Mengkaji “Hilal Syar’i” secara Astronomi

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Ilustrasi sidang hasil rukyat. Setiap perukyat harus disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat sebelum hasilnya dilaporkan ke Sidang Itsbat di Kementerian Agama (Gambar screen shoot video yang beredar di WAG diskusi hisab rukyat).

Alhamdulilah, Idul Fitri dirayakan seragam di Indonesia pada 2 Mei 2022, walau ada kelompok kecil yang merayakan pada hari yang berbeda sesuai keyakinan mereka. Kekhawatiran terjadinya perbedaan idul fitri 1443 seperti pada penetapan awal Ramadhan 1443 sirna setelah mendengarkan laporan pada sidang itsbat (sidang penetapan) bahwa ada 9 saksi yang melaporkan melihat hilal (bulan sabit pertama). Para saksi sudah disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat. Artinya, kesaksian itu sah secara syar’i (hukum Islam) dan dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan oleh Menteri Agama pada sidang itsbat.

Sebagai Muslim, saya tunduk pada keputusan Pemerintah sebagai Ulil Amri (pemegang otoritas) yang memutuskan awal dan akhir Ramadhan. Alasan saya, keputusan sidang itsbat bukan hanya merujuk hasil rukyat (pengamatan) tetapi juga hasil hisab (perhitungan astronomi). Dan alasan paling mendasar, untuk mempersatukan ummat perlu adanya otoritas tunggal agar masyarakat tidak bingung. Jadi, saya pun mengikuti keputusan Pemerintah beridul fitri pada 2 Mei 2022.

Namun sebagai astronom, saya bisa mengkritisi hasil rukyat dari sudut pandang astronomi. Kesaksian rukyat yang diterima oleh hakim Pengadilan Agama dan sidang itsbat saya anggap sebagai kesaksian melihat “hilal syar’i”, hilal yang secara syar’i sah dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan. Artinya, saksi tidak berbohong bahwa dia yakin melihat hilal. Untuk ibadah, dasar keyakinan memang diakui, tidak membutuhkan pembuktian lain yang mungkin malah merepotkan dan perlu waktu lama untuk mendapatkannya. Kritik terhadap “hilal syar’i” diperlukan untuk pembelajaran bagi para perukyat, agar pada masa mendatang “hilal syar’i” juga semestinya “hilal astronomis”, yaitu hilal fisik yang diakui para astronom.

Hilal yang diyakini secara astronomi adalah hilal fisik, yaitu bulan sabit yang dihasilkan dari pantulan cahaya matahari sesaat setelah matahari terbenam. Pengamatan setelah maghrib adalah contoh Rasul, karena saat itulah gangguan cahaya matahari yang menyilaukan sudah menghilang. Hanya tersisa gangguan berupa cahaya syafak atau cahaya senja. Itu sebabnya perlu ketinggian tertentu agar hilal bisa teramati.

Hilal awal Syawal 1443 berada pada batas kriteria baru MABIMS yang baru saja disepakati oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Khususnya pada aspek elongasinya. Dari aspek ketinggiannya, pada saat maghrib 1 Mei 2022 tinggi bulan di kawasan barat Indonesia sudah sekitar 5 derajat. Sudah cukup tinggi, berarti gangguan cahaya syafak sudah berkurang. Namun elongasinya (jarak sudut bulan – matahari) sekitar 6,4 derajat. Artinya, hilalnya sangat tipis karena masih terlalu dekat matahari.

Dari 9 pengamat yang disumpah sebagian besar mengaku melihat hilal dengan mata tanpa alat. Sebagian ada yang menggunakan teropong (monokuler) dan ada juga yang menggunakan teleskop yang dilengkapi kamera CCD. Sebagian kalangan beranggapan ada orang-orang yang diberikan kelebihan untuk melihat hilal yang sangat redup. Namun anggapan itu bukan ranah sains, karena tidak bisa dibuktikan kalau dasarnya hanya pengakuan pribadi dan sumpah.

Pengamat di NTT mengaku melihat hilal dari citra yang direkam kamera CCD. Menurut kolega di BMKG, citranya mirip dengan laporan rukyat BMKG di Tapanuli Tengah. Citra yang dianggap hilal adalah goresan tipis melengkung, namun sangat samar dan meragukan.

Foto dugaan hilal oleh BMKG (dari WAG diskusi terkait hisab rukyat)

Dari segi kepekaan melihat hilal, kamera CCD semestinya lebih peka daripada mata untuk mengenali hilal. Kamera CCD lebih peka pada warna merah. Sedangkan mata lebih peka pada warna hijau. Seperti halnya matahari terbenam, hilal di ufuk barat yang memancarkan pantulan cahaya matahari lebih dominan memancarkan warna kuning – merah, karena cahaya biru lebih banyak dihamburkan oleh atmosfer. Apalagi kamera menerima cahaya yang difokuskan lebih banyak dari pada mata, karena diameter cermin teleskop jauh lebih besar daripada diameter pupil mata. Jadi, kalau dengan kamera CCD saja hilal sangat samar dan meragukan, mestinya ketampakan oleh mata pun lebih samar. Dari argumentasi ini, sangat wajar anggapan “hilal syar’i” bisa jadi bukan hilal sesungguhnya tetapi diyakini oleh pengamatnya sebagai hilal.

Sensitivitas mata dibandingkan dengan sensitivitas kamera CCD dan CMOS. Semestinya kamera lebih sensitif mengenali hilal daripada mata.
(Dari http://www.fen-net.de/walter.preiss/e/slomoinf.html)

Untuk memberikan gambaran tipisnya hilal muda, apalagi yang sangat dekat dengan batas kriteria baru MABIMS (tinggi minimal 3 derajat, elongasi minimal 6,4 derajat), bisa dilihat dari laporan pengamatan hilal sangat muda. Kebetulan ada citra hilal yang direkam dengan kamera CCD di wilayah Madinah pada 23 April 2020 saat penentuan awal Ramadhan 1441 (dari situs ICOP — saat ini ada di dalam situs http://www.astronomycenter.net). Tinggi hilal 3 derajat 8 menit. Elongasinya 6,6 derajat.

Data posisi hilal awal Ramadhan 1441 yang teramati di Madinah, Arab Saudi pada 23 April 2020. Posisinya dekat batas kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. (Dari aplikasi Accurate Times – Odeh).
Hilal awal Ramadhan 1441 yang direkam 13 menit pasca maghrib dengan menumpuk (stacked) 84 citra.

Hilal di Madinah tidak tampak dengan mata tanpa alat. Dengan teleskop langsung pun tidak tampak. Hilal tampak pada hasil perekaman kamera CCD yang dipasang dengan teleskop setelah menumpuk (stacked) 84 citra untuk meningkatkan kontras hilal. Artinya, citra pemotretan tunggal tidak akan menampakkan citra hilal secara jelas. Memang tidak ditunjukkan citra pemotretan tunggal. Namun untuk memberikan gambaran betapa tipisnya hilal saat itu, ada gambar yang direkam siang hari dengan jumlah citra yang ditumpuk setengahnya. Gambar di bawah ini adalah citra bulan sabit siang hari yang ditumpuk (stacked) 42 citra. Sangat-sangat samar. Sangat mungkin hilal fisik seperti itu tidak akan teramati oleh mata para perukyat. Jadi, hilal Syawal yang diakui teramati oleh perukyat sesungguhnya bukan hilal, mungkin sumber cahaya lain atau sekadar “hilal imajinatif”.

Bulan sabit siang hari yang direkam dengan kamera CCD dan ditumpuk (stacked) 42 citra. Tampak sabitnya sangat tipis walau sudah ditumpuk 42 citra.

Catatan Tambahan (Updated 8 Mei 2022):

Menanggapi artikel ini, kolega di LFNU memberikan data rukyat oleh Tim LFNU. Dari 6 lokasi di Jawa yang melaporkan melihat hilal, 3 kelompok saksi rukyat menggunakan alat optik (teodolit atau monokuler). Sangat kontradiksi bila kesaksian Stamm yang dijadikan rujukan kriteria elongasi 6,4 derajat bisa diterima, sedangkan laporan perukyat awal Syawal 1443 H dilabeli “hilal Syar’i”, padahal sama-sama kasat teleskop, tanpa menyertakan foto hilal.

Atas tanggapan kolega LFNU tersebut, saya sampaikan penjelasan sbb:

Sains didasarkan pada pembuktian objektif, yang bisa diuji dan dibandingkan dengan data di tempat lain oleh periset lain. Data sains pun biasanya mengikuti pola distribusi tertentu. Data yang terpencil pasti dicurigai ada sesuatu yang salah.
Bila dibandingkan data internasional, data kesaksian di Jawa tergolong pencilan yang patut dicurigai karena bias tertentu.

  • Prakiraan model visibilitas hilal Odeh menunjukkan wilayah Jawa sbg “impossible”. Wilayah yg mungkin melihat dengan alat optik hanya Sumatera dan sebagian Kalimantan.
  • Rekor elongasi (toposentrik) oleh Stamm (2012) dengan alat optik adalah 6 derajat. Itu dalam kondisi cuaca lintang menengah yang cerahnya luar biasa. Bandingkan dangan data rukyat di Indonesia. Cuaca yang disebut cerah biasanya masih ada awan tipis. Elongasi toposentrik sekitar 5 derajat, terlalu dekat dengan matahari dan sangat jauh dari catatan rekor elongasi. Kalau pun kesaksian rukyat di Jawa dilaporkan ke ICOP atau Moonsighting, saya yakin datanya diragukan.
    Itulah yang disebut “hilal syar’i”, hilal yang sah secara syar’i tetapi diragukan secara sains.

Salah satu bias pengamatan yang mungkin mempengaruhi adalah kebiasaan menganggap hilal dengan tinggi lebih dari 2 derajat bisa terlihat. Tanpa memperhatikan aspek elongasi yang terkait tebal hilal. Di Jawa hilal sudah cukup tinggi sekitar 4 derajat sehingga dianggap mudah terlihat. Padahal elongasi toposentriknya hanya sekitar 5 derajat, sangat tipis.

Astronomi Tawarkan Solusi Penyatuan Kalender Islam

LAPAN (kini berintegrasi ke BRIN) sejak 1996 diminta Kemristek membantu memberikan solusi perbedaan penetapan awal Ramadhan dan hari raya dengan kepakaran astronomi yang dimilikinya. Solusi harus dari akarnya, yaitu menyamakan kriteria kalender Islam berdasarkan kajian astronomi dengan tetap merujuk ketentuan syar’i (hukum Islam). Simak tulisan saya di Kompas.com.

https://www.kompas.com/…/astronomi-tawarkan-solusi…

Perjalanan Panjang Menuju Kesepakatan Kriteria Kalender Hijriyah

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag RI

Usulan kriteria baru MABIMS atau Kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat) dirumuskan dan dibahas cukup lama, lebih dari sepuluh tahun sampai akhirnya ditetapkan. Pakar astronomi dan pengambil kebijakan bekerja secara sistematis dan tertahap, jadi tidak tiba-tiba dalam memutus kriteria baru tersebut:

Paparan delegasi RI pada MUzakarah MABIMS 2014
Usulan kriteria baru pada Muzakarah MABIMS 2014
  • Naskah Akademik tersebut sesungguhnya disiapkan untuk diajukan ke Munas MUI pada 2015. Namun Munas MUI saat itu belum menerima kriteria baru yang diusulkan.
  • Konsep kriteria baru tersebut dibawa delegasi RI ke pertemuan teknis MABIMS pada 2016. Dengan masukan dari semua delegasi, akhirnya disepakati draft kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
  • Dalam berbagai kesempatan, kriteria baru tersebut ditawarkan untuk dikritisi oleh para pakar, tetapi tidak ada respons berupa tawaran alternatif kriteria lain.
  • Pembahasan draft kriteria baru berlanjut dibahas di tingkat MABIMS: mulai tingkat teknis, tingkat pejabat tinggi (SOM), sampai tingkat Menteri (2016 – 2021).
  • Pada tahap awal implementasi, ketika beberapa ormas Islam masih menggunakan kriteria lama, perbedaan penetapan Ramadhan dan hari raya tidak terhindarkan. Misalnya potensi perbedaan pada penetapan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha 1443.
  • Jalan masih panjang, tetapi dengan semangat fastabiqul khayrat (berlomba berbuat kebajikan) kita semua mesti berubah menjadi lebih baik. Unifikasi Kalender Hijriyah yang memberikan kepastian dan kenyamanan dalam beribadah menjadi dambaan kita semua.

Beberapa Ungkapan Langit di Dalam Al-Quran

Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Pernah menjadi Anggota Tim Tafsir Ilmi Kemenag RI

Salah satu fenomena langit, awan menghalangi cahaya matahari

Apa beda ungkapan As-Samaa’ dan As-Samaawaat di dalam Al-Quran?

As-samaa’ (kata tunggal) menceritakan satu bagian langit, sedangkan As-samaawaat (kata jamak) mengungkapkan langit (ruang di atas permukaan bumi sampai tak terbatas) dalam skala besar. As-samaawat bisa bermakna seluruh jagat raya.

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit (samaa’) dunia (yang terdekat), dengan hiasan bintang-bintang (kawakib). (QS 37:6)
Allah menghiasi langit (as-samaa’) yang terdekat dalam lingkup tata surya dengan kawakib, yaitu planet-planet, bukan bintang (an-najm). Hal ini juga bisa dimaknai bintang (an-najm) berada di luar langit yang dekat atau di luar tata surya. Kita mengetahui, bintang terdekat dengan matahari adalah Proxima Centauri yang berjarak 4,2 tahun cahaya. Artinya, cahaya bintang terdekat baru mencapai bumi dalam waktu 4,2 tahun.

Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit (as-samaa’), yang disertai kegelapan, petir dan kilat. (QS 2:19)

Dan apa yang diturunkan Allah dari langit (as-samaa’) berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang…. (QS 2:164).

Langit (as-samaa) yang menurunkan air hujan dengan fenomena mendung tebal yang gelap dan disertai petir adalah atmosfer, khususnya troposfer atau lapisan udara yang dekat permukaan bumi.

Sesungguhnya pada penciptaan langit (as-samaawaat, alam semesta) dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia …. (QS 2:164)

As-samaawaat bermakna langit dalam skala besar, yaitu seluruh alam semesta. As-samaawaat sering dikontraskan dengan al-ardl (bumi), mengandung makna seluruh objek di luar permukaan bumi. Mulai dari atmosfer sampai objek terjauh di alam semesta.


Apa ungkapan di dalam Al-Quran yang sebenarnya bermakna planet, bukan bintang?

Planet yang tampak seperti bintang di dalam Al-Quran disebut kawkab (tunggal) atau kawaakib (jamak). Itu berbeda secara fisik dengan bintang (an-najm atau an-nujuum). Bintang memancarkan cahayanya sendiri yang bersumber reaksi nuklir di dalamnya, sedangkan planet sekadar memantulkan cahaya dari matahari sebagai bintang induknya. Ini beberapa contohnya:

Bintang Kejora yang cemerlang sesungguhnya adalah planet Venus (gambar dari internet)

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (kawkab) (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS 6:76).
Sesungguhnya yang dilihat Nabi Ibrahim sebagai bintang terang adalah planet Venus. Planet Venus yang cemerlang sering disebut sebagai Bintang Kejora bila terlihat pada awal malam di ufuk barat atau Bintang Timur bila terlihat pada akhir malam di ufuk timur. Planet Venus sangat cemerlang karena pantulan cahaya matahari oleh awan karbondioksidanya dan jaraknya relatif dekat dari matahari.

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit (samaa’) dunia (yang terdekat), dengan hiasan bintang-bintang (kawakib). (QS 37:6)

Bintang-bintang (kawaakib) yang menghiasi langit dunia (yang terdekat) adalah planet-planet, bukan bintang (an-nujuum).

Banjir Rob Saat Bulan Baru dan Purnama Berpotensi Makin Sering Terjadi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Pusat Riset Antariksa, LAPAN-BRIN

Ilustrasi banjir pasang (rob) di Jakarta Utara setelah Purnama, 23 November 2021 (CNN Indonesia)

Beberapa hari terakhir media sosial dan media massa memberitakan serta membagikan gambar dan video banjir pasang atau banjir rob di Jakarta utara, Kepulauan Seribu, dan beberapa daerah pantai lainnya. Beberapa video menampakkan air mengalir deras dari arah pantai. Apa bedanya banjir rob dengan banjir karena curah hujan?

Banjir rob terjadi karena kenaikan permukaan air laut akibat pasang sehingga air laut melimpas ke daratan. Itu sebabnya arah datangnya dari laut. Biasanya banjir rob segera surut dalam waktu enam jam, tetapi bisa berulang sekitar 12 jam kemudian. Banjir karena curah hujan berasal dari daerah dataran tinggi yang mengalami hujan lebat. Air berasal dari sungai yang meluap, mengalir menuju laut. Banjir akan surut kalau air segera terbuang ke laut dan hujan mereda.

Kondisi banjir akan parah ketika terjadi kombinasi banjir karena curah hujan dan banjir rob. Saat itu banjir bisa bertahan lama, karena air tidak segera terbuang ke laut akibat ketinggian permukaan air laut. Kondisi gabungan sering terjadi saat musim hujan. Kondisinya akan lebih parah lagi bila terjadi angin kencang di laut yang menyebabkan gelombang tinggi. Hal ini lah yang perlu diwaspadai masyarakat di wilayah pantai.

Apa yang sesungguhnya terjadi di Jakarta Utara dan beberapa daerah lainnya beberapa hari terakhir, ketika curah hujan tidak menyebabkan banjir? Itu murni banjir pasang atau banjir rob saat pasang maksimum. Sesungguhnya, setiap hari pasang-surut air laut terjadi reguler rata-rata setiap 12 jam 25 menit. Hal itu disebabkan karena efek gravitasi bulan. Gravitasi bulan mempengaruhi setiap komponen di bumi dan yang paling terdampak adalah massa cair air laut. Dampaknya, air laut tertarik ke arah bulan dan arah menjauhi bulan. Itulah yang disebut pasang air laut. Pada sisi yang tegak lurus arah bulan terjadi air laut surut. Dari pasang ke surut berselang sekitar 6 jam, lalu enam jam kemudian terjadi pasang lagi.

Ada saat istimewa yang menyebabkan pasang maksimum dan surut minimum, yaitu sekitar bulan baru dan bulan purnama. Pada saat bulan baru dan bulan purnama, bulan hampir segaris dengan matahari. Bahkan saat terjadi gerhana sentral (gerhana matahari total/cincin atau gerhana bulan total), sistem bumi – bulan – matahari benar-benar segaris. Pada saat itulah gravitasi bulan diperkuat gravitasi matahari yang menyebabkan pasang maksimum, tinggi permukaan air laut lebih tinggi dibandingkan rata-ratanya. Diduga pasang maksimum saat bulan baru atau purnama juga berpotensi memicu (bukan menyebabkan) pelepasan energi yang terkait dengan gempa dan erupsi gunung berapi. Pengaruh posisi bulan dan matahari terhadap pasang air laut diilustrasikan pada animasi berikut.

Ilustrasi pengaruh posisi bulan dan matahari pada ketinggian pasang air laut. Pasang maksimum akan terjadi saat bulan baru dan purnama ketika terjadi efek gabungan pasang akibat bulan dan akibat matahari. Secara skematik, tinggi pasang maksimum adalah tinggi pasang akibat bulan (warna ungu) ditambah tinggi pasang akibat matahari (warna kuning). (Dari situs NOAA).

Hal yang perlu diwaspadai, banjir rob di beberapa wilayah pantai di Indonesia berpotensi makin sering terjadi. Sebab pertama, karena faktor lokal wilayah pantai, yaitu terjadinya penurunan permukaan tanah (land subsidence). Beberapa kajian menunjukkan adanya penurunan tanah di sejumlah wilayah pantai utara Jawa, seperti Jakarta. Diduga penyebabnya adalah faktor alami pemadatan tanah endapan. Di beberapa kota besar, seperti Jakarta, diduga juga ada faktor antropogenik (akibat aktivitas manusia), yaitu pengambilan air tanah yang berlebihan dan beban banyaknya bangunan.

Namun, di wilayah yang tidak mengalami penurunan permukaan tanah, seperti Kepulauan Seribu, kejadian banjir rob juga diprakiraan akan makin sering terjadi. Sebab utamanya adalah efek pemanasan global dan efek siklus orbit bulan. Dua hal itu bersifat global. Pemanasan global diprakirakan akan meningkatkan volume air laut karena pemuaian dan melelehnya gunung-gunung es. Sementara siklus orbit bulan akan menyebabkan bidang orbit bulan secara periodik (setiap 18,6 tahun) akan makin mendekati bidang ekuator. Itu berdampak peningkatan efek pasang maksimum. Tim peneliti ketinggian permukaan laut dari NASA menyimpulkan banjir rob akan makin sering terjadi di pantai-pantai Amerika Serikat mulai 2030-an. Secara skematik efek gabungan pemanasan global dan siklus orbit bulan ditunjukkan pada gambar berikut:

Skematik peningkatan banjir rob akibat pemanasan global dan siklus orbit bulan. Garis biru adalah gambaran peningakatan permukaan air laut akibat pemanasan global. Kurva ungu tipis adalah gambaran variasi tinggi pasang maksimum akibat siklus orbit bulan berperiode 18,6 tahun. Kurva merah tebal adalah gambaran efek gabungan peningkatan pasang maksimum yang berpotensi meningkatan kejadian banjir rob. (Dari https://theconversation.com/this-supermoon-has-a-twist-expect-flooding-but-a-lunar-cycle-is-masking-effects-of-sea-level-rise-158412).

Diduga siklus orbit bulan juga berpotensi meningkat kejadian banjir rob di Indonesia. Hal ini akan diteliti tim peneliti Pusat Riset Antariksa, LAPAN-BRIN, bersama BIG dan beberapa perguruan tinggi.

Kalender 1443 Hijriyah dengan Beragam Kriteria

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah Indonesia, Kementerian Agama

Ilustrasi Kalender Hijriyah bersama Kalender Masehi dan Kalender Jawa (dari internet)

Secara umum saat ini semua perhitungan kalender sama, karena menggunakan formulasi astronomi modern. Hal yang sering menjadi sumber perbedaan adalah kriterianya. Kriteria umum yang digunakan di Indonesia adalah

(1) kriteria Wujudul Hilal (bulan terbenam sesudah matahari dan ijtimak terjadi sebelum maghrib) yang digunakan kalender Muhammadiyah;

(2) kriteria MABIMS, terutama parameter tinggi bulan minimal 2 derajat yang digunakan di kalender taqwim standar Pemerintah dan kalender NU;

(3) kriteria LAPAN (2010) yang sama dengan kriteria Rekomendasi Jakarta 2017 (RJ), yaitu beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (= tinggi bulan 3 derajat) dan elongasi bulan minimal 6,4 derajat di kawasan barat Asia Tenggara yang digunakan kalender Persis. Namun untuk Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1443 kalender Persis menggunakan kriteria MABIMS yang digunakan taqwin standar Pemerintah.

Analisis global menggunakan aplikasi Accurate Hijri Calculator (karya Abdul Ro’uf) dan Accurate Times (karya Mohammad Odeh) adalah cara yang paling cepat, termasuk dalam mengkaji potensi perbedaan. Berikut analisis garis tanggal bulanan selama 1443 H dengan beragam kriteria. Pada akhir tulisan dirangkumkan awal bulan selama 1443 H.

Muharram 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 8 Agustus 2021. Di Indonesia posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Muharram 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 10 Agustus 2021.

Safar 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 7 September 2021. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Safar 1443 adalah pada 8 September 2021.

Rabbiul Awal 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 6 Oktober 2021. Di Indonesia posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Rabbiul Awal 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 8 Oktober 2021.

Rabbiul Akhir 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 5 November 2021. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Rabbiul Akhir 1443 adalah pada 6 November 2021.

Jumadil Awal 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 4 Desember 2021. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal sehingga berdasarkan kriteria tersebut awal Jumadil Awal adalah 5 Desember 2021. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria MABIMS dan kriteria RJ, disimpulkan awal Jumadil Awal 1443 adalah pada 6 Desember 2021.

Jumadil Akhir 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 3 Januari 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Jumadil Akhir 1443 adalah pada 4 Januari 2022.

Rajab 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 1 Februari 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal dan MABIMS sehingga berdasarkan kriteria tersebut awal Rajab 1443 adalah 2 Februari 2022. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ, disimpulkan awal Rajab 1443 adalah pada 3 Februari 2022.

Syaban 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 3 Maret 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Syaban 1443 adalah pada 4 Maret 2022.

Ramadhan 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 1 April 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal sehingga berdasarkan kriteria tersebut awal Ramadhan 1443 adalah 2 April 2022. Dengan kriteria MABIMS, posisi bulan pada perbatasan kriteria tinggi 2 derajat. Hanya wilayah barat Jawa dan Sumatera yang tinggi bulannya sedikit di atas 2 derajat. Sebagian besar wilayah posisi bulan masih di bawah kriteria MABIMS. Ada potensi hilal tidak teramati. Jadi, dengan kriteria MABIMS, yang dikaitkan dengan potensi rukyatul hilal, awal Ramadhan 2 atau 3 April 2022. Posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ disimpulkan awal Ramadhan 1443 adalah pada 3 April 2022.

Syawal 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 1 Mei 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal dan kriteria MABIMS sehingga awal Syawal 1443 adalah 2 Mei 2022. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ. Disimpulkan dengan kriteria RJ awal Syawal 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 3 Mei 2021.

Dzulqa’dah 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 30 Mei 2022. Di Indonesia posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Belum memenuhi kriteria Wujudul Hilal, kriteria MABIMS, dan kriteria RJ. Disimpulkan awal Dzulqa’dah 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 1 Juni 2022.

Dzulhijjah 1443

Analisis garis tanggal pada saat maghrib 29 Juni 2022. Di Indonesia posisi bulan telah memenuhi kriteria Wujudul Hilal dan kriteria MABIMS sehingga awal Dzulhijjah 1443 adalah 30 Juni 2022. Namun posisi bulan belum memenuhi kriteria RJ. Disimpulkan dengan kriteria RJ awal Dzulhijjah 1443 adalah pada hari berikutnya, yaitu 1 Juli 2021.

 

Siklus Bulan, Pemanasan Global, dan Ancaman Banjir Pasang di 2030

T. Djamaluddin

Artikel lengkap silakan baca di kumparan.com.

Bukti Pengaruh Polusi Cahaya: Pengamatan Fajar di Banyuwangi dan Semarang

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama

Cahaya fajar dipotret dari pesawat terbang (Dokumentasi Pribadi)

Terkait dengan kriteria waktu shubuh, Kementerian Agama telah melakukan pengamatan kemunculan cahaya fajar di Labuan Bajo dengan menggunakan kamera DSLR dan pengukuran SQM (Sky Quality Meter). Hasilnya telah dipaparkan di blog saya ini.

Berikut ini ulasan beberapa hasil pengamatan fajar di Banyuwangi dan Semarang yang dilakukan M. Basthoni. Hasilnya menunjukkan secara jelas pengaruh polusi cahaya pada pengukuran kemunculan fajar. Basthoni adalah mahasiswa program doktor (S3) bimbingan saya di UIN Walisongo Semarang. Sebagian hasil penelitiannya telah dipaparkan di International Conference on Science and Applied Sciences (ICSAS) 2021, UNS, 6 April 2021. Makalah yang dipaparkan di ICSAS 2021 berjudul “Typology of Dawn Light Curves in High and Low Light Pollution Areas”

Data yang digunakan berasal dari pengamatan fajar menggunakan sistem otomatisasi SQM. Banyuwangi dipilih sebagai lokasi yang minim polusi cahaya dan Semarang adalah lokasi yang terpolusi cahaya. Bukti polusi cahaya terlihat pada kurva cahaya hasil pengamatan SQM. Pengamatan di Yayasan Sunan Kalijaga Banyuwangi dilakukan pada 24, 25, dan 27 Agustus 2020. Sedangkan pengamatan di PPTQ Al-Ishlah Semarang dilakukan pada 25, 26, 28, dan 29 September 2020. SQM diarahkan ke ufuk timur. Di Banyuwangi, ufuk timur adalah laut yang minim polusi cahaya. Di ufuk timur Semarang ada cahaya kota. Pada saat pengamatan fajar, tidak ada cahaya bulan. Bulan telah terbenam sebelum tengah malam.

Kurva cahaya hasil pengukuran SQM di Banyuwangi dan Semarang disajikan dengan menampilkan garis ketinggian matahari (h) pada definisi fajar yang baku: Fajar astronomi pada h=-18 derajat, fajar nautika pada h=-12 derajat, dan fajar sipil pada h=-6 derajat. Kurva mendatar adalah cahaya malam sebelum munculnya fajar. Berikut ini kurva cahaya di Banyuwangi dan semarang.

Kurva cahaya pengukuran SQM di Banyuwangi
Kurva cahaya pengukuran SQM di Semarang

Untuk membandingkan secara kuantitatif, dilakukan analisis kecerlangan ufuk di Banyuwangi dan Semarang. Analisis kecerlangan cahaya ufuk yang dinyatakan dalam mpas (magnitude per arc square) ditampilkan pada tabel berikut ini. Ufuk yang tampak makin terang dinyatakan dengan nilai mpas makin kecil. Terlihat bahwa definisi fajar astronomi, nautika, dan sipil di kota Semarang bersesuaian dengan ketampakan ufuk yang lebih terang (nilai mpas lebih kecil) daripada di Banyuwangi.

Tabel hasil pengukuran kecerlangan langit dinyatakan dalam mpas (magnitude per arc square) untuk ketinggian matahari sesuai definisi baku fajar astronomi, nautika, dan sipil.

Grafis perbandingan kurva cahaya berikut menjelaskan bahwa ufuk di Semarang lebih terang (kurvanya lebih rendah) daripada di Banyuwangi. Dengan kata lain, ufuk di Semarang lebih terpolusi cahaya daripada di Banyuwangi. Tentu itu berdampak pada ketampakan fajar. Di Semarang, saat matahari berada pada posisi baku fajar astronomi, kurva cahayanya masih sama dengan kondisi malam (kurva masih mendatar). Demikian juga saat posisi baku fajar nautika. Artinya, polusi cahaya menghalangi munculnya cahaya fajar astronomi dan fajar nautika.

Perbandingan kurva cahaya hasil pengukuran SQM di Banyuwangi (atas) dan Semarang (bawah).

Munculnya fajar shadiq (fajar sebenarnya) sebagai penanda masuknya waktu shubuh dikenali dari pembelokan kurva cahaya. Cahaya fajar shadiq dihasilkan dari hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Karenanya fajar shadiq tampak membentang di ufuk. Dalam hadits, kita kenal juga sebutan fajar kadzib (fajar semu) yang secara astronomi dikenal sebagai cahaya zodiak. Fajar kadzib disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet. Oleh karenanya fajar kadzib tampak menjulang seperti ekor srigala, mengikuti bidang orbit planet-planet.

Kurva cahaya hasil SQM dianalisis dengan metode fitting linier, dengan persamaan f(x) = ax + b. Hasil analisis diampilkan pada tabel berikut ini. Cahaya malam yang sekilas tampak mendatar, di Banyuwangi ternyata kurvanya makin menurun, dengan nilai gradien negatif. SQM di Banywangi berhasil merekam kemunculan cahaya redup dari cahaya zodiak atau fajar kadzib (fajar semu). Sementara cahaya malam di Semarang hanya menunjukkan polusi cahaya yang konstan. Pembelokan diketahui bila kurva cahaya mulai menyimpang dari garis atau persamaan linier tersebut. Pada tabel berikut ini ditunjukkan titik belok kurva cahaya. Terlihat bahwa fajar shadiq muncul di Banyuwangi pada ketinggian matahari h=-20 derajat. Sementara titik belok di Semarang pada saat ketinggian matahari h=-13 derajat. Polusi cahaya di Semarang telah menghalangi munculnya fajar shadiq. Fajar di Semarang baru tampak menjelang kemunculan (per definisi) fajar nautika pada ketinggian matahari h=-12 derajat.

Tabel persamaan cahaya zodiak (fajar kadzib atau fajar semu) dan polusi cahaya serta titik belok kurva cahaya.

Hasil pengukuran di Banyuwangi melengkapi pengukuran fajar di Labuan Bajo, bahwa fajar shadiq telah muncul saat ketinggian matahari h=-20 derajat. Perbandingan dengan pengukuran di Semarang membuktikan bahwa polusi cahaya sangat berperan pada hasil pengukuran yang mengklaim munculnya fajar saat posisi matahari lebih tinggi, misalnya h=-13 derajat. Jadi, data pengukuran di Labuan Bako dan Banyuwangi membuktikan bahwa kriteria waktu shubuh oleh Kementerian Agama sudah benar, tidak perlu dikoreksi.

Dokumentasi Benda Jatuh Antariksa di Indonesia

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sampah antariksa bekas tabung bahan bakar roket Uni Sovyet/Rusia yang jatuh di Gorontalo 1981 (kiri) dan di Lampung 1988 (kanan).

Sampah antariksa adalah bagian roket peluncur atau satelit yang tidak berfungsi lagi yang mengorbit bumi atau dalam perjalanan menuju orbit. Jumlahnya saat ini belasan ribu. Karena hambatan udara, sampah antariksa di orbit rendah (ketinggian kurang dari 1000 km) makin lama makin turun ketinggiannya. Pada ketinggian sekitar 120 km, objek yang mengorbit bumi memasuki atmosfer padat dan mengalami efek pengereman. Pada ketinggian tersebut umumnya objek antariksa tidak bisa bertahan di orbitnya, lalu jatuh dalam hitungan beberapa menit saja. LAPAN mengembangkan Sistem Pemantau Benda Jatuh Antariksa untuk mengidentifikasi objek yang jatuh di wilayah Indonesia. Dengan memanfaatkan data sampah antariksa dari Space-Track dan perangkat lunak analisis orbit, dapat diidentifikasi objek yang yang jatuh di wilayah Indonesia berdasarkan lokasi dan waktu kejadiannya. Berikut ini dokumentasi objek-objek yang jatuh dan dilaporkan kepada LAPAN.

  • 1. Sampah Antariksa Jatuh di Gorontalo 1981

Tabung bahan bakar roket jatuh di Gorontalo pada 16 Maret 1981. Berdasarkan waktu dan lokasi titik jatuhnya, akhirnya dapat diidentifikasi bahwa objek tersebut adalah bagian roket SL-8 milik Uni Sovyet/Rusia dengan nomor katalog 11610. Roket digunakan untuk meluncurkan satelit Interkosmos 20 pada 1 November 1979.

  • 2. Sampah Antariksa Jatuh di Lampung 1988
Lintasan orbit sampah antariksa yang jatuh di Lampung 1988

Tabung bahan bakar bekas roket jatuh di lampung pada 16 April 1988. Analisis orbit sampah antariksa yang melintas Lampung pada hari kejadian, menyimpulkan benda jatuh tersebut adalah bagian roket SL-4 milik Uni Sovyet/Rusia dengan nomor katalog 19042. Roket tersebut digunakan untuk meluncurkan satelit Cosmos 1938 pada 11 April 1988.

  • 3. Sampah Antariksa Jatuh di Bengkulu 2003
Pecahan badan roket yang ditemukan di Bengkulu pada 2003
Lintasan orbit objek yang jatuh di Bengkulu pada 2003.

Pada 13 Oktober 2003 ada laporan benda jatuh di Bengkulu. Hasil analisis orbit sampah antariksa menyimpulkan bahwa objek tersebut adalah pecahan roket CZ-3 milik RRT dengan nomor katalog 23416. Roket tersebut digunakan untuk meluncurkan satelit DFH-3 1 pada 29 November 1994.

  • 4. Sampah Antariksa Jatuh di Madura 2016
Sampah antariksa bekas tabung bahan bakar roket yang jatuh di Madura 2016
Lintasan orbit objek yang jatuh di Madura pada 2016

Beberapa objek antariksa jatuh di perairan Madura pada 26 September 2016. Dari analisis orbitnya, objek-objek tersebut diidentifikasi sebagai bagian roket Falcon 9 dengan nomor katalog 41730 milik Space X Amerika Serikat. Roket itu digunakan untuk meluncurkan satelit JCSAT 16 pada 14 Agustus 2016.

  • 5. Sampah Antariksa Jatuh di Sumatera Barat 2017
Dua objek antariksa jatuh di dua lokasi terpisah di Sumatera Barat pada 2017
Lintasan orbit objek yang jatuh di Sumatera Barat pada 2017

Pada 18 Juli 2017 ada dua objek antariksa jatuh di dua lokasi berbeda di Sumatera Barat. Dari analisis orbitnya diidentifikasi kedua objek tersebut berasal dari pecahan roket CZ-3A dengan nomor katalog 31116 milik RRT. Roket digunakan untuk meluncurkan satelit Beidou M1 pada 13 April 2017.

  • 6. Sampah Antariksa Ditemukan di Kalimantan Tengah 2021
Objek antariksa yang ditemukan di Kalimantan Tengah pada 2021 adalah bagian Fairing roket CZ-8. Terlihat logo CNSA yang terbakar.
Analisis jalur peluncuran roket CZ-8 dengan titik jatuh objek di laut sebelah barat-barat laut Kalimantan. Arus laut membawa objek tersebut ke pantai Kalimantan Tengah dan ditemukan warga pada 2021.

Sebuah objek berlogo CNSA (Chinese National Space Administration) ditemukan warga pada 4 Januari 2021. Semula objek tersebut diduga bagian roket RRT yang melintas wilayah tersebut saat jatuh awal Januari. Namun, setelah gambar lengkap diperoleh dan didukung konfirmasi dari CNSA, disimpulkan bahwa objek tersebut adalah payload fairing (pelindung muatan satelit) roket Long March/CZ-8 milik RRT. Roket LM/CZ-8 diluncurkan pada 22 Desember 2020 dan bagian fairing dilepaskan sebelum roket mencapai orbit dan jatuh di perairan dekat Selat Karimata. Arus laut membawa objek yang relatif ringan tersebut ke Selat Karimata lalu Laut Jawa dan terdampar di pantai Kalimantan Tengah.

Pengamatan Gerhana Matahari Cincin di Siak 26 Desember 2019

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Hasil pengamatan GMC 26 Des 2019 di Siak oleh Tim LAPAN

Pengamatan gerhana matahari cincin (GMC) 26 Desember 2019 di Kabupaten Siak dilaksanakan di lapangan Kampung Bunsur. Kampung Bunsur berada tepat di pusat jalur GMC dekat dengan titik gerhana terbesar (Greatest Eclipse). Fase GMC mulai pada pukul 12.15.

Lokasi pengamatan GMC 2019 di Kampung Bunsur, tepat di pusat jalur GMC.

Pagi hari di Siak mendung. Bahkan kabarnya di lokasi pengamatan saat shubuh sempat gerimis. Tentu saja ini cukup mengkhawatirkan. Cuaca bisa menggagalkan pengamatan fenomena langka GMC. Namun dilihat dari aplikasi SADEWA di situs LAPAN, diprakirakan siang hari awan mulai tersibak dari wilayah sekitar Kampung Bunsur, lokasi pengamatan GMC. Alhamdulillah, ternyata benar cuaca sangat cerah sejak awal proses gerhana sampai menjelang akhir gerhana.

Prakiraan liputan awan saat kejadian GMC dari aplikasi SADEWA LAPAN.

Gerhana mulai terjadi pada pukul 10.22 WIB. Maka segera shalat gerhana disiapkan di lapangan. Teriknya matahari siang yang cerah tidak menyurutkan jamaah memadati tempat shalat gerhana.

Kepala LAPAN bersama Bupati Siak sebelum shalat gerhana matahari di lapangan Bunsur, Siak.

Khutbah shalat gerhana disampaikan oleh Kepala LAPAN. Intisari khutbah ada di blog ini.

Kepala LAPAN sebagai khatib shalat gerhana di lapangan Bunsur, Siak.

Untuk dokumentasi pribadi, fase-fase gerhana dipotret dengan kamera hp. Tidak sebagus hasil pengamatan dengan teleskop, tetapi menjadi dokumentasi bahwa fenomena langka GMC telah dilihat secara langsung.

Awal gerhana dipotret dengan kamera hp dengan filter bekas disket.

Fase gerhana sebelum fase cincin, dipotret dengan kamera hp dengan filter kacamata matahari

GMC-2019-5

Fase gerhana matahari cincin, dipotret dengan kamera hp menggunakan kacamata matahari.

GMC-2019-pasca cincin-1

Gerhana matahari menjelang akhir fase cincin, dipotret dengan kamera hp menggunakan kacamata matahari.

GMC-2019-4

Fase gerhana matahari pasca cincin. Dipotret dengan kamera hp menggunakan teknik flare lensa.

Tim Pengamat LAPAN dengan beberapa teleskop.

Seusai acara pengamatan GMC 2019 di Siak