Khutbah Jumat: Janji Hakiki Makhluk pada Khaliqnya dan Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

 

Khutbah Jumat 11 Mei 2018 di Masjid Salman ITB. Janji makhluk pada khaliqnya sudah dinyatakan saat alam diciptakan. Bukti ketaatan makhluk pada khaliqnya ditunjukkan dengan gerak orbit benda-benda langit yang disimulasikan dengan ibadah thawaf. Terkait dengan penyambutan Ramadhan 1439, diungkapkan juga upaya penyatuan kalender Islam dengan disepakatinya Rekomendasi Jakarta 2017.

Iklan

Pertimbangan Sains Antariksa untuk Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Kepala LAPAN

Pokok-pokok Rekomendasi Jakarta 2017

Pertimbangan Sains Antariksa untuk Penyatuan Kalender Islam (File pdf untuk diunduh)

 

Pada 28-30 November 2017 telah dilaksanakan Seminar Internasional Fikih Falak yang menghasilkan Rekomendasi Jakarta 2017. Rekomendasi itu dari sudut pandang sains antariksa telah mengakomodasi sebagian besar pendapat ormas-ormas Islam yang selama ini berbeda dalam penentuan awal bulan-bulan Islam, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzuhijjah. LAPAN sebagai lembaga Pemerintah yang salah satu tugas fungsinya berkaitan dengan pemberian pertimbangan dan saran kepada Pemerintah (dalam hal ini Menteri Agama) dan pihak-pihak terkait (Majelis Ulama Indonesia dan Ormas-ormas Islam) tentang upaya penyatuan Kalender Islam dari sudut pandang sains antariksa (astronomi). Surat LAPAN berikut ini dipublikasi untuk menjadi pendorong semua pihak dalam mengupayakan titik temu, khususnya implementasi Rekomendasi Jakarta 2017, sehingga penyatuan Kalender Islam segera terwujud dan kalender Islam bersesuaian dengan hasil rukyat untuk itsbat (penentuan) waktu ibadah.

Penentuan Waktu Shubuh: Pengamatan dan Pengukuran Fajar di Labuan Bajo

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama

 

Pada 23-25 April 2018 dilaksanakan Temu Kerja Hisab Rukyat Kementerian Agama RI di Labuan Bajo, sekaligus dimanfaatkan untuk pengamatan fajar untuk penentuan waktu shubuh. Beberapa waktu sebelumnya ada kalangan yang meragukan waktu shubuh yang ada di jadwal shalat yang berlaku di Indonesia saat ini. Oleh karenanya Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI melakukan pengamatan fajar di daerah yang minim polusi cahaya. Labuan Bajo tergolong minim polusi cahaya karena cahaya lampu kota belum terlalu banyak, sehingga galaksi Bima Sakti (Milky Way) pun terlihat dengan jelas dengan mata telanjang.

Milky Way - Labuan Bajo - Ismail

Milky Way (Galaksi Bima Sakti) terlihat ketika polusi cahaya sangat minim. (Foto Ismail –Kemenag– di lokasi pengamatan fajar di Labuan Bajo)

Milky Way - Labuan Bajo-AR Sugeng

Milky Way (Galaksi Bima Sakti) terlihat ketika polusi cahaya sangat minim. (Foto AR Sugeng –CASA Assalam– di lokasi pengamatan di Labuan Bajo)

Tim melakukan pengukuran dengan menggunakan SQM (Sky Quality Meter), kamera, dan secara visual sebelum fajar sampai matahari terbit. Pengukuran SQM dilakukan oleh Hendro Setyanto (astronom pengelola Imah Nong) pada 24 April 2018 dan Rukman Nugraha (astronom BMKG) pada 25 April 2018. Pemotretan dengan kamera DSLR dilakukan AR Sugeng Riyadi (astronom amatir, Kepala Observatorium Assalam) dan diolah oleh Dr. Rinto Anugraha (Dosen Fisika UGM, Pengajar Falak di UIN Semarang). Saya melakukan pengamatan visual dan mendokumenasikan dengan kamera HP. Hasilnya, munculnya fajar pada saat ketinggian matahari -20 derajat mempunyai dukungan data pengamatan, jadi jadwal shalat yang dikeluarkan Kementerian Agama tidak terlalu cepat. Berikut rinciannya.

 

Pengukuran SQM oleh Hendro Setyanto (kurva biru) dan Rukman Nugraha (kurva coklat). Sumbu mendatar adalah waktu (WITa) dan sumbu tegak adalah ukuran kecerlangan langit dalam satuan MPSAS (Magnitude per Square Arc Second).

Kurva cahaya yang terukur dengan SQM menunjukkan bahwa penurunan magnitudo terjadi mulai pada pukul 04.46 WITa dan 04.44 WITa. Penurunan magnitudo mengindikasikan mulai munculnya cahaya fajar astronomi. Waktu tersebut bersesuaian dengan posisi matahari -19,5 dan -20 derajat.

Pemotretan dengan kamera DSLR yang disajikan mulai pukul 04.36 WITa (bersesuaian dengan ketinggian matahari -22 derajat) sampai pukul 05.00 WITa (bersesuaian dengan ketinggian matahari -16 derajat) dengan sudut pandang yang tetap dan waktu ekspos 25 detik. Citra foto kemudian diolah untuk menghilangkan gangguan polusi cahaya. Caranya, setiap citra dikurangi (proses substraksi) dengan citra pada posisi matahari -22 derajat saat sebelum fajar. Hasilnya kemudian ditingkatkan kontrasnya (enhanced). Hasilnya sebagai berikut:

Fajar belum tampak pada pukul 04.40 WITa ketika posisi matahari -21 derajat.

Cahaya mulai tampak pada pukul 04.44 WITa ketika posisi matahari -20 derajat (untuk melihat cahaya fajar secara jelas, klik gambar di atas untuk membesarkannya). Posisi pusat fajar bersesuaian dengan posisi titik matahari terbit.

Citra fajar pada pukul 04.48 WITa (posisi matahari -19 derajat).

Citra fajar pada pukul 04.52 WITa (posisi matahari -18 derajat).

Citra fajar pada pukul 04.56 WITa (posisi matahari -17 derajat).

Citra fajar pada pukul 05.00 WITa (posisi matahari -16 derajat).

Tiga foto asli oleh AR Sugeng Riyadi (sebelum diolah) yang menggambarkan kondisi polusi cahaya (ada cahaya lampu di ufuk Timur), fajar yang sudah cukup terang, dan titik posisi matahari terbit.

Pengamatan visual yang saya lakukan secara umum menggambarkan karakteristik fajar astronomi sebagai awal shubuh, fajar nautika, dan fajar sipil.

1. Fajar astronomi tampak di ufuk Timur dalam kondisi masih gelap. Galaksi Bima Sakti di atas kepala masih terlihat dan kita belum bisa mengenali orang di sekitar kita. Itu sesuai dengan ungkapan dalam hadits Aisyah, bahwa sesudah shalat bersama Rasul para wanita pulang tidak saling mengenal. Juga sesuai dengan isyarat di dalam QS Ath-Thur (52):49 “Dan bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan ketika bintang-bintang meredup”. Munculnya fajar shadiq (fajar sesungguhnya, fajar astronomi) ditandai dengan meredupnya bintang-bintang di ufuk timur karena mulai munculnya cahaya akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer. Itulah awal waktu shubuh.

2. Fajar nautika ditandainya dengan mulai makin terangnya ufuk timur. Itu ditandainya dengan garis batas ufuk mulai terlihat dengan jelas. Di Labuan Bajo ufuk timur ada bukit. Cahaya fajar di latar belakang yang makin terang mulai menampakkan bentuk bukit yang lebih jelas. Orang di samping kita masih terlihat remang-remang, wajahnya belum tampak jelas.

Fajar nautika saya foto dengan kamera hp. Bukit di ufuk timur mulai terlihat jelas batasnya.

3. Fajar sipil ditandai dengan makin terangnya kondisi di sekitar kita, sebelum matahari terbit. Warna fajar mulai agak memerah di bagian bawahnya. Wajah orang sudah bisa kita kenali dengan baik.

Fajar sipil ditandai dengan fajar yang mulai memerah.

Akhir fajar adalah terbitnya matahari.

 

 

 

Rekomendasi Jakarta 2017: Upaya Mewujudkan Kalender Islam Tunggal

Pengantar

Pada 28-30 November telah dilaksanakan Seminar Internasional Fikih Falak bertema “Peluang dan Tantangan Implementasi Kalender Global Hijriah Tunggal”. Kepala LAPAN, mewakili delegasi Indonesia, memaparkan Proposal Penyatuan Kalender Islam Global. Berikut ini rumusan hasil Seminar Internasional Fikih Falak berupa Rekomendasi Jakarta 2017.

File PDF: REKOMENDASI JAKARTA-Fikih Falak-2017

REKOMENDASI JAKARTA 2017

Dalam upaya untuk mewujudkan kesatuan umat dengan kalender yang unifikatif secara global dan meminimalisasi terjadinya perbedaan antarnegara dalam pelaksanaan ibadah berdasarkan penentuan awal bulan hijriyah, maka seminar internasional fikih falak di Jakarta merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Bahwa rekomendasi Jakarta 2017 ini pada prinsipnya merupakan perbaikan dan/atau penyempurnaan, serta dapat menjadi pelengkap kriteria yang telah ada sebelumnya yakni kriteria Istanbul Turki 2016 dengan melakukan modifikasi menjadi kriteria elongasi minimal 6,4 derajat dan tinggi minimal 3 derajat dengan markaz Kawasan Barat Asia Tenggara.
  2. Bahwa rekomendasi Jakarta ini dimaksudkan untuk mengatasi perbedaan penentuan awal bulan hijriyah tidak hanya pada tingkat nasional, tetapi juga tingkat regional dan internasional dengan mempertimbangkan eksistensi hisab dan rukyah.
  3. Bahwa rekomendasi Jakarta 2017 menegaskan implementasi unifikasi kalender global didasari pada tiga prasyarat yang harus dipenuhi sekaligus, yaitu:
    a. Adanya kriteria yang tunggal;
    b. Adanya kesepakatan Batas Tanggal; dan
    c. Adanya otoritas tunggal.
  4. Bahwa kriteria tunggal yang dimaksudkan adalah bilamana hilal telah memenuhi ketinggian minimal 3 derajat dan berelongasi minimal 6,4 derajat. Ketinggian 3 derajat menjadi titik akomodatif bagi madzhab imkan rukyah dan madzhab wujudul hilal. Elongasi hilal minimal 6,4 derajat dan ketingian 3 derajat dilandasi dari data rukyat global yang menunjukkan bahwa tidak ada kesaksian hilal yang dipercaya secara astronomis yang elongasinya kurang dari 6,4 derajat dan tingginya kurang dari 3 derajat.
  5. Bahwa batas tanggal yang disepakati adalah batas tanggal yang berlaku secara internasional, yaitu Batas Tanggal Internasional (International Date Line) sebagaimana yang digunakan pada sistem kalender tunggal usulan Kongres Istanbul 2016.
  6. Bahwa Kriteria tersebut dapat diterapkan ketika seluruh dunia menyatu dengan satu otoritas tunggal atau otoritas kolektif yang disepakati. Organisasi Kerjasama Islam (OKI) merupakan salah satu lembaga antar negara – negara muslim yang bisa sangat potensial untuk dijadikan sebagai otoritas tunggal kolektif yang akan menetapkan Kalender Islam Global dengan menggunakan kriteria yang disepakati ini untuk diberlakukan di seluruh dunia.
  7. Organisasi Kerjasama Islam (OKI) perlu membentuk / mengaktifkan kembali lembaga atau semacam working grup / lajnah daimah yang khusus menangani bidang penetapan tanggal hijriyah internasional.

Jakarta, 30 November 2017

TIM Perumus:
1. Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, M.Ag (Indonesia)
2. Prof. Dr. H. Thomas Djamaluddin (Indonesia)
3. Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag (Indonesia)
4. Dr. H. Moedji Raharto (Indonesia)
5. Dr. H. Assadurrahman, MA (Indonesia)
6. Drs. Cecep Nurwendaya, M.Pd (Indonesia)
7. Dr. H. A. Juraidi, MA (Indonesia)
8. H. Nur Khazin, S.Ag (Indonesia)
9. H. Ismail Fahmi, S.Ag (Indonesia)
10. Musthofa Abdallah Al-Hussein Ananbeh (Yordania)
11. Prof. Dato. Dr. Mohd Zambri bin Zainuddin (Malaysia)
12. Shahril Azwan Hussin (Malaysia)
13. Muhammad Zakuwa bin Hj. Rodzali (Malaysia)
14. Ustadz Izal Mustafa Kamar (Singapura)
15. Tuan Muhammad Faizal bin Othman (Singapura)
16. Arefin bin Hj. Jaya (Brunei Darussalam)
17. Hj. Mohd Albi bin Hj. Ibrahim (Brunei Darussalam)

Proposal Ringkas Penyatuan Kalender Islam Global

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN, Indonesia

Proposal Ringkas Penyatuan Kalender Islam Global

A Brief Proposal on Global Islamic Calendar Unification

Seminar Fikih Falak 2017

Pendahuluan

Penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah sangat terkait dengan waktu ibadah puasa Ramadhan, Idul Fitri, puasa Arafah, dan Idul Adha bagi ummat Islam secara global. Ada ibadah puasa yang status hukumnya wajib, sunnah, dan haram. Berpuasa pada bulan Ramadhan wajib hukumnya dan puasa pada hari Arafah 9 Dzulhijjah sunnah. Sementara puasa pada Idul Fitri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzuhijjah) serta hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) hukumnya haram.

Penentuan awal bulan pada kalender Hijriyah terutama dimaksudkan untuk memberikan indikasi waktu awal ibadah puasa serta penentuan Idul Fitri dan Idul Adha. Hal yang krusial adalah dalam penentuan Idul Fitri dan Idul Adha yang dirayakan secara global. Bila terjadi perbedaan antarnegara, maka timbul keraguan waktu yang akan dirujuk. Hal inilah yang mendorong upaya untuk merumuskan kalender yang seragam secara global. Karena kalender juga dimaksudkan untuk sedapat mungkin menyatukan waktu ibadah, maka kaidah fikih penentuan awal bulan juga harus dipertimbangkan.

 

Metode Penentuan Awal Bulan

Tanpa menyebut rincian dalil fikihnya, secara umum metode penentuan awal bulan hijriyah yang terkait waktu ibadah terbagi dua pendapat. Pendapat pertama mendasarkan pada rukyatul hilal (bulan sabit muda) pada saat maghrib akhir tanggal 29 bulan Hijriyah. Pendapat kedua, cukup mendasarkan pada hasil perhitungan (hisab) dengan kriteria tertentu. Persoalannya, ketampakan hilal bisa berbeda-beda antarwilayah, baik karena sifat fisik hilalnya maupun karena faktor cuaca. Sementara kriteria hisab pun masih beragam.

Untuk mendapatkan kesatuan ummat dalam penentuan awal bulan Hijriyah, langkah yang harus dilakukan adalah mensinergikan antara rukyat dan hisab dengan cara (1) menyatukan kriteria hisab dan (2) kriteria yang dirumuskan harus memperhatikan kriteria ketampakan (visibilitas) hilal. Upaya tersebut diharapkan bisa menyatukan antara metode rukyat dan hisab serta menghilangkan perbedaan keputusan hisab.

 

Proposal Kongres Istanbul 2016

Pada Kongres Internasional Kesatuan Kalender 2016 di Istanbul Turki telah direkomendasikan sistem kalender global tunggal. Seluruh dunia mengawali awal bulan hijriyah pada hari yang sama (Ahad – Sabtu), misalnya awal Ramadhan jatuh Senin seragam di seluruh dunia. Sistem kalender global menggunakan kriteria visibilitas hilal:

 

Awal bulan dimulai jika pada saat maghrib di mana pun elongasi bulan (jarak bulan-matahari) lebih dari 8 derajat dan tinggi bulan lebih dari 5 derajat.

 

Dengan catatan, awal bulan hijriyah terjadi jika kriteria visibilitas rukyat terpenuhi di mana pun di dunia, asalkan di Selandia Baru belum terbit fajar.

Gambar 1. Kesimpulan Kongres Istanbul Turki 2016

 

Kriteria tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat adalah kriteria optimistik, tetapi tidak cukup untuk diterapkan dalam tinjauan global. Garis tanggal visibilitas hilal paling Timur umumnya berada di sekitar ekuator. Wilayah daratan yang paling Barat adalah Amerika Selatan. Wilayah daratan paling Timur adalah Samoa. Beda waktu antara Amerika Selatan dan Samoa 20 jam, artinya secara rata-rata beda tinggi bulan 20/24 x 12o = 10o dari wilayah Timur dan wilayah Barat. Beda waktu antara Amerika Selatan dan Asia Tenggara 14 jam, secara rata-rata beda tinggi bulannya 7o. Bila ketinggian 5o terjadi Amerika Selatan, tinggi bulan di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik masih di bawah ufuk.

Jadi, dengan kriteria Istanbul 2016 akan timbul masalah pada wilayah yang posisi bulan masih negatif di wilayah Timur, sementara kriteria visibilitas hilal sudah terpenuhi di wilayah Barat. Dalam kaidah fikih, hari yang meragukan perlu dihilangkan dengan konsep istikmal (menyempurnakan bulan berjalan menjadi 30 hari). Artinya wilayah Barat harus menunggu masuknya tanggal di wilayah Timur, setidaknya posisi bulan sudah di atas ufuk.

Gambar 2. Garis Tanggal Internasional di Pasifik dan zona waktu (sumber: internet)

 

Proposal Baru

Pada dasarnya  implementasi konsep kalender didasari pada tiga prasyarat yang harus dipenuhi sekaligus: (1) adanya kriteria tunggal, (2) adanya kesepakatan batas tanggal, dan (3) adanya otoritasl tunggal. Kriteria Istanbul 2016 bermasalah ketika di wilayah Barat sudah memenuhi kriteria, tetapi di wilayah Timur bulan masih berada di bawah ufuk. Kriteria tersebut tidak dapat diterima oleh negara-negara di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik, seperti Indonesia. Perlu diusulkan kriteria alternatif.

Dari hasil rukyat jangka panjang, diketahui bahwa elongasi minimal agar hilal cukup tebal untuk bisa dirukyat adalah 6,4 derajat (Odeh, 2006). Data analisis hisab 180 tahun saat matahari terbenam di Banda Aceh dan Pelabuhan Ratu (Djamaluddin, et. al., 2016) juga membuktikan bahwa elongasi 6,4 derajat juga menjadi prasyarat agar saat maghrib bulan sudah berada di atas ufuk (lihat Gambar 3 dan Gambar 4). Pada grafik terlihat bahwa pada elongasi 6,4 derajat, posisi bulan semuanya positif, sedangkan bila elongasi kurang dari 6,4 derajat bulan masih berada di bawah ufuk atau ketinggiannya negatif.

Gambar 3. Sebaran data tinggi dan elongasi bulan untuk Banda Aceh selama 180 tahun.

Gambar 4. Sebaran data tinggi dan elongasi bulan untuk Pelabuhan Ratu selama 180 tahun.

 

Dari data rukyat global, juga diketahui bahwa tidak ada kesaksian hilal yang dipercaya secara astronomis yang beda tinggi bulan-matahari kurang dari 4 derajat (lihat Gambar 5 dan gambar 6). Karena pada saat matahari terbenam tinggi matahari -50’, maka beda tinggi bulan-matahari 4 derajat identik dengan tinggi bulan (4o -50’=) 3o 10’, dibulatkan menjadi 3o.

Gambar 5. Ilyas (1988) memberikan kriteria visibilitas hilal dengan beda tinggi bulan-matahari minimum 4o (tinggi bulan minimum 3 derajat).

Gambar 6. Dari data SAAO, Caldwell dan Laney (2001)  memberikan data visibilitas hilal dengan memisahkan pengamatan dengan mata telanjang (bulatan hitam) dan dengan alat bantu optik (bulatan putih). Secara umum visibilitas hilal mensyaratkan beda tinggi bulan-matahari (dalt) > 4o .

Berdasarkan data astronomis tersebut, maka diusulkan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) dengan dua parameter: elongasi bulan minimal 6,4 derajat dan tinggi bulan minimal 3 derajat. Rujukan yang digunakan adalah Indonesia Barat. Alasannya, beda waktu antara Indonesia Barat dan Samoa di Batas Tanggal Internasional adalah 6 jam (lihat Gambar 2), artinya beda tinggi bulan 6/24 x 12o =3o. Jadi ketika di Indonesia Barat tinggi bulan sudah di atas 3o, di wilayah sekitar Garis Tanggal Internasional tinggi bulannya sudah positif atau di atas ufuk. Dengan tinggi minimal 3 derajat di Indonesia Barat, di Timur Tengah tinggi bulan lebih dari 5 derajat, sesuai dengan tinggi minimal pada kriteria Istanbul 2016. Jadi kriteria baru yang diusulkan sebagai berikut:

 

Awal bulan Hijriyah dimulai ketika di wilayah Barat Indonesia elongasi bulan lebih dari 6,4o dan tinggi bulan lebih dari 3o.

 

Batas tanggal kalender Islam yang digunakan adalah Garis Tanggal Internasional seperti yang digunakan pada sistem kalender tunggal usulan Kongres Istanbul 2016. Keberlakuan secara global pada dasarnya mengikuti pendapat fikih keberlakuan wilayatul hukmi (satu wilayah hukum). Artinya sistem itu bisa diterapkan ketika seluruh dunia menyatu dengan satu otoritas tunggal atau otoritas kolektif yang disepakati. Saat ini otoritas tunggal dunia Islam belum ada. Namun, sudah ada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang bisa dijadikan sebagai otoritas kolektif. OKI yang akan menetapkan Kalender Islam Global dengan menggunakan kriteria baru tersebut untuk diberlakukan di seluruh dunia.

 

Kesimpulan

            Untuk penyatuan Kalender Islam Global, diusulkan tiga hal berikut yang tidak terpisahkan:

  1. Kriteria awal bulan adalah elongasi bulan minimal 6,4o dan tinggi bulan minimal 3o pada saat maghrib di Indonesia Barat.

  2. Batas Tanggal Internasional dijadikan sebagai batas tanggal Kalender Islam global.

  3. OKI (Organisasi Kerjasama Islam) menjadi otoritas kolektif dalam menetapkan Kalender Islam Global.

 

Rujukan

Djamaluddin, T., Raharto, M., Khafid, Nurwendaya, C., Setyanto, H., dan Utama, J. A. 2016, Naskah Akademik Usulan Kriteria Astronomis Penentuan Awal Bulan Hijriyah,  https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/04/19/naskah-akademik-usulan-kriteria-astronomis-penentuan-awal-bulan-hijriyah/

Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

Hisab Awal Bulan 1439 Hijriyah

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

 

Untuk memperkirakan (bagi pengamal rukyat — pengamatan hilal) atau menentukan (bagi pengamal hisab — perhitungan posisi bulan) berikut ini ditampilkan garis tanggal awal-awal bulan 1439 Hijriyah dengan menggunakan aplikasi Accurate Hijri Calculator  (AHC) yang dikembangkan Abdul Ro’uf dari alumni Fisika Universitas Brawijawa.

Kriteria yang digunakan adalah kriteria tinggi bulan 2 derajat yang diasa digunakan Kementerian Agama RI dan Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (Kriteria LAPAN (2010) ). 

Muharram 1439

Hijau : Kriteria Ode, Biru : Kriteria 2 derajat, Putih : Kriteria Wujudul Hilal

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

 

Kondisi bulan saat maghrib 20 September 2017 di wilayah Indonesia : bulan telah wujud dan tingginya lebih dari 2 derajat. Maka, 1 Muharram 1439 jatuh pada 21 September 2017. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 20 September, sehingga 1 Muharram 1439 jatuh pada 22 September 2017.

 

Shafar 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 20 Oktober 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat dan telah memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Shafar 1439 jatuh pada 21 Oktober 2017.

 

Rabbiul Awal 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 18 November 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rabbiul Awal 1439 jatuh pada 20 November 2017.

 

Rabbiul Akhir 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 18 Desember 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rabbiul Akhir 1439 jatuh pada 20 Desember 2017.

 

Jumadil Awal 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 17 Januari 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Jumadil Awal 1439 jatuh pada 18 Januari 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 17 Januari 2018, sehingga 1 Jumadil Awal 1439 jatuh pada 19 Januari 2018.

 

Jumadil Akhir 1439

Jumadil Akhir1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Jumadil Akhir 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 16 Februari 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Jumadil Akhir 1439 jatuh pada 17 Februari 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 16 Februari 2018, sehingga 1 Jumadil Akhir 1439 jatuh pada 18 Februari 2018.

 

Rajab 1439

Rajab-1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Rajab-1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 17 Maret 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rajab 1439 jatuh pada 19 Maret 2018.

 

Sya’ban 1439

Sya-ban 1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Sya-ban 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 16 April 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Sya’ban 1439 jatuh pada 17 April 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 16 April 2018, sehingga 1 Sya’ban 1439 jatuh pada 18 April 2018.

 

Ramadhan 1439

Ramadhan 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Ramadhan 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 15 Mei 2018 di wilayah Indonesia: bulan  masih di bawah ufuk, berarti juga tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Ramadhan 1439 jatuh pada 17 Mei 2018.

 

Syawal 1439

Syawal 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Syawal 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 14 Juni 2018 di wilayah Indonesia: bulan  sudah di atas ufuk dan tingginya lebih dari 2 derajat dan juga memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Syawal 1439 jatuh pada 15 Juni 2018.

 

Dzulqa’dah 1439

Dzulqa-dah 1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Dzulqa-dah 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 13 Juli 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Dzuqa’dah 1439 jatuh pada 14 Juli 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 13 Juli 2018, sehingga 1 Dzulqa’dah 1439 jatuh pada 15 Juli 2018.

 

Dzulhijjah 1439

Dzulhijjah 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Dzulhijjah 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 11 Agustus 2018 di wilayah Indonesia: bulan  masih di bawah ufuk, berarti juga tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Dzulhijjah 1439 jatuh pada 13 Agustus 2018.

 

Kalender 1439 H

Benarkah Waktu Shubuh di Indonesia Terlalu Cepat?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

https://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/04/fajar.jpg?w=468

Wacana tentang waktu shubuh kembali mewarnai media massa dan media sosial. Beberapa tahun lalu, wacana itu sudah muncul tetapi pemicunya karena interpretasi bahwa waktu shubuh mestinya saat fajar mulai menguning. Namun saat ini muncul lagi dengan beralasan dari hasil penelitian pengukuran cahaya langit. Benarkah waktu shubuh terlalu cepat? Untuk menentramkan ummat, saya jawab “Tidak benar, waktu shubuh di Indonesia sudah benar”. Berikut ini alasan saya:

1.  Waktu shubuh adalah saat fajar shadiq yang pertama, berwarna putih, bukan fajar yang berwarna kuning

Dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari disebutkan, “Rasulullah SAW shalat shubuh saat kelam pada akhir malam, kemudian pada kesempatan lain ketika hari mulai terang. Setelah itu shalat tetap dilakukan pada waktu gelap sampai beliau wafat, tidak pernah lagi pada waktu mulai terang.” (HR Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad yang shahih). Lebih lanjut hadits dari Aisyah, “Perempuan-perempuan mukmin ikut melakukan shalat fajar (shubuh) bersama Nabi SAW dengan menyelubungi badan mereka dengan kain. Setelah shalat mereka kembali ke rumah tanpa dikenal siapapun karena masih gelap.” (HR Jamaah). Itu menunjukkan bahwa waktu shubuh memang masih gelap, tetapi fajar sudah tampak di ufuk timur. Warnanya masih putih lembut.

Seperti apa perubahan warna fajar? Saya sudah memotretnya dari pesawat terbang, dari atas awan. Ini foto-fotonya.

 

2. Fajar di Indonesia wajar lebih awal, karena atmosfer ekuator lebih tinggi

Waktu shubuh sesungguhnya termasuk fajar astronomi, saat cahaya bintang-bintang mulai meredup karena munculnya hamburan cahaya di ufuk Timur. Per definisi, fajar astronomi terjadi saat matahari berada pada posisi -18 derajat. Namun itu rata-rata. Fajar itu terjadi karena hamburan cahaya matahari oleh atmosfer atas. Di wilayah ekuator, atmosfernya lebih tinggi dari daerah lain, sehingga wajar bila fajar terjadi ketika posisi matahari -20 derajat. Penjelasan rincinya bisa di baca di sini.

 

3. Waktu shubuh semestinya diukur dalam kondisi langit cerah dan bebas polusi cahaya

Belakangan ini ada laporan penelitian yang mengklaim waktu shubuh terlalu cepat. Menurut klaim itu, mestinya saat posisi matahari agak tinggi dari kriteria yang digunakan Kementerian Agama (-20 derajat). Salah satu hasil penelitian menyatakan fajar terjadi pada posisi matahari -13 derajat. Benarkah? Penelitian waktu shubuh yang objektif memang harus menggunakan alat ukur cahaya langit. Metode yang biasa digunakan adalah dengan teknik fotometri (pengukuran kuat cahaya). Bisa dengan analisis fotometri citra ufuk timur. Bisa pula dengan alat ukur cahaya langit, misalnya SQM (Sky Quality Meter). Namun persyaratan teknik fotometri ini, langit harus benar-benar bersih dari awan, polusi udara, dan polusi cahaya. Fajar ditandai ketika cahaya mulai muncul, artinya intensitas cahaya langit mulai meningkat.

Awan tipis dan polusi udara bisa menghalangi cahaya fajar di ufuk Timur, sehingga fajar astronomi yang putih tipis tidak tampak. Fajar yang agak kuning akan tampak saat matahari mulai meninggi. Polusi cahaya juga sangat menggangu pengamatan fajar. Pengukuran fajar dengan SQM dari tengah kota dengan polusi cahaya yang cukup kuat bisa mengecoh, sehingga menyimpulkan fajar yang lebih lambat. Berikut ini ilustrasinya.

Kurva skematik cahaya langit (warna merah) menunjukkan kondisi hasil pengukuran waktu fajar:

  • Dalam kondisi langit cerah tanpa polusi cahaya (misalnya di daerah yang jauh dari lampu-lampu kota), waktu shubuh lebih awal. Misalnya pukul 04.30
  • Dalam kondisi langit terpolusi cahaya sedang (garis hijau), waktu fajar yang terdeteksi lebih lambat. Misalnya pukul 04.40.
  • Dalam kondisi langit terpolusi cahaya parah (garis kuing), waktu fajar yang terdeteksi lebih lambat lagi. Misalnya pukul 04.50.