Peran Astronomi Dalam Penyatuan Penetapan Awal Bulan Qamariyah


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat

Sekian ratus tahun ummat Islam memperdebatkan masalah dalil rukyat (pengamatan/observasi) versus hisab (perhitungan/komputasi) yang cenderung makin melebarkan perbedaan. Penafsiran cenderung  bersifat dikhotomi yang menganggap rukyat dan hisab seolah berbeda. Bahkan kadang berujung pada pendapat yang ekstrem, ada pengamal rukyat yang melarang penggunaan hisab dan ada pengamal hisab yang menafikkan rukyat. Dampak tak langsungnya, ada pengamal rukyat yang sama sekali tidak faham hisab karena merasa tidak perlu tahu soal hisab. Sebaliknya ada pengamal hisab yang tidak mengenal teknik rukyat karena merasa tidak perlu belajar rukyat. Memang disadari, mencari titik temu dari segi dalil sangat sulit, karena menyangkut masalah keyakinan dalam beribadah.

Astronomi memandang rukyat dan hisab setara dan bisa saling menggantikan. Hisab dibangun dengan formulasi berdasarkan data rukyat jangka panjang. Sementara rukyat hilal yang sangat tipis dibantu dengan hasil hisab untuk memudahkan mengarahkan pandangan rukyat dan mengklarifikasi hasil rukyat yang meragukan. Astronomi bisa menjembatani rukyat dan hisab, tanpa mempertentangkan dalilnya. Para pengamal rukyat tetap dengan keyakinan dalil rukyatnya. Sementara para pengamal hisab pun bisa tetap dengan keyakinan dalil hisabnya.

Titik temu rukyat dan hisab adalah pada kriteria (batasan) awal bulan yang dapat mewadahi pengamal rukyat dan pengamal hisab secara setara. Kriteria itu digunakan oleh para pengamal hisab pada penentuan awal bulan qamariyah dan juga oleh para pengamal rukyat untuk memverifikasi hasil rukyat. Sementara formulasi kriterianya ditentukan berdasarkan pengalaman hasil rukyat. Astronomi membantu perumusan kriteria itu berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang sahih.

Perkembangan Pemikiran Hisab

Pola pandang dikhotomis selalu menganggap bahwa Rasulullah SAW hanya mengajarkan rukyat, sementara pihak lain menganggap bahwa Rasul mengajarkan rukyat karena belum mengenal hisab. Cara pandang astronomis bukan seperti itu. Astronomi memandang rukyat dan hisab adalah bagian dari perkembangan pemahaman sains  ummat Islam yang terpadu, bukan dikhotomis. Hadits yang menyatakan “Kami ini ummat yang ummiy yang tidak bisa menulis dan menghitung, bulan itu sekian dan sekian (dengan memberi isyarat 29 atau 30 hari)” sama sekali tidak dikaitkan dengan alasan rukyat. Oleh karenanya hadits itu tidak boleh dimaknai bahwa setelah ummat Islam pandai menghitung (menghisab), maka rukyat harus ditinggalkan. Terlalu naif kesimpulan seperti itu dan cenderung merasa hisab sudah sampai pada titik kesempurnaannya sehingga tak perlu rukyat. Perkembangan astronomi menunjukkan bahwa rukyat dan hisab selalu beriringan dan secara bersama saling memacu kemajuan.

Astronomi memandang hadits “ummiy” adalah cikal bakal hisab dan sekaligus membuktikan Rasulullah SAW tidak buta hisab. Dari pengalaman empirik, Rasulul tahu bahwa satu bulan hanyalah mungkin 29 atau 30 hari. Hanya saja pengetahuan saat itu belum mampu menentukan prakiraan bulan mana saja yang 29 hari dan yang 30 hari. Oleh karenanya pada zaman Rasul belum ada kalender, yang ada hanyalah catatan sejarah dalam memori masyarakat tentang suatu kejadian yang dinyatakan dengan hari, tanggal, dan rentang waktu dari suatu peristiwa. Misalkan, kelahiran Rasul dinyatakan pada hari Senin, 12 Rabbiul Awal Tahun Gajah.

Kalender baru diperkenalkan pada Zaman Khalifah Umar, terutama karena keperluan penentuan tahun yang pasti. Pada saat itulah dipilih tahun nol adalah tahun Hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah (karenanya disebut tahun Hijriyah). Alasannya karena kebiasaan masyarakat menyebut “Tahun ke sekian sejak hijrah Rasul”. Untuk membuat kalender harus menggunakan hisab dan harus ada kriterianya. Berdasarkan hadits “ummiy” itulah kita tahu bahwa pemahaman hisab pada zaman Rasul dan para sahabat hanyalah umur bulan 29 dan 30 hari. Lalu apa kriterianya? Kalender pertama menggunakan kriteria paling sederhana, yaitu umur bulan dibuat berselang-seling 30 dan 29 hari, yang dikenal sebagai kriteria hisab urfi (periodik). Muharram 30 hari, Shafar 29, Rabbiul Awal 30, Rabbiul Akhir 29, dan seterusnya. Perkembangan selanjutnya mengenal adanya periode panjang 30 tahunan, sehingga ada konsep tahun kabisat (tahun panjang, 355 hari) dan tahun basithoh (tahun pendek, 354 hari). Dalam 30 tahun ada 19 tahun kabisat dan 11 tahun tahun basithoh.

Ketika ilmu hisab makin berkembang dan konsep koordinat langit mulai dikenal dengan pembagian ekliptika (garis edar matahari di langit) menjadi 12 rasi (buruj), maka muncullah konsep ijtimak, yaitu bulan dan matahari segaris bujur ekliptika. Itulah dianggap sebagai batas periode manzilah (fase-fase) bulan sekitar 29,5 hari. Secara astronomi itu dikenal sebagai batas bulan baru (newmoon). Namun, para ahli falak (ahli peredaran benda-benda langit) tidak menjadikan ijtimak/newmoon sebagai batas awal bulan. Konsep awal rukyat tetap digunakan, yaitu terlihatnya hilal pasca maghrib. Hilal hanya mungkin terlihat bila terjadi setelah ijtimak. Maka, perkembangan kriteria kalender berikutnya adalah ijtimak qoblal ghurub (ijtimak sebelum maghrib). Inilah konsep kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) yang paling primitif (paling awal).

Pemahaman astronomi terus berkembang, bukan hanya empirik posisi bulan dan matahari di langit, tetapi mulai masuk pada aspek dinamika benda-benda langit. Teori orbit benda-benda langit mulai dikenal, sehingga prakiraan posisi benda langit bisa dihitung secara lebih akurat. Bukan hanya periode fase bulan dan keberulangan posisinya di ekliptika, ilmu hisab bisa digunakan menghitung prakiraan posisi bulan setiap waktunya. Pemahaman konsep segitiga bola (spherical trigonometry) memungkinan konversi sistem koordinat bisa dilakukan. Perhitungan dalam koordinat ekliptika bisa dikonversikan menjadi koordinat horizon (berbasis ufuk). Dengan konsep koordinat horizon, maka berkembang perhitungan waktu terbit dan terbenamnya benda langit. Nah, dengan pengetahuan waktu terbenam bulan dan matahari, kriteria pun disempurnakan. Untuk terlihatnya hilal, semestinya bulan masih di atas ufuk setelah matahari terbenam. Maka kriterianya ditingkatkan menjadi kriteria yang kita kenal sebagai kriteria wujudul hilal, yaitu matahari terbenam sebelum bulan terbenam.

Sebenarnya untuk terlihatnya hilal bukan hanya faktor posisi yang diperhitungkan, tetapi juga harus diperhitungkan faktor cahaya hilal dan cahaya syafak (cahaya senja). Cahaya syafak adalah cahaya hamburan matahari oleh atmosfer. Artinya, semakin dekat ke matahari semakin kuat cahayanya. Demikian juga semakin dekat ke ufuk, cahaya syafak juga semakin kuat. Dengan perkembangan astronomi, dari data pengalaman rukyat jangka panjang telah dirumuskan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat), berupa persyaratan untuk terlihatnya hilal. Sebagai produk sains, setiap peneliti bisa menyimpulkan beragam kriteria visibilitas hilal. Ada beberapa parameter yang digunakan. Terkait dengan kecerlangan hilal, parameter yang digunakan adalah lebar sabit hilal, umur hilal, atau jarak sudut bulan-matahari (elongasi). Terkait dengan kecerlangan cahaya syafak, parameter yang digunakan adalah tinggi hilal, beda tinggi bulan-matahari, beda azimut (jarak sudut bulan-matahari di garis ufuk), atau beda waktu terbenam bulan-matahari. Kriteria visibilitas hilal haruslah menggambarkan batasan minimal agar cahaya hilal bisa mengalahkan cahaya syafak sehingga hilal bisa terlihat.

Dari perkembangan pemikiran hisab tersebut, terlihat bahwa masalah perbedaan kriteria hisab wujudul hilal dan imkan rukyat bukanlah perbedaan yang mendasar. Keduanya sebenarnya mempunyai akar yang sama. Pemilihan wujudul hilal di Indonesia hanyalah didasarkan pada alasan penyederhanaan, karena memang sebelum tahun 1980-an ketika kalkulator dan komputer belum berkembang, hisab imkan rukyat dianggap sangat rumit. Tetapi sekarang, hisab imkan rukyat sangat terbantu dengan berbagai program komputer sehingga hisab hanya memerlukan beberapa klik saja.

Perkembangan Teknologi Pengamatan

Pertanyaan paling mendasar yang sering mengemuka adalah mengapa harus rukyatul hilal untuk penentuan awal bulan qamariyah? Rasul hanya memberi contoh, tanpa menjelaskan alasannya. Tetapi secara astronomi, rukyatul hilal sangat beralasan. Hilal adalah bulan sabit pertama yang teramati sesudah maghrib. Itu pasti penanda awal bulan. Malam sebelumnya tidak ada bulan, yang disebut bulan mati (dark moon). Dan sebelumnya lagi terlihat bulan sabit tua pada pagi hari menjelang matahari terbit. Hilal adalah bukti paling kuat telah bergantinya periode fase bulan yang didahului bulan sabit tua dan bulan mati.

Rukyat hilal pada awalnya memang sekadar menggunakan mata, tanpa alat bantu. Namun sekarang, banyak alat bantu rukyat bisa digunakan. Teleskop dan binokuler (keker) adalah utama yang digunakan membantu pengamatan. Fungsi utama teleskop dalam pengamatan objek redup seperti hilal adalah memperbanyak cahaya yang dikumpulkan dan difokuskan ke mata. Sebagai perbandingan, pupil mata diameternya hanya sekitar 0,5 cm, sehingga cahaya yang ditangkap minim sekali. Dengan menggunakan teleskop dengan diameter lensa objektif atau cermin yang jauh lebih besar, maka cahaya yang diteruskan ke mata semakin banyak. Dengan susunan lensa atau cermin cekungnya, teleskop berfungsi juga membesarkan ketampakan objek. Dengan demikian teleskop bisa membantu memperjelas ketampakan hilal, sekaligus juga memperjelas kalau ternyata objek itu bukan hilal (misalnya cahaya lampu atau objek terang lainnya).

Dengan teleskop, cahaya hilal memang diperkuat, tetapi cahaya syafak juga diperkuat. Akibatnya, kontras hilal relatif tidak berubah. Dengan kata lain, dengan telskop pun cahaya hilal belum tentu bisa mengalahkan cahaya syafak. Itu sebabnya, seringkali dengan teleskop hilal pun masih sulit diamati. Sehingga persyaratan kriteria visibilitas hilal tetap harus diperhatikan, bahwa ada batasan minimal tertentu agar hilal terlihat, misalnya batas minimal ketinggian dan jarak sudut bulan-matahari.

Untuk membantu pengamatan sering juga digunakan kamera untuk merekam citra hilal. Dulu digunakan kamera film yang prosesnya lama. Sekarang para pengamat menggunakan kamera CCD atau kamera digital yang prosesnya cepat karena terbantu oleh berbagai program komputer pengolah citra. Kontras hilal pun bisa ditingkatkan dengan program pengolah citra. Sebenarnya peningkatan kontras bisa diupayakan juga penggunaan filter untuk menapis cahaya syafak, namun sampai saat upaya itu belum berhasil. Salah satu sebabnya karena panjang gelombang cahaya hilal dan cahaya syafak relatif sama. Gagasan untuk menggunakan filter inframerah juga tidak efektif, karena efek serapan inframerah oleh uap air di arah ufuk cukup besar, sehingga hilal malah tampak makin redup.

Saat ini pengamatan bulan sabit siang hari dimungkinkan dengan teknik pencitraan digital yang didukung dengan teknik penghalang matahari dan penggunaan filter. Untuk pengamatan siang hari, penggunaan filter inframerah cukup efektif, karena cahaya langit menghamburkan cahaya biru yang bisa ditapis dengan filter inframerah. Dengan ditapisnya cahaya langit, cahaya hilal bisa lebih menonjol. Pengamatan siang hari bukan masalah kecanggilan teleskopnya, tetapi pada keterampilan dan pengalaman pengamatnya. Para pengamat Indonesia pun ada yang berhasil mengamati bulan sabit siang hari, walau bukan bulan sabit yang termuda karena tingkat kesulitannya memang lebih tinggi. Banyak yang berharap pengamatan bulan sabit siang hari menjadi solusi alternatif rukyatul hilal. Namun, harapan itu keliru, karena bulan sabit siang hari bukanlah hilal penentu awal bulan. Alasannya, karena bulan sabit siang hari bisa menunjukkan bulat sabit tua, bulan saat ijtimak, atau bulan sabit muda. Terlihatnya bulan sabit siang hari juga bukan jaminan terlihatnya hilal saat maghrib. Hilal penentu awal bulan hanyalah bulan sabit sesudah maghrib.

Kriteria Visibilitas Hilal (Imkan Rukyat) dan Penafsirannya

Kriteria visibilitas hilal adalah titik temu rukyat dan hisab. Kriteria itu dirumuskan berdasarkan data rukyat jangka panjang. Analisis statistik pola sebaran data rukyat digunakan untuk menentukan batas minimal peluang terlihatnya hilal yang kemudian dijadikan sebagai kriteria visibilitas hilal. Kriteria visibilitas hilal memang beragam. Hal itu beralasan terkait sifat sains yang memberikan kebebasan bagi para penelitinya untuk memformulasikan model fenomena alam dengan parameter yang dianggap paling baik. Untuk implementasi pada pembuatan kalender, para penggunanya harus memilih salah satu kriteria atau gabungan beberapa parameter. Tentu saja alasan utama pemilihan kriteria adalah kemudahan penggunaan dan akurasinya.

Dalam perkembangan penggunaan kriteria hisab, faktor kemudahan menjadi faktor dominan yang mempengaruhinya. Dimulai dari yang paling mudah, ijtimak qoblal ghurub, lalu wujudul hilal, dan sekarang ke arah imkan rukyat yang lebih realistis. Di Indonesia digunakan kriteria “2-3-8”, yaitu “(1) tinggi bulan minimal 2 derajat dan (2) jarak sudut bulan-matahari minimal 3 jam atau umur bulan minimal 8 jam”. Dalam kaitannya dengan pembuatan kalender, kriteria digunakan sebagai batas minimal untuk menyatakan masuknya awal bulan. Namun, dalam kaitannya dengan rukyatul hilal, kriteria digunakan sebagai dasar penolakan rukyatul hilal yang meragukan (misalnya kesaksian tunggal atau kesaksian tanpa alat bantu).

Bila menghendaki kriteria imkan rukyat yang benar-benar menjadi dasar kemungkinan keberhasilan rukyat hilal, kriteria yang digunakan haruslah yang secara statistik merupakan batas optimistik keberhasilan rukyat. Batasan waktunya bukanlah saat maghrib, tetapi beberapa saat setelah maghrib saat cahaya syafak mulai meredup yang dikenal sebagai “waktu terbaik” (best time). Konsekuensinya, batas ketinggiannya menjadi lebih tinggi, dengan ketinggian lebih dari 5 derajat dan beberapa syarat lainnya. Kriteria optimistik seperti itu antara lain digunakan dalam kriteria SAAO, Yallop, Odeh, dan Shaukat.

Kriteria itu hanyalah parameter minimal secara rata-rata. Pada kenyataannya, ada kemungkinan rukyat yang lebih rendah dari kriteria tersebut, yaitu pada saat istimewa tetapi jarang terjadi. Beberapa data menunjukkan bahwa bila hilal terjadi pada saat jarak bumi-bulan terdekat (perigee) ada peluang terlihatnya hilal lebih rendah, karena ukuran hilal tampak menjadi lebih besar dan lebih tebal. Untuk mengantisipasi data rukyat seperti itu, maka pilihan optimalnya adalah menggunakan kriteria yang memungkinakan semua data rukyat masuk, sehingga bisa dijadikan dasar penolakan kesaksian yang meragukan. Konsekuensi pilihan kriteria seperti itu adalah bisa jadi ada hilal yang tidak tampak walau berada sedikit di atas kriteria itu, terlalu dekat dengan batas bawah kriteria. Tetapi pada umumnya, posisi bulan yang melebihi kriteria akan tampak. Usulan Kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN, 2010) termasuk pada kriteria optimalistik tersebut, dengan kriteria beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (atau tinggi bulan minimal 3o 10’) dan jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat.

Kriteria Visibilitas Sebagai Dasar Penyatuan Kalender Islam

Dua aspek teknis yang pokok dalam pembuatan kalender adalah hisab dan kriterianya. Secara umum hisab astronomi kini sudah menjadi rujukan bersama. Program-program komputer untuk perhitungan astronomi sekarang tersedia, baik bersifat komersial maupun non-komersial yang bebas di unduh di internet. Dengan kesamaan hisab astronomis yang digunakan, maka secara umum semua pihak akan menyatakan hasil hitungan posisi bulan yang relatif sama.

Hisab astronomi dalam terminologi ilmu falak disebut hisab hakiki, yaitu menyatakan posisi bulan yang sesungguhnya. Hisab lama yang masih dipakai oleh sebagian kelompok adalah hisab taqribi atau pendekatan, yaitu ketinggian bulan dihitung berdasarkan umur bulan. Karena bulan secara rata-rata bergerak ke Timur 12 derajat perhari, maka tinggi bulan ditaksir setengah umur bulan (dari 12 derajat/24 jam x umur bulan). Jadi bila ijtimak terjadi pukul 13.00 dan maghrib pukul 18.00, maka umur bulan = 5 jam dan tinggi bulan ditaksir 5/2 = 2,5 derajat. Hasil hisab taqribi umumnya lebih tinggi dari hisab hakiki.

Dengan hasil perhitungan posisi bulan, ahli hisab lalu menentukan masuknya awal bulan berdasarkan kriteria yang digunakan. Misalnya, pada 7 Agustus 2013 untuk penentuan awal Syawal 1434 posisi bulan di Pelabuhan Ratu saat maghrib 3o 26’ atau beda tinggi bulan-matahari 4o 16’. Dengan menggunakan kriteria wujudul hilal (digunakan Muhammadiyah), kriteria 2o (digunakan NU), dan kriteria beda tinggi 4o (digunakan Persis), semua kalender Muhammadiyah, NU, dan Persis bersepakat bahwa 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013. Perbedaan akan terjadi ketika posisi bulan berada di antara kriteria tersebut. Dengan perbedaan kriteria, ada pihak yang menyatakan sudah masuk awal bulan, sementara pihak lain menyatakan belum masuk. Itulah yang terjadi di Indonesia ketika awal Ramadhan atau Idul Fitri berbeda.

Penyatuan kriteria menjadi prasyarat utama untuk menyatukan kalender Islam. Mewujudkan kalender Islam yang mapan adalah cita-cita utama penyatuan ummat. Karena penentuan awal bulan qamariyah juga terkait dengan ibadah, khususnya dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, maka kalender Islam semestinya juga menjadi kalender ibadah. Terkait dengan kalender ibadah, pemilihan kriteria menjadi titik krusial yang harus disatukan. Dalam hal ini, kita juga harus menyadari bahwa pengamal rukyat dan pengamal hisab harus diwadahi setara. Bagi pengamal hisab, cukuplah awal bulan mengikuti hasil hisab yang tercantum di kalender. Sedangkan bagi pengamal rukyat, awal bulan harus dibuktikan dengan hasil rukyat yang di-itsbat-kan (ditetapkan) oleh pemerintah. Jadi, demi persatuan ummat dan penyatuan kalender Islam, kriteria yang harus digunakan adalah kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Dengan kriteria itu, hasil rukyat akan sama dengan hasil hisab yang tercantum di kalender.

Dalam mencari titik temu, tentu masing-masing pihak perlu terbuka untuk menerima konsep pihak lain, tanpa merasa menang atau kalah. Para pengamal hisab harus terbuka untuk menerima konsep rukyat sehingga kriteria yang disepakati harus berbasis visibilitas hilal atau imkan rukyat. Sementara para pengamal rukyat pun harus terbuka untuk menerima konsep hisab yang pasti sehingga ketika posisi bulan yang telah memenuhi kriteria namun gagal rukyat haruslah hisab diterima sebagai penentu masuknya awal bulan. Hal itu mendasarkan pada Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 yang membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat.

Bila kita sudah bersepakat menggunakan kriteria yang sama, maka langkah berikutnya adalah merumuskan kriterianya. Pilihannya bisa menggunakan kriteria optimistik ala Odeh, Yallop, SAAO, atau Shaukat. Atau menggunakan kriteria optimalistik ala kriteria LAPAN 2010 atau kriteria lain yang disepakati. Agar kalender yang disepakati menjadi kalender yang mapan, perlu juga disepakati otoritas tunggal yang menjaga sistem kalender tersebut, yaitu otoritas defacto atau pemerintah. Juga perlu ditegaskan batas wilayah keberlakukannya, misalnya negara kesatuan Republik Indonesia. Kesepakatan di tingkat nasional bisa diperluas ke tingkat regional dan global dengan menggalang kesepakatan otoritas antar-pemerintahan, batas wilayah, dan kriterianya.

Iklan

47 Tanggapan

  1. […] selengkapnya silakan berkunjung link ini […]

    • Dengan Imkanur Rukyat hilal hanya bisa dirukyat bila tinggi hilal diatas 2 derajat.
      Saya ingin bertanya apakah ada bukti bahwa pada jaman Rasulullah semua hilal yang di rukyat oleh Rasulullah itu mempunyai ketinggian diatas 2 derajat? Atau pasti tidak mungkin bisa dirukyat oleh Rasulullah bila dibawah 2 derajat..

      • Kriteria 2 derajat adalah kriteria kesepakatan berdasarkan data rukyat yang diyakini di Indonesia, antara lain data rukyat awal Ramadhan pada 16 Septemebr 1974 yang tingginya sekitar 2 derajat dan umurnya 8 jam. Data rukyat terpercaya di Indonesia tidak ada yang tingginya kurang dari 2 derajat. Pada zaman Rasul sulit ditelusur karena tidak ada data tanggal pasti keputusan Rasul, walau ketinggiannya bisa dihitung.

      • Dengan jawaban bapak bahwa kriteria 2 derajat adalah hasil kesepakatan data rukyat yang diyakini di Indonesia.Dengan kata lain teori Imkanur Rukyat hanya bisa dipakai di Indonesia.Bagaimana dengan negara lain?
        Kalau hanya data rukyat di Indonesia,berarti teori Imkanur rukyat tidak sesuai dengan hadist Rasulullah (saw).Karena bisa saja pada saat Rasulullah (saw) bisa merukyat hilal,ketinggian hilal dibawah 2 derajat.Padahal menurut imkanur rukyat bila ketinggian dibawah 2 derajat hilal tidak dapat dirukyat.

      • Di negara lain ada kesepakatan mereka sendiri, misalnya di Turki disepakati ketinggian minimal 5 derajat. Untuk mencapai kesepakatan global, ya mesti ada kesepakatan nasional dulu yang nantinya diangkat dalam kesepekatan antarpemerintah.

  2. Apa bedanya kalender islam dengan yang dipakai oleh umat hindu? Krn umat hindu juga menggunakan bulan sbg penentu ibadah spt purname, nilem dsb. Yang saya tahu perhitungan mereka selalu tepat, knp kita tidak belajar dari mereka?

    • Hindu dan Islam sama menggunakan kalender bulan dengan perbedaan kriteria. Umat Hindu menggunakan hanya satu kriteria, bulan mati (bulan tilem). Ormas-ormas Islam belum bersepakat dengan satu kriteria. Muhammadiyah pakai kriteria wujudul hilal, lainnya kriteria imkan rukyat. Kalau Ummat Islam bisa bersatu dengan kriteria tunggal, perbedaan tak akan muncul lagi.

      • Prof. Thomas,
        Misalnya, jika kriteria sudah ada persamaan antara ormas dan ummat Islam Indonesia dalam menentukan hilal, tapi metode yang digunakan berbeda, ada yg hisab ada yang rukyat. Apakah Profesor yakin Kalender Hijriyah bisa diberlakukan tanpa ada yang mengingkari dari pihak-pihak yang bersepakat?

        Opini saya, meskipun kriteria sudah disepakati, tapi metode yang digunakan masih berjalan sendiri – sendiri sesuai keyakinan masing – masing, kalender hijriyah yang mapan susah untuk diberlakukan. Terimakasih.

      • Justru dengan hisab imkan rukyat keberadaan metode rukyat dan hisab tidak terganggu. Kalender berdasarkan hisab, tetapi kriterianya mengadopsi data-data rukyat jangka panjang. Insya-allah hasil hisab dan rukyat akan sama seperti saua jelaskan pada tulisan tersebut.

  3. akar masalahnya itu dalil mana yang dianut, mungkin nggak mubazir kalau diadakan kaji ulang tentang dalil mana yg mestinya digunakan untuk menentukan awal bulan

  4. Prof.! sangat membantu saya untuk memahami, kenapa hingga saat ini selalu terjadi perbedaan diantara paham yg ada di Indonesia (NU, Muhamadiyah, Persis, dll). Saya sangat setuju, kita tidak boleh menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seharusnya, para pemikir Isalam di Indonesia,senantiasa mengadopsi hasil temuan temuan ilmiah. Terlepas dari itu, saya ingin bertanya, bagaimana penetuan puasa di negara negara yg konon ada siang yg lama dan malam yg lama seperti di antartika, atau di kutub utara atau kutub selatan. Siapa tahu, di masa yg akan datang, Islam berkembang di sana. Atau ada peneliti Islam yang ditugaskan ke sana pas bulan puasa. Menurut saya yg awam, mungkin untuk mereka yg menjalankan puasa di tempat seperti itu, bukan terbit dan tenggalamnya matahari sebagai ukuran, tapi mesti berdasarkan lamanya waktu (misalnya dalam satuan jam). bagaimana? apakah ada dalil yg memungkinakan seperti itu?

  5. pak t.jamaluddin, tolong berikan dalil tentang adanya tim rukyat di jama rosulullah…. trims

    • Riwayat yang disampaikan dalam hadits bukan tim yang dibentuk, tetapi Rasul menerima laporan dari masayarakat. Perlu kita ingat, pada masa itu hampir semua orang faham soal hilal karena mereka menjadikannya rujukan penentuan tanggal.

  6. Reblogged this on Naneyan's Blog.

  7. Mohon penjelasan prof….dengan hisab, kedua pihak sdh yakin bahwa hilal sdh terjadi, walaupun kalau kurang 2 derajat sekali pun. Satu pihak berpendapat kalu sdh ada hilal, terlihat tidak terlihat pokoknya sudah awal bulan, yang lain…walau sdh terjadi hilal tapi krn tidak bisa melihat maka dianggap belum….

    Jadi, yang telah disepakati adalah keduanya meyakini hilal sdh terjadi…Pertanyaan saya bulan baru itu berdasarkan “adanya hilal” atau berdasarkan “melihat hilal”? atau harus ada dan harus terlihat…

    Bgmn klo kesepakatan itu berangkat dari yang sdh disepakati?

    ……………………..analogi ini mungkin terlalu jauh………..

    Kita semua yakin ADA HIDUP SSDH MATI….tetapi implementasinya berbeda…

    satu pihak perilakunya disesuaikan dg keyakinan bahwa akhirat itu ada…..
    satu pihak perilakunya tidak disesuaikan dengan keyakinan bahwa akhirat itu ada, sebab akhirat tidak/belum dilihatnya….

    hanya Allah Yang Maha Tahu…

    • Hilal itu tidak ada wujudnya, karena wujudnya hanyalah bulan. Hilal adalah fenomena ketampakan, ketika bagian bulan yang tercahayai sedikit menghadap ke arah bumi dan tampak sebagai bulan sabit tipis. Hilal teramati secara rukyat atau mungkin dalat dirukyat (imkan rukyat) secara hisab.

      • prof, mf mw bertanya. iya benar wujudnya itu bulan tapi jika tinggi kurang dari 2 derajat apakah itu bukan termasuk hilal? trus apa nama obyek (permukaan Bulan yang terkena cahaya) yang sudah terbentuk selama hampir 24 jam sejak Matahari tenggelam pada 8 Juli 2013 sampai satu menit sebelum Matahari tenggelam pada 9 Juli 2013 tersebut? trimakasih prof..

      • Hilal itu fenomena ketampakan. Wujudnya adalah bulan yang terkena cahaya salah satu sisinya. Bulan sabit yang masih muda, umurnya kurang dari 5 jam, sangat tipis dan masih rendah. Posisi yang sangat rendah akan terganggu cahaya syafak atau cahaya senja yang cukup kuat. Akibatnya cahaya bulan sabit kalah oleh cahaya syafak sehingga hilal tidak mungkin terlihat, walau dengan teleskop. Kalau belum terlihat, ya bukan hilal.

      • bulan sabit muda yang sudah terkena sinar matahari bukan hilal karena tidak bisa dilihat??? tp sebenarnya ada ya prof bulan sabit baru itu?

        atw apakah alat yang ada di dunia belum ada yang mampu melihatnya?

      • saya adalah seorang muslim, tidak membela ormas manapun. saya sedang mencari kebenaran.

        prof, jika saat ini belum ada alat yang mampu mengamati hilal pada ketinggian kurang dari 2 derajat, sedangkan di dalam ilmu astronomi (dengan bantuan software dan kalkulasi perhitungan yang matang) seharusnya itu sudah bisa disebut hilal, sebaiknya anda mengatakan itu adalah bulan sabit muda yang terkena sinar matahari/hilal. katakanlah yang sebenarnya, jangan ditutup-tutupi. Anda dan para ahli astronomi indonesia seharusnya berdiri sendiri jangan terbawa arus. Apakah para astronom di Indonesia tidak bisa bersatu?
        apakah para ilmuwan astronomi muslim jaman dulu pernah mencela satu sama lain? janganlah hati anda tertutup oleh ilmu yang telah anda miliki.

        saya sangat setuju dengan metode yang sedang anda kembangkan. tetapi sebelum anda mencela, sebaiknya mengoreksi diri. apakah sudah ada alat yang mampu mengamati hilal mulai dari 0,1 derajat atau alat yang lebih canggih. itu adalah tugas yang sangat penting dari pada mencela si A dan si B dengan membeberkan teori-teori yang jika pembacanya orang awam akan menambah kebencian terhadap sesama muslim padahal kita ini bersaudara!

        selama ini para ahli astronom yang mengikuti sidang isbat hanya diam saja setelah menyampaikan hasil pengamatan secara teoritis meskipun di lapangan hilal belum bisa dilihat. Malah anda juga menganggap “kalau belum terlihat ya bukan hilal”. apakah ini jawaban seorang yang bergelar profesor?

        seperti tanya jawab orang awam,
        A : kenapa bulan sabit yang ketinggiannya kurang dari 2 derajat tidak
        bisa disebut hilal?
        B : kalau belum terlihat ya bukan hilal.
        A : trus, apa sebutannya?
        B : Bulan sabit yang masih muda, umurnya kurang dari 5 jam, sangat
        tipis dan masih rendah. Posisi yang sangat rendah akan
        terganggu cahaya syafak atau cahaya senja yang cukup kuat.
        Akibatnya cahaya bulan sabit kalah oleh cahaya syafak sehingga
        hilal tidak mungkin terlihat, walau dengan teleskop. Kalau belum
        terlihat, ya bukan hilal.
        A : apa maksud kalimatmu yang ini? “sehingga
        hilal tidak mungkin terlihat, walau dengan teleskop. Kalau belum
        terlihat, ya bukan hilal.
        Katanya td bulan yang ketinggiannya kurang dari 2 derajat
        bukanlah hilal???
        B : …..

        NB : maaf atas kata-kata saya prof, saya orang yang menyukai
        perubahan asalkan itu baik menurut islam dan dapat diterima
        oleh akal.
        terima kasih prof

      • Assalamu’alaikum wr.wb.

        Hadist Riwayat Bukhari,Muslim menyebutkan bahwa : ….berpuasalah jika melihat hilal dan berharirayalah jika melihat hilal, dan jika “tersembunyi” darimu maka genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari ….

        Kata “tersembunyi” dalam hadist tersebut diatas mengisyaratkan bahwa meskipun hilal sudah ada, namun jika “tidak terlihat” maka pada saat rukyat di waktu magrib yang masih berada dihari ke 29 bulan qomariah berjalan belum dapat dikatakan telah memasuki awal bulan qomariah (awal bulan Ramadhan), karena menurut hadist diatas bulan Syakban harus digenapkan menjadi 30 hari sehingga bulan Syakban baru berakhir pada saat magrib esok harinya dan saat itu pula barulah dimulai awal bulan Ramadhan.

        Kata “tidak terlihat” adalah selain dari “tertutup awan”, karena menurut Hadist Riwayat Bukhari Muslim yang lain disebutkan bahwa …..jika tertutup awan maka perkirakanlah (hisablah)……
        Karena itu hisab baru dapat dipedomani saat langit tertutup awan dan saat tidak tertutup awan maka yang dipedomani adalah hasil rukyat.

        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • bapak bambang, jika kata ro’a dalam hadis “sumu lirukyatihi . . .” selalu diartikan dengan melihat dengan mata, maka seharusnya kita juga selalu menengok ke arah timur sebelum berbuka puasa di setiap hari di bulan Ramadan. Kenyataanya, kita telah mempercayai akurasi perhitungan astronomi dalam bentuk hasil hitungan tabel berbuka puasa, tanpa harus melihat datangnya malam di ufuk timur.

        tolong dilihat Sahih Bukhari tentang puasa no 1941, Juz 7, hal. 249

      • Assalamu’alaikum wr.wb.

        Yth. Pak Anwar Muhammad,

        Mengenai jadwal waktu sholat dimana subuh adalah saat mulai terbit fajar di ufuk timur hingga terbit matahari, dhuhur saat tergelincir matahari hingga bayang2 sepanjang badan, asar saat bayang2 sepanjang badan hingga matahari terbenam, magrib saat matahari terbenam hingga hilangnya cahaya syafak merah jingga di ufuk barat dan isya saat hilangnya cahaya syafak merah jingga hinga di ufuk barat hingga terbit fajar di ufuk timur, saya belum pernah mendengar ada dalil syar’i yang memerintahkan agar melihat matahari dan bagaimana pengecualiannya jika tertutup awan, sehingga jika dengan hisab dapat ditentukan jadwal waktu sholat maka bagi yang sepenuhnya percaya dg jadwal waktu sholat hasil hisab tsb tanpa perlu mengamati matahari lagi adalah tidak menyalahi dalil syar’i.

        Sedangkan mengenai ro’a, dalil syar’inya jelas yaitu bahwa awal bulan qomariah dimulai saat “terlihat” hilal waktu magrib dg pengertian bahwa terlihat adalah dengan mata maupun bantuan alat optik.
        Karena itu, pengertian terlihat dg hisab adalah menyalahi dalil syar’i sebab hisab atau memperkirakan terlihatnya hilal baru bisa dipedomani jika langit yang diamati pada saat rukyat tertutup awan.

        Dan mengenai Shahih Bukhari, saya membaca ringkasannya yaitu no.938 di halaman 281 diriwayatkan dari perawi Abdullah bin Umar ra bahwa …jika langit mendung (sehingga kalian tidak dapat melihatnya) maka genapkanlah menjadi 30 hari (untuk bulan Sya’ban)….., saya memahaminya sebagai hadist yang mengundang banyak pertanyaan saat hisab mulai dikenal dan dikuasai ahli falak muslim.
        Dan sebagai jawabannya adalah Shahih Bukhari, Muslim no.653 di hal 340 yg diriwayatkan dr perawi yg sama yaitu Abdullah bin Umar ra bahwa ……maka jika tertutup oleh awan maka perkirakan…….., yang dilengkapi dg Shahih Bukhari,Muslim no.656 di hal 341 yg diriwayatkan dr perawi Abu Hurairah ra bahwa ……maka jika tersembunyi daripadamu maka cukupkanlan bilangan Syakban tiga puluh hari…….

        Dengan demikian jika Shahih Bukhari no.938 yg mengundang banyak pertanyaan itu diantisipasi dg memperluas pengertian “terlihat” dr terlihat dg mata dan bantuan alat optik menjadi terlihat dg hisab, maka hal ini akan menyalahi Shahih Bukhari,Muslim no.653.

        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • mf bapak bambang. yang saya bahas tentang masalah berbuka puasa di bulan ramadhan bukan jadwal sholat.

        tentang pedoman hisab dulu baru rukyat menyalahi aturan, dari mana anda mengatakan ini menyalahi aturan? berarti anda juga menyalahkan diri anda sendiri seorang pakar astronomi. untuk apa anda belajar astronomi toh akhirnya bulan sabit baru atau disebut hilal tidak anda akui dalam menentukan 1 ramadhan etc meskipun kurang dari 2 derajat?
        jika anda mengartikan hadits itu harus dilihat oleh mata atau alat bantu, berarti intinya anda dan para pakar astronomi lainnya harus mempunyai alat yang lebih canggih dari alat yang telah ada sekarang.
        ini menurut saya adalah akar permasalahan perbedaan, jadi seyogyanya saudara jangan menghujat/mencela dulu,koreksi kekurangan diri sendiri. tulisan yang saya baca, isinya lebih banyak mencela dari pada mengarah ke perubahan.
        ini adalah pembuktian anda sebagai seorang yang ahli dalam bidang astronomi menciptakan alat yang lebih canggih sehingga metode imkan-rukyat dapat menjadi pemersatu umat islam, diawali dari wilayah kita sendiri (dihitung dan dilihat hasilnya sama mulai dari hilal terendah! bukan kayak sekarang ini, berat sebelah).

        profesor dari ormas NU dan pemerintah menilai hisab WH bertentangan dengan ilmu astronomi dengan dalil yang ada, sedangkan dari WH sendiri menilai imkan-rukyat terlalu naif , dipaksakan. dengan dalil yang ada pula. saling serang argumen…anda dapat apa? nobel??? bwt apa nobel? toh pasti qt akan mati. harusnya bersatu, saling mengisi!

      • apakah saya salah menyimpulkan prof?

        metode WH : digunakan hisab, jika hilal kurang dari 2 derajat, belum bisa dilihat dengan mata atau alat yang ada sekarang sudah termasuk hilal.

        metode IR : digunakan hisab dan rukyat, jika hilal kurang dari 2 derajat, belum bisa dilihat dengan mata atau alat yang ada sekarang belum termasuk hilal.

        argumen dari WH, alat kurang canggih, padahal menurut perhitungan dan software bantu telah nampak hilal. metode WH telah sesuai dengan kaidah-kaidah saintifik yang sesuai dengan common sense.

        argumen IR, hilal itu harus terlihat dengan ketinggian minimal 2 derajat, metode WH tidak sesuai dengan hadits, tidak ada dalil, perhitungan WH tidak astronomis.

        sebenarnya mana yang lebih astronomis???
        katakan jujur saja,
        1. WH astronomis tetapi belum bisa membuktikan karena belum bisa membuat alat yang lebih canggih.
        2. IR tidak mengakui bulan sabit baru atau disebut hilal sebenarnya telah tampak hanya karena alat yang ada sekarang ini belum memadai. memaksakan metode minimal 2 derajat syarat hilal terlihat.

        jika ditarik kesimpulan, para profesor yang terhormat, alatnya belum canggih untuk mengamati hilal di bawah 2 derajat!!!

        gt ja kux saling mencela, sama-sama egois. gelar profesor harusnya dibuang ja! ayolah bersatu, kalau bisa menciptakan alat. kalau belum bisa ya diam saja. bikin orang awam yang membaca tulisan di blog ini yang panjang lebar jadi pusing, menambah kebencian kepada sesama muslim.

      • WH bukanlah konsep astronomis. Astronomi tidak mengenal wujudul hilal. Kalau tak percaya, silakan browsing, tidak ada literatur astronomi yang membahas wujudul hilal. Bandingkan dengan imkan rukyat atau visibilitas hilal (crescent visibility).
        https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/11/04/hisab-wujudul-hilal-muhammadiyah-menghadapi-masalah-dalil-dan-berpotensi-menjadi-pseudosains/

      • Assalamu’alaikum wr.wb.

        Yth. Pak Anwar Muammad,

        Jadwal berbuka puasa itu dasarnya adalah saat sholat magrib yaitu ketika terbenamnya matahari, demikian juga jadwal “imsak” dasarnya adalah bebarapa menit sebelum saat sholat subuh yaitu beberapa saat sebelum terbitnya fajar di ufuk timur. Karena perintah puasa adalah di siang hari pd bulan Ramadan dan yang namanya siang hari adalah mulai saat terbit fajar di ufuk timur hingga saat terbenam matahari di ufuk barat maka saat berbuka puasa adalah pada waktu terbenam matahari yaitu saat sholat magrib.

        Sedangkan mengenai pernyataan pak Anwar : …….tentang pedoman hisab dulu baru rukyat menyalahi aturan, dari mana anda mengatakan ini menyalahi aturan? berarti anda juga menyalahkan diri anda sendiri seorang pakar astronomi. untuk apa anda belajar astronomi toh akhirnya bulan sabit baru atau disebut hilal tidak anda akui dalam menentukan 1 ramadhan etc meskipun kurang dari 2 derajat?………
        saya merujuk pada Rukun Iman dimana umat muslim diperintahkan hanya mengIMANi yang enam perkara saja, salah satunya adalah Iman kepada RasulNYA termasuk Nabi Muhamad SAW, sehingga sebagai umat Islam sudah seyogyanya jika mendudukkan Hadist Nabi Muhamad SAW pada posisi yang lebih kuat daripada ilmu pengetahuan dan teknologi.

        Dan Hadist mengenai awal bulan qomariah ini sudah jelas, yaitu :
        1. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.653 :
        Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah ketika menyebut Ramadan bersabda : Jangan puasa sehingga kalian melihat hilal (bulan sabit) dan jangan berhari raya sehingga melihat hilal, maka jika tertutup awan, maka perkirakanlah.
        2. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.654 :
        Ibnu Umar r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Bulan itu begini, begini dan begini (sambil menunjukkan jari-jarinya sepuluh, sepuluhj dan sembilan) kemudian bersabda : Dan begini, begini dan begini (sepuluh, sepuluh dan sepuluh), yakni Ada kalanya dua puluh sembilan dan ada kalanya tiga puluh hari.
        3. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.655 :
        Ibnu Umar r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Kami umat yang ummi tidak dapat menulis dan menghitung (menghisab), bulan itu begini dan begini, yakni ada kalanya dua puluh sembilan dan ada kalanya tiga puluh.
        4. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.656 :
        Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berhari rayalah kalian karena melihat hilal, maka jika tersembunyi daripadamu maka cukupkan bilangan Syakban tiga puluh hari.

        Oleh karena dalam Hadis Riwayat Bukhari,Muslim no.653 ditegaskan bahwa hisab digunakan pada saat langit tertutup awan, maka hasil hisab tentang awal bulan qomariah baru bisa dipedomani saat langit tertutup awan, sedangkan jika langit tidak tertutup awan maka yang dipedomani sebagai awal bulan qomariah adalah hasil rukyat (melihat dengan mata dan bantuan alat optik).
        Jika kemudian ternyata proses “melihat” hilal yang semula hanya dengan mata telanjang menjadi melihat dengan bantuan alat optik, maka perkembangan kecanggihan alat optik akan ikut menentukan saat terlihatnya hilal sebagai pertanda dimulainya bulan qomariah.
        Hasil rukyat dengan alat optik “tercanggih” dihari ke 29 bulan qomariah berjalan saat magrib akan menjadi pedoman dimulainya awal bulan qomariah berikutnya, sehingga hasil2 hisab dari berbagai metode hisab berdasarkan iptek baru dapat dikatakan akurat jika sesuai dengan hasil rukyat.

        Mengenai diskusi panjang di blog ini, forum ini adalah merupakan ajang adu argumentasi yang memang terlihat seperti saling menyalahkan padahal sejatinya bertujuan untuk mengemukakan argumen2 yang kuat untuk menopang pendapat yang dikemukakan sehingga masyarakat luas dapat mengerti pokok persoalannya dan menentukan mana yang lebih bisa diterima baik berdasarkan dalil syar’i maupun iptek.
        Dan sebagai umat muslim yang berIMAN (khususnya IMAN pada Hadist Nabi Muhamad SAW) tidak perlu pusing atau bingung karena sudah seyogyanya lebih tunduk kepada Hadist Nabi Muhamad SAW dari pada kepada rekayasa manusia atas dasar iptek.

        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • bapak bambang, ilmu astronomi berkembang pesat dari Al-Qur’an dan Hadits. saya tidak mengingkari hadits nabi Muhammad SAW tentang puasa. Agama Islam diperuntukkan bagi orang-orang yang mau berfikir.

        kata iqra’…yang maknanya bacalah, kita tidak sekedar membaca, tapi memahami maknanya, disuruh belajar juga.
        ketika ada hadits nabi, jangan diartikan dalam ruang lingkup yang sempit, jika dimungkinkan dan tidak bertentangan dengan syara’, lingkupnya bisa lebih luas pak bambang.

        ketika di dalam Al Qur’an dan Hadits yang menjelaskan tentang masalah astronomi, ilmuwan islam jaman dulu kemudian belajar dan banyak menemukan fakta-fakta tentang alam semesta.
        kalau kita tidak mau belajar dan tetap mengartikan hadits nabi dengan ruang lingkup yang sempit, maka tidak akan ditemukan alat yang anda bilang sudah tercanggih, mungkin maksud anda “sekarang ini”. anda hanya akan melihat hilal dengan mata telanjang. tidak ada perhitungan, software bantu. manusia akan tetap menjadi ummi…

        marilah kita tidak usah saling mencela dan merasa benar sendiri, atau hanya beralasan dengan hadits nabi yang hanya anda diartikan dengan lingkup sempit, saya mengIMANi nabi Muhammad SAW. kita tidak akan maju jika kita berpikiran seperti itu.

        yang satu hanya memakai perhitungan dan software bantu, yang satunya lagi perhitungan dan dibuktikan dengan lapangan tanpa memperdulikan bulan sabit baru/hilal harusnya sudah ada menurut software bantu dan perhitungan malah dianggap bukan hilal. katanya hilal harus terlihat, kalau tidak terlihat ya bukan hilal, makanya sama-sama ciptakan alat yang lebih canggih daripada sekarang, biar yang menghitung (meskipun kurang dari 2 derajat) sama-sama bisa melihat.

        para pakar astronomi (apalagi yang bergelar profesor) tidak ada waktu buat mencela, yang terpenting buatlah alat yang lebih canggih dari pada alat yang telah ada, saling mengisi kekurangan biar nanti bisa dibuktikan antara teori dan praktek di lapangan sehingga metode Imkan-rukyat bisa lebih diterima oleh umat muslim khususnya di indonesia. hilangkan sifat egois dan tanamkan sifat kebersamaan demi kemaslahatan umat. baru bisa disebut sebagai ILMUWAN ASTRONOMI MUSLIM SEJATI!!!

      • Assalamu’alaikum wr.wb.

        Yth. Pak Anwar Muhammad,

        Apakah dengan pesatnya perkembangan ilmu astronomi menyebabkan harus menanggalkan keIMANan terhadap Hadist Nabi Muhamad SAW tentang penatapan awal bulan yang sangat spesifik ?
        Padalah saya memahami Al Qur’an dan Hadist adalah sebagai sumber dari semua iptek bahkan “ujung” dari pesatnya iptek itu nantinya akan bemuara pada kandungan Al Qur’an dan Hadist yang banyak mengisyaratkan tentang iptek.
        Teori astronomi “big bang” ada diisyaratkan dalam Al Qur’an, teknologi kloning ada diisyaratkan dalam Al Qur’an yaitu cara membangkitkan manusia yg sudah mati dengan mengembangkan tulang ekornya saja setelah kiamat untuk dihisab amal perbuatannya, dan bahkan teori relativitas dari Einstein juga akan berujung pada Rukun Iman yg ke 6 yaitu Qadha dan Qadar, dsb adalah contoh2 bahwa pesatnya perkembangan iptek adalah bukan meninggalkan Al Qur’an dan Hadist, namun justru sebaliknya perkembangan iptek itu akan menuju kepada apa yg diisyaratkan Al Qur’an dan Hadist.

        Untuk hal2 yg tidak diatur secara spesifik dalam dalil syar’i seperti gerhana bulan, gerhana matahari, jadwal sholat, perjalanan ke ruang angkasa, pendaratan di bulan dsb tentang astronomi, pengembangan ipteknya bebas tidak ada batasnya sehingga mempercayai dan mengamalkan temuan2 ilmiah tersebut tidak akan menyalahi dalil syar’i.
        Sedangkan untuk “penetapan awal bulan qomariah”, karena ada Hadist yg secara spesifik mengaturnya, maka ada koridor yg mempersempit pengembangan ipteknya, sehingga penetapan awal bulan qomariah berdasarkan iptek menjadi tidak bebas karena dibatasi oleh dalil syar’i.
        Dan Hadist Nabi Muhamad SAW yg mengatur secara spesifik tentang penetapan awal bulan qomariah adalah Shahih Bukhari,Muslim no.653 yg menegaskan bawa awal bulan qomariah ditandai dg terlihatnya hilal dg matabdan bantuan alat optik jika langit tidak tertutup awan, sedahgkan jika tertutup awan maka boleh digunakan iptek (hisab) untuk memperkirakannya.

        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • pak bambang, jawaban anda ini terlalu muter-muter.
        saya mengerti betul isi haditsnya. saya tidak meninggalkan hadits Nabi Muhammad SAW. sebenarnya pikiran dan keegoisan anda sendiri yang membatasi, bukan hadits tersebut. kalimat anda yang ini, “penetapan awal bulan qomariah adalah Shahih Bukhari,Muslim no.653 yg menegaskan bawa awal bulan qomariah DITANDAI DENGAN TERLIHATNYA HILAL DENGAN MATA DAN BANTUAN ALAT OPTIK”. dari kalimat anda telah jelas kan, hilal harus terlihat. pertanyaan saya, apakah seorang pakar astronomi yang bergelar profesor seperti anda tidak ingin menciptakan alat yang lebih canggih untuk mengamati hilal di bawah dua derajat yang telah ditetapkan sebagai syarat di Indonesia??? atau hanya berkutat pada alat yang sekarang dan menganggap alat itu telah canggih dan tidak mengakui keberadaan hilal di bawah dua derajat? padahal hilal yang seharusnya sudah ada menurut perhitungan dan software bantu. apakah anda berani menyalahkan software bantu tersebut?

        anda malah mengatakan ini “pesatnya perkembangan iptek adalah bukan meninggalkan Al Qur’an dan Hadist, namun justru sebaliknya perkembangan iptek itu akan menuju kepada apa yg diisyaratkan Al Qur’an dan Hadist”. sapa yang meninggalkan hadits pak bambang??? apakah dengan menciptakan suatu alat yang lebih canggih sehingga yang menghitung, menggunakan software bantu atau mengamati langsung, semuanya dapat melihat dan kemudian percaya sehingga umat islam bersatu, termasuk meninggalkan hadits?
        apakah anda sudah puas dengan hasil yang ada? selalu mengambil keputusan berdasarkan imkan-rukyat yang terkenal
        dengan formula 2-3-8.

        membahas teori big bang, sudah tertulis di dalam Al-Quran. kemudian para peneliti membuktikan dengan melakukan penelitian yang lama dan akhirnya mereka membenarkan bahwa Al-Qur’an itu sebuah kitab suci dari Allah SWT bukan bikinan manusia jaman dahulu. seorang peneliti tidak memiliki waktu untuk mencela. pikiran mereka hanya digunakan untuk menyempurnakan penelitian sebelumnya. jika tidak ada ijin Allah SWT, alat yang canggih dan logika seorang ilmuwan maka tidak akan terbukti teori tersebut.
        sama halnya dengan masalah hilal. diteliti lagi, ciptakan alat yang lebih canggih sehingga ormas di indonesia bisa bersatu menentukan awal puasa, syawal, dst. anda yang katanya ingin melakukan “perubahan”. harusnya anda sibuk dengan pikiran ilmiah yang nanti hasilnya bisa digunakan oleh umat islam bukan asik mengoreksi kekurangan orang lain padahal kekurangan di dalam diri anda sendiri masih banyak.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.

        Yth. Pak Anwar Muhammad,

        Saya ini bukan seorang pakar astronomi yang bergelar profesor, saya hanyalah orang awam yang cuma tahu sedikit tentang Al Qur’an, Hadist, Kalender dan Astronomi yang berkenaan dengan penetapan awal bulan qomariah.
        Dan komentar saya yang muter-muter itu semata-mata hanyalah untuk mengungkapkan bahwa saya meyakini Al Qur’an dan Hadist bukan sebagai masa lalu yang cenderung usang dan ketinggalan jaman, melainkan justru sebaliknya yaitu bahwa Al Qur’an dan Hadist adalah masa lalu, masa sekarang dan masa depan atau dengan kata lain akan berlaku sepanjang jaman secara universal sebagai pedoman hidup umat muslim.
        Oleh karena itu dalam konteks pesatnya perkembangan iptek saya tetap menempatkan Al Qur’an dan Hadist khususnya dalil syar’i yang spesifik berada diatas dan lebih kuat dari teori-teori iptek.
        Demikian juga terhadap kalender yang dihasilkan melalui hisab yang menggunakan teori-teori astronomi, karena pihak2 yang mempunyai kepandaian hisab hanyalah terbatas namun methode hisabnya ber-beda2, maka hasil hisab yg diaplikasikan dalam bentuk “kalender/almanak/penanggalan” itupun “tidak seragam” tergantung dari metode hisab yg digunakan oleh pihak2 bersangkutan.
        Oleh karena itu, masyarakat yang sebagian besar tidak paham astronomi dihadapakan pada beberapa pilihan untuk diyakininya, sehingga karena perbedaan pengetahuan yg dimilikinya tentang hisab maka jalan yang ditempuh untuk meyakini salah satu hisab yg ada juga berbeda-beda, antara lain :
        1. Taqlid, mengikuti saja apa yang dikatakan oleh yang mereka anggap sebagai pemimpin.
        2. Berusaha mencari tahu dan mempelajari ilmu2 hisab yg ada diseantero dunia dan menentukan pilihan pada hisab yang ter-akurat.
        3. Menuntut “bukti” atas keakuratan metode hisab yang ada, bahwa awal bulan qomariah yang tertera dalam kalender memang sudah bertepatan dengan “terlihatnya hilal”
        4. dsb.
        Saya sebagai salah satu masyarakat awam, dengan segala keterbatasan yg saya miliki berusaha untuk mengenal dan mempelajari metode2 hisab yang ada untuk menentukan pilihan namun sampai saat ini masih belum ada yg dapat saya yakini.
        Jadi untuk sementara, sebagai orang yang ber IMAN dimana Iman itu hanya untuk yg “enam perkara”, maka terhadap selain yang enam perkara tersebut termasuk diantaranya adalah kalender yang merupakan “perkiraan ilmiah” saya juga menghendaki “bukti” atas perkiraan ilmiah berkenaan, dimana bukti nyata atas kalender adalah bahwa setiap awal bulannya selalu bertepatan dengan terlihatnya hilal.
        Jadi saya sama seperti Pak Anwar Muhammad yang juga mengerti betul tentang Hadist Nabi Muhamad SAW yang berkaitan dengan penetapan awal bulan dan tidak akan meninggalkan hadist tersebut.
        Demikian juga mengenai menciptakan alat canggih untuk dapat meneropong hilal yang tersembunyi, hal ini memang tidak menyalahi Hadist Nabi Muhamad SAW, namun demikian sudah tentu saya tidak punya daya melakukan itu sehingga kita percayakan saja pada ahlinya untuk menciptakannya. Dan sementara belum ada alat yang lebih canggih dari alat optik yang ada sekarang maka penetapan awal bulan qomariah seyogyanya tetap berdasarkan hadist berkenaan yaitu ditandai dengan terlihatnya hilal dengan mata dan bantuan alat optik yang ada sekarang. Dengan kata lain bahwa kalender-kalender hasil karya ahli-ahli hisab yang ada harus dibuktikan keakuratannya melalui rukyat.

        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • alhamdulillah, sekarang jawaban anda telah sesuai dengan pertanyaan yang saya ajukan bahwa “sementara belum ada alat yang lebih canggih dari alat optik yang ada sekarang”.

        setelah saya membaca tulisan yang panjang lebar dan bertanya kepada beliaunya melalui form ini, metode imkan-rukyat yang diagung-agungkan oleh prof djamaludin yang terkenal dengan formula 2-3-8 masih ada kekurangan, kurang astronomis. oleh karena itu janganlah dipaksakan kepada ormas lain dengan mencela metode mereka. mengkritik habis-habisan dan dibaca oleh ribuan umat islam. menyebabkan kebencian di hati mereka, jika seandainya yang membaca orang awam. bukankah di dalam islam telah dijelaskan bagaimana tata-cara menegur seseorang?! jangan di depan orang banyak, diskusi saja antar ahli astronomi dan sebagai penengahnya adalah orang yang benar-benar adil. sekarang kenapa saya katakan kurang astronomis? karena beliau menganggap bulan sabit yang masih muda, umurnya kurang dari 5 jam, sangat tipis dan masih rendah (ketinggian di bawah 2 derajat) bukan termasuk hilal. padahal di dalam ilmu astronomis, itu kan adalah hilal tetapi masih belum bisa dilihat langsung oleh alat yang sekarang ini. menganggap bertentangan dengan hadits nabi Muhammad SAW. apakah menciptakan alat yang lebih canggih untuk mempersatukan umat islam disebut orang yang tidak berIMAN dan mengingkari hadits profesor??? seharusnya profesor djamaludin, anda tidak perlu menggunakan software bantu dan hisab. teliti saja dengan melihat langsung, percuma jika jawaban anda seperti itu.

        terimakasih atas jawaban-jawaban para ahli di form ini. maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati. semoga keegoisan dan ilmu pengetahuan yang anda miliki tidak menutupi hati nurani sehingga kita semua dapat menikmati ilmu dan karya yang anda miliki. maaf jika mengulang-ulang penjelasan, biar hati nurani kita terbuka. ada tipe orang yang langsung dibukakan pintu hatinya setelah dijelaskan sekali dan ada tipe orang yang dijelaskan berkali-kali baru dibukakan pintu hatinya. kasihan masyarakat di bawah, banyak dari mereka hanya mengikuti (taklid), tidak mau mencari kebenarannya (ilmu). kasihan mereka yang hanya mengambil secuil kalimat dari tulisan anda profesor untuk berdebat.

        seperti pepatah orang jawa, rebut balung tanpo isi

        SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MINAL ‘AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
        SEMOGA KITA TETAP MENDAPAT RAHMAD-NYA. AAMIIN….

        SUKSES BUAT PARA AHLI ASTRONOMI YANG MELAKUKAN PERUBAHAN UNTUK MELANGKAH MAJU DAN TIDAK HANYA PUAS DENGAN HASIL YANG TELAH ADA SEKARANG INI DAN SEMOGA TIDAK SALING MENCELA.

  8. Hasil pengamatan hilal awal Syawal 1434 di situs ICOP utk Indonesia disebutkan:

    1. Not Seen: ICOP member Mr. AR Sugeng Riyadi from Surakarta City in Central Java State mentioned that the sky was clear, the atmospheric condition was clear, the crescent was not seen by naked eye, the crescent was not seen by binocular, the crescent was not seen by telescope, the crescent was seen by CCD Imaging.

    Apakah berarti hasil pengamatan dg CCD tidak bisa digunakan? Mohon penjelasan.

    • Laporan pengamatan itu maknanya, tidak ada pengamatan langsung dengan mata atau teleskop, tetapi terekam di dalam CCD. ICOP menyatakan citra CCD sebelum matahari terbenam bukan sebagai hilal, jadi dinyatakan “Not Seen”. Tim Bosscha tidak/belum melaporkan ke ICOP.

  9. wujudul hilal???????

  10. Kepada Yth. Bpk. Anwar Muhammad

    Menurut saya, kelamahan kriteria Wujudul Hilal adalah bahwa ketika matahari terbenam mendahului bulan (terutama ketika ketinggian bulan sangat rendah), maka dianggap hilal sudah ada meskipun jika dilakukan pengamatan secara visual dengan alar secanggih apapun yang ada saat ini, hilal tidak akan teramati.
    Saran dari saya, dari pada meyakini kriteria yang baru berdasarkan anggapan tersebut, lebih baik mengikuti apa yang telah tersurat dalam hadits Nabi SAW tentang hilal (“berpuasalah kamu jika melihatnya”).
    Bersamaan dengan hal itu maka para ahli mengembangkan peralatan untuk membuktikan bahwa jika matahari lebih dulu terbenam mendahului bulan (seberapun tingginya), maka hilal akan dapat diamati. Jika memang dapat dibuktikan maka barulah diberlakukan kriteria Wujudul Hilal tersebut.
    Jadi, belum dapat dikatakan kriteria jika dapat dibuktikan. kebenarannya.

    • saudara ziyya, silakan dibaca dan dimengerti dulu sebelum memberi komentar

      • Saudara Anwar,
        Melihat hilal awal bulan dengan perangkat software menurut saya masih merupakan ANGGAPAN dan LOGIKA, bukan merupakan data empiris tentang suatu fakta,sehingga menurut pemahaman saya hal demikian belum dapat dijadikan suatu KRITERIA.

        Saya bukan seorang yang IR minded, Rukyat minded, atau lainnya. Cara berpikir saya menyikapi suatu ketentuan syara’ sederhana saja, yaitu adalah mengimani terlebih dahulu secara utuh ketentuan yang TERSURAT dalam Al Quran maupun Hadits, kemudian berusaha memikirkan apa yang TERSIRAT dalam ketentuan syara’ tersebut. Jika belum dapat membuktikan apa yang tersirat dari ketentuan syara’ tersebut, maka saya akan mengimani secara utuh dahulu apa-apa yang telah tersurat.

        Saya mengerti kok konsep dasar kriteria WH, tapi terus terang saya belum bisa menerima secara utuh konsep dasar kriteria WH tersebut. Hal ini terutama terkait logika bahwa jika matahari terbenam mendahului bulan (terutama jika ketinggian bulan sangat rendah) maka dianggap hilal sudah wujud, padahal sampai saat ini belum ada suatu peralatan pun yang dapat membuktikan hal tersebut secara visual. Melihat hilal dengan bantuan perangkat software hasilnya bukan merupakan dara empiris tetapi hanya berdasarkan LOGIKA saja. Menurut pemahaman saya, suatu konsep pemikiran yang tidak didasarkan atas fakta tetapi hanya didasarkan atas ANGGAPAN dan LOGIKA bukan merupakan KRITERIA. Inilah point dari kriteria WH yang belum dapat saya terima.

        Intinya, jika di masa mendatang ditemukan alat yang dapat melihat hilal pada saat matahari terbenam mendahului bulan di ketinggian berapapun, maka saya dapat menerima konsep pemikiran kriteri WH yang selama ini banyak diperdebatkan.

        Wassalaam

  11. Ralat:
    Jadi, belum dapat dikatakan kriteria jika belum dapat dibuktikan kebenarannya.

  12. Saudara Anwar, saya sudah membaca tulisan anda beberapa kali. Tapi sekali lagi, kriteria Wujudul Hilal yang ada saat ini (pada titik tertentu) adalah kriteria yang hanya berdasarkan ANGGAPAN DAN LOGIKA yang belum dapat dibuktikan kebenarannya (terutama jika posisi bulan ketika matahari terbenam sangat rendah). Sekali lagi, anggapan yang belum dapat dibuktikan kebenarannya maka belum dapat dijadikan kriteria (belum dapat dijadikan teori).
    Saya bukan orang yang IR minded, Rukyat Minded, ataupun lainnya. Saya dapat menerima kriteria Wujudul Hilal jika di masa yang akan datang dengan adanya perkembangan teknologi, maka ketika matahari lebih dulu terbenam mendahului bulan (seberapun tingginya posisi bulan), maka hilal akan dapat diamati secara visual (bukan dengan rekayasa software, karena rekayasa software menurut saya bukan data empiris tetapi masih bersifat anggapan)
    .

  13. Mohon konfirmasi, apakah benar yang ditulis di suatu milis bahwa ada foto sabit bulan teramat tipis yang berhasil diabadikan dari Makassar (Sulawesi Selatan) pada kesempatan rukyatul hilaal Rabu 7 Agustus 2013 silam? Foto diambil pada pukul 18:11 WITA, hanya 5 menit pasca terbenamnya Matahari dan sebelum Bulan menghilang di balik awan. Pada saat itu Bulan memiliki tinggi relatif 3,7 derajat terhadap Matahari dan tinggi 1,5 derajat terhadap horizon barat.

    Foto tersebut juga dimuat di http://pdni.pnri.go.id/winfalak/ArtikelAdd.aspx?id=22. Disitu disebut bahwa foto ini adalah hasil pengamatan hilal syawal 1434 H oleh tim Bosscha ITB di Makassar.

    • Assalamu’alaikum wr.wb.
      Jika benar jarak antara matahari dan bulan adalah 3,7

    • Assalamu’alaikum wr.wb.
      Jika benar jarak antara bulan dan matahari adalah 3,7 derajat, bukankah itu berarti bahwa posisi hilal telah memenuhi kriteria 2-3-8 dimana berdasarkan kriteria tersebut hilal diperkirakan dapat terlihat pada posisi jarak bulan dengan matahari minimal 3 derajat.
      Jadi meskipun tinggi bulan baru 1,5 derajat diatas horison namun karena jarak bulan dengan mata hari 3,5 derajat atau lebih besar dari kriteria 3 derajat maka dinyatakan hilal dapat terlihat dan itu berhasil dibuktikan oleh Tim Bosscha ITB di Makasar.
      Semoga dg pembuktian2 melalui rukyat dapat segera disepakati kriteria hisab yang paling akurat.
      Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Di peta visibilitas hilal menurut semua kriteria IR internasional (Odeh, Yallops, SAAO, Shaukat), di Indonesia pada saat maghrib 7 Agustus 2013 hilal tidak mungkin terlihat dengan cara apapun. Kalau foto hasil pengamatan hilal syawal 1434 H oleh tim Bosscha ITB di Makassar ini benar, berarti kita telah menemukan kriteria IR sendiri yang lebih akurat.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Kriteria IR 2-3-8 sesungguhnya sudah merupakan rekor baru dibandingkan dengan kriteria IR Internasional (Odeh, Yallops, SAAO dan Shaukat) karena dibuat berdasarkan data empiris dimana di Indonesia pernah terlihat hilal pada posisi tinggi bulan 2 derajat diatas horison dan jarak matahari dan bulan 3 derajat. Bahkan usaha Thierry Legault, Astrofotografer asal Perancis yang berhasil memotret bulan sabit tertipis dalam sejarah manusia pada tanggal 8 Juli 2013 baru lalu yang dianggap “new record” sesungguhnya juga bukan rekor baru karena hasil pengamatannya adalah pada posisi jarak bulan dan matahari 4,6 derajat, jauh diatas kriteria IR 2-3-8 yaitu 3 derajat.
        Sedangkan hasil pengamatan hilal syawal 1434 H oleh tim Bosscha ITB di Makassar, meskipun hilal dapat diamati pada posisi ketinggian bulan 1,5 derajat diatas horison (melampaui rekor kriteria IR 2-3-8 yaitu 2 derajat), namun karena jarak bulan dan matahari pada saat itu adalah 3,5 derajat (masilh belum melampaui rekor kriteria IR 2-3-8 yaitu 3 derajat), maka hasil pengamatan hilal syawal 1434 H oleh tim Bosscha ITB di Makassar tersebut perlu dikaji lebih mendalam lagi apakah merupakan rekor baru atau bukan.
        Rekor baru yang dapat dikatakan melampaui Kriteria IR 2-3-8 adalah apabila hilal dapat terlihat pada posisi tinggi bulan diatas horison lebih kecil dari dua derajat, dan jarak antara bulan dan matahari sama dengan atau lebih kecil dari 3 derajat.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: