Dokumentasi Benda Jatuh Antariksa di Indonesia

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sampah antariksa bekas tabung bahan bakar roket Uni Sovyet/Rusia yang jatuh di Gorontalo 1981 (kiri) dan di Lampung 1988 (kanan).

Sampah antariksa adalah bagian roket peluncur atau satelit yang tidak berfungsi lagi yang mengorbit bumi atau dalam perjalanan menuju orbit. Jumlahnya saat ini belasan ribu. Karena hambatan udara, sampah antariksa di orbit rendah (ketinggian kurang dari 1000 km) makin lama makin turun ketinggiannya. Pada ketinggian sekitar 120 km, objek yang mengorbit bumi memasuki atmosfer padat dan mengalami efek pengereman. Pada ketinggian tersebut umumnya objek antariksa tidak bisa bertahan di orbitnya, lalu jatuh dalam hitungan beberapa menit saja. LAPAN mengembangkan Sistem Pemantau Benda Jatuh Antariksa untuk mengidentifikasi objek yang jatuh di wilayah Indonesia. Dengan memanfaatkan data sampah antariksa dari Space-Track dan perangkat lunak analisis orbit, dapat diidentifikasi objek yang yang jatuh di wilayah Indonesia berdasarkan lokasi dan waktu kejadiannya. Berikut ini dokumentasi objek-objek yang jatuh dan dilaporkan kepada LAPAN.

  • 1. Sampah Antariksa Jatuh di Gorontalo 1981

Tabung bahan bakar roket jatuh di Gorontalo pada 16 Maret 1981. Berdasarkan waktu dan lokasi titik jatuhnya, akhirnya dapat diidentifikasi bahwa objek tersebut adalah bagian roket SL-8 milik Uni Sovyet/Rusia dengan nomor katalog 11610. Roket digunakan untuk meluncurkan satelit Interkosmos 20 pada 1 November 1979.

  • 2. Sampah Antariksa Jatuh di Lampung 1988
Lintasan orbit sampah antariksa yang jatuh di Lampung 1988

Tabung bahan bakar bekas roket jatuh di lampung pada 16 April 1988. Analisis orbit sampah antariksa yang melintas Lampung pada hari kejadian, menyimpulkan benda jatuh tersebut adalah bagian roket SL-4 milik Uni Sovyet/Rusia dengan nomor katalog 19042. Roket tersebut digunakan untuk meluncurkan satelit Cosmos 1938 pada 11 April 1988.

  • 3. Sampah Antariksa Jatuh di Bengkulu 2003
Pecahan badan roket yang ditemukan di Bengkulu pada 2003
Lintasan orbit objek yang jatuh di Bengkulu pada 2003.

Pada 13 Oktober 2003 ada laporan benda jatuh di Bengkulu. Hasil analisis orbit sampah antariksa menyimpulkan bahwa objek tersebut adalah pecahan roket CZ-3 milik RRT dengan nomor katalog 23416. Roket tersebut digunakan untuk meluncurkan satelit DFH-3 1 pada 29 November 1994.

  • 4. Sampah Antariksa Jatuh di Madura 2016
Sampah antariksa bekas tabung bahan bakar roket yang jatuh di Madura 2016
Lintasan orbit objek yang jatuh di Madura pada 2016

Beberapa objek antariksa jatuh di perairan Madura pada 26 September 2016. Dari analisis orbitnya, objek-objek tersebut diidentifikasi sebagai bagian roket Falcon 9 dengan nomor katalog 41730 milik Space X Amerika Serikat. Roket itu digunakan untuk meluncurkan satelit JCSAT 16 pada 14 Agustus 2016.

  • 5. Sampah Antariksa Jatuh di Sumatera Barat 2017
Dua objek antariksa jatuh di dua lokasi terpisah di Sumatera Barat pada 2017
Lintasan orbit objek yang jatuh di Sumatera Barat pada 2017

Pada 18 Juli 2017 ada dua objek antariksa jatuh di dua lokasi berbeda di Sumatera Barat. Dari analisis orbitnya diidentifikasi kedua objek tersebut berasal dari pecahan roket CZ-3A dengan nomor katalog 31116 milik RRT. Roket digunakan untuk meluncurkan satelit Beidou M1 pada 13 April 2017.

  • 6. Sampah Antariksa Ditemukan di Kalimantan Tengah 2021
Objek antariksa yang ditemukan di Kalimantan Tengah pada 2021 adalah bagian Fairing roket CZ-8. Terlihat logo CNSA yang terbakar.
Analisis jalur peluncuran roket CZ-8 dengan titik jatuh objek di laut sebelah barat-barat laut Kalimantan. Arus laut membawa objek tersebut ke pantai Kalimantan Tengah dan ditemukan warga pada 2021.

Sebuah objek berlogo CNSA (Chinese National Space Administration) ditemukan warga pada 4 Januari 2021. Semula objek tersebut diduga bagian roket RRT yang melintas wilayah tersebut saat jatuh awal Januari. Namun, setelah gambar lengkap diperoleh dan didukung konfirmasi dari CNSA, disimpulkan bahwa objek tersebut adalah payload fairing (pelindung muatan satelit) roket Long March/CZ-8 milik RRT. Roket LM/CZ-8 diluncurkan pada 22 Desember 2020 dan bagian fairing dilepaskan sebelum roket mencapai orbit dan jatuh di perairan dekat Selat Karimata. Arus laut membawa objek yang relatif ringan tersebut ke Selat Karimata lalu Laut Jawa dan terdampar di pantai Kalimantan Tengah.

Refleksi Capaian LAPAN 2020

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Refleksi Capaian LAPAN 2015, Refleksi Capaian LAPAN 2016-2017 , Refleksi Capaian LAPAN 2018, Refleksi Capaian LAPAN 2019 adalah catatan capaian LAPAN selama lima tahun melaksanakan visi LAPAN 2015-2019  untuk menjadi “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri”. Alhamdulillah akhirnya visi tersebut tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional, setidaknya dengan ditetapkannya semua pusat teknis yang menjalankan 7 program utama LAPAN sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) pada akhir 2019.

Visi LAPAN selanjutnya untuk 2020-2024 adalah menjadi “Penggerak Sektor – Sektor Pembangunan Nasional Berbasis IPTEK Penerbangan dan Antariksa Dalam Mewujudkan Visi Misi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Maju Yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.

Upaya yang dilakukan adalah terus membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa.

Prioritas Riset Nasional dan Prioritas Bidang yang sedang dilaksanakan LAPAN mulai 2020 adalah sebagai berikut:

  1. Teknologi Penginderaaan Jauh untuk Kawasan Konservasi, Pencegahan Pencemaran, Kebencanaan, dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam
  2. Teknologi Pesawat N-219 Ampibi
  3. Teknologi Pesawat Tertabng Tanpa Awak MALE (Middle Altitude Long Endurance) (dikoordinasikan BPPT)
  4. Teknologi Roket Dua Tingkat
  5. Teknologi Satelit Konstelasi Komunikasi Orbit Rendah
  6. Pembangunan Observatorium Nasional
  7. Model Pemanfaatan dan Informasi Penginderaan Jauh untuk Mendukung Tujuan Pembangunan Nasional Berkelanjutan (SDGs)

Program riset dan inovasi serta layanan LAPAN terus ditingkatkan dan tata kelola organisasi terus dibenahi. Alhamdulillah, LAPAN selama tahun 2020 mencatatkan banyak prestasi yang kami jadikan sebagai pemacu semangat dan kepercayaan diri, tanpa melupakan aspek-aspek yang masih perlu diperkuat. Berikut capaian LAPAN selama 2020:

  • Feb 2020: Penghargaan dari BNPB untuk dukungan penanggulangan bencana 2019.
  • Feb 2020: Penghargaan dari Kementerian Keuangan sebagai Peringkat Satu atas Penilaian Kinerja Pelaksanaan Anggaran Tingkat Kementerian/Lembaga dalam Wilayah KPPN Jakarta III 2019.
  • Feb 2020: Penghargaan dari ANRI Pengawasan Kearsipan dengan Nilai AA (Sangat Memuaskan).
  • Mar 2020: Nilai AKIP (Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dari MenpanRB) LAPAN BB, naik beberapa point dari tahun lalu.
  • Mar 2020: Indeks RB (Reformasi Birokrasi, dari MenpanRB) LAPAN BB, naik beberapa point dari tahun lalu.
  • Juni 2020: Opini BPK WTP (Wajar Tanpa Pengecualian, 5 thn berturut-turut, 2015 – 2019).
  • Juni 2020: Top 99 Inovasi Layanan Publik oleh KemenpanRB atas inovasi “Informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) untuk Peningkatan Perekonomian Nelayan Indonesia”
  • Nov 2020: Penghargaan dari KASN (Komisi Aparatur Sipil Negara), nilai BAIK untuk Sistem Merit Manajemen ASN.
  • November 2020: LAPAN menerima Anugerah Keterbukaan Informasi Publik peringkat pertama “Informatif” untuk kategori Lembaga negara dan LPNK.

Nov 2020: LAPAN menerima Bhumandala Ariti (Medali Perunggu) untuk kategori Kementerian/Lembaga dari BIG.

Des 2020: Peluncuran RX450 dengan kinerja yang lebih baik, jangkauan 85 km.

Des 2020: TC (Type Certificate) Pesawat N219 diperoleh. Pesawat N219 dikembangkan bersama LAPAN-PTDI. Dengan diperolehnya TC, pesawat N219 siap diproduksi.

Prospek Kalender Islam Global: Kriteria Turki 2016 dan Rekomendasi Jakarta 2017

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tima Falakiyah, Kemenag RI

Wacana Kalender Islam Global (KIG) mengemuka saat Muktamar Muhammadiyah di Makassar 2015 dan ditindaklanjuti dengan membuat KIG 1442 H dengan menggunakan kriteria Turki 2016. Sementara Seminar Internasional Fikih Falak 2017 juga mewacanakan KIG dengan rumusan berupa Rekomendasi Jakarta 2017.

Tidak ada satu pun konsep kalender Hijriyah dan kriterianya yang sempurna. Masing-masing ada plus-minusnya. Hal yang perlu diupayakan adalah memilih konsep kalender dan kriteria yang bisa disepakati bersama berdasarkan analisis plus-minusnya.

Kalender 1442 H (rangkumannya tercantum di atas) dijadikan contoh perbandingan kriteria-kriteria yang saat ini berlaku atau diusulkan untuk diberlakukan di Indonesia. Pada tulisan ini dibahas plus-minus KIG kriteria Turki 2016 dan KIG kriteria Rekomendasi Jakarta 2017.

Kriteria dan Wilayah Rujukan

KIG Turki 2016 menggunakan kriteria tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat pada saat maghrib di mana pun sebelum pukul 00.00 GMT, asalkan saat terjadi ijtimak di Selandia Baru belum terbit fajar. KIG Rekomendasi Jakarta 2017 menggunakan kriteria tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat pada saat maghrib di kawasan barat Asia Tenggara. Secara skematik, garis tanggal kedua kriteria ditunjukkan pada gambar berikut ini. Garis agak mendatar menunjukkan ketinggian bulan dan garis agak tegak menunjukkan elongasi bulan pada saat maghrib.

Diagram yang mengilustrasikan kriteria Turki 2016 dan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017. Garis biru menunjukkan garis tanggal dengan kriteria Turki 2016 dan garis merah menunjukkan garis tanggal dengan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017.

Kedua kriteria tersebut ada plus-minusnya. Kriteria Turki 2016 merupakan kriteria optimistik, karena posisi bulan cukup tinggi (5 derajat) dan relatif jauh dari matahari (elongasi 8 derajat). Tetapi dalam tinjauan global, ketika kriteria itu terpenuhi di kawasan benua Amerika, di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara saat maghrib bulan sudah berada di bawah ufuk. Seperti terjadi pada Shafar, Sya’ban, dan Dzuqaidah 1442 H. Hal ini tentu akan menjadi masalah di Indonesia yang sudah terbiasa dengan prasyarat saat maghrib bulan sudah berada di atas ufuk, baik kriteria Wujudul Hilal mapun kriteria tinggi bulan 2 derajat.

Pada saat maghrib 17 September 2020 bulan sudah berada di bawah ufuk di kawasan Asia Tenggara.
Pada saat maghrib 17 September di Asia Tenggara bulan sudah berada di bawah ufuk, menurut KIG Turki 2016 besoknya (18 September 2020) sudah dianggap awal Shafar 1442 H.

Sementara kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 merupakan kriteria optimalistik, karena menggunakan batas minimal ketinggian bulan (3 derajat) dan batas minimum jarak sudut bulan-matahari (elongasi 6,4 derajat) untuk terlihatnya hilal. Wilayah rujukan kawasan barat Asia tenggara juga menjamin bulan sudah di atas ufuk pada saat magrib di wilayah paling timur. Seperti terjadi pada Syawal 1442 H.

Pada saat maghrib 11 Mei 2021 bulan telah wujud di kawasan Atlantik, sehingga berlanjut melewati garis tanggal pada maghrib 12 Mei 2020 di seluruh dunia bulan telah wujud.
Pada saat maghrib 12 September 2021 di kawasan barat Asia Tenggara sudah terpenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017, di kawasan paling timur dekat garis tanggal (lihat gambar di atas) bulan sudah di atas ufuk.

Kompleksitas Perhitungan

Aturan kriteria KIG Turki 2016
Contoh perhitungan KIG Turki 2016 yang rancu.

KIG Turki 2016 selain mensyaratkan kriteria tinggi dan elongasi bulan, juga mensyaratkan “maghrib sebelum pukul 00.00 GMT” dan “asalkan saat ijtimak belum terbit fajar di Selandia Baru”. Perhitungan KIG Turki 2016 untuk Dzulqaidah 1442 (contoh di atas) menunjukkan kerancuan. Imkan rukyat yang dihitung sudah melewati pukul 00:00 GMT (tercatat pukul 03:59:22 GMT), saat maghrib di kawasan benua Amerika. Artinya prinsip kalender menjadi tidak konsisten. Lalu ditambah harus memeriksa saat ijtimak menurut waktu Selandia Baru. Ijtimak pukul 10:52:35 GMT = pukul 22:52:35 Waktu Selandia Baru. Itu menjelang tengah malam, jadi belum terbut fajar.

Aturan Kriteria KIG Rekomendasi Jakarta 2017
Contoh garis tanggal menurut kriteria KIG Rekomendasi Jakarta.

Bandingkan KIG Rekomendasi Jakarta 2017 yang tidak memberikan syarat tambahan selain kriteria tinggi dan elongasi bulan. Pada contoh garis tanggal Dzuqaidah 1442 H, terlihat di kawasan barat Asia tenggara, saat maghrib 10 Juni 2021 posisi bulan belum memenuhi kriteria. Jadi awal Dzulqaidah 1442 H ditetapkan pada saat maghrib hari berikutnya dan 1 Dzulqaidah 1442 = 12 Mei 2021.

Prospek Implementasi Menyatukan Ummat

Bagaimana dengan prospek implementasinya? Sistem kalender global mensyaratkan penerimaan di tingkat pemerintah negara-negara Islam, bukan di tingkat organisasi kemasyarakatan. Sampai saat ini hanya Turki yang mengimplementasikan KIG Turki 2016. Arab Saudi pun tidak terikat dengan kalender Turki. Padahal ada yang berharap KIG bisa menyeragamkan hari Arafah di seluruh dunia. Di Arab Saudi, penentuan hari wukuf tidak berdasarkan kalender, melainkan berdasarkan rukyat. Jadi KIG Turki 2016 tidak mungkin menjadi rujukan penentuan hari Arafah.

Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 juga direkomendasikan menjadi kriteria MABIMS yang baru.

KIG Rekomendasi Jakarta 2017 dirumuskan bersama para pakar ilmu falak dari kawasan Asia Tenggara, khususnya negara-negara yang menjadi anggota forum MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Pada Pertemuan Pakar Falak MABIMS 2019 di Yogyakarta, direkomendasikan lagi penggunaan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat. Artinya, bila kriteria tersebut disepakati untuk diadopsi, kita akan mempunyai KIG setidaknya secara regional dulu di kawasan Asia Tenggara. Hal itu bermakna, penyatuan ummat secara regional bisa tercapai.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis plus-minus konsep KIG Turki 2016 dan KIG Rekomendasi Jakarta 2017, konsep KIG Rekomendasi Jakarta 2017 mempunyai prospek lebih baik untuk diimplementasikan di Indonesia. Dari segi konsepnya lebih sederhana dan dari segi jumlah negara yang segera mengimplementasikan lebih banyak. Konsep KIG segera bisa terwujud di tingkat regional. Rekomendasi Jakarta 2017 juga merekomendasikan agar OKI (Organisasi Kerjasama Islam) bisa menjadi otoritas kolektif dalam implementasi KIG. Diharapkan implementasi di tingkat regional Asia Tenggara bisa disusul dengan implementasi di banyak negara-negara OKI.

Kalender 1442 H dengan Beragam Kriteria

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama

Ilustrasi kalender Hijriyah — dari internet

Secara umum saat ini semua perhitungan kalender sama, karena menggunakan formulasi astronomi modern. Hal yang sering menjadi sumber perbedaan adalah kriterianya. Kriteria umum yang digunakan di Indonesia adalah

(1) kriteria Wujudul Hilal (bulan terbenam sesudah matahari dan ijtimak terjadi sebelum maghrib) yang digunakan kalender Muhammadiyah;

(2) kriteria MABIMS, terutama parameter tinggi bulan minimal 2 derajat yang digunakan di kalender taqwim standar Pemerintah dan kalender NU;

(3) kriteria LAPAN (2010) yang sama dengan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017, yaitu beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (= tinggi bulan 3 derajat) dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat di kawasan barat Asia Tenggara yang digunakan kalender Persis.

(4) Selain itu Muhammadiyah mengujicobakan Kalender Islam Global dengan kriteria Turki, yaitu tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi bulan minimal 8 derajat saat maghrib di mana pun sebelum pukul 00.00 GMT, asalkan saat ijtimak di Selandia Baru belum terbit fajar.

Berikut ini analisis data astronomis berdasarkan empat kriteria tersebut untuk setiap bulannya dan pada akhir artikel diberikan rangkuman awal bulan selama 1442 H.

Muharram 1442

Pada saat maghrib 19 Agustus 2020 di Indonesia bulan sudah memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan telah memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Muharram 1442 H = 20 Agustus 2020.

Pada saat maghrib 19 Agustus 2020 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Muharram 1442 H =21 Agustus 2020.

Pada saat maghrib 19 Agustus 2020 ada wilayah di dunia (ditunjukkan koordinatnya) yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, saat ijimak di Selandia Baru pukul 14:41:36 belum malam dan belum fajar ), sehingga 1 Muharram 1442 H =20 Agustus 2020.

Shafar 1442 H

Pada saat maghrib 17 September 2020 di Indonesia bulan belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan juga belum memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Shafar 1442 H = 19 September 2020.

Pada saat maghrib 17 September 2020 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Shafar 1442 H =19 September 2020.

Pada saat maghrib 17 September 2020 ada wilayah di dunia (ditunjukkan koordinatnya) yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, saat ijimak di Selandia Baru pukul 23:00:09 belum fajar ), sehingga 1 Shafar 1442 H =18 September 2020.

Rabbiul Awal 1442 H

Dalam tinjauan global, pada saat maghrib 16 Oktober 2020 di Indonesia bulan belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan juga belum memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat. Dalam tinjauan Indonesia, pada akhir Shafar, 17 Oktober pada saat maghrib bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal dan ketinggian 2 derajat sehingga 1 Rabbiul Awal 1442 H = 18 Oktober 2020.

Pada saat maghrib 17 Oktober 2020 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan telah memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Rabbiul Awal 1442 H =18 Oktober 2020.

Pada saat maghrib 17 Oktober 2020 ada wilayah di dunia (ditunjukkan koordinatnya) yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, saat ijimak di Selandia Baru pukul 07:31:00 belum malam dan belum fajar ), sehingga 1 Rabbiul Awal 1442 H =18 Oktober 2020.

Rabbiul Akhir 1442 H

Pada saat maghrib 15 November 2020 di Indonesia bulan sudah memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan telah memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Rabbiul Akhir 1442 H = 16 November 2020.

Pada saat maghrib 15 November 2020 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Rabbiul Akhir 1442 H =17 November 2020.

Pada saat maghrib 15 November 2020 ada wilayah di dunia (ditunjukkan koordinatnya) yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, saat ijimak di Selandia Baru pukul 17:07:08 belum fajar ), sehingga 1 Rabbiul Akhir1442 H =16 November 2020.

Jumadil Awal 1442 H

Pada saat maghrib 14 Desember 2020 di Indonesia bulan belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan juga belum memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Jumadil Awal 1442 H = 16 Desember 2020.

Pada saat maghrib 14 Desember 2020 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Jumadil Awal 1442 H =16 Desember 2020.

Pada saat maghrib 15 Desember 2020 ada wilayah di dunia (ditunjukkan koordinatnya) yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, saat ijimak di Selandia Baru pukul 04:16:32 belum malam 15 Desember dan belum fajar), sehingga 1 Jumadil Awal 1442 H =16 Desember 2020.

Jumadil Akhir 1442 H

Pada saat maghrib 13 Januari 2021 di Indonesia bulan sudah memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan telah memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat (di Pelabuhan Ratu tinggi bulan 2o 21′), sehingga 1 Jumadil Akhir 1442 H = 14 Januari 2021.

Pada saat maghrib 13 Januari 2021 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Jumadil Akhir 1442 H =15 Januari 2021.

Pada saat maghrib 13 Januari 2021 ada wilayah di dunia (ditunjukkan koordinatnya) yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, saat ijimak di Selandia Baru pukul 12:00:07 belum malam dan belum fajar ), sehingga 1 Jumadil Akhir 1442 H =14 Januari 2021.

Rajab 1442 H

Pada saat maghrib 11 Februari 2021 di Indonesia bulan belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan juga belum memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Rajab 1442 H = 13 Februari 2021.

Pada saat maghrib 11 Februari 2021 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Rajab 1442 H =13 Februari 2021.

Pada saat maghrib 12 Februari 2021 ada wilayah di dunia (ditunjukkan koordinatnya) yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, saat ijimak di Selandia Baru pukul 07:05:37 belum malam dan belum fajar ), sehingga 1 Jumadil Akhir 1442 H =13 Februari 2021.

Sya’ban 1442 H

Pada saat maghrib 13 Maret 2021 di Indonesia bulan belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan juga belum memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Sya’ban 1442 H = 15 Maret 2021. Tetapi pada konsep WH yang digunakan Muhammadiyah, ijtimak yang digunakan adalah ijtimak geosentrik yang terjadi pukul 17.23 WIB. Artinya, ijtimak terjadi sebelum maghrib. Kurva arsir merah mesti digeser memasuki wilayah Indonesia. Jadi menurut kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah, 1 Sya’ban 1442 H = 14 Maret 2021.

Pada saat maghrib 13 Maret 2021 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Sya’ban 1442 H =15 Maret 2021.

Data koordinat pada Kalender Islam Global dari Muhammadiyah ada kekeliruan, tetapi secara umum wilayah yang memenuhi kriteria berada di sebelah barat wilayah arsir hijau pada peta kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 di atas.

Pada saat maghrib 13 Maret 2021 ada wilayah di dunia yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat — di sebelah barat wilayah arsir hijau peta Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 di atas, saat ijimak di Selandia Baru pukul 22:21:06 belum malam dan belum fajar ), sehingga 1 Sya’ban 1442 H =14 Maret 2021.

Ramadhan 1442 H

Pada saat maghrib 12 April 2021 di Indonesia bulan sudah memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan telah memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Ramadhan 1442 H = 13 April 2021.

Pada saat maghrib 12 April 2021 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Ramadhan 1442 H =14 April 2021.

Hasil perhitungan tidak menunjukkan lokasi dengan tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, tetapi sesungguhnya ada wilayah yang telah memenuhi kriteria Turki.

Pada saat maghrib 12 April 2021 ada wilayah di dunia yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat — di sebelah barat wilayah arsir hijau peta Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 di atas, saat ijimak di Selandia Baru pukul 14:30:47 belum malam dan belum fajar ), sehingga 1 Ramadhan 1442 H =13 April 2021.

Syawal 1442 H

Garis tanggal pada 12 Mei 2021

Pada saat maghrib 11 Mei 2021 di Indonesia bulan belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan juga belum memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Syawal 1442 H = 13 Mei 2021.

Pada saat maghrib 12 Mei 2021 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan telah memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Syawal 1442 H =13 Mei 2021.

Hasil perhitungan tidak menunjukkan lokasi dengan tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, tetapi sesungguhnya ada wilayah yang telah memenuhi kriteria Turki.

Pada saat maghrib 12 Mei 2021 ada wilayah di dunia yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat — di sebelah barat wilayah arsir hijau peta Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 di atas, saat ijimak di Selandia Baru pukul 06:59:44 belum malam dan belum fajar ), sehingga 1 Syawal 1442 H =13 Mei 2021.

Dzulqaidah 1442 H

Pada saat maghrib 10 Juni 2021 di Indonesia bulan belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan juga belum memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Dzulqaidah 1442 H = 12 Juni 2021.

Pada saat maghrib 10 Juni 2021 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Dzulqaidah 1442 H =12 Juni 2021.

Pada saat maghrib 10 Jun 2021 (waktu setempat) ada wilayah di dunia (ditunjukkan koordinatnya) yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, saat ijimak di Selandia Baru pukul 22:52:35 belum terbit fajar ), sehingga 1 Dzulqaidah 1442 H =11 Juni 2021.

Dzulhijjah 1422 H

Pada saat maghrib 10 Juli 2021 di Indonesia bulan sudah memenuhi kriteria Wujudul Hilal (ditunjukkan kurva antara arsir merah dan putih) dan telah memenuhi kriteria tinggi bulan 2 derajat, sehingga 1 Dzulhijjah 1442 H = 11 Juli 2021.

Pada saat maghrib 10 Juli 2021 di Indonesia dan kawasan barat Asia Tenggara bulan belum memenuhi kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (kurva antara arsir hijau dan merah), sehingga 1 Dzulhijjah 1442 H =12 Juli 2021.

Hasil perhitungan tidak menunjukkan lokasi dengan tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat, tetapi sesungguhnya ada wilayah yang telah memenuhi kriteria Turki.

Pada saat maghrib 10 Juli 2021 ada wilayah di dunia yang bulannya telah memenuhi kriteria Turki 2016 (tinggi bulan 5 derajat dan elongasi 8 derajat — di sebelah barat wilayah arsir hijau peta Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 di atas, saat ijimak di Selandia Baru pukul 13:16:34 belum malam dan belum fajar ), sehingga 1 Dzulhijjah 1442 H =11 Juli 2021.

Rangkuman kalender 1442 H

Rasionalitas Berlandaskan Iman: Optimisme Melawan Covid-19

T. Djamaluddin

Sebaran kasus positif Covid-19 secara global sampai 19 September 2020 (dari Wikipedia).

 

Saat awal Maret 2020 diumumkan penyakit yang disebabkan virus Corona (Covid-19) mulai menyebar cepat di Indonesia dan seluruh dunia, banyak orang dihinggapi kecemasan yang berlebihan. Hal itu dapat difahami karena virus menyebar tanpa kita ketahui arahnya. Dan banyak kasus orang tanpa gejala (OTG) ternyata menyebarkan virus tanpa kita ketahui.

Apa yang dapat kita lakukan? Kita tidak dapat menganggap enteng masalah Covid-19. Juga tidak boleh Covid-19 menimbulkan ketakutan berlebihan yang bisa merusakkan kesehatan mental yang berimbas pada penurunan daya tahan tubuh. Rasionalitas harus kita kedepankan. Sementara iman juga harus jadi landasan. Hal yang harus kita lakukan: berikhtiar, berdoa, dan tawakal (berserah diri kepada Allah).

Berikhtiar

Ikhtiar yang perlu dilakukan adalah “3M+3T”. Ikhtiar 3M harus kita lakukan bersama. Sementara 3T dilaksanakan oleh pemerintah. Ikhtiar 3M harus dilakukan oleh setiap orang: (1) Memakai masker yang menutup mulut dan hidung. Tujuannya agar virus yang mendopleng pada percikan ludah atau cairan hidung tidak terhirup. Karena virus menyerang sistem pernapasan. (2) Menjaga jarak. Kalau ada percikan ludah atau cairan hidung dari pembawa virus, dengan menjaga jarak, itu tidak sampai mengenai kita. (3) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer berbasis alkohol. Tangan berpotensi menyentuh sesuatu yang mungkin saja sudah terkena percikan yang mengandung virus. Sementara tangan sering kita gunakan untuk makan atau mengusap wajah yang memungkinkan menyebarkan virus melalui mulut, hidung, atau mata.

Pemerintah melaksanakan ikhtiar 3T agar penyebaran virus dapat dikendalikan. (1) Testing. Pemeriksaan orang-orang yang diduga berpotensi terpapar virus dalam aktivitasnya. (2) Tracing. Kalau ditemukan ada kasus positif Covid-19, instansi Pemerintah berkawajiban menelusuri orang-orang yang pernah berinteraksi dengan orang tersebut. (3) Treatment. Kalau dijumpai kasus posistif Covid-19, Pemerintah melakukan penanganan dengan isolasi atau perawatan, bergantung berat-ringan kasusnya.

Itulah ikhtiar rasional yang harus kita lakukan. Ancaman Covid-19 adalah nyata.

Berdoa

Doa adalah senjatanya orang beriman dalam mengatasi masalah. Setiap saat hendaknya kita berdoa untuk dijauhkan dari wabah ini. Gunakan waktu-waktu terbaik untuk berdoa dengan khusyu, seperti saat sujud dalam shalat dan sesudah shalat. Doa juga memberikan kekuatan batin untuk melawan wabah Covid-19.

Bertawakal

Kalau ikhtiar dan doa sudah dilakukan, langkah terakhir adalah bertawakal (berserah diri kepada Allah). Kita adalah makhluk-Nya. Virus pun makhluk-Nya. Allah berkuasa untuk mengendalika semua makhluk-Nya. Senantiasa kita ucapkan “Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīm (tidak ada daya dan kekuatan, selain dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung).

Dengan beriktiar, berdoa, dan bertawakal, kita optimis bisa melawan Covid-19 untuk kembali pada kehidupan nomal yang baru.

Dokumentasi Scientiae: UFO Bagaimana Menurut Agama?

Dokumentasi T. Djamaluddin (saat kelas I SMA Negeri 2 Cirebon, 1979).

Dokumentasi ini sangat penting bagi saya, karena riset literatur kecil-kecilan tentang alam semesta dari buku-buku di perpustakaan SMA Negeri 2 Cirebon membuka minat saya yang besar untuk mempelajari astronomi. Lebih dari itu, ada rasa kepercayaan diri yang makin kuat setelah artikel ilmiah populer bisa terbit di majalah ilmiah populer Scientae. Mungkin redaksi tidak menyadari bahwa itu tulisan anak kelas I SMA. Terima kasih kepada teman-teman SMA yang bersedia mengetikkan naskah tulis tangan saya (karena saya tidak punya mesin tik) untuk bisa saya kirimkan ke Scientae. Dokumentasi ini saya peroleh dari informasi teman bahwa scan artikel UFO di majalah Scientiae ada yang mendokumentasikannya.

Makna Fisis Hisab Posisi Hilal dan Kriteria Imkan Rukyat

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama RI

Data hisab posisi hilal pada hari rukyat 23 April 2020 untuk wilayah Jakarta.

Menjelang awal Ramadhan, Syawal, dan Idul Fitri posisi bulan selalu menjadi perhatian para peminat ilmu falak atau astronomi terkait penentuan awal puasa dan hari raya. Metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan) pun banyak diperbincangkan. Saat ini hisab dan rukyat sudah dianggap setara. Hisab bisa membantu rukyat dan rukyat bisa mengkonfirmasikan hasil hisab. Namun, kadang banyak yang tidak faham dengan makna fisis data-data hisab, seolah dengan menghitung dan diperoleh data posisi hilal, selesailah penentuan awal Ramadhan, Syawal, atau Dzulhijjah. Padahal untuk sampai menyimpulkan awal Ramadhan, Syawal, atau Dzulhijjah kita masih perlu menggunakan kriteria yang disepakati.  Bagi pengamal rukyat, perlu juga memahami makna data tersebut untuk memahami kondisi hilal yang akan dirukyat.

Dua parameter pokok yang perlu diperhatikan dari data hisab adalah tinggi bulan dan elogasi (jarak sudut bulan-matahari) pada saat matahari terbenam (maghrib). Tinggi bulan terkait dengan faktor gangguan cahaya senja (cahaya syafak). Semakin rendah posisi bulan artinya gangguan cahaya syafak semakin kuat akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer. Elongasi terkait dengan tebalnya sabit bulan (hilal, crescent). Semakin dekat dengan matahari, hilal akan semakin tipis. Keberhasilan rukyat bergantung pada kontras antara kuat cahaya hilal yang sangat tipis dengan gangguan cahaya syafak. Itu sebabnya pada kriteria ada batas minimal ketinggian dan elongasi bulan agar hilal dapat terlihat dan awal bulan bisa ditentukan.

Kita ambil contoh data hisab awal Ramadhan 1441 yang dihitung dan diamati pada 23 April 2020 (gambar di atas). Di wilayah barat Indonesia tinggi bulan sekitar 3 derajat dan elongasi sekitar 5 derajat. Apa makna fisisnya? Data astronomi menyatakan rekor rukyat yang datanya dianggap sahih tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Jadi tinggi bulan sekitar 3 derajat bermakna bulan berada pada batas cahaya syafak yang umumnya mulai agak redup. Tetapi elongasi sekitar 5 derajat bermakna sabit hilal sangat tipis, lebih tipis daripada rekor pengamatan hilal. Jadi sangat mungkin sabit hilal yang sangat tipis itu tidak bisa mengalahkan cahaya syafak atau tidak mungkin dirukyat di Indonesia.

Pada saat sidang itsbat (penetapan) awal Ramadahan 1441 dilaporkan bahwa hasil rukyat pada saat maghrib 23 April 2020 dari sekitar 80-an lokasi pengamatan umumnya menyatakan hilal tidak terlihat, kecuali 3 lokasi yang melaporkan melihat hilal. Itu pun hanya enam saksi yang melihat dengan mata telanjang tanpa alat. Sedangkan tim pengamat yang menggunakan teleskop dan kamera tak satu pun yang berhasil merekam hilal. Lalu hilal apa yang dilihat para perukyat tersebut? Saya menyebutnya itu  “hilal syar’i”, yaitu hilal yang secara syar’i (hukum Islam) sah menjadi dasar keputusan sidang itsbat karena semua saksi sudah disumpah oleh hakim Pengadilan Agama. Tentang hilal fisisnya perlu dibahas berdasarkan data astronomi.

Untuk memberi gambaran hilal fisis kebetulan ada laporan rukyat dari Arab Saudi disertai dengan hasil foto yang diperoleh dengan teleskop dan kemera CCD (kamera elektronik) dari situs ICOP (International Crescent Observation Project). Pengamat mengikuti posisi bulan sejak siang hari dengan menggunakan teleskop, kamera CCD, dan filter inframerah (IR) untuk menyerap cahaya biru langit. Dan alhamdulillah berhasil juga direkam pasca maghrib saat bulan berada pada ketinggian sekitar 4 derajat dan elongasi sekitar 6 derajat. Artinya, cahaya hilal mulai agak tebal sehingga cukup untuk mengalah cahaya syafak yang lebih redup. Inilah laporan di situs ICOP tersebut.

Citra sabit bulan siang hari dipotret pukul 13.34 Waktu Arab Saudi. Gangguan cahaya biru langit diserap dengan filter inframerah (IR). Citra diperoleh setelah menumpuk 42 gambar.

Hilal yang sangat tipis di ufuk barat harus mengalahkan cahaya syafak. Hilal tidak terlihat secara visual, maka digunakan teleskop yang sudah terprogram untuk mengarahkan ke posisi bulan.

 

Hilal awal Ramadhan 1441 berhasil direkam 13 menit setelah matahari terbenam. Citra hilal diperoleh dengan penumpukan 84 gambar.

Kalau kita perhatikan, citra hilal tersebut sangat-sangat tipis. Itu pun diperoleh setelah penumpukan 84 gambar. Bisa kita bayangkan citra pada satu gambar redupnya kira-kira 1/84 kalinya. Sehingga hilal tersebut sangat tidak mungkin terlihat secara kasat mata. Secara astronomi, kita boleh meragukan kesaksian hilal di Indonesia, walau secara hukum kita sah menggunakannya untuk penetapan awal Ramadhan jatuh pada 24 April 2020.

Lalu bagaimana kita memaknai kriteria awal bulan, khususnya kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal)? Kriteria adalah batasan untuk menetapkan masuk atau tidaknya posisi bulan sebagai pertanda awal bulan. Di Indonesia saat ini ada dua kriteria utama: kriteria Wujudul Hilal (tinggi bulan sekitar 0 derajat, digunakan Muhammadiyah) dan kriteria tinggi minimal 2 derajat (digunakan NU dan beberapa ormas lainnya serta Taqwim Standar Pemerintah). Dengan kriteria tersebut ada potensi seragam awal Ramadhan 1441, karena tinggi bulan sudah di atas 2 derajat. Namun kita juga bisa melihat kriteria imkan rukyat berbasis data astronomi untuk melihat potensi awal bulan secara global. Misalnya kriteria Odeh dan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017.

Kriteria Odeh adalah kriteria yang bersifat optimistik. Artinya, bila memenuhi kriteria Odeh hampir pasti hilal terlihat kalau cuaca cerah. Berdasar kriteria Odeh pada saat maghrib 23 April 2020 hilal tidak mungkin teramati di Arab Saudi, walau pun menggunakan alat bantu optik. Nyatanya, ada pengamat di Arab Saudi yang berhasil memotretnya seperti diulas di atas. Sedangkan kriteria “Rekomendasi Jakarta 2017” memprakirakan di Arab Saudi ada peluang hilal teramati. Itu terbukti dengan hasil pengamatan hilal awal Ramadhan tersebut di atas. Kriteria “Rekomendasi Jakarta 2017” memang merupakan kriteria yang bersifat optimalistik, yaitu berdasarkan nilai minimum data tinggi dan elongasi bulan.

Kriteria Odeh memprakirakan pada saat maghrib 23 April 2020 hilal baru teramati di sebagian besar benua Afrika dan Amerika. Di Arab Saudi hilal belum bisa teramati walau menggunakan alat bantu optik.

Kriteria “Rekomendasi Jakarta 2017” memprakirakan pada saat maghrib 23 April 2020 hilal akan teramati di sebagian besar benua Afrika dan Amerika serta Arab Saudi dan sebagian Eropa.

Surat LAPAN: Pertimbangan Sains Antariksa untuk Penyatuan Kalender Islam (2)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Kepala LAPAN

Setelah dirumuskan Rekomendasi Jakarta 2017, pada 2018 LAPAN berkirim surat kepada Menteri Agama, Ketua MUI, dan Ormas-ormas Islam, terutama Muhammadiyah, NU, dan Persis.  Dengan perubahan kabinet dan pimpinan MUI serta ormas-ormas Islam, LAPAN memperbarui surat pertimbangan sains antariksa untuk penyatuan kalender Islam.

Ini versi pdf surat dimaksud untuk bisa diunduh: Surat Dinas ke Kemenag-2-Penyatuan Kalender Islam

Ayo Kita Cari Titik Temu untuk Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama RI

Suasana tanpa perbedaan awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha, setidaknya antara ormas-ormas besar (NU-Muhammadiyah) dan kalender pemerintah, kita rasakan sejak 1437 H/2016 insya-a Llah sampai 1442 H/2021 . Dalam suasana damai seperti itu kita tidak diam. Kementerian Agama bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas-ormas Islam terus berupa mencari titik temu. Terutama di kalangan pakar hisab rukyat.

Beberapa upaya telah dilakukan

Merujuk Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2/2004, pada Agustus 2015 telah  dilaksanakan Halaqoh “Penyatuan Metode Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah” oleh Majelis Ulama Indonesia dan Ormas-ormas Islam bersama Kementerian Agama RI di Jakarta. Fatwa No 2.2004 tersebut merekomendasikan “Agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah untuk dijadikan pedoman oleh Ment eri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait”. Halaqoh tersebut ditindaklanjuti dengan pertemuan Pakar Astronomi untuk penentuan kriteria awal bulan Hijriyah untuk disampaikan kepada MUI sebelum Munas 2015. Tim pakar astronomi berhasil merumuskan Naskah Akademik Usulan Kriteria Astronomi Penentuan Awal Bulan Hijriyah. Naskah akademik itu disiapkan untuk dibahas dalam Munas MUI 2015, namun belum bisa diterima. Namun substansinya telah dibawa ke pertemuan teknis MABIMS yang akhirnya disepakati secara teknis MABIMS pada 2016.

Pada November 2017 diadakan Seminar Internasional yang dihadiri perwakilan Ormas-ormas Islam Indonesia dan perwakilan internasional dari Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Yotdania. Akhirnya dirumuskan Rekomendasi Jakarta 2017. Substansi usulan kriteria yang bahas di naskah akademik yang semula disiapkan untuk Munas MUI kemudian dijadikan sebagai substansi proposal penyatuan kalender Islam global untuk Seminar Internasional Fikih Falak 2017.  Alhamdulillah pada seminar internasional itu telah dirumuskan Rekomendasi Jakarta 2017.  LAPAN kemudian mengirimkan surat kepada Menteri Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Ormas-ormas Islam dengan memberikan pertimbangan sains antariksa untuk penyatuan kalender Islam.

Selanjutnya Oktober 2019 diselenggarakan Pertemuan Pakar Falak MABIMS di Yogyakarta. Salah satu rekomendasinya adalah mewujudkan penyatuan (unifikasi) kalender hijriah mengikuti kriteria MABIMS yang baru (tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat), sebagaimana juga diusulkan di Rekomendasi Jakarta 2017.

Rekomendasi Jakarta 2017 berisi 3 hal pokok:

  1. Kriteria tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat, secara singkat sering disebut kriteria (3-6,4). Rujukannya Asia Tenggara bagian barat, yang sama dengan kawasan barat Indonesia.
  2. Kalender bersifat global dengan garis batas tanggal internasional.
  3. Ada otoritas tunggal: di tingkat nasional mestinya Pemerintah, di tingkat regional ada forum MABIMS, dan di tingkat global ada Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Berikut ini adalah jawaban atas pertanyaan beberapa pihak tentang rencana implementasinya:

Bagaimana implementasi bagi pengamal rukyat? Dan bagaimana pula bagi pengamal hisab?

Kriteria ini mengadopsi rukyat dan hisab. Artinya, kriteria digunakan untuk membuat  kalender yang jelas berbasis hisab. Rukyat tetap dilaksanakan pada 29 qamariyah. Untuk penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzuhijjah tetap diadakan itsbat (penetapan) oleh Pemerintah sebagai otoritas tunggal. Isbat tidak harus dengan sidang besar, dapat pula cukup Menteri Agama, perwakilan MUI, dan perwakilan pakar astronomi seperti yang dilaksanakan di Mesir. Itsbat memang diperlukan oleh para pengamal rukyat untuk penetapan hasil rukyat. Sementara bagi pengamal hisab, kalender bisa menjadi rujukan penentapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Kalau kriterianya sama, insya-a Llah hasil itsbat akan sama dengan kalender.

Bagaimana bila bulan sudah pada posisi diatas kriteria (3-6,4) tetapi rukyat gagal semua?

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pada sidang isbat untuk penetapan awal Ramadhan 1407/1987 dengan didukung Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 pertama kali membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat. Tetapi berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, ketika bulan sudah di atas kriteria ada saja perukyat yang mengaku melihat hilal dan disumpah. Itu secara syar’i sah.

Bagaimana bila posisi bulan di bawah kriteria, namun ada yang mengaku melihat hilal?

Sesuai pedoman Nahdhatul Ulama (NU) sebagai pengamal rukyat, laporan rukyat akan ditolak jika secara hisab dinyatakan bahwa saat itu hilal ghairu imkanur rukyat, yaitu tidak memenuhi kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal).

Bagaimana mengupayakan titik temu polarisasi pendapat di masyarakat?

Di masyarakat sering terjadi polarisasi antara dua ekstrem:

– Kutub ektrem 1, ingin penetapan awal bulan berdasarkan rukyat, kalau pun sudah ada kalender.

– Kubu ekstrem 2, ingin kalender tidak dikaitkan dengang rukyat.

Rekomendasi Jakarta 2017 sesungguhnya berupaya  menuju titik temu:

– Kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) yang digunakan mempertemukan hisab dan rukyat. Sedapat mungkin hasil rukyat akan sama dengan kalender karena menggunakan data rukyat jangka panjang secara global. Kriteria dinaikkan dari minimal ketinggian 2 derajat menjadi 3 derajat, berdasarkan alasan-alasan ilmiah yang sahih.. Tidak ada kesaksian yang sahih untuk ketinggian bulan kurang dari 3 derajat. Jadi kriteria bisa digunakan untuk menolak kesaksian yang meragukan. Kriteria ditambah dengan syarat elongasi (jarak sudut bulan-matahari) 6,4 derajat yang menjamin hilal cukup tebalnya dan secara umum pasti sudah di atas ufuk sehingga menghindari kesaksian hilal fiktif.

– Kriteria (3-6,4) secara umum juga mengakomodasi kriteria Wujudul Hilal yang markaznya digeser dari Yogyakarta kegari tanggal internasional ( IDL), karena tinggi 3 derajat di Indonesia Barat secara umum bermakna hila sudah wujud di IDL. Jadi kalau pun diinginkan kalender yang tidak dikaitkan dengan rukyat, boleh juga kalender yang dibuat berdasarkan kriteria (3-6,4) setara dengan criteria Wujudl Hilal dengan menggunkan rujukan IDL.

 

Mari kita semua mencari titik temu dari perbedaan yang ada, termasuk yang ekstrem yang tampaknya sulit disatukan. Kalau pun usulan titik temu yang diusulkan Rekomendasi Jakarta 2018 dianggap ada kekurangannya, ayo sama-sama kita sempurnakan untuk kita sepakati.

Pergeseran “paradigma rukyat ke hisab” dengan adanya kalender sebagai rujukan bersama, perlu diingat bahwa itu tidak berarti tidak perlu rukyat. Apalagi ada pengamal rukyat yang menganggap rukyat awal Ramadhan dan Syawal adalah ta’abudi (bagian dari ibadah) karena perintahnya “shuumu li ru’yatihi” yang berbeda dengan dalil waktu-waktu shalat.

Titik temu yang diambil adalah hisab dengan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal). Kriteria imkan rukyat adalah kriteria yang didasarkan pada rukyat jangka panjang. Hasilnya diharapkan akan sama dengan rukyat. Artinya, pengamal rukyat bisa mengambil keputusan berdasarkan kriteria tersebut bila rukyat gagal (seperti fatwa MUI 1981), bukan dg cara istikmal. Seperti yang dilakukan pengamal hisab hanya mendasarkam pada kalender yang sudah ditetapkan. Sementara pengamal hisab menuju titik temu dengan mengubah kriterianya dengan mempertimbangkan data rukyat jangka panjang tsb.

Mengubah faham fikih bisa seumur satu generasi, berharap dari generasi baru yang lebih terbuka pemikirannya. Faham fikih adalah keyakinan yg tidak bisa berubah dengan debat ilmiah dan pengkajian dalil. Tidak mungkin pengamal rukyat berubah cepat menjadi pengamal hisab juga, sama halnya pengamal hisab tidak mungkin berubah cepat menjadi pengamal rukyat juga. Hal yang bisa dilakukan adalah mencari titik temu. Hisab denga kriteria imkan rukyat adalah titik temu antara pengamal rukyat dan pengamal hisab. Masing-masing tetap melaksanakan keyakinan fikihnya, namun dengan beberapa kompromi. Kompromi yang perlu dilakukan adalah

– pengamal rukyat agar mau menerima kriteria yang berdasarkan data rukyat jangka panjang pada saat rukyat tidak berhasil padahal bulan sudah memenuhi kriteria, bukan dengan istikmal (menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari),

– pengamal hisab agar bergeser pada kriteria yang mempertimbangkan visibilitas hilal, bukan sekadar wujudnya bulan.

 

Otoritas Tunggal

Kalau kita masing-masing bertahan dengan pendapat masing-masing, ya kalender Islam pemersatu hanya sekadar impian. Adakah jalan keluarnya, sebelum ada kesepakatan kriteria? Ayo masing-masing otoritas ormas Islam mulai mengkaji menuju kesepakatan otoritas tunggal dulu, sambil kita mencari kriteria yg bisa disepakati. Sesuai fatwa MUI No. 2/2004, umat Islam Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Otoritas tunggal sesungguhnya sudah dipraktekkan di Arab Saudi saat ibadah haji. Apa pun fahamnya, ternyata semua ummat Islam mengikuti keputusan otoritas tunggal Arab Saudi dalam penentuan hari wukuf. Kira-kira seperti itulah peran Pemerintah sebagai otoritas tunggal di Indonesia untuk ibadah yang bersifat masal, yaitu dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

 

Langkah Nyata Menuju Titik Temu

Diskusi formal sudah sering difasilitasi Kementerian Agama dan diskusi semi-formal sudah juga dilakukan internal Ormas-orma Islam. Diskusi informal yang lepas dan jangka panjang para pakar falak atau hisab rukyat, antara lain melalui grup WA. Langkah tersebut sudah tepat. Selanjutnya bagaimana agar upaya menuju titik temu bisa direalisasikan sampai terwujud Kalender Islam Pemersatu?

  1. Langkah awal yang sudah dilakukan adalah diskusi antar-pakar falak, yang mengintegrasikan dalil fikih dan sains. Diharapkan diskusi tersebut mengerucut menghasilkan titik temu. Para pakar sesungguhnya diharapkan ummat untuk memberi solusi. Kita perlu kejernihan dan keterbukaan pikiran demi ummat.
  2. Dari diskusi tersebut diharapkan ada draft kesepakatan. Draft kesepakatan teknis-ilmiah-syar’i selanjutnya dibawa untuk diskusi di tataran pengambil kebijakan di masing-masing Ormas Islam. Pasti masih ada pro-kontra internal. Tetapi, kita berharap bukan penolakan tanpa solusi. Diharapkan di tingkat Ormas ada usul penyempurnaan.
  3. Usul penyempurnaan dibahas lagi di tingkat diskusi pakar utk dapat solusi. Proses iterasi pakar-ormas semoga bisa berjalan lewat perwakilan pakar dari ormas-ormas.
  4. Draft titik temu kita finalisasi dengan peran Pemerintah. Kementerian Agama perlu memfasilitasi pertemuan besar yang melibatkan para pakar perwakilan ormas Islam dan para pengambil kebijakan ormas (Ketua umum, Sekjen, dan Ketua bidang yang menangani hisab rukyat). Semoga ada kesepakatan.
  5. Draft kesepakatan yang dicapai tersebut dibawa lagi ke pertemuan besar ormas, semacam muktamar, untuk disepakati di tingkat Ormas. Setelah itu bisa jadi kesepakatan nasional yang bisa diadopsi Kementerian Agama.

Rekomendasi Pertemuan Pakar Falak MABIMS 2019 di Yogyakarta

Salah satu capaian penting dalam upaya mewujudkan panyatuan (unifikasi) kalender Islam adalah dirumuskannya Rekomendasi Jakarta 2017. Pada pokoknya, Rekomendasi Jakarta 2017 berisi tiga hal penting: (1) kesepakatan kriteria baru untuk awal bulan kalender Islam, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi bulan 6,4 derajat, (2) kesepakatan Batas Tanggal Internasional sebagai batas tanggal kalender Islam, dan (3) kesepakatan adanya otoritas tunggal untuk penetapan kalender Islam.  Kesepakatan kriteria tersebut kembali ditekankan pada Pertemuan Pakar Falak MABIMS (Forum Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) di Yogyakarta , 8-10 Oktober 2019. Berikut ini enam rekomendasi pertemuan pakar falak tersebut, salah satunya menegaskan kembali kesepatan kriteria baru MABIMS (tinggi bulan minimal 3 derajat, elongasi bulan 6,4 derajat):

Hasil lengkap Pertemuan Pakar Falak MABIMS 8-10 Oktober 2019 dalam versi pdf: Minit Pertemuan Pakar Falak MABIMS-Yogya-Okt 2019