Memahami Perbedaan Idul Adha 1431/2010 dan Keseragaman Idul Adha 1432/2011


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama

(Ilustrasi foto dari internet)

Perbedaan Idul Fitri 1432/2011 baru lalu telah mendorong keingintahuan masyarakat tentang sebab terjadinya perbedaan. Walau awalnya banyak memicu ketidaksukaan dengan kritik keras atas kriteria wujudul hilal yang masih diamalkan saudara-saudara kita di Muhammadiyah, namun keriuhan itu ada juga dampak posisitifnya. Masyarakat makin banyak yang menyadari bahwa perbedaan hari raya bukan disebabkan oleh perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi oleh perbedaan kriteria hisab-rukyat. Di kalangan intern Muhammadiyah  juga mulai tumbuh kesadaran untuk memahami hakikat hisab yang tidak sekadar bertaqlid pada hisab wujudul hilal (asal hilal di atas ufuk), tetapi memungkinkan juga hisab imkanur rukyat (kemungkinan bisa dirukyat).

Untuk penetapan Idul Adha 1432/2011, perbedaan Idul Fitri baru lalu seolah masih terbawa. Banyak dugaan bahwa karena Idul Fitri berbeda, maka Idul Adha mestinya berbeda juga. Nyatanya tidak ada perbedaan. Kok bisa?  Ya, potensi keseragaman Idul Adha 1432/2011 dapat diprakirakan jauh-jauh hari sebelumnya. Metode hisab (baik wujudul hilal maupun imkan rukyat) memang bisa menghitung posisi dan kondisi ketampakan hilal. Jadi, bukan hanya ormas Muhammadiyah yang dapat menghitung jauh hari sebelumnya, tetapi juga semua ormas Islam lainnya. Saat ini hisab hanya memerlukan pengetahuan dasar soal komputer, walau untuk pendalaman nantinya perlu juga pemahaman konsep astronomi. Perangkat lunak astronomi yang dimanfaatkan oleh ahli dan peminat hisab kini mudah diperoleh, baik yang gratis diunduh di internet maupun yang bersifat komersial.

Untuk memahami terjadinya perbedaan dan keseragaman penentuan hari raya, khususnya dalam penentuan Idul Adha yang melibatkan Arab Saudi, berikut ini dibahas hasil hisab awal Dzulhijjah 1431/2010 dan 1432/2011. Visualisasi dalam bentuk kontur hasil hisab menggunakan peta garis tanggal dari perangkat lunak hisab “Accurate Time” oleh Mohammad Odeh yang ditampilkan di dalam situs ICOP (Islamic Crescents Observation Project).

Pertama kita kaji penetapan awal Dzulhijjah 1431/2010. Garis ketinggian bulan nol ditandai dengan kontur yang memisahkan wilayah berarsir merah dan wilayah tanpa arsir. Wilayah berarsir merah merupakan wilayah yang mustahil untuk melihat hilal karena pada saat maghrib bulan telah berada di bawah ufuk. Di wilayah tanpa arsir, bulan telah berada di atas ufuk, tetapi tidak mungkin bisa dirukyat karena cahaya hilal terganggu cahaya senja. Garis merah yang ditambahkan adalah garis ketinggian bulan 2 derajat yang menjadi kriteria imkan rukyat yang disepakati di Indonesia. Atas dasar kontur posisi bulan (atau hilal) tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa pada saat maghrib 6 November 2010 hilal sudah di atas ufuk (wujudul hilal) sehingga 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 7 November 2010 dan Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 16 November 2010. Sementara menurut kriteria imkan rukyat, hilal yang terlalu rendah itu tidak mungkin bisa terlihat dan dibuktikan juga dengan hasil rukyat saat maghrib 6 November 2010 yang tidak berhasil sehingga 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 8 November 2010 dan Idul Adha jatuh pada 17 November. Itulah keputusan Pemerintah RI saat sidang itsbat. Maka di Indonesia terjadi perbedaan Idul Adha 1431/2010 karena perbedaan kriteria.

Pada sisi lain, Arab Saudi menerima kesaksian pada maghrib 6 November 2010, walau secara astronomi itu tidak mungkin terjadi.Atas dasar klaim rukyat itu, Arab Saudi menetapkan 1 Dzulhijjah 1431 jatuh pada 7 November 2011 sehingga wukuf pada 15 November 2010 dan Idul Adha pada 16 November 2010. Saudara-saudara kita yang merayakan Idul Adha berdasarkan penetapan Idul Adha di Arab Saudi juga melaksanakan Idul Adha 16 November 2010, berbeda dengan penetapan Pemerintah RI. Maka berbedaan Idul Adha juga bisa disebabkan oleh perbedaan penetapan dengan Arab Saudi. Perlu diketahui bahwa di Indonesia sebagian besar ulama berpendapat bahwa shaum (puasa) Arafah dan Idul Adha ditentukan secara lokal. Nama shaum Arafah tidak harus dikaitkan dengan wukuf di Arafah, karena hari Arafah dimaknai secara umum sebagai 9 Dzulhijjah. Sama dengan penamaan hari lainnya, seperti hari Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, hari Nahar (qurban) pada 10 Dzulhijjah, dan hari Tasyriq pada 11 – 13 Dzulhijjah. Pada hari Arafah di wilayah Arafah (di Arab Saudi) dilaksanakan wukuf, sedangkan di tempat lain dilaksanakan shaum Arafah, tidak harus bersamaan harinya, tetapi bersamaan tanggal qamariyahnya 9 Dzulhijjah.

Bagaimana garis tanggal awal Dzulhijjah 1432/2011? Hasil hisab menunjukkan bahwa garis ketinggian hilal 0 derajat dan garis imkan rukyat 2 derajat jauh di sebelah Utara Indonesia. Di wilayah Indonesia ketinggian hilal sudah cukup tinggi, sekitar 6 derajat. Berdasarkan kriteria astronomi, pada saat maghrib 27 Oktober 2011 hilal memungkinkan untuk bisa dirukyat, walau memerlukan alat optik seperti teleskop. Dan itu terbukti dengan hasil pengamatan di Gresik yang saksinya disumpah Pengadilan Agama setempat. Ada saksi lain di Cakung Jakarta Timur dan Bas Mall Jakarta Barat yang tidak disumpah Pengadilan Agama. Dengan hasil hisab dan rukyat itu, Pemerintah pada sidang itsbat menetapkan awal Dzulhijjah 1432 jatuh pada 28 Oktober 2011 sehingga Idul Adha jatuhn pada 6 November 2011. Garis tanggal tersebut juga menunjukkan potensi hasil rukyat di Arab Saudi sama dengan di Indonesia. Dengan demikian seperti diduga sebelumnya keputusan Arab Saudi menetapkan awal Dzulhijjah 1432 jatuh 28 Oktober 2011, wukuf di Arafah pada 5 November 2011, dan Idul Adha pada 6 November 2011.

Alhamdulillah tahun ini Idul Adha seragam, baik secara nasional di Indonesia, maupun bila dibandingkan dengan Arab Saudi. Tetapi suatu saat nanti kita akan dipusingkan lagi dengan potensi perbedaan selama kriteria yang digunakan ormas-ormas Islam berbeda. Marilah kita mencari titik temu kriteria hisab rukyat, sehingga keseragaman hari raya dan awal Ramadhan benar-benar keseragaman yang hakiki, bukan karena posisi bulan yang cukup tinggi yang jauh dari potensi perbedaan. Sedangkan perbedaan dengan Arab Saudi, mungkin suatu saat akan terjadi lagi karena ketampakan hilal bisa saja berbeda antara Indonesia dan Arab Saudi. Tetapi itupun hanya masalah Indonesia lebih dahulu atau belakangan, tidak mungkin sama waktunya dengan Arab Saudi.

9 Tanggapan

  1. Ke depan, saya ingin agar seluruh Ormas Islam (NU, Muhammadiyah, Persis) semuanya bersatu memiliki kriteria awal Bulan Qamariyah yang sama se-Indonesia. Nah, perlu digarisbawahi, bahwa nantinya seluruh Negara-negara di Dunia merumuskan 1 kriteria awal Bulan Qamariyah. Tetapi, nantinya bukan berarti 1 dunia harus serempak laporan hilalnya. Atau perlu dibuatkan kriteria awal bulan yang baru.

  2. Thanks for sharing..

  3. mantab…., mencerahkan..terus..Prof…., kita dukung (kebersamaan)

  4. semoga alloh jalla wa ‘ala menyatukan kaum muslimin sebagaimana generasi awal umat ini.

  5. siiip…cuman kriteria itu belum di sepakati oleh semua ormas sehingga yang ada ego tiap ormas…pengalaman saya Proff, ketika saya ketemu orang Muhammadiyah di daerah mereka sangat kecewa dengan perbedaan penetapan idul fitri kemarin bahkan si dia mengatakan “wong urusan hari raya kok diurusi orang Kristen” kemudian saya tanya “siapa itu” dia jawab “itu yang ada waktu istbat, Thomas” kemudian saya katakan “Pak Thomas Djamaluddin itu dosen saya di IAIN Walisongo Semarang, beliau Islam bukan Kristen. beliau satu-satunya ahli astronomi di indonesia” kemudian dia diam. Mungkin orang ini hanya melihat nama Pak Thomas yang diidentikkan dengan nama Kristen….(maaf Proff ini fakta di daerah saya seperti itu). Saya alumni S2 IAIN Walisongo thn 2010 n sering ikut pelajaran ilmu astronomi yang bapak ampu…salam

  6. Assalamu’alaikum wr.wb. Menurut pemahaman saya, karena dasar hukum ibadah umat Islam adalah Al Qur’an dan Al Hadist maka melihat hilal merupakan harga mati untuk menentukan bukan tanggal satu, Sedangkan untuk pembuatan kalender (yang sifatnya hanya prediksi ilmiah) bolehlah digunakan kriteria yang disepakati bersama demi keseragaman, Selanjutnya, karena hilal setiap bulan dimulai dari satu jalur daerah yang berbeda di muka bumi ini, maka perlu juga adanya keseragaman internasional. Wass.w

  7. Assalamu’alaikum wr.wb. Mohon maaf, dalam tanggapan saya sebelumnya terdapat kesalahan ketik sbb: TERTULIS: “maka melihat hilal merupakan harga mati untuk menetukan BUKAN tanggal satu”, SEHARUSNYA: “maka melihat hilal merupakan harga mati untuk menentukan BULAN tanggal satu”. Wass.wr.wb.

  8. pak thomas, saya seorang guru SMA di kabupaten pekalongan. saya ingin minta modul tentang hisab dan rukyah untuk pembelajaran di kelas. hal ini dikarenakan kurikulum SMA tidak mencakup astronomi.
    mohon di balas di email saya.
    trimakasih

    • Kumpulan tulisan di blog saya bisa dijadikan bahan pembelajaran. Sebagian tulisan sudah dibukukan menjadi “Fikih Astronomi”, tetapi sudah jrang dijumpai di toko buku. Silakan gunakan materi di blog saya ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: