Memahami Kriteria Astronomis Kalender Islam di Perancis


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofsisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Resolusi Dewan Islam Perancis

Sebagai upaya mempersatukan ummat Islam di Perancis, Dewan Muslim Perancis menetapkan kalender Islam berdasarkan perhitungan (hisab) dan prinsip-prinsip hukum Islam. Berikut ini terjemah resolusi Dewan Muslim Perancis tentang Kalender Bulan berdasarkan Perhitungan Astronomi (hasil terjemah Google yang bahasanya saya sempurnakan):

Resolusi Dewan Muslim Perancis tentang Pembentukan Kalender Bulan Berdasarkan Perhitungan Astronomi

Paris, 9 Mei 2013

Para ulama Dewan Muslim Perancis serta pakar astronomi berkumpul di Paris, Kamis, 9 Mei, 2013, untuk menyelesaikan pembentukan kalender bulan (kalender Islam) berdasarkan perhitungan dan prinsip-prinsip hukum Islam. Inisiatif ini diambil atas desakan dari  anggota yang aktif bekerja untuk kesatuan umat Islam di Perancis.

Pertemuan ilmiah dilakukan untuk mengkaji perbedaan dalil tentang kalender Islam dan penggunaannya dalam praktek agama Islam, pendapat para ulama, prinsip-prinsip perhitungan astronomi, dan metode yang digunakan.

Penggunaan perhitungan untuk menentukan shalat lima waktu dan tabel jadwal shalat tahunan tidak pernah memicu perdebatan atau pertentangan terkait  dengan pelaksanaan  prinsip-prinsip hukum Islam.

Pembuatan  kalender bulan dengan ketentuan yang sama, sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam, semestinya tidak perlu diperdebatkan. Memperhatikan berbagai metode yang diusulkan dan digunakan di seluruh dunia, disepakati untuk mempertahankan aturan yang berlaku dalam Konferensi Internasional tentang Pengamatan Hilal, November 1978.

Pada saat itu  semua negara Muslim yang hadir setuju untuk memperhitungkan kondisi pengamatan bulan dan prinsip awal bulan kalender Islam jika hilal dapat diamati di mana saja dunia. Bunyinya: Awal bulan hijriyah diharapkan mulai pada malam hari, ketika di suatu tempat di Bumi, titik pusat bulan saat matahari terbenam lebih dari 5o (lima derajat) di atas ufuk dan elongasi adalah lebih dari 8° (delapan derajat).”

Jadi, menurut aturan ini, tanggal 1 Ramadhan 1434 H itu jatuh pada 9 Juli 2013 dan 1 Syawal 1434H, Idul Fitri, pada 8 Agustus 2013. Pertemuan pada malam awal Ramadhan dan Idul Fitri akan diadakan seperti biasa, di semua masjid di Perancis.

Untuk memungkinkan Muslim di Perancis melaksanakan ibadah mereka dan mengatasi kemungkinan perbedaan waktu, disepakati pada awal setiap tahun Hijriah (1 Muharram), Dewan Muslim Perancis mempublikasikan jadwal tahunan awal dan akhir Ramadhan dan semua hari besar keagamaan.

Sekali lagi, dalam rangka lebih mengkonsolidasikan persatuan umat Islam di Perancis, anggota Dewan Muslim Perancis pada kesempatan ini mengharapkan untuk terus menjalin kebersamaan waktu-waktu ibadah.

Kriteria awal bulan yang diadopsi oleh Dewan Muslim Perancis oleh pakar hisab rukyat di Indonesia dikenal sebagai kriteria Istambul 1978:

1. Tinggi bulan minimal 5 derajat.

2. Jarak bulan-matahari minimal 8 derajat.

Markaz (titik rujukan) hisab yang digunakan bukan lokal Perancis, tetapi suatu titik di dunia yang sudah memenuhi kriteria tersebut. Kriteria itu lebih tinggi dari kriteria yang saya usulkan sebagai Kriteria Hisab Rukyat Indonesia (untuk markaz di Indonesia).

1. Beda tinggi bulan-matahari minimal 4 derajat (kira-kira tinggi minimal 3 derajat 10′, karena titik pusat matahari saat terbenam sekitar -50′).

2. Jarak bulan-matahari minimal 6,4 derajat.

Bagaimana implementasinya untuk awal Ramadhan 1434 ? Untuk membayangkannya, lebih mudah kita lihat dulu garis tanggal globalnya menurut kriteria visibilitas hilal Odeh (Audah) dan peta tinggi bulan dari BMKG:

Ramadhan 1434

1434-ramadhan-tinggi-bulan

Wilayah arsir merah adalah wilayah yang pada saat maghrib bulan belum wujud. Wilayah tanpa arsir (putih) adalah wilayah yang pada saat maghrib bulan telah wujud, tetapi mustahil teramati.Perbatasan antara arsir merah dan putih adalah garis tanggal kriteria wujudul hilal. Berdasarkan kriteria wujudul hilal tersebut, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 9 Juli 2013. Garis tanggal kriteria tinggil hilal 2 derajat berada di wilayah putih, dekat dengan wilayah arsir merah. Pada peta ketinggian bulan terlihat garis 2 derajat melintasi Afrika. Wilayah berarsir biru adalah wilayah yang pada saat maghrib bulan mungkin dapat dilihat dengan alat optik. Kriteria “Hisab Rukyat Indonesia” di wilayah putih mendekati wilayah berarsir biru.  Beda tinggi bulan-matahari 4 derajat melintasi Amerika Selatan. Kriteria elongasi 6,4 membuat pembelokan garis tanggal lebih ke arah Barat di samudra Atlantik. Wilayah arsir magenta (merah-ungu) adalah wilayah yang pada saat maghrib hilal dapat terlihat dengan mata telanjang.

Di manakah posisi kriteria Istambul yang diadopsi Perancis? Kriteria Istambul didasarkan pada pengamatan mata, jadi garis tanggal kriteria Istambul berada dekat dengan wilayah arsir magenta. Sekadar contoh, data bulan saat maghrib di Santiago, Chile (Amerika Selatan) tingginya 5 derajat 41′ dan elongasinya 7 derajat.  Artinya, tinggi bulan sudah memenuhi kriteria, tetapi elongasinya belum memenuhi kriteria Istambul. Hal itu bisa difahami, karena menurut kriteria Odeh memang di Amerika Selatan hilal mungkin dilihat, tetapi harus menggunakan alat optik. Kasus lain, data posisi bulan pada saat maghrib di Papeete (Polinesia Perancis) di Pasifik: tinggi bulan 7 derajat 32′ dan elongasinya 8,8 derajat. Jadi, di Papeete telah memenuhi kriteria Istambul dan menurut kriteria Odeh wilayah Polinesia memang mungkin untuk melihat hilal dengan mata telanjang. Atas dasar kemungkinan rukyat di Papeete pada 8 Juli 2013 tersebut, Dewan Muslim Perancis memutuskan awal Ramadhan jatuh pada 9 Juli 2013. Jadi, walau pun hasilnya sama awal Ramadhan 1434 jatuh pada  9 Juli 2013, Perancis bukan mendasarkan pada kriteria wujudul hilal, tetapi pada kriteria imkan rukyat Istambul.

Baca juga Memahami dan Menyikapi Potensi Perbedaan Shafar, Rajab, Ramadhan, dan Dzulhijjah 1434/2013

Iklan

19 Tanggapan

  1. Ass wr wb.
    Berdasarkan Accurate Times (kriteria Odeh) tanggal 8 Juli 2013 tersebut diatas, maka sebagian besar wilayah dimuka bumi akan mengawali bulan Ramadhan pada tanggal 9 Juli 2013, sedangkan yang akan mengawali bulan Ramadhan pada tanggal 8 Juli 2013 adalah wilayah Amerika Latin yang terkena arsir warna biru.
    Wass wr wb.

    • Cara bacanya, tanggal tersebut adalah tanggal rukyat. Jadi sebagian besar wilayah rukyat baru mungkin baru hari berikutnya, 9 Juli 2013, jadi awal Ramadhan di sebagian besar wilayah adalah 10 Juli 2013. Berdasarkan kriterie Odeh, hanya wilayah Amerika Selatan yang mungkin rukyat (dengan teleskop atau binokuler) pada 8 Juli, sehingga di Amerika Selatan awal Ramadhan 1434 jatuh pada 9 Juli. Karena Perancis mendasarkan pada markaz di mana pun di bumi, bukan hanya di Perancis, maka bila ada suatu wilayah yang sudah masuk awal bulan, maka itu dijadikan rujukan Perancis sebagai awal bulan.

    • Ass wt wb. Maaf Prof, bukankah hari2 hijriyah dimulai pada saat magrib, karena itu pemahaman saya adalah bahwa sebagian besar wilayah dimuka bumi akan mengawali bulan Ramadhan 1434 H pada tgl 8 Juli 2013 saat magrib shg esok harinya tgl 9 Juli 2013 s.d. saat magrib masih berada pd tgl 1 Ramadhan 1434H. Sedangkan wilayah Amerika Latin yg terkena arsir biru, mengawali bulan Ramadhan 1434H pd tgl 9 Juli 2013 saat magrib dimana esok harinya tgl 10 Juli 2013 s.d. saat magrib masih berada pd tgl 1 Ramadhan 1434H. Mohon pencerahan. Wass wr wb.

      • Ass wr wb. Sekali lagi maaf Prof, postingan saya diatas “terbalik”. Untuk sebagian wilayah dimuka bumi seharusnya mengawali bulan Ramadhan 1434H pd tgl 9 Juli 2103 saat magrib dimana esok harinya tgl 10 Juli 2013 s.d. saat magrib masih berada pd tgl 1 Ramadhan 1434H. Sedangkan utk wlayah Amerika Latin yg terkena arsir biru, mengawali bln Ramadhan 1434H pd tgl 8 Juli 2013 saat magrib dimana esok harinya tgl 9 Juli 2013 s.d. saat magrib masih berada pd tgl 1 Ramadhan 1434H. Wass wr wb

  2. Ass wr wb. Berdasarkan Accurate Times (kriteria Odeh), Perancis seharusnya mengawali bulan Ramadhan 1434H pada tgl 9 Juli 2013 saat magrib, sehingga sholat tarawih dilaksanakan pada malam hari tgl 9 Juli 2013 dan mulai sahur dan puasa pada dini hari tgl 10 Juli 2013. Sedangkan kalau dicermati “Peta ketinggian hilal pada saat matahari terbenam tgl 8 Juli 2013” maka pada ketinggian 0 derajat pun saat dimulainya bulan Ramadhan 1434H sama dg perhitungan berdasarkan Accurate Times. Wass wr wb.

    • Perancis menggunakan imkan rukyat global. Karena di Pasifik sudah memenuhi kriteria pada maghrib 8 Juli, maka Perancis memutuskan 1 Ramadhan = 9 Juli (tarawih pertama 8 Juli malam).

    • Ass wr wb. Penggunaan Imkan Rukyat Global oleh Perancis memang sudah sesuai dg yg saya pahami, namun demikian ada yg tdk diperhitungkan oleh Perancis yaitu posisi geografis Perancis yg berada disebelah timur wilayah Pasifik yg yelah memenuhi kriteria

    • Karena wilayah yg sdh memenuhi ktiteria penampakan hilal pd tgl 8 Juli 2013 adalah wilayah Pasifik berada disebelah barat Perancis, maka wilayah tsb akan mendahului memulai mengawali bln Ramadhan 1434H pd tgl 18 Juli 2013 saat magrib dan wilayah disebelah baratnya akan berturut2 mengikuti mengawali bln Ramadhan 1434H pd tgl 18 Juli 2013 saat magrib. Namun demikian karena adanya IDL di bujur 180 derajat yg merupakan batas pergantian hr/tgl, maka mulai wilayah pd bujur 180 derajat ke barat terjadi pergantian hr/tgl menjadi tgl 9 Juli 2013 shg wilayah2 ini (termasuk Perancis) akan mengawali bln Ramadhan 1434H pd tgl 9 Juli 2013 saat magrib dan memulai puasa pd tgl 10 Juli 2013 dini hari. Wass wr wb.

      • Ass wr wb.
        Maaf, ada kesalahan ketik pd postingan diatas, yaitu :
        TERTULIS : tgl 18 Juli 2013.
        SEHARUSNYA : tgl 8 Juli 2013.
        Wass wr wb.

  3. Ass wr wb.
    Dengan demikian, dalam melakukan hisab penampakan hilal untuk menentukan awal bulan hijriyah tidak bisa lepas dari ILDL (International Lunar Date Line = jalur wilayah dimana penampakan hilal pertamakali dpt dilihat dr permukaan bumi) yg posisinya selalu berubah setiap bulannya. Dan posisi ILDL pd tgl 8 Juli 2013 berdasarkan kriteria Odeh (ketinggian bulan saat matahari terbenam/magrib = 4 derajat) adalah garis batas antara bidang putih dg bidang arsir biru yg dpt dilihat pada Accurate Times tgl 8 Juli 2013.
    Jalur wilayah ILDL merupakan wilayah yang pertama kali memulai awal suatu bulan hijriyah. Karena bumi berrotasi kearah timur maka wilayah disebelah timur ILDL yg disaat magrib belum ada penampakan hilal, pada tgl 8 juli 2013 saat magrib belum memasuki awal bulan Ramadhan 1434H.
    Pd waktu terlihat penampakan hilal di wilayah ILDL saat magrib tgl 8 juli 2013 maka wilayah disebelah timur ILDL sudah lewat magrib (bahkan jalur wilayah IDL yaitu pada bujur 180 derajat sdh berada pd wktu pagi hari tgl 19 Juli 2013) sehingga wilayah ini baru akan melihat penampakan saat magrib tgl 9 Juli 2013.
    Dengan demikian wilayah disebelah timur ILDL (termaauk Perancis) baru akan mengawali bln Ramadhan 1434H pd tgl 9 Juli 2013 saat magrib sehingga melaksanakan sholat tarawih pd tgl 9 Juli 2013 malam hari dan memulai sahur dan puasa tgl 10 Juli 2013 dini hari.
    Wass wr wb.

  4. Ass wr wb.
    Jika benar Dewan Muslim Perancis memutuskan awal Ramadhan 1434H jatuh pd tgl 9 Juli 2013 (dimulai dr tgl 8 Juli 2013 saat magrib) atas dasar kemungkinan rukyat di Papeete tgl 8 Juli 2013 saat magrib, berarti Dewan Muslim Perancis mengikuti “prinsip matlak global” yaitu apabila pd suatu hr/tgl saat magrib sudah ada wilayah di muka bumi yg melihat penampakan hilal maka seluruh permukaan bumi berada pd tgl 1 bln hijriyah berkenaan sejak hr/tgl tsb saat magrib hingga esok hr/tgl berikutnya saat magrib. Dg kata lain jika pd tgl 8 Juli 2013 di Papeete (atau wilayah lain) saat magrib sdh dpt melihat penampakan hilal, maka seluruh permukaan bumi akan berada pada tgl 1 Ramadhan 1434H sejak tgl 8 Juli 2013 saat magrib hingga tgl 9 Juli 2013 saat magrib.
    “Prinsip matlak global” tsb mempunyai kelemahan yaitu mengabaikan ILDL yg merupakan jalur wilayah dimuka bumi yg pertamakali memulai hr/tgl kalender hijriyah dan menggunakan IDL (International Date Line) di grs bujur 180 derajat sebagai penggantinya. Padahal IDL merupakan jalur wilayah di muka bumi yg pertama kali memulai hr/tgl kalender syamsiah.
    Dg demikian prinsip matlak global ini akan berhadapan dengan pelaksanaan rukyat, karena penerapannya menyebabkan wilayah disebelah timur ILDL hrs sdh mengawali bulan hijriyah meskipun hasil rukyat menyatakan belum ada penampakan hilal.
    Karena dalil syar’i mengisyaratkan bahwa awal bulan hijriyah ditandai dg penampakan hilal yang hrs dibuktikan dg pelaksanaan rukyat (“melihat hilal”) maka prinsip matlak global dpt dikatakan melaksanan dalil syar’i secara TIDAK UTUH yang dapat berujung pada penolakan thd rukyatul hilal.
    Wass wr wb.

  5. Reblogged this on Naneyan's Blog.

  6. Bagaimana jika dibandingkan dengan data astronomi mutakhir, pengamatan hilal oleh astronom Martin Elsasser semua harus ke Ijtimak Qablal Ghurub, imkanur rukyat jadi usang dong.

    • Bulan sabit siang hari BUKAN hilal untuk penentuan awal bulan. Tidak ada fuqaha yang menjadikannya dasar penentuan awal bulan.

