Wawasan Republika: Mengajak Masyarakat Lebih Logis Soal GMT

Wawasan Republika, 6 April 2016

[Sedikit koreksi, ada yang kurang akurat dikutip. Semestinya “… dan dampak GMT pada bumi, yaitu medan magnet bumi, ionosfer, dan atmosfer. Dampak terhadap perilaku hewan dan tumbuhan dilakukan oleh peneliti lain”]

Wawasan Republika 6 Apr 2016

Pengembangan Iptek Penerbangan dan Antariksa Menuju Indonesia Maju dan Mandiri

Thomas Djamaluddin
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

(Dimuat di situs lapan.go.id, 28 Maret 2016)

Hasil LAPAN-A2

 Citra terbaru daerah Batam dari satelit LAPAN-A2 dibandingkan dengan citra lama dari Google Earth.

Dua teknologi yang saat ini tidak bisa lagi ditinggalkan dalam kehidupan manusia modern adalah teknologi informasi dan teknologi antariksa. Bukan hanya dalam skala besar negara dan korporasi, tetapi juga dalam skala mikro individual. Tulisan ini memfokuskan pada teknologi antariksa dan iptek yang terkait dengannya. Teknologi antariksa bukan lagi kebutuhan negara-negara maju, tetapi semua negara membutuhkannya untuk berbagai sektor kehidupan.

Telekomunikasi dan media massa saat ini sangat bergantung pada teknologi satelit. Sektor perekonomian juga sangat dipermudah dengan berbagai fasilitas komunikasi data yang mengandalkan satelit. Pertanian sangat membutuhkan data satelit terkait dengan prakiraan iklim dan fase pertumbuhan tanaman untuk pemantauan skala nasional. Sektor kehutanan tidak bisa lagi mengandalkan pemantauan konvensional, saat ini sudah sangat bergantung pada satelit penginderaan jauh. Sektor kemaritiman untuk Indonesia yang sebagian besar wilayahnya berupa laut, mutlak memerlukan satelit. Itulah beberapa contoh kehidupan manusia modern dalam skala besar. Untuk skala mikro individu, manusia modern sangat bergantung pada gadget yang secara operasional tidak bisa optimal tanpa penggunaan satelit.

Indonesia sejak 1976 menjadi negara pengguna satelit komunikasi, ketiga setelah Amerika Serikat dan Kanada. Sejak 1980-an pula Indonesia memanfaatkan data-data penginderaan jauh dari satelit internasional. Indonesia sudah lama menjadi negara yang bergantung pada teknologi antariksa. LAPAN, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, yang dilahirkan 1963 mempunyai misi untuk membangun kemandirian teknologi antariksa, juga teknologi yang terkait dengannya, teknologi aeronotika atau penerbangan. Cita-cita besar itu diperkuat dengan lahirnya Undang-undang Nomor 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan. Di dalam undang-undang itu diamanatkan LAPAN menjadi lembaga penyelenggara keantariksaan.

Dalam menyelenggarakan tugas fungsinya, LAPAN membangun empat kompetensi: (1) sains antariksa dan atmosfer, (2) teknologi penerbangan, roket, dan satelit, (3) penginderaan jauh, dan (4) kajian kebijakan penerbangan dan antariksa. Untuk memberikan arah yang jelas, LAPAN mempunyai visi menjadi pusat unggulan penerbangan dan antariksa untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri. Sebagai pusat unggulan, dua indikator utamanya adalah unggul pada empat kompetensi tersebut dan unggul pada layanan informasi dan produk teknologinya.

Untuk memfokuskan program pengembangan iptek penerbangan dan antariksa, LAPAN mempunyai satu program besar, yaitu reformasi birokrasi, antara lain dengan membenahi tata kelola organisasi dan meningkatkan layanan publik. Untuk memfokuskan pengembangan kompetensi, LAPAN mempunyai tujuh program utama pengembangan: (1) Sistem pendukung keputusan (DSS) cuaca antariksa, (2) Sistem pendukung keputusan dinamika atmosfer ekuator, (3) teknologi pesawat transport dan sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak, (4) teknologi satelit, (5) teknologi roket sonda menuju roket peluncur satelit, (6) bank data penginderaan jauh nasional, dan (7) sistem pemantau bumi nasional.

Beberapa Capaian

Cuaca antariksa adalah kondisi dinamis di lingkungan antariksa antara matahari dan bumi yang dipengaruhi oleh aktivitas matahari. Dalam bahasa awam yang kini sudah dikenal, cuaca antariksa terutama terkait kemungkinan badai matahari yang berdampak pada kala hidup satelit dan teknologi lain yang dipengaruhinya. LAPAN adalah satu-satunya lembaga di Indonesia yang memantau dan memberikan layanan informasi terkait dengan cuaca antariksa. Di situs web, LAPAN menyediakan informasi rutin harian terkait cuaca antariksa dengan sistem SWIFTs (Space Weather Information and Forcast Services).

Dinamika atmosfer dipantau dengan memanfaatkan satelit cuaca dan model atmosfer untuk memberikan informasi potensi cuaca ekstrem. Sebagai pelengkap informasi cuaca oleh BMKG, LAPAN mengembangkan juga SADEWA, (Satellite based Disaster Early Warning System). Sistem ini diintegrasikan dengan sistem lainnya, misalnya dengan informasi zona potensi penangkapan ikan, untuk memberikan informasi kepada para nelayan sebelum melaut. Dengan informasi itu, nelayan bisa menuju zona yang banyak ikannya dan melaut dengan memperhitungkan ada tidaknya cuaca ekstrem di laut.

Teknologi pesawat transport dikembangkan bekerjasama dengan PTDI. Saat ini telah dikembangkan pesawat N219 (bermesin ganda untuk 19 penumpang) yang telah diperkenalkan bentuk fisiknya dan direncanakan terbang perdana pada 2016 dan diproduksi 2017. Program selanjutnya adalah pengembangan varian N219 dan generasi berikutnya N245 dan N270 sesuai dengan kebutuhan pasar penerbangan di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia yang khas, terutama di daerah terpencil, menuntut adanya pesawat yang bisa mengatasi kendala yang ada, antara lain landasan pendek dan berbukit-bukit.

N-219

Penampilan perdana pesawat N219 hasil kerjasama LAPAN dengan PTDI

Sistem pemantau wilayah maritim yang luas memang lebih efektif menggunakan satelit. Tetapi kondisi berawan sering menjadi kendala. Sementara pemantauan dengan pesawat terbang secara konvensional juga sangat mahal. Maka dikembangkan inovasi sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak. Generasi ketiga pesawat tanpa awak (LAPAN Survaillance UAV, LSU-03) yang dikembangkan LAPAN telah memecahkan rekor MURI untuk terbang otonomus dari Garut menuju Pangandaran sampai Cilacap, pergi pulang dengan penerbangan terprogram. Jarak yang ditempuh 340 km dalam waktu 3,5 jam. Kendala bahan bakar dalam mempertahankan lama terbang akan dikombinasikan juga dengan energi matahari. Varian lebih besar LSU-05 disiapkan untuk membawa muatan lebih besar dan jarak jangkau yang lebih jauh. Sistem pemantau maritim berbasis pesawat tanpa awak sedang dikembangkan LAPAN.

Cita-cita untuk mempunyai roket peluncur satelit dikejar secara bertahap melalui pengembangan roket sonda, roket penelitian atmosfer. Fungsi ganda roket, untuk keperluan sipil dan militer, menjadi kendala dalam membangun kemampuan teknologi roket. Sungguh tidak mudah untuk menyekolahkan para peneliti/perekayasa untuk mendapatkan pendidikan lanjut bidang roket. Demikian juga untuk mendapatkan bahan baku tabung, nozel, dan bahan bakar roket (propelant) yang berkualitas tinggi sangat sulit. Capaian saat ini roket berdiameter 120 mm dan 220 mm dianggap telah mempunyai kinerja yang semakin baik. Roket berdiameter 320 mm dan 450 mm telah diujiterbangkan, sementara roket berdiamater 550 mm masih uji statik. Kestabilan trayektori roket juga terus ditingkatkan.

Kemampuan pengembangan satelit dimulai dengan satelit generasi awal hasil bimbingan TU Berlin (satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSat) yang telah mengorbit sejak 2007 pada ketinggian 630 km. Walau kala hidup orbital bisa sampai 50 tahun, kala hidup operasionalnya sangat terbatas. Dari prakiraan kala hidup operasional hanya 2 tahun, ternyata LAPAN-A1 bisa bertahan selama 6 tahun, berkat kondisi cuaca antariksa yang tidak terlalu ekstrem sejak 2017-2013. Generasi satelit berikutnya murni dibuat di faslitas LAPAN, yaitu satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari, walau untuk peluncurannya masih menggunakan roket Inidia. Saat ini satelit LAPAN-Orari telah berada di orbit pada ketinggian 650 km dan semua missinya telah berfungsi dengan baik. Satelit berikutnya LAPAN-A3/LAPAN-IPB sedang diintegrasikan dan diuji untuk diluncurkan 2016.

Bank data penginderaan jauh nasional dikembangkan dengan meningkatkan kemampuan akuisisi data dan sistem layanan datanya. LAPAN mempunyai dua stasiun bumi utama penerima citra satelit, di Pare-pare dan Bogor. Stasiun bumi di Pare-pare bisa mengakuisisi citra satelit sampai resolusi 1,5 meter. Untuk citra satelit resolusi sangat tinggi (sampai resolusi 0,5 meter) diadakan dengan pengadaan citra komersial. Untuk pembuatan rencana detil tata ruang diperlukan citra satelit resolusi tinggi dan sangat tinggi. LAPAN telah memberikan layanan data citra satelit kepada semua kementerian, lembaga, dan daerah secara gratis karena menggunakan lisensi pemerintah. Menurut Undang-undang Keantariksaan, pengoperasian dan pengembangan stasiun bumi hanya dapat dilakukan oleh LAPAN.

Sistem pemantau bumi nasional adalah sistem informasi penginderaan jauh yang memberikan layanan informasi kondisi lingkungan dan sumber daya alam. Dengan sistem tersebut, LAPAN memberikan layanan informasi tanggap darurat bencana berupa citra satelit resolusi tinggi pra- dan pasca-bencana letusan gunung, gempa, tanah longsor, dan banjir. Dengan informasi tersebut evakuasi korban dan pengendalian dampaknya dapat segera dilakukan. LAPAN juga memberikan informasi kebakaran lahan dan hutan untuk penanggulangannya. Informasi zona potensi penangkapan ikan juga diberikan rutin harian, sehingga bisa meningkatkan produktivitas penangkapan ikan. Informasi pertumbuhan padi juga diberikan kepada Kementerian Pertanian untuk membantu manajemen distribusi pupuk dan prakiraan panen secara nasional.

Itulah beberapa capaian LAPAN dalam mewujudkan Indonesia maju dan mandiri di bidang penerbangan dan antariksa. Dengan segala keterbatasan jumlah SDM dan anggaran, LAPAN bertekad menjadi pusat unggulan secara bertahap. LAPAN mempunyai slogan sebagai ungkapan visi, “LAPAN unggul untuk Indonesia maju, LAPAN melayani untuk Indonesia mandiri”.

Satelit LAPAN-A2 Mengejar Bayangan Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Rekaman Satelit LAPAN-A2Daratan yang terekam kamera Satelit LAPAN A-2 sebelum memasuki wilayah gelap GMT.

Kamera Video di Satelit LAPAN A2 melintas dari Barat ke Timur pada saat gerhana matahari total (GMT) melintasi Halmahera, 9 Maret 2016. Rekaman video dimulai dari Sulawesi Utara menuju Halmahera mulai sekitar pukul 08.52.00 WITa (09.52.00 WIT) sampai 09.53.20 WIT. Tampak sebagian daratan Sulawesi Utara dan awan di atas laut. Memasuki perairan Maluku dan daratan Maluku Utara, Satelit merekam kegelapan mulai pukul 09.52.41 WIT sampai 09.53.18 WIB saat bayangan umbra melintasi Maluku Utara. Satelit melintas di atas Ternate pukul 09.52.57 WIT saat Ternate mengalami kegelapan akibat GMT mulai pukul 09.51.43 – 09.54.14 WIT. Lalu satelit LAPAN A2 kembali merekam akhir kegelapan bayangan umbra dengan ketampakan awan yang jelas saat melintas perairan Halmahera Timur pada pukul 09.53.18 WIT. Itu artinya, gerak satelit LAPAN-A2 lebih cepat daripada gerak bayangan umbra.

Jalur GMT sekitar jalur pantau LAPAN-A2

Jalur GMT di sekitar jalur pemantauan satelit LAPAN-A2

GMT-dari LAPAN A2

Jalur pemantauan satelit LAPAN-A2. Garis biru (bawah) adalah jalur lintasan satelit. Garis merah (tengah) adalah jalur pusat GMT. Jalur hijau (atas) adalah jalur yang direkam kamera satelit. Kegelapan akibat GMT terekam mulai titik bertanda “Start Dark” sampai “End Dark”.

Total

GMT 9 Maret yang direkam dari darat dengan teleskop LAPAN.

Video rekaman kamera Satelit LAPAN A-2. Satelit bergerak dari Barat ke Timur. Pada video, sebelah atas Selatan, kiri adalah Timur. Jadi Satelit bergerak ke arah Timur (kiri), sehingga tampak awan dan daratan bergerak ke kanan.

Pengamatan Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Parigi

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Total

Alhamdulillah, waktu gerhana matahari total (GMT) yang sekian lama dinanti akhirnya datang juga, Rabu 9 Maret 2019. Satu kekhawatir soal cuaca pun sirna. Pagi itu di lokasi Sail Tomini, Parigi, Sulawesi Tengah, cuaca cukup cerah dengan sedikit awan. Pagi itu dijadwalkan pengamatan GMT akan diawali dengan shalat gerhana dengan imam Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawar, Menteri Agama 2001-2004, dan khatib Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin. Lokasinya di area Sail Tomoni yang saat itu juga menjadi lokasi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Sulawesi Tengah.

DSC_0185

Lokasi MTQ (area dengan tenda setengah lingkaran) menjadi lokasi shalat gerhana dan pengamatan publik GMT

Jadwal gerhana di lokasi Sail Tomini: Kontak tertama pukul 07.28 WITa, total 08.38.37 – 08.40.00 (totalitas sekitar 1,5 menit), dan gerhana berakhir pukul 10.01. Pukul 07.00 jamaah sudah berdatangan. Sekitar 500 kacamata gerhana sumbangan LAPAN dibagikan kepada para jamaah. Sebelum shalat dan pengamatan gerhana, Prof. Said Agil menjelaskan tata cara shalat gerhana. Lalu saya menjelaskan waktu gerhana dan tata cara pengamatan gerhana. Saya jelaskan bahwa melihat gerhana matahari secara langsung aman, asal berhati-hati dan jangan lama-lama. Kacamata gerhana digunakan jangan lama-lama dan bisa bergantian.

Pukul 07.30 mulai tampak jelas sisi kanan atas matahari mulai tergelapi oleh bulan. Saya menginformasikan kepada para jamaah bahwa gerhana sudah berlangsung dan agar para jamaah bersiap untuk shalat gerhana. Shalat dimulai pukul 07.37 sampai 08.08. Setelah itu saya menyampaikan khutbah shalat gerhana sampai sekitar pukul 08.20 dan dilanjutkan pengamatan gerhana. Panitia juga menyiapkan layar lebar yang menampilkan perkembangan gerhana. Masyarakat mengamati gerhana secara langung dengan kacamata gerhana dan melihat citra gerhana dari kamera panitia di layar lebar. Sampai akhirnya pukul 08.37 matahari makin tipis, walau tetap menyilaukan, dan suasana makin redup.

2016-03-09 07.32.19

Awal gerhana sesuai jadwal dibuktikan dulu dengan pengamatan (terlihat gerhana dimulai dari bagian kanan atas piringan matahari). Filter floppy disk sebagai alternatif kacamata matahari (Foto TD).

Saya menyampaikan khutbah shalat gerhana matahari (Foto Humas LAPAN)

IMG_4260Seusai jadi khatib, saya bersiap mengabadikan gerhana dengan kamera DSLR biasa. (Foto Humas LAPAN)

DSC_0192

Fase gerhana matahari sebagian dipotret dengan kamera DSLR dengan filter bekas floppy disk. (Foto TD)

2016-03-09 08.24.00

Seusai shalat gerhana, pukul 08.24 WITa. Layar lebar menampilkan perkembangan gerhana. (Foto TD)

2016-03-09 08.36.24

Detik-detik menjelang total. Matahari makin tipis (tampak di layar lebar), walau masih menyilaukan (tampak cahaya matahari di atas). Suasana makin redup. (Foto TD)

Akhirnya, pukul 08.38.37 tampak bulan mulai menutupi matahari. Matahari tampak seperti cincin permata (Diamond ring) karena menyisakan celah cahaya terang di lembah bulan, sebelum bulan menutup sempurna. Lalu terdengar teriakan orang banyak, “Allahu Akbar (Allah Mahabesar) … Subhanallahu (Allah Mahasuci)”. Orang-orang bertakbir dan bertasbih berulang-ulang. Di langit terpampang korona matahari yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Tak terasa mata saya basah, karena terharu luar biasa kembali berkesempatan untuk ketiga kalinya (18 Maret 1988 di Bangka, 24 Oktober 1995 di Tahuna, dan 9 Maret 2016 di Parigi) menyaksikan korona matahari yang proses munculnya luar biasa indahnya. Bersama masyarakat, di tengah temaram kegelapan GMT, tak henti bibir bertakbir dan bertasbih, sambil berupaya memotret dengan kamera DSLR. Planet Venus tampak cemerlang di langit. Ternyata bukan hanya planet Venus, planet Merkurius pun terekam di foto yang  saya ambil.

DSC_0203

Korona matahari tampak indah di langit, seolah muncul tiba-tiba setelah matahari sempurna tertutup oleh bulan. (Foto TD)

Korona-Merkurius-Venus

Suasana temaram dengan korona matahari yang sangat indah dipenuhi suara takbir dan tasbih berulang-ulang. Tampak juga planet Merkurius (titik redup ditunjuk tanda panah merah) dan planet Venus (titik terang ditunjuk tanda panah merah). (Foto TD)

Di lokasi Sail Tomini, Parigi, GMT hanya berlangsung 1,5 menit. Tetapi waktu yang singkat itu sungguh memberi kesan mendalam. GMT akhirnya berakhir dengan munculnya cicin permata terakhir di kiri atas piringan matahari. Walau baru secercah cahaya matahari yang menembus lembah bulan, cahayanya cukup menyilaukan. Akhirnya suasana kembali terang dan proses gerhana berakhir pukul 10.01 WITa.

DSC_0210

Akhir GMT ditandai dengan “cincin permata” terakhir di sisi kiri atas matahari (terlihat di layar lebar). Walau baru secercah, cahayanya cukup menyilaukan (tampak cahaya menyilaukan di atas). (Foto TD)

DSC_0212

Suasana kembali terang pasca GMT. Walau matahari masih dalam kondisi gerhana matahari sebagian, cahayanya sangat menyilaukan. Tanpa filter, matahari tidak menampakkan proses gerhana sebagian karena terlalu silau. (Foto TD)

DSC_0214

Gerhana matahari sebagian pasca-total, dipotret dengan filter film rongent. (Foto TD)

Selain memotret dengan kamera DSLR biasa untuk menangkap suasana, Tim LAPAN di Parigi merekam seluruh  proses gerhana dengan menggunakan teleskop. Berikut hasil pengamatan dengan teleskop: beberapa rangkaian gerhana sebagian pra-total, munculnya cincin permata pertama, GMT, cincin permata terakhir, dan gerhana sebagian pasca-total.

2016-03-09 09.06.20

Proses gerhana diamati dengan teleskop dan direkam ke laptop. (Foto TD)

Pra-total 1

Matahari dengan beberapa bintik matahari mulai tertutupi bulan dari sisi kanan atas. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pra-total 2

Gerhana matahari sebagian pra-total. (Foto dati Video Tim LAPAN)

Pra-total 3

Gerhana sebagian pra-total (Foto dari Video Tim LAPAN)

Awal total

Cincin permata (diamond ring) pertama, awal GMT. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Total

Korona matahari saat GMT. Terlihat juga ada prominensa (“lidah api”) di sisi kiri (utara). (Foto dari Video Tim LAPAN)

Akhir - Total

Cincin permata terakhir, mengakhiri GMT. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 1

Gerhana matahari sebagian pasca-total. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 2

Gerhana matahari sebagian pasca-total. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pasca-Total 3

Bulan meninggalkan piringan matahari dari sisi kiri bawah. (Foto dari Video Tim LAPAN)

Pertimbangan Sains Antariksa untuk Kalender Islam Indonesia

LAPAN

LAPAN turut memberikan solusi masalah perbedaan kalender Islam di Indonesia. Substansi perbedaan bukan lagi masalah fikih yang menjadi ranahnya para ulama. Substansi persoalan sudah bergeser ke masalah kalender yang menjadi ranahnya sains. Maka LAPAN pun memberikan pertimbangan sains antariksa untuk kalender Islam Indonesia.

Menjelang Ramadhan 1436, LAPAN mengirim surat kepada Menteri Agama, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ketua PP Muhammadiyah, Ketua PB Nahdlatul Ulama, dan Ketua PP Persatuan Islam, dengan tembusan kepada Menristekdikti. Surat saya tandatangani sebagai Kepala LAPAN bertanggal 12 Juni 2015. Sebagai bagian edukasi publik terkait dengan peran sains antariksa secara umum dan peran LAPAN secara khusus bagi masyarakat, berikut ini dokumentasi isi surat tersebut (dengan penyesuaian format):

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 49 tahun 2015 tentang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, LAPAN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya serta penyelenggaraan keantariksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, LAPAN menyelenggarakan fungsi antara lain (a) penyusunan kebijakan nasional di bidang penelitian dan pengembangan sains antariksa dan atmosfer, teknologi penerbangan dan antariksa, dan penginderaan jauh serta pemanfaatannya dan (b) penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang penelitian dan pengembangan sains antariksa dan atmosfer, teknologi penerbangan dan antariksa, dan penginderaan jauh serta pemanfaatannya.

Terkait dengan penggunaan kalender Islam di masyarakat yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan karena masih terbukanya perbedaan (khususnya Idul Fitri dan Idul Adha 1436/2015) di antara ormas-ormas Islam, LAPAN dengan ini menyampaikan beberapa pertimbangan ilmiah berdasarkan sains antariksa:

  1. Sistem kalender adalah produk sains antariksa (astronomi) dari hasil pengamatan jangka panjang gerak benda-benda langit yang diformulasikan dalam rumusan posisi bulan dan matahari. Saat ini formulasi perhitungan astronomis tersebut telah disusun dalam berbagai perangkat lunak yang mudah diakses masyarakat.
  2. Interpretasi sains bersifat umum, tidak bisa hanya berlaku untuk suatu kelompok. Dengan demikian, interpretasi data astronomis adalah bersifat global. Interpretasi sepihak yang tidak sesuai dengan kaidah sains, tidak boleh dianggap sebagai interpretasi sains-astronomis.
  3. Sistem kalender yang mapan selalu mensyaratkan tiga hal utama: (a) adanya otoritas tunggal yang menjaganya, (b) adanya kriteria tunggal yang disepakati, dan (c) adanya batas wilayah. Tiga syarat itu terpenuhi pada kalender internasional (Masehi), walau awalnya tidak mempunyai otoritas dan kriteria yang tunggal. Kalender Islam Indonesia belum bisa menjadi sistem kalender yang mapan (sehingga berpotensi terjadi perbedaan keputusan) karena belum adanya otoritas dan kriteria tunggal. Batas wilayah NKRI secara umum sudah disepakati.
  4. Terkait butir (3), kriteria kalender didasarkan pada kaidah astronomi berdasarkan acuan yang bisa diamati yang dirumuskan dengan formulasi sederhana yang disepakati bersama. Ormas-ormas Islam pengguna kalender dan Pemerintah didorong untuk mengupayakan kesepakatan kriteria dari banyak pilihan kriteria yang ditawarkan astronomi.
  5. Otoritas yang dimaksud pada butir (3) semestinya adalah otoritas yang diakui secara global, yaitu Pemerintah, sehingga sistem Kalender Islam Indonesia bisa dikembangkan menjadi kalender Islam regional (ASEAN) atau global melalui otoritas kolektif antar-pemerintahan. Otoritas pimpinan ormas hanya bersifat lokal sehingga menghambat upaya mewujudukan Kalender Islam Indonesia yang mapan. Otoritas lokal juga tidak mungkin membangun otoritas kolektif regional atau global.

Menghadapi potensi perbedaan penetapan Idul Fitri dan Idul Adha 1436/2015 karena masih adanya perbedaan kriteria, LAPAN menyampaikan pertimbangan:

  1. Untuk waktu yang mendesak, penyatuan kriteria belum memungkinkan dilakukan karena beberapa ormas Islam telah menyebarkan maklumat atau surat edaran. Untuk tahun depan dan selanjutnya, upaya penyatuan kriteria perlu diintensifkan untuk mewujudkan sistem Kalender Islam Indonesia yang mapan dan memberikan kepastian.
  2. Menjadikan Pemerintah sebagai otoritas tunggal adalah jalan terbaik untuk menghindarkan perbedaan yang akan terjadi. Cara itu harus ditempuh untuk mewujudkan Kalender Islam Indonesia yang mapan. Tanpa harus mengubah maklumat atau surat edaran penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1436/2015, sangat diharapkan Kementerian Agama, Majelis Ulama, dan Pimpinan ormas Islam secara bersama-sama mengumumkan bahwa Pemerintah sebagai otoritas tunggal penetapan Kalender Islam Indonesia.

Cita-cita besar mewujudkan sistem Kalender Islam Indonesia semestinya menjadi cita-cita bersama bangsa Indonesia untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kepala LAPAN

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Wawancara JAXA (Badan Antariksa Jepang) dengan Kepala LAPAN: Keantariksaan untuk Memecahkan Masalah di Asia Pasifik

Wawancara JAXA

Catatan: Awal Desember 2014, saat pertemuan APRSAF (Asia Pacific Regional Space Agency Forum) di Tokyo, media publikasi JAXA (Badan Antariksa Jepang) mewawancarai saya sebagai Kepala LAPAN. Walau pun ada beberapa yang salah kutip, tetapi secara umum wawancara itu mengungkapkan peran keantariksaan bagi Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

Ini versi Bahasa Jepang:

 

Wawancara JAXA2

Ini wawancara versi bahasa Inggris:

The 21st Asia-Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF-21) was held in Tokyo on December 2-5, 2014. APRSAF is an international conference that promotes the use of space in the Asia-Pacific region. During the conference, members of national space agencies and government bodies, as well as university researchers and representatives of private companies, gathered under one roof for lively discussion. We talked with the Chairman of the space agency of Indonesia, the host country for the APRSAF-22, which will convene in 2015.

An archipelago nation needs space technology

— Please give us an overview of the Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN), and tell us what you do.

Earth observation microsatellite LAPAN-A1 (courtesy: LAPAN)

Earth observation microsatellite LAPAN-A1 (courtesy: LAPAN)

RX-420 (courtesy: LAPAN)

RX-420 (courtesy: LAPAN)

The purpose of LAPAN is aerospace-related research and development. The organization was established in 1963, and today our work falls under four core competencies: space science, aerospace technology, remote sensing, and space policy. A recent achievement was the 2007 launch of LAPAN-A1, a microsatellite for Earth observation. It was developed with help from the Technical University of Berlin in Germany, and launched on an Indian rocket. We are currently working on its successors, LAPAN-A2 and LAPAN-A3. Our goal is to launch LAPAN-A2 in mid-2015 and LAPAN-A3 at the end of 2015. I believe we will use Indian rockets for these launches as well. Meanwhile, concerning rockets, we are developing a small solid-fuel rocket. We launched the RX-320 rocket, with a diameter of 32 cm, in 2008, and the RX-420, with a diameter of 42 cm, in 2009. Now we are developing their successor, the RX-450.

— What kinds of projects is LAPAN pursuing now?

First, in the area of space science, is a Space Radar for observing the development of the equatorial atmosphere. In the aerospace technology category, we are working on developing a transport aircraft in collaboration with private companies, a military reconnaissance drone, and sounding rockets and a microsatellite for Earth observation. LAPAN-A2 and LAPAN-A3, which we plan to launch in 2015, weigh no more than around 50 kg, but we are making plans to launch the LAPAN-A4 and LAPAN-A5 satellites, which will weigh 100 kg or more, by 2018, as well as to develop a satellite produced in Indonesia by the end of 2019. We’ll probably begin preparations for domestic production in 2015 or so. As for remote sensing, we are building a National Remote Sensing Data Bank. This data bank archives all remote sensing data acquired by LAPAN’s ground stations, and We want to make this these database useful for all of Indonesia’s government institutions, local governments and universities. Finally, in space policy we enacted the Indonesian Space Law in 2013, and we are preparing for the formulation of a space master plan covering the next 25 years.

— What are your thoughts on manned space exploration?

Scientifically, we have an interest in manned space exploration. However, it would be difficult for Indonesia to do this alone. Eventually we might produce an Indonesian astronaut through international collaboration, but at this point it is not our main priority. First I think we should develop our remote sensing and related technologies.

— What do you think is the significance of space development?

I think that space technology is one of the most important technologies in modern life. These days, so many aspects of human lifestyles depend on the use of space. Economic activity also depends on space technology for data communication and so on. Indonesia is particularly dependent on space technology because it is composed of around 17,000 islands, large and small, with a total land area about five times that of Japan’s. The country stretches 5,100 km east to west and 1,900 km north to south, so it is essential to construct networks using satellites. We have been building a domestic communications infrastructure using satellites since the 1970s, and presently there are three types of satellites in operation, such as those used in commercial communication. In addition, when a disaster occurs, Earth observation satellites can see the state of damage from space, and they play an important role in preventing secondary disasters. Like Japan, Indonesia is a country with many active volcanoes. We hope that satellites will also contribute to preventing damage before it happens, for example by helping us predict volcanic eruptions. This is why I think that the significance of using space is that it will create a safe and reassuring society for us.

Greater cooperation in the Asia-Pacific region

— Which topics do you think will be particularly significant at APRSAF-21?

Asia-Pacific Space Leaders Meeting (AP-SLM)Session at APRSAF-21

Asia-Pacific Space Leaders Meeting (AP-SLM)Session at APRSAF-21

Plenary Session at APRSAF-21

Plenary Session at APRSAF-21

APRSAF’s purpose thus far has been to advance the development of space technology, but now it seems the emphasis is shifting towards using space technology to help solve problems in the Asia-Pacific region. To do this, APRSAF has been reorganized into four working groups: Space Applications, Space Technology, Space Environment Utilization, and Space Education. Experts will gather under this framework, share activity reports and information, and engage in discussions toward new international cooperation. Although international projects toward solving regional problems are already underway  such as Sentinel Asia (which contributes to disaster prevention), the SAFE environmental effort, and the Climate R3 climate change initiative  I think that by forming working groups at APRSAF, we will facilitate more concrete action. This will benefit the Asia-Pacific region and likely strengthen our cooperative institutions much, much more.

— What kind of effect do you think your participation in APRSAF has had on Indonesia’s space development?

By participating in APRSAF, we have improved our knowledge and capacity in remote sensing and other space technology. In addition, when a natural disaster happens, we have provided satellite data through Sentinel Asia not only to verify the state of damage, but also to take measures to hold the damage to a minimum. I think a major benefit is that we can easily acquire the information we want in large quantities, and it is free to access. Furthermore, providing this sort of information to local governments and relevant institutions has, I think, led to support for their activities.

— In the future, what do you expect to do in your APRSAF activity?

Touring a life-size replica of Kibo during the APRSAF-21 technical tour

Touring a life-size replica of Kibo during the APRSAF-21 technical tour

We’ll probably get various benefits through projects using the Kibo Japanese Experiment Module on the International Space Station, and through Kibo-ABC. In addition to giving researchers the opportunity to conduct experiments in space, Kibo-ABC can contribute to space education for children. For example, one Kibo-ABC program is Space Seed for Asian Future. First we send tomato seeds to Kibo, and then they are sent back to Earth, where junior high school students grow them. The students compare the growth of seeds sent to space with those that weren’t, and then submit reports. Then there is a competition to identify excellent reports. Indonesian students have also joined this program, and it seems they were able to learn about the space environment through their experiments. In addition, at APRSAF we hold a water-rocket competition for elementary and junior high school students in the Asia-Pacific region. This has raised children’s awareness of space. In the future we will have competitions for high school and university students. For example, I really want to run a competition where students can learn about satellites and remote sensing technology.

— Do Indonesian children have an interest in space?

It seems to me that Indonesian children have a growing interest in space activity and space science. One factor may be that the spread of the internet has made it easy to get information. In addition, there are many children with an interest in astronomy, as I had when I was young. Planetariums are popular, and there are many active groups for amateur and professional astronomers. Outside of APRSAF, we also hold our own water-rocket competition, which seems to spur children’s interest in space activity.

Using space technology to fight maritime problems

— The next APRSAF host country is Indonesia. Do you have an outlook for what kind of conference you want it to be?

Indonesia’s current president has a vision of making maritime affairs a national priority item, and at the next APRSAF I think we will focus on maritime management. For example, we want to discuss methods of monitoring illegal fishing by using remote sensing technology, because our fishermen suffer great losses due to illegal fishing from overseas. In addition, the Malacca Straits between Indonesia and Malaysia are well-known for pirates who attack commercial shipping, so I would like to reduce the harm from pirates by using watchful eyes from space. By using space technology to support activities at sea, I hope we can solve maritime problems affecting not only Indonesia, but other Asia-Pacific countries as well.

— How do you want to develop LAPAN in the future?

My goal is to move steadily forward in our four competencies of space science, aerospace technology, remote sensing and space policy. For the future, we have a plan to construct a space port in the equatorial region of eastern Indonesia, and I would like to proceed with research and development, so we can eventually launch Indonesian-made satellites on Indonesian-made rockets.

— Finally, please tell us about your hopes for collaboration with JAXA.

Dr. Djamaluddin, LAPAN Chairman, and Dr. Okumura, JAXA President

Dr. Djamaluddin, LAPAN Chairman, and Dr. Okumura, JAXA President

We have built collaborative relationships with Japanese research institutions and universities. With JAXA in particular, we have had many results from partnerships related to remote sensing, such as satellite data usage. JAXA has the capabilities to develop satellites and rockets on its own, and we see a need to partner up in these kinds of areas as well. I hope JAXA will actively support us.

Thomas Djamaluddin

Hironobu Yokota

Chairman of the Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Dr. Djamaluddin graduated from the Bandung Institute of Technology in 1986, with an undergraduate degree in Astronomy. Subsequently, he studied at Kyoto University, where he earned a post-graduate degree in astronomy in 1991, and a Ph.D. in Astronomy in 1996. He was Director of LAPAN’s Climate and Atmospheric Science Applications Center from 2007 to 2010, and Deputy Chairman of Space Science Affairs from 2011 to 2014. He has been Chairman of LAPAN since February 2014.

Bloodmoon: Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014

T. Djamaluddin

LAPAN

lunar_eclipse_3-3-2007

Gambar rangkaian gerhana bulan total yang menampakkan bulan merah (dari earthsky.org)

 

“Bloodmoon” menjadi istilah media yang dikaitkan dengan gerhana bulan total yang menampakkan bulan berwarna merah darah, khususnya pada rangkaian empat gerhana bulan total 15 April 2014, 8 Oktober 2014, 4 April 2015, dan 28 September 2015. Seperti apa gerhana 8 Oktober 2014? Berikut ini rangkaian gerhana dari situs NASA dan hasil simulasi Stellarium:

Eclipse 8 oct 2014

Situs NASA memberikan informasi kejadian gerhana bulan 8 Oktober dimulai dengan fase gerhana sebagian mulai pukul 16:15 WIB, disusul fase total mulai 17:25 – 18:24 WIB, dan diakhiri dengan fase gerhana sebagian lagi sampai pukul 19:34 WIB. Dari waktu tersebut, jelas hanya Indonesia Timur yang bisa mengamatinya secara penuh. Di wilayah Barat Indonesia, ketika bulan terbit saat maghrib gerhana total sedang berlangsung.

Gerhana bulan diamati di ufuk Timur.

Gerhana diawali dengan tertutupnya bagian bawah bulan oleh bayangan bumi pada pukul 16:15 WIB (18:15 WIT). Hanya wilayah sekitar Papua yang bisa mengamatinya  awal gerhana ini. Pada pukul 16:40 WIB (18:40 WIT), hampir setengah bagian bawah bulan akan gelap. Menjelang gerhana total, pada pukul 17:10 WIB (19:10 WIT), purnama hanya tersisa bagian kiri atas:

Gerhana 8 okt 2014-16-40 wibPukul 16:40 WIB (18:40 WIT)

Gerhana 8 okt 2014-17-10 wib

Pukul 17:10 WIB (19:10 WIT)

Gerhana bulan total mulai pada pukul 17:25 WIB (19:25 WIT) sampai pukul 18:40 WIB (20:40 WIT). Purnama menjadi lebih gelap. Dalam kondisi tertentu bisa menampakkan bulan berwarna merah. Mengapa bisa berwarna merah? Cahaya matahari yang mengenai bulan memang tertutup oleh bumi, tetapi atmosfer bumi masih membiaskan cahaya merah dari matahari itu sehingga bulan tidak gelap total. Hal itu mudah dijelaskan kalau kita melihatnya dari bulan. Astronot di permukaan bulan, saat itu sedang menyaksikan gerhana matahari oleh bumi. Bumi tampak di kelilingi cahaya kemerahan akibat atmosfer yang membiaskan cahaya merah dari matahari. Cahaya biru dari matahari dihamburkan oleh atmosfer bumi.

Gerhana matahari di bulan

Saat terjadi gerhana bulan total, astronot di bulan mengamati gerhana matahari total (gambar kiri). Atmosfer di bumi membiaskan cahaya merah ke arah bulan, sehingga bulan bisa tampak merah (gambar kanan). [Gambar dari earthsky.org]

Setelah fase gerhana bulan total, disusul fase gerhana sebagian sampai akhir gerhana. Purnama mulai tersibak dari sisi kiri bawah dan akhirnya bayangan bumi mulai meninggalkan purnama dari sisi kanan atas.

Gerhana 8 okt 2014-18-40 wibPukul 18:40 WIB (20:40 WIB)

Gerhana 8 okt 2014-19-00 wib

Pukul 19:00 WIB (21:00 WIT)

Seluruh proses gerhana berakhir pada pukul 19:34 WIB (21:34 WIT).

Bagi pengamat di wilayah Barat Indonesia tidak harus kecewa karena tidak bisa mengamati proses gerhana secara penuh. Ada keuntungan lain yang bisa diperoleh para pengamat, khususnya para penggemar astrofotografi. Gerhana bulan dekat ufuk Timur memberikan peluang yang bagus untuk disandingkan dengan objek latar depan yang indah, misalnya monas di Jakarta, jembatan layang Pasupati di Bandung, Borobudur atau Prambanan di dekat Yogyakarta.

 

 

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 239 pengikut lainnya