Suhu Panas pada Musim Pancaroba di Indonesia

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Suhu panas pada musim pancaroba (peralihan kemarau ke musim hujan sekitar Oktober dan peralihan musim hujan ke kemarau sekitar April-Mei) sering menjadi viral dengan informasi yang keliru dan bercampur hoax. Suhu panas tersebut bukanlah gelombang panas atau cuaca ekstrem. Itu adalah fenomena tahunan yang normal, seperti ditunjukkan pada data klimatologi di atas.

Suhu panas di banyak kota di Indonesia disebabkan 3 faktor utama:
1. Posisi matahari berada di atas Indonesia (deklinasi matahari = lintang tempat). Sering juga disebut “hari tanpa bayangan”. Pada saat itu, pancaran sinar matahari pada tengah hari tegak lurus, sehingga penerimaan panas menjadi maksimum.
2. Liputan awan masih minim. Pada saat musim pancaroba, liputan awan tidak terlalu banyak, sehingga pemanasan permukaan bumi juga bisa maksimum.
3. Efek pendinginan dari angin yang berasal dari daerah musim dingin sudah berhenti. Pada musim kemarau terjadi efek pendinginan dengan embusan angin dari Australia yang sedang musim dingin. Sementara saat musim hujan terjadi efek pendinginan dari embusan angin dari Asia yang sedang musim dingin

Faktor lain yang menambah efek pemanasan adalah urban heat island (pulau panas perkotaan) akibat berkurangnya pepohonan, bertambahnya bangunan, dan peningkatan emisi karbon dioksida (CO2) dari transportasi, industri, dan aktivitas rumah tangga. Karbon dioksida di atmosfer menahan pelepasan panas ke antariksa. Akibatnya terjadi peningkatan suhu udara permukaan.

 

Memahami Efek MJO pada Cuaca Indonesia

Zona pembentukan awan lintas tropik (ITZC) mulai bergerak ke utara, pertanda musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju musim kemarau di Indonesia. (Dari situs sadewa.lapan.go.id)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Akhir April 2019 kabar cuaca ekstrem dengan banjir dan tanah longsor kembali mencuat di pemberitaan nasional. Diawali dengan banjir besar di Bengkulu. Padahal saat ini sudah mulai memasuki akhir musim hujan. Saat musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju kemarau. Pola daerah ITCZ (Inter-Tropical Convergence Zone — zona pembentukan awan lintas tropik) sudah mulai bergerak ke utara (lihat gambar ITCZ di atas). Mengapa terjadi lagi cuaca ekstrem. BMKG memberikan peringatan cuaca ekstrem karena fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation). Apakah MJO dan apa dampaknya?

Cuaca di Indonesia secara reguler dipengaruhi oleh siklus angin pasat karena perubahan pemanasan matahari akibat kemiringan sumbu rotasi bumi. Kita mengenal perubahan musim hujan – pancaroba – kemarau – pancaroba – hujan, dan seterusnya sebagai siklus tahunan. Kadang-kadang terjadi kekeringan atau musim hujan panjang akibat pemanasan di lautan Pasifik (dikenal sebagai fenomena El-Nino/La-Nina) atau pemanasan di samudra Hindia (dikenal sebagai fenomena Indian Dipole-Mode — IOD). Fenomena El-Nino/La-Nina dan IOD biasanya berulang setiap 3 – 7 tahunan. Ada juga variasi yang disebut “kemarau basah” (banyak hujan saat kemarau) karena efek pemanasan di perairan sekitar Indonesia. Saat ini dikenal juga fenomena MJO yang dampaknya sekitar sepekan yang bisa berulang sekitar 2 bulanan bila fasenya masih aktif. Dampaknya bisa berupa penguatan pembentukan awan yang memicu cuaca ektrem atau pengurangan pembentukan awan yang menyebabkan jeda hujan saat musim hujan.

Dengan mempelajari dinamika atmosfer (pola pergerakan awan dan angin) di sepanjang daerah tropik, mulai dari Afrika, samudera Hindia, benua maritim Indonesia, sampai Pasifik, diketahui ternyata ada pola periodik aktivitas atmosfer ekuator yang dikenal MJO. MJO adalah kondisi dinamika atmosfer periodik yang bergerak sepanjang wilayah tropik dari barat ke timur dengan periode sekitar 40-50 harian. Namun tidak selalu aktif. Contohnya, selama Maret sampai pertengahan April 2019 fenomena MJO dalam kondisi tenang, jadi tidak berdampak apa pun. Namun, sejak akhir April MJO mulai aktif ditandai dengan penguatan pembentukan awan di Samudera Hindia yang bergeser ke wilayah benua maritim Indonesia. Saat ini penguatan pembentukan awan berada di wilayah Indonesia, kemudian terus bergeser ke timur menuju Pasifik. Sampai kapan? Fenomena MJO biasanya berlangsung sekitar sepekan. Berikut ini prakiraan efek MJO pada penguatan pembentukan awan di Indonesia yang diprakirakan sampai awal Mei 2019.

MJO yang berdampak pada penguatan pembentukan awan (warna biru) diprakirakan berlangsung sampai awal Mei. Setelah itu ada kemungkinan disusul penekanan pembentukan awan (warna merah). (Dari situs NOAA).

Lapisan Batas Udara Permukaan

20190226_120654

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Menjelang mendarat di Jakarta (dari Pontianak, 26 Feb 2019), mari belajar sains atmosfer dan kondisi lingkungan. Dari ketinggian sekitar 3 km, saya potret ke arah awan di atas pantai utara Jakarta – Bekasi. Ada batas kelabu dan awan putih. Batas itu disebut Planetary/Atmospheric Boundary Layer (lapisan batas udara permukaan). Ketinggian batas itu sekitar 1,5 – 2 km. Di bawah batas ini udara masih hangat karena efek pemanasan dari permukaan bumi. Warna kelabu adalah polusi udara yang menyebabkan kita sering kehilangan langit biru. Di atas batas itu adalah daerah pembentukan awan dengan suhu udara cukup dingin untuk proses kondensasi uap air membentuk awan.

Petisi Komunitas Dongeng “Bumi Datar (Flat Earth, FE)”

Komunitas Dongeng “Bumi Datar (Flat Earth, FE)” mempetisi Kepala LAPAN. Ini tanggapan saya:
Sumber utama “Dongeng Bumi Datar” (Flat Earth, FE) adalah ketidakfahaman akan gravitasi. Konsekuensi adanya gravitasi adalah bulatnya bumi (karena gravitasi dirinya saat pembentukan tata surya), adanya planet-planet yang mengorbit matahari, adanya bulan dan satelit yang mengorbit bumi, terjaganya air laut dan seisi bumi tetap berada di permukaan bumi, terjaganya atmosfer sehingga manusia bisa bernafas dan pesawat bisa terbang dengan gaya aerodinamis, dan … sekian banyak lagi fenomena yang menarik untuk kita pelajari. Ayo belajar fisika agar tidak tertipu dengan dongeng bumi datar (FE).

Tanggapan lengkap ada di blog ini.

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #8 Habis) Isyarat Al-Quran

al-quran-mushafearth

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RI

Penggemar dongeng FE — bumi datar — mencoba mencari pembenaran dari ayat-ayat Al-Quran, tanpa memahami makna ayatnya dan konteksnya. Ini contoh (terjemah) ayat- ayat yang dijadikan pembenaran:

(Q.S. Al Baqarah 2: 22) Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui
(Q.S Al-Hijr 15: 19), “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
(Q.S Al Kahfi 18 : 47) Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.
(Q.S Al Anbiyaa 21: 32) Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.
(Q.S Yaasiin 36 :38) dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Q.S Yaasiin 36 :40) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
(Q.S Az-Zumar 39 :5) Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(Q.S. Qaaf 50 : 7) Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,
(Q.S. Ar-Rahman 55 : 33) Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) PENJURU langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.
(Q.S. An Naba’ 78: 6-7) Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?
(Q.S. Al Ghaasyiyah 88: 20) Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Untuk memahami Al-Quran perlu memahami makna ayat dan konteksnya:

QS 2:22 firaasyan maknanya hamparan tempat istirahat, bukan dalam makna keseluruhan bumi datar.
QS 15:19 madadnahaa maknanya kami hamparkan bumi sebagai dataran, namun ada juga gunung-gunung. Hamparan datar dalam konteks di sana pun ada juga yang bergunung-gunung.
QS 18:47 baarizatan maknanya kami ratakan (semuanya runtuh rata dengan tanah).
QS 21:32 saqfan maknanya (langit sebagai) atap atau yang melingkupi, bukan dalam makna sebagai kubah.
QS 36:38 tajrii maknanya berjalan/berlari, karena dalam skala galaksi matahari bersama ratusan milyar bintang bergerak mengorbit pusat galaksi.
QS 36:40 fii falakiy yasbahuun maknanya (matahari dan bulan) bergerak di orbit masing-masing, matahari mengorbit pusat galaksi dan bulan mengorbit bumi. Justru ini membantah konsep FE yang anggap matahari dan bulan pada orbit yang sama di kubah langit.
QS 39:5 yukawwiru maknanya menutup (malam ke siang dan siang ke malam) yang artinya ada pergantian akibat rotasi bumi, bukan seperti konsep FE yang mataharinya berjalan dari satu daerah ke daerah lainnya.
QS 50:5 madadnahaa maknanya kami hamparkan sebagai dataran, namun ada juga gunung-gunung.
QS 55:33 aqthaari maknanya wilayah (langit), artinya ruang yang bisa dilintasi, bukan seperti kubah ala FE.
QS 78:6 mihaadan maknanya hamparan tempat istirahat, bukan keseluruhan permukaan bumi, karena pada ayat selanjutnya disebutkan juga ada gunung-gunung.
QS 88:20 suthihat maknanya dihamparkan sebagai dataran, selain ada gunung yang ditegakkan pada ayat sebelumnya (QS 88:19).

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #7) Antartika-Kutub Selatan

antartika

Peta Antartika di Kutub Selatan dari Wikipedia

Gambar-gambar lainnya diambil dari Google Earth dan internet

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Para penggemar dongeng FE (Flat Earth — bumi datar) umumnya mempertanyakan tiga hal yang dianggap aneh: perhitungan gerhana, gravitasi bumi (termasuk keberadaan satelit yang bergantung pada gravitasi bumi), dan keberadaan benua Antartika di Kutub Selatan bumi. Saya sudah memberi jawaban atas pertanyaan soal gerhana dan pembuktiannya. Juga soal gravitasi. Benarkah ada benua Antartika di Kutub Selatan Bumi?

Untuk membuktikannya, kita gunakan data satelit yang sudah direkonstruksi dalam Google Earth. Kita berangkat dari Kantor LAPAN di Rawamangun Jakarta, karena peta Google sudah banyak digunakan dan secara umum akurasinya cukup baik, walau itu bukan data terbaru (data sekitar 2 tahun lalu).

lapan-jakarta

Lalu kita zoom-out untuk melihat Jawa dan Indonesia-Australia-Antarika. Grid Koordinat sengaja ditampilkan supaya jelas posisinya.

jawa

bumi

Terlihat Antarika berada di Selatan Jawa dan Australia. Antariksa berada di Kutub Selatan, bisa di lihat di grid koordinatnya. Coba kita lihat dari sisi Selatan bumi. Terlihat jelas benua yang berselimut es.

antartika-1

Kalau dilihat dari sudut lainnya, akan terlihat juga Australia berseberangan dengan Amerika Selatan. Di sisi lain akan terlihat juga Afrika Selatan.

antarika-2

antarika-3

Seperti apa di Antartika? Berikut video Antartika dalam 5 menit:

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #6) Gravitasi dan Orbit Satelit

hukum-kepler

Gravitasi menyebabkan bumi dan planet-planet berbentuk bola dan ada gerak mengorbit matahari

Ilustrasi diambil dari internet

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Salah satu fenomena yang tidak difahami para penggemar dongeng FE (Flat Earth — bumi datar) adalah gravitasi. Padahal gravitasilah yang menyebabkan bumi menjadi bulat, bulan dan satelit mengitari bumi, bumi dan planet-planet mengitari matahari, serta matahari dan ratusan milyar bintang mengitari pusat galaksi. Ketidakfahaman mereka pada gravitasi inilah salah satu akar masalah mereka mempercayai dongeng FE yang tak masuk akal dan tak ada bukti ilmiahnya.

Gravitasi terjadi karena adanya massa (kandungan materi suatu benda). Newton merumuskannya sebagai gaya tarik antara dua benda, dengan rumus

hukum-gravitasi

dengan F adalah gaya, m adalah massa masing-masing benda, dan r adalah jarak antara dua benda tersebut. Dengan rumusan tersebut bisa diturunkan rumusan gerak orbit satelit, bulan, dan planet-planet.

Einstein dalam teori relativitas umum merumuskan gravitasi sebagai kelengkungan ruang-waktu (ruang dan waktu bersama dalam 4 dimensi). Dengan teori relativitas umum tersebut, bukan hanya orbit planet bisa dijelaskan, tetapi juga pergeseran orbit Merkurius dan gerak di sekitar objek sangat masif (seperti Black Hole atau Lubang Hitam) dapat dijelaskan.

gravitasi-einstein

Ilustrasi kelengkungan ruang-waktu akibat gravitasi bumi yang menyebabkan satelit dan bulan mengorbit bumi.

Matahari dan planet-planetnya (termasuk bumi) terbentuk dari awan antar-bintang sekitar 4,5 milyar tahun yang lalu. Gravitasi pada awan antar-bintang itu, dengan adanya pemicu, mulai berkontraksi (memadat) yang membentuk matahari di intinya dan bakal planet di piringan sekitarnya. Kemudian planet-planet itu terbentuk dari kontraksi (pemadatan) di piringan gas tersebut. Kontraksi bekerja atas dasar gravitasi dirinya (self-gravitation), membentuk matahari, bumi, dan planet-planet berbentuk bulat, karena gravitasi bersifat konsetrik terhadap pusat massanya.

Kalau kita lihat rumusnya, besar gaya bergantung pada massa bendanya. Artinya, gayanya baru terasa kalau massanya sangat besar. Dua batu besar yang berdampingan, gaya tarik menariknya terlalu kecil untuk menggerakkan dua batu itu untuk saling mendekat, masih kalah daripada gaya tarik bumi. Mengapa? Karena bumi massanya sangat luar biasa besarnya, 6 x 10^21 (6.000.000.000.000.000.000.000) ton.

Apa dampaknya dengan adanya gravitasi bumi? Setiap benda yang kita lemparkan di permukaan bumi akan jatuh kembali ke bumi karena ada gaya tarik bumi bumi atau gravitasi bumi. Batu yang kita lemparkan akan jatuh pada suatu jarak tertentu, bergantung pada kecepatan (atau kekuatan) lontaran. Agar bisa melontar lebih jauh, prajurit yang berperang menggunakan meriam. Agar lebih jauh lagi digunakan roket, misalnya roket balistik antar-benua. Bila menggunakan roket yang lebih kuat lagi, maka objek yang dilontarkan tidak lagi jatuh ke permukaan bumi, melainkan mengitari atau mengorbit bumi. Prinsip itulah yang digunakan dalam peluncuran satelit.

gravitasi-orbit

Satelit mengorbit, prinsipnya sama dengan bulan mengorbit bumi dan planet-planet mengorbit matahari. Hukum gravitasi Newton bisa diturunkan rumusnya untuk menjelaskan tiga hukum Kepler tentang sifat-sifat orbit benda langit.

Hukum Kepler 1: Setiap planet mengorbit matahari berbentuk elips, dengan matahari berada di salah satu titik fokusnya. Hal yang sama beraku untuk bulan dan satelit yang mengorbit bumi.

kepler-1Hukum Kepler 2: Pada selang waktu yang sama, planet menyapu luas daerah yang sama. Itu sebabnya, ketika berada dekat matahari (perihelion) planet mengorbit lebih cepat daripada ketika berada jauh dari matahari (aphelion). Hukum ini pun berlaku untuk bulan dan satelit bumi.

kepler-2

Hukum Kepler 3: Untuk semua planet dan benda-benda langit lainnya, kuadrat periode orbitnya sebanding dengan setengah sumbu panjangnya dipangkatkan tiga.

kepler-3

Pengetahuan hukum Kepler 3 ini digunakan untuk menempatkan satelit agar tetap berada di titik tertentu agar periode orbitnya sama dengan periode rotasi bumi 24 jam. Kalau dihitung, maka didapat ketinggian 36.000 km. Satelit yang berada di titik yang tetap itu dinamakan satelit orbit geostasioner (tetap terhadap bumi, GSO). Satelit di orbit geostasioner digunakan untuk pengamatan cuaca (misalnya satelit Himawari) dan satelit komunikasi (misalnya satelit Palapa, Telkom, dan BRISat).

himawari-8

Satelit Himawari tetap berada di atas Pasifik memotret cuaca di bumi setiap 10 menit.

palapa-d

Satelit komunikasi Palapa D mengorbit pada ketinggian 36.000 km tetap di atas Kalimantan

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/