Bintang

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Katakanlah: “YaAllah, Tuhan yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.” (QS 3: 26-27)

Bintang adalah penghias malam yang cerah. Terbit di ufuk timur saat gelap tiba dan terbenam di ufuk barat saat fajar menjelang matahari terbit. Bintang bersinar karena sumber energinya sendiri, bukan pantulan dari objek lain. Reaksi fusi nuklir di intinya menjadi sumber energi yang melimpah dan mampu menjadikannya bersinar bermilyar tahun. Bintang yang cemerlang sangat menarik perhatian banyak orang, kadang dipertuhankan, seperti bintang Sirius.

Namun kebanyakan bintang kecemerlangnya dianggap biasa-biasa saja. Ketika sendiri seolah tidak punya makna. Tetapi ketika dipandang sebagai suatu kesatuan konstelasi (rasi), maka bintang-bintang itu bisa menjadi petunjuk penentuan musim dan petunjuk arah. Rasi Orion yang mulai meninggi di ufuk Timur saat shubuh menjadi pertanda mulai masuknya musim hujan di wilayah Indonesia, sehingga petani dahulu mulai menyiapkan lahan untuk menanam. Rasi Salib Selatan bisa menjadi petunjuk arah Selatan. Rasi Ursa Mayor (Beruang Besar) bisa menjadi petunjuk arah Utara.

Bintang tidak selamanya di atas. Ada saatnya muncul, mencapai puncak, dan kemudian secara pasti juga ada saatnya tenggelam. Bintang juga tidak selamanya cemerlang. Awan gelap sering menutupi kemerlangannya, kemudian kadang dianggap tidak ada lagi karena terhalang mendung yang pekat. Awan tak bisa dihindarkan, tergantung gerak angin yang membawanya. Namun, saat ini polusi udara dan polusi cahaya juga mengganggu kecemerlangannya. Polusi bisa melenyapkan cahayanya.

Ayat-ayat kauniyah di alam raya itu punya banyak makna yang bisa kita ambil hikmahnya untuk direnungkan. Simbol bintang sering digunakan untuk penghargaan atas prestasi seseorang. Prestasi kepemimpinan juga sering dilambangkan dengan bintang. Semakin banyak bintangnya, menandakan semakin tinggi perhargaan dan kepemimpinannya yang ada pada dirinya. Sama halnya dengan bintang di langit, manusia pun bisa bersinar karena prestasi dan kualitas pribadinya. Muncul menjadi tokoh atau pemimpin. Hanya tokoh atau pemimpin yang dianggap paling penting yang mudah dikenali dan kadang dipuja-puja. Sedangkan kebanyakan tokoh atau pemimpin lain lebih dikenali dalam suatu konstelasi organisasi atau lembaga, yang memberi makna kemanfaatan kolektif, bukan individu semata.

Sama halnya dengan bintang. Tokoh atau pemimpin ada masa lahir, mencapai puncak prestasi, lalu mundur atau wafat. Ada kalanya kemerlangannya meredup dan dilupakan orang karena tertutup “awan gelap” kondisi politik masa itu. Ada kalanya “polusi” berupa godaan duniawi mengganggunya hingga menjadikan sinarnya menghilang begitu saja. Begitulah dinamika manusia. Pada QS 3:26-27 tersebut di atas Allah mengingatkan tentang dinamika kehidupan manusia, sama halnya dinamika di alam. Kita berharap pertunjuk dan bimbingann-Nya agar kita tetap pada jalan-Nya, apa pun yang terjadi. Tetap istiqamah memegang prinsip ajaran-Nya, kalau pun dalam perjalanan hidup kita ”awan gelap” atau ”polusi” menghadang dan kita dilupakan orang atau kelak meninggalkan dunia fana ini, semoga kita mencapai khusnul khatimah (akhir yang baik) menurut penilaian Allah dan penilaian manusia.

Bencana

T. Djamaluddin

(Dimuat di Republika, Hikmah,  25 Mei 2000)

Sebagian orang mungkin mempercayai ramalan bencana 5 Mei 2000 lalu. Superkonjungsi, berkelompoknya matahari, bulan, dan lima planet terang lainnya dalam area sempit di langit, diramalkan menyebabkan bencana alam yang hebat, gempa bumi dan banjir besar.

Istilah superkonjungsi dan ramalan seperti itu sepenuhnya berlandaskan nalar astrologi. Superkonjungsi tidak dikenal dalam terminologi astronomi. Astronomi mengenal konjungsi dalam makna dua benda langit tampak segaris bujur. Tidak mungkin terjadi konjungsi yang melibatkan banyak planet atau superkonjungsi.

Astrologi memang mengunakan posisi benda-benda langit untuk meramal nasib manusia, baik dalam konteks pribadi maupun konteks sosial. Ramalan bencana alam atau bencana sosial karena kekhasan posisi planet-planet merupakan salah satu ramalan astrologi.

Namun ada konsekuensi aqidah berkaitan dengan kepercayaan pada ramalan astrologi. Rasulullah menyampaikan peringatan Allah dalam hadits qudsi: “Siapa yang berkata hujan karena bintang ini dan itu maka telah kafir kepada-Ku dan percaya kepada bintang” (HR Bukhari-Muslim).

Allah menegaskan dalam Alquran, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mengadakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS 57:22). Bencana bukan karena posisi suatu planet atau bintang, tetapi karena sunnatulah, ketentuan Allah.

Sunnatullah yang bukan mu’jizat dapat difahami secara logis, dianalisis secara saintifik, sehingga dapat dirumuskan sebab akibatnya. Apa yang tertulis di lauhul mahfudz tentunya bukan daftar bencana yang bakal terjadi di bumi dan diri manusia. Kalau yang dimaksud daftar bencana, upaya manusia akan sia-sia belaka: tak perlu berhati-hati di jalan raya dan tak perlu melakukan konservasi alam. Tentu bukan itu maksudnya. Tetapi yang tertulis, ketentuan-ketentuan-Nya dalam formulasi sunnatullah.

Sains berupaya mengungkap sunnatullah tersebut, sehingga mitigasi bencana dapat dilakukan. Benda-benda langit mungkin menimbulkan bencana, tetapi bukan seperti argumentasi astrologi. Sains mengkaji gaya pasang surutnya, radiasinya, pancaran partikelnya, atau kemungkinan gangguan orbitnya yang bisa mengancam bumi.

Banjir diteliti apa sebabnya dan bagaimana seharusnya diatasi. Kekeringan, tanah longsor, kelaparan, wabah penyakit, sampai gempa bumi dan gunung meletus memungkinkan untuk dikaji sebab dan akibatnya. Kalau pun tidak dapat dicegah bencananya, setidaknya diminimalisasi dampaknya. Hasil kajian ilmiah tentang kemungkinan bencana bukan ramalan, tetapi prakiraan yang didasari alasan-alasan logis.

Alam hanya mengikuti hukum yang telah ditentukan Allah (QS 22:18). Ulah manusia yang mengganggu keseimbangan alam bisa menyebabkan bencana (QS 30:41). Pemanasan kota (’heat island’, terjadi juga di Jakarta) dan pemanasan global tidak lepas dari kontribusi gas buang kendaraan bermotor. Banjir, kekeringan, dan tanah longsor bukan semata-mata berkait dengan curah hujan, tetapi juga karena tidak terkontrolnya resapan air.  Penyakit mewabah bisa karena sampah, kebocoran limbah cair, atau polusi udara.

Egoisme manusia yang mementingkan kenyamanan diri kadang melupakan kondisi lingkungan. Pernahkah kita berfikir, jangan-jangan diri kita telah menjadi bagian egoisme manusia yang dampak bencananya jauh lebih besar daripada ramalan bencana superkonjungsi? Bencana antropogenik (dari manusia) bisa lebih hebat daripada bencana kosmogenik (dari alam semesta).

PELANGI

T Djamaluddin

(Dimuat di Republika, Hikmah, 21 Januari 2003)

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa (QS 49:13).

Kombinasi proses pembiasan dan pemantulan cahaya matahari oleh butir-butir air hujan menghasilkan pelangi yang indah melengkung di langit. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu adalah warna lengkapnya yang mengungkapkan hakikat warna cahaya matahari. Keragaman warnanya hanya ditampakkan untuk menunjukkan keindahan.  Hijaunya daun, merahnya mawar, kuningnya emas, putihnya melati, serta birunya langit dan laut tampak karena sifat pantulan, serapan, atau hamburan warna cahaya matahari oleh masing-masing zat tersebut.

Dari segi spektrum energinya, komponen cahaya matahari yang paling kuat adalah cahaya kuning. Tetapi hal itu tidak menjadikan seluruh alam jadi tampak kuning. Masing-masing komponen warna punya perannya masing-masing untuk menunjukkan keindahan alam raya. Ketika bersatu dalam satu berkas cahaya, kita tidak mengenali bahwa cahaya matahari sesungguhnya terdiri dari banyak komponen. Semuanya tampak menyatu. Pelangi menunjukkan keberagaman komponen cahaya matahari dalam keharmonisan dan keindahan.

Pelangi dan cahaya matahari adalah suatu pelajaran tentang persatuan yang hakiki. Karakteristik masing-masing komponen tidak harus ditonjolkan, dihilangkan, atau diseragamkan, karena keanekaragaman adalah suatu kekayaan.  Masing-masing komponen punya peran dan keunggulan tersendiri. Kekuatan mayoritas pun tidak boleh memaksakan atau mendominasi.

Allah menciptakan manusia berkelompok-kelompok (QS 49:13). Dengan kekhasannya masing-masing, anggota kelompok bisa saling mengenal lebih dekat karena kemiripan tradisi, visi, dan misi mereka. Masing-masing kelompok punya karakteristik yang tidak harus dibaurkan atau diseragamkan demi persatuan. Berbangsa-bangsa dan berkelompok-berkelompok itu agar saling mengenal dalam kelompok kecil tersebut, demikian firman-Nya. Bukan untuk berpecah dengan kelompok lain. Bukan untuk membanggakan kelompoknya atau merendahkan lainnya.

Bersuku-suku, berpartai-partai, atau berkelompok-kelompok adalah sunatullah. Biarlah ada suku A, B, atau C. Biarlah ada partai K, L, atau M. Biarlah ada ormas X, Y, atau Z. Keanekaragamannya seindah pelangi. Tetapi ketika dipersatukan dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah,  semua menyatu seperti seberkas cahaya matahari yang cemerlang.

Tidak ada suku, partai, atau kelompok yang merasa paling unggul, paling kokoh, paling banyak pendukungnya, paling reformis, atau paling baik dengan merendahkan lainnya. Kelompok yang direndahkan bisa jadi lebih baik (QS 49:11). Sesungguhnya keunggulan hakiki hanyalah Allah yang paling tahu dari kadar ketaqwaannya (QS 49:13).

Persatuan adalah perwujudan keharmonisan masing-masing komponen yang menerima perbedaan sebagai suatu kekayaan yang memperindah kehidupan. Menyeragamkan sering menghasilkan persatuan yang semu. Ibarat pelangi, perbedaan warna muncul hanya untuk menunjukkan keindahan, bukan untuk bercerai berai.

Janji Hakiki

T. Djamaluddin

(Dimuat di Republika,  Hikmah, 23 Maret 2000)

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka  menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Setelah Allah menciptakan alam semesta dan manusia, kemudian Allah ‘melantiknya’ dengan mengambil janji. Langkah ini pula yang kita tiru ketika kita menetapkan seseorang menjadi pejabat pemegang amanat. Maksudnya, tentu agar setiap langkah dan tindakannya tidak lepas dari janji yang pernah diucapkannya.

Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).

Bukti ketaatan langit dan bumi mudah dilihat dari gerakan mengitari pusat massanya. Gunung-gunung mengitari pusat bumi. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan ratusan milyar bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya.

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi tercipta.

Namun manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya (QS 17:70). Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-31), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4). Namun keistimewaan itu bersyarat, bila  sejumlah keterbatasannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi.

Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir (QS 70:19). Manusia juga lemah (QS 4:28) dan bersifat tergesa-gesa (QS 17:11). Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat.

Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih (QS 95:5). Memelihara amanat dan janji adalah salah satu kunci mengatasi kelemahan manusia (QS 70:32) dan menjadi ciri keimanan (QS 23:8).

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Setidaknya kita semua diingatkan dengan bacaan Al-Fatihah setiap rakaat shalat akan janji hakiki pengakuan keberadaan Allah. Memegang janji yang hakiki itu menjadi dasar untuk menjaga janji dan amanat yang lebih luas.

Tertutupnya Kalbu

T. Djamaluddin

(Dimuat di  Republika, Hikmah, 15 Feb 2000)

Upaya mendapatkan cahaya (petunjuk) Allah memang ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan sistem teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbu (qalbu) yang sangat peka.

Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya.

Bayangkan astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD.

Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya “ghost image”, gambar aneh yang merusakkan kecemerlangan cahaya bintang.

Ternyata detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk.

Kalbu pun demikian, bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan yang buruk. Rasulullah SAW telah berpesan, “Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menentramkan jiwa dan kalbu sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya” (HR Ahmad & Addarimi).

Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63:3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (5:41). Bahkan kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25).

Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179).

Walau pun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbu lah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46).

Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu. Pembenaran atas segala tindakan dosa selalu dilakukannya, termasuk bila memungkinkan menggunakan ayat-ayat yang tak tegas maknanya (mutasyabihat) (QS 3:7).

Hanya dengan iman dan dzikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tentram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2).

Langit

T. Djamaluddin

(Dimuat di Hikmah Republika, 13 September 1999)

Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan masyarakat kota: keindahan langit. Gemerlap lampu kota telah merampas hak kerlip bintang-bintang di langit untuk menembus setiap kalbu. Sementara gedung-gedung tinggi menghalangi indahnya matahari terbit dan terbenam yang penuh makna. Mungkin hal itu salah satu sebab kurang pekanya kalbu kita membaca ayat-ayat-Nya di alam.

Padahal Allah mengingatkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi….(Q. S. 3:190-191).

Menurut riwayat, setelah ayat itu turun Rasulullah SAW menangis. Bilal yang menemuinya pada waktu shubuh bertanya mengapa Rasulullah sampai menangis. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa malam itu turun ayat yang amat berat maknanya. Padahal sedikit umatnya yang merenungkannya.

Mungkin banyak di antara kita terbiasa membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil, tetapi sebatas formalitas dzikir sesudah shalat. Sehingga fenomena yang biasa kita lihat adalah mengejar kuantitas jumlah bacaan, kadang dengan ucapan yang kurang sempurna.

Dzikir sebenarnya tidak hanya diucapkan sesudah shalat, tetapi berlaku sepanjang kehidupan. Sayangnya suasana lingkungan dan kesibukan kota kadang melalaikan. Bila setiap hari hanya kemacetan dan gedung-gedung tinggi yang mewarnai suasana hati, mungkin dzikir terlupakan. Berganti dengan keresahan dan kejenuhan.

Beruntunglah bila masih sempat menikmati langit malam menjelang tidur atau menjelang shubuh. Matikan lampu luar beberapa saat. Pandangi langit bertabur bintang. Bila beruntung berada di lokasi yang tidak terlalu parah terkena polusi cahaya, “sungai perak” galaksi Bimasakti yang memiliki ratusan milyar bintang akan terlihat membujur di langit. Sesekali mungkin terlihat meteor seperti bintang jatuh.

Dalam keheningan malam, ingatlah Allah. Renungkan ayat-ayat-Nya yang terlukis indah di langit. Ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil saat itu akan lebih mendalam merasuk kalbu daripada sekadar ucapan yang berpacu dengan hitungan biji tasbih atau buku-buku jari.

Di tengah keluasan langit, kita sadari bumi kita hanyalah planet mungil di keluarga matahari. Sedangkan matahari sendiri hanya sekadar bintang kecil di galaksi Bimasakti. Masih banyak bintang raksasa yang diameternya ratusan kali diameter matahari.

Galaksi dihuni oleh milyar bintang serta gas dan debu bahan pembentuk bintang-bintang baru. Padahal jumlah galaksi yang ada di alam semesta ini tak terhitung banyaknya.

Rabbana maa khalaqta haadza baathilaa, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannar, “Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau! (Hanya Engkau yang Mahasempurna, kami manusia dhaif penuh kesalahan). Karenanya (ampunilah kami), jauhkan kami dari siksa neraka” (Q.S. 3:191).

Semakin dalam bertafakur, semakin sadar akan kelemahan dan kekecilan diri manusia. Dari segi substansi materinya, jasad manusia tidak ada bedanya dengan debu-debu antarbintang, sama-sama terbentuk di inti bintang. Namun nafsu manusia kadang menghanyutkan pada ketakaburan, merasa diri besar. Setiap yang besar, pasti ada yang lebih besar. Hanya Dia yang Mahabesar. Patutkah kita masih menyombongkan diri?

Komet SL-9

T. Djamaluddin

(Dimuat di Hikmah, Republika 22 November 2000)

Dan janganlah kamu mengikuti hal-hal yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS 17:36).

Peristiwa pecahnya komet Shoemaker-Levy 9 (SL-9) pada 1994 setelah masuk dalam wilayah orbit planet raksasa Jupiter, sangat menarik secara astronomis. Namun juga mengandung pelajaran penting bila merenungkannya. Peristiwa serupa mungkin juga terjadi dalam dimensi sosial. Dampaknya pun tak kalah hebat: kehancuran.

Ahli matematika Perancis Edouard Roche menyatakan ada suatu jarak minimum dari planet induk yang bila dilampaui akan menyebabkan benda yang mengorbitnya akan pecah. Batas minimum itu dikenal sebagai Limit Roche yang tergantung ukuran dan kekuatan benda langit menahan gaya gravitasi planet. Bulan yang kelihatan kokoh pun akan hancur berantakan bila (karena suatu sebab) melewati Limit Roche-nya, masuk dalam orbit yang jaraknya kurang dari 18.000 km dari bumi. Saat ini bulan masih berada pada jarak yang aman 384.000 km.

Seperti kebanyakan komet lainnya, mestinya komet SL-9 ini hanya mengitari matahari. Tetapi, sekitar tahun 1970-an komet ini masuk dalam pengaruh gravitasi Jupiter dan mulai mengitari Jupiter. Sekitar 1992, komet SL-9 mencapai titik terdekatnya dengan Jupiter dan melewati Limit Roche-nya. Pada saat itulah kekuatan materinya yang rapuh karena hanya terdiri dari debu, gas beku, dan es tak mampu menahan gravitasi Jupiter. Secara perlahan komet itu pecah, hancur berkeping-keping, dan jatuh masuk ke Jupiter.

Manusia berperilaku seperti komet SL-9 banyak. Manuver pribadinya bisa membawanya masuk ke dalam lingkaran orang yang punya pengaruh besar. Orang berpengaruh itu mungkin seorang presiden, gubernur, konglomerat, atasan, kyai, atau sekadar dukun. Ibarat gravitasi yang mengikatnya, pengaruh itu bisa demikian kuatnya, hingga ia tidak mampu melepaskan diri lagi. Ia mengabdi sepenuhnya, sadar atau tak sadar. Ia bertaklid buta. Langit biru disebut kuning pun mungkin ia ikuti. Kepribadiannya yang rapuh tidak bisa mengambil sikap lain, selain taat.

Padahal Allah mengingatkan dalam hal ketaatan untuk senantiasa menggunakan ilmu dan akal sehat (QS 17:36). Karena setiap perangkat pengolah informasi pada diri manusia, pendengaran, mata, dan hati, kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak digunakannya mata, telinga, dan hati bisa membawa ke neraka (QS 7:179). Allah menjuluki, “Mereka itu seperti  binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS 7:179).

Ketaatan kepada pemimpin memang diwajibkan Allah (QS 4:59) dan rasul-Nya selama bukan untuk kemaksiyatan (HR Bukhari Muslim). Sekalipun pemimpin itu mengutamakan diri sendiri dan menyeleweng, Nabi berpesan “Tunaikan kewajibanmu dan hanya mengharap kepada Allah akan hak kamu” (HR Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud). Jangan ikuti kesalahannya, apalagi meminta bagian yang bukan hak kita.

Ketaatan kepada pemimpin demi kemaslahatan. Tetapi ketaatan yang bukan taklid. Ibarat bulan yang tetap kokoh mengorbit bumi pada jarak aman. Ada batas syariah dan rasional  yang harus dipertahankan, di samping harus adanya kepribadian yang kokoh.

Sinkronisasi Bumi-Bulan

T. Djamaluddin

(Dimuat di Republika — Hikmah, 22 Juni 2001, + beberapa tambahan)

Sebaik-baik pemimpinmu adalah yang kamu cintai dan dia mencintai kamu, kamu doakan dan dia mendoakan kamu. Dan seburuk-buruk pemimpin kamu adalah yang kamu benci dan dia membenci kamu, kamu hujat dan dia menghujat kamu. (HR Muslim)

Sinkronisasi rotasi bumi-bulan menyebabkab periode revolusi bulan sama dengan periode rotasinya, yaitu 27,3 hari, sehingga wajah purnama tak pernah berubah. Selain itu, rotasi bumi diperlambat sehingga hari makin panjang 0.002 detik dalam seabad dan bulan menjauh sekitar 3,5 cm per tahun. Kelak, 500 milyar  tahun mendatang rotasi bumi pun menjadi sinkron dengan rotasi dan revolusi bulan, yaitu satu hari sama dengan satu bulan, sekitar 48 hari menurut ukuran sekarang (walau diprakirakan tidak akan terjadi, karena jauh sebelum itu pada 5 milyar tahun mendatang bumi dan bulan bersama-sama masuk dalam bola matahari yang menjadi raksasa merah).

Bumi mengerem rotasi bulan dan bulan pun mengerem rotasi bumi yang menyebabkan sinkronisasi. Inilah pelajaran dari alam bagi pemimpin dan yang dipimpin. Ada upaya saling memahami dan saling menyesuaikan. Sama seperti bulan, yang dipimpin biasanya lebih cepat menyesuaikan diri, karena pengaruh pemimpin biasanya sangat kuat. Kemudian, pemimpin pun harus secepatnya menyesuaikan dirinya. Hanya pemimpin yang otoriter yang menghendaki kesetiaan sepihak.

Namun, tidak setiap kehendak harus dipenuhi, perlu dialog. Dalam lingkup keluarga, Allah mengingatkan istri dan anak-anak bisa membawa kebinasaan bila segala kehendaknya dituruti (QS 64:14-15). Pemimpin ummat pun diperintahkan tidak menuruti segala kemauan orang (QS 42:15).  Ada aturan-aturan yang tetap harus dipatuhi.

Bulan bisa hancur bila terlalu dekat bumi. Sedikit menjauh diperlukan untuk mencapai kesetimbangan yang lebih harmonis. Demikian juga bila pemimpin dan pengikutnya terlalu dekat bisa merusakkan, menyuburkan kolusi dan nepotisme, mengkultuskan, atau menciptakan ikatan taklid yang kotraproduktif. Menjaga jarak diperlukan untuk saling mengoreksi secara wajar dan terbuka yang memunculkan sikap saling mencintai dan menghormati. Bila mulai muncul saling menghujat dan saling membenci, itu tanda buruknya kepemimpinan.

BLACK HOLE

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

(Dimuat di Republika — Hikmah –, 26 Juni 2000)

Para astronom meyakini sebagian besar (mungkin 90% atau lebih) materi di alam semesta tidak terdeteksi dengan teleskop besar sekalipun. Itulah  yang dinamakan dark  matter (materi  gelap). Mereka tidak tampak, walaupun diyakini keberadaanya secara tidak langsung.

Salah satu kelompok matarei gelap itu adalah black hole. Black hole diyakini ada di pusat galaksi. Black hole itu super amat sangat  padatnya, hingga gravitasinya luar biasa besarnya. Cahaya pun tertarik oleh medan gravitasinya. Bila ada bintang yang berdekatan dengannya, materinya akan tersedot oleh black hole.

Black hole bisa terbentuk dari inti bintang raksasa yang meledak sebagai supernova. Bagian luarnya tampak hancur  berhamburan ke luar, tetapi intinya memadat ke dalam. Kepadatan black hole dapat diumpamakan bila bola matahari yang berdiameter 1,4 juta km (109 kali diameter bumi) dan bermassa 2 milyar milyar milyar (dengan 27 angka nol) ton dimampatkan hingga diameternya hanya 3 km.

Dalam dimensi sosial, fenomena seperti itu juga ada dan harus mejadi perhatian para pemimpin dalam segala tingkatan. Apa yang dikenal sebagai the silent majority, mayoritas yang diam, mirip dengan dark matter di alam semesta. Jumlahnya mayoritas, tetapi tidak terdeteksi suaranya atau sikapnya yang sebenarnya. Mungkin karena takut, pasrah, atau tak peduli.

Di antara yang diam itu ada yang seperti black hole. Punya kekuatan besar, tetapi tidak tampak. Mungkin terbentuk dari tokoh raksasa yang telah runtuh. Mungkin juga dari orang biasa. Tetapi ciri utama fenomena seperti black hole itu adalah perasaan teraniaya dan sakit hati. Perasaan orang tidak tampak. Tetapi kekuatan orang yang teraniaya dan sakit hati itu sangat luar biasa.

Allah memberi hak kepada orang yang teraniaya untuk membalas secara setimpal dan berjanji akan menolongnya. Dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya (QS 22:60). Bahkan ucapan kasar pun diizinkan bagi mereka ketika membela diri: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (QS 4:148). Pembalasan orang teraniaya bukan dosa, justru dosanya terletak pada penganiayanya  (QS 42:41-42).

Allah dan Rasul-Nya menjamin bahwa orang yang teraniaya akan diberi hak khusus, tanpa memandang agama mereka. Ketika Muadz diutus menjadi gubernur Yaman, Nabi berpesan bahwa dia akan menghadapi kaum ahli kitab (Nasrani atau Yahudi). Di sampaing pesan da’wah, Rasulullah berpesan agar masalah hak asasi kaum ahli kitab tersebut diperhatikan sungguh-sungguh. ”Jagalah harta mereka dan takutlah doa orang yang teraniaya, karena tidak ada pembatas antara doa mereka dengan Allah.” (HR Bukhari-Musim).

Ibarat black hole, kelak mereka pun dapat menyedot keutamaan para penganiayanya. Nabi berpesan, ”Orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang pada hari qiyamat berbekal pahala shalat, puasa, dan zakatnya. Tetapi suka mencaci, menuduh, dan memakan harta orang lain serta menumpahkan darah dan memukul orang. Maka pahalanya diambil  untuk diberikan kepada orang-orang yang teraniaya itu,sedangkan pahalanya tak cukup membayarnya hingga dosa orang yang teraniaya yang ditimpakan kepadanya,  ia masuk neraka” (HR Bukhari-Muslim).

Berhati-hatilah dalam bersikap dan bertutur kata. Bila tidak, berarti kita telah menciptakan sekian banyak black hole di sekitar kita. Ancaman bahaya di dunia dan di akhirat telah diperingatkan Allah dan Rasul-Nya.

ISTIQAMAH

T. Djamaluddin (LAPAN)

(Dimuat di Republika — Hikmah, 20 April 2000)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada ketakutan bagi  mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS 46:13).

Fenomena fisika, bagian dari sunnatullah, bisa menjadi teladan yang baik bagi manusia. Contohnya laser, yang kini mulai banyak dikenal, mulai dari pertunjukan sinar laser sampai pointer mungil yang dijual di kaki lima. Laser (light amplification by stimulated emission of radiation) adalah penguatan cahaya dengan pancaran radiasi yang distimulasi. Di alam kita kenal maser (microwave amplification by stimulated emission of radiation), penguatan gelombang mikro dengan pancaran radiasi yang distimulasi, yang dipancarkan oleh awan antarbintang.

Garis kehidupan seorang Muslim idealnya ibarat mengikuti garis penjalaran sinar laser yang lurus tersebut. Titik awalnya adalah niat yang ikhlas dan titik sasarannya adalah mardlatillah, keridlaan Allah.  Proses di titik awal amat menentukan sampai tidaknya sinar mencapai sasaran yang dituju. Niat yang lemah bisa menyebabkan tidak sampainya pada tujuan. Sedikit saja hambatan yang dihadapi, sasaran tidak tercapai.

Pada laser atau maser, cahaya atau gelombang mikro itu diproses dan diperkuat sehingga dapat terpancar sangat kuat, lurus tidak menyebar, dan dapat menempuh jarak yang sangat jauh. Seperti itu pula hendaknya niat diproses dan diperkuat agar tetap lurus dalam bertindak dan mampu menembus hambatan-hambatan yang dihadapi.

Untuk mendapatkan penguatan tersebut, ada proses pemompaan energi pada titik awal tersebut. Pada perangkat laser, pemompaan energi dilakukan dengan penyinaran atau pemberian medan listrik. Pada fenomena maser dari awan antarbintang, pemompaan energi dilakukan oleh radiasi inframerah dari bintang-bintang di dekatnya..

Pada diri manusia “pemompaan energi” untuk penguatan niat dilakukan dengan tempaan iman dan doa yang terus menerus. Allah menyerukan, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS 3:139). Rasullullah SAW berpesan, “Doa itu senjatanya orang mu’min” (HR Hakim dan Abu Ya’la)

Jalan mencapai tujuan mardlatillah tentu tidak mulus. Ada saja hambatan dan godaan. Sedangkan manusia tidak luput dari kelalaian dan dosa. Kemalasan menyebabkan amal terhenti. Riya (pamer) dan bangga diri menghanguskan nilai amal. Penyelewengan menyeret kita keluar dari jalur yang lurus. Tetapi, Allah memberikan mekanisme untuk meluruskan kembali perjalanan kita: segera ingat Allah dan mohon ampunan (QS 3:135).

Hal yang terpenting adalah menjaga konsistensi diri, beristiqamah (QS 46:13), setelah memantapkan iman berbekal doa (QS 3:8) yang memperkuati niat. Istiqamah memang mudah diucapkan, tetapi berat melaksanakannya. Idealisme yang bergelora pada masa muda atau semasa mahasiswa, kerap tak bisa dipertahankan ketika berhadapan dengan realitas dalam perjuangan profesi sesungguhnya.

Tuntutan keluarga, silaunya iming-iming harta, dorongan mendapatkan dan mempertahankan jabatan, serta upaya meningkatkan status sosial tidak jarang menggoyah jiwa. Awalnya menggunakan pembenaran-pembenaran, selanjutnya hilang rasa malu.

Sebelum tersesat jauh, luruskan kembali perjalanan hidup kita. Memang beristiqamah terasa pahit secara lahiriyah, tetapi tentram secara batiniyah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 192 pengikut lainnya.