Penyatuan Kalender Islam Selangkah Lagi


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat

[Catatan: Ini artikel bantahan yang saya kirim ke Republika]

 

Tulisan Susiknan Azhari (SA) di Republika, 5 Juli 2013, menggambarkan adanya kesalahan pemahaman terhadap problem kalender Islam. Kesalahan pemahaman itu yang menyebabkan resistensi Muhammadiyah untuk mengubah kriteria Wujudul Hilal dengan kriteria vibilitas hilal atau imkan rukyat (IR) yang merupakan titik temu hisab dan rukyat. Kesalahan pemahaman itu perlu dikritisi untuk memahami problem sesungguhnya yang sebenarnya sederhana. Penyatuan kalender Islam di Indonesia itu selangkah lagi. Sebagai negara Muslim terbesar, penyatuan kalender Islam di Indonesia akan mendorong penyatuan kalender Islam regional dan global.

Kalender adalah simbol suatu kemajuan suatu peradaban. Setiap peradaban besar mempunyai sistem kalendernya sendiri. Suku Maya punya kalender. Cina dan Jepang masing-masing punya sistem kalender yang terus digunakan. Umat Hindu, Budha, dan Kristen juga mempunyai sistem kalendernya sendiri. Basisnya bulan atau matahari, dua benda langit yang sejak awal peradaban manusia dijadikan rujukan sistem waktu. Kalender adalah produk kemajuan ilmu astronomi yang merumuskan hasil pengamatan jangka panjang menjadi formulasi matematis dalam bentuk tabel atau algoritma untuk prakiraan waktu ritual atau kegiatan sosial-ekonomi di masa depan.

Kalender tidak lahir langsung sempurna. Ada proses panjang dalam merumuskan sistem kalender sehingga menjadi kalender mapan. Kalender Masehi yang kini menjadi kalender internasional memerlukan waktu hampir 2.000 tahun  untuk menjadi kalender yang mapan. Kalender Islam baru 1.434 tahun, namun penyatuannya bisa dipercepat dengan bantuan kemajuan ilmu astronomi dan teknologi pendukungnya.

Kalender mapan mensyaratkan tiga hal: ada otoritas yang menjaga sistem kalender tersebut, ada batas wilayah yang tegas, dan ada kriteria yang disepakati. Kalender Masehi dulu di bawah otoritas Kaisar Julius kemudian oleh pemimpin agama Paus Gregorius. Perbedaan kriteria ala Julius dan Gregorius menjadi sebab utama perbedaan penerapan kalender di berbagai negara. Negara-negara dengan mayoritas penduduk Kristen Protestan dan Kristen Ortodoks tidak mau menerima kriteria baru yang diumumkan oleh Paus Gregorius yang dianggap bernuansa Katolik. Akibatnya hari raya Natal dan Paskah bisa berbeda belasan hari. Baru pada 1792 Inggris menerima kriteria Gregorius dengan melakukan lompatan 12 hari pada kalendernya. Terakhir Yunani yang menerima kriteria Gregorius pada 1923 dengan melakukan lompatan 13 hari.

Masalah kriteria pula yang menyebabkan perbedaan kalender Islam di Indonesia. Kalender adalah masalah perhitungan astronomi (hisab), tetapi terkait masalah pengamatan hilal (rukyat). Akar masalah awalnya adalah perbedaan metode rukyat yang diajarkan Rasul dan hisab yang merupakan perkembangan parameterisasi fenomena rukyat. Sekian ratus tahun perdebatan dalil hukum metode rukyat dan hisab tidak terselesaikan, karena interpretasi dalil bisa sangat beragam dan berkaitan dengan keyakinan. Namun kini metode hisab dan rukyat bisa dipersatukan dengan mencari titik temunya. Titik temu rukyat dan hisab yang diajukan para astronom adalah kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat (IR). Kriteria itu bisa digunakan untuk membuat kalender karena bisa digunakan sebagai batasan awal bulan dalam metode hisab. Kriteria itu juga bisa digunakan untuk memandu rukyat dan menverifikasi hasil rukyat karena didasarkan pada data rukyat jangka panjang.

Kementerian Agama sejak lama sudah memfasilitasi ormas-ormas Islam untuk menyamakan kriteria. Kesepakatan pertama berhasil dirumuskan pada 1998 dan diperbarui pada 2011. Kriteria yang disepakati adalah kriteria “2-3-8” (tinggi minimal 2 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 3 derajat atau umur hilal minimal 8 jam). Kriteria itu disepakati juga dalam pertemuan informal Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria itu merupakan syarat minimal untuk terlihatnya hilal dan jadi batas masuknya awal bulan. Sayangnya Muhammadiyah memisahkan diri dari kesepakatan itu dan berpegang pada kriteria wujudul hilal (WH). Akibatnya, keputusan kriteria IR akan berbeda dengan WH kalau posisi bulan rendah. Menurut kriteria IR belum masuk awal bulan, tetapi menurut kriteria WH sudah masuk.

Kesalahan Pemahaman

Ada kesalahan SA di Republika 5 Juli 2013 lalu dalam membaca poblem kalender Islam. SA salah dalam memahami IR. IR dan WH sama-sama kriteria yang digunakan dalam menilai hasil hisab, apakah sudah masuk awal bulan atau belum. Tetapi WH bukan jalan tengah hisab murni dan rukyat murni, karena WH bermasalah dengan posisi hilal rendah yang tidak mungkin dirukyat (diamati). Justru kriteria IR yang menjembatani hisab dan rukyat, dengan memperhitungkan keterlihatan hilal dengan syarat tertentu. Hilal terlalu rendah (seperti beberapa kasus perbedaan di Indonesia) menyebabkan perbedaan antara hasil hisab WH dan hisab IR serta perbedaan antara hisab WH dan hasil rukyat terpercaya (muktabar).

Kesalahan SA lainnya adalah menyatakan bahwa IR bersumber dari pengalaman subjektif yang seolah tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Justru IR didasarkan pada data-data objektif pengamatan astronomi dan dipublikasikan di publikasi/jurnal astronomi. Kriteria “2-3-8” sebagai kriteria IR paling sederhana juga mendasarkan pada data objektif rukyat sebelumnya, walau analisisnya belum sepenuhnya mengikuti kaidah astronomi dari segi jumlah sampel data rukyat.

SA juga membuat kesalahan pemahaman seolah kriteria visibilitas hilal hanya digunakan sebagai pemandu observasi. SA yang sering turut serta dalam Temu Kerja Hisab Rukyat Kementerian Agama, seolah melupakan kegiatan penyusunan Taqwim Standar Indonesia (Kalender Islam Baku) yang disusun berdasarkan kriteria IR yang disepakati di Indonesia. Jadi kriteria IR  juga digunakan sebagai rujukan pembuatan kalender. Kriteria yang digunakan Indonesia (kriteria MABIMS atau kriteria “2-3-8″) adalah kriteria yang digunakan oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam pembuatan kalendernya. Turki menggunakan kriteria yang dikenal sebagai kriteria Istambul, yaitu tinggi minimal 5 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 8 derajat.

Jadi sangat keliru bandingan kriteria IR yang digunakan Turki dan Malaysia untuk jadi pembenaran wujudul hilal. Dalam konteks Indonesia, kriteria IR “2-3-8″ sudah digunakan pada pembuatan Taqwim Standar Indonesia, mulai Muharram – Dzulhijjah, sama seperti yang dilakukan Malaysia.

Pada sisi lain, SA yang  warga Muhammadiyah yang anti-rukyat tidak sadar bahwa Tim Rukyat sudah ada sejak lama. Kementerian Agama sudah mempunyai Tim Rukyat. Ormas-ormas Islam pelaksana rukyat sudah mempunyainya dan beberapa melengkapinya dengan teleskop. Para astronom amatir yang bergabung di Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) juga melakukan pengamatan rutin dan mengkompilasi datanya. Data rukyat pun tidak harus dari Indonesia. Data rukyat internasional pun bisa digunakan dalam pembuatan kriteria IR.

Kesalahan terbesar SA adalah ajakan untuk meninggalkan observasi sebagai metode untuk menentukan awal bulan qamariyah. SA menutup mata atas kenyataan adanya ummat Islam pengamal rukyat, seperti warga NU dan banyak ormas lainnya. Hak mereka juga harus dihargai, bahwa untuk menentukan awal Ramadhan dan mengakhirinya diperlukan adanya rukyat hilal, walau mereka juga pandai menghisab dan mempunyai kalender. Sangat keliru kalau dianggap para pengamal rukyat tidak mempunyai kalender.  Misalnya, Lajnah Falakiyah NU membuat kalender berdasarkan kriteria IR 2 derajat, selain mempunyai fasilitas rukyat yang baik.

Di Indonesia secara umum hisab sudah diterima oleh semua ormas Islam. Oleh karenanya mereka pun bersepakat menggunakan kriteria IR dalam pembuatan kalendernya dan dalam mengevaluasi hasil rukyat. Kriteria IR digunakan pada hisab agar kalender yang dihasilkannya dan hasil rukyat sama. Dengan penggunaan kriteria IR pengamal hisab dan pengamal rukyat bisa bersamaan dalam mengawali Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Hal itu tidak mungkin terjadi dengan kriteria WH, karena pada saat bulan rendah hasil hisab WH pasti berbeda dari hasil rukyat, seperti kasus Idul Fitri 1432/2011, awal Ramadhan 1433/2012, dan awal Ramadhan 1434/2013.

Salah besar kalau SA menyatakan bahwa dengan observasi sebagai penentuan masuknya tanggal 1, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, maka kita tidak akan memiliki kalender Islam yang mapan. Kalender memang hasil hisab. Tetapi tidak ada masalah dengan observasi, bahkan observasi dapat digunakan untuk menyempurnakan kriteria IR.

Selangkah lagi

Untuk membentuk kalender Islam yang mapan, kita sudah punya otoritas tunggal, yaitu Pemerintah yang diwakili Menteri Agama. Wilayah NKRI juga disepakati sebagai batas wilayah keberlakukan hisab dan rukyat di Indonesia. Tinggal selangkah lagi kita bisa memiliki kalender Islam yang mapan, yaitu bersepakatn pada kriteria. Kriteria yang digunakan mesti kriteria yang mewadahi pengamal hisab dan pengamal rukyat secara setara. Tidak mungkin kriteria WH yang digunakan, harus kriteria IR yang digunakan.

Bila kita sudah bersepakat dengan kriteria IR, kita bisa merumuskan ulang kesepakatan kriteria itu. Kriteria “2-3-8” yang dianggap belum memenuhi kaidah astronomi harus ditinjau ulang. Data rukyat jangka panjang dari Indonesia dan data internasional bisa digunakan untuk merumuskan kriteria IR yang baru. Tujuannya agar hasil hisab dan hasil rukyat sama. Dengan demikian nantinya kalender Islam akan memberikan kepastian yang bisa diterima pengamal rukyat dan pengamal hisab, tanpa mengulang lagi perdebatan lama soal dalil.

Kesepakatan bisa diperluas ke tingkat regional, seperti yang sudah terjadi dengan kriteria MABIMS. Kemudian bisa juga digalang kesepakatan antarpemerintah secara global untuk merumuskan garis batas tanggal kalender hijriyah dan kriteria IR global. Jadi, kita selangkah lagi mewujudkan kalender Islam yang mapan, dengan menggalang kesepakatan nasional, regional, dan global.

Iklan

32 Tanggapan

  1. Reblogged this on Naneyan's Blog.

  2. matahari, bumi, bulan bersifat internasional; tapi aneh seorang profesor di zaman globalisasi masih berfikir lokal .

  3. Tinggal selangkah lagi yaitu menyadarkan penganut WH dari kesalahannya. Tetapi untuk unifikasi Kalender Qamariyah Internasional masih butuh waktu untuk teknis pembagian wilayah berdasarkan ILDL vs IDL

  4. Tidak adanya ukuwah islamiyah di seluruh dunia dikarenakan egosentris golongan “aku yang paling benar”. Hal ini perlu disadari dahulu oleh ulama-ulama islam didunia, setelah sadar diri mereka baru “WUJUDKAN PERADABAN ALMANAK HIJRIYAH” dan kami sudah melakukannya… salam Prof.

  5. Semua tulisan sdr Thomas memakai cover Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.
    Berarti dokumen itu resmi dikeluarkan oleh LAPAN,apakah tulisan itu termasuk Visi dan Misi Lapan?
    Berikut saya copykan Visi dan Misi Lapan :

    V I S I
    TERWUJUDNYA KEMANDIRIAN DALAM IPTEK PENERBANGAN DAN ANTARIKSA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KEHIDUPAN BANGSA.
    MISI
    1.
    Memperkuat dan melaksanakan pembinaan, penguasaan dan pemanfaatan teknologi roket, satelit dan penerbangan.

    2.

    Memperkuat dan melaksanakan pembinaan, penguasaan dan pemanfaatan teknologi dan data penginderaan jauh.

    3.

    Memperkuat dan melaksanakan pembinaan, penguasaan dan pemanfaatan sains antariksa dan atmosfer.

    4.

    Mengembangkan kajian kebijakan Penerbangan dan antariksa nasional.

    5.

    Mengembangkan sistem manajemen kelembagaan.

    • Memberikan solusi berbasis astronomi merupakan bagian dari visi meningkatkan kualitas kehidupan bangsa dan menjadi bagian misi ke-3 LAPAN terkait pembinaan, penguasaan, dan pemanfaatan sains antariksa.

      • Saya sudah menduga jawaban anda anda akan mengacu pada misi ke -3 LAPAN
        Tapi kalau saya baca “Tugas Pokok dan Fungsi LAPAN” dan sasaran kegiatan LAPAN thn 2012 dan 2013.Tulisan anda mengenai Imkanur rukyat dan komentar2 anda thd Wujudul Hilal,sama sekali tidak mencerminkan “Tugas Pokok dan Fungsi Lapan”.Padahal tulisan anda semua memakai cover dokumen LAPAN.

      • Sebagai peneliti LAPAN, saya faham betul tentang tugas dan fungsi LAPAN, khususnya tugas dan fungsi di Pusat Sains Antariksa yang secara langsung membawahi penelitian astronomi. Kini tugas dan fungsi penelitian astronomi sudah diperkuat dengan UU 21/2013 tentang Keantariksaan.

    • Komentar Bp sangat mencerahkan. B

      Saya perhatikan memang kritik keras yg selalu dilontarkan oleh Prof. Thomas terhadap konsep wujudul hilal (WH) sudah menyimpang dari visi dan misi LAPAN. Terlebih ketika Muhammadiyah menempatkan konsep WH lebih sebagai bagian dari keyakinannya dalam beragama, tidak 100% masalah sains. Apa yg dilakukan oleh Prof. Thomas lebih jauh sebenarnya sudah menyimpang dari UUD 45 yg sangat menjamin rakyat dalan menjalankan keyakinannya.

  6. Pak Prof. Yth.
    Kalau WH bermasalah dengan posisi hilal rendah yang tidak mungkin dirukyat (diamati), saya ingin bertanya :
    1. Pada saat posisi hilal rendah (< 2 derajat) dan tidak bisa dilihat, apakah hilal sudah ada?
    2. Kalau hilal sudah ada tapi tidak bisa dilihat, mengapa kita harus menunda masuknya awal bulan?
    3. Adakah kemungkinan dengan menggunakan teknologi mutakhir pada masa yang akan datang hilal bisa dirukyat pada posisi yang rendah itu?

    Saya melihat kriteria IR dan kriteria WH sulit dipertemukan, bukan karena persoalan kriteria, tapi karena WH semata-mata hisab sementara IR memaksakan hilal harus dapat dirukyat. Selama masih seperti itu, maka perbedaan itu akan tetap terjadi jika posisi hilal rendah. Solusinya sebaiknya umat saling menghargai dan menghormati pilihan masing-masing,

    Sekian dan mohon maaf. Tksh

    • 1 dan 2. Hilal itu fenomena ketampakan. TIDAK ADA WUJUDNYA HILAL. Yang ada adalah wujudnya “bulan”, dengan satu sisi tercahayai dan sisi lain gelap. Hilal adalah ketampakan dengan sudut tertentu, sehingga tampak cahaya tipis. Bila didatangi dengan dengan wahana antariksa, hilal bisa saja tidak tampak. Yang tampak mungkin purnama atau justru bulan gelap, bergantung dari sisi mana melihatnya.
      2. Tetap ada batas ketinggian minimalnya. Banyak orang merancukan bulan sabit siang hari dengan hilal. Bulat sabit siang hari mudah diamati dengan teknologi terbaru, tetapi itu belum tentu hilal. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2013/07/23/bulan-sabit-siang-hari-bukan-hilal-penentu-awal-bulan/

      WH dan IR adalah kriteria BUATAN manusia yang bisa dikompromikan kesepakatannya. Bila kita berniat bersatu, kesepakatan bisa dibuat. Kriteria jadwal shalat adalah contoh penyatuan kriteria dari sekian pilihan kriteria yang ada.

      • Bagaimana kalau dikompromikan agar lebaran bisa ditetapkan pada 1 Januari Pak? Biar lebaran 100% bisa serempak.

      • Assalamu’alaikum wr.wb.
        Lebaran memang bisa ditetapkan pd 1 Januari, bahkan bisa jauh sebelum tanggal itu, cuma yg menjadi masalah adalah setiap metode hisab memiliki kriteria yang berbeda2 sehingga lebaran bisa jatuh pada hari/tanggal yang berbeda.
        Jika setiap pihak tetap bersikukuh dengan metode hisabnya masing2 maka penetapan lebaran akan bisa jatuh pada hari/tanggal yang berbeda.
        Karena itu untuk membuktikan metode hisab mana yang paling akurat maka perlu dilakukan rukyat untuk melihat apakah benar pada hari/tanggal yang ditetapkan telah terlihat hilal dan bisa berlebaran.
        Hal ini dilandasi juga oleh pemahaman terhadap Hadist Nabi Muhamad SAW tentang awal bulan qomariah dimana “pada saat langit tidak tertutup awan” untuk menetapkan awal bulan qomariah harus dilakukan dengan rukyat untuk membuktikan keterlihatan hilal.
        Jika pada waktu rukyat di hari ke 29 bulan berjalan saat magrib terlihat hilal maka boleh berlebaran, sedangkan jika hilal “tersembunyi darimu” maka bulan berjalan harus digenapkan menjadi 30 hari dan baru boleh berlebaran esok harinya.
        “Pada saat langit tertutup awan” awal bulan qomariah dapat berpedoman pada hasil hisab yg telah ditetapkan sebelumnya.
        Wassalamu’alaikum wr.wb.

      • Bp. Bambang Supriadi, jawaban Bp intinya bahwa lebaran harus ditentukan dg rukyat pd H-1. Bukan begitu? Alasan utamanya pd pemahaman pd hadits. Dan alasan yg lebih utama tentu karena masih banyaknya kemiskinan dan kebodohan di negeri kita. Dengan adanya praktik rukyat pd H-1 yg didanai oleh negara, maka itu akan membuka lapangan pekerjaan. Jadi pangkal persoalannya tidak sebatas urusan hati dan iman, tapi juga urusan perut.

      • Assalamualaikum wr.wb.
        Sejak saya mengenal kalender, setiap tahun libur lebaran selalu 2 hari yaitu hari ke 30 bulan qomariah berjalan dan hari berikutnya.
        Hal tersebut disebabkan karena Pemerintah menetapkan libur lebaran berdasarkan hasil hisab dari semua pihak dimana ada pihak yg menetapkan awal bulan qomariah pd hari ke 30 bulan qomariah berjalan dan ada yg menetapkan awal bulan qomariah pd hari berikutnya.
        Oleh karena itu, untuk memastikan hasil hisab mana yg benar maka dilakukan rukyat dan sidang Istbat agar masyarakat tahu kapan akan berlebaran.
        Pelaksanaan rukyat tersebut sudah tentu berdasarkan Hadist Nabi Muhamad SAW ttg awal bulan qomariah yg wajib diIMANi oleh umat Islam karena merupakan bagian dari Rukun Iman yg merupakan tiang agama.
        Disamping itu, pelaksanaan rukyat dan sidang Istbat juga akan menjadi dakwah Islamiah apalagi jika dikembangkan menjadi uphoria dg memasang kamera on-line disetiap lokasi pengamatan hilal yg dihubungkan ke stasiun televisi sehingga masyarakat bisa ber-ramai2 menyaksikan proses terlihatnya hilal.
        Wassalamu’alaiku wr.wb.

  7. Klo rukyat makasar 7 agustus 2013 sudah disahkan berarti kriteria baru dari Lapan tidak berlaku lagi

    Saya (tdjamaluddin) mengusulkan:
    1. Jarak sudut bulan-matahari > 6,4 drajat
    2. Beda tinggi bulan-matahari > 4 drajat

    * layu sebelum berkembang

    • Dalam perumusannya, kriteria dibangun atas dasar pertimbangan statistik yang paling memungkinkan. Satu data belum cukup mengubah kecenderungan sekian banyak data lainnya (silakan baca dasar perumusan kriteria LAPAN 2010 https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/02/analisis-visibilitas-hilal-untuk-usulan-kriteria-tunggal-di-indonesia/). Batas bawah kriteria bukanlah batas antara “pasti terlihat” dan “pasti tidak terlihat”, tetapi batas “yang pada umumnya terlihat” dan “pada umumnya tidak terlihat”. Kalau ada kesaksian yang berada di bawah batas kriteria dan dianggap meyakinkan, maka kesaksian itu bisa diterima. Namun, kalau kesaksian tersebut tidak meyakinkan, kesaksian itu bisa diterima. Dalam implementasinya, kriteria adalah hasil kesepakatan. Kesepakatan yang sekarang digunakan adalah kesepakatan kriteria “2-3-8” yang mendasari penerimaan kesaksian di Makassar.

  8. Memang kalau metode wujudul hilal (WH) ala Muhammadiyah itu salah, apakah Alloh swt 100% akan marah? Toh Muhammadiyah menerapkan itu sbg ijtihad. Dalam ijtihad, jika salah masih dapat poin 1.

    Dengan WH nya itu, Muhammadiyah mampu memutuskan kapan lebaran jauh-jauh hari, tidak lagi perlu memakai teropong pd H-1. Di lain hal, Bp Prof. Thomas mengagung-agungkan metode IR, tapi sayangnya Bp, bersama pengikut IR yg lain, selalu gagal memutuskan kapan lebaran jauh-jauh hari, padahal itu dibiayai uang rakyat yg tidak kecil.

  9. Memang kalau metode wujudul hilal (WH) ala Muhammadiyah itu salah, apakah Alloh swt 100% akan marah? Toh Muhammadiyah menerapkan itu sbg ijtihad. Dalam ijtihad, jika salah masih dapat poin 1.

    Dengan WH nya itu, Muhammadiyah mampu memutuskan kapan lebaran jauh-jauh hari, tidak lagi perlu memakai teropong pd H-1. Selain itu Muhammadiyah memutuskan itu tanpa biaya yg besar.

    Di lain hal Bp Prof. Thomas begitu mengagung-agungkan metode IR, tapi sayangnya Bp, bersama pengikut IR yg lain, selalu gagal memutuskan kapan lebaran jauh-jauh hari.Bp bersama-sama pengikut IR hanya mampu memutuskan kapan lebaran pd H-1 yg jelas itu mustahil bisa diketahui 100% umat Islam di Indonesia. Rakyat yg hidup di daerah pedalaman, tanpa akses listrik, tv, radio dan telepon mustahil dapat mengikuti hasil sidang isbat yg memutuskan lebaran sekitar 12 jam sebelum sholat Ied, seperti pd lebaran 8 Agustus 2013. Kemampuan Bp, bersama para pengikut IR, yg hanya mampu memutuskan lebaran pd H-1 itulah yg menunjukkan bahwa Bp “rapuh”. Dan kegagalan Bp dalam memahami kondisi geografis rakyat Indonesia yg tdk seluruhnya mampu mengakses hasil sidang isbat, menunjukkan bahwa Bp masih perlu lagi belajar ttg wawasan kebangsaan Indonesia.

  10. Perbedaan mendasar antara Muhammadiyah dan ormas pengikut metode IR itu bukan pd parameter hilalnya, tapi pd mau tidaknya menentukan lebaran pd H-1. Muhammadiyah menolak menentukan lebaran H-1 karena itu justru akan memecah belah umat Islam Indonesia dan akan menyerap biaya yg besar serta tidak praktis. Muhammadiyah lebih suka menentukan lebaran jauh-jauh hari agar persiapan lebaran bisa lebih matang dan lebaran bisa dilaksanakan secara lebih khusyu’. Selama penentuan lebaran masih pd H-1, apa pun itu metode yg diterapkan, saya cukup yakin bahwa Muhammadiyah akan menolaknya. Penetapan lebaran jauh-jauh hari bagi Muhammadiyah sudah bersifat mutlak. Itu diyakininya sbg ijtihad, sama dg keyakinan bahwa Alloh swt itu satu. 

    Itulah cara Muhammadiyah dalam memahami Islam. Itu pulalah cara kerja dan cara berfikir Muhammadiyah, ormas yg telah berusia 1 abad lebih, dg ratusan ribu amal usaha dari sekolah, universitas, rumah sakit, dst. Tanpa cara kerja dan cara berfikir seperti itu, mustahil Muhammadiyah mampu melahirkan karya-karya tersebut. 

  11. Yth. Prof. Thomas

    Dengan kemajuan teknologi komputer saat ini serta kemampuan umat Islam menguasai teknologi tersebut soft ware fase bulan bisa dibuat. Dengan penguasaan teknologi tersebut, fase bulan pertama muncul atau hilal bisa diamati dan terlihat oleh siapa saja. Keterlihatan fase bulan pertama kali ( hilal ) melalui software tersebut dengan otomatis hilal bisa terlihat sebagai pedoman memasuki awal bulan baru dan menentukan waktu – waktu ibadah.

    Wassalam,
    Zudi

    • Ya, software bisa menghitung dengan akurat posisi bulan. Dan dengan software pula ketampakan bisa disimulasikan, termasuk efek cahaya senja yang menghambat ketampakan hilal yang sangat tipis. Silakan coba simulasi Stellarium (kalau belum punya, silakan download di http://www.stellarium.org/). Bulan yang terlalu rendah tidak akan terlihat dalam simulasi itu, kalah oleh cahaya senja, kecuali kalau atmosfer dianggap tidak ada (sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam alam nyata). Perlu diingat, hilal itu fenomena ketampakan, bukan bukan fenomena wujud (eksistensi), karena hilal wujudnya adalah bulan (yang sebelahnya terang dan sebelahnya gelap).

      • Yth. Prof Thomas

        Dengan hormat,
        Saya menangkap dari jawaban Pak Thomas ada ambivalensi dan ambiguitas terhadap definisi hilal, perkembangan ilmu falak dan ilmu computer yang bisa membantu kemudahan menentukan awal bulan baru ( hilal ). Sebenarnya dengan perkembangan teknologi dan penguasaan teknologi ( baik ilmu falak dan teknologi computer ) umat Islam sudah bisa mengetahui dengan gampang wujud / munculnya bulan baru ( hilal ) dengan begitu tanggal baru sudah bisa diketahui jauh – jauh hari, sehingga aktifitas umat Islam baik yang bersifat muamalat maupun peribadatan bisa dijadwalkan atau direncanakan dengan baik dan rapih.
        Mencermati lebih dalam mengenai ayat – ayat Al-Qur’an dan hadits mengenai perhitungan waktu sebagai pedoman peribadatan, semangatnya adalah keteraturan dalam pelaksanaanya, sehingga pemanfaat ilmu falak dan ilmu computer sebagai alat bantu dalam menentukan penanggalan / kalender adalah sesuatu yang sangat logis dan konstekstual sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.
        Saya mencoba mengkritisi pemaknaan penentuan awal bulan / kalender dengan rukyatul hilal ( bulan awal terlihat dengan mata ) adalah pemaknaan secara tekstual dan literal. Memang benar bahwa Rasulullah SAW mempraktekan rukyatul hilal pada saat itu, tapi hal tersebut dikarenakan ummat pada saat itu adalah ummat yang ummi ( tidak bisa menghitung atau belum menguasai ilmu falak ), hal tersebut menyebabkan praktek rukyatul hilal menjadi suatu keniscayaan karena illat ummat yang ummi.
        Saya juga mencoba mengkritisi praktek implementasi IR dewasa ini, alih – alih IR sebagai metode menentukan awal bulan baru pada prakteknya yang terjadi adalah praktek rukyatul hilal an sich, sehingga bulan baru baru bisa ditentukan pada H-1 dan melalui sidang isbat. Tapi dilain sisi saya juga melihat IR bisa menjadi solusi buat ummat jika implementasinya dilakukan dnegan konsisten, artinya : kalender yang sudah disusun kriteria IR bisa di implementasikan dengan konsisten tanpa ada intervensi politis ataupun sosiologis, mengenai kriteria yang tepat mengenai parameter IR saya berpendapat masih perlu penyempurnaan dikemudian hari. terimakasih.

        Wassalammualaikum WR…WB…

  12. Bp Thomas selalu menilai bahwa logika wujudul hilal Muhammadiyah itu salah. Pernahkah Bp berfikir bahwa kesalahan itu mungkin hanya menurut perspektif yg Bp pakai?

    Benarkah logika dalam Imkanurrukyat itu 100% benar? Bagaimana kita tahu bahwa itu 100% benar, sementara pada pengamatan melalui teropong utk menentukan lebaran pd 7 Agustus yg lalu itu cuma 1 lokasi yg berhasil mendokumentasikan hilal, sedang puluhan pusat pengamatan hilal yg lain gagal. Bisa saja Bp berdalih karena itu faktor cuaca atau terhalang awan. Tapi dg adanya dalih itu, justru itu akan membuktikan bahwa logika imkanurrukyat yg Bp agung-agungkan itu tidak sepenuhnya benar 100%. Berarti itu sama saja dg logika wujudul hilal. Dan Bp memakai IR karena itu yg Bp yakini benar, begitu pun dg Muhammadiyah. Akhirnya, jelas bahwa dasar utamanya bukan kebebaran ilmiah, tapi lebih karena keyakinan. Bedanya, Muhammadiyah mengakui bahwa itu keyakinan, sedang Bp selalui memakai alasan sains (astronomi). Seharusnya Bp bisa lebih jujur terhadap diri Bp sendiri.

  13. Tinggal selangkah lagi, yaitu dg mendoakan Prof Thomas agar menyadari kekeliruannya selama ini, bahwa keyakinan beragama tidak bisa 100% didekati secara positivistik ( logika sains). Logika saintifik sangat reduktif dan berpotensi menindas realitas dan nilai-nikai kemanusiaan jika penerapannya tidak dilakukan secara cermat. Penerapan sebuah metode saintifik bagi sekelompok umat manusia seharusnya dengan tetap menghormati keragaman dan kompleksitas kelompok umat tersebut. Bukan dg cara menghancurkan keragaman tsb. Ironisnya, metode imkanurrukyat yg dijajakan oleh pemerintah selama ini justru bermaksud menghancurkan keragaman yg ada di Indonesia.

    Saya sangat mendukung sikap Muhammadiyah yg menolak sikap Prof. Thomas Cs yg “ngotot” memaksakan logika positivistik tsb !!!

    • kpd yth. prof udin
      yg perlu anda ketahui bahwa penentuan ramadhan atau hari raya itu bkn sebuah ibadah, ibadah sesungguhnya adl ramadhan & hari raya itu sndri, kl metode WH lebih maslahat tdk memberikan keraguan knp qt tdk meyakini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: