Sosok dan Pemikiran Thomas Djamaluddin: Memajukan Bangsa dengan Astronomi

Harian Nasional 3-4 September memuat wawancara dengan Kepala LAPAN dalam rubrik “Sosok dan Pemikiran”. Berikut salinannya:

Thomas Djamaluddin–Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Memajukan Bangsa dengan Astronomi

sosok-td-0-foto

Sosok & Pemikiran -Kepala LAPAN (PDF)

sosok-td-1-foto

sosok-td-1a-foto

Penetapan hari raya keagamaan di Indonesia, selalu menjadi perhatian. Perbedaan cara menentukan posisi bulan, antara hisab dan rukyat, menjadikan dua organisasi keagamaan acap

beda pendapat. Di antara perbedaan, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin kerap hadir menjadi penengah. Bergelung dengan dunia penelitian antariksa selama 30 tahun, pernyataan Thomas setidaknya bisa menjembatani perbedaan.Tugas ilmuwan, seperti yang ia terapkan, yaitu mencerdaskan masyarakat sesuai bidang keilmuan. Tapi, beragam ulasan belum menyentuh alasan Thomas begitu mesra dengan dunia antariksa. Wartawan HARIAN NASIONAL Adinda Pryanka dan pewarta foto Yosep Arkian mewawancarai Thomas. Berikut isi wawancara:

 

 

Sejak kapan tertarik dengan antariksa?

Saya tertarik sebagai peneliti sejak SMP. Saat itu, guru meminta para murid untuk menulis cita-cita. Dan saya menulis ingin menjadi peneliti, meski pun belum tahu pasti bidangnya apa. Keluarga sebenarnya tidak ada latar belakang peneliti. Kalau melihat bapak, dari kecil sampai SMP ingin jadi tentara angkatan udara. Tapi setelah

itu berubah keinginan untuk jadi peneliti. Saya senangnya mengulik, melihat biji tumbuh, kalau musim hujan banyak tunas baru, senang meneliti itu. Awalnya ingin jadi peneliti tumbuhan, aspek pertanian atau biologi.

 

Sampai bersentuhan dengan astronomi?

Waktu SMP kelas tiga ada beberapa majalah ilmiah populer. Waktu itu topiknya membahas UFO atau piring

terbang. Masuk SMA pada 1978, jadi tertarik membaca segala hal tentang UFO. Kebetulan perpustakaan saya ada sedikit buku yang menambah ingin tahu saya. Seiring dengan mempelajari agama, saya pun ingin mencari tahu bagaimana kedua ilmu ini bisa berjalan beriringan. Saya memaksa diri untuk menulis dan mengulik bagaimana pandangan agama terhadapUFO. Untuk menulis itu, saya riset kecilkecilan melalui buku. Untungnya, SMA saya mendapat buku sumbangan dari Kedutaan Besar Amerika yang banyak terkait astronomi. Dari situ semakin tertarik dengan dunia luar angkasa dan astronomi.

 

Minat itu masih berlanjut setelah lulus SMA?

Iya. Waktu kelas 3 SMA, kebetulan baru dibuka program proyek perintis II, masuk perguruan tinggi tanpa tes. Pada 1981, menjelang lulus SMA, ITB membuka program tersebut. Saya memutuskan ikut serta dengan harapan bisa masuk astronomi melalui nilai rapor saya. Alhamdulillah diterima tanpa tes.

 

Berkecimpung di LAPAN sudah direncanakan?

Menjelang lulus kuliah, semula saya inginnya jadi dosen. Mencoba mendekati pembimbing dan dosen lain, tapi ternyata belum ada formasi. Berarti saya belum pasti bisa masuk atau tidak. Kebetulan seorang teman angkatan ada yang sudah masuk LAPAN terlebih dahulu dan menawarkan saya. Tanpa konsultasi ke pembimbing, saya datang ke LAPAN Bandung dalam keadaan menjelang sidang sarjana. Meski pun belum mendapat gelar, saya sudah dianggap lulus oleh LAPAN. Dulu prosedur masih mudah, ikut psikotes lalu ujian sebagai PNS.

 

Akhirnya keinginan menjadi dosen pupus?

Kurang lebih begitu. Pada akhirnya, sempat menimbulkan masalah ketika dilaporkan ke pembimbing. Beliau agak kecewa karena memproyeksikan saya sebagai dosen. Tapi karena formasi dosen belum ada, beliau mencoba memahami. Setelah lulus sarjana pada awal Oktober, pertengahan wisuda dan awal November langsung masuk kerja di LAPAN Bandung. Status pengangguran saya hanya dua minggu, itu pun mempersiapkan untuk kerja. Saya masuk LAPAN pada 1986 dengan status sebagai honorer selama satu semester, sampai akhirnya menjalani tes CPNS pada 1 Maret 1987. Satu tahun setelahnya, April 1988, saya sekolah ke Jepang dengan beasiswa dari pemerintah sana.

 

Puluhan tahun menggeluti astronomi tidak jenuh?

Tidak pernah sekali pun. Justru di astronomi inilah, di mana hobi dan profesi saya bias bersatu. Saya mengerjakan riset sekaligus melakukan kesenangan meneliti segala hal.

 

Bagaimana dengan minat generasi muda terhadap astronomi saat ini?

Sudah sangat luar biasa. Pada 1980-an di generasi saya, sebenarnya minat sudah tinggi, tapi informasi dan teknologi masih terbatas. Dulu sumber informasi dari majalah saja. Sekarang di internet sudah melimpah meski pun memang harus berhati-hati karena banyak berita sampah. Tapi setidaknya itu jadi pemicu minat. Kini, fasilitas pun sudah sangat mendukung. Banyak teleskop canggih dengan harga yang terjangkau. Berbeda halnya

ketika dulu hanya orang tertentu saja yang bias membeli teleskop untuk digunakan pribadi atau kelompok. Faktor ini yang memicu munculnya beberapa kelompok amatir. Pada 1990-an, teman-teman sempat mendorong kelompok astronom amatir di Bandung. Tapi susah sekali. Peminatnya banyak. Sayang, fasilitas yang terbatas membuat banyak dialog buyar. Sekarang. kelompok astronom amatir sudah banyak karena peralatannya pun relatif banyak.

 

Astronomi tidak sekadar astronomi, juga untuk menjadi media popularisasi sains.

 

Efek astronomi tunggal atau berpengaruh dengan bidang keilmuan lain?

Tentu ada. Tumbuhnya minat astronomi itu sekaligus menciptakan generasi yang dekat dengan sains. Astronomi tidak sekadar astronomi, juga untuk menjadi media popularisasi sains. Sains yang kerap dianggap

sulit di generasi muda, sekarang cenderung dianggap sebagai suatu yang menyenangkan. Misal saja untuk memecahkan misteri bintang-bintang. Mau tidak mau kita harus menggunakan perangkat sains, dari fisika,

kimia, matematika, atau juga biologi. Astronomi jadi salah satu cara untuk memopulerkan itu semua.

 

Astronomi dengan kemajuan bangsa?

Kuat hubungannya. Pada umumnya, bangsa yang mempunyai tingkat kemajuan itu tingkat astronominya juga lebih maju, baik dari peradaban lama atau pun modern. Mereka mengembangkan banyak teori berdasarkan benda langit. Kalau kita lihat dari sejarah peradaban dulu, bangsa yang tergolong maju memiliki warna astronomi. Sebut saja Mesir Kuno, China Kuno, dan Romawi. Mereka memiliki peninggalan astronomi karena dianggap sudah menjadi bagian yang diperlukan untuk kehidupan. Salah satunya ritual penetapan kalender. Kemudian, teknologi terkait pengamatan. Dari kebutuhan di bidang astronomi, tidak sedikit peralatan ikut

berkembang. Misalnya saja teknologi fotografi yang semula menggunakan film untuk meneliti antariksa, sekarang berkembang jadi elektronik. Di satu sisi, astronomi merupakan pemacu perkembangan teknologi suatu

bangsa. Di sisi lain, perkembangan teknologi suatu bangsa juga mendorong perkembangan astronomi. Lihat saja negara maju maka astronominya maju, termasuk Jepang dan China di Asia, serta tentu negara barat di Amerika dan Eropa.

 

Posisi Indonesia saat ini?

Indonesia lagi menuju ke arah situ (kemajuan). Dengan segala keterbatasan anggaran, Indonesia relatif maju di kalangan ASEAN. Dari segi sumber daya manusia serta fasilitas, semuanya sudah mendukung untuk perkembangan astronomi.

 

Apa saja yang menjadi tantangan astronom?

Astronomi sering kali dianggap sebagai ilmu awang-awang yang mempelajari benda antariksa jauh di sana. Oleh karena itu, LAPAN melakukan beberapa hal untuk menarik astronomi menjadi lebih membumi, termasuk dengan mengkaji hubungannya terhadap sosial. LAPAN berupaya mengintegrasikan astronomi pada kebutuhan

masyarakat, seperti penetapan kalender. Kalau dulu, bisa dibilang bahwa astronomi dan masalah kehidupan sosial masih dianggap terpisah. Ilmu pengetahuan hanya dilihat sebagai alat bantu. Saat ini LAPAN mencoba menjadikan astronomi sebagai solusi yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.

sosok-td-2-foto

BAGI Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, astronomi menjadi tolak ukur kemajuan bangsa. Prinsip itu yang terus ia yakini. Kalau dihitung, anak purnawirawan TNI AD Sumaila Hadiko itu telah bergelut selama 30 tahun sebagai peneliti. Dari banyak bidang keilmuan, ia fokus

pada astronomi. Meski telah menjejak tiga dekade dalam profesi yang sama, Thomas mengaku tak pernah jenuh. “Astronomi membuat hobi dan profesi bertemu,” tuturnya beberapa waku lalu. Alhasil, pekerjaan sekaligus menjadi media penghibur.

 

Ketika pertanyaan mengarah pada apa yang paling berkesan menjadi astronom, ia bingung. “Semuanya menarik,” begitu kata pria kelahiran Purwokerto, 23 Januari 1962 itu. Tapi, ia melanjutkan, “pengalaman paling

menarik adalah bagaimana membumikan astronomi untuk aspek-aspek yang aplikatif di kehidupan sehari-hari. Termasuk, aspek cuaca antariksa dan aplikasi dalam kehidupan masyarakat, mengenai kalender khususnya kalender Islam di Indonesia dan global.”

 

Pengalaman yang dianggap menarik itu pula yang Thomas jadikan target. Singkat cerita, ia ingin menjadikan manfaat ilmu penerbangan dan antariksa dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. “Meski beberapa kali dianggap sebagai (barang) mahal dan teknologi berisiko tinggi, astronomi sebenarnya bisa dijalankan dengan

baik serta dimanfaatkan secara optimal untuk berbagai bidang,” jelasnya.

 

Alhasil, lantaran mengemban amanah menjadi Kepala LAPAN, ia berencana menjadikan ilmu pengetahuan penerbangan dan antariksa bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 􀁏 ADINDA PRYANKA

 

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (6): Sekitar Sains dan Pengenalan Tuhan

Wawancara Manusia Indonesia  seputar sains dan pengenalan Tuhan bisa disimak pada  video berikut:

Proyeksi Tambahan Citra Matahari pada Potret Kamera HP

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Halo

Potret halo matahari dengan titik putih di atas

Ketika memotret matahari yang sangat cemerlang dengan kamera HP, selalu ada bintik putih. Bintik putih itu selalu berubah posisinya, setiap memotret matahari. Semula saya mengira itu efek optis biasa dari kamera. Ini potret halo matahari dengan posisi bintik putih yang berpindah.

Halo2

Potret halo matahari dengan titik putih di atas (dengan posisi berubah)

Setelah gerhana matahari 9 Maret saya menerima beberapa foto dari teman grup WA terkait dengan objek yang menyertai foto matahari yang direkam dengan kamera HP yang menampakkan bentuk sabit mungil. Potret itulah yang meyakinkan bahwa objek mungil yang menyertai citra matahari yang sangat cemerlang sesungguhnya proyeksi matahari juga. Ada efek peredupan dan pengecilan citra matahari. Mekanismenya belum saya ketahui, tetapi mirip efek pinhole camera (kamera lubang jarum) sederhana.

Berikut ini citra matahari saat gerhana dan objek mungil yang susungguhnya adalah proyeksi matahari yang sedang dalam proses gerhana:

IMG-20160411-WA0014

Citra proyeksi tambahan gerhana dipotret dari Jakarta. Matahari sangat terang tidak menampakkan fase gerhana. Tetapi citra proyeksi tambahan yang lebih redup dan mungil di sebelah kanan adalah gerhana sebelum fase puncak sekitar pukul 07.00 WIB, ketika bulan menutupi matahari di bagian kanan bawah. Sabit matahari tampak di bagian atas pirigan matahari. [Foto dari Kanti di Grup WA HAKU — Himpunan Alumni Kyoto University]

IMG-20160411-WA0013

Citra proyeksi tambahan gerhana dipotret dari Jakarta. Matahari yang semakin tinggi dan sangat terang tidak menampakkan fase gerhana. Citra proyeksi tambahan yang lebih redup dan mungil di sebelah kanannya adalah gerhana pada fase puncak sekitar pukul 07.20 WIB, ketika bulan menutupi matahari di bagian kanan. Sabit matahari tampak tegak. [Foto dari Kanti di Grup WA HAKU — Himpunan Alumni Kyoto University]

IMG-20160411-WA0011

Foto gerhana dipotret di Malang sekitar pukul 08.20 ketika bulan mulai meninggalkan matahari dari arah kanan atas matahari. Matahari yang cemerlang tidak menampakkan fase gerhana. Proyeksi tambahan matahari yang mungil di kanan bawah menampakkan sabit menjelang akhir gerhana. [Foto dari Iva di Grup WA HAKU — Himpunan Alumni Kyoto University].

Saya menduga, proyeksi tambahan juga terjadi pada semua objek di medan pandang kamera. Hanya saja, karena jauh lebih redup dari matahari, proyeksi tambahan objek lain tidak tampak di citra hasil potret.

DIPI: Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia, Darah Segar Bangkitkan Penelitian Indonesia

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

DIPI-0

Direktur Eksekutif dan Dewan Pengarah Ilmiah DIPI (Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia) saat peresmian DIPI.

Saya menghadiri peresmian DIPI/ISF (Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia/Indonesian Science Fund) di Gedung Kementerian Keuangan, Rabu, 30 Maret 2016. Saya menilai berdirinya DIPI bisa menjadi darah segar yang membangkitkan penelitian Indonesia mengejar ketertinggalannya. Berikut ini catatan saya dari pertemuan tersebut dilengkapi dengan bahan dokumen AIPI “SAINS45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Kemerdekaan“.

DIPI adalah lembaga mandiri di bawah naungan AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang menyediakan pendanaan berkelanjutan bagi penelitian fundamental di garis depan (frontiers) berdasarkan kualitas, orisinalitas gagasan, dan kapabilitas. DIPI didukung oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), Australian Aid, US-AID, dan UK-Newton Fund. Berikut info grafis yang memberi gambaran lengkap tentang DIPI:

DIPI-0

DIPI dengan lembaga nasional dan internasional pendukungnya.

DIPI-1

Mekanisme pendanaan DIPI tidak terikat dengan siklus tahunan anggaran negara.

DIPI-2

DIPI memberikan hibah untuk penelitian fundamental di garis depan (frontier) berdasarkan kompetisi.

DIPI-3

Penelitian yang didanai dikelompokkan dalam 8 Bidang.

Apa yang dimaksud penelitian “fundamental di garis depan (frontier)”? DIPI merujuk pada dokumen AIPI “SAINS45: Agenda Ilmu Pengetahuan Indonesia Menyongsong Satu Abad Kemerdekaan“, yaitu 45 tantangan ilmiah yang dikelompokkan dalam 8 bidang (mengambil filosofis 17-8-1945).  Berikut ini garis besar 8 Bidang dengan 45 tantangan ilmiah yang harus dijawab:

I. IDENTITAS, KERAGAMAN, DAN BUDAYA
1. Apa yang Menjadikan Indonesia “Indonesia”?
2. Torang Samua Basudara: Satu Bangsa di Tengah Keragaman
3. Nasionalisme di Era Transnasionalisme, Bagaimana Bertahan?
4. Bagaimana Teknologi Akan Membentuk Ulang Kemanusiaan?
5. Nusantara, Tapak Perjalanan Evolusi Manusia?
6. Arsitektur Sains Berubah: Bagaimana Indonesia Menghadapinya?

II. KEPULAUAN, KELAUTAN, DAN SUMBER DAYA HAYATI
7. Megabiodiversitas: Bagaimana ‘Bahtera Nuh’ Ini Akan Bertahan?
8. Merawat Keragaman Hayati Laut adalah Merawat Masa Depan
9. Di Laut Kita Jaya?
10. Pada Lautan, Bisakah Kita Sandarkan Masa Depan?
11. Kemiskinan Masyarakat Pesisir: Ironi dalam Kelimpahan
12. Potensi Laut Dalam yang Serba Ekstrem

III. KEHIDUPAN, KESEHATAN, DAN NUTRISI
13. Apakah Kita Apa yang Kita Makan?
14. Kuman Mengalir Sampai Jauh: Memahami Interaksi dengan Hewan, Manusia, dan Lingkungan
15. Tantangan Kini dan Masa Depan: Bagaimana Melawan Infeksi Secara Cerdas?
16. Menyigi Nusantara, Mencari Obat
17. Panjang Umurnya Serta Mulia: Bagaimana Tetap Sehat di Usia Tua?
18. Bagaimana Mengantisipasi Penduduk yang Akan Menua?
19. Setelah Sel Punca, Apa Lagi?

IV. AIR, PANGAN, DAN ENERGI
20. Air untuk Semua: Bagaimana Mengamankannya?
21. Pertanian Lebih Pintar untuk Pangan Lebih Banyak
22. Selain Pangan, Bisakah Vaksin dan Obat Dipanen di Ladang Pertanian?
23. Panas Bumi Andalan Energi Kita

V. BUMI, IKLIM, DAN ALAM SEMESTA
24. Memahami Pergolakan Perut Bumi Pertiwi
25. Hutan Tropis: Cuma Ditebang, Sampai Kapan?
26. Limbah Jadi Berkah, Caranya?
27. Memaknai Benua Maritim Indonesia
28. Karbon dan Perubahan Iklim: dari Bumi, Bagaimana Kembali ke Bumi?
29. Dari Khatulistiwa Meneropong Semesta

VI. BENCANA DAN KETAHANAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA
30. Hidup di Atas Bumi yang Terus Bergerak
31. Menakar Bencana Laten di Pesisir dan Laut
32. Hidup Serumah dengan Bencana

VII. MATERIAL DAN SAINS KOMPUTASI
33. Mengindra Bumi, Menghitung Kado Alam
34. Mencari Teknologi Hijau Tambang: dari Alam hingga Ladang
35. Menjaring Energi Matahari, Mari Mencari Jalanya!
36. Industri Strategis: Perlu Desain Material Seperti Apa?
37. Sains Komputasi dan Sistem Kompleks bagi Indonesia

EKONOMI, MASYARAKAT, DAN TATA KELOLA
38. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Ekonomi, Mungkinkah?
39. Dicari! Institusi yang Menjamin dan Mendorong Kemakmuran
40. Orang Muda Akan Terus Menulis Sejarah Indonesia?
41. Bagaimana Bentuk Baru Ketimpangan dan Kemiskinan di Masa Depan?
42. Bagaimana Menapis Banjir Informasi?
43. Kebijakan Publik dan Republik: Bagaimana Dirumuskan?
44. Pendidikan yang Membangun Manusia
45. Untuk Manusia dan Kemanusiaan, di mana Hukum Harus Berdiri?

Info lebih lanjut, silakan kontak DIPI:

DIPI-4

Refleksi Akhir Tahun 2015 LAPAN

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Logo LAPAN

Alhamdulillah, beberapa capaian telah diperoleh LAPAN selama 2015 untuk menambah kepercayaan diri, tanpa melupakan hal-hal yang harus dibenahi.

Beberapa capaian yang harus kita apresiasi atas kerjasama yang baik semua unsur LAPAN:
– Peringkat LAPAN di Webometrik lembaga riset pada Januari 2015 naik dari peringkat 4 nasional (741 internasional) ke peringkat 3 nasional (666 internasional). Sebelumnya peringkat pada Juni 2014 adalah peringkat 40 nasional (7761 internasional).

Webometric LAPAN 2015
– LAPAN menerima penghargaan dari ANRI peringkat 3 Unit Kearsipan Lembaga Negara/Lembaga Non-Kementerian.

Penghargaan Kearsipan
– LAPAN menerima penghargaan “Karya Unggulan Anak Bangsa” dari Kementerian Ristekdikti atas Konsep MSS ( Maritime Surveillance System berbasis UAV) dan bersama PT DI atas produk N219.

Karya Unggulan

(Penghargaan Kemenristekdikti)
– LAPAN menerima “National Procurement Award 2015” dari LKPP untuk 2 kategori: “Kepemimpinan pada Transformasi Pengadaan Secara Elektronik” dan “Komitmen Penerapan Standar LPSE:2014”

National Procurement Award

(Penghargaan dari LKPP)
– LAPAN menerima penghargaan “Tangguh Award 2015” dari BNPB kategori “Tokoh Inspiratif” untuk Tim Tanggap Darurat Bencana berbasis Penginderaan Jauh LAPAN”.

Penghargaan BNPB-LAPAN

(Penghargaan dari BNPB)
– LAPAN menerima penghargaan Pengelola BMN dari Menkeu sebagai Juara Pertama untuk kategori K/L dengan 10 – 100 satuan kerja.

Penghargaan BMN-LAPAN

(Penghargaan dari Kemenkeu)
– LAPAN menerima penghargaan Keterbukaan Informasi Publik dari Komisi Informasi Pusat sebagai Peringkat 3 untuk kategori Lembaga Negara.

Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik

(Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 2015)
– Satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari telah berhasil mengorbit dan semua instrumennya berfungsi dengan baik.

LAPAN-A2

(Satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari sebelum dilepas oleh Presiden RI, 3 September 2015)
– Pesawat N-219 hasil kerjasama LAPAN-PTDI telah roll-out dengan target terbang perdana 2016 dan produksi 2017.

Roll Out N219

(Roll ou pesawat N219, 10 Desember 2015)
– LAPAN mendapatkan Rekor MURI untuk LSU 03 yang berhasil terbang otonomus 340 km (Garut-Pangandaran-Cilacap PP) selama 3,5 jam.

MURI-LSU-03

(Sertifikat MURI dan pesawat LSU-03)
– LAPAN mendapatkan pembinaan untuk menjadi Pusat Unggulan Iptek 2016-2018 dari Kemenristekdikti untuk Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA).

Binaan Pusat Unggulan Iptek
– LAPAN mendapatkan sertifikat ISO 9001 : 2008 untuk Sistem Manajemen Mutu dalam pelayanan teknologi dan Data Satelit Penginderaan Jauh.

ISO 9001 - LAPAN
– Perpres 49/2015 tentang struktur baru LAPAN telah ditetapkan yang disusul dengan evaluasi dan seleksi terbuka nasional dan internal untuk 4 JPT Madyta, 14 JPT Pratama, 45 Administrator, dan 55 Pengawas.

Eselon 1-3 LAPAN

(Pejabat Eselon 1 -3 LAPAN setelah pelatikan, sesuai struktur baru)
– Penilaian RB LAPAN menunjukkan peningkatan kinerja sehingga LAPAN berhak mendapatkan kenaikan tunjangan kinerja berdasarkan Perpres 161/2015 tertanggal 28 Desember 2015. Kenaikan Tukin antara 27,1 – 55,0% (rata-rata 37,8%).

Wawancara Kepala LAPAN: Loncatan Kebanggaan Nasional

TD-Gatra-Sep-2015-1

Catatan: Majalah Gatra edisi 23 September 2015 memuat wawancara Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin. Walaupun ada beberapa yang salah kutip dan sebutan “pertahanan” semestinya tidak ada (karena bukan ranahnya LAPAN), tetapi secara umum wawancara itu menggambarkan cita-cita dan tantangan LAPAN untuk memajukan iptek penerbangan dan antariksa Indonesia.

TD-Gatra-Sep-2015-2

TD-Gatra-Sep-2015-3

TD-Gatra-Sep-2015-4

Penghargaan “Ganesa Widya Jasa Adiutama” 2015 dari ITB

Ganesha Award

Ganesha-Award-1

Alhamdulillah, ITB menganugerahkan penghargaan “Ganesa Widya Jasa Adiutama” pada Peringatan 95 tahun Pendidikan Teknik di Indonesia 1920-2015 di Aula Barat ITB pada Jumat, 3 Juli 2015. “Ganesha Widya Jasa Adiutama” adalah penghargaan tertinggi ITB yang diberikan kepada pihak-pihak (baik institusi maupun individu) yang telah menunjukkan jasa dan/atau prestasi yang menonjol dalam melaksanakan kegiatan pengembangan IPTEKS di tingkat internasional, nasional, dan/atau ITB.

2015-07-03 08.41.33

DSC01899