Fahami Potensi Perbedaan Idul Adha 1443

Kesibukan pasar hewan qurban menjelang Idul Adha (dari situs ponorogo.go.id)

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Indonesia, Kemenag

Saat ini Panitia Idul Adha tentu mulai bersiap untuk menyelenggarakan pelaksanaan shalat idul adha dan penyembelihan hewan qurban. Ada beberapa pihak bertanya, apakah idul adha 1443 seperti yang tercantum di kalender, Sabtu 9 Juli 2022? Idul adha kali ini ada potensi perbedaan, 9 Juli dan 10 Juli 2022.

Analisis garis tanggal bisa menjelaskan potensi perbedaan itu. Garis tanggal dibuat dengan menggunakan kriteria yang berlaku di masyarakat. Saat ini ada dua kriteria utama yang digunakan di Indonesia: Kriteria Wujudul Hilal dan Kriteria Baru MABIMS. Kriteria Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah mendasarkan pada kondisi bulan lebih lambat terbenamnya daripada matahari. Kriteria Baru MABIMS mendasarkan pada batasan minimal untuk terlihatnya hilal (imkan rukyat atau visibilitas hilal), yaitu fisis hilal yang dinyatakan dengan parameter elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimum 6,4 derajat dan fisis gangguan cahaya syafak (cahaya senja) yang dinyatakan dengan parameter ketinggian minimum 3 derajat. Kriteria Baru MABIMS digunakan oleh Kementerian Agama dan beberapa ormas Islam.

Garis tanggal Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih, gambar atas) melintas di selatan Indonesia. Sementara garis tanggal Kriteria Baru MABIMS (antara arsir hijau dan merah, gambar bawah) melintas jauh di sebelah barat Indonesia.

Pada saat maghrib 29 Juni 2022, di Indonesia posisi bulan sudah di atas ufuk. Artinya kriteria Wujudul Hilal telah terpenuhi. Itu sebabnya Muhammadiyah di dalam maklumatnya menyatakan 1 Dzulhijjah 1443 jatuh pada 30 Juni 2022 dan Idul Adha jatuh pada 9 Juli 2022. Hari libur nasional yang menyatakan idul adha 1443 jatuh pada 9 Juli 2022 didasarkan pada kriteria lama MABIMS, yaitu tinggi minimal 2 derajat dan elongasi 3 derajat atau umur bulan 8 jam.

Garis tanggal Kriteria Baru MABIMS menunjukkan bahwa di Indonesia pada saat maghrib 29 Juni 2022 tinggi bulan umumnya kurang dari 3 derajat dan elongasinya kurang dari 6,4 derajat. Artinya, hilal terlalu tipis untuk bisa mengalahkan cahaya syafak yang masih cukup kuat. Akibatnya, hilal tidak mungkin dapat dirukyat. Secara hisab imkan rukyat (visibilitas hilal), data itu menunjukkan bahwa 1 Dzulhijjah 1443 akan jatuh pada 1 Juli 2022 dan Idul Adha jatuh pada 10 JUli 2022. Konfirmasi rukyat akan dilakukan pada 29 Juni dan diputuskan pada sidang itsbat awal Dzulhijjah 1443.

Mengkaji “Hilal Syar’i” secara Astronomi

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Ilustrasi sidang hasil rukyat. Setiap perukyat harus disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat sebelum hasilnya dilaporkan ke Sidang Itsbat di Kementerian Agama (Gambar screen shoot video yang beredar di WAG diskusi hisab rukyat).

Alhamdulilah, Idul Fitri dirayakan seragam di Indonesia pada 2 Mei 2022, walau ada kelompok kecil yang merayakan pada hari yang berbeda sesuai keyakinan mereka. Kekhawatiran terjadinya perbedaan idul fitri 1443 seperti pada penetapan awal Ramadhan 1443 sirna setelah mendengarkan laporan pada sidang itsbat (sidang penetapan) bahwa ada 9 saksi yang melaporkan melihat hilal (bulan sabit pertama). Para saksi sudah disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat. Artinya, kesaksian itu sah secara syar’i (hukum Islam) dan dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan oleh Menteri Agama pada sidang itsbat.

Sebagai Muslim, saya tunduk pada keputusan Pemerintah sebagai Ulil Amri (pemegang otoritas) yang memutuskan awal dan akhir Ramadhan. Alasan saya, keputusan sidang itsbat bukan hanya merujuk hasil rukyat (pengamatan) tetapi juga hasil hisab (perhitungan astronomi). Dan alasan paling mendasar, untuk mempersatukan ummat perlu adanya otoritas tunggal agar masyarakat tidak bingung. Jadi, saya pun mengikuti keputusan Pemerintah beridul fitri pada 2 Mei 2022.

Namun sebagai astronom, saya bisa mengkritisi hasil rukyat dari sudut pandang astronomi. Kesaksian rukyat yang diterima oleh hakim Pengadilan Agama dan sidang itsbat saya anggap sebagai kesaksian melihat “hilal syar’i”, hilal yang secara syar’i sah dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan. Artinya, saksi tidak berbohong bahwa dia yakin melihat hilal. Untuk ibadah, dasar keyakinan memang diakui, tidak membutuhkan pembuktian lain yang mungkin malah merepotkan dan perlu waktu lama untuk mendapatkannya. Kritik terhadap “hilal syar’i” diperlukan untuk pembelajaran bagi para perukyat, agar pada masa mendatang “hilal syar’i” juga semestinya “hilal astronomis”, yaitu hilal fisik yang diakui para astronom.

Hilal yang diyakini secara astronomi adalah hilal fisik, yaitu bulan sabit yang dihasilkan dari pantulan cahaya matahari sesaat setelah matahari terbenam. Pengamatan setelah maghrib adalah contoh Rasul, karena saat itulah gangguan cahaya matahari yang menyilaukan sudah menghilang. Hanya tersisa gangguan berupa cahaya syafak atau cahaya senja. Itu sebabnya perlu ketinggian tertentu agar hilal bisa teramati.

Hilal awal Syawal 1443 berada pada batas kriteria baru MABIMS yang baru saja disepakati oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Khususnya pada aspek elongasinya. Dari aspek ketinggiannya, pada saat maghrib 1 Mei 2022 tinggi bulan di kawasan barat Indonesia sudah sekitar 5 derajat. Sudah cukup tinggi, berarti gangguan cahaya syafak sudah berkurang. Namun elongasinya (jarak sudut bulan – matahari) sekitar 6,4 derajat. Artinya, hilalnya sangat tipis karena masih terlalu dekat matahari.

Dari 9 pengamat yang disumpah sebagian besar mengaku melihat hilal dengan mata tanpa alat. Sebagian ada yang menggunakan teropong (monokuler) dan ada juga yang menggunakan teleskop yang dilengkapi kamera CCD. Sebagian kalangan beranggapan ada orang-orang yang diberikan kelebihan untuk melihat hilal yang sangat redup. Namun anggapan itu bukan ranah sains, karena tidak bisa dibuktikan kalau dasarnya hanya pengakuan pribadi dan sumpah.

Pengamat di NTT mengaku melihat hilal dari citra yang direkam kamera CCD. Menurut kolega di BMKG, citranya mirip dengan laporan rukyat BMKG di Tapanuli Tengah. Citra yang dianggap hilal adalah goresan tipis melengkung, namun sangat samar dan meragukan.

Foto dugaan hilal oleh BMKG (dari WAG diskusi terkait hisab rukyat)

Dari segi kepekaan melihat hilal, kamera CCD semestinya lebih peka daripada mata untuk mengenali hilal. Kamera CCD lebih peka pada warna merah. Sedangkan mata lebih peka pada warna hijau. Seperti halnya matahari terbenam, hilal di ufuk barat yang memancarkan pantulan cahaya matahari lebih dominan memancarkan warna kuning – merah, karena cahaya biru lebih banyak dihamburkan oleh atmosfer. Apalagi kamera menerima cahaya yang difokuskan lebih banyak dari pada mata, karena diameter cermin teleskop jauh lebih besar daripada diameter pupil mata. Jadi, kalau dengan kamera CCD saja hilal sangat samar dan meragukan, mestinya ketampakan oleh mata pun lebih samar. Dari argumentasi ini, sangat wajar anggapan “hilal syar’i” bisa jadi bukan hilal sesungguhnya tetapi diyakini oleh pengamatnya sebagai hilal.

Sensitivitas mata dibandingkan dengan sensitivitas kamera CCD dan CMOS. Semestinya kamera lebih sensitif mengenali hilal daripada mata.
(Dari http://www.fen-net.de/walter.preiss/e/slomoinf.html)

Untuk memberikan gambaran tipisnya hilal muda, apalagi yang sangat dekat dengan batas kriteria baru MABIMS (tinggi minimal 3 derajat, elongasi minimal 6,4 derajat), bisa dilihat dari laporan pengamatan hilal sangat muda. Kebetulan ada citra hilal yang direkam dengan kamera CCD di wilayah Madinah pada 23 April 2020 saat penentuan awal Ramadhan 1441 (dari situs ICOP — saat ini ada di dalam situs http://www.astronomycenter.net). Tinggi hilal 3 derajat 8 menit. Elongasinya 6,6 derajat.

Data posisi hilal awal Ramadhan 1441 yang teramati di Madinah, Arab Saudi pada 23 April 2020. Posisinya dekat batas kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. (Dari aplikasi Accurate Times – Odeh).
Hilal awal Ramadhan 1441 yang direkam 13 menit pasca maghrib dengan menumpuk (stacked) 84 citra.

Hilal di Madinah tidak tampak dengan mata tanpa alat. Dengan teleskop langsung pun tidak tampak. Hilal tampak pada hasil perekaman kamera CCD yang dipasang dengan teleskop setelah menumpuk (stacked) 84 citra untuk meningkatkan kontras hilal. Artinya, citra pemotretan tunggal tidak akan menampakkan citra hilal secara jelas. Memang tidak ditunjukkan citra pemotretan tunggal. Namun untuk memberikan gambaran betapa tipisnya hilal saat itu, ada gambar yang direkam siang hari dengan jumlah citra yang ditumpuk setengahnya. Gambar di bawah ini adalah citra bulan sabit siang hari yang ditumpuk (stacked) 42 citra. Sangat-sangat samar. Sangat mungkin hilal fisik seperti itu tidak akan teramati oleh mata para perukyat. Jadi, hilal Syawal yang diakui teramati oleh perukyat sesungguhnya bukan hilal, mungkin sumber cahaya lain atau sekadar “hilal imajinatif”.

Bulan sabit siang hari yang direkam dengan kamera CCD dan ditumpuk (stacked) 42 citra. Tampak sabitnya sangat tipis walau sudah ditumpuk 42 citra.

Catatan Tambahan (Updated 8 Mei 2022):

Menanggapi artikel ini, kolega di LFNU memberikan data rukyat oleh Tim LFNU. Dari 6 lokasi di Jawa yang melaporkan melihat hilal, 3 kelompok saksi rukyat menggunakan alat optik (teodolit atau monokuler). Sangat kontradiksi bila kesaksian Stamm yang dijadikan rujukan kriteria elongasi 6,4 derajat bisa diterima, sedangkan laporan perukyat awal Syawal 1443 H dilabeli “hilal Syar’i”, padahal sama-sama kasat teleskop, tanpa menyertakan foto hilal.

Atas tanggapan kolega LFNU tersebut, saya sampaikan penjelasan sbb:

Sains didasarkan pada pembuktian objektif, yang bisa diuji dan dibandingkan dengan data di tempat lain oleh periset lain. Data sains pun biasanya mengikuti pola distribusi tertentu. Data yang terpencil pasti dicurigai ada sesuatu yang salah.
Bila dibandingkan data internasional, data kesaksian di Jawa tergolong pencilan yang patut dicurigai karena bias tertentu.

  • Prakiraan model visibilitas hilal Odeh menunjukkan wilayah Jawa sbg “impossible”. Wilayah yg mungkin melihat dengan alat optik hanya Sumatera dan sebagian Kalimantan.
  • Rekor elongasi (toposentrik) oleh Stamm (2012) dengan alat optik adalah 6 derajat. Itu dalam kondisi cuaca lintang menengah yang cerahnya luar biasa. Bandingkan dangan data rukyat di Indonesia. Cuaca yang disebut cerah biasanya masih ada awan tipis. Elongasi toposentrik sekitar 5 derajat, terlalu dekat dengan matahari dan sangat jauh dari catatan rekor elongasi. Kalau pun kesaksian rukyat di Jawa dilaporkan ke ICOP atau Moonsighting, saya yakin datanya diragukan.
    Itulah yang disebut “hilal syar’i”, hilal yang sah secara syar’i tetapi diragukan secara sains.

Salah satu bias pengamatan yang mungkin mempengaruhi adalah kebiasaan menganggap hilal dengan tinggi lebih dari 2 derajat bisa terlihat. Tanpa memperhatikan aspek elongasi yang terkait tebal hilal. Di Jawa hilal sudah cukup tinggi sekitar 4 derajat sehingga dianggap mudah terlihat. Padahal elongasi toposentriknya hanya sekitar 5 derajat, sangat tipis.

Astronomi Tawarkan Solusi Penyatuan Kalender Islam

LAPAN (kini berintegrasi ke BRIN) sejak 1996 diminta Kemristek membantu memberikan solusi perbedaan penetapan awal Ramadhan dan hari raya dengan kepakaran astronomi yang dimilikinya. Solusi harus dari akarnya, yaitu menyamakan kriteria kalender Islam berdasarkan kajian astronomi dengan tetap merujuk ketentuan syar’i (hukum Islam). Simak tulisan saya di Kompas.com.

https://www.kompas.com/…/astronomi-tawarkan-solusi…

Idul Fitri 1443 Mungkin Seragam, tetapi Ada Potensi Berbeda

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Posisi bulan pada 29 Ramadhan 1443 atau 1 Mei 2022, di wilayah Indonesia berada pada batas kriteria baru MABIMS. Tingginya sudah di atas 3 derajat, tetapi elongasinya sekitar 6,4 derajat. Dari berbagai pendapat pakar hisab rukyat, kemungkinan besar Idul Fitri akan seragam 2 Mei, tetapi masih ada potensi perbedaan Idul Fitri 3 Mei 2022.

Kemungkinan besar Idul Fitri 2 Mei 2022

Berikut beberapa alasan yang mendukung kemungkinan besar Idul Fitri 1443 pada 2 Mei 2022:

  1. Secara hisab, posisi bulan pada saat maghrib 1 Mei 2022 di wilayah Sumatera bagian utara dekat dengan batas kriteria elongasi 6,4 derajat. Bahkan beberapa hisab kontemporer dari beberapa kitab menunjukkan beberapa wilayah di Sumatera sudah memenuhi kriteria elongasi 6,4 derajat, seperti hisab yang dilakukan Ibnu Zaid Abdo el-Moeid.
Wilayah Sumatera bagian utara berada pada batas kriteria elongasi 6,4 derajat (dari AHC).
Posisi bulan saat maghrib di Sabang tingginya sudah 5 derajat lebih dan elongasinya sekitar 6,4 derajat. (Dari simulasi Stellarium)
Hisab kontemporer dari beberapa kitab menunjukkan di wilayah Sumatera posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS.

2. Ada dukungan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) Odeh bahwa pada saat maghrib 1 Mei 2022 di sebagian wilayah Indonesia hilal mungkin bisa dirukyat dengan menggunakan alat optik (binokuler atau teleskop).

Kriteria visibilitas hilal Odeh menunjukkan di wilayah Sumatera hilal mungkin bisa dirukyat dengan binokuler atau teleskop.

3. Bila ada laporan rukyat bahwa hilal terlihat kemungkinan akan diterima karena dianggap telah memenuhi kriteria baru MABIMS. Apalagi Lembaga Falakiyah PBNU menggunakan definisi elongasi geosentrik dalam kriterianya. Kalau kesaksian rukyat diterima pada sidang itsbat, secara syar’i itu sah.

Elongasi geosentrik bulan (dari LF PBNU)

4. Bila tidak ada laporan rukyatul hilal, mungkin juga sidang itsbat menggunakan yurisprudensi keputusan sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1407/1987 ketika tidak ada laporan terlihatnya hilal padahal saat itu hilal dianggap telah memenuhi kriteria imkan rukyat. Keputusan itu merujuk fatwa MUI 1981.

Keputusan sidang istbat awal Ramadhan 1407/1987 yang mendasarkan pada hasil hisab ketika tidak ada laporan terlihatnya hilal dengan merujuk fatwa MUI 1981.

Ada potensi perbedaan

Karena Indonesia berada pada batas kriteria imkan rukyat, secara astronomi diprakirakan hilal sangat sulit dirukyat. Apalagi pada masa pancaroba saat ini, potensi mendung dan hujan mungkin terjadi di lokasi rukyat. Jadi ada potensi laporan rukyat menyatakan hilal tidak terlihat. Bila itu terjadi, pengamal rukyat mungkin akan mengusulkan di sidang itsbat untuk melakukan istikmal, yaitu menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari. Bila sidang itsbat menerimanya, maka idul fitri mungkin juga 3 Mei 2022. Kemungkinan lainnya, bila tetap berpegang pada istikmal, mungkin juga ada ikhbar (pengumuman) terpisah oleh ormas tertentu yang menetapkan idul fitri 3 Mei 2022.

Dengan mempertimbangkan kemaslahatan ummat, kita berharap Idul Fitri 1443 ditetapkan seragam pada pada 2 Mei 2022. Sebelumnya Muhammadiyah sudah membuat maklumat bahwa berdasarkan hisab dengan kriteria Wujudul Hilal, Idul fitri pada 2 Mei 2022. Persis (Persatuan Islam) juga berdasarkan hisab, pada Surat Edarannya mengumumkan Idul Fitri 2 Mei 2022. Kita berharap sidang itsbat dan Ikhbar PBNU juga akan menetapkan Idul Fitri pada 2 Mei 2022.

Selangkah Lagi Menuju Penyatuan Kalender Hijriyah: Persis, Muhammdiyah, dan NU Sudah Bergerak Maju

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Beragamnya kalender hijriyah di Indonesia dan manca negara sesungguhnya mencerminkan belum adanya kesepatan kriteria dan otoritas penetapan kalender tersebut. Keberagaman itu yang menjadi sebab perbedaan penetapan awal Ramadhan dan hari raya, khususnya di Indonesia. Perbedaan penetapan bukan karena perbedaan metode hisab (perhitungan posisi) dan rukyat (pengamatan). Kalau kriterianya seragam, insya-a Llah keputusan hisab dan rukyat hasilnya juga seragam.

Saat ini sesungguhnya, kedudukan hisab dan rukyat setara. Tidak bisa hisab dianggap lebih unggul dari rukyat, atau sebaliknya. Lagi pula semua ormas Islam saat ini sudah mempunyai pakar hisab untuk membuat kalender. Sementara rukyat digunakan sebagai konfirmasi hasil hisab yang pelaksanaannya lebih didasarkan alasan ketaatan (ta’abudi) atas perintah Rasul.

Keberagaman kalender itu yang berimbas pada terjadinya perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Perbedaan itu menyebabkan ketidaknyamanan dalam beribadah, terutama saat terjadi perbedaan Idul Fitri. Ada sebagian ummat Islam yang sudah beridul fitri, tetapi lainnya masih berpuasa. Perbedaan itu juga menimbulkan keresahan dan sedikit gesekan di masyarakat ketika aspek perbedaannya diungkit kembali. Dalil-dalil fikih kembali diulas, suatu diskusi yang tidak pernah selesai karena terkait keyakinan.

Lalu bagaimana solusinya? Di kalangan pegiat hisab rukyat umumnya sudah faham bahwa masalah utamanya adalah perbedaan kriteria. Upaya untuk mencari solusi sudah diupayakan. Pada 2004 ada Fatwa Majelis Ulama nomor 2/2004 yang merekomendasikan adanya kriteria yang dapat menjadi pedoman bersama. Kemudian pada 2017 ada Rekomendasi Jakarta yang salah satunya mengusulkan kriteria tinggi minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 derajat (biasa disingkat kriteria [3-6,4]) dengan markaz (rujukan) kawasan barat Asia Tenggara. Dan akhirnya pada 8 Desember 2021 para menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura menyepakati kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Kriteria baru MABIMS tersebut diberlakukan di Indonesia sejak 2022.

Apakah sudah ada langkah maju menuju penyatuan atau unifikasi kalender hijriyah? Walau lambat, perlu kita apresiasi gerak maju yang sudah dilakukan beberapa ormas Islam menuju unifikasi kalender hijriyah. Dengan dialog yang terus dilakukan dan keterbukaan semua pihak, insya-a Llah kita bisa mewujudkan salah satu pilar “ukhuwah Islamiyah” yaitu unifikasi kalender hijriyah, baik lokal-nasional, regional Asia tenggara, maupun global-internasional.

Gerak Maju Persis (Persatuan Islam)

Persis adalah ormas Islam yang pandangan fikihnya mirip dengan Muhammadiyah, yaitu menggunakan dasar hisab dalam penentuan waktu ibadah. Dalam penyusunan kalender hijriyah, Persis paling dinamis melakukan perubahan kriterianya. Mulai kriteria “Ijtimak Qablal Ghurub”, beralih ke “Wujudul Hilal (WH)”, kemudian “Kriteria lama MABIMS”, dan akhirnya ke “Kriteria astronomis” yang sama dengan Kriteria Baru MABIMS.

Kriteria “Ijtimak Qablal Ghurub” mendasarkan pada waktu ijtimak (new moon astronomis) sebelum maghrib. Bila kriteria ijtimak qabla ghurub ditambah syarat bulan terbenam setelah maghrib, jadilah kriteria “WH”. Kemudian kriterianya ditingkatkan lagi dengan kemungkinan bisa dirukyat (imkan rukyat atau visibilitas hilal) dengan mengadopsi kriteria lama MABIMS, tinggi bulan minimal 2 derajat dan elongasi minimal 3 derajat atau umur bulan minimal 8 jam.

Untuk mendapatkan landasan yang lebih kuat, kemudian diadopsi “Kriteria Astronomis” yang mendasarkan pada data-data ketampakan hilal secara global. Kriteria astronomis yang diadopsi adalah beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Beda tinggi bulan – matahari 4 derajat setara dengan tinggi bulan 3 derajat. Jadi “Kriteria Astronomis” yang diadopsi pada 2012 sudah sesuai dengan kriteria baru MABIMS.

Selama hampir sepuluh tahun Persis konsisten menerapkan kriteria astronomisnya. Bila terjadi perbedaan dengan keputusan sidang itsbat, langkah positif yang diambilnya adalah mengikuti keputusan Pemerintah. Mengikuti otoritas Pemerintah pada saat terjadi perbedaan adalah salah satu langkah strategis untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah, sebelum penyatuan kriteria berhasil disepakati.

Gerak Maju Muhammadiyah

Kriteria “WH” digunakan Muhammadiyah berdasarkan faham fikih mereka bahwa penentuan Ramadhan dan bulan-bulan hijriyah lainnya tidak harus merujuk pada rukyat. Cukup dengan hisab. Sebenarnya kriteria hisab mencakup juga kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) tanpa harus menunggu ketampakan hilal secara fisis. Dalam sejarahnya, memang kriteria WH adalah kriteria penyederhanaan dari kriteria imkan rukyat, tanpa memperhitungkan faktor fisis hilal dan gangguan cahaya syafak (cahaya senja).

Sekitar 14 tahun saya pun menggunakan kriteria WH, sejak saya mahasiswa astronomi ITB awal 1980-an sampai saya menyelesaikan sekolah di Jepang pada 1994. Dalam kondisi minim aplikasi astronomi saat itu, perhitungan posisi bulan dianggap sangat rumit. Kriteria WH adalah pilihan terbaik. Datanya cukup diambil dari Astronomical Almanac. Cukup menggunakan data waktu matahari terbenam (sunset) dan bulan terbenam (moonset), lalu dilakukan interpolasi posisi kota rujukan, misalnya Yogyakarta (biasa jadi rujukan Muhammadiyah) atau Bandung (dulu digunakan sebagai rujukan hisab ITB dan Unisba). Bila moonset lebih lambat dari sunset, maka dianggap masuk awal bulan hijriyah. Saat saya di Jepang, saya buat biasa membuat garis tanggal WH global untuk memprakirakan masuknya awal bulan di Jepang dan negara-negara Muslim lainnya.

Kriteria WH demikian melekat pada Muhammadiyah sehingga ada yang menganggap hisab identik dengan wujudul hilal. Padahal kriteria imkan rukyat pun adalah kriteria hisab, namun bisa digunakan juga untuk membantu rukyat. Apakah mungkin Muhammadiyah beralih ke hisab imkan rukyat? Sangat mungkin.

Pada muktamar Muhammadiyah 2015, direkomendasikan untuk berubah ke Kalender Islam Global. Hisab Wujudul Hilal yang sangat lokal Yogyakarta akan ditinggalkan, beralih ke hisab kalender global. Pada 2016 ada Kongres Kalender Hijri Internasional di Turki dan ada wakil Muhammadiyah yang menghadirinya. Konsep Kalender Islam Global (KIG) ala Turki kemudian dikaji untuk diterapkan Muhammadiyah. Pada KIG ala Turki, kriteria WH lokal tidak digunakan, tetapi beralih ke kriteria imkan rukyat tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat (biasa disingkat kriteri [5-8]).

Wacana penggunaan KIG ala Turki merupakan gerak maju Muhammadiyah yang perlu diapresiasi. Hal ini juga menghapus stigma seolah hisab itu hanya WH. Langkah selanjutnya, adalah dialog bersama ormas-ormas Islam dan para pakar terkait untuk implementasi di tingkat nasional dan regional. Bagaimana pun Muhammadiyah berakar di Indonesia dan menyebar ke negara-negara tetangga. Terlalu naif kalau kita memperjuangkan kesatuan global, namun mengabaikan potensi perbedaan di negeri sendiri.

KIG ala Turki dengan kriteria imkan rukyat [5-8] menyimpan masalah untuk diterapkan di Indonesia dan regional Asia Tenggara. Markaz kriteria KIG ala Turki adalah “di mana saja, asalkan di Selandia Baru belum terbit fajar”. Bisa terjadi di benua Amerika sudah memenuhi kriteria, namun saat maghrib di Asia Tenggara bulan masih di bawah ufuk atau ketinggiannya masih sangat rendah. Kondisi itu tentu saja tidak bisa diterima oleh pengamal rukyat di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara.

KIG mestinya juga mengakomodasi kepentingan pengamal rukyat, apalagi mayoritas negara Muslim masih menerapkan rukyatul hilal dalam pelaksanaan ibadahnya. Pada 2017 delegasi Indonesia mengusulkan penyempurnaan konsep KIG ala Turki pada Seminar Internasional yang melahirkan Rekomendasi Jakarta 2017 (RJ2017). RJ2017 mengadopsi kriteria imkan rukyat [3-6,4] dengan markaz kawasan barat Asia Tenggara. Sesungguhnya kriteria [5-8] di Turki setara dengan kriteria [3-6,4] di Asia Tenggara dengan mempertimbangkan pergerakan bulan dan beda waktu kedua wilayah sekitar 4 jam.

RJ2017 adalah konsep KIG dengan memperhatikan kebutuhan regional Asia Tenggara, khususnya Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. RJ2017 juga menghindari terjadinya “yaumusy syak” (hari yang meragukan) dalam mengawali Ramadhan, yang dilarang Rasul untuk berpuasa. Semoga dengan dialog yang terbuka, Muhammadiyah terus bergerak maju menuju titik temu mewujudkan unifikasi kalender hijriyah.

Gerak Maju NU

Nahdlatul Ulama (NU) adalah pengamal rukyat dalam penetapan bulan-bulan ibadah. Walau mereka mahir juga dalam hisab, rukyat tetap dilaksanakan atas dasar ta’abudi (ketaatan pada perintah Rasul). Namun seringkali praktek rukyat dianggap memberikan ketidakpastian. Ketika bulan sudah memenuhi kriteria, namun tidak seorang pun melaporkan melihat hilal, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari. Akibatnya awal bulan mungkin bergeser.

Alhamdulillah, NU bergerak cepat untuk maju menuju titik temu. Hal ini tentu perlu diapresiasi dengan ditetapkannya dua keputusan penting: Keputusan Muktamar NU 2021 dan Keputusan Imkan Rukyat NU 2022. Pada Keputusan Muktamar NU 2021 dinyatakan bahwa hasil hisab imkan rukyat bisa menolak kesaksian hilal, bila posisi hilal belum memenuhi kriteria. Sebaliknya, dengan syarat tertentu hasil hisab juga bisa digunakan untuk menetapkan awal bulan ketika kriteria imkan rukyat telah terpenuhi namun tidak ada rukyat yang berhasil melihat hilal.

Berikut cuplikan gerak maju NU pada Muktamar NU 2021 di Lampung (dari dokumen “Informasi Hilal Awal Ramadhan 1443 H” oleh LF PBNU):

Kemudian ada SK Lembaga Falakiyah PBNU tentang Kriteria Imkan Rukyat Nahdlatul Ulama, yang sama dengan kriteria [3-6,4]:

Hasil Muktamar NU 2021 dan SK LF-PBNU 2022 sebenarnya berpeluang dimaknai “ilmu falak dapat digunakan untuk menafikan ikmāl (menggenapkan bulan berjalan sampai 30 hari)”, sehingga ketika posisi bulan telah memenuhi kriteria [3-6,4] bisa langsung diputuskan besoknya awal bulan. Makna tersebut sejalan dengan Fatwa MUI 1981 bahwa ketika posisi hilal sudah memenuhi kriteria untuk bisa dirukyat, keputusan bisa diambil berdasarkan terpenuhinya kriteria yang ditetapkan. Namun perlu dialog lebih mendalam untuk memastikan tafsir tersebut untuk menujuk titik temu dengan pengamal hisab.

Perjalanan Panjang Menuju Kesepakatan Kriteria Kalender Hijriyah

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag RI

Usulan kriteria baru MABIMS atau Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat) dirumuskan dan dibahas cukup lama, lebih dari sepuluh tahun sampai akhirnya ditetapkan. Pakar astronomi dan pengambil kebijakan bekerja secara sistematis dan tertahap, jadi tidak tiba-tiba dalam memutus kriteria baru tersebut:

Paparan delegasi RI pada MUzakarah MABIMS 2014
Usulan kriteria baru pada Muzakarah MABIMS 2014
  • Naskah Akademik tersebut sesungguhnya disiapkan untuk diajukan ke Munas MUI pada 2015. Namun Munas MUI saat itu belum menerima kriteria baru yang diusulkan.
  • Konsep kriteria baru tersebut dibawa delegasi RI ke pertemuan teknis MABIMS pada 2016. Dengan masukan dari semua delegasi, akhirnya disepakati draft kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
  • Dalam berbagai kesempatan, kriteria baru tersebut ditawarkan untuk dikritisi oleh para pakar, tetapi tidak ada respons berupa tawaran alternatif kriteria lain.
  • Pembahasan draft kriteria baru berlanjut dibahas di tingkat MABIMS: mulai tingkat teknis, tingkat pejabat tinggi (SOM), sampai tingkat Menteri (2016 – 2021).
  • Pada tahap awal implementasi, ketika beberapa ormas Islam masih menggunakan kriteria lama, perbedaan penetapan Ramadhan dan hari raya tidak terhindarkan. Misalnya potensi perbedaan pada penetapan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 1443.
  • Jalan masih panjang, tetapi dengan semangat fastabiqul khayrat (berlomba berbuat kebajikan) kita semua mesti berubah menjadi lebih baik. Unifikasi Kalender Hijriyah yang memberikan kepastian dan kenyamanan dalam beribadah menjadi dambaan kita semua.

Memaknai Kriteria Baru MABIMS dalam Kerangka Unifikasi Kalender Hijriyah Indonesia

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag RI

Ada tiga prasyarat mewujudkan sistem kalender yang mapan, termasuk untuk unifikasi kalender hijriyah. Tiga syarat itu adalah adanya kriteria tunggal, adanya otoritas tunggal, dan ada kesepakatan batas tanggal. Sudah sekitar tiga dekade pembahasan kriteria kalender hijriyah di Indonesia belum tuntas. Pada 1994 disepakati kriteria MABIMS (forum Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang dikenal sebagai kriteria [2-3-8] (tinggi bulan 2 derajat, elongasi 3 derajat atau umur bulan 8 jam). Tetapi kesepakatan itu tidak bulat. Ada ormas yang tetap bertahan dengan kriteria WH (Wujudul Hilal) atau tinggi bulan sekitar 0.

Pada 2004 ada fatwa MUI yang di dalamnya ada rekomendasi untuk mengupayakan kriteria tunggal. Namun setelah lebih dari sepuluh tahun juga belum terwujud. Pada 2015 dicoba diusulkan kriteria berbasis astronomi, namun usulan itu belum dapat diterima oleh Munas MUI di Surabaya. Konsep usulan kriteria itu terus dibahas secara langsung atau pun tidak langsung. Alhamdulillah pada 2016 konsep itu bisa diterima dalam pertemuan teknis MABIMS, walau tidak secara langsung merujuk konsep Indonesia. Pada 2017 kriteria [3-6,4] juga diusulkan masuk dalam Rekomendasri Jakarta 2017 (RJ2017). Pembahasan kriteria baru MABIMS untuk menggantikan kriteria [2-3-8] terus berlanjut. Sampai akhirnya disepakati pada 8 Desember 2021.

Kementerian Agama sudah menerapkan kriteria baru MABIMS (Forum Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura),  yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 (biasa disebut juga kriteria [3-6,4]). Hal itu menimbulkan kekhawatiran semakin seringnya terjadi perbedaan pada tiga bulan khusus: Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Alasannya sederhana, karena masih ada ormas Islam yang menggunakan kriteria Wujudul Hilal (WH) atau ketinggian hilal sekitar 0 derajat. Ya, memang kriteria [3-6,4] dengan kriteria WH sering terjadi perbedaan seperti yang terjadi pada 1443 H.

Namun kita harus bergerak maju setelah sekian lama berjalan di tempat. Jangan saling menunggu terus. Kementerian Agama telah mengambil langkah strategis, memecahkan kebuntuan dengan mengadopsi kriteria baru MABIMS. Tentunya setelah pembahasan panjang di forum MABIMS dan diskusi di forum antarpakar hisab rukyat dalam berbagai pertemuan yang difasilitas Kemenag.

Kebuntuan itu beralasan. Pengamal rukyat mengkhawatirkan perbedaan dengan pengamal hisab WH makin sering terjadi bila beralih ke kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) yang lebih tinggi, seperti kriteria [3-6,4]. Padahal pengamal hisab WH sebenarnya sudah berfikir jauh akan meningggalkan kriteria WH dan juga kriteria 2 derajat. Mereka sudah mewacanakan beralih ke kriteria [5-8] (tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat) ala Kalender Islam Global (KIG) Turki. Sementara sebagian pengamal rukyat pun mulai berfikir meningkatkan kualitas rukyatnya dengan kriteria imkan rukyat yang lebih baik. Kriteria lama [2-3-8] sering dikritik di forum MABIMS karena terlalu rendah dan tidak ada dukungan data astronomi yang sahih.

Perubahan kriteria itu sebenarnya pertanda positif. Kriteria [3-6,4] dengan markaz negara-nagara MABIMS di Asia Tenggara sesungguhnya setara dengan kriteria [5-8] kalau markaznya Turki. Artinya, kalau di Asia tenggara memenuhi kriteria [3-6,4], di Tukrki bakal memenuhi kriteria [5,8]. Bagaimana pun kriteria [5-8] terinspirasi dari data-data lokal Turki. Setelah perubahan kriteria disepakati secara bertahap, diskusinya nanti bakal beralih. Bukan lagi diskusi hisab WH vs rukyat berbasis imkan rukyat 2 derajat, tetapi beralih ke diskusi KIG.  Diskusinya akan bergeser pada pilihan terbaik antara KIG ala Turki vs KIG ala MABIMS/RJ2017 (Rekomendasi Jakarta 2017) atau pilihan konsep KIG lainnya.

Dengan gebrakan Kemenag mengubah kriteria dengan kriteria baru MABIMS, semua ormas diajak untuk maju. Diajak meninggalkan kriteria lama (WH atau ketinggian 2 derajat) menuju kriteria baru yang lebih berdasarkan kajian astronomi. Kementerian Agama sudah maju dulu untuk membangkitkan diskusi yang progresif. Resistensi pasti ada. Tetapi kita yakin, semua pihak mau berubah untuk maju menuju yang lebih baik.

Diskusi Pilihan KIG

Sebenarnya diskusi di kalangan pakar hisab rukyat tentang potensi pilihan KIG sudah berjalan pada pertemuan yang difasilitasi Kemenag atau secara informal di WAG. Di blog ini juga pernah dibahas prospek KIG ala Turki dan KIG RJ2017 dari sudut pandang lain. Berikut ini pendapat saya tentang pilihan KIG ala Turki atau KIG ala MABIMS/RJ2017 dari sudut pandang fikih.

Konsep “keterlihatan hilal (rukyat) bagi penduduk di kawasan barat berlaku bagi penduduk kawasan timur” biasanya kita kenal dalam konsep “wilayatul hukmi” (satu wilayah hukum). Misalnya rukyat atau imkan rukyat di Aceh berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia sampai Papua. Satu wilayah hukum dimaknai ada satu otoritas. Dulu ada khalifah, sekarang tidak ada. Dalam RJ2017 diusulkan otoritas global adalah otoritas kolektif antar-pemerintahan, yaitu OKI yang bisa memberlakukan “wilayatul hukmi” global. Otoritas regional bisa menggunakan MABMIS dan otoritas nasional adalah Pemerintah yang diwakili Menteri Agama.

Lalu konsep KIG mana yang dipakai? Saat ini ada tawaran konsep KIG Turki dan KIG RJ2017.

– Konsep KIG Turki: Markaz (titik rujukan) di mana saja. Ketika wilayah terbarat (benua Amerika) yang imkan rukyat, di wilayah timur  mungkin saja bulan masih di bawah ufuk atau posisinya terlalu rendah dekat ufuk.

– Konsep RJ2017: Markaz di wilayah barat Asia Tenggara. Ketika wilayah timur (Asia Tenggara) dipastikan imkan rukyat, maka itu berlaku global.

Keduanya bersifat ijtihadiyah yang bersifat dzhonni (dugaan kuat).

Kita timbang dengan dalil lain.

– Rasul melarang puasa pada hari meragukan (yaumusy syak). Pilihan KIG Turki memberikan keraguan masuknya awal bulan, khususnya Ramadhan di wilayah timur seperti Indonesia. Apalagi bila secara hisab diyakini  hilal masih di bawah ufuk atau terlalu rendah di wilayah timur. Sedangkan pilihan KIG RJ2017 tentu saja tidak memberi peluang yaumusy syak, karena imkan rukyat di timur sudah pasti wilayah baratnya juga imkan rukyat.

– Dari bobot dalilnya, imkan rukyat global menggunakan keumuman dalil. Sedangkan markaz lokal, bagi pengamal rukyat, menggukan dalil spesifik tentang rukyat yang dimaknai ta’abudi (ketaatan dengan perintah Rasul shuumuu li ru’yatihi – berpuasalah bila melihat hilal …) yang bisa dibuktikan secara lokal atau regional.

– Dari segi pendekatan ukhuwah dan unifikasi kalender hijriyah, pilihan markaz lokal atau regional lebih dekat untuk mewujudkan titik temu pengamal rukyat dan pengamal hisab. Artinya, kondisi bulan yang secara hisab sudah memenuhi kriteria imkan rukyat, berpeluang besar untuk terbukti secara rukyat secara lokal atau regional. Sehingga hal itu dapat mewujudkan keseragaman pengamal hisab dan pengamal rukyat, tanpa mempermasalahkan lagi aspek dalil hisab atau rukyat.

Konsep wilayatul hukmi terkait dengan keberadaan otoritas (khalifah, raja, sultan, presiden, mufti, atau pimpinan Islamic Center) yang mengumumkan masuknya awal bulan, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Itu berarti cakupan wilayahnya adalah wilayah hukum yang dikuasai otoritas tsb. Pemerintah RI memberlakukan di seluruh wilayah RI. Pernah juga digagas rukyat atau imkan rukyat di mana pun di negara-negara MABIMS berlaku untuk seluruh wilayah MABIMS. Kalau konsep RJ2017 diterima secara global, OKI yang mengumumkan awal bulan berlaku untuk seluruh negara Islam di bawah koordinasi OKI. Kalau itu berlaku, ummat Muslim minoritas di manca negara pasti juga merujuk keputusan OKI.

Sebelum konsep global berlaku dengan otoritas OKI, sangat realistis diberlakukan otoritas regional seperti MABIMS. Kesepakatan bersama menteri-menteri agama dalam penetapan kriteria baru MABIMS dan diadopsi Indonesia menjadi awal untuk unifikasi kalender Islam di negara-negara MABIMS. Semoga itu diikuti juga dengan unifikasi kalender Islam Indonesia dengan kesepakatan bersama semua ormas Islam tentang kriteria dan otoritas nasional.

Sekali Lagi, Bersiap Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1443

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kelender Hijriyah, Kemenag

Garis tanggal pada saat maghrib 1 April 2022. Dengan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), Muhammadiyah sudah memutuskan 1 Ramadhan 1443 = 2 April 2022. Namun, garis tanggal tinggi 2 derajat (antara arsir biru dan putih) sedikit di sebelah barat wilayah Indonesia. Artinya, sangat tidak mungkin akan terlihat hilal pada 1 April di wilayah Indonesia, sehingga 1 Ramadhan 1443 berpotensi 3 April 2022.

Sebenarnya peringatan akan potensi perbedaan awal Ramadhan 1443 sudah saya tuliskan di blog saya tentang Kalender 1443 dengan berbagai kriteria. Juga ketika membandingkan dengan kondisi Rajab 1443. Namun perlu ditambahkan pertimbangan terbaru terkait dengan kebijakan Kementerian Agama yang mengadopsi Kriteria Baru MABIMS.

Dengan melihat garis tanggal awal Ramadhan 1443 (gambar di atas), terlihat jelas potensi perbedaannya. Dengan kriteria Wujudul Hilal, Muhammadiyah sudah memutuskan 1 Ramadhan 1443 = 2 April 2022. Namun hilal terlalu rendah untuk diamati. Umumnya di wilayah Indonesia tinggi bulan kurang dari 2 derajat. Itu artinya, rukyatul hilal (pengamatan hilal) pada saat maghrib 1 April berpotensi tidak terlihat. Kalau pun ada yang melaporkan menyaksikan, itu sangat meragukan sehingga berpotensi ditolak saat sidang itsbat. Sehingga berdasarkan rukyat, 1 Ramadhan 1443 kemungkinan besar pada 3 April 2022.

Pada Takwim Standar (kalender Islam rujukan) oleh Kementerian Agama memang tercantum 1 Ramadhan 1443 = 2 April 2022 berdasarkan ketinggian bulan (dengan perhitungan lain) di Pelabuhan Ratu sedikit di atas 2 derajat. Dengan menggunakan kriteria lama, memang kondisi itu sudah dianggap masuk tanggal baru. Tetapi, dengan perhitungan yang lebih akurat, misalnya dari Accurate Times, memang di kawasan barat Indonesia pun tinggi bulan pada 1 April 2021 umumnya di bawah 2 derajat. Ini data hisab (perhitungan astronomi) di Surabaya, Jakarta, dan Medan yang menunjukkan tinggi bulan (Topographic Moon Altitude) kurang dari 2 derajat.

Sejak awal 2022 Kementerian Agama mengadopsi Kriteria Baru MABIMS, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Dengan kriteria baru tersebut, posisi bulan di wilayah Indonesia dan negara-negara Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura (negara-negara MABIMS) belum memenuhi kriteria. Berikut ini gambar garis tanggal dengan kriteria baru MABIMS.

Dengan kriteria baru MABIMS, pada 1 April posisi bulan tidak mungkin teramati. Jadi 1 Ramadhan 1443 = 3 April 2022

Jadi sangat mungkin Sidang Itsbat pada 1 April 2022 akan memutuskan 1 Ramadhan 1443 jatuh pada 3 April, berbeda dengan Muhammadiyah yang mengumumkan 1 Ramadhan 1443 jatuh pada 2 April 2022.

Bismillah, Indonesia Menerapkan Kriteria Baru MABIMS

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, PR Antariksa, OR PA (LAPAN), BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag RI

Muzakarah Rukyat dan Takwim Islam negara-negara anggota MABIMS (Forum Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) di Malaysia pada 2-4 Agustus 2016 telah bersepakat untuk mengubah kriteria lama dengan kriteria baru. Kriteria lama MABIMS yang dikenal sebagai kriteria (2,3,8) adalah tinggi minimal 2o, jarak sudut bulan-matahari (elongasi) minimal 3o atau umur bulan minimal 8 jam. Draft keputusan Muzakarah mengusulkan kriteria baru: Tinggi hilal minimal 3o dan elongasi minimal 6,4o. Kemudian disusul Seminar Internasional Fikih Falak di Jakarta pada 28 – 30 November 2017 yang menghasilkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Pembahasan di antara negara-negara MABIMS berlanjut. Terakhir ada pertemuan Pakar Falak MABIMS di Yogyakarta pada 8 – 10 Oktober 2019 yang merekomendasikan mewujudkan unifikasi kalender hijriyah mengikuti kriteria baru MABIMS. Secara formal, pada Pertemuan Pejabat Tinggi (SOM) MABIMS di Singapura pada 11 – 14 November 2019 disepakati kriteria baru MABIMS. Rangkaian pembahasan tersebut menjadi dasar Indonesia akhirnya bersepakat mempercepat penetapan kriteria baru MABIMS.

Surat resmi Menteri Agama RI kepada Menteri Agama Brunei Darussalam pada 4 November 2021 (Doc MABIMS)

Alhamdulillah pada 8 Desember 2021 dalam pertemuan virtual akhirnya kriteria baru MABIMS disahkan oleh menteri-menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Dokumen pengesahan kriteria baru MABIMS ditandatangani secara terpisah oleh masing-masing Menteri Agama, kemudian disatukan. Berikut ini adalah dokumen pengesahan oleh empat Menteri Agama (Doc MABIMS):

Pada naskah pengesahan disebutkan bahwa kriteria baru MABIMS dilaksanakan pada 2021 M (1443 H) atau sesuai kesiapan masing-masing negara untuk menerapkannya. Malaysia mulai menerapkan kriteria baru MABIMS pada Muharram 1443 bersamaan dengan Bulan Falak Malaysia 2021. Deklarasi penerapan kriteria baru MABIMS dinyatakan pada Webinar Falak Nusantara 1443 dan Penutupan Bulan Falak Malaysia (mulai jam ke 3:17). Pada webinar tsb saya bersama Prof. Zambri dari Malaysia menjadi pembicara yang mengulas kriteria baru MABIMS (mulai menit ke-24).

Menteri Agama RI menyatakan dalam dokumen resmi MABIMS bahwa Indonesia menerapkan kriteria baru MABIMS mulai 2022.

Surat resmi Menteri Agama RI kepada Menteri Agama Brunei Darussalam pada 17 Desember 2021 (Doc MABIMS)

Langkah-langkah apa yang dilakukan Kemenag untuk menerapkannya? Langkah awal yang sudah dilakukan adalah sosialisasi kepada para ahli falak dalam Pertemuan Ahli Hisab Rukyat 2022 secara hibrid di Serpong. Saya menghadirinya secara virtual.

Pada pertemuan tersebut para ahli falak menyampaikan pendapatnya. Ada yang mengusulkan untuk segera menerapkannya sesuai komitmen Menteri Agama. Misalnya perwakilan dari ormas Persis (Persatuan Islam) yang sejak 2012 menggunakan kriteria astronomis yang identik dengan kriteria baru MABIMS sepakat untuk segera menerapkannya. Namun ada juga perwakilan ormas dan ahli falak yang menghendaki tidak segera diterapkan, perlu disosialisasikan dulu. Ada juga tanggapan yang menyatakan diterapkan tahun ini, 2023, atau 2024 akan sama saja, resistensi dan perbedaan belum bisa dihilangkan sama sekali. Tetapi kalau segera diterapkan, setidaknya Pemerintah mempunyai rujukan bersama negara-negara MABIMS untuk mulai mewujudkan kalender Islam yang lebih mapan.

Saya setuju untuk segera diterapkan, apalagi awal Ramadhan 1443 berpotensi terjadi perbedaan, baik dengan kriteria lama maupun dengan kriteria baru. Jadi lebih baik kriteria baru langsung diterapkan, sekaligus untuk menyosialisasikan. Dalam pertemuan tersebut saya juga menyampaikan pendapat bahwa kriteria baru MABIMS juga identik dengan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 yang berorientasi pada kalender global. Dengan kesepakatan kriteria baru MABIMS maka jalan untuk mewujudkan kalender Islam global makin terbuka dengan tahapan kalender Islam regional negara-negara MABIMS. Kesepakatan pada Rekomendasi Jakarta 2017 untuk menggunakan Garis Tanggal Internasional bermakna kalender Islam yang disusun sudah berorientasi global. Otoritasnya dimulai dengan otoritas kolektif regional oleh menteri-menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Dalam pertemuan tersebut juga terungkap rencana Kemenag untuk segera membuat surat kepada ormas-ormas Islam dan instansi terkait tentang kriteria baru MABIMS tersebut. Kriteria resmi pemerintah tersebut akan menjadi rujukan pembuatan kalender Islam baku yang dikenal sebagai Takwim Standar Indonesia. Selain itu, hal terpenting adalah sosialisasi kepada hakim agama yang biasa mengistbatkan (menetapkan) rukyat di berbagai wilayah Indonesia. Hakim agama perlu merujuk kriteria imkan rukyat baru ketika memutuskan untuk menerima atau menolak kesaksian rukyat.

Terlampir surat pemberitahuan penggunaan kriteria baru MABIMS secara resmi oleh Kemenag kepada para pihak terkait.

Rajab Ada Perbedaan, Ramadhan 1443 pun Berpotensi Terjadi Perbedaan

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN-BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kelender Hijriyah, Kementerian Agama

Ramadhan 1443 ada potensi perbedaan.

PBNU mengumumkan bahwa awal Rajab 1443 jatuh pada Kamis, 3 Februari 2022. Keputusan itu didasarkan pada pengamatan di 22 titik yang tidak berhasil melihat hilal. Alasannya terutama karena mendung atau hujan. Namun, kalau ditilik dari posisi hilal, memang hilal Rajab terlalu rendah (ketinggian sekitar 3 derajat) dan terlalu tipis (elongasi sekitar 5 derajat). Ketinggian lebih dari 2 derajat sesungguhnya biasa digunakan oleh kalender PBNU dan kalender Pemerintah untuk menentukan awal bulan. Itu sebabnya, di kalender tertulis awal Rajab pada 2 Februari 2022. Namun sebenarnya ada parameter lain yang harus diperhitungkan, yaitu elongasi. Elongasi adalah jarak sudut bulan dari matahari yang menentukan ketebalan hilal. Elongasi sekitar 5 derajat itu menyebabkan hilal terlalu tipis untuk terlihat.

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 1 Februari 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal dan MABIMS sehingga berdasarkan kriteria tersebut awal Rajab 1443 adalah 2 Februari 2022. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ, disimpulkan awal Rajab 1443 adalah pada 3 Februari 2022.

Kondisi hilal Ramadhan pun mirip, sehingga berpotensi terjadi perbedaan. Tinggi hilal pada akhir Sya’ban 1443 terlalu rendah. Di wilayah barat Indonesia, tinggi bulan hanya sekitar 2 derajat. Elongasinya pun hanya sekitar 5 derajat, hilal terlalu tipis untuk bisa terlihat.

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 1 April 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal sehingga berdasarkan kriteria tersebut awal Ramadhan 1443 adalah 2 April 2022. Dengan kriteria MABIMS, posisi bulan pada perbatasan kriteria tinggi 2 derajat. Hanya wilayah barat Jawa dan Sumatera yang tinggi bulannya sedikit di atas 2 derajat. Sebagian besar wilayah posisi bulan masih di bawah kriteria MABIMS. Ada potensi hilal tidak teramati. Jadi, dengan kriteria MABIMS, yang dikaitkan dengan potensi rukyatul hilal, awal Ramadhan 2 atau 3 April 2022. Posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ (Rekomendasi Jakarta 2017) disimpulkan awal Ramadhan 1443 adalah pada 3 April 2022.

Muhammadiyah, berdasarkan hisab (perhitungan) posisi bulan menetapkan 1 Ramadhan 1443 jatuh pada 2 April 2022. Namun NU menunggu rukyat pada saat maghrib 1 April 2022. Berdasarkan posisi hilal, diprakirakan hilal tidak terlihat di seluruh Indonesia. Kalau itu terjadi, secara rukyat ada potensi awal Ramadhan 1443 jatuh pada 3 April 2022. Malaysia dan Singapura yang menggunakan kriteria baru MABIMS (sama dengan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017) diprakirakan akan menetapkan 1 Ramadhan = 3 April 2022. Kita tunggu saja keputusan Pemerintah setelah sidang itsbat pada 1 April malam, dengan kemungkinan putusan 1 Ramadhan jatuh pada 2 April atau 3 April 2022. Untuk menghindari kebingungan, ketika terjadi perbedaan masyarakat disarankan untuk mengikuti keputusan Pemerintah yang sudah mempertimbangkan banyak aspek dalam sidang itsbat yang dihadiri para pakar dan perwakilan ormas Islam.