Banjir Rob Saat Bulan Baru dan Purnama Berpotensi Makin Sering Terjadi


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Pusat Riset Antariksa, LAPAN-BRIN

Ilustrasi banjir pasang (rob) di Jakarta Utara setelah Purnama, 23 November 2021 (CNN Indonesia)

Beberapa hari terakhir media sosial dan media massa memberitakan serta membagikan gambar dan video banjir pasang atau banjir rob di Jakarta utara, Kepulauan Seribu, dan beberapa daerah pantai lainnya. Beberapa video menampakkan air mengalir deras dari arah pantai. Apa bedanya banjir rob dengan banjir karena curah hujan?

Banjir rob terjadi karena kenaikan permukaan air laut akibat pasang sehingga air laut melimpas ke daratan. Itu sebabnya arah datangnya dari laut. Biasanya banjir rob segera surut dalam waktu enam jam, tetapi bisa berulang sekitar 12 jam kemudian. Banjir karena curah hujan berasal dari daerah dataran tinggi yang mengalami hujan lebat. Air berasal dari sungai yang meluap, mengalir menuju laut. Banjir akan surut kalau air segera terbuang ke laut dan hujan mereda.

Kondisi banjir akan parah ketika terjadi kombinasi banjir karena curah hujan dan banjir rob. Saat itu banjir bisa bertahan lama, karena air tidak segera terbuang ke laut akibat ketinggian permukaan air laut. Kondisi gabungan sering terjadi saat musim hujan. Kondisinya akan lebih parah lagi bila terjadi angin kencang di laut yang menyebabkan gelombang tinggi. Hal ini lah yang perlu diwaspadai masyarakat di wilayah pantai.

Apa yang sesungguhnya terjadi di Jakarta Utara dan beberapa daerah lainnya beberapa hari terakhir, ketika curah hujan tidak menyebabkan banjir? Itu murni banjir pasang atau banjir rob saat pasang maksimum. Sesungguhnya, setiap hari pasang-surut air laut terjadi reguler rata-rata setiap 12 jam 25 menit. Hal itu disebabkan karena efek gravitasi bulan. Gravitasi bulan mempengaruhi setiap komponen di bumi dan yang paling terdampak adalah massa cair air laut. Dampaknya, air laut tertarik ke arah bulan dan arah menjauhi bulan. Itulah yang disebut pasang air laut. Pada sisi yang tegak lurus arah bulan terjadi air laut surut. Dari pasang ke surut berselang sekitar 6 jam, lalu enam jam kemudian terjadi pasang lagi.

Ada saat istimewa yang menyebabkan pasang maksimum dan surut minimum, yaitu sekitar bulan baru dan bulan purnama. Pada saat bulan baru dan bulan purnama, bulan hampir segaris dengan matahari. Bahkan saat terjadi gerhana sentral (gerhana matahari total/cincin atau gerhana bulan total), sistem bumi – bulan – matahari benar-benar segaris. Pada saat itulah gravitasi bulan diperkuat gravitasi matahari yang menyebabkan pasang maksimum, tinggi permukaan air laut lebih tinggi dibandingkan rata-ratanya. Diduga pasang maksimum saat bulan baru atau purnama juga berpotensi memicu (bukan menyebabkan) pelepasan energi yang terkait dengan gempa dan erupsi gunung berapi. Pengaruh posisi bulan dan matahari terhadap pasang air laut diilustrasikan pada animasi berikut.

Ilustrasi pengaruh posisi bulan dan matahari pada ketinggian pasang air laut. Pasang maksimum akan terjadi saat bulan baru dan purnama ketika terjadi efek gabungan pasang akibat bulan dan akibat matahari. Secara skematik, tinggi pasang maksimum adalah tinggi pasang akibat bulan (warna ungu) ditambah tinggi pasang akibat matahari (warna kuning). (Dari situs NOAA).

Hal yang perlu diwaspadai, banjir rob di beberapa wilayah pantai di Indonesia berpotensi makin sering terjadi. Sebab pertama, karena faktor lokal wilayah pantai, yaitu terjadinya penurunan permukaan tanah (land subsidence). Beberapa kajian menunjukkan adanya penurunan tanah di sejumlah wilayah pantai utara Jawa, seperti Jakarta. Diduga penyebabnya adalah faktor alami pemadatan tanah endapan. Di beberapa kota besar, seperti Jakarta, diduga juga ada faktor antropogenik (akibat aktivitas manusia), yaitu pengambilan air tanah yang berlebihan dan beban banyaknya bangunan.

Namun, di wilayah yang tidak mengalami penurunan permukaan tanah, seperti Kepulauan Seribu, kejadian banjir rob juga diprakiraan akan makin sering terjadi. Sebab utamanya adalah efek pemanasan global dan efek siklus orbit bulan. Dua hal itu bersifat global. Pemanasan global diprakirakan akan meningkatkan volume air laut karena pemuaian dan melelehnya gunung-gunung es. Sementara siklus orbit bulan akan menyebabkan bidang orbit bulan secara periodik (setiap 18,6 tahun) akan makin mendekati bidang ekuator. Itu berdampak peningkatan efek pasang maksimum. Tim peneliti ketinggian permukaan laut dari NASA menyimpulkan banjir rob akan makin sering terjadi di pantai-pantai Amerika Serikat mulai 2030-an. Secara skematik efek gabungan pemanasan global dan siklus orbit bulan ditunjukkan pada gambar berikut:

Skematik peningkatan banjir rob akibat pemanasan global dan siklus orbit bulan. Garis biru adalah gambaran peningakatan permukaan air laut akibat pemanasan global. Kurva ungu tipis adalah gambaran variasi tinggi pasang maksimum akibat siklus orbit bulan berperiode 18,6 tahun. Kurva merah tebal adalah gambaran efek gabungan peningkatan pasang maksimum yang berpotensi meningkatan kejadian banjir rob. (Dari https://theconversation.com/this-supermoon-has-a-twist-expect-flooding-but-a-lunar-cycle-is-masking-effects-of-sea-level-rise-158412).

Diduga siklus orbit bulan juga berpotensi meningkat kejadian banjir rob di Indonesia. Hal ini akan diteliti tim peneliti Pusat Riset Antariksa, LAPAN-BRIN, bersama BIG dan beberapa perguruan tinggi.

Satu Tanggapan

  1. […] dalam blog pribadinya, Selasa (7/12/2021) menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat banjir rob semakin sering terjadi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: