Dalam Ranah Ilmiah Pakar Falak Muhammidyah Terbuka Terhadap Imkan Rukyat


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-astrofisika, LAPAN

Diskusi-Hisab-Rukyat-29Nov2009

(Pertemuan KPPI Salman ITB dengan Pengurus MTT Muhammadiyah, 29 Nov 2009)

Semangat untuk penyatuan kalender Islam terus berkembang, walau mungkin banyak pihak meragukannya. Dialog pun terus berjalan. Foto di atas adalah dokumentasi pertemuan KPPI (Komite Penyatuan Penanggalan Islam) Masjid Salman ITB (saya sebagai Wakil Ketuanya) bersama Pimpinan dan perwakilan Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah, 29 November 2009, di Gedoeng Muhammadiyah, Yogyakarta.  Setelah itu, ada pertemuan yang penting juga pada 30 September 2012 bersama Ketua MTT di UHAMKA, Jakarta.  Walau belum ada kata sepakat, saya membaca dinamika pemikiran di internal Muhammadiyah. Mungkin publik mengira Muhammadiyah bersikukuh dengan kriteria Wujudul Hilal. Tetapi, kalau kita cermati, dalam ranah ilmiah pakar falak Muhammadiyah justru sangat terbuka untuk mengkaji ulang wujudul hilal. Ada tiga doktor falak Muhammadiyah yang perlu kita simak pendapatnya.

Pertama, Dr. Rupi’i (Pengurus Muhammadiyah Jawa Tengah) dalam disertasinya di IAIN Walisongo Semarang berjudul “Dinamika Penentuan Awal Bulan Kamariyah Menurut Muhammadiyah (Studi Atas Kriteria Wujudul Hilal dan Konsep Matla’)” (2012) menyimpulkan adanya kecenderungan re-orientasi wujudul hilal menuju kriteria astronomis, walau baru terbatas pada tokoh-tokohnya. Berdasarkan analisis ilmiah di dalam disertasinya, Dr. Rupi’i menuliskan saran-saran:

1. Muhammadiyah hendaknya segera melakukan kajian ulang secara mendalam terhadap kriteria wujudul hilal sebagai penentuan awal bulan kamariyah, baik berkaitan dengan aspek dalil maupun aspek astronomisnya. Hal ini disebabkan penerapan kriteria wujudul hilal sering menimbulkan perbedaan penetapan awal bulan di kalangan umat Islam apabila posisi bulan masih rendah.

2. Muhammadiyah dengan metode hisab hakiki kriteria wujudul hilal sebagai penentuan awal bulan kamariyah hendaknya lebih memperhatikan perkembangan kriteria astronomis (imkan arrukkyat/crescent visibility) untuk kemudian segera diikuti demi persatuan penanggalan umat Islam, baik tingkat nasional maupun internasional.

3. …

Kedua, Dr. Sriyatin Shadiq (anggota MTT Muhammadiyah) saat promosi doktor falak di IAIN Surabaya  ketika menjawab pertanyaan penguji yakin betul penyatuan kalender Islam bisa terwujud. Dalam catatan seniornya di Muhammadiyah, Dr. Sriyatin dilaporkan merincinya sebagai berikut (tanpa editting):

Ketika Prof. Dr. H. Burhan Jamaluddin, MA. (Ketua Penguji) mengajukan pertanyaan, apakah ummat Islam di Indonesia ini bisa disatukan dalam menentukan awal Ramadlan dan awal Syawwal,,,?; Beliau (Pak Sriyatin) menjawab dengan nada sangat optimis bahwa “bisa,, !”. Penyatuan takwim Islam bisa terwujud apabila pemerintah, pimpinan organisasi Islam, para ahli hisab-rukyat dan astronomi melakukan kajian secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang menjadi kendala penyatuan kalender Islam.

Politik penyatuan kalender Islam di Indonesia harus memperhatikan empat dimensi yaitu :
1. Ada kesepakatan kriteria awal bulan kamariyah secara astronomi modern;
2. Ada kesepakatan madzhab fikih hisab dan rukyat;
3. Ada dukungan sosial politik pemerintah yang kuat dengan membuat regulasi peraturan perundang-undangan;
4. Itsbat awwal bulan kamariyah harus dilakukan oleh pemerintah.

Untuk mewujudkan gagasan Kalender Islam Tunggal yang dapat mengakhiri perbedaan penetapan awal Ramadhan dan awal Syawwal, Pemerintah harus aktif mendialogkan tidak hanya di saat sidang itsbat, tetapi harus aktif memberikan stimulasi pelaksanaan tingkat mu?tamar dan munas organisasi dan lembaga-lembaga Islam yang ada di Indonesia ini khusus membicarakan masalah penyatuan kalender tunggal dan atas biaya pemerintah. Kalau gagasan ini bisa dilaksanakan, maka tahun 2015 nanti optimis ummat Islam Indonesia bisa bersatu dalam mengawali dan mengakhi puasanya.

Ketiga, Prof. Dr. Susiknan (anggota MTT Muhammadiyah) saat pengukuhan guru besar di UIN Yogyakarta, menyatakan:

… Oleh karena itu, untuk mencari titik temu keduanya, yang perlu dikembangkan adalah aspek substantif-filosofis berbasis riset yang dapat dipertanggungjawabkan. Disinilah peran penting para ilmuwan dan agamawan duduk bersama merumuskan kalender Islam secara komprehensif. Jika hasil riset nanti menunjukkan wujudul hilal yang lebih aplikatif sesuai tuntutan syar’i dan sains dan relevan untuk masa kini, maka marilah diterima dengan lapang dada. Begitu pula jika visibilitas hilal lebih sesuai harus juga diterima dengan sikap gentleman agreement. Sikap Lapang dada semua pihak, akan menjadikan dua organisasi Islam terbesar di Negri ini semakin bersatu. Kalau NU dan Muhammadiyah bisa bersatu, Indonesia akan menjadi negara besar yang disegani negara-negara lain, harap Susiknan.

Walau belum ada sarjana astronomi di lingkungan Muhammadiyah, keberadaan tiga pakar ilmu falak bergelar doktor tersebut cukup mencerahkan dan memberi harapan adanya perubahan di internal Muhammadiyah. Hasil penelitian visibilitas hilal sudah banyak. Saran untuk pemilihan salah satu kriterianya juga sudah ada, antara lain saya tuliskan di booklet “Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat“. Sedangkan penelitian soal Wujudul Hilal yang aplikatif sampai saat ini belum ada, yang ada malah saran untuk mengkaji ulang wujudul hilal (dalam disertasi Dr. Rupi’i). Kalau begitu, tinggal selangkah lagi Muhammadiyah akan (meminjam istilah Prof. Susiknan, dengan penyempurnaan makna)  mengambil sikap gentleman dalam bentuk gentlemen’s agreement (perjanjian tak resmi) untuk menerima visibilitas hilal.

Baca catatan saya (dan link catatan terkait) tentang perlunya perubahan wujudul hilal Muhammadiyah di sini.

Iklan

21 Tanggapan

  1. Reblogged this on iwanb86.

  2. Reblogged this on Naneyan's Blog.

  3. Setahu saya, pakar-pakar Muhammadiyah memang cukup terbuka dari dulu. Yang kurang terbuka dan terkesan memaksakan itu kan yang justru mengaku2 hisabnya paling astronomis. Bahkan menamai hisab IRnya dengan hisab IR astronomis.he2.

  4. dalam porsi yang lain, bahasan astronomi yang bapak tuliskan memang menarik untuk dibaca, apalagi mengenai pembahasan alam semesta

    tapi mengamati persoalan ‘penentuan bulan baru’, nampaknya saya tidak tertarik dari apa yang dilakukan oleh bapak

    terlebih usaha-usaha yang terkesan ‘provokatif’ dan tidak mencerdaskan umat, bahkan menyalahkan porsi metode yang lain tanpa berpikir panjang dengan status bapak sebagai ‘profesor’

    dan seolah-oleh porsi metode yang diusulkan oleh bapak adalah yang terbaik

    saya bukan anggota ormas muhammadiyah, tapi seorang bagian dari umat islam bangsa indonesia

    terlebih saat ini otoritas pemerintah republik indonesia bukanlah institusi yang bersifat sama seperti institusi yang dibangun oleh rasulullah saw berdasarkan Al Quran dan Sunnah

    dengan demikian, akan selalu terjadi perbedaan pemahaman karena pemerintah republik indonesia bukanlah penentu kebijakan hukum bagi umat islam yang sebenarnya

    • Upaya penyatuan merupakan upaya lama. Saya memulai sejak 1990-an. Dengan upaya bersama, NU dan Persis, serta ormas-ormas lain siap untuk bersatu, walau kriterianya belum sempurna. Di tingkat pakar falak Muhammadiyah, umumnya juga siap berubah. Yang belum siap adalah sebagian besar warga Muhammadiyah yang hanya mendasarkan pada taqlid organisasi soal wujudul hilal yang seolah satu-satunya kriteria hisab. Pendekatan pakar sudah dilakukan. Maka sekarang sudah pada tahap membuka diskusi publik. Pro dan kontra wajar terjadi, apalagi bila kemapanan diusik, walau dengan bahasa netral teknis ilmiah atau fikih. Kalau ada yang tidak sependapat, silakan bantah pada hal yang substantif.

      • Selama umat islam mash berpegang pada fiqih yg bikin perbedaan,tdk akan pernah bersatu,yg bisa mempersatukan umat hanyalah Al-qur’ wa sunatirrasul.

  5. Pertama, dalam Islam, penentuan masuknya bulan Ramadhan dan bulan lainnya hanyalah dikenal dengan cara melihat hilal.
    Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
    فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
    “… Maka, barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan, hendaknya ia berpuasa ….” [Al-Baqarah: 185]
    Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعَدُّوْا ثَلَاثِيْنَ
    “Berpuasalah kalian karena melihat (hilal) tersebut, dan ber¬bukalah kalian karena melihat (hilal) tersebut. Lalu, apabila tertutupi dari (pandangan) kalian, sempurnakanlah bulan (Sya’ban) tersebut menjadi tiga puluh (hari).” [1]
    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
    «إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا» وَعَقَدَ الْإِبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ «وَالشَّهْرُ هَكَذَا، وَهَكَذَا، وَهَكَذَا» يَعْنِي تَمَامَ ثَلَاثِينَ
    “Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah, kami tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu begini, begini, dan begini -seraya beliau melipat ibu jarinya pada kali ketiga (yakni dua puluh sembilan hari)-. Bulan itu begini, begini dan begini -yakni tiga puluh hari secara sempurna -.” [2]
    Dari dua hadits di atas -dan banyak lagi hadits lainnya- dapat diketahui bahwa, dalam Islam, jumlah hari dalam sebulan hanyalah dua puluh sembilan atau tiga puluh hari. Tidaklah dikenal bahwa bulan Islam berakhir dengan tanggal 28 atau 31.
    Dari ayat dan hadits-hadits di atas, kita bisa mengetahui secara pasti bahwa penentuan masuknya bulan dalam Islam hanyalah dengan dua cara:
    Rukyat hilal, yaitu penampakan hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29.
    Ikmâl ‘penyempurnaan’, yaitu menyempurnakan bulan menjadi tiga puluh hari di kala hilal tidak terlihat pada tanggal 29 setelah matahari terbenam.
    Ibnu Hubairah berkata, “(Para ulama) bersepakat bahwa puasa Ramadhan menjadi wajib dengan rukyat hilal atau meng-ikmâl Sya’ban menjadi tiga puluh hari ketika tidak ada rukyat, sedang mathla’ kosong dari penghalang untuk melihat.”[3]
    Demikian pula dinukil kesepakatan oleh Ibnul Mundzir sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar[4].
    Kedua, penentuan masuknya bulan dengan ilmu hisab atau ilmu falak adalah hal yang tidak dikenal dalam Islam.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya kita mengetahui secara aksioma dalam agama Islam bahwa dalam rukyat hilal puasa, haji, iddah, îlâ`, dan selainnya berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan hilal, beramal (padanya) dengan menggunakan berita ahli hisab -bahwa hilal dilihat atau belum- adalah tidak boleh. Nash-nash mustafîdhah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut sangatlah banyak. Kaum muslimin telah bersepakat tentang (ketidakbolehan penggunaan berita ahli hisab) tersebut. Sama sekali tidaklah diketahui ada silang pendapat dalam hal tersebut – baik dahulu maupun belakangan-, kecuali sebagian orang-orang belakangan setelah abad ke-3 yang senang dengan ilmu fiqih. (Orang tersebut) menyangka bahwa ahli hisab boleh beramal dengan hisab untuk dirinya sendiri jika hisabnya menunjukkan rukyat. Bila tidak menunjukkan, hal tersebut tidak diperbolehkan. Pendapat ini -walaupun terbatas pada keadaan mendung dan terkhusus bagi si ahli hisab itu sendiri- adalah pendapat yang syâdz ‘aneh, ganjil’, telah diselisihi oleh ijma’ (kesepakatan ulama) sebelumnya. Adapun mengikuti (ilmu hisab) tersebut dalam keadaan (cuaca) tidak berawan atau memakai (ilmu hisab) sebagai hukum umum pada segala keadaan, hal tersebut tidaklah diucapkan oleh seorang muslim pun.”[5]
    Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa kerusakan penggunaan ilmu hisab dalam penentuan masuknya Ramadhan bisa disimpulkan pada empat perkara:
    Menyalahi ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan bahwa masuknya bulan hanyalah dengan dua cara: rukyat hilal dan ikmâl.
    Membuang jalan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam penentuan masuknya bulan dengan memakai ilmu hisab sebagai pengganti (jalan) tersebut.
    Menentang jalan dan kesepakatan para shahabat radhiyallahu ‘anhum yang tidak pernah menggunakan ilmu hisab.
    Menyelisihi kesepakatan ulama yang telah diterangkan oleh Ibnu Taimiyah[6], Ibnu ‘Abdil Barr[7], dan selainnya.
    Hendaknya orang-orang yang mengumpulkan empat kerusakan di atas bersiap untuk menuai ancaman Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana dalam firman-Nya,
    وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا.
    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul, sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dia kuasai itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, sedang Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisâ`: 115]
    Namun, kami perlu mengingatkan bahwa keterangan di atas tidak menunjukkan akan keharaman penggunaan ilmu hisab dalam hal yang diperbolehkan. Kami hanya menegaskan kesalahan orang-orang yang menggunakan ilmu hisab sebagai penentu final masuknya bulan.
    Keempat, hilal adalah bulan sabit kecil yang muncul pada awal bulan.
    Orang Arab menyebut bulan sabit kecil pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan nama hilal. Adapun bulan yang muncul pada malam keempat dan seterusnya, orang Arab menyebutnya dengan nama qamar (bulan).[8]
    Hilal, yang dianggap sebagai tanda awal bulan, adalah bulan sabit kecil yang tampak setelah matahari terbenam. Telah datang sejumlah atsar dari para shahabat yang menunjukkan bahwa hilal yang teranggap sebagai awal bulan adalah yang terlihat setelah matahari terbenam[9]. Bahkan, Ibnu Hazm menukil kesepakatan ulama tentang hal tersebut[10].
    Dari penjelasan di atas, bisa diketahui dua kesalahan yang sering terjadi:
    Menganggap bahwa hilal mungkin terlihat sebelum matahari terbenam.
    Anggapan tersebut telah kita jumpai pada kejadian Kamis sore kemarin, 19 Juli 2012, yaitu bahwa seseorang orang menganggap telah melihat hilal pada pukul 17:53, padahal waktu Maghrib di wilayah tersebut masih beberapa menit lagi.
    2. Pembatasan bahwa tinggi hilal ketika dilihat hanya sah bila berada pada dua derajat atau lebih.
    Ini adalah pembatasan yang tidak benar karena Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memberi tuntunan dengan hitungan ketinggian dua derajat, tetapi beliau memberi tuntunan umum bagi siapa saja yang melihat hilal, yakni pada ketinggian berapapun setelah matahari terbenam.
    Kelima, penentuan masuknya bulan adalah wewenang pemerintah (Ulil Amri).
    Imam Ibnu Jamâ’ah Asy-Syâfi’iy menjelaskan tentang wewenang pemerintah, yang merupakan kewajibannya kepada rakyat, “Wewenang Ketiga: penegakan simbol-simbol Islam, seperti shalat-shalat wajib, shalat Jum’at, shalat berjamaah, adzan, iqamah, khutbah, dan keimaman. Juga mengawasi urusan puasa, berbuka, hilal, haji ke Baitullah, dan umrah. Juga memperhatikan hari-hari Id ….”[11]

    Kewajiban kita, selama pemerintah tidak memerintah dalam hal yang mungkar, adalah taat kepada mereka dalam hal yang ma’ruf. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
    “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, serta taatlah kepada Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisâ`: 59]
    Dari ‘Ubâdah bin Ash-Shâmit radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,
    ((دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا، وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا، وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ)).
    “Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memanggil kami, lalu kami membaiat beliau, dan di antara (janji) yang beliau ambil atas kami adalah, ‘Kami berbaiat untuk mendengar dan menaati (pemimpin) dalam keadaan semangat dan terpaksa, serta dalam keadaan mudah dan susah, meski terjadi pementingan hak pribadi terhadap kami, serta kami tidak boleh menggugat perkara itu dari pemiliknya, kecuali bila kalian melihat kekufuran yang sangat nyata, yang kalian memiliki argumen tentang (kekufuran) itu di sisi Allah.’.”[12]
    Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
    ((إِسْمَعْ وَأَطِعْ فِيْ عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ، وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ، وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ، وَإِنْ أَكَلُوْا مَالَكَ، وَضَرَبُوْا ظَهْرَكَ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ مَعْصِيَةً)).
    “Dengar dan taatlah pada waktu susah dan mudah serta dalam keadaan bersemangat dan terpaksa, meski terjadi pementingan hak pribadi terhadapmu, juga walaupun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu, kecuali jika hal tersebut merupakan suatu maksiat.” [13]
    Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas sangatlah banyak.
    Keenam, terjadi silang pendapat di kalangan ulama bahwa, bila hilal telah terlihat pada suatu negeri, apakah rukyat hilal tersebut berlaku juga untuk penduduk negeri yang lain?
    Terdapat silang pendapat di kalangan ulama baik terdahulu maupun belakangan- tentang hal tersebut. Walaupun pendapat yang menyatakan rukyat hilal tersebut berlaku untuk seluruh negeri itu lebih kuat, hal tersebut lebih berlaku tatkala seluruh kaum muslimin dipimpin oleh seorang pemimpin atau pada keadaan-keadaan tertentu.
    Adapun keberadaan pemerintah kita yang telah menetapkan masuknya Ramadhan berdasarkan rukyat hilal dan telah diikuti oleh kebanyakan manusia, tidak ada alasan bagi rakyat untuk menyelisihi ketetapan tersebut. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
    “Puasa itu adalah hari kalian berpuasa. Berbuka itu adalah hari kalian berbuka. Adh-hâ itu adalah hari kalian ber-udh-hiyah.” [14]
    Setelah meriwayatkan hadits di atas, Imam At-Tirmidzy berkata, “Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan perkataannya, ‘Sesungguhnya maknanya adalah bahwa berpuasa dan berbuka itu (dilaksanakan) bersama jamaah dan kebanyakan manusia.’.”
    Pada akhir jawaban ini, kami mengingatkan kaum muslimin akan etika dan adab agung dari para ulama dalam hal berbeda pendapat.
    Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallâhu ‘anhu, beliau mengerjakan shalat di Mina secara sempurna tanpa mengqashar. Oleh karena itu, Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu berbeda pendapat dengan Utsman seraya berargumen bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta Abu Bakr dan Umar radhiyallâhu ‘anhumâ mengerjakan shalat dengan qashar. Namun, ketika Utsman mengimami shalat, Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu -yang bermakmum kepada Utsman- ikut mengerjakan shalat secara sempurna bersama Utsman. Ketika hal tersebut ditanyakan kepada Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu, beliau menjawab,
    الْخِلَافُ شَرٌّ
    “Perbedaan pendapat adalah kejelekan.” [15]
    Juga perhatikanlah bagaimana Ali bin Abi Thalib melaksanakan haji Qirân karena diperintah oleh Utsman bin Affan, padahal Ali sendiri berpendapat dengan haji Tamattu’[16].
    Semoga Allah menyatukan kaum muslimin di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah, serta menghindarkan mereka dari segala sebab perselisihan dan perpecahan. Amin.
    [1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallâhu ‘anhumâ. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu.
    [2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallâhu ‘anhumâ.
    [3] Al-Ifshâh 4/89 dengan perantara makalah Al-Hisâb Al-Falaky fî Dhuhûl Ramadhân wa Khuhûjihi Qaulun Syâdzun Muthrah karya Dr. Abdul Aziz Ar-Rayyis.
    [4] Fath Al-Bâry 4/123.
    [5] Majmû Al-Fatâwâ 25/132-133.
    [6] Sebagaimana yang telah berlalu.
    [7] At-Tamhîd 14/352
    [8] Ash-Shihâh 4/1851 dan Al-I’lâm 5/172 karya Ibnul Mulaqqin.
    [9] Bacalah atsar-atsar shahabat tersebut dalam buku Ma’rifah Auqâth Al-‘Ibâdât 2/12-13, 16 karya Khalid Al-Musyaiqîh.
    [10] Al-Muhallâ 6/239.
    [11] Tahrîr Al-Ahkâm Fî Tadbîr Ahl Al-Islâm hal. 66.
    [12] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.
    [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân dari Ubâdah bin Ash-Shâmit radhiyallâhu ‘anhu.
    [14] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu. Dikuatkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 224 dan dalam Irwâ`ul Ghalîl 4/13.
    [15] Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahîh Sunan Abi Dawûd.
    [16] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.

  6. […] Sayangnya, tanggapan pakar falak Muhammadiyah sama sekali tidak saya peroleh. Bowsing di internet pun TIDAK ADA satu pun yang mendukung WH dari aspek dalil dan logika astronomisnya. Tanggapan di facebook pun tidak ada yang mampu menjawab soal dalil WH dari QS 36:40 dan logika ilmiahnya, malah yang muncul justru tawaran pengganti wujudul hilal. Syukurlah ada situs “Sang Pencerah” yang menyuarakan pandangan Muhammadiyah yang dapat saya gunakan untuk “membaca” pemahaman kader Muhammadiyah tentang hisab rukyat. Di dalamnya ada dua kelompok tulisan terkait falak dan penentuan awal bulan: (1) tulisan umum yang kandungannya mengarah pada penggunaan hisab imkan rukyat atau setidaknya membuka peluang untuk menggunakannya dan (2) tulisan yang berupaya membela wujudul hilal, namun logikanya aneh dari sudut pandang astronomi (ilmu yang berkait langung samalah kalender), termasuk yang akhirnya malah menawarkan penggantian wujudul hilal. Tulisan yang ada di situs “Sang Pencerah” (yang berhasil saya peroleh) bukanlah karya pakar falak Muhammadiyah. Sedangkan pakar falak Muhammadiyah dalam ranah ilmiah sebenarnya terbuka pada hisab imkan rukyat. […]

  7. sebagai ilmuan, tugas anda adalah menyampaikan mana yang menurut teori ilmuah itu benar, cukup, tanpa harus menghakimi benar salah salah satu kelompok lain yang kebetulan berbeda dengan anda. Saya menilai anda sudah masuk ranah yang bukan lagi menjadi wilayah keilmuan yang bebas nilai.

  8. pak thomas yang budiman sebaiknya anda juga terlalu mengagung-agungkan metode anda, seolah yang lain salah…, niat anda mungkin benar tapi cara anda belum tentu benar..!!!!
    ini yang mungkin bagi orang jawa mengatakan ‘bener neng ora pener’…
    model-model anda yang saya perhatikan selalu menjustifikasi metode selain imkan rukyat kurang tepat dan ‘memaksa’ menggunakan metode anda, walaupun niatnya baik untuk persatuan umat namun cara anda menyampaikan yang jauh dari santun justru akan memecah umat, setidaknya itu terlihat dari muhammadiyah yang justru enggan menghadiri sidang itsbat…
    so…
    anda bisa menyimpulkan sendiri….kalau masih dengan cara-cara memaksakan dan menghina medode lain dengan usang atau apalah yang justru menyakiti hati sabagian umat islam…apakah ini persatuan yang anda harapkan…????????????

    sekali lagi ‘BENER NENG ORA PENER’ silahkan anda tanya ke orang tua jika anda belum faham maksudnya

    salam…

    • Silakan bantah bahwa WH modern (bukan usang), silakan bantah ada dalil WH (karena QS 36:40 keliru makna astronomisnya), silakan bantah bahwa Muhammadiyah tidak memicu tafarruq (kenyataannya ketika diajak untuk bersatu malah memisahkan diri).

  9. -Bismillahirrahmaanirrahiim
    -Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    HISAB IMKANUR RUKYAT BISA MENJADI TEPAT APABILA PENERAPAN NYA UNTUK INTERNASIONAL (GLOBAL)
    Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip: Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:
    • Pada saat Matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di
    atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
    • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

    Di revisi :dengan tidak memasukan “sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°”
    sebab saat ijtimak (kunjungsi) ada kalanya saat itu sudut elongnasi ada 9 derajat.

    Semua ketentuan tsb diatas harus bermula magrib (terbenamnya matahari) di garis batas perubahan hari dan tanggal yang tetap di IDL (di lautan samudra pasifik )dan saat itu bulan sudah tertinggal dan lepas oleh matahari.
    berikut ke baratnya dalam rentang waktu 24 jam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: