Rasionalitas Berlandaskan Iman: Optimisme Melawan Covid-19


T. Djamaluddin

Sebaran kasus positif Covid-19 secara global sampai 19 September 2020 (dari Wikipedia).

 

Saat awal Maret 2020 diumumkan penyakit yang disebabkan virus Corona (Covid-19) mulai menyebar cepat di Indonesia dan seluruh dunia, banyak orang dihinggapi kecemasan yang berlebihan. Hal itu dapat difahami karena virus menyebar tanpa kita ketahui arahnya. Dan banyak kasus orang tanpa gejala (OTG) ternyata menyebarkan virus tanpa kita ketahui.

Apa yang dapat kita lakukan? Kita tidak dapat menganggap enteng masalah Covid-19. Juga tidak boleh Covid-19 menimbulkan ketakutan berlebihan yang bisa merusakkan kesehatan mental yang berimbas pada penurunan daya tahan tubuh. Rasionalitas harus kita kedepankan. Sementara iman juga harus jadi landasan. Hal yang harus kita lakukan: berikhtiar, berdoa, dan tawakal (berserah diri kepada Allah).

Berikhtiar

Ikhtiar yang perlu dilakukan adalah “3M+3T”. Ikhtiar 3M harus kita lakukan bersama. Sementara 3T dilaksanakan oleh pemerintah. Ikhtiar 3M harus dilakukan oleh setiap orang: (1) Memakai masker yang menutup mulut dan hidung. Tujuannya agar virus yang mendopleng pada percikan ludah atau cairan hidung tidak terhirup. Karena virus menyerang sistem pernapasan. (2) Menjaga jarak. Kalau ada percikan ludah atau cairan hidung dari pembawa virus, dengan menjaga jarak, itu tidak sampai mengenai kita. (3) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer berbasis alkohol. Tangan berpotensi menyentuh sesuatu yang mungkin saja sudah terkena percikan yang mengandung virus. Sementara tangan sering kita gunakan untuk makan atau mengusap wajah yang memungkinkan menyebarkan virus melalui mulut, hidung, atau mata.

Pemerintah melaksanakan ikhtiar 3T agar penyebaran virus dapat dikendalikan. (1) Testing. Pemeriksaan orang-orang yang diduga berpotensi terpapar virus dalam aktivitasnya. (2) Tracing. Kalau ditemukan ada kasus positif Covid-19, instansi Pemerintah berkawajiban menelusuri orang-orang yang pernah berinteraksi dengan orang tersebut. (3) Treatment. Kalau dijumpai kasus posistif Covid-19, Pemerintah melakukan penanganan dengan isolasi atau perawatan, bergantung berat-ringan kasusnya.

Itulah ikhtiar rasional yang harus kita lakukan. Ancaman Covid-19 adalah nyata.

Berdoa

Doa adalah senjatanya orang beriman dalam mengatasi masalah. Setiap saat hendaknya kita berdoa untuk dijauhkan dari wabah ini. Gunakan waktu-waktu terbaik untuk berdoa dengan khusyu, seperti saat sujud dalam shalat dan sesudah shalat. Doa juga memberikan kekuatan batin untuk melawan wabah Covid-19.

Bertawakal

Kalau ikhtiar dan doa sudah dilakukan, langkah terakhir adalah bertawakal (berserah diri kepada Allah). Kita adalah makhluk-Nya. Virus pun makhluk-Nya. Allah berkuasa untuk mengendalika semua makhluk-Nya. Senantiasa kita ucapkan “Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīm (tidak ada daya dan kekuatan, selain dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung).

Dengan beriktiar, berdoa, dan bertawakal, kita optimis bisa melawan Covid-19 untuk kembali pada kehidupan nomal yang baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: