Benarkah Besi “Diturunkan” dari Langit?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RI

Pure iron chips with a high purity iron cube

Besi murni (gambar dari Wikipedia)

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan (“menurunkan”) besi yang mempunyai kekuatan, hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (QS Al-Hadid:25)

Dalam mengintegrasikan sains dan Alquran harus disadari perbedaan sifatnya. Alquran bersifat mutlak benarnya dan tidak akan berubah. Sedangkan sains terus berubah, dengan kebenaran yang relatif, bergantung data/model dan interpretasi atas data/model ilmiah yang ada. Jadi, Alquran tidak bisa disandingkan secara langsung dengan sains. Lalu bagaimana mengintegrasikannya? Gunakan tafsir yang sifatnya sama-sama relatif kebenarannya. Bergantung masa dan wawasan penafsirnya. Alquran ada tafsirnya. Sains pun ada tafsirnya. Tafsir Alquran bisa saja salah, demikian juga tafsir sains. Walau Alqurannya pasti benarnya. Jadi jangan terlalu terpaku pada salah satu tafsir.

Contoh, tentang besi. Alquran dalam QS Al-Hadid: 25 menyebut “anzala” untuk besi yang secara harfiah sering dimaknai “menurunkan”. Sehingga ada yang berpendapat bahwa berdasarkan QS 57: 25 tersebut dimaknai besi itu diturunkan dari langit berupa meteorit besi. Tetapi sesungguh makna “anzala” bukan sekadar “menurunkan”. Dalam bahasa Inggris “anzala” sering diterjemahkan juga dengan “reveal”, “memunculkan”, atau “mengungkapkan” dari yang tersembunyi menjadi tampak. Seperti halnya Alquran “diturunkan” bukan dalam makna fisis “turun” secara fisik dari ketinggian, tetapi dalam makna “diungkapkan”. Walau bisa juga dimaknai Alquran diturunkan secara kiasan.

Sains astronomi menyatakan materi asal bumi sama dengan materi asal matahari dan planet-planet. Di dalam kandungan materi asal matahari dan planet-planet sudah terdapat besi. Itu tafsir atas model sains tentang asal-usul tata surya. Jadi, secara sains diketahui sesungguhnya besi sudah ada di bumi sejak penciptaan tatasurya: matahari, planet-planet, asteroid, dan anggota tatasurya lainnya. Sedangkan meteorit besi hanya sebagian kecil dari kandungan besi di tatasurya, jauh lebih kecil dari kandungan besi di perut bumi.

Lalu bagaimana mengintegrasikan tafsirnya? Tafsir Kementerian Agama menggunakan ungkapan “Kami menciptakan besi”. Tetapi akan lebih tepat kalau “anzala” dimaknai “memunculkan”. Jadi disarankan tafsirnya menjadi, “Kami memunculkan besi …”. Besi yang terkandung dalam materi asal bumi “muncul” ke permukaan bumi dalam bentuk bijih besi setelah diolah di perut bumi dan dimuntahkan dalam proses letusan gunung bersama material tambang lainnya. Bijih besi itulah yang diolah oleh manusia untuk berbagai kebutuhan.

Intisari Khutbah Shalat Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Gerhana matahari cincin 2009 di Indonesia

[Inti sari khutbah shalat gerhana matahari cincin (GMC) di Siak, Riau, 26 Desember 2019 –Naskah bahasa Arab awal dan akhir tidak dituliskan).

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).

Jamaah Rahimakumullah,

Rasulullah SAW hanya sekali melaksanakan shalat gerhana matahari. Itu terjadi pada 27 Januari 632, awal Dzuqaidah 10 H, empat bulan sebelum Rasulullah SAW wafat. Saat itu terjadi gerhana matahari cincin yang melintasi bagian selatan Jazirah Arab. Di Madinah hanya terjadi gerhana matahari sebagian dengan kegelapan 77%.

Bayangkan suasana pagi itu di Madinah. Putra Rasulullah yang bernama Ibrahim wafat. Beberapa saat setelah matahari terbit mulailah terjadi gerhana. Di langit timur terlihat matahari tidak sempurna bulatnya. Bagian atasnya tampak menghitam yang makin lama hampir menghilangkan seluruh bundaran matahari. Orang-orang ketakutan dan mengaitkan gerhana matahari itu dengan wafatnya putra Rasulullah. Namun, Rasul membantahnya. Gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah.

Di dalam hadits Abu Burdah dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, dikisahkan peristiwa gerhana di Madinah:

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi SAW langsung berdiri terkejut dan merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau pergi ke masjid dan melakukan sholat yang panjang berdiri, ruku’, dan sujudnya. Setelah itu Nabi bersabda, “Gerhana ini adalah tanda-tanda dari Allah, bukan disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini terjadi supaya Allah menakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan-Nya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Rasullah SAW mengajarkan tauhid, tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan mitos. Gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Bukan pula karena matahari dimakan raksasa atau makhluk yang tak masuk akal. Tetapi gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah lah yang mencipkan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Setelah ilmu astronomi bertembang, diketahui bahwa gerhana matahari adalah bagian dari keteraturan sistem matahari-bulan-bumi. Bulan mengitari bumi, sementara bumi bersama bulan mengitari matahari. Pada saat bulan tepat berada di antara matahari dan bumi, terjadilah gerhana. Peredaran bulan mengitari bumi seperti itu dengan perubahan ketampakan bentuk bulan digunakan untuk perhitungan kalender. Hal itu diungkapkan di dalam Al-Quran surat Yunus:5.

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).

Ayat itu juga mengisyaratkan bahwa matahari dan bulan berbeda secara fisis. Matahari disebut dhiya’, bersinar. Sedangkan bulan disebut nuuran, bersinar. Sains – astronomi mengungkapkan bahwa matahari sesungguhnya sama dengan bintang-bintang lain. Ukurannya jauh lebih besar dari bumi, sekitar 1,3 juta kali besar bumi. Wujudnya berupa gas panas dengan reaksi nuklir di dalamnya. Suhu di dalamnya puluhan juta derajat. Suhu permukaannya ribuan derajat. Dengan panas itu, matahari menghangatkan tata surya, termasuk bumi.

Bulan disebut bercahaya, lembut tidak menyilaukan dan tidak panas. Bulan hanya memantulkan cahaya matahari. Karena perubahan posisinya selama mengitari bumi (manzilah), bentuknya tampak berubah. Dari sabit di awal bulan, menjadi setengah bundaran, dan purnama, lalu kembali mengecil sampai menjadi sabit kembali. Perubahan bentuk yang periodik digunakan untuk penentuan perhitungan bulan. Selama bumi mengitari matahari selama setahun, 12 kali bulan megitari bumi. Itu sebabnya satu tahun terdiri dari 12 bulan.

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah (QS 9:36)

Dengan keteraturan peredaran bulan mengitari bumi diperoleh konsep waktu bulanan. Di alam perubahan bulanan itu selaras dengan kalender qamariyah atau lunar calendar, seperti kalender hijriyah.  Dengan keteraturan peredaran bumi mengitari matahari diperoleh konsep waktu tahunan. Konsep tahunan juga tampak dengan perubahan musim secara periodik. Dari awal musim panas sampai musim panas berikutnya adalah periode satu tahun. Demikian juga dengan musim-musim yang lain. Perubahan musim selaras dengan kalender syamsiah atau solar calender, seperti kalender internasional yang berlaku saat ini.

Perubahan musim secara periodik sesungguhnya disebabkan karena kemiringan sumbu rotasi bumi. Kemiringan tersebut menyebabkan perubahan pemanasan belahan utara dan belahan selatan secara periodik. Kemiringan tersebut menyebabkan matahari tampak terbit dan terbenam berubah secara periodik. Pada saat belahan selatan bumi yang lebih banyak terpanasi pada akhir Desember, matahari tampak terbit dan terbenam paling selatan. Pada saat belahan utara bumi yang lebih banyak terpanasi pada akhir Juni, matahari tampak terbit dan terbenam paling utara. Itulah yang disebut di dalam Al-Quran adanya dua timur dan dua barat, karena timur dan barat sering ditandai dengan terbit dan terbenamnya matahari.

Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat. (QS 55:17)

Dengan perubahan pemanasan belahan bumi itu, maka terjadi perubahan tekanan udara. Selanjutnya perbedaan tekanan udara menyebabkan aliran angin. Kombinas pemanasan dan aliran angin, maka daerah pembentukan awan bergeser. Itulah yang menyebabkan musim hujan ketika angin dari utara mendorong daerah pembentukan awan ke wilayah Indonesia. Musim kemarau terjadi ketika angin bertiup dari selatan mendorong daerah pembentukan awan menjauhi wilayah Indonesia. Daerah sekitar ekuator akan mengalami dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau.

Jamaah Rahimakumulah,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran:190-191).

Hanya ulil albaab (orang-orang yang berfikir dengan iman) yang mau merenungi ayat-ayat Allah di alam, seperti fenomena karena konfigurasi bumi – bulan – matahari yang tadi dipaparkan. Allah menciptakan keteraturan itu sehingga manusia dapat mengambil manfaat untuk penentuan waktu serta pengaturan waktu untuk bertani dan kegiatan yang bergantung pada musim.

Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS Yaasiin: 37-40).

Walau tampak matahari dan bulan berjalan pada jalur yang sama sepanjang ekliptika, tidak mungkin keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya memang berbeda. Perjumpaan bulan dan matahari saat gerhana matahari hanyalah ketampakannya, ketika matahari tampak terhalang oleh bulan yang berada di antara matahari dan bumi. Gerhana matahari telah menjadi bagian perkembangan ilmu hisab untuk mengkalibrasi perhitungan peredaran bulan, sehingga awal bulan qamariyah kini bisa dihitung makin akurat.

Gerhana matahari cincin yang sebentar lagi kita saksikan saat ini bisa dihitung secara cermat sampai detiknya. Ketampakannya seperti cincin pada puncak gerhana juga bisa diprakirakan karena jarak bumi bulan yang lebih jauh dari rata-ratanya. Akibatnya bulan tampak lebih kecil dari ukuran piringan matahari. Sehingga piringan bulan hanya penutupi 94% piringan matahari, sisanya 6% tepian piringan matahari tampak seperti cincin.

Jamaah Rahimakumulah,

Sains menjelaskan fenomena yang sesungguhnya. Sains menghilangkan mitos dan meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah. Gerhana kita ambil hikmahnya, bahwa Allah menunjukkan kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya dengan fenomena itu. Keteraturan yang luar biasa yang Allah ciptakan memungkinkan manusia menghitung peredaran bulan untuk digunakan dalam perhitungan waktu dan digunakan untuk memprakirakan gerhana. Mari kita buktikan bahwa sebentar lagi matahari akan tertutup bagian tengahnya oleh bulan. Proses gerhana matahari cincin akan berlangung singkat namun ketampakan cincin cemerlang di langit sungguh mengagumkan. Subhanallah.

Jamaah Rahimakumulah,
Setelah kita melaksanakan shalat gerhana dan merenungi hikmah di balik itu, marilah kita akhiri khutbah ini dengan mohon ampunan dan mohon kekuatan untuk menjejaki kehidupan kita selanjutnya.

…. (Doa)

Khutbah Jumat: Janji Hakiki Makhluk pada Khaliqnya dan Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

 

Khutbah Jumat 11 Mei 2018 di Masjid Salman ITB. Janji makhluk pada khaliqnya sudah dinyatakan saat alam diciptakan. Bukti ketaatan makhluk pada khaliqnya ditunjukkan dengan gerak orbit benda-benda langit yang disimulasikan dengan ibadah thawaf. Terkait dengan penyambutan Ramadhan 1439, diungkapkan juga upaya penyatuan kalender Islam dengan disepakatinya Rekomendasi Jakarta 2017.

Kajian Isra’ Mi’raj di Masjid UI

Kajian Isra’ Mi’raj di Masjid UI, Depok, pada 15 April 2018 oleh Dr. Eng. Yunus Daud, MSc (Dosen UI) dan Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (LAPAN). Uraian Isra’ Mi’raj bisa dibaca di blog saya.

Video rekamannya dapat disimak pada video berikut (dari FB Masjid UI), khususnya pemaparan oleh T. Djamaluddin mulai t= 1:01:00.

Catatan Astronomis Perjalanan Tim Tafsir Ilmi (3): Piramid Giza dan Eksplorasi Paceklik Zaman Nabi Yusuf

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Anggota Tim Tafsir Ilmi, LPMQ, Kementerian Agama

Catatan: Tim Tafsir Ilmi Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama RI melakukan kunjungan ke Yordania dan Mesir  20-27 April 2017 untuk memperkenalkan karya-karya tafsir ilmi Kemenag RI (termasuk seminar Sains-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo) sambil mengumpulkan bahan untuk tafsir ilmi dalam bentuk video dokumenter terkait ayat-ayat Al-Quran dan situs-situs sejarah.

Kisah Fir’aun disebut di dalam Al-Quran pada zaman Nabi Musa. Sebenarnya sebutan Fir’aun adalah sebutan umum untuk raja-raja Mesir kuno. Peninggalan para Fir’aun salah satunya adalah piramid, yaitu bangunan tempat penyimpanan mummi (pengawetan jenazah) Fir’aun. Dalam menjelajahi situs-situs peninggalan Mesir kuno, ada hal yang menarik secara astronomi, yaitu struktur tiga piramid Giza di Kairo, Mesir.

 

Struktur Tiga Piramid Giza Simbolisasi Rasi Orion

Piramid Giza di Kairo Mesir merupakan komplek tiga piramid besar yang dulunya berada di tepi sungai Nil saat banjir. Hal itu juga masih bisa dikenali dari peta Google Earth yang menampaknya piramid Giza berada di daerah gurun yang berbatasan dengan daerah subur yang mendapat pengairan dari sungai Nil. Struktur tiga piramid besar tersebut diduga kuat terkait dengan struktur tiga bintang di rasi Orion. Apa makna rasi Orion pada simbolisasi tiga piramid tersebut? Analisis astronomis sangat menarik terkait dengan struktur tiga piramid tersebut.

Google Earth menunjukkan kompleks piramid Giza berada di kawasan gurun yang berbatasan dengan daerah subur di tepi sungai Nil.

Peta tiga piramid Giza — dari Wikipedia

Piramid terbesar (Khufu). Dibelakangnya ada piramid Khafre.

Piramid tersusun dari batu-batu besar. Dulunya piramid dilapisi tembok halus, seperti yang tersisa di puncak piramid Khafre.

Piramid Khafre (terbesar ke dua) masih menyisakan puncak piramid yang masih tertutup tembok pelapis.

Piramid Menkaure (piramid terkecil di antara rangkaian tiga piramid Giza).

Tiga piramid Giza. Dari kiri Khufu, Khafre, dan Menkaure.

Tiga struktur piramid tersebut diduga kuat terkait dengan simbolisasi tiga bintang utama yang menjadi ciri rasi Orion.

Kalau dari sisi Barat kita lihat ke arah Timur (seperti halnya kita melihat ufuk Timur), struktur tiga piramid tersebut bentuknya mirip tiga bintang rasi Orion di langit Timur.

Mengapa simbolisasi rasi Orion yang digunakan? Saat shubuh, rasi Orion mulai meninggi di ufuk Timur pada Bulan Oktober-November. Itulah awal musim tanam pada zaman Mesir kuno. Musim pada saat itu secara umum terbagi menjadi tiga:

  • Juni – September adalah musim hujan di hulu yang menyebabkan banjir sungai Nil.
  • Oktober – Januari adalah masa surut banjir, saat mulai menanam.
  • Februari – Mei adalah musim kering, saatnya panen.

Jadi rasi Orion (seperti juga di Jawa) dijadikan sebagai pertanda awal musim tanam, ketika banjir sungai Nil mulai surut.

 

Eksplorasi Paceklik Zaman Nabi Yusuf

Jauh sebelum Nabi Musa, di Mesir ada Nabi Yusuf yang mampu menafsirkan mimpi Raja Mesir untuk memberikan peringatan musim kering yang bakal melanda Mesir. Tentu saja mimpi dan tafsir mimpi oleh Nabi Yusuf adalah petunjuk yang diberikan Allah. Terkait dengan perilaku singai Nil dan musim di Mesir, menarik juga untuk mengkaji tafsir ilmi peristiwa anomali iklim pada zaman Nabi Yusuf tersebut.

Dengan memahami musim dan perilaku sungai Nil, diduga kuat tajuh tahun paceklik di Mesir pada zaman Yusuf terjadi karena pola banjir sungai Nil mengalami anomali. Kemungkinan yang terjadi, musim hujan lebih panjang dari biasanya sehingga musim tanam dan panen bergeser yang menyebabkan persediaan bahan makanan berkurang. Kemungkinan lainnya, musim hujan lebih pendek dan banjir tidak cukup menggenangi wilayah pertanian sehingga menggangu jadwal tanam atau bahkan menyebabkan tanaman mengalami kekeringan karena tidak cukup cadangan air tanahnya. Selama tujuh tahun dua kemungkinan tersebut bisa saja berturut-turut terjadi atau silih berganti. Dari sudut pandang anomali iklim di Mesir, perilaku musim hujan di hulu sungai Nil sangat terkait dengan perilaku pemanasan di Samudera Hindia. Ketika laut di pantai Timur Afrika lebih hangat dari rata-rata, curah hujan di hulu sungai Nil meningkat dan mungkin lebih panjang. Sebaliknya, saat laut di pantai Timur Afrika lebih dingin dari rata-rata, curah hujan di hulu sungai Nil menjadi berkurang dan lama musim hujan menjadi lebih pendek.

Catatan Astronomis Perjalanan Tim Tafsir Ilmi (2): Petra — Pahatan Bangunan di Bukit Pasir

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Anggota Tim Tafsir Ilmi, LPMQ, Kementerian Agama

Catatan: Tim Tafsir Ilmi Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama RI melakukan kunjungan ke Yordania dan Mesir  20-27 April 2017 untuk memperkenalkan karya-karya tafsir ilmi Kemenag RI (termasuk seminar Sains-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo) sambil mengumpulkan bahan untuk tafsir ilmi dalam bentuk video dokumenter terkait ayat-ayat Al-Quran dan situs-situs sejarah.

Petra, situs arkeologi di Yordania menyimpan kisah ummat terdahulu. Di dalam Al-Quran surat Al-Hijr bercerita tentang kaum Al-Hijr, yang memahat gunung atau bukit pasir menjadi bangunan. Di Petra, bangunan yang dipahatkan di bukit pasir digunakan untuk berbagai fungsi, termasuk untuk penyembahan dan pemakaman.

Hasil penelitian astro-arkeologi tentang struktur bangunan di bukit-bukit pasir, mengindikasikan beberapa bangunan khusus terkait dengan ritual penyembahan, arahnya dibuat sedemikian rupa mengikuti posisi matahari pada saat matahari terbenam di titik paling Selatan pada musim dingin.

Catatan Astronomis Perjalanan Tim Tafsir Ilmi (1): Gua Ashabul Kahfi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Anggota Tim Tafsir Ilmi, LPMQ, Kementerian Agama

Catatan: Tim Tafsir Ilmi Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama RI melakukan kunjungan ke Yordania dan Mesir  20-27 April 2017 untuk memperkenalkan karya-karya tafsir ilmi Kemenag RI (termasuk seminar Sains-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo) sambil mengumpulkan bahan untuk tafsir ilmi dalam bentuk video dokumenter terkait ayat-ayat Al-Quran dan situs-situs sejarah.

Al-Quran surat Al-Kahfi menceritakan tentang tujuh (mungkin juga tiga atau lima) pemuda yang menjaga keimanannya pada awal Abad Masehi yang bersembunyi di dalam gua yang kemudian ditidurkan Allah selama 300 tahun syamsiah (solar calendar) atau 309 tahun qamariyah (lunar calendar). Di Amman, Yordania, ditemukan gua yang berdasarkan ciri-ciri fisik gua serta sisa-sisa barang dan tulang-belulang diyakini sebagai gua tempat para pemuda Ashabul Kahfi tersebut.

QS 18-17

20170421_113929

DSCN0071

Gua pemuda Al-Kahfi dicirikan dari arahnya. Sebelah kanannya arah matahari terbit (Timur) dan sebelah kirinya arah matahari terbenam (Barat). Pintu guanya sempit, tetapi ruangan di dalamnya cukup luas. DSCN0084

Barang-barang peninggalan di dalam gua

DSCN0078

Lubang berkaca untuk melihat tulang belulang manusia yang ditemukan di dalam gua

DSCN0083

Sisa tulang belulang manusia

QS 18-21

DSCN0090

Dulu orang-orang membangunkan masjid di atasnya

QS 18-25

“Tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun” mengandung makna hitungan astronomis. Angka 300 tahun adalah menurut hitungan kalender matahari (syamsiah) dan 309 tahun adalah menurut hitungan kalender bulan (qamariyah, lunar calendar).

300 tahun syamsiah = 300 x 365,2422 hari = 109.573 hari.

309 tahun qamariyah = 309 x 12 x 29,53 hari = 109.497 hari.

Artinya, mereka ditidurkan Allah sekitar 109.500 hari. Itulah suatu mukjizat, untuk menunjukkan kekuasaan Allah.

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #8 Habis) Isyarat Al-Quran

al-quran-mushafearth

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RI

Penggemar dongeng FE — bumi datar — mencoba mencari pembenaran dari ayat-ayat Al-Quran, tanpa memahami makna ayatnya dan konteksnya. Ini contoh (terjemah) ayat- ayat yang dijadikan pembenaran:

(Q.S. Al Baqarah 2: 22) Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui
(Q.S Al-Hijr 15: 19), “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
(Q.S Al Kahfi 18 : 47) Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.
(Q.S Al Anbiyaa 21: 32) Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.
(Q.S Yaasiin 36 :38) dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q.S Yaasiin 36 :40) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(Q.S Az-Zumar 39 :5) Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(Q.S. Qaaf 50 : 7) Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,
(Q.S. Ar-Rahman 55 : 33) Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) PENJURU langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.
(Q.S. An Naba’ 78: 6-7) Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?
(Q.S. Al Ghaasyiyah 88: 20) Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Untuk memahami Al-Quran perlu memahami makna ayat dan konteksnya:

QS 2:22 firaasyan maknanya hamparan tempat istirahat, bukan dalam makna keseluruhan bumi datar.
QS 15:19 madadnahaa maknanya kami hamparkan bumi sebagai dataran, namun ada juga gunung-gunung. Hamparan datar dalam konteks di sana pun ada juga yang bergunung-gunung.
QS 18:47 baarizatan maknanya kami ratakan (semuanya runtuh rata dengan tanah).
QS 21:32 saqfan maknanya (langit sebagai) atap atau yang melingkupi, bukan dalam makna sebagai kubah.
QS 36:38 tajrii maknanya berjalan/berlari, karena dalam skala galaksi matahari bersama ratusan milyar bintang bergerak mengorbit pusat galaksi.
QS 36:40 fii falakiy yasbahuun maknanya (matahari dan bulan) bergerak di orbit masing-masing, matahari mengorbit pusat galaksi dan bulan mengorbit bumi. Justru ini membantah konsep FE yang anggap matahari dan bulan pada orbit yang sama di kubah langit.
QS 39:5 yukawwiru maknanya menutup (malam ke siang dan siang ke malam) yang artinya ada pergantian akibat rotasi bumi, bukan seperti konsep FE yang mataharinya berjalan dari satu daerah ke daerah lainnya.
QS 50:5 madadnahaa maknanya kami hamparkan sebagai dataran, namun ada juga gunung-gunung.
QS 55:33 aqthaari maknanya wilayah (langit), artinya ruang yang bisa dilintasi, bukan seperti kubah ala FE.
QS 78:6 mihaadan maknanya hamparan tempat istirahat, bukan keseluruhan permukaan bumi, karena pada ayat selanjutnya disebutkan juga ada gunung-gunung.
QS 88:20 suthihat maknanya dihamparkan sebagai dataran, selain ada gunung yang ditegakkan pada ayat sebelumnya (QS 88:19).

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (4): Sekitar Sains dalam Peradaban Islam

Wawancara Manusia Indonesia  seputar sains dalam peradaban Islam bisa disimak pada  video berikut:

 

Pengamatan Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Parigi

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Total

Alhamdulillah, waktu gerhana matahari total (GMT) yang sekian lama dinanti akhirnya datang juga, Rabu 9 Maret 2019. Satu kekhawatir soal cuaca pun sirna. Pagi itu di lokasi Sail Tomini, Parigi, Sulawesi Tengah, cuaca cukup cerah dengan sedikit awan. Pagi itu dijadwalkan pengamatan GMT akan diawali dengan shalat gerhana dengan imam Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawar, Menteri Agama 2001-2004, dan khatib Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin. Lokasinya di area Sail Tomoni yang saat itu juga menjadi lokasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Sulawesi Tengah.

DSC_0185

Lokasi MTQ (area dengan tenda setengah lingkaran) menjadi lokasi shalat gerhana dan pengamatan publik GMT

Jadwal gerhana di lokasi Sail Tomini: Kontak tertama pukul 07.28 WITa, total 08.38.37 – 08.40.00 (totalitas sekitar 1,5 menit), dan gerhana berakhir pukul 10.01. Pukul 07.00 jamaah sudah berdatangan. Sekitar 500 kacamata gerhana sumbangan LAPAN dibagikan kepada para jamaah. Sebelum shalat dan pengamatan gerhana, Prof. Said Agil menjelaskan tata cara shalat gerhana. Lalu saya menjelaskan waktu gerhana dan tata cara pengamatan gerhana. Saya jelaskan bahwa melihat gerhana matahari secara langsung aman, asal berhati-hati dan jangan lama-lama. Kacamata gerhana digunakan jangan lama-lama dan bisa bergantian.

Pukul 07.30 mulai tampak jelas sisi kanan atas matahari mulai tergelapi oleh bulan. Saya menginformasikan kepada para jamaah bahwa gerhana sudah berlangsung dan agar para jamaah bersiap untuk shalat gerhana. Shalat dimulai pukul 07.37 sampai 08.08. Setelah itu saya menyampaikan khutbah shalat gerhana sampai sekitar pukul 08.20 dan dilanjutkan pengamatan gerhana. Panitia juga menyiapkan layar lebar yang menampilkan perkembangan gerhana. Masyarakat mengamati gerhana secara langung dengan kacamata gerhana dan melihat citra gerhana dari kamera panitia di layar lebar. Sampai akhirnya pukul 08.37 matahari makin tipis, walau tetap menyilaukan, dan suasana makin redup.

2016-03-09 07.32.19

Awal gerhana sesuai jadwal dibuktikan dulu dengan pengamatan (terlihat gerhana dimulai dari bagian kanan atas piringan matahari). Filter floppy disk sebagai alternatif kacamata matahari (Foto TD).

Saya menyampaikan khutbah shalat gerhana matahari (Foto Humas LAPAN)

IMG_4260Seusai jadi khatib, saya bersiap mengabadikan gerhana dengan kamera DSLR biasa. (Foto Humas LAPAN)

DSC_0192

Fase gerhana matahari sebagian dipotret dengan kamera DSLR dengan filter bekas floppy disk. (Foto TD)

2016-03-09 08.24.00

Seusai shalat gerhana, pukul 08.24 WITa. Layar lebar menampilkan perkembangan gerhana. (Foto TD)

2016-03-09 08.36.24

Detik-detik menjelang total. Matahari makin tipis (tampak di layar lebar), walau masih menyilaukan (tampak cahaya matahari di atas). Suasana makin redup. (Foto TD)

Akhirnya, pukul 08.38.37 tampak bulan mulai menutupi matahari. Matahari tampak seperti cincin permata (Diamond ring) karena menyisakan celah cahaya terang di lembah bulan, sebelum bulan menutup sempurna. Lalu terdengar teriakan orang banyak, “Allahu Akbar (Allah Mahabesar) … Subhanallahu (Allah Mahasuci)”. Orang-orang bertakbir dan bertasbih berulang-ulang. Di langit terpampang korona matahari yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Tak terasa mata saya basah, karena terharu luar biasa kembali berkesempatan untuk ketiga kalinya (18 Maret 1988 di Bangka, 24 Oktober 1995 di Tahuna, dan 9 Maret 2016 di Parigi) menyaksikan korona matahari yang proses munculnya luar biasa indahnya. Bersama masyarakat, di tengah temaram kegelapan GMT, tak henti bibir bertakbir dan bertasbih, sambil berupaya memotret dengan kamera DSLR. Planet Venus tampak cemerlang di langit. Ternyata bukan hanya planet Venus, planet Merkurius pun terekam di foto yang  saya ambil.

DSC_0203

Korona matahari tampak indah di langit, seolah muncul tiba-tiba setelah matahari sempurna tertutup oleh bulan. (Foto TD)

Korona-Merkurius-Venus

Suasana temaram dengan korona matahari yang sangat indah dipenuhi suara takbir dan tasbih berulang-ulang. Tampak juga planet Merkurius (titik redup ditunjuk tanda panah merah) dan planet Venus (titik terang ditunjuk tanda panah merah). (Foto TD)

Di lokasi Sail Tomini, Parigi, GMT hanya berlangsung 1,5 menit. Tetapi waktu yang singkat itu sungguh memberi kesan mendalam. GMT akhirnya berakhir dengan munculnya cicin permata terakhir di kiri atas piringan matahari. Walau baru secercah cahaya matahari yang menembus lembah bulan, cahayanya cukup menyilaukan. Akhirnya suasana kembali terang dan proses gerhana berakhir pukul 10.01 WITa.

DSC_0210

Akhir GMT ditandai dengan “cincin permata” terakhir di sisi kiri atas matahari (terlihat di layar lebar). Walau baru secercah, cahayanya cukup menyilaukan (tampak cahaya menyilaukan di atas). (Foto TD)

DSC_0212

Suasana kembali terang pasca GMT. Walau matahari masih dalam kondisi gerhana matahari sebagian, cahayanya sangat menyilaukan. Tanpa filter, matahari tidak menampakkan proses gerhana sebagian karena terlalu silau. (Foto TD)

DSC_0214

Gerhana matahari sebagian pasca-total, dipotret dengan filter film rongent. (Foto TD)

Selain memotret dengan kamera DSLR biasa untuk menangkap suasana, Tim LAPAN di Parigi merekam seluruh  proses gerhana dengan menggunakan teleskop. Berikut hasil pengamatan dengan teleskop: beberapa rangkaian gerhana sebagian pra-total, munculnya cincin permata pertama, GMT, cincin permata terakhir, dan gerhana sebagian pasca-total.

2016-03-09 09.06.20

Proses gerhana diamati dengan teleskop dan direkam ke laptop. (Foto TD)

Pra-total 1

Matahari dengan beberapa bintik matahari mulai tertutupi bulan dari sisi kanan atas. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pra-total 2

Gerhana matahari sebagian pra-total. (Foto dati Video Tim LAPAN)

Pra-total 3

Gerhana sebagian pra-total (Foto dari Video Tim LAPAN)

Awal total

Cincin permata (diamond ring) pertama, awal GMT. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Total

Korona matahari saat GMT. Terlihat juga ada prominensa (“lidah api”) di sisi kiri (utara). (Foto dari Video Tim LAPAN)

Akhir - Total

Cincin permata terakhir, mengakhiri GMT. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 1

Gerhana matahari sebagian pasca-total. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 2

Gerhana matahari sebagian pasca-total. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 3

Bulan meninggalkan piringan matahari dari sisi kiri bawah. (Foto dari Video Tim LAPAN)