Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #5) Bukti Perhitungan Gerhana

Total

Foto Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (Foto LAPAN)

Ilustrasi lainnya diambil dari internet

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Kebohongan para penggemar dongeng FE (Flat Earth — bumi datar) salah satunya adalah bantahan pada kenyataan akurasi perhitungan gerhana matahari. Perhitungan abal-abal penggemar dongeng FE yang sangat disederhanakan, dengan  anggapan jarak matahari yang dekat, menyalahkan prakiraan gerhana matahari 2017 di Amerika Serikat. Kita tunggu saya buktinya pada 21 Agustus 2017 untuk dibuktikan kesalahan total perhitungan mereka.

Bagaimana dengan penggemar dongeng FE di Indonesia? Mereka meminta ditunjukkan perhitungan gerhana dengan memasukkan jarak matahari-bumi, jarak bulan-bumi, jari-jari matahari, dan jari-jari bulan. Ketika ditunjukkan bagian rumus perhitungan gerhana yang memasukkan parameter-paremeter tersebut, mereka tidak memahaminya dan terus meminta tahap demi tahap perhitungannya. Seolah perhitungan gerhana sesederhana rumus Phytagoras. Padahal rumusan perhitungan gerhana matahari cukup panjang sehingga akan lebih mudah diprogramkan. Aplikasi perhitungan gerhana diberikan oleh beberapa situs, salah satunya situs NASA. Parahnya mereka hanya mencuplik kalimat yang mengandung kata “Saros” dan “Geocentric Coordinate” tanpa memahami hakikat definisi keduanya. Sesungguhnya “Saros” hanya digunakan untuk menandai gerhana yang sama sifat lintasannya, bukan untuk menghitung gerhana. “Geocentric coordinat” hanya menunjukkan kerangka rujukan pada pusat bumi, yang perlu dikonversikan menjadi “Topocentric coordinate” kalau perlu menentukan koordinat bulan dan matahari dari titik pengamat.

Kebohongan mereka mudah sekali ditunjukkan dengan meminta perhitungan ala FE dengan Software AutoCAD-nya untuk gerhana matahari total (GMT) yang sudah terjadi di Indonesia, yaitu 11 Juni 1983, 18 Maret 1988, 24 Oktober 1995, dan 9 Maret 2016. GMT 1983 dan 2016 paling heboh karena melintasi banyak wilayah di Indonesia dan liputan media massa sangat masif.

Berikut ini ditunjukkan dua GMT yang banyak menarik perhatian publik nasional dan internasional serta liputan media yang terdokumentasi di Youtube.

GMT 11 Juni 1983

Perhitungan GMT 11 Juni 1983 sangat akurat sampai detiknya. Lintasannya pun sangat akurat. Liputan TVRI saat itu menunjukkan akurasi fase total GMT yang teramati di Borobudur.

gmt-11-jun-1983Lintasan GMT 11 Juni 1983

Liputan TVRI GMT 11 Juni 1983 di Borobudur

GMT 9 Maret 2016

Perhitungan GMT 9 Maret 2016 juga sangat akurat waktunya dan lintasannya. Berikut ini lintasan dan liputan media massa.

gmt-9-maret-2016-lintasanLintasan GMT 9 Maret 2016

Liputan TV One GMT 9 Maret 2016

 

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #4) Tentang Gerhana

Total

Foto Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Parigi, Sulawesi Tengah.

(Gambar-gambar ilustrasi diambil dari internet)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sains itu adalah akumulasi pemahaman manusia akan alam sepanjang sejarah manusia. Pemahaman itu diformulasikan secara bertahap dan terus disempurnakan. Pola pikir ala dongeng FE sama sekali tidak mengandung unsur sains, hanya “cocokologi” alias comot sana-sini lalu dicocokkan dengan kerangka berfikir FE. Itu berbeda dengan kerangka berfikir sains, yang mengumpulkan data dulu baru kemudian hasil pengolahan data dan analisisnya menghasilkan kesimpulan. Pengujian yang berulang-ulang atas berbagai hasil penelitian baru menghasilkan teori.

Akumulasi pemahaman akan fenomena alam telah melahirkan sains yang bukan didominasi oleh lembaga tertentu seperti NASA. Sains itu besifat universal, termasuk perhitungan gerhana yang basisnya adalah astronomi. Aplikasi perhitungan gerhana memang disediakan oleh situs NASA, tetapi itu bukan satu-satunya. Masih ada beberapa aplikasi lainnya yang bisa digunakan.

Pemahaman gerhana dan perhitungannya didasarkan pada data ilmiah (bukan asumsi) yang menyatakan bahwa gerhana terjadi pada sistem bumi-bulan-matahari. Ketiga benda langit tersebut yang karena gravitasi dirinya secara natural berbentuk bola, tidak ada pengecualian bagi bumi. Bumi berputar pada porosnya. Bulan yang berjarak sekitar 384,000 km dari bumi mengitari bumi sebagai planet induknya. Bumi bersama bulan mengitari Matahari sebagai bintang induk yang berjarak sekitar 150 juta km. Skematik gerhana sudah banyak diajarkan sejak SD, bahwa gerhana matahari terjadi ketika matahari terhalang oleh bulan dan gerhana bulan terjadi ketika purnama tertutup bayangan bumi.

eclipse

Skematik gerhana matahari dan gerhana bulan

Gerhana menjadi salah satu masalah yang terlalu disederhanakan oleh peggemar FE, hanya dengan mencuplik bagian kecil dari informasi gerhana, yaitu siklus Saros. Seolah-olah gerhana hanya dihitung dengan siklus Saros, tanpa memperhitungkan besar matahari dan bulan serta jarak matahari dan bulan.

Kalau begitu, bagaimana sebenarnya cara menghitung gerhana? Sistem bumi-bulan-matahari bukanlah sistem sederhana, karenanya perhitungan gerhana sesungguhnya rumit untuk difahami awam. Tetapi, disini saya cuplikkan contoh salah satu aspek perhitungan gerhana matahari (aspek titik jatuhnya bayangan bulan di bumi) dari buku “Prediction and Analysis of Solar Eclipse Circumstances” (by W. Williams, Jr., 1971), sama sekali tidak menggunakan siklus Saros. Pada perhitungan ini ditunjukkan parameter jarak matahari-bulan, jarak bulan-bumi, serta jari-jari matahari, bulan, dan bumi.

Karena bumi berbentuk bola, maka perhitungan menggunakan pendekatan bidang dasar (Fundamental Plane) yang melewati titik pusat bumi dan tegak lurus terhadap arah cahaya matahari.

eclipse-fundamental-plane

eclipse-geometri

Kemudian dihitung koordinat sumbu bayangan bulan:

eclipse-rumus-1

Setelah itu dihitung radius umbra dan penumbra untuk mengetahui daerah yang terkena gerhana:

eclipse-rumus-2

eclpise-rumus-3

Data yang dihitung dengan aplikasi gerhana NASA sama sekali tidak menunjukkan periodisitas gerhana mengikuti siklus Saros. Berikut data gerhana selama 2011-2020, yang di dalamnya terdapat data gerhana 9 Maret 2016 yang terbukti melintasi Indonesia dengan prakiraan waktu dan jalur yang tepat.

gerhana-matahari-2011-2020

Lalu apa sih siklus Saros yang dicantumkan pada tabel tersebut? Siklus Saros yang dinyatakan sebagai nomor serial Saros, adalah penanda gerhana yang mempunyai sifat gerhana yang mirip. Siklus Saros secara rata-rata berulang sekitar 18 tahun 11 hari. Inilah contoh kemiripan jalur gerhana pada serial Saros 130: gerhana matahari total (GMT) 26 Februari 1998, 9 Maret 2016, dan  20 Maret 2034 (perhatikan waktunya berselang 18 tahun 11 hari). Siklus Saros sama sekali tidak digunakan untuk menghitung waktu gerhana.

gmt-saro-130-1998

gmt-9-mar-2016

gmt-saro-130-2034

Untuk awam, tidak perlu repot melakukan perhitungan seperti di atas. Cukup gunakan aplikasi yang sudah memprogram semua perhitungan rumit tersebut. Misalnya, aplikasi gerhana di situs NASA.

gmt-9-mar-2016-parigi

Contoh hasil perhitungan waktu kejadian gerhana matahari total yang melintasi Parigi, Sulawesi Tengah

Data pada situs NASA tersebut telah membantu para pengamat di seluruh Indonesia untuk menyaksikan gerhana pada 9 Maret lalu. Saya sendiri membuktikan secara langsung gerhana matahari total (GMT) 9 Maret 2016 lalu dari Parigi, Sulawesi Tengah.

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #3)

earthBumi itu bulat, tetapi penggemar FE tidak mempercayainya

(Gambar-gambar ilustrasi diambil dari internet).

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

FB LAPAN menerima banyak pertanyaan dari para penggemar FE (Flat Earth — bumi datar) dengan pola pertanyaan yang hampir sama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk menjadi pembenaran bagi dongeng FE. Tulisan ini dimaksudkan sebagai kompilasi pertanyaan mereka dan jawaban saya. Tulisan ini serial dan akumulasi dari tanya jawab berkait dengan dongeng FE. Jawaban saya upayakan sesederhana mungkin dengan bahasa awam.

Q:  Bukankah foto semua planet dan satelit hanya CGI (Computer Generated Imagery – gambar yang dibuat computer)?

A: Teknologi pembuatan CGI baru ada  pada dasawarsa belakangan, sedangkan foto-foto planet sudah diperoleh pada generasi awal penguasaan tentang teleskop dan fotografi. Satelit sudah dikenal sejak 1957. Foto-foto jarak dekat planet-planet diperoleh setelah adanya wahana antariksa antar-planet sekitar tahun 1970-an dan 1980-an. Gambar-gambar simulasi dengan komputer (CGI) hanya digunakan sebagai bagian edukasi publik agar lebih mudah difahami awam, tidak sekadar dengan rumus-rumus, grafik, dan tabel yang hanya difahami para ilmuwan. Sebelum ada CGI, ilmuwan memanfaatkan lukisan ilustrasi dari seniman agar dapat difahami awam.

Q: Bukankah matahari bisa diambil gambar videonya karena memang matahari sangat dekat?

A: Matahari berjarak 150 juta km dari bumi. Diameternya 1,4 juta km. Suhu permukaannya 6000 derajat. Jadi tidak mungkin, matahari dianggap dekat. Foto dan dideo matahari diperoleh dari teleskop di bumi dan dari satelit yang ditempatkan di antariksa.

Q: Bukankah batas langit berupa dome (kubah) sehingga pelangi berbentuk kurva dan tidak pernah ada yg dapat menembusnya?

A: Langit adalah ruang terbuka di luar bumi yang tidak ada batasnya. Kita mengamatiny seperti kubah karena batas pandang mata manusia ke arah langit, seolah-olah benda-benda langit itu menempel pada bola langit. Pada penyajian posisi benda langit secara astronomi memang digunakan alat bantu bola langit, tetapi itu sesungguhnya hanya penggambaran arah yang dinyatakan dalam derajat, relatif terhadap titik pengamatan. Langit tidak ada batas jaraknya.

Pelangi yang melengkung bukan karena kubah langit. Pelangi tampak melengkung setengah lingkaran juga karena batas pandang mata pengamatnya. Pelangi disebabkan oleh pembiasan dan penguraian warna cahaya matahari dari arah belakang pengamat oleh butir-butir air hujan atau kristal es jauh di hadapan pengamat. Ada sudut tertentu pada butir-butir air hujan atau kristal es yang menyebabkan pembiasan dan penguarian cahaya matahari, sehingga warna yang dihasilkan seolah melingkari titik hubung matahari dan mata pengamat. Titik pusat lingkaran pelangi berada di kaki langit kalau mataharinya berada di kaki langit. Bila mataharinya berada lebih tinggi dari kaki langit, maka titik pusat lingkatan pelangi lebih rendah dari kaki langit. Itu sebabnya tidak terlihat pelangi saat matahari tinggi di langit.

Karena langit tidak ada batasnya, maka roket dapat menembusnya untuk menempatkan satelit di orbitnya.

Q: Bukankah roket dan pesawat ulang alik terbang dalam bentuk kurva juga, tidak tegak lurus ke atas karena akan meledak ketika menabrak dome (kubah langit)?

A: Roket dan pesawat ulang alik akan meluncur sampai ketinggian orbit yang dituju, umumnya di atas 400 km. Roket atau pesawat ulang alik tidak akan meledak (kecuali ada kesalahan teknis) sampai mencapai antariksa karena tidak ada batas atau kubah langit (dome). Pengamat melihatnya terbang melengkung karena efek gravitasi bumi, sehingga lintasannya berbentuk parabola. Seperti halnya kita melempar batu, batu itu akan jatuh dengan lintasan parabola. Kalau dilempar dengan kekuatan yang besar (dengan roket atau pesawat ulang alik), lintasan parabolanya mencapai ketinggian sampai sekitar 400 – 600 km.

Q: Bukankah kalau kita naik pesawat atau balon udara, bumi tampak tidak bergerak?

A: Pesawat atau balon udara bergerak bersama rotasi bumi, karena pesawat dan balon udara tersebut (dan seluruh benda di bumi) terikat dengan gavitasi bumi. Sama halnya anak kecil yang melompat-lompat di kursi kereta akan menganggap kursinya tetap, karena dia bergerak bersama kereta.

Q: Kalau bumi berputar, mengapa jadwal penerbangan bisa pas sesuai jadwal? Apakah laju pesawat sama dgn rotasi bumi dan apakah tempat tujuan pesawat juga berputar? Gak sampe-sampe dong?

A: Pesawat terbang bersama bumi yang berotasi, karena pesawat terikat dengan gravitasi bumi. Jadi, dalam perhitungan jadwal penerbangan dihitung kecepatannya terhadap titik tetap di bumi (seperti halnya menghitung kecepatan kereta api), kemudian dikoreksi dengan beberapa faktor lainnya, antara lain rotasi bumi.

Q: Bukankah gedung dan kapal dilihat dari jauh tidak menghilang ditelan bumi, mereka masih tetap terlihat tetapi kecil?  Kalau bumi bulat, maka semakin jauh benda, bukan hanya dia akan terlihat menghilang di bagian kakinya tetapi juga akan terlihat miring ke belakang.

A: Kelengkungan bumi tidak akan terlihat pada jarak pendek. Untuk jarak yang jauh, seperti eksperiment di sungai Bedford sejauh 9,7 km, harus memperhitungkan juga refraksi (pembiasan) atmosfer yang menyebabkan benda yang sudah berada di bawah ufuk tampak lebih tinggi. Refraksi atmosfer juga dipergunakan dalam menghitung terbit dan terbenamnya matahari dan bulan.

Q: Bukankah kalau dilihat dari pesawat, horizon bumi tetap setinggi mata, artinya bumi rata? Kalau bumi bulat, semakin tinggi posisi kita semakin bawah horizon dari bumi.

A: Ketampakan horizon justru menunjukkan bumi kita bulat. Kalau kita naik pesawat, pandangan kita dibatasi oleh horizon (kaki langit). Horizon tetap setinggi mata, karena horizon adalah titik singgug garis pandang dengan bola bumi. Kalau bumi kita datar, maka pandangan kita dibatasan oleh sensitivitas mata, artinya kalau kita mempunyai teleskop canggih, dari atas pesawat kita bisa melihat sampai tepi bumi yang datar tersebut. Tetapi di kejauhan, bila kita naik pesawat terbang, kita tidak bisa melihat hamparan sampai tepi dunia ini.

pilot-view

Horizon dilihat dari pesawat terbang

horizon

Horizon tampak karena bumi bulat

Q: Bukankah gravitasi itu tidak ada?

A: Semua benda mengalami gaya gravitasi. Semua benda di bumi tetap melekat di permukaan bumi karena gaya gravitasi bumi. Batu dilempar kembali jatuh, sama halnya dengan satelit dan bulan yang mengorbit bumi, semuanya karena gaya gravitasi bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari karena gaya gravitasi matahari.

Q: Bukahkah tidak ada penerbangan langsung Afrika Selatan ke Australia walaupun di pada bumi bulat mereka hanya berjarak 9 jam? Menurut peta bumi rata, Australia dan Afrika Selatan adalah negara terujung-ujung bumi.

A: Penerbangan lintas kutub selatan memang jarang karena pertimbangan teknis, kemungkinan gangguan pada mesin akibat suhu yang sangat dingin. Namun, bila cuaca memungkinkan, beberapa maskapai melakukan penerbangan lintas kutub Selatan. Misalnya, LATAM Airlains terbang non-stop dari Sydney (Australia) ke Santiago (Amerika Selatan). Air New Zealand juga terbang non-stop dari Auckland (Selandia Baru) ke Buenos Aires (Amerika Selatan). Qantas terbang non-stop dari Sydney (Australia) ke Johannesburg (Afrika Selatan).

antartic-flight

Q: Bukankah sinar matahari dan bulan akan terlihat lebih terang di awan sekitar mereka di bandingkan awan yang lebih jauh. Artinya matahari berada dekat dengan bumi sehingga sinarnya akan terlihat lebih terang terhadap benda di sekitarnya dibandingkan benda yang jauh?

A: Jarak matahari ke bumi sekitar 150 juta km dan jarak bulan ke bumi sekitar 384.000 km. Artinya, kuat cahaya yang sampai ke bumi (termasuk awan) secara umum hampir sama. Mengapa cahaya yang mengenai awan yang dekat lebih terang dari pada awan yang jauh? Penyebabnya bukan lagi pada matahari/bulan, tetapi pada awan sebagai  sumber cahaya pantulan. Karena awannya dekat, maka cahaya pantulannya terlihat lebih terang daripada awan yang jauh.

Q: Bukankah gambar sinar matahari menembus awan akan terlihat bersudut dan tidak berupa garis sejajar, yang artinya matahari dekat?

A: Itu bukan bukti matahari yang dekat. Bentuk menyudut yang terpusat pada matahari menunjukkan bahwa berkas cahaya matahari itu lurus dan sejejar, karena mataharinya sangat jauh (150 juta km). berkas cahaya yang luruh yang menembus celah-celah awan tampak menyudut karena pandangan perspektif, sama halnya ketika kita melihat rel kereta api tampak makin menyempit di kejauhan.

A heaven rays of sunshine on river

 Q: Bukankah gerhana adalah hoax , sebab jika matahari di belakang bumi dikatakan gerhana bulan, lalu dari mana asal sinar bulan? Jika bulan menutupi matahari ketika gerhana matahari lalu dari mana asal cahaya bulan? Bukankah sinar bulan berasal dari matahari?

A: Gerhana bulan dan matahari adalah akibat konfirgurasi bumi, bulan, dan matahari. Akibat bulan mengelilingi bumi, cahaya yang dipantulkan bulan membentuk ketampakan bulan sabit, bulan setengah, dan bulan purnama. Ketika bulan purnama, posisi bulan segaris dengan matahari dan bumi, maka cahaya matahari yang menuju bulan terhalang oleh bumi. Bayangan bumi pada purnama itulah yang disebut gerhana bulan. Pada saat bulan baru (newmoon), cahaya bulan tidak tampak, karena bagian yang tersinari menghadap matahari. Ada saatnya, bulan baru itu segaris dengan matahari dan bumi. Akibatnya, cahaya matahari yang menuju bumi terhalangi. Matahari akan terlihat gelap sebagian atau seluruhnya. Itulah yang disebut gerhana matahari.

eclipse

Q: Bukankah astronot tidak ada, dulu mereka memakai tangki air, sekarang memakai CGI (Gambar buatan computer)?

A:  Astronot benar adanya, baik yang pernah mendarat di bulan maupun yang saat ini bekerja di laboratorium antariksa ISS. Astronot di dalam tangki air adalah saat latihan mensimulasikan gerak di antariksa. CGI astronot hanya ada dalam pembuatan film.

Q: Ketika astronot NASA mendarat di bulan, mengapa gambar bumi hanya sebesar bulan? Bukankan bumi empat kali  lipat lebih besar? Harusnya ketika mereka di bulan, maka gambar bumi akan tampak lebih besar?

A: Ukuran “besar” atau “kecil” adalah ukuran relatif. Gambar bumi yang tidak dilihat dengan ukuran sama ketika melihat bulan bisa menimpulkan kesan seolah ukurannya sama. Mestinya ukuran ketampakan bumi dan bulan sama-sama dibandingkan dengan objek yang sama besarnya pada jarak yang sama. Misalnya, bumi dan bulan sama-sama dipotret dengan pembanding ballpen yang dipegang sejauh bentangan lengan, kita akan melihat gambar bumi empat kali lebih besar dibandingkan bulan. Di astronomi dikenal ukuran derajat untuk menggambarkan besar objek langit. Bulan itu terlihat dari bumi besarnya sekitar 0,5 derajat, mestinya bumi terlihat dari bulan besarnya sekitar 2 derajat.

Q: Sejak zaman dahulu sampai sekarang, gambar bumi hanya itu-itu saja tidak berubah. Ketika mereka merilis gambar bumi sedang berputar, mengapa awannya tetap tidak bergerak?

A: Awan bergerak karena dinamika atmosfer yang skala waktunya minimal 10-menitan agar bisa melihat pergerakannya. Misalnya, citra satelit Himawari yang bisa menampilkan pergerakan awan setiap 10 menit.  Gambar atau video bumi berputar hanyalah simulasi dari waktu 24 jam dimampatkan menjadi beberapa menit saja, sehingga pergerakan awan tidak dapat terlihat.

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #2)

earth

Bumi itu bulat, tetapi penggemar FE tidak mempercayainya

(Gambar-gambar ilustrasi diambil dari internet).

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Berawal dari diskusi di FB LAPAN, ada penggemar dongeng FE (Flat Earth — bumi datar) yang minta berdiskusi langsung. Saya menerimanya di kantor LAPAN Pusat, pada Jumat, 30 Desember 2016. Pertanyaan yang diajukan sekitar perhitungan gerhana matahari, satelit, dan hal-hal terkait lainnya. Berikut ini video rekaman diskusi tersebut.

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng FE – Bumi Datar – (Serial #1)

earth

Bumi itu bulat, tetapi penggemar FE tidak mempercayainya

(Gambar-gambar ilustrasi diambil dari internet).

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

FB LAPAN menerima banyak pertanyaan dari para penggemar FE (Flat Earth — bumi datar) dengan pola pertanyaan yang hampir sama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk menjadi pembenaran bagi dongeng FE. Tulisan ini dimaksudkan sebagai kompilasi pertanyaan mereka dan jawaban saya. Tulisan ini serial dan akumulasi dari tanya jawab berkait dengan dongeng FE. Jawaban saya upayakan sesederhana mungkin dengan bahasa awam.

Q: Bagaimana foto asli satelit sebelum diluncurkan?

A: Saya tunjukkan foto satelit LAPAN A2 yang dibuat oleh LAPAN dan dilepas oleh Presiden September 2015 lalu. Spesifikasi satelit LAPAN-A2 juga diberikan di bawah ini.

lapan-a2lapan-a2-spek

Q: Apakah satelit yang diluncurkan tidak menabrak kubah langit?

A: Satelit diluncurkan sampai ketinggian lebih dari 400 km, misalnya satelit LAPAN A2 diorbitkan pada ketinggian 650 km. Tidak ada kubah langit. Ini video peluncuran satelit LAPAN A2 dengan roket India.

Q: Apakah dapat dibuktikan satelit itu ada? Apakah LAPAN mengendalikan sendiri satelitnya?

A: Pendalian satelit, komunikasi data, dan perolehan datanya menjadi bukti keberadaan satelit. Penggunaan satelit untuk siaran TV dan komunikasi data perbankan untuk ATM menjadi bukti pemanfaatan satelit yang langsung dirasakan masyarakat. Kalau diperlukan pembuktian langsung, silakan berkunjung ke Pusat Teknologi Satelit, LAPAN di Bogor. Di situlah dikendalikan satelit milik LAPAN.

pusat-kendali-satelit-lapan

Q. Apakah satelit di orbit bisa dilihat, untuk membuktikan keberadaannya?

A: Satelit yang kecil tidak ada terlihat karena terlalu jauh (ketinggian umumnya lebih dari 400 km). Hanya ISS (International Space Station) yang ukurannya sangat besar — hampir sebesar lapangan bola) yang dapat dilihat dengan teleskop.

iss-by-telescope

Q. Kalau bumi benar bulat, mengapa horizon permukaan air laut dan jembatan terpanjang tidak terlihat melengkung?

A:Jari-jari bumi sekitar 6.300 km.  Kalau kita ambil bentangan horizon laut atau jembatan terpanjang sekitar 2 km, maka bentangan tersebut terlalu kecil dibandingkan dengan jar-jari bumi. Coba kita buat skala kecil. Kalau jari-jari bumi dibuat 63 meter (kira-kira setengah panjang lapangan bola), maka bentangan jembatan atau horizon laut hanya digambarkan 0,02 meter (2 cm). Garis 2 cm pada lingkaran sebesar setengah lapangan bola seperti itu tentu tidak akan terlihat kelengkungannya.

Q. Bagaimana hitungan gerhana matahari tanpa menggunakan siklus Saros?

A: Hitungan gerhana matahari rumit rumusannya untuk difahami awam (bagi yang berminat, rumusan yang disederhanakan bisa dilihat di buku Astronomical Algorithm oleh Jean Meeus), tetapi pada prinsipnya memperhitungkan orbit bumi mengitari matahari, orbit bulan mengitari bumi, dan rotasi bumi. Siklus Saros yang sekitar 18 tahun hanya digunakan untuk menandai karakteristik gerhana yang mirip. Siklus Saros tidak bisa menghitung waktu dan jalur gerhana secara akurat. Dengan perhitungan gerhana yang akurat, NASA telah membuat aplikasi yang bisa digunakan oleh awam untuk menghitung waktu dan jalur gerhana. Misalnya, gerhana 9 Maret 2016 yang melintasi Indonesia.

gmt-2016

GMT 9 Maret 2016 adalah termasuk Siklus Saros 130. Kita tunjukkan karakteristik jalurnya mirip dengan GMT 26 Februari 1998 yang sama-sama seri Saros 130.

gmt-1998

[Bersambung dengan pertanyaan lainnya]

Flat Earth -Bumi Datar: Dongeng Tanpa Landasan Ilmiah

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

earth

Di FB LAPAN RI banyak pertanyaan seputar Flat Earth (FE). Saya selalu jelaskan bahwa FE bukanlah teori, tetapi sekadar pendapat sekelompok orang yang tidak punya landasan ilmiah. Kalau masih ada yang masih bersikukuh dengan FE, janganlah didebat, cukup dengarkan seperti kita mendengar dongeng khayalan sebelum bobo, semasa kecil dulu. Bukankah kita dulu tidak pernah mendebat dongeng khayalan, cukup menikmatinya saja? Atau seperti membaca buku novel fiksi. Kalau sudah capek mendengarkan atau membacanya, tinggalkan tidur saja.

Ada yang minta bukti bumi bulat, termasuk mempertanyakan kebenaran adanya satelit. Cukup saya arahkan untuk download Google Earth (https://www.google.com/earth/), yang merupakan hasil pemotretan dengan satelit. Mulai temukan kota kita yang kita kenali setiap jalan dan bangunannya, lalu zoom out untuk melihat provinsi, pulau, negara, benua, sampai bumi yang bulat. Lalu kembali lagi zoom in mencari kota lain dan objek yang menjadi daya tarik kita. Foto bumi yang bulat adalah rekonstruksi dari kumpulan banyak citra satelit resolusi sangat tinggi.

google-earth-1

Kita mulai dari kantor LAPAN, di Jakarta Timur

google-earth-2

Zoom out untuk melihat DKI Jakarta dan sekitarnya

google-earth-3

Zoom out untuk melihat Indonesia

google-earth-4

Zoom out melihat Asia dam bumi yang bulat

Kalau mau melihat bumi bulat secara utuh, lihatlah citra beberapa satelit cuaca yang memotret bumi dari ketinggian 36.000 km (http://www.sat.dundee.ac.uk/geobrowse/). Saat ini ada 5 satelit aktif yang memantau cuaca global: Himawari-8, Meteosat VISSR, Meteosat SEVIRI, GOES East, dan GOES West. Berikut ini foto bumi yang bulat dari satelit cuaca di lihat dari berbagai arah (garis peta dan grid ditambahkan untuk mengenali benua yang dipotret):

himawari-8

Satelit Himari-8 memotret bumi dari atas Samudera Pasifik Barat

meteosat-vissr

Satelit Meteosat VISSR memotret bumi dari atas Samudera Hindia

meteosat-seviri

Satelit Meteosat SEVIRI memotret bumi dari atas Samudera Atlantik

goes-east

Satelit GOES East memotret Bumi dari atas benua Amerika

goes-west

Satelit GOES West memotret bumi dari atas Samudera Pasifik Timur

Sosok dan Pemikiran Thomas Djamaluddin: Memajukan Bangsa dengan Astronomi

Harian Nasional 3-4 September memuat wawancara dengan Kepala LAPAN dalam rubrik “Sosok dan Pemikiran”. Berikut salinannya:

Thomas Djamaluddin–Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Memajukan Bangsa dengan Astronomi

sosok-td-0-foto

Sosok & Pemikiran -Kepala LAPAN (PDF)

sosok-td-1-foto

sosok-td-1a-foto

Penetapan hari raya keagamaan di Indonesia, selalu menjadi perhatian. Perbedaan cara menentukan posisi bulan, antara hisab dan rukyat, menjadikan dua organisasi keagamaan acap

beda pendapat. Di antara perbedaan, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin kerap hadir menjadi penengah. Bergelung dengan dunia penelitian antariksa selama 30 tahun, pernyataan Thomas setidaknya bisa menjembatani perbedaan.Tugas ilmuwan, seperti yang ia terapkan, yaitu mencerdaskan masyarakat sesuai bidang keilmuan. Tapi, beragam ulasan belum menyentuh alasan Thomas begitu mesra dengan dunia antariksa. Wartawan HARIAN NASIONAL Adinda Pryanka dan pewarta foto Yosep Arkian mewawancarai Thomas. Berikut isi wawancara:

 

 

Sejak kapan tertarik dengan antariksa?

Saya tertarik sebagai peneliti sejak SMP. Saat itu, guru meminta para murid untuk menulis cita-cita. Dan saya menulis ingin menjadi peneliti, meski pun belum tahu pasti bidangnya apa. Keluarga sebenarnya tidak ada latar belakang peneliti. Kalau melihat bapak, dari kecil sampai SMP ingin jadi tentara angkatan udara. Tapi setelah

itu berubah keinginan untuk jadi peneliti. Saya senangnya mengulik, melihat biji tumbuh, kalau musim hujan banyak tunas baru, senang meneliti itu. Awalnya ingin jadi peneliti tumbuhan, aspek pertanian atau biologi.

 

Sampai bersentuhan dengan astronomi?

Waktu SMP kelas tiga ada beberapa majalah ilmiah populer. Waktu itu topiknya membahas UFO atau piring

terbang. Masuk SMA pada 1978, jadi tertarik membaca segala hal tentang UFO. Kebetulan perpustakaan saya ada sedikit buku yang menambah ingin tahu saya. Seiring dengan mempelajari agama, saya pun ingin mencari tahu bagaimana kedua ilmu ini bisa berjalan beriringan. Saya memaksa diri untuk menulis dan mengulik bagaimana pandangan agama terhadapUFO. Untuk menulis itu, saya riset kecilkecilan melalui buku. Untungnya, SMA saya mendapat buku sumbangan dari Kedutaan Besar Amerika yang banyak terkait astronomi. Dari situ semakin tertarik dengan dunia luar angkasa dan astronomi.

 

Minat itu masih berlanjut setelah lulus SMA?

Iya. Waktu kelas 3 SMA, kebetulan baru dibuka program proyek perintis II, masuk perguruan tinggi tanpa tes. Pada 1981, menjelang lulus SMA, ITB membuka program tersebut. Saya memutuskan ikut serta dengan harapan bisa masuk astronomi melalui nilai rapor saya. Alhamdulillah diterima tanpa tes.

 

Berkecimpung di LAPAN sudah direncanakan?

Menjelang lulus kuliah, semula saya inginnya jadi dosen. Mencoba mendekati pembimbing dan dosen lain, tapi ternyata belum ada formasi. Berarti saya belum pasti bisa masuk atau tidak. Kebetulan seorang teman angkatan ada yang sudah masuk LAPAN terlebih dahulu dan menawarkan saya. Tanpa konsultasi ke pembimbing, saya datang ke LAPAN Bandung dalam keadaan menjelang sidang sarjana. Meski pun belum mendapat gelar, saya sudah dianggap lulus oleh LAPAN. Dulu prosedur masih mudah, ikut psikotes lalu ujian sebagai PNS.

 

Akhirnya keinginan menjadi dosen pupus?

Kurang lebih begitu. Pada akhirnya, sempat menimbulkan masalah ketika dilaporkan ke pembimbing. Beliau agak kecewa karena memproyeksikan saya sebagai dosen. Tapi karena formasi dosen belum ada, beliau mencoba memahami. Setelah lulus sarjana pada awal Oktober, pertengahan wisuda dan awal November langsung masuk kerja di LAPAN Bandung. Status pengangguran saya hanya dua minggu, itu pun mempersiapkan untuk kerja. Saya masuk LAPAN pada 1986 dengan status sebagai honorer selama satu semester, sampai akhirnya menjalani tes CPNS pada 1 Maret 1987. Satu tahun setelahnya, April 1988, saya sekolah ke Jepang dengan beasiswa dari pemerintah sana.

 

Puluhan tahun menggeluti astronomi tidak jenuh?

Tidak pernah sekali pun. Justru di astronomi inilah, di mana hobi dan profesi saya bias bersatu. Saya mengerjakan riset sekaligus melakukan kesenangan meneliti segala hal.

 

Bagaimana dengan minat generasi muda terhadap astronomi saat ini?

Sudah sangat luar biasa. Pada 1980-an di generasi saya, sebenarnya minat sudah tinggi, tapi informasi dan teknologi masih terbatas. Dulu sumber informasi dari majalah saja. Sekarang di internet sudah melimpah meski pun memang harus berhati-hati karena banyak berita sampah. Tapi setidaknya itu jadi pemicu minat. Kini, fasilitas pun sudah sangat mendukung. Banyak teleskop canggih dengan harga yang terjangkau. Berbeda halnya

ketika dulu hanya orang tertentu saja yang bias membeli teleskop untuk digunakan pribadi atau kelompok. Faktor ini yang memicu munculnya beberapa kelompok amatir. Pada 1990-an, teman-teman sempat mendorong kelompok astronom amatir di Bandung. Tapi susah sekali. Peminatnya banyak. Sayang, fasilitas yang terbatas membuat banyak dialog buyar. Sekarang. kelompok astronom amatir sudah banyak karena peralatannya pun relatif banyak.

 

Astronomi tidak sekadar astronomi, juga untuk menjadi media popularisasi sains.

 

Efek astronomi tunggal atau berpengaruh dengan bidang keilmuan lain?

Tentu ada. Tumbuhnya minat astronomi itu sekaligus menciptakan generasi yang dekat dengan sains. Astronomi tidak sekadar astronomi, juga untuk menjadi media popularisasi sains. Sains yang kerap dianggap

sulit di generasi muda, sekarang cenderung dianggap sebagai suatu yang menyenangkan. Misal saja untuk memecahkan misteri bintang-bintang. Mau tidak mau kita harus menggunakan perangkat sains, dari fisika,

kimia, matematika, atau juga biologi. Astronomi jadi salah satu cara untuk memopulerkan itu semua.

 

Astronomi dengan kemajuan bangsa?

Kuat hubungannya. Pada umumnya, bangsa yang mempunyai tingkat kemajuan itu tingkat astronominya juga lebih maju, baik dari peradaban lama atau pun modern. Mereka mengembangkan banyak teori berdasarkan benda langit. Kalau kita lihat dari sejarah peradaban dulu, bangsa yang tergolong maju memiliki warna astronomi. Sebut saja Mesir Kuno, China Kuno, dan Romawi. Mereka memiliki peninggalan astronomi karena dianggap sudah menjadi bagian yang diperlukan untuk kehidupan. Salah satunya ritual penetapan kalender. Kemudian, teknologi terkait pengamatan. Dari kebutuhan di bidang astronomi, tidak sedikit peralatan ikut

berkembang. Misalnya saja teknologi fotografi yang semula menggunakan film untuk meneliti antariksa, sekarang berkembang jadi elektronik. Di satu sisi, astronomi merupakan pemacu perkembangan teknologi suatu

bangsa. Di sisi lain, perkembangan teknologi suatu bangsa juga mendorong perkembangan astronomi. Lihat saja negara maju maka astronominya maju, termasuk Jepang dan China di Asia, serta tentu negara barat di Amerika dan Eropa.

 

Posisi Indonesia saat ini?

Indonesia lagi menuju ke arah situ (kemajuan). Dengan segala keterbatasan anggaran, Indonesia relatif maju di kalangan ASEAN. Dari segi sumber daya manusia serta fasilitas, semuanya sudah mendukung untuk perkembangan astronomi.

 

Apa saja yang menjadi tantangan astronom?

Astronomi sering kali dianggap sebagai ilmu awang-awang yang mempelajari benda antariksa jauh di sana. Oleh karena itu, LAPAN melakukan beberapa hal untuk menarik astronomi menjadi lebih membumi, termasuk dengan mengkaji hubungannya terhadap sosial. LAPAN berupaya mengintegrasikan astronomi pada kebutuhan

masyarakat, seperti penetapan kalender. Kalau dulu, bisa dibilang bahwa astronomi dan masalah kehidupan sosial masih dianggap terpisah. Ilmu pengetahuan hanya dilihat sebagai alat bantu. Saat ini LAPAN mencoba menjadikan astronomi sebagai solusi yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.

sosok-td-2-foto

BAGI Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, astronomi menjadi tolak ukur kemajuan bangsa. Prinsip itu yang terus ia yakini. Kalau dihitung, anak purnawirawan TNI AD Sumaila Hadiko itu telah bergelut selama 30 tahun sebagai peneliti. Dari banyak bidang keilmuan, ia fokus

pada astronomi. Meski telah menjejak tiga dekade dalam profesi yang sama, Thomas mengaku tak pernah jenuh. “Astronomi membuat hobi dan profesi bertemu,” tuturnya beberapa waku lalu. Alhasil, pekerjaan sekaligus menjadi media penghibur.

 

Ketika pertanyaan mengarah pada apa yang paling berkesan menjadi astronom, ia bingung. “Semuanya menarik,” begitu kata pria kelahiran Purwokerto, 23 Januari 1962 itu. Tapi, ia melanjutkan, “pengalaman paling

menarik adalah bagaimana membumikan astronomi untuk aspek-aspek yang aplikatif di kehidupan sehari-hari. Termasuk, aspek cuaca antariksa dan aplikasi dalam kehidupan masyarakat, mengenai kalender khususnya kalender Islam di Indonesia dan global.”

 

Pengalaman yang dianggap menarik itu pula yang Thomas jadikan target. Singkat cerita, ia ingin menjadikan manfaat ilmu penerbangan dan antariksa dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. “Meski beberapa kali dianggap sebagai (barang) mahal dan teknologi berisiko tinggi, astronomi sebenarnya bisa dijalankan dengan

baik serta dimanfaatkan secara optimal untuk berbagai bidang,” jelasnya.

 

Alhasil, lantaran mengemban amanah menjadi Kepala LAPAN, ia berencana menjadikan ilmu pengetahuan penerbangan dan antariksa bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 􀁏 ADINDA PRYANKA