Memahami Potensi Bencana Banjir: Kasus Banjir Jabodetabek Januari 2020


T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Banjir 1 januari 2020 merendam banyak kawasan di Jabodetabek — gambar dari internet.

Banjir disebabkan karena kombinasi cuaca ekstrem (curah hujan tinggi) atau persisten (berlangsung lama) serta faktor daya dukung lingkungan yang tidak memadai atau rusak. Upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif adalah mitigasi dan adaptasi.

Mitigasi dari aspek cuaca, dilakukan dengan memahami perilaku cuaca dan memprakirakan secara cepat dan tepat. Namun atmosfer Indonesia yang sangat aktif sangat sulit diprakirakan. Tingkat akurasi prakiraan cuaca harus terus ditingkatkan. Salah satu model prakiraan yang dikembangkan LAPAN adalah SADEWA (Satellite-based Disaster Early Warning System). SADEWA berisi data pengamatan dan prakiraan. Data pengamatan adalah liputan awan dari satelit Himawari-8 serta radar hujan Santanu dan AWS (automatic Weather Station). Radar dan AWS sementara baru dari Bandung. Data prakiraan berasal dari model WRF (Weather Reseach and Forcasting) dengan menggunakan masukan GFS (Global Forcast System) dengan pengaturan skema konveksi dan boundary layer sesuai kondisi Indonesia. Prakiraan dilakukan setiap 6 jam untuk 3 x 24 jam ke depan. Prakiraannya untuk setiap jam dengan resolusi spasial 5 km persegi.

Hal mendasar yang perlu difahami adalah pola pergeseran gugusan awan yang mengindikasikan musim hujan. Gugusan awan biasanya dikenal sebagai Inter-Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang merupakan zona pertemuan (konvergensi) angin dari daerah musim dingin dengan angin dari daerah musim panas. Di daerah konvergensi itulah terbentuknya awan-awan konveksi yang menjulang yang menurunkan hujan, disebut awan Kumulonimbus (Cb, awan menggumpal yang menurunkan hujan). Dengan berubahnya posisi matahari di belahan selatan, maka belahan selatan lebih panas dengan tekanan udara yang lebih rendah dari belahan utara yang mengalami musim dingin. Maka daerah pembentukan awan atau ITCZ bergeser ke arah selatan. Puncak musim hujan ditandai ketika ITCZ (pusat pembentukan awan hujan) berkumpul di wilayah Indonesia. Itu terjadi sekitar Januari – Februari.

Gugusan awan konveksi berkumpul di wilayah Indonesia yang menyebabkan musim hujan di sebagian besar wilayah. Gugusan awan konveksi sebagai Inter-Tropical Convergence Zone (ITCZ) bergeser ke selatan. Garis merah adalah rata-rata gugusan awan konveksi pada November 2019. Garis merah rata-rata gugusan awan konveksi pada Desember 2019. Januari – Februari adalah puncak musim hujan ketika gugusan awan konveksi berkumpul di wilayah Indonesia.

 

Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika terjadi fase penguatan pembentukan awan di wilayah Indonesia. Kondisi reguler musiman pergeseran ITCZ kadang mendapat penguatan dari fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation) dan Cold surge atau Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS). MJO adalah fenomena gangguan atmosfer yang berawal dari Samudera Hindia melewati Indonesia dan berakhir di Samudra Pasifik. Ada dua jenis dampak MJO: penguatan atau pelemahan pembentukan awan. Fenomena Cold surge atau Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) adalah aliran udara dingin yang cukup kuat dari utara yang menambah aktivitas pembentukan awan hujan.

Fenomena MJO pada awal Januari 2020 menyebabkan penguatan pembentukan awan (warna biru) di wilayah barat Indonesia. — Dari CPC-NOAA

 

Prakiraan angin dan curah hujan di SADEWA. Angin cukup kuat dari utara yang melintasi ekuator pada musim dingin, berpotensi membawa angin dingin sebagai “cold surge”.

Apa yang terjadi pada malam pergantian tahun 2019-2020 yang menyebabkan banjir besar di Jabodetabek?

Hasil analisis balik prakiraan SADEWA dan konfirmasi kondisi liputan awan dari satelit Himawari 8 (juga disajikan di SADEWA) menjadi pelajaran untuk antisipasi potensi banjir di masa mendatang. Waspadai prakiraan cuaca ekstrem (hujan lebat) dan persisten (hujan dalam waktu lama).

Analisis regional menunjukkan adanya pengaruh MJO aktif yang berdampak penguatan pembentukan awan pada awal Januari 2020. Analisis balik prakiraan SADEWA menunjukkan ada angin yang cukup kuat bertiup dari utara, melintasi ekuator, dan sampai ke Jawa. Angin dari utara membawa udara dingin. Kuatnya angin dari utara mengindikasikan juga adanya tekanan yang cukup kuat dari arah Asia yang mengalami musim dingin, yang mengindikasikan terjadinya cold surge atau Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS). Dua fenomena tersebut, MJO dan Cold Surge, sesungguhnya menjadi peringatan dini yang perlu diwaspadi.

Bagaimana prakiraan curah hujannya? Walaupun prakiraan SADEWA belum terlalu akurat, namun uji empirik di beberapa lokasi menunjukkan prakiraan SADEWA bisa menjadi peringatan dini untuk diwaspadai. Prakiraan SADEWA yang dikeluarkan pada akhir Desember 2019 mengindikasikan ada potensi hujan lebat di kawasan Jabodetabek mulai pukul 21.00, 31 Desember 2019 sampai pukul 03.00, 1 Januari 2020.

Prakiraan SADEWA hujan pukul 21.00, 31 Desember 2019 di kawasan Jabodetabek.

Prakiraan SADEWA hujan pukul 23.00, 31 Desember 2019 di kawasan Jabodetabek.

Prakiraan SADEWA hujan pukul 01.00, 1 Januari 2020 di kawasan Jabodetabek.

Prakiraan SADEWA hujan pukul 03.00, 1 Januari 2020 di kawasan Jabodetabek.

Prakiraan itu terkonfirmasi dengan data satelit Himawari 8 yang menunjukkan adanya gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso).

 

Konfirmasi data satelit Himari 8: ada gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso) pada pukul 21.00, 31 Desember 2019.

Konfirmasi data satelit Himari 8: ada gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso) pada pukul 23.00, 31 Desember 2019.

Konfirmasi data satelit Himari 8: ada gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso) pada pukul 01.00, 1 Januari 2019.

Konfirmasi data satelit Himari 8: ada gugusan awan raksasa yang digolongkan sebagai MCC (Meso-scale Convective Complex — gugusan awan konvektif skala meso) pada pukul 03.00, 1 Januari 2019.

Dampak cutah hujan ekstrem dari awan raksasa (MCC) tersebut, banyak daerah di Jawa Barat, DKI, dan Banten yang terdampak dengan genangan atau banjir.

Genangan - Jabar

Genangan di Provinsi Jabar

Genangan - DKI

Genangan di DKI

Genangan - Banten

Genangan di Provinsi Banten

Genangan 4

Genangan - Jan 2020

Bagaimana daya dukung lingkungan Jabodetabek sehingga memungkinkan banjir besar Jabodetabek 1 Januari 2020? Analisis global dengan citra satelit memang menunjukkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane, Ciliwung, dan Citarum serta sungai-sungai di hilir sudah mengalami perubahan drastis bila dibandingkan dengan kondisi 2002.  Secara umum terlihat daerah resapan air makin berkurang. Jadi sebagian besar air hujan terbuang ke arah hilir, yang kondisinya tidak memadai atau rusak.

Kawasan DAS Cisadane, Ciliwung, dan Citarum serta sungai-sungai di hilir pada 2002, dari analisis citra satelit.

Kawasan DAS Cisadane, Ciliwung, dan Citarum serta sungai-sungai di hilir pada 2019, dari analisis citra satelit.

Perbandingan kondisi 2002 dan 2019 atas DAS Cisadane, Ciliwung, dan Citarum serta sungai-sungai di hilir, secara umum menunjukkan daerah resapan air makin berkurang.

Langkah mitigasi yang diperlukan untuk antisipasi bencana banjir adalah fahami karakteristik cuaca Indonesia dan senantiasa waspada dengan peringatan dini yang diberikan BMKG. Aplikasi SADEWA dapat melengkapi informasi peringatan dini secara spasial untuk tiga hari ke depan. Mitigasi dari segi daya dukung lingkungan adalah mengupayakan agar daerah resapan air di hulu  dibenahi dan daya tampung aliran sungai di hilir mesti diperbaiki juga. Sejalan dengan itu, adaptasi di wilayah-wilayah yang memang menjadi kawasan genangan air (bekas situ atau cekungan) perlu dilakukan.

 

2 Tanggapan

  1. OK sangat inspiratif – saat 1 Jan 2020 posisi semu matahari dilintang berapa kah ??? Kapan matahari sampai keposisi itu lagi ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: