Khutbah Jumat: Janji Hakiki Makhluk pada Khaliqnya dan Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

 

Khutbah Jumat 11 Mei 2018 di Masjid Salman ITB. Janji makhluk pada khaliqnya sudah dinyatakan saat alam diciptakan. Bukti ketaatan makhluk pada khaliqnya ditunjukkan dengan gerak orbit benda-benda langit yang disimulasikan dengan ibadah thawaf. Terkait dengan penyambutan Ramadhan 1439, diungkapkan juga upaya penyatuan kalender Islam dengan disepakatinya Rekomendasi Jakarta 2017.

Iklan

Kajian Isra’ Mi’raj di Masjid UI

Kajian Isra’ Mi’raj di Masjid UI, Depok, pada 15 April 2018 oleh Dr. Eng. Yunus Daud, MSc (Dosen UI) dan Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (LAPAN). Uraian Isra’ Mi’raj bisa dibaca di blog saya.

Video rekamannya dapat disimak pada video berikut (dari FB Masjid UI), khususnya pemaparan oleh T. Djamaluddin mulai t= 1:01:00.

Catatan Astronomis Perjalanan Tim Tafsir Ilmi (3): Piramid Giza dan Eksplorasi Paceklik Zaman Nabi Yusuf

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Anggota Tim Tafsir Ilmi, LPMQ, Kementerian Agama

Catatan: Tim Tafsir Ilmi Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama RI melakukan kunjungan ke Yordania dan Mesir  20-27 April 2017 untuk memperkenalkan karya-karya tafsir ilmi Kemenag RI (termasuk seminar Sains-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo) sambil mengumpulkan bahan untuk tafsir ilmi dalam bentuk video dokumenter terkait ayat-ayat Al-Quran dan situs-situs sejarah.

Kisah Fir’aun disebut di dalam Al-Quran pada zaman Nabi Musa. Sebenarnya sebutan Fir’aun adalah sebutan umum untuk raja-raja Mesir kuno. Peninggalan para Fir’aun salah satunya adalah piramid, yaitu bangunan tempat penyimpanan mummi (pengawetan jenazah) Fir’aun. Dalam menjelajahi situs-situs peninggalan Mesir kuno, ada hal yang menarik secara astronomi, yaitu struktur tiga piramid Giza di Kairo, Mesir.

 

Struktur Tiga Piramid Giza Simbolisasi Rasi Orion

Piramid Giza di Kairo Mesir merupakan komplek tiga piramid besar yang dulunya berada di tepi sungai Nil saat banjir. Hal itu juga masih bisa dikenali dari peta Google Earth yang menampaknya piramid Giza berada di daerah gurun yang berbatasan dengan daerah subur yang mendapat pengairan dari sungai Nil. Struktur tiga piramid besar tersebut diduga kuat terkait dengan struktur tiga bintang di rasi Orion. Apa makna rasi Orion pada simbolisasi tiga piramid tersebut? Analisis astronomis sangat menarik terkait dengan struktur tiga piramid tersebut.

Google Earth menunjukkan kompleks piramid Giza berada di kawasan gurun yang berbatasan dengan daerah subur di tepi sungai Nil.

Peta tiga piramid Giza — dari Wikipedia

Piramid terbesar (Khufu). Dibelakangnya ada piramid Khafre.

Piramid tersusun dari batu-batu besar. Dulunya piramid dilapisi tembok halus, seperti yang tersisa di puncak piramid Khafre.

Piramid Khafre (terbesar ke dua) masih menyisakan puncak piramid yang masih tertutup tembok pelapis.

Piramid Menkaure (piramid terkecil di antara rangkaian tiga piramid Giza).

Tiga piramid Giza. Dari kiri Khufu, Khafre, dan Menkaure.

Tiga struktur piramid tersebut diduga kuat terkait dengan simbolisasi tiga bintang utama yang menjadi ciri rasi Orion.

Kalau dari sisi Barat kita lihat ke arah Timur (seperti halnya kita melihat ufuk Timur), struktur tiga piramid tersebut bentuknya mirip tiga bintang rasi Orion di langit Timur.

Mengapa simbolisasi rasi Orion yang digunakan? Saat shubuh, rasi Orion mulai meninggi di ufuk Timur pada Bulan Oktober-November. Itulah awal musim tanam pada zaman Mesir kuno. Musim pada saat itu secara umum terbagi menjadi tiga:

  • Juni – September adalah musim hujan di hulu yang menyebabkan banjir sungai Nil.
  • Oktober – Januari adalah masa surut banjir, saat mulai menanam.
  • Februari – Mei adalah musim kering, saatnya panen.

Jadi rasi Orion (seperti juga di Jawa) dijadikan sebagai pertanda awal musim tanam, ketika banjir sungai Nil mulai surut.

 

Eksplorasi Paceklik Zaman Nabi Yusuf

Jauh sebelum Nabi Musa, di Mesir ada Nabi Yusuf yang mampu menafsirkan mimpi Raja Mesir untuk memberikan peringatan musim kering yang bakal melanda Mesir. Tentu saja mimpi dan tafsir mimpi oleh Nabi Yusuf adalah petunjuk yang diberikan Allah. Terkait dengan perilaku singai Nil dan musim di Mesir, menarik juga untuk mengkaji tafsir ilmi peristiwa anomali iklim pada zaman Nabi Yusuf tersebut.

Dengan memahami musim dan perilaku sungai Nil, diduga kuat tajuh tahun paceklik di Mesir pada zaman Yusuf terjadi karena pola banjir sungai Nil mengalami anomali. Kemungkinan yang terjadi, musim hujan lebih panjang dari biasanya sehingga musim tanam dan panen bergeser yang menyebabkan persediaan bahan makanan berkurang. Kemungkinan lainnya, musim hujan lebih pendek dan banjir tidak cukup menggenangi wilayah pertanian sehingga menggangu jadwal tanam atau bahkan menyebabkan tanaman mengalami kekeringan karena tidak cukup cadangan air tanahnya. Selama tujuh tahun dua kemungkinan tersebut bisa saja berturut-turut terjadi atau silih berganti. Dari sudut pandang anomali iklim di Mesir, perilaku musim hujan di hulu sungai Nil sangat terkait dengan perilaku pemanasan di Samudera Hindia. Ketika laut di pantai Timur Afrika lebih hangat dari rata-rata, curah hujan di hulu sungai Nil meningkat dan mungkin lebih panjang. Sebaliknya, saat laut di pantai Timur Afrika lebih dingin dari rata-rata, curah hujan di hulu sungai Nil menjadi berkurang dan lama musim hujan menjadi lebih pendek.

Catatan Astronomis Perjalanan Tim Tafsir Ilmi (2): Petra — Pahatan Bangunan di Bukit Pasir

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Anggota Tim Tafsir Ilmi, LPMQ, Kementerian Agama

Catatan: Tim Tafsir Ilmi Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama RI melakukan kunjungan ke Yordania dan Mesir  20-27 April 2017 untuk memperkenalkan karya-karya tafsir ilmi Kemenag RI (termasuk seminar Sains-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo) sambil mengumpulkan bahan untuk tafsir ilmi dalam bentuk video dokumenter terkait ayat-ayat Al-Quran dan situs-situs sejarah.

Petra, situs arkeologi di Yordania menyimpan kisah ummat terdahulu. Di dalam Al-Quran surat Al-Hijr bercerita tentang kaum Al-Hijr, yang memahat gunung atau bukit pasir menjadi bangunan. Di Petra, bangunan yang dipahatkan di bukit pasir digunakan untuk berbagai fungsi, termasuk untuk penyembahan dan pemakaman.

Hasil penelitian astro-arkeologi tentang struktur bangunan di bukit-bukit pasir, mengindikasikan beberapa bangunan khusus terkait dengan ritual penyembahan, arahnya dibuat sedemikian rupa mengikuti posisi matahari pada saat matahari terbenam di titik paling Selatan pada musim dingin.

Catatan Astronomis Perjalanan Tim Tafsir Ilmi (1): Gua Ashabul Kahfi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Anggota Tim Tafsir Ilmi, LPMQ, Kementerian Agama

Catatan: Tim Tafsir Ilmi Lembaga Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama RI melakukan kunjungan ke Yordania dan Mesir  20-27 April 2017 untuk memperkenalkan karya-karya tafsir ilmi Kemenag RI (termasuk seminar Sains-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo) sambil mengumpulkan bahan untuk tafsir ilmi dalam bentuk video dokumenter terkait ayat-ayat Al-Quran dan situs-situs sejarah.

Al-Quran surat Al-Kahfi menceritakan tentang tujuh (mungkin juga tiga atau lima) pemuda yang menjaga keimanannya pada awal Abad Masehi yang bersembunyi di dalam gua yang kemudian ditidurkan Allah selama 300 tahun syamsiah (solar calendar) atau 309 tahun qamariyah (lunar calendar). Di Amman, Yordania, ditemukan gua yang berdasarkan ciri-ciri fisik gua serta sisa-sisa barang dan tulang-belulang diyakini sebagai gua tempat para pemuda Ashabul Kahfi tersebut.

QS 18-17

20170421_113929

DSCN0071

Gua pemuda Al-Kahfi dicirikan dari arahnya. Sebelah kanannya arah matahari terbit (Timur) dan sebelah kirinya arah matahari terbenam (Barat). Pintu guanya sempit, tetapi ruangan di dalamnya cukup luas. DSCN0084

Barang-barang peninggalan di dalam gua

DSCN0078

Lubang berkaca untuk melihat tulang belulang manusia yang ditemukan di dalam gua

DSCN0083

Sisa tulang belulang manusia

QS 18-21

DSCN0090

Dulu orang-orang membangunkan masjid di atasnya

QS 18-25

“Tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun” mengandung makna hitungan astronomis. Angka 300 tahun adalah menurut hitungan kalender matahari (syamsiah) dan 309 tahun adalah menurut hitungan kalender bulan (qamariyah, lunar calendar).

300 tahun syamsiah = 300 x 365,2422 hari = 109.573 hari.

309 tahun qamariyah = 309 x 12 x 29,53 hari = 109.497 hari.

Artinya, mereka ditidurkan Allah sekitar 109.500 hari. Itulah suatu mukjizat, untuk menunjukkan kekuasaan Allah.

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #8 Habis) Isyarat Al-Quran

al-quran-mushafearth

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RI

Penggemar dongeng FE — bumi datar — mencoba mencari pembenaran dari ayat-ayat Al-Quran, tanpa memahami makna ayatnya dan konteksnya. Ini contoh (terjemah) ayat- ayat yang dijadikan pembenaran:

(Q.S. Al Baqarah 2: 22) Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui
(Q.S Al-Hijr 15: 19), “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
(Q.S Al Kahfi 18 : 47) Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.
(Q.S Al Anbiyaa 21: 32) Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.
(Q.S Yaasiin 36 :38) dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q.S Yaasiin 36 :40) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(Q.S Az-Zumar 39 :5) Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(Q.S. Qaaf 50 : 7) Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,
(Q.S. Ar-Rahman 55 : 33) Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) PENJURU langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.
(Q.S. An Naba’ 78: 6-7) Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?
(Q.S. Al Ghaasyiyah 88: 20) Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Untuk memahami Al-Quran perlu memahami makna ayat dan konteksnya:

QS 2:22 firaasyan maknanya hamparan tempat istirahat, bukan dalam makna keseluruhan bumi datar.
QS 15:19 madadnahaa maknanya kami hamparkan bumi sebagai dataran, namun ada juga gunung-gunung. Hamparan datar dalam konteks di sana pun ada juga yang bergunung-gunung.
QS 18:47 baarizatan maknanya kami ratakan (semuanya runtuh rata dengan tanah).
QS 21:32 saqfan maknanya (langit sebagai) atap atau yang melingkupi, bukan dalam makna sebagai kubah.
QS 36:38 tajrii maknanya berjalan/berlari, karena dalam skala galaksi matahari bersama ratusan milyar bintang bergerak mengorbit pusat galaksi.
QS 36:40 fii falakiy yasbahuun maknanya (matahari dan bulan) bergerak di orbit masing-masing, matahari mengorbit pusat galaksi dan bulan mengorbit bumi. Justru ini membantah konsep FE yang anggap matahari dan bulan pada orbit yang sama di kubah langit.
QS 39:5 yukawwiru maknanya menutup (malam ke siang dan siang ke malam) yang artinya ada pergantian akibat rotasi bumi, bukan seperti konsep FE yang mataharinya berjalan dari satu daerah ke daerah lainnya.
QS 50:5 madadnahaa maknanya kami hamparkan sebagai dataran, namun ada juga gunung-gunung.
QS 55:33 aqthaari maknanya wilayah (langit), artinya ruang yang bisa dilintasi, bukan seperti kubah ala FE.
QS 78:6 mihaadan maknanya hamparan tempat istirahat, bukan keseluruhan permukaan bumi, karena pada ayat selanjutnya disebutkan juga ada gunung-gunung.
QS 88:20 suthihat maknanya dihamparkan sebagai dataran, selain ada gunung yang ditegakkan pada ayat sebelumnya (QS 88:19).

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (4): Sekitar Sains dalam Peradaban Islam

Wawancara Manusia Indonesia  seputar sains dalam peradaban Islam bisa disimak pada  video berikut: