dan BUKAN hanya melihatnya dari sisi kerugian yang bisa dihindari berkat sikap saling menghargai yang mampu kita wujudkan (seperti dikatakan oleh beberapa orang).

    • Islam itu lintas pulau, provinsi, negara. Kita gak boleh terlalu picik hanya bersepakat untuk Indonesia saja. Malah lebih lucu lagi, Indonesia yg lebih dahulu 4 jam dari Saudi Arabia, tapi lebih lama 1 hari untuk 1 Syawal nya. Dan profesor masih merasa pintar sendiri, tak mau minta maaf

  259. Maju terus prof
    sampaikan demi persatuan umat

  260. Sdr TDjamaludin ini memang sedang Frustasi, Berhalusinasi dan overdosis karena daganganya imkanurrukyat gak laku di Muhammadiyah. Coba kalau dijual kepada para penganut tahlil pasti laku keras karena habitatnya memang disitu.
    Tradisi Hindu pitung dinoan, 40hr, 100hr memang bisa dirukyat dengan metode Kyai TDjamaludin ini koq.
    Jadi jika anda mau Tahlilan gunakan saja tenaganya murah koq

    • kok emosi sih bahasa nya????

      • Bahasa yg dipakai sdr Argress memang kurang bijak, tapi komentar seperti itu seperti halnya komentar2 lain yg masuk kesini sudah bisa diprediksi sebelumnya.
        Semua komentar ini sebenarnya HANYA ASAP dari SUMBER API tulisan prov DJamaluddin sendiri yg sangat provokatif.
        Jadi kalau kita semua masih waras, Yang HARUS DIPADAMKAN adalah APINYA dan bukan sibuk menghalau asapnya. Kalau api padam otomatis asap juga hilang.

  261. banyak kepentingan ya. sehingga sulit menentukan 1 Syawal.

  262. Para ahli hisab dan rukyat di indonesia sebaiknya segera duduk satu meja dan bekerja keras menyatukan perbedaan pendapat..

    Saya tidak setuju dengan kata2 perbedaan adalah rahmat jika menyangkut penetapan 1 syawal…
    wong tata cara sholatnya sama kok mesti beda tanggalnya…

    Kita yang rakyat biasa yg tidak berafiliasi ke organisasi agama manapun dan awam tentang ilmu hisab dan rukyat jangan dibuat bingung…

    Selama belum ada kesepakatan, lebih baik mengikuti keputusan MUI dan sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai instansi yang sah mewakili Ulama dan Umaro

  263. Sdr TDjamaludin ini memang sedang Frustasi, Berhalusinasi dan overdosis karena daganganya imkanurrukyat gak laku di Muhammadiyah. Coba kalau dijual kepada para penganut tahlil pasti laku keras karena habitatnya memang disitu.
    Tradisi Hindu pitung dinoan, 40hr, 100hr memang bisa dirukyat dengan metode Kyai TDjamaludin ini koq.
    Jadi jika anda mau Tahlilan gunakan saja tenaganya murah koq

    inilah jiwa orang muhammadiyah. tak ada akhlak sedikiputpun. baru bisa taklid buta pada majlis tarjih, lalu baca buku terjemah namun belagu sebagai penghuni syurga. padahal umur 100 tahun belum sampai. muhammadiyah adalah kaum pemecah belah umat serta yang meringan ringan syariat, tempat mazhabnya orang tak bermazhab, tempatnya para fanatik buta yang takabur pada pemerintah, yang tak mengakui ulama sekelas ibnu hajar haitami, karena majlis tarjih jahilnya lebih dia taklid buta. kasian dech loe muhammadiah, sebagai cepat sadar dari kebodohan global.

    • kok nadanya sama dengan yg dikomentari … satu jari menunjuk … 3 jari lain menunjuk dirinya sendiri .. wak wawwwww

      • ha..ha..ha…ha…sampe kagak bisa berhenti ketawa ngebaca koment U,kay,,,lucu juga nih ya, yang menunjuk dan ditunjuk sama sama bodong…

  264. indonesia dan brunei, arab adalah iktilaf matali';.
    rukyah itu untuk wujud hilal bukan wujud bulan
    untuk tahu kapan merukyah kita gunakan hisab
    metode hisab ada beberapa ada hisab 5 ada hisab 8, dll
    beda hisab beda cara lihat rukyah.

    rukyah hilal bila imkan, kalau tak imkan maka tak bisa rukyah
    kalau tak ruyah maka takmil
    kalau takbil maka rabu, siapa selasa dosa.
    hukmul imam tarfaul khilaf. kalau imam sudah ketok palu, khilaf pendapat tidak berlaku.
    wajib taat pada ulil amri kata tuhan.
    maka muhammadiayah.

    1. kumpulan orang jahil yang fanatik buta.
    2. kumpulan orang alim yang takabur. karena kalau ia ikut pemerintah harus menanggung malu yang besar terhadap kesalahan kesalahan tahun tahun sebelumnya. lucunya ditv semalam muhammadiayah gak pake hadist abu hurairah. jadi hadist nabi yang tak sesuai napsunya ditinggalkan. pake hadist ibnu umar karena cocok dengan napsu, anehnya yang jadi mujtahid gadungan dia sendiri. dimanakah warasatul ambiya. kalau majlis tarjih warasatul ambiya kok jauh ya,
    3. muhammadiyah kumpulan orang yang tidak mau capek.
    shalat tarawih 8 rakaat.
    tidak mau sedekah dihari kematian
    tidak mau bersedekah doa dihari kematian
    dengan alasan bid’ah yang ditaklid pada majlis tarjih yang modal buku buku terjemah, kalau ada yang paham bahasa arab, diragukan karena banyak uang organisasi jadi gaji mereka.jadi sesuai pesanan.
    4. tempat artis muhammadiah cari sesuap nasi dengan film sang pencerah.
    5. kalau saya buat daftar bisa panas lebih dari tulisan prof.

    prof. aku pendukung utamamu, jangan anda pedulikan para fanatik buta tampa ilmu itu, dan asik mencari pemebanran, karena ekor kucing mereka terpijak dengan manis oleh “kaki ilmiah anda”

    prof. bisakah saya dapat no hp anda kapan kapan saya telepon, karena ilmu hisab muhammaddiyah memang perlu ditinjau ulang karena sangat kadaluarsa sekali.

    • Saya dari kalangan keluarga muhammadiyah, tapi saya netral dan memandang baik kemajuan. saya ingin mengikuti ulil amri dan ingin puasa hari rabu, tapi…, saya rasa Indonesia tidak mempunyai ulil amri yang Siddiq. baca komen saya selanjutnya

    • emang ada sudah liat surga apa…

      di Luar sana ada banyak orang yang lebih jago dibandingkan pak prof ini kalo soal astronomi…
      yang dijadikan muhammadiyah senbagai patokan metode yang digunakan…

      saya yakin anda ini orang yang ngefens berat sama pak prof…
      sampe men-taklid buta pendapat Beliau..
      sampai ngatain orang lain sesat segala..

      ingat ini negara demokrasi…
      berpendapat itu pake akal…
      bukan taklid buta…
      jadi kalo Pemimpin sesat anda mau juga ikut2an sesat..??

      g’ ada kewajubannya buat tunduk sama pemerintahan yang zalim…

      anda kira dalam sejarah Islam g’ pernah terjadi kudeta apa…

      sejak zaman khulafaurrasyidin sudah ada itu yang namanya pemberontakan terhadap pemimpin…

      anda terlalu berhalusinasi menafsirkan hadits itu…

    • hihihi… kelihatan kok dari cara berbahasanya seperti apa orang dan organisasinya :)

    • 1. dari tulisannya udah keliatan siapa yang fanatik buta
      2. ngomong masalah nafsu, tp lisannya bicara pake nafsu
      3. terawih 20 rakaat tp klewat cpet, bisa khusyu’ mas?? keren ni orang
      4. artis dbawa2, ga nyambung mas, konteksnya mslah hilal nii
      5. yg suka ngompor2in = pengadu domba = pemfitnah = lanjutin sendiri…

      saya muhammadyah bung, keluarga saya jg muhammadyah, tp saya ikut lebaran tgl 31, jadi hati2 dg lisan anda!!!

    • muhammadiah tidak mau masuk neraka….maka tidak bebas dalam bertindak

  265. Sejak kejadian semalam, sidang penetapan, saya semakin ingin mengetahui, apa itu methode hisab, dan bagaimana methode rukyat. Saya dari kalangan keluarga Muhammadiyah, dgn mengikuti sidang semalam saya ingin puasa pada hari ini 30 agustus karena sepakat semua dan bahakn disebutkan sepakat 5 negara, namun akhirnya saya ikut lebaran yang tgl 30 agustus setelah lihat kebenaran yang dinyatakan oleh petugas laporan pemerintah.

    saya bisa terima Profesor sbg masukan yang sangat bagus dan menjadi latar blkg keinginan saya ingin belajar ilmu hisab dan rukyat.

    saya tidak mempermasalah yang selasa dan rabu, saya bisa terima itu sebagai perbedaan karena fitrah manusia.

    yang jadi masalah dan membuat saya EMOSI :
    PERNYATAAN PEMERINTAH BAHWA TELAH SEPAKAT 5 NEGARA INDONESIA DAN PARA TETANGGANYA. DUSTA BESAR !!!!!
    SEMUA HARI SELASA KECUALI INDONESIA. BAHKAN DI MALAYSIA TIDAK ADA YANG LEBARAN SELAIN HARI INI (SELASA)

    MAU SEBERAPA HEBATNYA TEKNOLOGI INDONESIA, SEBERAPA BENARNYA IJTIHAD, SAYA TETAP SAKIT HATI KALAU DIBOHONGI. KENAPA HARUS MEYAKINKAN UMAT DENGAN BERBOHONG???? HAMPIR SAJA SAYA MENJADI ORANG BIMBANG.

    JANGN SALING PECAH BELAH!!!

  266. muhammadiyah durhaka dengan pemerintah. alasan wajib taat kepada nabi, seolah nu tidak taat nabi. nu taat nabi taan pemerintah, muhammadiayah tak taat nabi tak taat pemerintah. ijtihad muhammadiyah dilakukan oleh orang dibawah imam mujtahid mutlaq, seperti din syamsuddin tahu apa dia, diacara tv one satu jam lebih dekat nampak sekali basis ilmu agamanya sangat rendah. anehnya muhammadiyah maui masuk syurga duluan dengan awal lebaran, sedangkan nu masuk neraka karena berpuasa dihari yang haram. capek dech

    • BETUL.. SETUJU… BIASANYA MEMANG ORANG KALAU AKALNYA TIDAK NYAMPE MAKA YANG KELUAR MARAH2, OKOLE METU… SABAR PROF…

      • sabar ya prof, anda morang jaman purbakala, bisanya cuma mencela, sabar ya prof, anda cuma unjuk gigi di dunia maya, sabar ya prof karena anda cuma OMONG DOANG!

    • anda baca alquran yg bener lagi deh, sebelum menghina orang lan, bicara soal ketaatan pada pemerintah ayatnya jangan di potong pak sunankalijaga gadungan!. baca lanjutan ayatnya. Apabila diantara kamu berselisih paham kembali kepadaku (Alquran dan rasulmu (Hadist). Jadi boleh kok gak nurut pemerintah, hanya saja pemerintah memang gak pernah meneruskan bacaan ayat Alquran tsb untuk kepentingannya. :)

    • Sunankalijaga sakti1,…gak ada guna bebantah2an, kalo seperti katak dibawah tempurung. Apa semua orang di Saudi Arabia dan negara tetangga lebih bodoh dari prof jamaludin ? Apakah mereka yg di Mekah tidak taat kepada nabi ?Kita lebih dahulu 4 jam dari Saudi Arabia…masak 1 Syawal telat 1 hari dari Saudi Arabia ? Itulah kalo kurang gaul, kurang silaturrahmi, disitulah kelebihan Muhammadiyah…..tidak taqlid buta sama profesor yg sebenarnya provocator

  267. ni profesor atau provokator? Orang ini benar-benar tidak beretika! Dalam berbagai tulisannya dengan mencolok dia menuliskan titel dan profesinya sebagai “Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN”. Sebagai seorang ilmuwan (Seperti yang selalu diiklankan dalam tulisannya itu) sudah selayaknya dia bebas nilai dan hanya bicara hal-hal yang berhubungan dengan disiplin ilmunya saja.
    Mestinya dia hanya bicara hal-hal yg berhubungan dengan astronomi dan bukan malah ikut-ikutan memberi penafsiran terhadap suatu masalah agama atau membuat penilaian terhadap hasil ijtihad yg
    dilakukan oleh kelompok agama lain. Apalagi kalau lalu diperparah dengan kreatifitasnya ikut2an menentukan kapan hari Idul Fitri yg benar .
    Sungguh memalukan, memanfaatkan titel untuk menggiring opini pembaca terhadap bidang lain diluar kompetensinya!

    Pada kenyataannya, sejak ada tulisan-tulisan rovokatif yg dipublikasikan secara luas dari profesor berhati dengki ini, keresahan dan “pergesekan” umat malah makin keras, Padahal soal perbedaan idul fitri ini kan bukan soal baru, dan selama ini elite-elite masing-masing ormas yg berbeda keyakinan selalu arif dan mengedepankan toleransi dalam bersikap atau pada saat membuat statement. La ini kok tiba-tiba ada orang yg ngaku2 pakar terus mengipas-ngipasi kerukunan dan toleransi yang selama ini sdh dibangun dengan baik.

    ini satu lagi contoh muhammdiyah jahil tak paham masalah. baca dulu, renung, jangan merasa muhammadiyah nabi bersih dari salah.

  268. Wah makin banyak aja nih yg sok pinter dan nge”guru”in Muhammadiyah?Padahal untuk menutupi malunya mereka,krn metode terbarunya justru tidak dipakai negara asal agama Islam ataupun negara tetangga yg berdekatan?Yg merasa dirinya paling benar siapa?Mohon berkaca sebelum menghakimi.Kenapa hanya Indonesia yg lebaran tgl 31,knp Malaysia dan Singapur tetap tgl 30?Bisa jadi teori anda benar…Makanya,yg disuruh lihat hilal jgn yg matanya udah rabun atau katarak…Kita dikasih akal untuk berfikir,maka berfikirlah!Tidak perlu membela golongan tertentu dan
    menyudutkan golongan lain.Sekalipun Muhammadiyah tidak lebaran hari ini,saya tetap lebaran…Akal saya tidak boleh mandek seperti kalian,yang hanya menerima saja atau taklid buta terhadap pemimpin,meskipun pemimpin salah?Semoga saja yg dijadikan pimpinan bukanlah org yg masih percaya nyi roro kidul dan kirim-kirim sesajen serta diruwat dirinya karena percaya dengan dewa dewi…Karena saya org yg kurang paham agama,namun logika saya terhadap agama tidak demikian seperti yg diterapkan pemerintah atau yg dianggap kalian sebagai pemimpin…Mau lebaran tgl 30,atau tgl 31,kalian tetap muslim bukan?Kenapa harus menjatuhkan?Tidak malu dilihat non muslim?Ini kenapa Islam tidak bisa bangkit…Semua hanya mementingkan golongannya!Semoga kalian semua bertobat,karena mungkin kiamat sudah dekat

    ini lagi muhammadiyah jahil fanatik buta

  269. Yang membela Muhammadiyah justru bukan orang Muhammadiyah, tapi fakta bahwa 1.Indonesia ditertawakan oleh negara negara OKI (hanya 4 negara yg 1 Syawalnya tgl.31) 2.Anda bilang alatnya canggih, ternyata dah ketinggalan 3.Anda bilang Muhammadiyah terbelenggu, ternyata anda sendiri yang terbelenggu dalam teori yg telah ktinggalan 4.Yg saya tau Muhammadiyah itu bagian dari jaringan Islam Internasional, jadi gak mungkin klo dibilang gak tau masalah ini.

    ini muhammadiyah bingung

  270. Bos, mana kalimat emosi saya? Coba camkan dan baca seribu kali renungkan! kalau perlu diwirid! Tidak ada bos.
    Saya hanya menyarankan bahwa tenaga dia bisa anda sewa untuk merukyat tahlilan, spt yang biasa anda lakukan. Terima saja karena anda mentradisikan budaya hindu itu.
    Justru anda yg sedang emosi! Ingat puasa lho anda wah jangan2 anda nggak puasa ya hari ini.
    Sumpah serapah yang anda sampaikan justru 100% cerminan dari mayoritas para penganut tahlil.

  271. bapak professor,gelar anda memang bagus tp itu cuma pemberian manusia bukan pemberian ALLAH SWT,tolong bapak kalau berbicara jangan memperkeruh suasana dengan menjudge suatu ormas tertentu,perbedaan dalam islam itu sudah biasa dan menjadi rahmat karnanya,anda berbicara seolah-olah paling ahli dan paling tau tp perlu anda ketahui hanya ALLAH SWT yg maha tau segala-galanya,muhammadiyah punya alasan tertentu dan NU jg demikian jd biarkanlah mereka sama-sama menjalankan keyakinannya,islam itu akan terpecah menjadi 73 bagian tp cuma satu bagian yg
    ,itu kata rasulullah,kita tak tahu Muhammadiyah atau NU yg masuk surga atau kedua-duanya tertolak wallahu’alam

    ini muhammdiyah peragu tapi diplomatis

    bung pendapat itu ada yang lemah, kuat, super kuat, ada yang maudu’.

    jadi prof adalah pendapat pling sahih lagi jadid untuk saat ini, sedangkan pendapat muhammadiyah pendapat qadim(usang) yang harus dibuang ketong sampah. gt lho

  272. Bos, mana kalimat emosi saya? Coba camkan dan baca seribu kali renungkan! kalau perlu diwirid! Tidak ada bos.
    Saya hanya menyarankan bahwa tenaga dia bisa anda sewa untuk merukyat tahlilan, spt yang biasa anda lakukan. Terima saja karena anda mentradisikan budaya hindu itu.
    Justru anda yg sedang emosi! Ingat puasa lho anda wah jangan2 anda nggak puasa ya hari ini.
    Sumpah serapah yang anda sampaikan justru 100% cerminan dari mayoritas para penganut tahlil.

    hindu beda lho sama islam. masa lupa sama serupa tapi tak sama.

    mana ada emosi yang ada semangat membela yang benar, jangan suudhan.

    jadi muhammadiyah itu penduga seperti anda, maka hari raya yang anda lakukan juga dugaan bahwa majlis tarjih anda benar???karena untuk yakin gak ada cara???betul????

  273. Menarik tulisan yang dikemukan ini. Namun sayang seorang Professor tidak memberikan informasi yang berimbang dan jelas sekali si prof ini sebagai wasit yang berat sebelah. Dan rasanya pendapat seperti ini diignore saja. karena akan lebih memperkeruh suasana.

    Ada yang perlu dicermati pada penetapan 1 Syawal 2011 ini. Pemerintah mengatakan bahwa titik pengamatan hilal 90 lebih. Namun yang ada 3 daerah yang melihat hilal yang kemudian dianulir. Sedangkan dilaporkan 33 tempat tidak melihat hilal. Lalu informasi dari 60 lebih tempat pemantauan hilal tidak ada infonya sama sekali. Ada apa dibalik ini???? Ini adalah tipe laporan yang menjadi kebiasaan pemerintah karena selalu hanya mengambil data yang sesuai dengan keinginannya. Inilah akibatnya kalau urusan agama dicampur adukkan dengan urusan politik.

    Pernyataan NU dan ketua MUI yang menyebutkan bahwa yang berhak menentukan 1 syawal adalah Amir atau Pemerintah dan wajib diikuti. Itu sangat BENAR. Namun kita tahu pemerintahan seperti apa yang bisa kita jadikan panutan seperti itu. Sudah bukan rahasia lagi pemerintah kita suka merekayasa data dan informasi. Sudah bukan rahasia lagi bahwa departemen agama kita adalah departemen terkorup dinegeri ini.

    Yaa Allah tunjukilah kami kejalan yang Engkau Redhai dan Kuatkanlah hati kami ditengah-tengah pemerintahan kami yang amburadul ini… Amiiinnn….

  274. SEKARANG LEBARAN ATAU BESOK LEBARAN SAMA SAJA…..!!!…….JUSTRU YG MELECEHKAN KEPUTUSAN ULAMA ENTAH ULAMA DARI NU ATAU ULAMA MUHAMMADIYAH ATAU ULAMA ORMAS ISLAM LAINNYA ADALAH PROVOKATOR SEJATI….!!!!!…ENTE DI BAYAR BERAPA UNTUK MENYUDUTKAN ORMAS ISLAM YG CENDERUNG AKAN MENYULUT PERPECHAN UMAT ISLAM..?

  275. mana ada sumpah serapah. yang ada ungkapan perasaan lihat acara tv semalam, tampa malu minta izin pada pemerintah untuk lebaran, seolah olah tak ada harga pemerintah ii dimata muhammdiyah, jauh jauh hari sudah ada pengumuman. buat aja pengumuman 10 tahun kedepan.

    2012
    2013
    2014
    2015
    dst

    karena toh muhamadiyah pake hisab. gak perduli sama rukyah, artinya kalau tak nampak hilal pake hisab. buat aja pengumuman 10 tahun yang akan datang untuk muhammaddiyah biar waktu menteri buat sidang istbat gak undang muhammadiyah lagi, karena untuk apa diundang yang ada bikin bingung umat aja. muhammadiyah memang suka pake cara alkhaalif turaf, tampil beda supaya dikenal.

    lihatlah buat film sang pencerah
    dibawah lindungan ka’bah
    taraweh 8 rakaat

    semua itu cocok sama napsu orang awam, makanya banyak diikuti.

  276. karakter asli Muhammadiyah semakin terlihat. Indonesia tidak ada., negeri ini milik negera muhamadiyah,

    saya sepakat ied 30 agustus, seperti muhamadiyah. tapi persatuan lebih utama. seperti pendiri negeri ini menolak 7 kata piagam jakarta demi persatuan

  277. cobalah kita berfikir cobalah kite bercermin cobalah kita mawas diri… kita ini umat Islam.. tapi ternyata kalian semua bodoh… kalian hanya mementingkan golongan kalian sendiri, organisasi kalian sendiri.. membela mati-matian golongan kalian sendiri, sampai mampus pun anda bela… Justru itu firus yang menkerdilkan umat islam dan memecah belah. maka bubarkan aja muhamadiyah, bubarkan aja nu, bubarkan aja semua organisasi yg lain. percuma…!!!!! kita bersatu dalam ukuwah Islamiyah..

  278. pak…. streaming hilal hari ini bisa liat dimana nih???… tolong publikasikan dong!!

  279. @ Argres : Wahh mulai emosi sampai-sampai bawa-bawa tahlilan & yasinan

  280. MUHAMADIYA YESSSS
    Tanpa mengurangi
    rasa hrmt kpd
    sesama Islam.
    hari selasa tgl 30
    agustus pd pukul
    18.30 WITA Bulan sdh kelihatan jelas di
    daerah sulawesi.
    Terbenam pd pukul
    19.30. Berarti tgl 30
    agustus kita telah
    memasuki bulan Syawal.

  281. Tanpa mengurangi
    rasa hrmt kpd
    sesama Islam.
    hari selasa tgl 30
    agustus pd pukul
    18.30 WITA Bulan sdh kelihatan jelas di
    daerah sulawesi.
    Terbenam pd pukul
    19.30. Berarti tgl 30
    agustus kita telah
    memasuki bulan Syawal.

    • itulah….
      saya setuju skali dengan anda…
      makanya saya heran kenapa pemerintah ini jumud skali…

      ujung2nya masyarakat yang rugi…

      sudah menyiapkan bahan makanan buat di bacakan doa di mesjid keesokan hari…eh… ujung2nya hari raya t jadi…
      jadi basi itu makanan disimpan satu malam..

    • shoechardhiyehc, tanpa mengurangi hormat saya bisa nggak di tampilkan streaming penampakan hilalnya

  282. pak keadaan hilal hari ini bagaimana? terlihat? berapa derajat? tolong publikasikan biar adil. thanks

  283. Yang jelas dan terang.. Setiap tanggal 3 Syawal pasti semua jadi bareng.. semua sepakat sama !!! Tak ada yang tanya kapan tangal 2 Syawal bagi Muhammadiyah dan Depag ? lalu kenapa tgl 3 kok jadi bersama-sama ? knapa ini terjadi hanya di Syawal dan kadang Dzulhijah saja ? mengapa tak ada sidang Itsbat di Muharam, Safar. Saya’ban, Rabiul awal, Rabiul Akhir, dll ?? Awam selalu tanya masalah ini. Jika bulan mati itu siap ( 0 derajat,0′, o” ) mau masuk ke tanggal berikutnya berapa jam lagi? Tak ada yg tanya 1 Muharam yg sdh merah di kalender itu direvisi, dimajukan atau diundur ?? Mengapa oh mengapa… Mengapa kemunculan Thomas Djamaluddin hanya saat menjelang Syawal di Depag ? Saat Muharam dan Safar, Dzulqaidah kemana ?

    • soalnya yang mengandung unsur ibadah dalam hal ini hari raya, hanyalah romadhon-syawal dan dzulhijjah. bulan2 lain tak ada unsur ibadah wajib.
      1 muharom mah gak ada tuntunan utk beribadah wajib apapun. kalo ada perayaan di mana2 hanyalah seremoni atau adat setempat saja.

  284. saya merasa dengan pembuat blog ini. salah satu widget blognnya sendri menunjukkan bahwa 30 agustus adalah 1 syawal. kenapa harus diingkari lagi?

  285. Judul tulisananya terlalu profokasi,,,
    Dan ternyata pada 30 Agustus 2011 nyata-nyata seluruh dunia merayakan Idul-fitri sesuai apa yang dikatakan muhammadiyah,,,

    Hilal tertutup Venus mas,,,
    Indonesia yang berada di antara garis equator sangat sulit kalau mau lihat hilal dengan mata telanjang atau teleskop dibawah 2 derajat,, dan kalau sudah 2 derajat ke atas tanggal sudah lewat berapa jam,,

    Menurut ku berdasarkan matematik,,, dimana astronomi pun bertumpuan kensana diatas bilangan “0”, atau 0,5 itu sudah bilangan baru.

    Malaysia, singapore, brunai, dan negara-negara yang sama-sama diantara 95-135 garis bujur tmur ajh 30 Agustus 2011 indonesia sendiri 31 Agustus 2011 katanya hasil kesepakatan 4 negara,,
    aku buakan orang muhammadyah,,, tapi aku yakin yang benar adalah benar,, bukan pertimbangan atas keragu-raguan.

    Tolong jangan profokatif kalau buat judul

  286. Assalamualaikum pak TDj,

    Senang mendengar penjelasan bapak seputar hisab rukyat, tapi akan lebih senang jika penjelasan bapak disertai dengan tabayyun terlebih dahulu, terutama jika mengkritik metode hisab Muhammadiyah. Bpk memang ahli astronomi namun keilmuan hisab rukyat (khususnya terkait pentafsiran dalil2 nampaknya masih hrs belajar lbh dalam (maaf y pak), knp sy bilang demikian, krn tampak sekali dalam komentar & tulisan2 bpk yang cenderung provokatif. Sehingga dipertanyakan kapabilitas bpk sbg astronom atau hnya seseorang yg memperkuat kelompok tertentu dgn berkedok ilmuwan ??. Hal yg perlu sy kritik lg pada anda (krn anda sukanya mengkiritik), janganlah berpendapat seolah opini tsb mutlak & benar, contoh kongkrit adl ttg lebaran 30 or 31 agustus 2011, bgm menurut anda jika hampir seluruh negara2 di dunia beridul fitri pd tgl 30 agustus ?, mereka jg pnya dasar (hisab plus rukyat)…mohon maaf sekali lg, hnya bermaksud watawa saw bil haq watawa saw bissobri…

    Salam dr kami yg tinggal di Eropa (yang agak sedih mendengar koment bapak pada sidang itsbat 1432 H dimana “terkesan” bahwa semua yg nonton adalah orang bodoh)…satu pesan lg mg2 selalu ingat pepatah ‘diatas langit ada langit’ (nyambung dgn astronomis kali)

    Mumpung lebaran, dengan kerendahan hati mhn maaf sebesar2nya jika ada yang tidak berkenan

    Fastabiqul Khoirot
    Wassalamualaikum WW

    • asw,saya sepakat dengan mas rasid,pak prof. nih menulis dengan kesan ingin menyudutkan muhammadiyah saja dan membela si NU dan ormas lainnya.
      padahal seperti yang kita ketahui bersama hampir di semua negara telah melakukan sholat ied hari selasa ini,lha apakah para pakar astronomi dibelahan bumi itu tidak BELAJAR pada pak thomas(maaf profesornya ditinggal dulu)….

      jadi kalau pak thomas ini benar benar benar dibenarkan mengapa ndak menjabat di dunia lain saja????
      jadi pendapat pak thomas ini seperti celotehan org sedang bangun tidur saja

      segeralah cuci muka pak nthomas dan belajar untuk tidak mencuci otak org awam.

      atau jangan jangan jangan jangan lagi nih ….

      • mungkin bahasanya terlalu menyudutkan.
        tapi sepahit apapun kebenaran memang harus diungkapkan.

        meskipun kebanyakan belahan dunia syawalnya hari selasa, tapi kebanyakan dasar mereka tidak kuat (sekedar ikut2an). seperti diketahui (bagi yang tahu) kalo Arab Saudi sering mengesampingkan pendapat ulama – astronomnya. maklumlah, kerajaan gituh. bahkan pernah melakukan rukyat tanggal 28 … apa nggak aneh tuh?!

    • setuju setuju setuju dengan anda…
      ya… bapak thomas ini bisa saja…muhammdiyah itu sudah ada jauh berdiri sebelum terbenntuknya pemerintahan, tentunya sudah mempunyai landasn tersendiri dan Sudah DI Akui dunia. kok malah metode nya di bilang Usang. Apakah ada Ilmu Pengetahuan itu Usang??? malah ilmu itu harus di belajari..
      Seandainya penanggalan calender sehari2 menGGUnkan METHODE RuKHIYAH, apakah ada tanggal yang di mundurin…??? wah BISA KACAU JADWAL SAYA PAK.APA LAGI PRESIDEN… ATAU JADWAL ANDA SENDIRI… hemm ALahamdulillah yah… Allah masih menguatkan methode Muhammdiyah… ^_^

      ini hanya sekedar Menambah Ilmu untuk Bapak…
      Tak Lupa saya mengucapkan,
      Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu
      Minal ‘Aidin Wal Faizin

  287. SAYA SANGAT SETUJU DENGAN PENDAPAT PROFESOR :)

    • Berarti anda tidak setuju dengan KUASA ALLAH SWT. yang telah menjukkan kuasanya pada MALAM RABU kemarin, itu bulan bukan tanggal 1 mbak… tapi tanggal 2. ISTIGHFAR……

  288. ingat ini hari raya bung,..,,
    waktunya bermaaf-maafan…
    jangan saling sesat-menyesatkan…
    mungkin ada di antara kita yang belum diberi Petunjuk oleh Tuhan,,,,
    minal aidin wal faidzin,.,,
    mohon maaf lahir dan batin….

  289. Saya Sependapat dgn Prof Thomas, Muhammadiyah sebaiknya mempertimbangkan pendekatan Ta’akulli, dlm menyikapi perbedaan ini yang InsyaAllah sejalan dengan pendekatan ta’abuddi, kerna Nabi Sudah mempraktikannya dgn cara me Rukyat

  290. saya ulangi lagi karena tidak di publikasikan…
    Sejak kejadian semalam, sidang penetapan, saya semakin ingin mengetahui, apa itu methode hisab, dan bagaimana methode rukyat. Saya dari kalangan keluarga Muhammadiyah, dgn mengikuti sidang semalam saya ingin puasa pada hari ini 30 agustus karena sepakat semua dan bahakn disebutkan sepakat 5 negara, namun akhirnya saya ikut lebaran yang tgl 30 agustus setelah lihat kebenaran yang dinyatakan oleh petugas laporan pemerintah.

    saya bisa terima Profesor sbg masukan yang sangat bagus dan menjadi latar blkg keinginan saya ingin belajar ilmu hisab dan rukyat.

    saya tidak mempermasalah yang selasa dan rabu, saya bisa terima itu sebagai perbedaan karena fitrah manusia.

    yang jadi masalah dan membuat saya EMOSI :
    PERNYATAAN PEMERINTAH BAHWA TELAH SEPAKAT 5 NEGARA INDONESIA DAN PARA TETANGGANYA. DUSTA BESAR !!!!!
    SEMUA HARI SELASA KECUALI INDONESIA. BAHKAN DI MALAYSIA TIDAK ADA YANG LEBARAN SELAIN HARI INI (SELASA)

    MAU SEBERAPA HEBATNYA TEKNOLOGI INDONESIA, SEBERAPA BENARNYA IJTIHAD, SAYA TETAP SAKIT HATI KALAU DIBOHONGI. KENAPA HARUS MEYAKINKAN UMAT DENGAN BERBOHONG???? HAMPIR SAJA SAYA MENJADI ORANG BIMBANG.

    JANGN SALING PECAH BELAH!!!

    • Maklumlah, Rakyat indonesia hanya patuh kepada pemerintah ketika mau lebaran aja…
      N pemerintah,, masalah ibadah aja udah ada unsur2 politik,,
      iya dong,, iya kan,, ahahahahaha…

      Pak Prof,, Cocok…???!!

  291. Assalamualaikum . . .

    Sejak kejadian semalam, sidang penetapan, saya semakin ingin mengetahui, apa itu methode hisab, dan bagaimana methode rukyat. Saya dari kalangan keluarga Muhammadiyah, dgn mengikuti sidang semalam saya ingin puasa pada hari ini 30 agustus karena sepakat semua dan bahakn disebutkan sepakat 5 negara, namun akhirnya saya ikut lebaran yang tgl 30 agustus setelah lihat kebenaran yang dinyatakan oleh petugas laporan pemerintah.

    saya bisa terima Profesor sbg masukan yang sangat bagus dan menjadi latar blkg keinginan saya ingin belajar ilmu hisab dan rukyat.

    saya tidak mempermasalah yang selasa dan rabu, saya bisa terima itu sebagai perbedaan karena fitrah manusia.

    yang jadi masalah dan membuat saya EMOSI :
    PERNYATAAN PEMERINTAH BAHWA TELAH SEPAKAT 5 NEGARA INDONESIA DAN PARA TETANGGANYA. DUSTA BESAR !!!!!
    SEMUA HARI SELASA KECUALI INDONESIA. BAHKAN DI MALAYSIA TIDAK ADA YANG LEBARAN SELAIN HARI INI (SELASA)

    MAU SEBERAPA HEBATNYA TEKNOLOGI INDONESIA, SEBERAPA BENARNYA IJTIHAD, SAYA TETAP SAKIT HATI KALAU DIBOHONGI. KENAPA HARUS MEYAKINKAN UMAT DENGAN BERBOHONG???? HAMPIR SAJA SAYA MENJADI ORANG BIMBANG.

    JANGN SALING PECAH BELAH!!!

  292. Sdr Sks, Saya bukan penduga justru andalah sbg Penganut tahlil yg penduga, baca kalimat saya “Sumpah serapah anda”. Copy paste lalu menduga.penganut tahlil-penganut tahlil.
    Banyak sekali ucapan2 najis dari tulisan anda yg justru mengarah pada kaum anda. Baca lagi dan mengacalah.
    Tayangan di tv? Sadarkah anda bahwa itu bagian dari nilai kesopanan kami. Boleh anda rendahkan, boleh anda hina. Alhamdulillah.
    Saya yakin kedengkian ada di hati anda, Jiwa iblis merasuki relung pemikiran anda. Anda sakit jiwa dan hampir gila.
    Saya nggak perlu menanggapi anda karena anda sakit jiwa dan hampir gila

  293. Assalamualaikum.
    Kalo kita liaht diskusi ini, semua berpegang pada keyakinannya tnt yg disampaikan profesor Djamaluddin yg pada akhirnya kita melupakan esensi dr Idhul Fitri itu sendiri.
    Yg setuju prosesor benar silahkan saja, memang Muhammadiyah harus mau untuk lebih memodernkan ilmu pengetahuannya. Dan saya yakin Muhammadiyah telah melakukan dan terus melakukannya.
    Yg mendukung Muhammadiyah juga benar dengan keyakinannya karena mereka yakin Muhammadiyah pasti mempunyai alasan yg dianggap tepat, dan yakin bahwa Muhammadiyah terus berusaha memperbaiki keilmuannya.
    Kita semua adlh orang yg tidak berkecimpung di Muhammadiyah, alangkah tidak pantasnya kita mengomentari sesuatu yg kita tidak tahu alasannya. Namun yg patut disayangkan adalah komentar pak Profesor didalam judul tulisan ini dan di alinea terakhir, yg mungkin tanpa disadari (semoga) telah menvonis Muhammadiyah salah. Sebaiknya dengan gelar yg dimiliki oleh bapak, bapak lebih berhati2 dalam menulis sebuah kalimat, dikarenakan kami dan teman2 masih bodoh dan terkadang menerima kalimat orang pintar apa adanya. Seharusnya bapak yg memang memiliki pengetahuan, datangi Muhammadiyah, katakan bapak ingin mengajak diskusi tentang ilmu yg bapak miliki. Jangan menunggu undangan, lalu ketika tidak ditanggapi menulis semau bapak. Lalu bapak juga bisa mendengar alasan mereka kenapa mereka tetap dengan keputusan mereka. Lakukanlah pak, jangan gengsi, trus berusaha temui. Kami umat akan dukung bapak selama memang niat bapak untuk kebajikan umat bukan untuk menunjukkan bahwa bapak lebih benar dan ilmu orang Muhammadiyah dibawah bapak. Dan saya yakin semua warga Muhammadiyah juga akan mendukung bapak jika itu memang untuk kebajikan umat. Untuk semua penulis komentar tulisan ini, ayo kita hentikan polemik ini, kita datangi masjid, sholat, bertakbir dan bersedekah unt kebajikan umat, sambil kita tunggu seperti apa langkah selanjutnya dari bapak profesor kita ini.

  294. Prof Thomas salah apa sih? Beliau kahn cuma ngomong blak blak kan ??? :)

  295. Buat semua khususnya Pak Prosesor “SELAMAT IDUL FITRI 2 SYAWAL 1432 H ”
    “SELAMAT IDUL FITRI 2 SYAWAL 1432 H ”
    “SELAMAT IDUL FITRI 2 SYAWAL 1432 H ”
    “SELAMAT IDUL FITRI 2 SYAWAL 1432 H ”
    “SELAMAT IDUL FITRI 2 SYAWAL 1432 H “

  296. As far as I know, Indonesia is the only country that has a method of Rukyatul Hilal where the hilal must be appeared at least two degrees. Why?

  297. pak Prof ilmu anda memang tinggi tapi anda melupakan ilmu yang sangat sederhana yaitu ilmu padi “semakin berisi semakin merunduk”

  298. Untuk semua saudaraku yang Muslim…..
    sebagai ibarat untuk menyatukan kriteria….
    10/3 = 3,33333333==>tak terhingga…..
    coba dibalik
    3,33333333 * 3 =9,9999999 seharusnya 10
    bila tidak ada kata sepakat berapa desimal di belakang koma untuk pembulatannya, maka pasti tidak diketemukan angka 10.
    oleh karena itu…mari kita kuatkan Islam dengan penyatuan visi.
    Secara umum ummat Islam itu sama, yang penting nilai ibadahnya…..
    Tawadlu’ adalah akhlaq Junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.
    wallohu a’lam…….

  299. Onde onde qua qua qua….biar nda panas, diminum dulu aquanya…seger dingin…lebaran sekarang ato besok…sama saja…kebenaran cmn milik Allah…manusia cmn bisa berikhtiar…

    Sabar dolor…diunjuk disik kopi’ne…disumet rokok’e…oke

    Minal aidzin wal faidzin…
    Mohon maaf lahir bathin….

  300. pak prof,,kenapa negara lain di dunia lebaran hari ini,,sedangkan kita besok,,ada penjelasan ilmiahnya kah??

  301. Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama (Membuktikan Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan)

    SEBELUM membaca tulisan saya, mari simak pernyataan ini:

    –Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana—

    – Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!—

    *****

    ITULAH beberapa potongan kalimat yang diungkapkan Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, yang juga Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI dalam blognya, maupun pernyataan kepada beberapa media massa nasional menjelang akhir Ramadhan 2011. Untuk melihat pemikiran ahli astronomi itu, silahkan dibuka link di atas. Saya tidak perlu mengulanginya.

    Pada saat sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama, Senin (29/8) malam, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin sempat diingatkan oleh salahsatu pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. A. Fatah Wibisono, MA, agar menjaga lisannya. Fatah mengingatkan karena dianggap kurang santun berbicara di forum terhormat itu. Bagi Muhammadiyah yang telah lahir sebelum Thomas ada, tentu bukan hal baru dalam menentukan penetapan 1 Syawal setiap akhir Ramadhan. Maka dari itu, tidak seperti Pemerintah yang hanya mampu memprediksi 1 Syawal sehari sebelum waktunya, Muhammadiyah sudah melakukan itu jauh hari. Peringatan Fatah, di mata saya sangat serius dampaknya untuk ukuran sekarang. Bagaimana tidak, tiba-tiba Petinggi Muhammadiyah itu merasa harus mengingatkan seorang Profesor yang bekerja di Kementrian Agama. Padahal, dengan logika sehat, tak perlu Thomas melakukan obral pernyataan seperti itu saat seluruh media menyorot wajah dan mulutnya. Sangat tidak pantas. Ada kesan, arogansi yang tidak perlu menurut saya.

    Apalagi, ada indikasi kebohongan informasi dari pak Menteri yang menyatakan bahwa Malaysia dan Singapura serta negara-negara Arab juga melakukan Idul Fitri pada Rabu 31 Agustus 2011. Gara-gara informasi itu, nyaris semua peserta sidang itsbat maupun masyarakat yang menonton TV, terbius dan nyaris percaya begitu saja. Belakangan, dari informasi beberapa kolega di beberapa negara yang disebut di atas, ternyata didapat informasi bahwa mereka melakukan Idul Fitri pada Selasa 30 Agustus 2011. Bahkan hingga saat ini, informasi yang saya terima, ada sekitar 50 negara yang melakukan Sholat Idul Fitri pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011 pagi ini. Sebagian beritanya juga dimuat di berbagai situs berita terpercaya. Jika ingin baca beritanya, buka saja link berikut:

    http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/010128/1713387/10/mesir-qatar-emirat-arab-beridul-fitri-30-agustus?9922032

    atau

    http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=1099262d08ad760566784006371a19d1&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

    Sebelum diteruskan, penting saya sampaikan terlebih dahulu sedikit deskripsi. Saya pernah hidup di kampung di pedalaman Klaten, Jawa Tengah, hampir 20 tahun, sebelum mengembara ke Surabaya 8 tahun dan di Jakarta lebih dari 10 tahun dan beberapa negara saat masih aktif menjadi wartawan. Saat di pedesaan jauh dari teknologi, orangtua saya sudah mengajarkan bagaimana mengenali karakter alam. Misalnya, karakter lintang (baca: bintang), dan mbulan (bulan) serta srengenge (matahari). Hingga saat ini, saya masih memelihara sifat Ndeso saya, dengan tujuan sekedar agar memori saya saat kecil tidak hilang begitu saja. Jangan tanya soal khazanah budaya Jawa di otak saya. Masih tersimpan rapi. Karena saking Ndeso-nya, maka saya masih fasih betul berbahasa Jawa. Bahkan, oleh keluarga saya, sudah biasa menyebut dan mengucapkan Wulan Sawal, untuk mengganti istilah Bulan Syawal. Atau Wulan Rejeb, padahal yang dimaksud Bulan Rojab. Atau Wulan Ruwah, padahal nama yang benar adalah Bulan Sya’ban.

    Belakangan saya dapat ilmunya, penanggalan Jawa, memang mengadopsi penanggalan Islam. Maka dari itu, apa yang saya dapat dulu dari orangtua saya di Kampung, dengan mudah saya sesuaikan saat saya temukan kenyataan bahwa banyak istilah Kejawen yang di dalam Bahasa Arab ternyata mirip-mirip, namun istilahnya banyak berubah. Bulan Muharram, di dalam benak orang Jawa menjadi Wulan Suro. Entah bagaimana itu terjadi. Yang jelas, untuk ngelmu ngalam cara ndeso, saya sedikit banyak sudah mengetahui.

    Ketika semalam melihat keterangan Profesor dari LAPAN serta keterangan beberapa petinggi Ormas Islam, serta keterangan Menteri Agama RI, saya jadi ingat satu hal. Bahwa, mereka bisa saja berdebat dengan bersitegang dan berbagai sandiwara di depan kamera wartawan. Saya hanya menunggu satu hal. Apa yang akan diputuskan Menteri Agama malam itu. Tidak penting soal lebarannya, namun saya ingin mendengar kalimat 1 Syawal jatuh pada tanggal berapa di bulan Agustus 2011. Syukurlah, setelah diumumkan oleh Pak Menteri bahwa 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus 2011, maka kemudian muncul ide gila saya.

    “Saya ingin menguji, apakah keputusan malam itu terbukti benar atau terbukti salah”

    Untuk melakukan uji tersebut tidak susah. Kita tidak perlu belajar ke LAPAN. Tidak perlu menjadi Professor. Tidak perlu menjadi Deputi di LAPAN. Tidak perlu belajar ke Amerika. Bagaimana caranya?

    Gampang. Namun kita butuh 15 hari lagi. Saya menggunakan pembuktian terbalik.

    Tampaknya, pengaruh Prof. Dr. Thomas benar-benar terlihat pada hasil keputusan sidang itsbat malam itu. Penjelasan sang profesor , benar-benar mampu membius seluruh peserta sidang itsbat, hingga Pemerintah pun akhirnya menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Penjelasan meyakinkan Sang Profesor patut dipuji. Meskipun Pak Menteri Agama menetapkan 1 Syawal konon berdasarkan beberapa pertimbangan, termasuk kesaksian para ahli Rukyat, namun jika kita jeli, maka sesungguhnya apa yang diungkapkan Pak Menteri itu tampaknya adalah banyak dipengaruhi pemikiran ‘genius’ Pak Profesor. Saking berpengaruhnya yang bersangkutan, maka Thomas pun tak segan mengkritik Muhammadiyah. Pokoknya malam itu, Sang Profesor benar-benar berada di atas angin.

    Terbukti, tanpa ada keraguan, dengan sangat lantang, sang Profesor LAPAN itu memberi pendapat keras kepada Muhammadiyah. Jika sebelumnya organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan tersebut dikenal sebagai Organisasi Islam Pembaharu dan modern, maka di mata Thomas, tiba-tiba jadi sebaliknya. Muhammadiyah disebut usang, kuno dan malah ketinggalan dari NU dan Ormas Islam lainnya.

    Namun harus diingat, seskipun selintas terkesan cukup meyakinkan dan mampu melambungkan nama Profesor LAPAN ini, coba tunggulah hingga 15 hari ke depan. Kehebatan Sang Profesor akan teruji 15 hari lagi!. Di saat itulah, akan terbukti keterangan berbusa-busa Sang Profesor akan menjadi barang murahan, atau akan menjadi emas mulia.

    Kenapa?

    Begini. Kita hanya menunggu 15 hari lagi ketika Allah SWT tunjukkan kepada Umat bahwa pada hari itu, akan muncul apa yang disebut Bulan Purnama. Sesuai perhitungan sederhana saya, sebut saja perhitungan kampungan saya, maka 15 hari dari tanggal 1 Syawal, dipastikan akan terjadi Bulan Purnama. Dengan munculnya Bulan Purnama, secara langsung dan tanpa rekayasa, akan membuktikan secara nyata mana pihak yang benar- dan mana pihak yang salah.

    Tuhan tidak pernah bohong soal satu ini.

    Anda juga mengalami. Saya juga mengalami. Sejak saya kecil hingga menginjak usia 40 tahun, setiap Bulan Purnama, pasti bulan akan muncul sangat mempesona. Selain sempurna wujudnya, bulan akan hadir sangat spesial karena berada tepat di atas kepala kita. Sekali lagi, saat itu, bulan tepat di atas kepala kita, dan wujud bulan akan sangat sempurna.

    Mengapa Bulan Purnama menjadi acuan kebenaran penetapan 1 Syawal?

    Sederhana. Dengan cara kampungan saya, maka penetapan 1 Syawal kemarin, akan terbukti benar atau tidaknya, cukup dengan melihat secara langsung Bulan Purnama. Kondisi bulan saat Bulan Purnama, sangat berbeda dengan kondisi bulan saat tanggal di awal Bulan Syawal. Jika pada awal Syawal, fisik bulan mungkin hanya terlihat tipis dan meragukan meski dilihat dengan alat teropong sekalipun, sebaliknya pada tanggal 15 Syawal, fisik bulan akan terlihat sangat jelas, dan mencapai ‘titik kulminasi’ dari fase perubahan fisiknya. Pada Bulan Purnama, manusia tidak perlu memakai teropong untuk membuktikan benar tidaknya terjadi Bulan Purnama. Kita cukup keluar rumah, tengok ke atas. Jika bulan terlihat bulat sempurna di atas kepala kita, itu sudah pasti tanggal 15 setiap bulan. Tidak perlu rukyat, tidak perlu Hisab, tidak pelu sidang itsbat. Pada tanggal 15 bulan Jawa/Islam, tak akan terjadi perbedaan pendapat antara para Petinggi Ormas Islam soal kebenaran Bulan Purnama. Pada malam itu, tak ada satupun Profesor Astronomi yang bisa membantah fenomena alam berupa Bulan Purnama. Semua harus bilang bahwa malam itu adalah tanggal 15 Syawal.

    Mulai saat ini, cobalah hitung.

    Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011.

    Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011.

    Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan masing-masing versi, maka akan terjadi begini:

    Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011.

    Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011.

    Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam, maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar, dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan penentuan awal dan akhir Ramadhan.

    Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa yang terbukti melakukan kesalahan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan sehingga menyebabkan perbedaan 1 Syawal.

    Apabila Bulan Purnama berlangsung pada 13 September 2011, berarti sidang itsbat malam itu, yang dihadiri seluruh Petinggi Ormas dan Menteri Agama serta tamu kedutaan Negara Islam dan banyak tokoh Islam waktu itu, akan menjadi sidang sampah belaka.

    Jangan kaget apabila masyarakat kemudian menjustifikasi sidang malam itu sebagai bentuk baru kebohongan pemerintah terhadap masyarakat Islam seluruh Indonesia. Masyarakat mungkin bisa dikelabuhi di saat awal, namun untuk urusan satu ini, masyarakat bisa membuktikan perilaku aparat kita lurus atau tidak, hanya membutuhkan waktu 15 hari dari tanggal penetapan mereka.

    Ingat, pada Bulan Purnama, tidak ada satupun manusia yang mampu mengubah posisi Bulan serta bentuknya yang sangat sempurna, kecuali Allah SWT, Pangeran Sing Moho Kuwoso—bahasa Jawanya. Jadi, tidak mungkin pada malam itu, ada jumpa pers yang menyatakan, bahwa Bulan Purnama yang terjadi adalah kesalahan Tuhan. Tidak mungkin itu. Itulah hebatnya Bulan Purnama.

    Oleh karenanya, untuk membuktikan analisa saya, mari bersama-sama menunggu hadirnya Bulan Purnama. Tuhan akan memberi bukti langsung kepada kita, bukti fisik, betapa manusia sangat lemah dan tidak ada gunanya sombong. Bahwa manusia, tidak perlu saling menyindir dan saling menyalahkan. Bahwa manusia harus berkawan dengan alam untuk bisa memanfaatkan dia dalam mengatur tata kehidupan di dunia yang fana. Penasaran? Tunggu Bulan Purnama nanti. #(Mustofa B. Nahrawardaya)#

    sumber: http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-saat-bulan-purnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/

    hayo kita buktikan dan kawal sama sama…

  302. Konon, Muhammadiyah sudah meninggalkan teori Hisab “imkanurrukyat” sejak tahun 1933 (sebelum Indonesia merdeka). Tapi bagi Prof, Imkanurrukyat (dalam berbagai derajat yg belum/sudah disepakati) dan pemerintah (2 derjat) dianggap paling benar. MUNGKIN bagi Muhammadiyah “imkanurrukyat”lah yang TELAH USANG. Saya khawatir saja, jangan2 suatu saat ketika Muhammadiyah sudah tidak lagi menggunakan Teori Wujudul Hilal karena telah menggunakan teori yang dianggap lebih baik, eh Prof dan pemerintah malah menggunakan Wujudul Hilal…. siapa tau…..! Teori-kan bisa saja berubah…

  303. pak thomas ni ngetrend kalilah sejak semalam.ya walau cuma satu malam sih

    pak thomas layak diuji kembali keprofesoran anda,mengapa demikian?
    karena pakar astronomi di luar sana lebih ahli lagi drpd anda.
    saya bukan dr ormas muhammadiyah tp saya tidak pernah pelajari bahwa sikap seorang Rosulullah menyudutkan satu pihak,jika anda pengikut muhammad seyogyanya bersikap bijaksana.

    jika anda tidak mau lebaran ya udah gak masalah, salahin aja malaysia dan negara yg lainnya kenapa harus muhammadiyah yg disalahin.hati hati anda bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan yg besar di indonesia ini.

    laporan anda saja tidak anda tunjukkan semuanya.coba posting hasil laporan dari 90 titik itu.
    kalau mau memecah islam jgn disini om thomas,jgn sampai anda disebut pengacau islam!!!

    Parahnya lagi ada pulalah warga NU yg sholat ied hari selasa.hahaha
    macam mana tuh?ga taat lagi mereka sama gusdur rupanya

    tobatlahTOM

  304. Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama (Membuktikan Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan)

    SEBELUM membaca tulisan saya, mari simak pernyataan ini:

    –Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana—

    – Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!—

    *****

    ITULAH beberapa potongan kalimat yang diungkapkan Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, yang juga Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI dalam blognya, maupun pernyataan kepada beberapa media massa nasional menjelang akhir Ramadhan 2011. Untuk melihat pemikiran ahli astronomi itu, silahkan dibuka link di atas. Saya tidak perlu mengulanginya.

    Pada saat sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama, Senin (29/8) malam, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin sempat diingatkan oleh salahsatu pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. A. Fatah Wibisono, MA, agar menjaga lisannya. Fatah mengingatkan karena dianggap kurang santun berbicara di forum terhormat itu. Bagi Muhammadiyah yang telah lahir sebelum Thomas ada, tentu bukan hal baru dalam menentukan penetapan 1 Syawal setiap akhir Ramadhan. Maka dari itu, tidak seperti Pemerintah yang hanya mampu memprediksi 1 Syawal sehari sebelum waktunya, Muhammadiyah sudah melakukan itu jauh hari. Peringatan Fatah, di mata saya sangat serius dampaknya untuk ukuran sekarang. Bagaimana tidak, tiba-tiba Petinggi Muhammadiyah itu merasa harus mengingatkan seorang Profesor yang bekerja di Kementrian Agama. Padahal, dengan logika sehat, tak perlu Thomas melakukan obral pernyataan seperti itu saat seluruh media menyorot wajah dan mulutnya. Sangat tidak pantas. Ada kesan, arogansi yang tidak perlu menurut saya.

    Apalagi, ada indikasi kebohongan informasi dari pak Menteri yang menyatakan bahwa Malaysia dan Singapura serta negara-negara Arab juga melakukan Idul Fitri pada Rabu 31 Agustus 2011. Gara-gara informasi itu, nyaris semua peserta sidang itsbat maupun masyarakat yang menonton TV, terbius dan nyaris percaya begitu saja. Belakangan, dari informasi beberapa kolega di beberapa negara yang disebut di atas, ternyata didapat informasi bahwa mereka melakukan Idul Fitri pada Selasa 30 Agustus 2011. Bahkan hingga saat ini, informasi yang saya terima, ada sekitar 50 negara yang melakukan Sholat Idul Fitri pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011 pagi ini. Sebagian beritanya juga dimuat di berbagai situs berita terpercaya. Jika ingin baca beritanya, buka saja link berikut:

    http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/010128/1713387/10/mesir-qatar-emirat-arab-beridul-fitri-30-agustus?9922032

    atau

    http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=1099262d08ad760566784006371a19d1&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

    Sebelum diteruskan, penting saya sampaikan terlebih dahulu sedikit deskripsi. Saya pernah hidup di kampung di pedalaman Klaten, Jawa Tengah, hampir 20 tahun, sebelum mengembara ke Surabaya 8 tahun dan di Jakarta lebih dari 10 tahun dan beberapa negara saat masih aktif menjadi wartawan. Saat di pedesaan jauh dari teknologi, orangtua saya sudah mengajarkan bagaimana mengenali karakter alam. Misalnya, karakter lintang (baca: bintang), dan mbulan (bulan) serta srengenge (matahari). Hingga saat ini, saya masih memelihara sifat Ndeso saya, dengan tujuan sekedar agar memori saya saat kecil tidak hilang begitu saja. Jangan tanya soal khazanah budaya Jawa di otak saya. Masih tersimpan rapi. Karena saking Ndeso-nya, maka saya masih fasih betul berbahasa Jawa. Bahkan, oleh keluarga saya, sudah biasa menyebut dan mengucapkan Wulan Sawal, untuk mengganti istilah Bulan Syawal. Atau Wulan Rejeb, padahal yang dimaksud Bulan Rojab. Atau Wulan Ruwah, padahal nama yang benar adalah Bulan Sya’ban.

