Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (3): Sekitar Popularisasi Astronomi

Wawancara Manusia Indonesia  seputar popularisasi astronomi bisa disimak pada rangkaian video berikut:

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (2): Sekitar Pengembangan Iptek Penerbangan dan Antariksa

Wawancara Manusia Indonesia  sekitar pengembangan iptek penerbangan dan antariksa bisa disimak pada rangkaian video berikut:

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (1): Sekitar Penentuan Awal Ramadhan dan Hari Raya

Wawancara Manusia Indonesia bisa disimak seputar penentuan awal Ramadhan dan hari raya pada rangkaian video berikut:

Indonesia Serius Membangun Luar Angkasa

Majalah Sains Indonesia edisi 54, Juni 2016,  memuat wawancara dengan Kepala LAPAN.

(Catatan: Sedikit koreksi salah kutip, “engineering” mestinya “engineers” alias peneliti dan perekayasa.)

Majalah Sains-1Majalah Sains-2

Majalah Sains-3

Selamatkan Langit Malam Bertabur Bintang

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

20160503_152932

Artikel Harian Nasional 28 April 2016, di dalamnya ada wawancara dengan Kepala LAPAN terkait gagasan Taman Langit Gelap dan Kegiatan Malam Langit Gelap setiap 6 Agustus, saat Hari Keantariksaan.

Langit malam yang gelap (dark sky) saat ini menjadi langka untuk banyak wilayah perkotaan dunia karena makin parahnya polusi cahaya. Polusi cahaya adalah hamburan cahaya lampu perkotaan yang menyebabkan langit tampak terang, sehingga mengalahkan cahaya bintang. Gemerlap cahaya bintang menghilang dari pandangan masyarakat di banyak kota besar. “Sungai Perak — Gingga (bahasa Jepang)”, “Jalur Susu — Milky Way (bahasa Inggris)”, atau “Selendangnya Bima — Bima Sakti (nama galaksi kita dalam bahasa Indonesia), gugusan ratusan milyaran bintang yang redup namun indah dilihat dari daerah yang jauh dari perkotaan, menghilang dari langit malam. Rasi bintang terang pun banyak yang tak tampak lagi. Hanya beberapa bintang yang sangat terang, seperti Antares di rasi Kalanjengking (Scorpio) dan Betelgeuse di rasi Orion, serta beberapa planet terang seperti Venus dan Jupiter, yang masih terlihat di beberapa kota.

Perlu kita kampanyekan perlunya langit gelap untuk kembali menikmati indahnya malam bertabur bintang. Ada dua gagasan yang diusulkan LAPAN:

  • Gagasan pertama, mengadakan kegiatan tahunan “Malam Langit Gelap” setiap 6 Agustus, saat Hari Keantariksaan. Pemilihan tanggal 6 Agustus selain memperingati Hari Keantariksaan, juga terkait dengan  musim kemarau pada bulan Agustus sehingga berpeluang besar untuk mengamati langit yang cerah bertabur bintang kalau gangguan polusi cahaya diminimalkan. Caranya, pada malam itu semua lampu di luar ruangan (sedapat mungkin termasuk lampu jalan) dimatikan. Cukup satu jam saja, pukul 20.00 – 21.00. Saat itu ketika langit mulai gelap total (karena matahari sudah jauh terbenam dan cahaya senja sudah menghilang) dan aktivitas di luar ruangan mulai berkurang, kita matikan semua lampu luar. Kita bersama-sama keluar ruangan untuk menyaksikan langit. Kalau kita berhasil meminimalisasi polusi cahaya selama satu jam, kita bisa melihat Galaksi Bima Saksi dengan ratusan milyar bintang membentang dari Utara ke Selatan. Kita bisa melihat rasi Angsa (Cygnus) di langit Utara dengan Segitiga Musim Panas (Summer Treangle), tiga bintang terang di sekitar rasi Angsa: Vega, Deneb, dan Altair. Di langit Selatan kita melihat rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) yang sering digunakan sebagai penunjuk arah Selatan. Hampir di atas kepala kita saksikan rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares. Mematikan lampu luar selama satu jam, juga sekaligus mengkampanyekan hemat energi seperti Earth Hour.

Gugusan Bima Sakti

Gugusan Bima Sakti membentang di langit dari Utara ke Selatan. [Gambar dari http://twanight.org%5D

summer-triangle

Summer Triangle dan rasi Angsa (Cygnus) [gambar dari http://www.arkansas.com%5D

Salib Selatan

Rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) [Gambar dari http://earthsky.org%5D

Scorpio-1

Rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares [Gambar dari http://www.abc.net.au%5D

  • Gagasan ke dua, menjadikan daerah tertentu sebagai kawasan bebas polusi cahaya yang biasa disebut Taman Langit Gelap (Dark Sky Park). LAPAN mengusulkan kawasan sekitar Observatorium Nasional yang akan dibangun di Kupang sebagai kawasan Taman Langit Gelap. Beberapa kawasan di Nusa Tenggara Timur sangat potensial untuk dijadikan Taman Langit Gelap. Kondisi cuaca yang kering memungkinkan jumlah malam cerah paling banyak. Kawasan seperti ini bisa menjadi daya tarik turis untuk wisata astronomi yang menarik. Apalagi Indonesia yang berada di wilayah ekuator memungkinkan kita mengamati langit Utara dan langit Selatan. Di Amerika, Jepang, dan Eropa pengamat astronomi lebih banyak mengamati langit Utara. Sementara pengamat di Australia lebih banyak mengamati langit Selatan. Di Indonesia, kita bisa menikmati bintang-bintang di langit Utara dan Selatan lebih leluasa. Di kawasan Taman Langit Gelap penggunaan lampu sangat dibatasi, hanya boleh untuk di dalam ruangan yang tidak memancar ke luar.

Inilah beberapa contoh Taman Langit Gelap di beberapa negara [gambar diambil dari http://darksky.org/idsp/parks/%5D.

Dark Sky Park Hongaria

Taman Langit Gelap di Hongaria.

Dark Sky Park Skotlandia

Taman Langit Gelap di Skotlandia.

Dark Sky Park AS-1

Taman Langit Gelap di Amerika Serikat.

Dark Sky Park AS-2

Taman Langit Gelap di Amerika Serikat.

Wawasan Republika: Mengajak Masyarakat Lebih Logis Soal GMT

Wawasan Republika, 6 April 2016

[Sedikit koreksi, ada yang kurang akurat dikutip. Semestinya “… dan dampak GMT pada bumi, yaitu medan magnet bumi, ionosfer, dan atmosfer. Dampak terhadap perilaku hewan dan tumbuhan dilakukan oleh peneliti lain”]

Wawasan Republika 6 Apr 2016

Pengembangan Iptek Penerbangan dan Antariksa Menuju Indonesia Maju dan Mandiri

Thomas Djamaluddin
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

(Dimuat di situs lapan.go.id, 28 Maret 2016)

Hasil LAPAN-A2

 Citra terbaru daerah Batam dari satelit LAPAN-A2 dibandingkan dengan citra lama dari Google Earth.

Dua teknologi yang saat ini tidak bisa lagi ditinggalkan dalam kehidupan manusia modern adalah teknologi informasi dan teknologi antariksa. Bukan hanya dalam skala besar negara dan korporasi, tetapi juga dalam skala mikro individual. Tulisan ini memfokuskan pada teknologi antariksa dan iptek yang terkait dengannya. Teknologi antariksa bukan lagi kebutuhan negara-negara maju, tetapi semua negara membutuhkannya untuk berbagai sektor kehidupan.

Telekomunikasi dan media massa saat ini sangat bergantung pada teknologi satelit. Sektor perekonomian juga sangat dipermudah dengan berbagai fasilitas komunikasi data yang mengandalkan satelit. Pertanian sangat membutuhkan data satelit terkait dengan prakiraan iklim dan fase pertumbuhan tanaman untuk pemantauan skala nasional. Sektor kehutanan tidak bisa lagi mengandalkan pemantauan konvensional, saat ini sudah sangat bergantung pada satelit penginderaan jauh. Sektor kemaritiman untuk Indonesia yang sebagian besar wilayahnya berupa laut, mutlak memerlukan satelit. Itulah beberapa contoh kehidupan manusia modern dalam skala besar. Untuk skala mikro individu, manusia modern sangat bergantung pada gadget yang secara operasional tidak bisa optimal tanpa penggunaan satelit.

Indonesia sejak 1976 menjadi negara pengguna satelit komunikasi, ketiga setelah Amerika Serikat dan Kanada. Sejak 1980-an pula Indonesia memanfaatkan data-data penginderaan jauh dari satelit internasional. Indonesia sudah lama menjadi negara yang bergantung pada teknologi antariksa. LAPAN, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, yang dilahirkan 1963 mempunyai misi untuk membangun kemandirian teknologi antariksa, juga teknologi yang terkait dengannya, teknologi aeronotika atau penerbangan. Cita-cita besar itu diperkuat dengan lahirnya Undang-undang Nomor 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan. Di dalam undang-undang itu diamanatkan LAPAN menjadi lembaga penyelenggara keantariksaan.

Dalam menyelenggarakan tugas fungsinya, LAPAN membangun empat kompetensi: (1) sains antariksa dan atmosfer, (2) teknologi penerbangan, roket, dan satelit, (3) penginderaan jauh, dan (4) kajian kebijakan penerbangan dan antariksa. Untuk memberikan arah yang jelas, LAPAN mempunyai visi menjadi pusat unggulan penerbangan dan antariksa untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri. Sebagai pusat unggulan, dua indikator utamanya adalah unggul pada empat kompetensi tersebut dan unggul pada layanan informasi dan produk teknologinya.

Untuk memfokuskan program pengembangan iptek penerbangan dan antariksa, LAPAN mempunyai satu program besar, yaitu reformasi birokrasi, antara lain dengan membenahi tata kelola organisasi dan meningkatkan layanan publik. Untuk memfokuskan pengembangan kompetensi, LAPAN mempunyai tujuh program utama pengembangan: (1) Sistem pendukung keputusan (DSS) cuaca antariksa, (2) Sistem pendukung keputusan dinamika atmosfer ekuator, (3) teknologi pesawat transport dan sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak, (4) teknologi satelit, (5) teknologi roket sonda menuju roket peluncur satelit, (6) bank data penginderaan jauh nasional, dan (7) sistem pemantau bumi nasional.

Beberapa Capaian

Cuaca antariksa adalah kondisi dinamis di lingkungan antariksa antara matahari dan bumi yang dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Dalam bahasa awam yang kini sudah dikenal, cuaca antariksa terutama terkait kemungkinan badai matahari yang berdampak pada kala hidup satelit dan teknologi lain yang dipengaruhinya. LAPAN adalah satu-satunya lembaga di Indonesia yang memantau dan memberikan layanan informasi terkait dengan cuaca antariksa. Di situs web, LAPAN menyediakan informasi rutin harian terkait cuaca antariksa dengan sistem SWIFTs (Space Weather Information and Forcast Services).

Dinamika atmosfer dipantau dengan memanfaatkan satelit cuaca dan model atmosfer untuk memberikan informasi potensi cuaca ekstrem. Sebagai pelengkap informasi cuaca oleh BMKG, LAPAN mengembangkan juga SADEWA, (Satellite based Disaster Early Warning System). Sistem ini diintegrasikan dengan sistem lainnya, misalnya dengan informasi zona potensi penangkapan ikan, untuk memberikan informasi kepada para nelayan sebelum melaut. Dengan informasi itu, nelayan bisa menuju zona yang banyak ikannya dan melaut dengan memperhitungkan ada tidaknya cuaca ekstrem di laut.

Teknologi pesawat transport dikembangkan bekerjasama dengan PTDI. Saat ini telah dikembangkan pesawat N219 (bermesin ganda untuk 19 penumpang) yang telah diperkenalkan bentuk fisiknya dan direncanakan terbang perdana pada 2016 dan diproduksi 2017. Program selanjutnya adalah pengembangan varian N219 dan generasi berikutnya N245 dan N270 sesuai dengan kebutuhan pasar penerbangan di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia yang khas, terutama di daerah terpencil, menuntut adanya pesawat yang bisa mengatasi kendala yang ada, antara lain landasan pendek dan berbukit-bukit.

N-219

Penampilan perdana pesawat N219 hasil kerjasama LAPAN dengan PTDI

Sistem pemantau wilayah maritim yang luas memang lebih efektif menggunakan satelit. Tetapi kondisi berawan sering menjadi kendala. Sementara pemantauan dengan pesawat terbang secara konvensional juga sangat mahal. Maka dikembangkan inovasi sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak. Generasi ketiga pesawat tanpa awak (LAPAN Survaillance UAV, LSU-03) yang dikembangkan LAPAN telah memecahkan rekor MURI untuk terbang otonomus dari Garut menuju Pangandaran sampai Cilacap, pergi pulang dengan penerbangan terprogram. Jarak yang ditempuh 340 km dalam waktu 3,5 jam. Kendala bahan bakar dalam mempertahankan lama terbang akan dikombinasikan juga dengan energi matahari. Varian lebih besar LSU-05 disiapkan untuk membawa muatan lebih besar dan jarak jangkau yang lebih jauh. Sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak sedang dikembangkan LAPAN.

Cita-cita untuk mempunyai roket peluncur satelit dikejar secara bertahap melalui pengembangan roket sonda, roket penelitian atmosfer. Fungsi ganda roket, untuk keperluan sipil dan militer, menjadi kendala dalam membangun kemampuan teknologi roket. Sungguh tidak mudah untuk menyekolahkan para peneliti/perekayasa untuk mendapatkan pendidikan lanjut bidang roket. Demikian juga untuk mendapatkan bahan baku tabung, nozel, dan bahan bakar roket (propelant) yang berkualitas tinggi sangat sulit. Capaian saat ini roket berdiameter 120 mm dan 220 mm dianggap telah mempunyai kinerja yang semakin baik. Roket berdiameter 320 mm dan 450 mm telah diujiterbangkan, sementara roket berdiamater 550 mm masih uji statik. Kestabilan trayektori roket juga terus ditingkatkan.

Kemampuan pengembangan satelit dimulai dengan satelit generasi awal hasil bimbingan TU Berlin (satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSat) yang telah mengorbit sejak 2007 pada ketinggian 630 km. Walau kala hidup orbital bisa sampai 50 tahun, kala hidup operasionalnya sangat terbatas. Dari prakiraan kala hidup operasional hanya 2 tahun, ternyata LAPAN-A1 bisa bertahan selama 6 tahun, berkat kondisi cuaca antariksa yang tidak terlalu ekstrem sejak 2017-2013. Generasi satelit berikutnya murni dibuat di faslitas LAPAN, yaitu satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari, walau untuk peluncurannya masih menggunakan roket Inidia. Saat ini satelit LAPAN-Orari telah berada di orbit pada ketinggian 650 km dan semua missinya telah berfungsi dengan baik. Satelit berikutnya LAPAN-A3/LAPAN-IPB sedang diintegrasikan dan diuji untuk diluncurkan 2016.

Bank data penginderaan jauh nasional dikembangkan dengan meningkatkan kemampuan akuisisi data dan sistem layanan datanya. LAPAN mempunyai dua stasiun bumi utama penerima citra satelit, di Pare-pare dan Bogor. Stasiun bumi di Pare-pare bisa mengakuisisi citra satelit sampai resolusi 1,5 meter. Untuk citra satelit resolusi sangat tinggi (sampai resolusi 0,5 meter) diadakan dengan pengadaan citra komersial. Untuk pembuatan rencana detil tata ruang diperlukan citra satelit resolusi tinggi dan sangat tinggi. LAPAN telah memberikan layanan data citra satelit kepada semua kementerian, lembaga, dan daerah secara gratis karena menggunakan lisensi pemerintah. Menurut Undang-undang Keantariksaan, pengoperasian dan pengembangan stasiun bumi hanya dapat dilakukan oleh LAPAN.

Sistem pemantau bumi nasional adalah sistem informasi penginderaan jauh yang memberikan layanan informasi kondisi lingkungan dan sumber daya alam. Dengan sistem tersebut, LAPAN memberikan layanan informasi tanggap darurat bencana berupa citra satelit resolusi tinggi pra- dan pasca-bencana letusan gunung, gempa, tanah longsor, dan banjir. Dengan informasi tersebut evakuasi korban dan pengendalian dampaknya dapat segera dilakukan. LAPAN juga memberikan informasi kebakaran lahan dan hutan untuk penanggulangannya. Informasi zona potensi penangkapan ikan juga diberikan rutin harian, sehingga bisa meningkatkan produktivitas penangkapan ikan. Informasi pertumbuhan padi juga diberikan kepada Kementerian Pertanian untuk membantu manajemen distribusi pupuk dan prakiraan panen secara nasional.

Itulah beberapa capaian LAPAN dalam mewujudkan Indonesia maju dan mandiri di bidang penerbangan dan antariksa. Dengan segala keterbatasan jumlah SDM dan anggaran, LAPAN bertekad menjadi pusat unggulan secara bertahap. LAPAN mempunyai slogan sebagai ungkapan visi, “LAPAN unggul untuk Indonesia maju, LAPAN melayani untuk Indonesia mandiri”.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 247 pengikut lainnya