Thomas Djamaluddin, Kepala Lapan Bergelar ”Spesialis” Rukyat Ramadan: Ingin Satukan Kalender Hijriah Se-Asia Tenggara

FEATURE

Jawa Pos, 19 Juni 2015

Versi cetak:

TD-Jawa Pos ACatatan: Ada beberapa informasi salah kutip, tetapi secara umum OK.

Versi Online:

TD-Jawa pos 0

TD-Jawa pos 1

Laporan M. Hilmi Setiawan, Jakarta

BEDA dengan hari biasanya, ruang pertemuan di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Selasa lalu (16/6) tampak sibuk sejak siang. Sejumlah pegawai menata meja dan kursi untuk persiapan pemaparan kajian astronomi menjelang sidang isbat penetapan 1 Ramadan 1436 H.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin sudah tiba di Kantor Kemenag dua jam sebelum sidang dimulai. Dia mengaku antusias mendengarkan paparan astronomi soal posisi hilal terkini.

Kemenag biasanya menunjuk Thomas sebagai pemateri dalam pemaparan kajian astronomi untuk penentuan 1 Ramadan. Tetapi, sejak diangkat sebagai kepala Lapan tahun lalu, Thomas tidak menjadi pemateri lagi. Posisinya digantikan oleh koleganya.

”Sore ini yang menjadi pemateri ahli astronomi yang tergabung dalam tim Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kemenag,” kata pria kelahiran Purwokerto, 23 Januari 1962, itu.

Menurut Thomas, di Indonesia, astronom yang mendalami ilmu falak dari kajian Islam tidak banyak. Ilmu falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda di langit, khususnya pergerakan atau lintasan bulan dan matahari. Hasil pengamatan terhadap bulan dan matahari itu kemudian digunakan sebagai dasar penetapan waktu ibadah atau kalender Hijriah.

Dia mengaku tidak pernah mendalami ilmu falak secara formal di sekolah maupun saat kuliah. Dia mempelajari ilmu itu lewat buku-buku yang dibacanya sejak SMP.

”Setelah membaca buku ilmu falak, saya jadi tertarik mendalaminya,” ujar lulusan salah satu madrasah ibtidaiyah (MI, setingkat SMP) di Cirebon itu.

Kecintaan terhadap dunia astronomi makin menjadi setelah Thomas lulus dari SMAN 2 Cirebon. Dia diterima di Jurusan Astronomi ITB.

”Tapi, selama kuliah, saya tidak pernah mendapatkan ilmu falak dari sisi agama. Hanya astronomi secara umum,” tutur suami Erni Riz Susilawati itu.

Thomas tidak patah arang. Dia tetap bisa memperdalam ilmu falak di komunitas Masjid Salman ITB. Di masjid itu, dia dapat bimbingan dari para senior untuk memadukan ilmu astronomi yang didapat di ruang kuliah dengan ilmu falak yang diperoleh di Masjid Salman.

Karena begitu kuat tekadnya untuk menyatukan astronomi dengan ilmu falak, Thomas sampai mendapat julukan khusus dari kawan-kawannya di kampus. Yakni, kiai astronom.

”Itu hanya guyonan dari kawan-kawan,” kata anak pasangan Sumaila Hadiko dan Duriyah itu, lantas tertawa.

Setelah lulus sarjana dari ITB, Thomas melanjutkan kuliah ke jenjang S-2 dan S-3 di Universitas Kyoto, Jepang, dengan kajian astronomi. Selama kuliah di Negeri Matahari Terbit, dia mendapatkan banyak pengalaman penting di bidang astronomi dan ilmu falak. Salah satunya, dia pernah menjadi sekretaris persatuan umat muslim di Jepang.

Nah, saat aktif di organisasi itulah, Thomas sempat diminta untuk ikut menyusun jadwal imsakiyah atau panduan jam salat lima waktu di Jepang. Saat itu mendapatkan jadwal imsakiyah sangat sulit di Jepang. Umat muslim yang ingin tahu jadwal imsakiyah harus datang ke Islamic Center di Tokyo atau Masjid Agung Kobe. ”Waktu itu belum ada e-mail seperti sekarang,” jelas dia.

Upaya Thomas menyusun jadwal imsakiyah untuk wilayah Kyoto sangat membantu umat muslim. Khususnya para mahasiswa muslim yang datang dari negara-negara berbasis Islam.

Sebelum itu, Thomas mendapati kejadian unik di Jepang terkait dengan penetapan awal Ramadan dan Lebaran. Para mahasiswa yang berasal dari berbagai negara tersebut membawa ”tradisi” negara masing-masing untuk menentukan awal bulan puasa dan Idul Fitri.

”Saya bingung harus ikut yang mana. Sehingga kadang saya puasa lebih dulu dibandingkan kawan saya dari negara lain,” tuturnya.

Kini, setelah mendalami astronomi dan ilmu falak selama puluhan tahun, Thomas terobsesi untuk menyatukan kalender Hijriah di Indonesia. Untuk itu, ada tiga ketentuan yang harus menjadi pertimbangan. Yakni, batas wilayah, otoritas, dan kriteria rukyat. Untuk ketentuan batas wilayah, Thomas mengatakan sudah aman. Sebab, sudah disepakati kalender Hijriah berlaku di seluruh wilayah Indonesia.

Untuk urusan otoritas, dia berharap Kemenag bisa memosisikan diri sebagai pengambil kebijakan. Untuk itu, semua ormas Islam harus menyepakati lebih dulu bahwa otoritas pengambil keputusan untuk penetapan kalender Hijriah adalah Kemenag.

”Kenapa di Malaysia atau Singapura tidak ada perbedaan? Karena penetapannya satu pintu, di tangan pemerintah,” terang bapak tiga anak itu.

Nah, upaya yang paling menantang untuk membuat satu kalender Hijriah di Indonesia adalah kriteria. Selama ini, NU dan Muhammadiyah memiliki kriteria yang berbeda dalam menetapkan perhitungan kalender Hijriah. Muhammadiyah menggunakan hisab (perhitungan), sedangkan NU memakai cara rukyat (melihat bulan).

Suatu hari Thomas mengingatkan Muhammadiyah bahwa model hisab perlu dikaji ulang. Tetapi, dia justru mendapat respons balik yang negatif. Bahkan, akun Facebook miliknya sampai dibajak orang. Pemicunya adalah pernyataan Thomas bahwa saat perkembangan teknologi semakin canggih, sistem hisab sudah tidak relevan.

”Kejadian itu paling berkesan selama saya berkarir di dunia astronomi,” jelasnya. Tapi, dia bersyukur karena saat ini Muhammadiyah lebih terbuka dan bersedia mendengar paparan lain tentang perkembangan ilmu falak.

Menurut Thomas, banyak keuntungan jika Indonesia menerapkan satu kalender Hijriah. Jika satu kalender Hijriah itu benar-benar diterapkan, Indonesia bisa menularkannya ke negara-negara Asia Tenggara.

”Jadi, nanti di Asia Tenggara satu kawasan kalender Hijriah-nya sama. Awal puasa atau Lebaran di Indonesia bakal sama dengan di negara-negara lain di kawasan ASEAN,” tegas dia. (*/c11/ari)

Mari Bersatu Wujudkan Kalender Islam yang Mapan

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Muhammadiyah-NU-Persis-1436

Persoalan penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah bukan sekadar masalah penetapan waktu ibadah. Ada cita-cita besar yang ingin diwujudkan umat Islam: mewujudkan kalender Islam yang mapan. Kalender Islam yang mapan adalah kalender yang bisa digunakan untuk penentuan waktu ibadah dan kegiatan muamalat (sosial, ekonomi, budaya) yang bisa dibuat untuk puluhan tahun, bahkan ratusan tahun ke depan. Untuk membuat kalender diperlukan ilmu hisab (komputasi) astronomi. Namun hasil hisab (perhitungan) saja belum bisa menetapkan awal bulan kalau belum menggunakan kriteria. Ya, kriteria menjadi salah satu dari tiga syarat utama untuk membangun sistem kalender yang mapan. Tiga syarat membangun sistem kalender yang mapan adalah (1) adanya otoritas tunggal, (2) adanya batas wilayah yang disepakati, dan (3) ada kriteria tunggal yang disepakati.

Kondisi saat ini, perbedaan penentuan awal bulan qamariyah, terutama Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, bersumber dari belum adanya kesepakatan pada tiga syarat itu. Di Indonesia, otoritas pemerintah belum sepenuhnya disepakati. Saat ini otoritas pimpinan ormas Islam masih lebih dipercaya. Batas wilayah secara umum disudah disepakati yaitu batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), walau ada yang menginginkan batas wilayah global (namun tanpa memberikan konsepnya). Masalah kriteria makin menampakkan perbedaan antar-ormas Islam, khususnya antara Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Persatuan Islam (Persis).

Untuk penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjan 1436 ada potensi perbedaan pada penentuan Syawal dan Dzulhijjah karena perbedaan kriteria. Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal (hilal sudah wujud saat maghrib). NU menggunakan kriteria tinggi minimal 2 derajat, jarak bulan-matahari minimal 3 derajat, atau umur bulan minimal 8 jam pada saat maghrib. Persis menggunakan kriteria beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat.

NU sejak 2013 sudah menetapkan kalender 1436/2015 dalam kegiatan penyelasaran hisab 1436-1437. Muhammadiyah mengumumkan pada 28 April 2015 Maklumat Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Dzuhijah 1436. Pada 1 Juni 2015 Persis mengeluarkan Surat Edaran awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjan 1436 H/2015 M pada 1 Juni 2015.

NU-Hisab 1436

1436-2015-MAKLUMAT-Muhammadiyah

 

1436-2015-Surat Edaran Persis

Hasil hisab secara umum sama antara hasil hisab Muhammadiyah, NU, dan Persis karena semuanya menggunakan perangkat lunak astronomi. Hasil penetapan hisabnya, awal Ramadhan 1436 semuanya sepakat akan jatuh pada 18 Juni 2015. Hasil penetapan hisab awal Syawal (Idul Fitri) 1436 Muhammadiyah dan NU akan sama (17 Juli 2015), namun Persis berbeda (18 Juli 2015). Hasil penetapan hisab 10 Dzulhijjah (Idul Adha) 1436 Muhammadiyah lebih awal (23 September 2015) daripada NU dan Persis (24 September 2015).

Ketika terjadi perbedaan, bagaimana sikap kita? Marilah kita mengingat cita-cita besar umat Islam untuk mewujudkan kalender Islam yang mapan. Marilah kita bersatu pada tiga syarat kalender mapan. Batas wilayah NKRI sudah disepakati. Kalaulah masalah kriteria belum bisa disepakati dan terlanjur telah dijadikan dasar  dalam penetapan kalender masing-masing ormas, marilah bersatu untuk syarat otoritas tunggal.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2/2004 menyatakan “seluruh umat Islam Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah”. Marilah kita bersepakat untuk menjadikan Pemerintah RI sebagai otoritas yang menjaga kalender Islam Indonesia. Marilah menjadikan keputusan pemerintah saat sidang itsbat (sidang penetapan) sebagai keputusan yang diikuti oleh seluruh umat Islam Indonesia. Itulah salah satu tahapan strategi mewujudkan kalender Islam Indonesia yang mapan. Sementara itu dialog terus dilakukan untuk menyamakan kriteria berdasarkan kajian fikih dan astronomi.

Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah adalah masalah ijtihadiyah. Tidak ada kebenaran mutlak dalam hal ijtihadiyah. Rasul SAW mengajarkan, kalaulah salah dalam berijtihad, bukan dosa yang kita peroleh, namun kita masih dapat satu pahala. Sementara menjaga ukhuwah, persaudaraan dan persatuan ummat, adalah wajib. Menurut kaidah Islam, kalau kita dihadapkan pada dua atau lebih pilihan, pilihlah yang paling besar maslahatnya. Menjaga ukhuwah lebih besar manfaatnya bagi kemaslahatan ummat, daripada bertahan pada ijtihad penetapan awal Ramadhan, Syawal, atau Dzuhijjah. Jadi, berbesar hati untuk mengambil Pemerintah sebagai otoritas tunggal untuk menciptakan persatuan ummat adalah lebih utama daripada mempertahankan kriteria kalender masing-masing ormas. Bersepakat pada satu otoritas pun menjadi bagian mewujudukan cita-cita besar umat Islam, yaitu mewujudkan kalender Islam yang mapan.

Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1436/2015

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Ramadhan 1436-1

Dengan menggunakan aplikasi Accurate Hijri Calculator  (AHC) yang dikembangkan Abdul Ro’uf dari Fisika Universitas Brawijawa, kita bisa menghitung (hisab) awal Ramadhan, Syawal, dan Dzuhijjah 1436.

Awal Ramadhan 1436 diprakirakan akan seragam diawali 18 Juni 2015. Awal Syawal (Idul Fitri) 1436 diprakirakan juga akan seragam 17 Juli 2015, namun ada potensi gagal rukyat karena posisi bulan yang tidak terlalu tinggi. Sedangkan awal Dzuhijjah berpotensi terjadi perbedaan karena posisi bulan sudah wujud, namun kurang dari 2 derajat. Kepastiannya kita tunggu hasil Sidang Itsbat.

Berikut ini analisis rincinya:

Hisab Awal Ramadhan 1436

Ramadhan 1436-1Garis tanggal dengan kriteria Wujudul hilal (antara arsir merah-putih), Tinggi 2 derajat (antara arsir putih-biru), Odeh (antara arsir biru-hijau) pada saat maghrib 16 Juni 2015. Disimpulkan di Indonesia bulan masih di bawah ufuk (arsir merah). Maka bulan Sya’ban digenapkan 30 hari, awal Ramadhan 1436 jatuh pada Kamis, 18 Juni 2015 (mulai malam Kamis).

Ramadhan 1436-2

 

Analisis garis tanggal dengan Kriteria LAPAN 2011 (Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia). Pada maghrib 16 Juni 2015 hilal tidak mungkin dirukyat (arsir merah). Maka Sya’ban digenapkan 30 hari, awal Ramadhan jatuh pada hari berikutnya, Kamis 18 Juni 2015 (mulai malam Kamis).

 

Ramadhan 1436-3

Garis tanggal awal Ramadhan 1436 dengan Kriteria LAPAN (Kriteria Hisab-Rukyat) pada malam berikutnya. Pada maghrib 17 Juni 2015 hilal mungkin dirukyat (arsir hijau). Ini meyakinkan awal Ramadhan 1436 jatuh pada 18 Juni 2015.

Hisab Awal Syawal (Idul Fitri) 1436

Syawal-1436-1

Garis tanggal dengan kriteria Wujudul hilal (antara arsir merah-putih), Tinggi 2 derajat (antara arsir putih-biru), Odeh (antara arsir biru-hijau) pada saat maghrib 16 Juli 2015. Di Indonesia bulan sudah di atas ufuk dan tingginya lebih dari 2 derajat. Dengan kriteria Wujudul Hilal dan kriteria 2 derajat, awal Syawal 1436 jatuh pada 17 Juli 2015. Namun pada diagram kiri bawah, terlihat posisi bulan tidak terlalu tinggi. Jadi perlu diwaspadai kemungkinan gagal rukyat.

Syawal-1436-2

Dengan Kriteria LAPAN (Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia), pada 16 Juli 2015 hilal tidak mungkin dirukyat (arsir merah), sehingga semestinya awal Syawal jatuh pada 18 Juli 2015. Namun demi mewujudkan sistem kalender Islam yang mapan, pada saat belum ada kesepakatan kriteria, ketaatan pada otoritas Pemerintah harus diutamakan. Saya sarankan ketika terjadi perbedaan pendapat kita ikuti keputusan Pemerintah pada sidang itsbat .

Hilal Awal Dzulhijjah 1436

Dzulhijjah-1436

Pada saat maghrib 13 September 2015, piringan bulan sedikit di atas piringan matahari (diagram kiri bawah). Garis tanggal Wujudul Hilal (antara arsir merah-putih) menunjukkan bagian Barat Indonesia bulan sudah wujud (arsir putih) sehingga saudara-saudara kita yang menggunakan kriteria Wujudul Hilal menetapkan awal Dzulhijjah 1436 jatuh pada 14 September 2015 dan Idul Adha jatuh pada 23 September 2015. Tetapi garis tanggal 2 derajat (antara arsir putih-biru) menunjukkan bulan belum memenuhi kriteria. Jadi awal Dzuhijjah 1436 menurut kriteria 2 derajat jatuh pada 15 September 2015 dan Idul Adha jatuh pada 24 September 2015. Pada saat terjadi perbedaan pendapat, saya sarankan ikuti keputusan Pemerintah pada sidang itsbat.

Optimis Satukan Penanggalan Umat

Majalah Ummi, April 2015/1436, memuat wawancara saya di rubrik “SosoK”

Sosok-1

Sosok-2

Wawancara JAXA (Badan Antariksa Jepang) dengan Kepala LAPAN: Keantariksaan untuk Memecahkan Masalah di Asia Pasifik

Wawancara JAXA

Catatan: Awal Desember 2014, saat pertemuan APRSAF (Asia Pacific Regional Space Agency Forum) di Tokyo, media publikasi JAXA (Badan Antariksa Jepang) mewawancarai saya sebagai Kepala LAPAN. Walau pun ada beberapa yang salah kutip, tetapi secara umum wawancara itu mengungkapkan peran keantariksaan bagi Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

Ini versi Bahasa Jepang:

 

Wawancara JAXA2

Ini wawancara versi bahasa Inggris:

The 21st Asia-Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF-21) was held in Tokyo on December 2-5, 2014. APRSAF is an international conference that promotes the use of space in the Asia-Pacific region. During the conference, members of national space agencies and government bodies, as well as university researchers and representatives of private companies, gathered under one roof for lively discussion. We talked with the Chairman of the space agency of Indonesia, the host country for the APRSAF-22, which will convene in 2015.

An archipelago nation needs space technology

— Please give us an overview of the Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN), and tell us what you do.

Earth observation microsatellite LAPAN-A1 (courtesy: LAPAN)

Earth observation microsatellite LAPAN-A1 (courtesy: LAPAN)

RX-420 (courtesy: LAPAN)

RX-420 (courtesy: LAPAN)

The purpose of LAPAN is aerospace-related research and development. The organization was established in 1963, and today our work falls under four core competencies: space science, aerospace technology, remote sensing, and space policy. A recent achievement was the 2007 launch of LAPAN-A1, a microsatellite for Earth observation. It was developed with help from the Technical University of Berlin in Germany, and launched on an Indian rocket. We are currently working on its successors, LAPAN-A2 and LAPAN-A3. Our goal is to launch LAPAN-A2 in mid-2015 and LAPAN-A3 at the end of 2015. I believe we will use Indian rockets for these launches as well. Meanwhile, concerning rockets, we are developing a small solid-fuel rocket. We launched the RX-320 rocket, with a diameter of 32 cm, in 2008, and the RX-420, with a diameter of 42 cm, in 2009. Now we are developing their successor, the RX-450.

— What kinds of projects is LAPAN pursuing now?

First, in the area of space science, is a Space Radar for observing the development of the equatorial atmosphere. In the aerospace technology category, we are working on developing a transport aircraft in collaboration with private companies, a military reconnaissance drone, and sounding rockets and a microsatellite for Earth observation. LAPAN-A2 and LAPAN-A3, which we plan to launch in 2015, weigh no more than around 50 kg, but we are making plans to launch the LAPAN-A4 and LAPAN-A5 satellites, which will weigh 100 kg or more, by 2018, as well as to develop a satellite produced in Indonesia by the end of 2019. We’ll probably begin preparations for domestic production in 2015 or so. As for remote sensing, we are building a National Remote Sensing Data Bank. This data bank archives all remote sensing data acquired by LAPAN’s ground stations, and We want to make this these database useful for all of Indonesia’s government institutions, local governments and universities. Finally, in space policy we enacted the Indonesian Space Law in 2013, and we are preparing for the formulation of a space master plan covering the next 25 years.

— What are your thoughts on manned space exploration?

Scientifically, we have an interest in manned space exploration. However, it would be difficult for Indonesia to do this alone. Eventually we might produce an Indonesian astronaut through international collaboration, but at this point it is not our main priority. First I think we should develop our remote sensing and related technologies.

— What do you think is the significance of space development?

I think that space technology is one of the most important technologies in modern life. These days, so many aspects of human lifestyles depend on the use of space. Economic activity also depends on space technology for data communication and so on. Indonesia is particularly dependent on space technology because it is composed of around 17,000 islands, large and small, with a total land area about five times that of Japan’s. The country stretches 5,100 km east to west and 1,900 km north to south, so it is essential to construct networks using satellites. We have been building a domestic communications infrastructure using satellites since the 1970s, and presently there are three types of satellites in operation, such as those used in commercial communication. In addition, when a disaster occurs, Earth observation satellites can see the state of damage from space, and they play an important role in preventing secondary disasters. Like Japan, Indonesia is a country with many active volcanoes. We hope that satellites will also contribute to preventing damage before it happens, for example by helping us predict volcanic eruptions. This is why I think that the significance of using space is that it will create a safe and reassuring society for us.

Greater cooperation in the Asia-Pacific region

— Which topics do you think will be particularly significant at APRSAF-21?

Asia-Pacific Space Leaders Meeting (AP-SLM)Session at APRSAF-21

Asia-Pacific Space Leaders Meeting (AP-SLM)Session at APRSAF-21

Plenary Session at APRSAF-21

Plenary Session at APRSAF-21

APRSAF’s purpose thus far has been to advance the development of space technology, but now it seems the emphasis is shifting towards using space technology to help solve problems in the Asia-Pacific region. To do this, APRSAF has been reorganized into four working groups: Space Applications, Space Technology, Space Environment Utilization, and Space Education. Experts will gather under this framework, share activity reports and information, and engage in discussions toward new international cooperation. Although international projects toward solving regional problems are already underway  such as Sentinel Asia (which contributes to disaster prevention), the SAFE environmental effort, and the Climate R3 climate change initiative  I think that by forming working groups at APRSAF, we will facilitate more concrete action. This will benefit the Asia-Pacific region and likely strengthen our cooperative institutions much, much more.

— What kind of effect do you think your participation in APRSAF has had on Indonesia’s space development?

By participating in APRSAF, we have improved our knowledge and capacity in remote sensing and other space technology. In addition, when a natural disaster happens, we have provided satellite data through Sentinel Asia not only to verify the state of damage, but also to take measures to hold the damage to a minimum. I think a major benefit is that we can easily acquire the information we want in large quantities, and it is free to access. Furthermore, providing this sort of information to local governments and relevant institutions has, I think, led to support for their activities.

— In the future, what do you expect to do in your APRSAF activity?

Touring a life-size replica of Kibo during the APRSAF-21 technical tour

Touring a life-size replica of Kibo during the APRSAF-21 technical tour

We’ll probably get various benefits through projects using the Kibo Japanese Experiment Module on the International Space Station, and through Kibo-ABC. In addition to giving researchers the opportunity to conduct experiments in space, Kibo-ABC can contribute to space education for children. For example, one Kibo-ABC program is Space Seed for Asian Future. First we send tomato seeds to Kibo, and then they are sent back to Earth, where junior high school students grow them. The students compare the growth of seeds sent to space with those that weren’t, and then submit reports. Then there is a competition to identify excellent reports. Indonesian students have also joined this program, and it seems they were able to learn about the space environment through their experiments. In addition, at APRSAF we hold a water-rocket competition for elementary and junior high school students in the Asia-Pacific region. This has raised children’s awareness of space. In the future we will have competitions for high school and university students. For example, I really want to run a competition where students can learn about satellites and remote sensing technology.

— Do Indonesian children have an interest in space?

It seems to me that Indonesian children have a growing interest in space activity and space science. One factor may be that the spread of the internet has made it easy to get information. In addition, there are many children with an interest in astronomy, as I had when I was young. Planetariums are popular, and there are many active groups for amateur and professional astronomers. Outside of APRSAF, we also hold our own water-rocket competition, which seems to spur children’s interest in space activity.

Using space technology to fight maritime problems

— The next APRSAF host country is Indonesia. Do you have an outlook for what kind of conference you want it to be?

Indonesia’s current president has a vision of making maritime affairs a national priority item, and at the next APRSAF I think we will focus on maritime management. For example, we want to discuss methods of monitoring illegal fishing by using remote sensing technology, because our fishermen suffer great losses due to illegal fishing from overseas. In addition, the Malacca Straits between Indonesia and Malaysia are well-known for pirates who attack commercial shipping, so I would like to reduce the harm from pirates by using watchful eyes from space. By using space technology to support activities at sea, I hope we can solve maritime problems affecting not only Indonesia, but other Asia-Pacific countries as well.

— How do you want to develop LAPAN in the future?

My goal is to move steadily forward in our four competencies of space science, aerospace technology, remote sensing and space policy. For the future, we have a plan to construct a space port in the equatorial region of eastern Indonesia, and I would like to proceed with research and development, so we can eventually launch Indonesian-made satellites on Indonesian-made rockets.

— Finally, please tell us about your hopes for collaboration with JAXA.

Dr. Djamaluddin, LAPAN Chairman, and Dr. Okumura, JAXA President

Dr. Djamaluddin, LAPAN Chairman, and Dr. Okumura, JAXA President

We have built collaborative relationships with Japanese research institutions and universities. With JAXA in particular, we have had many results from partnerships related to remote sensing, such as satellite data usage. JAXA has the capabilities to develop satellites and rockets on its own, and we see a need to partner up in these kinds of areas as well. I hope JAXA will actively support us.

Thomas Djamaluddin

Hironobu Yokota

Chairman of the Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Dr. Djamaluddin graduated from the Bandung Institute of Technology in 1986, with an undergraduate degree in Astronomy. Subsequently, he studied at Kyoto University, where he earned a post-graduate degree in astronomy in 1991, and a Ph.D. in Astronomy in 1996. He was Director of LAPAN’s Climate and Atmospheric Science Applications Center from 2007 to 2010, and Deputy Chairman of Space Science Affairs from 2011 to 2014. He has been Chairman of LAPAN since February 2014.

Blog T. Djamaluddin: 2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 190.000 kali di 2014. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 8 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Bincang-Bincang: Teknologi Antariksa Wujudkan Mimpi Jokowi

Teknologi Antariksa wujudkan mimpi Jokowi

Harian Terbit 6 Desember 2014 memuat Bincang-bincang dengan Kepala LAPAN tentang “Teknologi Antariksa Wujudkan Mimpi Jokowi”. Walau ada beberapa salah kutip dan kalimat yang tidak lengkap, tetapi secara umum bincang-bincang itu mengungkapkan tekad LAPAN untuk memberi kontribusi menuju kemajuan dan kemandirian Indonesia dalam bidang keantariksaan, khususnya dalam mendukung program prioritas pemerintahan Presiden Jokowi.

Bincang-bincang Iptek-Harian Terbit

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 230 pengikut lainnya.