Pandangan Muhammadiyah: (2) Logika Aneh Pendukung Wujudul Hilal


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Sang Pencerah

Kritik saya atas wujudul hilal (WH) usang yang digunakan Muhammadiyah adalah kritik ilmiah, artinya didasarkan pada data dan logika ilmiah astronomis dan logika fikih terkait dalil untuk pelaksanaan ibadah. Bantahannya mestinya bantahan ilmiah juga. Ahli fikih Muhammadiyah perlu menunjukkan dalil WH, karena waktu ibadah harus berdalil, tidak boleh sembarang. Ahli hisab Muhammadiyah juga perlu menunjukkan logika astronom bila ingin membela WH. Tetapi kalau tak ada dalil dan tak ada logika astronomis, mari kita tinggalkan WH dan mari bersama-sama ormas Islam lainnya menggunakan kriteria Imkan Rukyat (IR, yang perlu terus disempurnakan) agar PERSATUAN UMMAT dapat terjaga. Kriteria IR adalah titik temu metode rukyat dan hisab, yang tidak menafikkan salah satunya. Persatuan ummat bukan dibangun dengan basa-basi, dengan membiarkan WH terus bikin masalah terjadinya perbedaan awal Ramadhan dan hari raya. Persatuan Ummat harus dibangun dengan kesepakatan. Kalau perbedaan bisa diselesaikan dengan kesepakatan kriteria, mengapa perbedaan harus dipelihara?

Sayangnya, tanggapan pakar falak Muhammadiyah sama sekali tidak saya peroleh. Browsing di internet pun TIDAK ADA satu pun yang mendukung WH dari aspek dalil dan logika astronomisnya. Tanggapan di facebook pun tidak ada yang mampu menjawab soal dalil WH dari QS 36:40 dan logika ilmiahnya, malah yang muncul justru tawaran pengganti wujudul hilal. Syukurlah ada situs “Sang Pencerah” yang menyuarakan pandangan Muhammadiyah yang dapat saya gunakan untuk “membaca” pemahaman kader Muhammadiyah tentang hisab rukyat. Di dalamnya ada dua kelompok tulisan terkait falak dan penentuan awal bulan: (1) tulisan umum yang kandungannya mengarah pada penggunaan hisab imkan rukyat atau setidaknya membuka peluang untuk menggunakannya dan (2) tulisan yang berupaya membela wujudul hilal, namun logikanya aneh dari sudut pandang astronomi (ilmu yang berkait langung samalah kalender), termasuk yang akhirnya malah menawarkan penggantian wujudul hilal. Tulisan yang ada di situs “Sang Pencerah” (yang berhasil saya peroleh) bukanlah karya pakar falak Muhammadiyah. Sedangkan pakar falak Muhammadiyah dalam ranah ilmiah sebenarnya terbuka pada hisab imkan rukyat.

1. Terbuka Pada Hisab Imkan Rukyat

2. Logika Aneh Pendukung Wujudul Hilal

Argumentasi Hisab Wujudul Hilal

Wawan Gunawan Abdul Wahid,  Ketua Divisi Kajian Kemasyarakatan dan Keluarga MTT PP Muhammadiyah, menulis:

Ada dua metode hisab yang sering dipertentangkan pertama imkanurrukyat dan kedua wujudul hilal. Dari dua metode itu wujudul hilal yang dipilih Persyarikatan. Pilihan Persyarikatan pada hisab wujudul hilal sejalan dengan prinsip keilmuan yang dikemukakan oleh Filsuf bernama William Ockham Razor (1280-1347) yang menegaskan manakala untuk memastikan sesuatu ditemukan beberapa cara pastikanlah dengan satu cara yang lebih mudah dan memberikan kepastian segera. Metode wujudul hilal memenuhi prinsip-prinsip keilmuan yang objektif, murah dan mudah dan memberikan kepastian. Dikatakan objektif karena nilai-nilai objektivitas wujudul hilal betul-betul jauh dari prakiraan yang sulit untuk direalisasikan. Ini berbeda dengan metode imkanuurrukyat yang mengasumsikan angka derajat tertentu yang di lapangan jarang sekali teraplikasikan. Ironi pada imkaanurukyat adalah metode hisab yang semestinya memberikan kepastian menjadi sulit untuk diaplkasikan karena adanya syarat derajat tertentu yang tidak dapat dikembalikan asal-usulnya pada andasan syar’I dan kelimuan. Dikatakan murah dan mudah karena dengan perangkat yang sangat sederhana seseorang dapat mempraktekkan metode wujudul hilal di manapun kapanpun tanpa memerlukan biaya sidang istbat yang miliaran rupiah itu. Dikatakan memberikan kepastian karena wujudul hilal dapat segera memastikan suatu peristiwa itu terjadi dalam waktu yang segera jauh sebelum peristiwa itu terjadi sehingga segala sesuatu yang dihajatkan dapat dipersiapakan jauh sebelum hari H nya. Analogi wujudul hilal sama dengan lampu lalulintas yang digital itu. Tatkala para pengguna kendaraan berhenti menunggu berjalannya waktu tertentu yang diprogram dan saat angka menunjukkan angka 0 para pengendara pun bersiap-siap melajukan kendaraannya tanpa menunggu angka digital di lampu menunjuk angka 2, 3,4, 5 dan seterusnya.

Dalam penentuan waktu ibadah mestikan dalil fiqih yang digunakan, bukan merujuk pada pendapat filsuf. Ketidakfahaman akan kriteria imkanrukyat menyebabkan logika yang digunakan menjadi aneh. Imkan rukyat sama objektif, sama murahnya, dan sama mudahnya serta memberikan kepastian, sesuai dengan sifat hisab. Penulis artikel di atas jelas bukan ahli falak yang faham aplikasi hisab, seolah hisab itu hanya WH dan seolah hisab IR adalah rukyat. Hasil hisab sama, yang membedakan adalah kriterianya. Misalkan, ketinggian bulan 0,7 derajat. Menurut kriteria WH sudah masuk tanggal, tetapi menurut Imkan Rukyat belum masuk tanggal. Dengan hasil hisab seperti itu, kita bisa membuat kalender untuk tahun kapan pun. Perangkat lunak (software) kini banyak membantu hisab imkan rukyat. Silakan buka blog saya dan buktikan bahwa hisab imkan rukyat pun mudah dan memberikan kepastian.

Imkan Rukyat Prof Thomas adalah Scientific Blunder

Prof. Tono Saksono, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, menulis:

Imkan-rukyat adalah scientific blunder. Bias, enggak masuk, akal, tidak adil, against common sense, dan karenanya tidak layak dijadikan sebagai kriteria ilmiah. Kesalahan terbesar dalam landasan berfikirnya adalah dalam memandang alam ini sebagai sesuatu yg diskrit. Analisisnya dilakukan pada setiap maghrib. Maghrib tanggal 8, maghrib tanggal 9, dst. Untung aja Rasul kemudian menyetop. Cukup maksimum 30 hari. Padahal alammerupakan fenomena analog yang kontinyu. Liat permukaan topografi, terus bersambung sambung. Enggak ada bagian yang hilang. Begitu juga pertumbuhan hilal. Dia terjadi secara kontinyu bersambung-2.

Persoalannya memang ketika kita mau menganalisis di komputer, komputer tidak dapat menerima data analog. Maka alam harus didiskritkan (digitized). Maka dalam dunia imaging, dibuatlah kamera yg digitalisasinya diekpresikan dalam ukuran pixelnya. Mendigitalisasi ini juga harus cerdas. Kalau topografi bumi digitized setiap 5 km, maka akan banyak informasi berupa selokan, anak sungai, bukit bahkan gunung yang hilang. Kalau data digital yang resolusinya cuma 5 km ini digunakan oleh seorang insinyur untuk merencanakan jembatan Selat Sunda, ya pasti ancur2 an. Jadi unt pekerjaan yang presisi, ya digitisasinya harus menyesuaikan, mungkin harus setiap 5 meter (bukan setiap 5 km).

Kalau dalam teknologi imaging, kalau kita menggunakan resolusi kamera yang rendah (misal cuma 1 megapixel) untuk memotret foto model ya pasti gambarnya ancur2 an karena banyak detil informasi yg hilang. Kalau pengen bagus, pakailah kamera dengan 10 megapixel, atau 20 megapixel Itu semua adalah logika umum. Bahkan dalam bidang apapun.

Itulah konsep imkan-rukyat yang mendigitized karakteristik hilal kok cuma setiap 24 jam, ya pasti ancur2 an. Wujudul hilal cara mendigitized nya bebas, sesuai kebutuhan. Yang saya lakukan adalah setiap 3 jam seperti pada makalah yg dapat dilihat di Dengan cara ini, kita bisa memotret karakteristik hilal dengan jauh lebih baik. Kok Anda ngotot bahwa imkan-rukyat lebih saintifik? Imkan-rukyat adalah bias, enggak masuk akal, bertentangan dengan common sense, tidak adil. Dan karenanya harus dicampakkan sebagai kriteria ilmiah.

Ketidakfahaman akan kriteria imkan rukyat menjadikan logika aneh seperti itu. Imkan rukyat (visibilitas hilal) adalah hasil penelitian astronomis atas dasar kaidah sains. Silakan cari referensi ilmiah soal imkan rukyat atau visibilitas hilal di majalah atau jurnal ilmiah. Untuk penerapan pembuatan kalender, pengguna harus memilih salah satunya atau menggabungkannya. Bandingkan dengan wujudul hilal, adakah makalah ilmiah yang mengkajinya?

Inilah beberapa contoh makalah ilmiah tentang visibilitas hilal (imkan rukyat) di majalah atau jurnal astronomi:

Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

Schaefer, BE, 1991, “Length of the Lunar Crescent”, Q. J. R. Astr. Soc., Vol. 32, p. 265 – 277.

Yallops, DB, 1998, “A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon”, HM Nautical Almanac Office, NAO Technical Note No. 69.

 

Imkan Rukyat dan Wujudul Hilal

Agus Purwanto, Ketua Divisi Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, menulis:

Alhamdulillah, pak Thomas Djamaluddin dengan rajin mengkritisi konsep Wujudul Hilal Muhammadiyah (WHM). Sepedas apa pun kritik beliau, warga Muhmamdiyah khususnya kader falak Muhammadiyah harus berterimakasih kepada beliau. Kritik beliau membuat ahli falak Muhammadiyah ikut berfikir kritis. Terimakasih pak Thomas, sungguh kami menjadi kian solid dengan kritik demi kritik anda. Selanjutnya, ijinkan kami memberi cacatan tentang WHM

  1. Benar kritik anda tentang konsep WHM yang tidak jelas dalam arti hilal mau diartikan apa karena menggunakan kriteria Bulan tenggelam sebelum Matahari. Kami sedang berusaha merevisi bahwa WHM berarti hilal belum tenggelam ketika Matahari terbenam, dengan kata lain piringan bawah Bulan belum terbenam ketika Matahari tenggelam. (Nah, ini masih dalam usulan, harus dimusyawarahkan dulu karena kami bekerja di organisasi)
  2.  Kami memang tidak menggunakan imkanu ar-rukyat yang bagi kami imkanu ar-rukyat itu
    1. Tidak jelas parameternya. Sederhananya, itu adalah parameter yang mengada-ada. Saya pribadi tidak gembira dengan sesuatu yang tidak jelas dan suka-suka ini yakni ada yang ambil 2 derajat, 4 derajat, 5 derajat, 9 derajat sebagai criteria visibilitas. Apakah kalau diambil 2 derajat lalu ketika hisab menghasilkan ketinggian 3 derajat otomatis hilal bisa dilihat? Tidak kan?
    2. Dalam perspektif kefilsafatan, mengapa kita mendasarkan pada sestau yang tidak tetap dan variatif tersebut? Bukan dari variasi tersebut ada ujung yang konvergen, 2, 4, 5, 9 dan seterusnya bisa dibalik menjasi …9,5, 4, 2 dan tujung atau ujuannya adalah NOL. Inilah WHM. 
    3. Sebagai fisikawan teoritik, saya memang cenderung menghindari parameter by hand atau given termasuk bagi visibilitas. Saya selalu berusaha bekerja mencari yang mendasar, first principle. Nah, yang mendasar dari angkaa tersebut adalah NOL, sedangkan bilangan 2, 4, 5, 9 dapat dipandang sebagai fluktuasi dari vakum yang mendasar. Vakum itu asal-usul dari system fisis tereksitasi. Jika berada di vakum berarti tersembunyi jika keluar dari vakum yakni keluar dari NOL berarti tereksitasi dan ada. Tereksitasi dari NOL berarti positip.
  1. Argumenn tersebut seolah tidak syar’I, karena tidak berdasar pada tekss yang ada selain teks ke-ummi-an Rasulullah saw dan para sahabat atas ilmu astronomi. Kami hanya berimajinasi, andai para sahabat saat itu ada yang ahli hitung dalam astronomi apa yang diminta Rasulullah saw untuk dihitung pada para sahabat tersebut. Saya bayangkan hal sederhana karena Islam memang sederhana, tidak menyulitkan. Hal tersebut tidak lain adalah konjungsi. Seharusnya konjungsilah yang jadi penanda akhir dan awal bulan lunar. Tetapi masalahnya, apakah bagian Bulan yang tersinari Matahari dan menghadap Bumi tidak lama setelah konjungsi dapat terlihat dari Bumi agar sesuai dengan hadits popular tentang keterlihatan hilal. Kami belum punya bukti pendukung keyakinan kriteria konjungsi sebelum maghrib ini . Betul, keyakinan kami baru sebatas keyakinan tanpa dasar data hilal teramati tidak lama setelah konjungsi.
  2. Alhamdulillah, akhirnya saat yang ditunggu datang juga. 5 Mei 2008 astronom Jerman Martin Elsasser (www.mondatlas.de/index_e.html) mencatat rekor dunia dengan mengamati hilal hanya beberapa menit sebelum dan setelah konjungsi. Artinya, kriteria ijtimak qabla al-ghurub menjadi benar, WHM gugur apalagi imkanu ar-rukyat. Ijtimak qabla al-ghurub bisa disebut wujudul hilal versi geometris-astronomis. Tetapi untuk sementara kami ambil jalan tengah dulu dengan WHM, kalau umat sudah siap kita beralih pada criteria IJTIMAK QABLA AL-GHURUB

Jadi Pak Thomas benar, WHM salah, apalagi imaknurrukyat, lebih salah lagi. Allah adil dengan memperlihatkan kesalahan kita bersama. Jadi tidak perlu saling menyalahkan. Mari kita pindah ke kriteria baru kriteria ijtimak qabla al-ghurub, secara bersama-sama dan kompak. Jika ini kita lakukan, muslim Indonesia dengan kementerian agamanya akan naik pamor karena melakukan ijtihad besar di abad 21 ini. Siapkah?

Latar belakang keilmuan sebagai fisikawan teoritik bukanlah bidang ilmu yang tepat membahas soal kalender. Kalender adalah “mainan sehari-hari” bagi astronom, khususnya astronom observasional (untuk lebih spesifik, karena ada juga astronom teoritik yang juga faham kalender, tetapi belum tentu mendalami). Lagi-lagi ketidakfahaman akan hisab imkan rukyat menjadikan logikanya aneh. Paremeter imkan rukyat dianggap tidak jelas, ya karena tidak memahaminya. Paramaternya jelas, antara lain dijelaskan di blog saya. Pilihan kriteria memang banyak, tetapi pengguna (dalam hal ini ormas-ormas Islam dan pemerintah) bisa menyepakati salah satunya. Kriteria imkan rukyat yang baik mestinya adalah hasil kajian atas data-data pengamatan rukyat jangka panjang, sehingga hasil hisab IR dapat setara dengan rukyat. Kriteria yang saat ini disepakati, bukanlah kriteria astronomis, sehingga bisa jadi saat posisi hilal sudah memenuhi kriteria hilal tidak terlihat. Kriteria wujudul hilal tidak didukung oleh penulis tersebut di atas, karena memang wujudul hilal mengandung paradoks dan bermasalah. Namun, ketika mengusulkan untuk kembali ke ijtimak qoblal ghurub (ala Muhammadiyah pra-1960-an) pada dasarnya “parameter given” yang katanya dihindari fisikawan teoritik justru dipakai. Apa parameter “given”-nya? Ya, batasan waktu maghrib sesuai contoh Rasul untuk merukyat pasca maghrib. Jadi, maghrib adalah batas hari dalam Islam. Itu “given” alias sudah ditentukan oleh Rasul. Ketika menginginkan lepas dari rukyat, malah mencari pembenaran dari rukyat astronomi “daylight crescent” (bulan sabit siang hari) untuk membenarkan ijtimak qoblal ghurub. Bulan sabit siang hari bukanlah hilal dalam definisi syar’i. Kalau memang tidak memerlukan rukyat dan menghindari “given parameter”, mengapa tidak langsung menggunakan saat ijtimak atau geocentric astronomical newmoon dengan segala konsekuensi? Bulan baru (newmoon, ijtimak) astronomi memang dapat terjadi kapan pun, termasuk malam hari. Tetapi kalau itu digunakan sebagai batas awal Ramadhan, pasti akan berbenturan dengan dalil-dalil syar’i.

About these ads

66 Tanggapan

  1. Jika Muhammadiyah terbuka pada hisab Imkanur Rukyah, maka kita hanya perlu menunggu sebagian dari warga Muhammadiyah bersikap yang sama, sehingga terjalin persatuan umat Islam.

    ttd
    http://www.madinatuliman.com

  2. Salamun’alaikum
    Tanpa mengurangi rasa hormat sy kepada Pak Prof. Thomas Dj sy sampaikan sebuah kritik dan mudh2an bisa diterima. Menurut Qs.2/185 yang berbunyi “FAMAN SYAHIDA MINKUMUSY SYAHRA FAL YASHUMU yg harus kita perhatiakan adalah Syahru/month, bukan Qomar/Moon! Termasuk Pak Prof. Thomas Djamaludin. Lalu kriteria apa yg dugunakan oleh pakar astronomi yg pd dasarnya Hisab Rukyat adalah sama dg Wujudul Hilal? dan menganggap kalendar hanyalah sebagai mainan astronom! padahal arti syahru itu sendiri adalah berarti bulan dlm kalendar.

  3. Asswrwb, zaman sdh canggih gini msh sj yg dipersoalkan itu2 sj. Melihat itu kan bisa dng Ilmu, nah gampangnya lihat sj hasil photo satelit, jd gk usah muter2, bg umat ya kepastian. Ramadhan tiap tahun, komet halley 50 thn sekali bisa diketahui lintasan, jam , menit dn detiknya. Kesimpulan saya hny 2 sj kebodohan dn jahil berbuat buat, membingungkan umat. Jd ormas2 Islam di Indonesia itu terkesan adu gengsi, tdk mikir umat. Wsslm.

    • Ya, gunakan ilmu yang tepat. Terkait dengan masalah kalender dan penentuan waktu ibadah, ilmu yang tepat adalah astronomi. Secara astronomi, hisab dan rukyat setara. Mari kita pelajari astronomi dengan benar untuk mempersatukan ummat.

  4. Mengapa hanya tiap penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal saja kita selalu berbeda pendapat,,,????apakah bulan-bulan yang lain tidak penting….????sepengetahuan saya pemerintah belum pernah ada perbedaan terkait tahun baru Islam…Kalau ingin kepastian,,tentunya tiap tanggal 29 harus melakukan pemantauan hilal??????

    • Pemerintah melalui Badan Hisab Rukyat menghitung posisi bulan untuk tiap bulannya. Ada beberapa perbedaan, karena perbedaan kriteria. Rukyat pun dilakukan oleh para pengamal rukyat setiap bulan. Namun, perbedaan di luar Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah hanya diketahui oleh para ahli falak, tidak menjadi perhatian awam. Kalau ingin tahu perbedaannya, silakan bandingkan kalender Taqwim Standar (terbitan pemerintah) dan kalender terbitan ormas-ormas. Kalender yang beredar di pasaran belum tentu merujuk kalender/taqwim standar.

  5. Assalamu’alaikum
    Ilmu Astronomi bukan satu2nya dasar penentuan awal bulan islam prof. setahu saya (sbg orang awam) Al-qur’an dan Al hadist lah yang bisa dijadikan dasar utama untuk menentukan sedangkan ilmu astronomi sebagai pelengkap dan sarana untuk menunjang proses penentuan tsb. Jadi saran saya anda focus saja di LAPAN tidak usah ikut campur urusan penentuan awal bulan islam,biarlah tiap2 bidang diurus oleh ahlinya masing2. “Right Man in the Right Place”,
    wassalam

  6. devide at impera berhasil di semua lini.

  7. Buya Hamka pernah berkata:

    Tetapi oleh karena di zaman mula2 mengembangkan tindjauan2 baru
    dalam negeri kita dizaman jang sudah2 terlalu banjak perselisihan disambut oleh rasa sentimen golongan, timbullah pertikaian jang panas di antara golongan pembela Hisab dengan golongan pembela rukjah. Karena itu kadang2 kaum jang membela Rukjah, walaupun sudah, ada orang melihat bulan karena penglihatan bulan itu tjotjok dengan hisab, tidak djuga mereka mau mengikut. Pernah kedjadian dalam Keradjaan Deli, Murid2 Syech Mahmoud Chayath melihat bulan di Belawan, melapor kepada Qadli Keradjaan Deli dihadapan Sulthan, ditjari orang berbagai dalil untuk menolak kesaksian itu. Karena kalau diakui orang melihat bulan itu, nistjaja sama Hari Raya Keradjaan dengan Hari Raya menurut Hisabnja Muhammadiyah.

    Jangan berburuk sangka terlebih dulu, namun kejadian seperti ini sering kita lihat…

    Saya sependapat dengan kata KH. A. Ghazali Masroeri (Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama) bahwa yang menyaksikan hilal (untuk patokan) haruslah bisa ilmu hisab… begitu juga saya sependapat dengan Muhammadiyah yang mengatakan “apabila rukyat mendahului hisab maka rukyatlah yang dipakai”.

    Selamat Menjalankan Ibadah Puasa :D

  8. Disaat kita sibuk mempertentangkan & dipertontonkan penentuan awal 1Ramadhan. Hisab, Rukyatul hilal dan blablablablaa….
    dapet kiriman selamat berpuasa dan salam damai Ramadhan dari orang yg berbeda iman, Tiba2 diam sejenak dan merenung,,,, perbedaan bukan menjadikan benar atau salah tapi mendamaikan hati kita semua…
    jalani apa yg kamu yakini, dengan ikhlas.
    marhaban yaa Ramadhan..
    selamat berpuasa saudara2ku..

  9. Assalaamu’alaikum wr. wb…
    Trus jam digital tu kok nunjukin tanggal 1 Ramadhan 1434 H bertepatan dengan tanggal 9 Juli 2013 M
    gimana hayo?????????????
    Wassalaamu’alaikum Wr. Wb

  10. kenapa anda memaksakan mazhab syafii dalam penentuan hal ini sedangkan mazhab lain anda tidak perhatikan..?
    kenapa tidak secara global saja dari mulai syariat dan urusan muamalah serta ibadah bermazhab syafii..?
    setau saya sebagai orang yg awam akan islam selalu di ajarkan untuk menghargai apapun, yang tua menghargai yang muda dan yang muda menghargai yang tua.

  11. Boleh jadi pandangan anda menurut anda paling benar, tapi cara penyampaian saudara yang memojokkan Muhammadiyah pada sidang isbat terakhir dimana Muhammadiyah masih hadir sangat tidak etis, apalagi dihadapan forum besar. Sekarang dengan Muhammadiyah tidak mengikuti sidang isbat, apakah tujuan saudara ingin menyatukan metode jadi lebih mudah terwujud?kan tidak. Kondisi sekarang seperti deadlock,dialog terhenti dan ga bisa juga 100% menyalahkan Muhammadiyah.

  12. logikanya yg dipakai orang2 di organisasi Muhammadiyah gak aneh menurutku. Gak ngerti knp gitu kok dibilang aneh. Membaca ini, jadi lebih yakin ama keputusan awal bulan dari organisasi Muhammadiyah, walaupun sy bukan org Muhammadiyah. Yah..untuk mempersatukan umat, kupikir, bukan menyamakan pendapat begitu saja (apalagi sampe bilang yg satu usang yang lain nggak usang), untuk mempersatukan umat, mesti menghargai perbedaan…tapi juga tetap terus membuka diri, mengkaji masing2 pendapat..mungkin saja saya yg salah..mungkin saja kita semua sama2 salah, mungkin saja saya benar, mgkn kita sama2 bener…

  13. bagaimana dengan ini?

    http://www.facebook.com/#!/notes/agus-mustofa/tafakur-ramadan-12/10151523814251837

    http://legault.perso.sfr.fr/new_moon_2013july8.html

    Yah..walalupun ada ini, tetap aja akan ada perbedaan pendapat.. karena pokok berpedaannya di penafsiran hadist. walaupun saya lebih condong ke salah satu penafsiran, tapi masing2 punya logikanya masing-masing kok. gak ada yang aneh… Yah..jika org2 lebih sibuk membuktikan mana logika yg aneh mana yang bukan..apa gak akan ketinggalan ama org2 dari agama lain yg lagi sibuk meningkatkan kerohanian mereka…?

    • Tidak ada satu pun ahli fikih yang menganggap bulan sabit siang ahri sebagai hilal awal bulan. Karena penetapan awal bulan terkiat dengan ibadah, maka harus ada dalil syar’i yang melandasinya.

  14. Prof yth,

    Sungguh ulasan prof telah mengingkari kenyataan ilmu pengetahuan & mengingkari ayat-ayat Allah (sekaligus sebagai dalil tentang hisab) berikut :

    QS 6 : 96
    Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

    QS 10 : 5
    Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

    QS 21 : 33
    Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

    QS 36 : 40
    Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

    QS 55 : 5
    Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

    Dengan maksud untuk sharing knowledge, berikut ini hujah untuk menjawab pendapat prof :

    1- Bumi hanya dibagi 2 belahan (belahan malam & belahan siang), belahan yg satu malam tanggal 1, belahan yg satu adl tgl 1. Jika belahan yg malam adl malam Jum’at, belahan yg siang adl hari Jum’at.

    2- Tidak mungkin ada tanggal yg berbeda pada hari yg sama.

    3- Jika suatu negeri ada kesamaan hari dengan negeri lain, berarti negeri2 tsb juga terjadi kesamaan tanggal.

    4- Jika kita sholat Ied selisih sehari dg dunia Arab, berarti seharusnya dlm sholat Jum’at juga selisih sehari. Dengan kata lain harusnya kita sholat Jum’at dihari Sabtu.

    5- Lebih aneh jika perbedaan terjadi pd hari Iedul Adha. Seringkali kita di Indonesia shaum Arofah selisih sehari dengan Arab Saudi. Padahal disunahkannya shaum Arofah adl utk menghormati saudara2 kita jamaah haji yg sedang ‘berjuang’ wukuf di Arofah (itulah kenapa dinamakan shaum Arofah), lalu besok harinya ber-Iedul Adha. Jika selisih sehari dg Arab Saudi, untuk menghormati siapa lagi shaum kita? Coz di Arab sudah hari Ied pada waktu kita di sini sedang shaum.

    6- Jika fanatik dg metode rukyat, akan sangat merepotkan dlm keseharian kita sekarang, karena setiap akan sholat lima waktu kita harus ‘ngintip’ posisi matahari/syuruq/fajar terlebih dulu, mengingat jadwal sholat yg dibuat skrg adl hasil dari metode hisab. Para muadzin mengumandangkan adzan berdasarkan jadwal sholat. Kalau fanatik dengan metode rukyat kenapa tidak ‘ngintip’ posisi matahari dulu?

    7- Salah satu Hadits, redaksinya sangat jelas:

    ‘berpuasalah dg melihat hilal, dan berbukalah dg melihat hilal’.

    Tapi dalam prakteknya seringkali kita menambah-nambah rangkaian kata dalam hadits tsb menjadi:

    ‘berpuasalah dg melihat hilal di negerimu (Indonesia) & berbukalah dg melihat hilal di negerimu (Indonesia)’.

    Bukankah seharusnya, dimanapun (di negeri manapun) hilal terlihat, esok harinya (seluruh negeri) memulai ber-shaum Romadhon/ber-Iedul Fitri/ber-Iedul Adha pada hari yang sama.

    8- Hisab (teori) & Rukyat (praktek) adl satu kesatuan yg saling mendukung, dan tentu saja hasilnya harus sinkron antara keduanya.

    9- Metode rukyat, hanya akan valid jika orientasinya universal seluruh wilayah Bumi, tidak dibatasi oleh teritori sebuah negeri atau wilayah. Dengan kata lain, kita harus menganggap di Bumi ini hanya ada satu negeri, yaitu negeri Islam. Sungguh aneh jika Indonesia & Malaysia yang masih satu garis waktu, tapi tanggal 1-nya berbeda hari.

    10- Seharusnya penentuan tanggal adalah masalah dunia yang bisa diselesaikan lewat akal saja, bukan masalah ritual yang memerlukan nash-nash agama. Namun karena kasih sayang Allah kepada kita, makanya Allah memberitahu klu kepada kita lewat firman-firmanNya diatas. Tentang hadits rukyatul hilal, ’ilham’ atau ‘hikmah’ yang didapatkan Nabi pada waktu itu tentu saja adl sesuai dengan ilmu pengetahuan & teknologi di jaman beliau hidup. Pengetahuan ttg Bumi bulat, Bumi ber-rotasi, Matahari sbg pusat tatasurya dll baru didapati pada pengetahuan abad modern. Dan kita sekarang sudah tidak ummi lagi dan sudah pandai berhitung. Bukankah Allah sudah memberitahu lewat firman-firmanNya diatas bahwa perjalanan matahari & bulan pada garis edarnya bisa dihitung? Tentu saja ayat-ayat Qur’an tsb adl untuk kita-kita yang masakini & masa datang. Coz Qur’an adl Buku Petunjuk untuk umat manusia sepanjang jaman.

    Salam,
    Purmanto

    • Semua ayat Al-Quran mengajarkan bahwa hisab dan rukyat itu setara. http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/

      Tentanga tanggal di bumi, coba lihat globe (peta bola dunia). Saat siang di Pasifik, misalnya Pasifik Barat (a.l. New Zealand, Australia, Indonesia, Jepang) Selasa, maka Pasifik Timur (a.l. Polinesia, Hawai, Alaska, Kanada, AS) masih Senin. Mengapa, karena ada garis tanggal. Garis tanggal qamariyah juga ada, yang bisa saja memisahkan Indonesia dari Arab Saudi. Silakan baca http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/08/01/unifikasi-kalender-islam-nasional-regional-dan-global-mudah-asal-mau-bersepakat/

      Rukyatul hilal bisa diparameterisasi dengan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat), seperti waktu shalat juga bisa diparameterisasi dengan kriteria tinggi matahari untuk jadwal shalat. Jadi kalau mau rukyat, insya-allah hasilnya akan sama dengan yang tertera di kalender/jadwal shalat.

      • Menurut saya garis tanggal qomariyah itu tidak ada prof (tidak perlu ada). Yang diperlukan adalah kesepakatan IDL untuk memulai hari berdasarkan putaran siang & malam (matahari). Metode rukyat sangat problematis. Fakta sejarah & realita masa kini makin memperjelas & membuat terang akal kita bhw metode rukyat itu jauh dari kata valid. Terbukti dg hari id yg baru saja kita lewati; 1 syawal di India selisih sehari lebih lambat dari Arab & Indonesia. Padahal letak geografis India berada ditengah2 antara Arab & Indonesia. Sebuah realita yang aneh.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        IDL adalah jalur wilayah dimuka bumi yang disepakati pertama kali memasuki hari/tgl syamsiah dg kata lain wilayah yg pertama kali melihat matahari.
        Sedangkan ILDL adalah jalur wilayah dimuka bumi yg pertama kali memasuki hari/tgl qomariah dg kata lain wilayah yg pertama kali melihat hilal.
        IDL berupa “garis lurus” yaitu garis bujur 180 derajat, sedangkan ILDL berupa “garis lengkung” yg dinamis letaknya selalu berubah setiap bulan.
        Karena itu IDL dan ILDL tidak bisa dicampur aduk, masing2 merupakan perangkat dari sitem kalender yaitu IDL utk kalender syamsiah dan ILDL utk kalender qomariah.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alikum salam pak Bambang,
        Bagi saya IDL kalender syamsiah dan IDL(ILDL) kalender qomariah itu mestinya sama saja. Jika IDL kalender menggunakan visibilitas hilal pertama kali, akan sangat problematis; menimbulkan tanggal 1 yang terbagi-bagi dalam banyak hari.

      • Pak Bambang,
        Tanggal 1 yang terbagi dalam 2, 3 atau 4 hari itu sangat lucu, aneh dan bertentangan dengan akal sehat (tidak masuk akal).

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Menurut pemahaman saya, tidak pernah terjadi tanggal yg satu terbagi2 dlm banyak hari, krn pergantian hari dan tanggal qomariah terjadi pd waktu magrib.
        Karena pergantian hari dan tanggal syamsiah terjadi pada saat tengah malam, maka antara kalender syamsiah dg kalender qomariah jangan dicampur aduk. Demikian juga antar IDL dan ILDL.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb Pak Bambang,
        Jika hilal terukyat di Timur Tengah, namun tidak terukyat di Indonesia, jika spt itu, maka sudah pasti Indonesia akan memulai tanggal yg berbeda dg Timur Tengah. Padahal Timur Tengah & Indonesia masih dalam satu hari yang sama. Masa iya, hari-nya sama tapi tanggalnya berbeda?

      • Pak Bambang,
        Apa bedanya tanggal syamsiah dan qomariah? Harusnya sama saja. Hari-hari itu ditentukan oleh matahari & bumi, sedangkan bulan hanyalah sbg ‘petunjuk’ bahwa hari-hari tsb dibagi2 dalam Bulan (12 Bulan). Namun patokan pergantian hari yang tengah malam itu yg perlu kita rombak, karena hal tsb gak masuk akal.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Jika hilal terrukyat di Timur Tengah,

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Jika hilal terukyat di Timur Tengah, namun tidak terrukyat di Indomesia, itu berarti ILDL bulan qomariah berjalan berada diantara Timur Tengah dan Indonesia.
        Selain itu bisa dipastikan bahwa hilal terukyat di Timur Tengah pada hari/tanggal ke 29 bulan qomariah berjalan saat magrib.
        Kalender Qomariah Global yg saya pahami terdiri dr 12 bulan mulai Muharam hingga Dzulhijah dimana semua bulan bilangannya 30 hari dr tgl 1 s.d. 30.
        Oleh karena Timur Tengah sudah melihat hilal pd hari/tanggal ke 29 bln qomariah berkenaan maka hari berikutnya adalah hari/tanggal ke 1 bulan Qomariah selanjutnya, ini berarti Timur Tengah “meloncati” hari/tanggal ke 30 bulan qomariah berjalan.
        Jadi antara Timur Tengah dengan Indonesia tidak berada pada hari yang sama melainkan Indonesia berada pada hari/tanggal ke 30 bulan qomariah berjalan sedangkan Timur Tengah berada pd hari/tanggal ke 1 bulan qomariah selanjutnya.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Perbedaan antara kalender syamsiah dengan kalender qomariah yg saya pahami adalah bahwa kalender syamsiah disusun berdasarkan kombinasi gerak matahari dan bumi sehingga untuk menentukan wilayah mana di bumi ini yang akan mengawali hari/tanggal (IDL) perlu dibuat kesepakatan yaitu dg konvensi internasional yg menetapkan bahwa wilayah IDL adalah garis bujur 180 derajat.
        Sedangkan kalender qomariah disusun berdasarkan kombinasi gerak matahari, bumi dan bulan dimana setiap bulannya akan terjadi fenomena alam yg khas yaitu terlihathya hilal dari permukaan bumi dan wilayah di perjukaan bumi yg pertama kali melihat hilal itulah disebut ILDL.
        Jadi kalender qomariah disusun sepenuhnya berdasarkan kodrat alam sedangkan kalender syamsiah disusun juga berdasarkan kodrat alam namun masih harus dilengkapi dg tambahan rekayasa manusia.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam pak Bambang,

        Itu yang saya bilang aneh pak. Mana ada kalender yang tanggalnya ada dua versi dalam satu Bulan, yang satu versi 29 hari, sedangkan yang satu lagi versi 30 hari. Hal ini tidak logis pak.

        Jika IDL menggunakan ILDL maka pergantian Hari/Tanggal akan selalu berubah-ubah tempatnya mengikuti visibilitas hilal pertama kali. Bayangkan pak, jika tiba2 IDL/ILDL tsb membelah Jakarta. Jakarta 1 sudah masuk Selasa, 1 Muharram. Sedangkan Jakarta 2 masih belum masuk. Tapi pada penanggalan tahun depannya berubah lagi tempatnya, karena IDL/ILDLnya begeser. Hmm, sangat aneh pak.

        Konsekuensi dari bentuk bumi yg bulat mmg harus ada IDL sebagai garis Start & Finish dalam memulai Hari/Tanggal. Tapi idealnya IDL itu lokasinya tetap, tidak berubah2, tidak bergeser. Dan idealnya tidak membelah ditengah2 kota/negeri yg padat penduduknya. Seharusnya berada di tengah2 samudra lepas.

        Hari ke 1 (Ahad) – 7 (Sabtu) itu milik kita pak (pengetahuan warisan Nabi Adam), bukan milik kalender Masehi/Syamsiah. Dan memulai Hari/Tanggal itu ya dari IDL, bukan dari visibilitas hilal pertama kali. Apakah kalender Hijrah/Qomariah harus seperti kalender Masehi? Seharusnya iya. Kenapa? Karena sudah waktunya kita meninggalkan kalender Masehi, waktunya kita ganti dengan kalender Hijrah/Qomariah dalam kehidupan sehari-hari. Karena kalender Masehi itu sangat tidak berdasar & bertentangan dg fitrah alam semesta. Tapi memulai Hari yg tengah malamnya tidak perlu kita ikuti, coz ini juga tidak berdasar. So, hilal itu hanya petunjuk perhitungan Hari tiap Bulannya, tapi dalam memulai Hari, mestinya dari IDL yg tetap.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.

        Yth. Pak Purmanto, jika kita melakukan simulasi kombinasi gerak matahari, bumi dan bulan maka akan kita dapati kenyataan bahwa setiap satu bulan (satu kali putaran bulan mengelilingi bumi) akan terjadi fenomena alam khas yaitu “terlihatnya hilal” utk pertama kalinya dari permukaan bumi.
        Terlihatnya hilal pertama kali tsb hanya berlangsung beberapa menit saat magrib di hari ke 29 bulan qomariah berjalan dari wilayah tertentu yg setiap bulannya selalu berubah yaitu bergeser ke arah timur.
        Karena Hadist Nabi Muhamad SAW (HR.Bukhari, Muslim no.653) mengisyaratkan bahwa awal bulan qomariah ditandai dg terlihatnya hilal, maka wilayah dipermukaan bumi yg pertamakali melihat hilal patut disebut ILDL karena wilayah tersebut akan mendahului memasuki hari/tgl 1 bulan qomariah berikutnya.
        Keseluruhan proses tersebut diatas adalah merupakan kodrat alam yg terjadi krn kuasa ALLAH SWT, bukan rekayasa manusia.
        Sedangkan mengenai kombinasi gerak matahari dan bumi tidak memunculkan tanda wilayah mana dipermukaan bumi yang pertamakali memulai hari/tgl 1 bulan syamsiah dan hari2 berikutnya, oleh karena itu dibuat kesepakatan yg dituangkan dlm konvensi internasional dimana disepakati bahwa wilayah dipermukaan bumi yg pertama kali memasuki hari/tgl 1 syamsiah dan hari2 berikutnya adalah garis bujur180 derajat dan disebut dg IDL.
        Jadi kalender syamsiah harus disusun berdasarkan kodrat alam namun hrs dilengkapi dg rekayasa manusia.
        Konsekuensi membuat kalender memang harus ada IDL atau ILDL dan penerapan keduanya masing2 akan menemui keanehan terutama di wilayah IDL maupun ILDL karena wilayah disebelah barat IDL maupun ILDL hari dan tanggalnya akan berbeda satu hari dg wilayah disebelah timur IDL maupun ILDL.
        Meskipun IDL dan ILDL sama2 punya keanehan, namun karena HR.Bukhari,Muslim no.653 menyatakan bahwa awal bulan qomariah adalah saat terlihatnya hilal dan IDL bukan wilayah yg pertama kali melihat hilal, maka penerapan IDL untuk kalender qomariah adalah menyalahi dalil syar’i.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Kalender yg disusun dg menggunakan IDL adalah bukan kakender qomariah, melainkan kalender syamsiah.
        Jadi seperti yg pernah saya sampaikan dalam blog ini, menyusun kalender berdasarkan IDL sama artinya dg membuat kalender syamsiah tandingan dan jika itu dilakukan juga maka agar berbeda dg kalender syamsiah yg berlaku sekarang seyogyanya tidak perlu dibagi dlm 12 bulan dari Januari s.d. Desember krn pembagian berdasarkan bulan2 tsb tidak sinkron dg jumlah putaran bulan dalam satu kali putaran bumi mengelilingi matahari. Sebaiknya kalender syamsiah tandingan tersebut hanya dibagi dalam tanggal saja yaitu dari tgl 1 s.d. 365 utk tahun2 normal dan dr tgl 1 s.d. 366 utk tahun kabisat.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb.

        Pak Bambang,

        Sebelumnya mari kita kembali ke konsep dasar terlebih dulu (sebagai kenyataan iptek dasar yg tak boleh kita ingkari) :
        - Bumi hanya terdiri dari dua belahan, malam & siang, tidak lebih
        - 1 Hari = 1 Tanggal
        - Sama Hari-nya = sama juga Tanggal-nya

        Justru IDL yang tetap, tidak berubah2 & tidak bergeser itu yang lebih logis dan syar’i pak. Dengan IDL yang tetap, Hari/Tanggal tidak akan berubah2 & tidak bergeser garis Start & Finish-nya. Mari kita bayangkan jika IDL menggunakan ILDL, tiap bulan kita akan mengalami pergeseran garis Start & Finish dalam memulai Hari/Tanggal. Wilayah yang tadinya seharusnya masih harus menjalani hari Jum’at, bulan depannya bisa saja tiba2 dipaksa untuk berhari Sabtu tanpa menjalani & menyelesaikan hari Jum’at. Lalu bagaimana dg sholat Jum’atnya?

        Baiklah, mungkin bpk termasuk yang fanatik dg metode rukyat hilal. Tapi tidak lantas juga memulai Hari/Tanggal itu dimulai dari daerah kenampakan hilal pertama kali pak. Memulai Hari/Tanggal itu ya tetap dari IDL. Dan sebenarnya IDL yg sekarang itu bukan milik kalender Masehi. IDL tersebut adalah milik kita pak. Milik Adam & anak2 Adam.

        Sedangkan waktu pergantian Hari/Tanggal yang tengah malam (jam 00:00), jelas ini tidak berdasar & tidak fitrah. Pergantian hari tetaplah berpatokan dengan matahari, bisa saat terbenam (magrib) spt yang kita yakini saat ini atau saat terbit (fajar).

        So, konsekuensi dari bumi yg bulat, memang harus ada IDL, dan yang sesuai dg fitrah alam & given sejak dulu adl IDL yang tetap. Ini logis dan tidak aneh pak. Justru yang aneh adalah jika IDL menggunakan ILDL, coz pergantian Hari/Tanggal menjadi kacau balau.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto, konsep dasar yg bapak sampaikan itu hanya berlaku sesaat saja yaitu pd waktu garis bujur 180 derajat (IDL) berada pd jam 00.00 sehingga seluruh permukaan bumi benar berada pada 1 hari dan 1 tanggal, satu siang satu malam.
        Namun pada saat berikutnya akibat rotasi bumi (perputaran bumi pd sumbunya), maka permukaan bumi akan terbagi menjadi 2 hari dan 2 tanggal, satu malam 2 tanggal serta satu siang 2 tanggal.
        Yang paling ekstrim adalah saat garis bujur 180 derajat (IDL) berada pd jam 12.00 siang hari, setengah permukaan bumi yg sedang berada pd saat siang dan malam akan berbeda hari dan tanggalnya dengan setengah permukaan bumi lainnya.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb.

        Pak Bambang,

        Itu karena bpk masih mengusung GMT bhw waktu pergantian hari adalah pada jam 00:00 di mulai dari Greenwich. Patokan dimulainya pergantian hari/tanggal adalah tetap saat fajar (atau magrib). Tentang pergantian hari/tanggal ditengah malam bukanlah patokan valid. Patokan Meridian Time di Greenwich adalah patokan yang sangat tidak berdasar. Sepertinya patokan ini dimunculkan hanya untuk kepentingan politik Inggris yg berambisi menjadi penguasa dunia dimasa itu. Kita pasti ingat dengan semboyannya; Gold, Glory & Gospel (kitab suci). Seharusnya, Meridian Time yang benar adalah tepat pada IDL. Pada IDL inilah jam 00:00 dimulai, yakni saat fajar (atau magrib).

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto,
        Saya memahami GMT adalah bahwa garis bujur 0 derajat ditetapkan melintasi Greenwich sehingga pergantian hari pada jam 00.00 “bukan” dimulai di Greenwich melainkan dimulai di garis bujur 180 derajat.
        Dan mengenai pengubahan saat pergantian hari dari tengah malam menjadi magrib, itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa selama 24 jam permukaan bumi ini akan berada pada 2 hari, 2 tanggal baik siang maupun malam harinya.
        Konsep dasar 1 hari 1 tanggal 1 siang 1 malam yg bapak sampaikan hanya berlaku saat IDL berada pd waktu magrib yaitu jam 00.00.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb

        Pak Bambang,

        “Itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa selama 24 jam permukaan bumi ini akan berada pada 2 hari, 2 tanggal baik siang maupun malam harinya.”

        Jika yang bpk maksud adl perbedaan hari/tanggal antara yg sebelah barat & sebelah timur IDL, ya kalau itu memang demikian adanya. Jika sebelah barat IDL sedang menjalani hari Jum’at, maka yang sebelah timur IDL sedang menyelesaikan hari Kamis yg sdg berjalan. Hal ini memang sudah konsekuensi dari bentuk bumi yang bulat.

        Tentu saja yg sdg kita bahas bukanlah hal tsb. Yang saya maksud adl bahwa bila hari-nya sama, maka tanggal-nya juga harus sama. Dengan IDL yang tetap kita bisa punya patokan memulai hari/tanggal dari satu garis sbg patokan awal, dibelakangnya tinggal mengikuti sesuai waktu2 lokal masing2.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto,
        IDL bisa menjadi patokan memulai hari/tanggal, namun IDL harus ditetapkan dg kesepakatan oleh manusia karena IDL itu bisa dimana saja. Garis bujur 0 derajat dan 180 derajat bisa diletakkan dimana saja, bisa melintasi Greenwich, Samudra Pasifik, Mekkah, Jakarta dsb. Oleh karena itu ILDL dapat berfungsi sebagai IDL.
        Disamping itu IDL ditetapkan tanpa memperhitungkan gerak dan posisi bulan, padahal semua lunar calendar termasuk kalender qomariah berpedoman pd gerak dan posisi bulan dimana tanggal satu setiap bulannya adalah saat terlihatnya bulan sabit paling tipis (hilal) dr permukaan bumi dan tanggal berikutnya adalah saat bulan sabit semakin menebal hingga purnama pd pertengahan bulah. Setelah purnama, bulan kembali menjadi sabit dg ketebalan yg semakin mengecil hingga akhir bulan yaitu saat bulan tua, bulan sabit akan menghilang memasuki saat bulan mati.
        Terlihatnya bulan sabit paling tipis sebagai tanda dimulainya awal bulan (bulan tanggal 1), adalah disebabkan oleh kombinasi gerak bulan mengelilingi bumi dimana 1 bulan sama dg satu putaran dan oleh rotasi bumi dimana 1 hari sama dg satu kali rotasi.
        Setiap bulan, bumi berrotasi “tidak genap” 30 kali, sehingga pada saat terlihatnya bulan tanggal 1 ada sebagian permukaan bumi yg baru berputar 29 kali.
        Oleh karena itu setiap bulan akan selalu ada wilayah dipermukaan bumi yg masih berada di hari ke 29 mendahului wilayah lain memasuki tanggal 1 bln berikutnya dan wilayah yg pertama kali memasuki tgl 1 tsb patut disebut ILDL.
        Jadi ILDL itu bukan karangan manusia melainkan merupakan kodrat alam atas kuasa ALLAH SWT.
        Karena IDL yg ditetapkan manusia mengabaikan gerak dan posisi bulan tsb, maka IDL tidak dapat dipakai sebagai perangkat kalender qomariah dan lunar calendar yg lain.
        Dan karena ILDL merupakan kodrat alam hasil kombinasi gerak matahari, bumi dan bulan yg juga bisa berfungsi sebagai IDL maka ILDL lebih lengkap dr IDL untuk dijadikan garis tanggal internasional.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb.

        Pak Bambang,

        Untuk lebih memperjelas pernyataan bpk, ”wilayah yg pertama kali memasuki tgl 1 tsb patut disebut ILDL.”

        Misalnya saja kita menentukan untuk bulan Muharram. Andai saja hilal terukyat pertama kali di wilayah Yogyakarta, artinya Yogyakarta adalah ILDL. Dengan demikian mulai dari Yogyakarta sudah terhitung Selasa, 1 Muharram hingga seterusnya ke barat. Sedangkan sebelah timur ILDL (Yogyakarta) adalah masih Senin, 30 Dzulhijjah? Apakah demikian pak?

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Parmanto,
        Betul sekali.
        Namun Indonesia mempunyai Ullil Amri yaitu Pemerintah yg kita beri wewenang untuk mengatur harmonisasi kehidupan masyarakat.
        Sama seperti Pemerintah mengatur wilayah waktu Indonesia menjadi WIB, WITeng dan WIT, maka untuk penerapan tgl 1 Muharram tsb Pemerintah menetapkan Indonesia menjadi satu wilayatul hukmi atau satu kesatuan wilayah hukum dimana jika salah satu daerah di Indonesia sudah berhasil merukyat hilal bln Muharram maka seluruh wilayah Indonesia akan bersama2 memasuki bulan Muharram pada saat itu.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb.

        Pak Bambang,

        Jika spt itu, lalu dimana letak konsistennya bhw ILDL adalah sebagai garis batas pergantian Hari/Tanggal di Bumi? Kenapa bisa digeser dalam jangkauan wilayatul hukmi? Sejauh manakah batasannya wilayatul hukmi tsb? Bagaimana dengan yang disebelah timur lagi dari Indonesia pak? Bukankah Hari/Tanggal & Bulan itu sifatnya internasional pak?

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto,
        Dalam menerapkan teori astronomi, Pemerintah selaku Ullil Amri mempertimbangkan harmonisasi kehidupan dalam satu negara, seperti pembagian wilayah waktu di Indonesia yg hanya dipisahkan menjadi 3 wilayah waktu dg beda waktu masing2 1 jam, padahal sejatinya setiap 1 derajat garis bujur berbeda waktu 4 menit.
        Oleh karena itu penetapan Indonesia menjadi satu wilayatul hukmi juga mempertimbangkan harmonisasi kehidupan dlm satu negara.
        Sedangkan mengenai batas wilayatul hukmi, karena dunia ini terbagi2 menjadi berbagai negara yg memiliki pemerintahan masing2, maka setiap negara adalah satu wilayatul hukmi.
        Dengan demikian dalam contoh kasus penetapan 1 Muharram yg bapak sampaikan, negara2 disebelah timur Indonesia saat itu belum memasuki 1 Muharram.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb.

        Pak Bambang,

        Dengan demikian apa yang bpk sampaikan itu sudah keluar dari konteks. Dari semula yang kita bahas adalah garis hari (tanggal) internasional pak. Kalau dibagi2 per-regional apalagi per-negara spt itu berarti tidak bisa dikatakan sebagai patokan international. Atau dengan kata lain, International Lunar Date Line tidak bisa dijadikan sebagai International Date Line. Kalau kita menggunakan ILDL sbg IDL maka akan sangat kacau, karena kita akan memulai & mengakhiri hari (tanggal) dg garis start & finish yg berbeda2 tiap bulannya.

        Mengenai pembagian waktu dalam satu hari (tanggal), idealnya memang mengikuti garis bujur masing2. Rasanya hal tsb mudah dibagi2nya jika kita sudah punya patokan awal dalam memulai hari (tanggal) yang baku/konsisten/tetap.

      • Kalau wilayah lebih timur Indonesia belum memasuki 1 Muharram, berarti kalendernya akan seperti ini pak:

        -Selasa, 1 Muharram
        Dimulai dari ujung timur Indonesia, hingga seterusnya ke barat hingga sampai…??? Nah finishnya nanti dimana nih pak, tetap di Yogya atau di ujung timur Indonesia.

        -Senin, 30 Dzulhijjah (sebelah timur Indonesia -karena IDL melar hingga batas negara-, adalah masih Senin, 30 Dzulhijjah)

        Padahal dalam keseharian sebelah timur Indonesia tsb juga sudah masuk Selasa pak. Mereka justru lebih dulu dalam memulai hari (tanggal) dibanding Indonesia. Apa kita paksa saja supaya mereka tetap masih Senin, 30 Dzulhijjah? hehe..

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto,
        IDL di bujur 180 derajat yg berlaku sekarang ini bukannya tanpa kekurangan. Meskipun sudah dipilih agar melintasi wilayah tanpa pemukiman, namun masih saja ada negara2 yg dilintasi (dibelah) IDL seperti Alaska dan beberapa negara di kepulauan Polynesia shg IDL hrs dibelok2kan ke selat Bearing dan ke batas negara2 di Polynesia.
        Jadi penetapan IDL sebagai garis tanggal internasional tidak dpt mengubah kenyataan bahwa ada negara2 yg harus memindahkannya ke batas negara agar menjadi satu wilayatul hukmi.
        Karena itu penetapan IDL tidak adil, sebab untuk kepentingan bersama ada negara2 yg dikorbankan menikmati keanehan IDL seumur hidup, padahal Allah SWT sudah sangat adil dg menggilir wilayah dipermukaan bumi ini untuk menjadi ILDL. Itulah bedanya ketetapan Allah SWT dg rekayasa manusia.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto,
        Kalau Selasa, 1 Muharram dimulai di batas timur Indonesia, maka secara berturut2 wilayah disebelah barat Indonesia akan mengikuti masuk hari Selasa, 1 Muharram, demikian seterusnya berputar hingga wilayah2 di sebelah timur Indonesia juga memasuki hari Selasa, 1 Muharram.
        Saat sampai kembali di batas timur Indonesia barulah hari berubah menjadi Rabu, 2 Muharram.
        Jadi tidak ada pemaksaan bagi wilayah disebelah timur Indonesia untuk merubah dr hari Senin, 30 Dzulhijah menjadi Selasa, 1 Muharram karena perubahan itu akan secara otomatis terjadi sesuai gilirannya akibat rotasi bumi, he he he.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb.

        Pak Bambang,

        Padahal dalam keseharian, sebelah timur Indonesia tsb justru lebih dulu dalam memulai hari (tanggal) dibanding Indonesia. hehe.

        Namanya kita hidup dalam ruang & waktu yg relatif, untuk menandai hari (tanggal) ya memang harus ada kesepakatan pak. Termasuk kesepakatan IDL, Meridian Time dll. Idealnya IDL itu memang di wilayah yg tidak padat penduduk, semisal samudra lepas & garis yg lurus. Tapi jika memang harus dibelokkan ya tidak apa2. Lha wong namanya aja kesepakatan. Kesepakatan yg ideal, tentu saja yg paling kecil resiko ‘huru-hara’ (kekacauan)-nya dan bersifat konsisten (tidak berubah2 dan tidak dirubah2 dikemudian hari).

        Jika ILDL dipaksakan untuk disepakati sbg IDL, konsekuensinya:
        - Garis hari (tanggal)-nya tidak konsisten, karena ILDL tidak tetap tiap bulannya.
        - Jika garis start & finish-nya berubah2 selalu bergeser tiap bulannya, maka akan menimbulkan ‘huru-hara’ (kekacauan) dalam hitungan hari yang selama ini sudah given & berlangsung sejak jaman Adam.
        - Jika garis patokan bisa digeser2 tiap bulannya kedalam wilayah regional atau negara, maka tidak bisa disebut sbg garis patokan internasional.

        Pak, mari kita alihkan diskasnya dalam group FB berikut; coz kalau di FB juga bisa diilustrasikan dlm gambar.

        https://www.facebook.com/groups/83563614041/permalink/10151893915339042/
        atau
        https://www.facebook.com/groups/83563614041/permalink/10151873460114042/
        atau
        https://www.facebook.com/groups/83563614041/10151932732224042/

      • Wa’alaikum salam wr. wb.

        Pak Bambang,

        Padahal dalam keseharian, sebelah timur Indonesia tsb justru lebih dulu dalam memulai hari (tanggal) dibanding Indonesia. hehe.

        Namanya kita hidup dalam ruang & waktu yg relatif, untuk menandai hari (tanggal) ya memang harus ada kesepakatan pak. Termasuk kesepakatan IDL, Meridian Time dll. Idealnya IDL itu memang di wilayah yg tidak padat penduduk, semisal samudra lepas & garis yg lurus. Tapi jika memang harus dibelokkan ya tidak apa2. Lha wong namanya aja kesepakatan. Kesepakatan yg ideal, tentu saja yg paling kecil resiko ‘huru-hara’ (kekacauan)-nya dan bersifat konsisten (tidak berubah2 dan tidak dirubah2 dikemudian hari).

        Jika ILDL dipaksakan untuk disepakati sbg IDL, konsekuensinya:
        - Garis hari (tanggal)-nya tidak konsisten, karena ILDL tidak tetap tiap bulannya.
        - Jika garis start & finish-nya berubah2 selalu bergeser tiap bulannya, maka akan menimbulkan ‘huru-hara’ (kekacauan) dalam hitungan hari yang selama ini sudah given & berlangsung sejak jaman Adam.
        - Jika garis patokan bisa digeser2 tiap bulannya kedalam wilayah regional atau negara, maka tidak bisa disebut sbg garis patokan internasional.

        Pak, mari kita alihkan diskasnya dalam group FB berikut; coz kalau di FB juga bisa diilustrasikan dlm gambar.
        https://www.facebook.com/groups/83563614041/permalink/10151893915339042/
        atau
        https://www.facebook.com/groups/83563614041/permalink/10151873460114042/
        atau
        https://www.facebook.com/groups/83563614041/10151932732224042/

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto,
        Dalam keseharian, wilayah sebelah timur Indonesia justru lebih dahulu memulai hari/tgl dr Indonesia, itu karena dlm keseharian sekarang kita masih menggunakan kesepakatan IDL di bujur 180 derajat sebagai garis tanggal interasional.
        Penggunaan ILDL sebagai garis tanggal internasional, menurut pemahaman saya itu merupakan fakta astronomi yg tidak perlu disembunyikan oleh para astronom. Para astronom harus jujur dan fakta tersebut harus disosialisakikan ke seluruh penduduk bumi sehingga kita semua benar2 memahaminya dan tidak ada lagi yg namanya “huru-hara” dan kekacauan.
        Jika fakta astronomi ILDL sudah dipahami, maka kita semua akan terbiasa menjalaninya.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Wa’alaikum salam wr. wb.

        Pak Bambang,

        Boleh saja pak kita bersikukuh bhw ILDL yang kita jadikan sbg garis patokan, dengan catatan harus konsisten sebagai garis patokan internasional, tidak digeser2 kedalam garis wilayah regional atau negara tiap bulannya. Jika tidak, ya tidak bisa dikatakan sebagai International Date Line.

        Hari demi hari yang kita jalani ini kan memang sudah given spt ini pak, apa jadinya jika bulan depan tiba2 kita dipaksa untuk berhari Sabtu, padahal kita seharusnya masih Jum’at, karena IDLnya begeser. Bagaimana sholat Jum’atnya pak?

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto,
        Jika mau membuat lunar calendar termasuk kalender komariah yg berpedoman pada kombinasi gerak matahari, bumi dan bulan dimana tanggal 1 setiap bulannya ditandai dg terlihatnya bulan sabit paling tipis (hilal) dr permukaan bumi, maka kita akan dihadapkan pada fakta astronomi bahwa selama tenggang waktu satu bulan dr sejak terlihatnya hilal pd suatu bulan hingga saat terlihatnya hilal bulan berikutnya, bumi berrotasi “tidak genap” 30 kali putaran, sehingga ada wilayah dipermukaan bumi yang baru berputar sebanyak 29 kali namun sudah harus memasuki bulan baru.
        Wilayah ini berada di sebelah timur ILDL bulan yg lalu dan wilayah yg pertama kali melihat hilal akan menjadi ILDL bulan berikutnya, yg berarti wilayah diantara ILDL bln lalu dg ILDL bln berikutnya akan mendahului wilayah ILDL bln lalu dan wilayah2 disebelah baratnya, memasuki tgl 1 bln berikutnya.
        Oleh karena itu wilayah yg memasuki tgl 1 bulan baru pd putaran ke 29 (hari ke 29) yaitu wilayah diantara ILDL bln lalu dg ILDL bln berikutnya, secara otomatis “meloncati” hari/tanggal ke 30.
        Fakta astronomi inilah yg harus disosialisasikan dg jujur dan jelas oleh para astronom agar penerapan lunar calendar termasuk kalender komariah tidak dianggap aneh. Semua yg tidak biasa dilakukan akan terasa cangung dan janggal pada mulanya, namun seiring dg berlalunya waktu maka kita semua akan terbiasa.
        Jika ternyata hari/tanggal yg terloncati adalah hari Jum’at, maka utk pekan bersangkutan tidak ada hari Jum’at sehingga tidak ada sholat Jum’at.
        Itulah fakta astronomi yg tidak boleh disembunyikan melainkan harus disosialisasikan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Akan tetapi, praktik spt yg bpk paparkan tsb blm pernah (dan tidak pernah ada) dalam peradaban orang2 terdahulu, termasuk jaman Nabi Muhammad & orang2 terkemudian. Dulu Nabi tidak pernah menjadikan wilayah kenampakan hilal juga sekaligus sbg Date Line atau batas di bumi dalam memulai hari (tanggal). Dari dulu hingga sekarang, batas hari (tanggal) tiap2 wilayah di bumi tidak pernah bergeser2 kemana2. Dari dulu, New York, Kairo, Mekah, Jakarta dll menjalani hari demi hari dg patokan tetap, tidak pernah locat atau terloncati. Konsep yg bpk sampaikan tsb sangat baru, tapi aneh pak.

        Apalagi jika sampai meniadakan hari yg sdg berjalan (yg misalnya hari Jum’at), karena terloncati, sehingga penduduk muslim di wilayah yg terloncati tsb sampai tidak perlu sholat Jum’at. Ah no comment saya pak kalau begini. (No comment yg pnuh tanda tanya lho…).Hehe.

        Pak, walaupun kita mendasarkan pada revolusi bulan dlm penyusunan kalender Hijrah, tapi bukan berarti harus mutlak posisi bulan pula sbg Date Line. Jika mutlak revolusi bulan yg dijadikan patokan, ya mestinya jumlah hari dlm satu bulan adl 27 hari (periode sideris), bukan 29 (periode sinodis).

        Dan dalam kita menjalani hari demi hari, tanggal demi tanggal ini, patokan kita tetaplah matahari & rotasi bumi, bukan bulan. Tanpa bulan dlm tatasurya, kita tetap akan bisa menjalani hari demi hari dan menghitung perjalanan hari. Cukup dg Date Line yg tetap sbg patokan, kita bisa menandai perjalanan hari demi hari dengan angka2 (tanggal). Lalu apa gunanya bulan? Bulan hanyalah sbg ‘petunjuk’ bhw angka2 (tanggal) tsb terbagi dlm 12 bulan, dan satu bulannya terdiri dari 29 atau 30 hari. Sekali lagi yg kita bicarakan adl hari pak, maka patokannya pun adl mata-hari (& rotasi bumi).

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Yth. Pak Purmanto,
        Dengan ditemukannya fakta astronomi mengenai kombinasi gerak matahari, bumi dan bulan spt yg saya uraikan maka lunar calendar termasuk kalender qomariah secara otomatis sudah terkonsep.
        Para astronom sudah sangat faham dg konsep lunar calendar tersebut namun untuk menerapkannya secara global mengalami banyak hambatan terutama dari “astronom2 tanggung” yg tidak berani menghadapi kenyataan fakta astronomi berkenaan ditambah lagi faktor penguasa yg tidak sepenuhnya mengerti astronomi namun turut berperan dalam proses penyusunan kalender.
        Akibatnya konsep lunar calendar tsb hingga kini belum pernah diterapkan dan melalui tangan besi penguasa penduduk bumi ini terbirit2 menghindari fakta astronomi berkenaan dan lebih memilih menggunakan solar calendar untuk kalendar global krn dipandang lebih praktis dan lebih mudah dikutak-katik utk dibuat kesepakatan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

  15. Tambah puyeng bapak2 profesor yg terhormat krn saya ini orang awam. Saya taunya hadits kalo liat hilal puasalah dst… Tapi saya g tau cara liat bulan itu gimana. Kok ada ketentuan diatas 0 atau 2 derajad kenapa mesti begitu? Apakah ada aturan itu? Mengapa aturannya begitu? Kalo tanpa derajad2 itu hilal nampak or not gitu apa tidak bisa ditentukan? Kalo emang 2 derajad pun tak bisa liat hilal secara nyata tentunya dalam setahun ini kan cuaca tak selamanya mendung ada kalanya teramati nah hilal benar2 nyata terlihat itu seringnya berapa derajad,saya sendiri bingung dimana bisa mengikuti berita up date pengamatan yg continu everyday secara saya orang awam sekali. Kalo soal waktu maghrib sepakat pak prof,memang pergantian hari dalm islam kan maghrib ya seperti yg telah dijelaskan alias given knowledge. Kalo nalar saya sebagai orang awam,maaf kalo keliru namanya awam kok prof g makan bangku ilmu falak astronomi,tentunya matahari tenggelam pada penghujung hari lalu diamati terlihat hilal jadi tanggal baru ya? Misalnya pengamatan dengan perbagai alat canggih,teropong super dll apa memang susah dilihat langsung tho prof? Kok tiap tahun selalu berdebat beda waktu.

    • Kalau merasa awam, mari kita belajar agar tahu masalahnya. Sumber perbedaan hanya karena beda kriteria.
      Kalau merasa tak perlu belajar, maka jangan terus bingung, ikuti saja keputusan Pemerintah.

      • Salam, Pak Thomas, saya percaya pada prinsip imkan al-ru’yat, tetapi ada perbedaan pada penetapan batas imkan al-ru’yat. Apakah Pak Thomas membenarkan dan menganggap sahih kriteria yang digunakan Pemerintah dan atau NU yang hanya 2 derajat? ataukah sebetulnya yang lebih sahih adalah keriteria Odeh (Muhamad Audah) yang 6 derajat? Dan apakah pernah (secara pasti) bahwa di Indonesia pernah terlihat bulan berdasarkan kriteria Depag? Mohon jawaban yang apa adanya? Syukran.

      • Kriteria itu berdasarkan kesepakatan, bukan pendapat pribadi, karena implementasinya untuk publik.
        Data kesaksian rukyat 16 September 1974 menyatakan ketinggian hilal 2 derajat dan umurnya 8 jam. Itu salah satu yang dijadikan dasaar kesepakatan.

  16. Prof. yang dihormati, sudah saatnya prof ini diangkat mnjadi menteri agama, agar tujuan saudara prof itu benar-benar tercapai..

  17. Sebenarnya saya lebih setuju kepada rukyat, tapi kenapa setiap negara harus melihat hilal yang berakibat terjadi perbedaan tanggal pada bula hijriyah di seluruh dunia. kenapa tidak ditetapkan satu tempat melihat hilal misalnya di Greenwich atau di Mekah pasti semua tanggal akan sama harinya di seluruh dunia. Jaman nabi tidak penah terjadi perbedaan.

    • Merukyat di banyak tempat saja sulit, apalagi hanya di satu tempat. Masalah utama rukyat adalah ketidakpastian cuacanya, termasuk ketidakpastian kecerlangan cahaya senja yang mengganggu ketampakan hilal. Pada zaman Nabi tidakj terjadi perbedaan karena wilayahnya sempit, hanya sekitar Madinah. Ketika wilayah Islam makin meluas, antara Syiria (dulu Syam) dan Madinah pun terjadi perbedaan. Saat ini sumber perbedaan adalah belum adanya kriteria baku yang berlaku bersama, baik rukyat maupun hisab. Secara astronomi itu mudah dipersatukan, hanya masalah mau atau tidak, dengan menghilangkan ego masing-masing.

  18. Bpk/ibu/mas/mba semua, gabung/diskas juga di grup berikut yukk; https://www.facebook.com/groups/dewanhijriahglobal/

  19. Assalamu’alaikum wr.wb. pak tomas djamaluddin! saya tidak sependapat mencari kesepakatan dalam kesesatan, sebab landasan hisab dan rukiyat ada hadist nya di dalam Kitab Insanul Uyun Juz III Karangan Syekh Nuruddin. mari kita cerna hadist tsb dengan ilmu teknologi astronomi,agar perbedaan pendapat selama ini surut kembali ke sunnah rasullulah saw, hasil cernaan saya silahkan baca di rotasibulanblogspot.com, terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 192 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: