Memahami Efek MJO pada Cuaca Indonesia

Zona pembentukan awan lintas tropik (ITZC) mulai bergerak ke utara, pertanda musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju musim kemarau di Indonesia. (Dari situs sadewa.lapan.go.id)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Akhir April 2019 kabar cuaca ekstrem dengan banjir dan tanah longsor kembali mencuat di pemberitaan nasional. Diawali dengan banjir besar di Bengkulu. Padahal saat ini sudah mulai memasuki akhir musim hujan. Saat musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju kemarau. Pola daerah ITCZ (Inter-Tropical Convergence Zone — zona pembentukan awan lintas tropik) sudah mulai bergerak ke utara (lihat gambar ITCZ di atas). Mengapa terjadi lagi cuaca ekstrem. BMKG memberikan peringatan cuaca ekstrem karena fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation). Apakah MJO dan apa dampaknya?

Cuaca di Indonesia secara reguler dipengaruhi oleh siklus angin pasat karena perubahan pemanasan matahari akibat kemiringan sumbu rotasi bumi. Kita mengenal perubahan musim hujan – pancaroba – kemarau – pancaroba – hujan, dan seterusnya sebagai siklus tahunan. Kadang-kadang terjadi kekeringan atau musim hujan panjang akibat pemanasan di lautan Pasifik (dikenal sebagai fenomena El-Nino/La-Nina) atau pemanasan di samudra Hindia (dikenal sebagai fenomena Indian Dipole-Mode — IOD). Fenomena El-Nino/La-Nina dan IOD biasanya berulang setiap 3 – 7 tahunan. Ada juga variasi yang disebut “kemarau basah” (banyak hujan saat kemarau) karena efek pemanasan di perairan sekitar Indonesia. Saat ini dikenal juga fenomena MJO yang dampaknya sekitar sepekan yang bisa berulang sekitar 2 bulanan bila fasenya masih aktif. Dampaknya bisa berupa penguatan pembentukan awan yang memicu cuaca ektrem atau pengurangan pembentukan awan yang menyebabkan jeda hujan saat musim hujan.

Dengan mempelajari dinamika atmosfer (pola pergerakan awan dan angin) di sepanjang daerah tropik, mulai dari Afrika, samudera Hindia, benua maritim Indonesia, sampai Pasifik, diketahui ternyata ada pola periodik aktivitas atmosfer ekuator yang dikenal MJO. MJO adalah kondisi dinamika atmosfer periodik yang bergerak sepanjang wilayah tropik dari barat ke timur dengan periode sekitar 40-50 harian. Namun tidak selalu aktif. Contohnya, selama Maret sampai pertengahan April 2019 fenomena MJO dalam kondisi tenang, jadi tidak berdampak apa pun. Namun, sejak akhir April MJO mulai aktif ditandai dengan penguatan pembentukan awan di Samudera Hindia yang bergeser ke wilayah benua maritim Indonesia. Saat ini penguatan pembentukan awan berada di wilayah Indonesia, kemudian terus bergeser ke timur menuju Pasifik. Sampai kapan? Fenomena MJO biasanya berlangsung sekitar sepekan. Berikut ini prakiraan efek MJO pada penguatan pembentukan awan di Indonesia yang diprakirakan sampai awal Mei 2019.

MJO yang berdampak pada penguatan pembentukan awan (warna biru) diprakirakan berlangsung sampai awal Mei. Setelah itu ada kemungkinan disusul penekanan pembentukan awan (warna merah). (Dari situs NOAA).

Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1440 H

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

 

Garis tanggal  yang dibuat dengan aplikasi Accurate Hijri Calendar (AHC) digunakan untuk menentukan secara hisab awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah 1440

 

 

Garis tanggal Ramadhan 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Ramadhan 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 5 Mei 2019 posisi bulan telah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Ramadhan 1440 jatuh pada 6 Mei 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 5 Mei 2019.

 

Garis tanggal Syawal 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Syawal 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 3 Juni 2019 posisi bulan belum memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Syawal (Idul Fitri) 1440 jatuh pada hari berikutnya, 5 Juni 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 3 Juni 2019.

 

Garis tanggal Dzulhijjah 1440 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Dzulhijjah 1440 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU,  semuanya menunjukkan pada saat maghrib 1 Agustus 2019 posisi bulan telah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Dzuhijjah 1440 jatuh pada 2 Agustus 2019 dan Idul Adha pada 11 Agustus 2019. Namun menurut kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), pada saat maghrib 1 Agustus 2019 posisi bulan belum memenuhi kriteria, sehingga menurut kriteria tersebut awal Dzulhijjah jatuh pada hari berikutnya, 3 Agustus 2019. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 1 Agustus 2019. Sesuai Rekomendasi Jakarta 2017, bila ada perbedaan karena beda kriteria atau beda dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal maka kita merujuk keputusan Pemerintah sebagai otoritas tunggal, demi persatuan ummat.

 

 

 

 

 

 

Lapisan Batas Udara Permukaan

20190226_120654

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Menjelang mendarat di Jakarta (dari Pontianak, 26 Feb 2019), mari belajar sains atmosfer dan kondisi lingkungan. Dari ketinggian sekitar 3 km, saya potret ke arah awan di atas pantai utara Jakarta – Bekasi. Ada batas kelabu dan awan putih. Batas itu disebut Planetary/Atmospheric Boundary Layer (lapisan batas udara permukaan). Ketinggian batas itu sekitar 1,5 – 2 km. Di bawah batas ini udara masih hangat karena efek pemanasan dari permukaan bumi. Warna kelabu adalah polusi udara yang menyebabkan kita sering kehilangan langit biru. Di atas batas itu adalah daerah pembentukan awan dengan suhu udara cukup dingin untuk proses kondensasi uap air membentuk awan.

Refleksi Capaian LAPAN 2018

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Visi LAPAN 2015-2019  untuk mencapai “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri” insya-a Llah akan tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional. Upaya yang dilakukan adalah membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa).

Refleksi Capaian LAPAN 2015 , Refleksi Capaian LAPAN 2016-2017, dan Refleksi Capaian 2018 ini adalah suatu rangkaian catatan merupakan apresiasi kepada semua pegawai LAPAN untuk membangun kepercayaan diri dan semangat kerja, tanpa melupakan hal-hal yang harus terus di dibenahi.

 

Capaian Pembenahan Tata Kelola

  • Kepala LAPAN menjadi First Vice Chairman UNCOPUOS Parent Meeting 2018-2019.
  • Webometrik lembaga riset pada Juli 2018: LAPAN mendapat peringat 4 nasional, 30 ASEAN, 336 Asia, 2336 Dunia.

 

  • LAPAN mendapat nilai evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) 73,36 (BB), naik dari nilai tahun sebelumnya 72,01
  • Indeks Reformasi Birokrasi (RB) LAPAN: 75,92 (naik dari tahun sebelumnya 72,66), sehingga LAPAN diusulkan mendapatkan kenaikan Tunjangan Kinerja
  • Opini BPK untuk LAPAN: Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 3 tahun berturut-turut (2015, 2016, 2017).
  • LAPAN mendapatkan Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik sebagai Badan Publik Informatif dengan nilai 92,49 untuk kategori Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian. Sementara predikat yang sama diraih oleh dua instansi lainnya, yaitu BATAN (93,80) dan BI (92,54).

  • LAPAN mendapatkan 2 Penghargaan TOP IT utk kategori  TOP IT on “Satu Data LAPAN” Services 2018 dan TOP Digital Transformations Readiness 2018.

  • Tiga Pusat (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Pusat Sains Antariksa, dan Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh) meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dari MenpanRB.

 

Capaian Pembenahan Kompetensi dan Layanan

  • Dari hasil analisis Webometric, LAPAN masuk dalam peringkat 7 lembaga riset nasional dengan sitasi Google Scholar tertinggi: 1. LIPI, 2. BPPT, 3. Ejkman, 4. Balitbang Pertanian, 5. Balitbang Kehutanan, 6. SMERU, 7. LAPAN.
  • Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) mendapatkan ISO 9001:2015 untuk layanan SWIFtS.
  • Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) mendapatkan ISO 9001:2015 untuk Pengelolaan Stasiun Bumi dan Operasi Missi Satelit.
  • Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) mendapat Anugerah Prayoga Sala pada Hari Kebangkitan Teknologi 2018 atas prestasi membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi.

  • Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) dan Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh (Pustekdata) memperoleh penghargaan Adhyasta Bhumi Award dari Masyarakat Penginderaan Jauh (MAPIN) sebagai lembaga yang telah mampu memenuhi kebutuhan pengguna nasional penyediaan data penginderaan jauh untuk pembangunan nasional dan pengembangan riset dan iptek nasional
  • Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) berhasil mengadakan AeroSummit bersama mitra industri penerbangan sebagai cikal bakal sinergi ekosistem lembaga litbang aeronotika dengan industri teknologi penerbangan.
  • Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) mendapatkan sertifikat Akreditasi Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP).
  • Dari 7 Pusat teknis LAPAN, 5 telah ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) (1. Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, 2. Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh, 3. Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, 4. Pusat Teknologi Satelit, 5. Pusat Teknologi Penerbangan) dan 2 dibina jadi PUI (6. Pusat Teknologi Roket dan 7. Pusat Sains Antariksa).

  • Tiga kedeputian LAPAN: Kedeputian Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer, Kedeputian Bidang Penginderaan Jauh, dan Kedeputian Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa mendapatkan penghargaan sebagai Lembaga Induk yang berkomitmen dalam mendukung pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI).
  • Pesawat terbang tanpa awak LSU03-M3 (kerjasama LAPAN – PT M3) mendapat sertifikat full system dari IMMA.
  • Pusat Teknologi Penerbangan mendapatkan ISO 9001:2015 tentang “Sistem Manajemen Mutu Pelayanan Foto Udara” untuk pemotretan dengan pesawat tanpa awak LSU (LAPAN Survaillance UAV).
  • Uji terbang pesawat N219 prototipe 2 (PD2) hasil kerja sama LAPAN-PTDI berhasil dilakukan pada 21 Desember 2018. Dengan 2 pesawat prototipe yang diuji terbang, diharapkan sertifikat tipe dapat diperoleh secepatnya untuk selanjutnya memasuki proses produksi.

 

 

Pokok-pokok Catatan: Urgensi Integrasi Observasi dan Perhitungan Astronomis dalam Penentuan Waktu Ibadah

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika, LAPAN

 

Pendahuluan

  • Penentuan awal dan akhir Ramdhan dicontohkan Rasulullah SAW dengan cara rukyat (pengamatan), karena itulah cara yang termudah pada saat itu. Rukyat seperti itu juga berlaku untuk bulan-bulan lainnya. Demikian juga dengan penentuan awal waktu shalat, pada awalnya didasarkan pada fenomena rukyat terkait posisi matahari.
  • Pada zaman Rasulullah SAW, hisab telah dikenal terbukti dengan hadits Rasul yang menyatakan bahwa bulan itu sekian dan sekian, yang menginsyaratkan 29 atau 30 hari. Itulah hisab paling sederhana yang kemudian digunakan Umar Ibn Khattab dalam menyusun kalender Islam yang pertama dengan menggunakan rujukan tahun terjadinya hijrah sebagai rujukan awal tahunnya. Tahun 1 Hijriyah bermakna, 1 tahun setelah tahun kejadian hijrah Rasul.

 

Penentuan Awal Bulan Hijriyah

  • Rukyat telah berkembang. Bermula dari rukyat hanya dengan mata tanpa alat bantu, kemudian rukyat yang dibantu dengan teleskop. Teleskop hanya berfungsi untuk memperkuat cahaya hilal. Saat ini rukyat telah menggunakan kamera untuk merekam citra hilal.
  • Problema rukyat adalah peningkatan kontras antara cahaya hilal yang sangat tipis dengan cahaya syafak (senja) sebagai pengganggunya.
  • Ketebalan hilal bergantung pada jarak sudut bulan dari matahari (elongasi bulan). Semakin besar elongasinya, hilal semakin tebal. Sedangkan faktor gangguan cahaya syafak bergantung pada ketinggian dari ufuk. Semakin tinggi posisi hilal, gangguan cahaya syafak makin berkurang.
  • Ilmu hisab berkembang dari pengamatan empirik posisi bulan mengitari bumi dan posisi matahari relatif terhadap bumi yang mengitarinya. Data rukyat jangka panjang itu yang kemudian diformulasikan dengan memperhitungkan berbagai faktor koreksinya. Saat ini posisi bulan dan matahari bisa secara cepat dihitung dengan menggunakan perangkat lunak astronomi.
  • Hasil perhitungan umumnya berupa posisi bulan relatif terhadap matahari. Parameter yang biasa dihitung adalah ketinggian serta azimut bulan dan matahari. Dari parameter tersebut dapat dihitung elongasi dan ketinggian bulan saat matahari terbenam.
  • Contoh Rasulullah SAW dalam penentuan awal bulan dengan rukyat umumnya yang dijadikan rujukan dalam kriteria awal bulan pada hisab. Kontras hilal dan syafak direpresentasikan dengan berbagai parameter, antara lain
    • umur bulan (jangka waktu sejak ijtimak/konjungsi sampai matahari terbenam);
    • beda waktu terbenam matahari dan bulan;
    • tinggi bulan dan beda azimut;
    • tinggi bulan dan elongasi; dan
    • beda tinggi bulan-matahari dan tebal hilal.
  • Berbagai kriteria telah ditawarkan, namun implementasinya bergantung pada kesepakatan ummat yang akan menggunakannya.
  • Dalam pembuatan kalender Islam, bukan hanya kesepakatan kriteria yang diperlukan, tetapi juga kesepakatan otoritas dan batas tanggalnya.
  • Rekomendasi Jakarta 2017” mengusulkan kalender Islam global dengan ketentuan berikut:
    • Otoritas adalah pemerintah atau kolektif pemerintah (MABIMS di tingkat regional atau OKI – Organisasi Kerjasama Islam – di tingkat global).
    • Batas tanggalnya sama dengan batas tanggal internasional.
    • Kriterianya: pada saat matahari terbenam, tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

 

Penentuan Waktu Shalat

  • Rasulullah SAW memberikan contoh penentuan awal waktu shalat dengan fenomena-fenonama alam yang dapat diamati dari cahayanya atau dari bayanganya:
    • Waktu Shubuh sejak terbitnya fajar sampai terbitnya matahari.
    • Waktu Dhuhur sejak matahari mulai bergeser ke arah Barat (diketahui dari bayangan matahari) sampai datangnya waktu Asar.
    • Waktu Asar sejak bayangan sama panjangnya dengan tinggi bendanya sampai datangnya waktu Maghrib.
    • Waktu Maghrib sejak terbenamnya matahari sampai datangnya waktu Isya.
    • Wakti Isya sejak hilangnya cahaya syafak sampai datangnya waktu shubuh.
  • Dengan berkembangnya ilmu hisab, diketahui bahwa fenomena-fenomena rukyat awal waktu shalat terkait dengan posisi matahari yang bisa dihitung.
  • Hubungan fenomena cahaya dan matahari kemudian dinyatakan dengan formulasi ketinggian matahari.
  • Untuk implementasinya, kesepakatan kriteria ketinggian matahari diperlukan agar tidak menimbulkan kebingungan ummat.
  • Kesepakatan kriteria awal waktu shalat di Indonesia yang saat ini digunakan adalah sebagai berikut:
    • Shubuh dimulai saat tinggi matahari -20 derajat dan berakhir saat matahari terbit pada ketinggian matahari -50’.
    • Dhuhur ketika matahari mulai bergeser ke Barat, yaitu setelah tengah hari. Waktu tengah hari bisa dihitung dari waktu tengah antara matahari terbit sampai matahari terbenam.
    • Asar ketika panjang bayangan = tinggi bendanya ditambah dengan panjang bayangan saat tengah hari, atau tan(za) = tan(zd) + 1, dengan za = jarak zenit matahari saat asar dan zd = jarak zenit matahari saat dhuhur.
    • Maghrib ketika tinggi matahari -50’.
    • Isya ketika tinggi matahari -18 derajat.

Hujan Meteor Perseids Terdeteksi dengan Radar Meteor LAPAN

Radar Meteor di Biak

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

 

LAPAN mempunyai dua radar meteor di Agam, Sumatera Barat, dan di Biak, Papua, hasil kerjasama dengan Universitas Kyoto, Jepang. Penjelasan deteksi hujan meteor dengan radar  meteor telah dijelaskan ketika membahas Hujan meteor Quadrantids yang terdeteksi dengan radar meteor di Agam. Berikut ini hujan meteor Perseids yang terdeteksi dengan radar meteor Biak.

Hujan meteor Perseids (titik pancar dari rasi Perseus) disebabkan oleh sisa-sisa debu komet Swift-Tuttle. Setiap tahun bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet tersebut yang menyebabkan hujan meteor Perseids mulai 17 Juli sampai 24 Agustus. Puncaknya sekitar 12 Agustus dengan jumlah meteor tampak sekitar 90 meteor per jam. Dengan menggunakan radar meteor, jumlah meteor yang terdeteksi bisa ratusan meteor. Radar meteor mendeteksi jejak ionisasi di atmosfer pada ketinggian sekitar 70 – 110 km. Jejak ionisasi berasal dari debu-debu yang terbakar yang tampak seperti bintang yang melesat.

Batas 110 km digunakan Indonesia sebagai batas antara ruang udara (atmosfer) dengan ruang antariksa. Mulai ketinggian 110 km, atmosfer mulai padat yang menyebabkan debu-debu antarplanet dan sampah antariksa mulai terbakar ketika memasuki atmosfer dan  menimbulkan ionisasi. Distribusi ketinggian menyatakan distribusi ukuran dan kecepatan debu-debu yang berpasasan dengan atmosfer bumi. Debu-debu yang berukuran besar dan kecepatan tinggi sudah terbakar mulai ketinggian sekitar 110 km. Sedangkan yang ukurannya lebih kecil dan kecepatannya lebih rendah baru terbakar pada ketinggian yang lebih rendah dengan atmosfer yang lebih padat.

Data radar meteor berikut menggambarkan jumlah meteor per jam yang terdeteksi (panel atas), sebaran angular meteor di langit (panel kiri bawah), dan sebaran ketinggian meteor (panel kanan bawah). Sebaran angular menggambarkan posisi meteor yang terdeteksi di langit. Utara digambarkan di titik paling bawah, Selatan di titik paling atas, Timur di kanan, dan Barat di kiri. Terlihat distribusinya lebih banyak di Utara sesuai dengan titik pertemuan bumi dengan gugusan debu di arah rasi Perseus di langit Utara. Puncak hujan meteor terdeteksi sekitar pukul 18.30 UT (01.30 WIB). Puncaknya terdeteksi pada dini hari 11 Agustus dan 15 Agustus dengan jumlah meteor sekitar 700 meteor per jam.

 

 

Tidak Perlu Koreksi Ketinggian pada Jadwal Shalat untuk Daerah Dataran Tinggi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Gambar profil Bandung Raya (Gambar dari Mahesena Putra, Astronomi ITB)

Gambar peta Bandung Raya (Gambar dari Mahesena Putra, Astronomi ITB)

Saat Ramadhan sering ada pertanyaan tentang jadwal imsakiyah yang dikeluarkan oleh oleh Badan Hisab Rukyat atau Kantor Kementerian Agama beberapa daerah yang merupakan daerah dataran tinggi, seperti Bandung. Pada jadwal maghrib ada penambahan beberapa menit dari jadwal maghrib yang biasa digunakan pada program baku jadwal shalat (seperti yang banyak digunakan di jadwal shalat digital yang dipasang di banyak masjid). Alasannya, penambahan tersebut karena adanya koreksi ketinggian. Benarkah untuk dataran tinggi juga diterapkan koreksi ketinggian seperti pada gedung pencakar langit (misalnya koreksi jadwal shalat pada Burj Khalifa di Dubai)? Jawab singkatnya, tidak benar. Koreksi ketinggian dilakukan untuk posisi yang menjulang di atas dataran, misalnya puncak gunung atau gedung pencakar langit, bukan untuk dataran tinggi.

Profil ketinggian pada potongoan A dan B. Dataran kota Bandung pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut).

Topografi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. (Gambar dari Google Earth)

Kota Bandung, Cimahi, dan sebagian Kabupaten Bandung berada di cekungan Bandung yang relatif datar pada ketinggian sekitar 770 meter dari permukaan laut (dpl). Dalam perhitungan jadwal shalat, permukaan datar dataran tinggi disamakan dengan permukaan datar di permukaan laut. Alasannya (seperti dijelaskan di Koreksi Ketinggian pada Jadwal Shalat), karena untuk permukaan datar di dataran tinggi hanyalah menambah jarak dari pusat bumi menjadi (R+t), dengan R jari-jari bumi dan t ketinggian dataran tinggi. Karena t (misalnya 770 meter = 0,77 km) jauh lebih kecil dari R (6.371 km), maka ketinggian t dapat diabaikan.

Bagaimana dengan daerah berbukit yang tidak datar? Harus dilihat kasus per kasus.

  • Daerah lembah yang ufuk baratnya lebih rendah, matahari akan tampak lebih lambat terbenam beberapa menit. Untuk ketinggian 700 meter maghribnya lebih lambat sekitar 3 menit.
  • Daerah yang datar ufuknya tampak datar juga, sehingga maghribnya tidak perlu penambahan waktu.
  • Daerah yang di ufuk baratnya ada bukit, matahari akan tampak lebih cepat terbenam beberapa menit. Pada prinsipnya di daerah tersebut maghribnya lebih cepat beberapa menit.

Lalu bagaimana membuat jadwal shalatnya? Saya sarankan tetap tanpa koreksi ketinggian, karena hanya ada beberapa kasus yang ufuk baratnya menghadap lembah. Wilayah yang arah baratnya menghadap lembah, jadwal maghribnya dikoreksi secara lokal berdasarkan pengamatan setempat.