Hisab Imkan Rukyat Mudah dan Memberi Kepastian: Contoh Menentukan Idul Fitri 1433


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat

Kriteria Imkan Rukyat (IR) bukanlah metode rukyat (pengamatan), tetapi metode hisab yang  mempertimbangkan parameter rukyat. Jadi, tak perlu perlu ke lokasi pengamatan, cukup di depan komputer. Hisab imkan rukyat (kemungkinan rukyat) atau visibilitas hilal (Crescent Visibility) sangat mudah. Ya, hanya beberapa klik saja kita peroleh hasilnya yang akurat. Berikut ini saya ajarkan cara praktis dengan memanfaatkan perangkat lunak AccurateTime yang bisa didownload di internet (http://www.icoproject.org/accut.html?&l=en ). Saya pandu langkah demi langkah.

Setelah download, jalankan Accurate Time, maka akan tampil layar seperti ini:

Langkah awal, kita kaji garis tanggal global dulu yang memberikan gambaran umum kemunginan ketampakan hilal di seluruh dunia. Itulah yang disebut Imkan Rukyat atau Crescent Visibility (visibilitas hilal). Klik “Crescent Visibility”, maka akan muncul:

Klik “Hijric Date”, lalu masukkan bulan dan tahun Hijriyahnya. Lalu klik “Preview” di tengah dan dilanjutkan “Crescent Visibility Map” di bawah. Akan muncul peta kosong. Klik “Draw”, maka akan muncul garis tanggal pada hari terjadinya ijtimak/newmoon.

Arsir merah berarti bulan belum wujud saat matahari terbenam. Kalau Indonesia seluruhnya masih berada pada wilayah arsir merah, artinya bulan belum wujud. Itu masih tanggal 28, bukan hari rukyat dan bukan hari yang diperhitungkan untuk imkan rukyat. Untuk kondisi pada tanggal 29, hari pelaksanaan rukyat atau hari perhitungan imkan rukyat, klik tanggal berikutnya lalu klik “draw”, maka akan diperoleh garis tanggalberikut:

Dari hisab global seperti ini sebenarnya sudah jelas, bahwa di Indonesia saat maghrib 29 Ramadhan sudah imkan rukyat. Maka di Indonesia serta wilayah berarsir biru dan sebelah baratnya 1 Syawal 1433 jatuh pada 19 Agustus 2012.

Kalau diperlukan hisab lokal untuk dibandingkan dengan pelaksanaan rukyat (dalam mengarahkan teleskop), silakan ikuti langkah berikut:

Pertama klik “Location” di menu awal. Lalu pilih kota dari data yang tersedia atau masukkan lintang dan bujur untuk lokasi yang belum ada datanya. Lalu klik “OK”.

Masukkan tanggal rukyat dengan mengklik “Date” di menu utama, lalu setelah diisi klik “OK”.

Untuk mengetahui saat rukyat, yaitu saat maghrib, klik “Prayer Time” di menu utama. Akan diperoleh maghrib pukul 17:55 (untuk contoh kasus ini).

Data waktu akan digunakan untuk mendapatkan posisi hilal untuk observasi atau sekadar menghisab imkan rukyat. Klik “Telescope”. Lalu masukkan tahun, bulan, tanggal, jam, dan menit pengamatan atau waktu hisab imkan rukyat. Jangan lupa klik “Refracted” di kanan atas agar hasil hisab sudah dikoreksi dengan refraksi/pembiasan atmosfer.

Hasil hisab memperlihatkan matahari sudah terbenam, ditandai dengan ketinggian matahari sekitar -15″ (dalam contoh ini tingginya -12′), yaitu posisi pusat piringan mataharinya sehingga piringan atas matahari menyentuh ufuk. Tinggi pusat bulan 6 derajat 36 menit (atau tinggi pusat  hilalnya 6 derajat 24 menit). Visualisasi hilal yang berada di sebelah kiri atas matahari juga digambarkan dengan sabit yang lengkungannya ke arah kanan bawah. Tinggi 6 derajat 36 menit sudah memenuhi kriteria imkan rukyat kesepakatan “2-3-8” (tinggi minimal 2 derajat, jarak bulan matahari minimal 3 derajat, atau umur bulan 8 jam). Jadi 1 Syawal jatuh pada 19 Agustus 2012.

Kalau kita mau menggunakan kriteria “Hisab Rukyat Indonesia” yang saya usulkan, yaitu beda tinggi bulan matahari minimal 4 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat  (https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/02/analisis-visibilitas-hilal-untuk-usulan-kriteria-tunggal-di-indonesia/ ), maka ada sedikit langkah tambahan. Hitunglah beda tinggi bulan matahari = 6 derajat 36 menit – (-0 derajat 12 menit) = 6 derajat 48 menit= 6,8 derajat. Beda azimut bulan matahari: 282 o 51′ – 275 o 36′ = 7 o 15’= 7,25 derajat. Jarak bulan-matahari = akar (kuadrat beda tinggi + kuadrat beda azimut) = SQRT (6,8 * 6,8+7,25*7,25) = 9,9 derajat. Jelas, beda tinggi bulan matahari 6,8 derajat dan jarak bulan-matahari 9,9 derajat sudah memenuhi kriteria “Hisab Rukyat Indonesia”, maka 1 Syawal jatuh pada 19 Agustus 2012.

Hisab imkan rukyat itu mudah dan memberi kepastian. Hisab imkan rukyat ini sekaligus memberikan informasi akurat untuk mengarahkan teleskop bagi kegiatan rukyat. Inilah cara yang dapat dipertanggungjawabkan secara astronomi dan dapat dibuktikan dengan rukyat. Cara yang sama bisa digunakan untuk membuat kalender masa yang akan datang, mau 100 tahun atau 1000 tahun, yang terpenting kriteria yang digunakan adalah kriteria yang disepakati, yang menyetarakan hisab dan rukyat.

Sekadar catatan, perangkat lunak Accurate Time tidak mencantumkan ketinggian piringan atas bulan yang diperhitungkan pada hisab wujudul hilal. Mengapa? Karena konsep wujudul hilal yang usang itu tidak dikenal dalam astronomi. Bukan ketinggian piringan bulan yang diperhitungkan, semestinya adalah hilal dan kemudian diperhitungkan kecerlangannya dalam mengalahkan cahaya senja/syafak. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/11/04/hisab-wujudul-hilal-muhammadiyah-menghadapi-masalah-dalil-dan-berpotensi-menjadi-pseudosains/ dan https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/12/13/membongkar-paradoks-wujudul-hilal-untuk-mendorong-semangat-tajdid-muhammadiyah/.

Iklan

162 Tanggapan

  1. Info yg menarik, ijin dowload sofwarenya

  2. Semoga para ulama mau menggunakannya, dan pemerintah juga mau menggunakannya !

  3. Assalamu ‘alaikum wr wb. Ternyata dg kemajuan ilmu dan tegnologi, membuat kalender hijriah dg imkan rukyat tdk serumit yg dibayangkan oleh banyak org seperti sy ini contohnya. Alangkah baiknya Kemenag (sebagai pihak yg punya otoritas dari Pemerintah/negara) mengundang para pakar hisab/rukyat/hisab rukyat/astronomi dan pimpinan ormas Islam dg satu agenda membahas dan menetapkan penyusunan kalender hijrah khususnya yg berlaku di wilayah Indonesia agar umat Islam di Indonesia ini punya pedoman Kalender Hijriah yg ditetapkan negara (Kemenag) sebab tidak semua umat Islam di Indonesia ini mengikuti ormas/menjadi anggota salah satu ormas dan mereka itu masih patuh dg keputusan Pemerintah (Kemenag) dalam hal penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawal (idul Fitri), 10 Hijriah (Idul Adha). dan ormas yg tdk/belum mau ikut, ya ditinggal saja. berfikirlah utk umat Islam yg jumlahnya lebih besar, jangan terhalang oleh satu atau dua/lebih ormas yg tdk sepakat lantas kalender hijriah yg berlaku secara nasional tdk pernah jadi. Maju terus pak tomas. Assalamu ‘alakum wr wb.

  4. “Berpuasalah kalian karena melihatnya dan akhiri puasa karena melihatnya.Sesungguhnya kami ini masyarakat buta huruf, tidak dapat menulis dan menghitung (ilmu perbintangan), jumlah hari- hari dalam sebulan adalah begini dan begini (sambil memberi isyarat dengan kedua tangannya), yakni kadang 29 dan kadang 30 hari. (HR. Bukhari III/25 dan Muslim III/124).

  5. Ass wr wb.
    Metode Hiisab yg tidak takut atau menolak “rukyatul hilal”, bahkan mempersilahkan untuk dilakukan rukyatul hilal disertai petunjuk2 teknis yang jelas sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat menyaksikan penampakan hilal yg merupakan fenomena alam ciptaan Allah SWT dan diisyaratkan sebagai “awal” dimulainya bulan Ramadhan, Syawal dan bulan2 hijriyah lainnya.
    Namun demikian, sebagai umat Islam yg ber-Iman tetap harus mendahulukan ketetapan Allah SWT, yaitu apabila hasil rukyatul hilal tidak sesuai dg hisab maka yg dipedomani adalah hasil rukayatul hilal.
    Semoga perhitungan astronomi yg dilakukan akan mendekati kesempurnaan shg tidak akan lagi ada hisab yg tidak sesuai dg hasil rukyatul hilal, amin.
    Wass wr wb.

    • Ass wr wb

      Maaf, agar tidak ada salah pengertian, ada yg perlu saya ralat sbb. :
      TERTULIS : Metode Hiisab yg tidak takut atau menolak “rukyatul hilal”,
      SEHARUSNYA : Metode Hiisab yg tidak takut atau tidak menolak “rukyatul hilal”,

      Selanjutnya mengenai “rukyatul hilal”, meskipun ada pihak yg menolak, saya justru berpikir lebih kepada membuat rukyatul hilal menjadi “uphoria dakwah Islamiah”, misalnya pada setiap sidang Isbat semua titik lokasi pengamatan hilal dihubungkan on-line dan ditayangkan distasiun televisi sehingga proses penampakan hilal dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat.

      Wass wr wb.

  6. Ada yg belum dimasukkan kayaknya pak, yakni cara mencari ketinggian hilal (altitude, dll).

  7. Prof. awal bulan saya salut dengan gerakan pembaharu njenengan, karena semua analisis Profesor luar biasa,
    namun ketika Profesor memberikan accurate time ini,
    masih q tanda tanya, semoga beda dengan software lainnya,
    sayang ketika q cek berdasarkan ketepatannya,
    subhanallah meleset jauh dari apa yang selama ini saya teliti,
    saya ingin menyampaikan lewat email saja, q cari ternyata tidak ada, khawatirnya gelar Profesor yang njenengan miliki itu dari mana?,
    Prof, pesen saya, jika memang accurate time itu satu-satunya yang bisa menyatukan umat Islam, tolong dipertimbangkan Prof.
    semoga Prof semakin ditambah oleh Allah ilmu pengetahuan

    • Saya punya beberapa software astronomi, tetapi bersifat komersial yang belum tentu semua ahli hisab mempunyainya. Maka saya berikan contoh software yang mudah didownload yang memang menggunakan algoritma astronomi. Tentu hisab Accurate Time hanya salah satunya, bukan satu-satunya. Kalau ada perbedaan, silakan tunjukan hasil bandingannya dan sebutkan hisab apa yang digunakan, bisa jadi hasil yang berbeda itu hanya berdasarkan hisab taqribi (misalnya yang di kitab Sulam).

      • Apakah saya bisa mendapatkan software astronomi yang Pak TDJ maksud ? dan Software2 apa saja yang Bapak maksud ?

      • Saya punya Astroinfo dan StaryNight, keduanya s/w komersial yang bisa dibeli on-line (Astro-Info saya beli tahun 1990-an, saat ini tampaknya tidak dijual lagi secara on-line). Selebihnya saya gunakan s/w yang free didownload di internet (seperti Stellarium dan Accurate Time) dan s/w buatan sendiri.

      • Starry Night saya punya, namun Astroinfo saa belum punya,,,,

    • yang perl dipertanyakan adalah hitungan njenengan itu pakai apa?

    • saya sendiri sudah pake accurate sudah bertahun2 dan tidak beda secara signifikan denga hisab kontemporer lainnya, baik dari MU Persis maupun NU.

    • Sya biasa membandingkan dengan 3 program/software ; Accurate Times, Mawaqit, dan Stellarium

      • Namun sayang saya baru pada taraf “pengguna” software2 tersebut, belum bisa pada taraf “Pencipta” sotfware2 semacm,,,

  8. Prof. saya lebih mengutamakan rukyah awal, kemudian saya lakukan hisab kemudian, ilmu saya, q bagi-bagikan secara cuma-cuma, tidak komersiil, karena semua bisa melakukan, dan ahlinya banyak sekali,
    hasil penanggalannya yang kami lakukan sementara berbeda jauh dengan accurate time, baik efek dari perjalanan bulan dan matahari,
    harganya berapa software njenengan, kok komersiil segala

  9. tentang saya, harus melalui tabayyun Prof. mungkin Prof masih ingat pertarungan antara MUI dan BMKG tentang prediksi seorang peneliti dari Malang, yang penelitiannya selalu terbukti menenggelamkan semua prediksi para peramal sekelas Mama Laurenc, Permadi, analisanya berbeda dengan kebanyakan para peramal, saat itu pihak asing menggunakan kekuatan para ulama untuk mempidana peneliti tersebut melalui fatwa tanpa melakukan tabayyun terlebih dahulu,
    saat itu juga beberapa Brimob juga mencari keberadaannya,
    bahkan peneliti tersebut berani mengatakan tsunami Aceh dan Jepang adalah rekayasa, dan hingga hari ini dia justru siap mempertanggungjawabkan atas apa yang dia ucapkan, saat ini juga dia juga mendukung program njenengan untuk menyatukan umat Islam, dia mengatakan kalo njenengan berpotensi untuk menjadi pemersatu, dia siap mendukung, Insya Allah, semoga njenengan selalu diberi kesehatan, banyak kesamaan antara njenengan dengannya, baik teori maupun aplikasinya, hanya belum sepakat dengan accurate time yang njenengan berikan ke publik, 4 tahun dia menekuni waktu ibadah,
    dari gambaran tersebut, dia khawatir jangan sampe kita umat Islam saling menghujat, dan itu dikhawatirkan termasuk juga rekayasa,
    dia katakan jika benar ormas sekelas Muhammadiyah sama2 merujuk dari peneliti yang sama, Mohammad Odeh, akan lebih baik mencegah saling caci maki, padahal menurutnya njenengan lebih berpeluang untuk lebih tepat penghitungan astronomi untuk urusan waktu ibadah,
    semoga kelak njenengan dipertemukan oleh Allah dengannya,
    sampaikan salamku kepada MUI, semoga menjadi ulama yang shohih walo dulu pernah membuat fatwa tanpa tabayyun,
    sampaikan salamku kepada kemenag, semoga Allah berikan kepadanya sifat arif dan bijaksana kepada semua golongan,
    sampaikan salamku kepada SBY, semoga Allah menjadikan dia pemimpin yang adil, aq belum bisa membantunya dalam sisa waktu pemerintahannya

  10. Peneliti dari Malang,
    dia akan membagikan beberapa teori barunya yang berkaitan dengan ilmu astronomi dan teori Reboisasi Padang Pasir, secara cuma2, tidak komersiil Prof, namun ada beberapa penelitiannya yang akan dipublikasikan jika rakyat Indonesia khususnya umat Islam benar2 siap untuk membersihkan diri, hingga sistim benar2 bisa menjaga kekayaan alam Indonesia hanya milik negara dan rakyat itu, tidak dipublikasikan ilmu yang telah diberikan Allah padanya karena akan dijual komersiil, tetapi ada teorinya yang menguak kekayaan negeri ini yang belum terkuak hingga saat ini, jika dipublikasikan, tentu penjahat asing akan merebutnya dengan berbagai cara

  11. berkaitan dgn sfwr accurat time, ana dah lama menggunakannya dan (mis: waktu salat)sejauh ini menrt ana memang acurat,

    • Bung Usman, coba dicek kembali, terutama bulan Maret, nanti njenengan akan mengetahui,
      sebelum mengukur ketepatannya, coba dicek juga ketepatan arah kiblat njenengan, setelah benar, lakukan pengecekan waktu sholat berdasarkan Surat Ar Ra’d 15, Al Furqan 45 dan 46

  12. Mau accurate time atau software secabggih apapun yang dipergunakan, mau ada satu kalender untuk seluruh umat, namun semuanya sia-sia kalau bisa dimentahkan oleh Ruyat.
    Penganut Rukyat TIDAK AKAN PERNAH BERANI MEMASTIKAN bahwa 1 Ramadhan, 1 Syawal atau kalender yang menyangkut peribadatan jatuh pada hari tertentu sebelum melakukan Rukyat, ini sebetulnya yang jadi persoalan.
    Mari kita berandai-andai, seandainya besok Sabtu 18 Agustus ini terjadi mendung merata di seluruh pelosok Nusantara, sehingga tidak ada satupun yang bisa melihat Hilal, apakah penganut Rukyat berani menentukan keesokan harinya sudah memasuki 1 syawal, sementara ada hadits yang berbunyi “seandainya hilal tidak terlihat, maka genapkanlah (menjadi 30 hari)”
    Lebih jauh lagi, seandainya kesepakatan tentang tinggi hilal katakan 7 derajat sudah tercapai, dan berdasarkan itu 1 ramadhan atau 1 syawal 1, 2, 3,5 atau10 tahun mendatang sudah dapat ditentukan berdasarkan Hisab imkanul Rukyat, apakah para penganut rukyat berani memastikan bahwa tanggal-tanggal tersebut akan jatuh pada hari yang sudah ditentukan sesuai perhitungan ?
    Tentu saja tidak, sebab mereka hanya berani memastikan setelah merukyat, di sini timbul persoalan kepastian kalender, yang tentunya menyangkut perencanaan jangka pendek maupun panjang Umat Islam.
    Dan sampai kapanpun kepastian penanggalan Islam tidak akan pernah bisa dicapai
    Wassalam

    • Jadi ingin tahu biaya total Nasional setiap Pengutusan Petugas Rukyat dan Pelaksanaan Sidang Isbat itu berapa ya ?…

      • Ass wr wb.
        Untuk biaya uphoria dakwah Islamiah rukyatul hilal, yg bersumber dr APBN diusahakan hanya bersifat stimulan saja, sedangkan selebihnya diusahakan oleh Badan Hisab dan Rukyat Kementrian Agama RI dari para donatur atau sponsor.
        Syukur alhamdulillah kalau semuanya bisa ditanggung oleh APBN. Apalah artinya biaya besar jika itu memang digunakan untuk dakwah dan kemaslahatan umat Islam.
        Wass wr wb.

      • Rukyat itu lebih banyak dilakukan oleh ormas Islam dan astronom amatir dengan biasa mereka sendiri. Perukyat dari kantor Kementerian Agama melakukan rukyat secara lokal di wilayah kerjanya sebagai bagian dari layanan publik instansi Pemerintah dengan prinsip efisiensi anggaran negara.

    • Ass wr wb.
      Kalau ada kalender yg dimentahkan oleh “rukyatul hilal”, itu artinya metode hisabnya yg belum canggih, jadi perlu lebih banyak belajar lagi agar dikemudian hari kalender yg dibuat selalu cocok dg rukyatul hilal.
      Kepastian itu milik Allah SWT dan manusia hanya bisa memperkirakan, jadi kalender buatan manusia itu adalah perkiraan ilmiah, bukan sebuah kepastian. Sebuah perkiraan ilmiah diperlukan bukti nyata dan untuk kalender hijriyah, bukti nyatanya adalah rukyatul hilal.
      Dalam pelaksanaan rukyatul hilal, untuk keadaan “tertutup” awan, hadistnya berbeda yaitu……….apabila diselimuti awan maka perkirakanlah…………
      Kesimpulannya, kalau metode hisabnya memang canggih, maka kelender yg dihasilkan insya Allah akan selalu cocok dg rukyatul hilal.
      Wass wr wb.

      • yang dimaksud awan bukan mendung masbrow karena mendung itu trgantung pada musim sedangkan ibadah tidak kenal musim jika gerhana matahari total apa anda bisa sholat dhuhur padahal saat itu gelap apakah sholat dhuhur diganti esok harinya saja sehingga sepakat nanti kalau menghadap alloh alasanya matahari tidak terlihat sehingga tidak kelihatan kapan masuk waktu dhuhur

      • semoga BMKG n PVMBG masih ingat dgn kejadian hujan di luar musim n kasus banyaknya gunung2 meletus, banyaknya gempa, surat An Nuur 43 mengilhami dan memperkuat teori Reboisasi Padang Pasir, ayat itu bercerita ttg awan, sy saat ini masih mengembangkan teori tsb, alhamdulillah slm waktu tsb, walo brbeda, analisa sy saat itu lebih terbukti ketimbang BMKG, mungkin KEBETULAN saja, jauh sebelum 2 pakar dr Jerman menyatakan ttg Lapindo, sy uda lakukan penelitian, n ketika mrk nyatakan sy tinggal mengiyakan, di situ lah letak permasalahan ttg apa itu awan dan apa itu mendung, smg Bung Sumber mau mencari tau ttg ini

      • Ass wr wb.
        Setahu saya, awan dan mendung adalah kumpulan uap air yg melayang diberbagai ketinggian diangkasa, sedangkan yg melayang dipermukaan bumi disebut embun.
        Dan mengenai gerhana matahari total, sepanjang yg saya tahu “tidak pernah terjadi” karena yg ada adalah gerhana matahari berbentuk cincin sebagai akibat dari bulatan bulan yg menutupi matahari dimana bulatan bulan lebih kecil dibandingkan dg bulatan matahari. Jadi suasana tidak begitu gelap karena bulatan bulan tidak menutupi seluruh bulatan matahari dan masih ada sinar matahari yg terpancar dr sisa bulatan matahari yg berbentuk cincin.
        Dengan demikian, gerhana matahari tidak akan menyulitkan kita menentukan waktu sholat.
        Wass wr wb.

    • yasjuduu ma fissamawati wa ma fil ardli,
      ayat tersebut, mengilhami saya untuk lebih mengutamakan rukyat tetapi saya tidak mengesampingkan hisab, 2008, tahun itu penuh perdebatan di daerah saya,
      awal ramadlan lalu, ada pernyataan Prof mengesampingkan beberapa waktu ibadah, mungkin selama ini saya lah yg harus belajar lagi, ttp setelah muncul accurate time, justru meyakinkan saya Prof harus turun ke lapangan mengakuratkan rujukan tersebut dengan kenyataan yang sebenarnya, setiap detik, setiap menit, setiap jam, pergerakan bulan dan matahari (langit), juga perlu mengecek apa yang terjadi dengan yang kita tempati, bumi,
      teori Reboisasi Padang Pasir yang q gelindingkan bbrp tahun lalu, cukup menjadi bukti kuat, perlu adanya kesadaran semua pihak, Pemerintah dengan accurate time dan Muhammadiyah dengan WHnya,
      saya cuma pesen, keduanya tidak perlu saling menghujat, saya khawatir analisa keduanya sama2 meleset,
      banyak2 istighfar kepada Allah,
      saya ingin mencari tahu tentang metode hisab taqribi yang digunakan Cakung, kalo punya kasih tahu saya, saya tidak mau mengklaim dulu sebelum saya pelajari

  13. Tetap saja menunggu keputusan sidang itsbat H-1 wlp sdh ada softwere astronomi yg bs memberi kepastian…solusinya spt kt pk abdussalam adalah tinggalkan rukyat kalau ingin menyatukan ummat…

    • Secara syar’i dan astronomis, tidak mungkin meninggalkan salah satu dari hisab dan rukyat.

      • nabi muhammad tidak minta persetujuan umat dulu baru memutuskan tapi jika ada umat yg mengatakan melihat bulan baru disumpah dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa nabi selalu merujuk pada hisab bukan prasangka orang awam sedang diindonesia hisab dianggap tidak berguna jika orang awam tidak melihat bulan karena mendung, sungguh naif yg dmaksud mendung adalah ufuk bukan awan maka jk menurut hisab bulan sudah diatas ufuk yaitu sudah tanggal contoh jam 12:00:01 WIB maka artinya tetap jam 13 kurang 59 menit 59 detik shg dalam bahasa teori sdh msk jam satu walaupun detikanya jam tembok tidak kelihatan bukan begitu masbrow

      • Maaf Prof., selama ini publik tdk banyak yg tahu kalau Pemerintah mempunyai Kalender Hisab. Mereka tahunya Pemerintah hanya menggunakan rukyah sbgmana hiruk pikuknya Sidang Itsbat. Utk itu, supaya seimbang antara hisab & rukyat, setiap tahun cetaklah Kalender Hisab versi Pemerintah dlm skala besar dan bagikan ke masjid2 ke segala penjuru Nusantara. Itu baru memberikan kepastian bahwa kalender Hijriyah bisa digunakan utk kepentingan ibadah dan muamalah sekaligus.

  14. aslmkum.w.w, trm ksh inputnya pak, aplg bwt kami yg buta msh rukyat hilal ini. jadzakumulloh khoiron katsiron, sgt bmanfaat.

  15. Mudah sekali..JIKA ada kriteria pasti tinggi bulan minimal berapa.
    Menentukan tinggi bulan minimal 2 derajat, 3 derajat, 4 derajat…mudah kalau ada otorisasi.
    Tapi orang yang ditunjuk memegang otorisasi ini..apakah tidak mungkin suatu saat akan berubah pikiran lagi karena ada data baru lagi yang lebih terpercaya? Sehingga merubah menjadi 3 derajat, 2 derajat, atau 1 derajat.

  16. Ass wr wb.

    Alhamdulillahirobbil’alamiin, akhirnya kita semua berhari-raya IDUL FITRI 1 Syawal 1433H mulai tgl 18 Agustus 2012 magrib hingga tgl 19 Agustus 2012 magrib, dan kita akan sholat Ied bersama2 pada pagi hari tgl 19 Agustus 2012.

    S E L A M A T I D U L F I T R I 1 S Y A W A L 1433H
    Taqabalallahu mina wa minkum
    Mianal aidzin wal faizin
    Mohon maaf lahir dan batin

    Waass wr wb

  17. alhamdulillah,
    taqobbal yaa kariim,
    menarik tiga tempat melihat hilal
    Makasar lebih dari 6 derajat
    Gresik lebih dari 3 derajat
    Sukabumi lebih dari 2 derajat,
    Prof. mau tanya, waktu mendengar info ini, diterima semua ngga’ kalo tinggi hilal min 2 derajat?

    • Dari peta ketinggian hilal, di Makassat dan NTT tinggi hilal sekitar 6 derajat. Di Jawa hampir 7 derajat. Dari segi kriteria “2-3-8”, ketiggian itu sudah lebih dari 2 derajat, sehingga kalau ada kesaksian akan diterima.

      • trims, Prof, sekarang saya nilai njenengan jeli, info kesaksian wilayah Jawa ada yg aneh, good scientist

      • prof apa fungsi bulan diatas ufuk kalau masih harus dilihat contoh jika bulan 4″ seluruh indonesia gelap apakah anda berani memutuskan sdh tanggal jika tidak berani mengapa, apa anda takut pd kspakatan bersama atau takut pd kebenaran

  18. prof bisa dijawab jujur?
    Berapa derajat atau kriteria berapa? sehingga 1 syawal sudah terpenuhi, tolong pisahkan dgn melihat hilal dan hisab.

    • Secara astronomi, hisab dan rukyat tak bisa dipisahkan, keduanya setara. Itulah kejujuran ilmiah yang saya sampaikan.

      • Pak Djamaluddin,

        Saya sambut baik atas deklarasi “kejujuran ilmiah” yang anda ucapkan, terutama karena saya selalu skeptis terhadap maksud dibelakang banyak tulisan anda di blog ini. Karenanya saya ingin mempertanyakan (kembali) berberapa pernyataan anda seperti dibawah.

        Secara astronomi, hisab dan rukyat tak bisa dipisahkan, keduanya setara.

        Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “rukyat” yang setara di sini? Kalau rukyat mengacu kepada observasi secara umum, saya lebih mudah untuk menyatakan persetujuan dengan anda. Observasi secara ilmiah akan dilakukan dengan segala cara untuk mengetahui eksistensi ataupun property objek yang diamati secara objektif, dengan sebuah standar yang memungkinkan adanya konfirmasi oleh pihak yang lain[1]. Tetapi ketika Pak Djamaluddin mengacu rukyat sebagai praktek melihat hilal dengan pandangan mata langsung yang dilakukan oleh umat Islam seperti sekarang, saya cenderung untuk mengatakan keduanya tidak setara secara ilmiah. Keberatan saya berdasar kepada hal-hal berikut:
        – Hasil rukyat adalah subjektif, karena hanya berdasar persepsi pengamat. Tidak ada cara yang objektif untuk bisa membedakan apakah seseorang benar-benar melihat hilal (yang sangat tipis) atau tidak: apakah sekedar kesalahan karena dorongan psikologis, atau karena orang tersebut mempunyai kemampuan fisiologis mata yang lebih baik (lihat [2]). Hasil rukyat akan lebih objektif secara ilmiah ketika hasil observasi adalah “terdeteksi” (bukan sekedar terlihat), karena hal ini memungkinkan verifikasi pihak kedua dengan standar dan teknlogi observasi yang sama (contoh: menggunakan teknik olah citra).
        – Hisab pada dasarnya hanya menghitung posisi bulan dan matahari, dimana dari hasil ini diturunkan beberapa nilai parameter tambahan. Yang dilakukan dalam merumuskan kriteria IR adalah sekedar perumusan *KORELASI* antara parameter-parameter ini dengan hasil pengamatan masa lalu, tanpa adanya model yang konkret bagaimana sebuah rumusan bisa diturunkan.
        – Rukyat mengakui keberadaan awan sebagai penghalang hasil rukyat dan mendasarkan fakta ini untuk menunda awal bulan. Hisab dan kriteria IR tidak bisa mengakomodasi faktor ini karena kemustahilan untuk melakukannya.

        Ketika rukyat mengacu ke konsep yang dipakai oleh Pak Djamaluddin di blog ini, saya cenderung mengatakan kalau rukyat tidak setara dengan hisab, apalagi hisab ditambah kriteria IR. Sedang observasi astronomi memang setara dengan hisab, terlepas dari kriteria awal bulan yang dipakai.

        [1] http://en.wikipedia.org/wiki/Observation
        [2] http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/7967381.stm

      • Rukyat = astronomical observation, menggunakan segala perangkat observasi yang ada pada suatu zaman. Saat ini yang paling canggih adalah dengan teleskop yang dilengkapi dengan CCD kamera. Itulah yang pernah kita gunakan dalam memutuskan itsbat awal Syawal 1430/2009 dengan hasil rukyat di Masjid Agung Semarang yang datanya ditujukkan dengan citra CCD.

      • Pernyataan menarik dari Pak Djamaluddin. Definisi rukyat yang dipakai ini saya kira sudah tidak sejalan lagi dengan definisi secara syar’i yang dipakai oleh mayoritas umat Islam bahwa rukyatul hilal dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik. Alat bantu optik disini adalah sebatas teleskop karena hilal harus terlihat dengan mata, bukan melalui CCD imaging yang notabene selalu melalui proses olah citra di dalam kamera. Citra hanyalah sekedar alat bantu pembuktian terhadap kesaksian bahwa hilal terlihat oleh mata, bukan hasil rukyat itu sendiri.
        Kalau memang olah citra sudah termasuk dalam kategori “terlihat”, maka data-data observasi lama harus dibuang karena jelas-jelas banyak kasus dimana crescent yang tidak bisa dilihat lewat raw image pun masih bisa dideteksi dengan olah citra seperti yang dilakukan oleh Martin Elsässer. Selain itu tidak pada tempatnya menyebut istilah limit Danjon dalam paper anda karena ini adalah limit yang dipengaruhi oleh persepsi mata, bukan sifat yang berasal dari hilal itu sendiri (dengan adanya fakta bahwa elongasi 2 derajat crescent bisa tertangkap kamera di luar angkasa).

        Apakah benar demikian maksudnya? Kalau ternyata tidak, saya pikir lebih tepat untuk mengganti rukyat dengan kata observasi, jadi pernyataannya berubah menjadi “…, hisab dan observasi tidak bisa dipisahkan, keduanya setara.” Karena menggunakan kata rukyat menjadi bisa menyesatkan, sedang anda sendiri sudah mendeklarasikan kejujuran ilmiah anda.

      • Rukyat tetap pada konteks astronomical observation sesaat setelah matahari terbenam, seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Itu yang diterima para ulama. Bukan dalam konteks umum, sehingga memasukkan pengamatan CCD saat tengah hari (broad daylight) yang cenderung minimbulkan masalah baru dalam fikih, bukan menjadi solusi.

      • Menurut fatwa dari kalangan tradisional (?) Islam, teleskop diperbolehkan dalam melakukan rukyat. Tapi dari apa yang bisa saya pahami, alasan ini dikarenakan fakta bahwa penggunaan teleskop masih berdasar penglihatan melalui mata [1]. Ketika konfirmasi hilal hanya bisa “dilihat” melalu citra dari sensor kamera (kasus dimana tidak terlihat oleh mata meskipun sudah menggunakan teleskop), saya kira ini sudah keluar dari alasan pembolehan penggunaan teleskop. Selain itu saya tidak mencoba mengatakan untuk melakukan ruyat di siang hari bolong. Secara khusus saya menyebut teknik olah citra untuk mendeteksi eksistensi sinar hilal dalam citra dalam kontras yang rendah. Adalah fakta yang jelas bahwa dalam taraf tertentu teknik ini masih mengekstrasi pola sinar hilal dengan menggunakan banyak sampel citra digital. Cara ini masih valid sebagai bentuk observasi keberadaan dan posisi hilal (crecent), tapi saya cukup positif ini bukan lagi cara yang dibolehkan secara syar’i.

        Jadi, seperti apa “rukyat yang setara dengan hisab” yang dimaksudkan Pak Djamaluddin?

        [1] http://ramadhanplanner.wordpress.com/tag/fatwa-ramadan/

      • Rukyat setara dengan hisab sudah saya jelaskan. Sederhana, tak perlu dipersulit. Dulu masih dipermasalah rukyat dengan alat bantu, termasuk dengan kacamata dan teleskop. Sekarang tidak lagi dipermasalahkan. Rukyat dengan segala alat bantunya, yang terpenting untuk membuktikan terlihatnya hilal di atas ufuk.

      • Maaf, Pak Djamaluddin belum menjelaskan rukyat yang setara dengan hisab, jadi jangan membuat statemen kosong hanya untuk menghindar dari apa yang sedang tanyakan. Sepertinya rukyat yang secara astronomis menurut Pak Djamaluddin ternyata bukan rukyat yang diamalkan oleh mayoritas umat Islam — itu kesimpulan saya sementara ini.
        Saya tidak tahu siapa yang sedang mempersulit rukyat, karena saya hanya mengutip apa fatwa yang berhubungan berhubungan dengan rukyat, karena pada dasarnya yang berpegang teguh dengan tradisi rukyat adalah muslim tradisionalis. Kalau Pak Djamaluddin tidak setuju dengan cara tersebut, silakan saja, hanya saja membuat statemen dengan istilah umum dengan pengertian khusus tanpa penjelasan tambahan bisa menyesatkan.

      • waduh pak jawabannya bukan itu yang saya harap. tetapi secara astronomi, kapan 1 syawal telah masuk, kalau pakai kriteria, kriterianya berapa, kalau pakai jam kira2 jam berapa.
        Contoh
        jam 12.00 tengah malam berarti sudah dimulainya hari baru.
        kriteria 0 derajat apakah sudah masuk atau tidak secara astronomi. ataukah ada kriteria lainnya.
        tolong pak jangan hubungkan dulu dengan hilal atau hisab, tapi secara astronomi. nanti saya yang coba untuk menarik kesimpulan.

      • Astronomi tidak mengenal Syawal kalau tidak dikaitkan dg kriteria. Astronomi hanya menyajikan data posisi bulan. Untuk menentukan awal bulan bergantung pada kriteria yang digunakan oleh penggunanya.

  19. saya setuju dengan pak arya. yang meyakini rukyat (walaupun berhisab) tak akan bisa (berani?) mengambil keputusan besok ramadhan/syawal bila seluruh indonesia tertutup awan, walau sudut hilal memadai untuk dilihat. jadi saya kira ini bukan permasalahan astronomi semata, tapi masalah penafsiran teks agama. dan saya pikir prof tak perlu berdalih pada konsep usang yang digunakan muhammadiyah, karena saya yakin prof “tahu apa yang muhammadiyah mau”..

    • Ass wr wb.
      Kalau saya, berprasangka baik saja, bahwa yang meyakini rukyat dg metode hisab yg dimilikinya akan bisa (berani) mengambil keputusan besok ramadhan/syawal bila seluruh indonesia tertutup awan krn ada hadistnya………….apabila tertutup awan maka perkirakanlah……………..
      Wass wr wb.

    • Pk agus sy tertarik dgn tanggapannya, bnr skli pk agus tnykan itu pd pk djamal & sy pun prnh brtanya pd pk djamal sdh brp kali prnh melakukan rukyat lgs tp tdk ditanggapi. Sy brtanya krn sdh bc komntar pk agus bhw kriteria yg pk djamal usulkan adalah hasil dr data org lain ‘ paling bnyak konsep dr odeh…

    • Pk agus sy tertarik dgn tanggapannya, bnr skli pk agus tnykan itu pd pk djamal & sy pun prnh brtanya pd pk djamal sdh brp kali prnh melakukan rukyat lgs tp tdk ditanggapi. Sy brtanya krn sdh bc komntar pk agus serta paper konsep pk djamal. bhw kriteria yg pk djamal usulkan adalah hasil dr data org lain bkn hasil dr observasi pribadi, ini sesuai dgn tulisan pk syamsul anwar (seorang temannya pengajar ilmu falak di salah satu perguruan tinggi bhw pengalamannya selama 7 thn melakukan rukyat blm prnh melihat hilal di bwh 6 derajat).

      • @mata qalbu,
        Pertanma-tama saya ingin menegaskan, bahwa saya bukan astronom sehingga semua pernyataan saya adalah komentar yang murni hanya berdasar logika dan “common sense”.
        Mengenai data observasi, adalah hal yang umum menggunakan data-data yang dilakukan oleh pihak lain, mengingat keterbatasan waktu dan tempat, adalah sulit untuk menghimpun data-data observasi dari berbagai parameter bulan (observasi hanya bisa 12 kali dalam satu tahun, dan observasi harus dilakukan di berbagai tempat di bumi untuk mendapatkan banyak variasi parameter bulan, terutama parameter kritis visibiltas hilal). Saya kira apa yang dilakukan Pak Djamaluddin menggunakan data RHI adah sah-sah saja, dengan aggapan bahwa data dari RHI tersebut cukup akurat dan mewakili hasil rukyat yang dilakukan di wilayah Indonesia.
        Bagi saya permasalahan bukan disitu, tetapi lebih kepada bagaimana kriteria hisab “astronomis yang mutakhir” tersebut hanyalah bentuk upaya merumuskan korelasi antara parameter bulan dengan data visibilatas hilal dari hasil observasi tersebut. Banyak pembaca blog ini percaya bahwa kriteria IR adalah hisab yang memperhitungkan kontras cahaya hilal dan cahaya syafak dalam arti adanya perhitungan yang didasari oleh teori atau model yang mapan, padahal sejatinya faktor kontras adalah hal yang sudah masuk dalam hasil observasi, dan kriteria dirumuskan sebagai hal yang dianggap mewakili dari hasil observasi tersebut. Meksipun dalam sering kesempatan Pak Djamaluddin mengeluarkan cemoohan pihak lain sebagai “ahli falaq yang tidak paham astronomi”, tapi saya justru menilai kalau ilmu yang mendasari penurunan kriteria IR sebenarnya tidak muluk-muluk, tidak begitu jauh berbeda dengan apa yang bisa diperoleh di bangku SMA dengan pelajaran experimen di Fisika.

  20. Maaf, saya sayangkan dengan catatan yang ada :”Bukan ketinggian piringan bulan yang diperhitungkan, semestinya adalah hilal dan kemudian diperhitungkan kecerlangannya dalam mengalahkan cahaya senja/syafak.”, terlebih yang harus diperhatikan “semestinya adalah hilal dan kemudian diperhitungkan kecerlangannya dalam mengalahkan cahaya senja/syafak”, ini bukti bahwa konsep rukyat yang dikedepankan dalam melihat konsep hisab, walau Pak thomas sering menyebut “jangan mendikotomikan Hisab dan Rukyat”, ingat Muhammadiyah memiliki tafsir atas QS. ar-Rahman :5, QS. Yunus:5, dan QS. Yaasin : 39-40, serta Hadits2 ; Bukhari (II:278-279 hadits no 1900 “Kitab as-Saum” dari Ibn ‘Umar) , Muslim (I:482 hadits no. 1080:8 “Kitab as-Siyam” dari Ibn ‘Umar), Bukhari (II:280 hadits no. 1906 “Kitab as-Saum” dari Ibn ‘Umar) Muslim (I:481 hadits no 1080:1 “Kitab as-Saum” dari Ibn ‘Umar), Muslim (I:482 hadits no. 1080:8 “Kitab as-Siyam” dari Ibn ‘Umar), Bukhari (II:281 hadits no. 1909″Kitab as-Saum” dari Abu Hurairah) Muslim (I:481 hadits no 1080:2 “Kitab as-Saum” dari Ibn ‘Umar) yang harus di komunikasikan (karena penafsiran tersebut dalam ranah tafsir dan merujuk pada ahli-ahli tafsir khususnya ahli tafsir hadits, maka sejatinya saya tidak merujuk ke Pak Thomas yang noteben bukan ahli tafsir khususnya bukan ahli tafsir hadits), Boleh dibilang Muhammadiyah sdikit memposisikan Perhitungan dengan landasan astronomi sebagai “keilmuan” yang telah mendekati akurasi yang BISA DIPERCAYA, sehingga dalam eksekutor penentuan tanggalnya Muhamadiyah ‘hanya’ mendasarkan perhitungan (dengan 3 kriteria yang disebut Kriteria Wujudl Hilal) dengan banya pertimbangan efek dan konsekwensi yang timbul (salah satunya konsekwensi dan efek yang timbul dikarenakan “demografi” Indonesia secara mayoritas yang masih berpegang pada “rukyat”), Namun lembaga-lembaga pemerintah saya harapkan lebih arif dalam menjalankan tugas kenegaraan nya, khususnya dalam kaitan penentuan tanggal (khususnya tanggal n waktu ibadah=keagamaan),maka dengan merujuk UUD Pasal 29 Ayat 2, sejatinya Pemerintah dan lembaga pemerintah (Kemenag=Sidang Itsbat dan BHR, LAPAN=Thomas Djamaludin, dan lembaga lainnya) lebih arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas kenegaraan yang di jiwai UUD Pasal 29 Ayat 2,,,,,,,,, Taqobbala Allahu minna wa minkum, Taqobbal Yaa Karim,,,,,

    • Semua dalil soal bolehnya mendasarkan HANYA pada hisab, saya hargai. Ormas Persis pun melakukan hal itu. Yang dipermasalahkan adalah menggunakan kriteria hisab wujudul hilal yang mendasarkan pada QS 36:40 yang secara TAFSIR ASTRONOMISnya (karena substansi yang ditafsirkan adalah teknis astronomis, bukan segi syar’i dan bahasa) KELIRU. Tafsir Al-Quran untuk ayat-ayat kauniyah perlu penguasaan sains, bukan sekadar pemahaman bahasa Al-Quran dan ilmu Al-Quran lainnya. Pemaknaan QS 36:40 tidak terlepas dari QS 36:38-39 yang membahas soal orbit matahari dan bulan, yang disimpulkan pada akhir QS 36:40 bahwa bulan dan matahari punya orbit sendiri. Jadi “la syamsu yanbaghii lahaa antudrikal qamara” TIDAK BISA dimaknai sebagai “wujudul hilal”. Jadi, tak perlu mencari-cari kriteria untuk hisab, cukuplah isyarat Rasul untuk mendasarkan pada rukyat, jadilah hisabnya didasarkan pada kriteria imkan rukyat. Rincinya ada di https://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/

      • maaf kete ya prof dalil anda benar teori saint benar mengapa anda tdk berani memutuskan tanggal dan hari untuk bulan romadlon dan syawal dari sini anda sendiri mash belm yakin akan kebenaran teori sendiri jk memang kreterianya jelas dan pemerintah ambil alih kebijakan kenapa tidak langsung diumumkan, anda mengumumkan gerhana bulan/mthr berani tp awal bulan hijriah tidk berani la ini teori apa namnaya….

      • Pengumuman sepihak apa gunanya? Yang sedang dupayakan adalah kesepakatan kriteria agar menjadi pedoman bersama. Itu pula yang direkomendasikan pada Fatwa MUI No. 2/2004. Silakan baca https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/22/fatwa-mui-membuka-jalan-penyatuan-hari-raya/

      • tdjamaluddin, on 22 Agustus 2012 at 21:07 said:
        Semua dalil soal bolehnya mendasarkan HANYA pada hisab, saya hargai. Ormas Persis pun melakukan hal itu. Yang dipermasalahkan adalah menggunakan kriteria hisab wujudul hilal yang mendasarkan pada QS 36:40 yang secara TAFSIR ASTRONOMISnya (karena substansi yang ditafsirkan adalah teknis astronomis, bukan segi syar’i dan bahasa) KELIRU. Tafsir Al-Quran untuk ayat-ayat kauniyah perlu penguasaan sains, bukan sekadar pemahaman bahasa Al-Quran dan ilmu Al-Quran lainnya. Pemaknaan QS 36:40 tidak terlepas dari QS 36:38-39 yang membahas soal orbit matahari dan bulan, yang disimpulkan pada akhir QS 36:40 bahwa bulan dan matahari punya orbit sendiri. Jadi “la syamsu yanbaghii lahaa antudrikal qamara” TIDAK BISA dimaknai sebagai “wujudul hilal”. Jadi, tak perlu mencari-cari kriteria untuk hisab, cukuplah isyarat Rasul untuk mendasarkan pada rukyat, jadilah hisabnya didasarkan pada kriteria imkan rukyat. Rincinya ada di https://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/
        Balas

        tanggapan ane:
        kriteria wujudul hilal yang ketiga: bulan terbenam setelah terbenamnya matahari(yang terinspirasi dari surat yasin ayat 40),

        kutipan buku pedoman hisab Muhammadiyah
        “Pada bagian tengah ayat 40 itu ditegaskan bahwa malam
        tidak mungkin mendahului siang, yang berarti bahwa sebaliknya
        tentu siang yang mendahului malam dan malam menyusul siang.
        Ini artinya terjadinya pergantian hari adalah pada saat
        terbenamnya matahari. Saat pergantian siang ke malam atau saat
        terbenamnya matahari itu dalam fikih, menurut pandangan jumhur
        fukaha, dijadikan sebagai batas hari yang satu dengan hari
        berikutnya. Artinya hari menurut konsep fikih, sebagaimana dianut
        oleh jumhur fukaha, adalah jangka waktu sejak terbenamnya
        80 Pedoman Hisab Muhammadiyahmatahari hingga terbenamnya matahari berikut. Jadi gurub
        (terbenamnya matahari) menandai berakhirnya hari sebelumnya
        dan mulainya hari berikutnya. Apabila itu adalah pada hari terakhir
        dari suatu bulan, maka terbenamnya matahari sekaligus menandai
        berakhirnya bulan lama dan mulainya bulan baru. ”

        ulama2 sepakat pergantian hari dimulai ketika Matahari terbenam, cuman bapak yang menyalahkan,,,,,

      • Jumhur ulama berpendapat pergantian hari ketika matahari terbenam berasal dari KONSEP RUKYAT yang hanya bisa dilakukan setelah matahari terbenam. Mengapa konsep rukyat tentang pergantian hari kemudian dicampakkan dengan konsep yang tak memerlukan ketampakan hilal. Inspirasi WH dari QS 36:40 jelas keliru yang sudah saya jelaskan di https://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/

      • o iya tambahan, dari setiap postingan, tulisan, dan tanggapan bapak, sepertinya bapak belum terlalu mengerti wujudul hilal,,,, jadi hanya bisa sekedar menyalahkan

    • tdjamaluddin, on 29 Agustus 2012 at 11:46 said:
      Jumhur ulama berpendapat pergantian hari ketika matahari terbenam berasal dari KONSEP RUKYAT yang hanya bisa dilakukan setelah matahari terbenam. Mengapa konsep rukyat tentang pergantian hari kemudian dicampakkan dengan konsep yang tak memerlukan ketampakan hilal. Inspirasi WH dari QS 36:40 jelas keliru yang sudah saya jelaskan di https://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/

      tanggapan saya:
      Mengapa konsep rukyat tentang pergantian hari kemudian dicampakkan dengan konsep yang tak memerlukan ketampakan hilal???
      karena, kutip https://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/#comment-5613:
      “Lalu ayat 39 menjelaskan bahwa bulan mempunyai orbitnya sendiri sehingga menampakkan manzilah-manzilah (fase-fase bulan) dari sabit, menjadi purnama, lalu kembali menjadi sabit. Ayat itu secara tidak langsung menjelaskan tentang orbit bulan mengeliling bumi sekali dalam sebulan.”
      sudah jelaskah???

