Lagi, Pengamatan di Timau Membuktikan Jadwal Shalat Shubuh Sudah Benar

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Gunung Timau, lokasi kawasan Observatorium Nasional, langitnya sangat cerah dan malamnya sangat gelap.

Masalah waktu shalat shubuh masih jadi kebingungan masyarakat karena adanya pendapat yang menyatakan bahwa jadwal shalat shubuh dianggap terlalu awal. Pada awal 2000-an ada kelompok Qiblati yang menganggap waktu shubuh terlalu awal dari sudut pandang dalil. Mereka beranggapan mestinya fajarnya lebih terang lagi. Kemudian sekitar 2017 peneliti dari Uhamka mengemukan data bahwa waktu shubuh mestinya lebih siang berdasarkan data SQM (Sky Quality Meter). Pada 2021 Muhammadiyah mengubah jadwal waktu shalat shubunya mundur 8 menit. Benarkah waktu shubuh terlalu awal?

Sejak 2010 saya sudah menjelaskan bahwa dari segi dalil syar’i maupun logika astronomi, jadwal shalat oleh Kementerian Agama sudah benar. Kemudian dijelaskan pula potensi polusi cahaya mengganggu data SQM oleh Tim Uhamka yang menyimpulkan waktu shubuh lebih siang. Untuk menguji kebenaran waktu shubuh, Tim Kementerian Agama melakukan pengukuran di Labuan Bajo dan menyimpulkan bahwa waktu shubuh sudah benar. Fajar sudah muncul pada saat posisi matahari -20 derajat. Bukti lebih meyakinkan disajikan dari pengukuran awal fajar dari berbagai tempat oleh mahasiswa program doktor UIN Semarang yang saya bimbing. Disertasinya tentang pengaruh polusi cahaya pada pengukuran awal fajar. Bukti paling nyata ditunjukkan dengan membandingkan data dari Banyuwangi yang minim polusi cahaya dan dari Semarang yang terpolusi cahaya. Semuanya menunjukkan bahwa pada posisi matahari -20 derajat fajar shadiq telah muncul. Jadi, jadwal shalat dari Kementerian Agama sudah benar

Untuk lebih memberikan keyakinan publik, Kementerian Agama bekerjasama dengan Pusat Riset Antariksa BRIN pada 28 – 29 Juli 2022 melakukan pengamatan di kawasan Observatorium Nasional Timau di Kupang. Langit Timau sangat cerah pada musim kemarau dan masih sangat gelap. Jauh dari polusi cahaya. Tim melakukan pengukuran dengan menggunakan empat alat utama, yaitu dua SQM dan dua kamera perekam citra ufuk timur.

Langit Timau sangat gelap, jauh dari polusi cahaya, sehingga galaksi Bimasakti terlihat dengan jelas.

Pada citra pukul 04.42 dan 04.38 WITa di bawah ini ada planet Venus yang cukup terang. Posisi Venus (Bintang Timur) bisa menunjukkan posisi ekliptika (posisi di langit tempat matahari dan planet-planet). Pada kedua citra tersebut terlihat fajar kadzib (cahaya zodiak) menjulang di sepanjang ekliptika, yaitu dari posisi Venus (bintang terang di sela pepohonan) ke arah kiri atas.

Pada citra pukul 04.42 WITa atau posisi matahari -19 derajat ternyata di ufuk timur sudah terlihat cahaya merah. Artinya, pada posisi matahari -18 seperti jadwal shalat yang digunakan Muhammadiyah, fajar merah akan semakin terang. Jadwal shubuh pada posisi -18 terbukti sudah terlalu siang.

Bagaimana dengan citra sebelumnya? Ternyata pada pukul 04.38 belum ada cahaya merah tersebut. Diduga fajar shadiq (fajar penentu awal shubuh) sudah muncul dengan cahaya putih yang membentang di ufuk timur pada pukul 04.38 WITa atau posisi matahari -20 derajat. Namun karena di ufuk timur banyak pepohonan, munculnya fajar yang cahaya putih tersebut tidak teramati dengan jelas.

Pada posisi matahari -19, di ufuk timur sudah terlihat fajar berwarna merah di sela-sela pepohonan. Garis menunjukkan ketinggian Venus 3,2 derajat
Pada pukul 04.38 WITa posisi matahari -20 derajat. Diduga saat itu sudah ada fajar di ufuk, namun sebagian besar terganggu oleh pepohonan.

Untuk memastikan kemunculan fajar shadiq, data SQM (gambar di bawah) memberikan informasi yang sangat akurat. Waktu pengamatan sudah dinyatakan dengan posisi matahari. Pada saat setting peralatan, data masih berfluktuasi karena pergeseran alat (data menaik karena alat tertutup atau tergeser ke arah yang lebih gelap) dan gangguan cahaya sekitar (data menurun karena ada lampu hp yang menyala). Setelah itu kurva cahaya menurun secara lambat. Itulah ciri cahaya fajar kadzib atau cahaya zodiak. Penurunan akibat cahaya fajar kadzib bisa dinyatakan dengan fungsi liner.

Fajar shadiq atau fajar astronomi dicirikan dengan kemunculan cahaya yang makin terang dengan cepat. Di kurva cahaya, kemunculan fajar shadiq dicirikan dengan mulai menurunkan kurva meninggalkan fungsi linier. Itu terjadi pada posisi matahari -20 derajat. Jadi, data pengukuran dari kawasan Obsrvatorium Nasional Timau, sekali lagi membuktikan jadwal shalat shubuh dari Kemenag sudah benar.

Kalender 1444 Hijriyah dengan Beragam Kriteria

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah (UKH), Kemenag

Ilustrasi kalender hijriyah (gambar dari internet)

Dengan berbagai aplikasi hisab-rukyat saat ini sangat mudah menyusun kalender hijriyah dengan merujuk pada kriteria yang akan digunakan. Untuk menghitung awal bulan di Indonesia dengan kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat (kriteria [3-6,4]), saya gunakan aplikasi Accurate Hijri Calculator yang dibuat Abdurro’uf. Kriteria baru MABIMS sama dengan kriteria “Hisab Rukyat Indonesia”. Sebagai perbandingan digunakan aplikasi Accurate Times oleh Odeh, sekaligus untuk melihat garis tanggal Wujudul Hilal (kriteria [WH]).

Muharram 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 29 Juli 2022 di Indonesia posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di atasnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH]: 1 Muharram 1444 pada 30 Juli 2022.

Shafar 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 27 Agustus 2022 di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) tetapi sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di atasnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi ada potensi perbedaan: Versi [3-6,4] 1 Shafar 1444 pada 29 Agustus 2022, tetapi versi [WH] 1 Shafar 1444 pada 28 Agustus 2022.

Rabiul ‘Awwal 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 26 September 2022 di Indonesia posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di atasnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH]: 1 Rabiul ‘Awal 1444 pada 27 September 2022.

Rabiuts Tsani 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 25 Oktober 2022 di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan belum memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di sebelah kirinya pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH]: 1 Rabiuts Tsani 1444 pada 27 Oktober 2022.

Jumadil Ula 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 24 November 2022 di Indonesia posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di bawahnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH]: 1 Jumadil Ula 1444 pada 25 November 2022.

Jumadil Akhir 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 23 Desember 2022 di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan belum memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di bawahnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH]: 1 Jumadil Akhir 1444 pada 25 Desember 2022.

Rajab 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 21 Januari 2023 di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan belum memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di bawahnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH]: 1 Rajab 1444 pada 23 Januari 2023.

Sya’ban 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 20 Februari 2023 di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) tetapi sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di bawahnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi ada potensi perbedaan: Versi [3-6,4] 1 Sya’ban 1444 pada 22 Februari 2023, tetapi versi [WH] 1 Sya’ban 1444 pada 21 Februari 2023.

Ramadhan 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 22 Maret 2023 di Indonesia posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di atasnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH]: 1 Ramadhan 1444 pada 23 Maret 2023.

Syawal 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS.
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru).

Pada saat maghrib 20 April 2023 di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) tetapi sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di atasnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi ada potensi perbedaan: Versi [3-6,4] 1 Syawal 1444 pada 22 April 2023, tetapi versi [WH] 1 Syawal 1444 pada 21 April 2023.

Dzulqa’dah 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 19 Mei 2023 di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan belum memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di atasnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH]: 1 Dzulqa’dah 1444 pada 21 Mei 2023.

Dzulhijjah 1444

Garis tanggal kriteria baru MABIMS
Garis tanggal kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih) dan kriteria Odeh (antara arsir putih dan biru)

Pada saat maghrib 18 Juni 2023 di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) tetapi sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] (arsir putih dan di atasnya/di kirinya pada gambar bawah). Jadi ada potensi perbedaan: Versi [3-6,4] 1 Dzulhijjah 1444 pada 20 Juni 2023, tetapi versi [WH] 1 Dzulhijjah 1444 pada 19 Juni 2023.

Diskusi Tentang Kalender Islam: Ada Logika Tak Lazim secara Astronomi

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Pada 2011 saya pernah diundang diskusi di Uhamka (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA) soal kalender Islam dan problematikanya. Selain saya dan Prof. Syamsul Anwar (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah) hadir juga sebagai narasumber Pak Tono Saksono. Ada pemikiran yang secara astronomi tidak lazim oleh Pak Tono. Secara hisab mungkin dianggap benar oleh publik yang tak faham astronomi, karena sekadar menghitung posisi bulan selama mengitari bumi. Tetapi dalam konsep astronomi, aspek visibilitas juga harus dipertimbangkan. Ciri Pak Tono adalah ungkapan bombastis “blunder” (kesalahan konyol) atau “kacau” ketika mengomentari tentang rukyat. Ketika membahas kalender Islam, ungkapan bombastis lainnya adalah “hutang peradaban” terkait asumsi kurang bayar zakat karena belum diterapkannya kalender Islam.

Pada 15 dan 18 Juli 2022 saya dipertemukan lagi di forum Zoom oleh dua host yang berbeda. Kedua host mengagendakan terpisah. Saya pun baru tahu setelah diagendakan dan dimintakan kesediaan waktunya. Jadi kebetulan berturutan. Saya menyarankan fokusnya dibedakan. Belakangan saya baru tahu alasan mempertemukan Pak Tono dengan saya. Teman-teman di beberapa WAG mempertanyakan video-video Pak Tono, antara lain di podcast Rafly Harun yang sempat beredar. Sebagian sudah saya tanggapi di WAG. Tetapi ada yang berharap dihadirkan di satu forum untuk bisa saling menanggapi. Kesimpulannya diserahkan kepada para peserta.

Ada beberapa kekeliruan mendasar Pak Tono yang perlu saya luruskan. Latar belakang geodesi Pak Tono memang menjadi dasar penguasaan hisab (perhitungan) astronomis, tetapi tidak disertai pemahaman fisis astronomis yang terkait dengan fenomena ketampakan di langit. Baik ketampakan hilal yang terganggu cahaya syafak (cahaya senja) maupun cahaya fajar yang terganggu polusi cahaya. Berikut kesalahan logika astronomi Pak Tono:

  • Anggapan seolah hilal sebagai “benda” yang terus membesar, sehingga saat di bawah ufuk pun tetap dianggap hilal. Secara astronomi itu aneh dan keliru. Hilal adalah fenomena ketampakan. Selain ada faktor ketebalan hilal dan gangguan cahaya syafak, terbenamnya bulan juga sebagai batasan. Kalau sudah terbenam, ya tidak lagi dianggap sebagai hilal.
  • Dengan anggapan hilal seperti benda yang terus membesar, selalu dianggap Indonesia terlambat dibandingkan dengan negara lain. Anggapannya, mestinya hilal di Jakarta (yang sebenarnya sudah terbenam) lebih besar dari pada di Afrika atau di Amerika. Garis tanggal yang difahaminya hanya garis tanggal international. Garis tanggal qamariyah tidak dikenalnya. Padahal dengan garis tanggal qamariyah yang menyatukan Indonesia dan Arab, ibadah di Indonesia bisa 4 jam lebih dahulu dibandingkan di Arab Saudi. Hanya saat garis tanggal memisahkan Indonesia dan Arab Saudi, ibadah di Indonesia 20 jam lebih lambat daripada di Arab Saudi. Itu konsekuensi bumi bulat.
  • Ungkapan “blunder” (kesalahan yg konyol) atau “kacau” selalu disematkan pada metode rukyat dan mencampuradukkan rukyat dengan kalender. Rukyat punya landasan ilmiah yg kokoh, bukan suatu blunder. Rukyat memang bukan ditujukan untuk membuat kalender, tetapi untuk penetapan waktu ibadah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Silakan simak pembahasannya di YouTube berikut ini:

Diskusi tentang Kalender Qamariyah pada 15 Juli 2022. Pembahasan saya mulai menit ke-50
Diskusi tentang Kalender Islam Global pada 18 Jumi 2022. Ada sesi saling menanggapi.

Tuntas Sudah Transformasi LAPAN di BRIN

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Kepala LAPAN (2014-2021)

Integrasi LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) ke BRIN (Badan Riset dan Inovasi) dapat dianggap sudah tuntas. Penyusunan kelembagaan di BRIN yang mewadahi keantariksaan seperti diamanatkan UU 21/2013 tentang Keantariksaan saya anggap tuntas dengan dibentuknya Sekretariat Indonesian Space Agency (INASA) pada Maret 2022.

Proses awal pada 2020-2021 berfokus pada pengalihan tugas fungsi LAPAN sebagai lembaga riset dan sekaligus sebagai lembaga penyelenggara keantariksaan. Pada tahap awal ini, saya sebagai Kepala LAPAN saat itu mengawal sepenuhnya agar transformasi berjalan dengan baik. Kekecewaan pada pegawai dan pejabat LAPAN saat itu pasti ada karena impian membangun badan antariksa yang makin kuat tiba-tiba terhenti. Banyak pegawai LAPAN yang tidak tahu arah pengembangan keantariksaan selanjutnya. Rencana Induk Keantariksaan yang ditetapkan dengan Perpres 45/2017 tampaknya tidak lagi menjadi rujukan program keantariksaan. Rencana Induk Keantariksaan segera akan ditinjau ulang seiring kebijakan baru BRIN. Biarlah kita mundur beberapa langkah untuk melompat lebih tinggi dan lebih jauh.

Bagian utama integrasi lembaga-lembaga riset ke dalam BRIN tuntas pada Januari 2022. Lembaga-lembaga riset diintegrasikan menjadi 12 Organisasi Riset (OR) dan 85 Pusat Riset (PR). Pusat-pusat riset LAPAN sebagian besar bertransformasi menjadi Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) dan satu Pusat berintegrasi ke Organisasi Riset Kebumian dan Maritim.

ORPA menjadi 5 Pusat Riset yang ditetapkan dengan Peraturan BRIN Nomor 5/2022. Semula di LAPAN ada 7 Pusat teknis yang menangani riset dan penyelenggaraan keantariksaan. Ke mana saja unit-unit riset dan penyelenggaraan keantariksaan di LAPAN berintegrasi ke BRIN?

a. Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) menjadi Pusat Riset Antariksa (PRA).

b. Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) menjadi Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP).

c. Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) menjadi Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS).

d. Pusat Teknologi Roket (Pustek Roket) menjadi Pusat Riset Teknologi Roket (PRTR).

e. Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh (Pustekdata) dan Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) menjadi Pusat Riset Penginderaan Jauh (PRPJ).

Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) kini dimasukkan dalam klaster Organisasi Riset Kebumian dan Maritim. PSTA kini berintegrasi menjadi Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA).

Selain 7 pusat teknis, di LAPAN sebelumnya ada 3 pusat pendukung kebijakan keantariksaan: Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa (PusKKPA), Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Penerbangan dan Antariksa (Pustikpan), dan Pusat Analisis Penerbangan dan Antariksa (Pusispan). Ke mana saja tugas fungsi pusat-pusat tersebut berintegrasi ke struktur BRIN?

a. Tugas fungsi PusKKPA berintegrasi ke Deputi Kebijakan Riset dan Inovasi (terkait perumusan kebijakan) dan INASA (terkait penyusunan pedoman delegasi RI untuk forum-forum keantariksaan internasional).

b. Tugas fungsi Pustikpan berintegrasi ke Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) (terkait pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi) dan INASA (terkait pendaftaran benda antariksa ke PBB).

c. Tugas fungsi Pusispan berintegrasi ke Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi (terkait kemitraan pemanfaatan riset dan inovasi) dan Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi (terkait pegelolaan hak atas kekayaan intelektual).

Tugas fungsi penyelenggaraan keantariksaan yang bersifat teknis layanan beralih atau dikoordinasikan dengan tugas fungsi unit-unit terkait di BRIN. Misalnya, layanan data dan informasi penginderaan jauh kini ditangani oleh Pusdatin, walau substansinya masih dikoordinasikan dengan PR Penginderaan Jauh. Layanan cuaca antariksa (SWIFtS) substansinya masih dikelola oleh PR Antariksa, namun sistem layanan dikoordinasikan dengan Pusdatin. Balai dan stasiun bumi di daerah sebagai fasilitas riset kini ditangani oleh Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi.

Hubungan internasional keantariksaan perlu dikelola secara khusus. Di berbagai forum keantariksaan internasional, badan antariksa yang berperan. BRIN terlalu besar untuk mengurusi keantariksaan dan bertindak sebagai badan antariksa Indonesia. Maka di BRIN dibentuk Sekretariat Badan Antariksa Indonesia yang disebut Indonesian Space Agency (INASA, berasal dari INA SA). Karena sebelumnya LAPAN dikenal sebagai space agency Indonesia di berbagai forum keantariksaan internasional, maka diusulkan logo LAPAN tetap digunakan dengan mengganti tulisan “LAPAN” menjadi “INASA”. Warna orange pada logo diubah menjadi biru karena logo INASA akan selalu berdampingan dengan logo BRIN yang berwarna merah.

Fahami Potensi Perbedaan Idul Adha 1443

Kesibukan pasar hewan qurban menjelang Idul Adha (dari situs ponorogo.go.id)

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Indonesia, Kemenag

Saat ini Panitia Idul Adha tentu mulai bersiap untuk menyelenggarakan pelaksanaan shalat idul adha dan penyembelihan hewan qurban. Ada beberapa pihak bertanya, apakah idul adha 1443 seperti yang tercantum di kalender, Sabtu 9 Juli 2022? Idul adha kali ini ada potensi perbedaan, 9 Juli dan 10 Juli 2022.

Analisis garis tanggal bisa menjelaskan potensi perbedaan itu. Garis tanggal dibuat dengan menggunakan kriteria yang berlaku di masyarakat. Saat ini ada dua kriteria utama yang digunakan di Indonesia: Kriteria Wujudul Hilal dan Kriteria Baru MABIMS. Kriteria Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah mendasarkan pada kondisi bulan lebih lambat terbenamnya daripada matahari. Kriteria Baru MABIMS mendasarkan pada batasan minimal untuk terlihatnya hilal (imkan rukyat atau visibilitas hilal), yaitu fisis hilal yang dinyatakan dengan parameter elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimum 6,4 derajat dan fisis gangguan cahaya syafak (cahaya senja) yang dinyatakan dengan parameter ketinggian minimum 3 derajat. Kriteria Baru MABIMS digunakan oleh Kementerian Agama dan beberapa ormas Islam.

Garis tanggal Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih, gambar atas) melintas di selatan Indonesia. Sementara garis tanggal Kriteria Baru MABIMS (antara arsir hijau dan merah, gambar bawah) melintas jauh di sebelah barat Indonesia.

Pada saat maghrib 29 Juni 2022, di Indonesia posisi bulan sudah di atas ufuk. Artinya kriteria Wujudul Hilal telah terpenuhi. Itu sebabnya Muhammadiyah di dalam maklumatnya menyatakan 1 Dzulhijjah 1443 jatuh pada 30 Juni 2022 dan Idul Adha jatuh pada 9 Juli 2022. Hari libur nasional yang menyatakan idul adha 1443 jatuh pada 9 Juli 2022 didasarkan pada kriteria lama MABIMS, yaitu tinggi minimal 2 derajat dan elongasi 3 derajat atau umur bulan 8 jam.

Garis tanggal Kriteria Baru MABIMS menunjukkan bahwa di Indonesia pada saat maghrib 29 Juni 2022 tinggi bulan umumnya kurang dari 3 derajat dan elongasinya kurang dari 6,4 derajat. Artinya, hilal terlalu tipis untuk bisa mengalahkan cahaya syafak yang masih cukup kuat. Akibatnya, hilal tidak mungkin dapat dirukyat. Secara hisab imkan rukyat (visibilitas hilal), data itu menunjukkan bahwa 1 Dzulhijjah 1443 akan jatuh pada 1 Juli 2022 dan Idul Adha jatuh pada 10 JUli 2022. Konfirmasi rukyat akan dilakukan pada 29 Juni dan diputuskan pada sidang itsbat awal Dzulhijjah 1443.

Mengkaji “Hilal Syar’i” secara Astronomi

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Ilustrasi sidang hasil rukyat. Setiap perukyat harus disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat sebelum hasilnya dilaporkan ke Sidang Itsbat di Kementerian Agama (Gambar screen shoot video yang beredar di WAG diskusi hisab rukyat).

Alhamdulilah, Idul Fitri dirayakan seragam di Indonesia pada 2 Mei 2022, walau ada kelompok kecil yang merayakan pada hari yang berbeda sesuai keyakinan mereka. Kekhawatiran terjadinya perbedaan idul fitri 1443 seperti pada penetapan awal Ramadhan 1443 sirna setelah mendengarkan laporan pada sidang itsbat (sidang penetapan) bahwa ada 9 saksi yang melaporkan melihat hilal (bulan sabit pertama). Para saksi sudah disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat. Artinya, kesaksian itu sah secara syar’i (hukum Islam) dan dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan oleh Menteri Agama pada sidang itsbat.

Sebagai Muslim, saya tunduk pada keputusan Pemerintah sebagai Ulil Amri (pemegang otoritas) yang memutuskan awal dan akhir Ramadhan. Alasan saya, keputusan sidang itsbat bukan hanya merujuk hasil rukyat (pengamatan) tetapi juga hasil hisab (perhitungan astronomi). Dan alasan paling mendasar, untuk mempersatukan ummat perlu adanya otoritas tunggal agar masyarakat tidak bingung. Jadi, saya pun mengikuti keputusan Pemerintah beridul fitri pada 2 Mei 2022.

Namun sebagai astronom, saya bisa mengkritisi hasil rukyat dari sudut pandang astronomi. Kesaksian rukyat yang diterima oleh hakim Pengadilan Agama dan sidang itsbat saya anggap sebagai kesaksian melihat “hilal syar’i”, hilal yang secara syar’i sah dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan. Artinya, saksi tidak berbohong bahwa dia yakin melihat hilal. Untuk ibadah, dasar keyakinan memang diakui, tidak membutuhkan pembuktian lain yang mungkin malah merepotkan dan perlu waktu lama untuk mendapatkannya. Kritik terhadap “hilal syar’i” diperlukan untuk pembelajaran bagi para perukyat, agar pada masa mendatang “hilal syar’i” juga semestinya “hilal astronomis”, yaitu hilal fisik yang diakui para astronom.

Hilal yang diyakini secara astronomi adalah hilal fisik, yaitu bulan sabit yang dihasilkan dari pantulan cahaya matahari sesaat setelah matahari terbenam. Pengamatan setelah maghrib adalah contoh Rasul, karena saat itulah gangguan cahaya matahari yang menyilaukan sudah menghilang. Hanya tersisa gangguan berupa cahaya syafak atau cahaya senja. Itu sebabnya perlu ketinggian tertentu agar hilal bisa teramati.

Hilal awal Syawal 1443 berada pada batas kriteria baru MABIMS yang baru saja disepakati oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Khususnya pada aspek elongasinya. Dari aspek ketinggiannya, pada saat maghrib 1 Mei 2022 tinggi bulan di kawasan barat Indonesia sudah sekitar 5 derajat. Sudah cukup tinggi, berarti gangguan cahaya syafak sudah berkurang. Namun elongasinya (jarak sudut bulan – matahari) sekitar 6,4 derajat. Artinya, hilalnya sangat tipis karena masih terlalu dekat matahari.

Dari 9 pengamat yang disumpah sebagian besar mengaku melihat hilal dengan mata tanpa alat. Sebagian ada yang menggunakan teropong (monokuler) dan ada juga yang menggunakan teleskop yang dilengkapi kamera CCD. Sebagian kalangan beranggapan ada orang-orang yang diberikan kelebihan untuk melihat hilal yang sangat redup. Namun anggapan itu bukan ranah sains, karena tidak bisa dibuktikan kalau dasarnya hanya pengakuan pribadi dan sumpah.

Pengamat di NTT mengaku melihat hilal dari citra yang direkam kamera CCD. Menurut kolega di BMKG, citranya mirip dengan laporan rukyat BMKG di Tapanuli Tengah. Citra yang dianggap hilal adalah goresan tipis melengkung, namun sangat samar dan meragukan.

Foto dugaan hilal oleh BMKG (dari WAG diskusi terkait hisab rukyat)

Dari segi kepekaan melihat hilal, kamera CCD semestinya lebih peka daripada mata untuk mengenali hilal. Kamera CCD lebih peka pada warna merah. Sedangkan mata lebih peka pada warna hijau. Seperti halnya matahari terbenam, hilal di ufuk barat yang memancarkan pantulan cahaya matahari lebih dominan memancarkan warna kuning – merah, karena cahaya biru lebih banyak dihamburkan oleh atmosfer. Apalagi kamera menerima cahaya yang difokuskan lebih banyak dari pada mata, karena diameter cermin teleskop jauh lebih besar daripada diameter pupil mata. Jadi, kalau dengan kamera CCD saja hilal sangat samar dan meragukan, mestinya ketampakan oleh mata pun lebih samar. Dari argumentasi ini, sangat wajar anggapan “hilal syar’i” bisa jadi bukan hilal sesungguhnya tetapi diyakini oleh pengamatnya sebagai hilal.

Sensitivitas mata dibandingkan dengan sensitivitas kamera CCD dan CMOS. Semestinya kamera lebih sensitif mengenali hilal daripada mata.
(Dari http://www.fen-net.de/walter.preiss/e/slomoinf.html)

Untuk memberikan gambaran tipisnya hilal muda, apalagi yang sangat dekat dengan batas kriteria baru MABIMS (tinggi minimal 3 derajat, elongasi minimal 6,4 derajat), bisa dilihat dari laporan pengamatan hilal sangat muda. Kebetulan ada citra hilal yang direkam dengan kamera CCD di wilayah Madinah pada 23 April 2020 saat penentuan awal Ramadhan 1441 (dari situs ICOP — saat ini ada di dalam situs http://www.astronomycenter.net). Tinggi hilal 3 derajat 8 menit. Elongasinya 6,6 derajat.

Data posisi hilal awal Ramadhan 1441 yang teramati di Madinah, Arab Saudi pada 23 April 2020. Posisinya dekat batas kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. (Dari aplikasi Accurate Times – Odeh).
Hilal awal Ramadhan 1441 yang direkam 13 menit pasca maghrib dengan menumpuk (stacked) 84 citra.

Hilal di Madinah tidak tampak dengan mata tanpa alat. Dengan teleskop langsung pun tidak tampak. Hilal tampak pada hasil perekaman kamera CCD yang dipasang dengan teleskop setelah menumpuk (stacked) 84 citra untuk meningkatkan kontras hilal. Artinya, citra pemotretan tunggal tidak akan menampakkan citra hilal secara jelas. Memang tidak ditunjukkan citra pemotretan tunggal. Namun untuk memberikan gambaran betapa tipisnya hilal saat itu, ada gambar yang direkam siang hari dengan jumlah citra yang ditumpuk setengahnya. Gambar di bawah ini adalah citra bulan sabit siang hari yang ditumpuk (stacked) 42 citra. Sangat-sangat samar. Sangat mungkin hilal fisik seperti itu tidak akan teramati oleh mata para perukyat. Jadi, hilal Syawal yang diakui teramati oleh perukyat sesungguhnya bukan hilal, mungkin sumber cahaya lain atau sekadar “hilal imajinatif”.

Bulan sabit siang hari yang direkam dengan kamera CCD dan ditumpuk (stacked) 42 citra. Tampak sabitnya sangat tipis walau sudah ditumpuk 42 citra.

Catatan Tambahan (Updated 8 Mei 2022):

Menanggapi artikel ini, kolega di LFNU memberikan data rukyat oleh Tim LFNU. Dari 6 lokasi di Jawa yang melaporkan melihat hilal, 3 kelompok saksi rukyat menggunakan alat optik (teodolit atau monokuler). Sangat kontradiksi bila kesaksian Stamm yang dijadikan rujukan kriteria elongasi 6,4 derajat bisa diterima, sedangkan laporan perukyat awal Syawal 1443 H dilabeli “hilal Syar’i”, padahal sama-sama kasat teleskop, tanpa menyertakan foto hilal.

Atas tanggapan kolega LFNU tersebut, saya sampaikan penjelasan sbb:

Sains didasarkan pada pembuktian objektif, yang bisa diuji dan dibandingkan dengan data di tempat lain oleh periset lain. Data sains pun biasanya mengikuti pola distribusi tertentu. Data yang terpencil pasti dicurigai ada sesuatu yang salah.
Bila dibandingkan data internasional, data kesaksian di Jawa tergolong pencilan yang patut dicurigai karena bias tertentu.

  • Prakiraan model visibilitas hilal Odeh menunjukkan wilayah Jawa sbg “impossible”. Wilayah yg mungkin melihat dengan alat optik hanya Sumatera dan sebagian Kalimantan.
  • Rekor elongasi (toposentrik) oleh Stamm (2012) dengan alat optik adalah 6 derajat. Itu dalam kondisi cuaca lintang menengah yang cerahnya luar biasa. Bandingkan dangan data rukyat di Indonesia. Cuaca yang disebut cerah biasanya masih ada awan tipis. Elongasi toposentrik sekitar 5 derajat, terlalu dekat dengan matahari dan sangat jauh dari catatan rekor elongasi. Kalau pun kesaksian rukyat di Jawa dilaporkan ke ICOP atau Moonsighting, saya yakin datanya diragukan.
    Itulah yang disebut “hilal syar’i”, hilal yang sah secara syar’i tetapi diragukan secara sains.

Salah satu bias pengamatan yang mungkin mempengaruhi adalah kebiasaan menganggap hilal dengan tinggi lebih dari 2 derajat bisa terlihat. Tanpa memperhatikan aspek elongasi yang terkait tebal hilal. Di Jawa hilal sudah cukup tinggi sekitar 4 derajat sehingga dianggap mudah terlihat. Padahal elongasi toposentriknya hanya sekitar 5 derajat, sangat tipis.

