Proposal Ringkas Penyatuan Kalender Islam Global

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN, Indonesia

Proposal Ringkas Penyatuan Kalender Islam Global

A Brief Proposal on Global Islamic Calendar Unification

Seminar Fikih Falak 2017

Pendahuluan

Penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah sangat terkait dengan waktu ibadah puasa Ramadhan, Idul Fitri, puasa Arafah, dan Idul Adha bagi ummat Islam secara global. Ada ibadah puasa yang status hukumnya wajib, sunnah, dan haram. Berpuasa pada bulan Ramadhan wajib hukumnya dan puasa pada hari Arafah 9 Dzulhijjah sunnah. Sementara puasa pada Idul Fitri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzuhijjah) serta hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) hukumnya haram.

Penentuan awal bulan pada kalender Hijriyah terutama dimaksudkan untuk memberikan indikasi waktu awal ibadah puasa serta penentuan Idul Fitri dan Idul Adha. Hal yang krusial adalah dalam penentuan Idul Fitri dan Idul Adha yang dirayakan secara global. Bila terjadi perbedaan antarnegara, maka timbul keraguan waktu yang akan dirujuk. Hal inilah yang mendorong upaya untuk merumuskan kalender yang seragam secara global. Karena kalender juga dimaksudkan untuk sedapat mungkin menyatukan waktu ibadah, maka kaidah fikih penentuan awal bulan juga harus dipertimbangkan.

 

Metode Penentuan Awal Bulan

Tanpa menyebut rincian dalil fikihnya, secara umum metode penentuan awal bulan hijriyah yang terkait waktu ibadah terbagi dua pendapat. Pendapat pertama mendasarkan pada rukyatul hilal (bulan sabit muda) pada saat maghrib akhir tanggal 29 bulan Hijriyah. Pendapat kedua, cukup mendasarkan pada hasil perhitungan (hisab) dengan kriteria tertentu. Persoalannya, ketampakan hilal bisa berbeda-beda antarwilayah, baik karena sifat fisik hilalnya maupun karena faktor cuaca. Sementara kriteria hisab pun masih beragam.

Untuk mendapatkan kesatuan ummat dalam penentuan awal bulan Hijriyah, langkah yang harus dilakukan adalah mensinergikan antara rukyat dan hisab dengan cara (1) menyatukan kriteria hisab dan (2) kriteria yang dirumuskan harus memperhatikan kriteria ketampakan (visibilitas) hilal. Upaya tersebut diharapkan bisa menyatukan antara metode rukyat dan hisab serta menghilangkan perbedaan keputusan hisab.

 

Proposal Kongres Istanbul 2016

Pada Kongres Internasional Kesatuan Kalender 2016 di Istanbul Turki telah direkomendasikan sistem kalender global tunggal. Seluruh dunia mengawali awal bulan hijriyah pada hari yang sama (Ahad – Sabtu), misalnya awal Ramadhan jatuh Senin seragam di seluruh dunia. Sistem kalender global menggunakan kriteria visibilitas hilal:

 

Awal bulan dimulai jika pada saat maghrib di mana pun elongasi bulan (jarak bulan-matahari) lebih dari 8 derajat dan tinggi bulan lebih dari 5 derajat.

 

Dengan catatan, awal bulan hijriyah terjadi jika kriteria visibilitas rukyat terpenuhi di mana pun di dunia, asalkan di Selandia Baru belum terbit fajar.

Gambar 1. Kesimpulan Kongres Istanbul Turki 2016

 

Kriteria tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat adalah kriteria optimistik, tetapi tidak cukup untuk diterapkan dalam tinjauan global. Garis tanggal visibilitas hilal paling Timur umumnya berada di sekitar ekuator. Wilayah daratan yang paling Barat adalah Amerika Selatan. Wilayah daratan paling Timur adalah Samoa. Beda waktu antara Amerika Selatan dan Samoa 20 jam, artinya secara rata-rata beda tinggi bulan 20/24 x 12o = 10o dari wilayah Timur dan wilayah Barat. Beda waktu antara Amerika Selatan dan Asia Tenggara 14 jam, secara rata-rata beda tinggi bulannya 7o. Bila ketinggian 5o terjadi Amerika Selatan, tinggi bulan di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik masih di bawah ufuk.

Jadi, dengan kriteria Istanbul 2016 akan timbul masalah pada wilayah yang posisi bulan masih negatif di wilayah Timur, sementara kriteria visibilitas hilal sudah terpenuhi di wilayah Barat. Dalam kaidah fikih, hari yang meragukan perlu dihilangkan dengan konsep istikmal (menyempurnakan bulan berjalan menjadi 30 hari). Artinya wilayah Barat harus menunggu masuknya tanggal di wilayah Timur, setidaknya posisi bulan sudah di atas ufuk.

Gambar 2. Garis Tanggal Internasional di Pasifik dan zona waktu (sumber: internet)

 

Proposal Baru

Pada dasarnya  implementasi konsep kalender didasari pada tiga prasyarat yang harus dipenuhi sekaligus: (1) adanya kriteria tunggal, (2) adanya kesepakatan batas tanggal, dan (3) adanya otoritasl tunggal. Kriteria Istanbul 2016 bermasalah ketika di wilayah Barat sudah memenuhi kriteria, tetapi di wilayah Timur bulan masih berada di bawah ufuk. Kriteria tersebut tidak dapat diterima oleh negara-negara di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik, seperti Indonesia. Perlu diusulkan kriteria alternatif.

Dari hasil rukyat jangka panjang, diketahui bahwa elongasi minimal agar hilal cukup tebal untuk bisa dirukyat adalah 6,4 derajat (Odeh, 2006). Data analisis hisab 180 tahun saat matahari terbenam di Banda Aceh dan Pelabuhan Ratu (Djamaluddin, et. al., 2016) juga membuktikan bahwa elongasi 6,4 derajat juga menjadi prasyarat agar saat maghrib bulan sudah berada di atas ufuk (lihat Gambar 3 dan Gambar 4). Pada grafik terlihat bahwa pada elongasi 6,4 derajat, posisi bulan semuanya positif, sedangkan bila elongasi kurang dari 6,4 derajat bulan masih berada di bawah ufuk atau ketinggiannya negatif.

Gambar 3. Sebaran data tinggi dan elongasi bulan untuk Banda Aceh selama 180 tahun.

Gambar 4. Sebaran data tinggi dan elongasi bulan untuk Pelabuhan Ratu selama 180 tahun.

 

Dari data rukyat global, juga diketahui bahwa tidak ada kesaksian hilal yang dipercaya secara astronomis yang beda tinggi bulan-matahari kurang dari 4 derajat (lihat Gambar 5 dan gambar 6). Karena pada saat matahari terbenam tinggi matahari -50’, maka beda tinggi bulan-matahari 4 derajat identik dengan tinggi bulan (4o -50’=) 3o 10’, dibulatkan menjadi 3o.

Gambar 5. Ilyas (1988) memberikan kriteria visibilitas hilal dengan beda tinggi bulan-matahari minimum 4o (tinggi bulan minimum 3 derajat).

Gambar 6. Dari data SAAO, Caldwell dan Laney (2001)  memberikan data visibilitas hilal dengan memisahkan pengamatan dengan mata telanjang (bulatan hitam) dan dengan alat bantu optik (bulatan putih). Secara umum visibilitas hilal mensyaratkan beda tinggi bulan-matahari (dalt) > 4o .

Berdasarkan data astronomis tersebut, maka diusulkan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) dengan dua parameter: elongasi bulan minimal 6,4 derajat dan tinggi bulan minimal 3 derajat. Rujukan yang digunakan adalah Indonesia Barat. Alasannya, beda waktu antara Indonesia Barat dan Samoa di Batas Tanggal Internasional adalah 6 jam (lihat Gambar 2), artinya beda tinggi bulan 6/24 x 12o =3o. Jadi ketika di Indonesia Barat tinggi bulan sudah di atas 3o, di wilayah sekitar Garis Tanggal Internasional tinggi bulannya sudah positif atau di atas ufuk. Dengan tinggi minimal 3 derajat di Indonesia Barat, di Timur Tengah tinggi bulan lebih dari 5 derajat, sesuai dengan tinggi minimal pada kriteria Istanbul 2016. Jadi kriteria baru yang diusulkan sebagai berikut:

 

Awal bulan Hijriyah dimulai ketika di wilayah Barat Indonesia elongasi bulan lebih dari 6,4o dan tinggi bulan lebih dari 3o.

 

Batas tanggal kalender Islam yang digunakan adalah Garis Tanggal Internasional seperti yang digunakan pada sistem kalender tunggal usulan Kongres Istanbul 2016. Keberlakuan secara global pada dasarnya mengikuti pendapat fikih keberlakuan wilayatul hukmi (satu wilayah hukum). Artinya sistem itu bisa diterapkan ketika seluruh dunia menyatu dengan satu otoritas tunggal atau otoritas kolektif yang disepakati. Saat ini otoritas tunggal dunia Islam belum ada. Namun, sudah ada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang bisa dijadikan sebagai otoritas kolektif. OKI yang akan menetapkan Kalender Islam Global dengan menggunakan kriteria baru tersebut untuk diberlakukan di seluruh dunia.

 

Kesimpulan

            Untuk penyatuan Kalender Islam Global, diusulkan tiga hal berikut yang tidak terpisahkan:

  1. Kriteria awal bulan adalah elongasi bulan minimal 6,4o dan tinggi bulan minimal 3o pada saat maghrib di Indonesia Barat.

  2. Batas Tanggal Internasional dijadikan sebagai batas tanggal Kalender Islam global.

  3. OKI (Organisasi Kerjasama Islam) menjadi otoritas kolektif dalam menetapkan Kalender Islam Global.

 

Rujukan

Djamaluddin, T., Raharto, M., Khafid, Nurwendaya, C., Setyanto, H., dan Utama, J. A. 2016, Naskah Akademik Usulan Kriteria Astronomis Penentuan Awal Bulan Hijriyah,  https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/04/19/naskah-akademik-usulan-kriteria-astronomis-penentuan-awal-bulan-hijriyah/

Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

Iklan

Hisab Awal Bulan 1439 Hijriyah

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

 

Untuk memperkirakan (bagi pengamal rukyat — pengamatan hilal) atau menentukan (bagi pengamal hisab — perhitungan posisi bulan) berikut ini ditampilkan garis tanggal awal-awal bulan 1439 Hijriyah dengan menggunakan aplikasi Accurate Hijri Calculator  (AHC) yang dikembangkan Abdul Ro’uf dari alumni Fisika Universitas Brawijawa.

Kriteria yang digunakan adalah kriteria tinggi bulan 2 derajat yang diasa digunakan Kementerian Agama RI dan Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (Kriteria LAPAN (2010) ). 

Muharram 1439

Hijau : Kriteria Ode, Biru : Kriteria 2 derajat, Putih : Kriteria Wujudul Hilal

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

 

Kondisi bulan saat maghrib 20 September 2017 di wilayah Indonesia : bulan telah wujud dan tingginya lebih dari 2 derajat. Maka, 1 Muharram 1439 jatuh pada 21 September 2017. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 20 September, sehingga 1 Muharram 1439 jatuh pada 22 September 2017.

 

Shafar 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 20 Oktober 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat dan telah memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Shafar 1439 jatuh pada 21 Oktober 2017.

 

Rabbiul Awal 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 18 November 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rabbiul Awal 1439 jatuh pada 20 November 2017.

 

Rabbiul Akhir 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 18 Desember 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rabbiul Akhir 1439 jatuh pada 20 Desember 2017.

 

Jumadil Awal 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 17 Januari 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Jumadil Awal 1439 jatuh pada 18 Januari 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 17 Januari 2018, sehingga 1 Jumadil Awal 1439 jatuh pada 19 Januari 2018.

 

Jumadil Akhir 1439

Jumadil Akhir1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Jumadil Akhir 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 16 Februari 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Jumadil Akhir 1439 jatuh pada 17 Februari 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 16 Februari 2018, sehingga 1 Jumadil Akhir 1439 jatuh pada 18 Februari 2018.

 

Rajab 1439

Rajab-1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Rajab-1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 17 Maret 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rajab 1439 jatuh pada 19 Maret 2018.

 

Sya’ban 1439

Sya-ban 1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Sya-ban 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 16 April 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Sya’ban 1439 jatuh pada 17 April 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 16 April 2018, sehingga 1 Sya’ban 1439 jatuh pada 18 April 2018.

 

Ramadhan 1439

Ramadhan 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Ramadhan 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 15 Mei 2018 di wilayah Indonesia: bulan  masih di bawah ufuk, berarti juga tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Ramadhan 1439 jatuh pada 17 Mei 2018.

 

Syawal 1439

Syawal 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Syawal 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 14 Juni 2018 di wilayah Indonesia: bulan  sudah di bawah ufuk dan tingginya lebih dari 2 derajat dan juga memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Syawal 1439 jatuh pada 15 Juni 2018.

 

Dzulqa’dah 1439

Dzulqa-dah 1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Dzulqa-dah 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 13 Juli 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Dzuqa’dah 1439 jatuh pada 14 Juli 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 13 Juli 2018, sehingga 1 Dzulqa’dah 1439 jatuh pada 15 Juli 2018.

 

Dzulhijjah 1439

Dzulhijjah 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Dzulhijjah 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 11 Agustus 2018 di wilayah Indonesia: bulan  masih di bawah ufuk, berarti juga tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Dzulhijjah 1439 jatuh pada 13 Agustus 2018.

 

Kalender 1439 H

Benarkah Waktu Shubuh di Indonesia Terlalu Cepat?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

https://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/04/fajar.jpg?w=468

Wacana tentang waktu shubuh kembali mewarnai media massa dan media sosial. Beberapa tahun lalu, wacana itu sudah muncul tetapi pemicunya karena interpretasi bahwa waktu shubuh mestinya saat fajar mulai menguning. Namun saat ini muncul lagi dengan beralasan dari hasil penelitian pengukuran cahaya langit. Benarkah waktu shubuh terlalu cepat? Untuk menentramkan ummat, saya jawab “Tidak benar, waktu shubuh di Indonesia sudah benar”. Berikut ini alasan saya:

1.  Waktu shubuh adalah saat fajar shadiq yang pertama, berwarna putih, bukan fajar yang berwarna kuning

Dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari disebutkan, “Rasulullah SAW shalat shubuh saat kelam pada akhir malam, kemudian pada kesempatan lain ketika hari mulai terang. Setelah itu shalat tetap dilakukan pada waktu gelap sampai beliau wafat, tidak pernah lagi pada waktu mulai terang.” (HR Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad yang shahih). Lebih lanjut hadits dari Aisyah, “Perempuan-perempuan mukmin ikut melakukan shalat fajar (shubuh) bersama Nabi SAW dengan menyelubungi badan mereka dengan kain. Setelah shalat mereka kembali ke rumah tanpa dikenal siapapun karena masih gelap.” (HR Jamaah). Itu menunjukkan bahwa waktu shubuh memang masih gelap, tetapi fajar sudah tampak di ufuk timur. Warnanya masih putih lembut.

Seperti apa perubahan warna fajar? Saya sudah memotretnya dari pesawat terbang, dari atas awan. Ini foto-fotonya.

 

2. Fajar di Indonesia wajar lebih awal, karena atmosfer ekuator lebih tinggi

Waktu shubuh sesungguhnya termasuk fajar astronomi, saat cahaya bintang-bintang mulai meredup karena munculnya hamburan cahaya di ufuk Timur. Per definisi, fajar astronomi terjadi saat matahari berada pada posisi -18 derajat. Namun itu rata-rata. Fajar itu terjadi karena hamburan cahaya matahari oleh atmosfer atas. Di wilayah ekuator, atmosfernya lebih tinggi dari daerah lain, sehingga wajar bila fajar terjadi ketika posisi matahari -20 derajat. Penjelasan rincinya bisa di baca di sini.

 

3. Waktu shubuh semestinya diukur dalam kondisi langit cerah dan bebas polusi cahaya

Belakangan ini ada laporan penelitian yang mengklaim waktu shubuh terlalu cepat. Menurut klaim itu, mestinya saat posisi matahari agak tinggi dari kriteria yang digunakan Kementerian Agama (-20 derajat). Salah satu hasil penelitian menyatakan fajar terjadi pada posisi matahari -13 derajat. Benarkah? Penelitian waktu shubuh yang objektif memang harus menggunakan alat ukur cahaya langit. Metode yang biasa digunakan adalah dengan teknik fotometri (pengukuran kuat cahaya). Bisa dengan analisis fotometri citra ufuk timur. Bisa pula dengan alat ukur cahaya langit, misalnya SQM (Sky Quality Meter). Namun persyaratan teknik fotometri ini, langit harus benar-benar bersih dari awan, polusi udara, dan polusi cahaya. Fajar ditandai ketika cahaya mulai muncul, artinya intensitas cahaya langit mulai meningkat.

Awan tipis dan polusi udara bisa menghalangi cahaya fajar di ufuk Timur, sehingga fajar astronomi yang putih tipis tidak tampak. Fajar yang agak kuning akan tampak saat matahari mulai meninggi. Polusi cahaya juga sangat menggangu pengamatan fajar. Pengukuran fajar dengan SQM dari tengah kota dengan polusi cahaya yang cukup kuat bisa mengecoh, sehingga menyimpulkan fajar yang lebih lambat. Berikut ini ilustrasinya.

Kurva skematik cahaya langit (warna merah) menunjukkan kondisi hasil pengukuran waktu fajar:

  • Dalam kondisi langit cerah tanpa polusi cahaya (misalnya di daerah yang jauh dari lampu-lampu kota), waktu shubuh lebih awal. Misalnya pukul 04.30
  • Dalam kondisi langit terpolusi cahaya sedang (garis hijau), waktu fajar yang terdeteksi lebih lambat. Misalnya pukul 04.40.
  • Dalam kondisi langit terpolusi cahaya parah (garis kuing), waktu fajar yang terdeteksi lebih lambat lagi. Misalnya pukul 04.50.

 

 

Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementeria Agama

[Ini naskah asli tulisan yang dimuat di Republika 22 Mei 2017]

Setelah beberapa tahun lalu ummat Islam Indonesia mengalami beberapa kali perbedaan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, kini selama delapan tahun sampai 1442 H/2021 M akan merasakan keseragaman. Bukan karena telah tercapai persatuan umat secara hakiki, tetapi karena posisi bulan yang memungkinkan keputusan pemerintah dan ormas-ormas Islam bersepakat. Selama ini sumber perbedaan bukan karena perbedaan antara hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama). Penyebab utamanya adalah perbedaan kriteria awal bulan.

Kriteria awal bulan adalah batasan ketinggian bulan dan parameter lainnya pada saat maghrib 29 bulan qamariyah (seperti Sya’ban) yang menjadi petunjuk bahwa hilal sudah dianggap dapat diamati atau menjadi pertanda masuknya awal bulan (seperti Ramadhan). Dua kriteria utama yang digunakan adalah kriteria Wujudul Hilal dan imkan rukyat (kemungkinan rukyat) ketinggian bulan 2 derajat. Kriteria Wujudul Hilal digunakan oleh Muhammadiyah, yaitu bulan dianggap telah di atas ufuk ketika bulan terbenam lebih lambat daripada matahari. Kriteria imkan rukyat 2 derajat digunakan oleh Pemerintah yang merupakan hasil kesepakatan ormas-ormas Islam (termasuk NU).

Ketika posisi bulan berada pada ketinggian antara 0 (wujudul hilal) dan 2 derajat sudah pasti terjadi perbedaan, seperti saat penentuan Idul Fitri 1432 M/2011 M. Pada kasus seperti itu, Muhammadiyah yang menggunakan kriteria Wujudul Hilal mengumumkan keesokan harinya sudah memasuki Idul Fitri. Tetapi pemerintah dan beberapa ormas Islam lainnya memutuskan Idul Fitri pada hari berikutnya. Perbedaan seperti itu menimbulkan ketidaknyamanan di masyarakat.

Pada saat “masa tenang” sampai 1442 H/2021 M Kementerian Agama bersama pakar-pakar hisab rukyat dari berbagai Ormas Islam dan lembaga astronomi terus berupaya untuk mencari titik temu. Menteri Agama telah menjalin komunikasi dengan ormas-ormas Islam, terutama Muhammadiyah dan NU, untuk mengupayakan titik temu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun membentuk Tim Pakar Astronomi untuk merumuskan kriteria baru yang diarahkan untuk memberi solusi perbedaan kriteria, sebagai implementasi rekomendasi dalam Fatwa MUI Nomor 2 tahun 2004. Adakah hasilnya? Ada indikasi rumusan baru kriteria akan memberi solusi. Penyatuan kalender Islam nasional selangkah lagi, bahkan bisa diperluas untuk tingkat regional (ASEAN) dan global.

 

Kriteria Baru

Tim pakar astronomi dari LAPAN, ITB, BIG, Planetarium, dan UPI yang dibentuk oleh MUI Agustus 2015 lalu telah mengkaji data astronomi kesaksian hilal secara global. Tim berpendapat kriteria Wujudul Hilal dan kriteria ketinggian 2 derajat tidak sesuai dengan data astronomis. Jadi perlu diganti dengan kriteria baru yang didasarkan pada data sahih astronomis. Kriteria baru juga harus memperhatikan ketentuan syar’i (ketentuan agama Islam), yaitu awal bulan dimulai bila saat maghrib bulan telah memungkinkan bisa dirukyat.

Data astronomi menunjukkan bahwa ketampakan hilal secara global tidak mungkin ketika posisi bulan terlalu dekat dengan matahari, karena hilal masih terlalu tipis. Batas minimal jarak bulan-matahari berdasarkan data astronomi adalah 6,4 derajat. Analisis data astronomi posisi bulan menunjukkan juga bahwa bila jarak bulan-matahari kurang dari 6,4 derajat, pada saat maghrib umumnya masih berada di bawah ufuk. Data kesaksian hilal global juga menunjukkan bahwa tidak ada kesaksian hilal bila beda tinggi bulan-matahari kurang dari 4 derajat. Hal ini beralasan, karena bila terlalu dekat dengan ufuk, cahaya senja masih cukup terang sehingga akan mengganggu ketampakan hilal.

Atas dasar analisis data astronomi tersebut, diusulkan kriteria baru: jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat dan beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat. Kriteria itu adalah batas minimal agar hilal cukup tebal untuk mengalahkan gangguan cahaya senja. Sayangnya, kriteria belum bisa ditetapkan oleh MUI pada saat Munas 2015 di Surabaya. Padahal kalau kriteria itu ditetapkan akan menyempurnakan fatwa MUI Nomor 2 tahun 2004 sehingga bisa menjadi menjadi pedoman bersama pemerintah dan ormas-ormas Islam.

Upaya lain yang dilakukan oleh Kementerian Agama adalah menindaklanjuti keinginan forum negara-negara MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) untuk mengubah kriteria lamanya. Kriteria lama MABIMS adalah tinggi bulan minimal 2 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 3 derajat atau umur bulan minimal 8 jam. Kriteria MABIMS tersebut yang juga menjadi rujukan pemerintah sampai saat ini.

Pada pertemuan teknis MABIMS pada Agustus 2016 akhirnya dirumuskan usulan perubahan kriteria MABIMS. Usulan kriteria baru MABIMS tersebut adalah tinggi bulan minimal 3 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat. Usulan kriteria tersebut pada dasarnya identik dengan dengan usulan kriteria Tim Pakar Astronomi tersebut di atas. Karena ketinggian matahari saat terbenam adalah minus 50 menit, maka dengan beda tinggi bulan-matahari 4 derajat identik dengan tinggi bulan 3 derajat 10 menit yang dibulatkan menjadi 3 derajat.

Jadi, usulan kriteria baru untuk diterapkan secara nasional Indonesia dan regional di negara-negara MABIMS adalah jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat dan ketinggian bulan minimal 3 derajat.

 

Penyatuan Kalender

Suatu sistem kalender dibangun atas dasar kesepakatan dengan tiga syarat: ada otoritas tunggal yang menjaganya, ada kriteria yang disepakati, dan ada batas wilayah keberlakuanya. Tiga syarat itu berlaku juga berlaku pada sistem kalender Masehi yang saat ini menjadi kalender internasional. Otoritas awal kalender Masehi adalah Paus di Roma. Kriteria yang digunakan adalah kriteria Gregorius, yaitu adanya tahun kabisat setiap 4 tahun yang angkanya kelipatan 4, kecuali pada tahun yang kelipatan 100, seperti 1700, 1800, dan 1900.

Kalender Islam pun kalau ingin menjadi kalender yang mapan harus memenuhi tiga syarat tersebut. Saat ini otoritas tunggal belum terwujud. Di tingkat nasional pemerintah belum menjadi otoritas tunggal, masih ada otoritas pimpinan ormas Islam. Kriteria pun belum tunggal, setidaknya saat ini ada kriteria wujudul hilal dan kriteria ketinggian 2 derajat. Untungnya batas wilayah sudah disepakati, yaitu seluruh wilayah Indonesia dianggap sebagai satu wilayah yang utuh.

Bagaimana mewujudkan kalender Islam yang mapan? Kita mulai dari tingkat nasional. Semua pihak, terutama ormas-ormas Islam, harus menyatukan tekad menentukan otoritas tunggal nasional. Posisi yang tepat untuk otoritas tunggal adalah Pemerintah. Dengan otoritas nasional adalah Pemerintah, itu juga memudahkan dalam menentukan otoritas di tinggat regional yang saat ini lebih tepat diserahkan kepada otoritas kolektif forum MABIMS. Untuk tingkat global, otoritas global juga berupa otoritas kolektif antar-pemerintah dalam wadah OKI (Organisasi Kerjasama Islam).

Kriteria yang sudah disepakati oleh pertemuan teknis MABIMS bisa dijadikan sebagai kriteria nasional dengan kesepakatan seluruh ormas Islam dan diperkuat dengan fatwa MUI yang memperkuat fatwa nomor 2 tahun 2004. Kriteria nasional menjadi rujukan Menteri Agama sebagai wakil Pemerintah untuk menetapkan kalender Islam, termasuk dalam penetapan (itsbat) awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Adopsi kriteria tersebut, sekaligus bisa ditindaklanjuti untuk menetapkan kriteria baru MABIMS di tingkat regional. Dalam hal ini, batas wilayah di tingkat regional adalah seluruh wilayah Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Kriteria MABIMS tersebut juga diusulkan untuk diterima menjadi kriteria global, menyempurnakan kriteria hasil Kongres Kalender Islam Internasional di Turki Juni 2016. Kriteria Kongres Turki adalah tinggi bulan minimal 5 derajat dan jarak bulan-matahari 8 derajat. Kriteria itu bisa diberlakukan di mana pun di dunia selama waktu di Selandia Baru belum terbit fajar. Tetapi kriteria Turki tersebut akan sulit diterima, karena pada saat kriteria tersebut terpenuhi di benua Amerika, posisi bulan di wilayah Asia Tenggara masih berada di bawah ufuk.

Bila menggunakan kriteria baru MABIMS dengan rujukan wilayah (markaz) Indonesia sebagai negara MABIMS yang merentang paling Barat, maka bulan di wilayah paling Timur (Samoa) secara umum sudah di atas ufuk. Kondisi seperti itu sejalan juga dengan kalender Islam global yang diusulkan Muhammadiyah dengan kriteria Wujudul Hilal global. Jadi, kriteria baru juga sekaligus mempersatukan ormas-ormas Islam yang sebelumnya berbeda kriteria, karena kriteria baru juga sekaligus mengakomodasi para pengamal rukyat karena didasarkan pada data-data rukyat yang sahih dan bisa dijadikan sebagai rujukan kegiatan rukyat.

Batas tanggal kalender Islam global bisa merujuk hasil kongres Turki yang mengusulkan kalender Islam global menggunakan batas tanggal internasional. Penggunaan batas tanggal internasional akan menjamin kesamaan hari untuk tanggal kalender Islam yang sama. Misalnya, 1 Ramadhan 1438 di Indonesia jatuh pada Sabtu, maka diseluruh dunia juga jatuhnya pada Sabtu.

Jadi rumusan kalender Islam nasional, regional, dan global menggunakan tiga syarat: (1) otoritas tunggal pemerintah (tingkat nasional), MABIMS (regional), dan OKI (global), (2) kriteria jarak bulan-matahari 6,4 derajat dan tinggi bulan 4 derajat, (3) batas tanggal kalender Islam sama dengan batas tanggal internasional.

Khutbah Jumat: Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

 

Khutbah Jumat di Masjid Salman ITB, 19 Mei 2017

Baca juga Catatan tentang Hisab Rukyat dan Kalender Global  (Bagian 1 dan Bagian 2) .

Catatan tentang Hisab Rukyat dan Kalender Islam (Bagian 2 dari 2)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

(Catatan ini dibuat untuk WA Group, ditulis menjelang Ramadhan 1438)

Menyambut Ramadhan, sebagian ummat Islam kembali ingat soal hisab rukyat terkait dengan penentuan awal Ramadhan (dan nanti idul fitri). Penentuan awal Ramadhan pada zaman Rasul dengan rukyat. Dalilnya merujuk beberapa hadits terkait perintah puasa Ramadhan dan beridulfitri dengan merujuk hasil rukyat hilal (bulan sabit pertama). Setelah ilmu hisab berkembang, digunakan juga penentuan awal bulan dengan cara hisab, baik secara mandiri maupun dikombinasikan dengan hasil rukyat. Hasil rukyat perlu ditetapkan (itsbat) oleh hakim/Pemerintah. Hasil hisab bisa secara langsung digunakan sebagai penetapan jauh harinya. Hisab memerlukan kriteria awal bulan sebagai batasan masuknya awal bulan Ramadhan.

 

Potensi Seragam Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah

Kriteria hisab (perhitungan astronomis) yg digunakan Pemerintah dan dua ormas besar (NU dan Muhammadiyah) adalah imkan rukyat (kemungkinan teramatinya hilal) 2 derajat dan wujudul hilal (tinggi hilal positif). Analisis paling cepat awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah adalah dengan analisis garis tanggal berbasis kriteria tersebut.

Garis tanggal Ramadhan menunjukkan bahwa secara hisab awal Ramadhan 1438 akan seragam jatuh pada 27 Mei 2017.

Potensi seragam juga akan terjadi pada penentuan 1 Syawal (Idul Fitri) dan 10 Dzulhijjah (Idul Adha). Garis tanggal awal Syawal (👇) pada saat matahari terbenam 24 Juni 2017 menunjukkan bahwa Indonesia berada di sebelah Barat (kiri) garis tanggal Wujudul Hilal dan imkan rukyat 2 derajat. Jadi disimpulkan, secara hisab awal Syawal (Idul Fitri) jatuh pd 25 Juni 2017 menurut dua kriteria tersebut.

Keseragaman juga terjadi pd penentuan awal Dzulhijjah 1438 (👇). Awal Dzulhijjah jatuh pada 23 Agustus 2017, sehingga Idul Adha (10 Dzulhijjah) 1438 jatuh pada 1 September 2017.

Keseragaman seperti itu utk Ramadhan akan terjadi sampai 1442/2021. Demikian juga keseragaman Syawal dan Dzulhijjah akan terjadi sampai 1443/2022.

 

Potensi Perbedaan Awal Ramadhan dan Hari Raya serta Cara Menyikapi

Perberdaan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah seperti terjadi beberapa tahun lalu disebabkan oleh perbedaan penggunaan kriteria. Bukan karena perbedaan penggunaan metode hisab dan rukyat. Sampai saat ini Pemerintah dan NU menggunakan kriteria tinggi hilal 2 derajat, sementara Muhammadiyah menggunakan kriteria Wujudul Hilal (tinggi bulan positif di atas ufuk). Ketika posisi bulan berada di antara 0 – 2 derajat (seperti saat Idul Fitri 1432/2011) pasti terjadi perbedaan. Menurut kriteria Wujudul Hilal sdh dianggap masuk bulan baru, tetapi menurut kriteria imkan rukyat 2 derajat saat itu belum masuk awal bulan.

Alhamdulillah, posisi bulan saat ini di luar rentang 0-2 derajat sampai 1442/2021 untuk awal Ramadhan dan sampai 1443/2022 utk awal Syawal dan Dzulhijjah. Tetapi, ada juga ormas yg menggunakan kriteria lain, yaitu Persis (Persatuan Islam) yg berpotensi berbeda dlm penentuan Idul Fitri 1438/2017. Persis menggunakan kriteria: beda tinggi bulan-matahari 4 derajat (atau tinggi bulan 3 derajat 10′) dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) 6,4 derajat. Kriteria itu didasarkan pada analisis astronomis. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1438/24 Juni 2017 ketinggian bulan sudah lebih dari 3 derajat, tetapi elongasinya kurang dari 6,4 derajat. Garis tanggalnya (👇) menunjukkan di Indonesia bulan belum memenuhi kriteria imkan rukyat astronomis yg digunakannya. Maka di kalender Persis dinyatakan 1 Syawal jatuh pada hari berikutnya, 26 Juni 2017.

Bagaimana menyikapi potensi perbedaan tersebut? Pilihan terbaik adalah mengikuti keputusan Pemerintah untuk mewujudkan persatuan ummat. Pada bagian berikutnya akan dibahas pentingnya otoritas tunggal dalam mewujudkan penyatuan kalender Islam. Untuk skala nasional, otoritas tunggal itu mestinya Pemerintah.

 

Awal Hari pada Kalender Islam

Sebelum membahas konsep kalender Islam pemersatu ummat, perlu difahami dulu awal hari pada kalender Islam. Awal hari ditandai dengan kondisi fisik objek rujukannya. Awal hari pada kalender matahari (syamsiah, solar calendar) didasarkan posisi matahari di titik nadirnya (titik terbawah), yaitu tepat saat tengah malam. Jadi pukul 00.00 tengah malam adalah awal hari pada kalender Masehi atau kalender internasional. Kalender Islam berbasis bulan (qamariyah, lunar calendar). Awal hari dimulai saat maghrib. Alasannya, pergantian hari terkait dg pergantian tanggal awal bulan. Rasul SAW mengajarkan berpuasalah (pada awal Ramadhan) dan berbukalah (pada awal Syawal) dg melihatnya (hilal). Jadi, pergantian tanggal bergantung pada pengamatan hilal (bulan sabit pertama) yg ditentukan saat maghrib.

Kalau hilal terlihat, itulah awal tanggal dan awal hari pada kalender Islam. Konsep awal hari dimulai saat maghrib sudah lazim dikenal masyarakat dengan sebutan “malam Jumat” untuk Kamis malam dan Jumat dini hari. Konsep awal hari berawal dari maghrib berkonsekuensi pada pelaksanan ibadah. Misalnya, shalat tarawih awal Ramadhan dimulai sejak malam terlihatnya hilal (termasuk terlihat menurut kriteria hisab — perhitungan astronomi).

 

Kalender Mapan

Untuk mewujudkan kalender mapan yg mempersatukan dan memberi kepastian diperlukan 3 syarat:
– Ada otoritas tunggal yg menjaganya.
– Ada kriteria tunggal yg disepakati.
– Ada batas wilayah keberlakuannya.

Kalender Masehi yg saat ini jadi kalender internasional dulu pun berbeda-beda. Bahkan hari natal di Roma dan Inggris pada tahun 1790 berbeda 12 hari. Sebabnya, karena ada 2 otoritas dengan kriteria berbeda. Raja di Inggris masih pakai kriteria lama, kriteria Julius. Paus di Roma sdh menggunakan kriteria baru, kriteria Gregorius. Kalender Islam saat ini belum menjadi kalender mapan dan masih berbeda-beda karena 3 syarat tersebut belum terpenuhi. Masing2 ormas (secara nasional) dan masing2 negara punya otoritas sendiri2. Kriterianya pun berbeda-beda. Alhamdulillah di Indonesia batas wilayah sdh disepakati, yaitu seluruh wilayah Indonesia dijadikan satu wilayah hukum (wilayatul hukmi).

Saat ini sedang diupayakan agar ada otoritas tunggal. Di Indonesia, Pemerintah pantas dijadikan sebagai otoritas tunggal nasional utk menjaga kalender Islam. Posisi Pemeritah juga akan memudahkan utk menentukan otoritas regional, yaitu MABIMS (Forum Menteri2 Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Otoritas global diusulkan otoritas kolektif antar-pemerintah dalam wadah OKI (Organisasi Kerjasama Islam). Kriteria baru pun perlu disepakati, menggantikan kriteria Wujudul Hilal dan kriteria tinggi hilal 2 derajat. Dengan kriteria tunggal yg disepakati, perbedaan dapat dihilangkan.

 

Kriteria Baru

Fatwa MUI No.2/2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah merekomendasikan agar MUI mengusahakan kriteria penentuan awal bulan utk jadi pedoman. Rekomendasi tersebut baru ditindaklanjuti Agustus 2015 dg membentuk Tim Pakar Astronomi dari LAPAN, ITB, BIG, Planetarium, dan UPI. Tim Pakar Astronomi mengkaji data kesaksian hilal global dan data hisab posisi bulan jangka panjang. Data tersebut diperlukan untuk menentukan batas minimal ketampakan hilal.

Data astronomi menunjukkan bahwa jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat agar sabit bulan cukup tebal utk bisa dilihat. Data hisab juga menunjukkan jarak bulan-matahari 6,4 derajat menjamin bulan sdh di atas ufuk. Selain itu, data rukyat global juga menunjukkan tdk ada kesaksian hilal bila beda tinggi bulan-matahari kurang dari 4 derajat. Hal itu beralasan, karena hilal yg tipis tdk mungkin mengalahkan cahaya senja yg cukup kuat di dekat ufuk. Dengan sedikit modifikasi, kriteria tersebut diterima dalam pertemuan teknis forum MABIMS (Menteri2 Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) pada Agustus 2016. Karena ketinggian matahari saat terbenam minus 50′, maka kriteria beda tinggi bulan-matahari 4 derajat identik dengan tinggi bulan 3 derajat 10′, dibulatkan 3 derajat. Jadi kriteria baru yg diusulkan untuk penetapan kalender Islam: (1) jarak bulan-matahari (elongasi) minimal 6,4 derajat dan (2) tinggi bulan minimal 3 derajat.

 

Kalender Islam Global Pemersatu Ummat

Konsep kalender global harus memenuhi 3 syarat kalender mapan. Ada otoritas tunggal yg menjaga, ada kriteria yg disepakati, dan ada batas wilayah keberlakuannya. Kalender tersebut juga harus bisa menjadi kalender pemersatu di tingkat nasional dan regional. Kriteria yg dibahas sebelumnya akan digunakan sebagai kriteria baru, menggantikan kriteria lama yg digunakan ormas-ormas Islam. Kriteria tersebut merupakan titik temu pengamal rukyat dan hisab.

Untuk kalender global, kriteria tersebut menggunakan rujukan (markaz) Indonesia dan menggunakan garis batas tanggal internasional. Artinya, kalau awal Ramadhan di Indonesia jatuh pada Sabtu, seluruh dunia juga Sabtu. Kriteria baru dengan Markaz Indonesia mengakomodasi gagasan yg berkembang secara global. Pada saat di Indonesia ketinggian bulan 3 derajat, di Timur Tengah (termasuk Saudi Arabia dan Turki) ketinggian bulan 5 derajat. Itulah kriteria yg diusulkan Turki pada Kongres Kalender Islam Internasional 2016. Dg kriteria itu juga rukyat di Saudi Arabia dapat diterima secara astronomi, sehingga keputusan Saudi Arabia akan sama dengan kalender. Dengan ketinggian 3 derajat di Indonesia, di wilayah paling Timur zona waktu (Samoa), ketinggian bulan secara umum sudah wujud di atas ufuk. Kondisi Wujudul Hilal tsb bisa mengakomodasi gagasan kalender Islam global Muhammadiyah. Otoritas Pemerintah harus kita sepakati bersama utk menjaga kalender Islam. Secara regional ada otoritas kolektif MABIMS. Otoritas global kita manfaatkan OKI (Organisasi Kerjasama Islam).

Jadi, konsep kalender global yg sedang diupayakan: (1) otoritas kolektif OKI yg menjaga kalender, (2) kriteria yg digunakan jarak bulan-matahari (elongasi) minimal 6,4 derajat dan tinggi bulan minimal 3 derajat di wilayah Indonesia, (3) mathla’ (batas wilayah keberlakuan) global dg garis tanggal internasional. Semoga prakarsa baru yg akan diajukan Kementerian Agama tersebut bisa segera direalisasikan mewujudkan kalender Islam global yang mempersatukan ummat.

Catatan tentang Hisab Rukyat dan Kalender Islam (Bagian 1 dari 2)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

(Catatan ini dibuat untuk WA Group, ditulis menjelang Ramadhan 1438)

Menyambut Ramadhan, sebagian ummat Islam kembali ingat soal hisab rukyat terkait dengan penentuan awal Ramadhan (dan nanti idul fitri). Penentuan awal Ramadhan pada zaman Rasul dengan rukyat. Dalilnya merujuk beberapa hadits terkait perintah puasa Ramadhan dan beridulfitri dengan merujuk hasil rukyat hilal (bulan sabit pertama). Setelah ilmu hisab berkembang, digunakan juga penentuan awal bulan dengan cara hisab, baik secara mandiri maupun dikombinasikan dengan hasil rukyat. Hasil rukyat perlu ditetapkan (itsbat) oleh hakim/Pemerintah. Hasil hisab bisa secara langsung digunakan sebagai penetapan jauh harinya. Hisab memerlukan kriteria awal bulan sebagai batasan masuknya awal bulan Ramadhan.

Rukyat

Rasul SAW mengajarkan rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama) sesaat setelah maghrib sebagai penentu awal bulan karena itulah cara paling sederhana dan paling meyakinkan datangnya bulan baru. Menjelang akhir bulan ditandai dg terlihatnya bulan sabit pagi hari (QS 36:39). Setelah itu tdk terlihat apa pun, baik pagi maupun malam. Itu dinamakan bulan mati atau bukan gelap. Setelah itu barulah muncul hilal. Karena itu QS 2:189 mengisyaratkan hilal sbg penentu waktu (awal bulan).

Dulu orang melakukan rukyat hanya dg mata telanjang. Kemudian pengamatan visual dg teleskop utk memperkuat cahaya hilal yg tipis dan redup. Saat ini dibantu dengan kamera digital yg citranya bisa diolah lagi utk meningkatkan kontras antara hilal dan cahaya syafak (senja).

Utk kepentingan ummat, hasil rukyat tdk begitu saja diumumkan. Rasul mengajarkan, pengamat melaporkan kepada Rasul, lalu Rasul memeriksa saksi, setelah diyakini sahih lalu Rasul yg mengumumkan. Contoh Rasul itu kini diikuti dg itsbat (penetapan) oleh oleh Menteri Agama sebagai wakil Pemerintah setelah memeriksa kesahihan kesaksian hilal dg mendengar pertimbangan para ahli hisab rukyat.

Hisab

Hisab (perhitungan astronomis) utk penentuan awal bulan qamariyah sesungguhnya sdh dikenal sejak zaman Nabi. Rasul di dalam hadits pernah menyatakan, “Kami ummat yg ummiy, yg tdk bisa membaca dan menulis. Bulan itu sekian dan sekian (dg memberi isyarat jari yg menunjukkan 29 dan 30 hari)”. Hadits itu bukan menyatakan ketidakpahaman Rasul pd hisab, tetapi justru menunjukkan bahwa hisab sdh dikenal, tetapi masih sangat sederhana.

Hisab diperlukan utk membuat kalender. Umar bin Khattab memelopori kalender Islam dg menetapkan Hijrah Rasul sebagai acuan tahun (disebut Tahun Hijriyah). Kriterianya mengunakan kriteria sederhana yg dikenal pd zaman Nabi. Kriterianya dikenal sebagai kriteria hisab urfi (kebiasaan, periodik), yaitu jumlah hari setiap bulan berganti-ganti: 29 dan 30. Muharram 29 hari, Shafar 30 hari, Rabbiul Awal 29, Rabbiul Akhir 30 hari, dan seterusnya. Ramadhan selalu 29 hari.

Dzulhijjah mestinya 30 hari, tetapi saat2 tertentu 29 hari utk penyesuaian dg hasil rukyat. Kriteria itu perkembangan lanjut, bahwa dalam 30 tahun, 19 tahun panjang (Dzulhijjah 30 hari) dan 11 tahun pendek (Dzulhijjah 29 hari). Secara astronomis, itu beralasan karena satu bulan rata2 (dari hasil rukyat) adalah 29,53 hari.

Perkembangan Rukyat

Rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama) awalnya hanya menggunakan mata telanjang. Pada tanggal 29 bulan qamariyah (lunar calendar) rukyat dilakukan dg mencari keberadaan hilal di sekitar titik terbenamnya matahari.

Bentuk hilal itu sangat tipis. Lingkungannya mengarah ke arah matahari, karena hilal adalah bagian bulan yg tercahayai matahari. Bagian ujung (“tanduk”) lebih tipis dari bagian tengahnya, seringkali tidak terlihat. Jadi, hilal bisa jadi tampak hanya seperti goresan cahaya yg sangat tipis. Sangat sulit dilihat, apalagi oleh pemula.

Dengan perkembangan ilmu hisab (perhitungan astronomi), perukyat dibantu dengan hasil hisab. Dibuatlah “gawang lokasi” berupa penanda dari dua batang kayu atau logam utk memfokuskan pengamat pada posisi hilal.

Perkembangan teleskop (dan binokuler) membantu perukyat untuk mengenali hilal lebih baik lagi. Fungsi teleskop hanya mengumpulkan cahaya hilal yg redup. Masalahnya, cahaya senja (syafak) juga diperkuat. Jadi, dengan teleskop masalah kontras antar hilal dan cahaya syafak tdk dapat diatasi.

Perkembangan teknologi kamera digital (dan CCD) serta teknologi pengolah citra (image prosesing) berbasis komputer makin mempermudah pengamatan. Apalagi teleskopnya kini banyak yg sdh dilengkapi komputer utk memudahkan mengarahkan ke posisi hilal.

Kamera digital dan perangkat lunak pengolah citra bisa mempercepat menemukan hilal karena kontras hilal bisa sedikit ditingkatkan. Tetapi, masalah cahaya senja sebagai penggangu pengamatan hilal tdk bisa dihilangkan. Penggunaan filter tdk efektif utk meningkatkan kontras hilal karena sumber cahaya hilal dan cahaya syafak sama2 dari matahari dg cahaya dominan merah dan inframerah.

Masalah rukyat hilal yg utama adalah masalah kontras antara cahaya hilal yg tipis dan cahaya syafak yg masih cukup kuat di ufuk.

Perkembangan Ilmu Hisab

Ilmu hisab (perhitungan astronomis) penentuan awal bulan Hijriyah sesungguhnya menyertai perkembangan rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama). Ilmu hisab dikembangkan dari analisis empirik data pengamatan jangka panjang, lalu diformulasikan utk prakiraan datangnya awal bukan masa yg akan datang.

Rasul SAW juga juga faham ilmu hisab, tetapi masih sangat sederhana. Dalam hadits, Rasul menyebut “… satu bulan itu sekian dan sekian (dengan memberi isyarat jari: 29 dan 30 hari). Itulah hisab awal yg digunakan oleh Umar bin Khattab ketika menetapkan kalender Hijriyah. Hisab generasi awal itu disebut hisab urfi.

Hisab urfi hanya menghitung siklus berulang 29 dan 30 hari. Muharram 29 hari, Shafar 30 hari, Rabbiul Awal 29 hari, Rabbiul Akhir 30 hari, Jumadil Ula 29 hari, Jamadal Akhirah 30 hari, Rajab 29 hari, Sya’ban 30 hari, Ramadhan 29 hari, Syawal 30 hari, Dzulqaidah 29 hari, dan Dzulhijjah 30 hari (utk tahun panjang) atau 29 hari (utk tahun pendek). Dzulhijjah dapat dikatakan sebagai bulan koreksi agar hisab kalender tdk jauh berbeda dg hasil rukyat.

Kemudian ilmu hisab mulai bisa menentukan waktu ijtimak (bulan baru, new moon, saat bulan-matahari segaris bujur, bulan mulai melewati matahari). Sejak itu awal bulan ditentukan dengan kriteria ijtimak qoblal ghurub (ijtimak sebelum maghrib). Artinya, bila ijtimak terjadi sebelum maghrib, sejak itu sdh memasuki bulan baru.

Perkembangan selanjutnya, ilmu hisab sudah dapat menentukan posisi matahari dan bulan serta saat terbenamnya. Pendekatan paling sederhana adalah menggunakan kriteria Wujudul Hilal. Kriteria WH pd awalnya didefinisikan bila bulan terbenam lebih lambat daripada matahari, maka bulan dianggap sdh wujud saat maghrib. Jadi, setelah hilal dianggap wujud, sejak saat itu awal bulan dimulai.

Hisab yg lebih kompleks mempertimbangkan posisi bulan (terutama ketinggian dan jarak sudut bulan-matahari) yg memungkinkan bulan dapat dirukyat. Itulah yg dinamakan kriteria imkan rukyat (kemungkinan bisa dirukyat) atau visibilitas hilal.

Ada beragam kriteria imkan rukyat. Saat ini kriteria imkan rukyat yg digunakan di Indonesia adalah tinggi bulan minimal 2, jarak sudut bulan-matahari minimal 3 derajat, dan umur bulan (sejak ijtimak sampai maghrib) minimal 8 jam. Tetapi kriteria ini saat ini segera disempurnakan.

Penentuan Awal Bulan

Dengan hisab, penentuan awal bulan qamariyah (lunar calender) dapat dilakukan jauh-jauh hari. Aplikasi astronomi mudah diperoleh, baik bersifat komersial maupun gratis. Aplikasi gratis yg bisa diunduh di internet antara lain Stellarium dan Accurate Time (silakan googling).

Hisab menentukan posisi bulan (ketinggian dan elongasi –jarak sudut bulan-matahari–) saat matahari terbenam. Hisab dilakukan utk masing2 lokasi, misalnya utk Bandung, Aceh, atau tempat lainnya.

Dengan data tersebut lalu diputuskan secara hisab jatuhnya awal bulan berdasarkan kriteria yg digunakan. Misalnya, pada akhir 29 Sya’ban 1438 (maghrib 26 Mei 2017, gambar terlampir 👇) tinggi bulan utk lokasi Bandung 8 derajat 5′ 2″ dan elongasi 9 derajat 7′ 15″.
Kesimpulannya:
– Karena ketinggian sdh positif, berdasarkan kriteria Wujudul Hilal awal Ramadhan jatuh keesokan harinya (sejak maghrib malam Sabtu) 27 Mei 2017.
– Karena sdh cukup tinggi, berdasarkan kriteria 2 derajat, awal Ramadhan 1438 jatuh pada 27 Mei 2017 (sejak maghrib malam Sabtu).

Dengan program komputer bisa juga dibuat garis tanggal, yaitu di sebelah Barat garis tanggal bulan sdh memenuhi kriteria. Misalnya Garis Tanggal Awal Ramadhan 1438 utk waktu maghrib 26 Mei 2017 (lihat gambar terlampir 👇):
– Garis Tanggal Wujudul Hilal antara arsir merah dan putih.
– Garis Tanggal Kriteria tinggi 2 derajat antara arsir putih dan biru.
Terlihat posisi Indonesia berada di sebelah Barat (kiri) garis2 tanggal tersebut. Artinya, baik kriteria Wujudul Hilal maupun Imkan Rukyat 2 derajat sama2 menyimpulkan awal Ramadhan 1438 jatuh pada tanggal 27 Mei 2017.

Untuk pengamal rukyat, keputusan masih menunggu hasil sidang itsbat pada 26 Mei 2017 selepas maghrib.