Menuju Kalender Hijriyah Tunggal Pemersatu Ummat


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Mari kita niatkan bersama untuk mewujudkan kalender hijriyah menjadi kalender pemersatu ummat. Suatu kalender yang mapan yang setara dengan kalender Masehi (https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/01/06/kalender-hijriyah-bisa-memberi-kepastian-setara-dengan-kalender-masehi/ ). Jangan teruskan mengkerdilkan kalender hijriyah dalam kotak kelompok-kelompok kecil, sehingga kalender hijriyah hanya berlaku untuk ormas tertentu saja, tidak berlaku nasional apalagi global. Untuk menjadi sistem kalender yang mapan tiga syarat harus terpenuhi:

  1. Ada otoritas (penguasa) tunggal yang menetapkannya.
  2. Ada kriteria yang disepakati
  3. Ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).

Untuk mewujudkannya, kita lakukan secara bertahap, dimulai dari tingkat nasional, kemudian diperluas menjadi regional, dan akhirnya global. Untuk tingkat nasional kita tinggal selangkah lagi. Otoritas tunggal kita sudah mempunyainya, yaitu pemerintah yang diwakili Menteri Agama. Batas wilayah keberlakukan kita sepakati, yaitubatas wilayah NKRI. Tinggal satu lagi yang kita upayakan, menyamakan kriteria. Kriteria yang kita tetapkan harus bisa mempertemukan hisab dan rukyat, sehingga aplikasinya senantiasa sejalan dengan kebutuhan ibadah yang bagi sebagian kalangan mensyaratkan adanya rukyatul hilal. Itu mudah, kita gunakan kriteria imkanur rukyat atau visibilitas hilal. Dengan kriteria itu kita bisa menentukan kalender dengan hisab sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan, selama kriterianya belum diubah.

Seandainya, kriteria itu sudah kita sepakati, satu tahapan dapat kita capai: kita akan mempunyai satu kalender hijriyah nasional yang baku. Sistem kalender yang berlaku untuk semua ormas dan menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan hari-hari besar Islam. Awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha insya-allah akan seragam, karena hasil rukyat pun insya-allah akan sejalan. Sidang isbat, kalau masih diperlukan, hanya untuk menetapkan hasil rukyat dan menetapkan keputusan ketika ada permasalah dengan hasil rukyat dalam kondisi mendung, dengan tetap merujuk pada kriteria hisab-rukyat yang disepakati.

Marilah kita bermimpi untuk kemudian memperluasnya ke tingkat regional dan global. Mungkinkah? Sangat mungkin. Kita perluas otoritasnya menjadi otoritas kolektif regional (misalnya kesepakatan tingkat ASEAN) atau global (misalnya kesepakatan Organisasi Konferensi Islam, OKI) dan kita perluas wilayahnya menjadi wilayah regional atau global. Kalau perlu kriterianya ditinjau lagi untuk mendapatkan kesepakatan di tingkat regional dan global. Ya demikian sederhananya konsep penyatuan kalender hijriyah itu, yang terpenting ada keterbukaan untuk mencari kesepakatan.

Lalu bagaimana konsep harinya untuk pemberlakukan secara global? Kita harus sadari, kriteria imkanur rukyat terkait dengan batas tanggal qamariyah (lunar date line) yang senantiasa berubah-ubah. Kita tidak mungkin mendapatkan “satu tanggal satu hari” di seluruh dunia. Jadi kita tidak mungkin untuk mendapatkan, misalnya, hari Arafah 9 Dzulhijjah seragam hari Senin di seluruh dunia, kecuali bila garis tanggalnya memungkinkan. Peluang terbesar, akan terjadi dua hari untuk tanggal hijriyah yang sama. Misalnya di wilayah Barat Senin, tetapi di wilayah Timur Selasa.

Konsep “satu hari satu tanggal” yang dihendaki sebagian orang hanya dapat terjadi kalau ada  “pemaksaan”. Wilayah yang belum mengalami rukyatul hilal (berdasarkan kriteria imkanur rukyat) dipaksa untuk ikut wilayah yang sudah imkanur rukyat. Artinya, menggeser garis tanggal qamariyah menjadi sama dengan garis tanggal internasional. “Pemaksaan” hanya bisa dilakukan kalau ada otoritas tunggal secara global, sehingga berlakuknya wilayatul hukmi global.

Untuk meminimalkan “pemaksaan” dalam kondisi saat ini, pendekatan yang bisa dilakukan adalah membuat zona-zona tanggal, seperti dilakukan oleh Ilyas dalam gagasan Internasional Islamic Calendar Program atau Odeh dalam program Universal Hijric Calendar. Odeh membagi dunia menjadi Zona Timur (180  BT – 20  BB,  meliputi Asia, Afrika, dan Eropa) dan zona Barat (20  BB – 180  BB, meliputi Benua Amerika). Dengan konsep zona, “pemaksaan” juga terjadi, tetapi dalam lingkup yang lebih terbatas. Saya lebih cenderung tidak menggunakan zona, tetapi menggunakan garis batas tanggal qamariyah dengan sedikit pembelokan menurut wilayatul hukmi negara-negara. Batas tanggalnya menjadi dinamis, berubah setiap bulan:

Berikut ini contohnya garis tanggal awal Syawal 1432:

Bila menggunakan kriteria “beda tinggi bulan-matahari >4 derajat dan jarak bulan-matahari >6,4 derajat”, garis tanggalnya adalah garis yang paling bawah (4 derajat) dan garis pendek (jarak bulan-matahari 6,4 derajat) — gambar dengan program Excel yang saya buat, hasilnya mirip dengan gambar-gambar di bawah ini –. Itu berarti di wilayah Afrika Tengah dan Selatan serta Amerika Tengah dan Selatan, awal Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Di wilayah lainnya (termasuk Indonesia dan negara-negara Arab) awal Syawal Jatuh pada 31 Agustus 2011.

Bila menggunakan kriteria Odeh di situs ICOP, wilayah yang  bisa mengamati hilal pada 29 Agustus dengan menggunakan alat optik (teleskop atau binokuler) adalah wilayah yang berwarna biru. Wilayah berwarna magenta dan hijau menyatakan wilayah yang mungkin bisa melihat hilal dengan mata telanjang. Berdasarkan garis tanggal warna biru, kita bisa simpulkan di Afrika Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan 1 Syawal jatuh pada 30 Agsutus 2011. Di wilayah lain, termasuk di Indonesia dan negara-negara Arab 1 Syawal jatuh pada 31 Agustus 2011.

Dengan menggunakan kriteria yang disepakati, kita bisa membuat garis tanggalnya. Berdasarkan garis tanggal itu kita bisa tentukan awal bulan di berbagai negara, dengan menggunakan prinsip wilayatul hukmi. Dengan teknologi informasi yang makin canggih, pembuatan garis tanggal mudah dilakukan dan mudah diakses oleh siapa pun. Kita bisa menghitung untuk sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan dengan mudah. Berikut ini contoh garis tanggal dinamis (dibuat teman saya Iwan) dengan garis tanggal qamariyah menggunakan kriteria Odeh, tetapi gambarnya dari situs Moonsighting:

Iklan

51 Tanggapan

  1. Menuju kalender hijriyah tunggal tetap tidak akan pernah tercapai untuk satu bumi yang kita tempati ini kecuali menerima sepenuhnya hisab (apapun kriteria yang dipilh) dan meninggalkan sama sekali rukyat serta menerima konsep Garis Tanggal Internasional yang sekarang terletak di tengah-tengah Samudera Pasifik itu sebagai sebuah kenyataan… allahu a’lam…

    • Kalender memang harus dengan hisab. Tetapi untuk apklikasi ibadah, rukyat tetap perlu bagi kalangan yang mengharuskan rukyat. Kalau kriterianya imkan rukyat, insya-allah kalender dan hasil rukyat akan sejalan. Untuk menjadikan bumi kita sebagai satu zona, memang harus menggunakan garis tanggal tunggal, artinya garis tanggal qamariyah harus diimpitkan dengan garis tanggal internasional. Tetapi pendapat seperti itu tidak populer untuk kajian kalender hijriyah berbasis imkan rukyat, karena cenderung memaksakan wilayah yang belum rukyat untuk mengikuti wilayah yang sudah rukyat untuk wilayah yang luas. Biasanya digunakan zona-zona waktu, seperti yang digunakan UHC (Universal Hijric Calendar) dengan Zona Timur dan Zona Barat.

      • pak djamaluddin, kalimat “kalangan yang mengharuskan rukyat” memiliki pengertian terdapat kalangan yang tidak mengharuskannya, padahal sunnah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah menetapkan rukyat untuk puasa, idul fitri dan idul adha. dengan demikian hisab untuk ketiga saat tersebut hanya digunakan untuk mengonfirmasi rukyat. apabila kita meninggalkan sunnah tersebut, maka kita telah meninggalkan Rasulullah, naudzubillahi min dzalik.

      • Shalat sama puasa wajib. Kalo shalat kok gak pakai rukyat? Padahal tiang agama kan shalat?!

      • Bu Septika.. tidak ada perintah untuk merukyat dlm ibadah sholat.. yg ada shumu li ru’yatihi wa afthiru li ri’yatihi.. puasalah kalau melihat bulan dan berlebaranlah kalau melihat bulan..

      • heheheh.. ru’yat itu masalah shalat

  2. Pak, apa benar pada 20-22 April yang lalu diadakan “Lokakarya Perundang-undangan Hisab Rukyat” di Jakarta? Kalau ya, hasilnya bagaimana?

  3. Bagaimana kalau memakai ide Jamaluddin Abdur Rozik untuk penyatuan tanggal hijriyah. Silahkan dibaca http://www.amastro.ma/articles/art-debjour.pdf.

  4. Ijin nyimak , mas . .

  5. pak untuk US, daerahnya masih harus meliputi hawaii.

  6. Pak, kalau berdasarkan artikel bapak, malaysia, singapura, arab, amerika, seharusnya lebran tgl 31 agustus.. Kok semuanya berlebaran tgl 30 agustus.. Kenapa? Apa mereka tidak menganut imkan rukyat?

  7. Nice info. Thanks for posting it. 🙂

  8. Prof, itu di widget yang gambar bulan tulisannya gini??

    yg tanggal masehinya bilang tanggal 30 Aug 2011

    yg Hijri nya 1 Syawal 1432, itu maksudnya gimana pak? 1 syawalnya baru di mulai pas magrib tanggal 30 Agustus? apa sekarang udah 1 Syawal??

  9. Bagaimana kalau langkah awalnya adalah dimulai dari definisi kalender Hijriah itu sendiri ?

    Misalnya, kalender Hijriah adalah kalender yang berdasarkan peredaran bulan yang dimulai perhitungannya di kota Madinah, ….. dst.
    Awal perhitungannya adalah ketika matahari terbenam, hilal dilihat dari kota Madinah.
    Kalau ketika matahari terbenam, hilal dilihat dari pulau Jawa itu mungkin untuk membuat kalender Jawa.
    Sehingga ketika di Madinah telah terlihat hilal bulan baru, maka dimulai tanggal 1 bulan baru kalender Hijriah.
    Kemudian seluruh dunia (bahkan yang di planet lain, di bulan, atau di stasiun antariksa) dimulai tanggal 1 bulan baru Hijriah.
    Karena dimulainya adalah awal Magrib, maka dilihat dari kalender Masehi (syamsiah) pada tanggal yang sama siangnya adalah akhir bulan Hijriah dan malamnya adalah awal bulan baru Hijriah.
    Maka tinggalkan sistem perhitungan kalender Masehi, baik waktu maupun tanggalnya, awal tanggal bagi kalender Hijriah adalah waktu Magrib! Bukan jam ataupun tanggal Masehi.

    Jaman sekarang, informasi dapat segera tersebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik.
    Masalah mungkin timbul karena tidak semua tempat di bumi sedang petang hari.
    Bagi lokasi yang mengalami malam hari, maka dimulai tanggal baru pada malam itu juga.
    Seperti di Indonesia, mungkin baru dapat info sekitar jam 10 malam.
    Adapun bagi zona waktu yang sudah melewati waktu fajar, maka siang hari itu masih melanjutkan tanggal kemarin (akhir bulan Hijriah).
    Sehingga bagi yang berpuasa bisa melanjutkannya, dan akan masuk bulan baru ketika matahari terbenam.

    Metoda rukyat di masing-masing lokasi dapat dilanjutkan untuk melakukan prediksi (kalau selama ini dijadikan sebagai patokan awal bulan).
    Metoda rukyat selama ini tentu dapat dibenarkan dan dimaklumi sepanjang info dari Madinah tidak sampai (seperti jaman dahulu).

  10. saya ada lah org awam ttg masalah ini…dan mohon penjelasan kenapa negara2 arab id nya tgl 30 dan aneh nya malaysia,brunai juga tgl 30,padahal waktu malaysia sama dengan wkt indonesia tengah……

  11. Bapak menghitung berdasarkan acuan greenwich ., sedangkan menurut yang saya pahami lintang 0 derajat yang paling akurat itu ada di mekah,

    dengan asumsi yang berbeda seperti itu tentunya terdapat perbedaan pembagian lunar date yang berbeda, karena titik acuan 0 derajat itu ada di mekah bukan greenwich, coba bapak hitung dengan asumsi yang berbeda berdasarkan pemahaman lintang o derajat di mekah , bukankah “hilal 4 derajat” itu sudah terlihat di zona mekah termasuk Indonesia dan sekitarnya pada tanggal 30 Agustus 2011(hijriah)?dengan kata lain 1 syawal itu sekarang 30 Agustus 2011

  12. Hisab dalam penentuan idul fitri adalah BID’AH. Kalo konsisten dg definisinya lho..

  13. Kalau memang perhitungan kalender hijriah tdk bisa disatukan menjadi kalender hijriah yang bisa berlaku secara global, maka kalender hijriah hanya cocok sebagai kalender untuk kegiatan ritual keagamaan (Islam) semata yang terkait dengan mathla’ wilayatul hukmi, tidak cocok untuk kepentingan yang lebih luas, untuk bisnis dan surat menyurat antar negara misalnya, karena ketidakpastiannya dalam menentukan tanggal, beda wilayah/negara bisa beda tanggal padahal harinya sama, ini tentu membingungkan. Dan akan sulit rasanya untuk menandingi atau menyenyajajarkan diri dengan kalender Gregorian yang lebih memberi kepastian penanggalan secara global. Penanggalan adalah juga produk sebuah peradaban, yang dalam tren global sekarang ini, ternyata kalender hijriah tidak bisa memberi jawaban. Islam dalam konteks peradaban ternyata menghasil sebuah produk yang masih spekulatif (mengandung ketidakpastian), maka PERADABAN ISLAM yang didengung-dengungkan sebagai alternatif peradaban yang bersifat global hanyalah isapan jempol belaka…….

    • Inilah kenyataan yg dihadapi: satu2nya “ras” umat manusia di planet ini yg masih belum tuntas memiliki kalender adalah UMAT ISLAM. Padahal UMAT ISLAM-lah satu2nya yg paling banyak diingatkan di dalam kitab sucinya untuk memanage ‘waktu’. Begitu pula masih banyak yg memahami bahwa penentuan kalender (sbg hal yg paling vital dlm managemen waktu) dianggap hanya sbg persoalan duniawi (administratif) saja, tidak bersinggungan dg aspek ibadah. Seolah perintah mengkalkulasi waktu dengan ‘hisab’ di banyak ayat Al-Quran (6:96, 10:5, 17:12, 55:5) hanya dipahami sebagai admininistratif duniawiyah dan tidak berhubungan dengan aspek ibadah. Prihatin memang….

  14. Kalau memang perhitungan kalender hijriah tdk bisa disatukan menjadi kalender hijriah yang bisa berlaku secara global, maka kalender hijriah hanya cocok sebagai kalender untuk kegiatan ritual keagamaan (Islam) semata yang terkait dengan mathla’ wilayatul hukmi, tidak cocok untuk kepentingan yang lebih luas, untuk bisnis dan surat menyurat antar negara misalnya, krn ketidak-pastiannya dalam menentukan tanggal, beda wilayah/negara bisa beda tanggal padahal harinya sama, ini tentu membingungkan. Dan akan sulit rasanya untuk menandingi atau menyenyajajarkan diri dengan kalender Gregorian yang lebih memberi kepastian penanggalan secara global. Penanggalan adalah juga produk sebuah peradaban, yang dalam tren global sekarang ini, ternyata kalender hijriah tidak bisa memberi jawaban. Islam dalam konteks peradaban ternyata menghasilkan sebuah produk yang masih spekulatif (mengandung ketidakpastian), maka PERADABAN ISLAM yang didengung-dengungkan sebagai alternatif peradaban yang bersifat global hanyalah isapan jempol belaka…….

  15. Assalamu’alaikum prof,
    saya lihat di blog anda ada kalender hijri on line hari ini tgl 31 agustus 2011 tgl 2 syawal 1432H.Berarti 1 syawal jatuh pada 30 agustus kemaren (ini sama dengan ketetapan muhammadiyah dengan sistimnya yg jadul,kata anda). Bagaimana komentar anda prof????

  16. Selama ini kita mengikuti pergantian hari berdasarkan kalender Masehi, dimana perubahan hari berada pada international Date Line http://id.wikipedia.org/wiki/Batas_penanggalan_internasional . sehingga Indonesia 4 jam lebih dulu dari pada jazirah arab. ada pemikiran bagaimana kalau perubahan tanggal Islam dimulai waktu magrib di Mekkah (ru’yat atau hisab dilaksanakan di jazirah arab atau sekitar mekah saja) sebagai pusat awal pergantian hari umat Islam, negara-negara lain cukup mengikuti saja garis batas perubahan tanggalnya sekitar 40 50 atau 60 BT. maka posisi Indonesia ada di sebelah barat jazirah arab dan lebih lambat 20 jam. Kalau selama ini hari di Indonesia datangnya lebih dahulu, nantinya Indonesia akan selalu mengikuti Jazirah Arab. Hari selasa di Indonesia akan jatuh 20 jam kemudian setelah waktu mekkah.
    Ini tentu akan terjadi perubah besar-besaran, karena hari Jum at di Indonesia akan berubah pula, jatuh pada Saturday nya masehi.
    rumit memang . tapi menurut saya ide ini bagus untuk penyatuan tanggal hijriyah secara global. http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/jadikan-mekkah-pusat-sistem-waktu-islam-perbedaan-lebaran-tak-akan-terjadi-lagi/ mungkin Bapak Thomas sebagai ahli astronomi Muslim bisa menelliti lebih lanjut dan mengemukakannya ke forum internasional.

  17. Selama ini kita mengikuti pergantian hari berdasarkan kalender Masehi, dimana perubahan hari berada pada international Date Line http://id.wikipedia.org/wiki/Batas_penanggalan_internasional . sehingga Indonesia 4 jam lebih dulu dari pada jazirah arab. ada pemikiran bagaimana kalau perubahan tanggal Islam dimulai waktu magrib di Mekkah (ru’yat atau hisab dilaksanakan di jazirah arab atau sekitar mekah saja) sebagai pusat awal pergantian hari umat Islam, negara-negara lain cukup mengikuti saja dan bisa mengirim perwakilan untuk mengikuti keputusan pembuatan kalender atau sidang itsbat. maka posisi Indonesia ada di sebelah barat jazirah arab dan lebih lambat 20 jam. Kalau selama ini hari di Indonesia datangnya lebih dahulu, nantinya Indonesia akan selalu mengikuti Jazirah Arab. Hari selasa di Indonesia akan jatuh 20 jam kemudian setelah waktu mekkah.
    Ini tentu akan terjadi perubah besar-besaran, karena hari Jum at di Indonesia akan berubah pula, jatuh pada Saturday nya masehi.
    rumit memang . tapi menurut saya ide ini bagus untuk penyatuan tanggal hijriyah secara global. http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/jadikan-mekkah-pusat-sistem-waktu-islam-perbedaan-lebaran-tak-akan-terjadi-lagi/ mungkin Bapak Thomas bisa menelliti lebih lanjut memperkirakan garis batasnya dan mengemukakannya ke forum internasional.

  18. saya orang awan astronomi pak,
    tp ada yg sedikit mengganjal neh….
    skrng yg kita bahas adalah kalender hijriah, tp kok patokan bapak tetap penggalan masehi dmna bujur 0 derajat yg di greenwich..
    setahu saya yang orang awan, kalau menggunakan kalender bulan berarti pusat bumi 0 derajat tuh di arab saudi..
    dan sistem kutub utara selatan tidak berlaku lagi

    mohon dibenarkan pak…

    • Kalender hijriyah mendasarkan pada ketampakan hilal yang secara hisab bisa digambarkan dalam bentuk garis tanggal qomariyah yang bersifat dinamis. Tidak ada dasar untuk merujuk pada Mekkah walau Mekkah sebagai titik arah qiblat dalam shalat. Penjalasn garis tanggal qomariyah, silakan baca ulang artikel di atas.

  19. Saya melihat presentasi bapak di Tipi saat siaran sidang Isbat 2011… mudah2an apa yang bapak usulkan bisa diterima pemerintah dan menjadikannya sebagai acuan

  20. […] terima kasih masukannya. Saya rasa bisa dibaca langsung dari tautan yang saya tulis di catatan: https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/25/menuju-kalender-hijriyah-tunggal/. Selain itu banyak dibahas di blog Prof.Djamal, antara lain: […]

  21. Ada beberapa pertanyaan :

    1. BMKG memberikan laporan bahwa pada tgl 29 Agustus 2011 umur bulan di Indonesia (Setelah Matahari terbenam) adalah 5.5 s/d 8.62 jam, Apakah itu bulan baru atau bulan di antara ramadhan dan syawal (bulan tanpa nama) ?

    2. Kalau menurut pemahaman saya, berarti pada saat matahari terbenam tgl 29 agustus 2011 bulan sudah menyelesaikan revolusinya terhadap bumi (untuk bulan ramadhan), dan sudah mulai revolusi baru selama 5.5 – 8.62 jam untuk bulan berikutnya (syawal). Klu salah mohon dikoreksi.

  22. Memang umat Islam sangat mendambakan Kalender Hijrah yang disepakati oleh semua kalangan. Kalender Hijriah sebetulnya tidak hanya sebagai kalender ibadah tetapi juga kalender muamalah (pedoman hidup sehari-hari). Walau menggunakan imkanur rukyah tetapi jika masih harus tetap dilakukan rukyah, maka fungsi sbg kalender muamalah akan tidak efektif lagi karena bisa berubah sebab mendung atau sebab lainnya. Kalau memang disepakati pakai imkanur rukyat, ya diterapkan secara konsekuen. Kalender Hijriahnya dicetak dlm skala bersar dan dibagikan ke publik dan jatuh 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 10 Dzulhijjah diinformasikan ke umat sedini mungkin

  23. Sebagai umat saya slalu dibingungkan dengan penentuan Iedul Fitri, sampai kapan kita ini bisa bersatu untuk satu swara satu kesepakatan, malu dong oleh non muslim, ” Orang lain dah sampe nginjakin kaki dibulan, ini nentuin Iedul Fitri aja bikin Umatnya jadi bingung”

  24. Pak Prof, saya punya usul begini utk penyatuan kalender qomariah sedunia. Kita tetapkan Pusat Bumi adalah Ka’bah atau garis bujur yg melewati Ka’bah, pada lintang 0 derajat (equator). Lalu, kita petakan cakupan sinar matahari pada saat matahari tepat di atas Ka’bah atau pada bujur yg melewati Ka’bah pada lintang 0 derajat. Artinya, wilayah yang tersinari matahari pada saat itu, dianggap dalam satu waktu dengan Arab Saudi (katakan tanggal 1), dan belahan bumi yg tdk tersinari matahari, dianggap dalam satu waktu berikutnya (katakan tanggal 2). Jika suatu negara sebagian wilayahnya mengalami terang dan sebagian wilayahnya gelap, maka diprosentase luas yg terang dan yg gelap. Jika luas yg terang lebih besar, berarti mengikuti Arab Saudi. Sedang jika prosentase gelapnya lebih besar, mengikuti belahan lainnya. Memang, dimungkinkan negara bertetangga bisa tanggalnya berbeda (terganung perbandingan luas wilayah yang disinari dengan wilayah yang gelap).

    Berikutnya, penetapan tanggal/bulan baru diserahkan sepenuhnya kepada otoritas Arab Saudi, apakah akan menggunakan rukyat penuh, hisab wujudul hilal ataupun imkan rukyat. Tetapi agar ada kepastian pelaksanaan ibadah di wilayah wilayah lebih dulu siang/gelap seperti, Asia termasuk Indonesia, dan Australia, perlu disusun kalender jangka panjang. Jadi ada kepastian bagi negara semisal Indonesia (karena Indonesia lebih dulu dari Arab Saudi) untuk mulai puasa atau berhari raya, baru menyusul Arab Saudi 4 jam kemudian. Jadi Indonesia akan selalu melaksanakan ritual ibadah (misalnya puasa) 4 jam lebih dulu dari Arab Saudi.. Sedangkan Afrika akan menyusuli Arab Saudi beberapa jam kemudian. Sementara Eropa Timur dan Amerika, akan menyusul esoknya. Saya kira ini lebih praktis dan diharapkan lebih mendekatkan kpd persatuan ummat islam sedunia.

    Bagaimana tanggapan anda pak Prof?

  25. Pak Prof belum tanggapi usul saya. Mungkin usulan saya terlalu canggih ya pak?

    • Usulan seperti itu sudah banyak disampaikan untuk menjadikan Arab Saudi sebagai rujukan. Tetapi secara teknis, usulan seperti itu belum tentu sesuai dengan tuntutan syar’i.

  26. mau urun rembug tentang penyatuan kalender……Kita kembalikan kepada Petunjuk manusia di Dunia dan akherat, lihat surat al-taubah ayat 36 dan 37 ini panduan awalnya…selanjutnya harus ada kesepakatan bahwa jumlah bilangan hari dalam satu bulan tiap bulannya dari Muharram dampai dengan Dzulhijjah adalah tetap kecuali ramadhan….. jumlah harinya kalau tidak 30 hari ya 29 hari……

  27. Dasar utama adalah Al-Qur’an……………..Jangan lupa

  28. 1 tahun adalah 1 kali putaran Planet Bumi mengelilingi Matahari (Revolusi Bumi) = 12 kali Rembulan mengelilingi Planet Bumi. 1 kali Rembulan mengelilingi Planet Bumi adalah 29 atau 30 hari (Masing-masing bulan jumlah harinya adalah tetap, tapi Khusus Bulan Ramadhan jumlah harinya yang berbilang –kadang 29 hari kadang 30 hari (Baca Al-Baqarah ayat 184)–. Mohon di UU yang akan datang mencakup keterangan tersebut yang pada intinya ada kepastian jumlah hari dari Bulan Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Ula, Jumadi tsaniyah, Rajab, Sya’ban, Dzulqa’dah, Dzulhijjah……

  29. Pak Thomas yang saya banggakan,

    Menurut hemat saya, batasan bulan dalam Islam tidak akan pernah bisa disatukan selama orotitas penentu dan kaidah penetapannya tidak seragam. Kalaupun bisa, tetap saja tidak akan tabular (karena problem kontroversi rukyat-hisab an ketidaktabularan peredaran bulan).

    Satu-satunya cara untuk menyatukan kalender internasional secara praktis dan tidak lagi menyisakan ruang perbedaan yang berarti adalah dengan mengoptimalkan satuan waktu yang memang sudah dibakukan sendiri oleh Allah SWT, yaitu bilangan “pekan”.

    Pekan terdiri dari 7 hari yang selalu paten dan seragam. Tinggal kita buat saja nomor seri untuk bilangan pekan ini. Pekan 1, Pekan 2, dst. dimulai semenjak awal tahun hijriah dan untuk hari awalnya bisa dipilih hari Ahad (yang berarti “satu”), hari Sabtu (yang merupakan hari pertama setelah liburan Jumat), atau hari Jumat (sebagai hari raya pekanan).

    Nah, untuk menyederhakan penghitungan, kita bisa membuat sebuah satuan lagi di atas satuan pekan ini (sebut saja, misalnya, “gugus”) yang terdiri dari 35 pekan (sebagai perpaduan “pekan” dan “pasaran”), atau terdiri dari 50 pekan (yang mendekati jumlah pekan dalam setahun), atau 100 pekan (sebagai bilangan yang mudah diingat, sekaligus berarti 100×7, jumlah pahala standar dari sebuah amal sosial).

    Nantinya, untuk janjian secara pasti (tidak lagi bergeser harinya seiring dengan sidang itsbat). kita tinggal mengatakan, “kita rapat hari Senin, pekan 3 gugus 1428 H” atau “saya jadwalkan untuk melunasi hutang ini pada hari Kamis, pekan 23 gugus 1429 H”, dan sebagainya.

    Penentuan berdasarkan pekan (juga rentetan hari di dalamnya) ini sudah biasa kita rasakan dalam ibadah-ibadah pekanan semisal puasa Senin, puasa Kamis, ibadah malam dan hari Jumat, sehingga sudah ada acuannya.

    Adapun untuk keperluan ibadah yang berdasarkan tanggal dan bulan, tetap kita mengacunya pada alam, semisal puasa Ramadhan, Hari Raya Tahunan, dan puasa Asyura.

    Inilah saya rasa solusi yang cukup praktis & berterima. Wallahu a’lam.

    • Adapun garis tanggalnya, tetap kita gunakan garis tanggal internasional yang terletak di Samudera Pasifik. Alasan secara syariahnya sudah jelas, yaitu adanya “kepaduan komunal” di mana masyarakat yang berada dalam satu lokasi (daratan) tidak dipisahkan oleh garis tanggal (Alaska tidak dipisahkan dari USA dan Siberia tidak dipisahkan dari Rusia). Mereka pun akan melaksanakan shalat Jumat pada hari yang sama (meski antara Siberia dengan Alaska berbeda karena dipisahkan oleh Samudera Pasifik).

      Secara zaman Rasulullah SAW pun sudah sesuai. Rasul menjalankan shalat Jumat (dan ibadah Haji) di Madinah atau di Makkah. Jika kita tarik garis “keserempakan komunalnya” ke kanan dan ke kiri, bertemunya juag di sekitar Samudera Pasifik. Wallahu a’lam.

  30. Kalau saya berfikir, dengan keterbatasan ilmu saya dibidang ini namun saya mencoba menyampaikan apa yang saya fikirkan, menurut saya, berdasarkan apa yang saya baca pada tulisan Bp. T Djamaluddin dgn judul Menuju Kalender Hijriyah Tunggal Pemersatu Ummat, batas bewarna biru itulah batas untuk menentukan awal bulan tempat dimuka bumi ini, jadi batas itulah titik 0 derajat penanggalan kita, dari titik itulah kita bagi bumi ini menjadi 360 derajat bukan 180 derajat ke barat dan 180 ke timur seperti yang sekarang dipakai pada penanggalan masehi. Jadi kemungkinan bentuk garisnya tidak pas seperti garis bujur yang ada sekarang tapi mengikuti garis biru itu sebagai baris 0 derajatnya.

    Menurut saya hal ini sangat penting untuk segera dapat diselesaikan karena menyangkut juga ibadah yang kita laksanakan setiap pekannya yaitu ibadah shalat jumat kita, kalau kita salah menentukan waktunya bisa jadi ada saudara-saaudara kita melaksanakan shalat jumatnya tidak pada hari jumat. seperti yang terjadi di samoa pada tulisan di (http://www.kafeastronomi.com/kala-samoa-dan-tokelau-melompati-masa.html) mereka merubah batas penanggalan mereka sehingga efek Keputusan itu mereka menghapus hari Jumat 30 Desember 2011. Sehingga setelah Kamis 29 Desember 2011 disusul dengan hari Sabtu 31 Desember 2011.

    Jadi saya pikir perlu dicari solusi dan penyelesaian yang segera dan benar-benar benar.

  31. bagaimanapun banyak teori yang dikemukakan. tetap saja, kita masih memperlihatkan kepintaran masing-masing. semestinya kita saling mengisi dan menyepakati. Muhammadiyah mengalah, NU juga seperti itu. sama-sama-menghadap pemerintah, tentukan saja yang mana yang menurut kita bersama. perdebatan ini tidak akan pernah habisnya. pertanyaannya, kenapa ramadhan yang rahmah harus kita mulai dengan cara mencaci muahmamdiyah, atau menghina NU. pertanyaan saya, apakah Muhammadiyah menjamin orang masuk surga dengan skistem hisabnya atau NU menjamin anggotanya bisa ke surga dengan cara NU. Tidak. jangan menjadi hakim untuk orang /ormas lain. perbanyaklah amal, yakinlah kita ke surga karena amal bukan karena muhammadiyah atau Nu atau karena kita berstatus ulama /profesor. camkan nasehat saya yang terkesan menggurui ini. maaf sebelumnya. ahmad rifa;i Perguruan Diniyyah Puteri padang panjang sumatera Barat 081267671308

  32. Tahun 2009 , Kalender menunjukan Hari Raya Idul Fitri tgl 21 Sept 2009. Dan Muhammadiyah menetapkan Hari Raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 20 September.Dan sungguh luar biasa ternyata sidang Hisab Ruyatul Hilal menetapkan Hari Raya tgl 20 Sept 2009. Orang Jawa menyebutnya Lebaran Brojolan. Terjadi kekacauan Luar Biasa. Ibu2 bingung mempersiapkan masakan. Tetangga saya pulang mendadak ke Cirebon, dan fatalnya jendela lupa ditutup…..untung RT akhirnya menugaskan Han Sip untuk menjaga rumahnya.Jalan toll macet total. Seorang businessman gigit jari , karena meeting yang sedianya diadakan tgl 20 Sept gagal total. Saya yakin Prof belum menjadi Ahli di Kementrian Agama…….
    Sekarang Prof telah menjadi ahli di Kementrian Agama , dan telah menulis tentang penyatuan kalender ummat Islam , maka tentunya sudah dapat dipastikan kapan Idhul Adha dan Idhul Fitri dapat ditetapkan. Kita malu dengan saudara kita CHINA , yang menggunakan Lunar System tetapi mampu menentukan Imlek 1000 tahun yang akan datang. Padahal untuk accurasi kalender China itu dinasty Ming perlu minta bantuan ahli falak Islam ( Sejarah Mesjid Being).
    Seperti tergambar sebelumnya ( diatas ) penentuan Idhul Adha dan Idhul Fitri sebagai Hari libur Nasional bukan hanya untuk kepentingan ummat Islam , tetapi sudah menyangkut kepentingan yang lebih luas, aktivitas masyarakat, business National dan International.Dan kementrian Agama adalah organisasi Birokrat seperti Kementrian lainnya…..maka harusnya bertindak Profesional …..bukan seperti sekarang bertindak spiritual , tetapi bau politisnya sangat kentara. Yaitu meraup suara kaum tertentu. Apalagi dengan pernyataan Prof tentang Muhammadiyah…..
    Jadi Prof harus mampu meyakinkan Kementrian Agama bertindak secara Profesional…….tentukan Kalender libur nasional Idhul Adha n Idhul Fitri dengan rumus terbaik melalui kajian ilmiah.
    Hapus itu rapat Badan Hisab Rukyatul Hilal dan Hisab , forum pinter2an pidato dan melihat bulan. Menghabiskan dana…..yang luar biasa…..karena juga jadi bagian kampanye politik para Bupati.
    Bagi yang ingin tetap melakukan Hisab dan rukyatul Hilal silahkan……dan kita wajib menghormati keputusan mereka. Karena toch kita juga menghormati mereka yang menghitung berdasar pasang surut laut.
    Begitulah seharusnya pemerintah dan Profesional bertindak…..bukan ngomong macam macam…..dan fatalnya masuk acara GOSIP….

    • Untuk kasus Idul Fitri 1430 H (2009 M), masyarakat banyak yang salah baca kalender. Untuk jelasnya silakan baca: http://www.antaranews.com/berita/1253088628/perhitungan-lapan-idul-fitri-20-september. Saya kutip sedikit di bawah ini.

      Jakarta (ANTARA News) – Masyarakat diminta tidak tersesat dalam membaca kalender yang menyebutkan Idul Fitri 1430 Hijriah jatuh pada Senin, 21 September, karena berdasarkan perhitungan astronomi maka Idul Fitri jatuh pada Minggu 20 September 2009.

      “Selama ini, kalendernya salah menyebutkan. Yang benar Senin-Selasa 21-22 September adalah libur Idul Fitri karena Idul Fitri jatuh pada Minggu, tanggal merah,” kata Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Dr. Thomas Djamaluddin yang dihubungi dari Jakarta, Rabu.

      Anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag ini mencontohkan, hari besar Maulid Nabi yang jatuh pada Minggu kemudian hari liburnya akan digeser ke Senin keesokan harinya. Hal ini menimbulkan salah interpretasi para pembuat kalender.

  33. Catatan untuk Bpk Jamaluddin dan para pihak berkarakter Arogan
    1) Tulisan bpk Jamal provokatif, arogan, tak menghargai keyakinan pihak lain.
    2) Perbedaan adalah rahmat jika para pihak yg berbeda tak arogan memaksakan pendapat/ keyakinan/ anutan,
    3) Perbedaan hanya berbuah perpecahan jika parapihak yg berbeda arogan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: