Pokok-pokok Catatan: Urgensi Integrasi Observasi dan Perhitungan Astronomis dalam Penentuan Waktu Ibadah


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika, LAPAN

 

Pendahuluan

  • Penentuan awal dan akhir Ramdhan dicontohkan Rasulullah SAW dengan cara rukyat (pengamatan), karena itulah cara yang termudah pada saat itu. Rukyat seperti itu juga berlaku untuk bulan-bulan lainnya. Demikian juga dengan penentuan awal waktu shalat, pada awalnya didasarkan pada fenomena rukyat terkait posisi matahari.
  • Pada zaman Rasulullah SAW, hisab telah dikenal terbukti dengan hadits Rasul yang menyatakan bahwa bulan itu sekian dan sekian, yang menginsyaratkan 29 atau 30 hari. Itulah hisab paling sederhana yang kemudian digunakan Umar Ibn Khattab dalam menyusun kalender Islam yang pertama dengan menggunakan rujukan tahun terjadinya hijrah sebagai rujukan awal tahunnya. Tahun 1 Hijriyah bermakna, 1 tahun setelah tahun kejadian hijrah Rasul.

 

Penentuan Awal Bulan Hijriyah

  • Rukyat telah berkembang. Bermula dari rukyat hanya dengan mata tanpa alat bantu, kemudian rukyat yang dibantu dengan teleskop. Teleskop hanya berfungsi untuk memperkuat cahaya hilal. Saat ini rukyat telah menggunakan kamera untuk merekam citra hilal.
  • Problema rukyat adalah peningkatan kontras antara cahaya hilal yang sangat tipis dengan cahaya syafak (senja) sebagai pengganggunya.
  • Ketebalan hilal bergantung pada jarak sudut bulan dari matahari (elongasi bulan). Semakin besar elongasinya, hilal semakin tebal. Sedangkan faktor gangguan cahaya syafak bergantung pada ketinggian dari ufuk. Semakin tinggi posisi hilal, gangguan cahaya syafak makin berkurang.
  • Ilmu hisab berkembang dari pengamatan empirik posisi bulan mengitari bumi dan posisi matahari relatif terhadap bumi yang mengitarinya. Data rukyat jangka panjang itu yang kemudian diformulasikan dengan memperhitungkan berbagai faktor koreksinya. Saat ini posisi bulan dan matahari bisa secara cepat dihitung dengan menggunakan perangkat lunak astronomi.
  • Hasil perhitungan umumnya berupa posisi bulan relatif terhadap matahari. Parameter yang biasa dihitung adalah ketinggian serta azimut bulan dan matahari. Dari parameter tersebut dapat dihitung elongasi dan ketinggian bulan saat matahari terbenam.
  • Contoh Rasulullah SAW dalam penentuan awal bulan dengan rukyat umumnya yang dijadikan rujukan dalam kriteria awal bulan pada hisab. Kontras hilal dan syafak direpresentasikan dengan berbagai parameter, antara lain
    • umur bulan (jangka waktu sejak ijtimak/konjungsi sampai matahari terbenam);
    • beda waktu terbenam matahari dan bulan;
    • tinggi bulan dan beda azimut;
    • tinggi bulan dan elongasi; dan
    • beda tinggi bulan-matahari dan tebal hilal.
  • Berbagai kriteria telah ditawarkan, namun implementasinya bergantung pada kesepakatan ummat yang akan menggunakannya.
  • Dalam pembuatan kalender Islam, bukan hanya kesepakatan kriteria yang diperlukan, tetapi juga kesepakatan otoritas dan batas tanggalnya.
  • Rekomendasi Jakarta 2017” mengusulkan kalender Islam global dengan ketentuan berikut:
    • Otoritas adalah pemerintah atau kolektif pemerintah (MABIMS di tingkat regional atau OKI – Organisasi Kerjasama Islam – di tingkat global).
    • Batas tanggalnya sama dengan batas tanggal internasional.
    • Kriterianya: pada saat matahari terbenam, tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

 

Penentuan Waktu Shalat

  • Rasulullah SAW memberikan contoh penentuan awal waktu shalat dengan fenomena-fenonama alam yang dapat diamati dari cahayanya atau dari bayanganya:
    • Waktu Shubuh sejak terbitnya fajar sampai terbitnya matahari.
    • Waktu Dhuhur sejak matahari mulai bergeser ke arah Barat (diketahui dari bayangan matahari) sampai datangnya waktu Asar.
    • Waktu Asar sejak bayangan sama panjangnya dengan tinggi bendanya sampai datangnya waktu Maghrib.
    • Waktu Maghrib sejak terbenamnya matahari sampai datangnya waktu Isya.
    • Wakti Isya sejak hilangnya cahaya syafak sampai datangnya waktu shubuh.
  • Dengan berkembangnya ilmu hisab, diketahui bahwa fenomena-fenomena rukyat awal waktu shalat terkait dengan posisi matahari yang bisa dihitung.
  • Hubungan fenomena cahaya dan matahari kemudian dinyatakan dengan formulasi ketinggian matahari.
  • Untuk implementasinya, kesepakatan kriteria ketinggian matahari diperlukan agar tidak menimbulkan kebingungan ummat.
  • Kesepakatan kriteria awal waktu shalat di Indonesia yang saat ini digunakan adalah sebagai berikut:
    • Shubuh dimulai saat tinggi matahari -20 derajat dan berakhir saat matahari terbit pada ketinggian matahari -50’.
    • Dhuhur ketika matahari mulai bergeser ke Barat, yaitu setelah tengah hari. Waktu tengah hari bisa dihitung dari waktu tengah antara matahari terbit sampai matahari terbenam.
    • Asar ketika panjang bayangan = tinggi bendanya ditambah dengan panjang bayangan saat tengah hari, atau tan(za) = tan(zd) + 1, dengan za = jarak zenit matahari saat asar dan zd = jarak zenit matahari saat dhuhur.
    • Maghrib ketika tinggi matahari -50’.
    • Isya ketika tinggi matahari -18 derajat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: