Mengkaji “Hilal Syar’i” secara Astronomi


Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi, Pusat Riset Antariksa, BRIN

Anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, Kemenag

Ilustrasi sidang hasil rukyat. Setiap perukyat harus disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat sebelum hasilnya dilaporkan ke Sidang Itsbat di Kementerian Agama (Gambar screen shoot video yang beredar di WAG diskusi hisab rukyat).

Alhamdulilah, Idul Fitri dirayakan seragam di Indonesia pada 2 Mei 2022, walau ada kelompok kecil yang merayakan pada hari yang berbeda sesuai keyakinan mereka. Kekhawatiran terjadinya perbedaan idul fitri 1443 seperti pada penetapan awal Ramadhan 1443 sirna setelah mendengarkan laporan pada sidang itsbat (sidang penetapan) bahwa ada 9 saksi yang melaporkan melihat hilal (bulan sabit pertama). Para saksi sudah disumpah oleh hakim Pengadilan Agama setempat. Artinya, kesaksian itu sah secara syar’i (hukum Islam) dan dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan oleh Menteri Agama pada sidang itsbat.

Sebagai Muslim, saya tunduk pada keputusan Pemerintah sebagai Ulil Amri (pemegang otoritas) yang memutuskan awal dan akhir Ramadhan. Alasan saya, keputusan sidang itsbat bukan hanya merujuk hasil rukyat (pengamatan) tetapi juga hasil hisab (perhitungan astronomi). Dan alasan paling mendasar, untuk mempersatukan ummat perlu adanya otoritas tunggal agar masyarakat tidak bingung. Jadi, saya pun mengikuti keputusan Pemerintah beridul fitri pada 2 Mei 2022.

Namun sebagai astronom, saya bisa mengkritisi hasil rukyat dari sudut pandang astronomi. Kesaksian rukyat yang diterima oleh hakim Pengadilan Agama dan sidang itsbat saya anggap sebagai kesaksian melihat “hilal syar’i”, hilal yang secara syar’i sah dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan. Artinya, saksi tidak berbohong bahwa dia yakin melihat hilal. Untuk ibadah, dasar keyakinan memang diakui, tidak membutuhkan pembuktian lain yang mungkin malah merepotkan dan perlu waktu lama untuk mendapatkannya. Kritik terhadap “hilal syar’i” diperlukan untuk pembelajaran bagi para perukyat, agar pada masa mendatang “hilal syar’i” juga semestinya “hilal astronomis”, yaitu hilal fisik yang diakui para astronom.

Hilal yang diyakini secara astronomi adalah hilal fisik, yaitu bulan sabit yang dihasilkan dari pantulan cahaya matahari sesaat setelah matahari terbenam. Pengamatan setelah maghrib adalah contoh Rasul, karena saat itulah gangguan cahaya matahari yang menyilaukan sudah menghilang. Hanya tersisa gangguan berupa cahaya syafak atau cahaya senja. Itu sebabnya perlu ketinggian tertentu agar hilal bisa teramati.

Hilal awal Syawal 1443 berada pada batas kriteria baru MABIMS yang baru saja disepakati oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Khususnya pada aspek elongasinya. Dari aspek ketinggiannya, pada saat maghrib 1 Mei 2022 tinggi bulan di kawasan barat Indonesia sudah sekitar 5 derajat. Sudah cukup tinggi, berarti gangguan cahaya syafak sudah berkurang. Namun elongasinya (jarak sudut bulan – matahari) sekitar 6,4 derajat. Artinya, hilalnya sangat tipis karena masih terlalu dekat matahari.

Dari 9 pengamat yang disumpah sebagian besar mengaku melihat hilal dengan mata tanpa alat. Sebagian ada yang menggunakan teropong (monokuler) dan ada juga yang menggunakan teleskop yang dilengkapi kamera CCD. Sebagian kalangan beranggapan ada orang-orang yang diberikan kelebihan untuk melihat hilal yang sangat redup. Namun anggapan itu bukan ranah sains, karena tidak bisa dibuktikan kalau dasarnya hanya pengakuan pribadi dan sumpah.

Pengamat di NTT mengaku melihat hilal dari citra yang direkam kamera CCD. Menurut kolega di BMKG, citranya mirip dengan laporan rukyat BMKG di Tapanuli Tengah. Citra yang dianggap hilal adalah goresan tipis melengkung, namun sangat samar dan meragukan.

Foto dugaan hilal oleh BMKG (dari WAG diskusi terkait hisab rukyat)

Dari segi kepekaan melihat hilal, kamera CCD semestinya lebih peka daripada mata untuk mengenali hilal. Kamera CCD lebih peka pada warna merah. Sedangkan mata lebih peka pada warna hijau. Seperti halnya matahari terbenam, hilal di ufuk barat yang memancarkan pantulan cahaya matahari lebih dominan memancarkan warna kuning – merah, karena cahaya biru lebih banyak dihamburkan oleh atmosfer. Apalagi kamera menerima cahaya yang difokuskan lebih banyak dari pada mata, karena diameter cermin teleskop jauh lebih besar daripada diameter pupil mata. Jadi, kalau dengan kamera CCD saja hilal sangat samar dan meragukan, mestinya ketampakan oleh mata pun lebih samar. Dari argumentasi ini, sangat wajar anggapan “hilal syar’i” bisa jadi bukan hilal sesungguhnya tetapi diyakini oleh pengamatnya sebagai hilal.

Sensitivitas mata dibandingkan dengan sensitivitas kamera CCD dan CMOS. Semestinya kamera lebih sensitif mengenali hilal daripada mata.
(Dari http://www.fen-net.de/walter.preiss/e/slomoinf.html)

Untuk memberikan gambaran tipisnya hilal muda, apalagi yang sangat dekat dengan batas kriteria baru MABIMS (tinggi minimal 3 derajat, elongasi minimal 6,4 derajat), bisa dilihat dari laporan pengamatan hilal sangat muda. Kebetulan ada citra hilal yang direkam dengan kamera CCD di wilayah Madinah pada 23 April 2020 saat penentuan awal Ramadhan 1441 (dari situs ICOP — saat ini ada di dalam situs http://www.astronomycenter.net). Tinggi hilal 3 derajat 8 menit. Elongasinya 6,6 derajat.

Data posisi hilal awal Ramadhan 1441 yang teramati di Madinah, Arab Saudi pada 23 April 2020. Posisinya dekat batas kriteria baru MABIMS, tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. (Dari aplikasi Accurate Times – Odeh).
Hilal awal Ramadhan 1441 yang direkam 13 menit pasca maghrib dengan menumpuk (stacked) 84 citra.

Hilal di Madinah tidak tampak dengan mata tanpa alat. Dengan teleskop langsung pun tidak tampak. Hilal tampak pada hasil perekaman kamera CCD yang dipasang dengan teleskop setelah menumpuk (stacked) 84 citra untuk meningkatkan kontras hilal. Artinya, citra pemotretan tunggal tidak akan menampakkan citra hilal secara jelas. Memang tidak ditunjukkan citra pemotretan tunggal. Namun untuk memberikan gambaran betapa tipisnya hilal saat itu, ada gambar yang direkam siang hari dengan jumlah citra yang ditumpuk setengahnya. Gambar di bawah ini adalah citra bulan sabit siang hari yang ditumpuk (stacked) 42 citra. Sangat-sangat samar. Sangat mungkin hilal fisik seperti itu tidak akan teramati oleh mata para perukyat. Jadi, hilal Syawal yang diakui teramati oleh perukyat sesungguhnya bukan hilal, mungkin sumber cahaya lain atau sekadar “hilal imajinatif”.

Bulan sabit siang hari yang direkam dengan kamera CCD dan ditumpuk (stacked) 42 citra. Tampak sabitnya sangat tipis walau sudah ditumpuk 42 citra.

Catatan Tambahan (Updated 8 Mei 2022):

Menanggapi artikel ini, kolega di LFNU memberikan data rukyat oleh Tim LFNU. Dari 6 lokasi di Jawa yang melaporkan melihat hilal, 3 kelompok saksi rukyat menggunakan alat optik (teodolit atau monokuler). Sangat kontradiksi bila kesaksian Stamm yang dijadikan rujukan kriteria elongasi 6,4 derajat bisa diterima, sedangkan laporan perukyat awal Syawal 1443 H dilabeli “hilal Syar’i”, padahal sama-sama kasat teleskop, tanpa menyertakan foto hilal.

Atas tanggapan kolega LFNU tersebut, saya sampaikan penjelasan sbb:

Sains didasarkan pada pembuktian objektif, yang bisa diuji dan dibandingkan dengan data di tempat lain oleh periset lain. Data sains pun biasanya mengikuti pola distribusi tertentu. Data yang terpencil pasti dicurigai ada sesuatu yang salah.
Bila dibandingkan data internasional, data kesaksian di Jawa tergolong pencilan yang patut dicurigai karena bias tertentu.

  • Prakiraan model visibilitas hilal Odeh menunjukkan wilayah Jawa sbg “impossible”. Wilayah yg mungkin melihat dengan alat optik hanya Sumatera dan sebagian Kalimantan.
  • Rekor elongasi (toposentrik) oleh Stamm (2012) dengan alat optik adalah 6 derajat. Itu dalam kondisi cuaca lintang menengah yang cerahnya luar biasa. Bandingkan dangan data rukyat di Indonesia. Cuaca yang disebut cerah biasanya masih ada awan tipis. Elongasi toposentrik sekitar 5 derajat, terlalu dekat dengan matahari dan sangat jauh dari catatan rekor elongasi. Kalau pun kesaksian rukyat di Jawa dilaporkan ke ICOP atau Moonsighting, saya yakin datanya diragukan.
    Itulah yang disebut “hilal syar’i”, hilal yang sah secara syar’i tetapi diragukan secara sains.

Salah satu bias pengamatan yang mungkin mempengaruhi adalah kebiasaan menganggap hilal dengan tinggi lebih dari 2 derajat bisa terlihat. Tanpa memperhatikan aspek elongasi yang terkait tebal hilal. Di Jawa hilal sudah cukup tinggi sekitar 4 derajat sehingga dianggap mudah terlihat. Padahal elongasi toposentriknya hanya sekitar 5 derajat, sangat tipis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: