Sosok dan Pemikiran Thomas Djamaluddin: Memajukan Bangsa dengan Astronomi

Harian Nasional 3-4 September memuat wawancara dengan Kepala LAPAN dalam rubrik “Sosok dan Pemikiran”. Berikut salinannya:

Thomas Djamaluddin–Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Memajukan Bangsa dengan Astronomi

sosok-td-0-foto

Sosok & Pemikiran -Kepala LAPAN (PDF)

sosok-td-1-foto

sosok-td-1a-foto

Penetapan hari raya keagamaan di Indonesia, selalu menjadi perhatian. Perbedaan cara menentukan posisi bulan, antara hisab dan rukyat, menjadikan dua organisasi keagamaan acap

beda pendapat. Di antara perbedaan, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin kerap hadir menjadi penengah. Bergelung dengan dunia penelitian antariksa selama 30 tahun, pernyataan Thomas setidaknya bisa menjembatani perbedaan.Tugas ilmuwan, seperti yang ia terapkan, yaitu mencerdaskan masyarakat sesuai bidang keilmuan. Tapi, beragam ulasan belum menyentuh alasan Thomas begitu mesra dengan dunia antariksa. Wartawan HARIAN NASIONAL Adinda Pryanka dan pewarta foto Yosep Arkian mewawancarai Thomas. Berikut isi wawancara:

 

 

Sejak kapan tertarik dengan antariksa?

Saya tertarik sebagai peneliti sejak SMP. Saat itu, guru meminta para murid untuk menulis cita-cita. Dan saya menulis ingin menjadi peneliti, meski pun belum tahu pasti bidangnya apa. Keluarga sebenarnya tidak ada latar belakang peneliti. Kalau melihat bapak, dari kecil sampai SMP ingin jadi tentara angkatan udara. Tapi setelah

itu berubah keinginan untuk jadi peneliti. Saya senangnya mengulik, melihat biji tumbuh, kalau musim hujan banyak tunas baru, senang meneliti itu. Awalnya ingin jadi peneliti tumbuhan, aspek pertanian atau biologi.

 

Sampai bersentuhan dengan astronomi?

Waktu SMP kelas tiga ada beberapa majalah ilmiah populer. Waktu itu topiknya membahas UFO atau piring

terbang. Masuk SMA pada 1978, jadi tertarik membaca segala hal tentang UFO. Kebetulan perpustakaan saya ada sedikit buku yang menambah ingin tahu saya. Seiring dengan mempelajari agama, saya pun ingin mencari tahu bagaimana kedua ilmu ini bisa berjalan beriringan. Saya memaksa diri untuk menulis dan mengulik bagaimana pandangan agama terhadapUFO. Untuk menulis itu, saya riset kecilkecilan melalui buku. Untungnya, SMA saya mendapat buku sumbangan dari Kedutaan Besar Amerika yang banyak terkait astronomi. Dari situ semakin tertarik dengan dunia luar angkasa dan astronomi.

 

Minat itu masih berlanjut setelah lulus SMA?

Iya. Waktu kelas 3 SMA, kebetulan baru dibuka program proyek perintis II, masuk perguruan tinggi tanpa tes. Pada 1981, menjelang lulus SMA, ITB membuka program tersebut. Saya memutuskan ikut serta dengan harapan bisa masuk astronomi melalui nilai rapor saya. Alhamdulillah diterima tanpa tes.

 

Berkecimpung di LAPAN sudah direncanakan?

Menjelang lulus kuliah, semula saya inginnya jadi dosen. Mencoba mendekati pembimbing dan dosen lain, tapi ternyata belum ada formasi. Berarti saya belum pasti bisa masuk atau tidak. Kebetulan seorang teman angkatan ada yang sudah masuk LAPAN terlebih dahulu dan menawarkan saya. Tanpa konsultasi ke pembimbing, saya datang ke LAPAN Bandung dalam keadaan menjelang sidang sarjana. Meski pun belum mendapat gelar, saya sudah dianggap lulus oleh LAPAN. Dulu prosedur masih mudah, ikut psikotes lalu ujian sebagai PNS.

 

Akhirnya keinginan menjadi dosen pupus?

Kurang lebih begitu. Pada akhirnya, sempat menimbulkan masalah ketika dilaporkan ke pembimbing. Beliau agak kecewa karena memproyeksikan saya sebagai dosen. Tapi karena formasi dosen belum ada, beliau mencoba memahami. Setelah lulus sarjana pada awal Oktober, pertengahan wisuda dan awal November langsung masuk kerja di LAPAN Bandung. Status pengangguran saya hanya dua minggu, itu pun mempersiapkan untuk kerja. Saya masuk LAPAN pada 1986 dengan status sebagai honorer selama satu semester, sampai akhirnya menjalani tes CPNS pada 1 Maret 1987. Satu tahun setelahnya, April 1988, saya sekolah ke Jepang dengan beasiswa dari pemerintah sana.

 

Puluhan tahun menggeluti astronomi tidak jenuh?

Tidak pernah sekali pun. Justru di astronomi inilah, di mana hobi dan profesi saya bias bersatu. Saya mengerjakan riset sekaligus melakukan kesenangan meneliti segala hal.

 

Bagaimana dengan minat generasi muda terhadap astronomi saat ini?

Sudah sangat luar biasa. Pada 1980-an di generasi saya, sebenarnya minat sudah tinggi, tapi informasi dan teknologi masih terbatas. Dulu sumber informasi dari majalah saja. Sekarang di internet sudah melimpah meski pun memang harus berhati-hati karena banyak berita sampah. Tapi setidaknya itu jadi pemicu minat. Kini, fasilitas pun sudah sangat mendukung. Banyak teleskop canggih dengan harga yang terjangkau. Berbeda halnya

ketika dulu hanya orang tertentu saja yang bias membeli teleskop untuk digunakan pribadi atau kelompok. Faktor ini yang memicu munculnya beberapa kelompok amatir. Pada 1990-an, teman-teman sempat mendorong kelompok astronom amatir di Bandung. Tapi susah sekali. Peminatnya banyak. Sayang, fasilitas yang terbatas membuat banyak dialog buyar. Sekarang. kelompok astronom amatir sudah banyak karena peralatannya pun relatif banyak.

 

Astronomi tidak sekadar astronomi, juga untuk menjadi media popularisasi sains.

 

Efek astronomi tunggal atau berpengaruh dengan bidang keilmuan lain?

Tentu ada. Tumbuhnya minat astronomi itu sekaligus menciptakan generasi yang dekat dengan sains. Astronomi tidak sekadar astronomi, juga untuk menjadi media popularisasi sains. Sains yang kerap dianggap

sulit di generasi muda, sekarang cenderung dianggap sebagai suatu yang menyenangkan. Misal saja untuk memecahkan misteri bintang-bintang. Mau tidak mau kita harus menggunakan perangkat sains, dari fisika,

kimia, matematika, atau juga biologi. Astronomi jadi salah satu cara untuk memopulerkan itu semua.

 

Astronomi dengan kemajuan bangsa?

Kuat hubungannya. Pada umumnya, bangsa yang mempunyai tingkat kemajuan itu tingkat astronominya juga lebih maju, baik dari peradaban lama atau pun modern. Mereka mengembangkan banyak teori berdasarkan benda langit. Kalau kita lihat dari sejarah peradaban dulu, bangsa yang tergolong maju memiliki warna astronomi. Sebut saja Mesir Kuno, China Kuno, dan Romawi. Mereka memiliki peninggalan astronomi karena dianggap sudah menjadi bagian yang diperlukan untuk kehidupan. Salah satunya ritual penetapan kalender. Kemudian, teknologi terkait pengamatan. Dari kebutuhan di bidang astronomi, tidak sedikit peralatan ikut

berkembang. Misalnya saja teknologi fotografi yang semula menggunakan film untuk meneliti antariksa, sekarang berkembang jadi elektronik. Di satu sisi, astronomi merupakan pemacu perkembangan teknologi suatu

bangsa. Di sisi lain, perkembangan teknologi suatu bangsa juga mendorong perkembangan astronomi. Lihat saja negara maju maka astronominya maju, termasuk Jepang dan China di Asia, serta tentu negara barat di Amerika dan Eropa.

 

Posisi Indonesia saat ini?

Indonesia lagi menuju ke arah situ (kemajuan). Dengan segala keterbatasan anggaran, Indonesia relatif maju di kalangan ASEAN. Dari segi sumber daya manusia serta fasilitas, semuanya sudah mendukung untuk perkembangan astronomi.

 

Apa saja yang menjadi tantangan astronom?

Astronomi sering kali dianggap sebagai ilmu awang-awang yang mempelajari benda antariksa jauh di sana. Oleh karena itu, LAPAN melakukan beberapa hal untuk menarik astronomi menjadi lebih membumi, termasuk dengan mengkaji hubungannya terhadap sosial. LAPAN berupaya mengintegrasikan astronomi pada kebutuhan

masyarakat, seperti penetapan kalender. Kalau dulu, bisa dibilang bahwa astronomi dan masalah kehidupan sosial masih dianggap terpisah. Ilmu pengetahuan hanya dilihat sebagai alat bantu. Saat ini LAPAN mencoba menjadikan astronomi sebagai solusi yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.

sosok-td-2-foto

BAGI Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, astronomi menjadi tolak ukur kemajuan bangsa. Prinsip itu yang terus ia yakini. Kalau dihitung, anak purnawirawan TNI AD Sumaila Hadiko itu telah bergelut selama 30 tahun sebagai peneliti. Dari banyak bidang keilmuan, ia fokus

pada astronomi. Meski telah menjejak tiga dekade dalam profesi yang sama, Thomas mengaku tak pernah jenuh. “Astronomi membuat hobi dan profesi bertemu,” tuturnya beberapa waku lalu. Alhasil, pekerjaan sekaligus menjadi media penghibur.

 

Ketika pertanyaan mengarah pada apa yang paling berkesan menjadi astronom, ia bingung. “Semuanya menarik,” begitu kata pria kelahiran Purwokerto, 23 Januari 1962 itu. Tapi, ia melanjutkan, “pengalaman paling

menarik adalah bagaimana membumikan astronomi untuk aspek-aspek yang aplikatif di kehidupan sehari-hari. Termasuk, aspek cuaca antariksa dan aplikasi dalam kehidupan masyarakat, mengenai kalender khususnya kalender Islam di Indonesia dan global.”

 

Pengalaman yang dianggap menarik itu pula yang Thomas jadikan target. Singkat cerita, ia ingin menjadikan manfaat ilmu penerbangan dan antariksa dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. “Meski beberapa kali dianggap sebagai (barang) mahal dan teknologi berisiko tinggi, astronomi sebenarnya bisa dijalankan dengan

baik serta dimanfaatkan secara optimal untuk berbagai bidang,” jelasnya.

 

Alhasil, lantaran mengemban amanah menjadi Kepala LAPAN, ia berencana menjadikan ilmu pengetahuan penerbangan dan antariksa bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 􀁏 ADINDA PRYANKA

 

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (5): Sekitar Kehidupan di Luar Bumi dan UFO

Wawancara Manusia Indonesia  seputar kehidupan di luar bumi dan UFO (Unidentified Flying Object — benda terbang tak dikenal, terutama berupa piring terbang) bisa disimak pada  video berikut:

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (3): Sekitar Popularisasi Astronomi

Wawancara Manusia Indonesia  seputar popularisasi astronomi bisa disimak pada rangkaian video berikut:

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (2): Sekitar Pengembangan Iptek Penerbangan dan Antariksa

Wawancara Manusia Indonesia  sekitar pengembangan iptek penerbangan dan antariksa bisa disimak pada rangkaian video berikut:

Wawancara Manusia Indonesia — Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (1): Sekitar Penentuan Awal Ramadhan dan Hari Raya

Wawancara Manusia Indonesia bisa disimak seputar penentuan awal Ramadhan dan hari raya pada rangkaian video berikut:

Indonesia Serius Membangun Luar Angkasa

Majalah Sains Indonesia edisi 54, Juni 2016,  memuat wawancara dengan Kepala LAPAN.

(Catatan: Sedikit koreksi salah kutip, “engineering” mestinya “engineers” alias peneliti dan perekayasa.)

Majalah Sains-1Majalah Sains-2

Majalah Sains-3

Selamatkan Langit Malam Bertabur Bintang

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

20160503_152932

Artikel Harian Nasional 28 April 2016, di dalamnya ada wawancara dengan Kepala LAPAN terkait gagasan Taman Langit Gelap dan Kegiatan Malam Langit Gelap setiap 6 Agustus, saat Hari Keantariksaan.

Langit malam yang gelap (dark sky) saat ini menjadi langka untuk banyak wilayah perkotaan dunia karena makin parahnya polusi cahaya. Polusi cahaya adalah hamburan cahaya lampu perkotaan yang menyebabkan langit tampak terang, sehingga mengalahkan cahaya bintang. Gemerlap cahaya bintang menghilang dari pandangan masyarakat di banyak kota besar. “Sungai Perak — Gingga (bahasa Jepang)”, “Jalur Susu — Milky Way (bahasa Inggris)”, atau “Selendangnya Bima — Bima Sakti (nama galaksi kita dalam bahasa Indonesia), gugusan ratusan milyaran bintang yang redup namun indah dilihat dari daerah yang jauh dari perkotaan, menghilang dari langit malam. Rasi bintang terang pun banyak yang tak tampak lagi. Hanya beberapa bintang yang sangat terang, seperti Antares di rasi Kalanjengking (Scorpio) dan Betelgeuse di rasi Orion, serta beberapa planet terang seperti Venus dan Jupiter, yang masih terlihat di beberapa kota.

Perlu kita kampanyekan perlunya langit gelap untuk kembali menikmati indahnya malam bertabur bintang. Ada dua gagasan yang diusulkan LAPAN:

  • Gagasan pertama, mengadakan kegiatan tahunan “Malam Langit Gelap” setiap 6 Agustus, saat Hari Keantariksaan. Pemilihan tanggal 6 Agustus selain memperingati Hari Keantariksaan, juga terkait dengan  musim kemarau pada bulan Agustus sehingga berpeluang besar untuk mengamati langit yang cerah bertabur bintang kalau gangguan polusi cahaya diminimalkan. Caranya, pada malam itu semua lampu di luar ruangan (sedapat mungkin termasuk lampu jalan) dimatikan. Cukup satu jam saja, pukul 20.00 – 21.00. Saat itu ketika langit mulai gelap total (karena matahari sudah jauh terbenam dan cahaya senja sudah menghilang) dan aktivitas di luar ruangan mulai berkurang, kita matikan semua lampu luar. Kita bersama-sama keluar ruangan untuk menyaksikan langit. Kalau kita berhasil meminimalisasi polusi cahaya selama satu jam, kita bisa melihat Galaksi Bima Saksi dengan ratusan milyar bintang membentang dari Utara ke Selatan. Kita bisa melihat rasi Angsa (Cygnus) di langit Utara dengan Segitiga Musim Panas (Summer Triangle), tiga bintang terang di sekitar rasi Angsa: Vega, Deneb, dan Altair. Di langit Selatan kita melihat rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) yang sering digunakan sebagai penunjuk arah Selatan. Hampir di atas kepala kita saksikan rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares. Mematikan lampu luar selama satu jam, juga sekaligus mengkampanyekan hemat energi seperti Earth Hour.

Gugusan Bima Sakti

Gugusan Bima Sakti membentang di langit dari Utara ke Selatan. [Gambar dari http://twanight.org%5D

summer-triangle

Summer Triangle dan rasi Angsa (Cygnus) [gambar dari http://www.arkansas.com%5D

Salib Selatan

Rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) [Gambar dari http://earthsky.org%5D

Scorpio-1

Rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares [Gambar dari http://www.abc.net.au%5D

  • Gagasan ke dua, menjadikan daerah tertentu sebagai kawasan bebas polusi cahaya yang biasa disebut Taman Langit Gelap (Dark Sky Park). LAPAN mengusulkan kawasan sekitar Observatorium Nasional yang akan dibangun di Kupang sebagai kawasan Taman Langit Gelap. Beberapa kawasan di Nusa Tenggara Timur sangat potensial untuk dijadikan Taman Langit Gelap. Kondisi cuaca yang kering memungkinkan jumlah malam cerah paling banyak. Kawasan seperti ini bisa menjadi daya tarik turis untuk wisata astronomi yang menarik. Apalagi Indonesia yang berada di wilayah ekuator memungkinkan kita mengamati langit Utara dan langit Selatan. Di Amerika, Jepang, dan Eropa pengamat astronomi lebih banyak mengamati langit Utara. Sementara pengamat di Australia lebih banyak mengamati langit Selatan. Di Indonesia, kita bisa menikmati bintang-bintang di langit Utara dan Selatan lebih leluasa. Di kawasan Taman Langit Gelap penggunaan lampu sangat dibatasi, hanya boleh untuk di dalam ruangan yang tidak memancar ke luar.

Inilah beberapa contoh Taman Langit Gelap di beberapa negara [gambar diambil dari http://darksky.org/idsp/parks/%5D.

Dark Sky Park Hongaria

Taman Langit Gelap di Hongaria.

Dark Sky Park Skotlandia

Taman Langit Gelap di Skotlandia.

Dark Sky Park AS-1

Taman Langit Gelap di Amerika Serikat.

Dark Sky Park AS-2

Taman Langit Gelap di Amerika Serikat.