Catatan Diskusi di Milis Muhammadiyah: Sekitar Masalah Penentuan Ramadhan


T. Djamaluddin

LAPAN

ramadhan-1435-lapan-2011

Peta Garis Tanggal berdasarkan Kriteria LAPAN 2011 (Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia)

 

Mei 2014 lalu di milis Muhammadiyah_Society saya menanggapi diskusi bertema “Pesan Ramadhan 1435”. Berikut ini saya copy-kan tanggapan ringkas saya dan saya susun ulang dengan diberi judul topiknya.

 

1. Tidak Hadirnya Muhammadiyah di Sidang Itsbat Tidak Masalah

Sedikit saya sampaikan sejarah yang saya ikuti. Di Badan Hisab Rukyat perwakilan Muhammadiyah aktif untuk bertukar pikiran. Dari dulu Muhammadiyah sudah dikenal “anti-rukyat” (dalam makna objektif) dengan pendapat umum yang sering kita dengar, “kalau sudah menghisab buat apa merukyat”. Tetapi mereka tetap mengirimkan wakilnya dalam sidang itsbat, karena sidang itsbat bukan hanya memutuskan hasil rukyat, tetapi juga memutuskan kalau terjadi perbedaan dengan hasil hisab. Sidang itsbat itu dinamis sekali dan mendasarkan pada kesepakatan yang hadir. Sumber perbedaan antar-sesama-rukyat, rukyat dengan hisab, dan antar-sesama-hisab adalah masalah kriteria. Penyampaian pendapat yang berbeda wajar-wajar saja. Ketika era keterbukaan informasi dan sidang itsbat banyak diliput media massa, perbedaan pendapat bisa diikuti oleh semua masyarakat. Penolakan kehadiran wakil Muhammadiyah pada sidang itsbat dianggap wajar juga, karena memang mencerminkan sikap anti-rukyat yang sejak dulu dianutnya.

Namun pengamal rukyat dan anti-rukyat BISA DIPERSATUKAN dengan kriteria yang berbasis imkan rukyat (IR, visibilitas hilal). Ada kesalahpahaman seolah kriteria imkan rukyat adalah kriteria rukyat. Bukan! Kriteria IR adalah KRITERIA HISAB, namun bisa dipakai oleh semua. Pengamal rukyat memakai kriteria IR untuk menilai hasil rukyat, meyakinkan atau meragukan yang keputusannya dengan itsbat. Pengamal hisab (anti-rukyat) memakai kriteria IR untuk menyimpulkan hasil hisabnya. Dengan kriteria IR, pengamal “anti-rukyat” tidak harus merukyat dan tidak harus ikut sidang itsbat karena hasil hisabnya bisa secara langsung disimpulkan jauh-jauh hari.

 
2. Kriteria Hisab-Rukyat

Metode penentuan awal bulan memang hanya dua: rukyat dan hisab. Kriteria adalah persyaratan untuk menyimpulkan masuk awal bulan atau belum.

Dulu untuk metode rukyat tidak perlu kriteria, yang penting hilal terlihat atau belum. Orang dulu faham betul hilal, karena belum ada alternatif hisab. Tetapi saat ini ketika tidak banyak orang yang faham hilal dan banyak objek pengganggu (polusi cahaya dan objek terang di arah medan pandang), maka kesaksian hilal tidak bisa begitu saja diterima. Harus ada kriteria untuk menerima atau menolak kesaksian hilal.

Metode hisab wajib ada kriteria, Tanpa kriteria hasil hisab hanya berupa angka yang tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan masuk awal bulan atau belum. Kriteria paling sederhana pada kalender awal adalah kriteria urfi (periodik) 29 dan 30. Lalu ada kriteria IQG, WH, dan IR. IQG dan WH hanya berdasarkan konsep sederhana dalam mendefinisikan kemungkinan rukyat. Itu sebabnya batasan maghrib masih dipakai pada IQG dan WH.

