Kongres Kesatuan Kalender Hijri Internasional di Turki 2016: Kalender Tunggal


T. Djamaluddin

Profesor Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Kongres Kalender Islam Turki 2016

Kongres Kesatuan Kalender Hijri Internasional

International Hijri Calendar Unity Congress (Kongres Kesatuan Kalender Hijriyah Internasional) di Istambul Turki akhir Mei 2016 menjadi perhatian ummat Islam di Indonesia. Kabarnya peserta yang hadir berasal dari hampir 50 negara. Indonesia diwakili oleh Prof. Syamsul Anwar (dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah), Hendro Sentyanto, MSi, ( astronom dari Lajnah Falakiyah PBNU), dan KH Mahyudin Junaedi, MA (dari MUI).

Turki-Syamsul-Hendro

Dua dari tiga Wakil Indonesia di Kongres Kesatuan Kalender Hijriyah Internasional di Istambul

Berdasarkan informasi dari Pak Hendro, agenda kongres terfokus pada dua pilihan sistem kalender Islam: (1) Kalender dua zona berbasis ijtimak (hisab murni) dan (2) Kalender tunggal berbasis imkan rukyat (visibilitas hilal).

Kongres Kalender Islam Turki 2016aKongres Kalender Islam Turki 2016b

Berikut pokok-pokok pikiran kalender dua zona dan kalender tunggal:

Kongres Kalender Islam Turki 2016-Dual Calendar

Kongres Kalender Islam Turki 2016-Singular Calendar

Pada akhir kongres kemudian diputuskan dengan cara voting dan terpilihkan sistem kalender tunggal (singular calendar).

Turki-Kongres kalender Hijri

Kesimpulan akhir dari kongres adalah direkomendasikannya sistem kelender global yang tunggal. Seluruh dunia mengawali awal bulan hijriyah pada hari yang sama (Ahad – Sabtu), misalnya awal Ramadhan jatuh Senin seragam di seluruh dunia. Lalu kriteria apa yang dipakai? Sistem kalender global menggunakan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal):

Awal bulan dimulai jika pada saat maghrib di mana pun elongasi bulan (jarak bulan-matahari) lebih dari 8 derajat dan tinggi bulan lebih dari 5 derajat.

Dengan catatan awal bulan hijriyah terjadi jika imkan rukyat terjadi di mana pun di dunia, asalkan di Selandia Baru belum terbit fajar.

Catatan saya, sistem tunggal kalender global yang diusulkan ternyata menggunakan kriteria imkan rukyat yang sangat optimistis (posisi bulan cukup tinggi) yang memungkinkan hilal mudah terlihat. Keberlakuan secara global pada dasarnya mengikuti pendapat fikih keberlakuan wilayatul hukmi (satu wilayah hukum). Artinya sistem itu bisa diterapkan ketika seluruh dunia menyatu sebagai satu otoritas tunggal atau otoritas kolektif. Kalau sistem tunggal kalender ini bisa diterima, artinya persyaratan kalender Islam mapan bisa terwujud, yaitu:

  • Pengakuan seluruh dunia sebagai satu kesatuan dengan otoritas kolektif antar-pemerintah.
  • Ada kesepakatan kriteria, yaitu kriteria imkan rukyat elongasi 8 derajat dan tinggi bulan 5 derajat.
  • Batas tanggal mengikuti batas tanggal internasional.

13 Tanggapan

  1. Jika konjungsi terjadi sebelum pukul 12.00 GMT, hari itu masuk 1 Ramadhan, seluruh umat Islam dunia mulai mengawali ibadah sahum. Jika konjungsi terjadi setelah pukul 12.00 GMT, esok harinya baru masuk 1 Ramadhan. Keputuan diambil secara voting.Informasi dari Muhammadiyah mungkin lebih akurat…

    • Kalender itu bergantung pada kesepakatan kriteria. Akurasi perhitungan (hisab) hanyalah alat bantu yang keputusannya bergantung pada kriteria.

  2. Alhamdulilah cita-cita Muhammadiyah dalam menyatukan Kalender terwujud. Jadi kedepannya tidam ada sidang Isbat lagi.. Alhamdulilah. *semoga komentar ini tidak di lock dan di verifikasi, kalau tidak di publish berarti ada agenda tersembunyi. Amin Ya rabnal alamin. Allah maha tahu pak Prof.

    • Itsbat diperlukan bagi para pengamal rukyat. Sampai kapan pun itsbat tetap ada, karena ummat ini ada yang tetap mengamalkan rukyat. Tetapi itsbat bisa menjadi sederhana, cukup Pemerintah, wakil ulama, dan wakil astronom. Kalau kriterianya seragam berbasis imkan rukyat (seperti keputusan Kongres di Turki — bukan WH seperti yang saat ini digunakan Muhammadiyah), insya-a Llah hasil itsbat akan sama dengan yang tercantum di kalender.

    • Justru Muhammadiyah yg bisa kebakaran jenggot, Pak Asan. Kenapa? Karena selama ini Muhammadiyah mengacu kriteria visibilitas hilal yg belum nampak terlihat meskipun dg teropong canggih, cuma tulisan saja tp berani menyatakan awal bulan Hijriyah.
      Alhamdulillah jika ada kesepakatan.
      Rukyat itu penyempurna hisab, dari rukyat lah lahir ilmu hisab, ilmu hisab itu pendukung rukyat. Rukyat itu ilmiah. Apalagi disepakati imkanur rukyat lebih tinggi dr kesepakatan MABIMS.

      • Sebenarnya kalau kalender global terwujud semua kebakaran jenggot kalau punya jenggot atau tdk kebakaran sama sekali kalau tdk punya jenggot…. asal ada semangat kompromi…
        Penganut wujudul hilal hrs merevisi kriteria dan definisinya… penganut rukyah ya harus ikhlas mempercayakan kepada hisab dg imkanurrukyah sbg jalan tengah..us . yg sudah imkanurrukyah ya harus konsisten tdk perlu diputuskan akhirnya dg rukyah plus kriteria ketinggiamasalah otoritas ya perlu dikembalikan bhw dlm praktik umat Islam otoritas urusan agama tdk selalu berarti pemerintah krn kenyataannya di ada daerah yg umat Islamh lbh mengikuti kputusan ulama secara individual atau kolektif dibandinggkan pemerintah….
        Jadi otoritas dlm hal ini bisa jadi adalah kesepakatan atau ijma umat Islam, yg nanti diikuti oleh pemerintah atau dg sebaliknya…
        Mohon maaf ini adalah opini dari org yg awam ilmu falak… tapi berharap agar kisruh awal syawal
        Semoga kita baisa punya kalender yg reliabel shg idul fitri sudah jelas di kalender, spt natal dan tahun baru umat Kristen pun jelas ta…
        Salam utk Pak Thomas… srmoga bisa mencerahkan utk persatuan… npa harus berikhtilaf ria

      • Muhammadiyah tidak akan kebakaran jenggot, karena ketua majelis tarjihnya (Prof. Syamsul Anwar) hadir di acara tersebut. Bahkan beliau yg mendukung kalender tunggal. Ada pernyataan beliau yang menarik di: http://rukyatulhilal.org/index.php/berita-falak/267-267-kongres-kalender-hijriyah-unity-dibuka-di-istambul-turki
        “Sungguh sebagian umat Islam di dunia, termasuk di negara kami akan terus mengalami penderitaan selama tidak bisa disatukannya hari raya secara bersama-sama (selama tidak adanya kalender Islam unifikatif)”
        Semoga semangat persatuan ini segera terwujud.

  3. Alhamdulillah…

  4. saya berpandangan sangat tepat sekali jika posisi pengamatannya di IDL , dengan ketentuan tsb !

    “Awal bulan dimulai jika pada saat maghrib di mana pun elongasi bulan (jarak bulan-matahari) lebih dari 8 derajat dan tinggi bulan lebih dari 5 derajat.”

  5. Kalau di amerika 5 derajat, di Indonesia kira-kira berapa derajat? Bukankah hilal makin kebarat makin tinggi?

    • Taksiran kasar, per hari bulan makin tinggi sekitar 12 derajat. Karena Indonesia dan AS beda sekitar 12 jam, maka taksiran kasar ketika di AS tingginya 5 derajat, di Indonesia tinggi bulan sekitar -1 derajat. Tetapi taksiran kasar kalau posisi bulan dan matahari di sekitar ekuator (deklinasi sekitar 0 derajat). Kalau posisinya bukan di sekitar ekuator, taksiran kasar tidak berlaku.

  6. […] Kongres Kesatuan Kalender Hijri Internasional di Istanbul, Turki, Mei 2016 disepakati sistem kelender global yang tunggal. Seluruh dunia mengawali awal bulan hijriyah pada […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: