Kesalahan Memahami Problem Kalender Islam


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Taqwim Standar

Susiknan Azhari (SA), Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menulis opini di Republika 5 Juli 2013, Problem Kalender Islam. Ada beberapa kesalahan dalam memahami problem kalender Islam. Saya tanggapi beberapa bagian tulisan tersebut (kutipan dari tulisan SA bertanda warna kuning):

Dalam khazanah pemikiran kalender Islam, khususnya di Indonesia, dikenal istilah wujudul hilal dan visibilitas hilal (imkanur rukyat). Pada awal kehadirannya wujudul hilal merupakan sintesa kreatif atau “jalan tengah” antara teori ijtimak (qabla al-ghurub) dan teori visibilitas hilal atau jalan tengah antara hisab murni dan rukyat murni.

Karena itu, bagi teori wujudul hilal, metode yang dibangun dalam memulai tanggal satu bulan baru pada kalender Islam tidak semata-mata proses terjadinya konjungsi, tetapi juga mempertimbangkan posisi hilal saat matahari terbenam. Dengan kata lain, awal bulan Qamariah dimulai bila telah terjadi konjungsi, konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam, dan matahari terbenam terlebih dahulu dibandingkan bulan.

Sementara itu, visibilitas hilal adalah bangunan teori yang bersumber dari pengalaman subjektif para pengamat. Sehingga, melahirkan beragam varian, misalnya, teori visibilitas hilal yang dikembangkan Mabims, Turki (1978), Mohammad Ilyas, Mohammad Syawkat Audah (Odeh), dan Hamid Mijwal Naimiy. Teori ini menyatakan awal bulan Qamariah dimulai bila memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, seperti telah terjadi konjungsi, konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam, elongasi, umur bulan, mukuts, dan ketinggian hilal.

Ada kesalahan SA dalam memahami visibilitas hilal atau Imkan Rukyat (IR). IR dan WH sama-sama kriteria yang digunakan dalam menilai hasil hisab, apakah sudah masuk awal bulan atau belum. WH bukan jalan tengah hisab murni dan rukyat murni, karena WH bermasalah dengan posisi hilal rendah yang tidak mungkin dirukyat (diamati). Justru kriteria IR yang menjembatani hisab dan rukyat, dengan memperhitungkan keterlihatan hilal dengan syarat tertentu. Hilal terlalu rendah (seperti beberapa kasus perbedaan di Indonesia) menyebabkan perbedaan antara hasil hisab WH dan hisab IR, juga perbedaan antara hisab WH dan hasil rukyat terpercaya (muktabar).

Kesalahan SA lainnya adalah menyatakan bahwa visibilitas hilal atau IR bersumber dari pengalaman subjektif yang seolah tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Justru visibilitas hilal atau IR didasarkan pada data-data objektif pengamatan astronomi dan dipublikasikan di publikasi/jurnal astronomi . Ini beberapa contohnya:

Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

Schaefer, BE, 1991, “Length of the Lunar Crescent”, Q. J. R. Astr. Soc., Vol. 32, p. 265 – 277.

Yallops, DB, 1998, “A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon”, HM Nautical Almanac Office, NAO Technical Note No. 69.

Sekilas tampak jelas bahwa keduanya bersumber dari pemahaman dan pengalaman serta memiliki tingkat kepastian yang sama. Namun dalam perjalanannya, implementasi visibilitas hilal di Indonesia tidak sesuai konsep awal yang dirumuskan. Dalam praktiknya, visibilitas hilal hanya digunakan sebagai pemandu observasi hilal, khususnya dalam menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal.

Mohammad Syawkat Audah menyatakan, saat ini dunia Islam yang memiliki kalender Islam yang mapan adalah Turki dan Malaysia. Keduanya secara konsisten menggunakan teori visibilitas hilal sejak Muharam hingga Zulhijah tanpa menunggu hasil observasi. Pernyataan ini dalam konteks Indonesia mengisyaratkan bahwa wujudul hilal lebih mapan dan memberi kepastian dalam struktur kalender Islam dibandingkan visibilitas hilal.

Artinya, visibilitas hilal yang digunakan Pemerintah Indonesia belum diakui di tingkat global. Sebab, dalam praktiknya untuk menentukan awal bulan Qamariah, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, masih harus menunggu hasil observasi. Dengan kata lain, visibilitas hilal yang digunakan tidak sesuai makna asal.

SA membuat kesalahan pemahaman seolah kriteria visibilitas hilal hanya digunakan sebagai pemandu observasi. SA yang sering turut serta dalam Temu Kerja Hisab Rukyat Kementerian Agama, seolah melupakan kegiatan penyusunan Taqwim Standar Indonesia (Kalender Islam Baku) yang disusun berdasarkan kriteria visibilitas/IR yang disepakati di Indonesia. Jadi kriteria visibilitas hilal (IR) juga digunakan sebagai rujukan pembuatan kalender. Kriteria yang digunakan Indonesia (disebut juga kriteria MABIMS atau kriteria “2-3-8”, tinggi minimal 2 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 3 derajat atau umur hilal minimal 8 jam) adalah kriteria yang digunakan juga oleh Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Sinagpura (BIMS) dalam pembuatan kalendernya. Turki menggunakan kriteria IR yang dikenal sebagai kriteria Istambul, yaitu tinggi minimal 5 derajat dan jarak bulan-matahari minimal 8 derajat.

Sangat keliru bandingan kriteria IR yang digunakan Turki dan Malaysia untuk jadi pembenaran wujudul hilal. Dalam konteks Indonesia, kriteria IR “2-3-8” sudah digunakan pada pembuatan Taqwim Standar Indonesia, mulai Muharram – Dzulhijjah, sama seperti yang dilakukan Malaysia.

Penulis sudah lama mengusulkan agar dibentuk tim observasi awal bulan Qamariah. Salah satu tugas tim adalah melakukan observasi setiap awal bulan Qamariah secara berkesinambungan. Dari sinilah diperoleh data yang autentik. Tim terdiri dari berbagai unsur (ormas, akademisi, dan praktisi). Dengan kata lain, tim merupakan gabungan antara “insinyur” dan “tukang”.

SA yang  warga Muhammadiyah yang anti-rukyat tidak sadar bahwa Tim Rukyat sudah ada sejak lama. Kementerian Agama sudah mempunyai Tim Rukyat. Ormas-ormas Islam pelaksana rukyat sudah mempunyainya dan beberapa melengkapinya dengan teleskop. Para astronom amatir yang bergabung di Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) juga melakukan pengamatan rutin dan mengkompilasi datanya. Data rukyat pun tidak harus dari Indonesia. Data rukyat internasional pun bisa digunakan dalam pembuatan kriteria visibilitas hilal (IR).

Begitu pula dalam penyatuan kalender Islam diperlukan pemikiran-pemikiran substantif-integratif. Antara pemikir dan praktisi harus berjalan bergandengan untuk mewujudkan konsep yang telah disepakati bersama. Perlu disadari bersama jika pilihan kita adalah penyatuan kalender Islam maka dengan besar hati kita harus rela “berkorban” meninggalkan observasi sebagai metode untuk menentukan awal bulan Qamariah.

Hal ini sebagiamana hasil Ijtima’ al-Khubara’ al-Tsani Dirasat Wadh at-Taqwim al-Islamy di Rabat Maroko, 15-16 Syawal 1429 H/15-16 Oktober 2008. Dalam pertemuan ini disepakati bahwa pemecahan problematika penyatuan kalender Islam di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat.

Kesalahan terbesar SA adalah ajakan untuk meninggalkan observasi sebagai metode untuk menentukan awal bulan qamariyah. SA menutup mata atas kenyataan adanya ummat Islam pengamal rukyat, seperti warga NU dan banyak ormas lainnya. Hak mereka juga harus dihargai, bahwa untuk menentukan awal Ramadhan dan mengakhirinya diperlukan adanya rukyat hilal, walau mereka juga pandai menghisab dan mempunyai kalender. Sangat keliru kalau dianggap para pengamal rukyat tidak mempunyai kalender.  Misalnya, Lajnah Falakiyah NU membuat kalender berdasarkan kriteria IR 2 derajat, selain mempunyai fasilitas rukyat yang baik.

Di Indonesia secara umum hisab sudah diterima oleh semua ormas Islam. Oleh karenanya mereka pun bersepakat untuk menggunakan kriteria IR “2-3-8” dalam pembuatan kalendernya dan dalam mengevaluasi hasil rukyat. Kriteria IR digunakan pada hisab agar kalender dan hasil rukyat sama hasilnya. Dengan penggunaan kriteria IR pengamal hisab dan pengamal rukyat bisa bersamaan dalam mengawali Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Hal itu tidak mungkin terjadi dengan kriteria WH, karena pada saat bulan rendah hasil hisab WH pasti berbeda dari hasil rukyat, seperti kasus Idul Fitri 1432/2011, awal Ramadhan 1433/2012, dan awal Ramadhan 1434/2013.

Artinya, jika kita tetap bertahan dengan observasi sebagai penentu masuknya tanggal 1, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, maka kita tidak akan memiliki kalender Islam yang mapan sampai kapan pun. Selama ini, upaya penyatuan lebih diarahkan pada penyatuan metode untuk menentukan awal bulan Qamariah belum memasuki konsep kalender Islam secara komprehensif.

Kehadiran kalender Islam yang mapan merupakan sebuah kebutuhan untuk agenda dan aktivitas rutin ibadah maupun transaksi lainnya. Kaitannya dengan penyatuan kalender Islam peristiwa perjanjian Hudaibiyah dapat dijadikan inspirasi bagi para elite bangsa untuk memiliki sifat kenegarawanan. Pemerintah dan ormas-ormas Islam harus senantiasa berusaha mencari titik temu dan siap berkorban. Wallahu a’lam bish shawab.

Salah besar kalau menyatakan bahwa dengan observasi sebagai penentuan masuknya tanggal 1, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, maka kita tidak akan memiliki kalender Islam yang mapan. Kalender memang hasil hisab. Tetapi tidak ada masalah dengan observasi, bahkan observasi dapat digunakan untuk menyempurnakan kriteria visibilitas hilal (IR). Kalender mapan dibangun oleh 3 syarat: adanya otoritas tunggal, adanya batas wilayah yang disepakati, dan adanya kriteria yang disepakati. Kita sudah punya otoritas tunggal, yaitu Pemerintah yang diwakili Menteri Agama. Wilayah NKRI juga disepakati sebagai batas wilayah keberlakukan hisab dan rukyat di Indonesia. Tinggal selangkah lagi kita bisa memiliki kalender Islam yang mapan, yaitu bersepakatn pada kriteria. Kriteria yang digunakan mesti kriteria yang mewadahi pengamal hisab dan pengamal rukyat secara setara. Tidak mungkin kriteria WH yang digunakan, harus kriteria visibilitas hilal (IR) yang digunakan.

Iklan

37 Tanggapan

  1. Sungguh berat memang ketika sebuah dalil naqli tentang awal ramadhan dan syawal serta dzulhijjah yang sudah mendarah daging dan harus diakui kebenarannya, harus diakomodirkan dengan metode dan kelimuan modern (khususnya penentuan awal bulan qomariyah). Yang akhirnya membuahkan konsep jalan tengah untuk mengakomodir keduanya.
    Saya sangat senang sekali ada Pak Thomas Djamaludin yang sudah berusaha untuk menempuh jalan tengah itu. Pak T. Djamaluddin sudah berusaha mempersatukan umat dengan argumen dan ijtihadnya, sungguh pekerjaan yang berat. Apalagi harus menjelaskan kepada publik semua ide dan gagasannya. Allah pasti mencatatnya melalui malaikat rakib sebagai tabungan yang sangat besar di akhirat kelak.
    Namun tidak bisa dipungkiri pernyataan Pak Susiknan A. Kalau masih menggunakan observasi sebagai kriteria tidak akan ada titik temu. apalagi dengan adanya batas wilayah dan kriteria imkanur rukyat.
    Inilah yang menjadi kebingungan saya, karena dari dahulu saya sangat berharap adanya penyatuan kalender hijriyah. Memang tidak sesederhana yang dibayangkan seperti yang ada di tulisan Pak T. Djamalauddin sebelumnya.
    Yang saya tanyakan adalah :
    Kenapa harus ada batas wilayah dalam menentukan awal/akhir ramadhan pak? padahal dengan ilmu astronomi modern bisa diketahui daerah mana saja yang bisa melihat bulan baru dan yang tidak bisa? seperti yang saya lihat di
    http://www.makkahcalendar.org/en/ramadan-2013-start-date-9-july-10-july-2013-countrylist.php
    bukti foto inipun memperlihatkan bahwa di Tahiti bisa terlihat bulan baru
    http://www.makkahcalendar.org/en/photoGallery.php

    Saya ingin penjelasannya sebagai orang yang masih awam dalam bidang ilmu astronomi / falak. lagi-lagi saya bukan ahli falak, tapi paling tidak sebagai pendidik bisa menjembatani adanya silang pendapat ini kepada semua kalangan pada umumnya dan peserta didik pada khususnya.

  2. kenapa di blog ini tercatat tgl.6 Ramadhan? bukankah tgl 1 ramadahn Rabu? sekarang ahad tgl 5 Ramadhan? jadi yg benar 1 ramadhan selasa 9 Juli 2013?

    • Baca keterangannya, kalender yang tercantum adalah kalender Umul Quro. Pencantuman BUKAN aspek kelendernya, tetapi fase bulannya.

      • Yth. Pak Thomas

        Apa beda aspek kalender dan fase bulan ya Pak…? apakah fase bulan tidak bisa dijadikan sebagai penentu awal bulan qomariah? tolong penjelasannya yang diserati dalil naqli nya,terimakasih.

      • Dalil naqli (hadits) menyatakan “shumu li ru’yatihi” mengisyaratkan awal bulan ditandai dengan fase hilal (bulan sabit pertama). Pada gambar itu, bentuk-bentuk bulan menandakan perubahan fase-fase bulan.
        Kalender yang tercantum di atasnya, tidak terkait langsung dengan fase bulan itu. Pembuat Widget tersebut (saya hanya penggunanya) mencantumkan kalender Ummul Quro yang biasa dipakai di Mekkah. Itu pilihan pembuat Widget, bukan pilihan saya.

      • Yth. Pak Thomas,
        mengutip jawaban bapak terhadap pertanyaan saya sebelumnya :
        “Dalil naqli (hadits) menyatakan “shumu li ru’yatihi” mengisyaratkan awal bulan ditandai dengan fase hilal (bulan sabit pertama). Pada gambar itu, bentuk-bentuk bulan menandakan perubahan fase-fase bulan.”

        Dengan teknologi, fase bulan baru /new moon / hilal bisa divisualkan dan bisa dilihat seperti yang terlihat dalam kalender umul quro dalam blog Pak Thomas. Kenapa hal ini tidak bisa dijadikan sebagai kriteria terlihatnya hilal dan mulainya bulan baru?

        Kenapa fase bulan tidak bisa dijadikan sebagai kriteria bulan baru?

        Mohon penjelasanya Pak Thomas,terimakasih.

  3. Sebenarnya dalam fatwa resmi majelis tarjih Muhammadiyah (bukan wacana salah satu atau beberapa pimpinan Muhammadiyah), saya sudah membaca, bahwa Muhammadiyah tidaklah anti terhadap metode IR. Hanya kriteria IR yang digunakan sekarang menurut Tarjih MUhammadiyah masih belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
    Muhammadiyah juga tidak fanatik terhadap metode WH. hanya saja menurut para ahli di Muhammadiyah. Metode WH ini yang masih diyakini paling bisa dipertanggungjawabkan.

    • Kriteria WH memang Konsepnya lebih bisa dipertanggungjawabkan secara Hitungan Astronomis dibanding dengan Kriteria WH

      • Dari segi hitungan astronomi, hisab WH dan IR sama. Yang membedakan adalah kriteria masuknya awal bulan. Mana yang bisa dipertanggungjawabkan secara astronomi? Jelas bukan WH. Tidak ada satu pun makalah ilmiah dalam bidang astronomi yang membahas WH, karena WH tidak digunakan sebagai konsep astronomi. Sedangkan visibilitas hilal atau imkan rukyat (IR) terus menjadi kajian astronomi.

    • Maksud saya saya mau menyampaikan posisi resmi Muhammadiyah sebagai organisasi tidak fanatik dengan WH. Setiap pimpinan Muhammadiyah boleh saja membuat berbagai wacana, tapi itu bukan fatwa Tarjih Muhammadiyah selama tidak/belum disidangkan di Majelis Tarjih.
      Dalam Muhammadiyah ada Keputusan Tarjuh, ada fatwa tarjih dan ada wacana tarjih.
      Keputusan tarjih merupakan keputusan Muhammadiyah (bukan keputusan Majelis Tarjih) yang menyangkut masalah tarjih. misalnya keputusan tentang penggunaan Metode Hisab Wujudul Hilal.
      Fatwa merupakan jawaban resmi dari Majelis Tarjih atas pertanyaan yang diajukan. Misalnya fatwa tentang pandangan Muhammadiyah terhadap metode Imkan Rukyah (Muhammadiyah tidak anti IR).
      Wacana adalah pendapat pribadi dari pimpinan Muhammadiyah yang belum di sidangkan, jadi tidak mengikat ke anggota. Misalnya tentang pandangan Prof Tono saksono tentang pemotretan Hilal yang masih sangat muda.

  4. Penyatuan kalender Hijriah sudah sangat mendesak saat ini, saya menghimbau agar segera bisa direalisasikan kelender Islam agar bisa menjadi pedoman bagi umat Islam untuk melaksanakan waktu – waktu ibadah dengan tenang, khusuk dan penuh semangat menyatukan umat Islam.
    Pada Akhir tulisan Pak Susiknan Azhari saya menangkap suatu semangat untuk menyatukan metode dan kriteria menentukan kalender Islam yang menyeluruh, momen ini harus segera ditindaklanjuti oleh semua share holder persatuan umat Islam terutama pemerintah yang mempunyai otoritas, baik secara financial maupun kekuasaan untuk menyatukan.
    Koondisi saat ini sungguh sangat menyenangkan bagi musuh – musuh Islam untuk terus merongrong persatuan umat. AYo bersatu Umat Islam…ALLAHHU AKBAR…!

  5. Kalau bicara kalender islam maka jangan dibatasi oleh negara, karena sejatinya saat perhitungan hisab masuk maka dibelahan bumi yang lain rukyat akan kelihatan, saya sangat setuju dengan pemikiran bahwa wujudal hilal hal yang sangat mungkin, kenapa? renungkan

    • Ketika kita melihat kalender global, yang tampak adalah garis tanggal qamariyah. Kriterianya bisaa beragam. Semuanya bisa digambarkan. WH atau IR sama-sama bisa digambarkan. Masalahnya, kriteria WH bisa berbeda dengan kenyataan rukyatul hilal. Padahal di dunia ini pengamal rukyat pun banyak. Kalau tidak bisa mewadahi pengamal rukyat, kalender sepihak tidak akan mempersatukan, walau disebut kalender global.

      • bukanya semua itu bisa disimulasikan bapak profesor yang terhormat, dengan simulasi skala lab mungkin bisa menjelaskan lebih dari pengamatan langsung bulan, minimal tidak ada kendala cuaca atau refraksi cahaya di atmosfer.

        profesor yang terhormat untuk masalah fiqh memang banyak pemahaman, termasuk apakah didalam islam ada hadits yang menolak persaksian yang melihat hilal kurang dari 2 derajat ?
        seolah-olah kalau tidak 2 derajat mutlak tidak mungkin terlihat olah manusia.

        kenapa anda juga begitu mengagung-agungkan IR seolah-olah segalanya…

      • Hilal tidak mungkin disimulasokan di laboratorium. Simulasi komputer sudah banyak, antara Stellarium. Kontras cahaya hilal dan cahaya syafal/cahaya senja menjadi sebab utama terlihat atau tidaknya hilal.
        Kriteria IR adalah parameterisasi dari dalil, sama dengan parameterisasi dalil waktu shalat untuk membuat jadwal shalat.
        Kita lihat dulu kriteria jadwal shalat yang sudah diterima. Dalilnya hanya menyatakan shubuh bila terbit fajar, lalu diterjemahkan shubuh ketika matahari tingginya -20 derajat.
        Hal yang sama untuk kriteria IR. Dalilnya, “shumu li ru’yatihi”, bermakna awal Ramadhan untuk memulai puasa bila hilal teramati. Maka kemudian diterjemahkan untuk hisab dengan kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat). Ulama dulu berdasarkan data lama menyatakan untuk bisa terlihat minimal tinggi hilal 2 derajat. Data astronomi sekarang menyatakan kriteria IR lebih tinggi dari itu.
        Jadi, bukan diagung-agungkan, tetapi karena begitulah cara realisasi dalil dalam hisab. Hisab itu hanya menghasilkan angka. Untuk menafsirkan masuk awal bulan (atau masuk waktu shalat) atau belum perlu ada kriteria. Kriteria itu harus berlandaskan dalil, karena terkiat dengan waktu ibadah.

  6. yang agak mencengangkan adalan ajakan meninggalkan observasi. Bukankah observasi/ekperimen itu sangat penting dan tidak bisa digantikan dan menjustifikasi sebuah usaha teoritis/hisab. Bahkan akan meningkatkan kualitas secara iterative.

  7. REKOR MELIHAT HILAL
    Sabtu, 20 Juli 2013 – 09:14:05
    OLEH: AGUS MUSTOFA

    REKOR melihat hilal paling tipis bukan dilakukan oleh para perukyat hilal yang muslim, melainkan oleh para astrofotografer non-muslim. Motivasi mereka, tentu saja bukan untuk menjadi “petugas rukyat” yang andal dalam menetapkan awal bulan Ramadan atau Syawal, melainkan karena menerima tantangan untuk memecahkan rekor dalam ajang astrofotografi dunia.

    Adalah Thierry Legault, astrofotografer asal Perancis yang berhasil memotret bulan sabit tertipis dalam sejarah manusia. Ia memotret bulan sabit itu pada tanggal 8 Juli 2013 baru lalu, persis saat bulan sedang beralih dari Syakban menuju Ramadan. Yakni, pada pukul 07:14 GMT. Sedangkan astrofotografer lainnya adalah Martin Elsässer dari Jerman.

    Agaknya bukan sebuah kebetulan, Legault memecahkan rekor di saat-saat umat Islam seluruh dunia sedang “heboh” menetapkan awal bulan suci Ramadan. Karena dalam website-nya, ia menuliskan keterangan bahwa peralihan posisi bulan itu adalah penanda datangnya bulan suci Ramadan bagi umat Islam. Yang pasti, dia tahu bahwa saat-saat seperti itu adalah momen kontroversial.

    Di sejumlah negara, ada yang menetapkan tanggal 9 Juli 2013 sebagai awal Ramadan, dan lainnya menetapkan pada tanggal 10 Juli 2013, dengan alasan hilal tidak terlihat. Maka, tantangan memecahkan rekor pun dimulai. Bukan membuktikan hilal di sekitar matahari tenggelam, melainkan di sekitar peristiwa konjungsi alias ijtimak. Kenapa tidak di sekitar matahari tenggelam? Bagi seorang fotografer profesional, saat-saat menjelang maghrib itu kurang menantang, karena cuaca sudah mulai meredup. Apalagi, jika usia hilal sudah beberapa jam, pasti akan dengan mudah tertangkap oleh kamera mereka dari tempat yang tepat.

    Yang paling menantang justru adalah di sekitar konjungsi atau ijtimak, yang terjadi di pagi atau siang hari. Saat itu, cahaya matahari masih sedemikian kuatnya. Sehingga cahaya latar langit di sekitar hilal itu sedemikian tingginya. Diinformasikan oleh Legault, cahaya latar di langit pada waktu itu sekitar 400 kali dibanding cahaya obyek (hilal), jika dilihat dalam paramater inframerah. Atau, sekitar 1.000 kali objek jika dilihat dalam parameter cahaya tampak. Tentu, ini tidak akan bisa diamati dengan menggunakan mata telanjang. Karena, pasti sangat menyilaukan mata kita.

    Tetapi, justru di situlah tantangannya. Dengan menggunakan sistem peralatan fotografinya, Legault berhasil mengabadikan hilal super tipis –hampir nol– yang hanya berusia beberapa menit setelah konjungsi. Berbeda dengan hilal sore hari yang “telentang”, bentuk sabit yang dipotretnya “telungkup” karena pemotretannya dilakukan pada pagi hari, di mana posisi semu matahari berada di atas bulan. Lebih detil, silakan kunjungi website: http://legault.perso.sfr.fr/new_moon_2013july8.html. Atau website lainnya: http://www.mondatlas.de/other/martinel/sicheln2008/mai/mosi20080505.html.

    Karya fenomenal ini, tentu saja sangat menarik perhatian kita. Khususnya, karena tahun ini terjadi perbedaan penetapan awal bulan Ramadan antara penganut hisab dan rukyat di Indonesia. Para penganut hisab meyakini awal Ramadan jatuh pada 9 Juli 2013 lewat perhitungan,
    sedangkan penganut rukyat menetapkan 10 Juli 2013 dengan alasan hilal tidak kelihatan pada tanggal 8 Juli 2013.

    Lengkapnya bisa dilihat di :
    http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/25545/rekor-melihat-hilal.html

  8. Tambahan lgi dikit :
    Secara empiris, karya Legault ini telah mematahkan Imkan Rukyat yang memasang kriteria 2 derajat dan usia bulan 8 jam agar bisa dilihat mata. Dengan sederhana Legault telah membuktikan bahwa usia hilal yang beberapa menit pun sudah bisa dipotret. Yang jika diterjemahkan ke dalam ketinggian hilal di atas horison, sudah hampir nol derajat. Dan kalau dikonkretkan lebih jauh, bisa menjadi sebuah simulasi ijtimak menjelang magrib, sebagai penanda datangnya Ramadan. Atau, dalam istilah rukyat bil ‘ilmi dikenal sebagai Ijtimak Qablal Ghurub (IQG).

    • Bulan sabit siang hari BUKAN hilal penentua awal bulan qamariyah. Bagaimana pun bulan qamariyah yang dikaitkan dengan ibadah memerlukan dalil fikih. Tak seorang pun ahli fikih yang berpendapat bulan sabit siang hari sebagai hilal.

      • Yth. Pak Thomas

        Pada tulisan Pak Thomas merujuk dalil ( hadits ) “shumu li ru’yatihi” dengan observasi yang dilakukan Thierry Legault membuktikan bahwa hilal bisa diamati meskipun sangat rendah. Sebaiknya Pak Thomas juga lebih teliti membaca artikel tersebut diatas, rasanya ada kalimat ( paragraph ), dimana Pak Thomas harusnya lebih teliti membacanya, kalimat tersebut sbb :

        “Bukan membuktikan hilal di sekitar matahari tenggelam, melainkan di sekitar peristiwa konjungsi alias ijtimak. Kenapa tidak di sekitar matahari tenggelam? Bagi seorang fotografer profesional, saat-saat menjelang maghrib itu kurang menantang, karena cuaca sudah mulai meredup. Apalagi, jika usia hilal sudah beberapa jam, pasti akan dengan mudah tertangkap oleh kamera mereka dari tempat yang tepat”.

        Dari paragraph kalimat tersebut ada suatu kesimpulan bahwa hilal ba’da maghrib dengan sudut derajat yang rendah relative lebih mudah diamati dibandingkan bulan ( hilal ) dengan derajat yang rendah saat siang hari.

        Saran saya, sebaiknya hasil penemuan ini bisa dijadikan sebagai bahan diskusi oleh semua pihak yang berkompeten terhadap penentuan kalender Komariah, baik ulama ahli fikih, ulama ahli falak,astronom kementerian Agama, dll.

        Menurut opini saya, berdasarkan Al-Quran surat yunus:5, surat Yasin:40, hadits Nabi, kita akan mendapatkan keselarasan antara Rukyatul ‘ain dan Rukyatul Ilmi, hisab dan rukyat adalah selaras, bulan ( hilal ) yang rendah juga bisa teramati.

        Terimakasih Pak Thomas atas diskusinya.

        Wasaalam….

  9. kita uji masing2 metode yang dipakai oleh semua negara muslim di dunia, mana yang lebih akurat, termasuk indonesia dengan WH dan IR. jangan menguji di indonesia karena geografis yang kurang mendukung. cobalah di uji di Arab Saudi, atau mana saja yang mempunyai gurun/padang pasir dengan kondisi range bulan 0 s/d 2 derajat. karena selama ini yang dipersoalkan adalah saat posisi bulan dengan range tsb. gunakan software hisab terbaik dan teropong tercanggih.

    kalo dalam range tsb hilal sdh terlihat berarti hanya masalah alat bantu yang belum diaktuliasasikan saja dan para penganut diluar WH sudilah menerima WH dengan ikhlas namun apabila dengan bantuan negara2 yang sudah maju dari indonesia hilal tidak kelihatan maka sudilah kiranya para penganut diluar IR berlapang dada menerima IR sebagai metode pemersatu.

    selama ini para petinggi khususnya di indonesia hanya menyatakan “hormati” ato “perbedaan itu indah” gak ada upaya penyatuan dengan segera. jadi kita umat yang dibawah hanya bisa meratap “kapan kita bersatu”. bukankah “INDAH JIKA KITA LAKUKAN BERSAMA”

  10. letak sensitifnya, krn prof membedakan antara “bulan” dlm perspektif kalender dan “bulan” dlm arti awal puasa.

    • Ketika kalender digunakan juga untuk ibadah, dalil syar’i harus digunakan juga.

      • Pak Thomas menggunakan dalil ini “shumu li ru’yatihi” dalam menentukan awal Ramadhan….?

      • Dalil “shumu li ru’yatihi” digunakan dalam penentuan awal Ramadhan dan juga dipergunakan dalam pembuatan kriteria hisab imkan rukyat berupa tinggi bulan, jarak bulan-matahari, atau parameter lainnya. Hal yang sama dengan waktu shalat yang ditandai dengan fajar dan fenomena lainnya, lalu diparameterisasi dengan kriteria astronomi berupa ketinggian matahari.

    • mohon kirim alamat email penanya yang menanyakan pertanyaaan pada tgl.20 juli 2013 pada jam 02:10

  11. Ada usulan yg menarik dari tulisan Pak Agus Mustofa ini, yaitu mengundang Thierry Legault menjadi bagian dari tim rukyat yg mengamati hilal yg pd saat matahari terbenam utk pengamatan rukyat awal Ramadhan 1435H (tahun 2014). Berikut ini bagian tulisan tsb :

    Tanpa harus berpikir kalah dan menang antara pihak-pihak yang berkontroversi, kabar ini tentu sangat menggembirakan bagi umat Islam. Dan, diharapkan akan menjadi jalan untuk mendekatkan hasil hisab dan rukyat. Tentu saja, jika para pengguna metode rukyat cukup berbesar hati menggunakan teknologi ini. Misalnya, tahun depan pemerintah Indonesia mengundang Thierry Legault dan sejumlah astrofotografer untuk datang ke Indonesia, dan meminta mereka menjadi bagian dari tim rukyat. Tugasnya adalah membuktikan apakah hilal memang bisa dilihat dan dipotret jika ketinggiannya di bawah 2 derajat saat usianya di bawah 8 jam. Atau, sebenarnya, boleh juga rukyatul hilal itu dilakukan di luar bulan Ramadan sebagai uji coba.

    Kebetulan, tahun 2014 ijtimak bulan Syakban akan terjadi pada 27 Juni pukul 15.09 WIB. Dan magribnya pukul 17.48 WIB. Jadi, usia hilal tidak akan sampai 3 jam, dengan ketinggian hanya sekitar 0,5 derajat di atas horison. Sudah pasti tidak akan kelihatan oleh mata telanjang, disebabkan lemahnya cahaya hilal yang sangat tipis. Tetapi, akan cukup kelihatan dan bisa diabadikan dalam bentuk foto atau video, jika menggunakan teknologi mereka.

    Logikanya, kalau memotret hilal beberapa menit setelah ijtimak saja bisa, apalagi memotret hilal yang sudah berusia beberapa jam. Itu pun, dalam suasana langit yang sudah jauh lebih redup dibandingkan siang hari seperti yang terjadi tanggal 8 Juli 2013 tersebut. Tentu, akan jauh lebih mudah. Fakta ini benar-benar sangat menggembirakan dan memberikan harapan yang besar untuk menyelesaikan kontroversi yang berlarut-larut di Indonesia, dan sudah tidak kelihatan ujung pangkalnya.

  12. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Berikut ini adalah comen saya menanggapi tulisan Bapak Agus Mustofa yang berjudul “Rekor melihat hilal” pada Blog http://www.catatanagusmustofa.wordpress.com.

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Mengenai Thierry Legault, Astrofotografer asal Perancis yang berhasil memotret bulan sabit tertipis dalam sejarah manusia. Ia memotret bulan sabit itu pada tanggal 8 Juli 2013 baru lalu, persis saat bulan sedang beralih dari Syakban menuju Ramadan. Yakni, di sekitar pk. 07:14 GMT. (Sebelumnya pernah juga dilakukan oleh Astrofotografer lainnya yaitu Martin Elsässer dari Jerman), memang berhasil memecahkan rekor di saat-saat umat Islam seluruh dunia sedang ‘heboh’ menetapkan awal bulan suci Ramadan.

    Namun demikian ada yg perlu dicermati, yaitu bahwa kedua orang tersebut menganut “versi” konjungsi geosentris, padahal konjungsi itu ada 3 (tiga) versi yaitu :

    1. Konjungsi toposentris yg terjadi sebelum konjungsi geosentris, dimana keterlihatan hilal muda dapat diamati (dirukyat) di wilayah yang pertama kali melihat hilal tsb yaitu wilayah yang pada saat konjungsi tersebut berada pada waktu subuh, sehingga menurut versi ini pergantian hari (termasuk dimulainya awal bulan qomariah) terjadi pada saat subuh.

    2. Konjungsi geosentris, dimana keterlihatan hilal muda dapat diamati (dirukyat) di wilayah yang pertama kali melihat hilal tsb yaitu wilayah yang pada saat konjungsi tersebut berada pada waktu dhuhur, sehingga menurut versi ini pergantian hari (termasuk dimulainya awal bulan qomariah) terjadi pada saat dhuhur.

    3. Konjungsi toposentris yg terjadi sesudah konjungsi geosentris, dimana keterlihatan hilal muda dapat diamati (dirukyat) di wilayah yang pertama kali melihat hilal tsb yaitu wilayah yang pada saat konjungsi tersebut berada pada waktu magrib, sehingga menurut versi ini pergantian hari (termasuk dimulainya awal bulan qomariah) terjadi pada saat magrib.

    Jika dicermati, penetapan awal bulan qomariah berdasarkan ketiga versi konjungsi tersebut semuanya memenuhi dalil syar’i termasuk kedua hadist sbb. :

    1. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.653 :
    Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah ketika menyebut Ramadan bersabda : Jangan puasa sehingga kalian melihat hilal (bulan sabit) dan jangan berhari raya sehingga melihat hilal, maka jika tertutup awan, maka perkirakanlah.

    2. Hadist Riwayat Bukhari, Muslim no.656 :
    Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi saw. bersabda : Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berhari rayalah kalian karena melihat hilal, maka jika tersembunyi daripadamu maka cukupkan bilangan Syakban tiga puluh hari

    Namun demikian awal bulan qomariah akan berbeda waktunya, karena berdasarkan versi 1 dimulai saat subuh, versi 2 dimulai saat dhuhur dan versi 3 dimulai saat magrib, sesuai dengan waktu pertamakali terlihatnya hilal muda yaitu beberapa detik setelah konjungsi.

    Dari ketiga versi tersebut, yang dianut oleh umat muslim selama ini adalah versi 3 yaitu yang menetapkan awal bulan qomariah dan juga pergantian hari dimulai saat magrib, sehingga pengamatan (rukyat) dilakukan pada hari ke 29 bulan berjalan saat magrib.

    Oleh karena itu karena menurut versi ini hilal muda baru akan dapat dilihat setelah magrib yaitu setelah “konjungsi toposentris sesudah konjungsi geosentris”. Dengan demikian maka hilal2 yang terlihat sebelum konjungsi toposentris ini adalah masih merupakan hilal tua yg tidak dapat dijadikan pedoman sebagai awal bulan qomariah.

    Jadi seberapapun hebatnya rekor pengamatan hilal, jika dilakukan sebelum magrib (sebelum “konjungsi toposentris sesudah konjungsi geosentris”) seperti yg dilakukan oleh Thierry Legault dan Martin Elsässer, maka hilal yang dilihat itu adalah hilal tua, bukan hilal muda yang dapat dipedomani sebagai awal bulan qomariah.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Posted by Bambang Supriadi | 23/07/2013, 06:17

  13. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Berikut ini adalah lanjutan comen saya menanggapi tulisan Bapak Agus Mustofa yang berjudul “Rekor melihat hilal” pada Blog http://www.catatanagusmustofa.wordpress.com.

    Assalamualaikum wr.wb.

    Dan mengenai pernyataan bahwa secara empiris, karya Legault ini telah mematahkan Imkan Rukyat yang memasang kriteria 2 derajat dan usia bulan 8 jam agar bisa dilihat mata. Dengan sederhana Legault telah membuktikan bahwa usia hilal yang beberapa menit pun sudah bisa dipotret. Yang jika diterjemahkan ke dalam ketinggian hilal di atas horison, sudah hampir nol derajat. Dan kalau dikonkretkan lebih jauh, bisa menjadi sebuah simulasi ijtimak menjelang maghrib, sebagai penanda datangnya Ramadan. Atau, dalam istilah rukyat bil ‘ilmi dikenal sebagai Ijtimak Qablal Ghurub (IQG), saya memahaminya juga dari sisi bahwa konjungsi itu tidak hanya saat konjungsi geosentris (Ijtimak) saja, melainkan ada pula konjungsi toposentris.

    Jika dicermati lebih jauh, karena konjungsi toposentris itu merupakan saat dimana pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi, maka sejatinya konjungsi toposentris itu berlangsung secara berkelanjutan sejak dari posisi pusat matahari dan pusat bulan berada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat subuh, hingga ke posisi pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat magrib.
    Dan ini berarti bahwa konjungsi geosentris (Ijtimak} adalah juga merupakan konjungsi toposentris yaitu saat posisi pusat matahari dan pusat bumi berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat dhuhur sekaligus berada satu bidang dengan pusat bumi.

    Dengan demikian yang saya pahami adalah bahwa jika dihubungkan dengan “dalil syar’i tentang penetapan awal bulan qomariah”, maka yang dinamakan konjungsi itu sesungguhnya bukanlah konjungsi geosentris (ijtimak) yg hanya berlangsung “sesaat” saja, melainkan konjungsi toposentris yang berlangsung sejak dari posisi pusat matahari dan pusat bulan berada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat subuh, hingga ke posisi pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat magrib.

    Oleh karena itu, hilal muda yang dijadikan pertanda masuknya awal bulan qomariah adalah yang teramati sesaat setelah berakhirnya konjungsi toposentris yaitu sesaat setelah posisi pusat matahari dan pusat bulan berada pada satu bidang dengan tempat pengamatan dimuka bumi saat magrib. Dan hilal-hilal yang teramati sebelum itu adalah merupakan “hilal tua” yang menjadi pertanda akan berakhirnya bulan qomariah yg sedang berjalan.

    Subhanallah, disinilah letak olah pikir genius dari Nabi Muhammad SAW yang terkandung dalam HR Bukhari, Muslim no. 653 s.d 656.

    Kesimpulannya, Ijtimak Qablal Ghurub (IQG) yang menganggap bahwa konjungsi itu hanya yang terjadi pada saat konjungsi geosentris saja, tidak dapat digunakan sebagai pedoman untuk menetapkan awal bulan qomariah karena hilal yang teramati sesaat setelah konjungsi geosentris (Ijtimak) bukanlah hilal muda melainkan “hilal tua” yang menjadi pertanda akan berakhirnya bulan qomariah yg sedang berjalan.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    Posted by Bambang Supriadi | 24/07/2013, 06:03

    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    • Terima kasih Pak Thomas Djamaludin dan Pak Bambang Supriadi, bapak berdua memberikan fakta ilmiah bukan katanya, sementara yang lain hanya berdasarkan katanya tanpa bisa menjelaskan dalil fikih dan kaidah ilmiah astronominya.

      Mari kita serahkan kepada ahlinya 🙂

  14. Waduh bapak Profesor yang satu ini masih selalu saja terjebak dengan polemik metode wujudul hilal,IR,rukyatul hilal (AMERIKA SERIKAT UDAH SAMPE BULAN PAK)….memangnya ga ada lagi keilmuan yang lain pak…risetnya cuma mengintip hilal lagi-hilal lagi…memangnya pak profesor aja yang punya telescope ,saya juga punya telescope pak sejak ke kelas 5 SD taun 1989 pemberian ortu sampe sekarang bisa beli sendiri berteknologi GO TO…orang barat sono pak udah bisa buat software astronomi dari starry night,stellarium,cybersky,accurate times(odeh) dll.. lah itu kan memudahkan orang yang awan sekalipun buat belajar astronomi dasar…hilal pun bisa dilihat lewat simulasi software2 tersebut…perhitungan di software tersebut hasil kumpulan riset ribuan tahun pak,bukan hasil sehari dua hari pak….yang jadi masalah sebenarnya pak profesor adalah anda terbelenggu dengan pemahaman secara tekstual isi hadist yang berbunyi “”Berpuasalah kamu karena melihat HILAL dan berhari rayalah kamu karena melihat HILAL.”……………
    akhir kata : Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS.22:46)

    Hanya Allah sajalah yang dapat memberi petunjuk kepada jalan yang benar.

    • pk t.djamaludin cuma menjembatani atara penganut hisab dan rukyat. apa salahnya menghargai orang yang telah memberikan sedikit ilmunya untuk kemaslahatan umat. hisab benar rukyat juga benar gak da yang salah cuma bagaimana kita menyatukan 2 metode ini, maka para astronomlah yang hrs bekerja keras memikirkan cara menyatukan perbedaan ini. jangan karena kita menganut suatu metode lalu menyalahkan metode yang lain.
      indonesia negara yang besar dmn sering terjadi perbedaan dalam perayaan hari besar islam, maka seharusnya kita dukung upaya penyatuan 2 metode ini. kalo penyatuan ini berhasil isnya allah negara2 dunia bakal menghormati kita krn telah berhasil menemukan solusi dari problematika penentuan awal bulan kalender komariyah. mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.

  15. asalamualaikum wr wb
    pak tomas ma’af saya berpendapat, hisab dan rukiyat itu adalah satu kesatuan. tentu di hitung dulu kapan kita melakukan rukiyat, sesuai dengan hadist rasullulah saw untuk melakukan rukiyat adalah pada 29 sa’ban, untuk menentukan 29 sa’ban tentu ada landasan hisabnya. landasannya ada pada Kitab Insanul Uyun Juz III Karangan Syekh Nuruddin. dari hadist rasullulah saw kita cerna dengan ilmu astronomi dan fisika. ilmu teknologi sekarang sudah canggih tentu bisa kita simulasikan gerak bumi dan bulan terhadap matahari yang bersekala maka terlihatlah kapan hilal itu terbentuk(ujut) di lihat dari bumi, jadi titik nol rotasi bulan terhadap bumi menurut hadist rasullulah saw tersebut bukan pada ijtimak(kunjungsi) hasil cernaan saya ada di rotasibulanblogspot.com

  16. memperbaiki alamat blog rotasibulan.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: