Memahami Efek MJO pada Cuaca Indonesia


Zona pembentukan awan lintas tropik (ITZC) mulai bergerak ke utara, pertanda musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju musim kemarau di Indonesia. (Dari situs sadewa.lapan.go.id)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Akhir April 2019 kabar cuaca ekstrem dengan banjir dan tanah longsor kembali mencuat di pemberitaan nasional. Diawali dengan banjir besar di Bengkulu. Padahal saat ini sudah mulai memasuki akhir musim hujan. Saat musim pancaroba, peralihan musim hujan menuju kemarau. Pola daerah ITCZ (Inter-Tropical Convergence Zone — zona pembentukan awan lintas tropik) sudah mulai bergerak ke utara (lihat gambar ITCZ di atas). Mengapa terjadi lagi cuaca ekstrem. BMKG memberikan peringatan cuaca ekstrem karena fenomena MJO (Madden-Julian Oscillation). Apakah MJO dan apa dampaknya?

Cuaca di Indonesia secara reguler dipengaruhi oleh siklus angin pasat karena perubahan pemanasan matahari akibat kemiringan sumbu rotasi bumi. Kita mengenal perubahan musim hujan – pancaroba – kemarau – pancaroba – hujan, dan seterusnya sebagai siklus tahunan. Kadang-kadang terjadi kekeringan atau musim hujan panjang akibat pemanasan di lautan Pasifik (dikenal sebagai fenomena El-Nino/La-Nina) atau pemanasan di samudra Hindia (dikenal sebagai fenomena Indian Dipole-Mode — IOD). Fenomena El-Nino/La-Nina dan IOD biasanya berulang setiap 3 – 7 tahunan. Ada juga variasi yang disebut “kemarau basah” (banyak hujan saat kemarau) karena efek pemanasan di perairan sekitar Indonesia. Saat ini dikenal juga fenomena MJO yang dampaknya sekitar sepekan yang bisa berulang sekitar 2 bulanan bila fasenya masih aktif. Dampaknya bisa berupa penguatan pembentukan awan yang memicu cuaca ektrem atau pengurangan pembentukan awan yang menyebabkan jeda hujan saat musim hujan.

Dengan mempelajari dinamika atmosfer (pola pergerakan awan dan angin) di sepanjang daerah tropik, mulai dari Afrika, samudera Hindia, benua maritim Indonesia, sampai Pasifik, diketahui ternyata ada pola periodik aktivitas atmosfer ekuator yang dikenal MJO. MJO adalah kondisi dinamika atmosfer periodik yang bergerak sepanjang wilayah tropik dari barat ke timur dengan periode sekitar 40-50 harian. Namun tidak selalu aktif. Contohnya, selama Maret sampai pertengahan April 2019 fenomena MJO dalam kondisi tenang, jadi tidak berdampak apa pun. Namun, sejak akhir April MJO mulai aktif ditandai dengan penguatan pembentukan awan di Samudera Hindia yang bergeser ke wilayah benua maritim Indonesia. Saat ini penguatan pembentukan awan berada di wilayah Indonesia, kemudian terus bergeser ke timur menuju Pasifik. Sampai kapan? Fenomena MJO biasanya berlangsung sekitar sepekan. Berikut ini prakiraan efek MJO pada penguatan pembentukan awan di Indonesia yang diprakirakan sampai awal Mei 2019.

MJO yang berdampak pada penguatan pembentukan awan (warna biru) diprakirakan berlangsung sampai awal Mei. Setelah itu ada kemungkinan disusul penekanan pembentukan awan (warna merah). (Dari situs NOAA).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: