Pandangan Muhammadiyah: (1) Terbuka Pada Hisab Imkan Rukyat


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Sang Pencerah

Kritik saya atas wujudul hilal (WH) usang yang digunakan Muhammadiyah adalah kritik ilmiah, artinya didasarkan pada data dan logika ilmiah astronomis dan logika fikih terkait dalil untuk pelaksanaan ibadah. Bantahannya mestinya bantahan ilmiah juga. Ahli fikih Muhammadiyah perlu menunjukkan dalil WH, karena waktu ibadah harus berdalil, tidak boleh sembarang. Ahli hisab Muhammadiyah juga perlu menunjukkan logika astronom bila ingin membela WH. Tetapi kalau tak ada dalil dan tak ada logika astronomis, mari kita tinggalkan WH dan mari bersama-sama ormas Islam lainnya menggunakan kriteria Imkan Rukyat (IR, yang perlu terus disempurnakan) agar PERSATUAN UMMAT dapat terjaga. Kriteria IR adalah titik temu metode rukyat dan hisab, yang tidak menafikkan salah satunya. Persatuan ummat bukan dibangun dengan basa-basi, dengan membiarkan WH terus bikin masalah terjadinya perbedaan awal Ramadhan dan hari raya. Persatuan Ummat harus dibangun dengan kesepakatan. Kalau perbedaan bisa diselesaikan dengan kesepakatan kriteria, mengapa perbedaan harus dipelihara?

Sayangnya, tanggapan pakar falak Muhammadiyah sama sekali tidak saya peroleh. Browsing di internet pun TIDAK ADA satu pun yang mendukung WH dari aspek dalil dan logika astronomisnya. Tanggapan di facebook pun tidak ada yang mampu menjawab soal dalil WH dari QS 36:40 dan logika ilmiahnya, malah yang muncul justru tawaran pengganti wujudul hilal. Syukurlah ada situs “Sang Pencerah” yang menyuarakan pandangan Muhammadiyah yang dapat saya gunakan untuk “membaca” pemahaman kader Muhammadiyah tentang hisab rukyat. Di dalamnya ada dua kelompok tulisan terkait falak dan penentuan awal bulan: (1) tulisan umum yang kandungannya mengarah pada penggunaan hisab imkan rukyat atau setidaknya membuka peluang untuk menggunakannya dan (2) tulisan yang berupaya membela wujudul hilal, namun logikanya aneh dari sudut pandang astronomi (ilmu yang berkait langung masalah kalender), termasuk yang akhirnya malah menawarkan penggantian wujudul hilal. Tulisan yang ada di situs “Sang Pencerah” (yang berhasil saya peroleh) bukanlah karya pakar falak Muhammadiyah. Sedangkan pakar falak Muhammadiyah dalam ranah ilmiah sebenarnya terbuka pada hisab imkan rukyat.

1. Terbuka Pada Hisab Imkan Rukyat

Penentuan Awal Bulan Qomariyah Menurut Perspektif Muhammadiyah

Pada tulisan itu, Wahyudi Abdurrahim, Lc. (Ketua PCIM Mesir 2008-2010), menuliskan:

Dalam Himpunan Putusan Tarjih disebutkan ragam cara penetapan awal bulan kamariah:

1.      Rukyatul hilal.

2.      Persaksian rukyatul hilal dari seorang yang adil.

3.      Menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari.

4.      Dengan perhitungan hisab.

Rukyatul hilal digunakan apabila posisi hilal memiliki kemungkinan untuk di observasi. Hingga kini, kemungkinan (visibilitas) hilal dapat di observasi belum didefinisikan secara pasti. Danjon misalnya, setelah melakukan penelitian berulang-ulang tentang hilal, menyatakan bahwa bulan sabit yang posisinya mendekati matahari tidak dapat terlihat apabila jarak sudutnya kurang dari 8 derajat. Ketentuan ini rupanya oleh Diezer diperkuat dengan hasil penelitiannya di Candilly Obeservatory, bahwa sebagai syarat agar hilal dapat teramati  pada saat matahari terbenam harus mempunyai jarak sudut 8 derajat, dan bulan pada saat itu minimal berada pada ketinggian 5 derajat.

Tatkala matahari terbenam, hilal berada pada jarak sudut 8 derajat dengan matahari dan memiliki ketinggian 5 derajat, lantas ada berita bahwa seseorang telah melihat hilal, atau ada orang yang adil yang menyaksikan kebenarannya, maka kaum muslimin akan menerima hasil rukyat itu termasuk Muhammadiyah. Itulah sebabnya dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) disebutkan:

 

[الصَّوْمُ وَالفِطْرُ بِالرُّؤْيَةِ]

berpuasa dan beridul fitri dengan rukyat

Keputusan itu hendaknya ditafsirkan pada saat kondisi hilal berada pada batas imkanur rukyat, sehingga hilal dapat dilihat. Dalam kondisi serupa ini, Muhammadiyah akan memulai puasanya dengan rukyat. Kemudian apabila hilal tidak mungkin dilihat karena posisinya di bawah ufuk, Muhammadiyah menerima istikmalsebagai jalan keluar dalam menghadapi kesulitan dalam penetapan hukum. Akan tetapi, bila hilal tidak mungkin dilihat karena tertutup awan, atau posisinya tidak berada pada imkanur rukyat, maka jalan yang ditempuh adalah menggunakan hisab. Itulah sebabnya dalam HPT disebutkan:

 

[وَ لاَ مَانِعَ بِالحِسَابِ]

dan tidak ada halangan dengan (menggunakan) hisab

Jika ada pertanyaan, mengapa Muhammadiyah menggunakan hisab astronomi? Jawabannya adalah karena Muhammadiyah menganggap melihat hilal bukan suatu ibadah (ta’abbudî), namun hanya sarana (wasîlah)yang dapat digunakan dengan mudah untuk mengetahui awal bulan kamariah. Muhammadiyah mendefinisikan hisab sebagai perhitungan astronomis tentang posisi hilal. Namun, hisab tidak mungkin membuat keputusan tanpa adanya kriteria yang disebut hilal. Tidak ditemukan satupun dalil dalam hadis atau dalam al-Qur’an yang menyebutkan secara tegas apa itu hilal yang bisa diterjemahkan secara kuantitatif dalam kriteria hisab. Pendekatan yang dilakukan Muhammadiyah adalah dengan pendekatan astronomi, bahwa hilal adalah penampakan bulan yang paling kecil yang menghadap bumi beberapa saat setelah terjadi ijtimak. Inilah yang kemudian menjadi kriteria hisab bahwa awal bulan baru ditandai dengan wujudnya hilal. Tandanya adalah apabila matahari terbenam lebih dahulu dari bulan.

Muhammadiyah-pun mengalami perkembangan dalam menetapkan sistem hisab yang digunakannya. Mula-mula Muhammadiyah menggunakan sistem ijtimak qablal gurub. Sekitar tahun 60-an, Muhammadiyah beralih kepada sistem wujudul hilal, meskipun kemungkinan pada mulanya tidak diterapkan sepenuhnya untuk menetapkan seluruh bulan-bulan kamariah, melainkan untuk bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah saja. Namun saat ini teori wujudul hilal itu digunakan untuk keseluruhan bulan kamariah.

Ufuk yang dijadikan patokan untuk menentukan wujud atau tidaknya hilal adalah ufuk hakiki. Hal ini sangat tegas dinyatakan oleh Ir. H. Basith Wahid, bahwa sejak tahun 1969 yang dipilih adalah sistem wujudul hilal, yang diperhitungkan adalah saat terjadinya ijtimak plus posisi bulan terhadap ufuk hakiki pada saat matahari terbenam. Kecenderungan Muhammadiyah ke arah penggunaan sistem hisab wujudul hilal sudah tampak sejak Majelis Tarjih mengambil keputusan tentang masalah hisab dan rukyat pada tahun 1932. Istilah yang digunakan dalam keputusan itu adalah ‘wujudul hilal’. Dalam aplikasinya, Muhammadiyah menerapkan konsep wilayatul hukmi, yaitu ketika hilal sudah wujud di sebagian wilayah Indonesia, maka bagian wilayah lainnya yang belum wujud mengikuti wilayah yang sudah positif (wujud).

Konsep wilayatul hukmi ini memiliki kelemahan. Jika kita kita simak hadis Kuraib, Ibn Abbas dalam prakteknya lebih menggunakan sistem matlak lokal, bukan wilayatul hukmi. Persoalan lain, misalnya wujudul hilal hanya melewati sebagian wilayah Indonesia, apakah daerah yang belum wujud ‘dipaksakan’ mengikuti wilayah yang sudah wujud? Konsep wilayatul hukmi ini juga akan menemui masalah ketika diterapkan di negara lain yang mempunyai teritorial luas, seperti Rusia.

Tulisan itu menyebutkan bahwa hisab imkan rukyat digunakan dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Tidak dijelaskan dalil dan alasan untuk wujudul hilal (WH), hanya sebatas penjelasan bahwa sebelum WH, Muhammadiyah menggunakan kriteria Ijtimak Qobla Ghurub (IQG). Tetapi sepanjang yang saya telusuri, IQG dan WH digunakan sebagai penyederhanaan imkan rukyat (IR) ketika hisab masih dianggap rumit. Penggunaan dalil QS 36:40 baru muncul belakangan, sebagai pembenaran, tetapi tidak mempunyai logika astronomis yang memadai.

Ilmu Falak dan Peranannya dalam Islam

Forum Kajian AFDA (Astronomy & Falak Deep Analysis), Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Mesir, menuliskan:

Penetapan awal bulan kamariah dalam Islam dimulai dengan munculnya hilal, yaitu bulan sabit yang pertama kali terlihat yang terus membesar menjadi bulan purnama, menipis kembali dan akhirnya menghilang dari langit sebagaimana diisyaratkan QS. Al-Baqarah [02] ayat 189 diatas. Belakangan, penentuan awal bulan dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan (hisab) astronomi. Satu tahun kamariah adalah jangka waktu yang dibutuhkan bulan mengelilingi bumi selama 12 kali putaran dengan rata-rata satu tahun lamanya 354 11/30 hari. Berbeda dengan tahun matahari, yaitu jangka waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk mengelilingi matahari (berevolusi) dengan rata-rata satu tahun lamanya 365 1/4 hari.[14] Ilmu astronomi modern sudah sangat akurat memperhitungkan dan memperkirakan terlihatnya hilal dengan sangat teliti, tingkat ketelitian ini sudah lebih dari cukup untuk keperluan teknis penentuan awal-awal bulan kamariah. Namun dalam penentuan awal bulan Ramadan – Syawal dan Zulhijah persoalan tidak sederhana, hadis Nabi Saw. menyatakan awal dan akhir Ramadan ditetapkan melalui pengamatan hilal (rukyat).

Sebuah hadis Nabi Saw menyatakan “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbuka (berhari-raya)-lah karena melihat hilal, dan jika hilal tertutup oleh awan, lakukanlah pengkadaran” (HR. Bukhari-Muslim). Nabi Saw menegaskan lagi “Kita adalah umat yang ‘ummî‘, tidak menulis dan tidak menghitung, bulan itu ada kalanya 30 hari dan adakalanya 29 hari” (HR. Bukhri-Muslim)[15]. Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis Nabi Saw diatas bermakna bahwa dalam memulai dan mengakhiri puasa & hari raya hanya dengan melakukan pengamatan bulan sabit saja, yaitu terlihatnya hilal di awal Ramadan dan Syawal sesuai dengan keumuman dan keliteralan hadis. Dengan kriteria jika hilal terlihat pada saat terbenam matahari tanggal 29 Syakban maka esok harinya adalah awal puasa, demikian pula jika hilal terlihat pada tanggal 29 Ramadan maka esok harinya adalah hari raya dan rukyatul hilal mutlak dilakukan. Namun jika terdapat penghalang yang menutupi hilal – seperti mendung – maka pelaksanaan puasa dan atau hari raya harus ditunda sehari dengan menggenapkan (istikmâl) bilangan bulan Syakban dan atau Ramadan menjadi 30 hari. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nabi Saw yang menyatakan bahwa umur bulan itu adakalanya 30 hari dan adakalanya pula 29 hari. Ibnu Rusyd (w. 595 H) dalam “Bidâyatu’l Mujtahid”nya mewakili jumhur dalam hal ini.[16]

Betapa demikian, tidak sedikit ulama dan ilmuan yang memberi ruang yang luas terhadap ilmu hisab astronomi dalam sumbangsihnya terhadap penetapan waktu-waktu ibadah di kalangan umat Islam, dengan alasan bahwa pada dasarnya penetapan waktu-waktu ibadah tersebut terkait erat dengan fenomena astronomi yang pada dasarnya dapat teratasi dengan kemajuan dan kemapanan teknologi. Berdasarkan penelitian intensif yang dilakukan oleh para pakar hisab-falak terdapat beberapa kelemahan dan kesulitan dalam rukyat, antara lain jauhnya jarak hilal, kehadiran hilal yang sangat singkat, kondisi sore hari yang terkadang tidak bersahabat seperti banyaknya awan, asap kenderaaan dan pabrik, dan lain-lain. Dan tak kalah pentingnya adanya faktor psikis (kejiwaan) dalam melihat hilal.[17]

Imam Taqî ad-Dîn as-Subkî (w. 756 H) dalam “Al-Fatâwâ”nya, Ibnu Suraij dan Ibnu Daqiq al-’Id  yang dikutip Ahmad Muhammad Syakir dalam risalah kecilnya (Awâ’il al-Syuhûr al-‘Arabiyah Hal Yajûzu Syar’an Itsbâtuhâbi’l Hisâb al-Falakî), Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manâr-nya, Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqh al-Shiyâm-nya, Dr. Ali Jum’ah dalam fatwa kemasyarakatannya (Al-Bayân Li mâ Yasyghalu’l Adzhân), dan Tanthawi Jauhari dalam Tafsir Al-Jawâhir-nya adalah sederetan ulama klasik dan kontemporer yang memberi ruang luas atau setidak-tidaknya mentolerir terhadap kemajuan teknologi (hisab-falak) dalam memulai dan mengakhiri puasa-hari raya.[18]

Taqî ad-Dîn as-Subkî misalnya, menyatakan bahwa beberapa ulama besar telah mewajibkan atau setidak-tidaknya membolehkan berpuasa berdasarkan hasil hisab yang menyatakan hilal telah mencapai ketinggian yang memungkinkan untuk terlihat (imkânu al-ru’yah). Menurutnya, pendapat ini yang disebut sebagai wajh memandang imkan rukyat sebagai sebab wajibnya puasa dan hari raya, namun berbeda dengan wajh ashahyang tetap mengaitkannya dengan perintah rukyat (nafs al-ru’yah) atau ikmâl al-‘iddah (penggenapan bilangan). Selanjutnya as-Subki mengemukakan, bila pada suatu kasus ada orang yang menginformasikan atau menyaksikan bahwa hilal telah terlihat padahal hisab akurat (qath’i) menyatakan bahwa hilal tidak mungkin terlihat, misalnya karena posisinya yang terlalu dekat dengan matahari, maka informasi tersebut harus dianggap keliru dan kesaksian tersebut harus ditolak. Hal ini beliau kemukakan mengingat nilai khabar(informasi) dan kesaksian bersifat dugaan (zhân), sedang hisab bersifat pasti (qath’i). Telah dimaklumi bahwa sesuatu yang qath’i tidak dapat didahului atau dipertentangkan dengan sesuatu yang zhân.[19]

Ahmad Muhammad Syakir, dalam karyanya juga secara cermat menerangkan kronologi pembolehan hisab. Kesimpulannya; telah dimaklumi bahwa pada mulanya bangsa Arab sebelum dan di awal berkembangnya Islam tidak mengerti ilmu falak dengan pemahaman secara komprehensif (ma’rifatan ‘ilmiyyatan jâzimatan)sebab mereka adalah umat yang ‘ummî‘, tidak menulis dan tidak menghitung. Karena itu Rasul Saw menjadikan sarana termudah dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal yang dapat dilakukan oleh semua bangsa Arab ketika itu, yaitu rukyatul hilal. Ini adalah sarana terbaik dan efektif dalam aktifitas ibadah mereka untuk menghasilkan rasa yakin dan percaya dalam batas kesanggupan mereka. Sesungguhnya pula, Allah Swt tidak membebani hamba-Nya lebih dari kesanggupannya. Akan tetapi seiring tumbuh dan berkembangnya Islam dengan terjadinya berbagai kemenangan (futûhât), diiringi dengan kemajuan yang pesat ilmu pengetahuan di semua disiplin, tanpa terkecuali ilmu hisab-falak (astronomi). Sementara itu sebagaimana disinggung diatas, tidak banyak fukaha dan muhadditsîn yang memahami ilmu ini secara komperehensif. Sementara mereka yang percaya dan mengerti pun, tidak mampu mengelaborasi ilmu ini dengan tuntutan fikih. Lantas beliau (baca: Ahmad Muhammad Syakir) memberi hujah dengan argumen yang dikemukakan oleh Taqî ad-Dîn as-Subkî dalam Fatâwâ-nya.[20]

Tulisan ini memberikan wawasan luas tentang makna hisab yang semestinya terkait dengan kemungkinan rukyat. Hal ini menunjukkan bahwa WH bukanlah pendapat seluruh warga Muhammadiyah. Banyak warga Muhammadiyah yang sependapat dengan pendapat pakar falaknya. Distorsi informasi seolah hisab hanyalah WH menjadikan banyak warga Muhammadiyah bertaqlid buta pada WH, padahal hisab dimungkinkan juga imkan rukyat (IR).

2. Logika Aneh Pendukung Wujudul Hilal

Penentuan Awal Bulan Qomariyah Menurut Perspektif Muhammadiyah – See more at: http://www.sangpencerah.com/2013/06/penentuan-awal-bulan-qomariyah-menurut.html#sthash.RR0E7cuW.dpuf

18 Tanggapan

  1. menarik. dan memamg ternyata muhammadiyah adalah organisasi besar. mereka walau beda pemahaman tetp adem tidak menjustifikasi ini usang ini bagus.
    hadis kuraib, itu ada ulama yg memahami sbg ijtihad sahabat bukan semua sahabat dn bahkan nabi.
    tentang leqot’ian ilmu hisab,maka banuak pendapat hal itu tidak qoti tetapi mendekati qoti. maka ada pendapat selanjutnya,jika ada persaksian rukyat tetapi secara ilmu astronomi tak sesui,maka wajib menerima kesaksian itu dahulu.

  2. Ass wr wb.

    Dalil Syar’i berkenaan dengan penentuan awal bulan hijriyah yang saya baca adalah sbb :

    1. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.653 :
    Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah ketika menyebut Ramadan bersabda : Jangan puasa sehingga kalian melihat hilal (bulan sabit) dan jangan berhari raya sehingga melihat hilal, maka jika tertutup awan, maka perkirakanlah.

    2. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.654 :
    Ibnu Umar r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Bulan itu begini, begini dan begini (sambil menunjukkan jari-jarinya sepuluh, sepuluhj dan sembilan) kemudian bersabda : Dan begini, begini dan begini (sepuluh, sepuluh dan sepuluh), yakni Ada kalanya dua puluh sembilan dan ada kalanya tiga puluh hari.

    3. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.655 :
    Ibnu Umar r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Kami umat yang ummi tidak dapat menulis dan menghitung (menghisab), bulan itu begini dan begini, yakni ada kalanya dua puluh sembilan dan ada kalanya tiga puluh>

    4. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.656 :
    Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berhari rayalah kalian karena melihat hilal, maka jika tersembunyi daripadamu maka cukupkan bilangan Syakban tiga puluh hari

    HR Bukhari,Muslim no.653 mengisyaratkan bahwa dg metode apapun semua “hisab” penentuan awal bulan hijriyah baru dinyatakan valid setelah dilaksanakan rukyatul hilal. Bila hasil hisab tidak sesuai dg rukyatul hilal maka awal bulan hijriyah yang dipakai adalah yang berdasarkan rukyatul hilal.
    Dikecualikan dari ketentuan diatas adalah apabila “tertutup awan”, maka awal bulan hijriyah yg dipakai adalah yg berdasarkan hisab.

    HR Bukhiari,Muslim no.656 mengisyaratkan adanya ILDL yaitu apabila “tersembunyi darimu” maka cukupkan bilangan Syakban tiga puluh hari. Ini berarti jika seluruh Indonesia mulai dari Merauke sampai dengan Sabang pada hari ke 29 bulan Syakban saat magrib tidak mungkin dapat melihat hilal maka Indonesia harus menggenapkan jumlah hari bulan Syakban menjadi 30 sehingga awal bulan Ramadan jatuh pada esok hari saat magrib, sholat tarawih malam harinya dan mulai puasa dini hari berikutnya.
    Karena pd hari ke 29 saat magrib bulan Syakban Indonesia tidak dapat melihat hilal, maka wilayah yang akan melihat hilal pertama kali saat magrib (wilayah ILDL) adalah wilayah disebelah barat Indonesia. Wilayah2 disebelah barat Indonesia yang masih berada pada hari ke 29 bulan Syakban, secara berurutan pada saat magrib di wilayah masing2 akan mendapati posisi bulan yang semakin tinggi, lebih tinggi dr posisi bulan yg terlihat di Indonesia saat magrib. Ini disebabkan karena gerak bulan mengelilingi bumi kearah timur dg kecepatan hampir 12 derajat sehari semalam.
    Pada saat ada satu wilayah yg ketika melakukan rukyatul hilal pada hari ke 29 saat magrib di bulan Syakban mendapati adanya hilal (cahaya berbentuk sabit tipis di tepi bundaran bulan) maka wilayah tersebut dinamakan ILDL yang akan menjadi wilayah yg pertama kali memasuki awal bulan Ramadan pada akhir bulan Syakban yaitu dihari ke 29 saat magrib.
    Dengan demikian wilayah2 disebelah barat ILDL akan melewati bulan Syakban selama 29 hari karena dipastikan akan melihat hilal pada saat rukyatul hilal di hari ke 29 bulan Syakban saat magrib. Sedangkan wilayah disebelah timur ILDL termasuk Indonesia harus melewati bulan Syakban selama 30 hr karena pada saat rukyatul hilal di hr ke 29 bulan Syakban saat magrib tidak melihat hilal sehingga harus menggenapkan bilangan Syakban menjadi 30 hr.

    Wass wr wb.

  3. Assl. Hisab dan rukyat itu merupakan persoalan perkembangan teknologi, misalnya saja teknologi perang: jika Nabi perang dengan menggunakan panah dan pedang, maka bukan berarti tentara yang sedang berperang di zaman sekarang ini juga harus memakai senjata itu. Sudahlah kita realistis saja, yang bisa menyatukan kalender ummat Islam itu hanya dengan hisab. Jika rukyat dilibatkan, maka buang-buang waktu. Sudahlah diilmiahkan kaya apa, tumpuannya tetap pada hisab. Kok repot-repot keluar dana, tenaga, hanya untuk sesuatu yang tak perlu. Sekarang ini ummat Islam sudah menyebar di seluruh dunia, bukan hanya sekedar Arab Mekkah saja. Sudahlah realistis saja, pendapat-pendapat yang mengakibatkan rumitnya persoalan, tidak perlu dipertahankan. Tidak perlu egois, dan tidak perlu gengsi-gengsi untuk mengikuti hisab. Kita ini beribadah kan karena Allah, bukan mempertahankan jaga gengsi.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    • Ass wr wb.
      Membuat kalender memang harus dg hisab yaitu perkiraan ilmiah yg dilakukan dengan satu metode tertentu.
      Yang jadi pertanyaan adalah apa obyek dari hisab berkenaan.
      Karena dalil syar’i menegaskan bahwa awal bulan adalah saat penampakan hilal, maka obyek hisab penyusunan kalender adalah penampakan hilal.
      Dengan demikian dalam menentukan awal bulan qomariah, maka yg dihisab (dihitung, diperkirakan) adalah kapan waktu terjadinya penampakan hilal.
      Jika obyek hisab penentuan awal bulan qomariah bukan penampakan hilal maka dapat dikatakan bahwa metodenya tidak mengikuti dalil syar’i secara utuh.
      Hasil dr pd hisab penampakan hilal tsb masih merupakan perkiraan ilmiah yg harus dibuktikan kebenarannya melalui rukyatul hilal.
      Jika hasil hisab selalu sesuai dg hasil rukyat, maka dapat dikatakan bahwa metode hisabnya akurat, namun jika hasil hisab sering tidak sesuai dg hasil rukyat, maka met8de hisabnya harus dibenahi agar hasil hisab selanjutnya selalu sesuai dg hasil rukyat.
      Wass wr wb.

  4. Assalamu’alaikum
    Sdr. Sholih Su’aidy
    Hisab dan Rukyat secara hukum benar karena ada dasar hukumnya (Al-Qur’an dan Hadist), yang salah itu adalah sitem IR karena tidak ada dalilnya. IR seolah2 seperti perpaduan antara Hisab dan Rukyat padahal bukan. Karena dalam metode IR mengagung2kan teknologi. Menurut metode IR posisi hilal dibawah 2 derajat itu mutlak tidak akan dapat dilihat, jadi seandainya ada pengamat hilal yang mengaku melihat hilal maka tidak akan diakui dan dianggap belum masuk tanggal baru. Padahal bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin kalau Dia berkehendak maka semuanya serba mungkin. Sekarang kita tunggu saja alat yang bisa melihat hilal walaupun posisinya masih 0 derajat, saya punya keyakinan alat tsb tidak lama lagi akan ada.
    Wassalam

    • Dalil IR sama dengan dalil rukyat. Kriteria IR hanyalah parameterisasi dari rukyat. Hal yang sama, dalil jadwal shalat adalah dalil tentang waktu-waktu shalat. Untuk dihisab, kriteria waktu shalat itu dinyatakan dalam ketinggian matahari sekian derajat. Kriteria IR bukan hanya 2 derajat, itu hanya kriteria kesepakatan sementara.

  5. Assalamu’alaikum
    bgm komentar prof thd ditolaknya kesaksian pengamat hilal dicakung yg mengaku melihat hilal awal ramadhan tahun 2011 ???
    Wassalamu’alaikum

  6. Mengapa Muhammadiyah Menggunakan Metode HisabDikirim oleh aan | Pada 8 July,2013 | Dalam Dunia Islam
    pedoman-hisab-muhammadiyahSalah satu moment saat Muhammadiyah ‘naik’ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab terkenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Ramadhan dan 1 Syawal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini.

    Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits yaitu “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (Idul Fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tigapuluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim).
    Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan yang diringkaskan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431.H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY.

    Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.

    Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

    Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az Zarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

    Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

    Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat. Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

    Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

    Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau

    Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian system waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita menggunakan hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan:“Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”. (fimadani)

    • Yang bermasalah bukan hisabnya, tetapi kriteria hisabnya. Hisab bisa dengan wujudul hilal, bisa pula dengan imkan rukyat. Nah, imkan rukyat bisa mewadahi pengamal hisab dan pengamal rukyat secara setara.

  7. saya yakin suatu saat umat islam seluruh dunia pakai hisab dengan kriteria yg sama . rukyat akan jadi sejarah ,seperti waktu sholat yg tidak lagi melihat posisi matahari . sdh terlihat tandanya , satu persatu umat islam di luar indonesia pakai kalender tetap (hisab) . tlg prof pikirkan hisab yg dpt mewadahi persatuan umat islam dunia . bkn muhamadiyah dan nahdatul ulama .

  8. Konjungsi sebelum isyak atau Ijtimak Qablal Isyak (IQI) bisa dipakai untuk penyatuan kalender hijriyah international

    Alasannya sederhana,

    Tujuan utama Rasululullah merukyat setelah shalat magrib untuk memastikan sudah terjadi ijtimak sebelum isyak

    • Tidak ada dalil syar’i dan tidak ada alasan astronomis untuk konjungsi sebelum isya. Konjungsi pasca maghrib, walau sebelum isya, jelas-jelas tertolak.

      • tidak akan pernah ada dalil syar’i tentang ijtimak karena semua referensi dari dalil dibuat ketika ijtimak belum dikenal. mengaitkan atau membantah kesimpulan bahwa tujuan Rasulullah adalah untuk memastikan telah terjadi ijtimak dengan dalil syar’i yang “lama” adalah sia-sia….

  9. penggunaan CCD sama saja bunuh diri bagi IR karena kreteria yang yang sudah ditentukan menjadi tidak relevan lagi.
    kemampuan CCD sangat tergantung dengan ukuran sensor dan kualitas optik sehingga tidak ada batasan bagi CCD untuk merukyat

  10. assalamualaikum wr wb
    menyimak paparan di atas tampak lah tidak sempurnanya penghayatan ilmu teknologi sehingga merubah sisi pandang umat islam dalam hal menentukan awal dan akhir pengamalan puasa ramadan.
    sudah jelas kata kuncinya tampaknya hilal, tentu ilmu teknologi dapat menggambarkan kapan hilal itu terujut/ada di lihat dari bumi.
    jarak matahari ke bumi dan bulan serta besarnya bumi dan bulan sudah diketahui, tentu bisa pula di simulasikan geraknya yang bersekala dan di cerna dengan ilmu fisika, maka terlihatlah kapan hilal itu terbentuk(ujud) di lihat dari bumi, hilal itu akan ujud apabila posisi bulan tertinggal dari matahari 20 derajat lebih..
    makanya titik nol rotasi bulan terhadap bumi menurut ilmu agama bukan pada ijtimak(kunjungsi) untuk lebih jelasnya silahkan baca di rotasibulan.blogspot.com
    tesesat di ujung jalan kembalilah ke pangkal jalan, pangkalnya ada hadist rasullulah saw di Kitab Insanul Uyun Juz III Karangan Syekh Nuruddin. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: