Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2019

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Visi LAPAN 2015-2019  menjadi “Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia Maju dan Mandiri” akhirnya tercapai dengan kerja keras seluruh pegawai LAPAN dan sinergi dengan berbagai mitra nasional dan internasional. Hal itu bila kita merujuk ditetapkannya semua pusat teknis yang menjalankan 7 program utama LAPAN sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) pada akhir 2019 ini.

Upaya yang dilakukan adalah membenahi tata kelola organisasi dengan Program Besar Reformasi Birokrasi serta peningkatan kompetensi dan layanan dengan tujuh Program Utama. Tujuh Program Utama LAPAN adalah

1- Pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional,

2- Pengembangan Sistem Pemantau Bumi Nasional,

3- Pengembangan Teknologi Satelit,

4- Pengembangan Teknologi Aeronotika,

5- Pengembangan Teknologi Roket,

6- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Dinamika Atmosfer Ekuator, dan

7- Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Cuaca Antariksa).

Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2015 , Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2016-2017, Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2018, dan Refleksi Capaian Prestasi LAPAN 2019 ini adalah suatu rangkaian catatan yang merupakan apresiasi kepada semua pegawai LAPAN untuk membangun kepercayaan diri dan semangat kerja, tanpa melupakan hal-hal yang harus terus dibenahi.

    • LAPAN memperoleh Opini BPK Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan 2018.
    • Sertifikat penghargaan WTP diberikan oleh Wakil Menteri Keuangan RI, Prof Mardiasmo kepada Sekretaris Utama LAPAN, Prof Erna Sri Adiningsih

    • Indeks Reformasi Birokrasi LAPAN naik dari 75,92 (2017) menjadi 76,12 (2018). Upaya pembenahan tata kelola dan peningkatan kinerja dalam rangka Reformasi Birokrasi terus dilanjutkan.
    • Juli 2019: LSU-02 NGLD (LAPAN Surveillance UAV-02 Next Generation Low Drag) sukses meraih Rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), dengan kategori “Pesawat Tanpa Awak (UAV) Terbang Menempuh Jarak Terjauh. Dengan mengambil lepas landas/ terbang dari LANUD TNI AU Cikelet, Pameungpeuk, Garut pada pukul 11.38 WIB, pesawat LSU-02 NGLD terbang ke arah barat menuju Pantai Citepus, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, dan berhasil mendarat kembali pada pukul 15.40 WIB di titik awal terbang. Dengan kecepatan rata-rata terbang 100 km/jam dan dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut, pesawat ini mampu terbang sejauh 405 Km pergi pulang.
    • LSU-02 NGLD membuat rekor terbang autonomous terjauh 405 km

    • LAPAN naik peringkat menjadi peringkat 2 di Webometrik lembaga riset di Indonesia.
    • LAPAN menduduki peringkat 2 Webometrik lembaga riset di Indonesia.

    • LAPAN sebagai Regional Support Office mendapatkan penghargaan dari UN SPIDER sebagai Main Contributor dalam kegiatan penanggulangan bencana berbasis keantariksaan.
    • Hasil gambar untuk UN Spider LAPAN 2019

      Penghargaan UN SPIDER kepada LAPAN sebagai Regional Support Office.

    • Gedung Pusat Sains Antariksa LAPAN mendapat Penghargaan Harapan 2 Gedung Pemerintah Hemat Energi dan Air dari Menteri ESDM.
    • Menteri ESDM bersama para pemenang anugerah.

    • LAPAN memperoleh Anugerah Keterbukaan Informasi Publik dengan predikat Badan Publik “Informatif” pada Kategori Badan Publik Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LN/LPNK). Anugerah KIP diserahkan Wakil Presiden RI.

      Wapres menyerahkan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik kepada Kepala LAPAN

    • LAPAN menandatangani perjanjian lisensi komersialisasi ZAP 2.0 antara Pusfatja dengan PT Media Rekayasa Lintas (PR Marlin) dalam pemanfaatan informasi zona potensi penangkapan ikan.
    • Lisensi LAPAN-PT Marlin

      Penandatanganan lisensi aplikasi zona potensi penangkapan ikan ZAP 2.0 antara LAPAN dan PT Marlin.

    • LAPAN menandatangani perjanjian lisensi dengan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) untuk komersialisasi Radar hujan Santanu.
    • Penandatangan Lisensi radar Santanu antara LAPAN dan PT Inti.

    • Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyerahkan SNI ISO/IEC 17025:2017 untuk Laboratorium Uji Material (Komposit) di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN.
    • SNI-ISO Lab Uji
    • Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait produk-produk litbang LAPAN.Penetapan SNI 8804:2019              Sistem Keantariksaan – Satelit kubus
      Penetapan SNI ISO 14620-1:2018 Sistem Keantariksaan – Persyaratan keselamatan – Bagian 1: Keselamatan sistem
      Penetapan SNI ISO 24113:2011     Sistem Keantariksaan – Persyaratan mitigasi sampah antariksaPenetapan SNI 8829:2019              Radar hujan
    • LAPAN melalui Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh (Pustekdata) meraih Penghargaan Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik dengan predikat “Sangat Baik” dari Menpan RB. LAPAN berhasil masuk dalam 10 besar Kementerian dan Lembaga dengan Indeks  Pelayanan Publik tertinggi.
    • LAPAN memperoleh Penghargaan Role Model Penyelenggara Pelayanan Publik dengan predikat “Sangat Baik”

    • Pusat Teknologi Roket (Pustekroket) dan Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) LAPAN ditetapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI). Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) dan Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) LAPAN menerima Sertifikat Akreditasi Pranata Litbang yang diberikan oleh Komite Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP). Dalam acara Apresiasi Lembaga Litbang Tahun 2019. Lengkap sudah semua 7 Pusat Teknis ditetapkan sebagai PUI.
PUI 2019

Pusat Sains Antariksa dan Pusat Teknologi Roket ditetapkan menjadi PUI. Lengkap sudah tujuh pusat teknis LAPAN menjadi PUI.

Pengamatan Gerhana Matahari Cincin di Siak 26 Desember 2019

T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

Hasil pengamatan GMC 26 Des 2019 di Siak oleh Tim LAPAN

Pengamatan gerhana matahari cincin (GMC) 26 Desember 2019 di Kabupaten Siak dilaksanakan di lapangan Kampung Bunsur. Kampung Bunsur berada tepat di pusat jalur GMC dekat dengan titik gerhana terbesar (Greatest Eclipse). Fase GMC mulai pada pukul 12.15.

Lokasi pengamatan GMC 2019 di Kampung Bunsur, tepat di pusat jalur GMC.

Pagi hari di Siak mendung. Bahkan kabarnya di lokasi pengamatan saat shubuh sempat gerimis. Tentu saja ini cukup mengkhawatirkan. Cuaca bisa menggagalkan pengamatan fenomena langka GMC. Namun dilihat dari aplikasi SADEWA di situs LAPAN, diprakirakan siang hari awan mulai tersibak dari wilayah sekitar Kampung Bunsur, lokasi pengamatan GMC. Alhamdulillah, ternyata benar cuaca sangat cerah sejak awal proses gerhana sampai menjelang akhir gerhana.

Prakiraan liputan awan saat kejadian GMC dari aplikasi SADEWA LAPAN.

Gerhana mulai terjadi pada pukul 10.22 WIB. Maka segera shalat gerhana disiapkan di lapangan. Teriknya matahari siang yang cerah tidak menyurutkan jamaah memadati tempat shalat gerhana.

Kepala LAPAN bersama Bupati Siak sebelum shalat gerhana matahari di lapangan Bunsur, Siak.

Khutbah shalat gerhana disampaikan oleh Kepala LAPAN. Intisari khutbah ada di blog ini.

Kepala LAPAN sebagai khatib shalat gerhana di lapangan Bunsur, Siak.

Untuk dokumentasi pribadi, fase-fase gerhana dipotret dengan kamera hp. Tidak sebagus hasil pengamatan dengan teleskop, tetapi menjadi dokumentasi bahwa fenomena langka GMC telah dilihat secara langsung.

Awal gerhana dipotret dengan kamera hp dengan filter bekas disket.

Fase gerhana sebelum fase cincin, dipotret dengan kamera hp dengan filter kacamata matahari

GMC-2019-5

Fase gerhana matahari cincin, dipotret dengan kamera hp menggunakan kacamata matahari.

GMC-2019-pasca cincin-1

Gerhana matahari menjelang akhir fase cincin, dipotret dengan kamera hp menggunakan kacamata matahari.

GMC-2019-4

Fase gerhana matahari pasca cincin. Dipotret dengan kamera hp menggunakan teknik flare lensa.

Tim Pengamat LAPAN dengan beberapa teleskop.

Seusai acara pengamatan GMC 2019 di Siak

Intisari Khutbah Shalat Gerhana Matahari Cincin 26 Desember 2019

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Gerhana matahari cincin 2009 di Indonesia

[Inti sari khutbah shalat gerhana matahari cincin (GMC) di Siak, Riau, 26 Desember 2019 –Naskah bahasa Arab awal dan akhir tidak dituliskan).

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).

Jamaah Rahimakumullah,

Rasulullah SAW hanya sekali melaksanakan shalat gerhana matahari. Itu terjadi pada 27 Januari 632, awal Dzuqaidah 10 H, empat bulan sebelum Rasulullah SAW wafat. Saat itu terjadi gerhana matahari cincin yang melintasi bagian selatan Jazirah Arab. Di Madinah hanya terjadi gerhana matahari sebagian dengan kegelapan 77%.

Bayangkan suasana pagi itu di Madinah. Putra Rasulullah yang bernama Ibrahim wafat. Beberapa saat setelah matahari terbit mulailah terjadi gerhana. Di langit timur terlihat matahari tidak sempurna bulatnya. Bagian atasnya tampak menghitam yang makin lama hampir menghilangkan seluruh bundaran matahari. Orang-orang ketakutan dan mengaitkan gerhana matahari itu dengan wafatnya putra Rasulullah. Namun, Rasul membantahnya. Gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah.

Di dalam hadits Abu Burdah dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, dikisahkan peristiwa gerhana di Madinah:

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi SAW langsung berdiri terkejut dan merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau pergi ke masjid dan melakukan sholat yang panjang berdiri, ruku’, dan sujudnya. Setelah itu Nabi bersabda, “Gerhana ini adalah tanda-tanda dari Allah, bukan disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini terjadi supaya Allah menakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan-Nya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Rasullah SAW mengajarkan tauhid, tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan mitos. Gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Bukan pula karena matahari dimakan raksasa atau makhluk yang tak masuk akal. Tetapi gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah lah yang mencipkan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Setelah ilmu astronomi bertembang, diketahui bahwa gerhana matahari adalah bagian dari keteraturan sistem matahari-bulan-bumi. Bulan mengitari bumi, sementara bumi bersama bulan mengitari matahari. Pada saat bulan tepat berada di antara matahari dan bumi, terjadilah gerhana. Peredaran bulan mengitari bumi seperti itu dengan perubahan ketampakan bentuk bulan digunakan untuk perhitungan kalender. Hal itu diungkapkan di dalam Al-Quran surat Yunus:5.

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).

Ayat itu juga mengisyaratkan bahwa matahari dan bulan berbeda secara fisis. Matahari disebut dhiya’, bersinar. Sedangkan bulan disebut nuuran, bersinar. Sains – astronomi mengungkapkan bahwa matahari sesungguhnya sama dengan bintang-bintang lain. Ukurannya jauh lebih besar dari bumi, sekitar 1,3 juta kali besar bumi. Wujudnya berupa gas panas dengan reaksi nuklir di dalamnya. Suhu di dalamnya puluhan juta derajat. Suhu permukaannya ribuan derajat. Dengan panas itu, matahari menghangatkan tata surya, termasuk bumi.

Bulan disebut bercahaya, lembut tidak menyilaukan dan tidak panas. Bulan hanya memantulkan cahaya matahari. Karena perubahan posisinya selama mengitari bumi (manzilah), bentuknya tampak berubah. Dari sabit di awal bulan, menjadi setengah bundaran, dan purnama, lalu kembali mengecil sampai menjadi sabit kembali. Perubahan bentuk yang periodik digunakan untuk penentuan perhitungan bulan. Selama bumi mengitari matahari selama setahun, 12 kali bulan megitari bumi. Itu sebabnya satu tahun terdiri dari 12 bulan.

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah (QS 9:36)

Dengan keteraturan peredaran bulan mengitari bumi diperoleh konsep waktu bulanan. Di alam perubahan bulanan itu selaras dengan kalender qamariyah atau lunar calendar, seperti kalender hijriyah.  Dengan keteraturan peredaran bumi mengitari matahari diperoleh konsep waktu tahunan. Konsep tahunan juga tampak dengan perubahan musim secara periodik. Dari awal musim panas sampai musim panas berikutnya adalah periode satu tahun. Demikian juga dengan musim-musim yang lain. Perubahan musim selaras dengan kalender syamsiah atau solar calender, seperti kalender internasional yang berlaku saat ini.

Perubahan musim secara periodik sesungguhnya disebabkan karena kemiringan sumbu rotasi bumi. Kemiringan tersebut menyebabkan perubahan pemanasan belahan utara dan belahan selatan secara periodik. Kemiringan tersebut menyebabkan matahari tampak terbit dan terbenam berubah secara periodik. Pada saat belahan selatan bumi yang lebih banyak terpanasi pada akhir Desember, matahari tampak terbit dan terbenam paling selatan. Pada saat belahan utara bumi yang lebih banyak terpanasi pada akhir Juni, matahari tampak terbit dan terbenam paling utara. Itulah yang disebut di dalam Al-Quran adanya dua timur dan dua barat, karena timur dan barat sering ditandai dengan terbit dan terbenamnya matahari.

Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat. (QS 55:17)

Dengan perubahan pemanasan belahan bumi itu, maka terjadi perubahan tekanan udara. Selanjutnya perbedaan tekanan udara menyebabkan aliran angin. Kombinas pemanasan dan aliran angin, maka daerah pembentukan awan bergeser. Itulah yang menyebabkan musim hujan ketika angin dari utara mendorong daerah pembentukan awan ke wilayah Indonesia. Musim kemarau terjadi ketika angin bertiup dari selatan mendorong daerah pembentukan awan menjauhi wilayah Indonesia. Daerah sekitar ekuator akan mengalami dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau.

Jamaah Rahimakumulah,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran:190-191).

Hanya ulil albaab (orang-orang yang berfikir dengan iman) yang mau merenungi ayat-ayat Allah di alam, seperti fenomena karena konfigurasi bumi – bulan – matahari yang tadi dipaparkan. Allah menciptakan keteraturan itu sehingga manusia dapat mengambil manfaat untuk penentuan waktu serta pengaturan waktu untuk bertani dan kegiatan yang bergantung pada musim.

Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS Yaasiin: 37-40).

Walau tampak matahari dan bulan berjalan pada jalur yang sama sepanjang ekliptika, tidak mungkin keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya memang berbeda. Perjumpaan bulan dan matahari saat gerhana matahari hanyalah ketampakannya, ketika matahari tampak terhalang oleh bulan yang berada di antara matahari dan bumi. Gerhana matahari telah menjadi bagian perkembangan ilmu hisab untuk mengkalibrasi perhitungan peredaran bulan, sehingga awal bulan qamariyah kini bisa dihitung makin akurat.

Gerhana matahari cincin yang sebentar lagi kita saksikan saat ini bisa dihitung secara cermat sampai detiknya. Ketampakannya seperti cincin pada puncak gerhana juga bisa diprakirakan karena jarak bumi bulan yang lebih jauh dari rata-ratanya. Akibatnya bulan tampak lebih kecil dari ukuran piringan matahari. Sehingga piringan bulan hanya penutupi 94% piringan matahari, sisanya 6% tepian piringan matahari tampak seperti cincin.

Jamaah Rahimakumulah,

Sains menjelaskan fenomena yang sesungguhnya. Sains menghilangkan mitos dan meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah. Gerhana kita ambil hikmahnya, bahwa Allah menunjukkan kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya dengan fenomena itu. Keteraturan yang luar biasa yang Allah ciptakan memungkinkan manusia menghitung peredaran bulan untuk digunakan dalam perhitungan waktu dan digunakan untuk memprakirakan gerhana. Mari kita buktikan bahwa sebentar lagi matahari akan tertutup bagian tengahnya oleh bulan. Proses gerhana matahari cincin akan berlangung singkat namun ketampakan cincin cemerlang di langit sungguh mengagumkan. Subhanallah.

Jamaah Rahimakumulah,
Setelah kita melaksanakan shalat gerhana dan merenungi hikmah di balik itu, marilah kita akhiri khutbah ini dengan mohon ampunan dan mohon kekuatan untuk menjejaki kehidupan kita selanjutnya.

…. (Doa)