Astronomi Tawarkan Solusi Penyatuan Kalender Islam

LAPAN (kini berintegrasi ke BRIN) sejak 1996 diminta Kemristek membantu memberikan solusi perbedaan penetapan awal Ramadhan dan hari raya dengan kepakaran astronomi yang dimilikinya. Solusi harus dari akarnya, yaitu menyamakan kriteria kalender Islam berdasarkan kajian astronomi dengan tetap merujuk ketentuan syar’i (hukum Islam). Simak tulisan saya di Kompas.com.

https://www.kompas.com/…/astronomi-tawarkan-solusi…

Idul Fitri 1443 Mungkin Seragam, tetapi Ada Potensi Berbeda

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Posisi bulan pada 29 Ramadhan 1443 atau 1 Mei 2022, di wilayah Indonesia berada pada batas kriteria baru MABIMS. Tingginya sudah di atas 3 derajat, tetapi elongasinya sekitar 6,4 derajat. Dari berbagai pendapat pakar hisab rukyat, kemungkinan besar Idul Fitri akan seragam 2 Mei, tetapi masih ada potensi perbedaan Idul Fitri 3 Mei 2022.

Kemungkinan besar Idul Fitri 2 Mei 2022

Berikut beberapa alasan yang mendukung kemungkinan besar Idul Fitri 1443 pada 2 Mei 2022:

  1. Secara hisab, posisi bulan pada saat maghrib 1 Mei 2022 di wilayah Sumatera bagian utara dekat dengan batas kriteria elongasi 6,4 derajat. Bahkan beberapa hisab kontemporer dari beberapa kitab menunjukkan beberapa wilayah di Sumatera sudah memenuhi kriteria elongasi 6,4 derajat, seperti hisab yang dilakukan Ibnu Zaid Abdo el-Moeid.
Wilayah Sumatera bagian utara berada pada batas kriteria elongasi 6,4 derajat (dari AHC).
Posisi bulan saat maghrib di Sabang tingginya sudah 5 derajat lebih dan elongasinya sekitar 6,4 derajat. (Dari simulasi Stellarium)
Hisab kontemporer dari beberapa kitab menunjukkan di wilayah Sumatera posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS.

2. Ada dukungan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) Odeh bahwa pada saat maghrib 1 Mei 2022 di sebagian wilayah Indonesia hilal mungkin bisa dirukyat dengan menggunakan alat optik (binokuler atau teleskop).

Kriteria visibilitas hilal Odeh menunjukkan di wilayah Sumatera hilal mungkin bisa dirukyat dengan binokuler atau teleskop.

3. Bila ada laporan rukyat bahwa hilal terlihat kemungkinan akan diterima karena dianggap telah memenuhi kriteria baru MABIMS. Apalagi Lembaga Falakiyah PBNU menggunakan definisi elongasi geosentrik dalam kriterianya. Kalau kesaksian rukyat diterima pada sidang itsbat, secara syar’i itu sah.

Elongasi geosentrik bulan (dari LF PBNU)

4. Bila tidak ada laporan rukyatul hilal, mungkin juga sidang itsbat menggunakan yurisprudensi keputusan sidang itsbat penetapan awal Ramadhan 1407/1987 ketika tidak ada laporan terlihatnya hilal padahal saat itu hilal dianggap telah memenuhi kriteria imkan rukyat. Keputusan itu merujuk fatwa MUI 1981.

Keputusan sidang istbat awal Ramadhan 1407/1987 yang mendasarkan pada hasil hisab ketika tidak ada laporan terlihatnya hilal dengan merujuk fatwa MUI 1981.

Ada potensi perbedaan

Karena Indonesia berada pada batas kriteria imkan rukyat, secara astronomi diprakirakan hilal sangat sulit dirukyat. Apalagi pada masa pancaroba saat ini, potensi mendung dan hujan mungkin terjadi di lokasi rukyat. Jadi ada potensi laporan rukyat menyatakan hilal tidak terlihat. Bila itu terjadi, pengamal rukyat mungkin akan mengusulkan di sidang itsbat untuk melakukan istikmal, yaitu menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari. Bila sidang itsbat menerimanya, maka idul fitri mungkin juga 3 Mei 2022. Kemungkinan lainnya, bila tetap berpegang pada istikmal, mungkin juga ada ikhbar (pengumuman) terpisah oleh ormas tertentu yang menetapkan idul fitri 3 Mei 2022.

Dengan mempertimbangkan kemaslahatan ummat, kita berharap Idul Fitri 1443 ditetapkan seragam pada pada 2 Mei 2022. Sebelumnya Muhammadiyah sudah membuat maklumat bahwa berdasarkan hisab dengan kriteria Wujudul Hilal, Idul fitri pada 2 Mei 2022. Persis (Persatuan Islam) juga berdasarkan hisab, pada Surat Edarannya mengumumkan Idul Fitri 2 Mei 2022. Kita berharap sidang itsbat dan Ikhbar PBNU juga akan menetapkan Idul Fitri pada 2 Mei 2022.

Selangkah Lagi Menuju Penyatuan Kalender Hijriyah: Persis, Muhammdiyah, dan NU Sudah Bergerak Maju

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Beragamnya kalender hijriyah di Indonesia dan manca negara sesungguhnya mencerminkan belum adanya kesepatan kriteria dan otoritas penetapan kalender tersebut. Keberagaman itu yang menjadi sebab perbedaan penetapan awal Ramadhan dan hari raya, khususnya di Indonesia. Perbedaan penetapan bukan karena perbedaan metode hisab (perhitungan posisi) dan rukyat (pengamatan). Kalau kriterianya seragam, insya-a Llah keputusan hisab dan rukyat hasilnya juga seragam.

Saat ini sesungguhnya, kedudukan hisab dan rukyat setara. Tidak bisa hisab dianggap lebih unggul dari rukyat, atau sebaliknya. Lagi pula semua ormas Islam saat ini sudah mempunyai pakar hisab untuk membuat kalender. Sementara rukyat digunakan sebagai konfirmasi hasil hisab yang pelaksanaannya lebih didasarkan alasan ketaatan (ta’abudi) atas perintah Rasul.

Keberagaman kalender itu yang berimbas pada terjadinya perbedaan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Perbedaan itu menyebabkan ketidaknyamanan dalam beribadah, terutama saat terjadi perbedaan Idul Fitri. Ada sebagian ummat Islam yang sudah beridul fitri, tetapi lainnya masih berpuasa. Perbedaan itu juga menimbulkan keresahan dan sedikit gesekan di masyarakat ketika aspek perbedaannya diungkit kembali. Dalil-dalil fikih kembali diulas, suatu diskusi yang tidak pernah selesai karena terkait keyakinan.

Lalu bagaimana solusinya? Di kalangan pegiat hisab rukyat umumnya sudah faham bahwa masalah utamanya adalah perbedaan kriteria. Upaya untuk mencari solusi sudah diupayakan. Pada 2004 ada Fatwa Majelis Ulama nomor 2/2004 yang merekomendasikan adanya kriteria yang dapat menjadi pedoman bersama. Kemudian pada 2017 ada Rekomendasi Jakarta yang salah satunya mengusulkan kriteria tinggi minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 derajat (biasa disingkat kriteria [3-6,4]) dengan markaz (rujukan) kawasan barat Asia Tenggara. Dan akhirnya pada 8 Desember 2021 para menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura menyepakati kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Kriteria baru MABIMS tersebut diberlakukan di Indonesia sejak 2022.

Apakah sudah ada langkah maju menuju penyatuan atau unifikasi kalender hijriyah? Walau lambat, perlu kita apresiasi gerak maju yang sudah dilakukan beberapa ormas Islam menuju unifikasi kalender hijriyah. Dengan dialog yang terus dilakukan dan keterbukaan semua pihak, insya-a Llah kita bisa mewujudkan salah satu pilar “ukhuwah Islamiyah” yaitu unifikasi kalender hijriyah, baik lokal-nasional, regional Asia tenggara, maupun global-internasional.

Gerak Maju Persis (Persatuan Islam)

Persis adalah ormas Islam yang pandangan fikihnya mirip dengan Muhammadiyah, yaitu menggunakan dasar hisab dalam penentuan waktu ibadah. Dalam penyusunan kalender hijriyah, Persis paling dinamis melakukan perubahan kriterianya. Mulai kriteria “Ijtimak Qablal Ghurub”, beralih ke “Wujudul Hilal (WH)”, kemudian “Kriteria lama MABIMS”, dan akhirnya ke “Kriteria astronomis” yang sama dengan Kriteria Baru MABIMS.

Kriteria “Ijtimak Qablal Ghurub” mendasarkan pada waktu ijtimak (new moon astronomis) sebelum maghrib. Bila kriteria ijtimak qabla ghurub ditambah syarat bulan terbenam setelah maghrib, jadilah kriteria “WH”. Kemudian kriterianya ditingkatkan lagi dengan kemungkinan bisa dirukyat (imkan rukyat atau visibilitas hilal) dengan mengadopsi kriteria lama MABIMS, tinggi bulan minimal 2 derajat dan elongasi minimal 3 derajat atau umur bulan minimal 8 jam.

Untuk mendapatkan landasan yang lebih kuat, kemudian diadopsi “Kriteria Astronomis” yang mendasarkan pada data-data ketampakan hilal secara global. Kriteria astronomis yang diadopsi adalah beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Beda tinggi bulan – matahari 4 derajat setara dengan tinggi bulan 3 derajat. Jadi “Kriteria Astronomis” yang diadopsi pada 2012 sudah sesuai dengan kriteria baru MABIMS.

Selama hampir sepuluh tahun Persis konsisten menerapkan kriteria astronomisnya. Bila terjadi perbedaan dengan keputusan sidang itsbat, langkah positif yang diambilnya adalah mengikuti keputusan Pemerintah. Mengikuti otoritas Pemerintah pada saat terjadi perbedaan adalah salah satu langkah strategis untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah, sebelum penyatuan kriteria berhasil disepakati.

Gerak Maju Muhammadiyah

Kriteria “WH” digunakan Muhammadiyah berdasarkan faham fikih mereka bahwa penentuan Ramadhan dan bulan-bulan hijriyah lainnya tidak harus merujuk pada rukyat. Cukup dengan hisab. Sebenarnya kriteria hisab mencakup juga kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) tanpa harus menunggu ketampakan hilal secara fisis. Dalam sejarahnya, memang kriteria WH adalah kriteria penyederhanaan dari kriteria imkan rukyat, tanpa memperhitungkan faktor fisis hilal dan gangguan cahaya syafak (cahaya senja).

Sekitar 14 tahun saya pun menggunakan kriteria WH, sejak saya mahasiswa astronomi ITB awal 1980-an sampai saya menyelesaikan sekolah di Jepang pada 1994. Dalam kondisi minim aplikasi astronomi saat itu, perhitungan posisi bulan dianggap sangat rumit. Kriteria WH adalah pilihan terbaik. Datanya cukup diambil dari Astronomical Almanac. Cukup menggunakan data waktu matahari terbenam (sunset) dan bulan terbenam (moonset), lalu dilakukan interpolasi posisi kota rujukan, misalnya Yogyakarta (biasa jadi rujukan Muhammadiyah) atau Bandung (dulu digunakan sebagai rujukan hisab ITB dan Unisba). Bila moonset lebih lambat dari sunset, maka dianggap masuk awal bulan hijriyah. Saat saya di Jepang, saya buat biasa membuat garis tanggal WH global untuk memprakirakan masuknya awal bulan di Jepang dan negara-negara Muslim lainnya.

Kriteria WH demikian melekat pada Muhammadiyah sehingga ada yang menganggap hisab identik dengan wujudul hilal. Padahal kriteria imkan rukyat pun adalah kriteria hisab, namun bisa digunakan juga untuk membantu rukyat. Apakah mungkin Muhammadiyah beralih ke hisab imkan rukyat? Sangat mungkin.

Pada muktamar Muhammadiyah 2015, direkomendasikan untuk berubah ke Kalender Islam Global. Hisab Wujudul Hilal yang sangat lokal Yogyakarta akan ditinggalkan, beralih ke hisab kalender global. Pada 2016 ada Kongres Kalender Hijri Internasional di Turki dan ada wakil Muhammadiyah yang menghadirinya. Konsep Kalender Islam Global (KIG) ala Turki kemudian dikaji untuk diterapkan Muhammadiyah. Pada KIG ala Turki, kriteria WH lokal tidak digunakan, tetapi beralih ke kriteria imkan rukyat tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat (biasa disingkat kriteri [5-8]).

Wacana penggunaan KIG ala Turki merupakan gerak maju Muhammadiyah yang perlu diapresiasi. Hal ini juga menghapus stigma seolah hisab itu hanya WH. Langkah selanjutnya, adalah dialog bersama ormas-ormas Islam dan para pakar terkait untuk implementasi di tingkat nasional dan regional. Bagaimana pun Muhammadiyah berakar di Indonesia dan menyebar ke negara-negara tetangga. Terlalu naif kalau kita memperjuangkan kesatuan global, namun mengabaikan potensi perbedaan di negeri sendiri.

KIG ala Turki dengan kriteria imkan rukyat [5-8] menyimpan masalah untuk diterapkan di Indonesia dan regional Asia Tenggara. Markaz kriteria KIG ala Turki adalah “di mana saja, asalkan di Selandia Baru belum terbit fajar”. Bisa terjadi di benua Amerika sudah memenuhi kriteria, namun saat maghrib di Asia Tenggara bulan masih di bawah ufuk atau ketinggiannya masih sangat rendah. Kondisi itu tentu saja tidak bisa diterima oleh pengamal rukyat di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara.

KIG mestinya juga mengakomodasi kepentingan pengamal rukyat, apalagi mayoritas negara Muslim masih menerapkan rukyatul hilal dalam pelaksanaan ibadahnya. Pada 2017 delegasi Indonesia mengusulkan penyempurnaan konsep KIG ala Turki pada Seminar Internasional yang melahirkan Rekomendasi Jakarta 2017 (RJ2017). RJ2017 mengadopsi kriteria imkan rukyat [3-6,4] dengan markaz kawasan barat Asia Tenggara. Sesungguhnya kriteria [5-8] di Turki setara dengan kriteria [3-6,4] di Asia Tenggara dengan mempertimbangkan pergerakan bulan dan beda waktu kedua wilayah sekitar 4 jam.

RJ2017 adalah konsep KIG dengan memperhatikan kebutuhan regional Asia Tenggara, khususnya Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. RJ2017 juga menghindari terjadinya “yaumusy syak” (hari yang meragukan) dalam mengawali Ramadhan, yang dilarang Rasul untuk berpuasa. Semoga dengan dialog yang terbuka, Muhammadiyah terus bergerak maju menuju titik temu mewujudkan unifikasi kalender hijriyah.

Gerak Maju NU

Nahdlatul Ulama (NU) adalah pengamal rukyat dalam penetapan bulan-bulan ibadah. Walau mereka mahir juga dalam hisab, rukyat tetap dilaksanakan atas dasar ta’abudi (ketaatan pada perintah Rasul). Namun seringkali praktek rukyat dianggap memberikan ketidakpastian. Ketika bulan sudah memenuhi kriteria, namun tidak seorang pun melaporkan melihat hilal, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari. Akibatnya awal bulan mungkin bergeser.

Alhamdulillah, NU bergerak cepat untuk maju menuju titik temu. Hal ini tentu perlu diapresiasi dengan ditetapkannya dua keputusan penting: Keputusan Muktamar NU 2021 dan Keputusan Imkan Rukyat NU 2022. Pada Keputusan Muktamar NU 2021 dinyatakan bahwa hasil hisab imkan rukyat bisa menolak kesaksian hilal, bila posisi hilal belum memenuhi kriteria. Sebaliknya, dengan syarat tertentu hasil hisab juga bisa digunakan untuk menetapkan awal bulan ketika kriteria imkan rukyat telah terpenuhi namun tidak ada rukyat yang berhasil melihat hilal.

Berikut cuplikan gerak maju NU pada Muktamar NU 2021 di Lampung (dari dokumen “Informasi Hilal Awal Ramadhan 1443 H” oleh LF PBNU):

Kemudian ada SK Lembaga Falakiyah PBNU tentang Kriteria Imkan Rukyat Nahdlatul Ulama, yang sama dengan kriteria [3-6,4]:

Hasil Muktamar NU 2021 dan SK LF-PBNU 2022 sebenarnya berpeluang dimaknai “ilmu falak dapat digunakan untuk menafikan ikmāl (menggenapkan bulan berjalan sampai 30 hari)”, sehingga ketika posisi bulan telah memenuhi kriteria [3-6,4] bisa langsung diputuskan besoknya awal bulan. Makna tersebut sejalan dengan Fatwa MUI 1981 bahwa ketika posisi hilal sudah memenuhi kriteria untuk bisa dirukyat, keputusan bisa diambil berdasarkan terpenuhinya kriteria yang ditetapkan. Namun perlu dialog lebih mendalam untuk memastikan tafsir tersebut untuk menujuk titik temu dengan pengamal hisab.

Perjalanan Panjang Menuju Kesepakatan Kriteria Kalender Hijriyah

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag RI

Usulan kriteria baru MABIMS atau Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat) dirumuskan dan dibahas cukup lama, lebih dari sepuluh tahun sampai akhirnya ditetapkan. Pakar astronomi dan pengambil kebijakan bekerja secara sistematis dan tertahap, jadi tidak tiba-tiba dalam memutus kriteria baru tersebut:

Paparan delegasi RI pada MUzakarah MABIMS 2014
Usulan kriteria baru pada Muzakarah MABIMS 2014
  • Naskah Akademik tersebut sesungguhnya disiapkan untuk diajukan ke Munas MUI pada 2015. Namun Munas MUI saat itu belum menerima kriteria baru yang diusulkan.
  • Konsep kriteria baru tersebut dibawa delegasi RI ke pertemuan teknis MABIMS pada 2016. Dengan masukan dari semua delegasi, akhirnya disepakati draft kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
  • Dalam berbagai kesempatan, kriteria baru tersebut ditawarkan untuk dikritisi oleh para pakar, tetapi tidak ada respons berupa tawaran alternatif kriteria lain.
  • Pembahasan draft kriteria baru berlanjut dibahas di tingkat MABIMS: mulai tingkat teknis, tingkat pejabat tinggi (SOM), sampai tingkat Menteri (2016 – 2021).
  • Pada tahap awal implementasi, ketika beberapa ormas Islam masih menggunakan kriteria lama, perbedaan penetapan Ramadhan dan hari raya tidak terhindarkan. Misalnya potensi perbedaan pada penetapan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 1443.
  • Jalan masih panjang, tetapi dengan semangat fastabiqul khayrat (berlomba berbuat kebajikan) kita semua mesti berubah menjadi lebih baik. Unifikasi Kalender Hijriyah yang memberikan kepastian dan kenyamanan dalam beribadah menjadi dambaan kita semua.