Catatan tentang Hisab Rukyat dan Kalender Islam (Bagian 1 dari 2)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama

(Catatan ini dibuat untuk WA Group, ditulis menjelang Ramadhan 1438)

Menyambut Ramadhan, sebagian ummat Islam kembali ingat soal hisab rukyat terkait dengan penentuan awal Ramadhan (dan nanti idul fitri). Penentuan awal Ramadhan pada zaman Rasul dengan rukyat. Dalilnya merujuk beberapa hadits terkait perintah puasa Ramadhan dan beridulfitri dengan merujuk hasil rukyat hilal (bulan sabit pertama). Setelah ilmu hisab berkembang, digunakan juga penentuan awal bulan dengan cara hisab, baik secara mandiri maupun dikombinasikan dengan hasil rukyat. Hasil rukyat perlu ditetapkan (itsbat) oleh hakim/Pemerintah. Hasil hisab bisa secara langsung digunakan sebagai penetapan jauh harinya. Hisab memerlukan kriteria awal bulan sebagai batasan masuknya awal bulan Ramadhan.

Rukyat

Rasul SAW mengajarkan rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama) sesaat setelah maghrib sebagai penentu awal bulan karena itulah cara paling sederhana dan paling meyakinkan datangnya bulan baru. Menjelang akhir bulan ditandai dg terlihatnya bulan sabit pagi hari (QS 36:39). Setelah itu tdk terlihat apa pun, baik pagi maupun malam. Itu dinamakan bulan mati atau bukan gelap. Setelah itu barulah muncul hilal. Karena itu QS 2:189 mengisyaratkan hilal sbg penentu waktu (awal bulan).

Dulu orang melakukan rukyat hanya dg mata telanjang. Kemudian pengamatan visual dg teleskop utk memperkuat cahaya hilal yg tipis dan redup. Saat ini dibantu dengan kamera digital yg citranya bisa diolah lagi utk meningkatkan kontras antara hilal dan cahaya syafak (senja).

Utk kepentingan ummat, hasil rukyat tdk begitu saja diumumkan. Rasul mengajarkan, pengamat melaporkan kepada Rasul, lalu Rasul memeriksa saksi, setelah diyakini sahih lalu Rasul yg mengumumkan. Contoh Rasul itu kini diikuti dg itsbat (penetapan) oleh oleh Menteri Agama sebagai wakil Pemerintah setelah memeriksa kesahihan kesaksian hilal dg mendengar pertimbangan para ahli hisab rukyat.

Hisab

Hisab (perhitungan astronomis) utk penentuan awal bulan qamariyah sesungguhnya sdh dikenal sejak zaman Nabi. Rasul di dalam hadits pernah menyatakan, “Kami ummat yg ummiy, yg tdk bisa membaca dan menulis. Bulan itu sekian dan sekian (dg memberi isyarat jari yg menunjukkan 29 dan 30 hari)”. Hadits itu bukan menyatakan ketidakpahaman Rasul pd hisab, tetapi justru menunjukkan bahwa hisab sdh dikenal, tetapi masih sangat sederhana.

Hisab diperlukan utk membuat kalender. Umar bin Khattab memelopori kalender Islam dg menetapkan Hijrah Rasul sebagai acuan tahun (disebut Tahun Hijriyah). Kriterianya mengunakan kriteria sederhana yg dikenal pd zaman Nabi. Kriterianya dikenal sebagai kriteria hisab urfi (kebiasaan, periodik), yaitu jumlah hari setiap bulan berganti-ganti: 29 dan 30. Muharram 29 hari, Shafar 30 hari, Rabbiul Awal 29, Rabbiul Akhir 30 hari, dan seterusnya. Ramadhan selalu 29 hari.

Dzulhijjah mestinya 30 hari, tetapi saat2 tertentu 29 hari utk penyesuaian dg hasil rukyat. Kriteria itu perkembangan lanjut, bahwa dalam 30 tahun, 19 tahun panjang (Dzulhijjah 30 hari) dan 11 tahun pendek (Dzulhijjah 29 hari). Secara astronomis, itu beralasan karena satu bulan rata2 (dari hasil rukyat) adalah 29,53 hari.

Perkembangan Rukyat

Rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama) awalnya hanya menggunakan mata telanjang. Pada tanggal 29 bulan qamariyah (lunar calendar) rukyat dilakukan dg mencari keberadaan hilal di sekitar titik terbenamnya matahari.

Bentuk hilal itu sangat tipis. Lingkungannya mengarah ke arah matahari, karena hilal adalah bagian bulan yg tercahayai matahari. Bagian ujung (“tanduk”) lebih tipis dari bagian tengahnya, seringkali tidak terlihat. Jadi, hilal bisa jadi tampak hanya seperti goresan cahaya yg sangat tipis. Sangat sulit dilihat, apalagi oleh pemula.

Dengan perkembangan ilmu hisab (perhitungan astronomi), perukyat dibantu dengan hasil hisab. Dibuatlah “gawang lokasi” berupa penanda dari dua batang kayu atau logam utk memfokuskan pengamat pada posisi hilal.

Perkembangan teleskop (dan binokuler) membantu perukyat untuk mengenali hilal lebih baik lagi. Fungsi teleskop hanya mengumpulkan cahaya hilal yg redup. Masalahnya, cahaya senja (syafak) juga diperkuat. Jadi, dengan teleskop masalah kontras antar hilal dan cahaya syafak tdk dapat diatasi.

Perkembangan teknologi kamera digital (dan CCD) serta teknologi pengolah citra (image prosesing) berbasis komputer makin mempermudah pengamatan. Apalagi teleskopnya kini banyak yg sdh dilengkapi komputer utk memudahkan mengarahkan ke posisi hilal.

Kamera digital dan perangkat lunak pengolah citra bisa mempercepat menemukan hilal karena kontras hilal bisa sedikit ditingkatkan. Tetapi, masalah cahaya senja sebagai penggangu pengamatan hilal tdk bisa dihilangkan. Penggunaan filter tdk efektif utk meningkatkan kontras hilal karena sumber cahaya hilal dan cahaya syafak sama2 dari matahari dg cahaya dominan merah dan inframerah.

Masalah rukyat hilal yg utama adalah masalah kontras antara cahaya hilal yg tipis dan cahaya syafak yg masih cukup kuat di ufuk.

Perkembangan Ilmu Hisab

Ilmu hisab (perhitungan astronomis) penentuan awal bulan Hijriyah sesungguhnya menyertai perkembangan rukyat (pengamatan) hilal (bulan sabit pertama). Ilmu hisab dikembangkan dari analisis empirik data pengamatan jangka panjang, lalu diformulasikan utk prakiraan datangnya awal bukan masa yg akan datang.

Rasul SAW juga juga faham ilmu hisab, tetapi masih sangat sederhana. Dalam hadits, Rasul menyebut “… satu bulan itu sekian dan sekian (dengan memberi isyarat jari: 29 dan 30 hari). Itulah hisab awal yg digunakan oleh Umar bin Khattab ketika menetapkan kalender Hijriyah. Hisab generasi awal itu disebut hisab urfi.

Hisab urfi hanya menghitung siklus berulang 29 dan 30 hari. Muharram 29 hari, Shafar 30 hari, Rabbiul Awal 29 hari, Rabbiul Akhir 30 hari, Jumadil Ula 29 hari, Jamadal Akhirah 30 hari, Rajab 29 hari, Sya’ban 30 hari, Ramadhan 29 hari, Syawal 30 hari, Dzulqaidah 29 hari, dan Dzulhijjah 30 hari (utk tahun panjang) atau 29 hari (utk tahun pendek). Dzulhijjah dapat dikatakan sebagai bulan koreksi agar hisab kalender tdk jauh berbeda dg hasil rukyat.

Kemudian ilmu hisab mulai bisa menentukan waktu ijtimak (bulan baru, new moon, saat bulan-matahari segaris bujur, bulan mulai melewati matahari). Sejak itu awal bulan ditentukan dengan kriteria ijtimak qoblal ghurub (ijtimak sebelum maghrib). Artinya, bila ijtimak terjadi sebelum maghrib, sejak itu sdh memasuki bulan baru.

Perkembangan selanjutnya, ilmu hisab sudah dapat menentukan posisi matahari dan bulan serta saat terbenamnya. Pendekatan paling sederhana adalah menggunakan kriteria Wujudul Hilal. Kriteria WH pd awalnya didefinisikan bila bulan terbenam lebih lambat daripada matahari, maka bulan dianggap sdh wujud saat maghrib. Jadi, setelah hilal dianggap wujud, sejak saat itu awal bulan dimulai.

Hisab yg lebih kompleks mempertimbangkan posisi bulan (terutama ketinggian dan jarak sudut bulan-matahari) yg memungkinkan bulan dapat dirukyat. Itulah yg dinamakan kriteria imkan rukyat (kemungkinan bisa dirukyat) atau visibilitas hilal.

Ada beragam kriteria imkan rukyat. Saat ini kriteria imkan rukyat yg digunakan di Indonesia adalah tinggi bulan minimal 2, jarak sudut bulan-matahari minimal 3 derajat, dan umur bulan (sejak ijtimak sampai maghrib) minimal 8 jam. Tetapi kriteria ini saat ini segera disempurnakan.

Penentuan Awal Bulan

Dengan hisab, penentuan awal bulan qamariyah (lunar calender) dapat dilakukan jauh-jauh hari. Aplikasi astronomi mudah diperoleh, baik bersifat komersial maupun gratis. Aplikasi gratis yg bisa diunduh di internet antara lain Stellarium dan Accurate Time (silakan googling).

Hisab menentukan posisi bulan (ketinggian dan elongasi –jarak sudut bulan-matahari–) saat matahari terbenam. Hisab dilakukan utk masing2 lokasi, misalnya utk Bandung, Aceh, atau tempat lainnya.

Dengan data tersebut lalu diputuskan secara hisab jatuhnya awal bulan berdasarkan kriteria yg digunakan. Misalnya, pada akhir 29 Sya’ban 1438 (maghrib 26 Mei 2017, gambar terlampir 👇) tinggi bulan utk lokasi Bandung 8 derajat 5′ 2″ dan elongasi 9 derajat 7′ 15″.
Kesimpulannya:
– Karena ketinggian sdh positif, berdasarkan kriteria Wujudul Hilal awal Ramadhan jatuh keesokan harinya (sejak maghrib malam Sabtu) 27 Mei 2017.
– Karena sdh cukup tinggi, berdasarkan kriteria 2 derajat, awal Ramadhan 1438 jatuh pada 27 Mei 2017 (sejak maghrib malam Sabtu).

Dengan program komputer bisa juga dibuat garis tanggal, yaitu di sebelah Barat garis tanggal bulan sdh memenuhi kriteria. Misalnya Garis Tanggal Awal Ramadhan 1438 utk waktu maghrib 26 Mei 2017 (lihat gambar terlampir 👇):
– Garis Tanggal Wujudul Hilal antara arsir merah dan putih.
– Garis Tanggal Kriteria tinggi 2 derajat antara arsir putih dan biru.
Terlihat posisi Indonesia berada di sebelah Barat (kiri) garis2 tanggal tersebut. Artinya, baik kriteria Wujudul Hilal maupun Imkan Rukyat 2 derajat sama2 menyimpulkan awal Ramadhan 1438 jatuh pada tanggal 27 Mei 2017.

Untuk pengamal rukyat, keputusan masih menunggu hasil sidang itsbat pada 26 Mei 2017 selepas maghrib.