Memahami Potensi Bencana Banjir: Kasus Banjir Jabodetabek Januari 2020

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Banjir 1 januari 2020 merendam banyak kawasan di Jabodetabek — gambar dari internet.

Banjir disebabkan karena kombinasi cuaca ekstrem (curah hujan tinggi) atau persisten (berlangsung lama) serta faktor daya dukung lingkungan yang tidak memadai atau rusak. Upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif adalah mitigasi dan adaptasi.

Mitigasi dari aspek cuaca, dilakukan dengan memahami perilaku cuaca dan memprakirakan secara cepat dan tepat. Namun atmosfer Indonesia yang sangat aktif sangat sulit diprakirakan. Tingkat akurasi prakiraan cuaca harus terus ditingkatkan. Salah satu model prakiraan yang dikembangkan LAPAN adalah SADEWA (Satellite-based Disaster Early Warning System). SADEWA berisi data pengamatan dan prakiraan. Data pengamatan adalah liputan awan dari satelit Himawari-8 serta radar hujan Santanu dan AWS (automatic Weather Station). Radar dan AWS sementara baru dari Bandung. Data prakiraan berasal dari model WRF (Weather Reseach and Forcasting) dengan menggunakan masukan GFS (Global Forcast System) dengan pengaturan skema konveksi dan boundary layer sesuai kondisi Indonesia. Prakiraan dilakukan setiap 6 jam untuk 3 x 24 jam ke depan. Prakiraannya untuk setiap jam dengan resolusi spasial 5 km persegi.

Hal mendasar yang perlu difahami adalah pola pergeseran gugusan awan yang mengindikasikan musim hujan. Gugusan awan biasanya dikenal sebagai Inter-Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang merupakan zona pertemuan (konvergensi) angin dari daerah musim dingin dengan angin dari daerah musim panas. Di daerah konvergensi itulah terbentuknya awan-awan konveksi yang menjulang yang menurunkan hujan, disebut awan Kumulonimbus (Cb, awan menggumpal yang menurunkan hujan). Dengan berubahnya posisi matahari di belahan selatan, maka belahan selatan lebih panas dengan tekanan udara yang lebih rendah dari belahan utara yang mengalami musim dingin. Maka daerah pembentukan awan atau ITCZ bergeser ke arah selatan. Puncak musim hujan ditandai ketika ITCZ (pusat pembentukan awan hujan) berkumpul di wilayah Indonesia. Itu terjadi sekitar Januari – Februari.

Gugusan awan konveksi berkumpul di wilayah Indonesia yang menyebabkan musim hujan di sebagian besar wilayah. Gugusan awan konveksi sebagai Inter-Tropical Convergence Zone (ITCZ) bergeser ke selatan. Garis merah adalah rata-rata gugusan awan konveksi pada November 2019. Garis merah rata-rata gugusan awan konveksi pada Desember 2019. Januari – Februari adalah puncak musim hujan ketika gugusan awan konveksi berkumpul di wilayah Indonesia.

 

Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika terjadi fase penguatan pembentukan awan di wilayah Indonesia. Kondisi reguler musiman pergeseran ITCZ kadang mendapat penguatan dari fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation) dan Cold surge atau Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS). MJO adalah fenomena gangguan atmosfer yang berawal dari Samudera Hindia melewati Indonesia dan berakhir di Samudra Pasifik. Ada dua jenis dampak MJO: penguatan atau pelemahan pembentukan awan. Fenomena Cold surge atau Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) adalah aliran udara dingin yang cukup kuat dari utara yang menambah aktivitas pembentukan awan hujan.

Fenomena MJO pada awal Januari 2020 menyebabkan penguatan pembentukan awan (warna biru) di wilayah barat Indonesia. — Dari CPC-NOAA

 

Prakiraan angin dan curah hujan di SADEWA. Angin cukup kuat dari utara yang melintasi ekuator pada musim dingin, berpotensi membawa angin dingin sebagai “cold surge”.

Apa yang terjadi pada malam pergantian tahun 2019-2020 yang menyebabkan banjir besar di Jabodetabek?

Hasil analisis balik prakiraan SADEWA dan konfirmasi kondisi liputan awan dari satelit Himawari 8 (juga disajikan di SADEWA) menjadi pelajaran untuk antisipasi potensi banjir di masa mendatang. Waspadai prakiraan cuaca ekstrem (hujan lebat) dan persisten (hujan dalam waktu lama).

Analisis regional menunjukkan adanya pengaruh MJO aktif yang berdampak penguatan pembentukan awan pada awal Januari 2020. Analisis balik prakiraan SADEWA menunjukkan ada angin yang cukup kuat bertiup dari utara, melintasi ekuator, dan sampai ke Jawa. Angin dari utara membawa udara dingin. Kuatnya angin dari utara mengindikasikan juga adanya tekanan yang cukup kuat dari arah Asia yang mengalami musim dingin, yang mengindikasikan terjadinya cold surge atau Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS). Dua fenomena tersebut, MJO dan Cold Surge, sesungguhnya menjadi peringatan dini yang perlu diwaspadi.

Bagaimana prakiraan curah hujannya? Walaupun prakiraan SADEWA belum terlalu akurat, namun uji empirik di beberapa lokasi menunjukkan prakiraan SADEWA bisa menjadi peringatan dini untuk diwaspadai. Prakiraan SADEWA yang dikeluarkan pada akhir Desember 2019 mengindikasikan ada potensi hujan lebat di kawasan Jabodetabek mulai pukul 21.00, 31 Desember 2019 sampai pukul 03.00, 1 Januari 2020.

Prakiraan SADEWA hujan pukul 21.00, 31 Desember 2019 di kawasan Jabodetabek.

Prakiraan SADEWA hujan pukul 23.00, 31 Desember 2019 di kawasan Jabodetabek.

Prakiraan SADEWA hujan pukul 01.00, 1 Januari 2020 di kawasan Jabodetabek.

Prakiraan SADEWA hujan pukul 03.00, 1 Januari 2020 di kawasan Jabodetabek.

Prakiraan itu terkonfirmasi dengan data satelit Himawari 8 yang menunjukkan adanya gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso).

 

Konfirmasi data satelit Himari 8: ada gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso) pada pukul 21.00, 31 Desember 2019.

Konfirmasi data satelit Himari 8: ada gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso) pada pukul 23.00, 31 Desember 2019.

Konfirmasi data satelit Himari 8: ada gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso) pada pukul 01.00, 1 Januari 2019.

Konfirmasi data satelit Himari 8: ada gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso) pada pukul 03.00, 1 Januari 2019.

Dampak cutah hujan ekstrem dari awan raksasa (MCC) tersebut, banyak daerah di Jawa Barat, DKI, dan Banten yang terdampak dengan genangan atau banjir.

Genangan - Jabar

Genangan di Provinsi Jabar

Genangan - DKI

Genangan di DKI

Genangan - Banten

Genangan di Provinsi Banten

Genangan 4

Genangan - Jan 2020

Bagaimana daya dukung lingkungan Jabodetabek sehingga memungkinkan banjir besar Jabodetabek 1 Januari 2020? Analisis global dengan citra satelit memang menunjukkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane, Ciliwung, dan Citarum serta sungai-sungai di hilir sudah mengalami perubahan drastis bila dibandingkan dengan kondisi 2002.  Secara umum terlihat daerah resapan air makin berkurang. Jadi sebagian besar air hujan terbuang ke arah hilir, yang kondisinya tidak memadai atau rusak.

Kawasan DAS Cisadane, Ciliwung, dan Citarum serta sungai-sungai di hilir pada 2002, dari analisis citra satelit.

Kawasan DAS Cisadane, Ciliwung, dan Citarum serta sungai-sungai di hilir pada 2019, dari analisis citra satelit.

Perbandingan kondisi 2002 dan 2019 atas DAS Cisadane, Ciliwung, dan Citarum serta sungai-sungai di hilir, secara umum menunjukkan daerah resapan air makin berkurang.

Langkah mitigasi yang diperlukan untuk antisipasi bencana banjir adalah fahami karakteristik cuaca Indonesia dan senantiasa waspada dengan peringatan dini yang diberikan BMKG. Aplikasi SADEWA dapat melengkapi informasi peringatan dini secara spasial untuk tiga hari ke depan. Mitigasi dari segi daya dukung lingkungan adalah mengupayakan agar daerah resapan air di hulu  dibenahi dan daya tampung aliran sungai di hilir mesti diperbaiki juga. Sejalan dengan itu, adaptasi di wilayah-wilayah yang memang menjadi kawasan genangan air (bekas situ atau cekungan) perlu dilakukan.

 

Refleksi Capaian LAPAN 2019

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Visi LAPAN 2015-2019  menjadi “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri” akhirnya tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional. Hal itu bila kita merujuk ditetapkannya semua pusat teknis yang menjalankan 7 program utama LAPAN sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) pada akhir 2019 ini.

Upaya yang dilakukan adalah membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa).

Refleksi Capaian LAPAN 2015 , Refleksi Capaian LAPAN 2016-2017, Refleksi Capaian LAPAN 2018, dan Refleksi Capaian LAPAN 2019 ini adalah suatu rangkaian catatan yang merupakan apresiasi kepada semua pegawai LAPAN untuk membangun kepercayaan diri dan semangat kerja, tanpa melupakan hal-hal yang harus terus dibenahi.

    • LAPAN memperoleh Opini BPK Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan 2018.
    • Sertifikat penghargaan WTP diberikan oleh Wakil Menteri Keuangan RI, Prof Mardiasmo kepada Sekretaris Utama LAPAN, Prof Erna Sri Adiningsih

    • Indeks Reformasi Birokrasi LAPAN naik dari 75,92 (2017) menjadi 76,12 (2018). Upaya pembenahan tata kelola dan peningkatan kinerja dalam rangka Reformasi Birokrasi terus dilanjutkan.
    • Juli 2019: LSU-02 NGLD (LAPAN Surveillance UAV-02 Next Generation Low Drag) sukses meraih Rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), dengan kategori “Pesawat Tanpa Awak (UAV) Terbang Menempuh Jarak Terjauh. Dengan mengambil lepas landas/ terbang dari LANUD TNI AU Cikelet, Pameungpeuk, Garut pada pukul 11.38 WIB, pesawat LSU-02 NGLD terbang ke arah barat menuju Pantai Citepus, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, dan berhasil mendarat kembali pada pukul 15.40 WIB di titik awal terbang. Dengan kecepatan rata-rata terbang 100 km/jam dan dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut, pesawat ini mampu terbang sejauh 405 Km pergi pulang.
    • LSU-02 NGLD membuat rekor terbang autonomous terjauh 405 km

    • LAPAN naik peringkat menjadi peringkat 2 di Webometrik lembaga riset di Indonesia.
    • LAPAN menduduki peringkat 2 Webometrik lembaga riset di Indonesia.

    • LAPAN sebagai Regional Support Office mendapatkan penghargaan dari UN SPIDER sebagai Main Contributor dalam kegiatan penanggulangan bencana berbasis keantariksaan.
    • Hasil gambar untuk UN Spider LAPAN 2019

      Penghargaan UN SPIDER kepada LAPAN sebagai Regional Support Office.

    • Gedung Pusat Sains Antariksa LAPAN mendapat Penghargaan Harapan 2 Gedung Pemerintah Hemat Energi dan Air dari Menteri ESDM.
    • Menteri ESDM bersama para pemenang anugerah.

    • LAPAN memperoleh Anugerah Keterbukaan Informasi Publik dengan predikat Badan Publik “Informatif” pada Kategori Badan Publik Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LN/LPNK). Anugerah KIP diserahkan Wakil Presiden RI.

      Wapres menyerahkan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik kepada Kepala LAPAN

    • LAPAN menandatangani perjanjian lisensi komersialisasi ZAP 2.0 antara Pusfatja dengan PT Media Rekayasa Lintas (PR Marlin) dalam pemanfaatan informasi zona potensi penangkapan ikan.
    • Lisensi LAPAN-PT Marlin

      Penandatanganan lisensi aplikasi zona potensi penangkapan ikan ZAP 2.0 antara LAPAN dan PT Marlin.

    • LAPAN menandatangani perjanjian lisensi dengan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) untuk komersialisasi Radar hujan Santanu.
    • Penandatangan Lisensi radar Santanu antara LAPAN dan PT Inti.

    • Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyerahkan SNI ISO/IEC 17025:2017 untuk Laboratorium Uji Material (Komposit) di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN.
    • SNI-ISO Lab Uji
    • Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait produk-produk litbang LAPAN.Penetapan SNI 8804:2019              Sistem Keantariksaan – Satelit kubus
      Penetapan SNI ISO 14620-1:2018 Sistem Keantariksaan – Persyaratan keselamatan – Bagian 1: Keselamatan sistem
      Penetapan SNI ISO 24113:2011     Sistem Keantariksaan – Persyaratan mitigasi sampah antariksaPenetapan SNI 8829:2019              Radar hujan
    • LAPAN melalui Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh (Pustekdata) meraih Penghargaan Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik dengan predikat “Sangat Baik” dari Menpan RB. LAPAN berhasil masuk dalam 10 besar Kementerian dan Lembaga dengan Indeks  Pelayanan Publik tertinggi.
    • LAPAN memperoleh Penghargaan Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik dengan predikat “Sangat Baik”

    • Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) dan Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) LAPAN ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI). Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) dan Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) LAPAN menerima Sertifikat Akreditasi Pranata Litbang yang diberikan oleh Komite Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP). Dalam acara Apresiasi Lembaga Litbang Tahun 2019. Lengkap sudah semua 7 Pusat Teknis ditetapkan sebagai PUI.
PUI 2019

Pusat Sains Antariksa dan Pusat Teknologi Roket ditetapkan menjadi PUI. Lengkap sudah tujuh pusat teknis LAPAN menjadi PUI.

 

 

Pengamatan Gerhana Matahari Cincin di Siak 26 Desember 2019

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Hasil pengamatan GMC 26 Des 2019 di Siak oleh Tim LAPAN

Pengamatan gerhana matahari cincin (GMC) 26 Desember 2019 di Kabupaten Siak dilaksanakan di lapangan Kampung Bunsur. Kampung Bunsur berada tepat di pusat jalur GMC dekat dengan titik gerhana terbesar (Greatest Eclipse). Fase GMC mulai pada pukul 12.15.

Lokasi pengamatan GMC 2019 di Kampung Bunsur, tepat di pusat jalur GMC.

Pagi hari di Siak mendung. Bahkan kabarnya di lokasi pengamatan saat shubuh sempat gerimis. Tentu saja ini cukup mengkhawatirkan. Cuaca bisa menggagalkan pengamatan fenomena langka GMC. Namun dilihat dari aplikasi SADEWA di situs LAPAN, diprakirakan siang hari awan mulai tersibak dari wilayah sekitar Kampung Bunsur, lokasi pengamatan GMC. Alhamdulillah, ternyata benar cuaca sangat cerah sejak awal proses gerhana sampai menjelang akhir gerhana.

Prakiraan liputan awan saat kejadian GMC dari aplikasi SADEWA LAPAN.

Gerhana mulai terjadi pada pukul 10.22 WIB. Maka segera shalat gerhana disiapkan di lapangan. Teriknya matahari siang yang cerah tidak menyurutkan jamaah memadati tempat shalat gerhana.

Kepala LAPAN bersama Bupati Siak sebelum shalat gerhana matahari di lapangan Bunsur, Siak.

Khutbah shalat gerhana disampaikan oleh Kepala LAPAN. Intisari khutbah ada di blog ini.

Kepala LAPAN sebagai khatib shalat gerhana di lapangan Bunsur, Siak.

Untuk dokumentasi pribadi, fase-fase gerhana dipotret dengan kamera hp. Tidak sebagus hasil pengamatan dengan teleskop, tetapi menjadi dokumentasi bahwa fenomena langka GMC telah dilihat secara langsung.

Awal gerhana dipotret dengan kamera hp dengan filter bekas disket.

Fase gerhana sebelum fase cincin, dipotret dengan kamera hp dengan filter kacamata matahari

GMC-2019-5

Fase gerhana matahari cincin, dipotret dengan kamera hp menggunakan kacamata matahari.

GMC-2019-pasca cincin-1

Gerhana matahari menjelang akhir fase cincin, dipotret dengan kamera hp menggunakan kacamata matahari.

GMC-2019-4

Fase gerhana matahari pasca cincin. Dipotret dengan kamera hp menggunakan teknik flare lensa.

Tim Pengamat LAPAN dengan beberapa teleskop.

Seusai acara pengamatan GMC 2019 di Siak

Intisari Khutbah Shalat Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Gerhana matahari cincin 2009 di Indonesia

[Inti sari khutbah shalat gerhana matahari cincin (GMC) di Siak, Riau, 26 Desember 2019 –Naskah bahasa Arab awal dan akhir tidak dituliskan).

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).

Jamaah Rahimakumullah,

Rasulullah SAW hanya sekali melaksanakan shalat gerhana matahari. Itu terjadi pada 27 Januari 632, awal Dzuqaidah 10 H, empat bulan sebelum Rasulullah SAW wafat. Saat itu terjadi gerhana matahari cincin yang melintasi bagian selatan Jazirah Arab. Di Madinah hanya terjadi gerhana matahari sebagian dengan kegelapan 77%.

Bayangkan suasana pagi itu di Madinah. Putra Rasulullah yang bernama Ibrahim wafat. Beberapa saat setelah matahari terbit mulailah terjadi gerhana. Di langit timur terlihat matahari tidak sempurna bulatnya. Bagian atasnya tampak menghitam yang makin lama hampir menghilangkan seluruh bundaran matahari. Orang-orang ketakutan dan mengaitkan gerhana matahari itu dengan wafatnya putra Rasulullah. Namun, Rasul membantahnya. Gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah.

Di dalam hadits Abu Burdah dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, dikisahkan peristiwa gerhana di Madinah:

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi SAW langsung berdiri terkejut dan merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau pergi ke masjid dan melakukan sholat yang panjang berdiri, ruku’, dan sujudnya. Setelah itu Nabi bersabda, “Gerhana ini adalah tanda-tanda dari Allah, bukan disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini terjadi supaya Allah menakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan-Nya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Rasullah SAW mengajarkan tauhid, tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan mitos. Gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Bukan pula karena matahari dimakan raksasa atau makhluk yang tak masuk akal. Tetapi gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah lah yang mencipkan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Setelah ilmu astronomi bertembang, diketahui bahwa gerhana matahari adalah bagian dari keteraturan sistem matahari-bulan-bumi. Bulan mengitari bumi, sementara bumi bersama bulan mengitari matahari. Pada saat bulan tepat berada di antara matahari dan bumi, terjadilah gerhana. Peredaran bulan mengitari bumi seperti itu dengan perubahan ketampakan bentuk bulan digunakan untuk perhitungan kalender. Hal itu diungkapkan di dalam Al-Quran surat Yunus:5.

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).

Ayat itu juga mengisyaratkan bahwa matahari dan bulan berbeda secara fisis. Matahari disebut dhiya’, bersinar. Sedangkan bulan disebut nuuran, bersinar. Sains – astronomi mengungkapkan bahwa matahari sesungguhnya sama dengan bintang-bintang lain. Ukurannya jauh lebih besar dari bumi, sekitar 1,3 juta kali besar bumi. Wujudnya berupa gas panas dengan reaksi nuklir di dalamnya. Suhu di dalamnya puluhan juta derajat. Suhu permukaannya ribuan derajat. Dengan panas itu, matahari menghangatkan tata surya, termasuk bumi.

Bulan disebut bercahaya, lembut tidak menyilaukan dan tidak panas. Bulan hanya memantulkan cahaya matahari. Karena perubahan posisinya selama mengitari bumi (manzilah), bentuknya tampak berubah. Dari sabit di awal bulan, menjadi setengah bundaran, dan purnama, lalu kembali mengecil sampai menjadi sabit kembali. Perubahan bentuk yang periodik digunakan untuk penentuan perhitungan bulan. Selama bumi mengitari matahari selama setahun, 12 kali bulan megitari bumi. Itu sebabnya satu tahun terdiri dari 12 bulan.

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah (QS 9:36)

Dengan keteraturan peredaran bulan mengitari bumi diperoleh konsep waktu bulanan. Di alam perubahan bulanan itu selaras dengan kalender qamariyah atau lunar calendar, seperti kalender hijriyah.  Dengan keteraturan peredaran bumi mengitari matahari diperoleh konsep waktu tahunan. Konsep tahunan juga tampak dengan perubahan musim secara periodik. Dari awal musim panas sampai musim panas berikutnya adalah periode satu tahun. Demikian juga dengan musim-musim yang lain. Perubahan musim selaras dengan kalender syamsiah atau solar calender, seperti kalender internasional yang berlaku saat ini.

Perubahan musim secara periodik sesungguhnya disebabkan karena kemiringan sumbu rotasi bumi. Kemiringan tersebut menyebabkan perubahan pemanasan belahan utara dan belahan selatan secara periodik. Kemiringan tersebut menyebabkan matahari tampak terbit dan terbenam berubah secara periodik. Pada saat belahan selatan bumi yang lebih banyak terpanasi pada akhir Desember, matahari tampak terbit dan terbenam paling selatan. Pada saat belahan utara bumi yang lebih banyak terpanasi pada akhir Juni, matahari tampak terbit dan terbenam paling utara. Itulah yang disebut di dalam Al-Quran adanya dua timur dan dua barat, karena timur dan barat sering ditandai dengan terbit dan terbenamnya matahari.

Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat. (QS 55:17)

Dengan perubahan pemanasan belahan bumi itu, maka terjadi perubahan tekanan udara. Selanjutnya perbedaan tekanan udara menyebabkan aliran angin. Kombinas pemanasan dan aliran angin, maka daerah pembentukan awan bergeser. Itulah yang menyebabkan musim hujan ketika angin dari utara mendorong daerah pembentukan awan ke wilayah Indonesia. Musim kemarau terjadi ketika angin bertiup dari selatan mendorong daerah pembentukan awan menjauhi wilayah Indonesia. Daerah sekitar ekuator akan mengalami dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau.

Jamaah Rahimakumulah,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran:190-191).

Hanya ulil albaab (orang-orang yang berfikir dengan iman) yang mau merenungi ayat-ayat Allah di alam, seperti fenomena karena konfigurasi bumi – bulan – matahari yang tadi dipaparkan. Allah menciptakan keteraturan itu sehingga manusia dapat mengambil manfaat untuk penentuan waktu serta pengaturan waktu untuk bertani dan kegiatan yang bergantung pada musim.

Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS Yaasiin: 37-40).

Walau tampak matahari dan bulan berjalan pada jalur yang sama sepanjang ekliptika, tidak mungkin keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya memang berbeda. Perjumpaan bulan dan matahari saat gerhana matahari hanyalah ketampakannya, ketika matahari tampak terhalang oleh bulan yang berada di antara matahari dan bumi. Gerhana matahari telah menjadi bagian perkembangan ilmu hisab untuk mengkalibrasi perhitungan peredaran bulan, sehingga awal bulan qamariyah kini bisa dihitung makin akurat.

Gerhana matahari cincin yang sebentar lagi kita saksikan saat ini bisa dihitung secara cermat sampai detiknya. Ketampakannya seperti cincin pada puncak gerhana juga bisa diprakirakan karena jarak bumi bulan yang lebih jauh dari rata-ratanya. Akibatnya bulan tampak lebih kecil dari ukuran piringan matahari. Sehingga piringan bulan hanya penutupi 94% piringan matahari, sisanya 6% tepian piringan matahari tampak seperti cincin.

Jamaah Rahimakumulah,

Sains menjelaskan fenomena yang sesungguhnya. Sains menghilangkan mitos dan meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah. Gerhana kita ambil hikmahnya, bahwa Allah menunjukkan kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya dengan fenomena itu. Keteraturan yang luar biasa yang Allah ciptakan memungkinkan manusia menghitung peredaran bulan untuk digunakan dalam perhitungan waktu dan digunakan untuk memprakirakan gerhana. Mari kita buktikan bahwa sebentar lagi matahari akan tertutup bagian tengahnya oleh bulan. Proses gerhana matahari cincin akan berlangung singkat namun ketampakan cincin cemerlang di langit sungguh mengagumkan. Subhanallah.

Jamaah Rahimakumulah,
Setelah kita melaksanakan shalat gerhana dan merenungi hikmah di balik itu, marilah kita akhiri khutbah ini dengan mohon ampunan dan mohon kekuatan untuk menjejaki kehidupan kita selanjutnya.

…. (Doa)

Wawancara Kepala LAPAN: Bandar Antariksa, Satelit, dan UFO

Detik.com melakukan wawancara panjang untuk program “Blak-blakan” tentang Bandar Antariksa, Satelit, dan UFO yang dipublikasi pada 11 November 2019. Berikut kutipannya dan link videonya di youtube.

Indonesia akan menyusul Prancis dan Brasil yang memiliki bandar antariksa yang berlokasi dekat dengan garis khatulistiwa. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berencana membangun bandar antariksa di Biak, Papua. Biak dipilih karena posisinya sangat dekat dengan ekuator sehingga memudahkan peluncuran roket untuk membawa satelit. Selengkapnya, saksikan Blak-blakan Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, “Bandara Antariksa, Satelit & UFO”, di detik.com

Suhu Panas pada Musim Pancaroba di Indonesia

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Suhu panas pada musim pancaroba (peralihan kemarau ke musim hujan sekitar Oktober dan peralihan musim hujan ke kemarau sekitar April-Mei) sering menjadi viral dengan informasi yang keliru dan bercampur hoax. Suhu panas tersebut bukanlah gelombang panas atau cuaca ekstrem. Itu adalah fenomena tahunan yang normal, seperti ditunjukkan pada data klimatologi di atas.

Suhu panas di banyak kota di Indonesia disebabkan 3 faktor utama:
1. Posisi matahari berada di atas Indonesia (deklinasi matahari = lintang tempat). Sering juga disebut “hari tanpa bayangan”. Pada saat itu, pancaran sinar matahari pada tengah hari tegak lurus, sehingga penerimaan panas menjadi maksimum.
2. Liputan awan masih minim. Pada saat musim pancaroba, liputan awan tidak terlalu banyak, sehingga pemanasan permukaan bumi juga bisa maksimum.
3. Efek pendinginan dari angin yang berasal dari daerah musim dingin sudah berhenti. Pada musim kemarau terjadi efek pendinginan dengan embusan angin dari Australia yang sedang musim dingin. Sementara saat musim hujan terjadi efek pendinginan dari embusan angin dari Asia yang sedang musim dingin

Faktor lain yang menambah efek pemanasan adalah urban heat island (pulau panas perkotaan) akibat berkurangnya pepohonan, bertambahnya bangunan, dan peningkatan emisi karbon dioksida (CO2) dari transportasi, industri, dan aktivitas rumah tangga. Karbon dioksida di atmosfer menahan pelepasan panas ke antariksa. Akibatnya terjadi peningkatan suhu udara permukaan.

 

CNN Meet the Geek: Thomas Djamaluddin, Mimpi Jadi Peneliti Berakhir di Astronomi

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi

Jakarta, CNN Indonesia — Dunia astronomi dan keantariksaan seputar benda langit dan alam semesta menjadi misteri hingga memicu tanda tanya bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Teka-teki dan pertanyaan besar itu pula yang tersimpan dalam benak kepala LAPANThomas Djamaludin.

Ketertarikannya terhadap dunia astronomi tak dinyana justru membawanya ‘menembus semesta’ hingga mengantongi beasiswa untuk melanjutkan di bidang astronomi dari Universitas Kyoto, Jepang.

Kepada CNNIndonesia.com, Thomas menuturkan sejak kanak-kanak sebenarnya ia lebih tertarik terhadap dunia flora. Maka tak heran jika ditanya soal cita-cita, semasa duduk di SMP N 1 Cirebon Thomas dengan mantap mengatakan ingin menjadi peneliti. Sebuah cita-cita yang terdengar awam bagi sebagian mimpi untuk menjadi dokter, polisi, hingga pilot.

Tapi tidak demikian bagi sang pemilik mimpi. Thomas merasa menjadi peneliti sebagai hal mengasyikkan – kendati tidak tahu betul apa pekerjaannya. Ia mengaku sejak kecil tertarik mengamati proses dari biji-bijian hingga menjadi tanaman.

“Mulai kecil saya senang pertama tumbuh-tumbuhan, ingin mengulik terkait dengan bagaimana sih tumbuhan. Proses mulai dari biji sampai tumbuh besar terutama musim hujan paling senang,” ujar Thomas saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kantor LAPAN di Jakarta Timur, Senin (19/8).

Pria yang menghabiskan masa kecilnya di Cirebon ini menuturkan ketika beranjak remaja ia kerap mengumpulkan biji rambutan hingga kedondong yang terdapat di sekitar rumahnya. Musim hujan menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu Thomas, karena bisa melihat proses tumbuhan berkembang dari sebuah biji, keluar tunas, hingga muncul daun.

Kebun pisang yang terdapat di halaman belakang rumahnya tak luput menjadi objek pengamatan Thomas. Kala itu ia mendapati tunas pisang ternyata cukup kuat untuk mengangkat batu yang terdapat di sekitar pohon. Pengamatan ini pula yang kian membulatkan tekadnya untuk menjadi peneliti.

“Saya juga sering amati tunas pisang di kebun di belakang rumah, itu kekuatannya cukup juga kalau ada batu itu kadang batu bisa terangkat juga. Dari sana saya cita-cita jadi ingin peneliti,” ucapnya.

Menginjak remaja, ketertarikan Thomas terhadap tumbuh-tumbuhan justru beralih ke ranah astronomi. Ketika duduk di kursi kelas 3 SMP, ia banyak mendapat informasi mengenai astronomi saat membaca majalah Mekatronika.

Salah satu edisi majalah yang membahas piring terbang (UFO) dan keberadaan alien, makhluk lain di luar Bumi semakin membuatnya penasaran. Di titik inilah Thomas kemudian ‘banting stir’ dan berniat mempelajari astronomi lebih dalam.

Lepas SMP, pria kelahiran 23 Januari 1962 ini melanjutkan studnya di SMAN 2 Cirebon. Rasa penasarana terhadap teka-teki dunia luar angkasa semakin besar dalam benaknya.

Ditambah koleksi buku-buku di perpustakaan sekolah membuat rasa penasaran terhadap UFO dan alien semakin membuncah. Ia menuturkan beberapa kali meminjam buku dari perpustakaan yang kerap mendapat asupan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

“Jadi saat itu banyak ingin tahu juga, apalagi saya menemukan di perpustakaan buku yang menarik terkait pertanyaan apakah piramida lalu patung-patung di Pulau Ester itu buatan manusia atau itu mengarah bukan buatan manusia tapi buatan alien,” ucapnya.

Asupan informasi inilah yang kemudian memunculkan gagasan untuk membuat tulisan mengenai penjelasan UFO dari sudut pandang agama. Terlebih ia juga selama ini senang mempelajari seluk beluk Islam.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi/2

Debut riset pustaka astronomi membawa ke Jepang

Tak cukup hanya lewat studi literatur, Thomas mengenang awal mula ketertarikannya di dunia astronomi mendorongnya untuk membuat riset pustaka sederhana mengenai antariksa.

Dalam debut pertamanya, ia memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke redaksi majalah. Tak dinyana, tulisannya mengenai astronomi justru berhasil dimuat di majalah.

“Di situ mulai minat terhadap astronomi, jadi yang tadi dari tumbuhan dan keantariksaan secara umum kemudian lebih fokus ke astronomi. Dan waktu itu tulisannya jadi dimuat di majalah, saya tidak tahu penulis redaksinya apakah dia tahu penulisnya anak SMA kelas 1,” kenang Thomas sambil tertawa.

Usai dinyatakan lulus dari SMAN 2 Cirebon, di tahun 1981 Thomas melanjutkan studi Strata 1 di Institut Teknologi Bandung jurusan astronomi melalui jalur PP II (Proyek Perintis II) — sejenis PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).

Disela perkenalan mahasiswa baru, pria berkacamata ini mengenang saat itu hanya ada lima mahasiswa astronomi. Ketika ditanya soal motivasi memilih jurusan astronomi, dengan mantap ia mengatakan ingin membuktikan ayat dalam Alquran yang menjelaskan alam semesta.

“Motivasi utama saya selain minat karena ada ayat Al-Quran yang terkait dengan alam semesta itu menarik misal surat An-Nur. Artinya, Allah itu cahaya bagi langit dan Bumi, belakangan saya mengetahui makna ayat itu jadi Allah memberi cahaya pada langit dan Bumi maka kita mengetahui objek yang jauh, bintang secara fisis,” terangnya.

Ayat Alquran yang memuat penjelasan terkait alam semesta pula yang mendorong Thomas untuk mengimplementasikan ilmu astronomi untuk menghitung awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Selain melakuan perhitungan berdasarkan ilmu astronomi, ia juga mengatakan berguru ke salah satu dosen di Universitas Islam Bandung untuk mempelajari korelasi antara ilmu astronomi dan agama yang dianutnya.

Thomas mengenang hal menarik lain yang diterimanya saat tengah merampungkan studi akhir. Seorang temannya yang bekerja sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) di LAPAN menginformasikan lowongan pekerjaan yang tengah dibuka.

Kendati sempat ragu, Thomas tak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Ia akhirnya mencoba melamar pekerjaan tersebut. Tak diduga, ia justru mendapat respons positif dari kepala LAPAN saat itu.

“Jadi ditawarin tapi saya belum lulus sudah ditawarin masuk ke LAPAN dan waktu itu langsung diajak menghadap kepala LAPAN di Bandung. Saya katakan “Saya belum lulus, saya masih mengerjakan skripsi” kata beliau, “Sudah anggap lulus saja”,” ucapnya.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu dan mengikuti tes CPNS LAPAN. Setelah melalui serangkaian tes hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai CPNS. Tak lama ia kemudian menghadap dosen pembimbing di ITB untuk memberi tahukan kabar baik tersebut.

Hanya saja bukan respons baik yang diterimanya, dosen pembimbingnya itu justru tak menyukai kabar gembira tersebut. Ia bahan sempat diminta untuk menghentikan bimbingan skripsi dengan sang dosen lantaran telah dinyatakan diterima di LAPAN. Thomas kemudian mengetahui jika sebenarnya ia hendak dipromosikan menjadi dosen astronomi usai dinyatakan lulus dari ITB.

“Saya baru tahu bahwa pembimbing saya mau mengusulkan saya jadi dosen di astronomi ITB. Pembimbing saya bilang, “Berhenti saja lah bimbingannya,” saya jadi bingung juga sudah diterima di LAPAN kalau tidak lulus ya percuma. Tapi akhirnya di rapatkan ditingkat jurusan kemudian dosen-dosen yang lain bisa memahami,” ucapnya.

Selang sebulan setelah dinyatakan lulus Strata 1 pada 1 Oktober 1986, Thomas mengabdi untuk LAPAN dengan menyandang status sebagai ASN. Lima bulan berselang, ia mendapat tawaran beasiswa melanjutkan studi master astronomi di Universitas Kyoto. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran tersebut.

Di tengah studinya selama dua tahun di Jepang, ia kembali menerima tawaran untuk melanjutkan studi S3 dari universitas yang sama. Ia kembali mengiyakan tawaran tersebut untuk memperdalam ilmu yang sejak lama disukainya itu.

“Saya selesaikan Master dua tahun lalu pembimbing saya mengatakan, “Mau lanjutkan gak ke Doktor?” Wah saya senang sekali dan langsung saya terima tawaran itu,” ucapnya.

Semasa melanjutkan studi di Jepang Thomas mengenang sempat membuat jadwal salat untuk dijadikan pedoman saat beribadah. Kala itu ia mengatakan penentuan jadwal salat hanya tersedia untuk daerah Kobe dan Tokyo. Ia kemudian menghitung dan membuat program jadwal salat untuk semua provinsi di Jepang. (evn)

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi/3

Meneropong masa depan studi antariksa Indonesia

Sejak 7 Februari 2014, Thomas didaulat menjadi nakhoda untuk lembaga tempatnya mengabdi selama 32 tahun. Selama itu pula sejumlah mimpi dan harapan disimpan Thomas untuk masa depan dunia antariksa Indonesia.

Dalam kurun 25 tahun kedepan, ia mengatakan Indonesia harusnya bisa membuat satelit dengan roket yang dibuat sendiri. Berkaca pada kesuksesan NASA, Thomas mengatakan sebagai tahap awal Indonesia bisa memulai peluncuran roket untuk mengirim satelit ke orbit Bumi.

“Mimpi kita dalam rencana induk keantariksaan 25 tahun mulai 2016 sampai dengan 2040, Indonesia harus mampu membuat satelit kemudian meluncurkan satelit dengan roket sendiri dan dari Bumi Indonesia sendiri,” jelasnya.

Untuk mewujudkan mimpi terebut, Thomas mengatakan LAPAN tengah mengembangkan Bandara Antariksa mulai dari skala kecil yang targetnya kelak bisa bermitra dengan pihak luar. Menyoal roket, ia menyebut tren ukurannya saat ini tidak harus besar tapi bisa dimulai dari yang kecil.

 

Satelit pun dibuat agak kecil sebab dari segi biaya lebih murah dan persiapan untuk meluncurkan satelit ini lebih pendek.

“Nanti juga [proyek peluncuran sateli] bisa bermitra dengan swasta atau badan usaha udalam pengoperasian bandara antariksa mulai dari skala mkecil kemitraan nasional, skala besar kemitraan internasional,” ucapnya.

Ia mengatakan untuk keberlangsungan misi antariksa maka frekuensi peluncurannya harus memadai, karena biaya yang dikeluarkan sangat mahal.

“Itu [peluncuran satelit dan bandara antariksa] kira-kira mimpi kita 25 tahun ke depan,” pungkasnya.

Astronomi dan kehidupan pribadi

Kecintaannya yang dalam terhadap dunia astronomi juga terbawa hingga ke kehidupan pribadi. Ia mengadopsi nama-nama planet, bulan, hingga galaksi bima sakti untuk ketiga anaknya.

Thomas menuturkan anak pertamanya yang bernama Vega Isma Zakiah diambil dari nama bintang rujukan pada fotometri (Vega) dan Isma yang merupakan insterstelar meter.

Sementara anak keduanya yang lahir di Bandung diberi nama Gingga Ismo merupakan gabungan Gingag yang berarti galaksi bima sakti dan Ismo yang merupakan interstelar medium.

“Anak kedua saya mengambil nama Gingga dari bahasa Jepang yang berarti sungai perak, galaksi bima sakti (milky way). Sementara Ismo yang berarti insterstelar medium juga menjadi topik penelitian studi S3 saya,” jelasnya.

Keberadaan planet ‘tetangga’ Bumi, Venus menjadi sumber inspirasi untuk anak ketiganya. Thomas menggunakan anma Venus Hiakaru Aisyah untuk anak ketiganya yang juga lahir di Bandung. (evn)