    Belakangan saya dapat ilmunya, penanggalan Jawa, memang mengadopsi penanggalan Islam. Maka dari itu, apa yang saya dapat dulu dari orangtua saya di Kampung, dengan mudah saya sesuaikan saat saya temukan kenyataan bahwa banyak istilah Kejawen yang di dalam Bahasa Arab ternyata mirip-mirip, namun istilahnya banyak berubah. Bulan Muharram, di dalam benak orang Jawa menjadi Wulan Suro. Entah bagaimana itu terjadi. Yang jelas, untuk ngelmu ngalam cara ndeso, saya sedikit banyak sudah mengetahui.

    Ketika semalam melihat keterangan Profesor dari LAPAN serta keterangan beberapa petinggi Ormas Islam, serta keterangan Menteri Agama RI, saya jadi ingat satu hal. Bahwa, mereka bisa saja berdebat dengan bersitegang dan berbagai sandiwara di depan kamera wartawan. Saya hanya menunggu satu hal. Apa yang akan diputuskan Menteri Agama malam itu. Tidak penting soal lebarannya, namun saya ingin mendengar kalimat 1 Syawal jatuh pada tanggal berapa di bulan Agustus 2011. Syukurlah, setelah diumumkan oleh Pak Menteri bahwa 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus 2011, maka kemudian muncul ide gila saya.

    “Saya ingin menguji, apakah keputusan malam itu terbukti benar atau terbukti salah”

    Untuk melakukan uji tersebut tidak susah. Kita tidak perlu belajar ke LAPAN. Tidak perlu menjadi Professor. Tidak perlu menjadi Deputi di LAPAN. Tidak perlu belajar ke Amerika. Bagaimana caranya?

    Gampang. Namun kita butuh 15 hari lagi. Saya menggunakan pembuktian terbalik.

    Tampaknya, pengaruh Prof. Dr. Thomas benar-benar terlihat pada hasil keputusan sidang itsbat malam itu. Penjelasan sang profesor , benar-benar mampu membius seluruh peserta sidang itsbat, hingga Pemerintah pun akhirnya menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Penjelasan meyakinkan Sang Profesor patut dipuji. Meskipun Pak Menteri Agama menetapkan 1 Syawal konon berdasarkan beberapa pertimbangan, termasuk kesaksian para ahli Rukyat, namun jika kita jeli, maka sesungguhnya apa yang diungkapkan Pak Menteri itu tampaknya adalah banyak dipengaruhi pemikiran ‘genius’ Pak Profesor. Saking berpengaruhnya yang bersangkutan, maka Thomas pun tak segan mengkritik Muhammadiyah. Pokoknya malam itu, Sang Profesor benar-benar berada di atas angin.

    Terbukti, tanpa ada keraguan, dengan sangat lantang, sang Profesor LAPAN itu memberi pendapat keras kepada Muhammadiyah. Jika sebelumnya organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan tersebut dikenal sebagai Organisasi Islam Pembaharu dan modern, maka di mata Thomas, tiba-tiba jadi sebaliknya. Muhammadiyah disebut usang, kuno dan malah ketinggalan dari NU dan Ormas Islam lainnya.

    Namun harus diingat, seskipun selintas terkesan cukup meyakinkan dan mampu melambungkan nama Profesor LAPAN ini, coba tunggulah hingga 15 hari ke depan. Kehebatan Sang Profesor akan teruji 15 hari lagi!. Di saat itulah, akan terbukti keterangan berbusa-busa Sang Profesor akan menjadi barang murahan, atau akan menjadi emas mulia.

    Kenapa?

    Begini. Kita hanya menunggu 15 hari lagi ketika Allah SWT tunjukkan kepada Umat bahwa pada hari itu, akan muncul apa yang disebut Bulan Purnama. Sesuai perhitungan sederhana saya, sebut saja perhitungan kampungan saya, maka 15 hari dari tanggal 1 Syawal, dipastikan akan terjadi Bulan Purnama. Dengan munculnya Bulan Purnama, secara langsung dan tanpa rekayasa, akan membuktikan secara nyata mana pihak yang benar- dan mana pihak yang salah.

    Tuhan tidak pernah bohong soal satu ini.

    Anda juga mengalami. Saya juga mengalami. Sejak saya kecil hingga menginjak usia 40 tahun, setiap Bulan Purnama, pasti bulan akan muncul sangat mempesona. Selain sempurna wujudnya, bulan akan hadir sangat spesial karena berada tepat di atas kepala kita. Sekali lagi, saat itu, bulan tepat di atas kepala kita, dan wujud bulan akan sangat sempurna.

    Mengapa Bulan Purnama menjadi acuan kebenaran penetapan 1 Syawal?

    Sederhana. Dengan cara kampungan saya, maka penetapan 1 Syawal kemarin, akan terbukti benar atau tidaknya, cukup dengan melihat secara langsung Bulan Purnama. Kondisi bulan saat Bulan Purnama, sangat berbeda dengan kondisi bulan saat tanggal di awal Bulan Syawal. Jika pada awal Syawal, fisik bulan mungkin hanya terlihat tipis dan meragukan meski dilihat dengan alat teropong sekalipun, sebaliknya pada tanggal 15 Syawal, fisik bulan akan terlihat sangat jelas, dan mencapai ‘titik kulminasi’ dari fase perubahan fisiknya. Pada Bulan Purnama, manusia tidak perlu memakai teropong untuk membuktikan benar tidaknya terjadi Bulan Purnama. Kita cukup keluar rumah, tengok ke atas. Jika bulan terlihat bulat sempurna di atas kepala kita, itu sudah pasti tanggal 15 setiap bulan. Tidak perlu rukyat, tidak perlu Hisab, tidak pelu sidang itsbat. Pada tanggal 15 bulan Jawa/Islam, tak akan terjadi perbedaan pendapat antara para Petinggi Ormas Islam soal kebenaran Bulan Purnama. Pada malam itu, tak ada satupun Profesor Astronomi yang bisa membantah fenomena alam berupa Bulan Purnama. Semua harus bilang bahwa malam itu adalah tanggal 15 Syawal.

    Mulai saat ini, cobalah hitung.

    Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011.

    Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011.

    Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan masing-masing versi, maka akan terjadi begini:

    Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011.

    Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011.

    Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam, maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar, dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan penentuan awal dan akhir Ramadhan.

    Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa yang terbukti melakukan kesalahan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan sehingga menyebabkan perbedaan 1 Syawal.

    Apabila Bulan Purnama berlangsung pada 13 September 2011, berarti sidang itsbat malam itu, yang dihadiri seluruh Petinggi Ormas dan Menteri Agama serta tamu kedutaan Negara Islam dan banyak tokoh Islam waktu itu, akan menjadi sidang sampah belaka.

    Jangan kaget apabila masyarakat kemudian menjustifikasi sidang malam itu sebagai bentuk baru kebohongan pemerintah terhadap masyarakat Islam seluruh Indonesia. Masyarakat mungkin bisa dikelabuhi di saat awal, namun untuk urusan satu ini, masyarakat bisa membuktikan perilaku aparat kita lurus atau tidak, hanya membutuhkan waktu 15 hari dari tanggal penetapan mereka.

    Ingat, pada Bulan Purnama, tidak ada satupun manusia yang mampu mengubah posisi Bulan serta bentuknya yang sangat sempurna, kecuali Allah SWT, Pangeran Sing Moho Kuwoso—bahasa Jawanya. Jadi, tidak mungkin pada malam itu, ada jumpa pers yang menyatakan, bahwa Bulan Purnama yang terjadi adalah kesalahan Tuhan. Tidak mungkin itu. Itulah hebatnya Bulan Purnama.

    Oleh karenanya, untuk membuktikan analisa saya, mari bersama-sama menunggu hadirnya Bulan Purnama. Tuhan akan memberi bukti langsung kepada kita, bukti fisik, betapa manusia sangat lemah dan tidak ada gunanya sombong. Bahwa manusia, tidak perlu saling menyindir dan saling menyalahkan. Bahwa manusia harus berkawan dengan alam untuk bisa memanfaatkan dia dalam mengatur tata kehidupan di dunia yang fana. Penasaran? Tunggu Bulan Purnama nanti. #(Mustofa B. Nahrawardaya)#

    sumber: http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-saat-bulan-purnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/

    mari kita kawal dan buktikan sama sama…

  305. Kerjaan Dajjal emang nipu ummat, Arab udah lebaran kita malah belum.

  306. Mulai saat ini, cobalah hitung.

    Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Selasa tanggal 30 Agustus 2011.

    Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada Rabu tanggal 31 Agustus 2011.

    Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan masing-masing versi, maka akan terjadi begini:

    Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011.

    Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011.

    Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam, maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar, dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan penentuan awal dan akhir Ramadhan.

    Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa ya