Ayo Belajar Hisab Imkan Rukyat: Kasus Idul Fitri 1Syawal 1434


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat

Astronomi bisa memberi solusi penyatuan ummat. Astronomi bisa mempersatukan pengamal rukyat (pengamatan hilal) dan pengamal hisab (perhitungan posisi hilal). Astronomi bisa mewujudkan satu kalender Islam yang mapan. Untuk mempersatukan ummat, dengan astronomi mari kita upayakan kesepakatan kriteria yang bisa mewadahi pengamal rukyat dan pengamal hisab secara setara. Ayo kita belajar astronomi untuk bersama-sama mencerdaskan ummat dan menuju kesatuan ummat melalui penyatuan kriteria awal bulan tersebut. Perhitungan astronomi (hisab) bisa diselaraskan dengan rukyat (pengamatan hilal) sehingga hasilnya akan sama. Pilihan kriterianya yang menyelaraskan hisab dan rukyat haruslah kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat (IR) yang ditentukan dengan kesepakatan dan didasari hasil penelitian astronomi. Berikut ini contoh hisab imkan rukyat (IR) penentuan Syawal 1434. Kita bisa gunakan dua perangkat lunak yang bisa diperoleh di internet. Pertama Accurate Time untuk perhitungan dan pembuatan garis tanggal, serta analisis visibilitas hilal (imkan rukyat). Kedua Stellarium untuk membuat simulasi posisi bulan dan matahari.

A. Analisis Visibilitas Hilal (Imkan Rukyat, IR) dengan Accurate Time

Accurate Time-a

Langkah awal adalah klik “Location“, lalu pilih lokasinya atau masukkan koordinat kota rujukan kalau belum ada di dalam basis datanya. Misalnya, kita masukkan lokasi Pelabuhan Ratu yang menjadi rujukan hisab Taqwim Standar Indonesia. Lalu klik “Date” untuk memasukkan tanggal pengamatan, yaitu tanggal 29 bulan qamariyah. Dalam penentuan Syawal 1434, tanggal 29 Ramadhan jatuh pada 7 Agustus 2013. Maka masukkan tanggal tersebut. Lalu klik “Crecent Visibility” untuk mendapatkan informasi visibilitas hilal (imkan rukyat).

Accurate Time-b

Pertama, kita buat dulu garis tanggal Syawal 1434 untuk melihat peta visibilitas hilal. Kita klik “Hijric Date“, lalu pilih Syawal 1434. Kemudian klik “Crescent Visibility Map“. Nanti akan muncul peta kosong.  Klik tanggal pengamatan (7 Agustus 2013) lalu klik “Draw”. Secara default kriteria yang digunakan adalah kriteria Odeh. Kita boleh juga memilih kriteria lainnya (Yallop atau SAAO) di pilihan kotak kanan bawah. Hasilnya adalah peta visibilitas hilal menurut kriteria Odeh atau pilihan kriteria lainnya.

Shawwal 1434

Kalau mau mendapatkan data rinci di lokasi rujukan (misalnya Pelabuhan Ratu), pertama kita klik “Topocentric Calculation” untuk mendapatkan perhitungan berdasarkan posisi pengamat di permukaan bumi. Itu untuk membedakan dari perhitungan teoritik bumi sebagai titik (“Geocentric Calcaulation). Periksa “Day of Calculation” dan “Time of Calculation” apakah sesuai dengan tanggal dan waktu yang kita maksud, misalnya 7 Agustus 2013 dan saat maghrib (sunset). Lalu klik “Preview” untuk memasukkan syarat perhitungan tersebut. Hasilnya kita peroleh setelah mengklik “Calculate“.

Accurate Time-c

Interpretasi garis tanggal

Interpretasi garis tanggal adalah interpretasi umum yang paling mudah. Garis batas arsir merah dan putih adalah garis wujudul hilal (WH), artinya bulan sudah wujud saat matahari terbenam pada 7 Agustus. Bagi pengamal hisab WH, mereka bisa menyimpulkan 1 Syawal 1434 jatuh pada keesokan harinya, 8 Agsutus 2013. Garis batas arsir putih dan biru adalah batas kriteria visibilitas hilal dengan alat optik menurut kriteria Odeh. Kalau dihitung ketinggian bulannya, kita-kira 5 derajat. Jadi kita bisa memperkirakan, garis tanggal kriteria 2 derajat melintas di bagian Utara Indonesia. Artinya, dengan kriteria 2 derajat pun (sebagai salah satu syarat kriteria IR “2-3-8” yang digunakan sebagian besar ormas Islam di Indonesia), bisa disimpulkan di Indonesia sudah terpenuhi kriteria IR 2 derajat, sehingga secara hisab IR 2 derajat 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013.

Interpretasi Posisi Bulan

Interpretasi posisi bulan sering digunakan untuk membantu rukyat atau menyimpulkan masuknya awal bulan dari data ketinggian, elongasi, dan parameter lainnya. Tetapi analisis ini hanya terbatas untuk lokasi yang kita pilih. Untuk mendapatkan gambaran lengkap, perlu juga dianalisis lokasi-lokasi lainnya. Untuk lokasi rujukan Pelabuhan Ratu, data hisab tersebut menyatakan:

– Tinggi bulan saat maghrib: 3o 18′ 54″.

– Beda tinggi bulan-matahari: 4o 15′ 32″ dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari): 7o 18′ 35″.

Artinya, posisi bulan sudah memenuhi kriteria WH, IR 2 derajat, dan IR LAPAN. Sehingga berdasarkan hisab, disimpulakan 1 Syawal di Indonesia jatuh pada 8 Agustus 2013.

B. Analisis Posisi Bulan dengan Stellarium

Stellarium menampilkan simulasi ketampakan bulan (dan benda-benda langit lainnya) seolah kita melihatnya langsung di langit. Pertama, kita gerakkan kursor ke kiri untuk mendapatkn menu pilihan. Klik “Jendela Lokasi” lalu kita pilih kota lokais pengamatan, misalkan Jakarta. Lalu klik “Jendela Tanggal/Waktu” untuk memasukkan tanggal 7 Agustus 2013 dan waktunya sekitar matahari terbenam.  Dengan mouse klik kiri ditekan, gerakkan kursor untuk menampilkan titik Barat (B). Maka akan terlihat bulan dan matahari. Untuk menampilkan bulan dan matahari secara lebih jelas, hamburan cahaya oleh atmosfer jangan ditampilkan. Caranya, klik “Jendela Opsi Langit dan Pandangan”. Tanda dihapus pada “Tampilkan Atmosfer”. Pada menu pilihan di bawah, bisa juga dipilih “sudut” (tidak semua versi) untuk menghitung ketinggian bulan, beda tinggi bulan-matahari, dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari). Ketinggian dihitung dari ufuk, ketika matahari terbenam (piringan atas matahari menyentuh ufuk). Kalau tidak ada menu “sudut”, cara manual bisa dilakukan, dengan mengklik bulan dan matahari, kemudian mencatat ketinggian masing-masing.

Hilal Syawal 1434-a

Tinggi bulan

Hilal Syawal 1434-b

Beda tinggi bulan-matahari

Hilal Syawal 1434-c

Elongasi (jarak sudut bulan-matahari).

Interpretasinya sama dengan interpertasi posisi bulan tersebut di atas. Bandingkan posisi bulan dengan kriteria yang digunakan. Bila telah melebihi kriteria, artinya awal bulan sudah masuk. Data stellarium (walau posisi pengukuran jarak sudut diperkirakan kasar) mirip dengan data perhitungan Accurate Time, karena Pelabuhan Ratu tidak terlalu jauh dari Jakarta. Data stellarium pum menyimpulkan, secara hisab IR 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013.

Kapan Idul Fitri 1434?

Demi persatuan ummat, keputusan Idul Fitri kita tunggu dari hasil sidang itsbat (penetapan) pada 7 Agustus sore. Mengapa harus menunggu sidang itsbat, padahal kita sudah mempunyai hasil hisab IR? Ya, kita harus menghargai saudara-saudara kita pengamal rukyat yang menantikan hasil rukyat untuk penetapan akhir Ramadhan. Mereka mempunyai hasil hisab juga, tetapi untuk ibadah mereka meyakini perlunya bukti rukyat. Pemerintah mewadahi kepentingan semua ummat Islam, karenanya diadakan sidang itsbat untuk menghimpun semua hasil hisab dan hasil rukyat. Karena kriteria yang digunakan masih beragam dan belum sepenuhnya menggunakan kriteria astronomi, maka potensi perbedaan sangat terbuka. Untuk penentuan awal Syawal 1434 kebetulan hasil hisabnya sama, tetapi mengingat kondisi cuaca yang tak menentu kemungkinan gagal rukyat bisa terjadi. Nah, sidang itsbatlah yang nanti memutuskan ketika terjadi perbedaan. Kalau terjadi perbedaan antara hisab IR dengan hasil rukyat, kemungkinan akan dipertimbangkan juga  penggunaan Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 yang membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat. Hal itu pernah terjadi saat sidang itsbat 1987.  Karena hasil hisab IR sepakat bahwa Idul Fitri jatuh pada 8 Agustus 2013 dan mengingat Fatwa MUI 1981, kemungkinan besar Idul Fitri jatuh pada 8 Agustus 2013. Namun, kepastiannya kita harus menunggu hasil sidang itsbat. Demi persatuan, kita harus menghargai adanya otoritas tunggal (Pemerintah) dan mematuhi keputusannya yang sudah mempertimbangkan aspek ilmiah dan fikih dalam musyawarah yang dihadiri para ulama, pakar hisab rukyat, dan perwakilan ormas-ormas Islam.

31 Tanggapan

  1. izin bertanya, ini untuk umat islam secara keseluruhan…
    jika kita menggunakan metode rukyat atau imkan rukyat, yang keduanya membutuhkan yang namanya visibilitas hilal, bukankah selamanya Islam tidak bisa memiliki kalender hijriah, karena kalau mengandalkan visibilitas, maka penentuan awal/akhir bulan dilakukan H-1, tidak bisa ditentukan jauh hari, kecuali dengan metode hisab (perhitungan)

    terima kasih atas perhatiannya

    • Kalender itu berdasarkan hisab, dihitung. Cara yang yang tunjukkan adalah metode hisab dengan kriteria imkan rukyat. Dengan kriteria itu, kita bisa membuat kalender untuk kapan pun. Kementerian Agama sudah mempunyai hasil hitungan untuk Kalnder Taqwim Standar sampai 20 tahun ke depan dari hasil Temu Kerja Hisab Rukyat. Perubahan kriteria hanyalah mungkin mengubah keputusan awal bulan bulannya, tidak mengubah hasil hitungannya. Dalam contoh di atas, interpretasinya yang berubah.

      Rukyat bukanlah untuk membuat kalender. Rukyat hanyalah digunakan oleh pengamal rukyat untuk menentukan waktu ibadah (awal dan akhir Ramadhan serta awal Dzulhijjah). Kalau kriterianya berdasarkan imkan rukyat secara astronomi, insya-allah hasil rukyat akan kompatibel hasil hisab di kalender.

      • Kalau sudah pake kriteria imkanur rukyat, berarti sudah tak ada lagi dong prof. istilah menggenapkan bilangan bulan sya’ban atau ramadhan sesuai hadits Nabi, karena hasilnya dah dapat dipastikan, dan mendung atau hujan bukan lagi suatu halangan untuk itu. Dengan begitu pemerintah sebenarnya hanya perlu ketok palu doang untuk menentukan kapan puasa atau idul fitrinya. Kan udah dikasih tanda pake warna merah tanggalnya…

      • Istikmal (menggenapkan bulan berjalan 30 hari) tetap berlaku dalam hisab imkan rukyat, yaitu ketika posisi bulan kurang dari kriteria imkan rukyat. Dalam penentuan Ramadhan lalu, sidang itsbat memutuskan istikmal Sya’ban, sehingga Ramadhan mulai 10 Juli 2013.

  2. Di alat komunikasi saya program ini ga bs download, beli dmn cd programnya ust?

  3. KENAPA ARAB SAUDI DAN INDONESIA BERBEDA 1 SYAWAL 1434 HIJRIAH
    NU DAN MUHAMMADIYAH=8 AGUSTUS 2013
    ARAB SAUDI=9 AGUSTUS 2013

  4. Prof Thomas,
    Bagaimana kalau kita tingkatkan bentuk penghargaan kita kepada para pengamal Rukyatul Hilal dengan sebuah himbauan untuk mengganti cara RUKYATUL HILAL SESAAT yang sudah tidak sesuai lagi dengan TUNTUTAN JAMAN sekarang yang sudah tidak UMMI lagi dengan cara baru yakni melakukan HISAB IR (HILAL KRITERIA NABI SAW yang IR SETELAH MAGHRIB)? Disaat yang sama kita juga himbau kepada PEMERINTAH untuk mengganti CARA bersidang Isbath, yakni pelaksanaannya cukup dilakukan SEKALI dalam setahun dan jadwalnya diajukan menjadi pada setiap AWAL tahun? Dengan demikian sidang Isbath tidak perlu lagi dilakukan tiga kali yakni di setiap ujung bulan Sya’ban, Ramadhan, Dzulqoidah, sesaat setelah proses rukyatul hilal penentuan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah. Dengan langkah ini, setidaknya UMMAT bisa punya kalender yang prediktif yang TANPA “Syarat dan Ketentuan” (berupa RUKYAT HILAL SESAAT), meskipun baru nyicil untuk satu tahun kedepan. Jika sudah nyaman dengan pola ini, maka bisa dilanjutkan dengan membuat kalender 5 tahunan, 10 tahunan, 20 tahunan dst.?
    Kepada para pengamal rukyat bisa dijelaskan bahwa, RUKYATUL HILAL SESAAT bukanlah satu2nya cara yang bisa ditempuh untuk dapat membuktikan munculnya HILAL, apalagi di era UMMAT yang sudah tidak UMMI lagi seperti saat ini. Ada cara lain yang lebih sesuai dengan TUNTUTAN JAMAN (berupa kalender prediktif tanpa syarat) dan INSYA ALAH tetap sesuai dengan QUR’AN & SUNNAH NABI SAW untuk MENGGUNAKAN AKAL dan MENGAMALKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (SUNNATULLAH), yakni dengan cara HISAB IR Sesuai Q:S Yunus:5, Arrahman:5 dll. Keyakinan atas hasil HISAB yang bisa disebut sebagai RUKYAT BIL’ILMI inipun sejalan dengan QS:102:5 (Kalla Lauta’lamuuna ‘ILMAL YAQIN). Sama dengan ILMAL YAQIN kita pada cara kerja jam tangan, GPS, Kompas, Seluler, Internet dll.
    Kepada penganut WH, IQG, IQF dll bisa dijelaskan bahwa dari berbagai metoda HISAB, kriteria IR SETELAH MAGHRIB lah yang harus ditaati dan dicontoh tanpa reserve alias Sami’na Wa atho’na. Bukankah jika dilihat dari sisi hasil, durasi Ramadhan yang ditentukan dengan pendekatan IMKAN RUKYAT SETELAH MAGHRIB ini sepertinya akan LEBIH EQUIVALENT dengan durasi Ramadhan pada Jaman Rasul SAW yang lalu? CARA rukyatul hilal boleh diubah, namun KRITERIA DARI RASUL tidak semestinya TURUT DIUBAH, mengingat RASUL TENTU DIBIMBING WAHYU DALAM HAL PENETAPAN WAKTU INI. Bukankah jika kita berselisih, maka wajib untuk kembali kepada RASUL dan ALLAH?
    Jadi tidak hanya pengamal rukyat dan penganut WH yang dituntut untuk berkorban, melainkan PEMERINTAH selaku eksekutif juga HARUS melakukan pengorbanan :
    1. Bagi Pengamal Rukyat berkorban untuk mengganti RUKYATUL HILAL SESAAT denan HISAB IR
    2. Bagi Penganut WH berkorban untuk mengakui faktor IR dan KONTRAS
    3.Last but not least yakni bagi Pemerintah, menjadwal ulang Sidang Isbath menjadi hanya dilakukan sekali dalam setahun yakni pada setiap awal tahun.
    Ketiga pihak harus sama2 berkorban sebagai jalan tengah, Ihdinash shiroo Thol Mustaqiim.
    Wasalam

    • Ya saya kira tidak bisa begitu mas, karena bagi para pengamal RUKYATUL HILAL SESAAT melakukan rukyat itu sudah dianggap sebagai satu syariat yang harus dilaksanakan. Meskipun sudah ada hasil HISAB IR tetapi tanpa melakukan rukyat dengan mata kepala secara langsung, bisa dianggap tidak menjalankan syariat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW. Yang jelas, rukyat tetap harus dilakukan walaupun hasilnya hilal tidak terlihat karena berbagai faktor yang menyebabkannya.

      Sidang itsbat dilakukan pemerintah untuk memutuskan kapan awal dan akhir Ramadhan (hari raya idul fitri), demikian pula dengan Dzulhijjah yang didalamnya ada puasa arafah. Bukan untuk menentukan kalender awal atau akhir tahun.

    • Selanjutnya tinggal pemerintah menetapkan hasil IR sebagai kalender yang berlaku secara nasional untuk penentuan waktu dan waktu ibadah. Semua syarat sudah dipunyai pemerintah : punya otoritas,kriteria dan wilayah hokum.
      Sehingga kerinduan ummat akan kalender yang mapan selama 14 abad peradaban Islam, bisa dimulai…

  5. Saya berpendapat ada dua hal yang perlu dibedakan:
    1. CARA menentukan TANDA WAKTU Berpuasa (dan TANDA WAKTU Berbuka)
    2. TANDA WAKTU Berpuasa (dan WAKTU berbuka) itu sendiri.

    Point 1. sebagai sebuah CARA , RUKYATUL HILAL SESAAT adalah bentuk IBADAH GHAIRU MAHDHOH, yakni bentuk PERIBADATAN yang SELAIN berkatian dengan HAMBLUMMINALLAH, JUGAberkaitan dengan HUBUNGAN DENGAN SESAMA (MANUSIA dan makhluk ALLAH lainnya). Prinsip dari IBADAH GHOIRUMAHDHOH adalah tatalaksananya BOLEH tidak berpola/persis kepada RASUL SAW, BOLEH bersifat RASIONAL (Afalaa Ta’qilun, Afalaa Tatafakkaruun?), dan azaznya adalah MANFAAT. Plus tidak ada dalil yang MELARANG. Jadi Rukyatul HILAL sebagai sebuah CARA PENETAPAN WAKTU boleh tidak sama persis dengan RASUL SAW, apalagi cara RUKYATUL HILAL ini punya ILLAT, yakni ketika itu zaman masih UMMI. Sesuai kaidah fiqih, HUKUM TIDAK BERLAKU JIKA TIDAK ADA ILLAT, sehingga ketika zaman telah berubah dengan ditembukan metode HISAB, maka RUKYATUL HILAL SESAAT BOLEH DIGANTI. Contoh: dulu ketika belum ditemukan system tanda waktu (jam) maka kita melihat bayang2 ketika menentukan waktu sholat. Namun sekarang waktu shalat bisa ditentukan dengan cara MELIRIK jam dinding atau jam tangan. Dulu kita menentukan arah kiblat (di suatu tempat yang kita tidak kenal) dengan melihat matahari, maka sekarang bisa dengan MELIRIK kompas, dst. Senada dengan RUKYATUL HILAL SESAAT adalah SIDANG ISBATH SESAAT, yang juga boleh diganti karena terkesan mendadak-dadak, tidak well planned dan tidak well organized.

    Adapun point 2. yakni TANDA WAKTU adalah terkait dengan IBADAH MAHDHOH karena merupakan salah satu syarat SYAH / TIDAK nya IBADAH MAHDHOH. Secara fiqih, puasa seseorang TIDAK SYAH jika dilakukan di WAKTU yang SALAH (misal melaksanakan puasa di tanggal 1 Syawal yang selain tidak syah juga malah berdosa), dan seseorang mendapatkan dosa jika meninggalkan PUASA ketika TELAH MASUK WAKTU (misal tidak berpuasa pada tanggal 1 Ramadhan), dst. Prinsip dari IBADAH MAHDHOH adalah tatalaksananya HARUS BERPOLA kepada RASUL SAW, bersifat SUPRA RASIONAL dan BUKAN LOGIKA karena merupakan wilayah WAHYU dan bukan AKAL, azaznya adalah TAAT. Plus HARUS berdasar adanya dalil PERINTAH. Oleh karena itu, ketika RASUL SAW menentukan HILAL sebagai TANDA WAKTU berpuasa (dan berbuka), maka kita HARUS mencontohnya sebagai TANDA WAKTU berpuasa (dan berbuka).

    Jadi menurut saya, CARA adalah IBADAH GHAIRU MAHDHOH yang boleh berubah atau berkembang, adapun TANDA WAKTU adalah bagian dari IBADAH MAHDHOH sehingga harus DITAATI dan jangan diubah.
    Wasalam,

  6. Bagi penganut rukyat sebenarnya terlihatnya hilal adalah hal yg sangat penting. Mereka tidak mungkin mendasarkan pada pengakuan semata tanpa ada bukti yg menunjukkan keterlihatan hilal, karena ini berkaitan dg ibadah. Nah menurut accurate times kriteria odeh diatas, Indonesia ada pada arsiran putih yg artinya tidak mungkin hilal terlihat pada 7 agustus 2013. Artinya jika pada 7 agustus nanti ada perukyat yg mengaku melihat hilal dan kesaksian itu diakui sebagai dasar menetapkan 1 syawal jatuh pada keesokan harinya (8 Agustus) maka otomatis kriteria odeh menjadi gugur dan sudah tidak bisa digunakan lagi, karena “terbukti” hilal dapat terlihat. Artinya, sangat aneh jika kita masih menggunakan kriteria odeh untuk Imkan Rukyat. karena dengan diakuinya kesaksian hilal 7 agustus, itu menunjukkan kriteria odeh menjadi obsolet.

    • Pengakuan kesaksian hilal bisa dua macam. Pengakuan yang diakui secara ilmiah bila meyakinkan, misalnya didukung data yang lengkap dan dikonfirmasi dengan teleskop dan disertai foto. Data baru itu bisa digunakan untuk menyempurnakan kriteria.
      Pengakuan ada juga yang diterima secara syar’i, karena telah memenuhi kriteria yang disepakati, walau secara ilmiah meragukan. Data itu jelas tidak bisa digunakan untuk menyempurnakan kriteria astronomi, tetapi bisa digunakan untuk itsbat. Saya sering menyebutkan pengakuan hial seperti sebagai “hilal syar’i”.

      • Di jaman Rasulullah ada satu kesaksian dari orang Badui yang menyatakan melihat hilal dan Rasulullah kemudian memutuskan untuk beridul fitri keesokan harinya. BIsa saja kan yang dilihatnya itu benda langit yang bukan hilal, sementara para sahabat yang lain banyak yang mengaku tidak berhasil melihatnya.

        Nah, kesaksian tersebut tanpa didukung oleh data ilmiah, kriteria2 astronomi ataupun yang lainnya, tetapi cukup dengan sumpah atas nama Allah. Tapi di jaman sekarang, mengapa sumpah atas nama Allah justru diragukan karena berpatokan pada hitungan2 yang dibuat manusia (kasus idul fitri tahun 2011).

      • Orang Badui adalah bangsa pengembara yang faham betul soal hilal, apalagi cuaca Arab cenedrung sangat cerah. Berbeda dengan kesaksian ala Cakung yang bukan murni rukyat (tetapi rukyat untuk membenarkan hisab taqribi, bukan hisab hakiki) dan medan pandang ke arah Barat dari Cakung banyak gangguan karena langusng mengarah ke kota yang banyak cahaya.

  7. Dari ketiga kriteria IR yang dipakai di software Accurate Time, semuanya menunjukkan bahwa pada tanggal 7 Agustus 2013 di Indonesia hilal tidak mungkin bisa dilihat. Kalau begitu, apakah kriteria IR LAPAN bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah? Apakah ada foto hilal yang berada di bawah ketiga kriteria IR yang dipakai Accurate Time? Mohon penjelasannya. Terimakasih.

    • Kriteria ada dua macam dalam implementasinya. Kriteria yang digunakan di Indonesia (MABIMS, LAPAN), masih cenderung mengarah pada batas batas untuk menolak kesaksian bila tidak ada bukti yang meyakinkan (misalnya foto) dengan batas waktu maghrib. Alasannya, tidak ada bukti ilmiah kesaksian yang lebih rendah dari batas kriteria tersebut. Kriteria Internasional (Odeh, Yallops, SAAO, Shaukat) cenderung pada prakiraan ketampakan dengan menggunakan batas waktu “Best Time”, yaitu waktu terbaik untuk pengamatan, beberapa saat setelah maghrib.

  8. Pak Djamaludin ” Apakah negara yang dilalui garis katulistiwa sepertri Indonesia adalah bisa dikatakan sebagai indikator batas normal untuk merukyat hilal ? Karena selama berpuluh-puluh tahun haisl observasi para kiyai ahli falak diatas 2 derajat hilal bisa dilihat, adakah kesamaan hasil rukyat di negara lain yang juga dilalui garis katulistiwa.?

    • Kesaksian hilal 2 derajat sangat meragukan, tetapi sementara digunakan sebagai kriteria kesepakatan.
      Rukyat di Indonesia sebenarnya lebih sulit karena awan selalu mengganggu, tidak seperti daerah lintang menengah yang berciri gurun, yang cenderung cerah.

  9. Asslm.wr.wb. Pak Djamaluddin, setelah saya click sesuai gambar diatas, disitu kesimpulannya not visible even with the optical aid, dan pada gambar, Indonesia masuk warna putih, yang tidak mungkin terlihat, tetapi penjelasan Bapak kemungkinan sudah bisa terlihat karena posisi sudah 2 derajat, bagaimana memahaminya pak? Mohon penjelasannya.Wassl.

    • Saya tidak menyebut “kemungkian sudah terlihat”, tetapi telah terpenuhi kriteria IR 2 derajat (yang sudah jadi kesepakatan). Kemungkian terlihatnya secara astronomis memang hampir tidak bisa, apalagi kondisi cuaca kurang baik. Kriteria IR saat ini digunakan untuk penolakan kesaksian meragukan pada saat yang di bawah kriteria. Untuk mendapatkan kemungkinan kriteria yang optimistik terlihatnya hilal, perlu kriteria yang lebih tinggi, seperti kriteria Odeh tersebut.

      • Mohon maaf Pak masih, ngganjel nih, jadi apakah mungkin hilal bisa terlihat pada tanggal 7 Agustus nanti? Kok sepertinya info yg beredar hilal bakal terlihat krn posisi sudah 2 derajat.
        Seandainya Saudi tidak melihat, mungkin nggak org Indonesia bisa lihat?

      • Secara astronomi sulit melihat hilal pada 7 Agustus, tetapi kalau ada yang menyaksikan akan diterima karena sudah melebihi kriteria yang disepakati. Itu “hilal syar’i” yang secara syar’i sah untuk menjadi dasar itsbat.

  10. Prof, kalau misalkan tgl 7 Agustus di Indonesia hilal tidak bisa terrukyat tapi di Malaysia, Singapura, dan Brunei hilal berhasil dirukyat, apakah pemerintah RI akan melakukan istikmal atau menerima hasil rukyat hilal di negara tetangga tsb? Kan Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tergabung dalam MABIMS. Bagaimana tanggapannya Prof?

    Terima Kasih.

  11. Tanya dikit.,kalo dari perhitungan.,yg tgl 6agustus2013
    Tinggi hilal berapa..tadz?ini utk mnjwb yg puasanya mulai
    Hari selasa,tgl 9 juli 2013.apakah mungkin 1slyawalnya hari rabu,tgl 7agsts 2013?

    • Pada saat maghrib 6 Agustus belum terjadi ijtimak dan bulan masih di bawah ufuk. Ijtimak baru terjadi pada 7 Agustus pukul 04:51 WIB. Jadi tidak mungkin 1 Syawal jatuh pada 7 Agustus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: