Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #8 Habis) Isyarat Al-Quran

al-quran-mushafearth

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RI

Penggemar dongeng FE — bumi datar — mencoba mencari pembenaran dari ayat-ayat Al-Quran, tanpa memahami makna ayatnya dan konteksnya. Ini contoh (terjemah) ayat- ayat yang dijadikan pembenaran:

(Q.S. Al Baqarah 2: 22) Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui
(Q.S Al-Hijr 15: 19), “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
(Q.S Al Kahfi 18 : 47) Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.
(Q.S Al Anbiyaa 21: 32) Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.
(Q.S Yaasiin 36 :38) dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q.S Yaasiin 36 :40) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(Q.S Az-Zumar 39 :5) Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(Q.S. Qaaf 50 : 7) Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,
(Q.S. Ar-Rahman 55 : 33) Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) PENJURU langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.
(Q.S. An Naba’ 78: 6-7) Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?
(Q.S. Al Ghaasyiyah 88: 20) Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Untuk memahami Al-Quran perlu memahami makna ayat dan konteksnya:

QS 2:22 firaasyan maknanya hamparan tempat istirahat, bukan dalam makna keseluruhan bumi datar.
QS 15:19 madadnahaa maknanya kami hamparkan bumi sebagai dataran, namun ada juga gunung-gunung. Hamparan datar dalam konteks di sana pun ada juga yang bergunung-gunung.
QS 18:47 baarizatan maknanya kami ratakan (semuanya runtuh rata dengan tanah).
QS 21:32 saqfan maknanya (langit sebagai) atap atau yang melingkupi, bukan dalam makna sebagai kubah.
QS 36:38 tajrii maknanya berjalan/berlari, karena dalam skala galaksi matahari bersama ratusan milyar bintang bergerak mengorbit pusat galaksi.
QS 36:40 fii falakiy yasbahuun maknanya (matahari dan bulan) bergerak di orbit masing-masing, matahari mengorbit pusat galaksi dan bulan mengorbit bumi. Justru ini membantah konsep FE yang anggap matahari dan bulan pada orbit yang sama di kubah langit.
QS 39:5 yukawwiru maknanya menutup (malam ke siang dan siang ke malam) yang artinya ada pergantian akibat rotasi bumi, bukan seperti konsep FE yang mataharinya berjalan dari satu daerah ke daerah lainnya.
QS 50:5 madadnahaa maknanya kami hamparkan sebagai dataran, namun ada juga gunung-gunung.
QS 55:33 aqthaari maknanya wilayah (langit), artinya ruang yang bisa dilintasi, bukan seperti kubah ala FE.
QS 78:6 mihaadan maknanya hamparan tempat istirahat, bukan keseluruhan permukaan bumi, karena pada ayat selanjutnya disebutkan juga ada gunung-gunung.
QS 88:20 suthihat maknanya dihamparkan sebagai dataran, selain ada gunung yang ditegakkan pada ayat sebelumnya (QS 88:19).

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (4): Sekitar Sains dalam Peradaban Islam

Wawancara Manusia Indonesia  seputar sains dalam peradaban Islam bisa disimak pada  video berikut:

 

Pengamatan Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Parigi

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Total

Alhamdulillah, waktu gerhana matahari total (GMT) yang sekian lama dinanti akhirnya datang juga, Rabu 9 Maret 2019. Satu kekhawatir soal cuaca pun sirna. Pagi itu di lokasi Sail Tomini, Parigi, Sulawesi Tengah, cuaca cukup cerah dengan sedikit awan. Pagi itu dijadwalkan pengamatan GMT akan diawali dengan shalat gerhana dengan imam Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawar, Menteri Agama 2001-2004, dan khatib Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin. Lokasinya di area Sail Tomoni yang saat itu juga menjadi lokasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Sulawesi Tengah.

DSC_0185

Lokasi MTQ (area dengan tenda setengah lingkaran) menjadi lokasi shalat gerhana dan pengamatan publik GMT

Jadwal gerhana di lokasi Sail Tomini: Kontak tertama pukul 07.28 WITa, total 08.38.37 – 08.40.00 (totalitas sekitar 1,5 menit), dan gerhana berakhir pukul 10.01. Pukul 07.00 jamaah sudah berdatangan. Sekitar 500 kacamata gerhana sumbangan LAPAN dibagikan kepada para jamaah. Sebelum shalat dan pengamatan gerhana, Prof. Said Agil menjelaskan tata cara shalat gerhana. Lalu saya menjelaskan waktu gerhana dan tata cara pengamatan gerhana. Saya jelaskan bahwa melihat gerhana matahari secara langsung aman, asal berhati-hati dan jangan lama-lama. Kacamata gerhana digunakan jangan lama-lama dan bisa bergantian.

Pukul 07.30 mulai tampak jelas sisi kanan atas matahari mulai tergelapi oleh bulan. Saya menginformasikan kepada para jamaah bahwa gerhana sudah berlangsung dan agar para jamaah bersiap untuk shalat gerhana. Shalat dimulai pukul 07.37 sampai 08.08. Setelah itu saya menyampaikan khutbah shalat gerhana sampai sekitar pukul 08.20 dan dilanjutkan pengamatan gerhana. Panitia juga menyiapkan layar lebar yang menampilkan perkembangan gerhana. Masyarakat mengamati gerhana secara langung dengan kacamata gerhana dan melihat citra gerhana dari kamera panitia di layar lebar. Sampai akhirnya pukul 08.37 matahari makin tipis, walau tetap menyilaukan, dan suasana makin redup.

2016-03-09 07.32.19

Awal gerhana sesuai jadwal dibuktikan dulu dengan pengamatan (terlihat gerhana dimulai dari bagian kanan atas piringan matahari). Filter floppy disk sebagai alternatif kacamata matahari (Foto TD).

Saya menyampaikan khutbah shalat gerhana matahari (Foto Humas LAPAN)

IMG_4260Seusai jadi khatib, saya bersiap mengabadikan gerhana dengan kamera DSLR biasa. (Foto Humas LAPAN)

DSC_0192

Fase gerhana matahari sebagian dipotret dengan kamera DSLR dengan filter bekas floppy disk. (Foto TD)

2016-03-09 08.24.00

Seusai shalat gerhana, pukul 08.24 WITa. Layar lebar menampilkan perkembangan gerhana. (Foto TD)

2016-03-09 08.36.24

Detik-detik menjelang total. Matahari makin tipis (tampak di layar lebar), walau masih menyilaukan (tampak cahaya matahari di atas). Suasana makin redup. (Foto TD)

Akhirnya, pukul 08.38.37 tampak bulan mulai menutupi matahari. Matahari tampak seperti cincin permata (Diamond ring) karena menyisakan celah cahaya terang di lembah bulan, sebelum bulan menutup sempurna. Lalu terdengar teriakan orang banyak, “Allahu Akbar (Allah Mahabesar) … Subhanallahu (Allah Mahasuci)”. Orang-orang bertakbir dan bertasbih berulang-ulang. Di langit terpampang korona matahari yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Tak terasa mata saya basah, karena terharu luar biasa kembali berkesempatan untuk ketiga kalinya (18 Maret 1988 di Bangka, 24 Oktober 1995 di Tahuna, dan 9 Maret 2016 di Parigi) menyaksikan korona matahari yang proses munculnya luar biasa indahnya. Bersama masyarakat, di tengah temaram kegelapan GMT, tak henti bibir bertakbir dan bertasbih, sambil berupaya memotret dengan kamera DSLR. Planet Venus tampak cemerlang di langit. Ternyata bukan hanya planet Venus, planet Merkurius pun terekam di foto yang  saya ambil.

DSC_0203

Korona matahari tampak indah di langit, seolah muncul tiba-tiba setelah matahari sempurna tertutup oleh bulan. (Foto TD)

Korona-Merkurius-Venus

Suasana temaram dengan korona matahari yang sangat indah dipenuhi suara takbir dan tasbih berulang-ulang. Tampak juga planet Merkurius (titik redup ditunjuk tanda panah merah) dan planet Venus (titik terang ditunjuk tanda panah merah). (Foto TD)

Di lokasi Sail Tomini, Parigi, GMT hanya berlangsung 1,5 menit. Tetapi waktu yang singkat itu sungguh memberi kesan mendalam. GMT akhirnya berakhir dengan munculnya cicin permata terakhir di kiri atas piringan matahari. Walau baru secercah cahaya matahari yang menembus lembah bulan, cahayanya cukup menyilaukan. Akhirnya suasana kembali terang dan proses gerhana berakhir pukul 10.01 WITa.

DSC_0210

Akhir GMT ditandai dengan “cincin permata” terakhir di sisi kiri atas matahari (terlihat di layar lebar). Walau baru secercah, cahayanya cukup menyilaukan (tampak cahaya menyilaukan di atas). (Foto TD)

DSC_0212

Suasana kembali terang pasca GMT. Walau matahari masih dalam kondisi gerhana matahari sebagian, cahayanya sangat menyilaukan. Tanpa filter, matahari tidak menampakkan proses gerhana sebagian karena terlalu silau. (Foto TD)

DSC_0214

Gerhana matahari sebagian pasca-total, dipotret dengan filter film rongent. (Foto TD)

Selain memotret dengan kamera DSLR biasa untuk menangkap suasana, Tim LAPAN di Parigi merekam seluruh  proses gerhana dengan menggunakan teleskop. Berikut hasil pengamatan dengan teleskop: beberapa rangkaian gerhana sebagian pra-total, munculnya cincin permata pertama, GMT, cincin permata terakhir, dan gerhana sebagian pasca-total.

2016-03-09 09.06.20

Proses gerhana diamati dengan teleskop dan direkam ke laptop. (Foto TD)

Pra-total 1

Matahari dengan beberapa bintik matahari mulai tertutupi bulan dari sisi kanan atas. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pra-total 2

Gerhana matahari sebagian pra-total. (Foto dati Video Tim LAPAN)

Pra-total 3

Gerhana sebagian pra-total (Foto dari Video Tim LAPAN)

Awal total

Cincin permata (diamond ring) pertama, awal GMT. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Total

Korona matahari saat GMT. Terlihat juga ada prominensa (“lidah api”) di sisi kiri (utara). (Foto dari Video Tim LAPAN)

Akhir - Total

Cincin permata terakhir, mengakhiri GMT. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 1

Gerhana matahari sebagian pasca-total. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 2

Gerhana matahari sebagian pasca-total. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 3

Bulan meninggalkan piringan matahari dari sisi kiri bawah. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Intisari Khutbah Shalat Gerhana Matahari Total, 9 Maret 2016

T. Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN

GMT 18 Mar 1988 - Penyak Bangka

[Inti sari bahan khutbah shalat gerhana matahari total di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 9 Maret 2016 –Naskah bahasa Arab tidak dituliskan).

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).

Jamaah Rahimakumullah,

Bayangkan suasana suatu pagi di Madinah ketika Rasullah memakamkan putra beliau, Ibrahim, yang wafat pagi itu. Suasananya mirip pagi ini. Di langit Timur terlihat matahari tidak sempurna bulatnya. Bagian atasnya tampak menghitam yang makin lama hampir menghilangkan seluruh bundaran matahari. Orang-orang ketakutan.

Di dalam hadits Abû Burdah dari Abû Mûsâ Radhiyallâhu ‘anhu, dikisahkan peristiwa gerhana di Madinah:

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi SAW langsung berdiri terkejut dan merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau pergi ke masjid dan melakukan sholat yang panjang berdiri, ruku’, dan sujudnya. Setelah itu Nabi bersabda, “Gerhana ini adalah tanda-tanda dari Allah, bukan disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini terjadi supaya Allah menakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan-Nya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Rasullah SAW mengajarkan tauhid, tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan mitos. Gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Bukan pula karena matahari dimakan raksasa atau makhluk yang tak masuk akal. Tetapi gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah lah yang mencipkan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Belakangan diketahui bahwa gerhana matahari adalah bagian dari keteraturan sistem matahari-bulan-bumi.

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).

Ya, gerhana hanyalah salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan sains, kita bisa lebih banyak mempelajari ayat-ayat-Nya di alam ini. Gerhana memberi banyak bukti bahwa alam ini ada yang mengaturnya. Allah yang mengatur peredaran benda-benda langit sedemikian teraturnya sehingga keteraturan tersebut bisa diformulasikan untuk prakiraan.

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (QS Ibrahim:33)

Matahari dan bulan beredar pada orbitnya masing-masing, bagaimana bisa menyebabkan gerhana? Pada awalnya orang-orang menganggap bumi diam, bulan dan matahari yang mengitari bumi dalam konsep geosentris. Kemudian berkembang pemahaman matahari yang diam sebagai pusat alam semesta, benda-benda langit yang mengitarinya, dalam konsep heliosentris. Bulan dan matahari juga dianggap punya cahayanya masing-masing. Tetapi Al-Quran memberi isyarat, bahwa walau terlihat sama bercahaya, sesungguhnya bulan dan matahari berbeda sifat cahayanya dan gerakannya.

Jamaah Rahimakumulah,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran:190-191).

Hanya ulil albaab (orang-orang yang berfikir dengan iman) yang mau merenungi makna gerhana dan mengambil hikmahnya. Gerhana kadang tampak menakutkan. Secara perlahan matahari menjadi gelap sebagian, lalu selama beberapa saat matahari berada pada fase gelap total, dan kemudian secara perlahan matahari kembali pada wujudnya yang cemerlang. Semestinya gerhana bisa menjadi bagian untuk direnungkan hakikatnya dan rahasia di balik fenomena langka tersebut.

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam, Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk pelepah yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS Yaasiin: 37-40).

Walau tampak matahari dan bulan berjalan pada jalur yang sama, tidak mungkin keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya memang berbeda. Perjumpaan bulan dan matahari saat gerhana matahari hanyalah ketampakannya, ketika matahari tampak terhalang oleh bulan yang berada di antara matahari dan bumi. Gerhana matahari telah menjadi bagian perkembangan ilmu hisab untuk memprakirakan peredaran bulan, sehingga awal bulan qamariyah kini bisa dihitung makin akurat.

Gerak harian bulan dan matahari, terbit di Timur dan terbenam di Barat, hanya merupakan gerak semu. Karena sesungguhnya bumilah yang bergerak. Bumi berputar pada porosnya sekali dalam sehari sehingga siang dan malam silih berganti dan benda-benda langit pun tampak terbit dan terbenam, seperti halnya bulan dan matahari. Sesungguhnya gerak yang terjadi bukan hanya bumi yang berputar pada porosnya, tetapi juga bulan dan matahari beredar pada orbitnya. Bulan mengorbit bumi, sementara bumi mengorbit matahari, dan matahari pun tidak diam, tetapi bergerak juga mengorbit pusat galaksi.

Gerhana matahari total telah dijadikan alat penelitian fisika matahari sehingga kini kita mengenal lebih baik lagi tentang hakikat matahari sebagai bintang yang menghasilkan energinya sendiri, di dalam Al-Qur’an disebut “Dhiya” (bersinar) yang berbeda sifat dari bulan yang disebut “Nuura” (bercahaya). Gerhana matahari total juga telah menjadi bagian dari pembuktian fisika modern yang menyatakan bahwa benda bermassa besar, seperti matahari, bisa membelokkan cahaya. Itu terlihat dengan bergesernya posisi bintang di dekat matahari saat gerhana matahari total, dibandingkan dengan posisi sebenarnya.

Jamaah Rahimakumulah,

Sains menjelaskan fenomena yang sesungguhnya. Sains menghilangkan mitos dan meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah. Gerhana kita ambil hikmahnya, bahwa Allah menunjukkan kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya dengan fenomena itu. Keteraturan yang luar biasa yang Allah ciptakan memungkinkan manusia menghitung peredaran bulan untuk digunakan dalam perhitungan waktu dan digunakan untuk memprakirakan gerhana. Mari kita buktikan bahwa sebentar lagi matahari akan tertutup sempurna oleh bulan. Proses gerhana matahari total akan berlangung singkat namun ketampakan korona sungguh mengagumkan. Subhanallah.  Korona tak pernah tampak karena kalah oleh cahaya matahari yang sangat kuat. Namun ketika, matahari tertutup bulan, korona menampakkan dirinya.

Ketika kita menyaksikan kebenaran prakiraan sains, bukan kebanggaan intelektual yang kita tunjukkan melainkan ungkapan:

Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau (dari segala kekurangan), maka (ampunilah segala kesalahan penjelahahn intelektual kami dan) peliharalah Kami dari siksa neraka.

Jamaah Rahimakumulah,
Setelah kita melaksanakan shalat gerhana dan merenungi hikmah di balik itu, marilah kita akhiri khutbah ini dengan mohon ampunan dan mohon kekuatan untuk menjejaki kehidupan kita selanjutnya.

…. (Doa)

Khutbah Idul Adha 1421/2001 (HAJI DAN QURBAN: REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA)

Khutbah Idul Adha 1421/2001, Masjid Nurul Jamil, Dago, Bandung

(Disampaikan oleh T. Djamaluddin, LAPAN Bandung)

(“Thawaf”, Dari internet)

HAJI DAN QURBAN: REPOSISI DIRI DI HADAPAN ALLAH DAN SESAMA MANUSIA

(Teks Arab, tidak tertulis)

Katakanlah,
“Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu‑sekutu bagiNya? (Allah itulah) Rabb semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung‑gunung yang kokoh, memberkahinya, dan menentukan padanya kadar makanan‑makanan (penghuni-)nya dalam empat masa (sejak penciptaan bumi). (Itulah jawaban) bagi orang‑orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit yang berupa kabut. Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap‑tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang‑bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik‑baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q. S. 41:9-12)

 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Pagi ini di hari raya qurban – Idul Adha – ketika jutaan manusia sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci, ketika jutaan ternak siap diqurbankan, sejenak kita merenungi kembali posisi kita di hadapan Allah dan sesama manusia. Ibadah Haji mengingatkan sejarah manusia sejak penciptaan alam semesta hingga reformasi logika tauhid manusiawi yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Ibadah Qurban mengingatkan perjuangan hidup manusia dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dan manifestasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Walaupun tidak dijelaskan secara tegas di dalam Al-Quran dan Hadits tentang makna setiap kegiatan ibadah haji, kita coba mencari maknanya yang berkaitan dengan kehidupan manusia yang direkonstruksikan dalam ibadah haji tersebut. Pertama, makna asasi tentang ketaatan alam semesta kepada Allah sejak penciptaannya yang disimbolkan dengan thawaf, mengelilingi kab’bah. Kedua, makna dari kisah ketauhidan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang direpresentasikan dengan sai, melontar jumrah, dan qurban. Ketiga, makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf.

Makna yang pertama dapat ditarik dari fenomena thawaf. Ratusan ribuan orang yang berthawaf, silih berganti tanpa henti, terlihat seperti  ribuan asteroid, komet, dan planet yang mengitari matahari. Atau seperti milyaran bintang di galaksi bima sakti yang mengitari pusat galaksi. Mereka adalah miniatur alam semesta yang tak pernah membangkang kehendak Khaliqnya, Allahu Rabbul ‘alamin. Sejak penciptaannya mereka tetap taat mengikuti hukum-hukum Allah.

Makhluk langit (bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya) ‘disempurnakan’ (fasawwahaa) dengan kematian dan kelahiran bintang-bintang. Hukum Allah mengendalikan evolusinya dan dinamikanya yang dicirikan dengan gerakan mengitari pusat massanya. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan milyaran bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan langit dan bumi kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya .

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

‘Mengelilingi sesuatu’ disebut thawaf. Alam berthawaf sebagai bukti ketaatannya kepada Allah. Secara jasmani, tubuh manusia pun taat pada hukum-Nya dengan terus berthawaf bersama alam tanpa bisa kita tolak. Namun secara ruhani, manusia berpotensi membangkang. Padahal, seperti halnya alam, manusia pun dalam salah satu tahapan perkembangannya di rahim telah berjanji untuk taat kepada Allah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Dengan merenungi ketaatan alam, thawaf pada ibadah haji dan umrah semestinya menyadarkan akan janji manusia tersebut. Tujuh kali mengitari kabah merupakan perlambang jumlah putaran yang tidak berhingga, terus menerus, seperti thawafnya alam semesta. Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi diciptakan. Namun, manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan  makhluk yang telah Kami ciptakan.  (QS 17:70).

Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-32), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang  sebaik-baiknya. (QS 95:4).

Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah kelemahannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi. Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS 70:19).

Manusia juga lemah.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia  dijadikan bersifat lemah. (QS 4:28).

Juga bersifat tergesa-gesa.

Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.  (QS 17:11).

Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat (QS 33:72). Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)  (QS 95:5).

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Alam semesta telah berjanji untuk taat kepada Allah. Manusia pun telah berjanji untuk bertauhid kepada-Nya. Namun manusia sering membangkang karena kejumudannya, kebekuan akalnya, hilang rasionalitasnya. Kebenaran ilahiyah kadang diabaikannya karena kesombongan duniawi yang ditonjolkan.

 

Makna yang kedua, kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang rasionalitasnya dalam bertauhid dan ketaatannya yang luar biasa kepada Allah patut menjadi teladan. Perbuatannya banyak direkonstruksikan para jemaah haji, seperti sa’i dari bukit Shafa ke bukit Marwah, melontar jumrah, dan berqurban. Sa’i mengingatkan keteguhan, keuletan, dan sikap tawakal Siti Hajar dalam memelihara Ismail di tengah lingkungan alam yang sangat tandus. Melontar jumrah mengingatkan perlawanan gigih keluarga Ibrahim AS melawan bujuk rayu syaithan. Qurban mengingatkan ketaatan yang luar biasa antara ayah dan anak, Ibrahim AS dan Ismail AS, yang diuji dengan perintah Allah untuk mengurbankan Ismail, yang akhirnya digantikan Allah dengan seekor kambing besar.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (QS 16: 120).

Khatib tidak akan berkisah rinci tentang sejarah asal mula sa’i, melontar jumrah, dan berqurban. Tetapi menengok dasar tauhid yang melandasi segala aspek kehidupan Nabi Ibrahim AS. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim tidak bertaqlid pada tradisi, tidak larut pada kesesatan lingkungannya, malah membuktikan kebenaran tauhid secara rasional kepada ummatnya. Mari kita hayati suasana batin saat itu dalam pembuktian ekistensi Tuhan yang hakiki dengan mengamati langit. Seusai maghrib petang nanti bila langit cerah tengoklah langit barat.  Walaupun langit belum terlalu gelap, sebuah bintang sangat cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Itulah bintang kejora. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus. Bayangkan diri kita bersama Nabi Ibrahim AS yang menghadapi kaumnya yang tak bertauhid.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia  berkata: “Inilah Tuhanku”,  tetapi
tatkala bintang itu tenggelam  dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” (6:76).

Sungguh cemerlang bintang kejora di ufuk barat. Bintang sering jadi penunjuk arah. Warnanya, konfigurasinya, atau kecemerlangannya sering diasosiasikan dengan dewa-dewa tertentu. Bintang yang paling cemerlang sering didewakan pada waktu itu. Namun, bintang tidak selamanya tampak. Sebentar juga terbenam. Tak beralasan untuk menyembahnya.

Beberapa hari mendatang kita akan melihat purnama terbit di ufuk timur. Ini lebih terang. Malam yang biasanya gelap pun menjadi terang.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” (QS 6:77)

Bulan yang cemerlang pun tidak bertahan lama. Ada saatnya terbenam. Kemudian pada pagi hari tampaklah matahari yang jauh lebih cemerlang dan tampak sangat besar di kaki langit.

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas  diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS 6:78).

Mungkin kita tidak merasakan betapa beratnya menjelaskan ketauhidan pada zaman Nabi Ibrahim AS, karena kita sudah diberi hidayah Allah atau terlahir dari keluarga Muslim yang telah diajarkan ketauhidan. Namun, kita bisa merasakan betapa susahnya kita menjelaskan dan melaksanakan pada diri dan keluarga akan makna ketauhidan yang sesungguhnya. Tak jarang perbuatan berbau syirik masih kita jumpai di tengah masyakarat, mungkin di dalam diri dan keluarga kita sendiri, sadar atau tak sadar. Berapa banyak orang yang masih percaya pada benda-benda atau tempat-tempat yang dikeramatkan. Atau kita berbuat riya, pamer dalam beribadah. Atau yang paling tersamar bentuk kemusyrikan yang mungkin sering kita lakukan tanpa disadari adalah keraguan akan kemurahan Allah ketika kita berdoa, ketidakyakinan diri bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Padahal setiap shalat kita baca ungkapan Nabi Ibrahim AS:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS 6:79)

Tidak yakin akan kekuasaan Allah, termasuk syirik, menyekutukan Allah. Menurut para ulama, ada tiga klasifikasi syirik itu. Ada syirik akbar (syirik berat), seperti secara nyata menganggap Allah lebih dari satu atau menganggap ada kekuatan lain selain Allah atau sekadar menyamakan kecintaan (mahabbah) kepada manusia atau benda seperti kecintaannya kepada Allah. Ada syirik ashghar (syirik kecil), yaitu berbuat riya. Amal ibadahnya tidak ikhlas semata-mata karena Allah, tetapi ada terselip niat ingin dipuji orang lain. Bila bershadaqah, ingin terlihat dan dianggap sebagai orang dermawan. Bila shalat dan beribadah lainnya ingin orang lain mengetahuinya dan memujinya sebagai orang shalih. Dan seterusnya. Ada juga syirik khafiy (tersamar), semisal ragu dalam berdoa tersebut tadi. Karena tersamarnya Rasulullah mengibaratkannya sebagai “semut hitam merayap di batu hitam pada malam yang gelap gulita”. Sangat tersamar sehingga kita tidak menyadarinya bahwa itu salah satu bentuk syirik.

Syirik bermula dari sikap dan perasaan merendahkan peran Allah. Bila peran Allah saja direndahkan, sangat mungkin peran sesama manusia pun dilecehkan. Sikap angkuh atau arogan, merasa tiada tandingan, sangat dekat dengan perilaku syirik. Fir’aun dengan kekuasaanya yang tak terbatas demikian angkuhnya hingga mengklaim dirinya tuhan. Kisah pembuktian tentang Tuhan yang hakiki oleh Ibrahim AS memberi pelajaran penting. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan raja, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya. Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intrinsik pada objek itu.

Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi. Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. Lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi.

Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Kolusi dan nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang. Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan “fenomena bintang kejora” adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Makna ketiga adalah makna persamaan dengan sesama manusia dan kerendahan diri di hadapan Allah yang diajarkan saat wuquf (berdiam) di Arafah. Dengan berbalutkan pakaian ihram yang sama, tak tampak perbedaan strata sosial, semua jamaah haji berkumpul di Arafah. Diharapkan ritual puncak ibadah haji ini melahirkan sikap tawadhu, merendahkan diri di hadapkan Allah dan menghilangkan sikap diskriminatif terhadap sesama manusia. Bayangkan kita berada di dataran yang luas, berkubahkan langit biru, dan matahari terik di atas kepala. Ini hanya miniatur padang mahsyar di yaumul akhir.

Pada pagi yang suci ini, khatib mengajak untuk menghayati makna tawadhu’ dan persamaan dalam suasana seperti itu. Berada di padang luas berkubahkan langit akan terasa kecil di tengah keluasan alam, apalagi di hadapan Allah pencipta alam raya ini. Coba kita renungkan sejenak relativitas persepsi  manusia yang sering membawa keangkuhan dan merendahkan sesama. Manusia kadang terkecoh dengan persepsinya sendiri. Matahari yang terik di atas kepala itu terlihat kecil ketika dibandingkan dengan langit yang sangat luas. Padahal kita sering menganggapnya besar ketika berada di kaki langit pada pagi atau sore hari. Ketika itu matahari dibandingkan dengan pepohonan atau gedung di kejauhan yang tampak kecil.

Manusia mengukur sesuatu hanya berdasarkan perbandingan. Kita mengenal besar, karena adanya sikecil. Kita merasakan panas karena pernah merasakan yang lebih dingin. Kita menganggapnya kaya karena melihat yang miskin atau sebaliknya kita merasa miskin karena dihadapan kita ada yang lebih kaya. Kita merasakan pandai ketika kita berbicara dihadapan yang orang belum tahu. Kita merasakan kuat karena ada yang lebih lemah. Lalu, kalau diseragamkan dengan pakaian ihram yang sama, masihkan memperbandingkan status sosial atau derajat duniawi lainnya. Karena kelak, ketika maut menjemput, tak satu pun benda duniawi yang menyertai ke liang lahad selain kaif kafan, mirip dengan kain ihram tersebut.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS 49:11)

Sebagai penutup, khatib sampaikan hal pokok yang ingin disampaikan dalam khutbah ini. Idul Adha yang ditandai dengan ibadah haji dan qurban hendaknya menjadi momentum terbaik bagi kita semua, yang pernah melaksanakannya, yang merencanakan pada tahun mendatang, atau sekadar menyaksikannya, untuk mereposisikan diri di hadapan Allah dan sesama manusia sesuai dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga kita mampu meningkatkan sikap tawadlu di hadapan-Nya, menyempurnakan ketauhidan dengan sesungguhnya, dan meningkatkan penghargaan terhadap sesama tanpa sikap arogan karena pada dasarnya setiap manusia ada kekurangan dan kelebihan yang bersifat relatif. Terakhir, mari kita akhiri khutbah ini dengan doa:

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Maka jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat  kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS 7:23)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau  hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami, ampunilah kami,  dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang  kafir.” (QS 2:286)

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri/suami dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpim bagi orang-orang yang bertakwa. (QS25:74)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri  petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi  (karunia)”.(QS 3:8)

“Ya Tuhan kami,  berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS 2:201).

Hanya karena Membela Bid’ah Wujudul Hilal yang Usang, Muhammadiyah Memilih Tafarruq

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RI

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (tafarruq). Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan (ingatlah) kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS 3/Ali-Imraan:102-105)

Dulu Muhammadiyah gencar dengan gerakan pemberantasan TBC (Takhyul, Bid’ah, dan C[k]hurafat). Namun pembinaan Muhammadiyah atas dasar taqlid tentang hisab hakiki wujudul hilal telah melemahkan sikap kritis internalnya akan bid’ah yang paling nyata yang berdampak pada perbedaan penentuan waktu ibadah Ramadhan, baik mengawalinya maupun mengakhirinya. Bid’ah adalah praktek yang terkait dengan ibadah yang tidak ada dasar hukumnya. Wujudul hilal merupakan contoh bid’ah karena menjadi dasar penentuan waktu ibadah tetapi tidak ada dalilnya yang sahih, seperti saya jelaskan di  https://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/ . Banyak yang tidak sadar akan bid’ah wujudul hilal karena warga Muhammadiyah terfokus pada dalil-dalil hisab (perhitungan) yang dulu selalu dipertentangkan dengan rukyat (pengamatan) hilal. Seolah-olah hisab hanya dengan kriteria wujudul hilal. Saat ini hisab sudah disetarakan dengan rukyat, sepanjang hisabnya memperhatikan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Padahal, hisab juga bisa dilakukan dengan kriteria imkan rukyat yang berupaya menerapkan sunnah (ajaran Rasul) dalam penentuan awal bulan dengan cara rukyat. Parameter rukyat itu dikuantifikasi dengan parameter-parameter astronomis berdasarkan data-data rukyat jangka panjang.

Secara lebih rinci, di blog saya ini saya tuliskan kritik saya pada kriteria wujudul hilal (https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/). Dengan kritik itu berbagai hujatan saya terima, termasuk gelar baru sebagai “provokator” karena menggunakan kata “usang” (obsolete) yang sebenarnya bahasa netral dalam sains. Semoga provokasi saya masih dalam kerangka amar ma’uf nahi munkar yang diperintahkah Allah dalam QS 3:104, seperti tertulis di atas. Secara ringkas, fokus kritik saya pada penentuan awal Ramadhan dan akhir Ramadhan yang terkait dengan pelaksanaan ibadah, mestinya kriteria yang digunakan juga harus atas dasar dalil-dalil syar’i. Namun, dalil syar’i yang diajukan untuk mendasari wujudul hilal hanyalah QS 36:40 dengan tafsir astronomis yang keliru dan mengabaikan sekian banyak dalil rukyat yang sebenarnya bisa menjadi dasar untuk mendukung kriteria hisab. Dalil rukyat ketika ditafsirkan secara teknis untuk diterapkan dalam hisab akan berwujud kriteria imkan rukyat hilal (kemungkinan rukyat hilal) yang dalam bahasa teknis astronomis disebut kriteria visibilitas hilal. Wujudul hilal mengabaikan rukyat, sehingga tidak punya pijakan dalil qath’i (tegas) yang mendukungnya. Dengan demikian wujudul hilal menjadi bid’ah yang nyata. Padahal hisab tidak harus wujudul hilal, bisa menggunakan kriteria imkan rukyat yang merupakan tafsir ilmi astronomis atas dalil-dalil rukyat.

Astronomi menawarkan sekian banyak alternatif kriteria imkan rukyat sebagai hasil kajian ilmiah berdasarkan data pengamatan yang terus berkembang. Namun jangan berharap astronom untuk membuat kesepakatan soal kriteria, karena produk sains bukan harus dipersatukan, masing-maisng peneliti berhak untuk menyajikan data dan analisisnya, kemudian menyimpulkan kriteria yang dianggapnya terbaik menggambarkan visibilitas hilal. Untuk aplikasi dalam pembuatan kalender dan penentuan waktu ibadah, kita lah yang harus memilih salah satu kriteria itu kemudian menyepakatinya untuk diimplementasikan. Pemilihan kriteria harus didasarkan pada kemudahan dalam aplikasinya bagi seluruh ahli hisab dan ahli rukyat. Bagi ahli hisab, kriteria itu sebagai penentu masuknya awal bulan. Bagi ahli rukyat, kriteria sebagai pemandu rukyat.

Mengapa harus ada kesepakatan? Ya, demi persatuan dalam sistem kalender dan penentuan awal bulan, harus ada kesepakatan kriteria. Kita belajar dari penerapan astronomi dalam penentuan jadwal shalat. Kriteria posisi matahari untuk jadwal shalat sebenarnya beragam, khususnya untuk Shubuh, Asar, dan Isya. Namun, kita sudah bisa memilih salah satunya dan menyepakatinya sehingga secara umum semua jadwal shalat yang diumumkan Kementerian Agama sama dengan jadwal yang dikeluarkan ormas-ormas Islam. Jadwal kumandang adzan di TV sama dengan jadwal di masjid. Demikianlah kalau kesepakatan kriteria sudah tercapai.

Beberapa kali kesepakatan antar-ormas Islam yang difasilitasi Kementerian Agama sudah tercapai. Kesepakatan pertama tahun 1998 dan yang terakhir 2011 (https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/26/lokakarya-kriteria-awal-bulan-perwakilan-ormas-islam-bersepakat/). Tetapi Muhammadiyah selalu memisahkan diri dari kesepakatan. Muhammadiyah memilih tafarruq, berpisah dari ummat dalam hal penentuan awal bulan. Mereka lebih membela bid’ah wujudul hilal daripada persatuan ummat. Mereka lebih menjunjung pasal 29 UUD RI “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu” daripada perintah Allah yang qath’i dalam Al-Quran Surat Ali-Imran (3): 103  “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai (tafarruq)”.

Muhammadiyah merasa dipojokkan oleh Pemerintah dan ormas-ormas Islam lainnya dalam sidang itsbat penentuan Idul Fitri 1432/2011 sehingga memilih tidak akan ikut lagi sidang itsbat berikutnya. Mari kita tengok sejarah. Ketika terjadi perbedaan Idul Fitri 1998 karena perbedaan masalah kriteria wujudul hilal vs imkan rukyat, Menteri Agamanya Dr. Tarmizi Taher dari Muhammadiyah (Ketua Korps Mubalig Muhammadiyah). Keputusan sidang itsbat menetapkan Idul Fitri jatuh pada 30 Januari 1998, berdasarkan masukan sebagian besar peserta sidang yang menghendaki kesepakatan kriteria imkan rukyat digunakan. Kesaksian di Cakung dan Bawean ditolak. Hisab wujudul hilal tidak ada yang mendukung selain Muhammadiyah, karena Persis sebagai pengamal hisab juga menggunakan imkan rukyat. Ya, tidak perlu memojokkan Muhammadiyah. Kalau inginnya berbeda dengan yang lain, pasti Muhammadiyah akan terpojok dengan sendirinya. Perdebatan hangat saat sidang itsbat adalah hal yang biasa, bukan hanya saat sidang itsbat penetapan Idul Fitri 1432/2011. Saat sidang itsbat penetapan idul fitri 1998, sidang itsbat juga diwarnai debat hangat gara-gara masalah perbedaan kriteria. Menteri asal Muhammadiyah pun harus mengalah, karena sebagian besar peserta sidang itsbat menghendaki kesepakatan kriteria imkan rukyat yang digunakan, baik dalam menilai hasil hisab maupun rukyat. Muhammadiyah terpojok, lebih tepatnya memojokkan diri, tafarruq dari persatuan ummat.

Jangan Ada Dikotomi Antara Sains dan Islam

Wawancara T. Djamaluddin

di “Islam Digest”, Republika, Ahad, 27 Mei 2012

DR-THOMAS-DJAMALUDDIN-Jangan-Ada-Dikotomi-Antara-Sains

Perkembangan astronomi dari masa ke masa ada lah hasil upaya manusia dalam memahami ling kungan semestanya. Karena itu, ia tak seharusnya dipisahkan dari agama. “Sains harus jadi bagian dari kehidupan, sejalan dengan Alquran,“ ujar pakar astronomi Indonesia, Dr Thomas Djamaluddin, dalam perbincangan dengan wartawan Republika, Devi A Oktavika.

Karena itu, menurut profesor riset astronomi-astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) ini, seharusnya tak ada klaim tentang kecocokan ilmu pengetahuan tertentu dengan ajaran agama. “Temuan-temuan sains adalah penjelasan bagi ayat-ayat Alquran, bukan pencocokan,“ tegasnya. Berikut petikan lengkap perbincangan dengan astronom yang juga anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama ini.
Dapatkah Anda menjelaskan teori modern tentang penciptaan semesta dan kesesuaiannya dengan Alquran?

Jadi, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surah al-Anbiyaa’ ayat 30, langit dan bumi berasal dari satu kesatuan. Ayat tersebut didukung oleh ayat 47 surah adzDzaariyaat yang berbunyi, “Dan, langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.“

Ayat kedua tersebut memperkuat ayat surah al-Anbiyaa’ dengan menjelaskan bahwa langit mengalami perluasan yang berarti perkembangan. Ada proses di sana. Para mufasir pada zaman dahulu mungkin belum sampai pada penafsiran tersebut karena belum ada bukti-bukti ilmiah yang membawa pemikiran manusia pada penafsiran tersebut.

Nah, itu yang kemudian dijelaskan oleh Teori Big Bang (Ledakan Dahsyat). Jadi, cara memahaminya bukan dengan mengatakan bahwa ayat Alquran tertentu cocok dengan Teori Big Bang. Bukan itu. Melainkan, bahwa ayat-ayat tersebut dijelaskan oleh Teori Big Bang menurut perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Karena, bisa saja kelak muncul teori baru yang menjelaskan ayat tersebut.

Jadi, menurut teori tersebut, langit dan bumi dulunya merupakan satu kesatuan yang kemudian dikembangkan oleh Allah. Dari proses evolusi bintang, terbentuklah matahari beserta tata planetnya, termasuk bumi kita. Jadi, bumi kita dulunya berasal dari satu materi dengan matahari dan bintang-bintang lain.

Peristiwa ledakan terjadi pada masa yang disebut t=0 dan menjadi awal mula perhitungan waktu. Materi awal yang terbentuk adalah hidrogen yang dalam proses evolusi bintang mengalami fusi atau reaksi nuklir yang menghasilkan helium dan selanjutnya membentuk pula unsur-unsur lain yang kini ada di alam semesta.

Dalam Teori Big Bang disebutkan bahwa proses terbentuknya semesta terdiri atas enam tahap. Dapatkah Anda jelaskan tahaptahap tersebut?

Tahapan yang enam itu tidak hanya disebutkan dalam Teori Big Bang, tetapi juga dalam sejumlah ayat Alquran tentang penciptaan semesta yang mengandung kata fii sittati ayyaam (dalam enam hari).
Namun, untuk memperdetail tahapan dalam enam hari itu, ayat 27-32 surah an-Nazi’at adalah dalil yang paling menjelaskan.

Pertama, ayat 27 yang berbunyi, “Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya,“ menunjukkan penciptaan langit sebagai tahap pertama pembangunan se mesta yang menurut perkembangan sains hari ini diyakini sebagai peristiwa Big Bang tersebut. Sedangkan, ayat selanjutnya, “Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,“ menunjukkan ekspansi yang dilakukan Allah. Jika dikaitkan dengan Teori Big Bang, tahap ini adalah tahap evolusi bintang.

Setelah itu, pada ayat 29, Allah berfirman, “Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang,“ menunjukkan proses terbentuknya matahari dan juga tata planet karena telah ada siang dan malam. Sementara, ayat 30, “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya,“ mengindikasikan proses evolusi yang terjadi di bumi, seperti pergeseran lempeng bumi.

Proses evolusi tersebut kemudian melahirkan benua-benua, hingga kemudian terjadi tahap selanjutnya, yakni evolusi kehidupan di bumi.
Allah mulai memancarkan air dan menciptakan makhluk pertama di bumi berupa tumbuh-tumbuhan. Tahap ini dijelaskan dalam ayat, “Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.“

Sebagai tahap akhir, “Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,“ menjadi simbol tahap penyempurnaan bumi oleh Allah SWT, sebelum akhirnya ia menciptakan binatang dan manusia. Tahap-tahap yang enam ini juga dijelaskan dalam beberapa ayat dan surah lain. Salah satunya adalah Fushshilat ayat 9-11.

Berbicara tentang evolusi, dapatkah kita katakan bahwa ia juga terjadi dalam pemikiran para ilmuwan dan juga mufasir Alquran?

Ya. Pemikiran ulama berevolusi sehingga ada pergeseran dalam memaknai atau menafsirkan Alquran sesuai dengan perkembangan yang ada. Konsep tentang sab’a samawaat atau “tujuh langit“, misalnya, dulu dimaknai secara geosentris. Yakni, sesuai posisi langit atau benda langit dari bumi. Sehingga, dahulu dikatakan bahwa bulan adalah langit pertama, Planet Merkurius langit kedua, Venus ketiga, Matahari keempat, disusul Mars, Yupiter, dan Saturnus.

Sedangkan, konsep yang sekarang memaknai samawaat sebagai galaksi sehingga mengarah pada langit yang tak terbatas. Hal itu merujuk pada kata sab’a (tujuh) yang dalam banyak ayat Alquran lainnya banyak digunakan untuk merujuk atau mengibaratkan sesuatu yang tak terhingga. Nah, inilah evolusi yang terjadi dalam dunia pemikiran.

Melihat kesinkronan antara nash-nash Islam dan sains dalam persoalan penciptaan alam semesta ini, apakah berarti keduanya sejajar?

Alquran dan ilmu pengetahuan adalah dua hal dengan domain berbeda. Alquran adalah satu hal yang mutlak dan tidak perlu diragukan kebenarannya. Sedangkan, ilmu pengetahuan merupakan hasil pemikiran manusia yang didasarkan atas bukti-bukti yang dapat diamati dengan kebenaran yang relatif.

Keduanya dapat dipersatukan dalam konteks tafsir. Karena itu, seperti saya katakan di muka, kita tidak boleh mengatakan bahwa temuan x sesuai dengan ayat x ataupun sebaliknya. Pengetahuan bukan untuk dicocokkan dengan Alquran, melainkan hanya untuk menjelaskan.

Bagaimana dengan kiprah ilmuwan Muslim sendiri di antara ilmuwan-ilmuwan dunia lainnya?

Saya kira, dalam sejarah sains sama saja. Peran dan kontribusi Muslim bagi astronomi dibahas sesuai dengan kontribusi yang mereka berikan. Selain pemikiran mengenai konsep-konsep astronomi, kontribusi tersebut juga dilihat dari karya tulis yang mereka hasilkan.

Dengan demikian, dunia mengakui kontribusi mereka sebagaimana mengakui kontribusi ilmuwan Barat atau non-Muslim.
Ada banyak tokoh Muslim yang menonjol dalam dunia astronomi, seperti al-Battani, yang menjelaskan tentang kemiringan poros bumi, musim di bumi, gerhana matahari, penampakan hilal, dan juga tentang tahun matahari yang terdiri atas 365 hari.

Selain itu, ada pula al-Faraghani yang menjelaskan tentang dasardasar astronomi, termasuk gerakan benda langit dan diameter bumi serta planet-planet lainnya. Juga Ibnu Hayyan yang dikenal sebagai Bapak Kimia menjelaskan tentang warna matahari, konsep bayangan, serta pelangi. Dan, banyak lagi astronom Muslim yang mewarnai sejarah astronomi.

Mengetahui betapa hebatnya muatan sains dalam Alquran, apa harapan Anda bagi umat Islam terkait itu?

Ada dua hal utama yang perlu dilakukan dan diperbaiki. Pertama, umat Islam harus menghilangkan dikotomi sains dan Islam. Selama ini, sains kerap dianggap produk Barat sehingga ada pemilahan mana sains Barat dan mana pengetahuan Islam. Padahal, seharusnya tidak demikian.

Sains bisa dibuktikan dengan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah, bukan dengan klaim bahwa ini sains milik Muslim dan ini milik nonMuslim. Sains dapat dikaji ulang oleh siapa pun tanpa memandang bangsa ataupun agama. Ia harus jadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan juga sejalan dengan Alquran.
Maka, tugas ilmuwan adalah untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan bagi maslahat manusia dan juga alam semesta.

Kedua, setelah menghapuskan dikotomi tersebut, senada dengan pesan Rasulullah SAW, saya berharap umat Islam terus belajar, termasuk mendalami ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena, sains adalah bagian dari cara kita memahami alam semesta. Sains adalah kontribusi manusia sepanjang masa.

ed: wachidah handasah