Tokoh Kita – JakTV: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin – Kepala LAPAN

JakTV pada Sabtu, 24 Agustus 2019 menayangkan wawancara Tokoh Kita, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Topik besar yang diangkat adalah “Ilmu Astronomi untuk Menjawab Permasalahan Ummat. Berikut ini rekamannya:

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

 

Wawancara RRI Visual: Tamu Kita – Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN)

 

RRI bukan hanya audio, tetapi juga ada RRI Visual di RRI Net. Pada Ahad 18 Agustus 2019, RRI Visual menayangkan “Tamu Kita – Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN)”. Berikut rekaman tayangannya.

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Versi lengkap

Kembali ke Bulan setelah 50 Tahun Manusia Pertama Mendarat

Pendaratan manusia pertama di bulan, 20 Juli 1969 (Gambar dari NASA)

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

(Dimuat di Kolom CNN Indonesia, 22 Juli 2019, setelah diedit Redaksi. Ini artikel aslinya dengan edit typo)

Juli 1969 saya masih kelas 1 SD saat Neil Armstrong menjejakkan kakinya di bulan dalam missi Apollo 11. Melalui berita radio, masyarakat ramai memperbincangkannya. Kemudian beberapa waktu setelah itu, film pendaratan astronot ke bulan diputar di bioskop dan anak-anak sekolah antusias menontonnya. Sayang saya sendiri tidak bisa ikut menonton karena tidak mampu membeli tiketnya. Saya hanya mendengar cerita teman-teman. Lima puluh tahun kemudian baru saya membuka youtube, sambil membayangkan betapa anak-anak saat itu tercengang melihat astronot berjalan seolah ringan sekali. Padahal pakaiannya tampak berat. Itulah yang dulu saya dengar ketika teman-teman antusias saling bercerita tentang astronot.

Saat saya kuliah astronomi di ITB, barulah cerita masa kecil terungkap secara nyata. Pendaratan manusia pertama di bulan benar adanya. Missi Apollo dengan pendaratan manusia di bulan berlangsung selama 1969 – 1972. Bahkan ada sampel batuan bulan yang dibawa astronot untuk penelitian lebih lanjut tentang hakikat bulan dan teori pembentukannya. Menjadi jelas juga astronot tampak berjalan agak melompat, karena gravitasi bulan hanya seperenam gravitasi di bumi. Beban berat pakaian astronot tampak ringan saja ketika berada di bulan.

Missi Apollo konon berbiaya sangat mahal, sekitar $ 25 milyar (Rp 375 trilyun menurut nilai saat ini) atau 2,5% pendapatan kotor (GDP) Amerika Serikat (AS). Mengapa AS rela mengeluarkan anggaran fantasitik seperti itu? Alasan utamanya, demi perlombaan keunggulan iptek dengan rival perang dinginnya, Uni Sovyet (Rusia dan negara-negara tetangganya sebelum pecah). Uni Sovyet dianggap sudah memimpin meninggalkan AS. Sebagai negara pertama yang meluncurkan satelit Sputnik. Pertama mengirimkan kosmonot (atau astronot) Yuri Gagarin. Dan pertama mengirimkan wahana tanpa awak Luna 2 mendarat di bulan. Maka pada 1961 Presiden Kennedy mencanangkan misi pendaratan manusia ke bulan pada akhir dekade. Keunggulan iptek keantariksaan adalah kebanggaan bangsa. Itu pula yang dikatakan Bung Karno, untuk menjadi bangsa yang maju harus menguasai teknologi antariksa dan nuklir.

Juli 2019 adalah peringatan 50 tahun pendaratan manusia pertama. Publik kembali antusias dengan misi kembali ke bulan. Teori konspirasi yang tidak mempercayai pendaratan manusia ke bulan dianggap sekadar dongeng tak berdasar. Semua teori konspirasi mudah dipatahkan dengan penjelasan ilmiah sederhana. Hal utama, tidak mungkin sekian banyak ilmuwan dunia mau dibohongi dengan rekayasa film di studio. Lagi pula, Uni Sovyet sebagai rival perang dingin AS pasti menjadi pihak pertama yang membongkarnya kalau pendaratan manusia di bulan hanya akal-akalan.

Menjelang akhir jabatannya, Trump memberi Direktif Presiden yang memerintahkan pendaratan manusia ke bulan dipercepat. Semula, NASA (badan antariksa AS) menargetkan pendaratan astronot ke bulan pada 2028. Namun Presiden Trump memerintahkan dipercepat menjadi 2024. Suasananya bukan lagi perlombaan ala perang dingin, tetapi kolaborasi. NASA tidak bekerja sendiri. Beberapa badan antariksa internasional turut terlibat. Perusahaan swasta keantariksaan AS turut dilibatkan. Tujuannya, menguji teknologi eksplorasi antariksa yang lebih efisien sebagai persiapan misi berawak ke planet Mars. Sasaran yang menantangnya, mendaratkan astronot perempuan pertama di bulan.

Misi kembali ke bulan dinamakan Artemis. Artemis adalah dewi saudara kembar Apollo dalam mitologi Yunani. Misi ke bulan sesungguhnya sudah mulai dirancang beberapa tahun sebelumnya. Namun kini Artemis lebih terfokus dengan target pendaratan pada 2024. Misi Artemis 1 (setelah diubah nama misinya) ditargetkan mengorbit bulan tanpa awak tahun depan, 2020. Artemis 2 dengan misi berawak mengorbit bulan ditargetkan pada 2023. Lalu misi berawak mendarat di bulan pada 2024. Wahana berawak Orion disiapkan untuk membawa 4 astronot. Sementara itu misi kembali ke bulan juga menyiapkan laboratorium antariksa yang mengorbit bulan, Gateway. Gateway ditargetkan juga menjadi persinggahan menuju Mars, selain sebagai laboratorium riset antariksa di luar orbit bumi.

Misi ke bulan pasca misi Apollo memang cukup langka. Belum ada lagi misi berawak ke bulan setelah 1972. Misi ke bulan sebenarnya merupakan misi eksplorasi antariksa yang menarik bagi bangsa-bangsa setelah berhasil menaklukkan misi mengorbit bumi. Setelah Uni Sovyet dan AS, kini disusul misi ke bulan oleh negara-negara Eropa, RRT, India, dan Jepang. Umumnya negara pemula memulainya dengan misi robotik. RRT berhasil mendaratkan wahana Change di belahan bulan yang tidak pernah teramati dari bumi. India berhasil mengirimkan wahana Chandranayaan ke bulan dengan biaya yang paling hemat.

Bagaimana Indonesia? Akankah terlibat dalam misi ke bulan? Sebagai badan antariksa, LAPAN selalu diundang dalam pertemuan internasional membahas eksplorasi antariksa ke luar orbit bumi. Bukan hanya ke bulan, tetapi juga ke asteroid, Mars, dan planet-planet lainnya. Untuk efisiensi sumber daya, kerjasama internasional sangat diharapkan. Sebagai negara yang  mulai berkembang kemampuan iptek antariksanya (Space Emerging Country) Indonesia selalu diundang dalam berbagai forum keantariksaan internasional, termasuk dalam pembahasan eksplorasi antariksa. Namun, LAPAN sebagai wakil Indonesia menyatakan akan fokus dulu mengembangkan kemampuan pengembangan satelit pengorbit bumi dan wahana peluncurnya. Sambil tetap menjalin kerjasama dalam aspek yang mungkin bisa kita ikuti. Antara lain, analisis data sains antariksa hasil eksplorasi dan pengembangan teknologi robotik pendukung misi eksplorasi antariksa.

Memahami Efek MJO pada Cuaca Indonesia

Zona pembentukan awan lintas tropik (ITZC) mulai bergerak ke utara, pertanda musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju musim kemarau di Indonesia. (Dari situs sadewa.lapan.go.id)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Akhir April 2019 kabar cuaca ekstrem dengan banjir dan tanah longsor kembali mencuat di pemberitaan nasional. Diawali dengan banjir besar di Bengkulu. Padahal saat ini sudah mulai memasuki akhir musim hujan. Saat musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju kemarau. Pola daerah ITCZ (Inter-Tropical Convergence Zone — zona pembentukan awan lintas tropik) sudah mulai bergerak ke utara (lihat gambar ITCZ di atas). Mengapa terjadi lagi cuaca ekstrem. BMKG memberikan peringatan cuaca ekstrem karena fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation). Apakah MJO dan apa dampaknya?

Cuaca di Indonesia secara reguler dipengaruhi oleh siklus angin pasat karena perubahan pemanasan matahari akibat kemiringan sumbu rotasi bumi. Kita mengenal perubahan musim hujan – pancaroba – kemarau – pancaroba – hujan, dan seterusnya sebagai siklus tahunan. Kadang-kadang terjadi kekeringan atau musim hujan panjang akibat pemanasan di lautan Pasifik (dikenal sebagai fenomena El-Nino/La-Nina) atau pemanasan di samudra Hindia (dikenal sebagai fenomena Indian Dipole-Mode — IOD). Fenomena El-Nino/La-Nina dan IOD biasanya berulang setiap 3 – 7 tahunan. Ada juga variasi yang disebut “kemarau basah” (banyak hujan saat kemarau) karena efek pemanasan di perairan sekitar Indonesia. Saat ini dikenal juga fenomena MJO yang dampaknya sekitar sepekan yang bisa berulang sekitar 2 bulanan bila fasenya masih aktif. Dampaknya bisa berupa penguatan pembentukan awan yang memicu cuaca ektrem atau pengurangan pembentukan awan yang menyebabkan jeda hujan saat musim hujan.

Dengan mempelajari dinamika atmosfer (pola pergerakan awan dan angin) di sepanjang daerah tropik, mulai dari Afrika, samudera Hindia, benua maritim Indonesia, sampai Pasifik, diketahui ternyata ada pola periodik aktivitas atmosfer ekuator yang dikenal MJO. MJO adalah kondisi dinamika atmosfer periodik yang bergerak sepanjang wilayah tropik dari barat ke timur dengan periode sekitar 40-50 harian. Namun tidak selalu aktif. Contohnya, selama Maret sampai pertengahan April 2019 fenomena MJO dalam kondisi tenang, jadi tidak berdampak apa pun. Namun, sejak akhir April MJO mulai aktif ditandai dengan penguatan pembentukan awan di Samudera Hindia yang bergeser ke wilayah benua maritim Indonesia. Saat ini penguatan pembentukan awan berada di wilayah Indonesia, kemudian terus bergeser ke timur menuju Pasifik. Sampai kapan? Fenomena MJO biasanya berlangsung sekitar sepekan. Berikut ini prakiraan efek MJO pada penguatan pembentukan awan di Indonesia yang diprakirakan sampai awal Mei 2019.

MJO yang berdampak pada penguatan pembentukan awan (warna biru) diprakirakan berlangsung sampai awal Mei. Setelah itu ada kemungkinan disusul penekanan pembentukan awan (warna merah). (Dari situs NOAA).

Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1440 H

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

 

Garis tanggal  yang dibuat dengan aplikasi Accurate Hijri Calendar (AHC) digunakan untuk menentukan secara hisab awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah 1440

 

 

Garis tanggal Ramadhan 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Ramadhan 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 5 Mei 2019 posisi bulan telah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Ramadhan 1440 jatuh pada 6 Mei 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 5 Mei 2019.

 

Garis tanggal Syawal 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Syawal 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 3 Juni 2019 posisi bulan belum memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Syawal (Idul Fitri) 1440 jatuh pada hari berikutnya, 5 Juni 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 3 Juni 2019.

 

Garis tanggal Dzulhijjah 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Dzulhijjah 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU,  semuanya menunjukkan pada saat maghrib 1 Agustus 2019 posisi bulan telah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Dzuhijjah 1440 jatuh pada 2 Agustus 2019 dan Idul Adha pada 11 Agustus 2019. Namun menurut kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), pada saat maghrib 1 Agustus 2019 posisi bulan belum memenuhi kriteria, sehingga menurut kriteria tersebut awal Dzulhijjah jatuh pada hari berikutnya, 3 Agustus 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 1 Agustus 2019. Sesuai Rekomendasi Jakarta 2017, bila ada perbedaan karena beda kriteria atau beda dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal maka kita merujuk keputusan Pemerintah sebagai otoritas tunggal, demi persatuan ummat.

 

 

 

 

 

 

Lapisan Batas Udara Permukaan

20190226_120654

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Menjelang mendarat di Jakarta (dari Pontianak, 26 Feb 2019), mari belajar sains atmosfer dan kondisi lingkungan. Dari ketinggian sekitar 3 km, saya potret ke arah awan di atas pantai utara Jakarta – Bekasi. Ada batas kelabu dan awan putih. Batas itu disebut Planetary/Atmospheric Boundary Layer (lapisan batas udara permukaan). Ketinggian batas itu sekitar 1,5 – 2 km. Di bawah batas ini udara masih hangat karena efek pemanasan dari permukaan bumi. Warna kelabu adalah polusi udara yang menyebabkan kita sering kehilangan langit biru. Di atas batas itu adalah daerah pembentukan awan dengan suhu udara cukup dingin untuk proses kondensasi uap air membentuk awan.

Refleksi Capaian LAPAN 2018

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Visi LAPAN 2015-2019  untuk mencapai “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri” insya-a Llah akan tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional. Upaya yang dilakukan adalah membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa).

Refleksi Capaian LAPAN 2015 , Refleksi Capaian LAPAN 2016-2017, dan Refleksi Capaian 2018 ini adalah suatu rangkaian catatan merupakan apresiasi kepada semua pegawai LAPAN untuk membangun kepercayaan diri dan semangat kerja, tanpa melupakan hal-hal yang harus terus di dibenahi.

 

Capaian Pembenahan Tata Kelola

  • Kepala LAPAN menjadi First Vice Chairman UNCOPUOS Parent Meeting 2018-2019.
  • Webometrik lembaga riset pada Juli 2018: LAPAN mendapat peringat 4 nasional, 30 ASEAN, 336 Asia, 2336 Dunia.

 

  • LAPAN mendapat nilai evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) 73,36 (BB), naik dari nilai tahun sebelumnya 72,01
  • Indeks Reformasi Birokrasi (RB) LAPAN: 75,92 (naik dari tahun sebelumnya 72,66), sehingga LAPAN diusulkan mendapatkan kenaikan Tunjangan Kinerja
  • Opini BPK untuk LAPAN: Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 3 tahun berturut-turut (2015, 2016, 2017).
  • LAPAN mendapatkan Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik sebagai Badan Publik Informatif dengan nilai 92,49 untuk kategori Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian. Sementara predikat yang sama diraih oleh dua instansi lainnya, yaitu BATAN (93,80) dan BI (92,54).

  • LAPAN mendapatkan 2 Penghargaan TOP IT utk kategori  TOP IT on “Satu Data LAPAN” Services 2018 dan TOP Digital Transformations Readiness 2018.

  • Tiga Pusat (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Pusat Sains Antariksa, dan Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh) meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dari MenpanRB.

 

Capaian Pembenahan Kompetensi dan Layanan

  • Dari hasil analisis Webometric, LAPAN masuk dalam peringkat 7 lembaga riset nasional dengan sitasi Google Scholar tertinggi: 1. LIPI, 2. BPPT, 3. Ejkman, 4. Balitbang Pertanian, 5. Balitbang Kehutanan, 6. SMERU, 7. LAPAN.
  • Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) mendapatkan ISO 9001:2015 untuk layanan SWIFtS.
  • Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) mendapatkan ISO 9001:2015 untuk Pengelolaan Stasiun Bumi dan Operasi Missi Satelit.
  • Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) mendapat Anugerah Prayoga Sala pada Hari Kebangkitan Teknologi 2018 atas prestasi membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi.

  • Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) dan Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh (Pustekdata) memperoleh penghargaan Adhyasta Bhumi Award dari Masyarakat Penginderaan Jauh (MAPIN) sebagai lembaga yang telah mampu memenuhi kebutuhan pengguna nasional penyediaan data penginderaan jauh untuk pembangunan nasional dan pengembangan riset dan iptek nasional
  • Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) berhasil mengadakan AeroSummit bersama mitra industri penerbangan sebagai cikal bakal sinergi ekosistem lembaga litbang aeronotika dengan industri teknologi penerbangan.
  • Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) mendapatkan sertifikat Akreditasi Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP).
  • Dari 7 Pusat teknis LAPAN, 5 telah ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) (1. Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, 2. Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh, 3. Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, 4. Pusat Teknologi Satelit, 5. Pusat Teknologi Penerbangan) dan 2 dibina jadi PUI (6. Pusat Teknologi Roket dan 7. Pusat Sains Antariksa).

  • Tiga kedeputian LAPAN: Kedeputian Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer, Kedeputian Bidang Penginderaan Jauh, dan Kedeputian Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa mendapatkan penghargaan sebagai Lembaga Induk yang berkomitmen dalam mendukung pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI).
  • Pesawat terbang tanpa awak LSU03-M3 (kerjasama LAPAN – PT M3) mendapat sertifikat full system dari IMMA.
  • Pusat Teknologi Penerbangan mendapatkan ISO 9001:2015 tentang “Sistem Manajemen Mutu Pelayanan Foto Udara” untuk pemotretan dengan pesawat tanpa awak LSU (LAPAN Survaillance UAV).
  • Uji terbang pesawat N219 prototipe 2 (PD2) hasil kerja sama LAPAN-PTDI berhasil dilakukan pada 21 Desember 2018. Dengan 2 pesawat prototipe yang diuji terbang, diharapkan sertifikat tipe dapat diperoleh secepatnya untuk selanjutnya memasuki proses produksi.