Catatan dari Udara: Kisah Sungai, Hutan, Pulau, dan Awan dalam Perjalanan dari Jayapura – Jakarta

T. Djamaluddin

LAPAN

2014-03-21 12.40.11

Pantai Utara Papua, sesaat setelah lepas landas dari Jayapura

Penerbangan siang hari selama 5 jam non-stop pada 21 Maret 2014 dari Jayapura (Papua) ke Jakarta saya gunakan untuk mengamati awan, pulau, sungai, hutan, dan kota di bawah. Dari ketinggian rata-rata sekitar 8 – 10 km menarik juga merenungi aspek fisis fenomena yang saya lihat, selain mengagumi keindahannya. Saya memang selalu memilih tempat duduk di samping jendela untuk sekadar mengamati dan kalau mungkin mengambil gambar dengan kamera saku.

2014-03-21 12.46.53

Sungai yang berkelak-kelok di tengah hamparan hutan lebat menggambarkan kontur wilayah yang berbukit-bukit. Air sungai mengalir dari pegunungan menuju laut akan memilih jalur yang bergantung pada kontur wilayah. Air memilih daerah lembah yang lebih rendah. Ketika aliran air terhalang bukit, maka alirannya akan berbelok-belok di lembah di antara bukit atau kontur tanah yang lebih rendah.

2014-03-21 12.56.35

Awan kok suka berbaris ya. Awan terbentuk karena naiknya uap air dan bertahan pada ketinggian tertentu lalu berkondensasi (menggumpal) mengikuti pola dinamika (pergerakan) atmosfer pada ketinggian tersebut. Pola dinamika yang teratur bisa membentuk awan bergumpal-gumpal dalam pola barisan.

2014-03-21 13.09.35

Awan memanjang di atas Pulau Yapen, di Utara Papua.

2014-03-21 13.40.06

Awan di atas semenanjung sebelah Barat Fakfak.

Mengapa awan rendah cenderung berkumpul di atas daratan pulau? Awan mengikuti angin. Pada siang hari daratan lebih cepat panas, sehingga tekanannya lebih rendah daripada lautan. Bertiuplah angin laut, yaitu perpindahan udara dari laut ke darat. Uap air dari laut terbawa ke arah darat bertemu dengan udara dingin di atas daratan. Jadilah awan rendah berkumpul di atas daratan. Semakin sore, awan semakin banyak. Itu sebabnya mendung cenderung terjadi pada sore.

2014-03-21 14.13.14

Bandara Ambon terlihat dari ketinggian 10 km, dikelilingi awan.

2014-03-21 15.23.15

Kombinasi pulau dengan terumbu karangnya, dengan hiasan awan putih yang indah.

2014-03-21 15.23.31

Tiga jenis awan: awan Stratus berupa lembaran relatif tipis (atas), awan Kumulus yang bergumpal kecil-kecil putih, dan awan Kumulo Nimbus yang menjulang sebagai penghasil hujan lebat. Awan ini dijumpai di laut antara Sulawesi dan Kalimantan, sebagai bagian dari daerah ITCZ (Intertropical Convergence Zone — Zona konvergensi tropis), yaitu daerah pertemuan angin dari belahan Selatan yang relatif hangat dengan angin dari Utara yang relatif dingin. Awan di daerah ITCZ dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global, bukan seperti awan rendah di atas pulau-pulau.

2014-03-21 15.25.44

Awan Kumulo Nimbus yang menjulang selalu dihindari pilot. Kalau pesawat terpaksa memasukinya, pesawat akan mengalami guncangan karena awan itu sedang mengangkat udara hangat dengan aktif sekali.

2014-03-21 17.01.50

Petak-petak sawah menghijau menjelang mendarat di Jakarta. Lukisan indah yang tak boleh dilewatkan.

Pantauan Satelit Mengungkap Penyebaran Debu Letusan Gunung Kelud

T. Djamaluddin

LAPAN

20140214_wib_a

Gung Kelud di Jawa Timur meletus pada malam Jumat 13 Februari pukul 22.50 WIB. Citra satelit MTSAT yang dipantau LAPAN menjelaskan penyebaran debu Gunung Kelud sampai ke Jawa Barat. Citra satelitr MTSAT di atas menggambarkan pergerakan awan dari Timur ke Barat. Awan debu terpantau di Jawa Timur pada pukul 00.00, lalu menyebar ke arah Jawa Barat menuju Lautan Hindia. Analisis lebih rinci dilakukan oleh Tim Peneliti Sains Atmosfer LAPAN Bandung. Berikut analisisnya:

Waktu kejadian letusan sekitar pukul 22.50 WIB berdasarkan informasi dari PVBMG. Satu jam kemudian debu mencapai hingga ketinggian tropopause (16 – 17 km). Berdasarkan pantauan satelit MTSAT-2 yang dipantau LAPAN Bandung, debu vulkanik menyebar dalam arah horizontal dengan radius 100 km satu jam setelah kejadian letusan. Tiga jam kemudian melebar ke arah barat dengan radius mencapai sekitar 300 km. Sebaran debu vulkanik dibawa oleh angin ke arah Barat dengan kecepatan 83 km/jam berdasarkan hasil analisis data MTSAT-2 dan pemodelan atmosfer yang dikembangkan oleh Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN. Sehingga pada Jumat 14 Feb 2014 pukul 07 WIB debu semburan letusan Gunung Kelud sudah sampai di wilayah Jawa Barat.

Sesaat setelah letusan, pada pukul 23.00 belum terlihat awan debu di atas Gunung Kelud (tanda segi tiga).

Debu Kelud1

Pada pukul 00.00 (pukul 24.00) awan debu (warna biru) terpantau pada suhu puncak sekitar 200 K atau lebih rendah. Artinya, ketinggiannya sekitar 10 km atau lebih.

Debu Kelud2

Analisis model atmosfer, pada ketinggian sekitar tropopause (sekitar 16 km) arah angin ke arah Barat menuju Barat Daya.

Angin Tropopause

Akibatnya, awan debu menyebar ke arah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.  Kemudian debu secara perlahan mulai turun pada siang harinya. Jadi, debu yang jatuh di Jawa Barat disebabkan oleh awan debu yang menyebar pada lapisan atas atmosfer. Di lihat dari citra satelit, tampaknya kecil kemungkinan debu Gunung Kelud jatuh di Jakarta.

Debu Kelud3

Debu Kelud4

Data lidar (pengukur keberadaan awan dan debu) di satelit CALIPSO mengungkapkan, debu letusan Gunung Kelud mencapai ketinggian sekitar 20 km. Artinya, itu mencapai stratosfer bawah. Debu yang mencapai stratosfer akan bertahan lama karena tidak ada proses awan dan hujan yang membersihkan debu-debu di atmosfer. Sebagin debu yang tidak mencapai stratosfer telah turun menghujani Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Dari pengalaman sebelumnya, debu letusan gunung Galunggung 1982 dan Gunung Pinatubo 1991 bertahan lebih dari 2 tahun. Walau pun tak sebesar Pinatubo, debu Kelud juga tampaknya akan bertahan cukup lama di stratosfer.

kelud_cal_2014044(Sumber http://earthobservatory.nasa.gov/IOTD/view.php?id=83144)

Angin di atmosfer bawah mengarah ke arah Timur. Angin di atmosfer bawah menjelaskan penyebaran debu Gunung Kelud sampai juga ke Madura.

Angin 14 Feb 2014

MJO Pengaruhi Perilaku Pembentukan Awan di Indonesia: Potensi Pengurangan Hujan Januari 2014

T. Djamaluddin

LAPAN

Awan 22 Des 2013-sore

20140125_wib_b

(Bandingkan citra awan 22 Desember  2013 dan 25 Januari  2014 — dari pantauan LAPAN)

Setelah Desember 2013 dan pertengahan Januari 2014 kita mengalami musim hujan yang cukup membasahi dan membanjiri sebagian wilayah Indonesia, ada peluang akhir Januari 2014 hujan akan berkurang. Mengapa? Faktor yang paling berpengaruh dengan banyaknya hujan pada bulan Desember 2013 dan pertengahan Januari 2014 dan potensi pengurangan hujan pada akhir Januari 2014 adalah fenomena MJO (Madden Julian Oscillation).

MJO adalah fenomena periodik dinamika interaksi laut-atmosfer di wilayah tropis yang mempengaruhi aktivitas pembentukan awan dan parameter cuaca lainnya. Periodenya sekitar 30-60 hari. Fenomena MJO bergerak dari Barat ke arah Timur. Pada fase aktif MJO, ada fase peningkatan konveksi pembentukan awan dan fase pengurangan pembentukan awan. Pada diagram berikut ini terlihat bahwa selama Desember 2013 dan pertengahan Januari 2014 di wilayah Indonesia (bujur 100 E – 140 E) mengalami fase peningkatan pembentukan awan (warna biru) dan pada akhir Januari 2014 diprakirakan akan mengalami pengurangan pembentukan awan (warna coklat-kuning) yang berpotensi pengurangan hujan. Namun, yang perlu diingat, pengurangan hujan tidak berarti pengurangan banjir, karena banjir terkait juga dengan daya dukung lingkungan yang makin rusak. Dengan hujan kecil pun kadang banjir terjadi. Jadi tetap waspada banjir selama musim hujan ini. Hanya saja, dengan adanya pengurangan aktivitas konveksi pembentukan awan ada peluang juga banjir berkurang. Sedikit melegakan dan memberi kesempatan untuk segera berbenah dulu. (Data MJO dari http://www.cpc.ncep.noaa.gov/).

MJO 25 Jan 2014Selama Desember 2013 sampai pertengahan Januari 2014 wilayah Indonesia (100 E – 140 E) mengalami penguatan pembentukan awan (warna biru). Pada Awal Januari 2014 sempat ada tanda-tanda pengurangan pembentukan awan, namun ternyata kembali terjadi penguatan pada pertengahan Januari 2014.

MJO Prediksi Jan 2014-c

Diprakirakan akhir Januari 2014 MJO menekan aktivitas pembentukan awan.

MJO Prediksi Jan 2014-b

Pada akhir Januari 2014 Indonesia diprakirakan mengalami pengurangan pembentukan awan (warna coklat-kuning) yang diprakirakan akan berlanjut sampai awal Februari 2014.

Memahami Badai Tropis Dahsyat Haiyan

T. Djamaluddin

Deputi Sains (Membawahi Pusat Sains Atmosfer), LAPAN

Haiyan_2013-11-07_0420Z

Citra badai super Haiyan (dari NASA).

Badai tropis dahsyat (super typhoon) Haiyan baru saja meluluhlantakkan Filipina pada dini hari 8 November 2013 dengan jumlah korban jiwa ribuan orang. Dengan embusan angin mencapai 315 km/jam (hampir 3 kali kecepatan mobil tercepat di jalan tol) disertai hujan deras, bisa kita fahami dampaknya mirip tsunami. Bagaimana bisa terjadi? Hangatnya lautan Pasifik di Timur Laut Papua disertai dinamika atmosfer di sekitarnya menjadi bibit pertumbuhan badai tropis ini. Mari kita fahami mekanismenya.

Mekanisme terjadinya badai tropis sudah saya jelaskan di blog saya ini. Secara umum badai tropis terjadi karena terbentuknya daerah tekanan rendah yang dipicu permukaan air laut yang hangat. Selanjutnya, daerah tekanan rendah itu berkembang menjadi badai tropis yang makin kuat kemudian meluruh lagi, bergantung pada dinamika atmosfer di wilayah tersebut.

Bibit badai tropis Haiyan terbentuk pada 2 November di lautan Pasifik sebelah Timur Laut Papua yang memang lebih hangat. Inilah yang menjadi alasan badai tropis masih berada di Utara ekuator walau matahari sudah berada di belahan Selatan.

SST Okt-Nov 2013

Data suhu muka laut menghangat di Timur Laut Papua (Data: http://www.esrl.noaa.gov/psd/map/clim/sst.shtml).

Daerah tekanan rendah di Timur Laut Papua kemudian berkembang menjadi badai tropis yang kekuatannya terus bertambah. Puncaknya terjadi saat melintasi Filipina pada 8 November dini hari. Menurut Pusat Peringatan Topan AS (JTWC) di Hawai, kekuatan embusannya mencapai 379 km/jam (hampir 3 kali lebih cepat dari mobil tercepat di jalan tol). Jadi bisa dibayangkan dampaknya pun luar biasa. Berikut ini jejak pertumbuhan dan pergerakannya.

Haiyan-Track weather.com.ph

Jejak badai tropis Haiyan sejak daerah tekanan rendah (Depresi Tropis) sampai menjadi badai (Sumber: weather.com.ph)

Pergerakan badai tropis bisa diikuti dari citra satelit MTSAT yang dipantau LAPAN. Berikut ini pertumbuhan dan pergerakannya ditunjukkan pada rangkaian citra awan sejak 2 November 2013 (klik citra untuk menampilkan animasinya). Perhatikan pertumbuhan badai dimulai dari Timur Laut Papua (tepi kanan agak atas):

20131102_wib_a

20131102_wib_b

20131103_wib_a

20131103_wib_b

20131104_wib_a

20131104_wib_b

20131105_wib_a

20131105_wib_b

20131106_wib_a

20131106_wib_b

20131107_wib_a

20131107_wib_b

20131108_wib_a

Inilah puncak kekuatan badai dengan hujan sangat deras dan angin luar biasa kencangnya, terjadi dini hari ketika melintasi Filipina. Awan yang disimbolkan dengan warna merah adalah awan yang sangat tebal yang mencurahkan hujan sangat deras. Selepas Filipina, badai mulai melemah.

20131108_wib_b

20131109_wib_a

20131109_wib_b

20131110_wib_a

Memahami Hujan di Akhir Pancaroba dan Potensi Kemarau Basah 2013

T. Djamaluddin

Deputi Sains, LAPAN

Membawahi Pusat Sains Atmosfer, LAPAN

Awan 30 Mei 2013 siang

Awan 30 Mei 2013 malam

(Data satelit cuaca MTSAT yang dikompilasi LAPAN, klik untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awan)

Sampai akhir Mei hujan masih mengguyur banyak wilayah di Indonesia. Lalu kapan akan memasuki kemarau?

Indeks Monsson Mei 2013

Angin 31 mei 2013

Secara umum, pola angin di Indonesia sudah mengarah ke musim kemarau. Indeks monsoon Indo-Australia sudah negatif yang artinya angin mulai bertiup dari arah Timur menuju ke Barat, lalu berbelok ke Utara. Pola angin seperti itu mendorong ITCZ (Intertropical Convergence Zone, zona konvergensi antartropik) ke arah Utara. Itu artinya gugusan besar awan mulai bergerak ke Utara yang menggindikasikan musim kemarau segera mulai. Namun mengapa hujan masih terus mengguyur?

TRMM-Mei 2013

(Anomali Curah Hujan selama Mei 2013, dari TRMM NASA)

Data satelit pemantau curah hujan, TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) NASA (lihat gambar di atas) memang menunjukkan selama bulan Mei 2013 wilayah Indonesia lebih banyak hujan daripada biasanya (ditandai dengan warna hijau-biru). Masih seringnya terbentuknya daerah tekanan rendah di sekitar Indonesia (lihat peta angin) juga memicu daerah pembentukan awan yang cukup intensif mencurahkan hujan. Mengapa itu bisa terjadi?

SST akhir Mei 2013

(Dari http://www.ncdc.noaa.gov/oa/climate/research/sst/weekly-sst.php )

Suhu permukaan laut sekitar Indonesia yang lebih hangat dari biasanya (ditandai dengan warna kuning-coklat pada gambar di atas) memicu penguapan yang lebih intensif dan memicu terbentuknya daerah tekanan rendah. Itulah yang menyebabkan pembentukan awan masih cukup aktif dan hujan masih mengguyur wilayah Indonesia.  Lalu apakah berlanjut pada musim kemarau mendatang?

Nino34-2013-BoM Australia

IOD-2013-BoM Australia

Prakiraan suhu permukaan laut Pasifik (daerah pantau NINO 3.4.) sampai akhir tahun 2013 menunjukkan dalam keadaan normal. Sementara suhu permukaan samudera Hindia yang diindikasi dengan indeks IOD (Indian Ocean Dipole) menunjukkan wilayah laut Indonesia lebih hangat daripada samudra Hindia Barat. Maknanya, potensi pembentukan awan akan lebih banyak daripada biasanya di wilayah Indonesia. Dengan kata lain, potensi kemarau basah seperti 2010 akan berulang.

Memahami Hujan di Musim Pancaroba April 2013

T. Djamaluddin

Deputi Sains (membawahi Pusat Sains Atmosfer) LAPAN

Awan 10 April 2013

Liputan awan 10 April 2013, data dari BoM Australia

Setelah Maret 2013 dirasakan sangat terik,  April kembali basah. Menurut laporan BNPB, sejak awal April sampai 10 April ada 16 daerah yang mengalami bencana banjir, terutama di sekitar Bengawan Solo Jawa Timur.  Ada pertanyaan masyarakat, mengapa pada musim pancaroba masih hujan dan menyebabkan bencana banjir?

Indeks monsson 10 April 2013

Indeks Monsoon Indo-Australia, data dari NOAA

Memang, dilihat dari parameter dinamika atmosfer, saat ini angin mulai beralih arah dari Timur ke Barat seperti ditunjukkan pada indeks monsoon Indo-Australia  di atas. Artinya, gugusan awan mestinya mulai beralih ke Utara sehingga di sebagian besar wilayah Indonesia (khususnya di Selatan ekuator) mulai memasuki musim pancaroba. Pancaroba adalah musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Tetapi harus difahami, bahwa pada musim peralihan tidak berati tidak ada hujan. Hujan masih mungkin turun. Tetapi mengapa hujan saat ini seperti hujan musim penghujan yang cukup deras dan berdampak banjir di beberapa daerah?

Indeks MJO sd 10 April 2013

Indeks MJO, data dari NOAA

Awan 7 April 2013 siang

Awan 7 April 2013 malam

Liputan awan 7 April siang dan malam, Data dari LAPAN (klik untuk menampilkan animasi pergerakan awannya)

Pola hujan di wilayah Indonesia bukan hanya dipengaruhi oleh peralihan gugusan awan oleh angin pasat yang pola regulernya diindikasikan dengan indeks monsoon Indo-Australia, tetapi juga oleh pola periodik MJO (Madden-Julian Oscillation). MJO adalah kondisi periodik sekitar 2 bulanan yang mempengaruhi aktivitas konveksi pembentukan awan. Ada fase aktif dan fase penurunan konveksi pembentukan awan. Maret lalu, wilayah Indonesia (bujur 90 – 140 E, lihat gambar Indeks MJO di atas) mengalami fase penurunan pembentukan awan (disimbolkan dengan warna kuning coklat).  Itulah sebabnya kita merasakan panas yang sangat terik karena liputan awan berkurang ditambah posisi matahari di sekitar ekuator. Kemudian mulai awal April wilayah Indonesia mengalami fase aktif pembentukan awan (disimbolkan dengan warna biru) sehingga hampir seluruh wilayah Indonesia diliputi awan (lihat animasi liputan awan di atas). Di beberapa wilayah awannya sangat tebal sehingga mencurahkan hujan lebat dan menyebabkan banjir.

Prakiraan indeks MJO sampai akhir April 2013

Prakiraan MJO sampai akhir April, data dari NOAA

Prakiraan aktivitas pembentukan awan pekan 2-3 April terkait MJO

Prakiraan liputan awan sampai 24 April 2013, data dari NOAA

Lalu sampai kapan kondisi basah seperti ini? Prakiraan indeks MJO dan liputan awan terkait MJO (lihat gambar di atas) menunjukkan bahwa pembentukan awan yang aktif (disimbolkan warna biru) mulai berkurang sekitar 20 April 2013, lalu bersambung dengan fase penurunan pembentukan awan (disimbolkan warna kuning coklat). Di beberapa wilayah, itu berarti juga awal musim kemarau sekitar Mei 2013.

Memahami Potensi Cuaca Ekstrem Sampai Akhir Februari 2013

T. Djamaluddin

Deputi Sains (Membawahi Pusat Sains Atmosfer), LAPAN

Angin 22 Feb 2013 malam

(Data dari BoM Australia, NOAA, dan LAPAN)

Beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jawa sampai NTB,  merasakan embusan angin kencang. Cuaca ekstrem pun dengan curah hujan tinggi dilaporkan terjadi di beberapa wilayah. Membaca beberapa parameter dinamika atmosfer saat ini, kita perlu waspada dengan potensi cuaca ekstrem sampai akhir Februari.

Indeks monsoon Australia berkecenderungan meningkat, artinya angin Baratan menguat. MJO (Madden Julian Oscillation) yang mengindikasikan aktivitas pembentukan awan konventif juga menguat, artinya liputan ada potensi kenaikan curah hujan di wilayah Indonesia. Aktivitas MJO juga terkait dengan pembentukan daerah tekanan rendah di sekitar Indonesia yang sekaligus juga meningkatkan potensi terbentuknya bagai tropis di Selatan Indonesia, yang berarti juga memicu angin kencang di wilayah sekitarnya.

Monsoon Index Feb-Mar 2013

Indeks monsoon cenderung naik sampai akhir Februari, artinya angin Baratan menguat. Itu juga berarti ada potensi tenjadinya angin kencang yang juga diperkuat dengan pembentukan daerah tekanan rendah di Lautan Hindia (lihat peta angin di atas). Saat ini wilayah Jawa – NTB berpotensi mengalami angin kencang sampai kecepatan 80 km/jam.

MJO Feb 2013-2

MJO yang saat ini menguat memicu pembentukan awan yang aktif di wilayah Indonesia (simbol grafis warna biru). Itu diprakirakan akan berlangsung sampai akhir Februari.

Awan 22 Feb 2013 pagi

(Klik untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awan)

Awan 22 Feb 2013 malam

Awan 23 Feb 2013 pk 0930 WIB

Kisah Awan dalam Penerbangan Jakarta – Padang

T. Djamaluddin

Deputi Sains (membawahi Pusat Sains Atmosfer), LAPAN

Awan 13 Feb 2013 0700 - LAPAN

(Citra satelit diolah LAPAN)

Penerbangan Jakarta – Padang pada Rabu pagi, 13 Februari 2013, pukul 06.30 – 08.10 WIB saya manfaatkan untuk mengamati awan dan membandingkan dengan data citra satelit. Data citra satelit pukul 07.00 WIB (gambar atas) memberi gambaran kondisi awan sepanjang jalur penerbangan dari Jakarta melalui pantai Banten, Lampung, Bengkulu, dan pantai Sumatera Barat.

Jakarta pagi itunyaris cerah, dengan sedikit awan tipis. Di pantai Banten sampai daratan Bengkulu ada awan bersuhu puncak sekitar 220 – 240 K (warna biru pada citra satelit di atas) atau  (-53) – (-33) derajat Celcius, yang berarti ketinggian awan sekitar 6 – 8 km. Ini adalah awan-awan menengah. Berikut ini gambar yang saya potret di langit Jakarta dan perairan Banten – Selat Sunda.

DSCN0001

DSCN0008

Di atas Bengkulu dan Selat Mentawai ada awan menengah juga ketinggian sekitar 7 km.

Awan 13 Feb 2013 0800 - LAPAN

DSCN0017

Di atas Mentawai (sebelah kiri pesawat) ada awan Cumulonimbus berketinggian sekitar 8 km yang sedang mencurahkan hujan. Sinar matahari dari sisi kanan belakang pesawat memberi efek pelangi pada curahan air hujan di bawah awan. Dari ketinggian jelajah pesawat 10,8 km, pelangi itu sangat jelas terlihat. Sayang pelangi yang melengkung panjang luput saya potret. Hanya pelangi pendek yang sempat terekam (perhatikan pelangi di bawah awan). Pelangi adalah efek pembiasan cahaya matahari menjadi warna-warna spektrumnya dalam bentuk lingkaran yang titik pusatnya segaris dengan posisi matahari di belakang kita.

DSCN0028

DSCN0023

DSCN0025

Penerbangan di atas awan dengan posisi matahari di sisi lain pesawat menarik juga. Saya berhasil memotret bayangan pesawat di atas awan dengan efek halo di sekitarnya. Halo adalah lingkaran di sekitar matahari akibat pembiasan cahaya matahari oleh awan tipis. Tetapi bila cahaya matahari itu jatuh di atas awan, efek pembiasan oleh butir-butir awan juga menampilkan halo. Pusat halo di dekat bayangan ekor pesawat adalah proyeksi posisi matahari di awan bila dilihat dari posisi saya di pesawat.

DSCN0033

Halo dengan bayangan pesawat

Ada juga fenomena menarik dari atas pesawat yang terkait dengan awan dan matahari. Anticrepuscular ray atau efek optis cahaya matahari yang terhalang oleh awan yang menyatu pada satu titik proyeksi matahari tampak seperti garis-garis gelap terang yang seolah memancar dari titik proyeksi matahari.

DSCN0037

Banjir Jakarta 6 Februari 2013: Modifikasi Cuaca Gagal Menghalau Awan Hujan yang Menjulang

T. Djamaluddin

Deputi Sains (Membawahi Pusat Sains Atmosfer), LAPAN

Macet_Akibat_Banjir_6Feb13

(Foto Tempo.co, Banjir 6 Februari di Bundaran HI, Jakarta. Peta angin dan citra awan dari situs BoM Australia dan LAPAN)

Situs Kompas.com mengakhiri berita banjir di Jakarta Rabu, 6 Februari 2013, dengan ungkapan

Hujan deras di Jakarta ini dianggap menggagalkan rekayasa hujan yang telah dilaksanakan Pemprov DKI dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Karena hujan deras turun, beberapa kawasan langsung tergenang.

Klaim-klaim selama ini memang menghibur masyarakat bahwa modifikasi cuaca berhasil mengurangi curah hujan di Jakarta. Tetapi analisis dinamika pertumbuhan dan pergerakan awan menunjukkan bahwa ‘keberhasilan” itu hanyalah kebetulan. Cuaca yang kondusif seperti  sepekan terakhir bukan hasil dari modifikasi cuaca, tetapi karena dinamika pertumbuhan dan pergerakan awan sesungguhnya memang tidak mengancam Jakarta. Mengapa modifikasi cuaca gagal ketika awan hujan yang menjulang secara nyata singgah di Jakarta pada Rabu, 6 Februari 2013?

Peta angin dan citra satelit berikut ini memberikan gambaran dinamika pertumbuhan dan pergerakan awan di sekitar Jakarta siang sampai sore (12.30, 14.30 dan 16.30 WIB):

Angin 6 Feb 2013

Awan 6 Feb 2013

(Klik citra di atas untuk menampilkan animasinya pergerakan awan sejak pagi sampai sore, lengkapnya di situs LAPAN)

Awan 6 Feb 2013 pk 12-30 WIB

Awan 6 Feb 2013 pk 14-30Awan 6 Feb 2013 pk 16-30

Pusaran angin (eddy, E) di Utara Jakarta serta daerah tekanan rendah (Low, L) di Barat Sumatera memicu pembentukan awan yang aktif di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Awan kumulonimbus (Cb) terbentuk menjulang tinggi yang ditandai dari temperatur puncak awannya. Awan yang disimbolkan warna merah punya suhu sekitar (-63) – (-80) derajat Celcius yang tingginya berkisar 8,9 – 10,7 km. Sedangkan yang warnanya coklat muda bersuhu (-47) – (-63) derajat Celcius dengan tinggi berkisar 7,3 – 8,9 km.

Rabu tengah hari awan mulai tumbuh dan bergerak, meliputi Sumatera dan Jawa. Jakarta mulai diliputi awan yang makin tebal sejak siang sampai sore (warna berubah dari kuning sampai merah). Artinya, Jakarta diliputi awan yang sangat tebal yang menjulang lebih dari 7 km. Awan tebal tersebut yang mengandung massa air besar itulah yang tercurah menggenangi Jakarta pada Rabu siang sampai sore. Beruntung awan kemudian buyar pada malam harinya. Tetapi kalau itu berulang pada hari-hari berikutnya, akumulasi genangan akan berpotensi menyebabkan banjir besar seperti banjir 17 Januari 2013 lalu yang disebabkan oleh akumulasi curah hujan beberapa hari sebelumnya.

Mengapa modifikasi cuaca gagal mencegah hujan deras mengguyur Jakarta pada Rabu, 6 Februari 2013? Selama ini penyemaian awan untuk mengurangi liputan awan hanya dilakukan pada ketinggian 12.000 – 15.000 kaki (3,6 – 4,5 km), artinya hanya untuk awan-awan menengah. Sedangkan “memaksa turun hujan” untuk awan-awan Cb yang menjulang tinggi lebih dari 7 km bukan hanya sulit, tetapi sangat berisiko. Apalagi skala ruangnya sangat luas dan cepat pertumbuhannya. Jadi, ketika Jakarta terancam dengan hujan deras dan banjir kiriman dari hujan deras di sekitarnya, jangan berharap pada teknologi modifikasi cuaca. Teknologi modifikasi cuaca bukan solusi untuk mengatasi banjir pada musim hujan, baik solusi sementara apalagi solusi tetap. Operasi redistribusi awan saat pesta olah raga SEA games di Palembang bukan contoh yang setara, karena saat itu bulan November adalah awal musim hujan dengan pembentukan awan yang belum terlalu aktif. Solusi banjir Jakarta adalah pembenahan daerah resapan dan prasarana pengendalian banjir.

Mengkaji Secara Objektif Hasil Modifikasi Cuaca Pengendalian Banjir Jakarta dengan Fakta Data Satelit

T. Djamaluddin

Deputi Sains (Membawahi Pusat Sains Atmosfer), LAPAN

Awan 17 Januari 2013

(Citra satelit MTSAT 17 Januari 2013 yang diolah LAPAN, http://www.lapanrs.com/simba )

Berita klaim-klaim seolah modifikasi cuaca telah menghasilkan pengendalian cuaca Jakarta yang efektif rasanya perlu dievaluasi ulang agar publik tidak terlalu berharap teknologi cuaca menjadi “pawang modern” yang ampuh mengendalikan curah hujan yang berpotensi membanjiri Jakarta. Sebelumnya saya sudah mengingatkan agar memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca secara cerdas. Sebagai peneliti sains, sekian banyak pertanyaan ilmiah muncul dalam pemikiran saya, jauh dari niatan untuk menggangu program sesama instansi pemerintah, justru sebagai bagian dari edukasi dan keterbukaan informasi untuk diketahui publik secara objektif. Apakah harus ada operasi setiap hari untuk redistribusi awan? Apakah sudah tepat operasi “pencegatan”  awan yang dilakukan dengan memperhatikan dinamika pertumbuhan dan pergerakan awan? Apakah memadai penyemaian awan pada ketinggian 12.000 – 15.000 kaki (3,6 – 4,5 km), padahal awan hujan (kumulonimbus) bisa menjulang lebih dari 11 km. Citra satelit MTSAT di atas menggambarkan awan tebal yang menguyur Jakarta pada saat banjir besar 17 Januari 2013 yang tingginya lebih dari 10 km (warna kuning). Kalau intervensi modifikasi cuaca hanya untuk awan-awan menengah (warna biru), gugusan besar awan hujan tidak terpengaruh gerakannya dan suatu saat akan kembali menguyur Jakarta tanpa bisa dicegah oleh teknologi modifikasi cuaca.

Berikut contoh klaim-klaim keberhasilan yang dibandingkan dengan fakta data satelit:

http://news.detik.com/read/2013/01/28/102217/2153740/10/teriknya-jakarta-pagi-ini-dampak-dari-modifikasi-cuaca-oleh-bppt-hari-minggu

Operasi 27 Januari 2013 berdampak pada cuaca cerah 28 Januari 2013?

Cuaca Jakarta di pagi hari ini cerah cenderung terik. Rupanya hal ini merupakan dampak dari teknologi modifikasi cuaca pada Minggu (27/1) kemarin.  “Secara scientific belum bisa dikatakan seperti itu, tapi secara umum memang hasil dari upaya kemarin,” ujar peneliti Meteorologi Tropis kepada detikcom, Senin (28/1/2013).

Fakta data satelit menunjukkan hal yang bertolak belakang (klik citra satelit untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awannya):

Awan 28 Jan 2013

Awan 28 Jan 2013-malam

Cerahnya Jakarta pada 28 Januari 2013 disebabkan oleh awan yang tumbuh di Laut Jawa yang bergerak menjauhi Jakarta menuju arah Kalimantan. Sementara awan yang tumbuh pada sore harinya di Jawa Barat bagian Selatan bergerak ke arah Jawa Tengah sebelum buyar. Jadi tak ada pengaruh modifikasi cuaca pada hari sebelumnya, karena dinamika atmosfer skala besar seperti itu tidak mampu dimodifikasi oleh manusia.

http://sains.kompas.com/read/2013/02/01/1035565/Efek.Coriolis.Hadang.Bibit.Badai

Operasi 30 Januari 2013

Jakarta pagi itu diliputi mendung tebal dan sejumlah media daring (online) memberitakan informasi yang menyangsikan teknologi modifikasi cuaca tersebut. “Mendung tebal waktu itu diyakini bisa menimbulkan banjir di Jakarta. Pukul 10.00, pesawat kami menyemaikan garam dapur untuk menjatuhkan hujan di Selat Sunda” . Alhasil, Rabu siang, di Jakarta menjadi sangat terik, berbeda drastis dengan beberapa jam sebelumnya yang gelap karena mendung tebal. ”Teknologi modifikasi cuaca mampu mengalihkan hujan yang akan jatuh di Jakarta” .

Fakta data satelit menunjukkan hal yang bertolak belakang (Klik citra satelit untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awannya):

Awan 30 Januari 2013

Awan terbentuk di Laut Jawa, ada awan kumulonimbus tebal (warna kuning) yang tidak begitu besar sebentar melintas Jakarta dalam pergerakannya ke arah Timur sebelum buyar. Tepatkah awan di Laut Jawa “dicegat di Selat Sunda”? Tentunya tidak relevan. Siangnya Jakarta cerah dan terik karena awan yang melintas dari Laut Jawa sudah bergerak ke arah Timur kemudian buyar, bukan karena modifikasi cuaca di Selat Sunda.

http://www.tempo.co/read/news/2013/02/02/083458666/Modifikasi-Cuaca-Berhasil-Kurangi-Hujan-di-Jakarta

Operasi 2 Februari 2013

Kluster awan, sudah terbentuk di barat laut menuju wilayah Jabodetabek pada Sabtu ini. Sorti pertama dengan Hercules membawa 4 ton NaCl terbang pukul 09.39-11.33 WIB mencegat awan-awan di sekitar Teluk Jakarta hingga sebelah barat Lampung. “Pantauan radar menunjukkan awan target jatuh menjadi hujan.”  Sorti kedua pada 14.25-15.40 WIB dengan Hercules membawa 4 ton NaCl menyemai di atas Pandeglang, Serang, Cilegon dan utara Merak. Sorti ketiga dengan Casa membawa 800 kg menyemai sekitar Pandeglang pada ketinggian 15 ribu kaki. Di bawah dioperasikan ground based generator (GBG) dengan membakar 36 flare di 13 lokasi dan GBG sistem larutan diaktifkan di tiga lokasi selama 5 jam. “Hasilnya hujan berkurang di Jabodetabek,” katanya.

Fakta data satelit menunjukkan hal yang bertolak belakang (klik citra satelit untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awannya):

Awan 2 Februari 2013

Pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB awan tebal tumbuh di perairan Jakarta-Banten. Saya yang dalam perjalanan di jalan tol dari Bandung menuju Jakarta melihat awan tebal di arah Barat Laut. Apakah efektif modifikais cuaca yang dilakukan disekitar Teluk Jakarta, Pantai Barat Lampung, dan Banten? Pergerakan awan ke Barat Laut menuju arah Sumatra akibat indeks monsoon negatif (angin bertiup ke arah Barat-Utara, berkebalikan dari lazimnya saat musim hujan) sama sekali tidak membahayakan Jakarta. “Pencegatan” semai awan yang dilakukan tim modifikasi cuaca menjadi tidak efektif. Hujan tidak banyak turun di sekitar Jakarta, karena pertumbuhan awan yang sekadar “singgah” di Jakarta, lalu bergerak ke arah Sumatera sebelum buyar.

Jadi, mari kita evaluasi ulang. Kita analisis kecenderungan pertumbuhan dan pergerakan awannya. Operasi penyemaian awan pun sebaiknya hanya dilakukan bila operasi tersebut akan efektif, tidak harus menjadi operasi rutin harian. Hal yang juga paling krusial adalah efektivitas operasi penyemaian pada ketinggian 12.000 – 15.000 kaki (3,6 – 4,5 km) untuk meredistribusikan awan yang sedang tumbuh menjulang sampai lebih dari 10 km. Pertumbuhan awan konvektif yang aktif seperti itu akan sangat membahayakan bagi pesawat dan awaknya bila dipaksakan ditembus. Inilah salah satu keraguan ilmiah saya akan efektivitas modifikasi cuaca selama puncak musim hujan, selain masalah skala ruang yang lebih besar untuk cluster (gugusan) awan di zona konvergensi. Jadi, selama tidak akan membahayakan, biarkan hujan turun secara normal di Jakarta, tak perlu dimodifikasi cuacanya. Bila ada indikasi awan kumulonimbus tebal cenderung stasioner (seperti kasus 17 Januari 2013 lalu), modifikasi cuaca tidak akan efektif. Hal yang harus disiapkan adalah penanggulangan banjirnya. Untuk jangka panjangnya, program komprehensif harus dilakukan untuk perbaikan lingkungan dan prasarana pengendalian limpahan air dari sungai-sungai di Jakarta.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 192 pengikut lainnya.