Selamatkan Langit Malam Bertabur Bintang


T. Djamaluddin

Kepala LAPAN

20160503_152932

Artikel Harian Nasional 28 April 2016, di dalamnya ada wawancara dengan Kepala LAPAN terkait gagasan Taman Langit Gelap dan Kegiatan Malam Langit Gelap setiap 6 Agustus, saat Hari Keantariksaan.

Langit malam yang gelap (dark sky) saat ini menjadi langka untuk banyak wilayah perkotaan dunia karena makin parahnya polusi cahaya. Polusi cahaya adalah hamburan cahaya lampu perkotaan yang menyebabkan langit tampak terang, sehingga mengalahkan cahaya bintang. Gemerlap cahaya bintang menghilang dari pandangan masyarakat di banyak kota besar. “Sungai Perak — Gingga (bahasa Jepang)”, “Jalur Susu — Milky Way (bahasa Inggris)”, atau “Selendangnya Bima — Bima Sakti (nama galaksi kita dalam bahasa Indonesia), gugusan ratusan milyaran bintang yang redup namun indah dilihat dari daerah yang jauh dari perkotaan, menghilang dari langit malam. Rasi bintang terang pun banyak yang tak tampak lagi. Hanya beberapa bintang yang sangat terang, seperti Antares di rasi Kalanjengking (Scorpio) dan Betelgeuse di rasi Orion, serta beberapa planet terang seperti Venus dan Jupiter, yang masih terlihat di beberapa kota.

Perlu kita kampanyekan perlunya langit gelap untuk kembali menikmati indahnya malam bertabur bintang. Ada dua gagasan yang diusulkan LAPAN:

  • Gagasan pertama, mengadakan kegiatan tahunan “Malam Langit Gelap” setiap 6 Agustus, saat Hari Keantariksaan. Pemilihan tanggal 6 Agustus selain memperingati Hari Keantariksaan, juga terkait denganΒ  musim kemarau pada bulan Agustus sehingga berpeluang besar untuk mengamati langit yang cerah bertabur bintang kalau gangguan polusi cahaya diminimalkan. Caranya, pada malam itu semua lampu di luar ruangan (sedapat mungkin termasuk lampu jalan) dimatikan. Cukup satu jam saja, pukul 20.00 – 21.00. Saat itu ketika langit mulai gelap total (karena matahari sudah jauh terbenam dan cahaya senja sudah menghilang) dan aktivitas di luar ruangan mulai berkurang, kita matikan semua lampu luar. Kita bersama-sama keluar ruangan untuk menyaksikan langit. Kalau kita berhasil meminimalisasi polusi cahaya selama satu jam, kita bisa melihat Galaksi Bima Saksi dengan ratusan milyar bintang membentang dari Utara ke Selatan. Kita bisa melihat rasi Angsa (Cygnus) di langit Utara dengan Segitiga Musim Panas (Summer Triangle), tiga bintang terang di sekitar rasi Angsa: Vega, Deneb, dan Altair. Di langit Selatan kita melihat rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) yang sering digunakan sebagai penunjuk arah Selatan. Hampir di atas kepala kita saksikan rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares. Mematikan lampu luar selama satu jam, juga sekaligus mengkampanyekan hemat energi seperti Earth Hour.

Gugusan Bima Sakti

Gugusan Bima Sakti membentang di langit dari Utara ke Selatan. [Gambar dari http://twanight.org%5D

summer-triangle

Summer Triangle dan rasi Angsa (Cygnus) [gambar dari http://www.arkansas.com%5D

Salib Selatan

Rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) [Gambar dari http://earthsky.org%5D

Scorpio-1

Rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares [Gambar dari http://www.abc.net.au%5D

  • Gagasan ke dua, menjadikan daerah tertentu sebagai kawasan bebas polusi cahaya yang biasa disebut Taman Langit Gelap (Dark Sky Park). LAPAN mengusulkan kawasan sekitar Observatorium Nasional yang akan dibangun di Kupang sebagai kawasan Taman Langit Gelap. Beberapa kawasan di Nusa Tenggara Timur sangat potensial untuk dijadikan Taman Langit Gelap. Kondisi cuaca yang kering memungkinkan jumlah malam cerah paling banyak. Kawasan seperti ini bisa menjadi daya tarik turis untuk wisata astronomi yang menarik. Apalagi Indonesia yang berada di wilayah ekuator memungkinkan kita mengamati langit Utara dan langit Selatan. Di Amerika, Jepang, dan Eropa pengamat astronomi lebih banyak mengamati langit Utara. Sementara pengamat di Australia lebih banyak mengamati langit Selatan. Di Indonesia, kita bisa menikmati bintang-bintang di langit Utara dan Selatan lebih leluasa. Di kawasan Taman Langit Gelap penggunaan lampu sangat dibatasi, hanya boleh untuk di dalam ruangan yang tidak memancar ke luar.

Inilah beberapa contoh Taman Langit Gelap di beberapa negara [gambar diambil dari http://darksky.org/idsp/parks/%5D.

Dark Sky Park Hongaria

Taman Langit Gelap di Hongaria.

Dark Sky Park Skotlandia

Taman Langit Gelap di Skotlandia.

Dark Sky Park AS-1

Taman Langit Gelap di Amerika Serikat.

Dark Sky Park AS-2

Taman Langit Gelap di Amerika Serikat.

8 Tanggapan

  1. skali2 nginep dihotel di bali saat nyepi. liat langit malamnya. bintangnya lebih banyak daripada biasanya. tapi jangan jalan2 haha

  2. Usul saya jangan tetap tanggal 6 sih, kalau bisa tanggal selama agustus misalnya, pas malam minggu dan pas bulan tidak mengganggu (fase sabit tua/muda) seperti konsep Astroday ituπŸ˜€ karena bisa2 6 agustus itu pas purnama juga sehingga percuma matiin lampu2πŸ™‚ bagaimana prof apa memang sudah fix dan diresmikan?

    • Ya, malam langit gelap bisa terganggu oleh terangnya purnama. Tetapi pada saat purnama pun, ada keindahan tersendiri malam bermandikan bahaya bulan, tanpa terganggu cahaya lampu-lampu. Kegiatan Malam Langit Gelap adalah kampanye dalam rangka Hari Keantariksaan 6 Agustus. Jadi fokusnya adalah Hari Keantariksaan sambil mengkampanyekan pengendalian polusi cahaya.

      Pemilihan malam yang disesuaikan dengan malam tanpa bulan, kita ikuti saja International Astronomy Day pada bulan April dan International Dark Sky Week sekitar Astronomy Day dan Earth Hour pada April tersebut.

  3. Setuju. Supaya semua orang sadar betapa indah nya langit malam ynag gelap. πŸ‘

  4. Pemandangan malam yang bertabur ribuan bintang seperti gambar di atas dapat juga kita lihat di pantai selatan p Jawa, tepatnya di Bayah.Letaknya di propinsi Banten.

  5. Tapi apa masih mungkin kita menikmati terangnya antariksa ketika cuaca kota mendung? In syaa Allah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: