Labaik Allahumma Labaik: Dokumentasi Umroh Sekeluarga 1439/2018

T. Djamaluddin

Labaik Allahumma labaik, ya Allah kami penuhi panggilan-Mu. Setelah berhaji pada 1434/2013, alhamdulillah pada 5 -13 Februari 2018 kami sekeluarga mendapat panggilan Allah untuk berumroh sekeluarga, setelah sekian lama menunggu. Selain menunggu terkumpulnya dana, juga harus menunggu cocoknya waktu antara jadwal kantor, jadwal kuliah anak-anak, dan jadwal travel yang tersedia.

Berikut foto-foto dan video dokumentasinya:

Bersiap berangkat dari Bandung, bersama Safari Suci

Di terminal 3 bandara Soekarno Hatta, bismillah siap berangkat

Bersiap untuk thawaf dan sai rukun umroh

Di Gunung Uhud

Masjid Nabawi

Mewaspadai Jatuhnya Stasiun Antariksa Tiangong-1

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Image result for tiangong-1

Tiangong-1 (gambar dari S&T)

Stasiun antariksa milik RRT Tiangong-1 (makna harfiahnya “Istana Langit”) segera akan jatuh ke bumi. Wahana antariksa berbobot 8,5 ton tersebut berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter, dilengkapi dengan bentangan panel surya. Tiangong-1 diluncurkan pada 29 September 2011 dan mengorbit pada ketinggian sekitar 350 km. Pada periode 2012-2013, Tiangong-1 pernah ditempati astronot RRT. Ketinggian orbitnya selalu dikontrol, terlihat dari riwayat orbitnya. Tetapi sejak 2016, Tiangong-1 sudah tidak dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Diperkirakan sekitar April 2018 wahana ini akan jatuh.

Riwayat ketinggian orbit Tiangong-1 (dari CalSky)

Akibat hambatan atmosfer, wahana antariksa akan mengalami penurunan ketinggian. Dari ketinggian semula sekitar 350 km, pada pertengahan Maret ketinggiannya sudah mencapai 250 km. Semakin mendekati bumi, atmosfernya makin padat sehingga laju penurunan akan semakin cepat. Bila ketinggiannya telah mencapai sekitar 120 km, wahana itu sudah dianggap jatuh. Pada ketinggian 120 km tersebut, atmosfer cukup padat untuk membakar dan memecahkan objek tersebut. Hanya dalam hitungan menit, pecahannya akan jatuh di sepanjang jalurnya. Di mana jatuhnya? Tidak bisa dipastikan, karena faktor hambatan atmosfer belum bisa dihitung secara akurat. Karena inklinasi (kemiringan bidang orbit) Tiangong-1 42,8 derajat, maka wilayah yang berpotensi kejatuhan pecahannya adalah wilayah di bumi antara  43 derajat lintang utara sampai 43 derajat lintang selatan.

Image result for tiangong-1

Daerah berwarna hijau dan kuning adalah daerah yang berpotensi kejatuhan pecahan Tiangong-1 (dari aerospace.org)

Kecepatan jatuh objek antariksa bergantung pada kerapatan atmosfer. Sementara, kerapatan atmosfer dipengaruhi oleh aktivitas matahari dan medan magnet bumi. Variasi aktivitas matahari yang menyebabkan rentang ketidakpastian waktu jatuhnya cukup besar. Tingkat akurasinya akan bertambah dengan makin dekatnya waktu jatuh. Sampai dengan pertengahan Maret, prakiraan waktu jatuh sekitar April, dengan ketidakpastian +/- 7 hari.

 

Perkiraan waktu jatuh berubah-ubah bergantung kerapatan atmosfer (dari CalSky)

LAPAN selalu memantau benda jatuh antariksa, terutama yang berukuran besar. Laboratorium antariksa Rusia MIR berbobot 136 ton yang jatuh 2001  terus dipatau oleh LAPAN. Demikian juga saat satelit BeppoSAX berbobot 1,4 ton yang jatuh pada 2003, LAPAN juga terus memantaunya dan menginformasikan perkembangannya kepadaa publik. Sebelumnya LAPAN juga sudah mengidentifikasi beberapa benda jatuh antariksa di Gorontalo (1981), di Lampung (1988), di Bengkulu (2003), di Madura (2016), dan di Agam (2017). LAPAN akan terus menginformasikan perkembangan pemantauan jatuhnya Tiangong-1 di situs LAPAN.

Seberapa bahayanya pecahan Tiangong-1 ini? Objek 8,5 ton akan pecah di atmosfer. Sebagian besar akan terbakar. Pecahannya akan tersebar puluhan atau ratusan kilometer sepanjang jalur orbit terakhir. Bahaya yang mengancam adalah bahaya tumbukan dan potensi bahaya racun dari sisa bahan bakar roket Hydrazine (bila masih ada di tabungnya). Namun potensi bahaya tumbukan di wilayah berpenghuni sangat kecil, karena wilayah bumi sebagian besar tidak berpenghuni, yaitu lautan, hutan, dan gurun. Jadi masyarakat tidak perlu cemas, namun tetap waspada. Kewaspadaan perlu ketika pada hari H kejatuhan objek antariksa tersebut ada warga melihat benda jatuh dari langit agar jangan menyentuhnya. Langsung laporkan kepada aparat setempat untuk diteruskan ke LAPAN. LAPAN segara akan akan mengirimkan Tim untuk evakuasi objek antariksa tersebut dan melakukan tindakan yang tepat bila ada potensi bahayanya.

 

Rekomendasi Jakarta 2017: Upaya Mewujudkan Kalender Islam Tunggal

Pengantar

Pada 28-30 November telah dilaksanakan Seminar Internasional Fikih Falak bertema “Peluang dan Tantangan Implementasi Kalender Global Hijriah Tunggal”. Kepala LAPAN, mewakili delegasi Indonesia, memaparkan Proposal Penyatuan Kalender Islam Global. Berikut ini rumusan hasil Seminar Internasional Fikih Falak berupa Rekomendasi Jakarta 2017.

File PDF: REKOMENDASI JAKARTA-Fikih Falak-2017

REKOMENDASI JAKARTA 2017

Dalam upaya untuk mewujudkan kesatuan umat dengan kalender yang unifikatif secara global dan meminimalisasi terjadinya perbedaan antarnegara dalam pelaksanaan ibadah berdasarkan penentuan awal bulan hijriyah, maka seminar internasional fikih falak di Jakarta merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Bahwa rekomendasi Jakarta 2017 ini pada prinsipnya merupakan perbaikan dan/atau penyempurnaan, serta dapat menjadi pelengkap kriteria yang telah ada sebelumnya yakni kriteria Istanbul Turki 2016 dengan melakukan modifikasi menjadi kriteria elongasi minimal 6,4 derajat dan tinggi minimal 3 derajat dengan markaz Kawasan Barat Asia Tenggara.
  2. Bahwa rekomendasi Jakarta ini dimaksudkan untuk mengatasi perbedaan penentuan awal bulan hijriyah tidak hanya pada tingkat nasional, tetapi juga tingkat regional dan internasional dengan mempertimbangkan eksistensi hisab dan rukyah.
  3. Bahwa rekomendasi Jakarta 2017 menegaskan implementasi unifikasi kalender global didasari pada tiga prasyarat yang harus dipenuhi sekaligus, yaitu:
    a. Adanya kriteria yang tunggal;
    b. Adanya kesepakatan Batas Tanggal; dan
    c. Adanya otoritas tunggal.
  4. Bahwa kriteria tunggal yang dimaksudkan adalah bilamana hilal telah memenuhi ketinggian minimal 3 derajat dan berelongasi minimal 6,4 derajat. Ketinggian 3 derajat menjadi titik akomodatif bagi madzhab imkan rukyah dan madzhab wujudul hilal. Elongasi hilal minimal 6,4 derajat dan ketingian 3 derajat dilandasi dari data rukyat global yang menunjukkan bahwa tidak ada kesaksian hilal yang dipercaya secara astronomis yang elongasinya kurang dari 6,4 derajat dan tingginya kurang dari 3 derajat.
  5. Bahwa batas tanggal yang disepakati adalah batas tanggal yang berlaku secara internasional, yaitu Batas Tanggal Internasional (International Date Line) sebagaimana yang digunakan pada sistem kalender tunggal usulan Kongres Istanbul 2016.
  6. Bahwa Kriteria tersebut dapat diterapkan ketika seluruh dunia menyatu dengan satu otoritas tunggal atau otoritas kolektif yang disepakati. Organisasi Kerjasama Islam (OKI) merupakan salah satu lembaga antar negara – negara muslim yang bisa sangat potensial untuk dijadikan sebagai otoritas tunggal kolektif yang akan menetapkan Kalender Islam Global dengan menggunakan kriteria yang disepakati ini untuk diberlakukan di seluruh dunia.
  7. Organisasi Kerjasama Islam (OKI) perlu membentuk / mengaktifkan kembali lembaga atau semacam working grup / lajnah daimah yang khusus menangani bidang penetapan tanggal hijriyah internasional.

Jakarta, 30 November 2017

TIM Perumus:
1. Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, M.Ag (Indonesia)
2. Prof. Dr. H. Thomas Djamaluddin (Indonesia)
3. Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag (Indonesia)
4. Dr. H. Moedji Raharto (Indonesia)
5. Dr. H. Assadurrahman, MA (Indonesia)
6. Drs. Cecep Nurwendaya, M.Pd (Indonesia)
7. Dr. H. A. Juraidi, MA (Indonesia)
8. H. Nur Khazin, S.Ag (Indonesia)
9. H. Ismail Fahmi, S.Ag (Indonesia)
10. Musthofa Abdallah Al-Hussein Ananbeh (Yordania)
11. Prof. Dato. Dr. Mohd Zambri bin Zainuddin (Malaysia)
12. Shahril Azwan Hussin (Malaysia)
13. Muhammad Zakuwa bin Hj. Rodzali (Malaysia)
14. Ustadz Izal Mustafa Kamar (Singapura)
15. Tuan Muhammad Faizal bin Othman (Singapura)
16. Arefin bin Hj. Jaya (Brunei Darussalam)
17. Hj. Mohd Albi bin Hj. Ibrahim (Brunei Darussalam)

Gerhana Bulan Total Buktikan Bumi Bulat: Bantahan Telak Dongeng Bumi Datar – FE

Gerhana Bulan Total, saat purnama memasuki bayangan bumi (dari situs NASA)

 

T. Djamaluddin

LAPAN

 

Gerhana bulan, seperti yang terjadi pada 31 Januari 2018, membuktikan bahwa bumi bulat. Bayangan gelap yang jatuh pada purnama, adalah bayangan bumi. Bayangan gelap pada proses gerhana berbentuk melengkung yang mengindikasikan bulatnya bumi. Skematik astronomis menjelaskan kejadian gerhana bulan terjadi akibat bulan memasuki bayangan bumi. Bayangan bumi terjadi karena cahaya matahari terhalang oleh bumi.

Skematik (tidak sesuai skala) terjadinya gerhana bulan (dari situs NASA)

Kejadian gerhana juga bisa diprakirakan dengan baik waktu dan prosesnya. Hal itu didasarkan pada model saintifik sistem bumi-bulan-matahari. Bulan mengitari bumi. Bumi bersama bulan mengitari matahari. Cahaya purnama disebabkan oleh pantulan cahaya matahari. Namun pada saat tertentu, bulan memasuki bayangan bumi ketika matahari-bumi-bulan dalam posisi segaris. Saat itulah terjadinya gerhana yang bisa kita amati.

Para penggemar dongeng bumi datar (FE: Flat Earth) tidak bisa menjelaskan fenomena gerhana bulan secara logis. Waktu kejadian gerhana dan prosesnya tidak bisa mereka jelaskan, karena dongeng bumi datar tidak menggunakan sains, walau mereka mengklaim melakukan kegiatan yang mereka sebut “penelitian”.  Kejadian gerhana bulan adalah pukulan telak yang membantah dongeng bumi datar.

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/

 

Super-Blue-Blood-Moon: Gerhana Bulan Total Istimewa 31 Januari 2018

Skematik Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 (Dari situs NASA)

U1: Saat purnama menyentuh umbra (bayangan  bumi) (awal proses gerhana) pukul 18:48 WIB, U2: Saat purnama sepenuhnya masuk ke umbra (awal gerhana bulan total) pukul 19.52 WIB, U3: Saat purnama menjelang keluar dari umbra (akhir gerhana bulan total) pukul 21.08 WIB, U4: Saat purnama lepas dari umbra (akhir proses gerhana) pukul 22.11 WIB.

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Gerhana bulan total 31 Januari 2018 akan terlihat di seluruh Indonesia. Proses gerhana mulai pukul 18:48 WIB. Gerhana bulan total pukul 19.52-21:08 WIB. Proses gerhana berakhir pukul 22:11 WIB. Ummat Islam dapat melaksanakan shalat gerhana seusai shalat isya.

Prosesnya, mulai pukul 18:48 WIB bagian bawah (sisi Timur) purnama mulai tergelapi oleh bayangan bumi. Kemudian pukul 19.52 sampai 21:08 bulan menjadi gelap kemerahan saat seluruh purnama masuk ke bayangan inti bumi. Warna merah disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Setelah itu secara perlahan cahaya purnama mulai tampak dari bagian kanan bawah (Timur). Dan proses gerhana berakhir pada pukul 22:11 WIB.

Gerhana kali ini menarik perhatian publik karena sebutannya:
– Disebut Supermoon karena jarak bulan masih terdekat dengan bumi. Sehingga purnama dan gerhana tampak lebih besar dari biasanya.
– Disebut Blue moon karena ini purnama kedua pada bulan Januari, setelah 1 Januari lalu.
– Gerhana bulan total juga sering disebut Blood Moon karena saat gerhana total bulan tampak merah darah.
Jadi gerhana bulan pada 31 Januari 2018 boleh disebut Super-Blue-Blood-Moon.

Hujan Meteor Quadrantids Terdeteksi dengan Radar Meteor LAPAN

Radar Meteor di LAPAN Agam (Sumatera Barat)

Radar Meteor di LAPAN Biak (Papua)

LAPAN bekerjasama dengan Universitas Kyoto, Jepang, mengoperasikan radar meteor (Meteor Wind Radar) di LAPAN Agam (Sumatera Barat) dan LAPAN Biak (Papua). Tujuan utamanya adalah untuk penelitian angin di atmosfer atas, pada ketinggian 70-110 km. Namun radar meteor bisa juga digunakan untuk penelitian fluks meteor (jumlah meteor per jam).

Meteor adalah batuan atau debu antariksa yang memasuki atmosfer bumi dan terbakar pada ketinggian 70-110 km. Pada saat tertentu, bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet sehingga debu-debunya memasuki atmosfer bumi dan terbakar dalam jumlah yang banyak. Saat itulah pengamat bisa menyaksikan hujan meteor dengan jumlah puluhan sampai ratusan meteor per jam. Jumlah ratusan meteor per jam biasanya disebut badai meteor, pada saat tertentu setelah komet induknya melintas dekat bumi. Hujan meteor diberi nama sesuai dengan rasi bintang tempat meteor tampak terpancar. Titik itulah, yang disebut radian, adalah titik persinggungan atmosfer bumi dengan gugusan debu komet.

Ada tiga hujan meteor yang tergolong kuat dengan jumlah puluhan meteor per jam: Quadrantids (puncaknya pada 3 Januari), Perseids (puncaknya 12 Agustus), dan Geminids (puncaknya 14 Desember). Berikut ini contoh hujan meteor Quadrantids yang terekam oleh radar meteor Agam pada 2-3 Januari 2017. Karena hujan meteor adalah fenomena tahunan, kejadian setiap tahun secara umum hampir sama.

Fluks meteor pada dini hari 3 Januari 2017, terdeteksi oleh Radar Meteor LAPAN Agam

Pada diagram “Meteor Fluks” tampak jumlah meteor per jam meningkat mulai pukul 20.00 UT (Universal Time) atau pukul 03.00 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 22.00 UT (05.00 WIB) dengan jumlah meteor sekitar 400 meteor/jam. Waktu tersebut bersesuaian dengan mulai terbitnya radian (titik pancar) meteor Quadrantids di sekitar rasi Bootes sampai meninggi di arah Utara. Pada diagram “Angular Distribution” terlihat sebaran sumber meteor paling banyak dari belahan Utara (belahan lingkaran atas). Pada diagram “Height Distrubution” terlihat sebagian besar meteor terbakar pada ketinggian sekitar 90 km. Pada dini hari yang cerah meteor itu tampak seperti bintang yang bergerak cepat, yaitu saat debu-debu itu terbakar sampai habis. Hanya dalam waktu beberapa detik saja.

Berikut adalah data fluks meteor sejak 31 Desember 2016 sampai 5 Januari 2017 dari radar meteor LAPAN Agam.

Berikut adalah data fluks meteor sejak 2-3 Januari 2018 dari radar meteor LAPAN Biak.

Quadrantids - MWR Biak - 3 Jan

Pada rangkaian data 31 Desember 2016 – 5 Januari 2017, terlihat hujan meteor di mulai pada 31 Desember 2016 sampai 4 Januari 2017 sekitar pukul 00.00 UT (07.00 WIB). Kemudian pada 5 Januari hujan meteor mulai menghilang. Pada kejadian hujan meteor Quadrantids 2018, tampak pula peningkatan fluks meteor sekitar pukul 20.00 UT (05.00 WIT).

Petisi Komunitas Dongeng “Bumi Datar (Flat Earth, FE)”

Komunitas Dongeng “Bumi Datar (Flat Earth, FE)” mempetisi Kepala LAPAN. Ini tanggapan saya:
Sumber utama “Dongeng Bumi Datar” (Flat Earth, FE) adalah ketidakfahaman akan gravitasi. Konsekuensi adanya gravitasi adalah bulatnya bumi (karena gravitasi dirinya saat pembentukan tata surya), adanya planet-planet yang mengorbit matahari, adanya bulan dan satelit yang mengorbit bumi, terjaganya air laut dan seisi bumi tetap berada di permukaan bumi, terjaganya atmosfer sehingga manusia bisa bernafas dan pesawat bisa terbang dengan gaya aerodinamis, dan … sekian banyak lagi fenomena yang menarik untuk kita pelajari. Ayo belajar fisika agar tidak tertipu dengan dongeng bumi datar (FE).

Tanggapan lengkap ada di blog ini.

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/