    • Ass wr wb
      Wilayah2 dimuka bumi yg pd saat ijtimak/konjungsi berada pada waktu magrib dan sebelumnya, memang sudah dapat dipastikan akan melihat hilal dan memasuki awal bulan hijriyah baru pada hari itu saat magrib. Demikian juga Munchen (tempat dilakukannya pengamatan hilal pd siang hari saat konjungsi) sudah dapat dipastikan akan melihat hilal dan memasuki bulan hijriyah baru pada hari itu saat magrib.
      Yang lebih dulu memasuki awal bulan hijriyah baru adalah wilayah yang pertama kali melihat hilal atau ILDL yaitu wilayah yang pd waktu magrib sudah melewati saat “topocentric conjunction”, sehingga di wilayah ILDL inilah tempat yg paling ideal untuk melaksanakan pengamatan hilal.
      Topocentric Conjunction terjadi beberapa saat setelah “geocentric conjunction”, sehingga antara geocentric conjunction sampai saat adanya penampakan hilal akan terdapat “jedah waktu” dan jedah waktu inilah yang disebut dengan saat “bulan mati” atau “Danjon Limit”.
      Wilayah yg berada pd waktu magrib saat topocentric conjunction diperkirakan belum dapat melihat hilal karena posisi pengamatan tepat berada pd bidang yg menghubungkan pusat matahari dan pusat bulan, sehingga penampakan hilal baru akan terjadi beberapa saat setelah topocentric conjunction.
      Jika wilayah yg berada pd waktu magrib saat topocentric conjunction diperkirakan belum dapat melihat hilal, apalagi wilayah yg berada pd waktu magrib saat geocentric conjunction sudah tentu belum dapat melihat hilal karena bidang yg menghubungkan pusat matahari dan pusat bulan masih belum tepat pd posisi pengamatan dipermukaan bumi melainkan baru tepat pada pusat bumi.
      Oleh karena itu, pengamatan hilal di Munchen saat siang hari BELUM CUKUP UNTUK MEMBUKTIKAN tidak adanya “bulan mati” atau “Danjon Limit”. Pengamatan2 semacam ini memang selalu dilakukan oleh pihak2 yg memegang teguh teori bahwa bulan mati atau Danjon Limit itu tidak ada bahkan dengan hasil pengamatan sederhana seperti yg dilakukan di Munchen pd siang hari, mereka mengklaim bahwa “Danjon Limit is dead”.
      Sah-sah saja jika ada pihak yg ingin membuktikan bahwa “Danjon Limit is dead”, tetapi pembuktian itu seharusnya tidak hanya dilakukan pd satu tempat dan suatu waktu tertentu melainkan harus juga dilakukan di lain tempat dan waktu terutama di wilayah ILDL yg berada pd waktu magrib saat sudah melewati topocentric conjunction.
      Namun demikian sebelum itu boleh juga kalau dilakukan pengamatan di Munchen pd saat konjungsi khusus yaitu pd waktu “gerhana matahari” baik gerhana sebagian maupun total.
      Dengan demikian selama “Danjon Limit is dead” belum terbukti sepenuhnya, maka awal bulan hijriyah bukanlah sesaat setelah ijtimak/konjungsi (geocentric conjunction) yg merupakan hasil olah pikir manusia, melainkan awal bulan hijriyah adalah saat adanya PENAMPAKAN HILAL di ILDL beberapa saat setelah topocentric conjunction seperti yg diisyaratkan dalam dalil2 syar’i.
      Wass wr wb.

      • Ass wr wb.
        Maaf, ada bagian kalimat yg perlu diralat pd postingan diatas yaitu pd baris ke 3 dan ke 7 sbb. :
        TERTULIS : ……sudah dapat dipastikan akan melihat hilal dan………..
        SEHARUSNYA : ……..belum dapat dipastikan akan melihat hilal dan………
        Terimakasih.
        Wass wr wb.

  7. Sama dng otoritas Islam di Jerman dlm penentuan 1 Ramadhan, mereka memakai markaz hisab global. Jadi krn di Papeete hilal diperkirakan dapat dilihat pd 8 Juli, maka mereka menetapkan 1 Ramadhan di Jerman jatuh pd 9 Juli.

  8. motivasi kamu membuat blog apa ya? boleh tau nggak? terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: