Bincang-Bincang: Teknologi Antariksa Wujudkan Mimpi Jokowi

Teknologi Antariksa wujudkan mimpi Jokowi

Harian Terbit 6 Desember 2014 memuat Bincang-bincang dengan Kepala LAPAN tentang “Teknologi Antariksa Wujudkan Mimpi Jokowi”. Walau ada beberapa salah kutip dan kalimat yang tidak lengkap, tetapi secara umum bincang-bincang itu mengungkapkan tekad LAPAN untuk memberi kontribusi menuju kemajuan dan kemandirian Indonesia dalam bidang keantariksaan, khususnya dalam mendukung program prioritas pemerintahan Presiden Jokowi.

Bincang-bincang Iptek-Harian Terbit

 

Silaturrahim LAPAN-MUI Mendorong Upaya Penyatuan Kriteria Awal Bulan Hijriyah

T. Djamaluddin

LAPAN

MUI-LAPAN-silaturrahim

Alhamdulillah, silaturrahim LAPAN dengan MUI bisa terlaksana Selasa siang, 20 Mei 2014. Silaturrahim didorong dengan keinginan LAPAN membantu MUI merealisasikan Fatwa MUI No. 2/2004. Isi rekomendasi fatwa itu agar Majelis Ulama Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah untuk dijadikan pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait.

Dari LAPAN hadir saya sebagai Kepala LAPAN, Plt Deputi Sains, Karo Kerjasama dan Humas, dan Peneliti astronomi Abdul Rachman. MUI menyambut dengan pimpinan MUI yang cukup lengkap: Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian (Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc), Wk Sekjen (H. Tengku Zulkarnaen, Dr. Amirsyah Tambunan, Prof. Dr. Amini Lubis), Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian (Prof. Dr. Utang Ranuwijaya, MA), Sekr. Komisi Pengkajian dan Penelitian (Dr. KH Cholil Nafis), dan Wk. Sekr. Komisi Fatwa (Drs. H. Sholahudin Al-Aiyub, MSi).

Prof. Yunahar membuka pertemuan dengan mengungkapkan perbedaan antara Indonesia dengan Malaysia dan negara-negara Timur Tengah. Di sana ada Mufti (ulama yang memberikan fatwa keagamaan). Di Indonesia tidak ada Mufti. Majelis Ulama yang berwenang mengeluarkan fatwa dan berisi perwakilan ormas-ormas Islam, fatwanya tidak mengikat ormas-ormas Islam. Ormas Islam bisa mengeluarkan fatwa sendiri. Sementara itu Kementerian Agama bukan lembaga fatwa, tetapi merupakan lembaga politik. Namun, terkait dengan masalah perbedaan awal Ramadhan dan hari raya ada semangat untuk mempersatukan. Perlu musyawarah pemerintah, ulama, dan saintis dengan melepaskan ego masing-masing. Ada dua pendekatan yang bisa ditempuh. Dengan politik keagamaan, dasarnya “demi persatuan”. Atau dengan pendekatan keagamaan dengan dasar dalil-dalil fikih.

Pertemuan berlangsung terbuka dan saling mengisi. Majelis Ulama menyoroti aspek keagamaannya dan LAPAN melengkapi aspek astronominya. Alhamdulillah dicapai kesepakatan untuk membentuk semacam tim bersama yang beranggotakan unsur fikih dan unsur astronomi dari MUI, Mahkamah Agung, Kemenag, LAPAN, ITB, dan perwakilan ormas Islam. Pertemuan lanjutan di LAPAN, MUI, atau Kementerian Agama akan dilakukan untuk merumuskan kerangka penyatuan kriteria yang akan mempercepat terwujudnya kriteria penentuan awal bulan Hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Keinginan Memegang Kendali dari Antariksa

Wawasan, Republika, 22 April 2014 memuat wawancara dengan Kepala LAPAN. Berikut ini copy-nya:

Wawasan-Republika-KaLAPAN-0

 

Catatan dari Udara: Kisah Sungai, Hutan, Pulau, dan Awan dalam Perjalanan dari Jayapura – Jakarta

T. Djamaluddin

LAPAN

2014-03-21 12.40.11

Pantai Utara Papua, sesaat setelah lepas landas dari Jayapura

Penerbangan siang hari selama 5 jam non-stop pada 21 Maret 2014 dari Jayapura (Papua) ke Jakarta saya gunakan untuk mengamati awan, pulau, sungai, hutan, dan kota di bawah. Dari ketinggian rata-rata sekitar 8 – 10 km menarik juga merenungi aspek fisis fenomena yang saya lihat, selain mengagumi keindahannya. Saya memang selalu memilih tempat duduk di samping jendela untuk sekadar mengamati dan kalau mungkin mengambil gambar dengan kamera saku.

2014-03-21 12.46.53

Sungai yang berkelak-kelok di tengah hamparan hutan lebat menggambarkan kontur wilayah yang berbukit-bukit. Air sungai mengalir dari pegunungan menuju laut akan memilih jalur yang bergantung pada kontur wilayah. Air memilih daerah lembah yang lebih rendah. Ketika aliran air terhalang bukit, maka alirannya akan berbelok-belok di lembah di antara bukit atau kontur tanah yang lebih rendah.

2014-03-21 12.56.35

Awan kok suka berbaris ya. Awan terbentuk karena naiknya uap air dan bertahan pada ketinggian tertentu lalu berkondensasi (menggumpal) mengikuti pola dinamika (pergerakan) atmosfer pada ketinggian tersebut. Pola dinamika yang teratur bisa membentuk awan bergumpal-gumpal dalam pola barisan.

2014-03-21 13.09.35

Awan memanjang di atas Pulau Yapen, di Utara Papua.

2014-03-21 13.40.06

Awan di atas semenanjung sebelah Barat Fakfak.

Mengapa awan rendah cenderung berkumpul di atas daratan pulau? Awan mengikuti angin. Pada siang hari daratan lebih cepat panas, sehingga tekanannya lebih rendah daripada lautan. Bertiuplah angin laut, yaitu perpindahan udara dari laut ke darat. Uap air dari laut terbawa ke arah darat bertemu dengan udara dingin di atas daratan. Jadilah awan rendah berkumpul di atas daratan. Semakin sore, awan semakin banyak. Itu sebabnya mendung cenderung terjadi pada sore.

2014-03-21 14.13.14

Bandara Ambon terlihat dari ketinggian 10 km, dikelilingi awan.

2014-03-21 15.23.15

Kombinasi pulau dengan terumbu karangnya, dengan hiasan awan putih yang indah.

2014-03-21 15.23.31

Tiga jenis awan: awan Stratus berupa lembaran relatif tipis (atas), awan Kumulus yang bergumpal kecil-kecil putih, dan awan Kumulo Nimbus yang menjulang sebagai penghasil hujan lebat. Awan ini dijumpai di laut antara Sulawesi dan Kalimantan, sebagai bagian dari daerah ITCZ (Intertropical Convergence Zone — Zona konvergensi tropis), yaitu daerah pertemuan angin dari belahan Selatan yang relatif hangat dengan angin dari Utara yang relatif dingin. Awan di daerah ITCZ dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global, bukan seperti awan rendah di atas pulau-pulau.

2014-03-21 15.25.44

Awan Kumulo Nimbus yang menjulang selalu dihindari pilot. Kalau pesawat terpaksa memasukinya, pesawat akan mengalami guncangan karena awan itu sedang mengangkat udara hangat dengan aktif sekali.

2014-03-21 17.01.50

Petak-petak sawah menghijau menjelang mendarat di Jakarta. Lukisan indah yang tak boleh dilewatkan.

Mendaki Menuju Puncak Cita-cita dan Karir

T. Djamaluddin

Kepala_Lapan_2014

Alhamdulillah, 7 Februari 2014 lalu saya mencapai puncak karir pegawai negeri sipil. Menristek melantik saya menjadi Kepala LAPAN. Dalam jabatan pegawai negeri sipil, jabatan kepala LPNK (Lembaga Pemerintah Non-Kementerian) adalah jabatan puncak karir, yang dalam undang-undang Aparatur Sipil Negara disebut Jabatan Pimpinan Tinggi Utama. Penggalan perjalanan sepanjang hayat ini saya tuliskan sekadar berbagi inspirasi dan dorongan semangat untuk anak-anak dan adik-adik yang sedang meniti cita-cita dan karir. Catatan ini pun sebagai tanda syukur atas kasih sayang Allah dan tanda terima kasih kepada orang tua, keluarga, teman-teman, dan banyak orang yang telah membantu saya. Semua itu akan terasa nikmatnya kalau diungkapkan agar tidak ibarat “kacang lupa akan kulitnya”. Agar pandai bersyukur, Allah juga mengingatkan,

Nikmat Allah - ceritakan

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu ceritakan” (QS Adh-Dhuha:11)

Saya masuk SD saat ayah saya memasuki masa pensiun sebagai anggota TNI-AD. Sekolah di SD Kejaksan I Cirebon saya tetap semangat walau kadang dipanggil guru karena iuaran sekolah tak pernah tuntas. Namun saat kelas 5, hampir saja saya putus sekolah. Saat itu ayah pulang kampung ke Gorontalo dan sakit sehingga tertunda sekian lama tidak balik ke Cirebon. Iuran sekolah tak terbayarkan. Dampaknya, raport kenaikan kelas 5 ditahan guru. Saya tak tahu naik kelas atau tidak, tetapi teman saya yang putri guru menyebut saya naik dan menyebut saya sebagai juara kelas. Karenanya saya beranikan masuk kelas 5. Saya hampir menangis ketika guru kelas 5 menanyakan mengapa masuk kelas 5. Besoknya saya tak masuk sekolah, malas sekali, rasanya ingin berhenti sekolah. Orang tua selalu memberi semangat untuk jangan putus sekolah, apa pun keadaannya. Untuk memberi semangat ibu saya bercerita tentang anak tukang cuci pakaian yang berhasil menjadi camat di Papua. Cerita itu cukup membangkitkan semangat, bahwa saya pun bisa seperti itu. Malas sekolah hanya satu hari itu. Saat saya kembali masuk sekolah dan ditanya alasan ketidakhadiran, saya berterus terang beralasan malas. Suatu alasan yang tidak diterima guru saya.

Kelas 5 itulah banyak pengalaman pahit ketika dijalani namun manis untuk jadi kenangan. Betapa tidak enaknya jadi anak miskin yang dilecehkan teman dan guru. Ada teman yang suka menarik-narik kaus kaki saya yang kendur diikat karet. Guru yang mencontohkan baju putih bersih berbeda dengan putih kekuningan yang saya pakai. Walau menyakitkan, tetapi itu memberi semangat untuk menunjukkan kelebihan prestasi belajar. Saya pemalu menghadapi orang, tetapi saya tidak pernah malu untuk sesuatu yang benar. Saya mencoba mencari uang jajan dengan berjualan es bungkus, berkeliling di Pasar Pagi Cirebon. Saya tidak malu ketika berpapasan dengan guru saya yang pulang dari pasar. Sempat juga berjualan nasi bungkus menjelang sekolah selepas shubuh, menjelang sekolah. Para penarik becak Pasar Pagi adalah pelanggan utama saya.

Namun, ada catatan pembangkit semangat yang juga tak terlupakan saat kelas 5 itu. Ketika guru saya mengumumkan hasil nilai THB (Tes Hasil Belajar – yang soalnya dibuat Dinas Pendidikan), ternyata disebut juga ada satu soal yang hanya saya yang jawabannya benar. Soal tentang asal-usul minyak bumi, yang di kelas belum pernah diajarkan. Saya tahu jawabnya karena kebetulan saya suka membaca buku. Asal-usul minyak bumi itu saya baca di buku SMP milik kakak sepupu saya. Itulah titik balik yang membangkitkan lagi semangat belajar saya, setelah nyaris putus sekolah.

Walau ada teman yang suka melecehkan, banyak juga teman yang membantu. Setiap ada tugas kerajinan tangan, bahan-bahan dibantu oleh teman-teman yang rela berbagi. Alhamdulillah, sampai akhirnya tangga cita-cita pertama tercapai. Lulus SD pada Desember 1974 dan masuk SMP favorit, SMP Negeri I Cirebon.

Walau tak separah kondisi saat di SD, kondisi ekonomi yang terbatas menyebabkan saya tak sanggup membeli buku cetak. Selama SMP saya hanya membeli 3 buku stensil (cetakan kualitas rendah) pelajaran agama (kelas 1, 2, dan 3) dan 1 buku tipis pelajaran ekonomi saat kelas 3. Buku itu terbeli karena harganya murah. Saya beruntung punya teman-teman yang mengerti keadaan saya. Mereka bersedia meminjamkan buku untuk saya ringkas atau untuk mengerjakan PR. Beberapa buku saya pinjam agak lama karena saya ringkas isinya. Jadi pada awal tahun saya sudah mempunyai catatan lengkap pelajaran satu tahun. Puncak tangga ke dua tercapai, lulus SMP pada Desember 1977 dan melanjutkan ke sekolah favorit SMA Negeri 2 Cirebon.

Ketidakmampuan membeli buku cetak berlanjut sampai SMA, walau masih lebih baik. Beberapa buku masih terbeli. Kalau terpaksa tidak terbeli, selain meminjam ke teman, cara lain yang saya gunakan adalah membaca di toko buku. Karena waktunya singkat, informasi yang saya perlukan harus saya ingat-ingat. Tidak mungkin saya bawa catatan ke toko buku. Perpustakaan sekolah cukup membantu untuk mendapatkan informasi umum, tetapi untuk materi pelajaran tidak tersedia buku yang terkait secara langsung.

Saat SMA, pada awal semester saya selalu membuat target nilai semua pelajaran. Kalau tidak tercapai, semester berikutnya belajar saya pacu. Pernah nilai matematika saya jatuh di bawah harapan, walau tidak buruk. Maka liburan semester itu tidak saya gunakan untuk berlibur. Saya berupaya mencari buku-buku tambahan untuk dapat memahami bagian-bagian yang belum saya fahami. Alhamdulillah, semester berikutnya target kembali tercapai. Tahun 1981 Proyek Perints II (pola penerimaan masuk perguruan tinggi dengan undangan) mulai berlaku juga untuk ITB (sebelumnya hanya IPB). Saya mendaftar ke ITB dan saya tuliskan minat saya masuk jurusan astronomi. Puncak tangga ke tiga tercapai, lulus SMA pada Juni 1981 dan alhamdulillah saya diterima di ITB tanpa tes.

Catatan pendakian tangga cita-cita ke empat (lulus sarjana ITB) dan pengembangan karir saya tuliskan di blog saya ini  “ASTRONOMI: Cita-cita, Kecintaan, dan Pengembangan Karir Peneliti”. Alhamdulillah, seusai wisuda 18 Oktober 1986 hanya berselang 2 pekan saya sudah masuk bekerja di LAPAN Bandung pada 1 November 1986. Bagi seorang peneliti, cita-cita berikutnya adalah sekolah lagi mencapai S2 dan S3. Alhamdulillah, dengan beasiswa pemerintah Jepang (Monbusho) saya dapat melanjutkan S2 dan 3 di jurusan astronomi, Universitas Kyoto. Puncak tangga cita-cita ke lima (lulus s3) saya capai tepat pada ultah ke-34, 23 Januari 1996, setelah tertunda setahun lebih menunggu terbitnya publikasi internasional.

Sebagai pegawai negeri sipil saya menjalani dua jalur pembinaan karir, jalur jabatan fungsional dan jalur jabatan struktural. Jalur jabatan fungsional saya adalah peneliti. Jalur jabatan fungsional lebih bergantung pada upaya pribadi dalam menghasilkan karya yang dinilai dengan angka kredit dan dihargai dengan naik jenjang jabatannya. Kenaikan jabatan fungsional dapat memacu kenaikan pangkat dengan kenaikan pangkat pilihan paling cepat 2 tahunan, lebih cepat daripada kenaikan pangkat reguler yang paling cepat 4 tahunan. Alhamdulillah, jabatan fungsional saya relatif cepat naiknya sehingga memacu kenaikan pangkat saya. Dalam masa kerja 22 tahun, saya mencapai puncak jabatan fungsional Peneliti Utama dengan pangkat tertinggi IVe. Artinya, rata-rata kenaikan pangkat saya sekitar 2,75 tahun. Setelah melakukan orasi pengukuhan, saya memperoleh Profesor Riset pada 9 Desember 2009. Itulah puncak tangga cita-cita sebagai peneliti.

Saya pun dipercaya untuk meniti karir jabatan struktural. Jabatan struktural bukan hanya ditentukan oleh upaya pribadi, tetapi juga faktor kepercayaan pimpinan dan lingkungan kerja atas kemampuan manajerial. Dimulai sebagai Kepala Komputer Induk (eselon IV) lalu menjadi Kapala Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa (eselon III). Ketika ada aturan tidak boleh jabatan rangkap, saya mundur dari Kepala Bidang untuk memilih jabatan fungsional peneliti. Namun setelah sekitar 2 tahun menekuni jabatan fungsional peneliti saja, pada 2007 amanat sebagai Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (eselon II) kembali saya terima. Kali ini aturan telah berubah, boleh jabatan rangkap. Namun pada 2009, pangkat saya sudah mencapai IVe sesuai dengan jabatan fungsional peneliti saya. Pangkat IVe sudah melebihi batas tertinggi pangkat jabatan eselon II. Maka pada April 2010 saya “diparkir” dari jabatan struktural, kembali sebagai peneliti murni. Sekitar satu tahun “parkir”, pada Mei 2011 saya diberi amanah lagi menjadi Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraa (eselon I). Hampir tiga tahun menduduki posisi Deputi, alhamdulillah pada 7 Februari 2014 saya dilantik menjadi Kepala LAPAN. Dalam karir pegawai negeri sipil, itulah puncak karir jabatan struktural.

Cita-cita adalah gambaran masa depan yang diupayakan untuk dicapai. Pasti tidak mudah untuk mewujudkannya. Banyak tantangan dan cobaan, namun tidak mustahil untuk diraih. Saya sudah pada puncak karir pegawai negeri sipil, tidak ada lagi cita-cita spesifik yang harus saya kejar, selain untuk mewujudkan tujuan hakiki hidup manusia: mencari ridha Allah (mardhatillah). Mencari ridha Allah bermakna segala upaya dilakukan sebaik-baiknya, secara ikhlas dan konsisten (istiqamah) hanya karena kecintaan (mahabbah) kepada Allah, bukan karena sesuatu yang duniawi. Hasil duniawi hanyalah dipandang sebagai dampak upaya kita, bukan tujuan utama. Kalau pun suatu saat nanti ada capaian-capaian lain selepas karir pegawai negeri, semuanya adalah dampak dari capaian sebelumnya, bukan merupakan cita-cita yang harus dikejar.

Blog T. Djamaluddin: 2013 in review

Laporan Tahunan WordPress menyatakan bahwa selama tahun 2013 blog “Dokumentasi T. Djamaluddin: Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi” telah dikunjungi sekitar 160.000 orang. Ada 38 tulisan yang dimuat, sehingga total ada 388 tulisan. Hari tersibuk masih terkait dengan masalah perbedaan kalender Hijriyah, yaitu menjelang Ramadhan 1435 lalu, pada 8 Juli 2013 dengan 11.146 pengunjung. Artikel paling banyak dibaca adalah Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab. Pengunjung berasal dari 106 negara, tentu saja terbanyak dari Indonesia, disusul Amerika Serikat dan Malaysia.

Peta Pengunjung Blog 2013

Labaik Allahumma Labaik: Dokumentasi Berhaji 1434/2013

Labaik Allahumma labaik. Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi rizqi dan kesehatan untuk melaksanakan ibadah haji bersama istri pada 1434/2013. Terlahir dari keluarga miskin dan meniti hidup dalam kesederhanaan, berhaji adalah impian yang dulu tak terbayangkan bisa terlaksana. Sebelumnya saya pernah berumrah pada 2008, itu pun karena panggilan Allah melalui hadiah Umrah Tabungan Share Muamalat. Setelah sekian lama menabung, akhirnya tabungan haji saya memenuhi syarat untuk mendapatkan nomor porsi pada 2010 dan bisa berangkat pada 2013.

Berikut ini beberapa catatan visual saat beribadah haji pada 1434/2013, sekadar dokumentasi dan ungkapan syukur saya sebagaimana diajarkan Allah

Nikmat Allah - ceritakan“Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu ceritakan” (QS Adh-Dhuha:11)

DSCN0607

Berangkat 23 September 2013 bersama KBIH Salman ITB, tergabung dengan Kloter 32 Kota Bandung.

DSCN0634

Menjelang thawaf qudum pada tengah malam pada hari pertama tiba di Mekkah.

DSCN0838

Suasana thawaf, dengan tambahan struktur portabel untuk jamaah berkursi roda.

DSCN0643

Suasana sai dari Shafa ke Marwah.

DSCN0666

Menjelang shalat maghrib, langsung berhadapan dengan Ka’bah

DSCN0743

Saat menunggu adzan maghrib di lantai 3 Masjidil Haram dengan latar belakang jam raksasa.

DSCN0745

Suasana di dalam Masjidil Haram.

DSCN0750

Cetakan kaki Nabi Ibrahim di dalam “Maqam Ibrahim” (tempat berdiri Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah)

DSCN0744

Haji mempertemukan berbagai bangsa dengan berbagai bahasa dan identitas khasnya.

DSCN0866

Suasana di tenda Mina saat mabit 8 Dzulhijjah menjelang wukuf.

DSCN0911

Suasana wukuf di Arafah, 9 Dzulhijjah. Tendanya sederhana, tidak sebagus di Mina.

 DSCN0919

Suasana mabit (bermalam) di Mudzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah

DSCN0958

Suasana lempar jumrah.

DSCN0969

Gundul, seusai tahalul awal, setelah lempar jumrah Aqabah.

DSCN0995

DSCN1005

Melempar jumrah pada hari-hari Tasyrik. Barisan panjang jamaah berbagai negara dengan bendera penanda khas tertib melalui terowongan yang nyaman.

DSCN1042

Jamarat (tempat melempar jumrah) dan tenda-tenda jamaah di Mina. Di latar belakang terlihat jam raksasa penanda arah Masjidil Haram.

DSCN1346

Berziarah ke Masjid Nabawi bukan bagian berhaji, namun penting dilakukan.

DSCN1250

“Berburu” kesempatan untuk berdoa di Raudhah yang diyakini doa kita akan diijabah Allah. Hadits Rasul dituliskan di gerbang Raudhah (kaligrafi hijau di atas gerbang), “Di antara rumahku (sekarang menjadi makam Rasulullah) dan mimbarku ada raudhah (taman) di antara taman-taman surga”

DSCN1120

Payung-payung raksasa khas Masjid Nabawi.

DSCN1125

Masjid Nabawi penuh tiang, tetapi indah.

DSCN1100

Tidak lupa rihlah ke tempat-tempat bersejarah. Gua Hira ini didaki menjelang tengah malam, naik dan turun perlu waktu sekitar 3 jam dengan perjalanan lambat mengawal ibu-ibu. Lokasinya di puncak bukit sebelah kiri atas, tersembunyi di bebatuan.

DSCN0698

 Ini adalah jabal Tsur, tempat singgah Rasul saat hijrah dari Mekkah ke Madinah.

DSCN1207

Inilah Masjid Quba. Di tempat inilah masjid pertama di bangun Rasul dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

DSCN1199

Inilah masjid Qiblatain (dua qiblat), tempat Rasul menerima wahyu perubahan arah qiblat dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Masjidil Haram di Mekkah.

DSCN1190

Ini adalah medan perang Uhud. Bukit Uhud ada di latar belakang. Pemakaman syuhada Uhud di batasi dengan pagar di tengah medan pandang foto ini yang dipotret dari Bukit Rumat.

DSCN1187

Inilah Bukit Rumat, di seberang Bukit Uhud, tempat pasukan pemanah diperintahkan Rasul untuk bertahan di bukit itu apa pun yang terjadi, namun mereka tergoda dengan harta rampasan.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 241 pengikut lainnya