Kriteria IR atau visibilitas hilal diturunkan dari data rukyat jangka panjang. Posisi bulan dan koreksi atmospheric dip secara umum kemungkinan kesalahannya kecil sekali. Sumber ketidakpastian paling besar adalah kondisi cuaca yang sulit diparameterisasi (antara cerah sekali, agak cerah, berawan tipis, sampai berawan). Tidak terlihatnya hilal bukan semata karena masalah posisi. Itu sebabnya, kriteria menggunakan statistik kemungkinan terbesar terlihat (imkan rukyat) yang digunakan, walau ada beberapa data kondisi khusus yang di bawah kriteria, misalnya kondisi saat bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi.

 

3. Wujudul Hilal itu Tidak Berwujud

Terkait dengan hilal, BERDASARKAN PENGAMATAN hilal sekian lama maka diyakini keberadaan hilalnya yang dirumuskan dengan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Sulit sekali, BERDASARKAN PENGAMATAN akan menyimpulkan kriteria WH, karena WH BUKAN berdasarkan pengamatan.

Perlu diingat, hilal adalah FENOMENA PENGAMATAN, bukan FENOMENA EKSISTENSI. Sangat keliru kalau mengatakan hilal itu eksis atau wujud. Yang wujud adalah bulan yang bulat, satu sisi gelap dan sisi lainnya terang. TIDAK ADA wujudnya hilal.

Konjungsi BISA dibuktikan dengan pengamatan pada saat gerhana matahari, lalu dikoreksi dari toposentrik menjadi geosentrik. Tetapi WH TIDAK BISA dibuktikan, bukan hanya sulit dibuktikan. Konsep WH, bila sunset (matahari terbenam) lebih dahulu daripada moonset (bulan terbenam) adalah konsep penyederhanaan rukyat ketika ilmu hisab masih dianggap rumit. Konsep sebenarnya keliru. Untuk bulan rendah, cahaya sabitnya bulan sudah terbenam pada saat matahari terbenam, jadi tidak mungkin wujud. Karena sudah terbenam, TIDAK BISA dibuktikan dengan pengamatan. Untuk bulan yang agak tinggi, tetapi masih di bawah kriteria IR, tidak ada teknologi untuk mengamatinya karena panjang gelombang bahaya matahari yang dipantulkan bulan hampir sama dengan panjang gelombang cahaya matahari yang dihamburkan atmosfer, sehingga peningkatan kontral hilal tidak mungkin dilakukan. Paradox WH saya jelaskan di blog saya.

TIDAK ADA model astronomis tentang wujudul hilal. Silakan cari di berbagai literatur astronomi, termasuk googling. Terminologi WH hanya ada di Muhammadiyah. Arab saudi menggunakan konsep serupa hanya untuk kepraktisan kalender sipil, bukan untuk penentuan waktu ibadah. TIDAK ADA di belahan dunia mana pun yang menggunakan konsep WH untuk penentuan waktu ibadah.

 
4. Rukyat dengan Teknologi

Hilal tidak teramati (dalam kondisi cerah) karena masalah kontras antara KETAMPAKAN sabit bulan yang tipis dengan CAHAYA syafak (cahaya senja) yang masih kuat di sekitar ufuk dan sekitar matahari.

Teknologi untuk meningkatkan kontras adalah penggunaan filter untuk memperkuat cahaya hilal dan menekan cahaya syafak. Masalahnya, panjang gelombang cahaya hilal dan cahaya syafak sangat mirip sehingga sulit difilter. Ini berbeda antara cahaya bulan sabit siang hari dengan latar depan cahaya langit biru. Dengan filter infra merah cahaya bulan sabit diteruskan, cahaya langit biru diserap.

 

5. Kalender Perlu Kriteria

Kalender sebagai sistem penataan hari/tanggal (baca http://en.wikipedia.org/wiki/Calendar) adalah produk hisab dengan KRITERIA TERTENTU. Sementara pengamatan hilal (rukyatul hilal) diperlukan untuk penetapan waktu ibadah (karenanya diperlukan itsbat), BUKAN untuk menetapkan kalender. Kalender bisa disusun untuk waktu yang akan datang, sedangkan rukyatul hilal hanya untuk waktu sesaat.

Ketika kalender ingin disinkronkan dengan waktu ibadah dan ada tuntutan ummat agar penetapannya seragam, maka cara yang dilakukan adalah mensinkronisasi KRITERIANYA. Kriterianya harus sinkron dengan rukyat. Itu sebabnya, WH yang tidak bisa dibuktikan dengan pengamatan tidak bisa dijadikan sebagai kriteria kalender dimaksud. Agar sinkron, kriterianya haruslah kriteria yang bisa mengindikasikan visibilitas hilal, yaitu kriteria imkan rukyat.

 

6. Awal Hari Kalender Hijriyah

Konsep awal hari yang menjadi ijmak ulama adalah maghrib diturunkan dari konsep rukyat (Baca https://tdjamaluddin.wordpress.com/2014/05/08/maghrib-batas-hari-dalam-kalender-islam/). Konsep awal bulan tidak lepas dari awal hari, yaitu batasnya adalah maghrib. Itu pula yang digunakan dalam kriteria Ijtimak Qoblal Ghrub, WH, dan IR.

Sains mendefinisikan pergantian hari/tanggal berdasarkan kesepakatan atau konsensus. Dalam kalender masehi, awal hari dulu disepakati pada pukul 12.00 tengah hari, lalu sekitar 1925 diubah awal hari mulai pukul 00.00 (12.00 tengah malam). Dalam kalender masehi awal bulan ditentukan dengan konsesus jumlah hari tiap bulannya. Dalam kalender Hijriyah awal hari disepakati oleh jumhur ulama mulai maghrib dan awal bulan disepakati ketika fase bulan sudah berganti. Pergantian fase bulan bisa diamati, juga bisa dihitung (dihisab).

Sejauh yang saya tahu, secara global telah disepakati awal hari kalender Islam adalah maghrib, walau ada sekelompok ummat Islam di Libya menjadikan fajar sebagai awal hari karena terkait dengan kewajiban puasa mulai saat fajar. Tetapi saya kira awal hari sejak fajar hanya dalam konteks ibadah puasa.

 

7. Awal Bulan Kalender Hijriyah

Astronomi menyebut pergantian fase bulan sebagai “newmoon” (ijtimak geosentrik) hanyalah definisi astronomi, BUKAN dimaksudkan untuk implementasi pada kalender bulan. Masing-masing komunitas mempunyai definisi sendiri-sendiri. Kalender Hindu, Budha, dan Kalender Islam mempunyai definisi atau kriteria awal bulan masing-masing yang juga dipelajari dalam astronomi, khususnya dalam kajian Archeo-astronomy. Tidak bisa konsep astronomi tentang “newmoon” diterapkan dalam kajian masing-masing kalender itu. Itu sebabnya setiap kalender mempunyai kriterianya sendiri.

Karena awal hari dan awal bulan dalam kalender Hijriyah bermula dari saat maghrib, maka saat pergantian hari dan bulan adalah pada saat maghrib, BUKAN saat newmoon. Astronomi bisa menghitungkan awal bulan dengan kriteria yang disepakati oleh suatu komunitas. Agar hasil hitungan oleh komunitas pengamal hisab itu sama dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh komunitas pengamal rukyat, maka kriteria yang digunakan astronomi adalah kritreia yang berdasarkan visibilitas hilal. Itu sepenuhnya saintifik astronomi.

 

8. Hasil Hisab juga Bisa Beda

Hasil hisab beda karena modelnya beda. Perbedaan paling jelas antara hisab taqribi (aproksimasi) dan hisab hakiki (sesungguhnya). Hisab taqribi hanya menggunakan model sederhana, tinggi bulan dalam derajat = 1/2 umur bulan dalam jam. Misalkan, ijtimak pukul 11.00 dan maghrib pukul 18.00, maka umur bulan 8 jam. Jadi secara taqribi tinggi bulan 8/2 = 4 derajat. Hasil hisab taqribi berbeda jauh dari hisab hakiki. Model hisab hakiki kini sangat presisi, namun masih terus disempurnakan.

 

9. Perbedaan Bukan Hanya pada Kalender Islam

Kalender adalah produk perhitungan astronomi, bukan hasil rukyat. Sistem kalender pada semua komunitas bergantung pada 3 aspek: kriteria, batas wilayah, dan otoritas.

Dalam kalender Masehi, kriteria Julius di Inggris dengan otoritas Raja Inggris dan kriteria Gregorius di Roma dengan otoritas Paus Gregorius Natalnya berbeda 12 hari. Budha di Singapura dan Malaysia Waisak dengan kriteria hari saat purnama, maka jatuh pada 13 Mei 2014. Di Nepal 14 Mei. Di Indonesia 15 Mei. Perbedaan muncul karena beda kriteria bulan purnama di masing-masing wilayah. Hal yang sama terjadi pada kalender Hijriyah yang berbeda karena perbedaan kriterianya.

Kalender Masehi berhasil menyatukan kriteria dan mendefisiniskan batasnya. Kalender Imlek (kalender bulan Tiongkok) juga berhasil menyatukan kriteria dengan mengikuti satu otoritas di Tiongkok. Kini sedang diupayakan menyatukan kriteria kalender Hijriyah dengan otoritas tunggal.

 

10. Penyatuan Kalender Perlu Kesepakatan

Kata kuncinya adalah adanya KESEPAKATAN. Kesepakatan tidak bisa sepihak, harus 3 pihak : pemerintah (negara atau global), fuqaha, dan astronom/pakar hisab-rukyat. Itu sebabnya saya dan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama selalu mengajak perwakilan 3 pihak itu untuk mencari titik temu menuju kesepakatan. Kementerian Agama mewakili unsur pemerintah. LAPAN sesuai tugas dan fungsinya mendukung unsur pemerintah dan astronom. MUI mewakili unsur fuqaha. Ormas-ormas Islam mewakili unsur fuqaha dan pakar hisab-rukyat. Observatorium Bosscha, planetarium, dan astronom amatir mewakili unsur astronom/pakar hisab-rukyat.

Substansi kesepakatan itu mencakup otoritasnya, batas wilayahnya, dan kriterianya. Yang relatif paling mudah, dimulai dari kesepakatan lokal (negara), lalu diperluas ke tingkat regional (misalnya ASEAN atau MABIMS — Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), lalu diperluas global. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/01/06/kalender-hijriyah-bisa-memberi-kepastian-setara-dengan-kalender-masehi/

 

10 Tanggapan

  1. Yang penting jangan saling menyalahkan,,saling toleransi dan di antara perbedaan Mhammadiyah dan NU kita masih sama – sama Muslim, masih menyembah Allah.

  2. Apakah sabit siang hari juga turut teramati pada saat proses gerhana matahari?

  3. Setelah metode hisab dan data2 astronomi diakui oleh smua lembaga, tetap saja terjadi perbedaan dalam penentuan AWAL BULAN. Sudah pasti karena perbedaan kriteria derajat tinggi bulan dan umur bulan… Saya pribadi lebih cenderung pada penggunaan teori “NEW MOON” secara astronomis… karena bagi saya menggunakan terori itu TIDAK MENYALAHI AL QUR’AN pd QS Ali Imron:190 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian MALAM dan SIANG terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” KIta boleh menggunakan akal kita untuk menetapkan sesuatu hal yg berkaitan dengan IPTEK.

    Kalo kita merujuk pada “filsafat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi”, sejarah Rosulullah SAW adalah pencerah dalam IPTEK, bukan hanya dalam hal teologi, kenegaraan, sosial, kedokteran, dsb.. tapi juga dalam penerapan penentuan bulan hijriah…

    Saat itu Rosulullah melakukan pengamatan hilal dengan cermat melihat dari ketinggian permukaan bumi yang tertinggi.. karena ‘itu’ yang paling akurat. Ketika ada teknoligi citra satelit dan perkembangan ilmu astronomi, tentu akan di peroleh “pergerakan bumi-bulan” yang lebih akurat lagi… Jaman Rosulullah belum mengenai derajat elongasi, tapi sekarang sudah bisa ditentukan secara astronomi POSISI KONJUNGSI atau IJTIMA’…

    Sama halnya dalam konteks kenegaraan, pada jaman Rosulullah mulai ada cikal bakal musyawarah mufakat dalam menentukan masalah kenegaraan… kemudian ada istilah Majelis Permusyawaratan Rakyat.

    Rosulullah SAW adalah pemimpin pertama yang mengurus jenazah dan korban-korban perang, dikumpulkan dalam barak pengobatan dan ada yang merawat luka-luka, inilah cikal bakal adanya rumah sakit walau pada awalnya untuk para perwira akhirnyapada perkembangannya ada juga untuk warga sipil…sementara belum ada pemimpin yang berbuat seperti itu…

    Rosulullah SAW memang “Ummi” tapi beliau sangat cerdas…

    • Sy termasuk jg pengagum Bapa, slalu mengikuti tulisan ttg astronomi… malah sy bertambah yakin akan penentuan AWAL BULAN pada tahun hijriah (bukan hanya untuk 1 Ramadhan, 1 Dzulhijjah, jg 1 Muharam aja) lebih akurat dengan menggunakan kriteria astronomi hisab.

      Lantas apakah nanti disebut ingkar sunnah?? tentu saja TIDAK… sebgaimana di dunia IPTEK, penemuan penting yang melahirkan TEORI atau HUKUM ( cnthnya ada Hukum Keepler 1, HK 2, TEORI KUANTUM dst) sama dengan Hadist Rosulullah ttg IPTEK juga bidang ilmu sosial kenegaraan… Tentu sangat kita junjung tinggi…

      Sy lahir dari keluarga NU, ada yg belajar syariah, kedokteran, dan ilmu lainnya… ingin sekali membuka cakrawala berfikir kita tentang sesuatu yang penting bagi ummat…

      Dengan penentual awal bulan secara astronomis maka akan diperoleh data akurat posisi bulan tanggal 13, 14, 15 atau pertengahan bulan pada tahun hijriah… itu penting untuk pelaksanaan shaum sunnah…

      Salam Hormat dan Salam Damai selalu di hati…

  4. Assalamu’alaikum wr wb.

    QS Al Baqarah : 189 memberikan petunjuk bahwa………tanda-tanda waktu bagi manusia dan ibadah haji adalah AHILAH……….

    Jadi teori NEW MOON itu TIDAK DAPAT digunakan sebagai pedoman untuk menentukan “awal bulan hijriah” karena teori New Moon itu berdasarkan “konjungsi geosentris/ijtimak” BUKAN berdasarkan AHILAH sehingga tidak selaras dengan QS Al Baqarah : 189.

    Sedangkan awal bulan hijriah yang berpedoman pada “terlihatnya hilal ” SUDAH SELARAS baik dengan QS Al Baqarah : 189 maupun QS Ali Imron : 190.

    Wassalamu’alaikummwr wb.

    • ehm…
      memang spakat benar QS Al Baqarah : 189 … ada AHILAH sebagai tanda waktu bagi manusia dan ibadah haji…

      Tapi bila AHILAH tetap di “katakan” sbg bulan sabit yang harus terlihat oleh pandangan, (menurut saya pribadi) sampai kapanpun kita tidak akan bisa menggunakan hisab dan seluruh ilmu astronomi ysng udah di”peta”kan oleh ahli2 astronomi spt Prof T Djamaludin,,, maaass…

      Subhanallah… kalo kita melihat betapa luas dan agungnya ciptaan Allah… baru tahun2 ini kita bisa melihat “citra”nya dari blog Prof TJ..

      Dari posisi Ijtimak, kemudian posisi bergeser sedikit… tentu kalo bisa terlihat jelas akan ada bulan sabitnya… tapi kan berbagai kendala bisa saja membuat bulan sabit jadi tidak terlihat… posisi geografis jg sangat mempengaruhi, belum atmosfir bumi yang sekarang penuh pencemaran,, kabarnya (dari berita IPTEK) ‘outer space’ pun sudah banyak sampah-sampah benda-benda langit buatan (spt satelit yg telah hancur dsb) beredar mengitari sekeliling bumi…

      naah… mudah-mudahan adanya perbedaan penelaahan membuat kita smakin banyak wawasan, sehingga makin bisa berlapang dada terhadap perbedaan ini…

      Kita sama ingin beribadah dengan sebaik-baiknya…
      Semoga Allah senantiasa menjadikan kita hamba-hambanya yang ikhlas dalam beribadah.. dan menjadikan kita ummat Islam yang Rahmatan lil ‘alamin…
      Amiin YRA…

      • mas boleh coba bikin ilustrasinya secara sederhana memakai ‘shape circle’ pada Microsoft World, 2 lingkaran dengan warna berbeda putih dan hitam, dengan back ground biru agak gelap… lingkaran yang di belakang berwarna putih yang didepannya hitam, kemudian dihimpitkan hingga lingkaran putihnya tertutup lingkaran hitam…

        kalo sudah tepat berimpit, kita asumsikan itu titik 0, ijtima’…. lalu kita geser sedikiiiiit aja… itu sudah terbentuk semburat tipis berbentuk sabit…

        bulan itu sebenarnya kan besar… hanya saja posisinya jauh dan letak geografis kita yang menyebabkan dia terlihat kecil…

        naaah… keukeuh (bhs wong sunda) itu sudah terbentuk, walaupun belum terlihat oleh mata kita yang sangat terbatas… makanya dengan teknologi yang sudah bisa kita akses dari blog Prof TJ… saya pribadi jadi lebih yaqin, dan tidak bisa dibohongi lagi…

        jadi sekali lagi, mohon maaf jika telaahan kita berbeda… sy pribadi sangat berterimakasih yg sebesar-besarnya kepada para ahli astronomi (jg Prof TJ) yang membuka cakrawala ilmu pengetahuan dan teknologi…

        salam hormat dan damai slalu di hati…

  5. Assalamu’alaikum wr wb.

    Teori New Moon itu berdasarkan ijtimak/konjungsi geosentris, sedangkan terlihatnya hilal itu terjadi setelah konjungsi toposenris akhir yang berlangsung setelah ijtimak/konjungsi geosentris.

    Bagi pengamat di atas permukaan bumi, lingkaran bulan berimpit dengan lingkaran matahari saat magrib itu terjadi pada waktu konjungsi toposentris akhir, bukan pada saat ijtimak/konjungsi geosentris.

    Oleh karena itu, sesuai petunjuk HR Bukhari,Muslim no.653 dan 656 yang menyatakan bahwa……….janganlah kalian berpuasa dan berhariraya hingga melihat hilal………….., maka saat dimulainya puasa dan hariraya = saat awal bulan hijriah itu adalah ketika terlihat hilal setelah konjungsi toposentris akhir saat magrib.

    Jadi teori New Moon itu tidak selaras dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan Hadits).

    Wassalamu’alaikum wr wb.

  6. Assalamu’alaikum

    Trimakasih atas penjelasannya..
    Insya Allah, bisa sy fahami,.. yang pada akhirnya tetap penentuan awal bulan bukan pada saat konjungsi sebagai titik pangkal pemisahan antara akhir bulan dan awal bulan, tapi harus memenuhi kriteria “ketika terlihat hilal setelah konjungsi toposentris akhir saat magrib” jika dijabarkan dalam derajat elongasi, umur bulan sekian-sekian dsb,,,

    Tetapi, sekali lagi sy mohon maaf, karena penelaahan yang berbeda mengenai dasar hukum al Qur’an dan hadist yang kita pakai bersama.. Tentu kita masing-masing punya landasan yang sama, dan tidak ada upaya atau menafikan terhadap itu… Bisa saling menghargai dan menghormati tetap menjadi harapan kita bersama…

    Kita smua sepakat bahwa Al Qur’an hadir di muka bumi adalah sebagai percerah bagi dunia teologi juga ilmu pengetahuan.

    Kekaguman seorang mukmin, dikatakan oleh Syauqi Abu Khalil dalam kitab al Insan baina al ‘Ilm wa ad-Din, terhadap sebuah ayat QS al Hajj[22}:27..”Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan dating kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru YANG JAUH (‘amiqah)”..

    Penggunaan kata ‘amiq merupakan penisbahan pada bentuk permukaan bumi yang bulat, Sebab, jika bumi datar, kata yang lebih mendekati adalah”ba’id” yang memberikan makna jarak dua posisi yang datar (Sami bin Abdullah al Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi,”Athlas Tarikh al Anbiya wa ar Rusul” terjemah 2008).

    Sebuah tafsir yang holistik dari ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang al ahillah (hilal-hilal) sebagai penanda waktu. QS. Al Baqarah (2): 189. ‘’Mereka bertanya kepadamu tentang al ahillah (hilal-hilal). Katakanlah: hilal-hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji…’’
    Sungguh menarik, di dalam Al Qur’an, Allah tidak menyebut bulan sabit dalam bentuk tunggal al hilal, melainkan dalam bentuk jamak ‘al ahillah’, untuk menjadi pedoman bagi perhitungan penanggalan hijriyah.
    Ini menunjukkan umat Islam dimotivasi untuk memahami pergerakan bulan secara utuh, sejak sesaat setelah konjungsi sampai konjungsi kembali, dimana bulan akan berdinamika menjadi hilal-hilal dalam berbagai fasenya. Dan karenanya, fase-fase bulan sabit itu bisa digunakan untuk menetapkan kalender yang valid dan berlaku untuk semua, seperti halnya menetapkan waktu-waktu shalat. (*mengutip dari penjelasan saudara kita sebelumnya)

    Maaf jika mengulang kembali ayat ini…
    “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)”
    Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan manjilah-manjilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya kita mengetahui waktu (bulan) dan tahun sedangkan matahari agar kita mengetahui waktu (hari) dan jam. Secara explisit dua ayat di atas juga mengandung pelajaran disyariatkannya mempelajari ilmu falak (astronomi) atau ilmu hisab untuk mengetahui waktu-waktu shalat, puasa, haji dan lainnya yang bermanfa’at bagi kaum Muslimin.

    Rasulallah Saw bersabda Kita adalah umat buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pandai berhitung, sebulan itu adalah sekian dan sekian (maksudnya kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari) (HR. Al Bukhari)
    Dari hadits diatas dapat kita pahami bahwa Rasulallah dan para shahabat tidak mempergunakan hisab sebagai dasar untuk memulai dan mengakhiri puasa, karena pada waktu itu ilmu hisab belum berkembang, orang – orang Arab masih dalam keadaan buta huruf, sehingga cara yang paling mudah dilakukan waktu itu dengan melihat bulan. Melihat bulan pada siang hari tentu saja sulit karena kalah oleh cahaya utamanya yaitu cahaya matahari, maka yang paling mudah adalah dilakukan pengamatan sore hari.

    Ketika saat ini sudah di temukan di ketahui secara hisab, juga menggunakan teknologi Fotografi yang bisa menangkap cahaya hilal pada siang hari.. tentu suatu hal yang luar biasa pada saat ini…

    Hilal yang bisa terlihat pada siang hari (bagi sy pribadi) DENGAN CATATAN setelah konjungsi/ ijtima’ itu adalah bulan baru (pergantian bulan, setelah beredar satu putaran).
    Jika hilal yang teramati sangat tipis, dan umurnya “sangat sebentar”, tentu saja… lhaa wong “hilal muda”… besoknya hilal itu akan tampak lebih terang dari hari ini dan usianya akan lebih lama…. demikian dengan hari selanjutnya… hingga pertengahan bulan… dan akhirnya menjadi tua.. dan mati (saat ijtima= tidak terlihat cahaya hilal sama sekali)… kemudian muncul lagi menjadi hilal baru….
    Dengan metode ini bisa di buat tabel pengamatan dari mulai ijtima’=bulan tidak tampak cahaya, hari berikutnya kmudian bergeser sedikit= penampakan/bentuk hilal tipis, umurnya skitan, hari berukutnya bergeser lagi sedikit= penampakannya sperti apa, umurnya berapa,, dan seterusnya…

    Seperti tampak pada layar ” Fase Bulan: Kiri Barat. Tanggal Qamariyah berdasar Kalender Ummul Quro (Arab Saudi)”

    Setiap wilayah memiliki tempat pengamatan… dan terus menerus diamati… whuiiiihhh indahnya malam hari karunia Illahi… Saat itu Allah is wacthing me,,,

    KIta akan mengetahui fase pertengahan bulan dengan tepat (tgl 13,14,15) di wilayah tersebut…

    Jadi menurut saya pribadi, bukan suatu kesalahan atau dikatakan tidak sesuai dengan hadist atau al Qur’an… sebab kita merujuk pada akar yang sama…

    Ayat2 al Qur’an dan hadits2 yang telah diungkap oleh mas Bambang, Prof TJ, dan kita smua… memang harus kita tafakuri bersama..

    Wassalam…
    Salam Hormat dan slalu damai di hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: