Suhu Panas pada Musim Pancaroba di Indonesia

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Suhu panas pada musim pancaroba (peralihan kemarau ke musim hujan sekitar Oktober dan peralihan musim hujan ke kemarau sekitar April-Mei) sering menjadi viral dengan informasi yang keliru dan bercampur hoax. Suhu panas tersebut bukanlah gelombang panas atau cuaca ekstrem. Itu adalah fenomena tahunan yang normal, seperti ditunjukkan pada data klimatologi di atas.

Suhu panas di banyak kota di Indonesia disebabkan 3 faktor utama:
1. Posisi matahari berada di atas Indonesia (deklinasi matahari = lintang tempat). Sering juga disebut “hari tanpa bayangan”. Pada saat itu, pancaran sinar matahari pada tengah hari tegak lurus, sehingga penerimaan panas menjadi maksimum.
2. Liputan awan masih minim. Pada saat musim pancaroba, liputan awan tidak terlalu banyak, sehingga pemanasan permukaan bumi juga bisa maksimum.
3. Efek pendinginan dari angin yang berasal dari daerah musim dingin sudah berhenti. Pada musim kemarau terjadi efek pendinginan dengan embusan angin dari Australia yang sedang musim dingin. Sementara saat musim hujan terjadi efek pendinginan dari embusan angin dari Asia yang sedang musim dingin

Faktor lain yang menambah efek pemanasan adalah urban heat island (pulau panas perkotaan) akibat berkurangnya pepohonan, bertambahnya bangunan, dan peningkatan emisi karbon dioksida (CO2) dari transportasi, industri, dan aktivitas rumah tangga. Karbon dioksida di atmosfer menahan pelepasan panas ke antariksa. Akibatnya terjadi peningkatan suhu udara permukaan.

 

CNN Meet the Geek: Thomas Djamaluddin, Mimpi Jadi Peneliti Berakhir di Astronomi

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi

Jakarta, CNN Indonesia — Dunia astronomi dan keantariksaan seputar benda langit dan alam semesta menjadi misteri hingga memicu tanda tanya bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Teka-teki dan pertanyaan besar itu pula yang tersimpan dalam benak kepala LAPANThomas Djamaludin.

Ketertarikannya terhadap dunia astronomi tak dinyana justru membawanya ‘menembus semesta’ hingga mengantongi beasiswa untuk melanjutkan di bidang astronomi dari Universitas Kyoto, Jepang.

Kepada CNNIndonesia.com, Thomas menuturkan sejak kanak-kanak sebenarnya ia lebih tertarik terhadap dunia flora. Maka tak heran jika ditanya soal cita-cita, semasa duduk di SMP N 1 Cirebon Thomas dengan mantap mengatakan ingin menjadi peneliti. Sebuah cita-cita yang terdengar awam bagi sebagian mimpi untuk menjadi dokter, polisi, hingga pilot.

Tapi tidak demikian bagi sang pemilik mimpi. Thomas merasa menjadi peneliti sebagai hal mengasyikkan – kendati tidak tahu betul apa pekerjaannya. Ia mengaku sejak kecil tertarik mengamati proses dari biji-bijian hingga menjadi tanaman.

“Mulai kecil saya senang pertama tumbuh-tumbuhan, ingin mengulik terkait dengan bagaimana sih tumbuhan. Proses mulai dari biji sampai tumbuh besar terutama musim hujan paling senang,” ujar Thomas saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kantor LAPAN di Jakarta Timur, Senin (19/8).

Pria yang menghabiskan masa kecilnya di Cirebon ini menuturkan ketika beranjak remaja ia kerap mengumpulkan biji rambutan hingga kedondong yang terdapat di sekitar rumahnya. Musim hujan menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu Thomas, karena bisa melihat proses tumbuhan berkembang dari sebuah biji, keluar tunas, hingga muncul daun.

Kebun pisang yang terdapat di halaman belakang rumahnya tak luput menjadi objek pengamatan Thomas. Kala itu ia mendapati tunas pisang ternyata cukup kuat untuk mengangkat batu yang terdapat di sekitar pohon. Pengamatan ini pula yang kian membulatkan tekadnya untuk menjadi peneliti.

“Saya juga sering amati tunas pisang di kebun di belakang rumah, itu kekuatannya cukup juga kalau ada batu itu kadang batu bisa terangkat juga. Dari sana saya cita-cita jadi ingin peneliti,” ucapnya.

Menginjak remaja, ketertarikan Thomas terhadap tumbuh-tumbuhan justru beralih ke ranah astronomi. Ketika duduk di kursi kelas 3 SMP, ia banyak mendapat informasi mengenai astronomi saat membaca majalah Mekatronika.

Salah satu edisi majalah yang membahas piring terbang (UFO) dan keberadaan alien, makhluk lain di luar Bumi semakin membuatnya penasaran. Di titik inilah Thomas kemudian ‘banting stir’ dan berniat mempelajari astronomi lebih dalam.

Lepas SMP, pria kelahiran 23 Januari 1962 ini melanjutkan studnya di SMAN 2 Cirebon. Rasa penasarana terhadap teka-teki dunia luar angkasa semakin besar dalam benaknya.

Ditambah koleksi buku-buku di perpustakaan sekolah membuat rasa penasaran terhadap UFO dan alien semakin membuncah. Ia menuturkan beberapa kali meminjam buku dari perpustakaan yang kerap mendapat asupan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

“Jadi saat itu banyak ingin tahu juga, apalagi saya menemukan di perpustakaan buku yang menarik terkait pertanyaan apakah piramida lalu patung-patung di Pulau Ester itu buatan manusia atau itu mengarah bukan buatan manusia tapi buatan alien,” ucapnya.

Asupan informasi inilah yang kemudian memunculkan gagasan untuk membuat tulisan mengenai penjelasan UFO dari sudut pandang agama. Terlebih ia juga selama ini senang mempelajari seluk beluk Islam.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi/2

Debut riset pustaka astronomi membawa ke Jepang

Tak cukup hanya lewat studi literatur, Thomas mengenang awal mula ketertarikannya di dunia astronomi mendorongnya untuk membuat riset pustaka sederhana mengenai antariksa.

Dalam debut pertamanya, ia memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke redaksi majalah. Tak dinyana, tulisannya mengenai astronomi justru berhasil dimuat di majalah.

“Di situ mulai minat terhadap astronomi, jadi yang tadi dari tumbuhan dan keantariksaan secara umum kemudian lebih fokus ke astronomi. Dan waktu itu tulisannya jadi dimuat di majalah, saya tidak tahu penulis redaksinya apakah dia tahu penulisnya anak SMA kelas 1,” kenang Thomas sambil tertawa.

Usai dinyatakan lulus dari SMAN 2 Cirebon, di tahun 1981 Thomas melanjutkan studi Strata 1 di Institut Teknologi Bandung jurusan astronomi melalui jalur PP II (Proyek Perintis II) — sejenis PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).

Disela perkenalan mahasiswa baru, pria berkacamata ini mengenang saat itu hanya ada lima mahasiswa astronomi. Ketika ditanya soal motivasi memilih jurusan astronomi, dengan mantap ia mengatakan ingin membuktikan ayat dalam Alquran yang menjelaskan alam semesta.

“Motivasi utama saya selain minat karena ada ayat Al-Quran yang terkait dengan alam semesta itu menarik misal surat An-Nur. Artinya, Allah itu cahaya bagi langit dan Bumi, belakangan saya mengetahui makna ayat itu jadi Allah memberi cahaya pada langit dan Bumi maka kita mengetahui objek yang jauh, bintang secara fisis,” terangnya.

Ayat Alquran yang memuat penjelasan terkait alam semesta pula yang mendorong Thomas untuk mengimplementasikan ilmu astronomi untuk menghitung awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Selain melakuan perhitungan berdasarkan ilmu astronomi, ia juga mengatakan berguru ke salah satu dosen di Universitas Islam Bandung untuk mempelajari korelasi antara ilmu astronomi dan agama yang dianutnya.

Thomas mengenang hal menarik lain yang diterimanya saat tengah merampungkan studi akhir. Seorang temannya yang bekerja sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) di LAPAN menginformasikan lowongan pekerjaan yang tengah dibuka.

Kendati sempat ragu, Thomas tak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Ia akhirnya mencoba melamar pekerjaan tersebut. Tak diduga, ia justru mendapat respons positif dari kepala LAPAN saat itu.

“Jadi ditawarin tapi saya belum lulus sudah ditawarin masuk ke LAPAN dan waktu itu langsung diajak menghadap kepala LAPAN di Bandung. Saya katakan “Saya belum lulus, saya masih mengerjakan skripsi” kata beliau, “Sudah anggap lulus saja”,” ucapnya.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu dan mengikuti tes CPNS LAPAN. Setelah melalui serangkaian tes hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai CPNS. Tak lama ia kemudian menghadap dosen pembimbing di ITB untuk memberi tahukan kabar baik tersebut.

Hanya saja bukan respons baik yang diterimanya, dosen pembimbingnya itu justru tak menyukai kabar gembira tersebut. Ia bahan sempat diminta untuk menghentikan bimbingan skripsi dengan sang dosen lantaran telah dinyatakan diterima di LAPAN. Thomas kemudian mengetahui jika sebenarnya ia hendak dipromosikan menjadi dosen astronomi usai dinyatakan lulus dari ITB.

“Saya baru tahu bahwa pembimbing saya mau mengusulkan saya jadi dosen di astronomi ITB. Pembimbing saya bilang, “Berhenti saja lah bimbingannya,” saya jadi bingung juga sudah diterima di LAPAN kalau tidak lulus ya percuma. Tapi akhirnya di rapatkan ditingkat jurusan kemudian dosen-dosen yang lain bisa memahami,” ucapnya.

Selang sebulan setelah dinyatakan lulus Strata 1 pada 1 Oktober 1986, Thomas mengabdi untuk LAPAN dengan menyandang status sebagai ASN. Lima bulan berselang, ia mendapat tawaran beasiswa melanjutkan studi master astronomi di Universitas Kyoto. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran tersebut.

Di tengah studinya selama dua tahun di Jepang, ia kembali menerima tawaran untuk melanjutkan studi S3 dari universitas yang sama. Ia kembali mengiyakan tawaran tersebut untuk memperdalam ilmu yang sejak lama disukainya itu.

“Saya selesaikan Master dua tahun lalu pembimbing saya mengatakan, “Mau lanjutkan gak ke Doktor?” Wah saya senang sekali dan langsung saya terima tawaran itu,” ucapnya.

Semasa melanjutkan studi di Jepang Thomas mengenang sempat membuat jadwal salat untuk dijadikan pedoman saat beribadah. Kala itu ia mengatakan penentuan jadwal salat hanya tersedia untuk daerah Kobe dan Tokyo. Ia kemudian menghitung dan membuat program jadwal salat untuk semua provinsi di Jepang. (evn)

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi/3

Meneropong masa depan studi antariksa Indonesia

Sejak 7 Februari 2014, Thomas didaulat menjadi nakhoda untuk lembaga tempatnya mengabdi selama 32 tahun. Selama itu pula sejumlah mimpi dan harapan disimpan Thomas untuk masa depan dunia antariksa Indonesia.

Dalam kurun 25 tahun kedepan, ia mengatakan Indonesia harusnya bisa membuat satelit dengan roket yang dibuat sendiri. Berkaca pada kesuksesan NASA, Thomas mengatakan sebagai tahap awal Indonesia bisa memulai peluncuran roket untuk mengirim satelit ke orbit Bumi.

“Mimpi kita dalam rencana induk keantariksaan 25 tahun mulai 2016 sampai dengan 2040, Indonesia harus mampu membuat satelit kemudian meluncurkan satelit dengan roket sendiri dan dari Bumi Indonesia sendiri,” jelasnya.

Untuk mewujudkan mimpi terebut, Thomas mengatakan LAPAN tengah mengembangkan Bandara Antariksa mulai dari skala kecil yang targetnya kelak bisa bermitra dengan pihak luar. Menyoal roket, ia menyebut tren ukurannya saat ini tidak harus besar tapi bisa dimulai dari yang kecil.

 

Satelit pun dibuat agak kecil sebab dari segi biaya lebih murah dan persiapan untuk meluncurkan satelit ini lebih pendek.

“Nanti juga [proyek peluncuran sateli] bisa bermitra dengan swasta atau badan usaha udalam pengoperasian bandara antariksa mulai dari skala mkecil kemitraan nasional, skala besar kemitraan internasional,” ucapnya.

Ia mengatakan untuk keberlangsungan misi antariksa maka frekuensi peluncurannya harus memadai, karena biaya yang dikeluarkan sangat mahal.

“Itu [peluncuran satelit dan bandara antariksa] kira-kira mimpi kita 25 tahun ke depan,” pungkasnya.

Astronomi dan kehidupan pribadi

Kecintaannya yang dalam terhadap dunia astronomi juga terbawa hingga ke kehidupan pribadi. Ia mengadopsi nama-nama planet, bulan, hingga galaksi bima sakti untuk ketiga anaknya.

Thomas menuturkan anak pertamanya yang bernama Vega Isma Zakiah diambil dari nama bintang rujukan pada fotometri (Vega) dan Isma yang merupakan insterstelar meter.

Sementara anak keduanya yang lahir di Bandung diberi nama Gingga Ismo merupakan gabungan Gingag yang berarti galaksi bima sakti dan Ismo yang merupakan interstelar medium.

“Anak kedua saya mengambil nama Gingga dari bahasa Jepang yang berarti sungai perak, galaksi bima sakti (milky way). Sementara Ismo yang berarti insterstelar medium juga menjadi topik penelitian studi S3 saya,” jelasnya.

Keberadaan planet ‘tetangga’ Bumi, Venus menjadi sumber inspirasi untuk anak ketiganya. Thomas menggunakan anma Venus Hiakaru Aisyah untuk anak ketiganya yang juga lahir di Bandung. (evn)

Tokoh Kita – JakTV: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin – Kepala LAPAN

JakTV pada Sabtu, 24 Agustus 2019 menayangkan wawancara Tokoh Kita, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Topik besar yang diangkat adalah “Ilmu Astronomi untuk Menjawab Permasalahan Ummat. Berikut ini rekamannya:

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

 

Wawancara RRI Visual: Tamu Kita – Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN)

 

RRI bukan hanya audio, tetapi juga ada RRI Visual di RRI Net. Pada Ahad 18 Agustus 2019, RRI Visual menayangkan “Tamu Kita – Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN)”. Berikut rekaman tayangannya.

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Versi lengkap

Kembali ke Bulan setelah 50 Tahun Manusia Pertama Mendarat

Pendaratan manusia pertama di bulan, 20 Juli 1969 (Gambar dari NASA)

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

(Dimuat di Kolom CNN Indonesia, 22 Juli 2019, setelah diedit Redaksi. Ini artikel aslinya dengan edit typo)

Juli 1969 saya masih kelas 1 SD saat Neil Armstrong menjejakkan kakinya di bulan dalam missi Apollo 11. Melalui berita radio, masyarakat ramai memperbincangkannya. Kemudian beberapa waktu setelah itu, film pendaratan astronot ke bulan diputar di bioskop dan anak-anak sekolah antusias menontonnya. Sayang saya sendiri tidak bisa ikut menonton karena tidak mampu membeli tiketnya. Saya hanya mendengar cerita teman-teman. Lima puluh tahun kemudian baru saya membuka youtube, sambil membayangkan betapa anak-anak saat itu tercengang melihat astronot berjalan seolah ringan sekali. Padahal pakaiannya tampak berat. Itulah yang dulu saya dengar ketika teman-teman antusias saling bercerita tentang astronot.

Saat saya kuliah astronomi di ITB, barulah cerita masa kecil terungkap secara nyata. Pendaratan manusia pertama di bulan benar adanya. Missi Apollo dengan pendaratan manusia di bulan berlangsung selama 1969 – 1972. Bahkan ada sampel batuan bulan yang dibawa astronot untuk penelitian lebih lanjut tentang hakikat bulan dan teori pembentukannya. Menjadi jelas juga astronot tampak berjalan agak melompat, karena gravitasi bulan hanya seperenam gravitasi di bumi. Beban berat pakaian astronot tampak ringan saja ketika berada di bulan.

Missi Apollo konon berbiaya sangat mahal, sekitar $ 25 milyar (Rp 375 trilyun menurut nilai saat ini) atau 2,5% pendapatan kotor (GDP) Amerika Serikat (AS). Mengapa AS rela mengeluarkan anggaran fantasitik seperti itu? Alasan utamanya, demi perlombaan keunggulan iptek dengan rival perang dinginnya, Uni Sovyet (Rusia dan negara-negara tetangganya sebelum pecah). Uni Sovyet dianggap sudah memimpin meninggalkan AS. Sebagai negara pertama yang meluncurkan satelit Sputnik. Pertama mengirimkan kosmonot (atau astronot) Yuri Gagarin. Dan pertama mengirimkan wahana tanpa awak Luna 2 mendarat di bulan. Maka pada 1961 Presiden Kennedy mencanangkan misi pendaratan manusia ke bulan pada akhir dekade. Keunggulan iptek keantariksaan adalah kebanggaan bangsa. Itu pula yang dikatakan Bung Karno, untuk menjadi bangsa yang maju harus menguasai teknologi antariksa dan nuklir.

Juli 2019 adalah peringatan 50 tahun pendaratan manusia pertama. Publik kembali antusias dengan misi kembali ke bulan. Teori konspirasi yang tidak mempercayai pendaratan manusia ke bulan dianggap sekadar dongeng tak berdasar. Semua teori konspirasi mudah dipatahkan dengan penjelasan ilmiah sederhana. Hal utama, tidak mungkin sekian banyak ilmuwan dunia mau dibohongi dengan rekayasa film di studio. Lagi pula, Uni Sovyet sebagai rival perang dingin AS pasti menjadi pihak pertama yang membongkarnya kalau pendaratan manusia di bulan hanya akal-akalan.

Menjelang akhir jabatannya, Trump memberi Direktif Presiden yang memerintahkan pendaratan manusia ke bulan dipercepat. Semula, NASA (badan antariksa AS) menargetkan pendaratan astronot ke bulan pada 2028. Namun Presiden Trump memerintahkan dipercepat menjadi 2024. Suasananya bukan lagi perlombaan ala perang dingin, tetapi kolaborasi. NASA tidak bekerja sendiri. Beberapa badan antariksa internasional turut terlibat. Perusahaan swasta keantariksaan AS turut dilibatkan. Tujuannya, menguji teknologi eksplorasi antariksa yang lebih efisien sebagai persiapan misi berawak ke planet Mars. Sasaran yang menantangnya, mendaratkan astronot perempuan pertama di bulan.

Misi kembali ke bulan dinamakan Artemis. Artemis adalah dewi saudara kembar Apollo dalam mitologi Yunani. Misi ke bulan sesungguhnya sudah mulai dirancang beberapa tahun sebelumnya. Namun kini Artemis lebih terfokus dengan target pendaratan pada 2024. Misi Artemis 1 (setelah diubah nama misinya) ditargetkan mengorbit bulan tanpa awak tahun depan, 2020. Artemis 2 dengan misi berawak mengorbit bulan ditargetkan pada 2023. Lalu misi berawak mendarat di bulan pada 2024. Wahana berawak Orion disiapkan untuk membawa 4 astronot. Sementara itu misi kembali ke bulan juga menyiapkan laboratorium antariksa yang mengorbit bulan, Gateway. Gateway ditargetkan juga menjadi persinggahan menuju Mars, selain sebagai laboratorium riset antariksa di luar orbit bumi.

Misi ke bulan pasca misi Apollo memang cukup langka. Belum ada lagi misi berawak ke bulan setelah 1972. Misi ke bulan sebenarnya merupakan misi eksplorasi antariksa yang menarik bagi bangsa-bangsa setelah berhasil menaklukkan misi mengorbit bumi. Setelah Uni Sovyet dan AS, kini disusul misi ke bulan oleh negara-negara Eropa, RRT, India, dan Jepang. Umumnya negara pemula memulainya dengan misi robotik. RRT berhasil mendaratkan wahana Change di belahan bulan yang tidak pernah teramati dari bumi. India berhasil mengirimkan wahana Chandranayaan ke bulan dengan biaya yang paling hemat.

Bagaimana Indonesia? Akankah terlibat dalam misi ke bulan? Sebagai badan antariksa, LAPAN selalu diundang dalam pertemuan internasional membahas eksplorasi antariksa ke luar orbit bumi. Bukan hanya ke bulan, tetapi juga ke asteroid, Mars, dan planet-planet lainnya. Untuk efisiensi sumber daya, kerjasama internasional sangat diharapkan. Sebagai negara yang  mulai berkembang kemampuan iptek antariksanya (Space Emerging Country) Indonesia selalu diundang dalam berbagai forum keantariksaan internasional, termasuk dalam pembahasan eksplorasi antariksa. Namun, LAPAN sebagai wakil Indonesia menyatakan akan fokus dulu mengembangkan kemampuan pengembangan satelit pengorbit bumi dan wahana peluncurnya. Sambil tetap menjalin kerjasama dalam aspek yang mungkin bisa kita ikuti. Antara lain, analisis data sains antariksa hasil eksplorasi dan pengembangan teknologi robotik pendukung misi eksplorasi antariksa.

Memahami Efek MJO pada Cuaca Indonesia

Zona pembentukan awan lintas tropik (ITZC) mulai bergerak ke utara, pertanda musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju musim kemarau di Indonesia. (Dari situs sadewa.lapan.go.id)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Akhir April 2019 kabar cuaca ekstrem dengan banjir dan tanah longsor kembali mencuat di pemberitaan nasional. Diawali dengan banjir besar di Bengkulu. Padahal saat ini sudah mulai memasuki akhir musim hujan. Saat musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju kemarau. Pola daerah ITCZ (Inter-Tropical Convergence Zone — zona pembentukan awan lintas tropik) sudah mulai bergerak ke utara (lihat gambar ITCZ di atas). Mengapa terjadi lagi cuaca ekstrem. BMKG memberikan peringatan cuaca ekstrem karena fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation). Apakah MJO dan apa dampaknya?

Cuaca di Indonesia secara reguler dipengaruhi oleh siklus angin pasat karena perubahan pemanasan matahari akibat kemiringan sumbu rotasi bumi. Kita mengenal perubahan musim hujan – pancaroba – kemarau – pancaroba – hujan, dan seterusnya sebagai siklus tahunan. Kadang-kadang terjadi kekeringan atau musim hujan panjang akibat pemanasan di lautan Pasifik (dikenal sebagai fenomena El-Nino/La-Nina) atau pemanasan di samudra Hindia (dikenal sebagai fenomena Indian Dipole-Mode — IOD). Fenomena El-Nino/La-Nina dan IOD biasanya berulang setiap 3 – 7 tahunan. Ada juga variasi yang disebut “kemarau basah” (banyak hujan saat kemarau) karena efek pemanasan di perairan sekitar Indonesia. Saat ini dikenal juga fenomena MJO yang dampaknya sekitar sepekan yang bisa berulang sekitar 2 bulanan bila fasenya masih aktif. Dampaknya bisa berupa penguatan pembentukan awan yang memicu cuaca ektrem atau pengurangan pembentukan awan yang menyebabkan jeda hujan saat musim hujan.

Dengan mempelajari dinamika atmosfer (pola pergerakan awan dan angin) di sepanjang daerah tropik, mulai dari Afrika, samudera Hindia, benua maritim Indonesia, sampai Pasifik, diketahui ternyata ada pola periodik aktivitas atmosfer ekuator yang dikenal MJO. MJO adalah kondisi dinamika atmosfer periodik yang bergerak sepanjang wilayah tropik dari barat ke timur dengan periode sekitar 40-50 harian. Namun tidak selalu aktif. Contohnya, selama Maret sampai pertengahan April 2019 fenomena MJO dalam kondisi tenang, jadi tidak berdampak apa pun. Namun, sejak akhir April MJO mulai aktif ditandai dengan penguatan pembentukan awan di Samudera Hindia yang bergeser ke wilayah benua maritim Indonesia. Saat ini penguatan pembentukan awan berada di wilayah Indonesia, kemudian terus bergeser ke timur menuju Pasifik. Sampai kapan? Fenomena MJO biasanya berlangsung sekitar sepekan. Berikut ini prakiraan efek MJO pada penguatan pembentukan awan di Indonesia yang diprakirakan sampai awal Mei 2019.

MJO yang berdampak pada penguatan pembentukan awan (warna biru) diprakirakan berlangsung sampai awal Mei. Setelah itu ada kemungkinan disusul penekanan pembentukan awan (warna merah). (Dari situs NOAA).

Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1440 H

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

 

Garis tanggal  yang dibuat dengan aplikasi Accurate Hijri Calendar (AHC) digunakan untuk menentukan secara hisab awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah 1440

 

 

Garis tanggal Ramadhan 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Ramadhan 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 5 Mei 2019 posisi bulan telah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Ramadhan 1440 jatuh pada 6 Mei 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 5 Mei 2019.

 

Garis tanggal Syawal 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Syawal 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 3 Juni 2019 posisi bulan belum memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Syawal (Idul Fitri) 1440 jatuh pada hari berikutnya, 5 Juni 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 3 Juni 2019.

 

Garis tanggal Dzulhijjah 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Dzulhijjah 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU,  semuanya menunjukkan pada saat maghrib 1 Agustus 2019 posisi bulan telah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Dzuhijjah 1440 jatuh pada 2 Agustus 2019 dan Idul Adha pada 11 Agustus 2019. Namun menurut kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), pada saat maghrib 1 Agustus 2019 posisi bulan belum memenuhi kriteria, sehingga menurut kriteria tersebut awal Dzulhijjah jatuh pada hari berikutnya, 3 Agustus 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 1 Agustus 2019. Sesuai Rekomendasi Jakarta 2017, bila ada perbedaan karena beda kriteria atau beda dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal maka kita merujuk keputusan Pemerintah sebagai otoritas tunggal, demi persatuan ummat.