Kalender 1443 Hijriyah dengan Beragam Kriteria

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Indonesia, Kementerian Agama

Ilustrasi Kalender Hijriyah bersama Kalender Masehi dan Kalender Jawa (dari internet)

Secara umum saat ini semua perhitungan kalender sama, karena menggunakan formulasi astronomi modern. Hal yang sering menjadi sumber perbedaan adalah kriterianya. Kriteria umum yang digunakan di Indonesia adalah

(1) kriteria Wujudul Hilal (bulan terbenam sesudah matahari dan ijtimak terjadi sebelum maghrib) yang digunakan kalender Muhammadiyah;

(2) kriteria MABIMS, terutama parameter tinggi bulan minimal 2 derajat yang digunakan di kalender taqwim standar Pemerintah dan kalender NU;

(3) kriteria LAPAN (2010) yang sama dengan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (RJ), yaitu beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (= tinggi bulan 3 derajat) dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat di kawasan barat Asia Tenggara yang digunakan kalender Persis. Namun untuk Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1443 kalender Persis menggunakan kriteria MABIMS yang digunakan taqwin standar Pemerintah.

Analisis global menggunakan aplikasi Accurate Hijri Calculator (karya Abdul Ro’uf) dan Accurate Times (karya Mohammad Odeh) adalah cara yang paling cepat, termasuk dalam mengkaji potensi perbedaan. Berikut analisis garis tanggal bulanan selama 1443 H dengan beragam kriteria. Pada akhir tulisan dirangkumkan awal bulan selama 1443 H.

Muharram 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 8 Agustus 2021. Di Indonesia posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Muharram 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 10 Agustus 2021.

Safar 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 7 September 2021. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Safar 1443 adalah pada 8 September 2021.

Rabbiul Awal 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 6 Oktober 2021. Di Indonesia posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Rabbiul Awal 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 8 Oktober 2021.

Rabbiul Akhir 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 5 November 2021. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Rabbiul Akhir 1443 adalah pada 6 November 2021.

Jumadil Awal 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 4 Desember 2021. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal sehingga berdasarkan kriteria tersebut awal Jumadil Awal adalah 5 Desember 2021. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria MABIMS dan kriteria RJ, disimpulkan awal Jumadil Awal 1443 adalah pada 6 Desember 2021.

Jumadil Akhir 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 3 Januari 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Jumadil Akhir 1443 adalah pada 4 Januari 2022.

Rajab 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 1 Februari 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal dan MABIMS sehingga berdasarkan kriteria tersebut awal Rajab 1443 adalah 2 Februari 2022. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ, disimpulkan awal Rajab 1443 adalah pada 3 Februari 2022.

Syaban 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 3 Maret 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Syaban 1443 adalah pada 4 Maret 2022.

Ramadhan 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 1 April 2021. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal sehingga berdasarkan kriteria tersebut awal Ramadhan 1443 adalah 2 April 2022. Dengan kriteria MABIMS, posisi bulan pada perbatasan kriteria tinggi 2 derajat. Hanya wilayah barat Jawa dan Sumatera yang tinggi bulannya sedikit di atas 2 derajat. Sebagian besar wilayah posisi bulan masih di bawah kriteria MABIMS. Ada potensi hilal tidak teramati. Jadi, dengan kriteria MABIMS, yang dikaitkan dengan potensi rukyatul hilal, awal Ramadhan 2 atau 3 April 2022. Posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ disimpulkan awal Ramadhan 1443 adalah pada 3 April 2022.

Syawal 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 1 Mei 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal dan kriteria MABIMS sehingga awal Syawal 1443 adalah 2 Mei 2022. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ. Disimpulkan dengan kriteria RJ awal Syawal 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 3 Mei 2021.

Dzulqa’dah 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 30 Mei 2022. Di Indonesia posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Dzulqa’dah 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 1 Juni 2022.

Dzulhijjah 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 29 Juni 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal dan kriteria MABIMS sehingga awal Dzulhijjah 1443 adalah 30 Juni 2022. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ. Disimpulkan dengan kriteria RJ awal Dzulhijjah 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 1 Juli 2021.

 

Siklus Bulan, Pemanasan Global, dan Ancaman Banjir Pasang di 2030

T. Djamaluddin

Artikel lengkap silakan baca di kumparan.com.

Bukti Pengaruh Polusi Cahaya: Pengamatan Fajar di Banyuwangi dan Semarang

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama

Cahaya fajar dipotret dari pesawat terbang (Dokumentasi Pribadi)

Terkait dengan kriteria waktu shubuh, Kementerian Agama telah melakukan pengamatan kemunculan cahaya fajar di Labuan Bajo dengan menggunakan kamera DSLR dan pengukuran SQM (Sky Quality Meter). Hasilnya telah dipaparkan di blog saya ini.

Berikut ini ulasan beberapa hasil pengamatan fajar di Banyuwangi dan Semarang yang dilakukan M. Basthoni. Hasilnya menunjukkan secara jelas pengaruh polusi cahaya pada pengukuran kemunculan fajar. Basthoni adalah mahasiswa program doktor (S3) bimbingan saya di UIN Walisongo Semarang. Sebagian hasil penelitiannya telah dipaparkan di International Conference on Science and Applied Sciences (ICSAS) 2021, UNS, 6 April 2021. Makalah yang dipaparkan di ICSAS 2021 berjudul “Typology of Dawn Light Curves in High and Low Light Pollution Areas”

Data yang digunakan berasal dari pengamatan fajar menggunakan sistem otomatisasi SQM. Banyuwangi dipilih sebagai lokasi yang minim polusi cahaya dan Semarang adalah lokasi yang terpolusi cahaya. Bukti polusi cahaya terlihat pada kurva cahaya hasil pengamatan SQM. Pengamatan di Yayasan Sunan Kalijaga Banyuwangi dilakukan pada 24, 25, dan 27 Agustus 2020. Sedangkan pengamatan di PPTQ Al-Ishlah Semarang dilakukan pada 25, 26, 28, dan 29 September 2020. SQM diarahkan ke ufuk timur. Di Banyuwangi, ufuk timur adalah laut yang minim polusi cahaya. Di ufuk timur Semarang ada cahaya kota. Pada saat pengamatan fajar, tidak ada cahaya bulan. Bulan telah terbenam sebelum tengah malam.

Kurva cahaya hasil pengukuran SQM di Banyuwangi dan Semarang disajikan dengan menampilkan garis ketinggian matahari (h) pada definisi fajar yang baku: Fajar astronomi pada h=-18 derajat, fajar nautika pada h=-12 derajat, dan fajar sipil pada h=-6 derajat. Kurva mendatar adalah cahaya malam sebelum munculnya fajar. Berikut ini kurva cahaya di Banyuwangi dan semarang.

Kurva cahaya pengukuran SQM di Banyuwangi
Kurva cahaya pengukuran SQM di Semarang

Untuk membandingkan secara kuantitatif, dilakukan analisis kecerlangan ufuk di Banyuwangi dan Semarang. Analisis kecerlangan cahaya ufuk yang dinyatakan dalam mpas (magnitude per arc square) ditampilkan pada tabel berikut ini. Ufuk yang tampak makin terang dinyatakan dengan nilai mpas makin kecil. Terlihat bahwa definisi fajar astronomi, nautika, dan sipil di kota Semarang bersesuaian dengan ketampakan ufuk yang lebih terang (nilai mpas lebih kecil) daripada di Banyuwangi.

Tabel hasil pengukuran kecerlangan langit dinyatakan dalam mpas (magnitude per arc square) untuk ketinggian matahari sesuai definisi baku fajar astronomi, nautika, dan sipil.

Grafis perbandingan kurva cahaya berikut menjelaskan bahwa ufuk di Semarang lebih terang (kurvanya lebih rendah) daripada di Banyuwangi. Dengan kata lain, ufuk di Semarang lebih terpolusi cahaya daripada di Banyuwangi. Tentu itu berdampak pada ketampakan fajar. Di Semarang, saat matahari berada pada posisi baku fajar astronomi, kurva cahayanya masih sama dengan kondisi malam (kurva masih mendatar). Demikian juga saat posisi baku fajar nautika. Artinya, polusi cahaya menghalangi munculnya cahaya fajar astronomi dan fajar nautika.

Perbandingan kurva cahaya hasil pengukuran SQM di Banyuwangi (atas) dan Semarang (bawah).

Munculnya fajar shadiq (fajar sebenarnya) sebagai penanda masuknya waktu shubuh dikenali dari pembelokan kurva cahaya. Cahaya fajar shadiq dihasilkan dari hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Karenanya fajar shadiq tampak membentang di ufuk. Dalam hadits, kita kenal juga sebutan fajar kadzib (fajar semu) yang secara astronomi dikenal sebagai cahaya zodiak. Fajar kadzib disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet. Oleh karenanya fajar kadzib tampak menjulang seperti ekor srigala, mengikuti bidang orbit planet-planet.

Kurva cahaya hasil SQM dianalisis dengan metode fitting linier, dengan persamaan f(x) = ax + b. Hasil analisis diampilkan pada tabel berikut ini. Cahaya malam yang sekilas tampak mendatar, di Banyuwangi ternyata kurvanya makin menurun, dengan nilai gradien negatif. SQM di Banywangi berhasil merekam kemunculan cahaya redup dari cahaya zodiak atau fajar kadzib (fajar semu). Sementara cahaya malam di Semarang hanya menunjukkan polusi cahaya yang konstan. Pembelokan diketahui bila kurva cahaya mulai menyimpang dari garis atau persamaan linier tersebut. Pada tabel berikut ini ditunjukkan titik belok kurva cahaya. Terlihat bahwa fajar shadiq muncul di Banyuwangi pada ketinggian matahari h=-20 derajat. Sementara titik belok di Semarang pada saat ketinggian matahari h=-13 derajat. Polusi cahaya di Semarang telah menghalangi munculnya fajar shadiq. Fajar di Semarang baru tampak menjelang kemunculan (per definisi) fajar nautika pada ketinggian matahari h=-12 derajat.

Tabel persamaan cahaya zodiak (fajar kadzib atau fajar semu) dan polusi cahaya serta titik belok kurva cahaya.

Hasil pengukuran di Banyuwangi melengkapi pengukuran fajar di Labuan Bajo, bahwa fajar shadiq telah muncul saat ketinggian matahari h=-20 derajat. Perbandingan dengan pengukuran di Semarang membuktikan bahwa polusi cahaya sangat berperan pada hasil pengukuran yang mengklaim munculnya fajar saat posisi matahari lebih tinggi, misalnya h=-13 derajat. Jadi, data pengukuran di Labuan Bako dan Banyuwangi membuktikan bahwa kriteria waktu shubuh oleh Kementerian Agama sudah benar, tidak perlu dikoreksi.

Dokumentasi Benda Jatuh Antariksa di Indonesia

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sampah antariksa bekas tabung bahan bakar roket Uni Sovyet/Rusia yang jatuh di Gorontalo 1981 (kiri) dan di Lampung 1988 (kanan).

Sampah antariksa adalah bagian roket peluncur atau satelit yang tidak berfungsi lagi yang mengorbit bumi atau dalam perjalanan menuju orbit. Jumlahnya saat ini belasan ribu. Karena hambatan udara, sampah antariksa di orbit rendah (ketinggian kurang dari 1000 km) makin lama makin turun ketinggiannya. Pada ketinggian sekitar 120 km, objek yang mengorbit bumi memasuki atmosfer padat dan mengalami efek pengereman. Pada ketinggian tersebut umumnya objek antariksa tidak bisa bertahan di orbitnya, lalu jatuh dalam hitungan beberapa menit saja. LAPAN mengembangkan Sistem Pemantau Benda Jatuh Antariksa untuk mengidentifikasi objek yang jatuh di wilayah Indonesia. Dengan memanfaatkan data sampah antariksa dari Space-Track dan perangkat lunak analisis orbit, dapat diidentifikasi objek yang yang jatuh di wilayah Indonesia berdasarkan lokasi dan waktu kejadiannya. Berikut ini dokumentasi objek-objek yang jatuh dan dilaporkan kepada LAPAN.

  • 1. Sampah Antariksa Jatuh di Gorontalo 1981

Tabung bahan bakar roket jatuh di Gorontalo pada 16 Maret 1981. Berdasarkan waktu dan lokasi titik jatuhnya, akhirnya dapat diidentifikasi bahwa objek tersebut adalah bagian roket SL-8 milik Uni Sovyet/Rusia dengan nomor katalog 11610. Roket digunakan untuk meluncurkan satelit Interkosmos 20 pada 1 November 1979.

  • 2. Sampah Antariksa Jatuh di Lampung 1988
Lintasan orbit sampah antariksa yang jatuh di Lampung 1988

Tabung bahan bakar bekas roket jatuh di lampung pada 16 April 1988. Analisis orbit sampah antariksa yang melintas Lampung pada hari kejadian, menyimpulkan benda jatuh tersebut adalah bagian roket SL-4 milik Uni Sovyet/Rusia dengan nomor katalog 19042. Roket tersebut digunakan untuk meluncurkan satelit Cosmos 1938 pada 11 April 1988.

  • 3. Sampah Antariksa Jatuh di Bengkulu 2003
Pecahan badan roket yang ditemukan di Bengkulu pada 2003
Lintasan orbit objek yang jatuh di Bengkulu pada 2003.

Pada 13 Oktober 2003 ada laporan benda jatuh di Bengkulu. Hasil analisis orbit sampah antariksa menyimpulkan bahwa objek tersebut adalah pecahan roket CZ-3 milik RRT dengan nomor katalog 23416. Roket tersebut digunakan untuk meluncurkan satelit DFH-3 1 pada 29 November 1994.

  • 4. Sampah Antariksa Jatuh di Madura 2016
Sampah antariksa bekas tabung bahan bakar roket yang jatuh di Madura 2016
Lintasan orbit objek yang jatuh di Madura pada 2016

Beberapa objek antariksa jatuh di perairan Madura pada 26 September 2016. Dari analisis orbitnya, objek-objek tersebut diidentifikasi sebagai bagian roket Falcon 9 dengan nomor katalog 41730 milik Space X Amerika Serikat. Roket itu digunakan untuk meluncurkan satelit JCSAT 16 pada 14 Agustus 2016.

  • 5. Sampah Antariksa Jatuh di Sumatera Barat 2017
Dua objek antariksa jatuh di dua lokasi terpisah di Sumatera Barat pada 2017
Lintasan orbit objek yang jatuh di Sumatera Barat pada 2017

Pada 18 Juli 2017 ada dua objek antariksa jatuh di dua lokasi berbeda di Sumatera Barat. Dari analisis orbitnya diidentifikasi kedua objek tersebut berasal dari pecahan roket CZ-3A dengan nomor katalog 31116 milik RRT. Roket digunakan untuk meluncurkan satelit Beidou M1 pada 13 April 2017.

  • 6. Sampah Antariksa Ditemukan di Kalimantan Tengah 2021
Objek antariksa yang ditemukan di Kalimantan Tengah pada 2021 adalah bagian Fairing roket CZ-8. Terlihat logo CNSA yang terbakar.
Analisis jalur peluncuran roket CZ-8 dengan titik jatuh objek di laut sebelah barat-barat laut Kalimantan. Arus laut membawa objek tersebut ke pantai Kalimantan Tengah dan ditemukan warga pada 2021.

Sebuah objek berlogo CNSA (Chinese National Space Administration) ditemukan warga pada 4 Januari 2021. Semula objek tersebut diduga bagian roket RRT yang melintas wilayah tersebut saat jatuh awal Januari. Namun, setelah gambar lengkap diperoleh dan didukung konfirmasi dari CNSA, disimpulkan bahwa objek tersebut adalah payload fairing (pelindung muatan satelit) roket Long March/CZ-8 milik RRT. Roket LM/CZ-8 diluncurkan pada 22 Desember 2020 dan bagian fairing dilepaskan sebelum roket mencapai orbit dan jatuh di perairan dekat Selat Karimata. Arus laut membawa objek yang relatif ringan tersebut ke Selat Karimata lalu Laut Jawa dan terdampar di pantai Kalimantan Tengah.

Pengamatan Gerhana Matahari Cincin di Siak 26 Desember 2019

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Hasil pengamatan GMC 26 Des 2019 di Siak oleh Tim LAPAN

Pengamatan gerhana matahari cincin (GMC) 26 Desember 2019 di Kabupaten Siak dilaksanakan di lapangan Kampung Bunsur. Kampung Bunsur berada tepat di pusat jalur GMC dekat dengan titik gerhana terbesar (Greatest Eclipse). Fase GMC mulai pada pukul 12.15.

Lokasi pengamatan GMC 2019 di Kampung Bunsur, tepat di pusat jalur GMC.

Pagi hari di Siak mendung. Bahkan kabarnya di lokasi pengamatan saat shubuh sempat gerimis. Tentu saja ini cukup mengkhawatirkan. Cuaca bisa menggagalkan pengamatan fenomena langka GMC. Namun dilihat dari aplikasi SADEWA di situs LAPAN, diprakirakan siang hari awan mulai tersibak dari wilayah sekitar Kampung Bunsur, lokasi pengamatan GMC. Alhamdulillah, ternyata benar cuaca sangat cerah sejak awal proses gerhana sampai menjelang akhir gerhana.

Prakiraan liputan awan saat kejadian GMC dari aplikasi SADEWA LAPAN.

Gerhana mulai terjadi pada pukul 10.22 WIB. Maka segera shalat gerhana disiapkan di lapangan. Teriknya matahari siang yang cerah tidak menyurutkan jamaah memadati tempat shalat gerhana.

Kepala LAPAN bersama Bupati Siak sebelum shalat gerhana matahari di lapangan Bunsur, Siak.

Khutbah shalat gerhana disampaikan oleh Kepala LAPAN. Intisari khutbah ada di blog ini.

Kepala LAPAN sebagai khatib shalat gerhana di lapangan Bunsur, Siak.

Untuk dokumentasi pribadi, fase-fase gerhana dipotret dengan kamera hp. Tidak sebagus hasil pengamatan dengan teleskop, tetapi menjadi dokumentasi bahwa fenomena langka GMC telah dilihat secara langsung.

Awal gerhana dipotret dengan kamera hp dengan filter bekas disket.

Fase gerhana sebelum fase cincin, dipotret dengan kamera hp dengan filter kacamata matahari

GMC-2019-5

Fase gerhana matahari cincin, dipotret dengan kamera hp menggunakan kacamata matahari.

GMC-2019-pasca cincin-1

Gerhana matahari menjelang akhir fase cincin, dipotret dengan kamera hp menggunakan kacamata matahari.

GMC-2019-4

Fase gerhana matahari pasca cincin. Dipotret dengan kamera hp menggunakan teknik flare lensa.

Tim Pengamat LAPAN dengan beberapa teleskop.

Seusai acara pengamatan GMC 2019 di Siak

Wawancara Kepala LAPAN: Bandar Antariksa, Satelit, dan UFO

Detik.com melakukan wawancara panjang untuk program “Blak-blakan” tentang Bandar Antariksa, Satelit, dan UFO yang dipublikasi pada 11 November 2019. Berikut kutipannya dan link videonya di youtube.

Indonesia akan menyusul Prancis dan Brasil yang memiliki bandar antariksa yang berlokasi dekat dengan garis khatulistiwa. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berencana membangun bandar antariksa di Biak, Papua. Biak dipilih karena posisinya sangat dekat dengan ekuator sehingga memudahkan peluncuran roket untuk membawa satelit. Selengkapnya, saksikan Blak-blakan Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, “Bandara Antariksa, Satelit & UFO”, di detik.com

Kembali ke Bulan setelah 50 Tahun Manusia Pertama Mendarat

Pendaratan manusia pertama di bulan, 20 Juli 1969 (Gambar dari NASA)

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

(Dimuat di Kolom CNN Indonesia, 22 Juli 2019, setelah diedit Redaksi. Ini artikel aslinya dengan edit typo)

Juli 1969 saya masih kelas 1 SD saat Neil Armstrong menjejakkan kakinya di bulan dalam missi Apollo 11. Melalui berita radio, masyarakat ramai memperbincangkannya. Kemudian beberapa waktu setelah itu, film pendaratan astronot ke bulan diputar di bioskop dan anak-anak sekolah antusias menontonnya. Sayang saya sendiri tidak bisa ikut menonton karena tidak mampu membeli tiketnya. Saya hanya mendengar cerita teman-teman. Lima puluh tahun kemudian baru saya membuka youtube, sambil membayangkan betapa anak-anak saat itu tercengang melihat astronot berjalan seolah ringan sekali. Padahal pakaiannya tampak berat. Itulah yang dulu saya dengar ketika teman-teman antusias saling bercerita tentang astronot.

Saat saya kuliah astronomi di ITB, barulah cerita masa kecil terungkap secara nyata. Pendaratan manusia pertama di bulan benar adanya. Missi Apollo dengan pendaratan manusia di bulan berlangsung selama 1969 – 1972. Bahkan ada sampel batuan bulan yang dibawa astronot untuk penelitian lebih lanjut tentang hakikat bulan dan teori pembentukannya. Menjadi jelas juga astronot tampak berjalan agak melompat, karena gravitasi bulan hanya seperenam gravitasi di bumi. Beban berat pakaian astronot tampak ringan saja ketika berada di bulan.

Missi Apollo konon berbiaya sangat mahal, sekitar $ 25 milyar (Rp 375 trilyun menurut nilai saat ini) atau 2,5% pendapatan kotor (GDP) Amerika Serikat (AS). Mengapa AS rela mengeluarkan anggaran fantasitik seperti itu? Alasan utamanya, demi perlombaan keunggulan iptek dengan rival perang dinginnya, Uni Sovyet (Rusia dan negara-negara tetangganya sebelum pecah). Uni Sovyet dianggap sudah memimpin meninggalkan AS. Sebagai negara pertama yang meluncurkan satelit Sputnik. Pertama mengirimkan kosmonot (atau astronot) Yuri Gagarin. Dan pertama mengirimkan wahana tanpa awak Luna 2 mendarat di bulan. Maka pada 1961 Presiden Kennedy mencanangkan misi pendaratan manusia ke bulan pada akhir dekade. Keunggulan iptek keantariksaan adalah kebanggaan bangsa. Itu pula yang dikatakan Bung Karno, untuk menjadi bangsa yang maju harus menguasai teknologi antariksa dan nuklir.

Juli 2019 adalah peringatan 50 tahun pendaratan manusia pertama. Publik kembali antusias dengan misi kembali ke bulan. Teori konspirasi yang tidak mempercayai pendaratan manusia ke bulan dianggap sekadar dongeng tak berdasar. Semua teori konspirasi mudah dipatahkan dengan penjelasan ilmiah sederhana. Hal utama, tidak mungkin sekian banyak ilmuwan dunia mau dibohongi dengan rekayasa film di studio. Lagi pula, Uni Sovyet sebagai rival perang dingin AS pasti menjadi pihak pertama yang membongkarnya kalau pendaratan manusia di bulan hanya akal-akalan.

Menjelang akhir jabatannya, Trump memberi Direktif Presiden yang memerintahkan pendaratan manusia ke bulan dipercepat. Semula, NASA (badan antariksa AS) menargetkan pendaratan astronot ke bulan pada 2028. Namun Presiden Trump memerintahkan dipercepat menjadi 2024. Suasananya bukan lagi perlombaan ala perang dingin, tetapi kolaborasi. NASA tidak bekerja sendiri. Beberapa badan antariksa internasional turut terlibat. Perusahaan swasta keantariksaan AS turut dilibatkan. Tujuannya, menguji teknologi eksplorasi antariksa yang lebih efisien sebagai persiapan misi berawak ke planet Mars. Sasaran yang menantangnya, mendaratkan astronot perempuan pertama di bulan.

Misi kembali ke bulan dinamakan Artemis. Artemis adalah dewi saudara kembar Apollo dalam mitologi Yunani. Misi ke bulan sesungguhnya sudah mulai dirancang beberapa tahun sebelumnya. Namun kini Artemis lebih terfokus dengan target pendaratan pada 2024. Misi Artemis 1 (setelah diubah nama misinya) ditargetkan mengorbit bulan tanpa awak tahun depan, 2020. Artemis 2 dengan misi berawak mengorbit bulan ditargetkan pada 2023. Lalu misi berawak mendarat di bulan pada 2024. Wahana berawak Orion disiapkan untuk membawa 4 astronot. Sementara itu misi kembali ke bulan juga menyiapkan laboratorium antariksa yang mengorbit bulan, Gateway. Gateway ditargetkan juga menjadi persinggahan menuju Mars, selain sebagai laboratorium riset antariksa di luar orbit bumi.

Misi ke bulan pasca misi Apollo memang cukup langka. Belum ada lagi misi berawak ke bulan setelah 1972. Misi ke bulan sebenarnya merupakan misi eksplorasi antariksa yang menarik bagi bangsa-bangsa setelah berhasil menaklukkan misi mengorbit bumi. Setelah Uni Sovyet dan AS, kini disusul misi ke bulan oleh negara-negara Eropa, RRT, India, dan Jepang. Umumnya negara pemula memulainya dengan misi robotik. RRT berhasil mendaratkan wahana Change di belahan bulan yang tidak pernah teramati dari bumi. India berhasil mengirimkan wahana Chandranayaan ke bulan dengan biaya yang paling hemat.

Bagaimana Indonesia? Akankah terlibat dalam misi ke bulan? Sebagai badan antariksa, LAPAN selalu diundang dalam pertemuan internasional membahas eksplorasi antariksa ke luar orbit bumi. Bukan hanya ke bulan, tetapi juga ke asteroid, Mars, dan planet-planet lainnya. Untuk efisiensi sumber daya, kerjasama internasional sangat diharapkan. Sebagai negara yang  mulai berkembang kemampuan iptek antariksanya (Space Emerging Country) Indonesia selalu diundang dalam berbagai forum keantariksaan internasional, termasuk dalam pembahasan eksplorasi antariksa. Namun, LAPAN sebagai wakil Indonesia menyatakan akan fokus dulu mengembangkan kemampuan pengembangan satelit pengorbit bumi dan wahana peluncurnya. Sambil tetap menjalin kerjasama dalam aspek yang mungkin bisa kita ikuti. Antara lain, analisis data sains antariksa hasil eksplorasi dan pengembangan teknologi robotik pendukung misi eksplorasi antariksa.

Hujan Meteor Perseids Terdeteksi dengan Radar Meteor LAPAN

Radar Meteor di Biak

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

 

LAPAN mempunyai dua radar meteor di Agam, Sumatera Barat, dan di Biak, Papua, hasil kerjasama dengan Universitas Kyoto, Jepang. Penjelasan deteksi hujan meteor dengan radar  meteor telah dijelaskan ketika membahas Hujan meteor Quadrantids yang terdeteksi dengan radar meteor di Agam. Berikut ini hujan meteor Perseids yang terdeteksi dengan radar meteor Biak.

Hujan meteor Perseids (titik pancar dari rasi Perseus) disebabkan oleh sisa-sisa debu komet Swift-Tuttle. Setiap tahun bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet tersebut yang menyebabkan hujan meteor Perseids mulai 17 Juli sampai 24 Agustus. Puncaknya sekitar 12 Agustus dengan jumlah meteor tampak sekitar 90 meteor per jam. Dengan menggunakan radar meteor, jumlah meteor yang terdeteksi bisa ratusan meteor. Radar meteor mendeteksi jejak ionisasi di atmosfer pada ketinggian sekitar 70 – 110 km. Jejak ionisasi berasal dari debu-debu yang terbakar yang tampak seperti bintang yang melesat.

Batas 110 km digunakan Indonesia sebagai batas antara ruang udara (atmosfer) dengan ruang antariksa. Mulai ketinggian 110 km, atmosfer mulai padat yang menyebabkan debu-debu antarplanet dan sampah antariksa mulai terbakar ketika memasuki atmosfer dan  menimbulkan ionisasi. Distribusi ketinggian menyatakan distribusi ukuran dan kecepatan debu-debu yang berpasasan dengan atmosfer bumi. Debu-debu yang berukuran besar dan kecepatan tinggi sudah terbakar mulai ketinggian sekitar 110 km. Sedangkan yang ukurannya lebih kecil dan kecepatannya lebih rendah baru terbakar pada ketinggian yang lebih rendah dengan atmosfer yang lebih padat.

Data radar meteor berikut menggambarkan jumlah meteor per jam yang terdeteksi (panel atas), sebaran angular meteor di langit (panel kiri bawah), dan sebaran ketinggian meteor (panel kanan bawah). Sebaran angular menggambarkan posisi meteor yang terdeteksi di langit. Utara digambarkan di titik paling bawah, Selatan di titik paling atas, Timur di kanan, dan Barat di kiri. Terlihat distribusinya lebih banyak di Utara sesuai dengan titik pertemuan bumi dengan gugusan debu di arah rasi Perseus di langit Utara. Puncak hujan meteor terdeteksi sekitar pukul 18.30 UT (01.30 WIB). Puncaknya terdeteksi pada dini hari 11 Agustus dan 15 Agustus dengan jumlah meteor sekitar 700 meteor per jam.

 

 

Pertimbangan Sains Antariksa untuk Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Kepala LAPAN

Pokok-pokok Rekomendasi Jakarta 2017

Pertimbangan Sains Antariksa untuk Penyatuan Kalender Islam (File pdf untuk diunduh)

 

Pada 28-30 November 2017 telah dilaksanakan Seminar Internasional Fikih Falak yang menghasilkan Rekomendasi Jakarta 2017. Rekomendasi itu dari sudut pandang sains antariksa telah mengakomodasi sebagian besar pendapat ormas-ormas Islam yang selama ini berbeda dalam penentuan awal bulan-bulan Islam, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzuhijjah. LAPAN sebagai lembaga Pemerintah yang salah satu tugas fungsinya berkaitan dengan pemberian pertimbangan dan saran kepada Pemerintah (dalam hal ini Menteri Agama) dan pihak-pihak terkait (Majelis Ulama Indonesia dan Ormas-ormas Islam) tentang upaya penyatuan Kalender Islam dari sudut pandang sains antariksa (astronomi). Surat LAPAN berikut ini dipublikasi untuk menjadi pendorong semua pihak dalam mengupayakan titik temu, khususnya implementasi Rekomendasi Jakarta 2017, sehingga penyatuan Kalender Islam segera terwujud dan kalender Islam bersesuaian dengan hasil rukyat untuk itsbat (penentuan) waktu ibadah.

Penentuan Waktu Shubuh: Pengamatan dan Pengukuran Fajar di Labuan Bajo

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama

 

Pada 23-25 April 2018 dilaksanakan Temu Kerja Hisab Rukyat Kementerian Agama RI di Labuan Bajo, sekaligus dimanfaatkan untuk pengamatan fajar untuk penentuan waktu shubuh. Beberapa waktu sebelumnya ada kalangan yang meragukan waktu shubuh yang ada di jadwal shalat yang berlaku di Indonesia saat ini. Oleh karenanya Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI melakukan pengamatan fajar di daerah yang minim polusi cahaya. Labuan Bajo tergolong minim polusi cahaya karena cahaya lampu kota belum terlalu banyak, sehingga galaksi Bima Sakti (Milky Way) pun terlihat dengan jelas dengan mata telanjang.

Milky Way - Labuan Bajo - Ismail

Milky Way (Galaksi Bima Sakti) terlihat ketika polusi cahaya sangat minim. (Foto Ismail –Kemenag– di lokasi pengamatan fajar di Labuan Bajo)

Milky Way - Labuan Bajo-AR Sugeng

Milky Way (Galaksi Bima Sakti) terlihat ketika polusi cahaya sangat minim. (Foto AR Sugeng –CASA Assalam– di lokasi pengamatan di Labuan Bajo)

Tim melakukan pengukuran dengan menggunakan SQM (Sky Quality Meter), kamera, dan secara visual sebelum fajar sampai matahari terbit. Pengukuran SQM dilakukan oleh Hendro Setyanto (astronom pengelola Imah Nong) pada 24 April 2018 dan Rukman Nugraha (astronom BMKG) pada 25 April 2018. Pemotretan dengan kamera DSLR dilakukan AR Sugeng Riyadi (astronom amatir, Kepala Observatorium Assalam) dan diolah oleh Dr. Rinto Anugraha (Dosen Fisika UGM, Pengajar Falak di UIN Semarang). Saya melakukan pengamatan visual dan mendokumenasikan dengan kamera HP. Hasilnya, munculnya fajar pada saat ketinggian matahari -20 derajat mempunyai dukungan data pengamatan, jadi jadwal shalat yang dikeluarkan Kementerian Agama tidak terlalu cepat. Berikut rinciannya.

 

Pengukuran SQM oleh Hendro Setyanto (kurva biru) dan Rukman Nugraha (kurva coklat). Sumbu mendatar adalah waktu (WITa) dan sumbu tegak adalah ukuran kecerlangan langit dalam satuan MPSAS (Magnitude per Square Arc Second).

Kurva cahaya yang terukur dengan SQM menunjukkan bahwa penurunan magnitudo terjadi mulai pada pukul 04.46 WITa dan 04.44 WITa. Penurunan magnitudo mengindikasikan mulai munculnya cahaya fajar astronomi. Waktu tersebut bersesuaian dengan posisi matahari -19,5 dan -20 derajat.

Pemotretan dengan kamera DSLR yang disajikan mulai pukul 04.36 WITa (bersesuaian dengan ketinggian matahari -22 derajat) sampai pukul 05.00 WITa (bersesuaian dengan ketinggian matahari -16 derajat) dengan sudut pandang yang tetap dan waktu ekspos 25 detik. Citra foto kemudian diolah untuk menghilangkan gangguan polusi cahaya. Caranya, setiap citra dikurangi (proses substraksi) dengan citra pada posisi matahari -22 derajat saat sebelum fajar. Hasilnya kemudian ditingkatkan kontrasnya (enhanced). Hasilnya sebagai berikut:

Fajar belum tampak pada pukul 04.40 WITa ketika posisi matahari -21 derajat.

Cahaya mulai tampak pada pukul 04.44 WITa ketika posisi matahari -20 derajat (untuk melihat cahaya fajar secara jelas, klik gambar di atas untuk membesarkannya). Posisi pusat fajar bersesuaian dengan posisi titik matahari terbit. Cahaya ini benar fajar shadiq (fajar sesungguhnya), bukan fajar kadzib (fajar semu) karena melebar di ufuk.

Citra fajar pada pukul 04.48 WITa (posisi matahari -19 derajat).

Citra fajar pada pukul 04.52 WITa (posisi matahari -18 derajat).

Citra fajar pada pukul 04.56 WITa (posisi matahari -17 derajat).

Citra fajar pada pukul 05.00 WITa (posisi matahari -16 derajat).

Tiga foto asli oleh AR Sugeng Riyadi (sebelum diolah) yang menggambarkan kondisi polusi cahaya (ada cahaya lampu di ufuk Timur), fajar yang sudah cukup terang, dan titik posisi matahari terbit.

Pengamatan visual yang saya lakukan secara umum menggambarkan karakteristik fajar astronomi sebagai awal shubuh, fajar nautika, dan fajar sipil.

1. Fajar astronomi tampak di ufuk Timur dalam kondisi masih gelap. Galaksi Bima Sakti di atas kepala masih terlihat dan kita belum bisa mengenali orang di sekitar kita. Itu sesuai dengan ungkapan dalam hadits Aisyah, bahwa sesudah shalat bersama Rasul para wanita pulang tidak saling mengenal. Juga sesuai dengan isyarat di dalam QS Ath-Thur (52):49 “Dan bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan ketika bintang-bintang meredup”. Munculnya fajar shadiq (fajar sesungguhnya, fajar astronomi) ditandai dengan meredupnya bintang-bintang di ufuk timur karena mulai munculnya cahaya akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer. Itulah awal waktu shubuh.

2. Fajar nautika ditandainya dengan mulai makin terangnya ufuk timur. Itu ditandainya dengan garis batas ufuk mulai terlihat dengan jelas. Di Labuan Bajo ufuk timur ada bukit. Cahaya fajar di latar belakang yang makin terang mulai menampakkan bentuk bukit yang lebih jelas. Orang di samping kita masih terlihat remang-remang, wajahnya belum tampak jelas.

Fajar nautika saya foto dengan kamera hp. Bukit di ufuk timur mulai terlihat jelas batasnya.

3. Fajar sipil ditandai dengan makin terangnya kondisi di sekitar kita, sebelum matahari terbit. Warna fajar mulai agak memerah di bagian bawahnya. Wajah orang sudah bisa kita kenali dengan baik.

Fajar sipil ditandai dengan fajar yang mulai memerah.

Akhir fajar adalah terbitnya matahari.