Cahaya

T. Djamaluddin, LAPAN

(Dimuat di Republika — Hikmah, 4 Februari 2000)

Dalam arti fisis maupun kiasan, cahaya memegang peran penting bagi manusia. Dalam arti fisis, cahaya adalah bagian dari gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio, infra merah, ultra violet, sinar-X, dan sinar gamma. Dalam makna kiasan, cahaya adalah petunjuk Allah.

Cahaya fisis di alam adalah bahasa universal yang dengan itu manusia bisa membaca ayat-ayat kauniyah. Dengan itu pula hakikat makluk Allah dapat kita kenal. Benda-benda langit bercerita hakikat dirinya dengan bahasa cahaya tersebut. Tentu ada juru bahasanya, astrofisika.

Matahari bercerita bahwa dirinya bersuhu permukaan sekitar 6000 derajat dari warna kuningnya. Bintang berwarna merah mengindikasikan bersuhu lebih rendah dan yang berwarna biru bersuhu lebih tinggi.

Galaksi berkisah bahwa dirinya sedang berlari menjauh dengan pergeseran spektrum cahayanya ke arah merah. Demikian juga pergeseran spektrum pada bintang-bintang menceritakan tentang rotasinya.

Ternyata 90% atau lebih materi di alam semesta tak memancarkan cahaya atau gelombang elektromagnetik lainnya. Itulah yang dinamakan materi gelap, antara lain Black Hole, objek “bintang gagal” (kerdil coklat), atau partikel-partikel subelementer. Hakikat materi gelap itu hanya diketahui dari isyarat-isyarat tak langsung.

Dalam bahasa tauhid, bercahaya atau tidaknya benda-benda langit bukan sekadar persoalan fisis, tetapi ada peran Allah. Allah adalah pemberi cahaya bagi langit dan bumi (QS 24:35). Cahaya-Nya berlapis-lapis, cahaya di atas cahaya.

Pada sisi lain Allah memberikan perumpamaan tentang kegelapan yang amat sangat hingga tak ada cahaya sedikit pun yang terpancar atau terpantul. Tanpa cahaya itu, tak satu benda pun akan tampak, termasuk tangan sendiri (QS 24:40).

Ungkapan Allah tentang cahaya alam semesta itu selalu dikaitkan dengan dimensi kemanusiaan. Dalam dimensi kemanusiaan, “cahaya” bisa bermakna sebagai “cahaya agama” atau hidayah. Dalam hal ini pun ada peran Allah. “Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya” (QS 24:35). “Siapa yang tak diberi cahaya oleh Allah tiada baginya cahaya” (QS 24:40).

Namun, manusia dengan kalbunya bukanlah makhluk pasif yang sekadar menanti pemberian cahaya Allah. Ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbunya untuk menangkap cahaya Allah. Banyak sumber cahaya Allah. Hanya kalbu yang peka yang mampu menangkap sebanyak mungkin cahaya itu.

Sumber utama adalah Alquran yang merupakan cahaya yang diturunkan Allah (QS 64:8) yang dengan itu dibimbing-Nya hamba-hamba yang dikehendaki-Nya (QS 42:52). Alquran itu pula yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan aqidah kepada cahaya (QS 57:9).

Dengan cahaya itu bukan hanya terbimbing kehidupan kita di dunia, tetapi cahaya itu juga akan terbawa sampai akhirat. Allah mengungkapkan bahwa orang beriman kelak pada hari perhitungan akan diliputi dengan cahaya di sekelilingnya (QS 57:12).

Seperti halnya benda langit, tidak banyak manusia yang mendapat cahaya Allah. Maka beruntunglah orang yang mendapat cahaya Allah dengan kalbunya yang peka.

Bintang Kejora

T. Djamaluddin (LAPAN)

(Dimuat di Republika – Hikmah), 20 Juli 1999)


Saat maghrib tiba tengoklah langit barat. Walaupun langit belum terlalu gelap, mungkin kita bisa melihat sebuah bintang cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Awan kadang tak mampu membendung sinarnya. Itulah bintang kejora. Bila muncul saat shubuh di langit timur bintang cemerlang itu disebut bintang timur. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus.

Mengamati langit dengan fenomena bintang kejora di langit Barat dan bulan di langit Timur terasa nuasa semasa Nabi Ibrahim merenungi alam, mencari representasi Tuhan yang hakiki (Q. S. 6:76-79). Saat malam mulai gelap tampaklah sebuah bintang.  “Inikah Tuhanku?” kata Ibrahim. Tetapi bintang kejora tak lama tampak.

Selepas isya bintang kejora pun terbenam. Nabi Ibrahim pun berkata, “Aku tak menyukai yang tenggelam.” Beberapa saat kemudian terbitlah bulan yang cemerlang pasca purnama. “Inikah Tuhanku?” katanya. Namun saat pagi bulan pun memudar kemegahannya. Ibrahim pun berujar pada dirinya, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk kaum yang sesat.”  Saat pagi dilihatnya matahari yang paling cemerlang yang mengalahkan segala sumber cahaya. “Inikah Tuhanku? Ini paling besar”, ujar Ibrahim dalam pencarian kebenaran. Tetapi saat maghrib matahari pun menghilang. Tidak mungkin Tuhan yang Mahakuasa bisa lenyap. Maka diserulah kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kamu persekutukan (dengan Tuhan).” Kesimpulan pembuktian aqliyah tersebut tentang eksistensi Allah diabadikan di dalam QS. 6:79 yang selalu kita baca dalam doa iftitah pada awal shalat: “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan pencipta langit dan bumi, berpendirian lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Kisah itu memberi pelajaran penting. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan raja, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya. Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intrinsik pada objek itu. Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi.

Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. Lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi. Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang.

Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan fenomena bintang kejora adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Sains

T. Djamaluddin

(Dimuat  di Republika (Hikmah), 7 Maret 1999)

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan

Menciptakan manusia dari segumpal darah

Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah

Yang mengajarkan dengan pena

Mengajar manusia hal-hal yang belum diketahuinya

Q. S. Al-Alaq:1-5)

Dalam makna yang umum, lima ayat yang turun pertama kali ini tentunya bukan hanya perintah kepada Rasulullah s. a. w. untuk membaca ayat-ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya makna untuk membaca ayat-ayat kauniyah yang terdapat di alam. Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk itu.

Manusia yang diciptakan dari substansi serupa gumpalan darah telah dianugerahi Allah dengan kemampuan analisis untuk mengurai rahasia-rahasia di balik semua fenomena alami. Kompilasi pengetahuan manusia kemudian didokumentasikan dan disebarkan dalam bentuk tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini melahirkan sains dalam upaya menafsirkannya. Ada astronomi, matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.

Dari segi esensinya, semua sains sudah Islami, sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan adalah hukum-hukum alam yang tunduk pada sunnatullah. Pembuktian teori-teori yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains kesalahan adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusiawi, tetapi kebohongan adalah bencana.

Hukum konservasi massa dan energi yang secara keliru sering disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi sering dikira bertentangan dengan prinsip tauhid. Padahal itu hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?

Demikian juga tetap Islami sains yang menghasilkan teknologi kloning, rekayasa biologi yang memungkinkan binatang atau manusia memperoleh keturunan yang benar-benar identik dengan sumber gennya. Teori evolusi dalam konteks tinjauan aslinya dalam sains, juga Islami bila didukung bukti saintifik. Semua prosesnya mengikuti sunnatullah, yang tanpa kekuasaan Allah semuanya tak mungkin terwujud.

Jadi, Islamisasi sains sungguh tidak tepat. Menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan, yang sering dianggap salah satu bentuk Islamisasi sains, juga bukan pada tempatnya. Dalam sains, rujukan yang digunakan semestinya dapat diterima semua orang, tanpa memandang sistem nilai yang dianutnya. Tegasnya, tidak ada sains Islam dan sains non-Islam.

Hal yang pasti ada hanyalah saintis Islam dan saintis non-Islam. Dalam hal ini sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak akan tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam pemaparan yang bersifat populer atau semi-ilmiah.

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Maka, riset saintis Islam berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pokok pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkapkan satu mata rantai rahasia alam semestinya disyukurinya dengan ungkapan “Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa, Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia” (Q. S. 3:191), bukan ungkapan bangga diri.

Fenomena Matahari

T. Djamaluddin (LAPAN)

Dimuat di Republika (Hikmah), 23 Jan 1999

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari
Demi bulan ketika mengiringinya
Demi siang ketika menampakkannya
Demi malam ketika menutupinya
Demi langit dan (Allah) yang membangunnya
Demi bumi dan (Allah) yang menghamparkannya
Demi jiwa dan (Allah) yang menyempurnaannya
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa kefasikan dan ketakwaan
Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa
dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya
(QS Asy Syams:1-10)

Bila kita baca dan renungkan ayat-ayat pendek surat Asy-Syams tersebut, terasa ada nuansa ‘psiko-astronomis’ (kalau boleh saya sebut demikian) yang sangat kuat. Allah bersumpah untuk menjadi perhatian hamba-hamba-Nya dengan menyebut fenomena-fenomena astronomis yang diakhiri dengan fenomena kejiwaan.

Banyak makna bisa diungkap dari fenomena astronomis itu yang mungkin jarang kita renungkan untuk menyucikan jiwa kita. Misalnya, matahari sesaat setelah terbit yang disebut di awal surat. Matahari di kaki langit tampak lebih besar daripada ketika berada di atas kepala. Padahal, ukuran piringan matahari itu tidak berubah, selain efek refraksi atmosfer yang menyebabkannya tampak sedikit lonjong. Besarnya sekitar setengah derajat atau kira-kira setengah lebar ujung telunjuk bila direntangkan ke depan sepanjang lengan.

Pola pikir manusia yang bersifat nisbi menyebabkan kesan besarnya matahari di kaki langit. Ketika itu matahari tampak besar karena dibandingkan dengan latar depan pepohonan, bangunan, atau benda lainnya yang tampak kecil di kejauhan. Demikianlah, jiwa manusia cenderung merasa diri besar, kuat, kaya, pandai, atau terhormat karena membandingkannya dengan yang kecil, lemah, miskin, bodoh, atau jelata.

Matahari ketika tengah hari tampak kecil karena dibandingkan dengan langit yang luas. Demikian pula pola pikir yang nisbi akan membawa kita sampai pada kesimpulan diri kita kecil, lemah, miskin, bodoh, atau terhina bila kita menyadari ada yang lebih besar, lebih kuat, lebih kaya, lebih pandai, dan lebih terpuji. Itulah ‘psiko-astronomis’ fenomena matahari. Memang, fenomena alam dengan proses spesifik yang disebut di dalam Surat Asy Syams kaya akan pelajaran untuk direnungkan.

Matahari sebagai objek sentral pada empat ayat pertama tampaknya dijadikan perlambang untuk perenungan. Matahari memberikan sinar pada bulan yang mengiringinya sehingga manusia bisa menentukan penanggalan qamariyah. Matahari memberikan cahaya terang dan kehangatan pada siang hari sehingga manusia bisa beraktivitas. Matahari bersembunyi di balik horizon pada malam hari agar manusia bisa beristirahat.

Perenungan fenomena alam semestinya membimbing kearah penyucian jiwa, menyadari kenisbian manusia. Sifat dan sikap takabur merupakan pengotor jiwa yang bisa muncul dalam bentuk sikap otoriter, diskriminatif, dan menindas. Imam Ghozali pernah berpesan, jadilah Muslim seperti matahari. Ia bersinar karena kualitas pribadinya. Dan ia mampu menerangi dan menghangatkan sekitarnya. Mampu memberi manfaat bagi masyarakatnya.