Memahami Penentuan Awal Bulan dan Menyikapi Potensi Perbedaan: Kasus Dzulhijjah-Idul Adha 1434


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat

Astronomi mudah mengenali potensi perbedaan hari raya dengan menggunakan data hisab dan kriteria penentuan awal bulan yang digunakan oleh ormas-ormas Islam di Indonesia. Potensi perbedaan pada tahun 1434 telah diuraikan di blog saya ini, salah satunya adalah potensi perbedaan penentuan awal Dzulhijjah dan Idul Adha. Untuk memahami sumber perbedaan penentuan awal bulan dan cara menyikapinya, perlu difahami hisab (perhitungan) astronomi, kriteria penentuannya, dan upaya penyatuannya.

Hisab Astronomi

Secara umum hisab astronomi terbagi menjadi hisab global dan hisab lokal. Hisab global adalah hitungan posisi bulan dan parameter lainnya secara global sehingga mudah melihat garis tanggalnya menurut kriteria yang dipilih. Hisab lokal adalah hitungan posisi bulan untuk wilyah pengamatan tertentu, terutama lokasi rujukan (markaz), seperti Pelabuhan Ratu. Hisab lokal sangat membantu upaya rukyat (pengamatan) oleh para pengamal rukyat. Berikut ini hasil hisab global dan hisab lokal dengan menggunakan perangkat lunak “Accurate Time” Odeh dan perangkat lunak lainnya.

Dzulhijjah-1434-tinggi-bulan

Dzulhijjah 1434

Hisab global menunjukkan pada saat maghrib 5 Oktober, di wilayah Indonesia (dan juga di Arab Saudi) tinggi bulan telah di atas ufuk. Di Indonesia ketinggian bulan sekitar 1,3 – 3 derajat. Dengan menggunakan kriteria wujudul hilal seperti dilakukan Muhammadiyah dan kriteria ketinggian minimal 2 derajat seperti dilakukan oleh NU, kalender Dzulhijjah 1434 bermula pada 6 Oktober, sehingga Idul Adha pada kalender jatuh pada 15 Oktober 2013. Namun, kalau menggunakan kriteria Odeh (arsir biru, magenta, dan hijau) atau kriteria LAPAN (2010) yang mensyaratkan beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (seperti yang dilakukan ormas Islam Persis), maka pada saat maghrib 5 Oktober 2013 bulan tidak mungkin terlihat, sehingga awal Dzulhijjah pada kalender jatuh pada 6 Oktober 2013 dan Idul Adha pada kalender jatuh pada 16 Oktober 2013.

Data Hisab Pelabuhan Ratu 5 Okt 2013-a

Hisab lokal untuk markaz Pelabuhan Ratu secara spesifik menunjukkan data sebagai berikut: Tinggi bulan 2 derajat 42′. Beda tinggi bulan-matahari (relative altitude) 3 derajat 39′. Jarak sudut (elongasi) bulan-matahari 4 derajat 51′. Posisi bulan seperti itu telah memenuhi kriteria wujudul hilal dan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) 2 derajat, tetapi itu masih dianggap terlalu rendah menurut kriteria Odeh dan kriteria LAPAN (2010).  Karena belum adanya kriteria tunggal yang disepakati,  ketika posisi bulan berada di antara berbagai kriteria itu, maka potensi perbedaan akan terjadi. Bagaimana menyikapinya?

Utamakan Persatuan Ummat

Bagaimana menyikapi potensi perbedaan seperti itu? Mari kita utamakan persatuan ummat dalam arti persatuan yang hakiki, bukan sekadar persatuan semu “saling menghargai perbedaan”. Penyatuan kalender dan hari raya punya makna syiar yang luar biasa, sebagai simbol persatuan ummat. Untuk mewujudkan persatuan ummat, terkait dengan kalender dan hari raya, harus terpenuhi tiga syarat: (1) ada otoritas tunggal, (2) ada batas wilayah yang jelas, dan (3) ada kriteria tunggal yang disepakati. Syarat (1) dan (2) telah ada. Pemerintah RI yang diwakili Menteri Agama secara de facto telah berperan sebagai otoritas tunggal yang diindikasikan oleh ditaatinya hari-hari libur nasional yang ditetapkannya.  Batas wilayah pun semua ormas Islam telah sepakat untuk menjadikan negara kesatuan Republik Indonesia sebagai suatu kesatuan waktu tanggal, walau ada yang menginginkan perluasan secara global. Tinggal selangkah lagi kita menuju penyatuan kriterianya.

Dalam kaidah Islam, kalau kita belum bisa menyempurnakan seluruhnya, maka kita harus mengambil yang mudharatnya paling ringan.  Bersikukuh pada kriteria masing-masing ormas Islam hanya akan menyebabkan perbedaan makin nyata.  Penyatuan kriteria masih memerlukan dialog dan edukasi yang diharapkan tidak terlalu lama lagi bisa tercapai. Oleh karenanya, dua kesepakatan yang telah ada kita jadikan basis membina persatuan ummat. Sidang itsbat yang difasilitasi Kementerian Agama hendaknay dijadikan sebagai forum musyawarah untuk mendapatkan kata sepakat pelaksanaan hari raya. Demi persatuan ummat, mari kita sepakati Pemerintah yang diwakili Menteri Agama sebagai otoritas yang menetapkan hari raya. Apalagi hal itu telah difatwakan MUI pada 2004.

Jadi, kalau pun kalender ormas-ormas Islam ada yang berbeda, marilah kita bersepakat untuk menjadikan keputusan Pemerintah yang dihasilkan dari musyawarah sidang itsbat dapat menjadi acuan. Dalam kasus Idul Adha 1434, marilah kita ikuti saja keputusan Pemerintah dalam menetapkan Idul Adha: 15 Oktober atau 16 Oktober. Persatuan ummat harus kita utamakan.

79 Tanggapan

  1. Persatuan umat? Setahu saya umar Islam dan bangsa Infonesia saat ini bersatu dan baik-baik saja Pak. Apakah Bp lupa bahwa negeri kita menjunjung tinggi prinsip bhinneka tunggal ika? Apakah Bp lupa bahwa Alloh swt menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan saling menghancurkan?

    Bersatu bukan berarti penyeragaman dg menghancurkan karakter khas masing-masing ormas. Justru dg dengan persatuan itu, karakter masingmasing dipertahankan dg membangun sikap saling menghormati.

    • Pak Prof. Thomas menerapkan standar ganda rupanya. Bapak melarang rakyat mengatakan praktik rukyat sbg bukti keterbelakangan umat, tetapi Bp secara bebas mengatakan bahwa Muhammadiyah terbelenggu dg hisab wujudul hilalnya yg tanpa dasar baik secara syari’i maupun sains. Ada apa gerangan? Dg melihat bahwa baik praktik rukyat maupun hisab didasarkan pd ajaran Islam, maka itu semua dilakukan sbg bentuk keyakinan. Bp mengatakan Muhammadiyah terbelenggu karena keyakinan Bp seperti itu. Dan Jk ada rakyat yg meyakini bahwa praktik rukyat itu sbg bukti keterbelakangan umat seharusnya juga dihargai.

  2. Pak Thomas yang saya kagumi,
    Disatu sisi Bapak menyatakan ingin berupaya mencerdaskan umat, namun dalam kenyataannya perilaku Bapak justru mencerminkan kejumudan dengan mendukung metode penentuan hari raya yang mendadak sebagaimana yang dipraktikan oleh umat jaman dulu.
    Bapak sudah menjelaskan melalui tulisan diatas sebuah metode canggih untuk menentukan hari raya dengan bantuan komputerisasi namun nantinya kecanggihan metode perhitungan tersebut akan sirna karena akan dibandingkan dengan cara manual. Bahkan hasil dari perhitungan yang telah dilakukan secara canggih tadi bisa saja akan dianulir oleh hasil yang dilakukan secara manual. Menurut saya ini adalah sebuah ironi dan merupakan langkah mundur. Saya membayangkan kecangihan ilmu astronomi menjadi mubazir karena dihadapkan pada pendekatan manual. Bukankah ini adalah kecanggihan yang dibelenggu oleh kejumudan?
    Janganlah kita ingin mengedepankan persatuan umat namun dengan mengorbankan kecerdasan umat. Bahkan jika demikian, hal ini tidak layak untuk disebut sebagai pengorbanan, melainkan adalah sebuah kekalahan umat atas peradaban.
    Apapun kriteria hisabnya, sebaiknya jangan lagi menentukan hari raya pada H-1. Bukankah penentuan hari raya sudah bisa dilakukan pada H-365?
    Kalau Bapak berani mengatakan bahwa wujudul hilal adalah metode usang, maka Bapak juga harus lebih berani mengatakan dengan lantang bahwa menentukan hari raya pada H-1 adalah lebih usang lagi.
    Wasalam,
    Senen

    • Kalau kriteria sama berbasis visibilitas hilal, penentuan tanggal H-365, bahkan H-1000000000000000000000000000, akan sama dengan H-1. Secara astronomi hisab dan rukyat setara, sehingga hisab H-n akan sama hasilnya dengan rukyat H-1, kalau kriterianya sama. Persoalan wujudul hilal dan imkan rukyat, hanyalah persoalan menyatukan kriteria, bukan persoalan hisab vs rukyat.

      • Bapak Prof. Thomas boleh saja bilang begitu. Tapi faktanya, selama ini tanggal 1 Ramadhan dan Syawal selalu diputuskan pd H-1. Bapak tidak pernah mengarahkan bgm agar itu diputuskan jauh-jauh hari. Jd pernyataan Bp itu tdk ada maknanya sama sekali.

      • Pemerintah (dan komunitas astronomi) menghargai kenyataan di masyarakat adanya pengamal rukyat dan pengamal hisab. Bagi pengamal hisab, penentuan bisa dilakukan jauh-jauh hari. Tetapi bagi pengamal rukyat, penentuan dilakukan saat tanggal 29 bulan qamariyah, yang bisa berarti H-1 atau H-2. Tidak mungkin rukyat dilakukan jauh-jauh hari, tetapi bisa diprakirakan jauh-jauh hari dengan menggunakan kriteria visibilitas (imkan rukyat) hilal. Pemerintah dan komunitas astronomi berupaya mempersatukan KEPUTUSAN pengamal hisab dan pengamal rukyat dengan mempersatukan kriterianya. Kriteria wujudul hilal akan bermasalah pada saat bulan rendah. Diupayakan untuk mencapai kesepakatan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) pada aplikasi hisab dan rukyat. Dengan hisab imkan rukyat, hasil hisab jauh-jauh hari akan sama hasilnya dengan hasil rukyat pada H-1 (atau H-2).

      • Upaya Bp dkk tentu patut diapresiasi. Tapi sekiranya upaya itu gagal, tentu kita semua perlu memahaminya juga.

        Para pengamal hisab tidak pernah menggunakan kata memprediksi kapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal, tapi “menetapkan”. Penetapan tsb bersifat final. Sementara bagi pengamal rukyat, itu dipandang sbg prediksi.

        Terkait penyatuan kriteria, kenyataannya kriteria 2 derajad itu tidak menjamin hilal akan tampak dan itu diketahui oleh para pengamal hisab. Di situ salah satu letak kesulitannya. Jadi wajar jk mereka menolak.

      • Dalam beberapa kali pertemuan, krietria 2 derajat sudah akan diganti dengan krietrai astronomi. Wakil NU akhirnya menyarankan mempertahankan kriteria 2 derajat, karena ada ormas yang masih bertahan dengan WH. Kalau kriterianya diubah lebih tinggi, sesuai kriteria astronomi, para peserta musyawarah khawatir perbedaan akan makin sering terjadi. Jadi itu mengubah kriteria buakn masalah bagi para pengamal rukyat (yang sebenarnya juga pakar hisab).

      • Upaya Bp dkk tentu patut diapresiasi. Tapi sekiranya upaya itu gagal, tentu kita semua perlu memahaminya juga.

        Para pengamal hisab tidak pernah menggunakan kata memprediksi kapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal, tapi “menetapkan”. Penetapan tsb bersifat final. Sementara bagi pengamal rukyat, itu dipandang sbg prediksi.

        Terkait penyatuan kriteria, kenyataannya kriteria 2 derajad itu tidak menjamin hilal akan tampak dan itu diketahui oleh para pengamal hisab. Di situ salah satu letak kesulitannya. Jadi wajar jk mereka menolak.

      • Dan yg menggunakan WH tetap bertahan dg pendekatan tsb karena itu bagian dari keyakinannya. Jadi sdh tidak ada masalah sebenarnya. Yg yakin dg kriteria, berketetapan dg itu. Yg yakin dg WH juga sama. Begitu pun dg komunitas muslim adat dan tarekat naqsyabandiyyah. Warna-warni tsb menurut saya perlu disyukuri.

      • Pak Djamal, terima kasih atas tanggapan Bapak,
        Saya memahami bahwa ini memang bukan masalah perbedaan hisab dengan rukyat karena hisab dan rukyat setara. Namun ketika penetapan hari raya dilakukan pada H-1 (dengan segala konsekuensi berupa: kebingungan umat, kesan keterbelakangan peradaban umat, dsb), Pemerintah terkesan lebih condong kepada praktik rukyat daripada hisab. Bagaimana jika sekali-kali gantian biar sedikit adil: Pemerintah menetapkan hari raya jauh hari sebelumnya berdasarkan hisab IR, misal setiap awal tahun tanggal 1 Muharram melalui sidang isbat (yang diusahakan agar dihadiri Muhamadiyah juga)? Sidang isbat pada H-1 / H-2 untuk sementara ditiadakan. Jaminannya adalah hasil hisab pasti sama dengan RH. Dengan catatan bahwa RH tetap boleh diamalkan namun tidak perlu demonstratif dan hasilnya tidak ditujukan untuk dipakai dalam penetapan hari raya keesokan hari, melainkan sebatas sebagai tambahan input database observasi. Bersediakan Pemerintah melakukan eksperimen ini sekali saja pada tahun baru tanggal 1 Muharram 1435 yad? Nanti kita lihat hasil eksperimen tersebut untuk dievaluasi bersama. Karena ada timbal balik berupa penetapan hari raya jauh hari sebelumnya, kita harapkan Muhamadiyah bersedia juga untuk turut berpartisipasi dalam eksperimen ini dengan menerima IR sebagai pengganti WH, sekali itu saja. Jika hasil eksperimen ini sesuai dengan harapan kita bersama, maka penetapan hari raya pada setiap tahun baru tanggal 1 Muharram semacam ini agar diupayakan untuk bisa dilanjutkan menjadi praktik yang tetap.
        Terima kasih Pak Djamal, semoga usulan eksperimen ini bisa Bapak pertimbangkan.
        Wasalam

      • Jangan menyebut rukyat dengan “kesan keterbelakangan pedaradaban umat”, karena rukyat sangat sesuai dengan astronomi modern dan menjadi tantangan bagi para astronom untuk mengamati hilal.
        Itsbat adalah penetapan atas hasil rukyat yang tidak mungkin diadakan sebelum ada rukyat. Kalau sekadar musyawarah, setiap tahun Kementerian Agama melaksanakan Temu Kerja Hisab Rukyat yang dihadiri semua Ormas Islam (termasuk Muhammadiyah) yang hasilnya menjadi dasar penyusunan Taqwim Standar (kalender Hijriyah rujukan) yang menjadi salah satu dasar pembuatan SK 3 Menteri tentang hari-hari libur nasional. Tim Hisab Rukyat dari semua ormas (termasuk pakar hisab dari NU) ditugasi menghitung awal bulan dengan berbagai metode sampai 10 tahun kedepan.

      • Mohon maaf Pak Thomas, saya tidak menyinggung kaitan antara RH dengan kesan keterbelakangan umat. Yang saya singgung adalah tentang penetapan hari raya pada H-1 / H-2, yang menurut saya adalah merupakan perilaku yang sudah usang yang mencerminkan keterbelakangan umat. Bapak sependapat atau tidak bahwa ini perilaku usang? Mohon jawabannya Pak Thomas, iya atau tidak? Apakah masih ada umat selain umat Islam di era modern ini yang masih mengamalkannya? Apalagi ketika Bapak sampaikan bahwa Temu Kerja Hisab Rukyat mampu menghasilkan taqwim standar untuk menghitung kalender 10 tahun kedepan, mengapa bukan hasil ini saja yang dijadikan sebagai dasar penetapan hari raya pada jauh hari sebelumnya tanpa harus menunggu hasil RH dikemudian hari? Bukankah hasil hisab akan sama dengan hasil RH? Bukankah irony ketika kita telah menguasai ilmu hisab modern namun masih mempertahankan perilaku usang. Ini logika sederhana saja Pak, tidak perlu logika astronomi tingkat tinggi.

        Bisakah Bapak bayangkan betapa lugunya tampang para jamaah di masjid ketika sedang menunggu pengumuman apakah malam ini sudah mulai tarawih atau belum. Atau bayangkan juga tampang polos jamaah di masjid ketika sedang menunggu pengumuman apakah malam ini sudah mulai takbir apa belum? Setidaknya kami harus rela untuk sia-sia menunggu penetapannya oleh Pemerintah dengan proses protokoler yang bertele-tele hingga sekitar jam 20.00 WIB. (Saya katakan sia-sia menunggu karena hasilnya sudah diketahui sejak awal). Belum lagi umat di wilayah WITA dan WIT yang harus menunda pelaksanaan tarawih atau takbir lebih malam lagi (jam 21.00 WITA dan jam 22.00 WIT alias sudah tambah ngantuk). Inilah gambaran kebingungan umat yang dapat disaksikan bersama oleh masyarakat luas. Hal ini memang kelihatan sepele Pak, tapi itulah potret umat Islam saat ini yang masih berkutat dengan permasalahan yang remeh temeh. Ini yang saya kritisi sebagai kekalahan umat atas peradaban modern. Padahal bukankah Quran dan Hadits baik secara implisit maupun explisit justru merangsang umat manusia untuk mengetahui bilangan tahun dengan hisab? Sekali lagi saya sampaikan bahwa ini bukan berarti RH dilarang, hanya saja agar pelaksanaannya dilakukan secara terbatas dan tidak demonstratif serta hasilnya hanya dimanfaatkan untuk menambah input database observasi dalam rangka penyempurnaan metode hisab dan tidak dijadikan sebagai dasar penetapan hari raya secara mendadak.

        Satu hal lagi mengenai pernyataan Bapak bahwa rukyat hilal masih dianggap sebagai tantangan oleh astronomi modern, bukankah pengetahuan tentang peredaran bumi, bulan dan matahari saat ini relatif sudah final? Lain halnya dengan merukyat benda langit nun jauh di galaxi lain yang tepat jika masih disebut sebagai tantangan ilmu astronomi modern.

        Untuk itu saya mohon kepada Bapak sebagai salah seorang pakar astronomi modern untuk mendobrak perilaku usang penetapan hari raya pada H-1/H-2, (bukan RH nya yang saya sebut usang), bukan malah sebaliknya mendukungnya. Mohon dipertimbangkan eksperimen yang saya usulkan ini dan nanti dilihat dan dievaluasi bersama hasilnya. Mana yang lebih didambakan oleh umat, penetapan hari raya di awal waktu atau di kemudian hari?
        Terima kasih atas tanggapan Bapak.
        Wasalam Wr. Wb.

      • Konteks pembahasan ini masih seputar hisab (IR) dan rukyat yang setara dan bukan tentang hisab (khususnya WH) vs rukyat yang belum tentu setara. Untuk sementara WH diabaikan.

        Menetapkan hari raya secara mendadak pada H-1/H-2 merupakan cerminan perilaku rukyat (meskipun sebelumnya tentu diawali dengan melakukan hisab). Sebaliknya, menetapkan hari raya pada jauh-jauh hari sebelumnya adalah cerminan dari perilaku hisab. Sebab setelah berhasil menguji dan meyakini model hisabnya secara final, para pendukung hisab tidak akan pernah merasa perlu lagi untuk mencocokkan hasil hisab dengan hasil rukyat setiap saat karena sejak awal sudah meyakini bahwa hasil antara hisab dan rukyat akan selalu sama dan setara. Kalaupun harus melakukan RH, hasilnya pun hanya akan dimanfaatkan untuk dokumentasi dan tambahan database observasi. Jadi, baik hisab maupun rukyat hanyalah “sarana” mencapai tujuan, adapun tujuannya sendiri adalah berupa “keputusan penetapan hari raya”. Selanjutnya, hisab merupakan sarana untuk mencapai tujuan berupa penetapan hari raya di awal waktu , adapun rukyat merupakan sarana untuk mencapai tujuan berupa penetapan hari raya pada H-1/H-2.

        Oleh karena itu, ketika Bapak mengatakan bahwa hisab dan rukyat setara namun dalam praktiknya Bapak hanya mendukung praktik penetapan hari raya dengan menunggu hasil rukyat pada H-1/H-2, maka disadari atau sesungguhnya Bapak telah menggugurkan kesetaraan antara hisab dan rukyat. Dalam hal ini Bapak condong untuk berat sebelah kepada salah satu kubu yakni penganut rukyat dengan mengabaikan pendukung hisab. Artinya apa yang Bapak ucapkan berbeda dengan apa yang Bapak lakukan.

        Jika memang ingin benar-benar adil, sekali waktu Bapak bisa saja melakukan gebrakan dengan memberikan dukungan kepada Pemerintah untuk menentukan hari raya jauh-jauh hari sebelumnya. Bapak bisa turut menjelaskan bahwa masyarakat astronomi menghormati para pendukung hisab yang memang tidak memerlukan hasil rukyat sebagai dasar penetapan hari raya. Dan demi persatuan umat, Bapak dapat menghimbau kepada para pendukung rukyat untuk dapat menerima keputusan penetapan hari raya di awal waktu ini, sambil tetap mempersilakan mereka untuk untuk melakukan RH secara terbatas dan tidak demonstratif. Bukankah para pendukung rukyat yang menguasai ilmu hisab pasti tidak akan ragu lagi untuk menerima penetapan hari raya di awal waktu dengan segala manfaatnya, serta dengan dasar dalil aqli maupun naqlil nya?

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Jamaah di masjid yg menunggu keputusan sidang Istbat terlihat lugu dan polos karena mereka dengan tulus ikhlas mengamalkan dalil2 syar’i yaitu tuntunan dalam Al Qur’an dan Hadist Nabi Muhamad SAW yang salah satunya adalah HR Bukhari,Muslim no.653 yg memberi tuntunan agar menentukan awal bulan qomariah dengan cara “melihat hilal” (rukyatul hilal).
        Mereka taat dan tidak merasa terbebani untuk mengamalkan dalil2 syar’i berkenanaan dan dalam hati mereka tidak pernah terbersit sedikitpun untuk mencari2 alasan agar bisa mengindari Hadist berkenaan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Bp Bambang Supriadi, dari mana Bp tahu bahwa masyarakat di kawasan Indonesia Timur yg menunggu pengumuman sidang isbat itu tidak terbebani? Apakah Bp pernah hidup di sana? Apakah Bp pernah bertanya kpd mereka? Jangan-jangan pendapat Bp itu dibuat asal saja, tanpa dasar yg benar?

      • Pak Bambang, hadits RH itu punya illat, coba ditelaah lagi. Baca jg tulisan Pak Thomas tentang dalil Quran ttg hisab. tantangan umat islam skrg adl memerangi kejahilan modern

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Memang benar saya tidak pernah bertanya2 kepada jamaah masjid yg menunggu keputusan sidang istbat, itu hanya perkiraan saya saja, semoga tidak meleset.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Akan lebih baik sesekali waktu Bp Bambang ke Indonesia Timur, pd H-1 atau H-2 lebaran. Agar Bp bisa merasakan situasi di sana.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Saya merasa tidak perlu ke Indonesia Timur, karena perkiraan saya sudah final, jadi tidak perlu dibuktikan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Assalamu’alaikim wr.wb.
        Yth. Pak Uncsle, mengapa saya diminta kembali menelaah illat hadist RH dan membaca tulisan Pak Thomas tentang dalil Qur’an ttg hisab.
        Apakah ada postingan saya yang tidak sejalan dg kedua hal diatas.
        Mohon disampaikan secara rinci satu persatu.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Itulah yg namanya keyakinan. Dijelaskan 1000 kali pun tetap begitu. Diingatkan bgm kepenatan umat Islam di kawasan Indonesia Timur saat menunggu hasil sidang isbat pun, tetap begitu. Yg namanya keyakinan, tentu patut dihormati. Dan bersyukurlah rakyat Indonesia karena masih ada ormas yg berani membuat terobosan utk menentukan lebaran jauh-jauh hari dan berbiaya murah. Itu bisa menjadi alternatif dalam menentukan lebaran, bagi umat Islam yg keberatan dg praktik rukyat.

        Bayangkan jika 100% umat Islam menentukan lebaran pd H-1 atau H-2, dengan biaya milyaran rupiah namun hasilnya justru seringkali meragukan, mau jadi apa Indonesia ke depan?

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Keyakinan saya mengatakan bahwa sebagian besar umat Islam selalu taat dengan tulus ikhlas mengamalkan dalil2 syar’i yaitu tuntunan dalam Al Qur’an dan Hadist Nabi Muhamad SAW, sehingga tidak mungkin akan mengabaikan dan mengingkari salah satu dalil syar’i.
        Dan ini juga keyakinan final yg tidak akan bisa diubah.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Apakah jika sudah final masih bisa diubah?
        Saya juga punya keyakinan final bahwa semua umat Islam pada dasarnya taat dan tulus ikhlas mengamalkan dalil syar’i karena siapa yg taat akan mendapat syafaat dunia akhirat.
        Namun karena sesuatu hal ada yang terpaksa ikut2an mengabaikan dan mengingkari HR Bukhari,Muslim no.653 ttg penetapan awal bulan qomariah, semoga mereka ini bisa juga berubah dan menyadari kekeliruannya, aamiin.
        Wassalamu’alaikummwr.wb.

      • Ciyus…..

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Blog ini adalah forum yg serius (ciyus) yaitu berbagi ilmu untuk pencerahan dan inspirasi, jadi dalam diskusi saya musti menyampaikan postingan yang serius (ciyus).
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

  3. Secara tidak langsung, Prof. Thomas ingin mengatakan bahwa persatuan bangsa Indonesia selama ini, yg mana itu mengandung prinsip bhineka tunggal ika dan menuntut warga Indonesia utk bisa saling menghormati antar latar belakang rakyat yg berbeda-beda, adalah persatuan yg semu.

  4. Assalamualaikum wr.wb.
    Sejak saya mengenal kalender, setiap tahun libur lebaran selalu 2 hari yaitu hari ke 30 bulan qomariah berjalan dan hari berikutnya.
    Hal tersebut disebabkan karena Pemerintah menetapkan libur lebaran berdasarkan hasil hisab dari semua pihak dimana ada pihak yg menetapkan awal bulan qomariah pd hari ke 30 bulan qomariah berjalan dan ada yg menetapkan awal bulan qomariah pd hari berikutnya.
    Oleh karena itu, untuk memastikan hasil hisab mana yg benar maka dilakukan rukyat dan sidang Istbat agar masyarakat tahu kapan akan berlebaran.
    Pelaksanaan rukyat tersebut sudah tentu berdasarkan Hadist Nabi Muhamad SAW ttg awal bulan qomariah yg wajib diIMANi oleh umat Islam karena merupakan bagian dari Rukun Iman yg merupakan tiang agama, yaitu “pada saat langit tidak tertutup awan” untuk menetapkan awal bulan qomariah harus dilakukan dengan rukyat untuk membuktikan keterlihatan hilal.
    Jika pada waktu rukyat di hari ke 29 bulan berjalan saat magrib terlihat hilal maka boleh berlebaran, sedangkan jika hilal “tersembunyi darimu” maka bulan berjalan harus digenapkan menjadi 30 hari dan baru boleh berlebaran esok harinya.
    “Pada saat langit tertutup awan” awal bulan qomariah dapat berpedoman pada hasil hisab yg telah ditetapkan sebelumnya.
    Subhanallah, disinilah letak kearifan Nabi Muhamad SAW yg dg tegas memberi petunjuk bagaimana cara menetapkan awal bulan qomariah karena beliau sudah memperkirakan akan muncul banyak “ahli hisab” namun dengan metode yang berbeda2 dan hasil hisab yg berbeda pula sehingga jika tiap ahli hisab tetap berasikukuh dg metode dan hasilnya masing2 maka untuk membuktikan kepada masyarakat mana hasil hisab yang benar harus dilakukan rukyat.
    Disamping itu, pelaksanaan rukyat dan sidang Istbat juga akan menjadi dakwah Islamiah apalagi jika dikembangkan menjadi uphoria dg memasang kamera on-line disetiap lokasi pengamatan hilal yg dihubungkan ke stasiun televisi sehingga masyarakat bisa ber-ramai2 menyaksikan proses terlihatnya hilal.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    • Bagi yg meyakini rukyat sebagai satu-satunya cara memutuskan kapan lebaran pd H-1, tentu itu harus dihargai. Apalagi bagi yg sudah yakin mampu menetapkan kapan lebaran jauh-jauh hari. Dalam negara demokrasi seperti Indonesia, kritik bisa saja muncul ketika penyelenggaraan rukyat lantas memakai uang negara, padahal uang negara itu tidak saja berasal dari pajak rakyat yg mengamalkan rukyat, tapi juga dari rakyat yg sudah mampu memutuskan lebaran jauh-jauh hari (pengamal hisab), bahkan juga dari umat Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu. Sangat wajar jika praktek rukyat pd H-1 selalu menuai kritik.

      • Assalamualaikum wr.wb.
        Hadist Nabi Muhamad SAW tentang penetapan awal bulan qomariah yang saya pelajari adalah :
        1. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.653 :
        Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah ketika menyebut Ramadan bersabda : Jangan puasa sehingga kalian melihat hilal (bulan sabit) dan jangan berhari raya sehingga melihat hilal, maka jika tertutup awan, maka perkirakanlah.
        2. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.656 :
        Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berhari rayalah kalian karena melihat hilal, maka jika tersembunyi daripadamu maka cukupkan bilangan Syakban tiga puluh hari.
        Jadi jika untuk menetapkan awal bulan qomariah tidak dilakukan dengan rukyat berarti mengabaikan Hadist tsb dan dapat dikatakan mengamalkan dalil syar’i secara tidak utuh.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Nabi Muhammad juga menentukan waktu fajar dengan rukyat. Menentukan waktu sholat 5 waktu juga dg rukyat. Padahal umat saat inu tidak melakukan itu. Apakah itu berarti kita meninggalkan syariat Islam?

        Nabi Muhammad juga mengamalkan poligami. Tapi saat ini banyak umat Islam yg tidak poligami, bahkan banyak pula yg menpersoalkan hal itu. Apakah itu berarti tdk syariat?

        Jk membaca dalil agama Islam akan lebih baik dicerna baik-baik Pak. Dilihat asbabul nuzulnya dan konteks dalil tsb turun, serta pesan moral yg ada di situ. Sehingga saat diterapkan pd masa kini tidak justru bertentangan dg akal sehat.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Hadist ttg awal bulan qomariah merupakan perintah yg tersurat secara teknis dan spesifik, sedangkan jadwal sholat dan poligami tidak secara tersurat diperintahkan dalam Hadist.
        Jadi mempedomani jadwal sholat yg disusun berdasarkan hisab berbasis astronomi adalah tdk menyalahi dalil syar’i.
        Dan tidak melakukan poligami juga tidak menyalahi dalil syar’i krn tidak tersurat perintah poligami dalam Hadist.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Pak, sejak kapan Alloh swt dan Rosululloh mengajarkan bahwa haditsnya perlu dibedakan antara yg “tersirat dan spesifik” dan yg bukan. Setelah Khadijah wafat, Rosululloh itu pengamal poligami. Itu fakta. Saat mau sholat 5 waktu, beliau juga melakukan rukyat. Itu juga fakta, terlepas dari spesifik atau tidaknya bunyi hadits beliau. Dan umat Islam saat ini umumnya sudah tidak lagi mengamalkan praktik rukyat saat mau sholat karena sudah ada jam.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Nabi Muhamad memang pengamal poligami, tetapi beliau tidak pernah memerintahkan umat Islam berpoligami, jadi kalau mampu berpoligami silahkan, dan jika tidak berpoligami juga tidak menyalahi dalil syar’i.
        Sedangkan praktik rukyat jadwal waktu sholat, Nabi Muhamad SAW mengamalkannya, tetapi tidak pernah memerintahkan melakukan rukyat jadwal sholat, jadi kalau umat Islam mempedomani jadwal sholat hasil hisab berbasis astronomi maka itu tidak menyalahi dalil syar’i.
        Dan praktik rukyat thd hilal utk menentukan awal bulan qomariah, Nabi Muhamad SAW juga mengamalkan dan khusus mengenai hal ini jelas2 Nabi Muhamad SAW memeritahkan “melihat hilal” utk menentukan awal bulan qomariah jika langit tidak tertutup awan dan hasil hisab baru bisa dipedomani jika langit tertuup awan. Jadi jika untuk menentukan awal bulan qomariah hanya kenggunakan hisab dan mengabaikan rukyat maka sama dengan mengamalkqn dalil syar’i secara tidak utuh.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Bp Supriadi lagi-lagi mencampuradukkan antara apa yg tertulis dalam hadits nabi dan apa yg ada dalam diri Bp. Bp mengatakan bahwa pengamal hisab yg tidak mengamalkan rukyat berarti pengamalan dalil syar’i nya tidak utuh. Apakah ada hadits nabi yg mengatakan hal itu Pak? Jangan-jangan itu hanya penilaian pribadi Bp saja yg tidak siap menerima perbedaan pendapat di masyarakat.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Mengenai “tersirat dan spesifik”, yg saya maksudkan adalah “TERSURAT dan spesifik” yaitu perintah “melihat hilal” (rukyat) itu jelas2 disebut dalam Hadis berkenaan dan bukan berdasarkan penafsiran2.
        Jadi utk hal2 yg perintahnya tidak secara jelas disebut dalam Hadist spt poligami umat Islam bebas memilih dan jadwal sholat bisa menggunakan hasil hisab berbasis astronomi, dimana keduanya tidak menyalahi dalil syar’i.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Masalahnya, praktik rukyat hilal seperti dalam sidang isbat itu tidak sama persis dg rukyat zaman nabi Pak. Jadi Bp tidak bisa mengatakan bahwa rukyat pd sidang isbat itu 100% sama dg hadits yg Bp maksud. Di situ Sudah ada penafsirannya. Jika Bp ingin sama persis dg rukyatnya nabi, sebaiknya Bp lakukan sendiri saja, melihat hilal pakai mata telanjang. Atau kalau perlu Bp pergi ke Makkah Arab Saudi, tepat di lokasi dahulu Nabi Muhammad hidup dan biasa melakukan rukyat.

    • Assalamu’alaikum wr.wb.

      Apakah dengan pesatnya perkembangan ilmu astronomi menyebabkan harus menanggalkan keIMANan terhadap Hadist Nabi Muhamad SAW tentang penatapan awal bulan yang sangat spesifik ?
      Padalah saya memahami Al Qur’an dan Hadist adalah sebagai sumber dari semua iptek bahkan “ujung” dari pesatnya iptek itu nantinya akan bemuara pada kandungan Al Qur’an dan Hadist yang banyak mengisyaratkan tentang iptek.
      Teori astronomi “big bang” ada diisyaratkan dalam Al Qur’an, teknologi kloning ada diisyaratkan dalam Al Qur’an yaitu cara membangkitkan manusia yg sudah mati dengan mengembangkan tulang ekornya saja setelah kiamat untuk dihisab amal perbuatannya, dan bahkan teori relativitas dari Einstein juga akan berujung pada Rukun Iman yg ke 6 yaitu Qadha dan Qadar, dsb adalah contoh2 bahwa pesatnya perkembangan iptek adalah bukan meninggalkan Al Qur’an dan Hadist, namun justru sebaliknya perkembangan iptek itu akan menuju kepada apa yg diisyaratkan Al Qur’an dan Hadist.

      Untuk hal2 yg tidak diatur secara spesifik dalam dalil syar’i seperti gerhana bulan, gerhana matahari, jadwal sholat, perjalanan ke ruang angkasa, pendaratan di bulan dsb tentang astronomi, pengembangan ipteknya bebas tidak ada batasnya sehingga mempercayai dan mengamalkan temuan2 ilmiah tersebut tidak akan menyalahi dalil syar’i.
      Sedangkan untuk “penetapan awal bulan qomariah”, karena ada Hadist yg secara spesifik mengaturnya, maka ada koridor yg mempersempit pengembangan ipteknya, sehingga penetapan awal bulan qomariah berdasarkan iptek menjadi tidak bebas karena dibatasi oleh dalil syar’i.
      Dan Hadist Nabi Muhamad SAW yg mengatur secara spesifik tentang penetapan awal bulan qomariah adalah Shahih Bukhari,Muslim no.653 yg menegaskan bawa awal bulan qomariah ditandai dg terlihatnya hilal dg mata dan bantuan alat optik jika langit tidak tertutup awan, sedahgkan jika tertutup awan maka boleh digunakan iptek (hisab) untuk memperkirakannya.
      Saya meyakini Al Qur’an dan Hadist bukan sebagai masa lalu yang cenderung usang dan ketinggalan jaman, melainkan justru sebaliknya yaitu bahwa Al Qur’an dan Hadist adalah masa lalu, masa sekarang dan masa depan atau dengan kata lain akan berlaku sepanjang jaman secara universal sebagai pedoman hidup umat muslim.
      Oleh karena itu dalam konteks pesatnya perkembangan iptek saya tetap menempatkan Al Qur’an dan Hadist khususnya dalil syar’i yang spesifik berada diatas dan lebih kuat dari teori-teori iptek.
      Demikian juga terhadap kalender yang dihasilkan melalui hisab yang menggunakan teori-teori astronomi, karena pihak2 yang mempunyai kepandaian hisab hanyalah terbatas namun methode hisabnya ber-beda2, maka hasil hisab yg diaplikasikan dalam bentuk “kalender/almanak/penanggalan” itupun “tidak seragam” tergantung dari metode hisab yg digunakan oleh pihak2 bersangkutan.
      Oleh karena itu, masyarakat yang sebagian besar tidak paham astronomi dihadapkan pada beberapa pilihan untuk diyakininya, sehingga karena perbedaan pengetahuan yg dimilikinya tentang hisab maka jalan yang ditempuh untuk meyakini salah satu hisab yg ada juga berbeda-beda, antara lain :
      1. Taqlid, mengikuti saja apa yang dikatakan oleh yang mereka anggap sebagai pemimpin.
      2. Berusaha mencari tahu dan mempelajari ilmu2 hisab yg ada diseantero dunia dan menentukan pilihan pada hisab yang ter-akurat.
      3. Menuntut “bukti” atas keakuratan metode hisab yang ada, bahwa awal bulan qomariah yang tertera dalam kalender memang sudah bertepatan dengan “terlihatnya hilal”
      4. dsb.
      Saya sebagai salah satu masyarakat awam, dengan segala keterbatasan yg saya miliki berusaha untuk mengenal dan mempelajari metode2 hisab yang ada untuk menentukan pilihan namun sampai saat ini masih belum ada yg dapat saya yakini.
      Jadi untuk sementara, sebagai orang yang ber IMAN dimana Iman itu hanya untuk yg “enam perkara”, maka terhadap selain yang enam perkara tersebut termasuk diantaranya adalah kalender yang merupakan “perkiraan ilmiah” saya juga menghendaki “bukti” atas perkiraan ilmiah berkenaan, dimana bukti nyata atas kalender adalah bahwa setiap awal bulannya selalu bertepatan dengan terlihatnya hilal.
      Jadi saya sama seperti Pak Anwar Muhammad yang juga mengerti betul tentang Hadist Nabi Muhamad SAW yang berkaitan dengan penetapan awal bulan dan tidak akan meninggalkan hadist tersebut.
      Demikian juga mengenai menciptakan alat canggih untuk dapat meneropong hilal yang tersembunyi, hal ini memang tidak menyalahi Hadist Nabi Muhamad SAW, namun demikian sudah tentu saya tidak punya daya melakukan itu sehingga kita percayakan saja pada ahlinya untuk menciptakannya. Dan sementara belum ada alat yang lebih canggih dari alat optik yang ada sekarang maka penetapan awal bulan qomariah seyogyanya tetap berdasarkan hadist berkenaan yaitu ditandai dengan terlihatnya hilal dengan mata dan bantuan alat optik yang ada sekarang. Dengan kata lain bahwa kalender-kalender hasil karya ahli-ahli hisab yang ada harus dibuktikan keakuratannya melalui rukyat.

      Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Pak praktik rukyat seperti yg dilakukan menjelang dan saat sidang isbat seperti yg ada di negara kita sudah “menyimpang” dari tata cara rukyat sebagaimana yg dilakukan Rosululloh semasa hidupnya. Jika itu merujuk pd rukyatnya Rosululloh.

        Rukyat di negara kita memakai teropong, serang nabi pakai mata telanjang. Rukyat di negara kita dilakukan dengan memakai uang rakyat ( uang negara) yg jumlahnya miliaran rupiah. Uang tersebut berasal dari pajak rakyat yg tidak semuanya beragama Islam. Padahal Nabi Muhammad itu uswatun khasanah, suri tauladan yg baik. Beliau tidak suka dg gaya hidup yg boros. Beliau juga tidak pernah melakukan rukyat dg menggunakan uang dari umat muslim pd waktu itu.

      • Assalamu’alaiku,wr.wb.
        Mengenai tata cara rukyat, juga tidak diberi petunjuk secara teknis dalam Hadist, jadi pesatnya perkembangan iptek dapat dimanfaatkan untuk mempermudah pelaksanaan rukyat dari dg mata telanjang hingga menggunakan alat optik terkini.
        Jadi hal ini juga tdk menyalahi dalil syar’i.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Praktik rukyat yg ada saat ini memang tidak menyalahi hadits Rosululloh. Dan hal yg sama juga patut diakui dan dilihat secara jujur terhadap praktik hisab yg juga tidak menyalahi hadits karena itu juga merupakan penerapan dari perkembangan iptek.
        Melihat hilal pd zaman Rosul pakai mata telanjang, lalu pada masa kini ada yg melihat pakai teropong dan ada pula yg melihatnya pakai perhitungan matematika. Jadi sama-sama melihat hilal. Yg berbeda adalah kelompok yg melihat hilal pakai teropong itu menggunakan uang rakyat. Karena mereka memakai uang rakyat, maka harus siap dikritik karena ini era demokrasi.

      • Semua aktivitas yg memakai uang rakyat, harus siap dikritik oleh rakyat.

      • Jk memang praktik rukyat hilal pd H-1 atau H-2 itu bertujuan untuk membuktikan keakuratan hasil hisab, apakah proses pembuktian itu cukup dilakukan beberapa jam, antara jam 6 sampai 8 petang hari? Itu sangat mustahil, terlebih lagi jk pendekatan yg dipakai menggunakan prosedur saintifik. Benarkah saat Rosululloh melihat hilal untuk menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal itu sekaligus untuk membuktikan akurasi hisab sebelumnya? Saya belum pernah mendengar adanya hadits pendukung terkait hal itu. Yg saya tahu bahwa beliau itu belum bisa berhitung. Jadi mana mungkin beliau dapat menguji akurasi hasil perhitungan (hisab) dg melihat hilal?

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Hadist Nabi Muhamad SAW jelas2 menyebutkan bahwa praktek hisab hanya bisa dipakai saat langit tertutup awan dan jika langit tidak tertutup awan maka harus dilakukan praktek rukyat.
        Dan mengenai rukyat sebagai pembuktian atas hisab, itu hanya terjadi saat munculnya ilmu hisab hingga sekarang. Pada jaman Nabi Muhamad SAW bahkan belum ada praktek hisab sehingga hanya digunakan praktek rukyat. Namun demikian Nabi Muhamad SAW sangatlah arif bahwa dikemudian hari akan muncul ahli2 hisab dg metodenya masing2 yg menghasilkan hasil hisab yg berbeda2 sehingga turunlah Hadist yg secara tersurat menyebutkan bahwa penetapan awal bulan qomariah dilakukan dg praktek rukyat saat langit tidak tertutup awan dan jika tertutup awan maka boleh dilakukan praktek hisab.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Bapak cukup “kreatif” dalam memaknai hadits nabi. Bp mengatakan bahwa praktik “hisab” boleh dilakukan jk langit tertutut awan dan hilal tidak dapat dilihat. Tampaknya Bp menyamakan antara kata “genapkanlah” dalam hadits nabi dg “hisab” itu sendiri. Padahal proses perhitungan dalam praktik hisab itu tidak sama dg menggenapkan bilangan. Praktik hisab bahkan bisa memberi kepastian kapan hilal itu muncul dan wujud jauh-jauh hari.

        Pernyataan Bp bahwa Rosululloh itu menginginkan agar para ahli hisab yg muncul di kemudian hari, setelah Rosululloh wafat, mengevaluasi praktik hisabnya dg merujuk pd rukyat itu terlalu berlebihan dan mengada-ada. Rosululloh tidak pernah mengatakan itu. Jk pun ada yg menyampaikan itu, itu tak lebih merupakan hasil penafsiran atas hadits Rosululloh, bukan hadits itu sendiri. Jika penafsiran, maka tiap kelompok masyarakat Islam bisa saja memiliki penafsiran yg berbeda terhadap hadits yg sama.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Sedangkan mengenai proses pembuktian keakuratan hasil hisab dengan rukyat yg berlangsung dr jam 6 hingga jam 8 petang hari itu disebabkan karena hilal muda baru bisa diamati setelah magrib dan seandainya hilal muda terlihat maka posisinya hanya beberapa derajat diatas ufuk sehijgga terlihatnya hilal hanya akan berlangsung beberapa menit karena hilal berkenaan akan segera terbenam diufuk barat mengikuti matahari.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Pengujian akurasi hilal dalam rentang waktu yg begitu singkat sangat sulit dilakukan Pak, terlebih jika sudut ketinggian hilal kecil, misal 2 derajad seperti yg disyaratkan dalam imkanurrukyat. Hal itu dipersulit lagi dg kondisi geografis Indonesia yg tropis dan banyak awan. Itu yg terjadi dalam pemantauan hilal pd tgl 7 Agustus 2013 yg lalu. Dari sekitar 60 lokasi pemantauan, cuma 3 yang melaporkan berhasil melihat hilal antara jam 6-8. Pusat pemantauan terbesar Bosscha bahkan gagal melihat hilal. Belakangan malah Bosscha melaporkan bahwa pihaknya pd tgl 7 Agustus tersebut sebenarnya berhasil melihat hilal, tapi itu terjadi pd sekitar jam 2 siang, tidak pd jam 6-8 petang.

        Praktik rukyat utk melihat hilal pd situasi langit cerah, tanpa awan dan sudut ketinggian hilal yg tinggi bisa memberi kepastian akan terlihatnya hilal, namun jk langit penuh awan penghambat dan sudut hilal rendah maka justru akan membingungkan. Sedang dg praktik hisab, semua kendala itu teratasi, sehingga kepastian tibanya tanggal awal lebaran lebih terjamin, dapat ditentukan jauh-jauh hari, dan lebaran pun bisa disambut dg penuh kekhusyuan dan kedamaian.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Dan mengenai biaya rukyat, sesungguhnya jika untuk dakwah Islamiah, berapapun biayanya itu tidak ada artinya dibandingkan dengan demi tegaknya agama Islam. Bahkan menurut kisah, Siti Khadijah istri Nabi Muhamad SAW merelakan hampir seluruh kekayaannya untuk dakwah, beberapa sahabat Nabi Muhamad SAW juga demikian.
        Namun demikian, jika hasil hisab yg berupa kalender/almanak/penanggalan qomariah dr semua pihak bisa seragam maka praktek rukyat dan sidang Istbat yg dilakukan pemerintah bisa lebih sederhana sehingga biayanyapun dapat diefisienkan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Bapak mengatakan bahwa jk utk dakwah Islam, maka berapa pun biaya yg dikeluarkan tidak masalah. Itu cara berfikir yg keliru dan konyol. Justru jk cara berfikir itu yg dikedepankan, maka nama baik Islam akan tercoreng dan buruk sekali karena itu artinya Islam mengajarkan pemborosan. Uang negara itu bukan hanya berasal dari umat Islam, tapi juga dari umat non Islam. Tidak bisakah umat Islam belajar “malu” terhadap umat lain? Dari sekian banyak agama di Indonesia, sepertinya hanya Islam saja yg hari rayanya ditentukan pd H-1 atau H-2 melalui sidang isbat dan dg memakai uang negara, dengan hasil yg seringkali malah membingungkan.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Tentang menyamakan antara kata “genapkanlah” dalam hadist dengan hisab, saya tidak bermaksud seperti itu krn hadist yg menjadi rujukan saya adalah HR Bukhari,Muslim no.653 dimana disebutkan bahwa ……….jika tertutup awan maka perkirakan…….., dimana kata “perkirakan” disini sama artinya dg “hisablah”.
        Sedangkan kata “genapkanlah” disebut dlm HR Bukhari,Muslim no.656 yaitu ……….jika tersembunyi darimu maka genapkanlah bulan Syakban tiga puluh hari………….., dimana kata “tersembunyi darimu” adalah selain “tertutup awan” yg sudah disebut dlm HR Bukhari,Muslim no.653, yaitu antara lain tertutup cahaya syafak matahari atau sudah terbenam di ufuk barat.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Istilah hisab dapat dimaknai menghitung. Menghitung bisa untuk memperkirakan sesuatu yg bersifat sementara, namun bisa untuk menetapkan sesuatu yg bersifat final. Hisab sebagaimana yg dipakai oleh Muhammadiyah itu dipakai untuk menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal yg bersifat final. Dasarnya bukan hadits, tapi lebih kuat lagi, Al Qur’an, yaitu Surat Yunus ayat 5. Hisab dipakai utk perhitungan waktu yg bersifat tetap.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Tentang kearifan Nabi Muhamad SAW, memang hanya merupakan penilaian saya krn saya selalu menganggap bahwa Nabi Muhamad SAW yg selalu dlm tuntunan Allah SWT itu memiliki olah pikir yg jenius shg hadist2 dilandasi oleh olah pikir yg jenius pula.
        Jadi hadist ttg awal bulan qomariah juga dilandasi olah pikir jenius dlm mengantisipasi banyaknya hasil hisab yang berbeda2.
        Dan juga ttg rukyat yg berfungsi sebagai pembuktian memang tidak ada hadistnya, namun saya merujuk pd Rukun Iman yg menyatakan bahwa umat Islam hanya ber IMAN pd enam perkara antara lain pd Hadist Nabi Muhamad SAW yg artinya selain pd yg enam perkara tsb spt kalender yg merupakan hasil hisab dan perkiraan ilmiah, umat Islam tidak boleh mengIMANinya melainkan untuk mempercayainya dan mengamalkannya harus dibuktikan dulu kebenarannya yaitu apakah setiap awal bulannya sudah bertepatan dg terlihatnya hilal.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Kembali ttg biaya rukyat, jika dirasa boros saya kira dpt disederhanakan dan diefisienkan, jika dirasa ada penyimpangqn pengelolaan dpt diperketat pengawasannya
        Tetapi jangan lantas mengendaki agar rukyat ditiadakan karena itu berarti mengabaikan Hadist Nabi Muhamad SAW yg merupakan bagian dr Rukun Iman yg wajib diIMANIi umat Islam.
        Sedangkan mengenai teknis pelaksanaan rukyat,di era pesatnya perkembangan iptek sekarang tidak perlu risau krn kemajuan iptek bisa dimanfaatkan utk menunjang pelaksanaan rukyat sepanjang masih dlm koridor dalil syar’i.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Kemudian mengenai Surat Yunus ayat 5, saya memahaminya sebagai “peraturan umum” dibidang astronomi yg masih memerlukan penjelasan rinci mengenai berbagai hal sehingga dimungkinkan adanya multi tafsir.
        Oleh karena itu diperlukan “petunjuk teknis” yg bisa dipedomani dlm melaksanakan ibadah, dan khusus utk menentukan awal bulan qomariah petunjuk teknisnya adalah HR Bukhari,Muslim no.353,354,355 dan 356.
        Jadi Surat Yunus ayat 5 tidak bisa didudukkan pd posisi berlawanan dg HR Bukhari,Muslim berkenaan, melainkan merupakan satu paket peraturan dimana Surat Yunus ayat 5 sebagai peraturan umum dan HR Bukhari,Muslim sebagai petunjuk teknisnya, sehingga dalam hal penetapan awal bulan qomariahl keduanya harus diamalkan secara bersamaan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Sains justru memperkuat iman. Bagi saya pribadi, menentukan lebaran jauh-jauh hari dg hisab wujudul hilal justru sbg salah satu bukti kuatnya iman seseorang.

      • Namun demikian bukan berarti bahwa para pengamal rukyat imannya lemah. Bisa jadi mereka merasakan hal yg sama dg saya, tapi dg cara yg berbeda. Dan saya menghormati itu.

        Yg saya permasalahkan adalah pemakaian uang negara utk praktik rukyat itu karena tidak semua umat Islam setuju dg itu dan faktanya hanya Sekelompok umat Islam itu saja yg menentukan Iedul Fitri dg biaya mahal. Umat Islam yg ikut ormas Muhammadiyah dan kelompok adat seperti jamaah naqsyabandiyyah, aboge, dst tidak. Juga penentuan hari raya umat agama non Islam tidak memakai uang negara seperti dalam praktik rukyat itu. Padahal uang negara berasal dari semua rakyat Indonesia.

    • Nabi Muhammad juga menentukan waktu fajar dengan rukyat. Menentukan waktu sholat 5 waktu juga dg rukyat. Padahal umat saat inu tidak melakukan itu. Apakah itu berarti kita meninggalkan syariat Islam?

      Nabi Muhammad juga mengamalkan poligami. Tapi saat ini banyak umat Islam yg tidak poligami, bahkan banyak pula yg menpersoalkan hal itu. Apakah itu berarti tdk syariat?

      Jk membaca dalil agama Islam akan lebih baik dicerna baik-baik Pak. Dilihat asbabul nuzulnya dan konteks dalil tsb turun, serta pesan moral yg ada di situ. Sehingga saat diterapkan pd masa kini tidak justru bertentangan dg akal sehat.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Nabi Muhamad memang pengamal poligami, tetapi beliau tidak pernah memerintahkan umat Islam berpoligami, jadi kalau mampu berpoligami silahkan, dan jika tidak berpoligami juga tidak menyalahi dalil syar’i.
        Sedangkan praktik rukyat jadwal waktu sholat, Nabi Muhamad SAW mengamalkannya, tetapi tidak pernah memerintahkan melakukan rukyat jadwal sholat, jadi kalau umat Islam mempedomani jadwal sholat hasil hisab berbasis astronomi maka itu tidak menyalahi dalil syar’i.
        Dan praktik rukyat thd hilal utk menentukan awal bulan qomariah, Nabi Muhamad SAW juga mengamalkan dan khusus mengenai hal ini jelas2 Nabi Muhamad SAW memeritahkan “melihat hilal” utk menentukan awal bulan qomariah jika langit tidak tertutup awan dan hasil hisab baru bisa dipedomani jika langit tertuup awan. Jadi jika untuk menentukan awal bulan qomariah hanya kenggunakan hisab dan mengabaikan rukyat maka sama dengan mengamalkqn dalil syar’i secara tidak utuh.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

  5. Baik pelaksanaan rukyat maupun hisab, apa pun jenisnya, tidak bisa dilarang, tapi tidak perlu lagi difasilitasi dan dibiayai negara. Itu cukup dilakukan di tingkatan ormas dg biaya masing-masing ormas. Jauh sebelum Indonesia merdeka toh para Kyai NU biasa melakukan rukyat tanpa campur tangan penguasa pd waktu itu. Dan semua berjalan lancar. Saat ini pun banyak pondok-pondok pesantren NU yg mampu melakukan itu secara mandiri, lepas dari campur tangan negara.

    • Assalamu’alaikum wr.wb.
      Jika Pemerintah selaku Ulil Amri tidak boleh turut campur dalam menentukan Idul Fitri, lantas siapa yang akan menetapkan libur lebaran setiap tahunnya, padahal libur lebaran merupakan libur nasional yang oleh Pemerintah diberlakukan pada seluruh lapisan masyarakan disemua tatanan kehidupan baik pemerintahan dan swasta dibidang ekonomi, sosial maupun budaya termasuk pendidikan,
      Apalagi penetapan Idul Fitri oleh bukan Pemerintah bisa tidak seragam karena akan ada berbagai versi bukan cuma dua versi, mungkin tiga, empat atau bahkan lebih karena semua pihak merasa bahwa kalender qomariah yg disusunnya berdasarkan metode hisabnya masing sudah benar.
      Jadi libur lebarannya harus mengikuti versi yang mana. Apakah banyaknya hari libur lebaran disesuaikan banyaknya versi Idul Fitri.
      Libur lebaran dua hari setiap tahun saja sudah menjadi bahan pertanyaan karena liburan hari raya umat agama lain semuanya hanya satu hari.
      Kita ini hidup dalam satu negara yang dikoordinir oleh Pemerintah untuk dapat terjadinya harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat disemua tatanan dan bidang, dengan demikian kehidupan beragama umat Islam selayaknya juga harus tetap dibawah koordinasi Pemerintah cq Kementerian Agama cq Bimas Islam selaku Ulil Amri.
      Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Libur lebaran atau libur hari raya itu urusannya dg tanggal Pak. Bukan dg ibadah dalam lebaran itu. Itu ditetapkan pd awal tahun, tidak perlu dg biaya khusus. Sby contoh jk awal Iedul Fitri ada 3 kali, misal Jamaah Naqsyabandiyyah, Muhammadiyah dan NU berbeda tanggal, maka tangal merahnya 3 dan ditulis dalam kalender Masehi sejak 1 Januari.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Ormas peserta sidang Istbat selain tiga ormas itu jumlahnya banyak dan kita tidak tahu Idul Fitri yg ditetapkan dlm kalender mereka berdasarkan metode hisab masing2 karena ormas2 itu mau tunduk pada keputusan sidang Istbat yg ditetapkan berdasarkan hasil rukyat.
        Semua ormas itu mengerti bahwa dengan melaksanakan rukyat dan sidang Istbat berarti Pemerintah mengamalkan QS Yunus ayat 5 dan HR Bukhari,Muslim no.353,354,355 dan 356 karena itu melaksanakan keputusan sidang Istbat sama dengan melaksanakan ibadah yg harus dijalani dg ikhlas meskipun Idul Fitri dlm kalendernya tidak sesuai dg hasil rukyat dan keputusan sidang Istbat.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Sidang isbat yg difasilitasi negara sebaiknya dilakukan tiap akhir tahun. Sehingga pd tgl 1 Januari, saat kalender Masehi terbit, sdh ada tanggal merah kapan saja akan lebaran. Bagi pengamal rukyat boleh melakukan sidang lagi pd H-1, tapi dilakukan oleh ormas pengamal rukyat secara mandiri, tidak perlu dibiayai negara.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Jika sidang Istbat diminta dilakukan setiap akhir tahun berarti keputusan sidang Istbat tidak berdasarkan hasil rukyat sehingga dapat dikatakan Pemerintah diminta untuk tidak mengamalkan HR Bukhari,Muslim no.353,354,355 dan 356.
        Apakah Pemerintah mau diajak mengabaikan dan mengingkari hadist berkenaan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Indonesia bukan negara Islam. Tapi negara demokratis berdasar Pancasila dan UUD 45. Jadi tidak ada kewajiban bagi pemerintah mengamalkan hadits itu, maksudnya hadits yg berkenaan dg praktik rukyat. Yg wajib mengamalkan praktik rukyat adalah mereka yg berkeyakinan bahwa penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal harus pakai rukyat. Bagi umat Islam yg memandang praktik rukyat, maka itu tidak wajib. Jadi, jangan lantas jk Bp dan ormas yg Bp ikuti berkeyakinan bahwa rukyat itu wajib lantas semua umat Islam Indonesia dan pemerintah harus mengikuti keyakinan Bapak. Itu namanya egois. Bp justru terkesan menjadikan diri dan ormas Bp sbg Tuhan. Bapak perlu menghormati keyakinan yg berbeda-beda di Indonesia, juga antar sesama Islam.

      • Indonesia bukan negara Islam. Tapi negara demokratis berdasar Pancasila dan UUD 45. Baca lagi pelajaran pendidikan kewarganegaraan ya Pak. Jadi tidak ada kewajiban bagi pemerintah mengamalkan hadits itu, maksudnya hadits yg berkenaan dg praktik rukyat. Yg wajib mengamalkan praktik rukyat adalah mereka yg berkeyakinan bahwa penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal harus pakai rukyat. Bagi umat Islam yg memandang praktik rukyat itu bukan kewajiban, maka itu tidak wajib.

        Jadi, jangan lantas jk Bp dan ormas yg Bp ikuti berkeyakinan bahwa rukyat itu wajib, lantas semua umat Islam Indonesia dan pemerintah harus mengikuti keyakinan Bapak. Itu namanya egois. Bp justru terkesan menjadikan diri dan ormas Bp sbg Tuhan. Bapak perlu menghormati keyakinan yg berbeda-beda di Indonesia, juga antar sesama Islam.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Hadist Nabi Muhamad SAW tentang penetapan awal bulan qomariah adalah hadist shahih yg merupakan bagian dr Rukun Iman yg wajib diIMANi semua umat Islam, karena itu Pemerintah cq Kementrian Agama cq Bimas Islam selalu menyelenggarakan sidang istbat untuk menetapkan awal bulan qomariah berdasarkan hasil rukyat (melihat hilal).
        Jika sudah demikian, mengapa sebagai umat Islam mengabaikan Hadist berkenaan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Bapak keliru jk menilai ada sebagian umat mengabaikan dalil tsb. Justru sebagian umat yg Bp maksud itu menghormati dalil tsb agar lebih operasional dan bermartabat untuk dapat diterapkan di zaman modern ini. Itu tidak jauh beda dg memaknai istilah “membaca” atau “menuntut ilmu”, sebagai perintah Rosululloh pd zamannya, dengan mendirikan sekolah dan universitas pd masa kini.

        Kata “melihat hilal dengan mata telanjang” sebagaimana pd hadits Rosululloh dapat dimaknai dengan “melihat hilal melalui teropong atau “melihat hilal melalui perhitungan matematika (hisab)”. Permasalahannya jk melihat hilal melalui teropong maka itu hanya dapat dilakukan pd H-1 atau H-2. Tidak bisa dilakukan jauh-jauh hari. Selain itu biayanya sangat mahal. Bp Menteri Agama melaporkan bahwa biaya hanya utk 2 kali sidang isbat utk penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal tahun ini mencapai Rp 300 Juta lebih. Itu baru untuk sidang isbat yg berlangsung beberapa jam. Berapa biaya untuk pembelian teropong beserta tenaga di 60 titik pemantauan hilal? Berapa biaya yg dipakai oleh lembaga-lembaga riset negara seperti LAPAN, BMKG, dst? Jika semua ditotal, semua bisa berjumlah miliaran rupiah. Uang miliaran rupiah hanya utk menentukan satu atau dua tanggal. Itu jelas pemborosan. Belum lagi, kondisi geografis Indonesia seringkali menghambat jalannya pemantauan hilal pakai teropong, sehingga berulang-kali hasilnya justru meragukan.

        Begitu besar biaya yg dipakai dalam praktik rukyat. Mahal dan tidak praktis. Hasilnya pun kurang meyakinkan. Bisakah umat Islam berfikir? Tidak malu kah umat Islam dg umat agama lain yg mampu menentukan tanggal hari rayanya jauh-jauh hari tanpa memakai uang negara?

        Sementara untuk menentukan lebaran melalui perhitungan matematika atau hisab sangat praktis dan murah. Tanpa perlu teropong dan bisa dilakukan jauh-jauh hari. Hasilnya pun lebih meyakinkan.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Melihat hilal dengan mata telanjang memang dapat dimaknai sebagai “melihat dengan teropong” karena keduanya sama2 dalam konteks “rukyatul hilal”.
        Namun “melihat hilal dengan perhitungan matematika(hisab)” itu bukan rukyatul hilal melainkan “memperkirakan” dan dalam HR Bukhari,Muslim no.653 jelas disebutkan bahwa …………jangan puasa sehingga kalian melihat hilal dan jangan berhari raya hingga melihat hilal, maka jika tertutup awan, maka perkirakanlah……………
        Jadi “hisab” atau “memperkirakan” itu baru digunakan saat langit tertutup awan.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Pak, seperti yg sudah saya tulis sebelumnya bahwa menghitung atau menghisab itu bisa berarti “memperkirakan”, tapi juga bisa berarti “menetapkan hasil akhir”. Seperti dalam perhitungan 1+1=2. Angka 2 itu merupakan hasil akhir jika menggunakan basis 10. Angka 2 itu sidah bukan perkiraan lagi, tapi kepastian. Jadi, praktik hisab itu bisa digunakan untuk menetapkan hasil akhir terkait kapan tanggal 1 Ramadhan dan kapan tanggal 1 Syawal. Tapi jika Bp berfikiran bahwa hisab itu hanya sebatas utk memperkirakan, ya boleh-boleh saja karena Indonesia itu negara demokratis. Tapi jangan lantas pikiran Bp itu dianggap paling benar dan harus diyakini 100% rakyat Indonesia. Keyakinan Bp dan ormas yg Bp ikuti itu cukup untuk diri Bp dan ormas Bp. Saya menghormati itu dan hormatilah keyakinan yg lain.

      • Pak, seperti yg sudah saya tulis sebelumnya bahwa menghitung atau menghisab itu bisa berarti “memperkirakan”, tapi juga bisa berarti “menetapkan hasil akhir”. Seperti dalam perhitungan 1+1=2. Angka 2 itu merupakan hasil akhir jika menggunakan basis 10. Angka 2 itu sudah bukan perkiraan lagi, tapi kepastian. Jadi, praktik hisab itu bisa digunakan untuk menetapkan hasil akhir terkait kapan tanggal 1 Ramadhan dan kapan tanggal 1 Syawal. Bukan lagi perkiraan.

        Tapi, jika Bp berfikiran bahwa hisab itu hanya sebatas utk memperkirakan, ya boleh-boleh saja karena Indonesia itu negara demokratis. Berbeda pandangan itu boleh dan sah. Tapi jangan lantas pikiran Bp itu dianggap paling benar dan harus diyakini 100% rakyat Indonesia. Keyakinan Bp dan ormas yg Bp ikuti itu cukup untuk diri Bp dan ormas Bp saja. Saya menghormati keyakinan Bp itu dan Bp juga harus menghormati keyakinan yg lain.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Saya juga sudah menyampaikan berulang2 bahwa bunyi HR Bukhari,Muslim no.653 a.l. ………….maka jika tertutup awan, maka perkirakanlah……………
        Jadi “hisab” atau “memperkirakan” itu baru digunakan saat langit tertutup awan, sedangkan jika langit tertutup awan maka…………….jangan berpuasa dan berhariraya sehingga “melihat hilal”……………
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Iniah perbedaan mendasar di antara kita Pak. Bp berkeyakinan bahwa penentuan 1 Syawal itu hanya bisa dilakukan pd H-1 atau H-2, dg praktik rukyat, lengkap dg alat teropong dan fasilitas lain yg serba mahal itu. Sementara saya berkeyakinan bahwa penentuan 1 Syawal bisa dilakukan jauh-jauh hari dan tanpa biaya mahal, cukup dg dihitung. Jadi sudah bisa faham perbedaan itu kan Pak? Inilah yg sebenarnya terjadi di masyarakat. Perbedaan ini tidak perlu dipaksakan semua harus sama karena masing-masing punya dasar yg kuat yg insya Alloh sama-sama benar di hadapan Alloh swt. Jadi mari kita tanamkan rasa saling menghormati dan toleransi. Meski berbeda, tetap satu Islam dan satu Indonesia.

  6. Maaf Prof, sepertinya analisis Prof ttg Idul Adha tahun ini meleset. Hilal pada maghrib 5 Oktober berhasil terlihat di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sehingga 1 Zulhijjah 1434 jatuh pada 6 Oktober 2013.

    • Tidak meleset. Kesaksian di Kolaka bisa diterima secara syar’i, tetapi secara astronomis meragukan. Untuk penentuan waktu ibadahnya, kita ikuti keputusan sidang itsbat yang menerima kesaksian di Kolaka. Sidang itsbat menjadi farum penentu ketika terjadi potensi perbedaan.

  7. Asallamu alaykum..
    Ma’af ikut coment, saya hanya ingin menyampaikan bahwa ketika terjadi rukyat di fans page atau group” fb mereka non muslim menghina islam karena umat islam selalu ragu” dlam menentukan hilal yg memboroskan uang negara,…

    • Tidak masalah. Itu karena ketidaktahuan saja. Jangankan non-Muslim, saudara-saudara kita ummat Islam banyak yang belum faham dengan masalah kalender Islam dan penentuan waktu ibadah. Banyak juga orang yang sebenarnya tak faham ikut berkomentar sehingga bukan memperjelas malah menambah ruwet. Namun, sekarang mulai banyak generasi muda yang mempunyai minat untuk belajar sehingga masalahnya mulai bisa diurai dengan pemahaman astronomi dan syar’i yang benar.

  8. kenapa 1 ramadhan 1435 hijriah terjadi perbedaan dengan nadhatul ulama dan muhammadiyah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: