Gerhana Bulan Total Buktikan Bumi Bulat: Bantahan Telak Dongeng Bumi Datar – FE

Gerhana Bulan Total, saat purnama memasuki bayangan bumi (dari situs NASA)

 

T. Djamaluddin

LAPAN

 

Gerhana bulan, seperti yang terjadi pada 31 Januari 2018, membuktikan bahwa bumi bulat. Bayangan gelap yang jatuh pada purnama, adalah bayangan bumi. Bayangan gelap pada proses gerhana berbentuk melengkung yang mengindikasikan bulatnya bumi. Skematik astronomis menjelaskan kejadian gerhana bulan terjadi akibat bulan memasuki bayangan bumi. Bayangan bumi terjadi karena cahaya matahari terhalang oleh bumi.

Skematik (tidak sesuai skala) terjadinya gerhana bulan (dari situs NASA)

Kejadian gerhana juga bisa diprakirakan dengan baik waktu dan prosesnya. Hal itu didasarkan pada model saintifik sistem bumi-bulan-matahari. Bulan mengitari bumi. Bumi bersama bulan mengitari matahari. Cahaya purnama disebabkan oleh pantulan cahaya matahari. Namun pada saat tertentu, bulan memasuki bayangan bumi ketika matahari-bumi-bulan dalam posisi segaris. Saat itulah terjadinya gerhana yang bisa kita amati.

Para penggemar dongeng bumi datar (FE: Flat Earth) tidak bisa menjelaskan fenomena gerhana bulan secara logis. Waktu kejadian gerhana dan prosesnya tidak bisa mereka jelaskan, karena dongeng bumi datar tidak menggunakan sains, walau mereka mengklaim melakukan kegiatan yang mereka sebut “penelitian”.  Kejadian gerhana bulan adalah pukulan telak yang membantah dongeng bumi datar.

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/

 

Super-Blue-Blood-Moon: Gerhana Bulan Total Istimewa 31 Januari 2018

Skematik Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 (Dari situs NASA)

U1: Saat purnama menyentuh umbra (bayangan  bumi) (awal proses gerhana) pukul 18:48 WIB, U2: Saat purnama sepenuhnya masuk ke umbra (awal gerhana bulan total) pukul 19.52 WIB, U3: Saat purnama menjelang keluar dari umbra (akhir gerhana bulan total) pukul 21.08 WIB, U4: Saat purnama lepas dari umbra (akhir proses gerhana) pukul 22.11 WIB.

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Gerhana bulan total 31 Januari 2018 akan terlihat di seluruh Indonesia. Proses gerhana mulai pukul 18:48 WIB. Gerhana bulan total pukul 19.52-21:08 WIB. Proses gerhana berakhir pukul 22:11 WIB. Ummat Islam dapat melaksanakan shalat gerhana seusai shalat isya.

Prosesnya, mulai pukul 18:48 WIB bagian bawah (sisi Timur) purnama mulai tergelapi oleh bayangan bumi. Kemudian pukul 19.52 sampai 21:08 bulan menjadi gelap kemerahan saat seluruh purnama masuk ke bayangan inti bumi. Warna merah disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Setelah itu secara perlahan cahaya purnama mulai tampak dari bagian kanan bawah (Timur). Dan proses gerhana berakhir pada pukul 22:11 WIB.

Gerhana kali ini menarik perhatian publik karena sebutannya:
– Disebut Supermoon karena jarak bulan masih terdekat dengan bumi. Sehingga purnama dan gerhana tampak lebih besar dari biasanya.
– Disebut Blue moon karena ini purnama kedua pada bulan Januari, setelah 1 Januari lalu.
– Gerhana bulan total juga sering disebut Blood Moon karena saat gerhana total bulan tampak merah darah.
Jadi gerhana bulan pada 31 Januari 2018 boleh disebut Super-Blue-Blood-Moon.

Hujan Meteor Quadrantids Terdeteksi dengan Radar Meteor LAPAN

Radar Meteor di LAPAN Agam (Sumatera Barat)

Radar Meteor di LAPAN Biak (Papua)

LAPAN bekerjasama dengan Universitas Kyoto, Jepang, mengoperasikan radar meteor (Meteor Wind Radar) di LAPAN Agam (Sumatera Barat) dan LAPAN Biak (Papua). Tujuan utamanya adalah untuk penelitian angin di atmosfer atas, pada ketinggian 70-110 km. Namun radar meteor bisa juga digunakan untuk penelitian fluks meteor (jumlah meteor per jam).

Meteor adalah batuan atau debu antariksa yang memasuki atmosfer bumi dan terbakar pada ketinggian 70-110 km. Pada saat tertentu, bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet sehingga debu-debunya memasuki atmosfer bumi dan terbakar dalam jumlah yang banyak. Saat itulah pengamat bisa menyaksikan hujan meteor dengan jumlah puluhan sampai ratusan meteor per jam. Jumlah ratusan meteor per jam biasanya disebut badai meteor, pada saat tertentu setelah komet induknya melintas dekat bumi. Hujan meteor diberi nama sesuai dengan rasi bintang tempat meteor tampak terpancar. Titik itulah, yang disebut radian, adalah titik persinggungan atmosfer bumi dengan gugusan debu komet.

Ada tiga hujan meteor yang tergolong kuat dengan jumlah puluhan meteor per jam: Quadrantids (puncaknya pada 3 Januari), Perseids (puncaknya 12 Agustus), dan Geminids (puncaknya 14 Desember). Berikut ini contoh hujan meteor Quadrantids yang terekam oleh radar meteor Agam pada 2-3 Januari 2017. Karena hujan meteor adalah fenomena tahunan, kejadian setiap tahun secara umum hampir sama.

Fluks meteor pada dini hari 3 Januari 2017, terdeteksi oleh Radar Meteor LAPAN Agam

Pada diagram “Meteor Fluks” tampak jumlah meteor per jam meningkat mulai pukul 20.00 UT (Universal Time) atau pukul 03.00 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 22.00 UT (05.00 WIB) dengan jumlah meteor sekitar 400 meteor/jam. Waktu tersebut bersesuaian dengan mulai terbitnya radian (titik pancar) meteor Quadrantids di sekitar rasi Bootes sampai meninggi di arah Utara. Pada diagram “Angular Distribution” terlihat sebaran sumber meteor paling banyak dari belahan Utara (belahan lingkaran atas). Pada diagram “Height Distrubution” terlihat sebagian besar meteor terbakar pada ketinggian sekitar 90 km. Pada dini hari yang cerah meteor itu tampak seperti bintang yang bergerak cepat, yaitu saat debu-debu itu terbakar sampai habis. Hanya dalam waktu beberapa detik saja.

Berikut adalah data fluks meteor sejak 31 Desember 2016 sampai 5 Januari 2017 dari radar meteor LAPAN Agam.

Berikut adalah data fluks meteor sejak 2-3 Januari 2018 dari radar meteor LAPAN Biak.

Quadrantids - MWR Biak - 3 Jan

Pada rangkaian data 31 Desember 2016 – 5 Januari 2017, terlihat hujan meteor di mulai pada 31 Desember 2016 sampai 4 Januari 2017 sekitar pukul 00.00 UT (07.00 WIB). Kemudian pada 5 Januari hujan meteor mulai menghilang. Pada kejadian hujan meteor Quadrantids 2018, tampak pula peningkatan fluks meteor sekitar pukul 20.00 UT (05.00 WIT).

Petisi Komunitas Dongeng “Bumi Datar (Flat Earth, FE)”

Komunitas Dongeng “Bumi Datar (Flat Earth, FE)” mempetisi Kepala LAPAN. Ini tanggapan saya:
Sumber utama “Dongeng Bumi Datar” (Flat Earth, FE) adalah ketidakfahaman akan gravitasi. Konsekuensi adanya gravitasi adalah bulatnya bumi (karena gravitasi dirinya saat pembentukan tata surya), adanya planet-planet yang mengorbit matahari, adanya bulan dan satelit yang mengorbit bumi, terjaganya air laut dan seisi bumi tetap berada di permukaan bumi, terjaganya atmosfer sehingga manusia bisa bernafas dan pesawat bisa terbang dengan gaya aerodinamis, dan … sekian banyak lagi fenomena yang menarik untuk kita pelajari. Ayo belajar fisika agar tidak tertipu dengan dongeng bumi datar (FE).

Tanggapan lengkap ada di blog ini.

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/

Refleksi Capaian LAPAN 2016-2017

LAPAN terus berupaya meningkatkan kinerjanya dalam mewujudkan visi sebagai sebagai “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri”. Kami membenahi tatakelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama ( 1-Bank Data Penginderaan Jauh Nasional, 2-Sistem Pemantau Bumi Nasional, 3-Teknologi Satelit, 4-Teknologi Aeronotika, 5-teknologi Roket, 6-Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan 7-Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa). Refleksi capaian LAPAN sebelumnya (2015) bisa di baca di sini. Refleksi capaian 2016 – 2017 merupakan apresiasi kepada semua pegawai LAPAN untuk membangun kepercayaan diri dan semangat kerja, tanpa melupakan hal-hal yang masih harus dibenahi.

 

Capaian Pembenahan Tata Kelola

1. Layanan yang paling dirasakan secara langsung oleh publik adalah situs LAPAN www.lapan.go.id. Webometrik menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembenahan layanan situs web tersebut. Peringkat situs lembaga riset secara nasional, naik dari peringkat 5 (2016) menjadi peringkat 4 (2017).

2. Indeks Reformasi Birokrasi naik dari  68,43 yang diterima pada 2016 menjadi 72,66 (“BB”) yang diterima pada 2017 . Demikian juga penilaian  Akuntabilitas Instansi Pemerintah (AKIP) naik dari “B” (2016) menjadi “BB” (2017).

3. Menjadi Juara I Kearsipan (2017) untuk kategori Lembaga Negara dan LPNK, naik dari peringkat 5 dari tahun 2016

4. Untuk meningkatkan layanan, maka LAPAN mengupayakan untuk memenuhi standar yang berlaku secara internasional. Untuk itu diupayakan standar ISO untuk fasilitas dan layanan LAPAN.

a. Pada September 2016 diperoleh ISO 9001:2015 untuk layanan informasi dan dokumentasi publik.

b. Pada Oktober 2016 diperoleh ISO/IEC 20000-1:2011 untuk Sistem Manajemen Layanan IT dan ISO/IEC 27001:2013 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi terkait layanan email, pusat data, dan LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik).

c. Pada 2017 LAPAN memperoleh ISO/IEC 17025 bagi Laboratorium Kimia Atmosfer pada Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer sebagai laboratorium uji kualitas udara.

d. Pada Desember 2017 LAPAN memperoleh ISO/IEC 27001 untuk Sistem Manajemen untuk perlindungan Data Penginderaan Jauh.

5. Akuntabilitas pengelolaan anggaran menjadi hal yang sangat penting untuk terus ditingkatkan. Selama 2016 dan 2017 LAPAN mendapatkan penghargaan dari Menteri Keuangan atas Capaian Standar Tertinggi dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah (terkait dengan opini WTP dari BPK).

6. Keterbukaan Informasi Publik merupakan bagian dari reformasi birokrasi yang dilaksanakan LAPAN. Pada 2016 LAPAN mendapat penghargaan peringkat 8 Keterbukaan Informasi Publik untuk kategori Lembaga Negara/LPNK dan pada 2017 naik menjadi peringkat 2. Penghargaan peringkat 2 diberikan oleh Wapres pada Desember 2017.

7. Pengelolaan e-Government LAPAN mendapatkan penghargaan “TOP IT Implementation on Information Security of e-Government 2017” dari Majalah iTech.

8. Untuk pengelolaan Barang Milik Negara (BMN), tahun 2017 LAPAN mendapatkan 3 penghargaan sekaligus untuk kategori Sertipikasi BMN, Kepatuhan Pelaporan BMN, dan Juara umum pengelolaan BMN.

9. Upaya mewujudkan visi menjadi Pusat Unggulan juga diupayakan melalui tahapan pembinaan Pusat Unggulan Iptek (PUI) Kemristekdikti. Pada 2016 ada 3 Pusat di LAPAN (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, dan Pusat Teknologi Satelit) yang ditetapkan untuk dibina menjadi PUI. Pada 2017 meningkat jumlah dan kualifikasinya: 3 Pusat menjadi PUI (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, dan Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh) serta 2 Pusat dibina menjadi PUI (Pusat Teknologi Satelit dan Pusat Teknologi Penerbangan).

Capaian Peningkatan Kompetensi dan Layanan

 

1. Sukses sebagai Koordinator Panitia Nasional Gerhana Matahari Total, 9 Maret 2016.

2. Informasi Hotspot (titik panas, indikatot kebakaran hutan) LAPAN dari berbagai satelit dinyatakan sebagai rujukan nasional bagi informasi potensi kebakaran hutan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Surat Edaran nomor S.218/MENLHK/PPI/PPI.4/4/2016 tanggal 20 April 2016 tentang Sinergitas Data Hotspot.

3. Peluncuran satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB berhasil dilakukan pada 22 Juni 2016. Seremonial peluncuran dihadiri Wakil Presiden RI.

4. LSU (LAPAN Survaillance UAV) mulai digunakan BIG (Badan Informasi Geospasial) untuk pemotretan garis pantai pada Mei 2016.

6. SWIFtS (Space Weather Information and Forcast Service) LAPAN diakui sebagai Regional Warning Center oleh Space Environment Service (ISES) pada Juli 2016. Layanan informasi harian ada di situs LAPAN.

7. LAPAN memperoleh anugerah Bhumandala Award peringkat 5 Kategori Kementerian/Lembaga atas prestasi pengembangan simpul jaringan informasi geospasial yang mendukung pembangunan nasional.

https://i1.wp.com/www.inderaja.lapan.go.id/upload/Bhumandala_BIGa1.jpg

8. Pesawat tanpa awak LSU-03 NG_M3 (hilirasi produk litbang LAPAN ke UKM M3) mendapat sertifikasi IMMA (Indonesian Military Airworthiness Authority) pada November 2016.

9. Uji terbang roket RX 450, roket terbesar yang pernah dibuat LAPAN, telah dilaksanakan pada Desember 2016 dan Desember 2017 dengan kinerja yang terus disempurnakan.

Related image

10. Pesawat N-219 hasil kerjasama LAPAN-PTDI berhasil terbang perdana pada 16 Agustus 2017 dan diberi nama “Nurtanio” oleh Presiden RI pada uji terbang Bandung-Jakarta pada 10 November 2017 di Lanud Halim Perdana Kusumah.

 

 

Proposal Ringkas Penyatuan Kalender Islam Global

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN, Indonesia

Proposal Ringkas Penyatuan Kalender Islam Global

A Brief Proposal on Global Islamic Calendar Unification

Seminar Fikih Falak 2017

Pendahuluan

Penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah sangat terkait dengan waktu ibadah puasa Ramadhan, Idul Fitri, puasa Arafah, dan Idul Adha bagi ummat Islam secara global. Ada ibadah puasa yang status hukumnya wajib, sunnah, dan haram. Berpuasa pada bulan Ramadhan wajib hukumnya dan puasa pada hari Arafah 9 Dzulhijjah sunnah. Sementara puasa pada Idul Fitri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzuhijjah) serta hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) hukumnya haram.

Penentuan awal bulan pada kalender Hijriyah terutama dimaksudkan untuk memberikan indikasi waktu awal ibadah puasa serta penentuan Idul Fitri dan Idul Adha. Hal yang krusial adalah dalam penentuan Idul Fitri dan Idul Adha yang dirayakan secara global. Bila terjadi perbedaan antarnegara, maka timbul keraguan waktu yang akan dirujuk. Hal inilah yang mendorong upaya untuk merumuskan kalender yang seragam secara global. Karena kalender juga dimaksudkan untuk sedapat mungkin menyatukan waktu ibadah, maka kaidah fikih penentuan awal bulan juga harus dipertimbangkan.

 

Metode Penentuan Awal Bulan

Tanpa menyebut rincian dalil fikihnya, secara umum metode penentuan awal bulan hijriyah yang terkait waktu ibadah terbagi dua pendapat. Pendapat pertama mendasarkan pada rukyatul hilal (bulan sabit muda) pada saat maghrib akhir tanggal 29 bulan Hijriyah. Pendapat kedua, cukup mendasarkan pada hasil perhitungan (hisab) dengan kriteria tertentu. Persoalannya, ketampakan hilal bisa berbeda-beda antarwilayah, baik karena sifat fisik hilalnya maupun karena faktor cuaca. Sementara kriteria hisab pun masih beragam.

Untuk mendapatkan kesatuan ummat dalam penentuan awal bulan Hijriyah, langkah yang harus dilakukan adalah mensinergikan antara rukyat dan hisab dengan cara (1) menyatukan kriteria hisab dan (2) kriteria yang dirumuskan harus memperhatikan kriteria ketampakan (visibilitas) hilal. Upaya tersebut diharapkan bisa menyatukan antara metode rukyat dan hisab serta menghilangkan perbedaan keputusan hisab.

 

Proposal Kongres Istanbul 2016

Pada Kongres Internasional Kesatuan Kalender 2016 di Istanbul Turki telah direkomendasikan sistem kalender global tunggal. Seluruh dunia mengawali awal bulan hijriyah pada hari yang sama (Ahad – Sabtu), misalnya awal Ramadhan jatuh Senin seragam di seluruh dunia. Sistem kalender global menggunakan kriteria visibilitas hilal:

 

Awal bulan dimulai jika pada saat maghrib di mana pun elongasi bulan (jarak bulan-matahari) lebih dari 8 derajat dan tinggi bulan lebih dari 5 derajat.

 

Dengan catatan, awal bulan hijriyah terjadi jika kriteria visibilitas rukyat terpenuhi di mana pun di dunia, asalkan di Selandia Baru belum terbit fajar.

Gambar 1. Kesimpulan Kongres Istanbul Turki 2016

 

Kriteria tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat adalah kriteria optimistik, tetapi tidak cukup untuk diterapkan dalam tinjauan global. Garis tanggal visibilitas hilal paling Timur umumnya berada di sekitar ekuator. Wilayah daratan yang paling Barat adalah Amerika Selatan. Wilayah daratan paling Timur adalah Samoa. Beda waktu antara Amerika Selatan dan Samoa 20 jam, artinya secara rata-rata beda tinggi bulan 20/24 x 12o = 10o dari wilayah Timur dan wilayah Barat. Beda waktu antara Amerika Selatan dan Asia Tenggara 14 jam, secara rata-rata beda tinggi bulannya 7o. Bila ketinggian 5o terjadi Amerika Selatan, tinggi bulan di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik masih di bawah ufuk.

Jadi, dengan kriteria Istanbul 2016 akan timbul masalah pada wilayah yang posisi bulan masih negatif di wilayah Timur, sementara kriteria visibilitas hilal sudah terpenuhi di wilayah Barat. Dalam kaidah fikih, hari yang meragukan perlu dihilangkan dengan konsep istikmal (menyempurnakan bulan berjalan menjadi 30 hari). Artinya wilayah Barat harus menunggu masuknya tanggal di wilayah Timur, setidaknya posisi bulan sudah di atas ufuk.

Gambar 2. Garis Tanggal Internasional di Pasifik dan zona waktu (sumber: internet)

 

Proposal Baru

Pada dasarnya  implementasi konsep kalender didasari pada tiga prasyarat yang harus dipenuhi sekaligus: (1) adanya kriteria tunggal, (2) adanya kesepakatan batas tanggal, dan (3) adanya otoritasl tunggal. Kriteria Istanbul 2016 bermasalah ketika di wilayah Barat sudah memenuhi kriteria, tetapi di wilayah Timur bulan masih berada di bawah ufuk. Kriteria tersebut tidak dapat diterima oleh negara-negara di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik, seperti Indonesia. Perlu diusulkan kriteria alternatif.

Dari hasil rukyat jangka panjang, diketahui bahwa elongasi minimal agar hilal cukup tebal untuk bisa dirukyat adalah 6,4 derajat (Odeh, 2006). Data analisis hisab 180 tahun saat matahari terbenam di Banda Aceh dan Pelabuhan Ratu (Djamaluddin, et. al., 2016) juga membuktikan bahwa elongasi 6,4 derajat juga menjadi prasyarat agar saat maghrib bulan sudah berada di atas ufuk (lihat Gambar 3 dan Gambar 4). Pada grafik terlihat bahwa pada elongasi 6,4 derajat, posisi bulan semuanya positif, sedangkan bila elongasi kurang dari 6,4 derajat bulan masih berada di bawah ufuk atau ketinggiannya negatif.

Gambar 3. Sebaran data tinggi dan elongasi bulan untuk Banda Aceh selama 180 tahun.

Gambar 4. Sebaran data tinggi dan elongasi bulan untuk Pelabuhan Ratu selama 180 tahun.

 

Dari data rukyat global, juga diketahui bahwa tidak ada kesaksian hilal yang dipercaya secara astronomis yang beda tinggi bulan-matahari kurang dari 4 derajat (lihat Gambar 5 dan gambar 6). Karena pada saat matahari terbenam tinggi matahari -50’, maka beda tinggi bulan-matahari 4 derajat identik dengan tinggi bulan (4o -50’=) 3o 10’, dibulatkan menjadi 3o.

Gambar 5. Ilyas (1988) memberikan kriteria visibilitas hilal dengan beda tinggi bulan-matahari minimum 4o (tinggi bulan minimum 3 derajat).

Gambar 6. Dari data SAAO, Caldwell dan Laney (2001)  memberikan data visibilitas hilal dengan memisahkan pengamatan dengan mata telanjang (bulatan hitam) dan dengan alat bantu optik (bulatan putih). Secara umum visibilitas hilal mensyaratkan beda tinggi bulan-matahari (dalt) > 4o .

Berdasarkan data astronomis tersebut, maka diusulkan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) dengan dua parameter: elongasi bulan minimal 6,4 derajat dan tinggi bulan minimal 3 derajat. Rujukan yang digunakan adalah Indonesia Barat. Alasannya, beda waktu antara Indonesia Barat dan Samoa di Batas Tanggal Internasional adalah 6 jam (lihat Gambar 2), artinya beda tinggi bulan 6/24 x 12o =3o. Jadi ketika di Indonesia Barat tinggi bulan sudah di atas 3o, di wilayah sekitar Garis Tanggal Internasional tinggi bulannya sudah positif atau di atas ufuk. Dengan tinggi minimal 3 derajat di Indonesia Barat, di Timur Tengah tinggi bulan lebih dari 5 derajat, sesuai dengan tinggi minimal pada kriteria Istanbul 2016. Jadi kriteria baru yang diusulkan sebagai berikut:

 

Awal bulan Hijriyah dimulai ketika di wilayah Barat Indonesia elongasi bulan lebih dari 6,4o dan tinggi bulan lebih dari 3o.

 

Batas tanggal kalender Islam yang digunakan adalah Garis Tanggal Internasional seperti yang digunakan pada sistem kalender tunggal usulan Kongres Istanbul 2016. Keberlakuan secara global pada dasarnya mengikuti pendapat fikih keberlakuan wilayatul hukmi (satu wilayah hukum). Artinya sistem itu bisa diterapkan ketika seluruh dunia menyatu dengan satu otoritas tunggal atau otoritas kolektif yang disepakati. Saat ini otoritas tunggal dunia Islam belum ada. Namun, sudah ada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang bisa dijadikan sebagai otoritas kolektif. OKI yang akan menetapkan Kalender Islam Global dengan menggunakan kriteria baru tersebut untuk diberlakukan di seluruh dunia.

 

Kesimpulan

            Untuk penyatuan Kalender Islam Global, diusulkan tiga hal berikut yang tidak terpisahkan:

  1. Kriteria awal bulan adalah elongasi bulan minimal 6,4o dan tinggi bulan minimal 3o pada saat maghrib di Indonesia Barat.

  2. Batas Tanggal Internasional dijadikan sebagai batas tanggal Kalender Islam global.

  3. OKI (Organisasi Kerjasama Islam) menjadi otoritas kolektif dalam menetapkan Kalender Islam Global.

 

Rujukan

Djamaluddin, T., Raharto, M., Khafid, Nurwendaya, C., Setyanto, H., dan Utama, J. A. 2016, Naskah Akademik Usulan Kriteria Astronomis Penentuan Awal Bulan Hijriyah,  https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/04/19/naskah-akademik-usulan-kriteria-astronomis-penentuan-awal-bulan-hijriyah/

Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

Hisab Awal Bulan 1439 Hijriyah

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

 

Untuk memperkirakan (bagi pengamal rukyat — pengamatan hilal) atau menentukan (bagi pengamal hisab — perhitungan posisi bulan) berikut ini ditampilkan garis tanggal awal-awal bulan 1439 Hijriyah dengan menggunakan aplikasi Accurate Hijri Calculator  (AHC) yang dikembangkan Abdul Ro’uf dari alumni Fisika Universitas Brawijawa.

Kriteria yang digunakan adalah kriteria tinggi bulan 2 derajat yang diasa digunakan Kementerian Agama RI dan Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (Kriteria LAPAN (2010) ). 

Muharram 1439

Hijau : Kriteria Ode, Biru : Kriteria 2 derajat, Putih : Kriteria Wujudul Hilal

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

 

Kondisi bulan saat maghrib 20 September 2017 di wilayah Indonesia : bulan telah wujud dan tingginya lebih dari 2 derajat. Maka, 1 Muharram 1439 jatuh pada 21 September 2017. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 20 September, sehingga 1 Muharram 1439 jatuh pada 22 September 2017.

 

Shafar 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 20 Oktober 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat dan telah memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Shafar 1439 jatuh pada 21 Oktober 2017.

 

Rabbiul Awal 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 18 November 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rabbiul Awal 1439 jatuh pada 20 November 2017.

 

Rabbiul Akhir 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 18 Desember 2017 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rabbiul Akhir 1439 jatuh pada 20 Desember 2017.

 

Jumadil Awal 1439

Kriteria 2 derajat

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 17 Januari 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Jumadil Awal 1439 jatuh pada 18 Januari 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 17 Januari 2018, sehingga 1 Jumadil Awal 1439 jatuh pada 19 Januari 2018.

 

Jumadil Akhir 1439

Jumadil Akhir1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Jumadil Akhir 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 16 Februari 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Jumadil Akhir 1439 jatuh pada 17 Februari 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 16 Februari 2018, sehingga 1 Jumadil Akhir 1439 jatuh pada 18 Februari 2018.

 

Rajab 1439

Rajab-1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Rajab-1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 17 Maret 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Rajab 1439 jatuh pada 19 Maret 2018.

 

Sya’ban 1439

Sya-ban 1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Sya-ban 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 16 April 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Sya’ban 1439 jatuh pada 17 April 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 16 April 2018, sehingga 1 Sya’ban 1439 jatuh pada 18 April 2018.

 

Ramadhan 1439

Ramadhan 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Ramadhan 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 15 Mei 2018 di wilayah Indonesia: bulan  masih di bawah ufuk, berarti juga tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Ramadhan 1439 jatuh pada 17 Mei 2018.

 

Syawal 1439

Syawal 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Syawal 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 14 Juni 2018 di wilayah Indonesia: bulan  sudah di atas ufuk dan tingginya lebih dari 2 derajat dan juga memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Syawal 1439 jatuh pada 15 Juni 2018.

 

Dzulqa’dah 1439

Dzulqa-dah 1439-MABIMS

Kriteria 2 derajat

Dzulqa-dah 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 13 Juli 2018 di wilayah Indonesia: bulan  tingginya lebih dari 2 derajat sehingga 1 Dzuqa’dah 1439 jatuh pada 14 Juli 2018. Bila menggunakan kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010) hilal belum mungkin tampak di wilayah Indonesia pada saat maghrib 13 Juli 2018, sehingga 1 Dzulqa’dah 1439 jatuh pada 15 Juli 2018.

 

Dzulhijjah 1439

Dzulhijjah 1439-MABIMS

Kriteria Odeh (hijau), 2 derajat (biru), Wujudul Hilal (putih)

Dzulhijjah 1439-LAPAN

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia (LAPAN 2010)

Kondisi bulan saat maghrib 11 Agustus 2018 di wilayah Indonesia: bulan  masih di bawah ufuk, berarti juga tingginya kurang dari 2 derajat dan belum memenuhi kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN 2010 ). Maka, 1 Dzulhijjah 1439 jatuh pada 13 Agustus 2018.

 

Kalender 1439 H