Catatan Diskusi di Milis Muhammadiyah: Sekitar Masalah Penentuan Ramadhan

T. Djamaluddin

LAPAN

ramadhan-1435-lapan-2011

Peta Garis Tanggal berdasarkan Kriteria LAPAN 2011 (Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia)

 

Mei 2014 lalu di milis Muhammadiyah_Society saya menanggapi diskusi bertema “Pesan Ramadhan 1435”. Berikut ini saya copy-kan tanggapan ringkas saya dan saya susun ulang dengan diberi judul topiknya.

 

1. Tidak Hadirnya Muhammadiyah di Sidang Itsbat Tidak Masalah

Sedikit saya sampaikan sejarah yang saya ikuti. Di Badan Hisab Rukyat perwakilan Muhammadiyah aktif untuk bertukar pikiran. Dari dulu Muhammadiyah sudah dikenal “anti-rukyat” (dalam makna objektif) dengan pendapat umum yang sering kita dengar, “kalau sudah menghisab buat apa merukyat”. Tetapi mereka tetap mengirimkan wakilnya dalam sidang itsbat, karena sidang itsbat bukan hanya memutuskan hasil rukyat, tetapi juga memutuskan kalau terjadi perbedaan dengan hasil hisab. Sidang itsbat itu dinamis sekali dan mendasarkan pada kesepakatan yang hadir. Sumber perbedaan antar-sesama-rukyat, rukyat dengan hisab, dan antar-sesama-hisab adalah masalah kriteria. Penyampaian pendapat yang berbeda wajar-wajar saja. Ketika era keterbukaan informasi dan sidang itsbat banyak diliput media massa, perbedaan pendapat bisa diikuti oleh semua masyarakat. Penolakan kehadiran wakil Muhammadiyah pada sidang itsbat dianggap wajar juga, karena memang mencerminkan sikap anti-rukyat yang sejak dulu dianutnya.

Namun pengamal rukyat dan anti-rukyat BISA DIPERSATUKAN dengan kriteria yang berbasis imkan rukyat (IR, visibilitas hilal). Ada kesalahpahaman seolah kriteria imkan rukyat adalah kriteria rukyat. Bukan! Kriteria IR adalah KRITERIA HISAB, namun bisa dipakai oleh semua. Pengamal rukyat memakai kriteria IR untuk menilai hasil rukyat, meyakinkan atau meragukan yang keputusannya dengan itsbat. Pengamal hisab (anti-rukyat) memakai kriteria IR untuk menyimpulkan hasil hisabnya. Dengan kriteria IR, pengamal “anti-rukyat” tidak harus merukyat dan tidak harus ikut sidang itsbat karena hasil hisabnya bisa secara langsung disimpulkan jauh-jauh hari.

 
2. Kriteria Hisab-Rukyat

Metode penentuan awal bulan memang hanya dua: rukyat dan hisab. Kriteria adalah persyaratan untuk menyimpulkan masuk awal bulan atau belum.

Dulu untuk metode rukyat tidak perlu kriteria, yang penting hilal terlihat atau belum. Orang dulu faham betul hilal, karena belum ada alternatif hisab. Tetapi saat ini ketika tidak banyak orang yang faham hilal dan banyak objek pengganggu (polusi cahaya dan objek terang di arah medan pandang), maka kesaksian hilal tidak bisa begitu saja diterima. Harus ada kriteria untuk menerima atau menolak kesaksian hilal.

Metode hisab wajib ada kriteria, Tanpa kriteria hasil hisab hanya berupa angka yang tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan masuk awal bulan atau belum. Kriteria paling sederhana pada kalender awal adalah kriteria urfi (periodik) 29 dan 30. Lalu ada kriteria IQG, WH, dan IR. IQG dan WH hanya berdasarkan konsep sederhana dalam mendefinisikan kemungkinan rukyat. Itu sebabnya batasan maghrib masih dipakai pada IQG dan WH.

Kriteria IR atau visibilitas hilal diturunkan dari data rukyat jangka panjang. Posisi bulan dan koreksi atmospheric dip secara umum kemungkinan kesalahannya kecil sekali. Sumber ketidakpastian paling besar adalah kondisi cuaca yang sulit diparameterisasi (antara cerah sekali, agak cerah, berawan tipis, sampai berawan). Tidak terlihatnya hilal bukan semata karena masalah posisi. Itu sebabnya, kriteria menggunakan statistik kemungkinan terbesar terlihat (imkan rukyat) yang digunakan, walau ada beberapa data kondisi khusus yang di bawah kriteria, misalnya kondisi saat bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi.

 

3. Wujudul Hilal itu Tidak Berwujud

Terkait dengan hilal, BERDASARKAN PENGAMATAN hilal sekian lama maka diyakini keberadaan hilalnya yang dirumuskan dengan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Sulit sekali, BERDASARKAN PENGAMATAN akan menyimpulkan kriteria WH, karena WH BUKAN berdasarkan pengamatan.

Perlu diingat, hilal adalah FENOMENA PENGAMATAN, bukan FENOMENA EKSISTENSI. Sangat keliru kalau mengatakan hilal itu eksis atau wujud. Yang wujud adalah bulan yang bulat, satu sisi gelap dan sisi lainnya terang. TIDAK ADA wujudnya hilal.

Konjungsi BISA dibuktikan dengan pengamatan pada saat gerhana matahari, lalu dikoreksi dari toposentrik menjadi geosentrik. Tetapi WH TIDAK BISA dibuktikan, bukan hanya sulit dibuktikan. Konsep WH, bila sunset (matahari terbenam) lebih dahulu daripada moonset (bulan terbenam) adalah konsep penyederhanaan rukyat ketika ilmu hisab masih dianggap rumit. Konsep sebenarnya keliru. Untuk bulan rendah, cahaya sabitnya bulan sudah terbenam pada saat matahari terbenam, jadi tidak mungkin wujud. Karena sudah terbenam, TIDAK BISA dibuktikan dengan pengamatan. Untuk bulan yang agak tinggi, tetapi masih di bawah kriteria IR, tidak ada teknologi untuk mengamatinya karena panjang gelombang bahaya matahari yang dipantulkan bulan hampir sama dengan panjang gelombang cahaya matahari yang dihamburkan atmosfer, sehingga peningkatan kontral hilal tidak mungkin dilakukan. Paradox WH saya jelaskan di blog saya.

TIDAK ADA model astronomis tentang wujudul hilal. Silakan cari di berbagai literatur astronomi, termasuk googling. Terminologi WH hanya ada di Muhammadiyah. Arab saudi menggunakan konsep serupa hanya untuk kepraktisan kalender sipil, bukan untuk penentuan waktu ibadah. TIDAK ADA di belahan dunia mana pun yang menggunakan konsep WH untuk penentuan waktu ibadah.

 
4. Rukyat dengan Teknologi

Hilal tidak teramati (dalam kondisi cerah) karena masalah kontras antara KETAMPAKAN sabit bulan yang tipis dengan CAHAYA syafak (cahaya senja) yang masih kuat di sekitar ufuk dan sekitar matahari.

Teknologi untuk meningkatkan kontras adalah penggunaan filter untuk memperkuat cahaya hilal dan menekan cahaya syafak. Masalahnya, panjang gelombang cahaya hilal dan cahaya syafak sangat mirip sehingga sulit difilter. Ini berbeda antara cahaya bulan sabit siang hari dengan latar depan cahaya langit biru. Dengan filter infra merah cahaya bulan sabit diteruskan, cahaya langit biru diserap.

 

5. Kalender Perlu Kriteria

Kalender sebagai sistem penataan hari/tanggal (baca http://en.wikipedia.org/wiki/Calendar) adalah produk hisab dengan KRITERIA TERTENTU. Sementara pengamatan hilal (rukyatul hilal) diperlukan untuk penetapan waktu ibadah (karenanya diperlukan itsbat), BUKAN untuk menetapkan kalender. Kalender bisa disusun untuk waktu yang akan datang, sedangkan rukyatul hilal hanya untuk waktu sesaat.

Ketika kalender ingin disinkronkan dengan waktu ibadah dan ada tuntutan ummat agar penetapannya seragam, maka cara yang dilakukan adalah mensinkronisasi KRITERIANYA. Kriterianya harus sinkron dengan rukyat. Itu sebabnya, WH yang tidak bisa dibuktikan dengan pengamatan tidak bisa dijadikan sebagai kriteria kalender dimaksud. Agar sinkron, kriterianya haruslah kriteria yang bisa mengindikasikan visibilitas hilal, yaitu kriteria imkan rukyat.

 

6. Awal Hari Kalender Hijriyah

Konsep awal hari yang menjadi ijmak ulama adalah maghrib diturunkan dari konsep rukyat (Baca https://tdjamaluddin.wordpress.com/2014/05/08/maghrib-batas-hari-dalam-kalender-islam/). Konsep awal bulan tidak lepas dari awal hari, yaitu batasnya adalah maghrib. Itu pula yang digunakan dalam kriteria Ijtimak Qoblal Ghrub, WH, dan IR.

Sains mendefinisikan pergantian hari/tanggal berdasarkan kesepakatan atau konsensus. Dalam kalender masehi, awal hari dulu disepakati pada pukul 12.00 tengah hari, lalu sekitar 1925 diubah awal hari mulai pukul 00.00 (12.00 tengah malam). Dalam kalender masehi awal bulan ditentukan dengan konsesus jumlah hari tiap bulannya. Dalam kalender Hijriyah awal hari disepakati oleh jumhur ulama mulai maghrib dan awal bulan disepakati ketika fase bulan sudah berganti. Pergantian fase bulan bisa diamati, juga bisa dihitung (dihisab).

Sejauh yang saya tahu, secara global telah disepakati awal hari kalender Islam adalah maghrib, walau ada sekelompok ummat Islam di Libya menjadikan fajar sebagai awal hari karena terkait dengan kewajiban puasa mulai saat fajar. Tetapi saya kira awal hari sejak fajar hanya dalam konteks ibadah puasa.

 

7. Awal Bulan Kalender Hijriyah

Astronomi menyebut pergantian fase bulan sebagai “newmoon” (ijtimak geosentrik) hanyalah definisi astronomi, BUKAN dimaksudkan untuk implementasi pada kalender bulan. Masing-masing komunitas mempunyai definisi sendiri-sendiri. Kalender Hindu, Budha, dan Kalender Islam mempunyai definisi atau kriteria awal bulan masing-masing yang juga dipelajari dalam astronomi, khususnya dalam kajian Archeo-astronomy. Tidak bisa konsep astronomi tentang “newmoon” diterapkan dalam kajian masing-masing kalender itu. Itu sebabnya setiap kalender mempunyai kriterianya sendiri.

Karena awal hari dan awal bulan dalam kalender Hijriyah bermula dari saat maghrib, maka saat pergantian hari dan bulan adalah pada saat maghrib, BUKAN saat newmoon. Astronomi bisa menghitungkan awal bulan dengan kriteria yang disepakati oleh suatu komunitas. Agar hasil hitungan oleh komunitas pengamal hisab itu sama dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh komunitas pengamal rukyat, maka kriteria yang digunakan astronomi adalah kritreia yang berdasarkan visibilitas hilal. Itu sepenuhnya saintifik astronomi.

 

8. Hasil Hisab juga Bisa Beda

Hasil hisab beda karena modelnya beda. Perbedaan paling jelas antara hisab taqribi (aproksimasi) dan hisab hakiki (sesungguhnya). Hisab taqribi hanya menggunakan model sederhana, tinggi bulan dalam derajat = 1/2 umur bulan dalam jam. Misalkan, ijtimak pukul 11.00 dan maghrib pukul 18.00, maka umur bulan 8 jam. Jadi secara taqribi tinggi bulan 8/2 = 4 derajat. Hasil hisab taqribi berbeda jauh dari hisab hakiki. Model hisab hakiki kini sangat presisi, namun masih terus disempurnakan.

 

9. Perbedaan Bukan Hanya pada Kalender Islam

Kalender adalah produk perhitungan astronomi, bukan hasil rukyat. Sistem kalender pada semua komunitas bergantung pada 3 aspek: kriteria, batas wilayah, dan otoritas.

Dalam kalender Masehi, kriteria Julius di Inggris dengan otoritas Raja Inggris dan kriteria Gregorius di Roma dengan otoritas Paus Gregorius Natalnya berbeda 12 hari. Budha di Singapura dan Malaysia Waisak dengan kriteria hari saat purnama, maka jatuh pada 13 Mei 2014. Di Nepal 14 Mei. Di Indonesia 15 Mei. Perbedaan muncul karena beda kriteria bulan purnama di masing-masing wilayah. Hal yang sama terjadi pada kalender Hijriyah yang berbeda karena perbedaan kriterianya.

Kalender Masehi berhasil menyatukan kriteria dan mendefisiniskan batasnya. Kalender Imlek (kalender bulan Tiongkok) juga berhasil menyatukan kriteria dengan mengikuti satu otoritas di Tiongkok. Kini sedang diupayakan menyatukan kriteria kalender Hijriyah dengan otoritas tunggal.

 

10. Penyatuan Kalender Perlu Kesepakatan

Kata kuncinya adalah adanya KESEPAKATAN. Kesepakatan tidak bisa sepihak, harus 3 pihak : pemerintah (negara atau global), fuqaha, dan astronom/pakar hisab-rukyat. Itu sebabnya saya dan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama selalu mengajak perwakilan 3 pihak itu untuk mencari titik temu menuju kesepakatan. Kementerian Agama mewakili unsur pemerintah. LAPAN sesuai tugas dan fungsinya mendukung unsur pemerintah dan astronom. MUI mewakili unsur fuqaha. Ormas-ormas Islam mewakili unsur fuqaha dan pakar hisab-rukyat. Observatorium Bosscha, planetarium, dan astronom amatir mewakili unsur astronom/pakar hisab-rukyat.

Substansi kesepakatan itu mencakup otoritasnya, batas wilayahnya, dan kriterianya. Yang relatif paling mudah, dimulai dari kesepakatan lokal (negara), lalu diperluas ke tingkat regional (misalnya ASEAN atau MABIMS — Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), lalu diperluas global. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/01/06/kalender-hijriyah-bisa-memberi-kepastian-setara-dengan-kalender-masehi/