Hujan Meteor Perseids Terdeteksi dengan Radar Meteor LAPAN

Radar Meteor di Biak

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

 

LAPAN mempunyai dua radar meteor di Agam, Sumatera Barat, dan di Biak, Papua, hasil kerjasama dengan Universitas Kyoto, Jepang. Penjelasan deteksi hujan meteor dengan radar  meteor telah dijelaskan ketika membahas Hujan meteor Quadrantids yang terdeteksi dengan radar meteor di Agam. Berikut ini hujan meteor Perseids yang terdeteksi dengan radar meteor Biak.

Hujan meteor Perseids (titik pancar dari rasi Perseus) disebabkan oleh sisa-sisa debu komet Swift-Tuttle. Setiap tahun bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet tersebut yang menyebabkan hujan meteor Perseids mulai 17 Juli sampai 24 Agustus. Puncaknya sekitar 12 Agustus dengan jumlah meteor tampak sekitar 90 meteor per jam. Dengan menggunakan radar meteor, jumlah meteor yang terdeteksi bisa ratusan meteor. Radar meteor mendeteksi jejak ionisasi di atmosfer pada ketinggian sekitar 70 – 110 km. Jejak ionisasi berasal dari debu-debu yang terbakar yang tampak seperti bintang yang melesat.

Batas 110 km digunakan Indonesia sebagai batas antara ruang udara (atmosfer) dengan ruang antariksa. Mulai ketinggian 110 km, atmosfer mulai padat yang menyebabkan debu-debu antarplanet dan sampah antariksa mulai terbakar ketika memasuki atmosfer dan  menimbulkan ionisasi. Distribusi ketinggian menyatakan distribusi ukuran dan kecepatan debu-debu yang berpasasan dengan atmosfer bumi. Debu-debu yang berukuran besar dan kecepatan tinggi sudah terbakar mulai ketinggian sekitar 110 km. Sedangkan yang ukurannya lebih kecil dan kecepatannya lebih rendah baru terbakar pada ketinggian yang lebih rendah dengan atmosfer yang lebih padat.

Data radar meteor berikut menggambarkan jumlah meteor per jam yang terdeteksi (panel atas), sebaran angular meteor di langit (panel kiri bawah), dan sebaran ketinggian meteor (panel kanan bawah). Sebaran angular menggambarkan posisi meteor yang terdeteksi di langit. Utara digambarkan di titik paling bawah, Selatan di titik paling atas, Timur di kanan, dan Barat di kiri. Terlihat distribusinya lebih banyak di Utara sesuai dengan titik pertemuan bumi dengan gugusan debu di arah rasi Perseus di langit Utara. Puncak hujan meteor terdeteksi sekitar pukul 18.30 UT (01.30 WIB). Puncaknya terdeteksi pada dini hari 11 Agustus dan 15 Agustus dengan jumlah meteor sekitar 700 meteor per jam.

 

 

Pertimbangan Sains Antariksa untuk Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Kepala LAPAN

Pokok-pokok Rekomendasi Jakarta 2017

Pertimbangan Sains Antariksa untuk Penyatuan Kalender Islam (File pdf untuk diunduh)

 

Pada 28-30 November 2017 telah dilaksanakan Seminar Internasional Fikih Falak yang menghasilkan Rekomendasi Jakarta 2017. Rekomendasi itu dari sudut pandang sains antariksa telah mengakomodasi sebagian besar pendapat ormas-ormas Islam yang selama ini berbeda dalam penentuan awal bulan-bulan Islam, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzuhijjah. LAPAN sebagai lembaga Pemerintah yang salah satu tugas fungsinya berkaitan dengan pemberian pertimbangan dan saran kepada Pemerintah (dalam hal ini Menteri Agama) dan pihak-pihak terkait (Majelis Ulama Indonesia dan Ormas-ormas Islam) tentang upaya penyatuan Kalender Islam dari sudut pandang sains antariksa (astronomi). Surat LAPAN berikut ini dipublikasi untuk menjadi pendorong semua pihak dalam mengupayakan titik temu, khususnya implementasi Rekomendasi Jakarta 2017, sehingga penyatuan Kalender Islam segera terwujud dan kalender Islam bersesuaian dengan hasil rukyat untuk itsbat (penentuan) waktu ibadah.

Penentuan Waktu Shubuh: Pengamatan dan Pengukuran Fajar di Labuan Bajo

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama

 

Pada 23-25 April 2018 dilaksanakan Temu Kerja Hisab Rukyat Kementerian Agama RI di Labuan Bajo, sekaligus dimanfaatkan untuk pengamatan fajar untuk penentuan waktu shubuh. Beberapa waktu sebelumnya ada kalangan yang meragukan waktu shubuh yang ada di jadwal shalat yang berlaku di Indonesia saat ini. Oleh karenanya Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI melakukan pengamatan fajar di daerah yang minim polusi cahaya. Labuan Bajo tergolong minim polusi cahaya karena cahaya lampu kota belum terlalu banyak, sehingga galaksi Bima Sakti (Milky Way) pun terlihat dengan jelas dengan mata telanjang.

Milky Way - Labuan Bajo - Ismail

Milky Way (Galaksi Bima Sakti) terlihat ketika polusi cahaya sangat minim. (Foto Ismail –Kemenag– di lokasi pengamatan fajar di Labuan Bajo)

Milky Way - Labuan Bajo-AR Sugeng

Milky Way (Galaksi Bima Sakti) terlihat ketika polusi cahaya sangat minim. (Foto AR Sugeng –CASA Assalam– di lokasi pengamatan di Labuan Bajo)

Tim melakukan pengukuran dengan menggunakan SQM (Sky Quality Meter), kamera, dan secara visual sebelum fajar sampai matahari terbit. Pengukuran SQM dilakukan oleh Hendro Setyanto (astronom pengelola Imah Nong) pada 24 April 2018 dan Rukman Nugraha (astronom BMKG) pada 25 April 2018. Pemotretan dengan kamera DSLR dilakukan AR Sugeng Riyadi (astronom amatir, Kepala Observatorium Assalam) dan diolah oleh Dr. Rinto Anugraha (Dosen Fisika UGM, Pengajar Falak di UIN Semarang). Saya melakukan pengamatan visual dan mendokumenasikan dengan kamera HP. Hasilnya, munculnya fajar pada saat ketinggian matahari -20 derajat mempunyai dukungan data pengamatan, jadi jadwal shalat yang dikeluarkan Kementerian Agama tidak terlalu cepat. Berikut rinciannya.

 

Pengukuran SQM oleh Hendro Setyanto (kurva biru) dan Rukman Nugraha (kurva coklat). Sumbu mendatar adalah waktu (WITa) dan sumbu tegak adalah ukuran kecerlangan langit dalam satuan MPSAS (Magnitude per Square Arc Second).

Kurva cahaya yang terukur dengan SQM menunjukkan bahwa penurunan magnitudo terjadi mulai pada pukul 04.46 WITa dan 04.44 WITa. Penurunan magnitudo mengindikasikan mulai munculnya cahaya fajar astronomi. Waktu tersebut bersesuaian dengan posisi matahari -19,5 dan -20 derajat.

Pemotretan dengan kamera DSLR yang disajikan mulai pukul 04.36 WITa (bersesuaian dengan ketinggian matahari -22 derajat) sampai pukul 05.00 WITa (bersesuaian dengan ketinggian matahari -16 derajat) dengan sudut pandang yang tetap dan waktu ekspos 25 detik. Citra foto kemudian diolah untuk menghilangkan gangguan polusi cahaya. Caranya, setiap citra dikurangi (proses substraksi) dengan citra pada posisi matahari -22 derajat saat sebelum fajar. Hasilnya kemudian ditingkatkan kontrasnya (enhanced). Hasilnya sebagai berikut:

Fajar belum tampak pada pukul 04.40 WITa ketika posisi matahari -21 derajat.

Cahaya mulai tampak pada pukul 04.44 WITa ketika posisi matahari -20 derajat (untuk melihat cahaya fajar secara jelas, klik gambar di atas untuk membesarkannya). Posisi pusat fajar bersesuaian dengan posisi titik matahari terbit. Cahaya ini benar fajar shadiq (fajar sesungguhnya), bukan fajar kadzib (fajar semu) karena melebar di ufuk.

Citra fajar pada pukul 04.48 WITa (posisi matahari -19 derajat).

Citra fajar pada pukul 04.52 WITa (posisi matahari -18 derajat).

Citra fajar pada pukul 04.56 WITa (posisi matahari -17 derajat).

Citra fajar pada pukul 05.00 WITa (posisi matahari -16 derajat).

Tiga foto asli oleh AR Sugeng Riyadi (sebelum diolah) yang menggambarkan kondisi polusi cahaya (ada cahaya lampu di ufuk Timur), fajar yang sudah cukup terang, dan titik posisi matahari terbit.

Pengamatan visual yang saya lakukan secara umum menggambarkan karakteristik fajar astronomi sebagai awal shubuh, fajar nautika, dan fajar sipil.

1. Fajar astronomi tampak di ufuk Timur dalam kondisi masih gelap. Galaksi Bima Sakti di atas kepala masih terlihat dan kita belum bisa mengenali orang di sekitar kita. Itu sesuai dengan ungkapan dalam hadits Aisyah, bahwa sesudah shalat bersama Rasul para wanita pulang tidak saling mengenal. Juga sesuai dengan isyarat di dalam QS Ath-Thur (52):49 “Dan bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan ketika bintang-bintang meredup”. Munculnya fajar shadiq (fajar sesungguhnya, fajar astronomi) ditandai dengan meredupnya bintang-bintang di ufuk timur karena mulai munculnya cahaya akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer. Itulah awal waktu shubuh.

2. Fajar nautika ditandainya dengan mulai makin terangnya ufuk timur. Itu ditandainya dengan garis batas ufuk mulai terlihat dengan jelas. Di Labuan Bajo ufuk timur ada bukit. Cahaya fajar di latar belakang yang makin terang mulai menampakkan bentuk bukit yang lebih jelas. Orang di samping kita masih terlihat remang-remang, wajahnya belum tampak jelas.

Fajar nautika saya foto dengan kamera hp. Bukit di ufuk timur mulai terlihat jelas batasnya.

3. Fajar sipil ditandai dengan makin terangnya kondisi di sekitar kita, sebelum matahari terbit. Warna fajar mulai agak memerah di bagian bawahnya. Wajah orang sudah bisa kita kenali dengan baik.

Fajar sipil ditandai dengan fajar yang mulai memerah.

Akhir fajar adalah terbitnya matahari.

 

 

 

Mewaspadai Jatuhnya Stasiun Antariksa Tiangong-1

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Image result for tiangong-1

Tiangong-1 (gambar dari S&T)

Stasiun antariksa milik RRT Tiangong-1 (makna harfiahnya “Istana Langit”) segera akan jatuh ke bumi. Wahana antariksa berbobot 8,5 ton tersebut berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter, dilengkapi dengan bentangan panel surya. Tiangong-1 diluncurkan pada 29 September 2011 dan mengorbit pada ketinggian sekitar 350 km. Pada periode 2012-2013, Tiangong-1 pernah ditempati astronot RRT. Ketinggian orbitnya selalu dikontrol, terlihat dari riwayat orbitnya. Tetapi sejak 2016, Tiangong-1 sudah tidak dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Diperkirakan sekitar April 2018 wahana ini akan jatuh.

Riwayat ketinggian orbit Tiangong-1 (dari CalSky)

Akibat hambatan atmosfer, wahana antariksa akan mengalami penurunan ketinggian. Dari ketinggian semula sekitar 350 km, pada pertengahan Maret ketinggiannya sudah mencapai 250 km. Semakin mendekati bumi, atmosfernya makin padat sehingga laju penurunan akan semakin cepat. Bila ketinggiannya telah mencapai sekitar 120 km, wahana itu sudah dianggap jatuh. Pada ketinggian 120 km tersebut, atmosfer cukup padat untuk membakar dan memecahkan objek tersebut. Hanya dalam hitungan menit, pecahannya akan jatuh di sepanjang jalurnya. Di mana jatuhnya? Tidak bisa dipastikan, karena faktor hambatan atmosfer belum bisa dihitung secara akurat. Karena inklinasi (kemiringan bidang orbit) Tiangong-1 42,8 derajat, maka wilayah yang berpotensi kejatuhan pecahannya adalah wilayah di bumi antara  43 derajat lintang utara sampai 43 derajat lintang selatan.

Image result for tiangong-1

Daerah berwarna hijau dan kuning adalah daerah yang berpotensi kejatuhan pecahan Tiangong-1 (dari aerospace.org)

Kecepatan jatuh objek antariksa bergantung pada kerapatan atmosfer. Sementara, kerapatan atmosfer dipengaruhi oleh aktivitas matahari dan medan magnet bumi. Variasi aktivitas matahari yang menyebabkan rentang ketidakpastian waktu jatuhnya cukup besar. Tingkat akurasinya akan bertambah dengan makin dekatnya waktu jatuh. Sampai dengan pertengahan Maret, prakiraan waktu jatuh sekitar April, dengan ketidakpastian +/- 7 hari.

 

Perkiraan waktu jatuh berubah-ubah bergantung kerapatan atmosfer (dari CalSky)

LAPAN selalu memantau benda jatuh antariksa, terutama yang berukuran besar. Laboratorium antariksa Rusia MIR berbobot 136 ton yang jatuh 2001  terus dipatau oleh LAPAN. Demikian juga saat satelit BeppoSAX berbobot 1,4 ton yang jatuh pada 2003, LAPAN juga terus memantaunya dan menginformasikan perkembangannya kepadaa publik. Sebelumnya LAPAN juga sudah mengidentifikasi beberapa benda jatuh antariksa di Gorontalo (1981), di Lampung (1988), di Bengkulu (2003), di Madura (2016), dan di Agam (2017). LAPAN akan terus menginformasikan perkembangan pemantauan jatuhnya Tiangong-1 di situs LAPAN.

Seberapa bahayanya pecahan Tiangong-1 ini? Objek 8,5 ton akan pecah di atmosfer. Sebagian besar akan terbakar. Pecahannya akan tersebar puluhan atau ratusan kilometer sepanjang jalur orbit terakhir. Bahaya yang mengancam adalah bahaya tumbukan dan potensi bahaya racun dari sisa bahan bakar roket Hydrazine (bila masih ada di tabungnya). Namun potensi bahaya tumbukan di wilayah berpenghuni sangat kecil, karena wilayah bumi sebagian besar tidak berpenghuni, yaitu lautan, hutan, dan gurun. Jadi masyarakat tidak perlu cemas, namun tetap waspada. Kewaspadaan perlu ketika pada hari H kejatuhan objek antariksa tersebut ada warga melihat benda jatuh dari langit agar jangan menyentuhnya. Langsung laporkan kepada aparat setempat untuk diteruskan ke LAPAN. LAPAN segara akan akan mengirimkan Tim untuk evakuasi objek antariksa tersebut dan melakukan tindakan yang tepat bila ada potensi bahayanya.

 

Gerhana Bulan Total Buktikan Bumi Bulat: Bantahan Telak Dongeng Bumi Datar – FE

Gerhana Bulan Total, saat purnama memasuki bayangan bumi (dari situs NASA)

 

T. Djamaluddin

LAPAN

 

Gerhana bulan, seperti yang terjadi pada 31 Januari 2018, membuktikan bahwa bumi bulat. Bayangan gelap yang jatuh pada purnama, adalah bayangan bumi. Bayangan gelap pada proses gerhana berbentuk melengkung yang mengindikasikan bulatnya bumi. Skematik astronomis menjelaskan kejadian gerhana bulan terjadi akibat bulan memasuki bayangan bumi. Bayangan bumi terjadi karena cahaya matahari terhalang oleh bumi.

Skematik (tidak sesuai skala) terjadinya gerhana bulan (dari situs NASA)

Kejadian gerhana juga bisa diprakirakan dengan baik waktu dan prosesnya. Hal itu didasarkan pada model saintifik sistem bumi-bulan-matahari. Bulan mengitari bumi. Bumi bersama bulan mengitari matahari. Cahaya purnama disebabkan oleh pantulan cahaya matahari. Namun pada saat tertentu, bulan memasuki bayangan bumi ketika matahari-bumi-bulan dalam posisi segaris. Saat itulah terjadinya gerhana yang bisa kita amati.

Para penggemar dongeng bumi datar (FE: Flat Earth) tidak bisa menjelaskan fenomena gerhana bulan secara logis. Waktu kejadian gerhana dan prosesnya tidak bisa mereka jelaskan, karena dongeng bumi datar tidak menggunakan sains, walau mereka mengklaim melakukan kegiatan yang mereka sebut “penelitian”.  Kejadian gerhana bulan adalah pukulan telak yang membantah dongeng bumi datar.

Tulisan terkait

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2016/12/21/flat-earth-dongeng-tanpa-landasan-ilmiah/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/02/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-1/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/03/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-2/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/04/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-3/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/09/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-4-tentang-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/15/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-5-bukti-perhitungan-gerhana/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/18/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-6-gravitasi-dan-orbit-satelit/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/22/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-7-antartika-kutub-selatan/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2017/01/27/jawaban-atas-pertanyaan-penggemar-dongeng-fe-bumi-datar-serial-8-isyarat-al-quran/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2018/01/28/gerhana-bulan-total-buktikan-bumi-bulat-bantahan-telak-dongeng-bumi-datar-fe/

 

Super-Blue-Blood-Moon: Gerhana Bulan Total Istimewa 31 Januari 2018

Skematik Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 (Dari situs NASA)

U1: Saat purnama menyentuh umbra (bayangan  bumi) (awal proses gerhana) pukul 18:48 WIB, U2: Saat purnama sepenuhnya masuk ke umbra (awal gerhana bulan total) pukul 19.52 WIB, U3: Saat purnama menjelang keluar dari umbra (akhir gerhana bulan total) pukul 21.08 WIB, U4: Saat purnama lepas dari umbra (akhir proses gerhana) pukul 22.11 WIB.

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Gerhana bulan total 31 Januari 2018 akan terlihat di seluruh Indonesia. Proses gerhana mulai pukul 18:48 WIB. Gerhana bulan total pukul 19.52-21:08 WIB. Proses gerhana berakhir pukul 22:11 WIB. Ummat Islam dapat melaksanakan shalat gerhana seusai shalat isya.

Prosesnya, mulai pukul 18:48 WIB bagian bawah (sisi Timur) purnama mulai tergelapi oleh bayangan bumi. Kemudian pukul 19.52 sampai 21:08 bulan menjadi gelap kemerahan saat seluruh purnama masuk ke bayangan inti bumi. Warna merah disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Setelah itu secara perlahan cahaya purnama mulai tampak dari bagian kanan bawah (Timur). Dan proses gerhana berakhir pada pukul 22:11 WIB.

Gerhana kali ini menarik perhatian publik karena sebutannya:
– Disebut Supermoon karena jarak bulan masih terdekat dengan bumi. Sehingga purnama dan gerhana tampak lebih besar dari biasanya.
– Disebut Blue moon karena ini purnama kedua pada bulan Januari, setelah 1 Januari lalu.
– Gerhana bulan total juga sering disebut Blood Moon karena saat gerhana total bulan tampak merah darah.
Jadi gerhana bulan pada 31 Januari 2018 boleh disebut Super-Blue-Blood-Moon.

Hujan Meteor Quadrantids Terdeteksi dengan Radar Meteor LAPAN

Radar Meteor di LAPAN Agam (Sumatera Barat)

Radar Meteor di LAPAN Biak (Papua)

LAPAN bekerjasama dengan Universitas Kyoto, Jepang, mengoperasikan radar meteor (Meteor Wind Radar) di LAPAN Agam (Sumatera Barat) dan LAPAN Biak (Papua). Tujuan utamanya adalah untuk penelitian angin di atmosfer atas, pada ketinggian 70-110 km. Namun radar meteor bisa juga digunakan untuk penelitian fluks meteor (jumlah meteor per jam).

Meteor adalah batuan atau debu antariksa yang memasuki atmosfer bumi dan terbakar pada ketinggian 70-110 km. Pada saat tertentu, bumi berpapasan dengan gugusan debu sisa komet sehingga debu-debunya memasuki atmosfer bumi dan terbakar dalam jumlah yang banyak. Saat itulah pengamat bisa menyaksikan hujan meteor dengan jumlah puluhan sampai ratusan meteor per jam. Jumlah ratusan meteor per jam biasanya disebut badai meteor, pada saat tertentu setelah komet induknya melintas dekat bumi. Hujan meteor diberi nama sesuai dengan rasi bintang tempat meteor tampak terpancar. Titik itulah, yang disebut radian, adalah titik persinggungan atmosfer bumi dengan gugusan debu komet.

Ada tiga hujan meteor yang tergolong kuat dengan jumlah puluhan meteor per jam: Quadrantids (puncaknya pada 3 Januari), Perseids (puncaknya 12 Agustus), dan Geminids (puncaknya 14 Desember). Berikut ini contoh hujan meteor Quadrantids yang terekam oleh radar meteor Agam pada 2-3 Januari 2017. Karena hujan meteor adalah fenomena tahunan, kejadian setiap tahun secara umum hampir sama.

Fluks meteor pada dini hari 3 Januari 2017, terdeteksi oleh Radar Meteor LAPAN Agam

Pada diagram “Meteor Fluks” tampak jumlah meteor per jam meningkat mulai pukul 20.00 UT (Universal Time) atau pukul 03.00 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 22.00 UT (05.00 WIB) dengan jumlah meteor sekitar 400 meteor/jam. Waktu tersebut bersesuaian dengan mulai terbitnya radian (titik pancar) meteor Quadrantids di sekitar rasi Bootes sampai meninggi di arah Utara. Pada diagram “Angular Distribution” terlihat sebaran sumber meteor paling banyak dari belahan Utara (belahan lingkaran atas). Pada diagram “Height Distrubution” terlihat sebagian besar meteor terbakar pada ketinggian sekitar 90 km. Pada dini hari yang cerah meteor itu tampak seperti bintang yang bergerak cepat, yaitu saat debu-debu itu terbakar sampai habis. Hanya dalam waktu beberapa detik saja.

Berikut adalah data fluks meteor sejak 31 Desember 2016 sampai 5 Januari 2017 dari radar meteor LAPAN Agam.

Berikut adalah data fluks meteor sejak 2-3 Januari 2018 dari radar meteor LAPAN Biak.

Quadrantids - MWR Biak - 3 Jan

Pada rangkaian data 31 Desember 2016 – 5 Januari 2017, terlihat hujan meteor di mulai pada 31 Desember 2016 sampai 4 Januari 2017 sekitar pukul 00.00 UT (07.00 WIB). Kemudian pada 5 Januari hujan meteor mulai menghilang. Pada kejadian hujan meteor Quadrantids 2018, tampak pula peningkatan fluks meteor sekitar pukul 20.00 UT (05.00 WIT).