Rasionalitas Berlandaskan Iman: Optimisme Melawan Covid-19

T. Djamaluddin

Sebaran kasus positif Covid-19 secara global sampai 19 September 2020 (dari Wikipedia).

 

Saat awal Maret 2020 diumumkan penyakit yang disebabkan virus Corona (Covid-19) mulai menyebar cepat di Indonesia dan seluruh dunia, banyak orang dihinggapi kecemasan yang berlebihan. Hal itu dapat difahami karena virus menyebar tanpa kita ketahui arahnya. Dan banyak kasus orang tanpa gejala (OTG) ternyata menyebarkan virus tanpa kita ketahui.

Apa yang dapat kita lakukan? Kita tidak dapat menganggap enteng masalah Covid-19. Juga tidak boleh Covid-19 menimbulkan ketakutan berlebihan yang bisa merusakkan kesehatan mental yang berimbas pada penurunan daya tahan tubuh. Rasionalitas harus kita kedepankan. Sementara iman juga harus jadi landasan. Hal yang harus kita lakukan: berikhtiar, berdoa, dan tawakal (berserah diri kepada Allah).

Berikhtiar

Ikhtiar yang perlu dilakukan adalah “3M+3T”. Ikhtiar 3M harus kita lakukan bersama. Sementara 3T dilaksanakan oleh pemerintah. Ikhtiar 3M harus dilakukan oleh setiap orang: (1) Memakai masker yang menutup mulut dan hidung. Tujuannya agar virus yang mendopleng pada percikan ludah atau cairan hidung tidak terhirup. Karena virus menyerang sistem pernapasan. (2) Menjaga jarak. Kalau ada percikan ludah atau cairan hidung dari pembawa virus, dengan menjaga jarak, itu tidak sampai mengenai kita. (3) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer berbasis alkohol. Tangan berpotensi menyentuh sesuatu yang mungkin saja sudah terkena percikan yang mengandung virus. Sementara tangan sering kita gunakan untuk makan atau mengusap wajah yang memungkinkan menyebarkan virus melalui mulut, hidung, atau mata.

Pemerintah melaksanakan ikhtiar 3T agar penyebaran virus dapat dikendalikan. (1) Testing. Pemeriksaan orang-orang yang diduga berpotensi terpapar virus dalam aktivitasnya. (2) Tracing. Kalau ditemukan ada kasus positif Covid-19, instansi Pemerintah berkawajiban menelusuri orang-orang yang pernah berinteraksi dengan orang tersebut. (3) Treatment. Kalau dijumpai kasus posistif Covid-19, Pemerintah melakukan penanganan dengan isolasi atau perawatan, bergantung berat-ringan kasusnya.

Itulah ikhtiar rasional yang harus kita lakukan. Ancaman Covid-19 adalah nyata.

Berdoa

Doa adalah senjatanya orang beriman dalam mengatasi masalah. Setiap saat hendaknya kita berdoa untuk dijauhkan dari wabah ini. Gunakan waktu-waktu terbaik untuk berdoa dengan khusyu, seperti saat sujud dalam shalat dan sesudah shalat. Doa juga memberikan kekuatan batin untuk melawan wabah Covid-19.

Bertawakal

Kalau ikhtiar dan doa sudah dilakukan, langkah terakhir adalah bertawakal (berserah diri kepada Allah). Kita adalah makhluk-Nya. Virus pun makhluk-Nya. Allah berkuasa untuk mengendalika semua makhluk-Nya. Senantiasa kita ucapkan “Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīm (tidak ada daya dan kekuatan, selain dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung).

Dengan beriktiar, berdoa, dan bertawakal, kita optimis bisa melawan Covid-19 untuk kembali pada kehidupan nomal yang baru.

Dokumentasi Scientiae: UFO Bagaimana Menurut Agama?

Dokumentasi T. Djamaluddin (saat kelas I SMA Negeri 2 Cirebon, 1979).

Dokumentasi ini sangat penting bagi saya, karena riset literatur kecil-kecilan tentang alam semesta dari buku-buku di perpustakaan SMA Negeri 2 Cirebon membuka minat saya yang besar untuk mempelajari astronomi. Lebih dari itu, ada rasa kepercayaan diri yang makin kuat setelah artikel ilmiah populer bisa terbit di majalah ilmiah populer Scientae. Mungkin redaksi tidak menyadari bahwa itu tulisan anak kelas I SMA. Terima kasih kepada teman-teman SMA yang bersedia mengetikkan naskah tulis tangan saya (karena saya tidak punya mesin tik) untuk bisa saya kirimkan ke Scientae. Dokumentasi ini saya peroleh dari informasi teman bahwa scan artikel UFO di majalah Scientiae ada yang mendokumentasikannya.

Makna Fisis Hisab Posisi Hilal dan Kriteria Imkan Rukyat

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama RI

Data hisab posisi hilal pada hari rukyat 23 April 2020 untuk wilayah Jakarta.

Menjelang awal Ramadhan, Syawal, dan Idul Fitri posisi bulan selalu menjadi perhatian para peminat ilmu falak atau astronomi terkait penentuan awal puasa dan hari raya. Metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan) pun banyak diperbincangkan. Saat ini hisab dan rukyat sudah dianggap setara. Hisab bisa membantu rukyat dan rukyat bisa mengkonfirmasikan hasil hisab. Namun, kadang banyak yang tidak faham dengan makna fisis data-data hisab, seolah dengan menghitung dan diperoleh data posisi hilal, selesailah penentuan awal Ramadhan, Syawal, atau Dzulhijjah. Padahal untuk sampai menyimpulkan awal Ramadhan, Syawal, atau Dzulhijjah kita masih perlu menggunakan kriteria yang disepakati.  Bagi pengamal rukyat, perlu juga memahami makna data tersebut untuk memahami kondisi hilal yang akan dirukyat.

Dua parameter pokok yang perlu diperhatikan dari data hisab adalah tinggi bulan dan elogasi (jarak sudut bulan-matahari) pada saat matahari terbenam (maghrib). Tinggi bulan terkait dengan faktor gangguan cahaya senja (cahaya syafak). Semakin rendah posisi bulan artinya gangguan cahaya syafak semakin kuat akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer. Elongasi terkait dengan tebalnya sabit bulan (hilal, crescent). Semakin dekat dengan matahari, hilal akan semakin tipis. Keberhasilan rukyat bergantung pada kontras antara kuat cahaya hilal yang sangat tipis dengan gangguan cahaya syafak. Itu sebabnya pada kriteria ada batas minimal ketinggian dan elongasi bulan agar hilal dapat terlihat dan awal bulan bisa ditentukan.

Kita ambil contoh data hisab awal Ramadhan 1441 yang dihitung dan diamati pada 23 April 2020 (gambar di atas). Di wilayah barat Indonesia tinggi bulan sekitar 3 derajat dan elongasi sekitar 5 derajat. Apa makna fisisnya? Data astronomi menyatakan rekor rukyat yang datanya dianggap sahih tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Jadi tinggi bulan sekitar 3 derajat bermakna bulan berada pada batas cahaya syafak yang umumnya mulai agak redup. Tetapi elongasi sekitar 5 derajat bermakna sabit hilal sangat tipis, lebih tipis daripada rekor pengamatan hilal. Jadi sangat mungkin sabit hilal yang sangat tipis itu tidak bisa mengalahkan cahaya syafak atau tidak mungkin dirukyat di Indonesia.

Pada saat sidang itsbat (penetapan) awal Ramadahan 1441 dilaporkan bahwa hasil rukyat pada saat maghrib 23 April 2020 dari sekitar 80-an lokasi pengamatan umumnya menyatakan hilal tidak terlihat, kecuali 3 lokasi yang melaporkan melihat hilal. Itu pun hanya enam saksi yang melihat dengan mata telanjang tanpa alat. Sedangkan tim pengamat yang menggunakan teleskop dan kamera tak satu pun yang berhasil merekam hilal. Lalu hilal apa yang dilihat para perukyat tersebut? Saya menyebutnya itu  “hilal syar’i”, yaitu hilal yang secara syar’i (hukum Islam) sah menjadi dasar keputusan sidang itsbat karena semua saksi sudah disumpah oleh hakim Pengadilan Agama. Tentang hilal fisisnya perlu dibahas berdasarkan data astronomi.

Untuk memberi gambaran hilal fisis kebetulan ada laporan rukyat dari Arab Saudi disertai dengan hasil foto yang diperoleh dengan teleskop dan kemera CCD (kamera elektronik) dari situs ICOP (International Crescent Observation Project). Pengamat mengikuti posisi bulan sejak siang hari dengan menggunakan teleskop, kamera CCD, dan filter inframerah (IR) untuk menyerap cahaya biru langit. Dan alhamdulillah berhasil juga direkam pasca maghrib saat bulan berada pada ketinggian sekitar 4 derajat dan elongasi sekitar 6 derajat. Artinya, cahaya hilal mulai agak tebal sehingga cukup untuk mengalah cahaya syafak yang lebih redup. Inilah laporan di situs ICOP tersebut.

Citra sabit bulan siang hari dipotret pukul 13.34 Waktu Arab Saudi. Gangguan cahaya biru langit diserap dengan filter inframerah (IR). Citra diperoleh setelah menumpuk 42 gambar.

Hilal yang sangat tipis di ufuk barat harus mengalahkan cahaya syafak. Hilal tidak terlihat secara visual, maka digunakan teleskop yang sudah terprogram untuk mengarahkan ke posisi bulan.

 

Hilal awal Ramadhan 1441 berhasil direkam 13 menit setelah matahari terbenam. Citra hilal diperoleh dengan penumpukan 84 gambar.

Kalau kita perhatikan, citra hilal tersebut sangat-sangat tipis. Itu pun diperoleh setelah penumpukan 84 gambar. Bisa kita bayangkan citra pada satu gambar redupnya kira-kira 1/84 kalinya. Sehingga hilal tersebut sangat tidak mungkin terlihat secara kasat mata. Secara astronomi, kita boleh meragukan kesaksian hilal di Indonesia, walau secara hukum kita sah menggunakannya untuk penetapan awal Ramadhan jatuh pada 24 April 2020.

Lalu bagaimana kita memaknai kriteria awal bulan, khususnya kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal)? Kriteria adalah batasan untuk menetapkan masuk atau tidaknya posisi bulan sebagai pertanda awal bulan. Di Indonesia saat ini ada dua kriteria utama: kriteria Wujudul Hilal (tinggi bulan sekitar 0 derajat, digunakan Muhammadiyah) dan kriteria tinggi minimal 2 derajat (digunakan NU dan beberapa ormas lainnya serta Taqwim Standar Pemerintah). Dengan kriteria tersebut ada potensi seragam awal Ramadhan 1441, karena tinggi bulan sudah di atas 2 derajat. Namun kita juga bisa melihat kriteria imkan rukyat berbasis data astronomi untuk melihat potensi awal bulan secara global. Misalnya kriteria Odeh dan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017.

Kriteria Odeh adalah kriteria yang bersifat optimistik. Artinya, bila memenuhi kriteria Odeh hampir pasti hilal terlihat kalau cuaca cerah. Berdasar kriteria Odeh pada saat maghrib 23 April 2020 hilal tidak mungkin teramati di Arab Saudi, walau pun menggunakan alat bantu optik. Nyatanya, ada pengamat di Arab Saudi yang berhasil memotretnya seperti diulas di atas. Sedangkan kriteria “Rekomendasi Jakarta 2017” memprakirakan di Arab Saudi ada peluang hilal teramati. Itu terbukti dengan hasil pengamatan hilal awal Ramadhan tersebut di atas. Kriteria “Rekomendasi Jakarta 2017” memang merupakan kriteria yang bersifat optimalistik, yaitu berdasarkan nilai minimum data tinggi dan elongasi bulan.

Kriteria Odeh memprakirakan pada saat maghrib 23 April 2020 hilal baru teramati di sebagian besar benua Afrika dan Amerika. Di Arab Saudi hilal belum bisa teramati walau menggunakan alat bantu optik.

Kriteria “Rekomendasi Jakarta 2017” memprakirakan pada saat maghrib 23 April 2020 hilal akan teramati di sebagian besar benua Afrika dan Amerika serta Arab Saudi dan sebagian Eropa.

Surat LAPAN: Pertimbangan Sains Antariksa untuk Penyatuan Kalender Islam (2)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Kepala LAPAN

Setelah dirumuskan Rekomendasi Jakarta 2017, pada 2018 LAPAN berkirim surat kepada Menteri Agama, Ketua MUI, dan Ormas-ormas Islam, terutama Muhammadiyah, NU, dan Persis.  Dengan perubahan kabinet dan pimpinan MUI serta ormas-ormas Islam, LAPAN memperbarui surat pertimbangan sains antariksa untuk penyatuan kalender Islam.

Ini versi pdf surat dimaksud untuk bisa diunduh: Surat Dinas ke Kemenag-2-Penyatuan Kalender Islam

Ayo Kita Cari Titik Temu untuk Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama RI

Suasana tanpa perbedaan awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha, setidaknya antara ormas-ormas besar (NU-Muhammadiyah) dan kalender pemerintah, kita rasakan sejak 1437 H/2016 insya-a Llah sampai 1442 H/2021 . Dalam suasana damai seperti itu kita tidak diam. Kementerian Agama bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas-ormas Islam terus berupa mencari titik temu. Terutama di kalangan pakar hisab rukyat.

Beberapa upaya telah dilakukan

Merujuk Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2/2004, pada Agustus 2015 telah  dilaksanakan Halaqoh “Penyatuan Metode Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah” oleh Majelis Ulama Indonesia dan Ormas-ormas Islam bersama Kementerian Agama RI di Jakarta. Fatwa No 2.2004 tersebut merekomendasikan “Agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah untuk dijadikan pedoman oleh Ment eri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait”. Halaqoh tersebut ditindaklanjuti dengan pertemuan Pakar Astronomi untuk penentuan kriteria awal bulan Hijriyah untuk disampaikan kepada MUI sebelum Munas 2015. Tim pakar astronomi berhasil merumuskan Naskah Akademik Usulan Kriteria Astronomi Penentuan Awal Bulan Hijriyah. Naskah akademik itu disiapkan untuk dibahas dalam Munas MUI 2015, namun belum bisa diterima. Namun substansinya telah dibawa ke pertemuan teknis MABIMS yang akhirnya disepakati secara teknis MABIMS pada 2016.

Pada November 2017 diadakan Seminar Internasional yang dihadiri perwakilan Ormas-ormas Islam Indonesia dan perwakilan internasional dari Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Yotdania. Akhirnya dirumuskan Rekomendasi Jakarta 2017. Substansi usulan kriteria yang bahas di naskah akademik yang semula disiapkan untuk Munas MUI kemudian dijadikan sebagai substansi proposal penyatuan kalender Islam global untuk Seminar Internasional Fikih Falak 2017.  Alhamdulillah pada seminar internasional itu telah dirumuskan Rekomendasi Jakarta 2017.  LAPAN kemudian mengirimkan surat kepada Menteri Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Ormas-ormas Islam dengan memberikan pertimbangan sains antariksa untuk penyatuan kalender Islam.

Selanjutnya Oktober 2019 diselenggarakan Pertemuan Pakar Falak MABIMS di Yogyakarta. Salah satu rekomendasinya adalah mewujudkan penyatuan (unifikasi) kalender hijriah mengikuti kriteria MABIMS yang baru (tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat), sebagaimana juga diusulkan di Rekomendasi Jakarta 2017.

Rekomendasi Jakarta 2017 berisi 3 hal pokok:

  1. Kriteria tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat, secara singkat sering disebut kriteria (3-6,4). Rujukannya Asia Tenggara bagian barat, yang sama dengan kawasan barat Indonesia.
  2. Kalender bersifat global dengan garis batas tanggal internasional.
  3. Ada otoritas tunggal: di tingkat nasional mestinya Pemerintah, di tingkat regional ada forum MABIMS, dan di tingkat global ada Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Berikut ini adalah jawaban atas pertanyaan beberapa pihak tentang rencana implementasinya:

Bagaimana implementasi bagi pengamal rukyat? Dan bagaimana pula bagi pengamal hisab?

Kriteria ini mengadopsi rukyat dan hisab. Artinya, kriteria digunakan untuk membuat  kalender yang jelas berbasis hisab. Rukyat tetap dilaksanakan pada 29 qamariyah. Untuk penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzuhijjah tetap diadakan itsbat (penetapan) oleh Pemerintah sebagai otoritas tunggal. Isbat tidak harus dengan sidang besar, dapat pula cukup Menteri Agama, perwakilan MUI, dan perwakilan pakar astronomi seperti yang dilaksanakan di Mesir. Itsbat memang diperlukan oleh para pengamal rukyat untuk penetapan hasil rukyat. Sementara bagi pengamal hisab, kalender bisa menjadi rujukan penentapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Kalau kriterianya sama, insya-a Llah hasil itsbat akan sama dengan kalender.

Bagaimana bila bulan sudah pada posisi diatas kriteria (3-6,4) tetapi rukyat gagal semua?

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pada sidang isbat untuk penetapan awal Ramadhan 1407/1987 dengan didukung Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 pertama kali membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat. Tetapi berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, ketika bulan sudah di atas kriteria ada saja perukyat yang mengaku melihat hilal dan disumpah. Itu secara syar’i sah.

Bagaimana bila posisi bulan di bawah kriteria, namun ada yang mengaku melihat hilal?

Sesuai pedoman Nahdhatul Ulama (NU) sebagai pengamal rukyat, laporan rukyat akan ditolak jika secara hisab dinyatakan bahwa saat itu hilal ghairu imkanur rukyat, yaitu tidak memenuhi kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal).

Bagaimana mengupayakan titik temu polarisasi pendapat di masyarakat?

Di masyarakat sering terjadi polarisasi antara dua ekstrem:

– Kutub ektrem 1, ingin penetapan awal bulan berdasarkan rukyat, kalau pun sudah ada kalender.

– Kubu ekstrem 2, ingin kalender tidak dikaitkan dengang rukyat.

Rekomendasi Jakarta 2017 sesungguhnya berupaya  menuju titik temu:

– Kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) yang digunakan mempertemukan hisab dan rukyat. Sedapat mungkin hasil rukyat akan sama dengan kalender karena menggunakan data rukyat jangka panjang secara global. Kriteria dinaikkan dari minimal ketinggian 2 derajat menjadi 3 derajat, berdasarkan alasan-alasan ilmiah yang sahih.. Tidak ada kesaksian yang sahih untuk ketinggian bulan kurang dari 3 derajat. Jadi kriteria bisa digunakan untuk menolak kesaksian yang meragukan. Kriteria ditambah dengan syarat elongasi (jarak sudut bulan-matahari) 6,4 derajat yang menjamin hilal cukup tebalnya dan secara umum pasti sudah di atas ufuk sehingga menghindari kesaksian hilal fiktif.

– Kriteria (3-6,4) secara umum juga mengakomodasi kriteria Wujudul Hilal yang markaznya digeser dari Yogyakarta kegari tanggal internasional ( IDL), karena tinggi 3 derajat di Indonesia Barat secara umum bermakna hila sudah wujud di IDL. Jadi kalau pun diinginkan kalender yang tidak dikaitkan dengan rukyat, boleh juga kalender yang dibuat berdasarkan kriteria (3-6,4) setara dengan criteria Wujudl Hilal dengan menggunkan rujukan IDL.

 

Mari kita semua mencari titik temu dari perbedaan yang ada, termasuk yang ekstrem yang tampaknya sulit disatukan. Kalau pun usulan titik temu yang diusulkan Rekomendasi Jakarta 2018 dianggap ada kekurangannya, ayo sama-sama kita sempurnakan untuk kita sepakati.

Pergeseran “paradigma rukyat ke hisab” dengan adanya kalender sebagai rujukan bersama, perlu diingat bahwa itu tidak berarti tidak perlu rukyat. Apalagi ada pengamal rukyat yang menganggap rukyat awal Ramadhan dan Syawal adalah ta’abudi (bagian dari ibadah) karena perintahnya “shuumu li ru’yatihi” yang berbeda dengan dalil waktu-waktu shalat.

Titik temu yang diambil adalah hisab dengan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal). Kriteria imkan rukyat adalah kriteria yang didasarkan pada rukyat jangka panjang. Hasilnya diharapkan akan sama dengan rukyat. Artinya, pengamal rukyat bisa mengambil keputusan berdasarkan kriteria tersebut bila rukyat gagal (seperti fatwa MUI 1981), bukan dg cara istikmal. Seperti yang dilakukan pengamal hisab hanya mendasarkam pada kalender yang sudah ditetapkan. Sementara pengamal hisab menuju titik temu dengan mengubah kriterianya dengan mempertimbangkan data rukyat jangka panjang tsb.

Mengubah faham fikih bisa seumur satu generasi, berharap dari generasi baru yang lebih terbuka pemikirannya. Faham fikih adalah keyakinan yg tidak bisa berubah dengan debat ilmiah dan pengkajian dalil. Tidak mungkin pengamal rukyat berubah cepat menjadi pengamal hisab juga, sama halnya pengamal hisab tidak mungkin berubah cepat menjadi pengamal rukyat juga. Hal yang bisa dilakukan adalah mencari titik temu. Hisab denga kriteria imkan rukyat adalah titik temu antara pengamal rukyat dan pengamal hisab. Masing-masing tetap melaksanakan keyakinan fikihnya, namun dengan beberapa kompromi. Kompromi yang perlu dilakukan adalah

– pengamal rukyat agar mau menerima kriteria yang berdasarkan data rukyat jangka panjang pada saat rukyat tidak berhasil padahal bulan sudah memenuhi kriteria, bukan dengan istikmal (menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari),

– pengamal hisab agar bergeser pada kriteria yang mempertimbangkan visibilitas hilal, bukan sekadar wujudnya bulan.

 

Otoritas Tunggal

Kalau kita masing-masing bertahan dengan pendapat masing-masing, ya kalender Islam pemersatu hanya sekadar impian. Adakah jalan keluarnya, sebelum ada kesepakatan kriteria? Ayo masing-masing otoritas ormas Islam mulai mengkaji menuju kesepakatan otoritas tunggal dulu, sambil kita mencari kriteria yg bisa disepakati. Sesuai fatwa MUI No. 2/2004, umat Islam Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Otoritas tunggal sesungguhnya sudah dipraktekkan di Arab Saudi saat ibadah haji. Apa pun fahamnya, ternyata semua ummat Islam mengikuti keputusan otoritas tunggal Arab Saudi dalam penentuan hari wukuf. Kira-kira seperti itulah peran Pemerintah sebagai otoritas tunggal di Indonesia untuk ibadah yang bersifat masal, yaitu dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

 

Langkah Nyata Menuju Titik Temu

Diskusi formal sudah sering difasilitasi Kementerian Agama dan diskusi semi-formal sudah juga dilakukan internal Ormas-orma Islam. Diskusi informal yang lepas dan jangka panjang para pakar falak atau hisab rukyat, antara lain melalui grup WA. Langkah tersebut sudah tepat. Selanjutnya bagaimana agar upaya menuju titik temu bisa direalisasikan sampai terwujud Kalender Islam Pemersatu?

  1. Langkah awal yang sudah dilakukan adalah diskusi antar-pakar falak, yang mengintegrasikan dalil fikih dan sains. Diharapkan diskusi tersebut mengerucut menghasilkan titik temu. Para pakar sesungguhnya diharapkan ummat untuk memberi solusi. Kita perlu kejernihan dan keterbukaan pikiran demi ummat.
  2. Dari diskusi tersebut diharapkan ada draft kesepakatan. Draft kesepakatan teknis-ilmiah-syar’i selanjutnya dibawa untuk diskusi di tataran pengambil kebijakan di masing-masing Ormas Islam. Pasti masih ada pro-kontra internal. Tetapi, kita berharap bukan penolakan tanpa solusi. Diharapkan di tingkat Ormas ada usul penyempurnaan.
  3. Usul penyempurnaan dibahas lagi di tingkat diskusi pakar utk dapat solusi. Proses iterasi pakar-ormas semoga bisa berjalan lewat perwakilan pakar dari ormas-ormas.
  4. Draft titik temu kita finalisasi dengan peran Pemerintah. Kementerian Agama perlu memfasilitasi pertemuan besar yang melibatkan para pakar perwakilan ormas Islam dan para pengambil kebijakan ormas (Ketua umum, Sekjen, dan Ketua bidang yang menangani hisab rukyat). Semoga ada kesepakatan.
  5. Draft kesepakatan yang dicapai tersebut dibawa lagi ke pertemuan besar ormas, semacam muktamar, untuk disepakati di tingkat Ormas. Setelah itu bisa jadi kesepakatan nasional yang bisa diadopsi Kementerian Agama.

Rekomendasi Pertemuan Pakar Falak MABIMS 2019 di Yogyakarta

Salah satu capaian penting dalam upaya mewujudkan panyatuan (unifikasi) kalender Islam adalah dirumuskannya Rekomendasi Jakarta 2017. Pada pokoknya, Rekomendasi Jakarta 2017 berisi tiga hal penting: (1) kesepakatan kriteria baru untuk awal bulan kalender Islam, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi bulan 6,4 derajat, (2) kesepakatan Batas Tanggal Internasional sebagai batas tanggal kalender Islam, dan (3) kesepakatan adanya otoritas tunggal untuk penetapan kalender Islam.  Kesepakatan kriteria tersebut kembali ditekankan pada Pertemuan Pakar Falak MABIMS (Forum Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) di Yogyakarta , 8-10 Oktober 2019. Berikut ini enam rekomendasi pertemuan pakar falak tersebut, salah satunya menegaskan kembali kesepatan kriteria baru MABIMS (tinggi bulan minimal 3 derajat, elongasi bulan 6,4 derajat):

Hasil lengkap Pertemuan Pakar Falak MABIMS 8-10 Oktober 2019 dalam versi pdf: Minit Pertemuan Pakar Falak MABIMS-Yogya-Okt 2019

Ketika Belum Ada Kesepakatan Kriteria: Sementara Ikut Otoritas Tunggal Dahulu

Kalender Islam pemersatu menjadi dambaan ummat Islam. Berbagai upaya terus dilakukan untuk mencapai titik temu. Kata kuncinya adalah “kesepakatan” semua ormas Islam bersama pemerintah. Tiga unsur perlu disepakati: kriteria, otoritas, dan batas tanggal. Hal yang paling sulit adalah mencari titik temu kriteria. Majalah digital Tafaqquh memuat wawancara lengkap tentang upaya mewujudkan kalender Islam pemersatu ummat. Sebelum terwujud kriteria tunggal, kita upayakan kesepakatan otoritas tunggal.

Wawancara lengkap dengan Kepala LAPAN terbit pada Majalah Tafaqquh Edisi 4, April 2020. Versi lengkap bisa dibaca di web Majalah Tafaqquh atau unduh versi pdf lengkap.

 

Shalat di Pesawat Terbang dan Shalatnya Astronot

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama RI

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS Al-Baqarah (2):115]

Shalat di pesawat terbang jelas tidak ada contohnya dalam sunnah Rasul. Para ulama fikih pun umumnya membahas dalam kondisi yang relatif masih normal. Bagaimana kalau penerbangan lama? Apalagi saat ini beberapa Muslim pun berkesempatan menjadi astronot, mengorbit bumi di Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Jadi, perlu ijtihad berdasarkan dalil fikih yang shahih dengan mempertimbangkan kondisi nyata saat penerbangan atau saat mengorbit bumi. Tanpa merinci dalil-dalilnya, berikut pemahaman saya atas dalil-dalil fikih untuk praktek shalat di pesawat yang secara langsung saya alami dan praktekkan. Juga shalatnya astronot berdasarkan kondisi di orbit.

Biasanya ada lima persolan pokok terkait shalat di pesawat terbang:

  1. Mengapa harus shalat di pesawat terbang? Alasan utama, karena waktu shalat telah masuk dan tidak mungkin menunggu saat mendarat. Ada yang berpendapat, tidak sah shalat di ketinggian. Jadi shalat di pesawat terbang sekadar menghormati waktu, lalu meng-qadha (mengganti) setelah mendarat. Namun ada kasus yang akan saya tunjukkan, lima waktu shalat berada di pesawat terbang. Tidak ada contoh dalam fikih untuk meng-qadha lima shalat sekaligus. Jadi saya berpendapat, shalat di pesawat terbang adalah shalat yang dilaksanakan pada waktunya, tidak perlu meng-qadha.
  2. Bagaimana cara menentukan waktu shalatnya? Beberapa pesawat terbang (terutama maskapai Timur Tengah) kadang mengumumkan masuknya waktu shalat. Namun sebagian besar tidak memberikan informasi jadwal shalat. Maka kita harus memperkirakan posisi matahari atau ketampakan matahari dan cahayanya dari pesawat. Karena kita bisa melakukan shalat jamak (digabung), maka hanya tiga waktu yang perlu diperhatikan: dhuhur, maghrib, dan shubuh. (a) Waktu dhuhur ditandai setelah matahari mulai condong ke barat. Beberapa pesawat terbang memberikan informasi posisi matahari dan wilayah siang-malam di peta penerbangannya. Dengan informasi itu kita bisa mengetahui bahwa pesawat sudah memasuki waktu dhuhur. (b) Maghrib ketika matahari sudah terbenam atau pesawat mulai memasuki wilayah malam. (c) Shubuh ketika fajar mulai tampak di ufuk timur. Itu sebabnya kalau penerbangan malam saya sering memilih kursi dekat jendela yang menghadap timur. Cara lain, kalau duduk di kursi tengah, perkirakan ketika pesawat menjelang memasuki daerah siang, walau ini perkiraan sangat kasar. Yang penting sebelum pesawat memasuk wilayah siang.
  3. Bagaimana cara bersucinya? Jelas tidak mungkin dengan berwudhu. Walau pun di toilet pesawat terbang ada air, air itu sulit untuk berwudhu. Ada yang berpendapat, itu kan perjuangan, tetap harus diupayakan. Bayangkan, kalau penumpang pesawat terbang sebagian besar Muslim, seperti saat haji atau umroh. Sungguh memberatkan kalau semua harus berjuang untuk berwudhu dengan air. Jadi, saya berpendapat, lebih baik bertayum. Kan tidak ada tanah? Kita yakinkan saja bahwa di bagian kursi di depan kita atau dinding pesawat masih ada debu-debu yang menempel yang bisa kita gunakan untuk bertayamum. Caranya: (1) tepukkan tangan ke kursi di depan kita atau ke dinding pesawat, (2) usap wajah, (3) lanjutkan ke kedua tangan, cukup sampai pergelangan saja.
  4. Bagaimana menghadap kiblatnya? Walau di pesawat sering ada peta dan petunjuk arah terbang, sehingga bisa memperkirakan arah kiblat, seringkali posisi terbang membelakangi arah kiblat. Ada yang berpendapat, tetap harus diupayakan menghadap kiblat, setidaknya pada awalnya. Namun, itu kadang sangat menyulitkan. Ada solusinya yang diberikan Allah dalam QS 2:115: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. Jadi, dalam kondisi kita tidak memungkinkan menghadap arah kiblat yang benar, hadapkanlah wajah ke arah yang memungkinkan.
  5. Bagaimana cara shalatnya? Sebagai orang dalam perjalanan (musafir) kita mendapat keringanan untuk menjamak (menggabungkan) shalat dhuhur dan asar serta shalat maghrib dan isya. Juga kita mendapat keringanan untuk meng-qashar (meringkas) shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Lalu bagaimana cara shalatnya? Ada yang berpendendapat bahwa harus diupayakan shalat sambil berdiri. Namun itu pun menyulitkan kalau harus dilakukan banyak orang. Tidak ada tempat yang memadai untuk menampung semua penumpang Muslim. Jadi, saya berpendapat, dalam kondisi seperti itu, shalatlah di kursi masing-masing. Caranya, sambil duduk bertakbiratul ihram. Lalu membaca Alfatihah dan surat pendek. Dilanjutkan ruku’ dengan sedikit membungkuk sambil baca bacaan ruku’. I’tidal dilakukan dengan kembali duduk tegak. Lalu sujud dengan membungukuk lebih rendah lagi atau sampai menyentuh kursi di depan kita. Demikian sampai selesai dengan salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri.

Penerbangan panjang Tokyo (Jepang) – Dallas (AS), dengan lima waktu shalat.

Berikut ini catatan perjalanan panjang penerbangan dari Tokyo (Jepang) ke Dallas (AS) dan sebaliknya. Perjalanan panjang dari Tokyo ke Dallas (AS) selama 10,5 jam. Karena penerbangan ke arah timur jadi matahari terasa seolah bergerak cepat. Jadi sangat berpengaruh pada waktu shalat. Saya terbang 3 April 2019 pukul 11.00 waktu Jepang dan sampai di Dallas pada tanggal yang sama 3 April pagi sekitar pukul 07.30 waktu Dallas. Tanggal tidak berubah setelah melewati tengah malam, karena melewati batas Tanggal Internasional. Penerbangan siang sampai pagi, artinya lima waktu shalat saya berada di pesawat terbang. Lalu bagaimana waktu melaksanakan shalat di pesawat? Shalat dhuhur-ashar saya jamak qashar (digabung dan dirungkas) beberapa jam setelah meninggalkan Tokyo. Shalat maghrib-isya saya jamak-qashar  ketika berada di atas samudra Pasifik, menjelang memasuki daratan AS. Shalat shubuh saya laksanakan beberapa saat sebelum mendarat di Dallas. Supaya tidak terlewat waktu shubuh, saya upayakan sekali-sekali kalau terbangun saya periksa posisi pesawat pada peta malam-siang. Untuk memastikannya, saya lihat lewat jendala.

Penerbangan panjang Dallas (AS) – Tokyo (Jepang), hanya shalat dhuhur-asar.

Penerbangan kembali dari Dallas (AS) ke Tokyo (Jepang) lebih lama. Selain karena waktunya yang lebih lama, selama 12,5 jam, juga karena merasa pergerakan matahari lebih lambat. Hal itu terjadi karena pesawat melawan arah rotasi bumi dan pergerakannya mengikuti pergerakan semu matahari. Maka sepanjang penerbangan hanya merasakan siang terus. Saya terbang Jumat 12 April 2019 siang, tiba Sabtu 13 April sore. Tanggal berubah karena melewati Garis Tanggal Internasional. Karena siang yang panjang di pesawat, shalat di atas pesawat hanya dhuhur-asar dijamak-qashar.

Dengan contoh shalat dalam penerbangan panjang, lalu bagaimana para astronot Muslim melaksanakan shalatnya. Pertama, jelas shalat di wahana antariksa astronot tidak bisa lagi merujuk arah kiblat ke Mekkah. Jadi, dalil QS 2:115 yang digunakan. Shalatlah menghadap ke mana saja. Lalu bagaimana waktunya? Wahana antariksa mengorbit bumi sekitar 14 kali sehari. Artinya, setiap 90 menit mengalami malam dan siang bergantian. Waktu shalatnya adalah mengunakan jam. Rujukannya adalah jadwal shalat di lokasi peluncuran. Lalu bagaimana cara melakukannya? Dalam kondisi gravitasi mikro, astronot tampak melayang-layang di dalam wahana antariksa kalau kaki tidak mengait pada pijakan. Gerakan sedikit saja bisa memindahkan posisi astronot. Jadi, gerakan shalat dilakukan sesuai kemampuan yang bisa dilakukan.

Benarkah Besi “Diturunkan” dari Langit?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RI

Pure iron chips with a high purity iron cube

Besi murni (gambar dari Wikipedia)

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan (“menurunkan”) besi yang mempunyai kekuatan, hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (QS Al-Hadid:25)

Dalam mengintegrasikan sains dan Alquran harus disadari perbedaan sifatnya. Alquran bersifat mutlak benarnya dan tidak akan berubah. Sedangkan sains terus berubah, dengan kebenaran yang relatif, bergantung data/model dan interpretasi atas data/model ilmiah yang ada. Jadi, Alquran tidak bisa disandingkan secara langsung dengan sains. Lalu bagaimana mengintegrasikannya? Gunakan tafsir yang sifatnya sama-sama relatif kebenarannya. Bergantung masa dan wawasan penafsirnya. Alquran ada tafsirnya. Sains pun ada tafsirnya. Tafsir Alquran bisa saja salah, demikian juga tafsir sains. Walau Alqurannya pasti benarnya. Jadi jangan terlalu terpaku pada salah satu tafsir.

Contoh, tentang besi. Alquran dalam QS Al-Hadid: 25 menyebut “anzala” untuk besi yang secara harfiah sering dimaknai “menurunkan”. Sehingga ada yang berpendapat bahwa berdasarkan QS 57: 25 tersebut dimaknai besi itu diturunkan dari langit berupa meteorit besi. Tetapi sesungguh makna “anzala” bukan sekadar “menurunkan”. Dalam bahasa Inggris “anzala” sering diterjemahkan juga dengan “reveal”, “memunculkan”, atau “mengungkapkan” dari yang tersembunyi menjadi tampak. Seperti halnya Alquran “diturunkan” bukan dalam makna fisis “turun” secara fisik dari ketinggian, tetapi dalam makna “diungkapkan”. Walau bisa juga dimaknai Alquran diturunkan secara kiasan.

Sains astronomi menyatakan materi asal bumi sama dengan materi asal matahari dan planet-planet. Di dalam kandungan materi asal matahari dan planet-planet sudah terdapat besi. Itu tafsir atas model sains tentang asal-usul tata surya. Jadi, secara sains diketahui sesungguhnya besi sudah ada di bumi sejak penciptaan tatasurya: matahari, planet-planet, asteroid, dan anggota tatasurya lainnya. Sedangkan meteorit besi hanya sebagian kecil dari kandungan besi di tatasurya, jauh lebih kecil dari kandungan besi di perut bumi.

Lalu bagaimana mengintegrasikan tafsirnya? Tafsir Kementerian Agama menggunakan ungkapan “Kami menciptakan besi”. Tetapi akan lebih tepat kalau “anzala” dimaknai “memunculkan”. Jadi disarankan tafsirnya menjadi, “Kami memunculkan besi …”. Besi yang terkandung dalam materi asal bumi “muncul” ke permukaan bumi dalam bentuk bijih besi setelah diolah di perut bumi dan dimuntahkan dalam proses letusan gunung bersama material tambang lainnya. Bijih besi itulah yang diolah oleh manusia untuk berbagai kebutuhan.

Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1441

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

 

Hisab global dengan analisis garis tanggal sangat berguna untuk memahami potensi perbedaan yang bersumber dari perbedaan kriteria. Garis tanggal  berikut ini dibuat dengan aplikasi Accurate Hijri Calendar (AHC) untuk menentukan secara hisab awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah 1441

 

 

Garis tanggal Ramadhan 1441 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Ramadhan 1441 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU,  semuanya menunjukkan pada saat maghrib 23 April 2020 posisi bulan telah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Ramadhan 1441 jatuh pada 24 April 2020. Namun menurut kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), pada saat maghrib 23 April 2020 posisi bulan belum memenuhi kriteria, sehingga menurut kriteria tersebut awal Ramadhan 1441 jatuh pada hari berikutnya, 25 April 2020. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 23 April 2020. Sesuai Rekomendasi Jakarta 2017, bila ada perbedaan karena beda kriteria atau beda dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal maka kita merujuk keputusan Pemerintah sebagai otoritas tunggal, demi persatuan ummat.

 

Garis tanggal Syawal 1441 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Syawal 1441-Rekomendasi Jakarta

Garis tanggal Syawal1441 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 22 Mei 2020 posisi bulan belum memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Syawal (Idul Fitri) 1441 jatuh pada hari berikutnya 24 Mei 2020. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 22 Mei 2020.

 

Garis tanggal Dzulhijjah 1441 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Dzulhijjah 1441 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 21 Juli 2020 posisi bulan sudah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Dzulhijjah 1441 jatuh pada 22 Juli 2020 dan Idul Adha jatuh pada 31 Juli 2020. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 21 Juli 2020.