Shalat di Pesawat Terbang dan Shalatnya Astronot

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Falakiyah, Kementerian Agama RI

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS Al-Baqarah (2):115]

Shalat di pesawat terbang jelas tidak ada contohnya dalam sunnah Rasul. Para ulama fikih pun umumnya membahas dalam kondisi yang relatif masih normal. Bagaimana kalau penerbangan lama? Apalagi saat ini beberapa Muslim pun berkesempatan menjadi astronot, mengorbit bumi di Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Jadi, perlu ijtihad berdasarkan dalil fikih yang shahih dengan mempertimbangkan kondisi nyata saat penerbangan atau saat mengorbit bumi. Tanpa merinci dalil-dalilnya, berikut pemahaman saya atas dalil-dalil fikih untuk praktek shalat di pesawat yang secara langsung saya alami dan praktekkan. Juga shalatnya astronot berdasarkan kondisi di orbit.

Biasanya ada lima persolan pokok terkait shalat di pesawat terbang:

  1. Mengapa harus shalat di pesawat terbang? Alasan utama, karena waktu shalat telah masuk dan tidak mungkin menunggu saat mendarat. Ada yang berpendapat, tidak sah shalat di ketinggian. Jadi shalat di pesawat terbang sekadar menghormati waktu, lalu meng-qadha (mengganti) setelah mendarat. Namun ada kasus yang akan saya tunjukkan, lima waktu shalat berada di pesawat terbang. Tidak ada contoh dalam fikih untuk meng-qadha lima shalat sekaligus. Jadi saya berpendapat, shalat di pesawat terbang adalah shalat yang dilaksanakan pada waktunya, tidak perlu meng-qadha.
  2. Bagaimana cara menentukan waktu shalatnya? Beberapa pesawat terbang (terutama maskapai Timur Tengah) kadang mengumumkan masuknya waktu shalat. Namun sebagian besar tidak memberikan informasi jadwal shalat. Maka kita harus memperkirakan posisi matahari atau ketampakan matahari dan cahayanya dari pesawat. Karena kita bisa melakukan shalat jamak (digabung), maka hanya tiga waktu yang perlu diperhatikan: dhuhur, maghrib, dan shubuh. (a) Waktu dhuhur ditandai setelah matahari mulai condong ke barat. Beberapa pesawat terbang memberikan informasi posisi matahari dan wilayah siang-malam di peta penerbangannya. Dengan informasi itu kita bisa mengetahui bahwa pesawat sudah memasuki waktu dhuhur. (b) Maghrib ketika matahari sudah terbenam atau pesawat mulai memasuki wilayah malam. (c) Shubuh ketika fajar mulai tampak di ufuk timur. Itu sebabnya kalau penerbangan malam saya sering memilih kursi dekat jendela yang menghadap timur. Cara lain, kalau duduk di kursi tengah, perkirakan ketika pesawat menjelang memasuki daerah siang, walau ini perkiraan sangat kasar. Yang penting sebelum pesawat memasuk wilayah siang.
  3. Bagaimana cara bersucinya? Jelas tidak mungkin dengan berwudhu. Walau pun di toilet pesawat terbang ada air, air itu sulit untuk berwudhu. Ada yang berpendapat, itu kan perjuangan, tetap harus diupayakan. Bayangkan, kalau penumpang pesawat terbang sebagian besar Muslim, seperti saat haji atau umroh. Sungguh memberatkan kalau semua harus berjuang untuk berwudhu dengan air. Jadi, saya berpendapat, lebih baik bertayum. Kan tidak ada tanah? Kita yakinkan saja bahwa di bagian kursi di depan kita atau dinding pesawat masih ada debu-debu yang menempel yang bisa kita gunakan untuk bertayamum. Caranya: (1) tepukkan tangan ke kursi di depan kita atau ke dinding pesawat, (2) usap wajah, (3) lanjutkan ke kedua tangan, cukup sampai pergelangan saja.
  4. Bagaimana menghadap kiblatnya? Walau di pesawat sering ada peta dan petunjuk arah terbang, sehingga bisa memperkirakan arah kiblat, seringkali posisi terbang membelakangi arah kiblat. Ada yang berpendapat, tetap harus diupayakan menghadap kiblat, setidaknya pada awalnya. Namun, itu kadang sangat menyulitkan. Ada solusinya yang diberikan Allah dalam QS 2:115: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. Jadi, dalam kondisi kita tidak memungkinkan menghadap arah kiblat yang benar, hadapkanlah wajah ke arah yang memungkinkan.
  5. Bagaimana cara shalatnya? Sebagai orang dalam perjalanan (musafir) kita mendapat keringanan untuk menjamak (menggabungkan) shalat dhuhur dan asar serta shalat maghrib dan isya. Juga kita mendapat keringanan untuk meng-qashar (meringkas) shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Lalu bagaimana cara shalatnya? Ada yang berpendendapat bahwa harus diupayakan shalat sambil berdiri. Namun itu pun menyulitkan kalau harus dilakukan banyak orang. Tidak ada tempat yang memadai untuk menampung semua penumpang Muslim. Jadi, saya berpendapat, dalam kondisi seperti itu, shalatlah di kursi masing-masing. Caranya, sambil duduk bertakbiratul ihram. Lalu membaca Alfatihah dan surat pendek. Dilanjutkan ruku’ dengan sedikit membungkuk sambil baca bacaan ruku’. I’tidal dilakukan dengan kembali duduk tegak. Lalu sujud dengan membungukuk lebih rendah lagi atau sampai menyentuh kursi di depan kita. Demikian sampai selesai dengan salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri.

Penerbangan panjang Tokyo (Jepang) – Dallas (AS), dengan lima waktu shalat.

Berikut ini catatan perjalanan panjang penerbangan dari Tokyo (Jepang) ke Dallas (AS) dan sebaliknya. Perjalanan panjang dari Tokyo ke Dallas (AS) selama 10,5 jam. Karena penerbangan ke arah timur jadi matahari terasa seolah bergerak cepat. Jadi sangat berpengaruh pada waktu shalat. Saya terbang 3 April 2019 pukul 11.00 waktu Jepang dan sampai di Dallas pada tanggal yang sama 3 April pagi sekitar pukul 07.30 waktu Dallas. Tanggal tidak berubah setelah melewati tengah malam, karena melewati batas Tanggal Internasional. Penerbangan siang sampai pagi, artinya lima waktu shalat saya berada di pesawat terbang. Lalu bagaimana waktu melaksanakan shalat di pesawat? Shalat dhuhur-ashar saya jamak qashar (digabung dan dirungkas) beberapa jam setelah meninggalkan Tokyo. Shalat maghrib-isya saya jamak-qashar  ketika berada di atas samudra Pasifik, menjelang memasuki daratan AS. Shalat shubuh saya laksanakan beberapa saat sebelum mendarat di Dallas. Supaya tidak terlewat waktu shubuh, saya upayakan sekali-sekali kalau terbangun saya periksa posisi pesawat pada peta malam-siang. Untuk memastikannya, saya lihat lewat jendala.

Penerbangan panjang Dallas (AS) – Tokyo (Jepang), hanya shalat dhuhur-asar.

Penerbangan kembali dari Dallas (AS) ke Tokyo (Jepang) lebih lama. Selain karena waktunya yang lebih lama, selama 12,5 jam, juga karena merasa pergerakan matahari lebih lambat. Hal itu terjadi karena pesawat melawan arah rotasi bumi dan pergerakannya mengikuti pergerakan semu matahari. Maka sepanjang penerbangan hanya merasakan siang terus. Saya terbang Jumat 12 April 2019 siang, tiba Sabtu 13 April sore. Tanggal berubah karena melewati Garis Tanggal Internasional. Karena siang yang panjang di pesawat, shalat di atas pesawat hanya dhuhur-asar dijamak-qashar.

Dengan contoh shalat dalam penerbangan panjang, lalu bagaimana para astronot Muslim melaksanakan shalatnya. Pertama, jelas shalat di wahana antariksa astronot tidak bisa lagi merujuk arah kiblat ke Mekkah. Jadi, dalil QS 2:115 yang digunakan. Shalatlah menghadap ke mana saja. Lalu bagaimana waktunya? Wahana antariksa mengorbit bumi sekitar 14 kali sehari. Artinya, setiap 90 menit mengalami malam dan siang bergantian. Waktu shalatnya adalah mengunakan jam. Rujukannya adalah jadwal shalat di lokasi peluncuran. Lalu bagaimana cara melakukannya? Dalam kondisi gravitasi mikro, astronot tampak melayang-layang di dalam wahana antariksa kalau kaki tidak mengait pada pijakan. Gerakan sedikit saja bisa memindahkan posisi astronot. Jadi, gerakan shalat dilakukan sesuai kemampuan yang bisa dilakukan.

Benarkah Besi “Diturunkan” dari Langit?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Tafsir Ilmi, Kementerian Agama RI

Pure iron chips with a high purity iron cube

Besi murni (gambar dari Wikipedia)

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan (“menurunkan”) besi yang mempunyai kekuatan, hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (QS Al-Hadid:25)

Dalam mengintegrasikan sains dan Alquran harus disadari perbedaan sifatnya. Alquran bersifat mutlak benarnya dan tidak akan berubah. Sedangkan sains terus berubah, dengan kebenaran yang relatif, bergantung data/model dan interpretasi atas data/model ilmiah yang ada. Jadi, Alquran tidak bisa disandingkan secara langsung dengan sains. Lalu bagaimana mengintegrasikannya? Gunakan tafsir yang sifatnya sama-sama relatif kebenarannya. Bergantung masa dan wawasan penafsirnya. Alquran ada tafsirnya. Sains pun ada tafsirnya. Tafsir Alquran bisa saja salah, demikian juga tafsir sains. Walau Alqurannya pasti benarnya. Jadi jangan terlalu terpaku pada salah satu tafsir.

Contoh, tentang besi. Alquran dalam QS Al-Hadid: 25 menyebut “anzala” untuk besi yang secara harfiah sering dimaknai “menurunkan”. Sehingga ada yang berpendapat bahwa berdasarkan QS 57: 25 tersebut dimaknai besi itu diturunkan dari langit berupa meteorit besi. Tetapi sesungguh makna “anzala” bukan sekadar “menurunkan”. Dalam bahasa Inggris “anzala” sering diterjemahkan juga dengan “reveal”, “memunculkan”, atau “mengungkapkan” dari yang tersembunyi menjadi tampak. Seperti halnya Alquran “diturunkan” bukan dalam makna fisis “turun” secara fisik dari ketinggian, tetapi dalam makna “diungkapkan”. Walau bisa juga dimaknai Alquran diturunkan secara kiasan.

Sains astronomi menyatakan materi asal bumi sama dengan materi asal matahari dan planet-planet. Di dalam kandungan materi asal matahari dan planet-planet sudah terdapat besi. Itu tafsir atas model sains tentang asal-usul tata surya. Jadi, secara sains diketahui sesungguhnya besi sudah ada di bumi sejak penciptaan tatasurya: matahari, planet-planet, asteroid, dan anggota tatasurya lainnya. Sedangkan meteorit besi hanya sebagian kecil dari kandungan besi di tatasurya, jauh lebih kecil dari kandungan besi di perut bumi.

Lalu bagaimana mengintegrasikan tafsirnya? Tafsir Kementerian Agama menggunakan ungkapan “Kami menciptakan besi”. Tetapi akan lebih tepat kalau “anzala” dimaknai “memunculkan”. Jadi disarankan tafsirnya menjadi, “Kami memunculkan besi …”. Besi yang terkandung dalam materi asal bumi “muncul” ke permukaan bumi dalam bentuk bijih besi setelah diolah di perut bumi dan dimuntahkan dalam proses letusan gunung bersama material tambang lainnya. Bijih besi itulah yang diolah oleh manusia untuk berbagai kebutuhan.

Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1441

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Hisab global dengan analisis garis tanggal sangat berguna untuk memahami potensi perbedaan yang bersumber dari perbedaan kriteria. Garis tanggal  berikut ini dibuat dengan aplikasi Accurate Hijri Calculator (AHC) untuk menentukan secara hisab awal Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah 1441

Garis tanggal Ramadhan 1441 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Ramadhan 1441 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU,  semuanya menunjukkan pada saat maghrib 23 April 2020 posisi bulan telah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Ramadhan 1441 jatuh pada 24 April 2020. Namun menurut kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), pada saat maghrib 23 April 2020 posisi bulan belum memenuhi kriteria, sehingga menurut kriteria tersebut awal Ramadhan 1441 jatuh pada hari berikutnya, 25 April 2020. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 23 April 2020. Sesuai Rekomendasi Jakarta 2017, bila ada perbedaan karena beda kriteria atau beda dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal maka kita merujuk keputusan Pemerintah sebagai otoritas tunggal, demi persatuan ummat.

Garis tanggal Syawal 1441 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Syawal 1441-Rekomendasi Jakarta

Garis tanggal Syawal1441 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 22 Mei 2020 posisi bulan belum memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Syawal (Idul Fitri) 1441 jatuh pada hari berikutnya 24 Mei 2020. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 22 Mei 2020.

Garis tanggal Dzulhijjah 1441 berdasarkan kriteria Wujudul Hilal (antara arsir merah dan putih), ketinggian bulan 2 derajat (antara arsir putih dan biru), dan kriteria Odeh (antara arsir biru dan hijau).

Garis tanggal Dzulhijjah 1441 berdasarkan Rekomendasi Jakarta 2017.

Semua kriteria yang berlaku di Indonesia, Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah dan ketinggian bulan 2 derajat yang digunakan NU, serta kriteria internasional (kriteria Odeh) dan usulan Rekomendasi Jakarta 2017 (yang kriterianya sudah digunakan Persis), semuanya menunjukkan pada saat maghrib 21 Juli 2020 posisi bulan sudah memenuhi kriteria. Artinya, secara hisab ditentukan awal Dzulhijjah 1441 jatuh pada 22 Juli 2020 dan Idul Adha jatuh pada 31 Juli 2020. Kepastiannya menunggu hasil sidang itsbat yang akan menggabungkan dengan hasil rukyat (pengamatan) hilal pada saat maghrib 21 Juli 2020.

LAPAN Siap Mendukung BMKG

Contoh penggunaan Sadewa untuk prakiraan banjir Jabodetabek 8 Februari 2020

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

 

Beberapa orang mempertanyakan layanan Sadewa (Satellite based Disaster Early Warning System — https://sadewa.sains.lapan.go.id/) yang dianggap tumpang tindih dengan layanan lembaga operasional BMKG. Berikut ini penjelasannya, bahwa tidak ada tumpang tindih. LAPAN sebagai lembaga litbang siap mendukung kinerja BMKG.

 

  1. Menurut Undang-undang nomor 21/2013 tentang keantariksaan disebutkan “Lembaga adalah Instansi Pemerintah yang melaksanakan urusan pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya serta Penyelenggaraan Keantariksaan”. Lembaga yang dimaksudkan dalam undang-undang tersebut adalah Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN). “Kedirgantaraan” (aerospace) adalah hal-hal yang terkait ruang udara dan ruang antariksa.
  2. Di dalam Peraturan Presiden nomor 49/2015 LAPAN mempunyai fungsi, antara lain, pelaksanaan penelitian dan pengembangan sains antariksa dan atmosfer, teknologi penerbangan dan antariksa, dan penginderaan jauh, serta pemanfaatannya.
  3. Menurut Undang-undang nomor 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), LAPAN sebagai salah satu Badan Publik wajib mengumumkan Informasi Publik secara berkala, antara lain informasi mengenai kegiatan dan kinerja LAPAN.
  4. Merujuk Undang-undang nomor 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek), hasil penelitian dan pengembangan wajib dipublikasikan dan didiseminasikan, antara lain oleh LAPAN sebagai bagian Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
  5. Penelitian sains atmosfer sudah lama dilaksanakan oleh LAPAN, sejak sebelum 1980-an. Pusat penelitian atmosfer di LAPAN (terakhir bernama Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer – PSTA) merupakan satu-satunya lembaga penelitian dan pengembangan yang melakukan kajian dinamika atmosfer ekuator di Indonesia, sebelum dibentuknya Puslitbang di BMKG. Pada 1990-an LAPAN diberi tugas oleh pemerintah melalui arahan Menristek saat ini (BJ Habibie) untuk mengembangkan model iklim (tepatnya model atmosfer) Indonesia. Sejak saat ini LAPAN mengembangkan model atmosfer ekuator yang sangat dinamis yang bisa digunakan untuk membuat prakiraan iklim dan cuaca. Pada 2015 PSTA ditetapkan Kemristekdikti sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Pemodelan Atmosfer Indonesia
  6. Sebagai lembaga yang ditugasi Pemerintah mengembangkan model iklim (model atmosfer) Indonesia yang sangat komplek, LAPAN bekerjasama dengan CSIRO (The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation) Model atmosfer global kemudian di-down-scaling dan ditingkatkan kualitasnya oleh para peneliti LAPAN agar cocok untuk kondisi atmosfer ekuator benua maraitim yang sangat dinamis. Pada 2012 dimulai pengembangan aplikasi “Sadewa” (Satellite based Disaster Early Warning System) yang menggabungkan data satelit cuaca dengan model atmosfer Indonesia. Sebagai hasil litbang, prakiraan Sadewa tentu saja sudah melewati fase verifikasi dengan data-data satelit, radar, dan pengukuran curah hujan di berbagai titik. Data-data tersebut sebagian diperoleh dari BMKG.
  7. Kami memahami bahwa BMKG adalah lembaga pemerintah yang secara operasional memberikan layanan meteorologi dan klimatologi yang terkait dengan dinamika atmosfer ekuator. LAPAN sebagai lembaga litbang atmosfer berkewajiban untuk mendukungnya dengan hasil-hasil litbangnya. Oleh karenanya, pada berbagai kesempatan LAPAN menawarkan hasil litbang LAPAN tersebut untuk diuji dan dimanfaatkanoleh BMKG. Pada 2015 kami hadir menemui Kepala BMKG untuk membahas irisan kewenangan LAPAN dan BMKG terkait dengan layanan informasi cuaca dan iklim. BMKG kita akui sebagai lembaga operasional layanan cuaca dan iklim. Layanan informasi yang diberikan LAPAN hanya sebagai layanan hasil litbang yang diharapkan memberi manfaat kepada Kementerian, Lembaga, dan Daerah serta masyarakat umum. Bagaimana pun LAPAN sebagai lembaga litbang dituntut hasil nyatanya yang bisa dimanfaatkan secara nasional dan sesuai amanat undang-undang KIP dan undang-undang Sisnas Iptek. LAPAN sebagai sesama lembaga pemerintah semestinya bisa membantu meningkatkan kualitas layananan BMKG berdasarkan hasil litbangnya.
  8. Kami melihat layanan BMKG, sesuai kelaziman internasional, berbentuk informasi prakiraan berbasis teks dengan waktu pagi, siang, malam, dan dini hari untuk berbagai titik kota/kabupaten. Sementara informasi liputan awan dari satelit dan pantauan hujan dari radar disajikan terpisah. Dengan aplikasi Sadewa, kami mengisi kekosongan layanan BMKG dengan layanan berbasis web (https://sadewa.sains.lapan.go.id/). Sadewa menampilkan peta interaktif yang berisi berbagai informasi: liputan awan dari satelit, data radar Santanu yang dikembangkan LAPAN, serta prakiraan cuaca secara grafis berbasis model atmosfer. Pengguna Sadewa dapat menampilkan liputan awan dari satelit Himawari dan mencocokkannya dengan grafis prakiraan model atmosfer sebagai verifikasi langsung. Kemudian bisa dilihat prakiraan sampai 3 x 24 jam, yang di-update setiap 6 jam. Verifikasi langsung dengan data satelit bisa memberikan gambaran tingkat kepercayaan pengguna akan kualitas prakiraan.
  9. Informasi Sadewa bisa digunakan sebagai peringatan dini bagi publik secara visual pada peta, melengkapi peringatan dini BMKG yang berbasis teks. Pada Screen shoot FB di atas ditunjukkan contoh penggunaan Sadewa yang bisa dilakukan publik sebagai peringatan dini. Pada Sabtu 7 Februari 2020 malam Jakarta diguyur hujan. Berdasarkan informasi satelit Himawari yang ditampilkan di Sadewa pada pukul 21.00 awan tebal memang melingkupi Jabodetabek. Saat dicocokkan dengan prakiraan Sadewa, memang Jabodetabek diprakirakan hujan lebat (warna ungu). Maka kemudian ditampilkan prakiraan Sadewa untuk pukul 23.00, 01.00, 03.00, sampai 05.00. Terlihat Jakarta diprakirakan akan mengalami hujan lebat sekitar 5 jam. Itu berpotensi menimbulkan genangan. Terbukti Ahad 8 Februari beberapa wilayah di Jakarta tergenang banjir.
  10. Sesungguhnya, layanan informasi cuaca berbasis peta seperti Sadewa sudah diberikan oleh BMKG di situs https://signature.bmkg.go.id/, tetapi informasi tersebut tampaknya sangat ekslusif. Tidak ada link di situs BMKG untuk mencapainya. Bahasanya pun masih bahasa Inggris dan waktunya bukan WIB. Orang awam sulit memahaminya. Lagi pula, kalau kita bandingkan, Sadewa mempunyai keunggulan daripada Signature:
    1. Sadewa sudah menggunakan model dengan down-scaling yang disesuaikan dengan model atmosfer Indonesia.
    2. Sadewa memberikan prakiraan setiap jam, sementara Signature setiap 3 jam.
    3. Resolusi spasial sadewa 5×5 km, sementara Signature sekitar 25×25 km.
    4. Sadewa di-update otomatik setiap 6 jam, sementara update Signature setiap 24 jam.
  11. Di era keterbukaan informasi, info prakiraan cuaca sangat melimpah di internet. Publik tinggal memilih informasi yang dianggap paling akurat. Maka, sebagai lembaga pemerintah, BMKG dituntut memberikan layanan informasi lebih baik dari semua layanan yang ada. LAPAN sebagai lembaga litbang sangat berkeinginan mendukung BMKG agar bisa memberikan layanan yang lebih baik kepada publik. Inilah beberapa contoh layanan informasi cuaca yang banyak diakses publik:

 

  1. Weather – the Weather Channel, https://weather.com/

  2. AccuWeather, https://www.accuweather.com/

  3. Weather Underground, https://www.wunderground.com/

  4. Carrot Weather (Aplikasi)

  5. Weatherbug, https://www.weatherbug.com/

  6. com, https://en.sat24.com/en/id

  7. World Weather Online, https://www.worldweatheronline.com/

  8. Windy, https://www.windy.com

  9. Ventusky, https://www.ventusky.com/

  10. Yahoo Weather, https://www.yahoo.com/news/weather/

  11. Morecast, https://morecast.com/

  12. Weather Forecast, https://weather.com

  13. Foreca, https://www.foreca.com

  14. Weather and Climate Prediction Laboratory (WCPL), GM-ITB http://weather.meteo.itb.ac.id/prediksi.html

  15. Dark Sky – Hyperlocal Weather (Aplikasi iOS dan Android)

  16. 1Weather (Aplikasi)

  17. Transparent Clock & Weather (Aplikasi)

  18. GO Weather (Apliksi)

  19. Amber Weather (Aplikasi)

Sesuai amanat Undang-undang nomor 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, bahwa dalam hal penyelenggaraan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan yang menghasilkan invensi dan inovasi yang dibiayai oleh Pemerintah, LAPAN sebagai bagian dari Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi wajib melakukan alih teknologi, antara lain kepada BMKG sebagai bagian dari Lembaga Pemerintah. Saat ini LAPAN sudah menghasilkan inovasi, antara lain aplikasi Sadewa, radar hujan Santanu, dan sensor radio sonde yang bisa mendukung peningkatan kinerja BMKG dan mengurangi impor.