Bulan Sabit Siang Hari Bukan Hilal Penentu Awal Bulan


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Teleskop Legault

Thierry Legault, pemburu bulan sabit muda pada siang hari

Teleskop Elsasser

Elsasser pemburu bulan sabit muda siang hari.

Masalah penentuan awal bulan qamariyah Hijriyah, khususnya Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, tidak terlepas dari upaya pengamatan (rukyat) hilal sesuai dengan contoh Rasul. Rukyat selalu dilaksanakan sesudah maghrib. Hilal adalah bulan sabit pertama yang teramati sesudah maghrib. Namun, pengamatan hilal yang muda sangat sulit, karena hilal yang sangat tipis itu sering kali terganggu oleh cahaya senja (syafak) akibat hamburan cahaya matahari oleh atmosfer. Mengapa hilal yang dijadikan penentu awal bulan, walau pun itu sulit diamati? Logika astronomis bisa menjelaskannya. Hilal adalah penanda yang mudah dikenali bahwa malam itu mulainya bulan baru. Malam-malam sebelumnya ditandai dengan bulan sabit tua yang tampak pagi hari, lalu dilanjutnya malam tanpa bulan (darkmoon atau bulan mati), baru kemudian malam dengan hilal. Isyarat di dalam Al-Quran menempatkan hilal sebagai penentu awal bulan, selain perintah Rasul “Shumu li ru’yatihi ” (Berpuasalah bila melihatnya — hilal)”.

Hilal adalah bulan sabit pertama yang dijadikan sebagai penanda awal bulan Hijriyah. Itulah contoh Rasul yang sekaligus menjadikan awal hari dan tanggal dalam Islam adalah saat maghrib. Setelah hilal teramati, malam itu dimulainya bulan baru. Kalau itu hilal awal Ramadhan, maka semua ritual Ramadhan dimulai saat itu pula. Shalat tarawih dan sahur adalah ritual khas Ramadhan yang dimulai sejak malam terlihatnya hilal.

Saat ini dengan perkembangan teknologi pengamatan, bulan sabit bisa teramati pada siang hari. Teknik yang umum dilakukan adalah menghalangi cahaya matahari dengan alat penutup terpisah dari teleskop (seperti yang dilakukan Legault, lihat gambar di atas), atau dipasangkan pada ujung teleskop (seperti dilakukan Martin Elsasser, lihat gambar di atas), atau menggunakan tabung panjang di depan teleskop (seperti teknik Elsasser lainnya). Lalu pengamatan dengan teleskop yang dilengkapi dengan kamera digital. Kadang digunakan filter inframerah untuk mengurangi cahaya biru dari langit sehingga cahaya bulan sabit bisa tampak lebih menonjol. Citra yang direkam kamera digital bisa diproses dengan komputer untuk meningkatkan kontras cahaya bulan sabit.

Berikut ini beberapa contoh bulan sabit yang dipotret siang hari:

1. Bulan Sabit Sebelum Konjungsi

Bulan sabit sebelum konjungsi berhasil dipotret dari Observatorium Bosscha, ITB. Konjungsi terjadi pada 16 September 2012 pukul 07:54 WIB. Namun sehari sebelumnya, pada 15 September 2012, pukul 14:54 WIB (17 jam sebelum konjungsi) bulan sabit tipis berhasil diamati. Citra diproses setelah dikoreksi dengan citra gelap (koreksi atas ketidakrataan piksel kamera), kemudian ditingkatkan kontrasnya.

Bulan Sabit pra-ijtimak-Bosscha-Dzulqaidah 1433

Bulan sabit tua yang dipotret siang hari di Observatorium Bosscha.

2. Bulan Sabit Saat Ijtimak

Thierry Legault memotret bulan sabit saat ijtimak pada pukul 09:14 waktu setempat. Tekniknya adalah menghalangi matahari dengan papan berlubang (lihat gambar atas), lalu memotretnya dengan teleskop yang dilengkapi filter inframerah 850 nm dan kamera digital. Kemudian citra diproses dengan koreksi medan rata (flat field, koreksi  piksel kamera), lalu ditingkatkan kontrasnya dan diberi warna biru (sekadar pilihan warna Legault).

Crescent-Legault

3. Bulan Sabit Setelah Ijtimak

Elsasser memotret bulan sabit muda yang berumur 4 jam 11 menit pada siang hari, pukul 09.08 – 09.40 waktu setempat. Teknik yang digunakan adalah meotret dengan teleskop yang dilengkapi tabung panjang untuk menghalangi cahaya matahari. Citra kamera digital kemudian diproses untuk meningkatkan kontras bulan sabit.

Bulan Sabit setelah ijtimak-Elsasser

Bulan sabit siang hari pasca ijtimak dipotret Elsasser.

Terlihatnya bulan sabit siang hari tidak menunjukkan pergantian bulan. Bulan sabit siang hari bisa menunjukkan bulan sabit tua (sebelum konjungsi, umur < 0 jam), bulan sabit saat konjungsi (umur = 0 jam), atau bulan sabit muda (setelah konjungsi, umur > 0 jam). Jadi, rukyat bulan sabit siang hari BUKAN hilal penentu awal bulan. Bulan sabit yang pasti sebagai bulan sabit awal bulan (hilal) hanyalah yang teramati setelah maghrib.

Teramatinya bulan sabit siang hari bukan jaminan akan terlihatnya hilal saat maghrib.  Pengamatan Jim Stamm bisa menjadi contoh. Jim Stamm menceritakan pengamatan dengan teleskop, tanpa kamera, hanya melihat dengan mata via okuler teleksop. Detektornya adalah mata. Kepekaan mata manusia sekitar panjang gelombang biru-hijau. Pada siang hari pk 13.00 dengan langit biru yang cerah (deep blue), bulan sabit tidak terlihat. Pada siang hari pukul 14:40 dan 16:50 dia berhasil melihat bulan sabit ketika warna langit lebih “biru keputihan” (silvery blue). Bulan sabit masih termati sampai 17.10, setelah itu tidak teramati lagi.  Dia bertanya: What did happen? Are the colors deceiving my expectations of contrast? Is there a filter quality of the atmosphere that may be enhancing the contrast at a lower altitude? Is there some kind of relationship between scattered sunlight and the reflected light of the crescent?

Penjelasan tidak berhasilnya rukyat pada saat maghrib, walau siang harinya terlihat adalah sebagai berikut: Pengamatan hilal adalah masalah kontras antara bulan sabit dan cahaya latar depan. Pada saat pk 13:00 cahaya bulan sabit masih kalah dari cahaya langit biru. Bagi mata, cahaya bulan sabit dan cahaya langit sama-sama terangnya, sehingga bulan sabit tidak terlihat. Ketika bulan (dan matahari) makin rendah sekitar pukul 14:40 sampai 17:10, langit tampak agak pucat, masih biru tetapi lebih putih. Bulan sabit pun sebenarnya mengalami peredupan ke arah panjang gelombang kuning-merah, tetapi intensitas hamburan cahaya langit berkurang. Saat itulah kontras bulan sabit meningkat (bulan sabit terlihat lebih terang dari cahaya langit) sehingga bulan sabit terlihat. Ketika matahari menjelang terbenam sampai terbenam, cahaya bulan sabit melalui atmosfer yang lebih tebal, warnanya makin kuning-merah, sementara atmosfer pun mulai menghamburkan cahaya kuning-merah. Kontras cahaya bulan sabit menurun lagi, alias bulan sabit kalah terang dibandingkan cahaya langit. Akibatnya bulan sabit tidak terlihat.

Catatan tambahan, contoh kasus yang menunjukkan bahwa bulan sabit siang hari bukan penentu awal bulan:

Jika pada 29 Ramadhan di laporkan bulan sabit teramati pukul 11.00, apakah itu penanda akhir Ramadhan? Bukan. Sebab itu akan menimbulkan persoalan hukum. Jika bulan sabit itu dianggap sebagai penanda akhir Ramadhan dan awal Syawal, puasa harus dibatalkan, padahal syariat mengajarkan puasa harus sampai maghrib. Lagi pula, puasa kan baru 28 hari. Kalau puasa diteruskan, Rasul melarang puasa pada 1 Syawal atau Idul Fitri. Jadi, kita tidak boleh membuat definisi baru tentang awal bulan (misalnya dengan menggunakan bulan sabit siang hari), karena akan berbenturan dengan aturan hukum terkait lainnya.

23 Tanggapan

  1. pak Thomas..bagaimana dengan ini??bisakah bapak menjelaskan secara ilmiah? http://www.sangpencerah.com/2013/07/penampakan-purnama-22-juli-2013-di.html

  2. kala ada awal, ada akhir ,ada tengah juga dong profesor??? kalau sudah terlihat purnama tinggal hitung mundur saja tanggal 1 nya….kan profesor menentukan awal dengan melihat bulan,ya fair nya liat bulan aja seterusnya,purnama kapan tinggal hitung mundur…semalem di serong tangsel juga sudah terlihat purnama

    • Maaf serpong maksud saya Artinya, purnama bisa terlihat pada malam ke-14 atau ke-15, sehingga tidak memberikan kepastian ketika ditelusur mundur. (saya ambil dari artikel prof.diatas)
      seandainya memang di malam ke 15,berarti???

    • Masalahnya, yang bisa ditentukan hanya awalnya. Tengahnya, purnama tidak bisa jadi penentu. Akhirnya, bisa 29 atau 30.

    • tengah bulan menurut Nabi Muhammad SAW jatuh pd tgl yg ke-14. ingat puasa sunnah tengah bulan tgl 13,14, 15…. bukan 14,15,16

  3. penjelasan dan penelitian yg sangat menarik

  4. Assalamu’alaikum Wr Wb.
    Prof. Thomas, setelah membaca hasil pengamatan hilal oleh Thierry Legault (TL), ada pertanyaan yang masih mengganjal di benak saya, sbb:
    1. Hilal yang terlihat oleh TL di siang hari pada saat konjungsi itu hilal tua atau hilal muda?
    2. Jika yang berhasil dilihat itu adalah hilal muda, bukankah kriteria penampakan hilal muda yang dimaksud Nabi SAW sudah terpenuhi? Mengapa tidak boleh dijadikan sebagai tanda awal bulan baru?
    3. Jika alasannya karena Nabi SAW mencontohkan melihat hilal muda HARUS setelah maghrib, bukankah hal ini dikarenakan saat itu belum ada teknologi melihat hilal muda di siang hari? Sehingga setelah ada bukti secara teknologi bahwa hilal muda dapat terlihat pada saat konjungsi, maka KEHARUSAN melihat hilal setelah maghrib bisa di NASIKH dengan mempertimbangkan bahwa contoh melihat hilal setelah maghrib hanyalah sebagai ILLAT karena pada jaman Nabi SAW belum ada teknologi(UMMI)? Dengan demikian kriteria hisab penanda awal bulan baru dimasa sekarang adalah konjungsi dengan bukti ketampakan hilal oleh TL.
    4. Atau jika alasannya karena saat ini masih banyak pengamal rukyat setelah maghrib yang harus diakomodir, bukankah justru sebaliknya bahwa praktik rukyat semacam ini yang seharusnya ditinggalkan, mengingat:
    a. Praktik ini tidak relevan lagi dengan TUNTUTAN JAMAN karena menunjukkan bahwa umat Islam saat ini masih dalam keadaan UMMI, terlebih lagi setelah ada teknologi hisab IR KRITERIA TL.
    b. Seolah2 tidak bisa menjamin kalender ibadah dan administratif yang PREDIKTIF. (menunggu pada hasil rukyat)
    5. Bukankah Hisab IR KRITERIA TL inilah yang justru merupakan bentuk upaya mencerdaskan umat dan mengantarkan umat kepada budaya MODERN, yakni kalender yang DEFINITIF dan PREDIKTIF ? Sebaliknya rukyatul hilal justru bukan merupakan upaya pencerdasan umat yang akan mengembalikan status ke-UMMI-an ummat atau mempertahankan STATUS QUO, karena harus meneropong hilal dulu setiap ingin menentukan bulan baru (mirip dengan perilaku ketika belum ditemukan jam tangan)? Adapun IR meskipun merupakan HISAB, namun masih memberi CELAH bagi praktik rukyatul hilal dalam menentukan bulan baru sehingga secara tidak langsung masih mendukung kalender yang tidak prediktif juga. Memang akan terbayang betapa berat usaha melawan ARUS DERAS pengamal rukyatul hilal (dan arus kuat WH) ketika harus mengkampanyekan IR KRITERIA TL, namun bukankah disitulah letak JIHAD yang bisa Prof Thomas tempuh sebagai seorang ulama? Katakanlah yang benar karena sesuai Sunnatullah meskipun pahit dan tidak populer (dimata penganut IR maupun WH).
    6. Bagaimana jika kesatuan kalender umat diwujudkan dengan HISAB IR KRITERIA TL yang telah terbukti sesuai dengan Sunnatullah, yakni terbukti secara rukyat dan hisab? Bagi pengamal rukyat, hanya diperlukan sedikit modifikasi waktu pengamatan hilal yang TIDAK MESTI DILAKUKAN SETELAH MAGHRIB. Bagi penganut WH, hanya membatalkan kriteria MOONSET AFTER SUNSET. Bukankah argumentasi ini akan lebih mudah diterima (dengan sedikit pengorbanan), baik oleh pengamal rukyat maupun penganut WH?
    7. Kalaupun Ijtimak terjadi pada sekitar waktu SYAFAQ (atau diwaktu lain) yang menjadikan hilal MUNGKIN tidak bisa / SULIT terlihat dengan teknologi TL, bukankah hal ini tidak seharusnya menafikan bahwa HILAL TELAH TERBIT, hanya saja ketampakannya “terganggu” syafaq (atau cahaya latar depan lain)? Siapa tahu suatu saat nanti ada teknologi baru yang dapat menjaga kontras hilal di waktu syafaq (atau saat ada cahaya latar depan lain), sehingga hilal selalu bisa terlihat kapan saja pada saat konjungsi)?
    8. Apakah IR KRITERIA TL ini bisa dikatakan sama dengan IQG?
    9. Benarkah IQG bisa/pernah menjadikan jumlah hari dalam sebulan qomariah hanya 28 hari?

    Mohon tanggapan Prof. Thomas.
    Wasalam

    • Ini jawaban saya:
      1. Hilal yang terlihat oleh TL di siang hari pada saat konjungsi itu hilal tua atau hilal muda?
      TD: Itu bulan sabit umur 0 jam, bukan hilal.
      2. Jika yang berhasil dilihat itu adalah hilal muda, bukankah kriteria penampakan hilal muda yang dimaksud Nabi SAW sudah terpenuhi? Mengapa tidak boleh dijadikan sebagai tanda awal bulan baru?
      TD: Jelas itu bukan hilal.
      3. Jika alasannya karena Nabi SAW mencontohkan melihat hilal muda HARUS setelah maghrib, bukankah hal ini dikarenakan saat itu belum ada teknologi melihat hilal muda di siang hari? Sehingga setelah ada bukti secara teknologi bahwa hilal muda dapat terlihat pada saat konjungsi, maka KEHARUSAN melihat hilal setelah maghrib bisa di NASIKH dengan mempertimbangkan bahwa contoh melihat hilal setelah maghrib hanyalah sebagai ILLAT karena pada jaman Nabi SAW belum ada teknologi(UMMI)? Dengan demikian kriteria hisab penanda awal bulan baru dimasa sekarang adalah konjungsi dengan bukti ketampakan hilal oleh TL.
      TD: Alasan batas waktu maghrib sudah saya jelaskan di tulisan di atas.
      4. Atau jika alasannya karena saat ini masih banyak pengamal rukyat setelah maghrib yang harus diakomodir, bukankah justru sebaliknya bahwa praktik rukyat semacam ini yang seharusnya ditinggalkan, mengingat:
      a. Praktik ini tidak relevan lagi dengan TUNTUTAN JAMAN karena menunjukkan bahwa umat Islam saat ini masih dalam keadaan UMMI, terlebih lagi setelah ada teknologi hisab IR KRITERIA TL.
      b. Seolah2 tidak bisa menjamin kalender ibadah dan administratif yang PREDIKTIF. (menunggu pada hasil rukyat)
      TD: Praktik rukyat saat maghrib beralasan secara astronomis, karena itulah batas awal bulan setelah sebelumnya bulan tua dan bulan mati.
      5. Bukankah Hisab IR KRITERIA TL inilah yang justru merupakan bentuk upaya mencerdaskan umat dan mengantarkan umat kepada budaya MODERN, yakni kalender yang DEFINITIF dan PREDIKTIF ? Sebaliknya rukyatul hilal justru bukan merupakan upaya pencerdasan umat yang akan mengembalikan status ke-UMMI-an ummat atau mempertahankan STATUS QUO, karena harus meneropong hilal dulu setiap ingin menentukan bulan baru (mirip dengan perilaku ketika belum ditemukan jam tangan)? Adapun IR meskipun merupakan HISAB, namun masih memberi CELAH bagi praktik rukyatul hilal dalam menentukan bulan baru sehingga secara tidak langsung masih mendukung kalender yang tidak prediktif juga. Memang akan terbayang betapa berat usaha melawan ARUS DERAS pengamal rukyatul hilal (dan arus kuat WH) ketika harus mengkampanyekan IR KRITERIA TL, namun bukankah disitulah letak JIHAD yang bisa Prof Thomas tempuh sebagai seorang ulama? Katakanlah yang benar karena sesuai Sunnatullah meskipun pahit dan tidak populer (dimata penganut IR maupun WH).
      TD: Kalender untuk ibadah tetap haru merujuk dalil. Tidak ada alasan untuk menggunakan batas awal bulan dengan kriteria lain (ijtima, iQG, atau WH).
      6. Bagaimana jika kesatuan kalender umat diwujudkan dengan HISAB IR KRITERIA TL yang telah terbukti sesuai dengan Sunnatullah, yakni terbukti secara rukyat dan hisab? Bagi pengamal rukyat, hanya diperlukan sedikit modifikasi waktu pengamatan hilal yang TIDAK MESTI DILAKUKAN SETELAH MAGHRIB. Bagi penganut WH, hanya membatalkan kriteria MOONSET AFTER SUNSET. Bukankah argumentasi ini akan lebih mudah diterima (dengan sedikit pengorbanan), baik oleh pengamal rukyat maupun penganut WH?
      TD: Silakan baca ulang tulisan saya di atas. Bulan sabit siang hari bisa menunjukkan bulan tua, bulan saat ijtimak, atau bulan pasca ijtimak, tetapi BUKAN hilal.
      7. Kalaupun Ijtimak terjadi pada sekitar waktu SYAFAQ (atau diwaktu lain) yang menjadikan hilal MUNGKIN tidak bisa / SULIT terlihat dengan teknologi TL, bukankah hal ini tidak seharusnya menafikan bahwa HILAL TELAH TERBIT, hanya saja ketampakannya “terganggu” syafaq (atau cahaya latar depan lain)? Siapa tahu suatu saat nanti ada teknologi baru yang dapat menjaga kontras hilal di waktu syafaq (atau saat ada cahaya latar depan lain), sehingga hilal selalu bisa terlihat kapan saja pada saat konjungsi)?
      TD: Bagi pengamal hisab, tidak perlu bukti rukyat. Tetapi bagi pengamal rukyat, ketampakan hilal diperlukan. Jadi, ya tetap harus dibuktikan bahwa hilal bisa mengalahkan cahaya syafak.
      8. Apakah IR KRITERIA TL ini bisa dikatakan sama dengan IQG?
      TD: Hasil pengamatan TL tidak bisa dijadikan kriteria untuk hisab, karena (saya ulang) bulan sabit sinag bisa menyatakan bulan tua, bulan saat ijtimak, atau bulan muda pascaijtimak, bukan hilal.
      9. Benarkah IQG bisa/pernah menjadikan jumlah hari dalam sebulan qomariah hanya 28 hari?
      TD: Krietria apa pun (Ijtimak, IQG, WH, atau IR) kalau dilakukan konsisten, hasilnya hanya 29 atau 30 hari.

    • Assalamu’alaikum wr.wb.

      Yth. Pak Prof.T.Djamaluddin dan pak Vieto, perkenankan saya ikut urun rembug menanggapi pertanyaan pak Vieto.

      Yang saya pahami adalah bahwa konjungsi yang terjadi saat akhir bulan qomariah bukan hanya konjungsi geosentris (ijtimak) saja yang terjadi saat pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bisang dengan pusat bumi, melainkan ada juga konjungsi toposentris yaitu saat pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan di permukaan bumi.

      Karena konjungsi toposentris itu merupakan saat dimana pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi, maka sejatinya konjungsi toposentris itu berlangsung secara berkelanjutan sejak dari posisi pusat matahari dan pusat bulan berada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat subuh, hingga ke posisi pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat magrib.
      Dan ini berarti bahwa konjungsi geosentris (Ijtimak} adalah juga merupakan konjungsi toposentris yaitu saat posisi pusat matahari dan pusat bumi berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat dhuhur sekaligus berada satu bidang dengan pusat bumi.

      Dengan demikian jika dihubungkan dengan “dalil syar’i tentang penetapan awal bulan qomariah” yang mengutamakan observasi/pengamatan/rukyat, maka yang dinamakan konjungsi itu sesungguhnya bukanlah konjungsi geosentris (ijtimak) yg hanya berlangsung “sesaat” saja, melainkan konjungsi toposentris yang berlangsung sejak dari posisi pusat matahari dan pusat bulan berada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat subuh, hingga ke posisi pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat magrib.

      Oleh karena itu, hilal muda yang dijadikan pertanda masuknya awal bulan qomariah adalah yang teramati sesaat setelah berakhirnya konjungsi toposentris yaitu sesaat setelah posisi pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat magrib, dan hilal-hilal yang teramati sebelum itu adalah merupakan “hilal tua” yang menjadi pertanda akan berakhirnya bulan qomariah yg sedang berjalan.

      Karena akhir konjungsi toposentris terjadi di tempat pengamatan saat magrib. maka awal bulan qomariah dan juga pergantian hari qomariah dimulai saat magrib, sehingga untuk menentukan apakah suatu tempat dipemukaan bumi ini telah memasuki awal bula qomariah harus dilakukan pengamatan/observasi/rukyat pada saat magrib.

      Kesimpulannya :
      Jawaban atas pertanyaan pak Vieto adalah sbb :
      1. Hilal yang terlihat oleh TL adalah hilal tua, karena konjungsi toposentris belum berakhir.
      2. Hilal yg terlihat oleh TL tidak dapat dipedomani sebagai awal bulan qomariah karena bukan hilal muda.
      3. Karena akhir konjungsi toposentris terjadi di tempat pengamatan saat magrib. maka awal bulan qomariah dan juga pergantian hari qomariah dimulai saat magrib, sehingga untuk menentukan apakah suatu tempat dipemukaan bumi ini telah memasuki awal bula qomariah harus dilakukan pengamatan/observasi/rukyat pada saat magrib.
      4. Karena “dalil syar’i tentang penetapan awal bulan qomariah” mengutamakan observasi/pengamatan/rukyat,
      5. Agar memenuhi dalil syar’i maka IR kriteria TL seharusnya diterapkan pada saat magrib.
      6. Jika pengamatan/observasi/rukyat dilakukan pada saat selain magrib, maka awal bulan qomariah dan pergantian hari akan terjadi bukan saat magrib.
      7. Dalil syar’i mengatakan, jika “tersembunyi” genapkanlah bulan Syakban menjadi 30 hari.
      8. Bisa, apabila yang dimaksud Ijtimak dalam IQG adalah konjungsi toposentris yg terakhir, bukan konjungsi geosentris.
      9. Saya belum menemukan informasi tersebut.

      Terimakasih.

      Wassalamu’alaikum wr.wb.

  5. Saya sangat salut seorang Ilmuwan perhatian ttg Hilal (Bulan Sabit/Muda) spt Thierry Legaut semoga Allah SWT menuntun beliau shg kedepan bisa menemukan metode pengamatan Hilal pada saat sunset dengan bantuan alat berapapun ketinggian Hilal ( mulai dari 0 derajat ) aamiin YRA…….

  6. Pak profesor mohon dikomentari artikel di KOMPAS ini terutama picture nya,karena saya mau up load fotonya tidak bisa….

    http://nasional.kompas.com/read/2013/07/23/1020409/Spektrum.Ramadhan.di.Penjuru.Dunia.?utm_source=megapolitan&utm_medium=cpc&utm_campaign=artbox

    Terimakasih,Wassalamualaikum

    • Berdasarkan kriteria visibilitas hilal (lihat http://www.icoproject.org/icop/ram34.html) terlihat sebagian besar negara tidak mungkin mengamati hilal pada 8 Juli. Hanya wilayah Pasifik yang mungkin melihatnya dengan baik. Di Amerika Selatan juga mungkin melihat dengan teleskop. Potret hilal dari Tahiti membuktikannya.
      Ketika kita mendapat foto hilal, cermati lokasi dan waktu pengamatannya. Jangan gunakan kesaksian di wilayah Barat untuk diberlakukan di wilayah Timur, karena memang makin ke Barat bulan makin tinggi dan makin tua umurnya (artinya jarak sudutnya terhadap matahari makin besar). Jadi, makin ke Barat hilal memang makin mudah teramati.

      • kalau saya tidak memihak manapun profesor,tapi menurut hati,ilmu orang awam dan alam serta keyakinan saya mulai berpuasa ramadhan. Secara logika,kalau bulan sudah terlihat dibarat pasti dia sudah ada diposisi orbitnya untuk terlihat kearah yang lebih timur walaupun itu hujan atau mendung bukan? seperti matahari,kalau ditimur sudah terbit,walaupun cuaca mendung gelap gulita,ada hujan abu dari gunung berapi yang meletus,pasti matahari tetap berada sesuai orbitnya bukan yang akan terlihat orang orang di arah barat ? sesuai dengan dalil al quran,bulan ,matahari berputar dengan perhitungan perhitungan tertentu.

  7. […] Kini pengamatan bulan sabit siang hari sudah dimungkinkan dengan teknologi teleskop dengan penutup matahari, filter inframerah, kamera digital, dan perangkat lunak pengolah citra. Orang menyebutnya “Rukyat Qoblal Ghurub” (Pengamatan sebelum maghrib) yang dianggap sebagai alternatif solusi. Tetapi sesungguhnya itu bukan solusi, tetapi masalah baru dalam hukum ibadah. Rukyat siang hari tidak bisa memastikan pergantian bulan kalender, kecuali saat terjadi gerhana matahari. Karena itu bulan sabit siang hari bukan hilal penentu awal bulan. […]

  8. […] Kini pengamatan bulan sabit siang hari sudah dimungkinkan dengan teknologi teleskop dengan penutup matahari, filter inframerah, kamera digital, dan perangkat lunak pengolah citra. Orang menyebutnya “Rukyat Qoblal Ghurub” (Pengamatan sebelum maghrib) yang dianggap sebagai alternatif solusi. Tetapi sesungguhnya itu bukan solusi, tetapi masalah baru dalam hukum ibadah. Rukyat siang hari tidak bisa memastikan pergantian bulan kalender, kecuali saat terjadi gerhana matahari. Karena itu bulan sabit siang hari bukan hilal penentu awal bulan. […]

  9. […] Beberapa kalangan berharap pengamatan bulan sabit siang hari menjadi solusi. Mereka menyebutnya teknik “astrophotography” (yang makna asalnya adalah fotografi astronomi, istilah yang umum dalam astronomi untuk pengamatan segala objek langit) atau “Rukyat Hilal Qobla Ghurub” (RHQG). Mereka menganggap itulah solusi pemersatu hisab wujudul hilal dengan rukyatul hilal. Padahal bulan sabit siang hari bukanlah hilal penentu awal bulan. […]

  10. […] percobaan yang dilakukan oleh jim stamm.  Rincian pengamatan hilal ekstrim ini telah dibahas oleh T. Djamaluddin di web-nya. semoga menjadi referensi kita semua untuk lebih mengenal […]

  11. Assalamu’alaikum
    Trimakasih atas penjelasannya..

    Insya Allah, bisa sy fahami,.. yang pada akhirnya tetap penentuan awal bulan bukan pada saat konjungsi sebagai titik pangkal pemisahan antara akhir bulan dan awal bulan, tapi harus memenuhi kriteria “ketika terlihat hilal setelah konjungsi toposentris akhir saat magrib” jika dijabarkan dalam derajat elongasi, umur bulan sekian-sekian dsb,,,

    Tetapi, sekali lagi sy mohon maaf, karena penelaahan yang berbeda mengenai dasar hukum al Qur’an dan hadist yang kita pakai bersama.. Tentu kita masing-masing punya landasan yang sama, dan tidak ada upaya atau menafikan terhadap itu…
    Bisa saling menghargai dan menghormati tetap menjadi harapan kita bersama…

    Kita smua sepakat bahwa Al Qur’an hadir di muka bumi adalah sebagai percerah bagi dunia teologi juga ilmu pengetahuan.

    Kekaguman seorang mukmin, dikatakan oleh Syauqi Abu Khalil dalam kitab al Insan baina al ‘Ilm wa ad-Din, terhadap sebuah ayat QS al Hajj[22}:27..”Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan dating kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru YANG JAUH (‘amiqah)”..
    Penggunaan kata ‘amiq merupakan penisbahan pada bentuk permukaan bumi yang bulat, Sebab, jika bumi datar, kata yang lebih mendekati adalah”ba’id” yang memberikan makna jarak dua posisi yang datar (Sami bin Abdullah al Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi,”Athlas Tarikh al Anbiya wa ar Rusul” terjemah 2008).

    Sebuah tafsir yang holistik dari ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang al ahillah (hilal-hilal) sebagai penanda waktu. QS. Al Baqarah (2): 189. ‘’Mereka bertanya kepadamu tentang al ahillah (hilal-hilal). Katakanlah: hilal-hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji…’’
    Sungguh menarik, di dalam Al Qur’an, Allah tidak menyebut bulan sabit dalam bentuk tunggal al hilal, melainkan dalam bentuk jamak ‘al ahillah’, untuk menjadi pedoman bagi perhitungan penanggalan hijriyah.
    Ini menunjukkan umat Islam dimotivasi untuk memahami pergerakan bulan secara utuh, sejak sesaat setelah konjungsi sampai konjungsi kembali, dimana bulan akan berdinamika menjadi hilal-hilal dalam berbagai fasenya. Dan karenanya, fase-fase bulan sabit itu bisa digunakan untuk menetapkan kalender yang valid dan berlaku untuk semua, seperti halnya menetapkan waktu-waktu shalat. (*mengutip dari penjelasan saudara kita sebelumnya)

    Maaf jika mengulang kembali ayat ini…
    “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)”
    Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan manjilah-manjilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan supaya kita mengetahui waktu (bulan) dan tahun sedangkan matahari agar kita mengetahui waktu (hari) dan jam. Secara explisit dua ayat di atas juga mengandung pelajaran disyariatkannya mempelajari ilmu falak (astronomi) atau ilmu hisab untuk mengetahui waktu-waktu shalat, puasa, haji dan lainnya yang bermanfa’at bagi kaum Muslimin.

    Rasulallah Saw bersabda Kita adalah umat buta huruf, tidak pandai menulis dan tidak pandai berhitung, sebulan itu adalah sekian dan sekian (maksudnya kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari) (HR. Al Bukhari)
    Dari hadits diatas dapat kita pahami bahwa Rasulallah dan para shahabat tidak mempergunakan hisab sebagai dasar untuk memulai dan mengakhiri puasa, karena pada waktu itu ilmu hisab belum berkembang, orang – orang Arab masih dalam keadaan buta huruf, sehingga cara yang paling mudah dilakukan waktu itu dengan melihat bulan. Melihat bulan pada siang hari tentu saja sulit karena kalah oleh cahaya utamanya yaitu cahaya matahari, maka yang paling mudah adalah dilakukan pengamatan sore hari.

    Ketika saat ini sudah di temukan di ketahui secara hisab, juga menggunakan teknologi Fotografi yang bisa menangkap cahaya hilal pada siang hari.. tentu suatu hal yang LUAR BIASA pada saat ini…

    Hilal yang bisa terlihat pada siang hari (bagi sy pribadi) DENGAN CATATAN setelah konjungsi/ ijtima’ itu adalah bulan baru (pergantian bulan, setelah beredar satu putaran).
    Jika hilal yang teramati sangat tipis, dan umurnya “sangat sebentar”, tentu saja… lhaa wong “hilal muda”… besoknya hilal itu akan tampak lebih terang dari hari ini dan usianya akan lebih lama…. demikian dengan hari selanjutnya… hingga pertengahan bulan… dan akhirnya menjadi tua.. dan mati (saat ijtima= tidak terlihat cahaya hilal sama sekali)… kemudian muncul lagi menjadi hilal baru….

    Dengan metode ini bisa di buat tabel pengamatan dari mulai ijtima’=bulan tidak tampak cahaya, hari berikutnya kmudian bergeser sedikit= penampakan/bentuk hilal tipis, umurnya skitan, hari berukutnya bergeser lagi sedikit= penampakannya sperti apa, umurnya berapa,, dan seterusnya…

    Seperti tampak pada layar ” Fase Bulan: Kiri Barat.
    Tanggal Qamariyah berdasar Kalender Ummul Quro (Arab Saudi)”
    Setiap wilayah memiliki tempat pengamatan… dan terus menerus diamati… whuiiiihhh indahnya malam hari karunia Illahi… Saat itu Allah is watching me,,,
    KIta akan mengetahui fase pertengahan bulan dengan tepat (tgl 13,14,15) di wilayah tersebut…

    Jadi menurut saya pribadi, bukan suatu kesalahan atau dikatakan tidak sesuai dengan hadist atau al Qur’an… sebab kita merujuk pada akar yang sama…
    Ayat2 al Qur’an dan hadits2 yang telah diungkap oleh mas Bambang, Prof TJ, dan kita smua… memang harus kita tafakuri bersama..

    Wassalam…
    Salam Hormat dan slalu damai di hati.
    Selamat Hari Raya Idul Adha…
    Semoga kita selalu dilindungi Allah SWT
    Barakallah…

  12. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarokaatuh. Yang terhormat Prof T Djamaluddin. Mohon pencerahannya, sejak kapan manusia (muslim) mengenal dan meyakini bahwa bumi itu bulat ?? Sejak kapan manusia (muslim) mengetahui bahwa bulan bergerak mengelilingi bumi, bumi bergerak mengelilingi matahari dan seterusnya dengan perhitungan matematika yg pasti ? Dan siapa tokoh muslim yg pertama kali menggunakan perhitungan ini (hisab) ? Terima kasih sebelumnya atas pencerahannya.

    • Maaf, saya tidak mengetahui sejarahnya. Tetapi, dalam sains suatu pengetahuan adalah hasil kontribusi banyak orang. Bisa jadi, pengetahuan ilmuwan Muslim bearasal dari interaksi dengan ilmuwan non-Muslim atau sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: