Catatan dari Udara: Kisah Sungai, Hutan, Pulau, dan Awan dalam Perjalanan dari Jayapura – Jakarta

T. Djamaluddin

LAPAN

2014-03-21 12.40.11

Pantai Utara Papua, sesaat setelah lepas landas dari Jayapura

Penerbangan siang hari selama 5 jam non-stop pada 21 Maret 2014 dari Jayapura (Papua) ke Jakarta saya gunakan untuk mengamati awan, pulau, sungai, hutan, dan kota di bawah. Dari ketinggian rata-rata sekitar 8 – 10 km menarik juga merenungi aspek fisis fenomena yang saya lihat, selain mengagumi keindahannya. Saya memang selalu memilih tempat duduk di samping jendela untuk sekadar mengamati dan kalau mungkin mengambil gambar dengan kamera saku.

2014-03-21 12.46.53

Sungai yang berkelak-kelok di tengah hamparan hutan lebat menggambarkan kontur wilayah yang berbukit-bukit. Air sungai mengalir dari pegunungan menuju laut akan memilih jalur yang bergantung pada kontur wilayah. Air memilih daerah lembah yang lebih rendah. Ketika aliran air terhalang bukit, maka alirannya akan berbelok-belok di lembah di antara bukit atau kontur tanah yang lebih rendah.

2014-03-21 12.56.35

Awan kok suka berbaris ya. Awan terbentuk karena naiknya uap air dan bertahan pada ketinggian tertentu lalu berkondensasi (menggumpal) mengikuti pola dinamika (pergerakan) atmosfer pada ketinggian tersebut. Pola dinamika yang teratur bisa membentuk awan bergumpal-gumpal dalam pola barisan.

2014-03-21 13.09.35

Awan memanjang di atas Pulau Yapen, di Utara Papua.

2014-03-21 13.40.06

Awan di atas semenanjung sebelah Barat Fakfak.

Mengapa awan rendah cenderung berkumpul di atas daratan pulau? Awan mengikuti angin. Pada siang hari daratan lebih cepat panas, sehingga tekanannya lebih rendah daripada lautan. Bertiuplah angin laut, yaitu perpindahan udara dari laut ke darat. Uap air dari laut terbawa ke arah darat bertemu dengan udara dingin di atas daratan. Jadilah awan rendah berkumpul di atas daratan. Semakin sore, awan semakin banyak. Itu sebabnya mendung cenderung terjadi pada sore.

2014-03-21 14.13.14

Bandara Ambon terlihat dari ketinggian 10 km, dikelilingi awan.

2014-03-21 15.23.15

Kombinasi pulau dengan terumbu karangnya, dengan hiasan awan putih yang indah.

2014-03-21 15.23.31

Tiga jenis awan: awan Stratus berupa lembaran relatif tipis (atas), awan Kumulus yang bergumpal kecil-kecil putih, dan awan Kumulo Nimbus yang menjulang sebagai penghasil hujan lebat. Awan ini dijumpai di laut antara Sulawesi dan Kalimantan, sebagai bagian dari daerah ITCZ (Intertropical Convergence Zone — Zona konvergensi tropis), yaitu daerah pertemuan angin dari belahan Selatan yang relatif hangat dengan angin dari Utara yang relatif dingin. Awan di daerah ITCZ dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global, bukan seperti awan rendah di atas pulau-pulau.

2014-03-21 15.25.44

Awan Kumulo Nimbus yang menjulang selalu dihindari pilot. Kalau pesawat terpaksa memasukinya, pesawat akan mengalami guncangan karena awan itu sedang mengangkat udara hangat dengan aktif sekali.

2014-03-21 17.01.50

Petak-petak sawah menghijau menjelang mendarat di Jakarta. Lukisan indah yang tak boleh dilewatkan.

Mendaki Menuju Puncak Cita-cita dan Karir

T. Djamaluddin

Kepala_Lapan_2014

Alhamdulillah, 7 Februari 2014 lalu saya mencapai puncak karir pegawai negeri sipil. Menristek melantik saya menjadi Kepala LAPAN. Dalam jabatan pegawai negeri sipil, jabatan kepala LPNK (Lembaga Pemerintah Non-Kementerian) adalah jabatan puncak karir, yang dalam undang-undang Aparatur Sipil Negara disebut Jabatan Pimpinan Tinggi Utama. Penggalan perjalanan sepanjang hayat ini saya tuliskan sekadar berbagi inspirasi dan dorongan semangat untuk anak-anak dan adik-adik yang sedang meniti cita-cita dan karir. Catatan ini pun sebagai tanda syukur atas kasih sayang Allah dan tanda terima kasih kepada orang tua, keluarga, teman-teman, dan banyak orang yang telah membantu saya. Semua itu akan terasa nikmatnya kalau diungkapkan agar tidak ibarat “kacang lupa akan kulitnya”. Agar pandai bersyukur, Allah juga mengingatkan,

Nikmat Allah - ceritakan

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu ceritakan” (QS Adh-Dhuha:11)

Saya masuk SD saat ayah saya memasuki masa pensiun sebagai anggota TNI-AD. Sekolah di SD Kejaksan I Cirebon saya tetap semangat walau kadang dipanggil guru karena iuaran sekolah tak pernah tuntas. Namun saat kelas 5, hampir saja saya putus sekolah. Saat itu ayah pulang kampung ke Gorontalo dan sakit sehingga tertunda sekian lama tidak balik ke Cirebon. Iuran sekolah tak terbayarkan. Dampaknya, raport kenaikan kelas 5 ditahan guru. Saya tak tahu naik kelas atau tidak, tetapi teman saya yang putri guru menyebut saya naik dan menyebut saya sebagai juara kelas. Karenanya saya beranikan masuk kelas 5. Saya hampir menangis ketika guru kelas 5 menanyakan mengapa masuk kelas 5. Besoknya saya tak masuk sekolah, malas sekali, rasanya ingin berhenti sekolah. Orang tua selalu memberi semangat untuk jangan putus sekolah, apa pun keadaannya. Untuk memberi semangat ibu saya bercerita tentang anak tukang cuci pakaian yang berhasil menjadi camat di Papua. Cerita itu cukup membangkitkan semangat, bahwa saya pun bisa seperti itu. Malas sekolah hanya satu hari itu. Saat saya kembali masuk sekolah dan ditanya alasan ketidakhadiran, saya berterus terang beralasan malas. Suatu alasan yang tidak diterima guru saya.

Kelas 5 itulah banyak pengalaman pahit ketika dijalani namun manis untuk jadi kenangan. Betapa tidak enaknya jadi anak miskin yang dilecehkan teman dan guru. Ada teman yang suka menarik-narik kaus kaki saya yang kendur diikat karet. Guru yang mencontohkan baju putih bersih berbeda dengan putih kekuningan yang saya pakai. Walau menyakitkan, tetapi itu memberi semangat untuk menunjukkan kelebihan prestasi belajar. Saya pemalu menghadapi orang, tetapi saya tidak pernah malu untuk sesuatu yang benar. Saya mencoba mencari uang jajan dengan berjualan es bungkus, berkeliling di Pasar Pagi Cirebon. Saya tidak malu ketika berpapasan dengan guru saya yang pulang dari pasar. Sempat juga berjualan nasi bungkus menjelang sekolah selepas shubuh, menjelang sekolah. Para penarik becak Pasar Pagi adalah pelanggan utama saya.

Namun, ada catatan pembangkit semangat yang juga tak terlupakan saat kelas 5 itu. Ketika guru saya mengumumkan hasil nilai THB (Tes Hasil Belajar – yang soalnya dibuat Dinas Pendidikan), ternyata disebut juga ada satu soal yang hanya saya yang jawabannya benar. Soal tentang asal-usul minyak bumi, yang di kelas belum pernah diajarkan. Saya tahu jawabnya karena kebetulan saya suka membaca buku. Asal-usul minyak bumi itu saya baca di buku SMP milik kakak sepupu saya. Itulah titik balik yang membangkitkan lagi semangat belajar saya, setelah nyaris putus sekolah.

Walau ada teman yang suka melecehkan, banyak juga teman yang membantu. Setiap ada tugas kerajinan tangan, bahan-bahan dibantu oleh teman-teman yang rela berbagi. Alhamdulillah, sampai akhirnya tangga cita-cita pertama tercapai. Lulus SD pada Desember 1974 dan masuk SMP favorit, SMP Negeri I Cirebon.

Walau tak separah kondisi saat di SD, kondisi ekonomi yang terbatas menyebabkan saya tak sanggup membeli buku cetak. Selama SMP saya hanya membeli 3 buku stensil (cetakan kualitas rendah) pelajaran agama (kelas 1, 2, dan 3) dan 1 buku tipis pelajaran ekonomi saat kelas 3. Buku itu terbeli karena harganya murah. Saya beruntung punya teman-teman yang mengerti keadaan saya. Mereka bersedia meminjamkan buku untuk saya ringkas atau untuk mengerjakan PR. Beberapa buku saya pinjam agak lama karena saya ringkas isinya. Jadi pada awal tahun saya sudah mempunyai catatan lengkap pelajaran satu tahun. Puncak tangga ke dua tercapai, lulus SMP pada Desember 1977 dan melanjutkan ke sekolah favorit SMA Negeri 2 Cirebon.

Ketidakmampuan membeli buku cetak berlanjut sampai SMA, walau masih lebih baik. Beberapa buku masih terbeli. Kalau terpaksa tidak terbeli, selain meminjam ke teman, cara lain yang saya gunakan adalah membaca di toko buku. Karena waktunya singkat, informasi yang saya perlukan harus saya ingat-ingat. Tidak mungkin saya bawa catatan ke toko buku. Perpustakaan sekolah cukup membantu untuk mendapatkan informasi umum, tetapi untuk materi pelajaran tidak tersedia buku yang terkait secara langsung.

Saat SMA, pada awal semester saya selalu membuat target nilai semua pelajaran. Kalau tidak tercapai, semester berikutnya belajar saya pacu. Pernah nilai matematika saya jatuh di bawah harapan, walau tidak buruk. Maka liburan semester itu tidak saya gunakan untuk berlibur. Saya berupaya mencari buku-buku tambahan untuk dapat memahami bagian-bagian yang belum saya fahami. Alhamdulillah, semester berikutnya target kembali tercapai. Tahun 1981 Proyek Perints II (pola penerimaan masuk perguruan tinggi dengan undangan) mulai berlaku juga untuk ITB (sebelumnya hanya IPB). Saya mendaftar ke ITB dan saya tuliskan minat saya masuk jurusan astronomi. Puncak tangga ke tiga tercapai, lulus SMA pada Juni 1981 dan alhamdulillah saya diterima di ITB tanpa tes.

Catatan pendakian tangga cita-cita ke empat (lulus sarjana ITB) dan pengembangan karir saya tuliskan di blog saya ini  “ASTRONOMI: Cita-cita, Kecintaan, dan Pengembangan Karir Peneliti”. Alhamdulillah, seusai wisuda 18 Oktober 1986 hanya berselang 2 pekan saya sudah masuk bekerja di LAPAN Bandung pada 1 November 1986. Bagi seorang peneliti, cita-cita berikutnya adalah sekolah lagi mencapai S2 dan S3. Alhamdulillah, dengan beasiswa pemerintah Jepang (Monbusho) saya dapat melanjutkan S2 dan 3 di jurusan astronomi, Universitas Kyoto. Puncak tangga cita-cita ke lima (lulus s3) saya capai tepat pada ultah ke-34, 23 Januari 1996, setelah tertunda setahun lebih menunggu terbitnya publikasi internasional.

Sebagai pegawai negeri sipil saya menjalani dua jalur pembinaan karir, jalur jabatan fungsional dan jalur jabatan struktural. Jalur jabatan fungsional saya adalah peneliti. Jalur jabatan fungsional lebih bergantung pada upaya pribadi dalam menghasilkan karya yang dinilai dengan angka kredit dan dihargai dengan naik jenjang jabatannya. Kenaikan jabatan fungsional dapat memacu kenaikan pangkat dengan kenaikan pangkat pilihan paling cepat 2 tahunan, lebih cepat daripada kenaikan pangkat reguler yang paling cepat 4 tahunan. Alhamdulillah, jabatan fungsional saya relatif cepat naiknya sehingga memacu kenaikan pangkat saya. Dalam masa kerja 22 tahun, saya mencapai puncak jabatan fungsional Peneliti Utama dengan pangkat tertinggi IVe. Artinya, rata-rata kenaikan pangkat saya sekitar 2,75 tahun. Setelah melakukan orasi pengukuhan, saya memperoleh Profesor Riset pada 9 Desember 2009. Itulah puncak tangga cita-cita sebagai peneliti.

Saya pun dipercaya untuk meniti karir jabatan struktural. Jabatan struktural bukan hanya ditentukan oleh upaya pribadi, tetapi juga faktor kepercayaan pimpinan dan lingkungan kerja atas kemampuan manajerial. Dimulai sebagai Kepala Komputer Induk (eselon IV) lalu menjadi Kapala Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa (eselon III). Ketika ada aturan tidak boleh jabatan rangkap, saya mundur dari Kepala Bidang untuk memilih jabatan fungsional peneliti. Namun setelah sekitar 2 tahun menekuni jabatan fungsional peneliti saja, pada 2007 amanat sebagai Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (eselon II) kembali saya terima. Kali ini aturan telah berubah, boleh jabatan rangkap. Namun pada 2009, pangkat saya sudah mencapai IVe sesuai dengan jabatan fungsional peneliti saya. Pangkat IVe sudah melebihi batas tertinggi pangkat jabatan eselon II. Maka pada April 2010 saya “diparkir” dari jabatan struktural, kembali sebagai peneliti murni. Sekitar satu tahun “parkir”, pada Mei 2011 saya diberi amanah lagi menjadi Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraa (eselon I). Hampir tiga tahun menduduki posisi Deputi, alhamdulillah pada 7 Februari 2014 saya dilantik menjadi Kepala LAPAN. Dalam karir pegawai negeri sipil, itulah puncak karir jabatan struktural.

Cita-cita adalah gambaran masa depan yang diupayakan untuk dicapai. Pasti tidak mudah untuk mewujudkannya. Banyak tantangan dan cobaan, namun tidak mustahil untuk diraih. Saya sudah pada puncak karir pegawai negeri sipil, tidak ada lagi cita-cita spesifik yang harus saya kejar, selain untuk mewujudkan tujuan hakiki hidup manusia: mencari ridha Allah (mardhatillah). Mencari ridha Allah bermakna segala upaya dilakukan sebaik-baiknya, secara ikhlas dan konsisten (istiqamah) hanya karena kecintaan (mahabbah) kepada Allah, bukan karena sesuatu yang duniawi. Hasil duniawi hanyalah dipandang sebagai dampak upaya kita, bukan tujuan utama. Kalau pun suatu saat nanti ada capaian-capaian lain selepas karir pegawai negeri, semuanya adalah dampak dari capaian sebelumnya, bukan merupakan cita-cita yang harus dikejar.

Blog T. Djamaluddin: 2013 in review

Laporan Tahunan WordPress menyatakan bahwa selama tahun 2013 blog “Dokumentasi T. Djamaluddin: Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi” telah dikunjungi sekitar 160.000 orang. Ada 38 tulisan yang dimuat, sehingga total ada 388 tulisan. Hari tersibuk masih terkait dengan masalah perbedaan kalender Hijriyah, yaitu menjelang Ramadhan 1435 lalu, pada 8 Juli 2013 dengan 11.146 pengunjung. Artikel paling banyak dibaca adalah Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab. Pengunjung berasal dari 106 negara, tentu saja terbanyak dari Indonesia, disusul Amerika Serikat dan Malaysia.

Peta Pengunjung Blog 2013

Labaik Allahumma Labaik: Dokumentasi Berhaji 1434/2013

Labaik Allahumma labaik. Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi rizqi dan kesehatan untuk melaksanakan ibadah haji bersama istri pada 1434/2013. Terlahir dari keluarga miskin dan meniti hidup dalam kesederhanaan, berhaji adalah impian yang dulu tak terbayangkan bisa terlaksana. Sebelumnya saya pernah berumrah pada 2008, itu pun karena panggilan Allah melalui hadiah Umrah Tabungan Share Muamalat. Setelah sekian lama menabung, akhirnya tabungan haji saya memenuhi syarat untuk mendapatkan nomor porsi pada 2010 dan bisa berangkat pada 2013.

Berikut ini beberapa catatan visual saat beribadah haji pada 1434/2013, sekadar dokumentasi dan ungkapan syukur saya sebagaimana diajarkan Allah

Nikmat Allah - ceritakan“Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu ceritakan” (QS Adh-Dhuha:11)

DSCN0607

Berangkat 23 September 2013 bersama KBIH Salman ITB, tergabung dengan Kloter 32 Kota Bandung.

DSCN0634

Menjelang thawaf qudum pada tengah malam pada hari pertama tiba di Mekkah.

DSCN0838

Suasana thawaf, dengan tambahan struktur portabel untuk jamaah berkursi roda.

DSCN0643

Suasana sai dari Shafa ke Marwah.

DSCN0666

Menjelang shalat maghrib, langsung berhadapan dengan Ka’bah

DSCN0743

Saat menunggu adzan maghrib di lantai 3 Masjidil Haram dengan latar belakang jam raksasa.

DSCN0745

Suasana di dalam Masjidil Haram.

DSCN0750

Cetakan kaki Nabi Ibrahim di dalam “Maqam Ibrahim” (tempat berdiri Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah)

DSCN0744

Haji mempertemukan berbagai bangsa dengan berbagai bahasa dan identitas khasnya.

DSCN0866

Suasana di tenda Mina saat mabit 8 Dzulhijjah menjelang wukuf.

DSCN0911

Suasana wukuf di Arafah, 9 Dzulhijjah. Tendanya sederhana, tidak sebagus di Mina.

 DSCN0919

Suasana mabit (bermalam) di Mudzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah

DSCN0958

Suasana lempar jumrah.

DSCN0969

Gundul, seusai tahalul awal, setelah lempar jumrah Aqabah.

DSCN0995

DSCN1005

Melempar jumrah pada hari-hari Tasyrik. Barisan panjang jamaah berbagai negara dengan bendera penanda khas tertib melalui terowongan yang nyaman.

DSCN1042

Jamarat (tempat melempar jumrah) dan tenda-tenda jamaah di Mina. Di latar belakang terlihat jam raksasa penanda arah Masjidil Haram.

DSCN1346

Berziarah ke Masjid Nabawi bukan bagian berhaji, namun penting dilakukan.

DSCN1250

“Berburu” kesempatan untuk berdoa di Raudhah yang diyakini doa kita akan diijabah Allah. Hadits Rasul dituliskan di gerbang Raudhah (kaligrafi hijau di atas gerbang), “Di antara rumahku (sekarang menjadi makam Rasulullah) dan mimbarku ada raudhah (taman) di antara taman-taman surga”

DSCN1120

Payung-payung raksasa khas Masjid Nabawi.

DSCN1125

Masjid Nabawi penuh tiang, tetapi indah.

DSCN1100

Tidak lupa rihlah ke tempat-tempat bersejarah. Gua Hira ini didaki menjelang tengah malam, naik dan turun perlu waktu sekitar 3 jam dengan perjalanan lambat mengawal ibu-ibu. Lokasinya di puncak bukit sebelah kiri atas, tersembunyi di bebatuan.

DSCN0698

 Ini adalah jabal Tsur, tempat singgah Rasul saat hijrah dari Mekkah ke Madinah.

DSCN1207

Inilah Masjid Quba. Di tempat inilah masjid pertama di bangun Rasul dalam perjalanan hijrah ke Madinah.

DSCN1199

Inilah masjid Qiblatain (dua qiblat), tempat Rasul menerima wahyu perubahan arah qiblat dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Masjidil Haram di Mekkah.

DSCN1190

Ini adalah medan perang Uhud. Bukit Uhud ada di latar belakang. Pemakaman syuhada Uhud di batasi dengan pagar di tengah medan pandang foto ini yang dipotret dari Bukit Rumat.

DSCN1187

Inilah Bukit Rumat, di seberang Bukit Uhud, tempat pasukan pemanah diperintahkan Rasul untuk bertahan di bukit itu apa pun yang terjadi, namun mereka tergoda dengan harta rampasan.

Dokumentasi “KIPRAH” Media Indonesia: THOMAS DJAMALUDDIN Menyatukan Perbedaan dengan Astronomi

Kiprah - Media Indonesia 6 Sep 2013

Media Indonesia memuat “Kiprah” saya pada terbitan 9 September 2013.  Berikut hasil wawancara wartawan Media Indonesia, Rudy Polycarpus:

THOMAS DJAMALUDDIN Menyatukan Perbedaan dengan Astronomi

RUDY POLYCARPUS

Perbedaan penanggalan Islam yang selama ini terjadi dinilai bisa disatukan dengan ilmu pengetahuan astronomi.

SETIAP tahun, menjelang penetapan awal tahun kamariah, Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Indonesia selalu saja ada perbedaan. Penetapan menurut Muhammadiyah kerap lebih awal satu hari ketimbang penetapan sidang isbat Majelis Ulama Indonesia berdasarkan perhitungan mayoritas ormas Islam, salah satunya Nahdlatul Ulama (NU). Penerapan perhitungannya juga berbeda. Muhammadiyah menggunakan metode hisab, yakni perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam menentukan awal bulan pada kalender Hijriah. Sementara itu, NU mengandalkan metode rukyat, yakni aktivitas mengamati visibilitas hilal atau penampakan bulan sabit pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi).

Perbedaan itu yang selalu menjadi perdebatan hingga kini. Di tengah perdebatan, sosok Thomas Djamaluddin kerap dimintai pendapat. Peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu menilai perbedaan sebenarnya mengakibatkan keresahan dan ketidaknyamanan di kalangan masyarakat. “Kalau ada yang masih berpuasa, sedangkan masyarakat yang lain sudah berhari raya, ini kan bikin enggak nyaman. Bahkan saya dengar di daerah Sulawesi pernah terjadi kontak fisik,“ ujar Thomas yang ditemui Media Indonesia di Lapan, Rawamangun, Jakarta, Rabu (4/9).

Menurut pria berusia 51 tahun itu, kedua perbedaan tersebut bisa disatukan, dengan syarat kedua ormas itu bersedia mengalah dan menuju satu titik temu perhitungan. “Hisab dan rukyat itu seperti dua sisi mata uang, jadi bisa disatukan,“ tegasnya. Syarat yang diajukan Thomas ialah kedua metode itu harus menggunakan kriteria yang sama. Pasalnya, baik rukyat maupun hisab bukan persoalan dalil fikih berdasarkan ayat Alquran dan hadis sebagai landasannya, sehingga bisa disatukan dengan ilmu pengetahuan.  “Padahal, kriteria semacam itu hanya hasil ijtihad yang bisa berubah dengan mempertimbangkan ilmu pengetahuan,“ jelasnya.

Namun, Thomas sadar dengan sekelompok masyarakat yang tidak sepakat dengan pendapatnya. “Sebagai ilmuwan, saya hanya meluruskan sesuai dengan ilmu yang saya kuasai karena ilmuwan harus berperan dalam mencerdaskan masyarakat,“ ujar Thomas yang mengaku terbuka untuk berdiskusi mengenai perkembangan teori dan informasi terbaru. Thomas berharap bisa menjembatani ilmu pengetahuan dan agama, bahkan mampu menjembatani perbedaan pendapat masyarakat. Bagi dia, mempelajari ilmu astronomi semakin memperdalam keimanan dia. “Banyak fenomena dan misteri Tuhan di ilmu astronomi ini,“ ujarnya.

Berkat upayanya memberikan advokasi ilmiah kepada pemerintah dan masyarakat luas serta metode penanggalan kamariah itu, Thomas diganjar Sarwono Prawirohardjo Award XII oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala LIPI Lukman Hakim dalam pidato pemberian penghargaan itu di LIPI, Jakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan, “beliau juga sering kali ikut serta sebagai anggota Dewan Isbat di Kementerian Agama. Doktor lulusan Kyoto University, Jepang, ini juga banyak bicara tentang isu-isu antariksa seperti fenomena gerhana, misi antariksa, dan badai matahari.“ Thomas juga dinilai memberikan kontribusi pengetahuan dalam berbagai karya ilmiah yang sudah dimuat di tingkat nasional serta internasional. “Sebagai peneliti senior, beliau juga aktif memberikan penilaian angka kredit peneliti dan juga memberikan pelatihan di tingkat nasional,“ ujar Lukman.

Fenomena

Peneliti utama dan profesor riset bidang astronomi-astrofisika yang menjabat Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan LAPAN itu pun kerap dimintai pendapat untuk meluruskan fenomena astronomi dan sejenisnya. Sebut saja isu kiamat pada 2012 yang sempat menghebohkan dunia, fenomena badai matahari, perubahan arah kiblat pascagempa, dan kemunculan alien dengan adanya crop circle di Sleman, DI Yogyakarta, pada 2011. Ia memang dikenal sebagai peneliti yang aktif berbagi informasi soal astronomi kepada masyarakat lewat media massa atau jejaring sosial.  “Informasi itu untuk dibagi, biar berguna. Kalau saya tahu, untuk apa ditutup-tutupi. Masyarakat juga berhak menjadi cerdas,“ ujarnya.

Di samping makalah ilmiah, Thomas sudah menghasilkan sejumlah buku tentang astronomi dan keislaman, seperti Menggagas Fiqih Astronomi: Telaah Hisab Rukyat dan Pencarian Solusi Perbedaan Hari Raya, Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman Al-Quran, dan Bertanya pada Alam: 13 Worthy to Know Facts.

Ia juga menjadi anggota sejumlah lembaga, seperti International Astronomical Union (IAU), National Committee di Committee on Space Research (Cospar), Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Provinsi Jawa Barat, serta Himpunan Astronomi Indonesia (HAI).  Ia bergabung di Lapan sejak 1986 seusai menamatkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung. Dua tahun kemudian, ia melanjutkan studi magister dan doktornya di Kyoto University, Jepang, pada 1988-1994. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antarbintang dan pembentukan bintang.
Ganti nama

Nama Thomas Djamaluddin memang terkenal di kalangan astronom Indonesia. Padahal, nama asli anak pasangan Sumaila Hadiko dan Duriyah itu hanya Djamaluddin. Di masa kecilnya, ia banyak beristirahat karena kerap sakit. Melihat hal itu, orangtua Djamaluddin mengganti namanya dengan Thomas. Nama itu ia pakai hingga duduk di sekolah menengah pertama. “Karena ada perbedaan data kelahiran saat duduk di sekolah menengah pertama, nama saya akhirnya digabung jadi Thomas Djamaluddin. Sekarang nama saya sering disingkat T Djamaluddin,“ ujarnya.

Pemahaman Thomas akan agama Islam ternyata tidak semata berawal sejak ia terlibat di Lapan. Sejak kecil, di Cirebon, Jawa Barat, ia telah mempelajari Islam secara autodidak dari keluarga dan aktivitas di masjid. Bahkan di Jepang, ia menjabat Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J). (M-5) rudy@mediaindonesia.com

EMAIL
rudy@mediaindonesia.com

Penerimaan Sarwono Award 2013 dari LIPI

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sarwono Award-0

Alhamdulillah, LIPI menganugerahkan “Sarwono Award” 2013 kepada saya. Dalam sambutannya, Kepala LIPI menyebutkan empat alasan utamanya:

Sambutan KaLIPI-1

Sambutan KaLIPI-2

LIPI_sarwono Award

(Foto: LIPI)

Atas anugerah Sarwono Prawirohardjo dari LIPI tersebut, saya menyampaikan sambutan sebagai berikut:

Sambutan Penerimaan Anugerah Sarwono

Assalamu’alaikum wr. wb.,

 

Bapak Menteri Negara Riset dan Teknologi, Bapak Kepala LIPI dan para pejabat LIPI, Bapak Kepala LAPAN, serta para undangan yang saya hormati.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Pemelihara Semesta Alam. Dengan rasa syukur dan bahagia, pertama kali saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun bagi LIPI yang mencapai usia 46 tahun. Ulang tahun LIPI selalu ditandai dengan penyerahan penghargaan “Sarwono Prawirohardjo”, sebagai upaya pelestarian semangat keilmuan dan dedikasi tokoh pelopor pembentukan LIPI dalam membangun kelembagaan ilmu pengetahuan yang kokoh. LIPI kini telah menjadi contoh lembaga penelitian yang tangguh di Indonesia dan menjadi lembaga pembina peneliti Indonesia.

Ketika pertama kali saya dikontak LIPI bahwa saya ditetapkan sebagai penerima penghargaan “Sarwono” (Sarwono Award) 2013, terus terang saya tak percaya dan ketika ditelepon Kepala LIPI saya menjadi grogi menjawabnya. Saya menyadari kiprah saya dalam pengembangan ilmu pengetahuan belum seberapa. Saya hanyalah peneliti yang menjadikan astronomi sebagai bagian dari hobby, sehingga meneliti bukanlah beban tetapi tantangan yang menyenangkan. Ketika harus memilih antara jabatan struktural atau jabatan fungsional peneliti, saya rela mundur dari jabatan struktural Kepala Bidang untuk mengejar karir peneliti. Hobby saya membaca dan menulis sangat cocok dengan hobby saya meneliti. Saya senang berbagi ilmu dengan menulis karya ilmiah popular di media massa yang saya dokumentasikan dan kembangkan di blog saya. Ya, saya merasa tidak ada yang istimewa dengan posisi saya sebagai peneliti, maka wajar saya menjadi grogi menerima penghargaan Sarwono.

            Minat saya pada astronomi bermula dari keingintahuan dan idealisme menjawab keingintahuan itu. Sejak SMP memang saya bercita-cita menjadi peneliti, karena saya senang berlama-lama memperhatikan pertumbuhan tanaman dan fenomena alam lainnya. Pilihan jatuh pada astronomi ketika tertantang dengan mencari tahu kehidupan di luar bumi yang pada tahun 1970-an dan awal 1980-an marak cerita soal UFO (Unidentfied Flying Objects atau piring terbang). Saat kelas I SMA itulah saya membaca banyak buku astronomi untuk menuliskan “UFO: Bagaimana Menurut Agama” yang akhirnya terbit di majalah ilmiah popular “Scientiae” pada 1979. Sedikit demi sedikit keingintahuan itu terjawab ketika saya diterima di Astronomi ITB dalam seleksi Proyek Perintis II yang tanpa test. Setiap keingintahuan selalu ingin saya bagikan dalam bentuk tulisan di Koran, dimulai tulisan tentang gerhana matahari 1983 dan masalah penentuan kalender Islam. Saya memang menjadikan sains dan Islam sebagai bagian integral dalam kehidupan, sehingga saya banyak menuliskan artikel sains astronomi dan keislaman.

            Bidang penelitian saya sebenarnya adalah struktur besar alam semesta, struktur galaksi, pembentukan bintang, cuaca antariksa terkait dengan aktivitas matahari, dan hubungan matahari bumi (khususnya terkait dengan iklim). Tetapi saya selalu membuat versi tulisan populernya untuk difahami oleh orang awam. Lebih dari 100 artikel ilmiah popular sudah saya tuliskan di berbagai koran sebagai bagian dari popularisasi astronomi. Saya selalu menikmati berbagi ilmu dalam bahasa awam. Saya berprinsip, sebagai peneliti kita harus bisa berkomunikasi dengan publik dengan memberikan informasi yang “mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan”. “Mencerdaskan” bermakna memberikan beragam informasi baru yang menambah wawasan masyarakat, khususnya generasi muda, misalnya tentang upaya pencarian kehidupan di planet Mars dan satelit Eropa yang mengitari planet Jupiter. “Menjelaskan” bermakna memberikan informasi yang menjadi keingintahuan publik, misalnya badai matahari. “Mengingatkan” bermakna memberikan informasi prediktif berdasarkan ilmu akan kejadian yang segera akan terjadi, misalnya tentang gerhana dan potensi perbedaan hari raya. Sebagian besar tulisan itu dan tulisan terbaru kini saya masukan dalam blog saya “Dokumentasi T. Djamaluddin: Berbagi Ilmu untuk Pencerahan dan Inspirasi” (http:/tdjamaluddin.wordpress.com).

            Sejak tahun 1980-an saat pertama kali belajar astronomi, saya selalu berfikir untuk mencarikan solusi penyatuan hari raya, Idul Ftri dan Idul Adha, yang kerap berbeda. Saat kuliah di Kyoto Jepang, saya pun tak jemu menuliskan gagasan penyatuan ummat dengan memanfaatkan astronomi. Prinsip “mencerdaskan, menjelaskan, dan mengingatkan” selalu saya gunakan agar masyarakat faham akar masalah perbedaan hari raya yang secara astronomi sebenarnya sangat sederhana.  Dikhotomi hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan) yang sering menjadi sebab perbedaan hari raya dengan astronomi mudah diselesaikan. Astronomi memandang hisab dan rukyat setara. Ada titik temu antara pengamal hisab dan pengamal rukyat, yaitu “hisab dengan kriteria rukyat”. Dalam astronomi itu lazim dikenal sebagai kriteria visibilitas hilal yang digunakan dalam hisab, namun hasilnya akan kompatibel dengan hasil rukyat.

            Melalui forum tahunan “Temu Kerja Hisab Rukyat” yang dibentuk Kementerian Agama, upaya penyatuan itu terus dilakukan. Saya selalu menyuarakan bahwa astronomi bisa menjadi solusi penyatuan ummat dengan mendorong untuk menyamakan kriteria hisab rukyat. Melalui diskusi dalam Temu Kerja (dan forum terkait lainnya) dan tulisan-tulisan di koran, saya tak jemu untuk membangun pemahaman masyarakat soal hisab dan rukyat, pemahaman astronomi yang menyetarakan keduanya. Saya pernah diundang NU, Muhammadiyah, dan PERSIS untuk menjelaskan aspek astronomi hisab dan rukyat. Langsung atau tidak langsung, saya (bersama komunitas astronomi) berupaya memberi warna baru berbasis astronomi pada praktek hisab dan rukyat pada ormas-ormas Islam.

            Bukan hal yang mudah mengubah pemahamanan yang pada sebagian kelompok seolah sudah menjadi “default” pada metode yang mereka gunakan. Ketika Idul Fitri berpotensi berbeda lagi pada 2007, saya dipanggil Menteri Agama (Pak Maftuh Basuni) untuk memberi masukan bagi Wapres Jusuf Kalla yang akan mempertemukan pimpinan NU dan Muhammadiyah. Saya katakan titik temunya adalah penyamaan kriteria hisab-rukyat. Di kalangan pelaksana hisab rukyat, di Lajnah Falakiyah NU, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, dan Dewan Hisab Rukyat Persis, makna “kriteria hisab rukyat” sudah difahami. Kriteria hisab rukyat adalah parameterisasi fenomena yang dijadikan dasar syar’i (hukum ibadah), seperti halnya kita sudah sepakat dengan kriteria jadwal shalat. Namun pemahaman tim teknis, belum tentu difahami oleh struktur organisasi lainnya. Itulah yang menjadi faktor resistensi organisasi.

            Lebih dari 20 tahun upaya penyamaan pemahaman astronomis saya lakukan melalui tulisan dan diskusi dalam forum terbatas pakar hisab rukyat. Proses perubahan internal (saya tidak mengklaimnya sebagai dampak upaya tersebut) telah mengubah cara pandang NU dan Persis. Namun Muhammadiyah tetap resisten dengan kriteria wujudul hilalnya, walau pun pada Munas Tarjih 2003 saya diundang khusus untuk mengkritisinya. Menjelang Ramadhan 1432/2011 yang Idul Fitrinya berpotensi berbeda, sekali lagi saya berupaya mendekati salah seorang Ketua Pimpinan Pusat dan anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk bersama-sama berupaya mencari titik temu. Sayang resistensi sangat kuat dan beralasan itulah keputusan organisasi yang tidak bisa diubah lagi. Hambatan organisasi merupakan kendala utama sehingga argumentasi ilmiah astronomis untuk mencari titik temu seolah berhadapan dengan tembok sangat tebal.

            Untuk mendobrak kejumudan (resistensi) organisasi, saya mohon izin pada Ketua PP Muhammadiyah yang saya hubungi itu untuk membuka diskusi publik melalui tulisan terbuka di blog saya. Saya mengkritisi kriteria wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah, seperti dulu pada 2003 saya diminta mengkritisinya dalam Munas Tarjih. Kriteria wujudul hilal sama sekali tidak dikenal dalam astronomi modern, itu kriteria usang (obsolete) yang sudah lama ditinggalkan. Pilihan sulit harus saya ambil: membiarkan perbedaan terus terjadi, padahal secara astronomi mudah diselesaikan atau mengkritisi kriteria usang itu untuk membangun kesadaran publik. Saya ambil pilihan kedua dengan segala risikonya. Saya menyadari, kemarahan akan muncul karena kritik terhadap kriteria wujudul hilal bisa disalahartikan saya melecehkan  ormas besar Muhammadiah. Saya sangat menghargai Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar dan merupakan aset bangsa. Tetapi pilihan itu terpaksa saya ambil untuk membuka diskusi publik, setelah lebih dari 20 tahun diskusi terbatas berbenturan dengan birokrasi organisasi yang cenderung resisten.

            Dari lubuk hati terdalam, sungguh tidak ada maksud saya untuk membangun superioritas astronomi, karena ilmu semestinya membangun kesetaraan dalam harmoni kehidupan. Saya tetap meyakini, dengan pemahaman yang baik, astronomi bisa menjadi solusi penyatuan ummat, walau pada awalnya disalahfahami. Dalam aspek yang lebih luas, astronomi bisa menjadi pelita penuntun kemajuan sains yang bagi sebagian generasi muda dianggap rumit. Astronomi memberi tantangan nyata dengan keindahan fenomena langit yang hanya bisa dinikmati dengan perangkat sains. Cahaya yang dipancarkan benda-benda langit adalah bahasa universal. Kita bisa menikmati cerita galaksi yang menjauh, black hole yang superpadat, matahari yang meletup, atau bulan yang menampakkan hilal yang redup dengan interpreter sains. Terinspirasi semangat Bapak pendiri LIPI, Sarwono Prawirohardjo, saya terdorong untuk terus menjadikan ilmu pengetahuan hidup dan berkembang di masyarakat, menyatu dalam kehidupan, serta menjadikannya solusi dalam meningkatkan kualitas  berbangsa dan bernegara.

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.,

 

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Beberapa reportase di media lain:

Situs LIPI: LIPI Beri Penghargaan untuk Tokoh Astronomi

Situs LIPI: Astronomi sebagai Salah Satu Solusi Penyatuan Umat

http://langitselatan.com/2013/08/28/penghargaan-sarwono-prawirohardjo-xii-kepada-prof-dr-thomas-djamaluddin/

http://news.detik.com/read/2013/08/23/183815/2339133/608/prof-thomas-djamaluddin-mencari-ufo-dalam-sains-dan-agama

http://www.antaranews.com/berita/391959/peneliti-lapan-terima-lipi-sarwono-award-2013

http://sains.kompas.com/read/2013/08/23/1354043/Thomas.Djamaluddin.Raih.LIPI.Award

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/23/061506791/Peneliti-LAPAN-Raih-Sarwono-Award-LIPI-2013

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/08/20/3/176030/Penghargaan-Sarwono-Award-untuk-Thomas-Djamaluddin

http://www.beritasatu.com/sains/133597-ilmuwan-lapan-raih-anugerah-sarwono-award-2013.html

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/08/mengakrabkan-astronomi-pada-masyarakat

http://www.jurnas.com/news/104123/Thomas_Djamaluddin_Dianugerahi_Sarwono_Award_/1/Sosial_Budaya/Pendidikan

Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Rekor Muri-Mendirikan Telur terbanyak di Hari Peh Cun-Juni 2012

(Rekor Muri mendirikan telur terbanyak saat perayaan Peh Cun)

Pada perayaan Peh Cun warga Tionghoa, orang-orang mudah menegakkan telur. Apakah hanya pada perayaan Peh Cun? Tidak! Setiap awal bulan qamariyah dan bulan purnama saat tengah hari atau tengah malam itu bisa dilakukan. Contohnya pada 8 Juni 2013 adalah bulan baru (newmoon) awal Sya’ban. Perayaan Peh Cun dilaksanakan pada 12 Juni 2013, yaitu tanggal 5 bulan ke 5 dalam kalender Cina, artinya masih sekitar awal bulan. Pada saat bulan baru dan purnama, deferensial gravitasi bulan diperkuat oleh matahari. Itu pula yang menyebabkan pasang maksimum air laut. Tampaknya, beda gravitasi antara dasar telur dan puncak telur cukup signifikan untuk menahan telur berdiri tegak beberapa saat.

Penjelasannya sebagai berikut:

Pasang surut

Pasang surut-gaya

Pasang-surut

(Gambar-gambar dari internet dari fasilitas pencarian Google)

Tertariknya air laut disebabkan oleh gaya gravitasi bulan dan matahari yang berbeda-beda di setiap titik di bumi. Itu disebut gaya diferensial gravitasi, baik oleh bulan maupun matahari. Pada saat bulan dan matahari hampir segaris, saat bulan baru maupun purnama, gaya pasang-surut maksimum. Itu sebabnya pasang air laut pun maksimum pada saat-saat sekitar tengah hari dan tengah malam. Pada perayaan Peh Cun, warga Tionghoa memanfaatkan gaya diferensial gravitasi bulan-matahari maksimum itu untuk menegakkan telur. Mengapa telur bisa tegak beberapa saat? Perbedaan gravitasi oleh bulan dan matahari yang bekerja pada telur tampaknya mampu menjaga telur tegak beberapa saat (perhatikan ilustrasi garis gaya gravitasi bulan-matahari pada gambar di atas).

Updated: Tampaknya logika ilmiah seperti itu lemah, karena ternyata (setelah browsing di internet) ada beberapa eksperimen yang membuktikan telur juga mudah ditegakkan kapan saja bergantung tekstur permukaan tempatya. Di Barat mitos yang berkembang soal menegakkan telur saat equinox (sekitar 21 Maret), saat matahari di ekuator.  Artinya, tidak harus pengaruh bulan. Jadi beda mitos Peh Cun sekitar tanggal 5 lunar calendar di budaya Timur dengan equinox sekitar 21 Maret di budaya Barat cukup memberikan dasar bahwa tegakknya telur BUKAN karena pengaruh diferensial gravitasi bulan dan juga bukan karena pengaruh diferensial matahari.

Lalu logika ilmiah apa yang bisa menjelaskan? Bentuk telur yang agak elips memang sulit ditegakkan, tetapi mungkin ditegakkan di permukaan yang ada sedikit penyangga, misalkan pada permukaan yang tidak benar-benar rata (perhatikan lokasi telur pada foto di atas saat Rekor Muri 2012).

Jadi, atas pertanyaan di judul, “Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?” jawaban yang benar adalah “Tidak, menegakkan telur bisa kapan saja, bergantung tekstur permukaan tempatnya yang tidak rata sempurna sehingga masih ada sedikit penyangga telur”. Mitos Peh Cun atau Equinox cukuplah digunakan untuk sosialisasi diferensial gravitasi yang menyebabkan pasang surut air laut dan dampak ikutannya, tetapi sesungguhnya tidak berpengaruh pada tegaknya telur.

Mengapa Satu Pekan Tujuh Hari

T. Djamaluddin

Peneliti LAPAN

[Dicuplik dengan penyempurnaan dari buku saya untuk anak-anak dan remaja, "Bertanya Pada Alam", ShofieMedia, 2006]

Bertanya Pada Alam

Sains adalah akumulasi pengetahuan manusia yang diformulasikan melalui metode ilmiah. Sains tidak bisa diklaim atau diberi label kelompok tertentu, sehingga tidak ada sains Barat, sains Islam, atau sains lainnya. Silakan browsing sejarah asal usul tahun, bulan, pekan, hari, jam, menit, dan detik, kita akan tahu bahwa semuanya adalah kontribuasi banyak budaya, antara lain budaya Babilonia, Mesir, India, Cina, Arab-Islam, Barat modern, dan banyak budaya lainnya.  Budaya dengan matematika berbasis 60 ternyata banyak digunakan pada awal perkembangan sains yang melahirkan konsep jam/derajat, menit, dan detik dengan kelipatan 60. Kepercayaan juga sering mewarnai konsep pemahaman alam sehingga astronomi dan astrologi dahulu bersatu. Berikut ini sekadar contoh, bahwa konsep sepekan 7 hari berawal dari pemahaman konsep 7 langit dalam astronomi lama dengan  penguasanya yang dianggap sebagai dewa dan  mempengaruhi bumi dan manusia dari jam ke jam.

Mengapa sepekan ada tujuh hari? Itu bermula dari keyakinan orang-orang dahulu bahwa tujuh benda langit utama mempengaruhi bumi dan manusianya. Ini selanjutnya dikaitkan dengan kepercayaan adanya tujuh langit. Di langit pertama ada bulan. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu percaya bahwa ketujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu. Mungkin juga pemilihan tanggal 1 Januari tahun 1 Masehi terkait dengan konsep ini, tidak terkait kelahiran Yesus Kristus atau hari Natal.

Jam ke dua dipengaruhi oleh Jupiter. Selanjutnya Mars, Matahari, Venus, Merkurius, Bulan, Saturnus, Jupiter, dan seterusnya berulang lagi. Kemudian pada pukul 24 dipengaruhi Mars. Maka jam pertama hari berikutnya dipengaruhi oleh matahari (sun). Karenanya hari itu disebut hari matahari atau Sunday dalam bahasa Inggris atau Nichiyobi dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia disebut Ahad atau Minggu.   Kalau kita urutkan setiap jamnya, maka jam pertama pada hari ketiga dipengaruhi oleh Bulan. Karena itu hari Senin disebut hari Bulan (moon), dalam bahasa Inggris disebut Monday atau Getsuyobi dalam bahasa Jepang. Jam pertama hari ke empat (Selasa) dipengaruhi oleh Mars atau dewa Tue, karenanya disebut hari Mars atau hari Tue (Tuesday)  atau Kayoubi dalam bahasa Jepang. Hari ke lima (Rabu), pada jam pertama dipengaruhi oleh Merkurius atau dewa Woodn maka disebut hari Merkurius atau hari Woodn (Wednesday) atau Suiyobi dalam bahasa Jepang. Hari ke enam (Kamis) Jupiter atau dewa Thorn mempengaruhi pada jam pertamanya, karenanya disebut hari Jupiter atau hari Thorn (Thursday) atau Mokuyobi dalam bahasa Jepang. Dan hari ke tujuh (Jum’at), jam pertama dipengaruhi oleh Venus atau dewa Freya. Maka hari ke tujuh ini disebut hari Venus atau hari Freya (Friday) atau Kinyobi dalam bahasa Jepang. Itu sekilas sejarah lahirnya pembagian tujuh hari dalam sepekan dan nama-namanya yang berasal dari pemahaman orang-orang dahulu tentang tujuh langit.

Untuk jelasnya bisa dilihat pada urutan berikut ini. Kaitan nama hari dan nama tujuh benda langit itu tampak jelas pada nama hari dalam bahasa Ingrris, Jepang, dan mungkin banyak bahasa lainnya.

Asal Usul Hari

Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jum’at berjamaah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Domingo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan agama Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.


Undang-Undang Keantariksaan Memacu Kegiatan Keantariksaan Indonesia

T. Djamaluddin

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, LAPAN

RUU-Keantariksaan

Peristiwa jatuhnya asteroid kecil di Rusia pada 15 Februari 2013 yang mencederai lebih dari seribu orang, menimbulkan kekhawatiran juga di Indonesia, akankah hal serupa bisa terjadi di Indonesia? Lalu bagaimana Indonesia mengantisipasi fenomena seperti itu, termasuk kemungkinan dampaknya? Lebih dari itu, pertanyaan publik mengarah pada seberapa mampukah Indonesia bisa mengikuti kemajuan sains dan teknologi antariksa yang sangat pesat dan memberikan manfaatnya kepada masyarakat?  Antisipasi baku penanganan peristiwa antariksa serta secara umum pengembangan sains dan teknologi antariksa mestinya ada regulasi yang mengaturnya yang bisa menjadi payung hukum atas segala kebijakan yang seharusnya diambil oleh pemerintah, khususnya lembaga yang menangani urusan keantariksaan yaitu LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Saat ini Rencangan Undang-Undang Keantariksaan sedang dalam proses pembahasan akhir di DPR yang diharapkan dalam waktu dekat dapat disahkan. Undang-undang Keantariksaan selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan Rencana Induk Keantariksaan Nasional atau Indonesian National Space Policy yang di banyak negara menjadi acuan kebijakan nasional dan menjadi pendorong kemajuan kegiatan  keantariksaan nasional.

Ada tujuh pokok tujuan Undang-Undang Keantariksaan:

  1. Mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa dan negara dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  2. Mengoptimalkan penyelenggaraan keantariksaan untuk kesejahteraan.
  3. Menjamin keberlanjutan penyelenggaraan keantariksaan untuk kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan.
  4. Memberikan landasan dan kepastian hukum dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  5. Mewujudkan keselamatan dan keamanan penyelenggaraan keantariksaan.
  6. Melindungi negara dan warga negaranya dari dampak negatif yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan keantariksaan.
  7. Mengoptimalkan penerapan perjanjian internasional keantariksaan.

Ada dua prinsip dasar kegiatan keantariksaan yang harus dipegang. Prinsip pertama, antariksa merupakan wilayah bersama umat manusia yang dimanfaatkan bagi kepentingan semua negara tanpa memandang tingkat perkembangan ekonomi atau ilmu pengetahuan. Prinsip kedua, antariksa bebas untuk dieksplorasi dan digunakan oleh semua negara, tanpa diskriminasi berdasarkan asas persamaan dan sesuai dengan hukum internasional. Dengan dua prinsip itu, kita tidak mengenal batas wilayah negara di antariksa dan kerjasama internasional menjadi hal penting dalam pengembangannya. Dengan prinsip itu pula, negara berkembang mempunyai hak untuk mendapatkan manfaat eksplorasi antariksa oleh negara-negara maju sesuai dengan kaidah-kaidah hukum internasional.

Empat kegiatan pokok keantariksaan yang diatur dalam Undang-Undang Keantariksaan:

  1. Sains antariksa.
  2. Penginderaan jauh.
  3. Penguasaan teknologi keantariksaan.
  4. Peluncuran.

Empat kegiatan pokok tersebut dapat dirangkum menjadi empat kata kunci “memahami, memanfaatkan, menguasai, dan melindungi”  dalam Undang-undang Keantariksaan. Dengan sains antariksa, kita dipacu untuk memahami fenomena fisis antariksa dan segala potensi dampaknya bagi bumi. Badai matahari dan benda jatuh antariksa adalah contoh fenomena yang menjadi perhatian dunia saat ini yang harus kita fahami betul hakikatnya. Teknologi satelit yang bisa mempermudah kehidupan manusia dalam pemantauan cuaca dan lingkungan untuk peringatan dini bencana, pemantauan sumber daya alam untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, serta penggunaan satelit komunikasi adalah upaya memanfaatkan teknologi antariksa yang saat tersedia (Catatan: dalam RUU ini hanya diatur pemanfaatan untuk penginderaan jauh, karena pemanfaatan terkait dengan telekomunikasi sudah diatur dalam UU lain). Kita pun tidak ingin sekadar memanfaatkan fasilitas asing dalam teknologi antariksa, kita pun harus menguasai teknologinya karena teknologi roket dan satelit serta aeronautika (penerbangan) yang terkait mempunyai manfaat jamak (multiple effect) bila dikembangkan, antara lain dalam mendukung industri pertahanan dan penerbangan. Pengembangan teknologi antariksa dikenal sebagai upaya yang “high tech, high cost, dan high risk” (berteknologi tinggi, berbiaya mahal, dan berisiko tinggi). Maka Undang-Undang Keantariksaan juga mengatur upaya-upaya melindungi berbagai pihak atas segala kemungkinan dampak kerugian dari kegiatan keantariksaan, khususnya kegiatan peluncuran wahana antariksa.

Dalam lingkup empat kegiatan keantariksaan tersebut, Undang-Undang Keantariksaan juga merinci beberapa aspek yang harus ada regulasi sebagai payung hukumnya. Beberapa aspek yang diatur secara khusus adalah delapan aspek berikut:

  1. Keamanan dan keselamatan.
  2. Bandar antariksa.
  3. Penanggulangan benda jatuh antariksa serta pencarian dan pertolongan antariksawan.
  4. Pendaftaran benda antriksa.
  5. Kerja sama internasional.
  6. Tanggung jawab dan kerugian.
  7. Asuransi, penjaminan, dan fasilitas.
  8. Pelestarian lingkungan.

Terkait dengan fenomena asteroid yang jatuh di Rusia dan potensi jatuhnya sampah antariksa yang menjadi perhatian publik, sekadar untuk memberi contoh aturan dalam rancangan Undang-undang Keantariksaan, berikut ini dikutipkan dua pasal yang mengatur penanganan benda jatuh antariksa. Dalam Undang-Undang ini, “Lembaga” menurut kondisi saat ini adalah LAPAN.

Penanggulangan Benda Jatuh Antariksa

 

Pasal 56

(1)   Benda jatuh dari antariksa dapat terdiri atas:

a.    benda buatan manusia; dan

b.    benda alamiah.

(2)   Benda jatuh dari antariksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat jatuh ke bumi dengan terdeteksi ataupun tidak terdeteksi.

(3)   Setiap orang dilarang menghilangkan atau mengubah letak dan mengambil bagian dari benda jatuh antariksa yang jatuh di wilayah dan yuridiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(4)   Lembaga wajib mengidentifikasi benda jatuh antariksa yang jatuh di wilayah dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berkoordinasi dengan instansi pemerintah lainnya.

(5)   Dalam hal benda jatuh antariksa milik asing, Lembaga dapat memproses  sesuai dengan perjanjian internasional yang berlaku.

 

Pasal 57

Untuk tujuan keamanan dan keselamatan, kepentingan penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, setiap benda antariksa yang jatuh di wilayah dan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib diserahkan kepada Lembaga.

(Download draft RUU Keantariksaan yang diserahkan Pemerintah kepada DPR: RUU Antariksa Final Harmonisasi-22 Nov 2011)

T. Djamaluddin’s Blog: 2012 in review

Statistik WordPress memberikan laporan tahunan 2012:

Ini ringkasannya:

About 55,000 tourists visit Liechtenstein every year. This blog was viewed about 180,000 times in 2012. If it were Liechtenstein, it would take about 3 years for that many people to see it. Your blog had more visits than a small country in Europe!

Click di sini untuk melihat laporan lengkapnya.

Sebagai tambahan, ClustrMaps memberikan informasi sebaran pengunjung selama 2012. Makin besar bulatan merahnya, berarti makin banyak pengunjung dari kota tersebut. Bintik kuning menunjukkan pengunjung pada akhir Desember 2012.

Sebaran Pengunjung Blog - 2012

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 191 pengikut lainnya.