Pandangan Muhammadiyah: (2) Logika Aneh Pendukung Wujudul Hilal

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Sang Pencerah

Kritik saya atas wujudul hilal (WH) usang yang digunakan Muhammadiyah adalah kritik ilmiah, artinya didasarkan pada data dan logika ilmiah astronomis dan logika fikih terkait dalil untuk pelaksanaan ibadah. Bantahannya mestinya bantahan ilmiah juga. Ahli fikih Muhammadiyah perlu menunjukkan dalil WH, karena waktu ibadah harus berdalil, tidak boleh sembarang. Ahli hisab Muhammadiyah juga perlu menunjukkan logika astronom bila ingin membela WH. Tetapi kalau tak ada dalil dan tak ada logika astronomis, mari kita tinggalkan WH dan mari bersama-sama ormas Islam lainnya menggunakan kriteria Imkan Rukyat (IR, yang perlu terus disempurnakan) agar PERSATUAN UMMAT dapat terjaga. Kriteria IR adalah titik temu metode rukyat dan hisab, yang tidak menafikkan salah satunya. Persatuan ummat bukan dibangun dengan basa-basi, dengan membiarkan WH terus bikin masalah terjadinya perbedaan awal Ramadhan dan hari raya. Persatuan Ummat harus dibangun dengan kesepakatan. Kalau perbedaan bisa diselesaikan dengan kesepakatan kriteria, mengapa perbedaan harus dipelihara?

Sayangnya, tanggapan pakar falak Muhammadiyah sama sekali tidak saya peroleh. Browsing di internet pun TIDAK ADA satu pun yang mendukung WH dari aspek dalil dan logika astronomisnya. Tanggapan di facebook pun tidak ada yang mampu menjawab soal dalil WH dari QS 36:40 dan logika ilmiahnya, malah yang muncul justru tawaran pengganti wujudul hilal. Syukurlah ada situs “Sang Pencerah” yang menyuarakan pandangan Muhammadiyah yang dapat saya gunakan untuk “membaca” pemahaman kader Muhammadiyah tentang hisab rukyat. Di dalamnya ada dua kelompok tulisan terkait falak dan penentuan awal bulan: (1) tulisan umum yang kandungannya mengarah pada penggunaan hisab imkan rukyat atau setidaknya membuka peluang untuk menggunakannya dan (2) tulisan yang berupaya membela wujudul hilal, namun logikanya aneh dari sudut pandang astronomi (ilmu yang berkait langung samalah kalender), termasuk yang akhirnya malah menawarkan penggantian wujudul hilal. Tulisan yang ada di situs “Sang Pencerah” (yang berhasil saya peroleh) bukanlah karya pakar falak Muhammadiyah. Sedangkan pakar falak Muhammadiyah dalam ranah ilmiah sebenarnya terbuka pada hisab imkan rukyat.

1. Terbuka Pada Hisab Imkan Rukyat

2. Logika Aneh Pendukung Wujudul Hilal

Argumentasi Hisab Wujudul Hilal

Wawan Gunawan Abdul Wahid,  Ketua Divisi Kajian Kemasyarakatan dan Keluarga MTT PP Muhammadiyah, menulis:

Ada dua metode hisab yang sering dipertentangkan pertama imkanurrukyat dan kedua wujudul hilal. Dari dua metode itu wujudul hilal yang dipilih Persyarikatan. Pilihan Persyarikatan pada hisab wujudul hilal sejalan dengan prinsip keilmuan yang dikemukakan oleh Filsuf bernama William Ockham Razor (1280-1347) yang menegaskan manakala untuk memastikan sesuatu ditemukan beberapa cara pastikanlah dengan satu cara yang lebih mudah dan memberikan kepastian segera. Metode wujudul hilal memenuhi prinsip-prinsip keilmuan yang objektif, murah dan mudah dan memberikan kepastian. Dikatakan objektif karena nilai-nilai objektivitas wujudul hilal betul-betul jauh dari prakiraan yang sulit untuk direalisasikan. Ini berbeda dengan metode imkanuurrukyat yang mengasumsikan angka derajat tertentu yang di lapangan jarang sekali teraplikasikan. Ironi pada imkaanurukyat adalah metode hisab yang semestinya memberikan kepastian menjadi sulit untuk diaplkasikan karena adanya syarat derajat tertentu yang tidak dapat dikembalikan asal-usulnya pada andasan syar’I dan kelimuan. Dikatakan murah dan mudah karena dengan perangkat yang sangat sederhana seseorang dapat mempraktekkan metode wujudul hilal di manapun kapanpun tanpa memerlukan biaya sidang istbat yang miliaran rupiah itu. Dikatakan memberikan kepastian karena wujudul hilal dapat segera memastikan suatu peristiwa itu terjadi dalam waktu yang segera jauh sebelum peristiwa itu terjadi sehingga segala sesuatu yang dihajatkan dapat dipersiapakan jauh sebelum hari H nya. Analogi wujudul hilal sama dengan lampu lalulintas yang digital itu. Tatkala para pengguna kendaraan berhenti menunggu berjalannya waktu tertentu yang diprogram dan saat angka menunjukkan angka 0 para pengendara pun bersiap-siap melajukan kendaraannya tanpa menunggu angka digital di lampu menunjuk angka 2, 3,4, 5 dan seterusnya.

Dalam penentuan waktu ibadah mestikan dalil fiqih yang digunakan, bukan merujuk pada pendapat filsuf. Ketidakfahaman akan kriteria imkanrukyat menyebabkan logika yang digunakan menjadi aneh. Imkan rukyat sama objektif, sama murahnya, dan sama mudahnya serta memberikan kepastian, sesuai dengan sifat hisab. Penulis artikel di atas jelas bukan ahli falak yang faham aplikasi hisab, seolah hisab itu hanya WH dan seolah hisab IR adalah rukyat. Hasil hisab sama, yang membedakan adalah kriterianya. Misalkan, ketinggian bulan 0,7 derajat. Menurut kriteria WH sudah masuk tanggal, tetapi menurut Imkan Rukyat belum masuk tanggal. Dengan hasil hisab seperti itu, kita bisa membuat kalender untuk tahun kapan pun. Perangkat lunak (software) kini banyak membantu hisab imkan rukyat. Silakan buka blog saya dan buktikan bahwa hisab imkan rukyat pun mudah dan memberikan kepastian.

Imkan Rukyat Prof Thomas adalah Scientific Blunder

Prof. Tono Saksono, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, menulis:

Imkan-rukyat adalah scientific blunder. Bias, enggak masuk, akal, tidak adil, against common sense, dan karenanya tidak layak dijadikan sebagai kriteria ilmiah. Kesalahan terbesar dalam landasan berfikirnya adalah dalam memandang alam ini sebagai sesuatu yg diskrit. Analisisnya dilakukan pada setiap maghrib. Maghrib tanggal 8, maghrib tanggal 9, dst. Untung aja Rasul kemudian menyetop. Cukup maksimum 30 hari. Padahal alammerupakan fenomena analog yang kontinyu. Liat permukaan topografi, terus bersambung sambung. Enggak ada bagian yang hilang. Begitu juga pertumbuhan hilal. Dia terjadi secara kontinyu bersambung-2.

Persoalannya memang ketika kita mau menganalisis di komputer, komputer tidak dapat menerima data analog. Maka alam harus didiskritkan (digitized). Maka dalam dunia imaging, dibuatlah kamera yg digitalisasinya diekpresikan dalam ukuran pixelnya. Mendigitalisasi ini juga harus cerdas. Kalau topografi bumi digitized setiap 5 km, maka akan banyak informasi berupa selokan, anak sungai, bukit bahkan gunung yang hilang. Kalau data digital yang resolusinya cuma 5 km ini digunakan oleh seorang insinyur untuk merencanakan jembatan Selat Sunda, ya pasti ancur2 an. Jadi unt pekerjaan yang presisi, ya digitisasinya harus menyesuaikan, mungkin harus setiap 5 meter (bukan setiap 5 km).

Kalau dalam teknologi imaging, kalau kita menggunakan resolusi kamera yang rendah (misal cuma 1 megapixel) untuk memotret foto model ya pasti gambarnya ancur2 an karena banyak detil informasi yg hilang. Kalau pengen bagus, pakailah kamera dengan 10 megapixel, atau 20 megapixel Itu semua adalah logika umum. Bahkan dalam bidang apapun.

Itulah konsep imkan-rukyat yang mendigitized karakteristik hilal kok cuma setiap 24 jam, ya pasti ancur2 an. Wujudul hilal cara mendigitized nya bebas, sesuai kebutuhan. Yang saya lakukan adalah setiap 3 jam seperti pada makalah yg dapat dilihat di Dengan cara ini, kita bisa memotret karakteristik hilal dengan jauh lebih baik. Kok Anda ngotot bahwa imkan-rukyat lebih saintifik? Imkan-rukyat adalah bias, enggak masuk akal, bertentangan dengan common sense, tidak adil. Dan karenanya harus dicampakkan sebagai kriteria ilmiah.

Ketidakfahaman akan kriteria imkan rukyat menjadikan logika aneh seperti itu. Imkan rukyat (visibilitas hilal) adalah hasil penelitian astronomis atas dasar kaidah sains. Silakan cari referensi ilmiah soal imkan rukyat atau visibilitas hilal di majalah atau jurnal ilmiah. Untuk penerapan pembuatan kalender, pengguna harus memilih salah satunya atau menggabungkannya. Bandingkan dengan wujudul hilal, adakah makalah ilmiah yang mengkajinya?

Inilah beberapa contoh makalah ilmiah tentang visibilitas hilal (imkan rukyat) di majalah atau jurnal astronomi:

Caldwell, JAR and Laney, CD 2001, “First Visibility of the Lunar crescent”, African Skies, No. 5, p. 15-25.

Ilyas, M. 1988, “Limiting Altitude Separation in the New Moon’s First Visibility Criterion”, Astron. Astrophys. Vol. 206, p. 133 – 135.

Odeh, MSH, 2006, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy, Vol. 18, p. 39 – 64.

Schaefer, BE, 1991, “Length of the Lunar Crescent”, Q. J. R. Astr. Soc., Vol. 32, p. 265 – 277.

Yallops, DB, 1998, “A Method for Predicting the First Sighting of the New Crescent Moon”, HM Nautical Almanac Office, NAO Technical Note No. 69.

 

Imkan Rukyat dan Wujudul Hilal

Agus Purwanto, Ketua Divisi Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, menulis:

Alhamdulillah, pak Thomas Djamaluddin dengan rajin mengkritisi konsep Wujudul Hilal Muhammadiyah (WHM). Sepedas apa pun kritik beliau, warga Muhmamdiyah khususnya kader falak Muhammadiyah harus berterimakasih kepada beliau. Kritik beliau membuat ahli falak Muhammadiyah ikut berfikir kritis. Terimakasih pak Thomas, sungguh kami menjadi kian solid dengan kritik demi kritik anda. Selanjutnya, ijinkan kami memberi cacatan tentang WHM

  1. Benar kritik anda tentang konsep WHM yang tidak jelas dalam arti hilal mau diartikan apa karena menggunakan kriteria Bulan tenggelam sebelum Matahari. Kami sedang berusaha merevisi bahwa WHM berarti hilal belum tenggelam ketika Matahari terbenam, dengan kata lain piringan bawah Bulan belum terbenam ketika Matahari tenggelam. (Nah, ini masih dalam usulan, harus dimusyawarahkan dulu karena kami bekerja di organisasi)
  2.  Kami memang tidak menggunakan imkanu ar-rukyat yang bagi kami imkanu ar-rukyat itu
    1. Tidak jelas parameternya. Sederhananya, itu adalah parameter yang mengada-ada. Saya pribadi tidak gembira dengan sesuatu yang tidak jelas dan suka-suka ini yakni ada yang ambil 2 derajat, 4 derajat, 5 derajat, 9 derajat sebagai criteria visibilitas. Apakah kalau diambil 2 derajat lalu ketika hisab menghasilkan ketinggian 3 derajat otomatis hilal bisa dilihat? Tidak kan?
    2. Dalam perspektif kefilsafatan, mengapa kita mendasarkan pada sestau yang tidak tetap dan variatif tersebut? Bukan dari variasi tersebut ada ujung yang konvergen, 2, 4, 5, 9 dan seterusnya bisa dibalik menjasi …9,5, 4, 2 dan tujung atau ujuannya adalah NOL. Inilah WHM. 
    3. Sebagai fisikawan teoritik, saya memang cenderung menghindari parameter by hand atau given termasuk bagi visibilitas. Saya selalu berusaha bekerja mencari yang mendasar, first principle. Nah, yang mendasar dari angkaa tersebut adalah NOL, sedangkan bilangan 2, 4, 5, 9 dapat dipandang sebagai fluktuasi dari vakum yang mendasar. Vakum itu asal-usul dari system fisis tereksitasi. Jika berada di vakum berarti tersembunyi jika keluar dari vakum yakni keluar dari NOL berarti tereksitasi dan ada. Tereksitasi dari NOL berarti positip.
  1. Argumenn tersebut seolah tidak syar’I, karena tidak berdasar pada tekss yang ada selain teks ke-ummi-an Rasulullah saw dan para sahabat atas ilmu astronomi. Kami hanya berimajinasi, andai para sahabat saat itu ada yang ahli hitung dalam astronomi apa yang diminta Rasulullah saw untuk dihitung pada para sahabat tersebut. Saya bayangkan hal sederhana karena Islam memang sederhana, tidak menyulitkan. Hal tersebut tidak lain adalah konjungsi. Seharusnya konjungsilah yang jadi penanda akhir dan awal bulan lunar. Tetapi masalahnya, apakah bagian Bulan yang tersinari Matahari dan menghadap Bumi tidak lama setelah konjungsi dapat terlihat dari Bumi agar sesuai dengan hadits popular tentang keterlihatan hilal. Kami belum punya bukti pendukung keyakinan kriteria konjungsi sebelum maghrib ini . Betul, keyakinan kami baru sebatas keyakinan tanpa dasar data hilal teramati tidak lama setelah konjungsi.
  2. Alhamdulillah, akhirnya saat yang ditunggu datang juga. 5 Mei 2008 astronom Jerman Martin Elsasser (www.mondatlas.de/index_e.html) mencatat rekor dunia dengan mengamati hilal hanya beberapa menit sebelum dan setelah konjungsi. Artinya, kriteria ijtimak qabla al-ghurub menjadi benar, WHM gugur apalagi imkanu ar-rukyat. Ijtimak qabla al-ghurub bisa disebut wujudul hilal versi geometris-astronomis. Tetapi untuk sementara kami ambil jalan tengah dulu dengan WHM, kalau umat sudah siap kita beralih pada criteria IJTIMAK QABLA AL-GHURUB

Jadi Pak Thomas benar, WHM salah, apalagi imaknurrukyat, lebih salah lagi. Allah adil dengan memperlihatkan kesalahan kita bersama. Jadi tidak perlu saling menyalahkan. Mari kita pindah ke kriteria baru kriteria ijtimak qabla al-ghurub, secara bersama-sama dan kompak. Jika ini kita lakukan, muslim Indonesia dengan kementerian agamanya akan naik pamor karena melakukan ijtihad besar di abad 21 ini. Siapkah?

Latar belakang keilmuan sebagai fisikawan teoritik bukanlah bidang ilmu yang tepat membahas soal kalender. Kalender adalah “mainan sehari-hari” bagi astronom, khususnya astronom observasional (untuk lebih spesifik, karena ada juga astronom teoritik yang juga faham kalender, tetapi belum tentu mendalami). Lagi-lagi ketidakfahaman akan hisab imkan rukyat menjadikan logikanya aneh. Paremeter imkan rukyat dianggap tidak jelas, ya karena tidak memahaminya. Paramaternya jelas, antara lain dijelaskan di blog saya. Pilihan kriteria memang banyak, tetapi pengguna (dalam hal ini ormas-ormas Islam dan pemerintah) bisa menyepakati salah satunya. Kriteria imkan rukyat yang baik mestinya adalah hasil kajian atas data-data pengamatan rukyat jangka panjang, sehingga hasil hisab IR dapat setara dengan rukyat. Kriteria yang saat ini disepakati, bukanlah kriteria astronomis, sehingga bisa jadi saat posisi hilal sudah memenuhi kriteria hilal tidak terlihat. Kriteria wujudul hilal tidak didukung oleh penulis tersebut di atas, karena memang wujudul hilal mengandung paradoks dan bermasalah. Namun, ketika mengusulkan untuk kembali ke ijtimak qoblal ghurub (ala Muhammadiyah pra-1960-an) pada dasarnya “parameter given” yang katanya dihindari fisikawan teoritik justru dipakai. Apa parameter “given”-nya? Ya, batasan waktu maghrib sesuai contoh Rasul untuk merukyat pasca maghrib. Jadi, maghrib adalah batas hari dalam Islam. Itu “given” alias sudah ditentukan oleh Rasul. Ketika menginginkan lepas dari rukyat, malah mencari pembenaran dari rukyat astronomi “daylight crescent” (bulan sabit siang hari) untuk membenarkan ijtimak qoblal ghurub. Bulan sabit siang hari bukanlah hilal dalam definisi syar’i. Kalau memang tidak memerlukan rukyat dan menghindari “given parameter”, mengapa tidak langsung menggunakan saat ijtimak atau geocentric astronomical newmoon dengan segala konsekuensi? Bulan baru (newmoon, ijtimak) astronomi memang dapat terjadi kapan pun, termasuk malam hari. Tetapi kalau itu digunakan sebagai batas awal Ramadhan, pasti akan berbenturan dengan dalil-dalil syar’i.

Pandangan Muhammadiyah: (1) Terbuka Pada Hisab Imkan Rukyat

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Sang Pencerah

Kritik saya atas wujudul hilal (WH) usang yang digunakan Muhammadiyah adalah kritik ilmiah, artinya didasarkan pada data dan logika ilmiah astronomis dan logika fikih terkait dalil untuk pelaksanaan ibadah. Bantahannya mestinya bantahan ilmiah juga. Ahli fikih Muhammadiyah perlu menunjukkan dalil WH, karena waktu ibadah harus berdalil, tidak boleh sembarang. Ahli hisab Muhammadiyah juga perlu menunjukkan logika astronom bila ingin membela WH. Tetapi kalau tak ada dalil dan tak ada logika astronomis, mari kita tinggalkan WH dan mari bersama-sama ormas Islam lainnya menggunakan kriteria Imkan Rukyat (IR, yang perlu terus disempurnakan) agar PERSATUAN UMMAT dapat terjaga. Kriteria IR adalah titik temu metode rukyat dan hisab, yang tidak menafikkan salah satunya. Persatuan ummat bukan dibangun dengan basa-basi, dengan membiarkan WH terus bikin masalah terjadinya perbedaan awal Ramadhan dan hari raya. Persatuan Ummat harus dibangun dengan kesepakatan. Kalau perbedaan bisa diselesaikan dengan kesepakatan kriteria, mengapa perbedaan harus dipelihara?

Sayangnya, tanggapan pakar falak Muhammadiyah sama sekali tidak saya peroleh. Browsing di internet pun TIDAK ADA satu pun yang mendukung WH dari aspek dalil dan logika astronomisnya. Tanggapan di facebook pun tidak ada yang mampu menjawab soal dalil WH dari QS 36:40 dan logika ilmiahnya, malah yang muncul justru tawaran pengganti wujudul hilal. Syukurlah ada situs “Sang Pencerah” yang menyuarakan pandangan Muhammadiyah yang dapat saya gunakan untuk “membaca” pemahaman kader Muhammadiyah tentang hisab rukyat. Di dalamnya ada dua kelompok tulisan terkait falak dan penentuan awal bulan: (1) tulisan umum yang kandungannya mengarah pada penggunaan hisab imkan rukyat atau setidaknya membuka peluang untuk menggunakannya dan (2) tulisan yang berupaya membela wujudul hilal, namun logikanya aneh dari sudut pandang astronomi (ilmu yang berkait langung masalah kalender), termasuk yang akhirnya malah menawarkan penggantian wujudul hilal. Tulisan yang ada di situs “Sang Pencerah” (yang berhasil saya peroleh) bukanlah karya pakar falak Muhammadiyah. Sedangkan pakar falak Muhammadiyah dalam ranah ilmiah sebenarnya terbuka pada hisab imkan rukyat.

1. Terbuka Pada Hisab Imkan Rukyat

Penentuan Awal Bulan Qomariyah Menurut Perspektif Muhammadiyah

Pada tulisan itu, Wahyudi Abdurrahim, Lc. (Ketua PCIM Mesir 2008-2010), menuliskan:

Dalam Himpunan Putusan Tarjih disebutkan ragam cara penetapan awal bulan kamariah:

1.      Rukyatul hilal.

2.      Persaksian rukyatul hilal dari seorang yang adil.

3.      Menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari.

4.      Dengan perhitungan hisab.

Rukyatul hilal digunakan apabila posisi hilal memiliki kemungkinan untuk di observasi. Hingga kini, kemungkinan (visibilitas) hilal dapat di observasi belum didefinisikan secara pasti. Danjon misalnya, setelah melakukan penelitian berulang-ulang tentang hilal, menyatakan bahwa bulan sabit yang posisinya mendekati matahari tidak dapat terlihat apabila jarak sudutnya kurang dari 8 derajat. Ketentuan ini rupanya oleh Diezer diperkuat dengan hasil penelitiannya di Candilly Obeservatory, bahwa sebagai syarat agar hilal dapat teramati  pada saat matahari terbenam harus mempunyai jarak sudut 8 derajat, dan bulan pada saat itu minimal berada pada ketinggian 5 derajat.

Tatkala matahari terbenam, hilal berada pada jarak sudut 8 derajat dengan matahari dan memiliki ketinggian 5 derajat, lantas ada berita bahwa seseorang telah melihat hilal, atau ada orang yang adil yang menyaksikan kebenarannya, maka kaum muslimin akan menerima hasil rukyat itu termasuk Muhammadiyah. Itulah sebabnya dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) disebutkan:

 

[الصَّوْمُ وَالفِطْرُ بِالرُّؤْيَةِ]

berpuasa dan beridul fitri dengan rukyat

Keputusan itu hendaknya ditafsirkan pada saat kondisi hilal berada pada batas imkanur rukyat, sehingga hilal dapat dilihat. Dalam kondisi serupa ini, Muhammadiyah akan memulai puasanya dengan rukyat. Kemudian apabila hilal tidak mungkin dilihat karena posisinya di bawah ufuk, Muhammadiyah menerima istikmalsebagai jalan keluar dalam menghadapi kesulitan dalam penetapan hukum. Akan tetapi, bila hilal tidak mungkin dilihat karena tertutup awan, atau posisinya tidak berada pada imkanur rukyat, maka jalan yang ditempuh adalah menggunakan hisab. Itulah sebabnya dalam HPT disebutkan:

 

[وَ لاَ مَانِعَ بِالحِسَابِ]

dan tidak ada halangan dengan (menggunakan) hisab

Jika ada pertanyaan, mengapa Muhammadiyah menggunakan hisab astronomi? Jawabannya adalah karena Muhammadiyah menganggap melihat hilal bukan suatu ibadah (ta’abbudî), namun hanya sarana (wasîlah)yang dapat digunakan dengan mudah untuk mengetahui awal bulan kamariah. Muhammadiyah mendefinisikan hisab sebagai perhitungan astronomis tentang posisi hilal. Namun, hisab tidak mungkin membuat keputusan tanpa adanya kriteria yang disebut hilal. Tidak ditemukan satupun dalil dalam hadis atau dalam al-Qur’an yang menyebutkan secara tegas apa itu hilal yang bisa diterjemahkan secara kuantitatif dalam kriteria hisab. Pendekatan yang dilakukan Muhammadiyah adalah dengan pendekatan astronomi, bahwa hilal adalah penampakan bulan yang paling kecil yang menghadap bumi beberapa saat setelah terjadi ijtimak. Inilah yang kemudian menjadi kriteria hisab bahwa awal bulan baru ditandai dengan wujudnya hilal. Tandanya adalah apabila matahari terbenam lebih dahulu dari bulan.

Muhammadiyah-pun mengalami perkembangan dalam menetapkan sistem hisab yang digunakannya. Mula-mula Muhammadiyah menggunakan sistem ijtimak qablal gurub. Sekitar tahun 60-an, Muhammadiyah beralih kepada sistem wujudul hilal, meskipun kemungkinan pada mulanya tidak diterapkan sepenuhnya untuk menetapkan seluruh bulan-bulan kamariah, melainkan untuk bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah saja. Namun saat ini teori wujudul hilal itu digunakan untuk keseluruhan bulan kamariah.

Ufuk yang dijadikan patokan untuk menentukan wujud atau tidaknya hilal adalah ufuk hakiki. Hal ini sangat tegas dinyatakan oleh Ir. H. Basith Wahid, bahwa sejak tahun 1969 yang dipilih adalah sistem wujudul hilal, yang diperhitungkan adalah saat terjadinya ijtimak plus posisi bulan terhadap ufuk hakiki pada saat matahari terbenam. Kecenderungan Muhammadiyah ke arah penggunaan sistem hisab wujudul hilal sudah tampak sejak Majelis Tarjih mengambil keputusan tentang masalah hisab dan rukyat pada tahun 1932. Istilah yang digunakan dalam keputusan itu adalah ‘wujudul hilal’. Dalam aplikasinya, Muhammadiyah menerapkan konsep wilayatul hukmi, yaitu ketika hilal sudah wujud di sebagian wilayah Indonesia, maka bagian wilayah lainnya yang belum wujud mengikuti wilayah yang sudah positif (wujud).

Konsep wilayatul hukmi ini memiliki kelemahan. Jika kita kita simak hadis Kuraib, Ibn Abbas dalam prakteknya lebih menggunakan sistem matlak lokal, bukan wilayatul hukmi. Persoalan lain, misalnya wujudul hilal hanya melewati sebagian wilayah Indonesia, apakah daerah yang belum wujud ‘dipaksakan’ mengikuti wilayah yang sudah wujud? Konsep wilayatul hukmi ini juga akan menemui masalah ketika diterapkan di negara lain yang mempunyai teritorial luas, seperti Rusia.

Tulisan itu menyebutkan bahwa hisab imkan rukyat digunakan dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Tidak dijelaskan dalil dan alasan untuk wujudul hilal (WH), hanya sebatas penjelasan bahwa sebelum WH, Muhammadiyah menggunakan kriteria Ijtimak Qobla Ghurub (IQG). Tetapi sepanjang yang saya telusuri, IQG dan WH digunakan sebagai penyederhanaan imkan rukyat (IR) ketika hisab masih dianggap rumit. Penggunaan dalil QS 36:40 baru muncul belakangan, sebagai pembenaran, tetapi tidak mempunyai logika astronomis yang memadai.

Ilmu Falak dan Peranannya dalam Islam

Forum Kajian AFDA (Astronomy & Falak Deep Analysis), Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Mesir, menuliskan:

Penetapan awal bulan kamariah dalam Islam dimulai dengan munculnya hilal, yaitu bulan sabit yang pertama kali terlihat yang terus membesar menjadi bulan purnama, menipis kembali dan akhirnya menghilang dari langit sebagaimana diisyaratkan QS. Al-Baqarah [02] ayat 189 diatas. Belakangan, penentuan awal bulan dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan (hisab) astronomi. Satu tahun kamariah adalah jangka waktu yang dibutuhkan bulan mengelilingi bumi selama 12 kali putaran dengan rata-rata satu tahun lamanya 354 11/30 hari. Berbeda dengan tahun matahari, yaitu jangka waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk mengelilingi matahari (berevolusi) dengan rata-rata satu tahun lamanya 365 1/4 hari.[14] Ilmu astronomi modern sudah sangat akurat memperhitungkan dan memperkirakan terlihatnya hilal dengan sangat teliti, tingkat ketelitian ini sudah lebih dari cukup untuk keperluan teknis penentuan awal-awal bulan kamariah. Namun dalam penentuan awal bulan Ramadan – Syawal dan Zulhijah persoalan tidak sederhana, hadis Nabi Saw. menyatakan awal dan akhir Ramadan ditetapkan melalui pengamatan hilal (rukyat).

Sebuah hadis Nabi Saw menyatakan “Puasalah kalian karena melihat hilal dan berbuka (berhari-raya)-lah karena melihat hilal, dan jika hilal tertutup oleh awan, lakukanlah pengkadaran” (HR. Bukhari-Muslim). Nabi Saw menegaskan lagi “Kita adalah umat yang ‘ummî‘, tidak menulis dan tidak menghitung, bulan itu ada kalanya 30 hari dan adakalanya 29 hari” (HR. Bukhri-Muslim)[15]. Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis Nabi Saw diatas bermakna bahwa dalam memulai dan mengakhiri puasa & hari raya hanya dengan melakukan pengamatan bulan sabit saja, yaitu terlihatnya hilal di awal Ramadan dan Syawal sesuai dengan keumuman dan keliteralan hadis. Dengan kriteria jika hilal terlihat pada saat terbenam matahari tanggal 29 Syakban maka esok harinya adalah awal puasa, demikian pula jika hilal terlihat pada tanggal 29 Ramadan maka esok harinya adalah hari raya dan rukyatul hilal mutlak dilakukan. Namun jika terdapat penghalang yang menutupi hilal – seperti mendung – maka pelaksanaan puasa dan atau hari raya harus ditunda sehari dengan menggenapkan (istikmâl) bilangan bulan Syakban dan atau Ramadan menjadi 30 hari. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nabi Saw yang menyatakan bahwa umur bulan itu adakalanya 30 hari dan adakalanya pula 29 hari. Ibnu Rusyd (w. 595 H) dalam “Bidâyatu’l Mujtahid”nya mewakili jumhur dalam hal ini.[16]

Betapa demikian, tidak sedikit ulama dan ilmuan yang memberi ruang yang luas terhadap ilmu hisab astronomi dalam sumbangsihnya terhadap penetapan waktu-waktu ibadah di kalangan umat Islam, dengan alasan bahwa pada dasarnya penetapan waktu-waktu ibadah tersebut terkait erat dengan fenomena astronomi yang pada dasarnya dapat teratasi dengan kemajuan dan kemapanan teknologi. Berdasarkan penelitian intensif yang dilakukan oleh para pakar hisab-falak terdapat beberapa kelemahan dan kesulitan dalam rukyat, antara lain jauhnya jarak hilal, kehadiran hilal yang sangat singkat, kondisi sore hari yang terkadang tidak bersahabat seperti banyaknya awan, asap kenderaaan dan pabrik, dan lain-lain. Dan tak kalah pentingnya adanya faktor psikis (kejiwaan) dalam melihat hilal.[17]

Imam Taqî ad-Dîn as-Subkî (w. 756 H) dalam “Al-Fatâwâ”nya, Ibnu Suraij dan Ibnu Daqiq al-’Id  yang dikutip Ahmad Muhammad Syakir dalam risalah kecilnya (Awâ’il al-Syuhûr al-‘Arabiyah Hal Yajûzu Syar’an Itsbâtuhâbi’l Hisâb al-Falakî), Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manâr-nya, Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqh al-Shiyâm-nya, Dr. Ali Jum’ah dalam fatwa kemasyarakatannya (Al-Bayân Li mâ Yasyghalu’l Adzhân), dan Tanthawi Jauhari dalam Tafsir Al-Jawâhir-nya adalah sederetan ulama klasik dan kontemporer yang memberi ruang luas atau setidak-tidaknya mentolerir terhadap kemajuan teknologi (hisab-falak) dalam memulai dan mengakhiri puasa-hari raya.[18]

Taqî ad-Dîn as-Subkî misalnya, menyatakan bahwa beberapa ulama besar telah mewajibkan atau setidak-tidaknya membolehkan berpuasa berdasarkan hasil hisab yang menyatakan hilal telah mencapai ketinggian yang memungkinkan untuk terlihat (imkânu al-ru’yah). Menurutnya, pendapat ini yang disebut sebagai wajh memandang imkan rukyat sebagai sebab wajibnya puasa dan hari raya, namun berbeda dengan wajh ashahyang tetap mengaitkannya dengan perintah rukyat (nafs al-ru’yah) atau ikmâl al-‘iddah (penggenapan bilangan). Selanjutnya as-Subki mengemukakan, bila pada suatu kasus ada orang yang menginformasikan atau menyaksikan bahwa hilal telah terlihat padahal hisab akurat (qath’i) menyatakan bahwa hilal tidak mungkin terlihat, misalnya karena posisinya yang terlalu dekat dengan matahari, maka informasi tersebut harus dianggap keliru dan kesaksian tersebut harus ditolak. Hal ini beliau kemukakan mengingat nilai khabar(informasi) dan kesaksian bersifat dugaan (zhân), sedang hisab bersifat pasti (qath’i). Telah dimaklumi bahwa sesuatu yang qath’i tidak dapat didahului atau dipertentangkan dengan sesuatu yang zhân.[19]

Ahmad Muhammad Syakir, dalam karyanya juga secara cermat menerangkan kronologi pembolehan hisab. Kesimpulannya; telah dimaklumi bahwa pada mulanya bangsa Arab sebelum dan di awal berkembangnya Islam tidak mengerti ilmu falak dengan pemahaman secara komprehensif (ma’rifatan ‘ilmiyyatan jâzimatan)sebab mereka adalah umat yang ‘ummî‘, tidak menulis dan tidak menghitung. Karena itu Rasul Saw menjadikan sarana termudah dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal yang dapat dilakukan oleh semua bangsa Arab ketika itu, yaitu rukyatul hilal. Ini adalah sarana terbaik dan efektif dalam aktifitas ibadah mereka untuk menghasilkan rasa yakin dan percaya dalam batas kesanggupan mereka. Sesungguhnya pula, Allah Swt tidak membebani hamba-Nya lebih dari kesanggupannya. Akan tetapi seiring tumbuh dan berkembangnya Islam dengan terjadinya berbagai kemenangan (futûhât), diiringi dengan kemajuan yang pesat ilmu pengetahuan di semua disiplin, tanpa terkecuali ilmu hisab-falak (astronomi). Sementara itu sebagaimana disinggung diatas, tidak banyak fukaha dan muhadditsîn yang memahami ilmu ini secara komperehensif. Sementara mereka yang percaya dan mengerti pun, tidak mampu mengelaborasi ilmu ini dengan tuntutan fikih. Lantas beliau (baca: Ahmad Muhammad Syakir) memberi hujah dengan argumen yang dikemukakan oleh Taqî ad-Dîn as-Subkî dalam Fatâwâ-nya.[20]

Tulisan ini memberikan wawasan luas tentang makna hisab yang semestinya terkait dengan kemungkinan rukyat. Hal ini menunjukkan bahwa WH bukanlah pendapat seluruh warga Muhammadiyah. Banyak warga Muhammadiyah yang sependapat dengan pendapat pakar falaknya. Distorsi informasi seolah hisab hanyalah WH menjadikan banyak warga Muhammadiyah bertaqlid buta pada WH, padahal hisab dimungkinkan juga imkan rukyat (IR).

2. Logika Aneh Pendukung Wujudul Hilal

Penentuan Awal Bulan Qomariyah Menurut Perspektif Muhammadiyah – See more at: http://www.sangpencerah.com/2013/06/penentuan-awal-bulan-qomariyah-menurut.html#sthash.RR0E7cuW.dpuf

Tanya Jawab Seputar Hisab Rukyat dan Upaya Penyatuan Kalender Islam

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Astronomi Memberi Solusi Penyatuan Ummat

Pengantar: Ada pertanyaan publik dan mahasiswa pascasarjana via FB atau e-mail yang mungkin juga menjadi pertanyaan banyak orang. Berikut ini jawaban saya:

 

T: Mengapa secara astronomis bulan baru dimulai ketika terjadi ijtima’?

J: Ijtimak/newmoon sering juga disebut bulan mati secara astronomis dianggap sebagai bulan baru karena saat itulah bermulanya siklus sinodis, yaitu siklus bulan mati, sabit, setengah lingkaran, purnama, setelah lingkaran, kembali sabit, kemudian kembali bulan mati (siklus yang disebut juga di QS 36:39).

 

T: Argumentasi apa para ahli fiqh dan falak menolak kesimpulan astronomis (bulan baru dimulai ketika terjadi ijtima’)?

J: Konsep ijtimak/newmoon baru muncul setelah berkembangnya hisab. Rukyat yang dipraktekkan Rasul dan ummat Islam generasi awal hanya mengenal awal bulan setelah terlihatnya hilal. Jadi ahli fikih dan pakar falak/astronomi tinggal melanjutkan konsep hilal itu, karena secara hisab pun bisa disesuaikan.

T: Adakah data observasi yang menjelaskan posisi terendah hilal bisa diru’yat? Berapa derajat? Kapan? Dimana ru’yat dilaksanakan?

J: Jurnal astronomi yang menawarkan kriteria imkan rukyat atau visibilitas hilal selalu merujuk pada data kesaksian hilal seluruh dunia. Contohnya, makalah Odeh berisi tabel kesaksian hilal yang sahih secara astronomi. Namun kriteria Odeh yang mensyaratkan tebal sabit kurang dikenal oleh ahli falak Indonesia. Maka dengan menggabungkan kriteria yang ditawarkan beberapa peneliti lain, saya menawarkan kriteria baru yang mempertimbangkan praktek hisab rukyat di Indonesia. Syarat minimal ketampakan hilal (berdasarkan data-data astronomis): (a) Beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat dan (2) jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat.

T: Apa motivasi yang mendorong Bapak terlibat dalam wacana hisab rukyat di Indonesia , terutama upaya untuk mencari titik temu untuk penyatuan kalender Islam?

J: Perbedaan hari raya selama ini hanya dipandang sebagai persoalan fikih, sehingga solusi yang ada hanya tasamuh (toleransi), menghargai perbedaan pendapat. Hal itu tepat ketika yang dipermasalahkan adalah dalil fikih rukyat vs hisab. Dalam perkembangannya, kalangan rukyat pun mulai menerima hisab, walau sebagai pendukung. Maka perlu dicarikan titik temunya. Titik temu rukyat dan hisab adalah “hisab yang memperhatikan rukyat dan rukyat yang dipandu hisab”, yaitu dengan kriteria imkan rukyat atau visibilitas hilal. Kriteria imkan rukyat sudah lama dikenal, tetapi hanya sebatas kriteria hisab, bukan sebagai pemersatu rukyat dan hisab. Saya terdorong untuk menjadikan kriteria imkan rukyat sebagai solusi penyatuan kalender yang menjadi titik temu rukyat dan hisab. Kriteria imkan rukyat tersebut merupakan kriteria dinamis yang harus disepakati. Artinya, pada tahap awal biarkan saja digunakan kriteria sederhana seperti kriteria MABIMS (Tingi minimal 2 derajat, jarak bulan-matahari minimal 3 derajat, dan umur bulan minimal 8 jam). Itu sebagai titik awal persatuan. Lalu dikembangkan ke kriteria yang astronomis, dengan memilih salah satunya (misalnya Ilyas, Yallops, SAAO, Odeh) atau menggabungkan berbagai kriteria (Misalnya Kriteria “Hisab Rukyat Indonesia” yang saya usulkan).

 

T: Apa peran astronomi di dalam penyatuan kalender Islam?

J: Astronomi bisa berperan menjembatani hisab dan rukyat tanpa harus berpihak pada salah satunya. Kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat) astronomi bisa digunakan oleh ahli hisab untuk menentukan masukkan awal bulan dan bisa digunakan oleh ahli rukyat untuk mengkonfirmasi hasil rukyat yang meragukan (misalnya hilal yang terlalu rendah). Kriteria visibilitas hilal pada dasarnya adalah data rukyat jangka panjang yang bisa dijadikan sebagai acuan mungkin tidaknya rukyat terjadi.

 

T: Problematika penentuan awal bulan salah satunya berangkat dari definisi hilal yang berbeda, apa definisi hilal itu menurut Bapak?

J: Hisal adalah bulan sabit pertama yang tampak sesudah maghrib. Hilal menjadi penentu awal bulan Islam.

 

T: Bapak menyatakan rukyah yang baik harus dibantu hisab. Bagaimana jika klaim rukyat ternyata bertentangan atau tidak sesuai dengan hasil hisab?

J: Bila ada rukyat yang bertentangan dengan hasil hisab yang akurat, berarti ada kesalahan dalam rukyat atau objek yang dikira hilal sesungguhnya bukan hilal. Untuk membuktikan, bisa digunakan rukyat hari-hari berikutnya yang dibandingkan dengan hasil hisab.

 

T: Bagaimana penjelasan Bapak tentang kriteria hisab berlandaskan dalil syar’i?

J: Dalil syar’i menjelaskan soal fungsi bulan dan matahari dalam penentuan waktu yang bersifat umum di dalam Al-Quran serta contoh Nabi yang melakukan rukyat dan isyarat Nabi membolehkan hisab (dengan ungkapan “faqdurulahu”). Karena hisab pada dasarnya hanya menghitung posisi bulan, maka harus ada kriterianya. Krietria itu, merujuk pada dalil, tidak boleh mengabaikan rukyat. Maka kriteria yang harus digunakan adalah kriteria ketampakan hilal/visibilitas hilal/imkan rukyat.

 

T: Mengapa ketika masing-masing pengusung hisab dan rukyah mengklaim bahwa metode masing-masing adalah qath’i, bapak menyatakan kedua-duanya adalah kasus ijtihadiyah dan relatif?

J: Rukyat bergantung pada faktor mata dan faktor gangguan di ufuk, jadi bisa jadi yang dilihatnya bukan hilal. Oleh karenanya ahli rukyat berijtihad dengan keyakinan rukyatnya. Sementara ahli hisab dalam memutuskan masuknya awal bulan juga harus berijtihad dengan kriterianya. Kebenaran keduanya relatif, bergantung pembuktiannya. Suatu saat akan ditemukan metode dan kriteria yang meyakinkan, ketika hisab dan rukyat saling bersinergi. Penggunaan teknologi teleskop dan komputer sangat membantunya.

 

T: Bagaimana tanggapan Bapak terhadap kelompok yang cenderung menggunakan kreteria rukyat global untuk penyatuan kalender Islam?

J: Saya memandang mereka mempunyai ghirah (semangat) penyatuan ummat yang kuat, tetapi masih lemah dari aspek teknis pelaksanaannya. Karena bumi bulat, bagaimana pun harus ada batasnya. Batas yang benar mestinya disesuaikan dengan batas keterlihatan hilal, jangan gunakan batas tanggal internasional, hanya sekadar menyamakan hari.

 

T: Sebahagian ulama masih ada yang berpendapat tentang mathla sebagai jarak yang mengikat berlakunya hukum rukyah adalah jarak 24 farsakh atau daerah sejauh 133 km. Bagaimana pendapat bapak tentang pandangan demikian?

J: Mathla’ seperti itu didasarkan pada pemahaman ahli fikih dahulu untuk menyatakan batas keberlakuan rukyat, berdasarkan dalil dan wawasan pada saat itu. Ketika wawasan berkembang global, batasan seperti itu tidak bisa diterapkan lagi. Saya berpendapat mathla’ saat ini harus didefinisikan dengan garis tanggal berdasarkan kriteria yang disepakati.

 

T: Bagaimana pendapat Bapak tentang Garis Batas Tanggal?

J: Garis batas tanggal adalah mathla’ bila diterapkan kriteria imkan rukyat.

 

T: Dalam kaitan penyatuan kalender, bagaimana pandangan Bapak tentang rukyah apakah menjanjikan terwujudnya suatu kalender mapan?

J: Rukyat diperlukan untuk menetapkan awal bulan, khususnya bagi para pengamal rukyat. Rukyat pun digunakan untuk konfirmasi hisab dan bahan untuk menyempurnakan kriteria imkan rukyat. Rukyat memang bukan untuk membuat kalender. Kalender hanya mendasarkan pada hisab dengan kriteria Imkan Rukyat.

 

T: Apa kritik Bapak terhadap kriteria rukyah murni?

J: Rukyat murni tidak mempunyai panduan waktu dan arah yang tepat untuk rukyat. Karenanya, rukyat murni rentan terhadap kesalahan identifikasi objek pada saat gangguan di ufuk semakin banyak seperti saat ini.

 

T: Apa kritik bapak terhadap wujudul hilal?

J: Kriteria wujudul hilal adalah kriteria penyederhanaan dari kriteria imkan rukyat, dengan anggapan syarat minimal keberadaan di atas ufuk, walau pun konsepnya keliru karena yang digunakan sebagai rujukan adalah piringan atas bulan.

 

T: Apa saja syarat yang harus ada untuk mewujudkan kalender hijriyah yang mapan?

J: Tiga sayart utama: (1) ada otoritas tunggal, (2) ada kriteria tunggal yang disepakati, dan (3) ada batas wilayah yang jelas.

 

T: Bagaimana peran pemerintah, apakah perlu otorisasi untuk mewujudkan kalender tunggal?

J: Pemerintah adalah otoritas tunggal dalam lingkup kalender nasional.

 

T: Mengapa ormas-ormas Islam di Indonesia masih belum dapat menerima konsep penyatuan kalender, padahal sudah lama ide itu dikemukakan dan sudah sekian banyak pertemuan diselenggarakan?

J: Saya memandang sebab utama adalah adanya kesalahan konsep yang digunakan sebagian ormas Islam yang diperparah dengan ego organisasi yang kuat. Dikhotomi rukyat dan hisab yang ditanamkan secara sadar atau tak sadar membangun sikap taqlid pada metode dan kriteria yang mereka gunakan yang menyebabkan mereka kehilangan sikap kritis ilmiahnya.

 

T: Apakah imkanurrukyah itu? Bagaimana sejarah teori imkan rukyah itu dan penganjurnya?  Apa dasar syar’iyah dari teori imkan rukyah tersebut? Sebagian orang mengatakan teori itu tidak memiliki landasan syar’i yang kuat.

J: Imkan rukyah adalah kemungkinan ketampakan hilal. Dasar syar’iyahnya bisa dirunur sebagai berikut: Perintah puasa ada di QS 2:183 dan waktu pelaksanaannya pada bulan Ramadhan diperintahkan di QS 2:185. Cara menentukan Ramadhan dirinci di hadits “Shuumu li ru’yatihi…” berupa perintah rukyat. Sekarang berkembang pendapat bahwa hisab dibolehkan, karena ada isyarat QS 10:5 dan rincian hadits dengan frase “faqdurulahu” (“perkirakan”) sebagai alternatif rukyat. Sekadar bandingan fikih, shalat diperintah di Al-Quran. Rincian tata cara shalat dirinci di hadits. Tanda-tanda waktu juga dirinci di hadits. Tidak ada perintah membuat jadwal shalat. Tetapi semua orang kini mengikuti jadwal shalat. Karena isyarat waktu yang disebut di dalam hadits diterjemahkan menjadi parameter astronomi berupa kriteria waktu shalat untuk membuat jadwal shalat. Hal serupa juga berlaku dalam penentuan awal bulan, khususnya awal dan akhir Ramadhan. Isyarat waktu untuk mengawali Ramadhan dengan rukyat diterjemahkan menjadi parameter astronomi berupa kriteria Imkan Rukyat.

 

T: Ada banyak kriteria dalam imkanurrukyah, sehingga dianggap tidak memberi kepastian. Bagaimana jawaban Bapak tentang hal tersebut?

J: Kriteria imkan rukyat (visisbilitas hilal) adalah produk penelitian sains-astronomi. Dalam sains, masing-masing peneliti berhak untuk mengungkapkan hasilnya, tanpa berkewajiban untuk membandingkan dengan peneliti lain. Tidak ada pula kewajiban untuk membuat kesepakatan di antara para peneliti. Kriteria tunggal yang diperlukan dalam implementasi harus dibuat berdasarkan kesepakatan untuk memilih salah satunya dan mengggabungkannya.

 

T: Bagaimana kreteria imkan rukyah menurut bapak, atas dasar apa membangun kriteria dimaskud?

J: Saya menawarkan kriteria imkan rukyat berdasarkan data astronomis rukyatul hilal internasional dengan mempertimbangkan praktek hisab rukyat di Indonesia. Kriteria itu mencakup syarat minimal ketampakan hilal (berdasarkan data-data astronomis): (a) Beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat dan (2) jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat. 

 

T: Terkait perbedaan pendapat dengan Muhammadiyah, mengapa tidak ditempuh dialog?

J: Dialog dengan pakar dan pengurus Pusat Muhammadiyah sudah saya lakukan sejak 1990-an, jadi lebih dari 20 tahun. Oleh karenanya saya pun pernah diundang jadi narasumber di Munas Tarjih Muhammadiyah di Padang pada 2003. Tahun 2009 saya dan teman-teman Salman ITB juga bersilaturrahim ke PP Muhammadiyah di Yogyakarta (lihat foto). Menjelang Ramadhan 1432/2011 saya pun berdialog intensif dengan beberapa pengurus Muhammadiyah Pusat. Karena ada pengurus yang menyebut “itu harga mati, wujudul hilal tidak bisa diubah lagi“, maka sejak Ramadhan 1432/2011 saya lakukan dialog publik, dialog terbuka. Saya pun minta izin ke salah seorang pengurus Pusat Muhamadiyah untuk membuka diskusi publik via blog saya. Memang ada plus-minusnya dialog publik seperti itu. Plusnya semakin banyak warga Muhammadiyah yang mulai terbuka wawasannya dan bisa menilai secara objektif masalah perbedaan yang selalu berulang. Minusnya, saya harus siap dengan segala caci maki yang kadang disertai kata-kata kotor yang terpaksa saya hapus di blog saya.

Akar Masalah Perbedaan Penetapan Muhammadiyah: Kasus Ramadhan 1434/2013

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

Maklumat Muhammadiyah 1434-1

Maklumat Muhammadiyah 1434-2

Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1434 adalah hal yang biasa secara astronomis. Dengan hisab kita bisa menghitung untuk waktu kapan pun dan kini software perhitungan semacam itu semakin banyak tersedia, sebagian diantaranya bisa diunduh di internet, misalnya Accurate Time dan Stellarium. Namun, ada masalah yang perlu kita fahami bersama. Awal Ramadhan dipastikan akan beda. Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan jatuh 9 Juli 2013, sedangkan ormas-ormas Islam lain yang menggunakan hisab imkan rukyat (IR, visibilitas hilal) menetapkan 10 Juli 2013. Hasil rukyat dan keputusan sidang itsbat akan diputuskan pada 8 Juli 2013 yang kemungkinan besar menetapkan 10 Juli 2013. Mengapa bisa berbeda?

Akar masalah perbedaan keputusan awal Ramadhan Muhamadiyah dari ormas-ormas Islam lainnya adalah kriteria usang Wujudul Hilal (WH) pra-1970-an. WH + wilayatul hukmi Indonesia hanya ada di Muhammadiyah. ISNA (Islamic Society of North America) menggunakan kalender Ummul Quro (WH di Mekkah) hanya untuk alasan praktis kepastian. Sedangkan Arab Saudi saja sama sekali tidak menggunakan kalender Ummul Quro untuk penentuan waktu ibadah. Sebenarnya, hisab itu bukan hanya wujudul hilal, tetapi ada jugaIR . Dalil IR = dalil rukyat, karena kriteria IR hanyalah kuantifikasi ketampakan hilal untuk hisab. Sama seperti kriteria jadwal shalat pada hisab jadwal shalat yang merupakan kuantifikasi waktu-waktu shalat yang didalilkan pada fenomena fajar, ba’da zawal, panjang bayangan, terbenam matahari, dan hilangnya cahaya syafak. Dalil WH tidak jelas. QS 36:40 sama sekali tidak menjelaskan WH. Bagaimana pun waktu ibadah perlu adanya dalil, tidak bisa seenaknya berdasarkan logika. Secara astronomis, awal bulan adalah sejak ijtimak/konjungsi yang disebut newmoon (bulan baru). Tetapi para ulama bersepakat tidak menjadikannya sebagai awal bulan Islam. WH itu sama sekali tidak berdasar, tidak ada dalil syar’i dan tidak ada landasan astronomisnya. 

Seperti apa sih kondisi bulan-matahari pada 8 Juli 2013? Kita gunakan Stellarium untuk memvisualisasikan posisi bulan dan matahari.

Bulan-matahari 8 Juli 2013

Bulan-matahari 8 Juli 2013-b

Kondisi bulan yang yang terlalu dekat matahari dan terlalu rendah dari ufuk tidak memenuhi kriteria IR dan pasti tidak mungkin dapat dirukyat. Hal ini menjadi sebab utama terjadinya beda penetapan antara Muhammadiyah dan ormas-ormas Islam lainnya di Indonesia. Jadi penyebabnya BUKAN perbedaan hisab dan rukyat, karena kriteria IR juga adalah hisab.

Mari kita cermati lebih rinci soal WH awal Ramadhan 1434. Kita gunakan Accurate Time untuk memvisualisasikannya.

1434-Ramadhan-Garis tanggal

Garis batas arsir merah dan putih yang melintasi Amerika Utara, Afrika-Utara, Jazirah Arab, India, dan Indonesia adalah garis tanggal WH. Garis batas arsir merah dan putih yang melewati Australia adalah garis Ijtimak qablal ghurub (saat maghrib saat terjadi ijtimak/bulan baru). Sumatera, Jawa, Kalimantan bagian Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara  sudah memenuhi kriteria WH, tetapi di wilayah lainnya saat maghrib 8 Juli 2013 bulan belum wujud. Hal itu disebutkan dalam butir 3 maklumat Muhammadiyah tersebut di atas. Lalu mengapa Ramadhan 1434 diputuskan (pada butir 4) jatuh pada tanggal 9 Juli 2013? Muhammadiyah menggunakan prinsip wilayatul hukmi, yaitu Indonesia dianggap sebagai satu wilayah hukum, maka wujudulnya hilal di sebagian Indonesia dianggap berlaku untuk seluruh wilayah hukum. Prinisp wilayatul hukmi sebenarnya adalah prinsip rukyat, ketika batas keterlihatan tidak bisa didefinisikan. Ketika menggunakan hisab murni, batas itu nyata bisa dibuat. Semestinya, Muhammadiyah konsisten untuk menjadikan wilayah yang belum wujud hilalnya memulai Ramadhan pada 10 Juli 2013.

Muhammadiyah memang sebenarnya menggunakan prinsip rukyat, hanya tidak diakuinya. Pertama, mereka menggunakan batas waktu maghrib yang berasal dari konsep rukyat. Konsep hisab murni sebenarnya hanya merujuk pada ijtimak/bulan baru. Kedua, mereka menggunakan prinsip wilayatul hukmi yang juga berasal dari konsep rukyat. Ketiga, dalam menghitung posisi digunakan koreksi refraksi yang pada hakikatnya menggambarkan penjalaran cahaya yang diperhitungkan untuk rukyat. Jadi, sebenarnya selangkah lagi Muhammadiyah bisa bergabung dengan ormas-ormas Islam lainnya untuk menerima kriteria IR, yang dalam konsepnya ketiga hal tersebut menjadi bagian utamanya. Kalau itu dilakukan, persatuan ummat bisa terjaga dan tentu saja konsep Hisab dan Rukyat yang setara bisa diterapkan secar konsisten.

Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

Rekor Muri-Mendirikan Telur terbanyak di Hari Peh Cun-Juni 2012

(Rekor Muri mendirikan telur terbanyak saat perayaan Peh Cun)

Pada perayaan Peh Cun warga Tionghoa, orang-orang mudah menegakkan telur. Apakah hanya pada perayaan Peh Cun? Tidak! Setiap awal bulan qamariyah dan bulan purnama saat tengah hari atau tengah malam itu bisa dilakukan. Contohnya pada 8 Juni 2013 adalah bulan baru (newmoon) awal Sya’ban. Perayaan Peh Cun dilaksanakan pada 12 Juni 2013, yaitu tanggal 5 bulan ke 5 dalam kalender Cina, artinya masih sekitar awal bulan. Pada saat bulan baru dan purnama, deferensial gravitasi bulan diperkuat oleh matahari. Itu pula yang menyebabkan pasang maksimum air laut. Tampaknya, beda gravitasi antara dasar telur dan puncak telur cukup signifikan untuk menahan telur berdiri tegak beberapa saat.

Penjelasannya sebagai berikut:

Pasang surut

Pasang surut-gaya

Pasang-surut

(Gambar-gambar dari internet dari fasilitas pencarian Google)

Tertariknya air laut disebabkan oleh gaya gravitasi bulan dan matahari yang berbeda-beda di setiap titik di bumi. Itu disebut gaya diferensial gravitasi, baik oleh bulan maupun matahari. Pada saat bulan dan matahari hampir segaris, saat bulan baru maupun purnama, gaya pasang-surut maksimum. Itu sebabnya pasang air laut pun maksimum pada saat-saat sekitar tengah hari dan tengah malam. Pada perayaan Peh Cun, warga Tionghoa memanfaatkan gaya diferensial gravitasi bulan-matahari maksimum itu untuk menegakkan telur. Mengapa telur bisa tegak beberapa saat? Perbedaan gravitasi oleh bulan dan matahari yang bekerja pada telur tampaknya mampu menjaga telur tegak beberapa saat (perhatikan ilustrasi garis gaya gravitasi bulan-matahari pada gambar di atas).

Updated: Tampaknya logika ilmiah seperti itu lemah, karena ternyata (setelah browsing di internet) ada beberapa eksperimen yang membuktikan telur juga mudah ditegakkan kapan saja bergantung tekstur permukaan tempatya. Di Barat mitos yang berkembang soal menegakkan telur saat equinox (sekitar 21 Maret), saat matahari di ekuator.  Artinya, tidak harus pengaruh bulan. Jadi beda mitos Peh Cun sekitar tanggal 5 lunar calendar di budaya Timur dengan equinox sekitar 21 Maret di budaya Barat cukup memberikan dasar bahwa tegakknya telur BUKAN karena pengaruh diferensial gravitasi bulan dan juga bukan karena pengaruh diferensial matahari.

Lalu logika ilmiah apa yang bisa menjelaskan? Bentuk telur yang agak elips memang sulit ditegakkan, tetapi mungkin ditegakkan di permukaan yang ada sedikit penyangga, misalkan pada permukaan yang tidak benar-benar rata (perhatikan lokasi telur pada foto di atas saat Rekor Muri 2012).

Jadi, atas pertanyaan di judul, “Apakah Menegakkan Telur Hanya Pada Saat Peh Cun?” jawaban yang benar adalah “Tidak, menegakkan telur bisa kapan saja, bergantung tekstur permukaan tempatnya yang tidak rata sempurna sehingga masih ada sedikit penyangga telur”. Mitos Peh Cun atau Equinox cukuplah digunakan untuk sosialisasi diferensial gravitasi yang menyebabkan pasang surut air laut dan dampak ikutannya, tetapi sesungguhnya tidak berpengaruh pada tegaknya telur.

Memahami Hujan di Akhir Pancaroba dan Potensi Kemarau Basah 2013

T. Djamaluddin

Deputi Sains, LAPAN

Membawahi Pusat Sains Atmosfer, LAPAN

Awan 30 Mei 2013 siang

Awan 30 Mei 2013 malam

(Data satelit cuaca MTSAT yang dikompilasi LAPAN, klik untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awan)

Sampai akhir Mei hujan masih mengguyur banyak wilayah di Indonesia. Lalu kapan akan memasuki kemarau?

Indeks Monsson Mei 2013

Angin 31 mei 2013

Secara umum, pola angin di Indonesia sudah mengarah ke musim kemarau. Indeks monsoon Indo-Australia sudah negatif yang artinya angin mulai bertiup dari arah Timur menuju ke Barat, lalu berbelok ke Utara. Pola angin seperti itu mendorong ITCZ (Intertropical Convergence Zone, zona konvergensi antartropik) ke arah Utara. Itu artinya gugusan besar awan mulai bergerak ke Utara yang menggindikasikan musim kemarau segera mulai. Namun mengapa hujan masih terus mengguyur?

TRMM-Mei 2013

(Anomali Curah Hujan selama Mei 2013, dari TRMM NASA)

Data satelit pemantau curah hujan, TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) NASA (lihat gambar di atas) memang menunjukkan selama bulan Mei 2013 wilayah Indonesia lebih banyak hujan daripada biasanya (ditandai dengan warna hijau-biru). Masih seringnya terbentuknya daerah tekanan rendah di sekitar Indonesia (lihat peta angin) juga memicu daerah pembentukan awan yang cukup intensif mencurahkan hujan. Mengapa itu bisa terjadi?

SST akhir Mei 2013

(Dari http://www.ncdc.noaa.gov/oa/climate/research/sst/weekly-sst.php )

Suhu permukaan laut sekitar Indonesia yang lebih hangat dari biasanya (ditandai dengan warna kuning-coklat pada gambar di atas) memicu penguapan yang lebih intensif dan memicu terbentuknya daerah tekanan rendah. Itulah yang menyebabkan pembentukan awan masih cukup aktif dan hujan masih mengguyur wilayah Indonesia.  Lalu apakah berlanjut pada musim kemarau mendatang?

Nino34-2013-BoM Australia

IOD-2013-BoM Australia

Prakiraan suhu permukaan laut Pasifik (daerah pantau NINO 3.4.) sampai akhir tahun 2013 menunjukkan dalam keadaan normal. Sementara suhu permukaan samudera Hindia yang diindikasi dengan indeks IOD (Indian Ocean Dipole) menunjukkan wilayah laut Indonesia lebih hangat daripada samudra Hindia Barat. Maknanya, potensi pembentukan awan akan lebih banyak daripada biasanya di wilayah Indonesia. Dengan kata lain, potensi kemarau basah seperti 2010 akan berulang.