CNN Meet the Geek: Thomas Djamaluddin, Mimpi Jadi Peneliti Berakhir di Astronomi

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi

Jakarta, CNN Indonesia — Dunia astronomi dan keantariksaan seputar benda langit dan alam semesta menjadi misteri hingga memicu tanda tanya bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Teka-teki dan pertanyaan besar itu pula yang tersimpan dalam benak kepala LAPANThomas Djamaludin.

Ketertarikannya terhadap dunia astronomi tak dinyana justru membawanya ‘menembus semesta’ hingga mengantongi beasiswa untuk melanjutkan di bidang astronomi dari Universitas Kyoto, Jepang.

Kepada CNNIndonesia.com, Thomas menuturkan sejak kanak-kanak sebenarnya ia lebih tertarik terhadap dunia flora. Maka tak heran jika ditanya soal cita-cita, semasa duduk di SMP N 1 Cirebon Thomas dengan mantap mengatakan ingin menjadi peneliti. Sebuah cita-cita yang terdengar awam bagi sebagian mimpi untuk menjadi dokter, polisi, hingga pilot.

Tapi tidak demikian bagi sang pemilik mimpi. Thomas merasa menjadi peneliti sebagai hal mengasyikkan – kendati tidak tahu betul apa pekerjaannya. Ia mengaku sejak kecil tertarik mengamati proses dari biji-bijian hingga menjadi tanaman.

“Mulai kecil saya senang pertama tumbuh-tumbuhan, ingin mengulik terkait dengan bagaimana sih tumbuhan. Proses mulai dari biji sampai tumbuh besar terutama musim hujan paling senang,” ujar Thomas saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kantor LAPAN di Jakarta Timur, Senin (19/8).

Pria yang menghabiskan masa kecilnya di Cirebon ini menuturkan ketika beranjak remaja ia kerap mengumpulkan biji rambutan hingga kedondong yang terdapat di sekitar rumahnya. Musim hujan menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu Thomas, karena bisa melihat proses tumbuhan berkembang dari sebuah biji, keluar tunas, hingga muncul daun.

Kebun pisang yang terdapat di halaman belakang rumahnya tak luput menjadi objek pengamatan Thomas. Kala itu ia mendapati tunas pisang ternyata cukup kuat untuk mengangkat batu yang terdapat di sekitar pohon. Pengamatan ini pula yang kian membulatkan tekadnya untuk menjadi peneliti.

“Saya juga sering amati tunas pisang di kebun di belakang rumah, itu kekuatannya cukup juga kalau ada batu itu kadang batu bisa terangkat juga. Dari sana saya cita-cita jadi ingin peneliti,” ucapnya.

Menginjak remaja, ketertarikan Thomas terhadap tumbuh-tumbuhan justru beralih ke ranah astronomi. Ketika duduk di kursi kelas 3 SMP, ia banyak mendapat informasi mengenai astronomi saat membaca majalah Mekatronika.

Salah satu edisi majalah yang membahas piring terbang (UFO) dan keberadaan alien, makhluk lain di luar Bumi semakin membuatnya penasaran. Di titik inilah Thomas kemudian ‘banting stir’ dan berniat mempelajari astronomi lebih dalam.

Lepas SMP, pria kelahiran 23 Januari 1962 ini melanjutkan studnya di SMAN 2 Cirebon. Rasa penasarana terhadap teka-teki dunia luar angkasa semakin besar dalam benaknya.

Ditambah koleksi buku-buku di perpustakaan sekolah membuat rasa penasaran terhadap UFO dan alien semakin membuncah. Ia menuturkan beberapa kali meminjam buku dari perpustakaan yang kerap mendapat asupan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

“Jadi saat itu banyak ingin tahu juga, apalagi saya menemukan di perpustakaan buku yang menarik terkait pertanyaan apakah piramida lalu patung-patung di Pulau Ester itu buatan manusia atau itu mengarah bukan buatan manusia tapi buatan alien,” ucapnya.

Asupan informasi inilah yang kemudian memunculkan gagasan untuk membuat tulisan mengenai penjelasan UFO dari sudut pandang agama. Terlebih ia juga selama ini senang mempelajari seluk beluk Islam.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi/2

Debut riset pustaka astronomi membawa ke Jepang

Tak cukup hanya lewat studi literatur, Thomas mengenang awal mula ketertarikannya di dunia astronomi mendorongnya untuk membuat riset pustaka sederhana mengenai antariksa.

Dalam debut pertamanya, ia memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke redaksi majalah. Tak dinyana, tulisannya mengenai astronomi justru berhasil dimuat di majalah.

“Di situ mulai minat terhadap astronomi, jadi yang tadi dari tumbuhan dan keantariksaan secara umum kemudian lebih fokus ke astronomi. Dan waktu itu tulisannya jadi dimuat di majalah, saya tidak tahu penulis redaksinya apakah dia tahu penulisnya anak SMA kelas 1,” kenang Thomas sambil tertawa.

Usai dinyatakan lulus dari SMAN 2 Cirebon, di tahun 1981 Thomas melanjutkan studi Strata 1 di Institut Teknologi Bandung jurusan astronomi melalui jalur PP II (Proyek Perintis II) — sejenis PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).

Disela perkenalan mahasiswa baru, pria berkacamata ini mengenang saat itu hanya ada lima mahasiswa astronomi. Ketika ditanya soal motivasi memilih jurusan astronomi, dengan mantap ia mengatakan ingin membuktikan ayat dalam Alquran yang menjelaskan alam semesta.

“Motivasi utama saya selain minat karena ada ayat Al-Quran yang terkait dengan alam semesta itu menarik misal surat An-Nur. Artinya, Allah itu cahaya bagi langit dan Bumi, belakangan saya mengetahui makna ayat itu jadi Allah memberi cahaya pada langit dan Bumi maka kita mengetahui objek yang jauh, bintang secara fisis,” terangnya.

Ayat Alquran yang memuat penjelasan terkait alam semesta pula yang mendorong Thomas untuk mengimplementasikan ilmu astronomi untuk menghitung awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Selain melakuan perhitungan berdasarkan ilmu astronomi, ia juga mengatakan berguru ke salah satu dosen di Universitas Islam Bandung untuk mempelajari korelasi antara ilmu astronomi dan agama yang dianutnya.

Thomas mengenang hal menarik lain yang diterimanya saat tengah merampungkan studi akhir. Seorang temannya yang bekerja sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) di LAPAN menginformasikan lowongan pekerjaan yang tengah dibuka.

Kendati sempat ragu, Thomas tak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Ia akhirnya mencoba melamar pekerjaan tersebut. Tak diduga, ia justru mendapat respons positif dari kepala LAPAN saat itu.

“Jadi ditawarin tapi saya belum lulus sudah ditawarin masuk ke LAPAN dan waktu itu langsung diajak menghadap kepala LAPAN di Bandung. Saya katakan “Saya belum lulus, saya masih mengerjakan skripsi” kata beliau, “Sudah anggap lulus saja”,” ucapnya.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu dan mengikuti tes CPNS LAPAN. Setelah melalui serangkaian tes hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai CPNS. Tak lama ia kemudian menghadap dosen pembimbing di ITB untuk memberi tahukan kabar baik tersebut.

Hanya saja bukan respons baik yang diterimanya, dosen pembimbingnya itu justru tak menyukai kabar gembira tersebut. Ia bahan sempat diminta untuk menghentikan bimbingan skripsi dengan sang dosen lantaran telah dinyatakan diterima di LAPAN. Thomas kemudian mengetahui jika sebenarnya ia hendak dipromosikan menjadi dosen astronomi usai dinyatakan lulus dari ITB.

“Saya baru tahu bahwa pembimbing saya mau mengusulkan saya jadi dosen di astronomi ITB. Pembimbing saya bilang, “Berhenti saja lah bimbingannya,” saya jadi bingung juga sudah diterima di LAPAN kalau tidak lulus ya percuma. Tapi akhirnya di rapatkan ditingkat jurusan kemudian dosen-dosen yang lain bisa memahami,” ucapnya.

Selang sebulan setelah dinyatakan lulus Strata 1 pada 1 Oktober 1986, Thomas mengabdi untuk LAPAN dengan menyandang status sebagai ASN. Lima bulan berselang, ia mendapat tawaran beasiswa melanjutkan studi master astronomi di Universitas Kyoto. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran tersebut.

Di tengah studinya selama dua tahun di Jepang, ia kembali menerima tawaran untuk melanjutkan studi S3 dari universitas yang sama. Ia kembali mengiyakan tawaran tersebut untuk memperdalam ilmu yang sejak lama disukainya itu.

“Saya selesaikan Master dua tahun lalu pembimbing saya mengatakan, “Mau lanjutkan gak ke Doktor?” Wah saya senang sekali dan langsung saya terima tawaran itu,” ucapnya.

Semasa melanjutkan studi di Jepang Thomas mengenang sempat membuat jadwal salat untuk dijadikan pedoman saat beribadah. Kala itu ia mengatakan penentuan jadwal salat hanya tersedia untuk daerah Kobe dan Tokyo. Ia kemudian menghitung dan membuat program jadwal salat untuk semua provinsi di Jepang. (evn)

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190902095525-199-426711/thomas-djamaludin-mimpi-jadi-peneliti-berakhir-di-astronomi/3

Meneropong masa depan studi antariksa Indonesia

Sejak 7 Februari 2014, Thomas didaulat menjadi nakhoda untuk lembaga tempatnya mengabdi selama 32 tahun. Selama itu pula sejumlah mimpi dan harapan disimpan Thomas untuk masa depan dunia antariksa Indonesia.

Dalam kurun 25 tahun kedepan, ia mengatakan Indonesia harusnya bisa membuat satelit dengan roket yang dibuat sendiri. Berkaca pada kesuksesan NASA, Thomas mengatakan sebagai tahap awal Indonesia bisa memulai peluncuran roket untuk mengirim satelit ke orbit Bumi.

“Mimpi kita dalam rencana induk keantariksaan 25 tahun mulai 2016 sampai dengan 2040, Indonesia harus mampu membuat satelit kemudian meluncurkan satelit dengan roket sendiri dan dari Bumi Indonesia sendiri,” jelasnya.

Untuk mewujudkan mimpi terebut, Thomas mengatakan LAPAN tengah mengembangkan Bandara Antariksa mulai dari skala kecil yang targetnya kelak bisa bermitra dengan pihak luar. Menyoal roket, ia menyebut tren ukurannya saat ini tidak harus besar tapi bisa dimulai dari yang kecil.

 

Satelit pun dibuat agak kecil sebab dari segi biaya lebih murah dan persiapan untuk meluncurkan satelit ini lebih pendek.

“Nanti juga [proyek peluncuran sateli] bisa bermitra dengan swasta atau badan usaha udalam pengoperasian bandara antariksa mulai dari skala mkecil kemitraan nasional, skala besar kemitraan internasional,” ucapnya.

Ia mengatakan untuk keberlangsungan misi antariksa maka frekuensi peluncurannya harus memadai, karena biaya yang dikeluarkan sangat mahal.

“Itu [peluncuran satelit dan bandara antariksa] kira-kira mimpi kita 25 tahun ke depan,” pungkasnya.

Astronomi dan kehidupan pribadi

Kecintaannya yang dalam terhadap dunia astronomi juga terbawa hingga ke kehidupan pribadi. Ia mengadopsi nama-nama planet, bulan, hingga galaksi bima sakti untuk ketiga anaknya.

Thomas menuturkan anak pertamanya yang bernama Vega Isma Zakiah diambil dari nama bintang rujukan pada fotometri (Vega) dan Isma yang merupakan insterstelar meter.

Sementara anak keduanya yang lahir di Bandung diberi nama Gingga Ismo merupakan gabungan Gingag yang berarti galaksi bima sakti dan Ismo yang merupakan interstelar medium.

“Anak kedua saya mengambil nama Gingga dari bahasa Jepang yang berarti sungai perak, galaksi bima sakti (milky way). Sementara Ismo yang berarti insterstelar medium juga menjadi topik penelitian studi S3 saya,” jelasnya.

Keberadaan planet ‘tetangga’ Bumi, Venus menjadi sumber inspirasi untuk anak ketiganya. Thomas menggunakan anma Venus Hiakaru Aisyah untuk anak ketiganya yang juga lahir di Bandung. (evn)

Tokoh Kita – JakTV: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin – Kepala LAPAN

JakTV pada Sabtu, 24 Agustus 2019 menayangkan wawancara Tokoh Kita, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Topik besar yang diangkat adalah “Ilmu Astronomi untuk Menjawab Permasalahan Ummat. Berikut ini rekamannya:

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bagian 4

Bagian 5

 

Wawancara RRI Visual: Tamu Kita – Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN)

 

RRI bukan hanya audio, tetapi juga ada RRI Visual di RRI Net. Pada Ahad 18 Agustus 2019, RRI Visual menayangkan “Tamu Kita – Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN)”. Berikut rekaman tayangannya.

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Versi lengkap

Refleksi Capaian LAPAN 2018

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Visi LAPAN 2015-2019  untuk mencapai “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri” insya-a Llah akan tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional. Upaya yang dilakukan adalah membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa).

Refleksi Capaian LAPAN 2015 , Refleksi Capaian LAPAN 2016-2017, dan Refleksi Capaian 2018 ini adalah suatu rangkaian catatan merupakan apresiasi kepada semua pegawai LAPAN untuk membangun kepercayaan diri dan semangat kerja, tanpa melupakan hal-hal yang harus terus di dibenahi.

 

Capaian Pembenahan Tata Kelola

  • Kepala LAPAN menjadi First Vice Chairman UNCOPUOS Parent Meeting 2018-2019.
  • Webometrik lembaga riset pada Juli 2018: LAPAN mendapat peringat 4 nasional, 30 ASEAN, 336 Asia, 2336 Dunia.

 

  • LAPAN mendapat nilai evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) 73,36 (BB), naik dari nilai tahun sebelumnya 72,01
  • Indeks Reformasi Birokrasi (RB) LAPAN: 75,92 (naik dari tahun sebelumnya 72,66), sehingga LAPAN diusulkan mendapatkan kenaikan Tunjangan Kinerja
  • Opini BPK untuk LAPAN: Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 3 tahun berturut-turut (2015, 2016, 2017).
  • LAPAN mendapatkan Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik sebagai Badan Publik Informatif dengan nilai 92,49 untuk kategori Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian. Sementara predikat yang sama diraih oleh dua instansi lainnya, yaitu BATAN (93,80) dan BI (92,54).

  • LAPAN mendapatkan 2 Penghargaan TOP IT utk kategori  TOP IT on “Satu Data LAPAN” Services 2018 dan TOP Digital Transformations Readiness 2018.

  • Tiga Pusat (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Pusat Sains Antariksa, dan Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh) meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dari MenpanRB.

 

Capaian Pembenahan Kompetensi dan Layanan

  • Dari hasil analisis Webometric, LAPAN masuk dalam peringkat 7 lembaga riset nasional dengan sitasi Google Scholar tertinggi: 1. LIPI, 2. BPPT, 3. Ejkman, 4. Balitbang Pertanian, 5. Balitbang Kehutanan, 6. SMERU, 7. LAPAN.
  • Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) mendapatkan ISO 9001:2015 untuk layanan SWIFtS.
  • Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) mendapatkan ISO 9001:2015 untuk Pengelolaan Stasiun Bumi dan Operasi Missi Satelit.
  • Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) mendapat Anugerah Prayoga Sala pada Hari Kebangkitan Teknologi 2018 atas prestasi membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi.

  • Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) dan Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh (Pustekdata) memperoleh penghargaan Adhyasta Bhumi Award dari Masyarakat Penginderaan Jauh (MAPIN) sebagai lembaga yang telah mampu memenuhi kebutuhan pengguna nasional penyediaan data penginderaan jauh untuk pembangunan nasional dan pengembangan riset dan iptek nasional
  • Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) berhasil mengadakan AeroSummit bersama mitra industri penerbangan sebagai cikal bakal sinergi ekosistem lembaga litbang aeronotika dengan industri teknologi penerbangan.
  • Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) mendapatkan sertifikat Akreditasi Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP).
  • Dari 7 Pusat teknis LAPAN, 5 telah ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) (1. Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, 2. Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh, 3. Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, 4. Pusat Teknologi Satelit, 5. Pusat Teknologi Penerbangan) dan 2 dibina jadi PUI (6. Pusat Teknologi Roket dan 7. Pusat Sains Antariksa).

  • Tiga kedeputian LAPAN: Kedeputian Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer, Kedeputian Bidang Penginderaan Jauh, dan Kedeputian Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa mendapatkan penghargaan sebagai Lembaga Induk yang berkomitmen dalam mendukung pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI).
  • Pesawat terbang tanpa awak LSU03-M3 (kerjasama LAPAN – PT M3) mendapat sertifikat full system dari IMMA.
  • Pusat Teknologi Penerbangan mendapatkan ISO 9001:2015 tentang “Sistem Manajemen Mutu Pelayanan Foto Udara” untuk pemotretan dengan pesawat tanpa awak LSU (LAPAN Survaillance UAV).
  • Uji terbang pesawat N219 prototipe 2 (PD2) hasil kerja sama LAPAN-PTDI berhasil dilakukan pada 21 Desember 2018. Dengan 2 pesawat prototipe yang diuji terbang, diharapkan sertifikat tipe dapat diperoleh secepatnya untuk selanjutnya memasuki proses produksi.

 

 

Labaik Allahumma Labaik: Dokumentasi Umroh Sekeluarga 1439/2018

T. Djamaluddin

Labaik Allahumma labaik, ya Allah kami penuhi panggilan-Mu. Setelah berhaji pada 1434/2013, alhamdulillah pada 5 -13 Februari 2018 kami sekeluarga mendapat panggilan Allah untuk berumroh sekeluarga, setelah sekian lama menunggu. Selain menunggu terkumpulnya dana, juga harus menunggu cocoknya waktu antara jadwal kantor, jadwal kuliah anak-anak, dan jadwal travel yang tersedia.

Berikut foto-foto dan video dokumentasinya:

Bersiap berangkat dari Bandung, bersama Safari Suci

Di terminal 3 bandara Soekarno Hatta, bismillah siap berangkat

Bersiap untuk thawaf dan sai rukun umroh

Di Gunung Uhud

Masjid Nabawi

Refleksi Capaian LAPAN 2016-2017

LAPAN terus berupaya meningkatkan kinerjanya dalam mewujudkan visi sebagai sebagai “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri”. Kami membenahi tatakelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama ( 1-Bank Data Penginderaan Jauh Nasional, 2-Sistem Pemantau Bumi Nasional, 3-Teknologi Satelit, 4-Teknologi Aeronotika, 5-teknologi Roket, 6-Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan 7-Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa). Refleksi capaian LAPAN sebelumnya (2015) bisa di baca di sini. Refleksi capaian 2016 – 2017 merupakan apresiasi kepada semua pegawai LAPAN untuk membangun kepercayaan diri dan semangat kerja, tanpa melupakan hal-hal yang masih harus dibenahi.

 

Capaian Pembenahan Tata Kelola

1. Layanan yang paling dirasakan secara langsung oleh publik adalah situs LAPAN www.lapan.go.id. Webometrik menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembenahan layanan situs web tersebut. Peringkat situs lembaga riset secara nasional, naik dari peringkat 5 (2016) menjadi peringkat 4 (2017).

2. Indeks Reformasi Birokrasi naik dari  68,43 yang diterima pada 2016 menjadi 72,66 (“BB”) yang diterima pada 2017 . Demikian juga penilaian  Akuntabilitas Instansi Pemerintah (AKIP) naik dari “B” (2016) menjadi “BB” (2017).

3. Menjadi Juara I Kearsipan (2017) untuk kategori Lembaga Negara dan LPNK, naik dari peringkat 5 dari tahun 2016

4. Untuk meningkatkan layanan, maka LAPAN mengupayakan untuk memenuhi standar yang berlaku secara internasional. Untuk itu diupayakan standar ISO untuk fasilitas dan layanan LAPAN.

a. Pada September 2016 diperoleh ISO 9001:2015 untuk layanan informasi dan dokumentasi publik.

b. Pada Oktober 2016 diperoleh ISO/IEC 20000-1:2011 untuk Sistem Manajemen Layanan IT dan ISO/IEC 27001:2013 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi terkait layanan email, pusat data, dan LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik).

c. Pada 2017 LAPAN memperoleh ISO/IEC 17025 bagi Laboratorium Kimia Atmosfer pada Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer sebagai laboratorium uji kualitas udara.

d. Pada Desember 2017 LAPAN memperoleh ISO/IEC 27001 untuk Sistem Manajemen untuk perlindungan Data Penginderaan Jauh.

5. Akuntabilitas pengelolaan anggaran menjadi hal yang sangat penting untuk terus ditingkatkan. Selama 2016 dan 2017 LAPAN mendapatkan penghargaan dari Menteri Keuangan atas Capaian Standar Tertinggi dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah (terkait dengan opini WTP dari BPK).

6. Keterbukaan Informasi Publik merupakan bagian dari reformasi birokrasi yang dilaksanakan LAPAN. Pada 2016 LAPAN mendapat penghargaan peringkat 8 Keterbukaan Informasi Publik untuk kategori Lembaga Negara/LPNK dan pada 2017 naik menjadi peringkat 2. Penghargaan peringkat 2 diberikan oleh Wapres pada Desember 2017.

7. Pengelolaan e-Government LAPAN mendapatkan penghargaan “TOP IT Implementation on Information Security of e-Government 2017” dari Majalah iTech.

8. Untuk pengelolaan Barang Milik Negara (BMN), tahun 2017 LAPAN mendapatkan 3 penghargaan sekaligus untuk kategori Sertipikasi BMN, Kepatuhan Pelaporan BMN, dan Juara umum pengelolaan BMN.

9. Upaya mewujudkan visi menjadi Pusat Unggulan juga diupayakan melalui tahapan pembinaan Pusat Unggulan Iptek (PUI) Kemristekdikti. Pada 2016 ada 3 Pusat di LAPAN (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, dan Pusat Teknologi Satelit) yang ditetapkan untuk dibina menjadi PUI. Pada 2017 meningkat jumlah dan kualifikasinya: 3 Pusat menjadi PUI (Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, dan Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh) serta 2 Pusat dibina menjadi PUI (Pusat Teknologi Satelit dan Pusat Teknologi Penerbangan).

Capaian Peningkatan Kompetensi dan Layanan

 

1. Sukses sebagai Koordinator Panitia Nasional Gerhana Matahari Total, 9 Maret 2016.

2. Informasi Hotspot (titik panas, indikatot kebakaran hutan) LAPAN dari berbagai satelit dinyatakan sebagai rujukan nasional bagi informasi potensi kebakaran hutan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Surat Edaran nomor S.218/MENLHK/PPI/PPI.4/4/2016 tanggal 20 April 2016 tentang Sinergitas Data Hotspot.

3. Peluncuran satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB berhasil dilakukan pada 22 Juni 2016. Seremonial peluncuran dihadiri Wakil Presiden RI.

4. LSU (LAPAN Survaillance UAV) mulai digunakan BIG (Badan Informasi Geospasial) untuk pemotretan garis pantai pada Mei 2016.

6. SWIFtS (Space Weather Information and Forcast Service) LAPAN diakui sebagai Regional Warning Center oleh Space Environment Service (ISES) pada Juli 2016. Layanan informasi harian ada di situs LAPAN.

7. LAPAN memperoleh anugerah Bhumandala Award peringkat 5 Kategori Kementerian/Lembaga atas prestasi pengembangan simpul jaringan informasi geospasial yang mendukung pembangunan nasional.

https://i1.wp.com/www.inderaja.lapan.go.id/upload/Bhumandala_BIGa1.jpg

8. Pesawat tanpa awak LSU-03 NG_M3 (hilirasi produk litbang LAPAN ke UKM M3) mendapat sertifikasi IMMA (Indonesian Military Airworthiness Authority) pada November 2016.

9. Uji terbang roket RX 450, roket terbesar yang pernah dibuat LAPAN, telah dilaksanakan pada Desember 2016 dan Desember 2017 dengan kinerja yang terus disempurnakan.

Related image

10. Pesawat N-219 hasil kerjasama LAPAN-PTDI berhasil terbang perdana pada 16 Agustus 2017 dan diberi nama “Nurtanio” oleh Presiden RI pada uji terbang Bandung-Jakarta pada 10 November 2017 di Lanud Halim Perdana Kusumah.

 

 

Satu Jam Bersama Kepala LAPAN: LAPAN Harus Beri Manfaat Nyata Secara Nasional

Majalah “Antasena” edisi Juli-Desember 2016 memuat wawancara Profil “Satu Jam Bersama Kepala LAPAN”. Ini isi wawancaranya: