Menuju Penyatuan Kalender Islam Global

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

kalender-tunggal-global

Pada Kongres Kesatuan Kalender Hijri Internasional di Istanbul, Turki, Mei 2016 disepakati sistem kelender global yang tunggal. Seluruh dunia mengawali awal bulan hijriyah pada hari yang sama (Ahad – Sabtu), misalnya awal Ramadhan jatuh Senin seragam di seluruh dunia. Sistem kalender global tersebut menggunakan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal):

“Awal bulan dimulai jika pada saat maghrib di mana pun elongasi bulan (jarak bulan-matahari) lebih dari 8 derajat dan tinggi bulan lebih dari 5 derajat.

Dengan catatan awal bulan hijriyah terjadi jika imkan rukyat terjadi di mana pun di dunia, asalkan di Selandia Baru belum terbit fajar.

Muzakarah MABIMS pada Agustus 2016 merekomendasikan negara-negara anggota MABIMS untuk mengkaji kesimpulan Kongres  Istanbul 2016 tersebut.

 

Kajian Implementasi Konsep Istanbul 2016

Pada dasarnya  implementasi konsep kalender didasari pada 3 prasyarat yang harus dipenuhi: (1) kesepakatan otoritas tunggal, (2) kesepakatan kriteria, dan (3) kesepakatan batas tanggal. Dalam hal kalender regiobal di lingkungan MABIMS, otoritas tunggalnya adalah kolektif pemerintah Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura yang akan mengambil keputusan bersama. Kriteria baru MABIMS telah diusulkan untuk disepakati. Batas wilayahnya adalah batas wilayah bersama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Dengan demikian kalender regional MABIMS bisa langsung diimplementasikan.

Dalam hal kalender global, kita belum mempunyai otoritas global. Diusulkan agar OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dapat menjadi otoritas kolektif global. Untuk memenuhi awal bulan jatuh pada hari yang sama, maka batas tanggal yang disepakati mestinya merujuk pada batas tanggal internasional. Kriteria tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat adalah kriteria optimistik, tetapi tidak cukup untuk diterapkan dalam tinjauan global. Garis tanggal imkan rukyat paling timur umumnya berada di sekitar ekuator. Wilayah daratan yang paling Barat adalah Amerika Selatan. Wilayah daratan paling Timur adalah Samoa. Beda waktu antara Amerika Selatan dan Samoa 20 jam, artinya secara rata-rata bulan naik 20/24 x 12o = 10o dari wilayah Timur menuju wilayah Barat. Maka bila ketinggian 5o terjadi Amerika Selatan, tinggi bulan di wilayah Asia Tenggara masih di bawah ufuk. Tetapi bila menggunakan kriteria baru MABIMS, tinggi 3 derajat, di Samoa Barat bulan sudah di atas ufuk.

garis-tanggal-internasional

Garis tanggal internasional dan zona waktu (sumber: internet)

Atas dasar alasan tersebut, rekomendasi Istanbul 2016 perlu disempurnakan dalam hal kriteria. Kriteria yang diusulkan adalah “Awal bulan dimulai jika pada saat maghrib di wilayah Indonesia tinggi bulan minimal 3o dan elongasi minimal 6,4o”, wilayah Indonesia sudah mewakili wilayah Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Dengan kriteria tersebut, kriteria Istanbul (tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat) secara umum akan terpenuhi di wilayah Turki dan Timur Tengah. Kriteria tersebut juga menjamin bulan di sebagian sebagian besar wilayah telah berada di atas ufuk atau kira-kira setara dengan kriteria “wujudul hilal” di sebagian besar wilayah global. Jadi, diharapkan kriteria baru MABIMS juga menjadi titik temu kriteria yang bisa diterima semua pihak, baik yang mendasarkan pada imkan rukyat maupun wujudul hilal.

 

Kesimpulan

Rekomendasi Kalender Islam Global dapat diterima dengan penyempurnaan yang selaras dengan kriteria baru MABIMS:

  1. OKI (Organisasi Kerjasama Islam) ditetapkan sebagai otoritas kolektif global.
  2. Batas tanggal internasional dijadikan sebagai batas tanggal kalender Islam global.
  3. Kriteria awal bulan adalah tinggi bulan minimal 3o dan elongasi minimal 6,4o pada saat maghrib di wilayah Indonesia.

Menuju Kriteria Baru MABIMS Berbasis Astronomi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

draft-kriteria-baru-mabimsMuzakarah Rukyat dan Takwim Islam negara-negara anggota MABIMS (Forum Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) pada 2-4 Agustus 2016 telah bersepakat untuk mengubah kriteria lama dengan kriteria baru. Kriteria lama MABIMS yang dikenal sebagai kriteria (2,3,8) adalah tinggi minimal 2o, jarak sudut bulan-matahari (elongasi) minimal 3o atau umur bulan minimal 8 jam. Draft keputusan Muzakarah mengusulkan kriteria baru: Tinggi hilal minimal 3o dan elongasi minimal 6,4o.

Alasan Ilmiah Kriteria Baru

Pada bulan Agustus 2015, Tim Pakar Astronomi yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia, terdiri dari Prof. Dr. Thomas Djamaluddin; Dr. Moedji Raharto; Dr. Ing. Khafid; Cecep Nurwendaya, MSi; Hendro Setyanto, MSi; Judhistira Aria Utama, Msi, telah menyusun Naskah Akademik Usulan Kriteria Astronomis Penentuan Awal Bulan Hijriyah. Dari kompilasi kesaksian hilal internasional, disimpulkan bahwa:

1. Beda tinggi bulan – matahari minimal untuk teramati pada saat maghrib dari penelitian Ilyas (1988) dan Caldwell dan Laney (2001) adalah 4o. Karena tinggi matahari saat terbenam adalah -50’, maka tinggi bulan minimal adalah 4o – 50’ = 3o 10’. Tinggi sabit hilal sebenarnya bergantung pada orientasi posisi bulan relatif terhadap matahari. Untuk memudahkan pada perhitungan, maka diusulkan kriteria tinggi minimal hilal dihitung dari pusat bulan dan dibulatkan menjadi 3o.
2. Elongasi bulan minimal dari penelitian Odeh (2006) adalah 6,4o.

Jadi draft MABIMS diusulkan disempurnakan dengan “ Kriteria imkan rukyat adalah ketinggian bulan minimal 3o dan elongasi bulan minimal 6,4o ”, dengan catatan tinggi bulan dihitung dari pusat piringan bulan ke ufuk dan elongasi dihitung dari pusat piringan bulan ke pusat piringan matahari.

Kesimpulan

Draft Keputusan Muzakarah MABIMS diusulkan untuk diterima dengan penyempurnaan sebagai berikut:
1. Kriteria imkan rukyat bagi negara-negara MABIMS dalam penentuan takwim hijriyah dan awal bulan hijriyah adalah ketinggian bulan minimal 3o dan elongasi minimal 6,4o.
2. Tinggi bulan dihitung dari pusat piringan bulan ke ufuk.
3. Elongasi (jarak sudut) dihitung dari pusat piringan bulan ke pusat piringan matahari.

Rujukan
Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.
Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.
Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.