Pertimbangan Sains Antariksa untuk Kalender Islam Indonesia

LAPAN

LAPAN turut memberikan solusi masalah perbedaan kalender Islam di Indonesia. Substansi perbedaan bukan lagi masalah fikih yang menjadi ranahnya para ulama. Substansi persoalan sudah bergeser ke masalah kalender yang menjadi ranahnya sains. Maka LAPAN pun memberikan pertimbangan sains antariksa untuk kalender Islam Indonesia.

Menjelang Ramadhan 1436, LAPAN mengirim surat kepada Menteri Agama, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ketua PP Muhammadiyah, Ketua PB Nahdlatul Ulama, dan Ketua PP Persatuan Islam, dengan tembusan kepada Menristekdikti. Surat saya tandatangani sebagai Kepala LAPAN bertanggal 12 Juni 2015. Sebagai bagian edukasi publik terkait dengan peran sains antariksa secara umum dan peran LAPAN secara khusus bagi masyarakat, berikut ini dokumentasi isi surat tersebut (dengan penyesuaian format):

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 49 tahun 2015 tentang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, LAPAN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya serta penyelenggaraan keantariksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, LAPAN menyelenggarakan fungsi antara lain (a) penyusunan kebijakan nasional di bidang penelitian dan pengembangan sains antariksa dan atmosfer, teknologi penerbangan dan antariksa, dan penginderaan jauh serta pemanfaatannya dan (b) penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang penelitian dan pengembangan sains antariksa dan atmosfer, teknologi penerbangan dan antariksa, dan penginderaan jauh serta pemanfaatannya.

Terkait dengan penggunaan kalender Islam di masyarakat yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan karena masih terbukanya perbedaan (khususnya Idul Fitri dan Idul Adha 1436/2015) di antara ormas-ormas Islam, LAPAN dengan ini menyampaikan beberapa pertimbangan ilmiah berdasarkan sains antariksa:

  1. Sistem kalender adalah produk sains antariksa (astronomi) dari hasil pengamatan jangka panjang gerak benda-benda langit yang diformulasikan dalam rumusan posisi bulan dan matahari. Saat ini formulasi perhitungan astronomis tersebut telah disusun dalam berbagai perangkat lunak yang mudah diakses masyarakat.
  2. Interpretasi sains bersifat umum, tidak bisa hanya berlaku untuk suatu kelompok. Dengan demikian, interpretasi data astronomis adalah bersifat global. Interpretasi sepihak yang tidak sesuai dengan kaidah sains, tidak boleh dianggap sebagai interpretasi sains-astronomis.
  3. Sistem kalender yang mapan selalu mensyaratkan tiga hal utama: (a) adanya otoritas tunggal yang menjaganya, (b) adanya kriteria tunggal yang disepakati, dan (c) adanya batas wilayah. Tiga syarat itu terpenuhi pada kalender internasional (Masehi), walau awalnya tidak mempunyai otoritas dan kriteria yang tunggal. Kalender Islam Indonesia belum bisa menjadi sistem kalender yang mapan (sehingga berpotensi terjadi perbedaan keputusan) karena belum adanya otoritas dan kriteria tunggal. Batas wilayah NKRI secara umum sudah disepakati.
  4. Terkait butir (3), kriteria kalender didasarkan pada kaidah astronomi berdasarkan acuan yang bisa diamati yang dirumuskan dengan formulasi sederhana yang disepakati bersama. Ormas-ormas Islam pengguna kalender dan Pemerintah didorong untuk mengupayakan kesepakatan kriteria dari banyak pilihan kriteria yang ditawarkan astronomi.
  5. Otoritas yang dimaksud pada butir (3) semestinya adalah otoritas yang diakui secara global, yaitu Pemerintah, sehingga sistem Kalender Islam Indonesia bisa dikembangkan menjadi kalender Islam regional (ASEAN) atau global melalui otoritas kolektif antar-pemerintahan. Otoritas pimpinan ormas hanya bersifat lokal sehingga menghambat upaya mewujudukan Kalender Islam Indonesia yang mapan. Otoritas lokal juga tidak mungkin membangun otoritas kolektif regional atau global.

Menghadapi potensi perbedaan penetapan Idul Fitri dan Idul Adha 1436/2015 karena masih adanya perbedaan kriteria, LAPAN menyampaikan pertimbangan:

  1. Untuk waktu yang mendesak, penyatuan kriteria belum memungkinkan dilakukan karena beberapa ormas Islam telah menyebarkan maklumat atau surat edaran. Untuk tahun depan dan selanjutnya, upaya penyatuan kriteria perlu diintensifkan untuk mewujudkan sistem Kalender Islam Indonesia yang mapan dan memberikan kepastian.
  2. Menjadikan Pemerintah sebagai otoritas tunggal adalah jalan terbaik untuk menghindarkan perbedaan yang akan terjadi. Cara itu harus ditempuh untuk mewujudkan Kalender Islam Indonesia yang mapan. Tanpa harus mengubah maklumat atau surat edaran penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1436/2015, sangat diharapkan Kementerian Agama, Majelis Ulama, dan Pimpinan ormas Islam secara bersama-sama mengumumkan bahwa Pemerintah sebagai otoritas tunggal penetapan Kalender Islam Indonesia.

Cita-cita besar mewujudkan sistem Kalender Islam Indonesia semestinya menjadi cita-cita bersama bangsa Indonesia untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kepala LAPAN

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Wawancara JAXA (Badan Antariksa Jepang) dengan Kepala LAPAN: Keantariksaan untuk Memecahkan Masalah di Asia Pasifik

Wawancara JAXA

Catatan: Awal Desember 2014, saat pertemuan APRSAF (Asia Pacific Regional Space Agency Forum) di Tokyo, media publikasi JAXA (Badan Antariksa Jepang) mewawancarai saya sebagai Kepala LAPAN. Walau pun ada beberapa yang salah kutip, tetapi secara umum wawancara itu mengungkapkan peran keantariksaan bagi Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

Ini versi Bahasa Jepang:

 

Wawancara JAXA2

Ini wawancara versi bahasa Inggris:

The 21st Asia-Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF-21) was held in Tokyo on December 2-5, 2014. APRSAF is an international conference that promotes the use of space in the Asia-Pacific region. During the conference, members of national space agencies and government bodies, as well as university researchers and representatives of private companies, gathered under one roof for lively discussion. We talked with the Chairman of the space agency of Indonesia, the host country for the APRSAF-22, which will convene in 2015.

An archipelago nation needs space technology

— Please give us an overview of the Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN), and tell us what you do.

Earth observation microsatellite LAPAN-A1 (courtesy: LAPAN)

Earth observation microsatellite LAPAN-A1 (courtesy: LAPAN)

RX-420 (courtesy: LAPAN)

RX-420 (courtesy: LAPAN)

The purpose of LAPAN is aerospace-related research and development. The organization was established in 1963, and today our work falls under four core competencies: space science, aerospace technology, remote sensing, and space policy. A recent achievement was the 2007 launch of LAPAN-A1, a microsatellite for Earth observation. It was developed with help from the Technical University of Berlin in Germany, and launched on an Indian rocket. We are currently working on its successors, LAPAN-A2 and LAPAN-A3. Our goal is to launch LAPAN-A2 in mid-2015 and LAPAN-A3 at the end of 2015. I believe we will use Indian rockets for these launches as well. Meanwhile, concerning rockets, we are developing a small solid-fuel rocket. We launched the RX-320 rocket, with a diameter of 32 cm, in 2008, and the RX-420, with a diameter of 42 cm, in 2009. Now we are developing their successor, the RX-450.

— What kinds of projects is LAPAN pursuing now?

First, in the area of space science, is a Space Radar for observing the development of the equatorial atmosphere. In the aerospace technology category, we are working on developing a transport aircraft in collaboration with private companies, a military reconnaissance drone, and sounding rockets and a microsatellite for Earth observation. LAPAN-A2 and LAPAN-A3, which we plan to launch in 2015, weigh no more than around 50 kg, but we are making plans to launch the LAPAN-A4 and LAPAN-A5 satellites, which will weigh 100 kg or more, by 2018, as well as to develop a satellite produced in Indonesia by the end of 2019. We’ll probably begin preparations for domestic production in 2015 or so. As for remote sensing, we are building a National Remote Sensing Data Bank. This data bank archives all remote sensing data acquired by LAPAN’s ground stations, and We want to make this these database useful for all of Indonesia’s government institutions, local governments and universities. Finally, in space policy we enacted the Indonesian Space Law in 2013, and we are preparing for the formulation of a space master plan covering the next 25 years.

— What are your thoughts on manned space exploration?

Scientifically, we have an interest in manned space exploration. However, it would be difficult for Indonesia to do this alone. Eventually we might produce an Indonesian astronaut through international collaboration, but at this point it is not our main priority. First I think we should develop our remote sensing and related technologies.

— What do you think is the significance of space development?

I think that space technology is one of the most important technologies in modern life. These days, so many aspects of human lifestyles depend on the use of space. Economic activity also depends on space technology for data communication and so on. Indonesia is particularly dependent on space technology because it is composed of around 17,000 islands, large and small, with a total land area about five times that of Japan’s. The country stretches 5,100 km east to west and 1,900 km north to south, so it is essential to construct networks using satellites. We have been building a domestic communications infrastructure using satellites since the 1970s, and presently there are three types of satellites in operation, such as those used in commercial communication. In addition, when a disaster occurs, Earth observation satellites can see the state of damage from space, and they play an important role in preventing secondary disasters. Like Japan, Indonesia is a country with many active volcanoes. We hope that satellites will also contribute to preventing damage before it happens, for example by helping us predict volcanic eruptions. This is why I think that the significance of using space is that it will create a safe and reassuring society for us.

Greater cooperation in the Asia-Pacific region

— Which topics do you think will be particularly significant at APRSAF-21?

Asia-Pacific Space Leaders Meeting (AP-SLM)Session at APRSAF-21

Asia-Pacific Space Leaders Meeting (AP-SLM)Session at APRSAF-21

Plenary Session at APRSAF-21

Plenary Session at APRSAF-21

APRSAF’s purpose thus far has been to advance the development of space technology, but now it seems the emphasis is shifting towards using space technology to help solve problems in the Asia-Pacific region. To do this, APRSAF has been reorganized into four working groups: Space Applications, Space Technology, Space Environment Utilization, and Space Education. Experts will gather under this framework, share activity reports and information, and engage in discussions toward new international cooperation. Although international projects toward solving regional problems are already underway  such as Sentinel Asia (which contributes to disaster prevention), the SAFE environmental effort, and the Climate R3 climate change initiative  I think that by forming working groups at APRSAF, we will facilitate more concrete action. This will benefit the Asia-Pacific region and likely strengthen our cooperative institutions much, much more.

— What kind of effect do you think your participation in APRSAF has had on Indonesia’s space development?

By participating in APRSAF, we have improved our knowledge and capacity in remote sensing and other space technology. In addition, when a natural disaster happens, we have provided satellite data through Sentinel Asia not only to verify the state of damage, but also to take measures to hold the damage to a minimum. I think a major benefit is that we can easily acquire the information we want in large quantities, and it is free to access. Furthermore, providing this sort of information to local governments and relevant institutions has, I think, led to support for their activities.

— In the future, what do you expect to do in your APRSAF activity?

Touring a life-size replica of Kibo during the APRSAF-21 technical tour

Touring a life-size replica of Kibo during the APRSAF-21 technical tour

We’ll probably get various benefits through projects using the Kibo Japanese Experiment Module on the International Space Station, and through Kibo-ABC. In addition to giving researchers the opportunity to conduct experiments in space, Kibo-ABC can contribute to space education for children. For example, one Kibo-ABC program is Space Seed for Asian Future. First we send tomato seeds to Kibo, and then they are sent back to Earth, where junior high school students grow them. The students compare the growth of seeds sent to space with those that weren’t, and then submit reports. Then there is a competition to identify excellent reports. Indonesian students have also joined this program, and it seems they were able to learn about the space environment through their experiments. In addition, at APRSAF we hold a water-rocket competition for elementary and junior high school students in the Asia-Pacific region. This has raised children’s awareness of space. In the future we will have competitions for high school and university students. For example, I really want to run a competition where students can learn about satellites and remote sensing technology.

— Do Indonesian children have an interest in space?

It seems to me that Indonesian children have a growing interest in space activity and space science. One factor may be that the spread of the internet has made it easy to get information. In addition, there are many children with an interest in astronomy, as I had when I was young. Planetariums are popular, and there are many active groups for amateur and professional astronomers. Outside of APRSAF, we also hold our own water-rocket competition, which seems to spur children’s interest in space activity.

Using space technology to fight maritime problems

— The next APRSAF host country is Indonesia. Do you have an outlook for what kind of conference you want it to be?

Indonesia’s current president has a vision of making maritime affairs a national priority item, and at the next APRSAF I think we will focus on maritime management. For example, we want to discuss methods of monitoring illegal fishing by using remote sensing technology, because our fishermen suffer great losses due to illegal fishing from overseas. In addition, the Malacca Straits between Indonesia and Malaysia are well-known for pirates who attack commercial shipping, so I would like to reduce the harm from pirates by using watchful eyes from space. By using space technology to support activities at sea, I hope we can solve maritime problems affecting not only Indonesia, but other Asia-Pacific countries as well.

— How do you want to develop LAPAN in the future?

My goal is to move steadily forward in our four competencies of space science, aerospace technology, remote sensing and space policy. For the future, we have a plan to construct a space port in the equatorial region of eastern Indonesia, and I would like to proceed with research and development, so we can eventually launch Indonesian-made satellites on Indonesian-made rockets.

— Finally, please tell us about your hopes for collaboration with JAXA.

Dr. Djamaluddin, LAPAN Chairman, and Dr. Okumura, JAXA President

Dr. Djamaluddin, LAPAN Chairman, and Dr. Okumura, JAXA President

We have built collaborative relationships with Japanese research institutions and universities. With JAXA in particular, we have had many results from partnerships related to remote sensing, such as satellite data usage. JAXA has the capabilities to develop satellites and rockets on its own, and we see a need to partner up in these kinds of areas as well. I hope JAXA will actively support us.

Thomas Djamaluddin

Hironobu Yokota

Chairman of the Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Dr. Djamaluddin graduated from the Bandung Institute of Technology in 1986, with an undergraduate degree in Astronomy. Subsequently, he studied at Kyoto University, where he earned a post-graduate degree in astronomy in 1991, and a Ph.D. in Astronomy in 1996. He was Director of LAPAN’s Climate and Atmospheric Science Applications Center from 2007 to 2010, and Deputy Chairman of Space Science Affairs from 2011 to 2014. He has been Chairman of LAPAN since February 2014.

Bloodmoon: Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014

T. Djamaluddin

LAPAN

lunar_eclipse_3-3-2007

Gambar rangkaian gerhana bulan total yang menampakkan bulan merah (dari earthsky.org)

 

“Bloodmoon” menjadi istilah media yang dikaitkan dengan gerhana bulan total yang menampakkan bulan berwarna merah darah, khususnya pada rangkaian empat gerhana bulan total 15 April 2014, 8 Oktober 2014, 4 April 2015, dan 28 September 2015. Seperti apa gerhana 8 Oktober 2014? Berikut ini rangkaian gerhana dari situs NASA dan hasil simulasi Stellarium:

Eclipse 8 oct 2014

Situs NASA memberikan informasi kejadian gerhana bulan 8 Oktober dimulai dengan fase gerhana sebagian mulai pukul 16:15 WIB, disusul fase total mulai 17:25 – 18:24 WIB, dan diakhiri dengan fase gerhana sebagian lagi sampai pukul 19:34 WIB. Dari waktu tersebut, jelas hanya Indonesia Timur yang bisa mengamatinya secara penuh. Di wilayah Barat Indonesia, ketika bulan terbit saat maghrib gerhana total sedang berlangsung.

Gerhana bulan diamati di ufuk Timur.

Gerhana diawali dengan tertutupnya bagian bawah bulan oleh bayangan bumi pada pukul 16:15 WIB (18:15 WIT). Hanya wilayah sekitar Papua yang bisa mengamatinya  awal gerhana ini. Pada pukul 16:40 WIB (18:40 WIT), hampir setengah bagian bawah bulan akan gelap. Menjelang gerhana total, pada pukul 17:10 WIB (19:10 WIT), purnama hanya tersisa bagian kiri atas:

Gerhana 8 okt 2014-16-40 wibPukul 16:40 WIB (18:40 WIT)

Gerhana 8 okt 2014-17-10 wib

Pukul 17:10 WIB (19:10 WIT)

Gerhana bulan total mulai pada pukul 17:25 WIB (19:25 WIT) sampai pukul 18:40 WIB (20:40 WIT). Purnama menjadi lebih gelap. Dalam kondisi tertentu bisa menampakkan bulan berwarna merah. Mengapa bisa berwarna merah? Cahaya matahari yang mengenai bulan memang tertutup oleh bumi, tetapi atmosfer bumi masih membiaskan cahaya merah dari matahari itu sehingga bulan tidak gelap total. Hal itu mudah dijelaskan kalau kita melihatnya dari bulan. Astronot di permukaan bulan, saat itu sedang menyaksikan gerhana matahari oleh bumi. Bumi tampak di kelilingi cahaya kemerahan akibat atmosfer yang membiaskan cahaya merah dari matahari. Cahaya biru dari matahari dihamburkan oleh atmosfer bumi.

Gerhana matahari di bulan

Saat terjadi gerhana bulan total, astronot di bulan mengamati gerhana matahari total (gambar kiri). Atmosfer di bumi membiaskan cahaya merah ke arah bulan, sehingga bulan bisa tampak merah (gambar kanan). [Gambar dari earthsky.org]

Setelah fase gerhana bulan total, disusul fase gerhana sebagian sampai akhir gerhana. Purnama mulai tersibak dari sisi kiri bawah dan akhirnya bayangan bumi mulai meninggalkan purnama dari sisi kanan atas.

Gerhana 8 okt 2014-18-40 wibPukul 18:40 WIB (20:40 WIB)

Gerhana 8 okt 2014-19-00 wib

Pukul 19:00 WIB (21:00 WIT)

Seluruh proses gerhana berakhir pada pukul 19:34 WIB (21:34 WIT).

Bagi pengamat di wilayah Barat Indonesia tidak harus kecewa karena tidak bisa mengamati proses gerhana secara penuh. Ada keuntungan lain yang bisa diperoleh para pengamat, khususnya para penggemar astrofotografi. Gerhana bulan dekat ufuk Timur memberikan peluang yang bagus untuk disandingkan dengan objek latar depan yang indah, misalnya monas di Jakarta, jembatan layang Pasupati di Bandung, Borobudur atau Prambanan di dekat Yogyakarta.

 

 

 

Keinginan Memegang Kendali dari Antariksa

Wawasan, Republika, 22 April 2014 memuat wawancara dengan Kepala LAPAN. Berikut ini copy-nya:

Wawasan-Republika-KaLAPAN-0

 

Badai Matahari Awal 2014: Flare Kuat X1,2 Mengarah Ke Bumi

T. Djamaluddin

LAPAN

Flare X1-2-CME 8 Jan 2014 01-30 WIB

(Sumber data SolarHam.com dan http://www.swpc.noaa.gov)

Flare (ledakan dari permukaan matahari) cukup kuat kelas X1,2, terjadi mengawali tahun 2014 setelah sekian lama matahari relatif agak tenang. Badai matahari berupa flare yang disertai lontaran massa korona (CME: Coronal Mass Ejection) puncaknya terjadi pada 7 Januari 2014 pukul 18:30 (8 Januari pukul 01:30 WIB). Flare dipantau pancaran sinar-X dengan satelit GOES yang ditandai dengan peningkatan pancaran sinar-X. Flare berasal dari daerah aktif 1944 yang berada hampir di tengah piringan matahari. Posisi ini menyebabkan arah pancaran partikel energetik dari flare ini mengarah ke bumi.

20140108_xray

AR 1944-8Jan 2014

Satelit pemantau matahari SOHO merekam lontaran massa dari matahari dan tampak partikel energetiknya menghujaninya (tampak seperti hujan salju pada videonya).

Model CME mengindikasi partikel energi tersebut akan mencapai lingkungan bumi (wilayah orbit satelit dan magnetosfer bumi) sekitar 1,5 hari kemudian.

Simulasi CME 8 Jan 2014-01 UT

Simulasi CME 8 Jan 2014-09 Jan 07 UT

Simulasi CME 8 Jan 2014-10 Jan 06 UT

Radiasi proton energi tinggi dari flare ini tergolong kuat (kelas S3) yang berpotensi membahayakan astronot kalau sedang melakukan kegiatan di luar pesawat antariksa dan potensi menggangu sistem elektronik dan kamera satelit.

Catatan Visual Komet ISON 2013

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-astrofisika, LAPAN

comet-ison-damian-peach

Komet ISON 25 November 2013

(Referensi: http://www.nasa.gov, http://www.space.com, earthsky.org, http://www.solarham.net)

Komet ISON adalah komet yang baru keluar dari “sarang komet” yang disebut Awan Oort di tepian tata surya. Komet adalah bongkahan sisa pembentukan tata surya. Materialnya hanya terdiri dari es air dan debu. Diperkirakan komet ini telah menempuh perjalanan sejuta tahun sebelum mendekati matahari. Pada 28 November 2013 pukul 18:44 UT (29 November 2013 pukul 01:44 WIB) komet ISON  mencapai titik terdekat dengan matahari dengan jarak hanya sekitar 1,1 juta km. Ini tergolong jarak terdekat komet dengan matahari yang memungkinkan komet hancur oleh panasnya matahari dan kuatnya angin matahari atau semburan matahari pada saat matahari aktif. Komet ditandai oleh kepala komet yang terang dan ekor komet yang menjulur menjauhi matahari. Komet ISON kali ini dimati dengan teleskop di bumi dan di wahana antariksa. Berikut ini rekaman visual komet ISON menjelang, pada saat, dan sesudah mendekati matahari.

Inilah perjalanan ISON mendekati matahari 20 – 25 November 2013 yang direkam wahana antariksa pengamat matahari STEREO:

ISON 27Nov 2013 02-44 UT

Komet ISON mendekati matahri 27 Nov 2013, pukul 09:44 WIB

ISON 27Nov 2013 15-28 UT

Komet ISON 27 Nov 2013 pukul 23:28 WIB

Inilah perjalanan ISON pada 27 November 2013 yang direkam wahana antariksa pengamat matahari SOHO. Badai matahari yang terekam SOHO tampaknya tidak berdampak signifikan pada ISON.

Inilah saat-saat komet ISON mencapai titik terdekat pada 28 November 2013 pukul 18:44 UT/GMT

Komet ISON mengalami pemanasan hebat dan efek gravitasi matahari yang sangat kuat setelah melewati titik terdekatnya pada 28 November 2013 pukul 18:44 UT (29 November 2013 pukul 01:44 WIB). Citra lingkungan matahari dari wahana SOHO dan STEREO pada pukul 20:36 UT (03:36 WIB) dan 21:24 UT (04:24) mengindikasikan intinya tampak menghilang.

ISON 28Nov 20-36 21-24 UT

Komet ISON memang selamat melewati perihelion (jarak terdekat dengan matahari), namun dengan kondisi habis-habisan. Sebagian besar materialnya habis terkena paparan panas matahari dan semburan angin matahari. Maka komet ISON nyaris tampak tanpa kepala komet. Berikut ini rekaman wahana antariksa SOHO yang menunjukkan perjalanan komet ISON mendekati matahari sejak 26 November sampai 30 November malam (waktu Indonesia). Harapan para astronom untuk melihat komet terang pasca perihelion pupus sudah.

Peran Astronomi Dalam Penyatuan Penetapan Awal Bulan Qamariyah

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat

Sekian ratus tahun ummat Islam memperdebatkan masalah dalil rukyat (pengamatan/observasi) versus hisab (perhitungan/komputasi) yang cenderung makin melebarkan perbedaan. Penafsiran cenderung  bersifat dikhotomi yang menganggap rukyat dan hisab seolah berbeda. Bahkan kadang berujung pada pendapat yang ekstrem, ada pengamal rukyat yang melarang penggunaan hisab dan ada pengamal hisab yang menafikkan rukyat. Dampak tak langsungnya, ada pengamal rukyat yang sama sekali tidak faham hisab karena merasa tidak perlu tahu soal hisab. Sebaliknya ada pengamal hisab yang tidak mengenal teknik rukyat karena merasa tidak perlu belajar rukyat. Memang disadari, mencari titik temu dari segi dalil sangat sulit, karena menyangkut masalah keyakinan dalam beribadah.

Astronomi memandang rukyat dan hisab setara dan bisa saling menggantikan. Hisab dibangun dengan formulasi berdasarkan data rukyat jangka panjang. Sementara rukyat hilal yang sangat tipis dibantu dengan hasil hisab untuk memudahkan mengarahkan pandangan rukyat dan mengklarifikasi hasil rukyat yang meragukan. Astronomi bisa menjembatani rukyat dan hisab, tanpa mempertentangkan dalilnya. Para pengamal rukyat tetap dengan keyakinan dalil rukyatnya. Sementara para pengamal hisab pun bisa tetap dengan keyakinan dalil hisabnya.

Titik temu rukyat dan hisab adalah pada kriteria (batasan) awal bulan yang dapat mewadahi pengamal rukyat dan pengamal hisab secara setara. Kriteria itu digunakan oleh para pengamal hisab pada penentuan awal bulan qamariyah dan juga oleh para pengamal rukyat untuk memverifikasi hasil rukyat. Sementara formulasi kriterianya ditentukan berdasarkan pengalaman hasil rukyat. Astronomi membantu perumusan kriteria itu berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang sahih.

Perkembangan Pemikiran Hisab

Pola pandang dikhotomis selalu menganggap bahwa Rasulullah SAW hanya mengajarkan rukyat, sementara pihak lain menganggap bahwa Rasul mengajarkan rukyat karena belum mengenal hisab. Cara pandang astronomis bukan seperti itu. Astronomi memandang rukyat dan hisab adalah bagian dari perkembangan pemahaman sains  ummat Islam yang terpadu, bukan dikhotomis. Hadits yang menyatakan “Kami ini ummat yang ummiy yang tidak bisa menulis dan menghitung, bulan itu sekian dan sekian (dengan memberi isyarat 29 atau 30 hari)” sama sekali tidak dikaitkan dengan alasan rukyat. Oleh karenanya hadits itu tidak boleh dimaknai bahwa setelah ummat Islam pandai menghitung (menghisab), maka rukyat harus ditinggalkan. Terlalu naif kesimpulan seperti itu dan cenderung merasa hisab sudah sampai pada titik kesempurnaannya sehingga tak perlu rukyat. Perkembangan astronomi menunjukkan bahwa rukyat dan hisab selalu beriringan dan secara bersama saling memacu kemajuan.

Astronomi memandang hadits “ummiy” adalah cikal bakal hisab dan sekaligus membuktikan Rasulullah SAW tidak buta hisab. Dari pengalaman empirik, Rasulul tahu bahwa satu bulan hanyalah mungkin 29 atau 30 hari. Hanya saja pengetahuan saat itu belum mampu menentukan prakiraan bulan mana saja yang 29 hari dan yang 30 hari. Oleh karenanya pada zaman Rasul belum ada kalender, yang ada hanyalah catatan sejarah dalam memori masyarakat tentang suatu kejadian yang dinyatakan dengan hari, tanggal, dan rentang waktu dari suatu peristiwa. Misalkan, kelahiran Rasul dinyatakan pada hari Senin, 12 Rabbiul Awal Tahun Gajah.

Kalender baru diperkenalkan pada Zaman Khalifah Umar, terutama karena keperluan penentuan tahun yang pasti. Pada saat itulah dipilih tahun nol adalah tahun Hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah (karenanya disebut tahun Hijriyah). Alasannya karena kebiasaan masyarakat menyebut “Tahun ke sekian sejak hijrah Rasul”. Untuk membuat kalender harus menggunakan hisab dan harus ada kriterianya. Berdasarkan hadits “ummiy” itulah kita tahu bahwa pemahaman hisab pada zaman Rasul dan para sahabat hanyalah umur bulan 29 dan 30 hari. Lalu apa kriterianya? Kalender pertama menggunakan kriteria paling sederhana, yaitu umur bulan dibuat berselang-seling 30 dan 29 hari, yang dikenal sebagai kriteria hisab urfi (periodik). Muharram 30 hari, Shafar 29, Rabbiul Awal 30, Rabbiul Akhir 29, dan seterusnya. Perkembangan selanjutnya mengenal adanya periode panjang 30 tahunan, sehingga ada konsep tahun kabisat (tahun panjang, 355 hari) dan tahun basithoh (tahun pendek, 354 hari). Dalam 30 tahun ada 19 tahun kabisat dan 11 tahun tahun basithoh.

Ketika ilmu hisab makin berkembang dan konsep koordinat langit mulai dikenal dengan pembagian ekliptika (garis edar matahari di langit) menjadi 12 rasi (buruj), maka muncullah konsep ijtimak, yaitu bulan dan matahari segaris bujur ekliptika. Itulah dianggap sebagai batas periode manzilah (fase-fase) bulan sekitar 29,5 hari. Secara astronomi itu dikenal sebagai batas bulan baru (newmoon). Namun, para ahli falak (ahli peredaran benda-benda langit) tidak menjadikan ijtimak/newmoon sebagai batas awal bulan. Konsep awal rukyat tetap digunakan, yaitu terlihatnya hilal pasca maghrib. Hilal hanya mungkin terlihat bila terjadi setelah ijtimak. Maka, perkembangan kriteria kalender berikutnya adalah ijtimak qoblal ghurub (ijtimak sebelum maghrib). Inilah konsep kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) yang paling primitif (paling awal).

Pemahaman astronomi terus berkembang, bukan hanya empirik posisi bulan dan matahari di langit, tetapi mulai masuk pada aspek dinamika benda-benda langit. Teori orbit benda-benda langit mulai dikenal, sehingga prakiraan posisi benda langit bisa dihitung secara lebih akurat. Bukan hanya periode fase bulan dan keberulangan posisinya di ekliptika, ilmu hisab bisa digunakan menghitung prakiraan posisi bulan setiap waktunya. Pemahaman konsep segitiga bola (spherical trigonometry) memungkinan konversi sistem koordinat bisa dilakukan. Perhitungan dalam koordinat ekliptika bisa dikonversikan menjadi koordinat horizon (berbasis ufuk). Dengan konsep koordinat horizon, maka berkembang perhitungan waktu terbit dan terbenamnya benda langit. Nah, dengan pengetahuan waktu terbenam bulan dan matahari, kriteria pun disempurnakan. Untuk terlihatnya hilal, semestinya bulan masih di atas ufuk setelah matahari terbenam. Maka kriterianya ditingkatkan menjadi kriteria yang kita kenal sebagai kriteria wujudul hilal, yaitu matahari terbenam sebelum bulan terbenam.

Sebenarnya untuk terlihatnya hilal bukan hanya faktor posisi yang diperhitungkan, tetapi juga harus diperhitungkan faktor cahaya hilal dan cahaya syafak (cahaya senja). Cahaya syafak adalah cahaya hamburan matahari oleh atmosfer. Artinya, semakin dekat ke matahari semakin kuat cahayanya. Demikian juga semakin dekat ke ufuk, cahaya syafak juga semakin kuat. Dengan perkembangan astronomi, dari data pengalaman rukyat jangka panjang telah dirumuskan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat), berupa persyaratan untuk terlihatnya hilal. Sebagai produk sains, setiap peneliti bisa menyimpulkan beragam kriteria visibilitas hilal. Ada beberapa parameter yang digunakan. Terkait dengan kecerlangan hilal, parameter yang digunakan adalah lebar sabit hilal, umur hilal, atau jarak sudut bulan-matahari (elongasi). Terkait dengan kecerlangan cahaya syafak, parameter yang digunakan adalah tinggi hilal, beda tinggi bulan-matahari, beda azimut (jarak sudut bulan-matahari di garis ufuk), atau beda waktu terbenam bulan-matahari. Kriteria visibilitas hilal haruslah menggambarkan batasan minimal agar cahaya hilal bisa mengalahkan cahaya syafak sehingga hilal bisa terlihat.

Dari perkembangan pemikiran hisab tersebut, terlihat bahwa masalah perbedaan kriteria hisab wujudul hilal dan imkan rukyat bukanlah perbedaan yang mendasar. Keduanya sebenarnya mempunyai akar yang sama. Pemilihan wujudul hilal di Indonesia hanyalah didasarkan pada alasan penyederhanaan, karena memang sebelum tahun 1980-an ketika kalkulator dan komputer belum berkembang, hisab imkan rukyat dianggap sangat rumit. Tetapi sekarang, hisab imkan rukyat sangat terbantu dengan berbagai program komputer sehingga hisab hanya memerlukan beberapa klik saja.

Perkembangan Teknologi Pengamatan

Pertanyaan paling mendasar yang sering mengemuka adalah mengapa harus rukyatul hilal untuk penentuan awal bulan qamariyah? Rasul hanya memberi contoh, tanpa menjelaskan alasannya. Tetapi secara astronomi, rukyatul hilal sangat beralasan. Hilal adalah bulan sabit pertama yang teramati sesudah maghrib. Itu pasti penanda awal bulan. Malam sebelumnya tidak ada bulan, yang disebut bulan mati (dark moon). Dan sebelumnya lagi terlihat bulan sabit tua pada pagi hari menjelang matahari terbit. Hilal adalah bukti paling kuat telah bergantinya periode fase bulan yang didahului bulan sabit tua dan bulan mati.

Rukyat hilal pada awalnya memang sekadar menggunakan mata, tanpa alat bantu. Namun sekarang, banyak alat bantu rukyat bisa digunakan. Teleskop dan binokuler (keker) adalah utama yang digunakan membantu pengamatan. Fungsi utama teleskop dalam pengamatan objek redup seperti hilal adalah memperbanyak cahaya yang dikumpulkan dan difokuskan ke mata. Sebagai perbandingan, pupil mata diameternya hanya sekitar 0,5 cm, sehingga cahaya yang ditangkap minim sekali. Dengan menggunakan teleskop dengan diameter lensa objektif atau cermin yang jauh lebih besar, maka cahaya yang diteruskan ke mata semakin banyak. Dengan susunan lensa atau cermin cekungnya, teleskop berfungsi juga membesarkan ketampakan objek. Dengan demikian teleskop bisa membantu memperjelas ketampakan hilal, sekaligus juga memperjelas kalau ternyata objek itu bukan hilal (misalnya cahaya lampu atau objek terang lainnya).

Dengan teleskop, cahaya hilal memang diperkuat, tetapi cahaya syafak juga diperkuat. Akibatnya, kontras hilal relatif tidak berubah. Dengan kata lain, dengan telskop pun cahaya hilal belum tentu bisa mengalahkan cahaya syafak. Itu sebabnya, seringkali dengan teleskop hilal pun masih sulit diamati. Sehingga persyaratan kriteria visibilitas hilal tetap harus diperhatikan, bahwa ada batasan minimal tertentu agar hilal terlihat, misalnya batas minimal ketinggian dan jarak sudut bulan-matahari.

Untuk membantu pengamatan sering juga digunakan kamera untuk merekam citra hilal. Dulu digunakan kamera film yang prosesnya lama. Sekarang para pengamat menggunakan kamera CCD atau kamera digital yang prosesnya cepat karena terbantu oleh berbagai program komputer pengolah citra. Kontras hilal pun bisa ditingkatkan dengan program pengolah citra. Sebenarnya peningkatan kontras bisa diupayakan juga penggunaan filter untuk menapis cahaya syafak, namun sampai saat upaya itu belum berhasil. Salah satu sebabnya karena panjang gelombang cahaya hilal dan cahaya syafak relatif sama. Gagasan untuk menggunakan filter inframerah juga tidak efektif, karena efek serapan inframerah oleh uap air di arah ufuk cukup besar, sehingga hilal malah tampak makin redup.

Saat ini pengamatan bulan sabit siang hari dimungkinkan dengan teknik pencitraan digital yang didukung dengan teknik penghalang matahari dan penggunaan filter. Untuk pengamatan siang hari, penggunaan filter inframerah cukup efektif, karena cahaya langit menghamburkan cahaya biru yang bisa ditapis dengan filter inframerah. Dengan ditapisnya cahaya langit, cahaya hilal bisa lebih menonjol. Pengamatan siang hari bukan masalah kecanggilan teleskopnya, tetapi pada keterampilan dan pengalaman pengamatnya. Para pengamat Indonesia pun ada yang berhasil mengamati bulan sabit siang hari, walau bukan bulan sabit yang termuda karena tingkat kesulitannya memang lebih tinggi. Banyak yang berharap pengamatan bulan sabit siang hari menjadi solusi alternatif rukyatul hilal. Namun, harapan itu keliru, karena bulan sabit siang hari bukanlah hilal penentu awal bulan. Alasannya, karena bulan sabit siang hari bisa menunjukkan bulat sabit tua, bulan saat ijtimak, atau bulan sabit muda. Terlihatnya bulan sabit siang hari juga bukan jaminan terlihatnya hilal saat maghrib. Hilal penentu awal bulan hanyalah bulan sabit sesudah maghrib.

Kriteria Visibilitas Hilal (Imkan Rukyat) dan Penafsirannya

Kriteria visibilitas hilal adalah titik temu rukyat dan hisab. Kriteria itu dirumuskan berdasarkan data rukyat jangka panjang. Analisis statistik pola sebaran data rukyat digunakan untuk menentukan batas minimal peluang terlihatnya hilal yang kemudian dijadikan sebagai kriteria visibilitas hilal. Kriteria visibilitas hilal memang beragam. Hal itu beralasan terkait sifat sains yang memberikan kebebasan bagi para penelitinya untuk memformulasikan model fenomena alam dengan parameter yang dianggap paling baik. Untuk implementasi pada pembuatan kalender, para penggunanya harus memilih salah satu kriteria atau gabungan beberapa parameter. Tentu saja alasan utama pemilihan kriteria adalah kemudahan penggunaan dan akurasinya.

Dalam perkembangan penggunaan kriteria hisab, faktor kemudahan menjadi faktor dominan yang mempengaruhinya. Dimulai dari yang paling mudah, ijtimak qoblal ghurub, lalu wujudul hilal, dan sekarang ke arah imkan rukyat yang lebih realistis. Di Indonesia digunakan kriteria “2-3-8”, yaitu “(1) tinggi bulan minimal 2 derajat dan (2) jarak sudut bulan-matahari minimal 3 jam atau umur bulan minimal 8 jam”. Dalam kaitannya dengan pembuatan kalender, kriteria digunakan sebagai batas minimal untuk menyatakan masuknya awal bulan. Namun, dalam kaitannya dengan rukyatul hilal, kriteria digunakan sebagai dasar penolakan rukyatul hilal yang meragukan (misalnya kesaksian tunggal atau kesaksian tanpa alat bantu).

Bila menghendaki kriteria imkan rukyat yang benar-benar menjadi dasar kemungkinan keberhasilan rukyat hilal, kriteria yang digunakan haruslah yang secara statistik merupakan batas optimistik keberhasilan rukyat. Batasan waktunya bukanlah saat maghrib, tetapi beberapa saat setelah maghrib saat cahaya syafak mulai meredup yang dikenal sebagai “waktu terbaik” (best time). Konsekuensinya, batas ketinggiannya menjadi lebih tinggi, dengan ketinggian lebih dari 5 derajat dan beberapa syarat lainnya. Kriteria optimistik seperti itu antara lain digunakan dalam kriteria SAAO, Yallop, Odeh, dan Shaukat.

Kriteria itu hanyalah parameter minimal secara rata-rata. Pada kenyataannya, ada kemungkinan rukyat yang lebih rendah dari kriteria tersebut, yaitu pada saat istimewa tetapi jarang terjadi. Beberapa data menunjukkan bahwa bila hilal terjadi pada saat jarak bumi-bulan terdekat (perigee) ada peluang terlihatnya hilal lebih rendah, karena ukuran hilal tampak menjadi lebih besar dan lebih tebal. Untuk mengantisipasi data rukyat seperti itu, maka pilihan optimalnya adalah menggunakan kriteria yang memungkinakan semua data rukyat masuk, sehingga bisa dijadikan dasar penolakan kesaksian yang meragukan. Konsekuensi pilihan kriteria seperti itu adalah bisa jadi ada hilal yang tidak tampak walau berada sedikit di atas kriteria itu, terlalu dekat dengan batas bawah kriteria. Tetapi pada umumnya, posisi bulan yang melebihi kriteria akan tampak. Usulan Kriteria Hisab Rukyat Indonesia (LAPAN, 2010) termasuk pada kriteria optimalistik tersebut, dengan kriteria beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (atau tinggi bulan minimal 3o 10’) dan jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat.

Kriteria Visibilitas Sebagai Dasar Penyatuan Kalender Islam

Dua aspek teknis yang pokok dalam pembuatan kalender adalah hisab dan kriterianya. Secara umum hisab astronomi kini sudah menjadi rujukan bersama. Program-program komputer untuk perhitungan astronomi sekarang tersedia, baik bersifat komersial maupun non-komersial yang bebas di unduh di internet. Dengan kesamaan hisab astronomis yang digunakan, maka secara umum semua pihak akan menyatakan hasil hitungan posisi bulan yang relatif sama.

Hisab astronomi dalam terminologi ilmu falak disebut hisab hakiki, yaitu menyatakan posisi bulan yang sesungguhnya. Hisab lama yang masih dipakai oleh sebagian kelompok adalah hisab taqribi atau pendekatan, yaitu ketinggian bulan dihitung berdasarkan umur bulan. Karena bulan secara rata-rata bergerak ke Timur 12 derajat perhari, maka tinggi bulan ditaksir setengah umur bulan (dari 12 derajat/24 jam x umur bulan). Jadi bila ijtimak terjadi pukul 13.00 dan maghrib pukul 18.00, maka umur bulan = 5 jam dan tinggi bulan ditaksir 5/2 = 2,5 derajat. Hasil hisab taqribi umumnya lebih tinggi dari hisab hakiki.

Dengan hasil perhitungan posisi bulan, ahli hisab lalu menentukan masuknya awal bulan berdasarkan kriteria yang digunakan. Misalnya, pada 7 Agustus 2013 untuk penentuan awal Syawal 1434 posisi bulan di Pelabuhan Ratu saat maghrib 3o 26’ atau beda tinggi bulan-matahari 4o 16’. Dengan menggunakan kriteria wujudul hilal (digunakan Muhammadiyah), kriteria 2o (digunakan NU), dan kriteria beda tinggi 4o (digunakan Persis), semua kalender Muhammadiyah, NU, dan Persis bersepakat bahwa 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013. Perbedaan akan terjadi ketika posisi bulan berada di antara kriteria tersebut. Dengan perbedaan kriteria, ada pihak yang menyatakan sudah masuk awal bulan, sementara pihak lain menyatakan belum masuk. Itulah yang terjadi di Indonesia ketika awal Ramadhan atau Idul Fitri berbeda.

Penyatuan kriteria menjadi prasyarat utama untuk menyatukan kalender Islam. Mewujudkan kalender Islam yang mapan adalah cita-cita utama penyatuan ummat. Karena penentuan awal bulan qamariyah juga terkait dengan ibadah, khususnya dalam penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, maka kalender Islam semestinya juga menjadi kalender ibadah. Terkait dengan kalender ibadah, pemilihan kriteria menjadi titik krusial yang harus disatukan. Dalam hal ini, kita juga harus menyadari bahwa pengamal rukyat dan pengamal hisab harus diwadahi setara. Bagi pengamal hisab, cukuplah awal bulan mengikuti hasil hisab yang tercantum di kalender. Sedangkan bagi pengamal rukyat, awal bulan harus dibuktikan dengan hasil rukyat yang di-itsbat-kan (ditetapkan) oleh pemerintah. Jadi, demi persatuan ummat dan penyatuan kalender Islam, kriteria yang harus digunakan adalah kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Dengan kriteria itu, hasil rukyat akan sama dengan hasil hisab yang tercantum di kalender.

Dalam mencari titik temu, tentu masing-masing pihak perlu terbuka untuk menerima konsep pihak lain, tanpa merasa menang atau kalah. Para pengamal hisab harus terbuka untuk menerima konsep rukyat sehingga kriteria yang disepakati harus berbasis visibilitas hilal atau imkan rukyat. Sementara para pengamal rukyat pun harus terbuka untuk menerima konsep hisab yang pasti sehingga ketika posisi bulan yang telah memenuhi kriteria namun gagal rukyat haruslah hisab diterima sebagai penentu masuknya awal bulan. Hal itu mendasarkan pada Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 yang membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat.

Bila kita sudah bersepakat menggunakan kriteria yang sama, maka langkah berikutnya adalah merumuskan kriterianya. Pilihannya bisa menggunakan kriteria optimistik ala Odeh, Yallop, SAAO, atau Shaukat. Atau menggunakan kriteria optimalistik ala kriteria LAPAN 2010 atau kriteria lain yang disepakati. Agar kalender yang disepakati menjadi kalender yang mapan, perlu juga disepakati otoritas tunggal yang menjaga sistem kalender tersebut, yaitu otoritas defacto atau pemerintah. Juga perlu ditegaskan batas wilayah keberlakukannya, misalnya negara kesatuan Republik Indonesia. Kesepakatan di tingkat nasional bisa diperluas ke tingkat regional dan global dengan menggalang kesepakatan otoritas antar-pemerintahan, batas wilayah, dan kriterianya.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 231 pengikut lainnya.