Transformasi LPNK LAPAN menjadi Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) – BRIN

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN (2014 – 2021)

Wacana integrasi unit penelitian dan pengembangan (litbang) Kementerian/Lembaga (K/L) ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencuat saat pembentukan Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN pada Kabinet Indonesa Maju, Oktober 2019. Integrasi itu adalah amanat UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek).

Implementasi “terintegrasi” ternyata multi tafsir dan terjadi tarik menarik dari beberapa pihak. Ada yang menafsirkan “terintegrasi” adalah melebur semua unit litbang K/L menjadi badan tunggal, yaitu BRIN. Bila itu dilaksanakan, maka semua Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) Ristek (Batan, BPPT, LAPAN, dan LIPI) akan hilang. Tafsir lain, “terintergrasi” cukup mensinergikan perencanaan, program, anggaran, dan sumber daya iptek sesuai penjelasan pasal 48 UU Sisnas Iptek. Bila tafsir ini yang digunakan, keberadaan LPNK Ristek tidak berubah.

Menristek/Kepala BRIN saat itu membuat terobosan jalan tengah dengan merancang Organisasi Pelaksana Litbangjirap (OPL) sebagai transformasi LPNK Ristek dan klaster litbang dari K/L. Kabarnya Perpres BRIN dengan struktur Deputi dan OPL sudah ditandatangani Presiden pada 30 Maret 2020. Namun rupanya ada masalah dengan struktur BRIN tersebut sehingga draft Perpres yang sudah ditandatangani Presiden tidak diundangkan di Lembaran Negara.

Satu tahun setelah draft Perpres belum juga diundangkan, pada akhir Maret 2021 Kemristek/BRIN mendapat draft Perpres baru tentang BRIN. Draft tersebut segera dibahas bersama LPNK Ristek. Tampaknya itu draft final yang siap ditandatangani Presiden. LPNK Ristek menanggapi draft tersebut dengan segera mengirim surat kepada Presiden. Di dalam surat kepada Presiden disampaikan beberapa hal krusial untuk diusulkan penyempurnaannya. LAPAN menyampaikan beberapa usulan terkait dengan Undang-undang 21/2013 tentang Keantariksaan. Di dalam UU Keantariksaan dan ketetapan Perpres 49/2015, LAPAN ditetapkan sebagai lembaga penyelenggara keantariksaan yang berada di bawah Presiden. Surat LPNK Ristek tersebut tidak segera mendapat tanggapan. Lahirlah Perpres 33/2021 tentang BRIN pada 28 April 2021.

Inilah amanat UU Keantariksaan terkait kelembagaan penyelenggara keantariksaan yang belum termuat di Perpres 33/2021:

Definisi “Lembaga” di pasal 1 UU Keantariksaan

Perpres 33/2021 dianggap belum memenuhi amanat UU Keantariksaan. Oleh karenanya LAPAN mengusulkan penyempurnaan Perpres 33/2013 (bersama masukan lain dari internal BRIN dan LPNK Ristek) melalui Kepala BRIN. Ada dua hal pokok yang diusulkan LAPAN:

(1) LAPAN sebagai lembaga penelitian dan pengembangan kedirgantaraan (penerbangan dan antariksa) serta pemanfaatannya tunduk pada amanat UU Sisnas Iptek. Kami menyadari integrasi program tidak mungkin dilaksanakan tanpa integrasi anggaran. Integrasi anggaran juga tidak mungkin dilaksanakan tanpa integrasi kelembagaan. Jadi, LAPAN siap mengintegrasikan kegiatan penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan iptek penerbangan dan antariksa ke BRIN. Dan mengusulkan nomenklatur “Organisasi Riset” (OR) sebagai pengganti nomenklatur OPL. Sebagai pembanding, Badan antariksa India dan Korea juga berstatus organisasi riset, ISRO (Indian Space Research Organisation) dan KARI (Korean Aerospace Research Institute). Kami juga mengusulkan nama LAPAN tetap dipertahankan, karena “LAPAN” sudah dikenal sebagai badan antariksa (space agency) Indonesia. Jadi nomenkalturnya diusulkan “Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (LAPAN)”.

(2). Terkait penyelenggaraan keantariksaan, perbaikan atau penggantian Perpres 33/2021 perlu mencantumkan konsideran UU Keantariksaan dan memasukkan fungsi penyelenggaraan keantariksaan sebagai fungsi BRIN. Kemudian fungsi penyelenggaraan keantariksaan BRIN didelegasikan kepada OR penerbangan dan antariksa yang bertindak sebagai badan antariksa Indonesia dengan nama LAPAN.

Alhamdulillah, masukan LAPAN diakomodasi pada Perpres pengganti, yaitu Perpres 78/2021. Rincian tentang OR Penerbangan dan Antariksa diakomodasi di Peraturan BRIN tentang Organisasi Tata Kerja Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa.

Inilah pokok-pokok pengaturan di Perpres 78/2021 terkait penyelenggaraan keantariksaan dan rincian di draft akhir Peraturan BRIN tentang Organisasi dan Tata Kerja (OTK) OR Penerbangan dan Antariksa:

Pasal 1 Perpres 78/2021 tentang BRIN
Pasal 1 dan 2 draft final hasil harmonisasi PerBRIN tentang OTK OR Penerbangan dan Antariksa

OR Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) terdiri dari 8 Pusat (dalam draft akhir harmonisasi dengan Kemkumham):

  1. Pusat Riset Sains Antariksa;
  2. Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer;
  3. Pusat Riset Aplikasi Penginderaan Jauh;
  4. Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh;
  5. Pusat Teknologi Roket;
  6. Pusat Teknologi Satelit;
  7. Pusat Teknologi Penerbangan; dan
  8. Pusat Riset Standar Penerbangan dan Antariksa.

Kedelapan Pusat tersebut adalah transformasi dari 8 pusat yang ada sebelum integrasi, beberapa di antaranya dengan penyesuaian nomenklatur. Dua Pusat lainnya, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Penerbangan dan Antariksa (Pustikpan) dan Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa (PusKKPA) akan berintegrasi masing-masing ke Pusat Data dan Informasi (Pudatin) BRIN dan Deputi Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN. Biro-biro berintegrasi ke Sekretariat Utama BRIN. Inspektorat berintegrasi ke Inspektorat Utama BRIN. Balai dan Stasiun Bumi di daerah belum diatur secara spesifik. Sementara akan menjadi fasilitas riset Pusat-pusat Riset/Teknologi di OR Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) dengan koordinasi Deputi Infrastruktur.

Mengapa diusulkan tetap satu OR? Tidak mengikuti LIPI yang menjadi empat OR. Alasan utama, agar keberlangsungan badan antariksa (space agency) yang utuh bisa dipertahankan. Bila dipecah menjadi beberapa OR, badan antariksa Indonesia pun hilang, karena masing-masing OR pecahan tidak bisa dianggap sebagai representasi badan antariksa. Sementara BRIN tidak bisa juga disebut sebagai badan antariksa, karena ruang lingkupnya yang sangat luas.

Update:

Peraturan BRIN 5/2021 tentang Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa hanya menyebutkan 7 Pusat Riset/Pusat Teknologi:

  1. Pusat Riset Antariksa;
  2. Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer;
  3. Pusat Teknologi Penerbangan;
  4. Pusat Teknologi Roket;
  5. Pusat Teknologi Satelit;
  6. Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh; dan
  7. Pusat Riset Standar Penerbangan dan Antariksa.

Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2021, Akhir Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN (2014 – 2021)

Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2015, Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2016-2017 , Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2018, dan Refleksi Capaian Pretasi LAPAN 2019 adalah catatan capaian LAPAN selama lima tahun melaksanakan visi LAPAN 2015-2019  untuk menjadi “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri”. Alhamdulillah akhirnya visi tersebut tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional, setidaknya dengan ditetapkannya semua pusat teknis yang menjalankan 7 program utama LAPAN sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) pada akhir 2019.

Visi LAPAN selanjutnya untuk 2020-2024 adalah menjadi “Penggerak Sektor – Sektor Pembangunan Nasional Berbasis IPTEK Penerbangan dan Antariksa Dalam Mewujudkan Visi Misi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Maju Yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.

Upaya yang dilakukan adalah terus membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa.

Prioritas Riset Nasional dan Prioritas Bidang yang sedang dilaksanakan LAPAN mulai 2020 adalah sebagai berikut:

  1. Teknologi Penginderaaan Jauh untuk Kawasan Konservasi, Pencegahan Pencemaran, Kebencanaan, dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam
  2. Teknologi Pesawat N-219 Ampibi
  3. Teknologi Pesawat Tertabng Tanpa Awak MALE (Middle Altitude Long Endurance) (dikoordinasikan BPPT)
  4. Teknologi Roket Dua Tingkat
  5. Teknologi Satelit Konstelasi Komunikasi Orbit Rendah
  6. Pembangunan Observatorium Nasional
  7. Model Pemanfaatan dan Informasi Penginderaan Jauh untuk Mendukung Tujuan Pembangunan Nasional Berkelanjutan (SDGs)

Program riset dan inovasi serta layanan LAPAN terus ditingkatkan dan tata kelola organisasi terus dibenahi. Alhamdulillah, LAPAN selama tahun 2020 mencatatkan banyak prestasi yang kami jadikan sebagai pemacu semangat dan kepercayaan diri, tanpa melupakan aspek-aspek yang masih perlu diperkuat. Namun menjelang akhir 2021, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) diintegrasikan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sejak 1 September 2021 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional bertransformasi menjadi Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa dengan nama tetap “LAPAN”. Berikut capaian prestasi LAPAN selama Januari – Agustus 2021:

Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh menerima penghargaan dari MenpanRB sebagai Penyelenggara Pelayanan Publik dengan Kategori “Sangat Baik”.

Penilaian tertinggi (Sangat Baik) dari MenpanRB atas prestasi SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) 2020.

Nilai Indeks Reformasi Birokrasi (RB) dari MenpanRB naik dari 77,55 (2019) menjadi 78,04 (2020).

Nilai Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) dari MenpanRB naik dari 74,24 (2019) menjadi 74,74 (2020).

LAPAN menerima penghargaan peringkat 2 pengawasan kearsipan 2020 tingkat LPNK.

LAPAN mendapat BKN Award 2021 peringkat II untuk Kategori III (Penilaian Kompetensi) lingkup LPNK Tipe B.

Alhamdulillah, saya sudah mengantarkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mencapai prestasinya yang terbaik, sejak 2014 – Agustus 2021. Tentu saja kerjasama seluruh pegawai yang sangat baik menjadi faktor utamanya. Pada 1 September 2021 saya dilantik kembali menjadi Peneliti Utama sebagai Profesor Riset Astronomi-Astrofisika. Secara otomatis itu mengakhiri posisi saya sebagai Kepala LAPAN. Kebetulan, saya juga menjelang batas usia Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) 60 tahun pada Januari 2022. Saya kembali ke habitat peneliti di Pusat Riset Sains Antariksa, di Bandung. Semoga diberi kesempatan untuk berkarya sampai batas usia pensiun (BUP) Peneliti Utama, 70 tahun.

Pelantikan secara virtual Pejabat Fungsional pada 1 September 2021

Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2020

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2015, Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2016-2017 , Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2018, Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2019 adalah catatan capaian LAPAN selama lima tahun melaksanakan visi LAPAN 2015-2019  untuk menjadi “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri”. Alhamdulillah akhirnya visi tersebut tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional, setidaknya dengan ditetapkannya semua pusat teknis yang menjalankan 7 program utama LAPAN sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) pada akhir 2019.

Visi LAPAN selanjutnya untuk 2020-2024 adalah menjadi “Penggerak Sektor – Sektor Pembangunan Nasional Berbasis IPTEK Penerbangan dan Antariksa Dalam Mewujudkan Visi Misi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Maju Yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.

Upaya yang dilakukan adalah terus membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa.

Prioritas Riset Nasional dan Prioritas Bidang yang sedang dilaksanakan LAPAN mulai 2020 adalah sebagai berikut:

  1. Teknologi Penginderaaan Jauh untuk Kawasan Konservasi, Pencegahan Pencemaran, Kebencanaan, dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam
  2. Teknologi Pesawat N-219 Ampibi
  3. Teknologi Pesawat Tertabng Tanpa Awak MALE (Middle Altitude Long Endurance) (dikoordinasikan BPPT)
  4. Teknologi Roket Dua Tingkat
  5. Teknologi Satelit Konstelasi Komunikasi Orbit Rendah
  6. Pembangunan Observatorium Nasional
  7. Model Pemanfaatan dan Informasi Penginderaan Jauh untuk Mendukung Tujuan Pembangunan Nasional Berkelanjutan (SDGs)

Program riset dan inovasi serta layanan LAPAN terus ditingkatkan dan tata kelola organisasi terus dibenahi. Alhamdulillah, LAPAN selama tahun 2020 mencatatkan banyak prestasi yang kami jadikan sebagai pemacu semangat dan kepercayaan diri, tanpa melupakan aspek-aspek yang masih perlu diperkuat. Berikut capaian prestasi LAPAN selama 2020:

  • Feb 2020: Penghargaan dari BNPB untuk dukungan penanggulangan bencana 2019.
  • Feb 2020: Penghargaan dari Kementerian Keuangan sebagai Peringkat Satu atas Penilaian Kinerja Pelaksanaan Anggaran Tingkat Kementerian/Lembaga dalam Wilayah KPPN Jakarta III 2019.
  • Feb 2020: Penghargaan dari ANRI Pengawasan Kearsipan dengan Nilai AA (Sangat Memuaskan).
  • Mar 2020: Nilai AKIP (Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dari MenpanRB) LAPAN BB, naik beberapa point dari tahun lalu.
  • Mar 2020: Indeks RB (Reformasi Birokrasi, dari MenpanRB) LAPAN BB, naik beberapa point dari tahun lalu.
  • Juni 2020: Opini BPK WTP (Wajar Tanpa Pengecualian, 5 thn berturut-turut, 2015 – 2019).
  • Juni 2020: Top 99 Inovasi Layanan Publik oleh KemenpanRB atas inovasi “Informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) untuk Peningkatan Perekonomian Nelayan Indonesia”
  • Nov 2020: Penghargaan dari KASN (Komisi Aparatur Sipil Negara), nilai BAIK untuk Sistem Merit Manajemen ASN.
  • November 2020: LAPAN menerima Anugerah Keterbukaan Informasi Publik peringkat pertama “Informatif” untuk kategori Lembaga negara dan LPNK.

Nov 2020: LAPAN menerima Bhumandala Ariti (Medali Perunggu) untuk kategori Kementerian/Lembaga dari BIG.

Des 2020: Peluncuran RX450 dengan kinerja yang lebih baik, jangkauan 85 km.

Des 2020: TC (Type Certificate) Pesawat N219 diperoleh. Pesawat N219 dikembangkan bersama LAPAN-PTDI. Dengan diperolehnya TC, pesawat N219 siap diproduksi.

Rasionalitas Berlandaskan Iman: Optimisme Melawan Covid-19

T. Djamaluddin

Sebaran kasus positif Covid-19 secara global sampai 19 September 2020 (dari Wikipedia).

 

Saat awal Maret 2020 diumumkan penyakit yang disebabkan virus Corona (Covid-19) mulai menyebar cepat di Indonesia dan seluruh dunia, banyak orang dihinggapi kecemasan yang berlebihan. Hal itu dapat difahami karena virus menyebar tanpa kita ketahui arahnya. Dan banyak kasus orang tanpa gejala (OTG) ternyata menyebarkan virus tanpa kita ketahui.

Apa yang dapat kita lakukan? Kita tidak dapat menganggap enteng masalah Covid-19. Juga tidak boleh Covid-19 menimbulkan ketakutan berlebihan yang bisa merusakkan kesehatan mental yang berimbas pada penurunan daya tahan tubuh. Rasionalitas harus kita kedepankan. Sementara iman juga harus jadi landasan. Hal yang harus kita lakukan: berikhtiar, berdoa, dan tawakal (berserah diri kepada Allah).

Berikhtiar

Ikhtiar yang perlu dilakukan adalah “3M+3T”. Ikhtiar 3M harus kita lakukan bersama. Sementara 3T dilaksanakan oleh pemerintah. Ikhtiar 3M harus dilakukan oleh setiap orang: (1) Memakai masker yang menutup mulut dan hidung. Tujuannya agar virus yang mendopleng pada percikan ludah atau cairan hidung tidak terhirup. Karena virus menyerang sistem pernapasan. (2) Menjaga jarak. Kalau ada percikan ludah atau cairan hidung dari pembawa virus, dengan menjaga jarak, itu tidak sampai mengenai kita. (3) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer berbasis alkohol. Tangan berpotensi menyentuh sesuatu yang mungkin saja sudah terkena percikan yang mengandung virus. Sementara tangan sering kita gunakan untuk makan atau mengusap wajah yang memungkinkan menyebarkan virus melalui mulut, hidung, atau mata.

Pemerintah melaksanakan ikhtiar 3T agar penyebaran virus dapat dikendalikan. (1) Testing. Pemeriksaan orang-orang yang diduga berpotensi terpapar virus dalam aktivitasnya. (2) Tracing. Kalau ditemukan ada kasus positif Covid-19, instansi Pemerintah berkawajiban menelusuri orang-orang yang pernah berinteraksi dengan orang tersebut. (3) Treatment. Kalau dijumpai kasus posistif Covid-19, Pemerintah melakukan penanganan dengan isolasi atau perawatan, bergantung berat-ringan kasusnya.

Itulah ikhtiar rasional yang harus kita lakukan. Ancaman Covid-19 adalah nyata.

Berdoa

Doa adalah senjatanya orang beriman dalam mengatasi masalah. Setiap saat hendaknya kita berdoa untuk dijauhkan dari wabah ini. Gunakan waktu-waktu terbaik untuk berdoa dengan khusyu, seperti saat sujud dalam shalat dan sesudah shalat. Doa juga memberikan kekuatan batin untuk melawan wabah Covid-19.

Bertawakal

Kalau ikhtiar dan doa sudah dilakukan, langkah terakhir adalah bertawakal (berserah diri kepada Allah). Kita adalah makhluk-Nya. Virus pun makhluk-Nya. Allah berkuasa untuk mengendalika semua makhluk-Nya. Senantiasa kita ucapkan “Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīm (tidak ada daya dan kekuatan, selain dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung).

Dengan beriktiar, berdoa, dan bertawakal, kita optimis bisa melawan Covid-19 untuk kembali pada kehidupan nomal yang baru.

Dokumentasi Scientiae: UFO Bagaimana Menurut Agama?

Dokumentasi T. Djamaluddin (saat kelas I SMA Negeri 2 Cirebon, 1979).

Dokumentasi ini sangat penting bagi saya, karena riset literatur kecil-kecilan tentang alam semesta dari buku-buku di perpustakaan SMA Negeri 2 Cirebon membuka minat saya yang besar untuk mempelajari astronomi. Lebih dari itu, ada rasa kepercayaan diri yang makin kuat setelah artikel ilmiah populer bisa terbit di majalah ilmiah populer Scientae. Mungkin redaksi tidak menyadari bahwa itu tulisan anak kelas I SMA. Terima kasih kepada teman-teman SMA yang bersedia mengetikkan naskah tulis tangan saya (karena saya tidak punya mesin tik) untuk bisa saya kirimkan ke Scientae. Dokumentasi ini saya peroleh dari informasi teman bahwa scan artikel UFO di majalah Scientiae ada yang mendokumentasikannya.

Shalat di Pesawat Terbang dan Shalatnya Astronot

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama RI

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS Al-Baqarah (2):115]

Shalat di pesawat terbang jelas tidak ada contohnya dalam sunnah Rasul. Para ulama fikih pun umumnya membahas dalam kondisi yang relatif masih normal. Bagaimana kalau penerbangan lama? Apalagi saat ini beberapa Muslim pun berkesempatan menjadi astronot, mengorbit bumi di Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Jadi, perlu ijtihad berdasarkan dalil fikih yang shahih dengan mempertimbangkan kondisi nyata saat penerbangan atau saat mengorbit bumi. Tanpa merinci dalil-dalilnya, berikut pemahaman saya atas dalil-dalil fikih untuk praktek shalat di pesawat yang secara langsung saya alami dan praktekkan. Juga shalatnya astronot berdasarkan kondisi di orbit.

Biasanya ada lima persolan pokok terkait shalat di pesawat terbang:

  1. Mengapa harus shalat di pesawat terbang? Alasan utama, karena waktu shalat telah masuk dan tidak mungkin menunggu saat mendarat. Ada yang berpendapat, tidak sah shalat di ketinggian. Jadi shalat di pesawat terbang sekadar menghormati waktu, lalu meng-qadha (mengganti) setelah mendarat. Namun ada kasus yang akan saya tunjukkan, lima waktu shalat berada di pesawat terbang. Tidak ada contoh dalam fikih untuk meng-qadha lima shalat sekaligus. Jadi saya berpendapat, shalat di pesawat terbang adalah shalat yang dilaksanakan pada waktunya, tidak perlu meng-qadha.
  2. Bagaimana cara menentukan waktu shalatnya? Beberapa pesawat terbang (terutama maskapai Timur Tengah) kadang mengumumkan masuknya waktu shalat. Namun sebagian besar tidak memberikan informasi jadwal shalat. Maka kita harus memperkirakan posisi matahari atau ketampakan matahari dan cahayanya dari pesawat. Karena kita bisa melakukan shalat jamak (digabung), maka hanya tiga waktu yang perlu diperhatikan: dhuhur, maghrib, dan shubuh. (a) Waktu dhuhur ditandai setelah matahari mulai condong ke barat. Beberapa pesawat terbang memberikan informasi posisi matahari dan wilayah siang-malam di peta penerbangannya. Dengan informasi itu kita bisa mengetahui bahwa pesawat sudah memasuki waktu dhuhur. (b) Maghrib ketika matahari sudah terbenam atau pesawat mulai memasuki wilayah malam. (c) Shubuh ketika fajar mulai tampak di ufuk timur. Itu sebabnya kalau penerbangan malam saya sering memilih kursi dekat jendela yang menghadap timur. Cara lain, kalau duduk di kursi tengah, perkirakan ketika pesawat menjelang memasuki daerah siang, walau ini perkiraan sangat kasar. Yang penting sebelum pesawat memasuk wilayah siang.
  3. Bagaimana cara bersucinya? Jelas tidak mungkin dengan berwudhu. Walau pun di toilet pesawat terbang ada air, air itu sulit untuk berwudhu. Ada yang berpendapat, itu kan perjuangan, tetap harus diupayakan. Bayangkan, kalau penumpang pesawat terbang sebagian besar Muslim, seperti saat haji atau umroh. Sungguh memberatkan kalau semua harus berjuang untuk berwudhu dengan air. Jadi, saya berpendapat, lebih baik bertayum. Kan tidak ada tanah? Kita yakinkan saja bahwa di bagian kursi di depan kita atau dinding pesawat masih ada debu-debu yang menempel yang bisa kita gunakan untuk bertayamum. Caranya: (1) tepukkan tangan ke kursi di depan kita atau ke dinding pesawat, (2) usap wajah, (3) lanjutkan ke kedua tangan, cukup sampai pergelangan saja.
  4. Bagaimana menghadap kiblatnya? Walau di pesawat sering ada peta dan petunjuk arah terbang, sehingga bisa memperkirakan arah kiblat, seringkali posisi terbang membelakangi arah kiblat. Ada yang berpendapat, tetap harus diupayakan menghadap kiblat, setidaknya pada awalnya. Namun, itu kadang sangat menyulitkan. Ada solusinya yang diberikan Allah dalam QS 2:115: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. Jadi, dalam kondisi kita tidak memungkinkan menghadap arah kiblat yang benar, hadapkanlah wajah ke arah yang memungkinkan.
  5. Bagaimana cara shalatnya? Sebagai orang dalam perjalanan (musafir) kita mendapat keringanan untuk menjamak (menggabungkan) shalat dhuhur dan asar serta shalat maghrib dan isya. Juga kita mendapat keringanan untuk meng-qashar (meringkas) shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Lalu bagaimana cara shalatnya? Ada yang berpendendapat bahwa harus diupayakan shalat sambil berdiri. Namun itu pun menyulitkan kalau harus dilakukan banyak orang. Tidak ada tempat yang memadai untuk menampung semua penumpang Muslim. Jadi, saya berpendapat, dalam kondisi seperti itu, shalatlah di kursi masing-masing. Caranya, sambil duduk bertakbiratul ihram. Lalu membaca Alfatihah dan surat pendek. Dilanjutkan ruku’ dengan sedikit membungkuk sambil baca bacaan ruku’. I’tidal dilakukan dengan kembali duduk tegak. Lalu sujud dengan membungukuk lebih rendah lagi atau sampai menyentuh kursi di depan kita. Demikian sampai selesai dengan salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri.

Penerbangan panjang Tokyo (Jepang) – Dallas (AS), dengan lima waktu shalat.

Berikut ini catatan perjalanan panjang penerbangan dari Tokyo (Jepang) ke Dallas (AS) dan sebaliknya. Perjalanan panjang dari Tokyo ke Dallas (AS) selama 10,5 jam. Karena penerbangan ke arah timur jadi matahari terasa seolah bergerak cepat. Jadi sangat berpengaruh pada waktu shalat. Saya terbang 3 April 2019 pukul 11.00 waktu Jepang dan sampai di Dallas pada tanggal yang sama 3 April pagi sekitar pukul 07.30 waktu Dallas. Tanggal tidak berubah setelah melewati tengah malam, karena melewati batas Tanggal Internasional. Penerbangan siang sampai pagi, artinya lima waktu shalat saya berada di pesawat terbang. Lalu bagaimana waktu melaksanakan shalat di pesawat? Shalat dhuhur-ashar saya jamak qashar (digabung dan dirungkas) beberapa jam setelah meninggalkan Tokyo. Shalat maghrib-isya saya jamak-qashar  ketika berada di atas samudra Pasifik, menjelang memasuki daratan AS. Shalat shubuh saya laksanakan beberapa saat sebelum mendarat di Dallas. Supaya tidak terlewat waktu shubuh, saya upayakan sekali-sekali kalau terbangun saya periksa posisi pesawat pada peta malam-siang. Untuk memastikannya, saya lihat lewat jendala.

Penerbangan panjang Dallas (AS) – Tokyo (Jepang), hanya shalat dhuhur-asar.

Penerbangan kembali dari Dallas (AS) ke Tokyo (Jepang) lebih lama. Selain karena waktunya yang lebih lama, selama 12,5 jam, juga karena merasa pergerakan matahari lebih lambat. Hal itu terjadi karena pesawat melawan arah rotasi bumi dan pergerakannya mengikuti pergerakan semu matahari. Maka sepanjang penerbangan hanya merasakan siang terus. Saya terbang Jumat 12 April 2019 siang, tiba Sabtu 13 April sore. Tanggal berubah karena melewati Garis Tanggal Internasional. Karena siang yang panjang di pesawat, shalat di atas pesawat hanya dhuhur-asar dijamak-qashar.

Dengan contoh shalat dalam penerbangan panjang, lalu bagaimana para astronot Muslim melaksanakan shalatnya. Pertama, jelas shalat di wahana antariksa astronot tidak bisa lagi merujuk arah kiblat ke Mekkah. Jadi, dalil QS 2:115 yang digunakan. Shalatlah menghadap ke mana saja. Lalu bagaimana waktunya? Wahana antariksa mengorbit bumi sekitar 14 kali sehari. Artinya, setiap 90 menit mengalami malam dan siang bergantian. Waktu shalatnya adalah mengunakan jam. Rujukannya adalah jadwal shalat di lokasi peluncuran. Lalu bagaimana cara melakukannya? Dalam kondisi gravitasi mikro, astronot tampak melayang-layang di dalam wahana antariksa kalau kaki tidak mengait pada pijakan. Gerakan sedikit saja bisa memindahkan posisi astronot. Jadi, gerakan shalat dilakukan sesuai kemampuan yang bisa dilakukan.

Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2019

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Visi LAPAN 2015-2019  menjadi “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri” akhirnya tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional. Hal itu bila kita merujuk ditetapkannya semua pusat teknis yang menjalankan 7 program utama LAPAN sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) pada akhir 2019 ini.

Upaya yang dilakukan adalah membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa).

Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2015 , Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2016-2017, Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2018, dan Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2019 ini adalah suatu rangkaian catatan yang merupakan apresiasi kepada semua pegawai LAPAN untuk membangun kepercayaan diri dan semangat kerja, tanpa melupakan hal-hal yang harus terus dibenahi.

    • LAPAN memperoleh Opini BPK Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan 2018.
    • Sertifikat penghargaan WTP diberikan oleh Wakil Menteri Keuangan RI, Prof Mardiasmo kepada Sekretaris Utama LAPAN, Prof Erna Sri Adiningsih

    • Indeks Reformasi Birokrasi LAPAN naik dari 75,92 (2017) menjadi 76,12 (2018). Upaya pembenahan tata kelola dan peningkatan kinerja dalam rangka Reformasi Birokrasi terus dilanjutkan.
    • Juli 2019: LSU-02 NGLD (LAPAN Surveillance UAV-02 Next Generation Low Drag) sukses meraih Rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), dengan kategori “Pesawat Tanpa Awak (UAV) Terbang Menempuh Jarak Terjauh. Dengan mengambil lepas landas/ terbang dari LANUD TNI AU Cikelet, Pameungpeuk, Garut pada pukul 11.38 WIB, pesawat LSU-02 NGLD terbang ke arah barat menuju Pantai Citepus, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, dan berhasil mendarat kembali pada pukul 15.40 WIB di titik awal terbang. Dengan kecepatan rata-rata terbang 100 km/jam dan dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut, pesawat ini mampu terbang sejauh 405 Km pergi pulang.
    • LSU-02 NGLD membuat rekor terbang autonomous terjauh 405 km

    • LAPAN naik peringkat menjadi peringkat 2 di Webometrik lembaga riset di Indonesia.
    • LAPAN menduduki peringkat 2 Webometrik lembaga riset di Indonesia.

    • LAPAN sebagai Regional Support Office mendapatkan penghargaan dari UN SPIDER sebagai Main Contributor dalam kegiatan penanggulangan bencana berbasis keantariksaan.
    • Hasil gambar untuk UN Spider LAPAN 2019

      Penghargaan UN SPIDER kepada LAPAN sebagai Regional Support Office.

    • Gedung Pusat Sains Antariksa LAPAN mendapat Penghargaan Harapan 2 Gedung Pemerintah Hemat Energi dan Air dari Menteri ESDM.
    • Menteri ESDM bersama para pemenang anugerah.

    • LAPAN memperoleh Anugerah Keterbukaan Informasi Publik dengan predikat Badan Publik “Informatif” pada Kategori Badan Publik Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LN/LPNK). Anugerah KIP diserahkan Wakil Presiden RI.

      Wapres menyerahkan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik kepada Kepala LAPAN

    • LAPAN menandatangani perjanjian lisensi komersialisasi ZAP 2.0 antara Pusfatja dengan PT Media Rekayasa Lintas (PR Marlin) dalam pemanfaatan informasi zona potensi penangkapan ikan.
    • Lisensi LAPAN-PT Marlin

      Penandatanganan lisensi aplikasi zona potensi penangkapan ikan ZAP 2.0 antara LAPAN dan PT Marlin.

    • LAPAN menandatangani perjanjian lisensi dengan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) untuk komersialisasi Radar hujan Santanu.
    • Penandatangan Lisensi radar Santanu antara LAPAN dan PT Inti.

    • Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyerahkan SNI ISO/IEC 17025:2017 untuk Laboratorium Uji Material (Komposit) di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN.
    • SNI-ISO Lab Uji
    • Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait produk-produk litbang LAPAN.Penetapan SNI 8804:2019              Sistem Keantariksaan – Satelit kubus
      Penetapan SNI ISO 14620-1:2018 Sistem Keantariksaan – Persyaratan keselamatan – Bagian 1: Keselamatan sistem
      Penetapan SNI ISO 24113:2011     Sistem Keantariksaan – Persyaratan mitigasi sampah antariksaPenetapan SNI 8829:2019              Radar hujan
    • LAPAN melalui Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh (Pustekdata) meraih Penghargaan Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik dengan predikat “Sangat Baik” dari Menpan RB. LAPAN berhasil masuk dalam 10 besar Kementerian dan Lembaga dengan Indeks  Pelayanan Publik tertinggi.
    • LAPAN memperoleh Penghargaan Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik dengan predikat “Sangat Baik”

    • Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) dan Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) LAPAN ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI). Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) dan Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) LAPAN menerima Sertifikat Akreditasi Pranata Litbang yang diberikan oleh Komite Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP). Dalam acara Apresiasi Lembaga Litbang Tahun 2019. Lengkap sudah semua 7 Pusat Teknis ditetapkan sebagai PUI.

PUI 2019

Pusat Sains Antariksa dan Pusat Teknologi Roket ditetapkan menjadi PUI. Lengkap sudah tujuh pusat teknis LAPAN menjadi PUI.

CNN Meet the Geek: Thomas Djamaluddin, Mimpi Jadi Peneliti Berakhir di Astronomi

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi

Jakarta, CNN Indonesia — Dunia astronomi dan keantariksaan seputar benda langit dan alam semesta menjadi misteri hingga memicu tanda tanya bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Teka-teki dan pertanyaan besar itu pula yang tersimpan dalam benak kepala LAPANThomas Djamaludin.

Ketertarikannya terhadap dunia astronomi tak dinyana justru membawanya ‘menembus semesta’ hingga mengantongi beasiswa untuk melanjutkan di bidang astronomi dari Universitas Kyoto, Jepang.

Kepada CNNIndonesia.com, Thomas menuturkan sejak kanak-kanak sebenarnya ia lebih tertarik terhadap dunia flora. Maka tak heran jika ditanya soal cita-cita, semasa duduk di SMP N 1 Cirebon Thomas dengan mantap mengatakan ingin menjadi peneliti. Sebuah cita-cita yang terdengar awam bagi sebagian mimpi untuk menjadi dokter, polisi, hingga pilot.

Tapi tidak demikian bagi sang pemilik mimpi. Thomas merasa menjadi peneliti sebagai hal mengasyikkan – kendati tidak tahu betul apa pekerjaannya. Ia mengaku sejak kecil tertarik mengamati proses dari biji-bijian hingga menjadi tanaman.

“Mulai kecil saya senang pertama tumbuh-tumbuhan, ingin mengulik terkait dengan bagaimana sih tumbuhan. Proses mulai dari biji sampai tumbuh besar terutama musim hujan paling senang,” ujar Thomas saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kantor LAPAN di Jakarta Timur, Senin (19/8).

Pria yang menghabiskan masa kecilnya di Cirebon ini menuturkan ketika beranjak remaja ia kerap mengumpulkan biji rambutan hingga kedondong yang terdapat di sekitar rumahnya. Musim hujan menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu Thomas, karena bisa melihat proses tumbuhan berkembang dari sebuah biji, keluar tunas, hingga muncul daun.

Kebun pisang yang terdapat di halaman belakang rumahnya tak luput menjadi objek pengamatan Thomas. Kala itu ia mendapati tunas pisang ternyata cukup kuat untuk mengangkat batu yang terdapat di sekitar pohon. Pengamatan ini pula yang kian membulatkan tekadnya untuk menjadi peneliti.

“Saya juga sering amati tunas pisang di kebun di belakang rumah, itu kekuatannya cukup juga kalau ada batu itu kadang batu bisa terangkat juga. Dari sana saya cita-cita jadi ingin peneliti,” ucapnya.

Menginjak remaja, ketertarikan Thomas terhadap tumbuh-tumbuhan justru beralih ke ranah astronomi. Ketika duduk di kursi kelas 3 SMP, ia banyak mendapat informasi mengenai astronomi saat membaca majalah Mekatronika.

Salah satu edisi majalah yang membahas piring terbang (UFO) dan keberadaan alien, makhluk lain di luar Bumi semakin membuatnya penasaran. Di titik inilah Thomas kemudian ‘banting stir’ dan berniat mempelajari astronomi lebih dalam.

Lepas SMP, pria kelahiran 23 Januari 1962 ini melanjutkan studnya di SMAN 2 Cirebon. Rasa penasarana terhadap teka-teki dunia luar angkasa semakin besar dalam benaknya.

Ditambah koleksi buku-buku di perpustakaan sekolah membuat rasa penasaran terhadap UFO dan alien semakin membuncah. Ia menuturkan beberapa kali meminjam buku dari perpustakaan yang kerap mendapat asupan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

“Jadi saat itu banyak ingin tahu juga, apalagi saya menemukan di perpustakaan buku yang menarik terkait pertanyaan apakah piramida lalu patung-patung di Pulau Ester itu buatan manusia atau itu mengarah bukan buatan manusia tapi buatan alien,” ucapnya.

Asupan informasi inilah yang kemudian memunculkan gagasan untuk membuat tulisan mengenai penjelasan UFO dari sudut pandang agama. Terlebih ia juga selama ini senang mempelajari seluk beluk Islam.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi/2

Debut riset pustaka astronomi membawa ke Jepang

Tak cukup hanya lewat studi literatur, Thomas mengenang awal mula ketertarikannya di dunia astronomi mendorongnya untuk membuat riset pustaka sederhana mengenai antariksa.

Dalam debut pertamanya, ia memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke redaksi majalah. Tak dinyana, tulisannya mengenai astronomi justru berhasil dimuat di majalah.

“Di situ mulai minat terhadap astronomi, jadi yang tadi dari tumbuhan dan keantariksaan secara umum kemudian lebih fokus ke astronomi. Dan waktu itu tulisannya jadi dimuat di majalah, saya tidak tahu penulis redaksinya apakah dia tahu penulisnya anak SMA kelas 1,” kenang Thomas sambil tertawa.

Usai dinyatakan lulus dari SMAN 2 Cirebon, di tahun 1981 Thomas melanjutkan studi Strata 1 di Institut Teknologi Bandung jurusan astronomi melalui jalur PP II (Proyek Perintis II) — sejenis PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).

Disela perkenalan mahasiswa baru, pria berkacamata ini mengenang saat itu hanya ada lima mahasiswa astronomi. Ketika ditanya soal motivasi memilih jurusan astronomi, dengan mantap ia mengatakan ingin membuktikan ayat dalam Alquran yang menjelaskan alam semesta.

“Motivasi utama saya selain minat karena ada ayat Al-Quran yang terkait dengan alam semesta itu menarik misal surat An-Nur. Artinya, Allah itu cahaya bagi langit dan Bumi, belakangan saya mengetahui makna ayat itu jadi Allah memberi cahaya pada langit dan Bumi maka kita mengetahui objek yang jauh, bintang secara fisis,” terangnya.

Ayat Alquran yang memuat penjelasan terkait alam semesta pula yang mendorong Thomas untuk mengimplementasikan ilmu astronomi untuk menghitung awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Selain melakuan perhitungan berdasarkan ilmu astronomi, ia juga mengatakan berguru ke salah satu dosen di Universitas Islam Bandung untuk mempelajari korelasi antara ilmu astronomi dan agama yang dianutnya.

Thomas mengenang hal menarik lain yang diterimanya saat tengah merampungkan studi akhir. Seorang temannya yang bekerja sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) di LAPAN menginformasikan lowongan pekerjaan yang tengah dibuka.

Kendati sempat ragu, Thomas tak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Ia akhirnya mencoba melamar pekerjaan tersebut. Tak diduga, ia justru mendapat respons positif dari kepala LAPAN saat itu.

“Jadi ditawarin tapi saya belum lulus sudah ditawarin masuk ke LAPAN dan waktu itu langsung diajak menghadap kepala LAPAN di Bandung. Saya katakan “Saya belum lulus, saya masih mengerjakan skripsi” kata beliau, “Sudah anggap lulus saja”,” ucapnya.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu dan mengikuti tes CPNS LAPAN. Setelah melalui serangkaian tes hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai CPNS. Tak lama ia kemudian menghadap dosen pembimbing di ITB untuk memberi tahukan kabar baik tersebut.

Hanya saja bukan respons baik yang diterimanya, dosen pembimbingnya itu justru tak menyukai kabar gembira tersebut. Ia bahan sempat diminta untuk menghentikan bimbingan skripsi dengan sang dosen lantaran telah dinyatakan diterima di LAPAN. Thomas kemudian mengetahui jika sebenarnya ia hendak dipromosikan menjadi dosen astronomi usai dinyatakan lulus dari ITB.

“Saya baru tahu bahwa pembimbing saya mau mengusulkan saya jadi dosen di astronomi ITB. Pembimbing saya bilang, “Berhenti saja lah bimbingannya,” saya jadi bingung juga sudah diterima di LAPAN kalau tidak lulus ya percuma. Tapi akhirnya di rapatkan ditingkat jurusan kemudian dosen-dosen yang lain bisa memahami,” ucapnya.

Selang sebulan setelah dinyatakan lulus Strata 1 pada 1 Oktober 1986, Thomas mengabdi untuk LAPAN dengan menyandang status sebagai ASN. Lima bulan berselang, ia mendapat tawaran beasiswa melanjutkan studi master astronomi di Universitas Kyoto. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran tersebut.

Di tengah studinya selama dua tahun di Jepang, ia kembali menerima tawaran untuk melanjutkan studi S3 dari universitas yang sama. Ia kembali mengiyakan tawaran tersebut untuk memperdalam ilmu yang sejak lama disukainya itu.

“Saya selesaikan Master dua tahun lalu pembimbing saya mengatakan, “Mau lanjutkan gak ke Doktor?” Wah saya senang sekali dan langsung saya terima tawaran itu,” ucapnya.

Semasa melanjutkan studi di Jepang Thomas mengenang sempat membuat jadwal salat untuk dijadikan pedoman saat beribadah. Kala itu ia mengatakan penentuan jadwal salat hanya tersedia untuk daerah Kobe dan Tokyo. Ia kemudian menghitung dan membuat program jadwal salat untuk semua provinsi di Jepang. (evn)

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi/3

Meneropong masa depan studi antariksa Indonesia

Sejak 7 Februari 2014, Thomas didaulat menjadi nakhoda untuk lembaga tempatnya mengabdi selama 32 tahun. Selama itu pula sejumlah mimpi dan harapan disimpan Thomas untuk masa depan dunia antariksa Indonesia.

Dalam kurun 25 tahun kedepan, ia mengatakan Indonesia harusnya bisa membuat satelit dengan roket yang dibuat sendiri. Berkaca pada kesuksesan NASA, Thomas mengatakan sebagai tahap awal Indonesia bisa memulai peluncuran roket untuk mengirim satelit ke orbit Bumi.

“Mimpi kita dalam rencana induk keantariksaan 25 tahun mulai 2016 sampai dengan 2040, Indonesia harus mampu membuat satelit kemudian meluncurkan satelit dengan roket sendiri dan dari Bumi Indonesia sendiri,” jelasnya.

Untuk mewujudkan mimpi terebut, Thomas mengatakan LAPAN tengah mengembangkan Bandara Antariksa mulai dari skala kecil yang targetnya kelak bisa bermitra dengan pihak luar. Menyoal roket, ia menyebut tren ukurannya saat ini tidak harus besar tapi bisa dimulai dari yang kecil.

 

Satelit pun dibuat agak kecil sebab dari segi biaya lebih murah dan persiapan untuk meluncurkan satelit ini lebih pendek.

“Nanti juga [proyek peluncuran sateli] bisa bermitra dengan swasta atau badan usaha udalam pengoperasian bandara antariksa mulai dari skala mkecil kemitraan nasional, skala besar kemitraan internasional,” ucapnya.

Ia mengatakan untuk keberlangsungan misi antariksa maka frekuensi peluncurannya harus memadai, karena biaya yang dikeluarkan sangat mahal.

“Itu [peluncuran satelit dan bandara antariksa] kira-kira mimpi kita 25 tahun ke depan,” pungkasnya.

Astronomi dan kehidupan pribadi

Kecintaannya yang dalam terhadap dunia astronomi juga terbawa hingga ke kehidupan pribadi. Ia mengadopsi nama-nama planet, bulan, hingga galaksi bima sakti untuk ketiga anaknya.

Thomas menuturkan anak pertamanya yang bernama Vega Isma Zakiah diambil dari nama bintang rujukan pada fotometri (Vega) dan Isma yang merupakan insterstelar meter.

Sementara anak keduanya yang lahir di Bandung diberi nama Gingga Ismo merupakan gabungan Gingag yang berarti galaksi bima sakti dan Ismo yang merupakan interstelar medium.

“Anak kedua saya mengambil nama Gingga dari bahasa Jepang yang berarti sungai perak, galaksi bima sakti (milky way). Sementara Ismo yang berarti insterstelar medium juga menjadi topik penelitian studi S3 saya,” jelasnya.

Keberadaan planet ‘tetangga’ Bumi, Venus menjadi sumber inspirasi untuk anak ketiganya. Thomas menggunakan anma Venus Hiakaru Aisyah untuk anak ketiganya yang juga lahir di Bandung. (evn)

Tokoh Kita – JakTV: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin – Kepala LAPAN

JakTV pada Sabtu, 24 Agustus 2019 menayangkan wawancara Tokoh Kita, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Topik besar yang diangkat adalah “Ilmu Astronomi untuk Menjawab Permasalahan Ummat. Berikut ini rekamannya:

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

 

Wawancara RRI Visual: Tamu Kita – Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN)

 

RRI bukan hanya audio, tetapi juga ada RRI Visual di RRI Net. Pada Ahad 18 Agustus 2019, RRI Visual menayangkan “Tamu Kita – Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN)”. Berikut rekaman tayangannya.

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Versi lengkap