Ayo Belajar Hisab Imkan Rukyat: Kasus Idul Fitri 1Syawal 1434

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat

Astronomi bisa memberi solusi penyatuan ummat. Astronomi bisa mempersatukan pengamal rukyat (pengamatan hilal) dan pengamal hisab (perhitungan posisi hilal). Astronomi bisa mewujudkan satu kalender Islam yang mapan. Untuk mempersatukan ummat, dengan astronomi mari kita upayakan kesepakatan kriteria yang bisa mewadahi pengamal rukyat dan pengamal hisab secara setara. Ayo kita belajar astronomi untuk bersama-sama mencerdaskan ummat dan menuju kesatuan ummat melalui penyatuan kriteria awal bulan tersebut. Perhitungan astronomi (hisab) bisa diselaraskan dengan rukyat (pengamatan hilal) sehingga hasilnya akan sama. Pilihan kriterianya yang menyelaraskan hisab dan rukyat haruslah kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat (IR) yang ditentukan dengan kesepakatan dan didasari hasil penelitian astronomi. Berikut ini contoh hisab imkan rukyat (IR) penentuan Syawal 1434. Kita bisa gunakan dua perangkat lunak yang bisa diperoleh di internet. Pertama Accurate Time untuk perhitungan dan pembuatan garis tanggal, serta analisis visibilitas hilal (imkan rukyat). Kedua Stellarium untuk membuat simulasi posisi bulan dan matahari.

A. Analisis Visibilitas Hilal (Imkan Rukyat, IR) dengan Accurate Time

Accurate Time-a

Langkah awal adalah klik “Location“, lalu pilih lokasinya atau masukkan koordinat kota rujukan kalau belum ada di dalam basis datanya. Misalnya, kita masukkan lokasi Pelabuhan Ratu yang menjadi rujukan hisab Taqwim Standar Indonesia. Lalu klik “Date” untuk memasukkan tanggal pengamatan, yaitu tanggal 29 bulan qamariyah. Dalam penentuan Syawal 1434, tanggal 29 Ramadhan jatuh pada 7 Agustus 2013. Maka masukkan tanggal tersebut. Lalu klik “Crecent Visibility” untuk mendapatkan informasi visibilitas hilal (imkan rukyat).

Accurate Time-b

Pertama, kita buat dulu garis tanggal Syawal 1434 untuk melihat peta visibilitas hilal. Kita klik “Hijric Date“, lalu pilih Syawal 1434. Kemudian klik “Crescent Visibility Map“. Nanti akan muncul peta kosong.  Klik tanggal pengamatan (7 Agustus 2013) lalu klik “Draw”. Secara default kriteria yang digunakan adalah kriteria Odeh. Kita boleh juga memilih kriteria lainnya (Yallop atau SAAO) di pilihan kotak kanan bawah. Hasilnya adalah peta visibilitas hilal menurut kriteria Odeh atau pilihan kriteria lainnya.

Shawwal 1434

Kalau mau mendapatkan data rinci di lokasi rujukan (misalnya Pelabuhan Ratu), pertama kita klik “Topocentric Calculation” untuk mendapatkan perhitungan berdasarkan posisi pengamat di permukaan bumi. Itu untuk membedakan dari perhitungan teoritik bumi sebagai titik (“Geocentric Calcaulation). Periksa “Day of Calculation” dan “Time of Calculation” apakah sesuai dengan tanggal dan waktu yang kita maksud, misalnya 7 Agustus 2013 dan saat maghrib (sunset). Lalu klik “Preview” untuk memasukkan syarat perhitungan tersebut. Hasilnya kita peroleh setelah mengklik “Calculate“.

Accurate Time-c

Interpretasi garis tanggal

Interpretasi garis tanggal adalah interpretasi umum yang paling mudah. Garis batas arsir merah dan putih adalah garis wujudul hilal (WH), artinya bulan sudah wujud saat matahari terbenam pada 7 Agustus. Bagi pengamal hisab WH, mereka bisa menyimpulkan 1 Syawal 1434 jatuh pada keesokan harinya, 8 Agsutus 2013. Garis batas arsir putih dan biru adalah batas kriteria visibilitas hilal dengan alat optik menurut kriteria Odeh. Kalau dihitung ketinggian bulannya, kita-kira 5 derajat. Jadi kita bisa memperkirakan, garis tanggal kriteria 2 derajat melintas di bagian Utara Indonesia. Artinya, dengan kriteria 2 derajat pun (sebagai salah satu syarat kriteria IR “2-3-8” yang digunakan sebagian besar ormas Islam di Indonesia), bisa disimpulkan di Indonesia sudah terpenuhi kriteria IR 2 derajat, sehingga secara hisab IR 2 derajat 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013.

Interpretasi Posisi Bulan

Interpretasi posisi bulan sering digunakan untuk membantu rukyat atau menyimpulkan masuknya awal bulan dari data ketinggian, elongasi, dan parameter lainnya. Tetapi analisis ini hanya terbatas untuk lokasi yang kita pilih. Untuk mendapatkan gambaran lengkap, perlu juga dianalisis lokasi-lokasi lainnya. Untuk lokasi rujukan Pelabuhan Ratu, data hisab tersebut menyatakan:

– Tinggi bulan saat maghrib: 3o 18′ 54″.

– Beda tinggi bulan-matahari: 4o 15′ 32″ dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari): 7o 18′ 35″.

Artinya, posisi bulan sudah memenuhi kriteria WH, IR 2 derajat, dan IR LAPAN. Sehingga berdasarkan hisab, disimpulakan 1 Syawal di Indonesia jatuh pada 8 Agustus 2013.

B. Analisis Posisi Bulan dengan Stellarium

Stellarium menampilkan simulasi ketampakan bulan (dan benda-benda langit lainnya) seolah kita melihatnya langsung di langit. Pertama, kita gerakkan kursor ke kiri untuk mendapatkn menu pilihan. Klik “Jendela Lokasi” lalu kita pilih kota lokais pengamatan, misalkan Jakarta. Lalu klik “Jendela Tanggal/Waktu” untuk memasukkan tanggal 7 Agustus 2013 dan waktunya sekitar matahari terbenam.  Dengan mouse klik kiri ditekan, gerakkan kursor untuk menampilkan titik Barat (B). Maka akan terlihat bulan dan matahari. Untuk menampilkan bulan dan matahari secara lebih jelas, hamburan cahaya oleh atmosfer jangan ditampilkan. Caranya, klik “Jendela Opsi Langit dan Pandangan”. Tanda dihapus pada “Tampilkan Atmosfer”. Pada menu pilihan di bawah, bisa juga dipilih “sudut” (tidak semua versi) untuk menghitung ketinggian bulan, beda tinggi bulan-matahari, dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari). Ketinggian dihitung dari ufuk, ketika matahari terbenam (piringan atas matahari menyentuh ufuk). Kalau tidak ada menu “sudut”, cara manual bisa dilakukan, dengan mengklik bulan dan matahari, kemudian mencatat ketinggian masing-masing.

Hilal Syawal 1434-a

Tinggi bulan

Hilal Syawal 1434-b

Beda tinggi bulan-matahari

Hilal Syawal 1434-c

Elongasi (jarak sudut bulan-matahari).

Interpretasinya sama dengan interpertasi posisi bulan tersebut di atas. Bandingkan posisi bulan dengan kriteria yang digunakan. Bila telah melebihi kriteria, artinya awal bulan sudah masuk. Data stellarium (walau posisi pengukuran jarak sudut diperkirakan kasar) mirip dengan data perhitungan Accurate Time, karena Pelabuhan Ratu tidak terlalu jauh dari Jakarta. Data stellarium pum menyimpulkan, secara hisab IR 1 Syawal jatuh pada 8 Agustus 2013.

Kapan Idul Fitri 1434?

Demi persatuan ummat, keputusan Idul Fitri kita tunggu dari hasil sidang itsbat (penetapan) pada 7 Agustus sore. Mengapa harus menunggu sidang itsbat, padahal kita sudah mempunyai hasil hisab IR? Ya, kita harus menghargai saudara-saudara kita pengamal rukyat yang menantikan hasil rukyat untuk penetapan akhir Ramadhan. Mereka mempunyai hasil hisab juga, tetapi untuk ibadah mereka meyakini perlunya bukti rukyat. Pemerintah mewadahi kepentingan semua ummat Islam, karenanya diadakan sidang itsbat untuk menghimpun semua hasil hisab dan hasil rukyat. Karena kriteria yang digunakan masih beragam dan belum sepenuhnya menggunakan kriteria astronomi, maka potensi perbedaan sangat terbuka. Untuk penentuan awal Syawal 1434 kebetulan hasil hisabnya sama, tetapi mengingat kondisi cuaca yang tak menentu kemungkinan gagal rukyat bisa terjadi. Nah, sidang itsbatlah yang nanti memutuskan ketika terjadi perbedaan. Kalau terjadi perbedaan antara hisab IR dengan hasil rukyat, kemungkinan akan dipertimbangkan juga  penggunaan Fatwa MUI No. Kep/276/MUI/VII/1981 yang membolehkan penetapan awal bulan berdasarkan hisab saja bila bulan sudah imkan rukyat (mungkin dirukyat), walau hilal tidak terlihat. Hal itu pernah terjadi saat sidang itsbat 1987.  Karena hasil hisab IR sepakat bahwa Idul Fitri jatuh pada 8 Agustus 2013 dan mengingat Fatwa MUI 1981, kemungkinan besar Idul Fitri jatuh pada 8 Agustus 2013. Namun, kepastiannya kita harus menunggu hasil sidang itsbat. Demi persatuan, kita harus menghargai adanya otoritas tunggal (Pemerintah) dan mematuhi keputusannya yang sudah mempertimbangkan aspek ilmiah dan fikih dalam musyawarah yang dihadiri para ulama, pakar hisab rukyat, dan perwakilan ormas-ormas Islam.