  21. Kalo saja ada software yg bs menggabungkan beberapa tehnologi, Visibilitas Hilal, Wujudul Hilal, GPS, mungkin tidak akan berlangsung lama utk wilayah semacam Indonesia, krn kondisi Indonesia sll berubah2, Alhamdulillah 1999 sy sedikit mengenal penghasil software2, semacam VB, Delphi, Foxpro, Assembler, ya lumayan, krn sy pernah jual program kasir hasil foxpro, ini contohnya, kalo saja ada software yg mampu mengubah posisinya sendiri, baru itu hebat, yg mampu membaca kondisi alam, kondisi alam tersebut terkirim melalui teknologi GPS ke software yg terfasilitasi GPS, lalu mengubah sendiri rumus yg telah dirancang oleh programmer sebelumnya, waw, rumus tersebut bs menyesuaikan diri dan berbeda2 rumus sesuai dengan wilayah seluruh dunia, terkumpul sendiri dalam software tsb, kalo software yg njenengan punya Prof, semacam itu, layak q pakai sebagai pedoman, terus terang sy belum bs membuat software gabungan dr brbagai teknologi, inilah yg membuat saya menyimpulkan ru’yah tanpa hisab tidak bs memperkirakan, dan hisab tanpa ru’yah terlalu gegabah, n q bs ambil I’tibar, ternyata manusia itu dhoif jiddan, ilmunya qolil (sedikit), oleh karena itu fastabiqul khoirot, kalo kita merasa uda cukup dgn apa yg kita yakini benar, maka banyak hal yg tidak kita sadari kesalahan kita, banyak org sll memakai accurate time n trus memakai, n ada yg trus menerus mempertahankan Wujudul Hilal n mengesampingkan ru’yah, tdk sadar ada beberapa waktu umat Islam seluruh dunia tidak sah ibadahnya krn merasa uda cukup dgn pa yg dia miliki, kecuali jk ada rasa fastabiqul khoirot, sll mencari kebenaran bukan mencari pembenaran

    • dari ungkapan anda ternyata anda juga merasa lebih baik dari pada yang lain seharusnya sebelum anda komentar anda hrs bisa menemukan sendiri teori yang tepat untuk masalah itu karena nabi meyakini hilal pada orang awam cuma sekali sedang yang lainya nabi yang menetapkan bukan begitu masbrow

      • astaghfirullah, terima kasih udah mengingatkan, sy minta maaf jk ada yg tersinggung dgn ucapan sy, jk bung sumber tahu sapa sy, tentu tdk akan percaya, ttp tdk selayaknya aq menutup diri dr kelebihan yg masing2 miliki, sy punya kelemahan banyak bung, oleh karena itu sy trus mencari tahu n belajar dr smua orang, utk bulan bulan spt ini sy santai, banyak umt Islam melakukan ibadah tepat waktu, ttp tdk awal waktu, ttp bulan Maret nnt, justru sebaliknya, banyak umat Islam seluruh dunia tidak sah ibadahnya krn mendahului waktu, semua ini terjadi krn tdk memperhatikan waktu banyak yg mengabaikan ru’yah. Di daerah saya, sy belum memberi tahu kelemahan masing-masing teori, Visibilitas Hilal, Wujudul Hilal, software-software yg berkembang, hanya segelintir org yg q kasih tahu, org2 yg lebih cenderung trus beljar dr kelemahan bukan merasa cukup dgn yg uda dia miliki, aq punya sejrah mengenaskan, aq punya alasan titik lemah mana yg dimiliki Muhammadiyah dan Prof. DR. Thomas Djamaluddin, untuk apa aq buka di sini, aq tdk mau kehilangan potensi keduanya, jk aq kehilangan potensi Prof. DR. Thomas Djamaluddin, aq bakal kehilangan org2 yg bs memperkuat teoriq, teori RPP, jk q buka di daerahq scr terbuka tentu banyak yg menghujat Beliau, ttp tdk sadar atas kelemahan pd dirinya sendiri, q biarkan agar masing2 muhasabah diri, aq jg introspeksi diri, juga membuka mata kelebihan yg ada di teori Visibilitas Hilal dan Wujudul Hilal, masing2 brpeluang untuk berkembang, tidak berkembang krn yg menangani menolak kebenaran, semoga ini tdk mengena pd diri Prof DR Thomas Djamaluddin, begitu juga aq, begitu juga Muhammadiyah,

  22. Untuk warga Muhammadiyah,
    banggalah kalian krn memiliki Ulama’ shohih, K.H. Ahmad Dahlan, jk benar beliau yg pertama kali dibetulkan adalah masalah kiblat sepulang dr Makkah, walo dlm film Sang Pencerah tdk diberikan alasan mengapa harus kiblat yg dibenarkan, ttp sy memiliki alasan kuat mengapa masalah kiblat adalah masalah sah tidaknya rukun2 setelah sholat (puasa, zakat dan haji) semoga Allah memberi pahala terus menerus mengalir pada Beliau, jk kiblat salah maka seluruh ibadah meragukan, tdk jelas, ahli yg mengerti masalah ini banyak sekali di Indonesia, setelah kiblat betul belum tentu benar secara keseluruhan jika mengabaikan masalah ru’yah,
    ada masalah yg fatal pada warga Muhammadiyah, bahkan sekelas Kyai Besar Muhammadiyah banyak yg tidak mau membetulkan kiblatnya, ini PR untuk PP Muhammadiyah, semoga ke depan umat Islam semakin baik

  23. Alhamdulillah, ada yg mo ingatkan lg, jk emang da yg memantauq n menganggap kata yg terkhir di atas trlalu pedas ataukah rencana diskusi yg trmuat di selebaran di kotaq jg trlalu pedas, sy minta maaf,
    ya latiif, ya latiif lembutkan hatiq n perkataanq,
    doakan rencana diskusi di kota ini berhasil ya, juga ukhuwahnya sukses, trims

  24. Alhamdulillah, mulai Selasa 28 Agustus 2012, akan diadakan diskusi ttg Hisab Ru’yah, Insya Allah, semoga bisa istiqomah n membawa manfaat, trnyata yg mengerti banyak juga, ttp yg membela salah satu dari keduanya lumayan banyak, acara ini terbuka untuk umum, bahkan kalo bisa yg mengikuti diskusi ini wajib memiliki maktaba shamela (berisi puluhan ribu hadis), dan ini diberikan secara gratis, diberikan scr cuma2,
    materi yang akan dikaji
    Masalah Hisab Ru’yah
    (membahas cara penentuan kiblat, penentuan waktu sholat, penentuan awal akhir bulan)
    Masalah Teori Reboisasi Padang Pasir
    (membahas masalah swa sembada pangan (saya masih ingat target Pak SBY tahun 2007, tp gagal karena cuaca ekstrem), masalah cuaca ekstrem, masalah gempa, masalah gas alam Indonesia, masalah tsunami Aceh n Jepang),
    Masalah Software
    (membahas software gabungan dari berbagai tehnologi)
    utk poin ketiga, sy masih membahas ini soft sebatas wacana, mungkin saudara2 yg ada di forum ini mampu membuat software yg sy maksud, semoga manfaat untuk umat Islam khususnya yg berada di Indonesia,
    terbuka untuk umum
    diadakan di Masjid At Taqwa, Jalan Anusopati (Depan Puskesmas Banaran Kertosono Nganjuk Jawa Timur) di adakan setiap hari ba’da maghrib,
    banyak org saat ini mengatakan waktu menentukan kiblat telah terlewatkan, namun mereka lupa kalo Allah memberi ilmu, n sy tdk memaksakan kehendak masyarakat Kertosono untuk meluruskan kiblat, sy sabar menunggu kesadaran mereka, ternyata Allah mengajari hal yg lebih dari itu, kapan saja kita bisa membetulkan kiblat, malampun bisa, Insya Allah, org yg menyukai Hisab atau Ru’yah sangat layak mengikuti diskusi ini,
    mengapa saya lebih suka mengatakan diskusi, bukan ceramah, ini bukan tempat yg dimotori oleh ahli/pakar, bisa jadi sy akan mendapat banyak ilmu dr org2 yg mau urun ilmu dalam forum ini, klo ceramah seakan2 yg pintar hanya yg bicara, padahal yg mulai mengadakan ini cuma org biasa

    • Mas Noto Nagoro, mbok sampeyan itu langsung ke permasalahannya saja. Yang jelas gitu. Anda mengklaim, menyatakan, software-software penentu jadwal shalat itu salah karena mengabaikan rukyat. Terutama bulan maret nanti. Mbok kami diberikan data yang bisa diverifikasi. Menurut pengamatan sampeyan, kalau bulan maret, jadwal sholat yang ‘seharusnya’ jam berapa dan selisihnya berapa dengan yang dari software yang ada sekarang ini.
      Terus diberitahu juga, anda menyalahkan itu berdasarkan data apa, bagaimana pengamatannya, bagaimana caranya? Orang lain bisa menggunakan cara yang sama tidak?

      Terus lagi, diskusi ilmiahnya yang di masjid itu kalau bisa direkam dan dimuat naik ke internet (youtube misalnya) supaya kami yang jauh bisa ikut mendengar dan mengomentari….

      Nuwun

      • trims sarannya,
        banyak software yg saat ni q hapus, pinnacle, sony vegas dll, krn fokus sy pengen memperdalam maktaba shamela, Insya Allah sy buatin deh dlm bentuk MP4/3gp hp 174 x 144 pixel, siapin ja, klo bsar trlalu lama nnt uploadnya, OK,
        masalah waktu sholat,
        akan lebih baik njenengan jd peneliti ja,
        itu kamsud sy sejak awal,
        teori yg berkaitan dengan hisab ru’yah tdk bisa dipisahkan dgn teori reboisasi padang pasir,
        ttg masalah penentuan waktu sholat,
        thulu’ / terbit = derajat 0 + ……
        dzuhur = derajat 90 + ……
        asyar = derajat 135 + ……
        begini bung, cara mudah untuk mengecek ketepatan ajak 2 teman anda, brarti calon peneliti ada …… (3 orang), 1 orang meneliti masjid yg kiblatnya benar, 1 orang meneliti masjid yg kiblatnya salah, lha njenengan santai aja tinggal nunggu hasil penelitian 2 teman njenengan, hehehe enak sekali sambil pegang waktu dzuhur berdasarkan accurate time, tugas dr sy, njenengan ma 2 tmen njenengan meneliti waktu dzuhur, awasi pergerakan matahari, utk hari nnt matahari terbit dr arah timur sebelah utara, OK,
        tiga hasil penelitian antum apakah sama?
        INGAT DZUHUR AJA YA!!!!,
        sy butuh analisa njenengan ja,
        ana doakan antum bertiga jadi peneliti, amiiin

    • Astaghfirullah, nasiitu, benar2 lupa, klo mo datang or mengikuti diskusi ini wajib bawa termos berisi air panas (ya tdk apa2 siapin kopi susu jahe telor teh, hehehe ambil kesempatan), termos ni nnt agar kita bs mengenal bumi yg kita tempati (ni percobaan yg mengilhami sy utk menelurkan teori Reboisasi Padang Pasir), klo uda paham, ya dipake alias diminum campur susu jahe, hehehe

      • OK, begini saja, sampeyan ini agak nyeleneh. Jadi, sampaikan saja kepada kami jadwal sholat untuk Kertosono, Nganjuk (tempat sampeyan tinggal) yang menurut sampeyan benar. Jadwal hari ini saja, biar kami bisa cek.

      • trims, tgl 28 Agustus 2012 dzuhur itu 11.07 WIB (kiblat benar), 11.26 (kiblat salah (mayoritas masjid)), dan 11.38 (accurate time), coba analisis, aq kok pengen tau analisis njenengan, hehehehe

      • Wah, mas Noto jauh banget ya…
        11.07 wib versi anda
        11.38 wib versi accurate times

        Kalau boleh tahu anda pakai Metoda apa ?… Pakai Metoda Pengamatan Langsung ?… Bagaimana caranya ?…
        Apa hubungannya Arah Kiblat yang benar / salah dengan Penetapan Waktu Dzuhur (Waktu Matahari berkulminasi) ?…

        Kalau saya lihat di situs ini :
        http://keisan.casio.com/has10/SpecExec.cgi?id=system/2006/1224682277

        Waktu Kulminasi Matahari di Nganjuk (Koordinat Alun-alun Nganjuk berdasar Google Maps : Latitude = -7.60196, Longitude = 111.90095) Tidak jauh berbeda dengan perhitungan waktu Dzuhur Accurate Times…

      • hmmmm, jadi yg perlu di teliti itu arah kiblat masjid alun2,
        ahli matematika pasti paham, waktu sholat yg arah kiblat betul itu pasti lebih dulu drpd yg arah kiblatnya salah (kebanyakan org sholat menghadap ke barat) karena perjalanan matahari akan melewati btas 90 derajat dari arah kiblat, sy buat contoh mudah, badan njenengan brbentuk balok, dada tntu menghadap kiblat, perhatikan ketika matahari meewati batas shof yg kiblatnya betul, punggung tdk akan trkena sinar matahari, muncullah bayang-bayang shg njenegan bs tentukan waktu sholat, maaf google map itu animasi?, jk animasi perlu diupdate lg, dr soal putra, skrg ini sy sedang brdiskusi dgn ahli fisika brkaitan dgn teori tumbukan perkembangan dr teori momentum, shg nnt ada kesimpulan waktu sebnarnya skrg apakah semua gempa yg trjadi bbrp tahun lalu mengubah waktu sholat?, jg mempertajam software yg akan sy buat

      • o ya , tambahan lg, dlm masalah gempa sy terus terang dr dulu ingin belajar, pengen ke Bandung, ke temen S2, jurusan meteorologi, ngga sempat krn disini punya tanggungan, my mother, mungkin Bapak Prof. or tmen2 Prof dr BMKG bs urun ilmu, tumbukan lempengan di Aceh, sempurna atau tidak?, q mau cr tau di tiga tempat, Kertosono, Jogja n Aceh, n mungkin yg ahli matematika di sini bs bersaing utk memecahkan masalah waktu yg sebnarnya, Semangat Bersaing, Prof

  25. Bapak bapak,

    Mohon penjelasan dari penganut hisab (khususnya penganut WH) : mengapa sih Ijtimak bulan tidak bisa dipakai sebagai penentu masuk bulan baru. Mengingat ijtimak bulan kan besifat pasti, tidak seperti hilal yang banyak factor anomali karena berkaitan dengan cahaya yang mampu terlihat.

    Muhammadiyah mengedepankan kepastian (kalau mengatakan rukyat hilal tidak ada kepastian), kenapa hisabnya masih memperhitungkan syarat hilal wujud (meskipun rancu apa piringan atas bulan itu adalah hilal ? ). Apa tafsir dalil untuk wujudul hilal gak bisa dipakai untuk memakai ijtimak bulan ? .

    Atau WH MD itu sebenarnya kriteria Ijtimak bulan ? karena tidak berani terang2an mengatakan memakai dasar ijtimak bulan yang tidak syar’i.

    Mohon penjelasan bapak-bapak

    • Kalau yang saya pahami,
      Kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah adalah :

      – Sebuah solusi jalan tengah antara Hisab Murni (Ijima’ Qoblal Ghurub) dengan Rukyat yang dilakukan Nabi,

      “…Apa yang dikemukakan di atas memperlihatkan bahwa hanya dua kriteria terakhir (nomor 4 dan 5) yang menjadikan keberadaan Bulan di atas ufuk sebagai syarat untuk memasuki bulan kamariah baru di samping kriteria ijtimak sebelum magrib. Sedangkan tiga kriteria penentuan awal bulan pertama tidak mensyaratkan keberadaan Bulan di atas ufuk saat matahari terbenam pada hari konjungsi. Keberadaan Bulan di atas ufuk itu penting mengingat ia adalah inti makna yang dapat disarikan dari perintah Nabi saw melakukan rukyat dan menggenapkan bulan 30 hari bila tidak dapat dilakukan rukyat. Bulan yang terlihat pastilah di atas ufuk saat matahari terbenam dan Bulan pasti berada di atas ufuk saat matahari terbenam apabila bulan kamariah berjalan digenapkan 30 hari…”
      ( Pedoman Hisab Muhammadiyah hal 24 )

      – Kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah juga adalah sebuah penafsiran dari Ulama-ulama Muhammadiyah terhadap Rukyat yang dilakukan Nabi Muhammad saw,

      Pemahaman Muhammadiyah ini bisa dilihat dari cuplikan di atas :
      “Keberadaan Bulan di atas ufuk itu penting mengingat ia adalah inti makna yang dapat disarikan dari perintah Nabi saw melakukan rukyat”

      Jadi menurut saya, ketika Metoda Rukyat Nabi ditransformasikan ke dalam angka-angka Perhitungan Hisab Astronomi, Muhammadiyah berpendapat :

      Cukuplah Transformasi itu ke dalam angka-angka Kepastian posisi Bulan di atas ufuk,
      Bukan ke dalam angka-angka Keterlihatan Bulan di atas ufuk…
      Sehingga Hasil Perhitungan hanya Piringan Atas Bulan pun di atas ufuk, itu Sudah Cukup…

      • Pak Ivan,
        mengutip keterangan pak ivan :
        “Keberadaan Bulan di atas ufuk itu penting mengingat ia adalah inti makna yang dapat disarikan dari perintah Nabi saw melakukan rukyat dan menggenapkan bulan 30 hari bila tidak dapat dilakukan rukyat”

        Padahal perintah nabi adalah hilal (bukan qamar), hilal pertama wujud adalah di bagian bawah sampai bagian tengah bulan. bila piringan atas bulan pertama kali di atas matahari maka hilal belum wujud. Awal ramadhan muhammadiyah 20 juli dengan ketinggian bulan yang sangat kecil sangat mungkin hilal belum wujud.

        Kalau ijtimak sih sudah terlampaui

      • Hilal / Crescent itu sudah terbentuk bahkan pada saat New Moon (Ijtima’) sekali pun,
        secara pada saat Ijtima’ pun Bumi-Bulan-Matahari itu tidak tepat pada satu garis lurus sehingga ada sudut yang memungkinkan sebagian sinar matahari walaupun sangat kecil terpantulkan oleh bulan menuju bumi,
        Bumi-Bulan-Matahari baru ada pada posisi satu garis lurus hanya ketika terjadi Gerhana Matahari…

        Foto New Moon Crescent :

        http://www.icoproject.org/record.html?&l=en

        Kalau kemudian ditanya mengapa nama Kriteria nya memakai nama “Hilal” sedangkan yang diukur ternyata si “Qomar” ?… 🙂

        Saya hanya bisa memahaminya seperti ini :
        Si “Hilal” itu kan penampakan nya, sedangkan wujud asli nya adalah si “Qomar”, maka dalam perhitungan Hisab Astronominya yang dihitung itu adalah Wujud Aslinya…

        _______________

        Menurut saya, bila yang kita inginkan bersama adalah :
        Adanya Kesatuan Kalender Hijriyah,

        Maka tidak perlulah kita mempermasalahkan kriteria Hisab yang dipegang suatu ormas itu Syar’i atau Bukan,
        Sebab bila ini yang terjadi, yang dituduh tidak Syar’i akan sengit membela diri…

        Tidak ada bedanya bila kita menuduh yang tahlilan Tidak Syar’i, maka yang Tahlilan akan sengit membela diri,
        Padahal bila kita bandingkan antara Masalah Tahlilan dan Masalah Kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah, Tahlilan itu pada kenyataan nya cenderung menyusahkan (terkadang keluarga yang meninggal sampai hutang sana sini) sedangkan Kriteria Wujudul Hilal cenderung mempermudah (bila dibandingkan dengan Kriteria Imkan Rukyat, apalagi dengan Metoda menunggu Laporan Rukyat)

        Kriteria Imkan Rukyat yang benar-benar akurat akan membutuhkan lebih banyak parameter selain Tinggi Hilal, Elongasi dan Umur Bulan.
        Kriteria IR Akurat juga membutuhkan data laporan Hilal yang harus ada bukti rekaman visualnya, bukan sekedar laporan lisan atau tulisan saja.
        Belum lagi faktor Cahaya Senja / Syafak yang belum bisa ditransformasikan ke dalam angka-angka yang tepat agar bisa dimasukkan ke dalam perhitungan keterlihatan hilal…

        Kriteria IR yang benar-benar Akurat akan sangat lebih sulit ditentukan daripada Kriteria WH yang benar-benar Akurat…
        Kriteria WH yang benar-benar Akurat akan sangat mudah diuji keakuratannya, tinggal diuji saja Metoda Perhitungan Hisab Astronomi nya dengan menghitung Gerhana Bulan / Matahari yang akan atau sedang terjadi kemudian bandingkan…

        .

        Namun terlepas dari itu semua, sebetulnya yang paling penting di sini adalah Kesepakatan yang bisa diterima oleh semua pihak untuk menggunakan suatu Kriteria Hisab Yang sama…

        Sebab pada akhirnya Penetapan Sebuah Penanggalan (termasuk Hari, Tanggal, Garis Batas Hari / Tanggal Internasional) itu adalah Hasil Kesepakatan antar orang / negara / wilayah yang mempunyai kepentingan yang sama)

        Kesepakatan yang benar-benar bisa mudah diaplikasikan di seluruh penjuru dunia,
        Bukan Kesepakatan Internasional seperti yang terjadi selama ini, yang bagus di Atas Kertas tapi akan bikin sulit di lapangan,
        Sehingga akhirnya tetap saja mengkondisikan umat Islam di berbagai negara mempunyai kalender Hijriyah yang berbeda, Kalau sudah begini otomatis antar Ormas / Instansi pun akan berbeda-beda juga seperti sekarang…

      • Benar pak Ivan, sangat paham bahwa saat ijtimak ada sudut (kecuali saat gerhana matahari total), dan ini berarti hilal terus ada gak pernah hilang (kalau hilal diartikan bagian bulan spt pak ivan).

        Terus apa relevansinya kriteria menghitung bagian bulan atas pada WH, kan hilal wujud terus tuh.

        Diuraikan juga kesulitan menghitung IR, pak thomas sudah menguraikan di atas sudah tersedia software/aplikasi-nya sehingga mudah di hitung.
        Toh hitung-hitungan menentukan WH juga bagi orang bukan ahli hisab juga terhitung rumit (bukan hitung2 penjumlahan, pengurangan – ref : pedoman hisab MD 2009)

        Sutuju pak ivan yang penting penyatuan kalender islam mau WH, hisab IR, rukyat hilal atau jalan tengah seluruh ulama berijtihat.

        Masalah tahlil, setuju pak ivan byk orung hutang utk acara tahlil jadi harus di beri contoh ga usah hutang, ga usah acara meriah/mewah, tapi jangan tahlil/yasinan di hilangkan soalnya banyak manfaat utk syiar islam persatuan seperti halnya tabligh, pengajian.

    • Hitungan posisi bulan secara hisab adalah pasti, dalam arti bisa dihitung dengan angka tunggal atau dalam rentang dengan tingkat kepercayaan tertenyu. Ijtimak adalah saat bujur ekliptika bulan = bujur ekliptika matahari. Saat itu sama pastinya (secara hisab) dengan posisi bulan pada ketinggian tertentu (tepatnya pada koordinat tertentu, lintang dan bujur ekliptika tertentu). Artinya, kepastian ijtimak sama derajatnya dengan kepastian tinggi bulan sekian derajat.

      Masalah utama dalam penentuan awal bulan adalah BATASAN mana yang akan diambil. Nah, itu dikaitkan dengan dalil syar’i. WH juga mengaitkan dengan dalil-dalil, termasuk menggunakan batasan saat maghrib karena saat itulah jumhur ulama mendefinisikam awal hari saat rukyatul hilal dilakukan. Yang menjadi masalah adalah ketika mencari pembenaran WH dengan menggunakan dalil QS 36:40. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/

      Dengan hasil hisab yang sama pastinya berupa ketinggian hilal tertentu, kita juga bisa menggunakan batasan minimal yang memungkinkan rukyat. Itu yang dinamakan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal).

      • Mengutip penjelasan Pedoman Hisab Muhammadiyah, penggunaan 36:39-40 bukan satu-satunya dasar bagaimana kriteria wujudul hilal diformasikan, tetap memposisikannya lebih kepada “sumber inspirasi.”

        Penyimpulan tiga kriteria di atas dilakukan secara komprehensif dan interkonektif, artinya difahami tidak semata dari ayat 39 dan 40 surat Ya Sin an sich, melainkan dihubungkan dengan ayat, hadis dan konsep fikih lainnya serta dibantu ilmu astronomi. … Apa kriterianya? Ayat 39 dan 40 surat Ya Sin ini dapat menjadi sumber inspirasi untuk menentukan kriteria bulan baru tersebut.

        [1]

        Pak Djamaluddin boleh tidak setuju dengan penafsiran ayat 36:39-40, tetapi saya tidak bisa melihat kebenaran objektif dari hanya keyakinan subjektif terhadap penafsiran ayat menurut apa yang diinginkannya. Kalau Pak Djamaluddin mau jujur, seharusnya Pak Djamaluddin bisa melihat, bahwa tanpa mengentahui adanya fakta-fakta astronomi yang melawannya, sebenarnya Alquran memberi gambaran astronomi mengenai peredaran matahari, bumi, dan bulan secara kurang akurat. Contohnya, ulama sekaliber Syaikh Ibn Uthaymin berpendapat bahwa menurut Alquran, adalah matahari yang berputar mengelilingi bumi [2]. Dan saya yakin beliau lebih paham Alquran dibanding Pak Djamaluddin, kecuali tentang hal bahwa bumi mengelilingi matahari adalah fakta yang tidak terbantahkan. Dan sekali lagi saya ingin menandaskan, menafsirkan peredaran matahari dalam ayat-ayat Alquran sebagai peredaran terhadap orbit yang mengelilingi pusat galaksi bukan sebuah obat mujarab yang bisa menyelesaikan permasalahan penafsiran semua ayat-ayat tersebut, apalagi menjadikannya satu-satunya penafsiran yang dianggap paling benar (dan menjadikannya dasar untuk menyalahkan penafsiran pihak lain).

        [1] Pedoman Hisab Muhammadiyah, hal. 79
        [2] http://wilayat.net/index.php/en/islam/52-aqaid/312-salafi-shaykh-ibn-uthaymin-the-sun-revolves-around-the-earth

      • Menurut saya,
        Dalam berusaha untuk memahami (menafsirkan) ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan Sains (Iptek), yang kita lakukan adalah :

        Sinkronisasi Ayat Al Quran dan Petunjuk (Hadist) Nabi dengan Logika Akal Sehat berdasarkan Iptek sebatas yang manusia miliki…
        Sinkronisasi yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan Sinkronisasi Akal-akalan / Asal-asalan Hanya biar Al Quran kelihatan Ilmiah…

        Al Quran itu diturunkan dan Alam Semesta (beserta isinya dan hukum-hukum alamnya) itu diciptakan, adalah oleh Sesuatu Yang Sama,
        Yaitu Alloh swt, Sang Maha Pencipta dan Pemelihara Alam semesta…

        Jadi apabila Pemahaman kita terhadap Al Quran (dalam hal ini ayat-ayat yang terkait Sains) adalah Benar Sesuai dengan apa yang Ingin Disampaikan Oleh Alloh swt, maka Pemahaman kita itu Akan Sinkron dengan Fakta yang terjadi di alam…

        .

        QS 36:40 itu sepertinya akan lebih mudah dipahami bila mulai dari ayat 37 :

        37. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan,
        38. dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
        39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.
        40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
        (QS Ya Sin (36) : 37-40)

        .

        Bila kita lihat dari Ayat 37 s.d 40,
        Bisa kita simpulkan bahwa Peredaran Bulan dan Matahari yang disampaikan oleh Alloh swt di sini adalah :

        PEREDARAN (pergerakan / perjalanan) Bulan dan Matahari BERDASARKAN APA YANG TERAMATI OLEH MANUSIA DI BUMI (Bukan berdasarkan Fakta Astronomi yang dimaksudkan oleh pak Thomas),
        yang berakibat kepada :

        – Terjadinya siang dan malam
        ===> ini adalah akibat dari Pergerakan Semu Matahari mengeliling Bumi, yang sebenarnya menurut Sains bumi lah yang mengelilingi matahari.

        – Bentuk bulan yang selalu berubah-ubah
        ===> ini adalah Penampakan bentuk bulan yang teramati dari bumi, yang sebenarnya menurut Sains bulan tidak berubah bentuk, tetap bulat tidak mengempis dan mengembung. 🙂

        .

        Kesimpulan :
        Sah-sah saja Muhammadiyah menggunakan apa yang dipahaminya mengenai QS 36:40 itu menjadi sumber inspirasi kriteria awal bulannya,

        Sebab ayat tsb (dan termasuk ayat-ayat yang lain seperti QS 2:258; 6:78; 7:54; 18:17; 21:33; 39:5; 91:1-2 seperti yang terdapat dalam Link yang disampaikan pak Agus)
        Sedang membicarakan Pergerakan Semu Matahari mengeliling Bumi (lebih jauhnya, Pergerakan dan Penampakan benda langit yang teramati oleh manusia di Bumi),
        Bukan sedang membicarakan fakta astronomi yang terjadi…

      • @Pak Ivan,
        Itu juga yang saya ajukan kepada Pak Djamaluddin di tempat yang lain. Hanya sayangnya seperti biasa kalau sudah di level seperti ini Pak Djamaluddin berhenti berargumentasi (baca: melarikan diri) meskipun kemudian argumentasi yang sama persis diulang lagi di tempat yang lain lagi. Seakan-akan Pak Djamaluddin menganggap semua orang yang meninggalkan komentar di blog beliau adalah nyamuk-nyamuk yang tidak pantas memberi argumentasi yang selevel seorang profesor (riset). Paling tidak itu yang saya rasakan dari setahun lebih mengamati blog ini, tapi semoga saja tidak demikian.

  26. @ Arif coba lihat : http://rukyatulhilal.org/
    Inilah isi ringkas Menurut Kriteria Hisab Wujudul Hilal

    Muhammadiyah dalam penyusunan kalender Hijriyah baik untuk keperluan sosial maupun ibadahnya (Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah) menggunakan kriteria yang dinamakan “Hisab Hakiki Wujudul Hilal”. Kriteria ini menyatakan bahwa awal bulan Hijriyah dimulai apabila telah terpenuhi tiga kriteria berikut:
    1) telah terjadi ijtimak (konjungsi),
    2) ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
    3) pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud). Ketiga kriteria ini penggunaannya adalah secara kumulatif, dalam arti ketiganya harus terpenuhi sekaligus. Apabila salah satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai. Atau dalam bahasa sederhanya dapat diterjemahkan sebagai berikut:

    “Jika setelah terjadi ijtimak, Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian Bulan saat Matahari terbenam”.
    Berdasarkan posisi hilal saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal baru terpenuhi pada Sabtu, 18 Agustus 2012 @ Sunset, sehingga awal bulan ditetapkan jatuh pada :
    Ahad, 19 Agustus 2012

    Menurut Kriteria Rukyat Hilal Arab Saudi
    Kurangnya pengetahuan tentang astronomi yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut “Hilal”. Klaim terhadap kenampakan hilal perukyat pada saat hilal masih berada di bawah “limit visibilitas” atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang “mustahil”.

    Saudi memiliki kalender resmi yang dinamakan kalender Ummul Qura. Kalender ini telah berkali-kali mengganti kriterianya dan diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk keperluan ibadah khususnya penetapan awal dan akhir Ramadhan serta awal Zulhijjah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi khususnya Teori Visibilitas Hilal. Dan sudah bisa ditebak jika laporan rukyat masih sesuai Kalender Ummul Qura maka dianggap sah.

    Diagram ketinggian Hilal di Mekkah pada hari pertama ijtimak.

    Menurut Kalender Ummul Qura Saudi :

    Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non-ibadah. Kriteria yang digunakan adalah “Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah” maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari pertama ijtimak (17/8) posisi hilal masih di bawah ufuk sehingga belum memenuhi syarat. Dengan demikian awal bulan jatuh pada : Ahad, 19 Agustus 2012.

    Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :

    Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana “Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut”.

    Berdasarkan kalender Ummul Qura, rukyat di Saudi dilaksanakan pada Jumaat, 17 Agustus 2012. Namun melihat posisi dan kedudukan hilal saat itu secara sains mustahil hilal dapat dirukyat karena di Saudi hilal masih di bawah ufuk pada hari pelaksanaan rukyat tersebut. Sehingga bisa dipastikan tidak akan ada yang berhasil rukyat sehingga awal bulan akan jatuh pada : Ahad, 19 Agustus 2012.

    Namun jika ternyata ada laporan rukyat berhasil maka kesaksian tersebut tidak akan diterima karena tidak sesuai dengan kalender Ummul Qura, dengan demikian awal bulan tetap akan jatuh pada: Ahad, 19 Agustus 2012.

    • Pak syaiful,

      Itsbat saudi menolak rukyat yang kurang dari kalender ummul quro, sama dong dengan itsbat indonesia yang menolak rukyat yang kurang dari 2 derajat.

      Klo hisab masih patokan hilal, kriteria IR adalah lebih dekat ke syar’i daripada WH.

      Kenapa MD gak berpatokan ke ijtimak bulan saja (klo emoh dengan rukyat), tafsir dalil WH apa menyimpang jika digunakan untuk awal bulan dengan konjungsi bulan ? .

      • Pak Arif,
        klo tau, Wujudul Hilal akan tetap eksis jk tetap memakai standar
        “Jika setelah terjadi ijtimak, Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian Bulan saat Matahari terbenam”.
        sayang keeksisan WH akan dipatahkan gara2 sepele, kedustaan bumi, mk hal yg paling mudah WH harus mengubah sedikit kedustaan bumi menjadi kelogisan bumi, begitupun Visibilitas Hilal akan tetap eksis jk mengerti apa maunya bumi,
        ini masih belajar berpuisi

    • jika hisab diletakkan pada tempat yg benar maka apapun letak matahari, bulan akan tepat jika diru’yah, enaknya klo hisab benar, mk hadis Nabi ketika memperkirakan pada waktu yg sulit diru’yah semacam tertutup mendung

  27. subhanallah aq kejebak ma guruq SD,
    Waalaikum slm. Islam artinya pasrah. Artinya tunduk dan patuh pd ALL
    langsung q balas sms Beliau, injeh leres pak,
    ehhh ada sms sama,
    Waalaikum slm. Islam artinya pasrah. Artinya tunduk dan patuh pd ALLah dan rasul. Artinya bila kita diperintah Allah untuk rukyah ya laksanakan saja karena itu petunjuk wahyu. Itu jika masih Islam. Kalau rujukannya sudah teknologi bukan wahyu. Ya lakum dinukum waliyadin.
    doakan semoga aq bisa menampung semuanya

  28. aq sangat tertarik masuk ke sains kebumian n sains Al Qur’an di blog ini, subhanallah, jk ini membawa manfaat ke depan Insya Allah Prof. DR. Thomas Djamaluddin akan mendapat pahala terus menerus dr org2 yg mengamalkan, semangat bersaing Prof. yuuuuuk

  29. Saya ucapkan terima kasih pada pak prof. dengan adanya blog ini, banyak yang saya pertanyakan selama ini terungkan dari hasil diskusi. disinilah konsep PERBEDAAN PENDAPAT ADALAH RAHMAT

    sebagai kesimpulan saya, memang sulit kita diskusikan mengenai hisab dan hilal, karena tuan rumah memang PRO pada HILAL, sementara banyak peserta diskusi PRO pada HISAB. pak prof menggunaan hisab untuk mendukung HILAL, jadi HILAL HARUS dilakukan, dan untuk melakukan HILAL menggunakan bantuan HISAB.

    Sementara umumnya peserta diskusi sebenarnya menginginkan HILAL setara dengan HISAB (ketika hilal tidak bisa, maka berdasar pada HISAB) bahkan Extrimnya, HISAB dulu baru menggunakan HILAL untuk membuktikan secara kasat mata, dan manakala tidak bisa HILAL, maka HISABLAH yang diberlakukan.

    Sebenarnya disitulah letak perbedaan pemerintah Vs Muhammadiyah (maaf) dan karena itulah juga Muhammadiyah merasa tidak perlu hadir.

    Jadi baiknya sebenarnya untuk menyatukan umat harus disepakati HISAB – HILAL ataukah HILAL-HISAB ataukah HISAB ketika HILAL tidak wujud.

    HILAL dulu baru HISAB alamat umat tetap terpecah. dan sebagai orang matematika saya PRO pada HISAB.

  30. Astaghfirullah, q kira akan lebih bijak sdara syarif, melihat posisi dan waktu kita sholat saat ini contohnya, jika bs di awal waktu, maka kesimpulannya njenengan bs pake hisab – hilal, jika meleset, tolong dipertimbangkan lg nilai ru’yah baru hisab, sebenarnya hisab dan ru’yah itu saling melengkapi, saling memperkuat,
    jangan bilang2 ya sebenarnya smuanya pake hisab lho, entah yg berpedoman ru’yah maupun hisab, lihat ja smua pake kalender yg tdk jauh beda spt yg dipake Odeh, knp saling caci maki, udah lah sob,
    skrg tdk kita sadari, mrk (asing) bersenang2 melihat kita saling mencaci, sedangkan mrk asyik menikmati kekayaan alam negeri ini, dan peliharaannya memang disetting tdk tau menahu dgn keserakahan tuannya, klo umat Islam yg melakukan perlawanan sj, uda kompak aja tuh antara peliharaan dan media, smg peliharaan dan media sadar bahwa Indonesia adalah negerinya bukan AS,
    aq kok curiga, Juli 2005 aq memprediksi akan adanya cuaca sagat ekstrim di AS, n prediksiq bnar terbukti, itu artinya teori RPP sangat diperhitungkan apakah mampu memberi solusi bagi negara tsb, kenyataannya TIDAK, knp? krn teori ini akan jg membongkar sapa di balik tsunami Aceh dan Jepang, aq yakin jk smua cermat bakal mengerti, aq curiga di negeri tsb juga ada kepentingan besar bukan kemaslahatan negeri Paman Syam ttp justru untuk kepentingan kelompok, n hanya org2 ttt saja yg tau

    • ada berbagai info yg brkembang, aq nilai ada kejanggalan, makanya tdk q kometari, agak lucu saja

  31. Apakah ada bukti empiris/kalkulasi bahwa hilal sudah wujud ketika bagian atas bulan sudah di atas ufuk ketika matahari tenggelam, ataukah hanya secara logika saja karena sudah ada sudut antara pusat bulan dengan pusat matahari ?

    Apakah sesaat setelah konjungsi tapi bulan tenggelam bersamaan dengan matahari secara logika juga hilal sudah wujud ?

    • klo bumi diciptakan utk tdk brubah bentuk dan posisi, wujudul hilal akan sangat layak dipakai, sayang bumi bukan hanya berubah posisi ttp juga yg lebih parah berubah bentuknya, ktk bulan agak lambat sedikit tenggelam dr matahari menurut prhitungan lama, contohnya perhitungan +0,1 derajat, tentu sangat gegabah langsung memutuskannya, khawatirnya justru perhitungan sebnarnya adl -0,1 derajat, mengapa begitu, njenengan pernah dengar analis dr pakar Brazil yg mengatakan samudra atlantis itu kemungkinan Indonesia, pernyataan Beliau sangat membantu teoriq, memperkuat teori Reboisasi Padang Pasir yg menyatakan juga lempengan bumi yg ditempati cincin api semakin lama semakin tinggi. semoga WH ke depan semakin berkembang dan terus layak dipakai, apa salahnya tdk mengabaikan ru’yah sementara, ktk hisab benar, tentu seseorg meru’yat akan sangat mudah, n tdk mungkin hisab n ru’yat berseberangan, keduanya saling memperkuat

    • Tingkat Kecerahan (Magnitudo) Bulan pada saat New Moon (Ijtima) pun LEBIH BESAR DARI Tingkat Kecerahan Bintang Teredup yang masih dapat terlihat mata telanjang manusia…

      – Bintang Terredup yang masih terlihat, Magnitudo = 6
      – Kecerahan Minimal New Moon, Magniudo = -2,5
      ( http://en.wikipedia.org/wiki/Apparent_magnitude )

      Untuk melihat perhitungan magnitudo bulan real time, bisa dilihat di Software Stellarium…

      .

      Seperti yang sudah banyak disampaikan oleh pihak Kubu WH,
      Kriteria Wujudul Hilal adalah Kriteria yang berdasarkan pada Posisi Bulan (Manzilah Bulan) bukan pada keterlihatan Bulan (Visibilitas Hilal)…

      Ada Perbedaan Konsep Terbit Hilal Tgl 1 antara Kriteria WH dengan IR :

      – Konsep Wujudul Hilal Muhammadiyah :
      Hilal Tanda Tgl 1 dikatakan SUDAH TERBIT apabila Posisi Bulan (Qomar) SUDAH DI ATAS UFUK pada saat Magrib.

      – Konsep Imkanur Rukyat :
      Hilal Tanda Tgl 1 dikatakan SUDAH TERBIT apabila Posisi Bulan (Qomar) SUDAH TERLIHAT pada saat Magrib.

      Kalau menurut saya, antara :
      – Konsep Terbit berdasarkan Manzilah (Posisi) Bulan Terhadap Ufuk, dengan
      – Konsep Terbit berdasarkan Keterlihatan Bulan…

      Lebih cocok Konsep yang pertama… 🙂
      Matahari tetap dikatakan Telah Terbit atau Telah Terbenam walaupun tidak terlihat karena Tertutup awan…
      .

      Kalau kemudian “dikejar” Masalah Penamaan Istilah,
      memakai kata Hilal tapi yang diukur si “Qomar”, jawabannya adalah Hilal itu “Penampakan nya” sedang Wujud Aslinya adalah si “Qomar”, maka yang dihitung itu adalah Wujud Asli nya…

      Kalau kemudian “dikejar” lagi dengan dihubung-hubungkan dengan Rukyat Nabi, maka Jawaban sudah sering diberikan oleh kubu WH, yaitu :

      Rukyat yang dilakukan Nabi adalah Metoda satu-satunya yang dimiliki umat Islam pada zaman Nabi untuk memastikan Bulan sudah memasuki Penanggalan Bulan Baru,
      Sehingga Visibilitas Hilal bukanlah Syarat Bulan sudah masuk Penanggalan Bulan Baru…
      Terbukti dengan Kriteria-kriteria Hisab yang digunakan Umat Islam terdahulu menggunakan Kriteria yang tidak memakai Kriteria Imkan Rukyat semacam :
      Kriteria Ijtima Qoblal Ghurub dan Kriteria Moonset Setelah Sunset…

      .

      Kalau menurut saya, bila kita ingin Kesatuan Kriteria Awal Bulan Kalender Hijriyah…
      Tidak perlu lah kita mengatakan Kriteria yang digunakan orang lain sebagai Kriteria Usang / Tidak Syar’i dsb… Sebab itu justru akan KontraProduktif dengan Tujuan Semula…

      Ada ruang bagi Kesepakatan yang dibuat manusia dalam Penetapan Kalender Hijriyah…
      Contohnya Kriteria Mabims saja yang merupakan KRITERIA IIMKAN RUKYATAN ( Imkan Rukyat “Seolah-olah” ), Bila sudah dijadikan Kesepakatan ternyata BISA DIJADIKAN DASAR HUKUM PENETAPAN AWAL BULAN yang bisa diterima oleh Kubu Pengguna Rukyat yang selama ini belum bisa menerima Konsep WH…

      • Kalau sesaat terjadi ijtimak tetapi bulan tenggelam bersama matahari maka WH menyatakan belum bulan baru (apakah ada suatu kondisi ijtimak qabla ghurub, tetapi bulan bersamaan terbenam dg matahari ??), padahal “si qamar” sudah wujud (secara logika).

        Kalau di tanya WH kenapa ada kriteria qamar harus tenggelam sebelum matahari, saya menduga jawabnya : biar lebih dekat ke kriteria hilal secara syar’i (jadi ga konsisten dengan kriteria wujudul qamar).
        Kenapa gak sekalian ikut kriteria IR kalau demi persatuan umat.

      • Mas, mengapa berpikirnya menyulitkan diri sendiri ?… Seperti Bani Israel zaman Nabi Musa as yang terus-terusan bertanya “Sapi yang bagaimana ?… Sapi yang bagaimana ?…”

        Sama seperti ini “Hilal yang bagaimana ?… Hilal yang bagaimana ?… Bagaimana kalau Posisi Hilal begini ?… Bagaimana kalau Posisi Hilal begitu ?…”

        Sebutkan saja tanggal berapa terjadinya kondisi “Rumit” seperti di atas itu REAL nya… Baru kita bisa mencari solusi yang terbaik untuk Kasus tersebut…

        Dengan kondisi sekarang, Bila bertanya kepada Kubu Muhammadiyah mengapa tidak mau ikut Kriteria IR, maka pertanyaan yang sama pun akan ada pada Kubu IR :
        “Mengapa tidak mau ikut Kriteria WH ?…”

        Saya tanya ke Mas Arif :
        “Itu Kriteria Mabims, menurut Mas Arif… Apakah Kriteria Imkan Rukyat Beneran atau Kriteria Imkan Rukyat Boong-boongan ?…” 🙂

        .

        Enaknya kita yang bebas dibandingkan dengan Perwakilan Instansi / Ormas yang cenderung lebih terikat, adalah kita bisa cepat untuk merubah pendapat kita…

        Muhammadiyah, Lapan, NU, Persis dll akan cenderung hati-hati untuk cepat-cepat merubah kriteria yang selama ini diusungnya, sebab terkadang ini menyangkut masalah kredibilitas juga, Suatu Ormas / Instansi tentunya tidak ingin dicap sebagai orang gampang berubah pendirian…
        Walaupun sebenarnya merubah Pendapat itu kan tidak haram dan bukan pula hal yang memalukan… Imam Syafii saja tidak malu merubah Ijtihad Beliau, makanya kita mengenal ada Qoul Qodim dan Qoul Jadid…

        .

        Terus terang, saya pribadi sebenarnya terbuka untuk semua Kriteria Awal Bulan yang jelas pengambilan dasar kriteria nya…

        Mau Sedunia menyepakati Kriteria WH Muhammadiyah hayu, mau Kriteria WH Ummul Quro hayu, mau Iimkan Rukyatan hayu, mau Imkan Rukyat beneran hayu, mau Kriteria ihtiyat hayu…

        Yang penting Kesepakatan yang dibuat adalah Kesepakatan yang komprehensif, yang menghasilkan Kalender Hijriyah yang bersifat Global Internasional yang bisa digunakan untuk segala keperluan seluruh umat Islam (Tidak menutup kemungkinan umat yang lain) di Planet Bumi ini dari Mulai 180° Bujur Timur sd 180° Bujur Barat, dari mulai Khatulistiwa sd Kutub, dari mulai kita yang menginjak tanah sd para astronot yang sedang ada di stasiun luar angkasa, Kalender Hijriyah yang sama hari dan tanggalnya di seluruh alam semesta…

        Selain Masalah Kriteria WH / IR, Masalah Matlak Lokal / Global juga adalah Masalah dalam Penyatuan Kalender Hijriyah Global…
        Selama yang digunakan adalah Matlak-matlak Lokal / Nasional, maka Penyatuan Kalender Hijriyah Global tidak akan pernah ada, otomatis antar Ormas / Instansi pada sebuah negara pun (seperti di Indonesia) akan tetap berbeda-beda seperti sekarang…

      • saya awam mas dan gamang mana yang benar.

        Tentunya diatas segalanya adalah menghormati keyakinan masing2.
        tapi tentunya pasti ada yang paling benar dan ihtiar harus dilakukan untuk persatuan (ini yg coba saya mengerti dari pendapat pak thomas yg sarcasm).

        kriteria mabim IR bo’ong bo’ongan yg bagaimana, bisa dijelaskan mas

      • @ Ivan : Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang Ummi ( tidak bisa tulis baca ) namun Wahyu Alloh telah membekali Nabi SAW dengan ilmu astronomi walau secara global dengan sabda beliau bahwa mengawali Puasa dengan melihat Hilal dan mengawali Hari Raya dengan melihat Hilal selanjutnya apabila Hilal terhalang supaya menyempurnakan akhir bulan menjadi 30 hari, jadi menurut saya bahwa sebenarnya sabda Nabi SAW inilah yang mengisyaratkan kepada umatnya untuk terus menerus mengamati/memantau ( observasi-meneliti ) hilal dimana hasil pengamatan/pantauan itu sebagai bahan evaluasi yang kemudian oleh ahli ilmu falak/astronomi hasil pengamatan yang terus menerus itu kemudian dirumuskan sebagai dasar perhitungan/hisab, disinilah sebenarnya embrio/cikal bakal ilmu falak/astronomi Islami ini dimulai terutama yang berkaitan dengan ibadah , saya sebagai orang yang awam dengan ilmu falak sudah lama sempat dibingungkan dengan penetapan Puasa dan hari Raya oleh Pemerintah mulai jaman mendiang Pak Harto, yang kadang tidak ada kesamaan dengan Ormas Islam Baik oleh NU Maupun Muhammadiyah namun sejak dulu saya memang lebih condong penentuan awal bulan itu dengan ru’ya berdasarkan referensi sabda Nabi SAW tersebut diatas, Khususnya kaidah yg paling mendasar adalah Sabda Nabi yg mengatakan apabila terhalang sempurnakanlah akhir bulan menjadi 30 hari, inilah sifat kehati-hatian Nabi SAW dalam beribadah yang senantiasa dibimbing oleh Wahyu Alloh tersebut, inilah sebenarnya PR umat Islam khususnya para ahli ilmu falak/astronomi yang memang harus terus menerus melakukan observasi-penelitian dari tahun ke tahun guna mengoreksi hasil perhitungan tersebut, karena menurut saya Manusia Pencari Ilmu, Baik itu Ulama’ ataupun Ilmuwan itu dibimbing oleh observasi/penelitihan sedang Nabi dibimbing oleh Wahyu Alloh

      • @mas Arif,

        Visibilitas Hilal menurut Dr. Mohammad Ilyas, astronom dari Malaysia.
        Berdasarkan hasil observasinya selama bertahun-tahun menyimpulkan bahwa ada hubungan antara beda azimuth matahari dan bulan dengan tinggi hilal yang mungkin dirukyat, seperti ini :

        Beda azimuth Bulan dan Matahari = 0°, maka tinggi minimal hilal dapat terlihat = 10,5°
        Beda azimuth Bulan dan Matahari = 10°, maka tinggi minimal hilal dapat terlihat = 9,2°
        Beda azimuth Bulan dan Matahari = 20°, maka tinggi minimal hilal dapat terlihat = 6,4°
        Beda azimuth Bulan dan Matahari = 30°, maka tinggi minimal hilal dapat terlihat = 4,5°
        Beda azimuth Bulan dan Matahari = 40°, maka tinggi minimal hilal dapat terlihat = 4,2°
        Beda azimuth Bulan dan Matahari = 60°, maka tinggi minimal hilal dapat terlihat = 4,0°

        Bisa dilihat dari hasil observasi yang dari Dr. Mohammad Ilyas di atas, tidak pernah Hilal yang tingginya di bawah 4,0° bisa terlihat…
        BAHKAN BISA BUTUH 10,5° bila beda Beda azimuth Bulan dan Matahari = 0° !…

        Laporan Hilal selama ini kebanyakannya adalah Laporan yang sangat bersifat Subjektif, Tidak ada Bukti Pendukung lain kecuali hanya kepercayaan kita kepada Saksi saja… Termasuk Laporan Hilal tahun 1970an yang dijadikan Standar Angka Mabims…

        Pada akhirnya masalah Penetapan Awal Bulan Hijriyah itu adalah masalah keyakinan pada sesuatu hal yang dianggap benar, contohnya Kriteria Mabims ini…
        Bahkan Juga dicontohkan oleh Nabi yang menerima Laporan Hilal dari Rombongan Kafilah yang baru datang pada saat siang yang dianggap masih tgl 30 Ramadhan, Nabi Muhammad saw langsung membatalkan Puasa pada hari tersebut adalah Atas Dasar Keyakinan…

        Keyakinan kepada Kriteria Mabims dan keyakinan yang dicontohkan Nabi di atas Tidak ada bedanya bila kita menyakini bahwa :
        Posisi Hilal (Wujud Aslinya) hanya sedikit di atas ufuk pun setelah Ijtima terjadi, adalah artinya bulan sudah masuk Manzilah Tanggal 1 (Awal Bulan)…

        .

        Saya juga bukan Pakar Astronomi mas, saya hanya orang Islam biasa yang sangat ingin ada kesatuan Kalender Hijriyah Global…

        Penetapan Penanggalan Hijriyah itu jangan disamakan dengan Penetapan Jadwal Shalat,
        – Penetapan Penanggalan Hijriyah bersifat Global
        – Penetapan Jadwal Shalat bersifat Lokal

        Dalam masalah Kalender Hijriyah ini, Saya selalu memposisikan diri sebagai “Konsumen”, orang yang nantinya akan mempergunakan “Produk” Kalender Hijriyah yang sedang didiskusikan ini sebagai Kalender Sehari-hari untuk segala keperluan di wilayah mana pun di planet bumi ini…

        Terus terang sebagai Konsumen, saya selalu tidak habis pikir mengapa selama ini Pakar-pakar Pembuat Produk ini (para Ulama dan Ahli Hisab / Astronomi) tidak pernah bisa membuat Produk Kalender Hijriyah yang masuk akal untuk digunakan, Malah bikin produk “Aneh-aneh” yang hanya akan bikin sulit hidup saja…

        Contoh Produk yang hanya akan bikin sulit :
        – Kalender Hijriyah Global dengan Batas Penanggalan yang berubah-ubah berdasarkan Garis Visibilitas Hilal…
        – Kalender Hijriyah Dadakan Bulanan, sebab Penetapan Awal Bulan harus selalu menunggu konfirmasi laporan rukyat…
        – Kalender Hijriyah yang tiap negara beda-beda…

        Sebagai konsumen, saya bisa memprediksikan Produk ini akan Gagal di pasaran, Orang akan berpikir ribuan kali untuk menggunakan produk ini…
        Kalau produknya gagal di pasaran maka Pabriknya akan mengalami kerugian, malah bisa-bisa bangkrut… 🙂

      • betul sekali mas Syaiful, saya setuju dgn njenengan, sy mo tanya njenengan klo sholat pake hisab ato ru’yah?

      • Thanks pak ivan penjelasannya

    • saudara Arif, maaffff,
      bagian atas bulan atau bagian bawah bulan?

      • kritera WH : bulan tenggelam setelah matahari tenggelam

      • ya itu betul betul sekali, yg jd pernyataan njenengan “hilal sudah wujud ketika bagian atas bulan sudah di atas ufuk ketika matahari tenggelam” q agak bingung, krn klo bagian atas bulan di atas ufuk, hilal sekecil apapun tdk akan trlihat, coba deh saudara Arif pelajari pernyataan njenengan, sekali2 kembali belajar ilmu fisika, klo pernyataan njenengan spt itu, jdnya bulan terlebih dulu tenggelam drpd matahari

      • afwan, ato sama2 tenggelam

      • Itu pak yang saya tanyakan.

        apakah hilal sudah wujud (ada bukti empiris/kalkulasi), bila piringan atas bulan sedikit saja berada di atas ufuk waktu matahari tenggelam.

      • tapi sudah dijawab oleh pak ivan, pengertian nya bukan hilal wujud seperti itu (cahaya halus tak kasat mata). Tapi qamar telah di atas ufuk berarti sudah masuk bulan baru.

      • jk bagian atas bulan berada di atas ufuk sedangkan matahari tenggelam uda, mk pengertiannya hilal terlihat pada bulan bagian bawah krn masih bs tersinari matahari, itu menurut astronomi, membentuk sabit melengkung ke bawah, itulah maksudnya, ttp aplikasinya jk matahari tenggelam uda sedangkan bagian atas bulan di atas ufuk, spt apa ya sy melihat hilalnya? hmmmm

      • ya itulah yang mungkin oleh MD diartikan wujudul hilal nan jauh disana (di belahan bumi yang lain, tanpa kemungkinan terlihat)

      • hhmmmm, betul saudara Arif, begitupun sy, sy jg bingung, jk diteliti dgn seksama, klo qt ingin melihat saat itu sebagaimana pernyataan njenengan, tentu sampe kepalaq botak sekalipun kayak Prof Thomas, ngga akan bs melihat hilal, ttp qt bs memakai rujukan tersebut ketika qoblal ghurub, tentu itu bs sangat membantu tim ahli ru’yah melihat hilal, sangat mudah dan tepat jk “hisabnya benar”, ingat kondisi Indonesia mengubah sedikit konsep WH menjadi tdk jelas, bukan WHnya, ttp mungkin kalangan petinggi Muhammadiyah tdk memahaminya dan belum menelitinya

  32. Kalau ru’yat dan hisab setara dan tidak boleh meninggalkan keduanya maka KRITERIA IR SALAH,,,, karena ru’yat juga memperhitungkan hilal jika tertutup awan, sementara kriteria IR tidak memperhitungkannya, jadi masih haruskah kita menggunakan IR????

    • prnyataan yg bagus, Bung Mirza, jk qt memakai ru’yat dgn mata telanjang dgn sesuka hati qt bahkan sejak awal tdk prnah melakukan ru’yah n sering melakukan hisab, bahkan mengabaikan kondisi bumi yg qt tmpati (lempengan yg qt tempati tdk jelas, berubah-ubah) akan sangat sulit mempesatukan antara 2 kubu, ru’yat dan hisab, ttp jk qt mengenal bumi qt, n mengambil posisi yg tepat, keduanya bisa dipersatukan

      • Benar tidaknya DUGAAN arah kiblat suatu tempat telah berubah seiring perjalanan waktu akibat peristiwa alam seperti Pergerakan Lempengan bumi, gempa dll, Bisa kita periksa secara sederhana setahun 2 x…

        Yaitu dengan menggunakan bayangan benda yang tegak lurus terhadap permukaan bumi di tempat tsb SAAT MATAHARI TEPAT DI ATAS KA’BAH…

        Bisa dilihat di sini :
        http://nationalgeographic.co.id/forum/topic-2022.html

      • betul sekali Bung Ivan, ttp masih tetapkah posisi Matahari di atas Ka’bah saat itu? smg masih tetap, mengulang pernyataan sy dulu, jk merujuk ayat 15 Ar Ra’d dan Al Furqan ayat 45 dan 46, Bulan Maret nnt sholat dzuhurnya yg menghadap ke barat lebih dulu ketimbang yg menghadap ke kiblat, prntanyaannya sahkah sholatnya yg menghadap kiblat jk mengikuti waktu yg menghadap ke barat ato waktu yg ada di dlm accurate time, sebenarnya jk qt udah menentukan posisi kiblat suatu tempat, maka kapanpun siang, malam, pagi ato sore, kita bisa mengukur ketepatan kiblat qt merujuk pada tempat yg telah tepat kiblatnya, ajak aja semua ahli matematika dan fisika utk membantu mengukur ketepatannya, mudah kan?, jd lah qt yg awal bersaing dlm hal kebaikan, saabiqun bil khoirot,
        saran, banyak masyarakat yg blum sadar, ttp qt harus sabar Bung Ivan, n ngga akan rugi qt mengawalinya, Insya Allah

      • Cara mengetahui saat matahari tepat di atas pada suatu tempat :
        Hitung tanggal berapa Deklinasi Matahari di Tempat tsb pada saat Dzuhur yang besarnya = Derajat Garis Lintang nya…

        Perhitungan nya bisa kita dapatkan di sini :
        http://www.jgiesen.de/astro/astroJS/decEoT/index.htm

        Koordinat Masjidil Haram Mekah :
        21° 25′ 20,89″ N = 21.42246944° N
        39° 49′ 34,06″ E = 39.82612778° E
        Waktu Mekah = UTC + 3

        Matahari tepat di atas Ka’bah :
        Garis Lintang = 21.42246944°

        27 Mei jam 12.18 WM (16.18 WIB) Deklinasi Matahari = 21.362°
        28 Mei jam 12.18 WM (16.18 WIB) Deklinasi Matahari = 21.524°
        jam 9.18 UTC

        15 Juli jam 12.27 WM (16.27 WIB) Deklinasi Matahari = 21.452°
        16 Juli jam 12.27 WM (16.27 WIB) Deklinasi Matahari = 21.288°
        jam 9.27 UTC

        Waktu Dzuhur Mekah di atas menurut Perhitungan Accurate Times.
        Waktu Dzuhur adalah beberapa saat (sekitar 2 menit) setelah Matahari mencapai Titik Kulminasi pada saat itu, Titik Kulminasi tidak selalu jam 12.00…

        .

        Koordinat Alun-alun Nganjuk berdasar Google Maps :
        7° 36′ 7.06″ S = 7.60196° S
        111° 54′ 3.42″ E = 111.90095° E
        WIB = UTC + 7

        Matahari tepat di atas Nganjuk :
        Garis Lintang = -7.60196° (Lintang nya Selatan berarti angkanya negatif)

        29 Februari 2012 jam 11.44 Deklinasi Matahari = -7.816°
        1 Maret 2012 jam 11.44 Deklinasi Matahari = -7.437°

        12 Oktober jam 11.18 Deklinasi Matahari = -7.535°
        13 Oktober jam 11.18 Deklinasi Matahari = -7.908°

        Waktu Dzuhur Nganjuk menurut Perhitungan Accurate Times.

        .

        Ketepatan Hitungan Astronomis Waktu Posisi Matahari Tepat di Atas suatu Tempat bisa dicek secara sederhana, misalnya :

        – Kita bisa menggunakan Pipa Paralon yang diletakkan Tegak Lurus 90° di atas permukaan tanah yang datar, maka pada saat 2 menit sebelum Dzuhur pada tgl di atas, bayangan pipa paralon itu akan berupa Bayangan Cincin…

        – Kita pasang tali yang diberi pemberat bandul (unting-unting) pada sebuah tiang palang yang terkena bebas sinar matahari, dengan Bandul yang hampir menyentuh tanah.
        Posisi Matahari tepat di atas tempat itu bisa kita ketahui bila bayangan bagian palang tempat mengikat tali bandul jatuh menimpa bandul tsb…

      • iya, trims, ini bs membantu utk semuanya, tentu bs membantu mengakuratkan accurate time, ini sangat3 membantu, jazakallah

  33. hmmmm, trims, for BMKG atas info brkaitan dgn gempa2, smg ini bs membantu aq utk mempelajari waktu2 ibadah, n aq blum melihat tanda2 solusi mengatasi kekeringan, brarti penambangan gas d Indonesia luar biasa parah, smg gempanya lebih sering dikencengin sama Allah,
    hmmm, smg asing tdk buat uji coba buatan, krn aq begitu sensitif, hehehehehe

  34. Apabila menggunakan metode penentuan awal bulan Hijriyah yang ditawarkan pemerintah, maka dalam 18 tahun mendatang untuk Idul Adha, akan terjadi 10 kali perbedaan dengan Arab Saudi. “Akan lebih banyak perbedaan lagi dalam penetapan Idul Adha dengan Arab Saudi selama 18 tahun mendatang, yakni 14 kali apabila menggunakan metode imkanur rukyat 4 derajat yang ditawarkan Thomas Djamaluddin,” Sedangkan dengan metode hisab wujudul hilal yang diterapkan Muhammadiyah, kemungkinan perbedaan selama 18 tahun mendatang mengenai penetapan Idul Adha dengan Arab Saudi adalah empat kali, sehingga lebih mendekati .

    • Kita tidak dapat memprakirakan keputusan Arab Saudi, walau mereka menggunakan kalender Ummul Quro yang berbasis WH Mekkah, karena Arab Saudi mendasarkan pada rukyat yang tidak memperhitungkan data astronomi. Arab Saudi selama ini begitu saja menerima hasil rukyat, termausk yang kontroversial. Hal prinsip lain, kesamaan Idul Adha dengan Arab Saudi pun bukan jadi pertimbangan foraml suatu sistem kalender. Di Muhammadiyah pun, kesamaan Idul Adha dengan ARab Saudi masih wacana personal, bukan keputusan organisasi. Buktinya, hisab Muhammadiyah sudah mengumumkan Idul Adha berdasarkan hisab, sementara Arab Saudi menunggu rukyat setempat.

      • Assalam wr wb,
        Kenapa pemikiran berdasar ilmiah prof dikomunikasikan kpd kalangan umum melalui blog yang berisiko memancing perdebatan publik? Kenapa tidak mewacanakannya khusus kepada otoritas / astronom Muhammadiyah sehingga perdebatan dapat berlangsung dalam koridor ilmiah? “Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya” (Suntzu)
        Wasalam

      • Sudah dilakukan. Kini saatnya membangun pemahaman bersama agar publik pun tahu. Saat ini keputusan pemimpin tidak mungkin akan kuat kalau publiknya tidak memahaminya.

      • Mas Vieto,
        tdk harus kalangan astronom, kaum muslimin khususnya wadah Muhammadiyah melalui ahlinya, ahli fisika, matematika dan geografi bs masuk blog ini utk mengenal lebih jauh konsep VH n WH, q lihat kedua konsep itu akan tetap eksis, jk qt ingin mengetahui kondisi yg sebenarnya, bumi yg qt tempati, libatkan ahli geografi n kimia,
        n kemarin malam, ada hal yg baru, jk qt respek thdp waktu ibadah, tmsk masalah VH n WH, qt akan respek n sensitif atas penambangan besar2an di Indonesia, kok bisa?,
        trnyata klo qt mengabaikan sekecil apapun ibadah menuju keridloan Allah, dampaknya sangat luar biasa, smg kekhawatiranq meleset, semoga, semoga,
        ttp klo Allah ingin menunjukkan kebenaranNya, kebenaran Al Qur’an, aq sbg hamba Allah yg dloif hnya tawakkal, smg Allah mengampuniq, mengampuni ilmuwan2 khususnya BMKG, pemimpin2 negeri ini, ulama2

      • o ya tambahan lagi, libatkan juga alim ulama yg benar2 dalam keilmuwannya, yg mengenal n menguasai banyak kitab, shg analisis para pakar bs sesuai dgn yg dimaksud Allah dan RasulNya,
        n dimulai dgn niat yg lurus, menimba ilmu, bersaing dlm kebaikan, membawa maslahat utk umat, smg dr qt, Allah tulis sebagai awal kemaslahatan bagi kaum muslimin seluruh dunia, Insya Allah

      • Baru paham bahwa ternyata prof harus rela turun gunung untuk membantu otoritas pemerintah yang “diserang” duluan…kirain prof lah yang memulai, ternyata ini adalah reaksi. Cuman serangan balik prof kayaknya gak kira2… ibarat memukul nyamuk di dahi dengan palu…Anyhow tetaplah istiqomah untuk “menangkap” pemimpin lawan! kalau perlu lewat bantuan konselor pihak ketiga karena serangan balik prof kayaknya telanjur melukai hati lawan, wasalam

      • @Vieto
        Datang darimana kesimpulan tersebut? Adalah pernyataan dari Pak Djamaluddin sendiri bahwa sejak awal 1990-an beliau sudah mengkritik Muhammadiyah mengenai konsep WH secara konsisten. Masih menurut pengakuan beliau, berkat kritik beliau di tahun 2003, Muhammadiyah menambahkan syarat ijtima’ qablal ghurub dalam konsep wujudul hilalnya (catatan: pernyataan hanya berdasar klaim Pak Djamaluddin semata, sedang literatur-literatur menyatakan syarat ini ada sejak tahun 1968, pertama kali wujudul hilal dipakai secara resmi oleh Muhammadiyah).

      • @Agus, “serangan awal” yang saya maksud adalah pengumuman penetapan awal bulan baru dari Muhammadiyah yang tanpa melalui sidang isbat sehingga dianggap mendahului otoritas pemerintah. Blog ini kelihatannya adalah merupakan reaksi atas hal tsb. yang berusaha memaparkan argumen dari sisi pemerintah agar diketahui masyarakat. Harapannya adalah agar masyarakat tidak sekedar taklid melainkan jadi lebih mantap dengan dasar isbat pemerintah meskipun diselisihi oleh ormas besar Muhammadiyah. Sekaligus untuk menunjukkan legitimasi pemerintah atas ormas. Adapun mengenai substansi ikhtilaf sebaiknya kita kembalikan kepada Prof Thomas vs Prof Syamsul Anwar dalam koridor ilmiah. Semoga Allah SWT membersihkan, melembutkan, membukakan dan menyatukan hati mereka. Amien.

      • @vieto
        Kalau hanya itu “serangan” Muhammadiyah, maka maklumat penetapan hari raya sudah dilakukan sejak dari dulu, waktu di mana Pak Djamaluddin tidak perlu “turun gunung” karena beliau sendiri dapat doktor baru tahun 1994. Jadi saya tidak melihat bahwa teori “reaksi” ini didukung oleh fakta yang ada.

    • sebnarnya konsep yg digambarkan Prof Thomas dgn kriterianya Visibilitas Hilal sangat luar biasa bagus, memang tepat utk kondisi semacam Indonesia, begitu pun Wujudul Hilal, keduanya tdk jauh beda, Insya Allah, aq sangat menyukai turun ke lapangan mempraktekkan keduanya, ternyata sangat mengasikkan, n q lihat keduanya sangat prospek utk dijadikan rujukan, aq sedang melakukan penelitian pada 3 tempat di daerahq sendiri, ini akan sedikit membantu, perwakilan utk melihat waktu seluruh dunia,
      aq tadi berpikir, gimana membuat contoh yg tepat, begini, ada artis cantikTamara Blesinky di sekitarq, sayang aq tdk bs melihatnya krn tersekat oleh papan lebih tinggi sedikit drpdq, sudut pandangq trhadap papan bagian atas itu sekitar 1 derajat, mk agar q bs lihat si dia dibutuhkan sekitar 2 derajat artinya aq lebih tinggi dr papan itu shg q bs lihat dia walo hanya ujung rambutnya saja, sorry aq kebingungan cr contoh, kira2 yg q usulkan biar brkembang yg mana? WH atau VH, kondisiq makin lama2 makin tinggi bukan badanq, tp bumi ini yg menjadikan tubuhq lebih tinggi, shg saat nnt aq tidak melihat melainkan bulan dan matahari bersamaan tenggelam,
      di Kediri menurut ahli Geografi ada tanah yg meninggi, spt calon anak gunung, mk ktk tanah membentuk segitiga, ktk q mo mengecek ketinggian hilal sesuai kriteria, eh terhalang oleh tanah yg meninggi, tdk tau sebelumnya, shg melihat hilal di bawah kriteria, ttp berani brsumpah klo lihat hilal, susah menjelaskannya,
      konsep keduanya sama2 hebat, ni semua gara2 bumi, ya gara2 bumi, semua gara2 bumi

      • Di masjid At Taqwa tidak ada jamaah rutin yang bernama Noto Nagoro, yang sesuai dengan penelusuran saya, anda memakai nama samaran tersebut, seperti selebaran tahun 2006, Klarifikasi Notonagoro, yang diberikan ke beberapa Kyai di Jawa Timur, dan setahun lalu menggelindingkan di tempat yang sama yang pada akhirnya “gagal”, benarkah sobat?
        1. Teori Reboisasi Padang Pasir
        2. Teori Hisabur Ru’yah
        3. Teori Reproduksi Emas
        4. Imunisasi DB
        5. Lupa
        yang tidak lain digelindingkan oleh putra Almarhum H. Mansyur Hadi (Ta’mir Masjid At Taqwa dulu sekaligus tokoh Muhammadiyah di Kertosono), Aminul Wathon, M.PdI, juga kemungkinan tidak jauh dari kacangnya, Muhammadiyah tulen,
        benarkan saudaraku?
        Noto Nagoro = Nama Jawa
        Aminul Wathon = Nama Arab

  35. ya nama samaran memang q pake yg pasti ilmuq akan sampe pd yg berhak bicara, kdang aq tanya pd ahlinya bs jadi q akan menyampaikan seluruh ilmu apa yg q tahu slm ini, walo sustu saat dia bakal mengatakan itu ilmunya, q emang da niat belajar di Surabaya melanjutkan S3, yg jelas para ahli banyak disana, krn banyak masalah yg harus diselesaikan sesegera mungkin, fatal klo niatnya cr gelar doktor,

  36. Pak Noto Nagoro ini orang aneh, omongannya ngelantur. Sepertinya ada masah dengan kepribadian. Mungkin kepribadian ganda

  37. Ya mungkin, pa enaknya q pake sebutan Rasulullah aja ya, sayang ktk q cek, dahiq tdk sebotak Prof Thomas, n tdk semancung yg dimaksudkn Nabi, makanya q suka memakai n leboh percaya diri dgn Nama Peneliti dr Malang or dr Kertosono ketimbang Noto Nagoro ato sebutan Nabi, krn k2nya menintut bukti kemampuan memimpin, ya gitu deh

    • Bukn njenengan aja yg menganggap q aneh, sini jg sama, sehrusnya buku ya, buatq itu 15%, 85% bawa air, api, menangkap udara n mengecek bumiq pa habis digoyang ma mbak inul, wuih fokoknya mengasikkan, telus q diskusikn dgn ahlinya, bnar2 asik jiddan

    • Klo aja q diprmasalahkn spt th 2006 saat gempa Jogja trbukti, mk yg q harapkn pd Allah, nntnya fair dipublikasikn scr fair, melibatkn seluruh pakar khususnya yg brkaitan dgn ilmu eksakta n geografi, n jg harapannya sifat memaafkn dikedepankn n banyak2 istighfar, aq ja uda maafin MUI n Media saat fatwa itu menggelinding, n skrg yg hrus dipokirkn, NEGERI ini

  38. Pak noto Negoro pasti sakti mandraguna toh ? Ada ramalan tahun 2013 gak?

  39. Sorry, bedakn antara peneliti dgn peramal, peneliti melakukn prediksi brdasarkn ilmu yg juga trdpat pd Al Qur’an Hadis sedangkn peramal brdasarkn kebatinan, BMKG uda sesuai dgn perintah Allah n RasulNya, spt sy menunjukkn kekerungan accurate time apa pake ramalan, sorry besar, naudzubillahi min dzalik, knp sy bersyukur melihat kasus 2006, fatwa MUI trnyata juga membungkam para peramal, sayang itu tdk brlangsung lama, smg MUI langsung paham n menyadarinya n smg Allah memberi sifat konsisten pd mrk, amiiin, sy baru paham klo 50 Brimob dr Jakarta tdk murni mengaji, n knp ya kok aq yg dipaksa jd Ustad mrk, padahal yg mahal kan bamyak, kemana2 q diikuti, wajarlah namanya jg Ustadz, pas gue tidur eh mrk bilang yg menyadarknq klo mrk mencr seseorg “Khalifah, Khalifah, bangun Khalifah!!!” Sayang q sj masih menyangsikn sebutan Nabi, apalagi sebutan Brimob, biarlah sejarahq brjalan sesuwi taqdirNya

    • Spt prnyataanq yg uda trhapus oleh Prof Thomas, wilayah yg ditempati cincin api jk tdk trjaga dgn amanah, akan mengalami bencana besar, uda dibuat kere, kere udah abis difitnah didzolimi, n sesuai teori RPP bs menjadikn bumi ini jg menelan penduduk, q sepaham dgn ilmuwan2 semacam BMKG ketimbang peramal, apalagi kumpulanq saat ini adalah para ahli di bidang eksak n geografi, buat software, uji coba pupuk, mengamati awan dll,fokoknya buuuuanyak foooool, Insya Allah kagak rugi berdiskusi d forumq, trmasuk ngebahas bbrp prmasalahan yg bs saja trjadi, masalah negeri ini

    • H Mansyur Hadi walo organisasinya Muhammadiyah untuk masalah sholat tdk prnah mengabaikn namanya ru’yah, walo itu Muhammadiyah n NU ato pun lainnya cenderung pd kalender, dia juga tdk mengesampingkan hisab, dia jago buanget matematika, sarannya jam sholat bs dimanipulasi olrh tangan2 jahil manusia, ato baterenya habis, tp prputaran matahari n bulan tdk bs dimanipulasi, makanya kita harus waktu sholat yg tepat n berusaha di awal waktu, smg Allah memberikan pahala terus menerus pdnya sbg org yg awal mmbahas masalah Islam, amiiin

  40. Ada kabar baik untuk saudaraq kaum muslimin, ayat wassyamsu tajrii limustaqorillaha, akan kami ungkap doakan, trnyata ayat tsb scr tdk langsung membawa kebaikan n memperjelas bagaimana cata memulihkan ozon ini bs membantu dunia

    • Subhanallah, munculnya gas metan akan menambah tugas tim hisab n ru’yah semakin sering memprbaharui hitungannya, asyik kan Prof,
      Smg Allah mendatangkan gempa2 kecil sesering mungkin d negeri ini, amiiin

  41. maaf pak, menurut saya ada 2 kejanggalan yang sangat mengganggu dalam tulisan bapak ini yang bisa saja menyesatkan banyak orang:

    – pertama, judul tulisan ini adalah “hisab imkan rukyat mudah dan memberi kepastian idul fitri 1433”. kesan yang timbul setelah membaca judul tersebut adalah seolah-olah metode selain hisab imkan rukyat sulit dilakukan dan tidak memberi kepastian idul fitri. padahal saya rasa tidaklah seperti itu. hisab wujudul hilal yang bapak bilang usang itu juga mudah dilakukan dan memberi kepastian sama akuratnya. sekarang ini, data peristiwa konjungsi bulan sudah dapat diperoleh dengan mudah melalui internet.

    – kedua, ketidaksesuaian antara judul dan isinya. saya benar-benar tidak mengira kalau tulisan ini berisikan tentang bagaimana menggunakan program accurate times untuk melihat peta visibilitas hilal di seluruh dunia.

    usulan saya, mungkin akan lebih pas kalau judulnya diubah menjadi “bagaimana menggunakan program accurate times untuk mengetahui visibilitas hilal.” namun akan lebih baik lagi kalau bapak membuat tulisan yang berjudul “menentukan awal bulan hijriah dengan accurate times sangat mudah” yang berisikan bagaimana menggunakan program accurate times untuk menentukan awal bulan berdasarkan imkan rukyat DAN wujudul hilal. karena dalam program itu kita juga bisa mengetahui jadwal fase-fase bulan dalam bagian “moon phases.” dari jadwal tersebut kita bisa lihat kapan bulan mengalami konjungsi (new moon), sehingga kita bisa tahu kapan terjadinya awal bulan di kalender hijriah. apabila konjungsi terjadi setelah matahari terbenam, maka bulan barunya adalah sore keesokan harinya. apabila terjadi sebelum matahari terbenam, bulan barunya adalah sore itu juga (atau tergantung kriteria yang digunakan).

    sekian, terima kasih.

    • Selama ini dipersepsikan seolah hisab itu hanya wujudul hilal dan seolah dengan hisab wujudul hilal saja orang bisa membuat kalender sekian ratus tahun ke depan. Itu yang muncul di media massa dari pernyataan seorang tokoh. Opini seperti itu seolah menafikkkan hisab yang lebih mendekati rukyat yang dipersepsikan seolah imkan rukyat itu hanya untuk rukyat sesaat dan seoalh imkan rukyat itu sulit. Tulisan itu saya buat untuk memberi edukasi bahwa hisab imkan rukyat itu mudah. Salah satu contoh yang bisa didownload oleh pembaca saya berikan dari accurate time. Masih banyak software lain yang bisa digunakan para astronom dan peminat hisab rukyat. Accurate Time hanyalah contoh yang mudah diperoleh di internet.

    • Hmm, truskan VH dgn accurate time nya klo bs akuratkn dgn kemampuan njenengan Prof, di sini sy juga mencoba membaca bbrp perintah pemrograman VH, qt bersaing Prof, q d sini mengkonversikan WH k dalam software, ya lumayan ribet, krn harus digabungkan dgn fenomena2 bumi, q lihat VH maupun WH prlu direvisi, q brharap Allah memudahkan merevisi WH krn d sini mayoritas saudara muslim dr organisasi Muhammadiyah, krn seblum q publikasikn q menemui bbrp ahli di bidang matematika, geografi n fisika shg tdk akan trjadi spt dulu

      • Kesalahan dulu q dahulukan mengungkap Aceh k bbrp org yg tdk tepat, skrg beda pelan tp pasti, pelan tp mampu jaga hati, n q cenderung menjadi murid n penanya liar

    • Sebnarnya kasus WH tdk hanya brtumpu pd tenggelam n qoblal ghurub, ada lagi masalah lain yg lebih sesuatu n org ttt saja yg q britahu yg bs jaga rahasia n Insya Allah brkembang nnt, tdk mungkin q buka dlm forum ini, bs2 Muhammadiyah ditonjok lagi

  42. YTH Prof Djamaudin
    sekarang lagi ramai di internet mengenai waktu sholat subuhb yang terlalu cepat di indonesia,bagaimana menyikapi ini prof?

  43. […]  bukan promosi lho. Silahkan kunjungi website beliau untuk menambah pengetahuan tentang astronomi, lihat link ini. Sekedar untuk menambah pengetahuan, paling tidak kita ngerti mengapa kita berbeda puasa dan […]

  44. […] Dalam penentuan waktu ibadah mestikan dalil fiqih yang digunakan, bukan merujuk pada pendapat filsuf. Ketidakfahaman akan kriteria imkanrukyat menyebabkan logika yang digunakan menjadi aneh. Imkan rukyat sama objektif, sama murahnya, dan sama mudahnya serta memberikan kepastian, sesuai dengan sifat hisab. Penulis artikel di atas jelas bukan ahli falak yang faham aplikasi hisab, seolah hisab itu hanya WH dan seolah hisab IR adalah rukyat. Hasil hisab sama, yang membedakan adalah kriterianya. Misalkan, ketinggian bulan 0,7 derajat. Menurut krietria WH sudah masuk tanggal, tetapi menurut Imkan Rukyat belum masuk tanggal. Dengan hasil hisab seperti itu, kita bisa membuat kalender untuk tahun kapan pun. Perangkat lunas (software) kini banyak membantu hisab imkan rukyat. Silakan bukan blog saya dan buktikan bahwa hisab imkan rukyat pun mudah dan memberikan kepastian. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: