Mari Bersatu Wujudkan Kalender Islam yang Mapan


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Tim Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Muhammadiyah-NU-Persis-1436

Persoalan penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah bukan sekadar masalah penetapan waktu ibadah. Ada cita-cita besar yang ingin diwujudkan umat Islam: mewujudkan kalender Islam yang mapan. Kalender Islam yang mapan adalah kalender yang bisa digunakan untuk penentuan waktu ibadah dan kegiatan muamalat (sosial, ekonomi, budaya) yang bisa dibuat untuk puluhan tahun, bahkan ratusan tahun ke depan. Untuk membuat kalender diperlukan ilmu hisab (komputasi) astronomi. Namun hasil hisab (perhitungan) saja belum bisa menetapkan awal bulan kalau belum menggunakan kriteria. Ya, kriteria menjadi salah satu dari tiga syarat utama untuk membangun sistem kalender yang mapan. Tiga syarat membangun sistem kalender yang mapan adalah (1) adanya otoritas tunggal, (2) adanya batas wilayah yang disepakati, dan (3) ada kriteria tunggal yang disepakati.

Kondisi saat ini, perbedaan penentuan awal bulan qamariyah, terutama Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, bersumber dari belum adanya kesepakatan pada tiga syarat itu. Di Indonesia, otoritas pemerintah belum sepenuhnya disepakati. Saat ini otoritas pimpinan ormas Islam masih lebih dipercaya. Batas wilayah secara umum disudah disepakati yaitu batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), walau ada yang menginginkan batas wilayah global (namun tanpa memberikan konsepnya). Masalah kriteria makin menampakkan perbedaan antar-ormas Islam, khususnya antara Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Persatuan Islam (Persis).

Untuk penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjan 1436 ada potensi perbedaan pada penentuan Syawal dan Dzulhijjah karena perbedaan kriteria. Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal (hilal sudah wujud saat maghrib). NU menggunakan kriteria tinggi minimal 2 derajat, jarak bulan-matahari minimal 3 derajat, atau umur bulan minimal 8 jam pada saat maghrib. Persis menggunakan kriteria beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat.

NU sejak 2013 sudah menetapkan kalender 1436/2015 dalam kegiatan penyelasaran hisab 1436-1437. Muhammadiyah mengumumkan pada 28 April 2015 Maklumat Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Dzuhijah 1436. Pada 1 Juni 2015 Persis mengeluarkan Surat Edaran awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjan 1436 H/2015 M pada 1 Juni 2015.

NU-Hisab 1436

1436-2015-MAKLUMAT-Muhammadiyah

 

1436-2015-Surat Edaran Persis

Hasil hisab secara umum sama antara hasil hisab Muhammadiyah, NU, dan Persis karena semuanya menggunakan perangkat lunak astronomi. Hasil penetapan hisabnya, awal Ramadhan 1436 semuanya sepakat akan jatuh pada 18 Juni 2015. Hasil penetapan hisab awal Syawal (Idul Fitri) 1436 Muhammadiyah dan NU akan sama (17 Juli 2015), namun Persis berbeda (18 Juli 2015). Hasil penetapan hisab 10 Dzulhijjah (Idul Adha) 1436 Muhammadiyah lebih awal (23 September 2015) daripada NU dan Persis (24 September 2015).

Ketika terjadi perbedaan, bagaimana sikap kita? Marilah kita mengingat cita-cita besar umat Islam untuk mewujudkan kalender Islam yang mapan. Marilah kita bersatu pada tiga syarat kalender mapan. Batas wilayah NKRI sudah disepakati. Kalaulah masalah kriteria belum bisa disepakati dan terlanjur telah dijadikan dasar  dalam penetapan kalender masing-masing ormas, marilah bersatu untuk syarat otoritas tunggal.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2/2004 menyatakan “seluruh umat Islam Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah”. Marilah kita bersepakat untuk menjadikan Pemerintah RI sebagai otoritas yang menjaga kalender Islam Indonesia. Marilah menjadikan keputusan pemerintah saat sidang itsbat (sidang penetapan) sebagai keputusan yang diikuti oleh seluruh umat Islam Indonesia. Itulah salah satu tahapan strategi mewujudkan kalender Islam Indonesia yang mapan. Sementara itu dialog terus dilakukan untuk menyamakan kriteria berdasarkan kajian fikih dan astronomi.

Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah adalah masalah ijtihadiyah. Tidak ada kebenaran mutlak dalam hal ijtihadiyah. Rasul SAW mengajarkan, kalaulah salah dalam berijtihad, bukan dosa yang kita peroleh, namun kita masih dapat satu pahala. Sementara menjaga ukhuwah, persaudaraan dan persatuan ummat, adalah wajib. Menurut kaidah Islam, kalau kita dihadapkan pada dua atau lebih pilihan, pilihlah yang paling besar maslahatnya. Menjaga ukhuwah lebih besar manfaatnya bagi kemaslahatan ummat, daripada bertahan pada ijtihad penetapan awal Ramadhan, Syawal, atau Dzuhijjah. Jadi, berbesar hati untuk mengambil Pemerintah sebagai otoritas tunggal untuk menciptakan persatuan ummat adalah lebih utama daripada mempertahankan kriteria kalender masing-masing ormas. Bersepakat pada satu otoritas pun menjadi bagian mewujudukan cita-cita besar umat Islam, yaitu mewujudkan kalender Islam yang mapan.

Iklan

11 Tanggapan

  1. Ormas2 islam memiliki metode yang berbeda-beda dalam penentuan awal bulan kamariah. Dan lebih hebatnya lagi ormas2 islam tersebut menggunakan metode tsb dengan menggunakan dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan dan mereka pun meyakininya. Namun sayang, saking meyakininya mereka pada kebabalasan menyalahkan metode yang lain. Lebih tragisnya lagi, mereka menggunakan ayat2 qur’an untuk menyalahkan dan menyerang ormas yang berbeda metode. Karena ormas2 tsb menggunakan dalil-dalil yg dapat dipertanggungjawabkan maka kita bisa menyimpulkan kalau yang salah dalam pro dan kontra ini adalah saling menyalahkan yang lain. Hisab wujudul hilal dan imkanur rukyat ada dalil yang dipertanggungjawabkan. Saya juga tlh menelaah dalil dalam pro kontra ini bahwasannya yang tidak diperkenankan adalah menyerang dan menyalahkan metode yang lain. Yang kafir tertawa2 karena tanggal hari besar keagamaan tidak sama setiap tahunnya (maklum dia pakai kalender syamsiyah), biarin.

    Dari pro kontra perbedaan metode penentuan awal bulan kamariah, kita dapat melihat indahnya islam. Mereka telah menunjukkan semangat beribadah n penghambaan diri kepada Allah SWT yang begitu tinggi dengan menelaah dalil2 untuk menentukan awal akhir bulan kamariah, Yakinlah mereka berbeda metode dengan pemerintah tidak ada maksud sama sekali utk melawan pemerintah. Tapi mereka bermaksud untuk menegakkan agama Allah yang agung ini. Saya bertanya apakah yang menyalahkan metode yang lain tsb juga karena Allah? padahal Allah Al-Haqq.

    Saya mengusulkan kepada prof Thomas pd blog ini juga dilampirkan artikel2 siraman rohani tentang keutamaan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah atau artikel islami lainnya, karena sering sekali di blog ini ada adu argumen antara pendukung hisab dan rukyat. Saya rasa dgn adanya artikel tsb Insha Allah mampu meredam ketegangan antara pendukung hisab dan rukyat.

    Terakhir Saya ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan 1436 H kepada prof Thomas dan seluruh pembaca blog ini dengan apapun metode penggunaannya. Saya menggunakan metode hisab Muhammadiyah. boleh jadi suatu saat saya juga pakai metode rukyat.

    Mohon maaf jika komen ini tdk nyambung dgn artikel prof, karena saya mencoba untuk mengademkan suasana ketegangan perbedaan hisab rukyat yg sering kita alami.

  2. Kalender hijriyah internasional global tidak mesti sama dengan pengamalan ibadah, terutama untuk wilayah di sebelah timur dari wilayah terlihatnya hilal sampai ke IDL.(ISTIKMAL)
    Untu pengamalan ibadah, terutama puasa ramadan wajib berdasarkan atas keterlihatannya hilal dengan kasat mata .
    – oleh karena bumi ini bulat seperti bola serta berotasi terhadap sumbunya sambil berevolusi mengelilingi matahari yang dianggap diam , maka proses terbenamnya matahari ( matahari tehalang oleh permukaan bumi) terjadi dalam rentang waktu 24 jam sampai di tempat semula.
    – terbentuknya hilal di lihat dari bumi adalah posisi bulah harus tertinggal oleh posisi matahari . dan ketertinggalan bulan oleh matahari dalam rentang waktu 24 jam (sehari semalam) adalah 12,2 gerajat , dalam artian bahwa dari wilayah terlihatnya hilal berikut ke arah baratnya posisi bulan semakin tinggi.
    – sebagai dasar hitungan 1 hari = 1 x siang + 1 x malam , karena bumi ini bulat seperti bola maka garis batas perubahan hari dan tanggal harus tetap di IDL ( internasional date line ) di lautan samudra pasifik .

    Setelah posisi bulan tertinggal oleh posisi matahari, hilal pasti terlihat di salah satu wilayah permukaan bumi.
    maka untuk pengamalan ibadah, bermula dari wilayah terlihatnya hilal berikut ke arah baratnya (sejalan magrib) dan berakhir di wilayah terlihatnya hilal semula) dalam rentang waktu 24 jam.

    Jadi oleh karena garis batas perubahan hari dan tanggal yang tetap di IDL , tentu perjalanan magrib bermula dari wilayah terlihatnya hilal pertama kali nya berikut ke arah barat dan melintasi IDL dan berakhir di wilayah terlihatnya hilal pertama kalinya tsb.

    Nah, ! karena melintasi IDL tentu hari nya sudah berganti ke hari berikutnya , dalam artian bahwa wilayah dari IDL berikut ke arah baratnya sampai ke wilayah terlihatnya hilal pertama kali itu menjadi ISTIGMAL, (untuk pengamalan ibadahnya terlambat satu hari).

  3. Garis batas pergantian hari dan tanggal untuk kalender hijriyah internasional (GLOBAL) adalah sama dengan garis batas pergantian hari dan tanggal kalender masehi yaitu IDL (INTERNASIONAL DATE LINE).di lautan samudra pasifik.
    Saat berganti harinya :
    untuk kalender hijriyah adalah terbenamnya matahari (magrib)
    dan untuk kalender masehi adalah jam 00,00 / 24,00 di IDL tersebut.
    Untuk kalender hijriyah, posisi bulan saat perubahan dari bulan ke bulan berikutnya tidak di patok / di kunci dengan ketinggian tertentu, yang jelas posisi bulan saat terbenamnya matahari (magrib) di IDL tsb minimal bulan sudah tertinggal dan lepas oleh posisi matahari.

  4. Hilal (sabit bulan, crescent) bukanlah qomar (bulan, moon). Hilal adalah sebagian kecil dari cahaya matahari yang diterima bulan terpantul ke arah pengamat di permukaan bumi yang saat itu sedang maghrib. Di permukaan bulan tidak ada hilal. Seumur hidupnya separuh dari permukaan bulan selalu tersinari oleh matahari. Saat sebagian kecil sinarnya memantul menuju bumi, mata kita menangkapnya sebagai hilal. Jadi hilal hanyalah image yang ada di dalam mata pengamat.
    Jika hanya sedikit bagian atas qomar yang berada di atas ufuk, mata kita tentu tidak akan bisa melihat hilal karena hilal terhalang oleh bumi. Ini menyelisihi hadits yang menyatakan MELIHAT hilal.
    Pertanyaannya adalah berapa tinggi hilal yang memberi sinar pantul ke mata kita ? Usul saya kita merujuk ke data rukyah yang ada. Dari sekian banyak data, kita ambil yang terkecil menjadi kriteria saat melakukan hisab. Apabila kemudian hari ditemukan angka yang lebih kecil, kriteria direvisi. Saat ini rekor dunia pengamatan hilal termuda dipegang oleh Thierry Legault dengan sudut elongasi matahari-bumi-bulan besarnya 4.55 derajat. Jika suatu saat tertentu azimut bulan sama dengan azimut matahari maka sudut ini sama dengan tinggi bulan.

    Catatan : saya sangat menyukai bisa berdiskusi dengan orang-orang yang punya pengetahuan lebih banyak dari saya.

  5. Pak Tomas, saya ingin bertanya,
    Mengapa definisi tanggal 29 shaban di indonesia (16 juni) berbeda dengan di New Zealand (17 juni)?
    Namun menurut kalender masehi,

    • Pada 18 Mei, di New Zealand tinggi bulan sangat rendah, kurang dari 1 derajat, sementara di Indonesia sudah lebuh dari 2 derajat. Garis tanggal qamariyah memisahkan Indonesia dan Selandia Baru. Indonesia memulai Sya’ban lebih dahulu daripada Selandia Baru.

      • Oh jadi penentuan awal bulan syaban pun berbeda tiap negara bergantung posisi bulan saat itu ya.. Saya pikir penentuan bulan selain ramadhan, syawal, dan dzulhijjah menggunakan konvensi standar hisab 0 derajat..
        Karena belum ada kesepakatan kalender islam internasional juga ya..

        Terima kasih atas pencerahannya Pak,
        Semoga di indonesia bisa segera mendapatkan kriteria dan otoritas standard yang disepakati semuanya..

  6. *maaf terpotong*
    Namun menurut kalender masehi, hari ini di indonesia dan new zealand sama sama tanggal 18 juni?

    Mohon pencerahannya..
    Terima kasih banyak..

  7. *dampaknya*

    Cerita dari sahabat saya di new zealand, keputusan FIANZ
    Federation of Islamis Assciations in New Zealand, mengatakan bahwa 1 ramadhan jatuh di jumat 19 juni 2015.
    (Karena 29 shaban = tanggal 17 juni)

  8. Amin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: