Banjir Jakarta 6 Februari 2013: Modifikasi Cuaca Gagal Menghalau Awan Hujan yang Menjulang


T. Djamaluddin

Deputi Sains (Membawahi Pusat Sains Atmosfer), LAPAN

Macet_Akibat_Banjir_6Feb13

(Foto Tempo.co, Banjir 6 Februari di Bundaran HI, Jakarta. Peta angin dan citra awan dari situs BoM Australia dan LAPAN)

Situs Kompas.com mengakhiri berita banjir di Jakarta Rabu, 6 Februari 2013, dengan ungkapan

Hujan deras di Jakarta ini dianggap menggagalkan rekayasa hujan yang telah dilaksanakan Pemprov DKI dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Karena hujan deras turun, beberapa kawasan langsung tergenang.

Klaim-klaim selama ini memang menghibur masyarakat bahwa modifikasi cuaca berhasil mengurangi curah hujan di Jakarta. Tetapi analisis dinamika pertumbuhan dan pergerakan awan menunjukkan bahwa ‘keberhasilan” itu hanyalah kebetulan. Cuaca yang kondusif seperti  sepekan terakhir bukan hasil dari modifikasi cuaca, tetapi karena dinamika pertumbuhan dan pergerakan awan sesungguhnya memang tidak mengancam Jakarta. Mengapa modifikasi cuaca gagal ketika awan hujan yang menjulang secara nyata singgah di Jakarta pada Rabu, 6 Februari 2013?

Peta angin dan citra satelit berikut ini memberikan gambaran dinamika pertumbuhan dan pergerakan awan di sekitar Jakarta siang sampai sore (12.30, 14.30 dan 16.30 WIB):

Angin 6 Feb 2013

Awan 6 Feb 2013

(Klik citra di atas untuk menampilkan animasinya pergerakan awan sejak pagi sampai sore, lengkapnya di situs LAPAN)

Awan 6 Feb 2013 pk 12-30 WIB

Awan 6 Feb 2013 pk 14-30Awan 6 Feb 2013 pk 16-30

Pusaran angin (eddy, E) di Utara Jakarta serta daerah tekanan rendah (Low, L) di Barat Sumatera memicu pembentukan awan yang aktif di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Awan kumulonimbus (Cb) terbentuk menjulang tinggi yang ditandai dari temperatur puncak awannya. Awan yang disimbolkan warna merah punya suhu sekitar (-63) – (-80) derajat Celcius yang tingginya berkisar 8,9 – 10,7 km. Sedangkan yang warnanya coklat muda bersuhu (-47) – (-63) derajat Celcius dengan tinggi berkisar 7,3 – 8,9 km.

Rabu tengah hari awan mulai tumbuh dan bergerak, meliputi Sumatera dan Jawa. Jakarta mulai diliputi awan yang makin tebal sejak siang sampai sore (warna berubah dari kuning sampai merah). Artinya, Jakarta diliputi awan yang sangat tebal yang menjulang lebih dari 7 km. Awan tebal tersebut yang mengandung massa air besar itulah yang tercurah menggenangi Jakarta pada Rabu siang sampai sore. Beruntung awan kemudian buyar pada malam harinya. Tetapi kalau itu berulang pada hari-hari berikutnya, akumulasi genangan akan berpotensi menyebabkan banjir besar seperti banjir 17 Januari 2013 lalu yang disebabkan oleh akumulasi curah hujan beberapa hari sebelumnya.

Mengapa modifikasi cuaca gagal mencegah hujan deras mengguyur Jakarta pada Rabu, 6 Februari 2013? Selama ini penyemaian awan untuk mengurangi liputan awan hanya dilakukan pada ketinggian 12.000 – 15.000 kaki (3,6 – 4,5 km), artinya hanya untuk awan-awan menengah. Sedangkan “memaksa turun hujan” untuk awan-awan Cb yang menjulang tinggi lebih dari 7 km bukan hanya sulit, tetapi sangat berisiko. Apalagi skala ruangnya sangat luas dan cepat pertumbuhannya. Jadi, ketika Jakarta terancam dengan hujan deras dan banjir kiriman dari hujan deras di sekitarnya, jangan berharap pada teknologi modifikasi cuaca. Teknologi modifikasi cuaca bukan solusi untuk mengatasi banjir pada musim hujan, baik solusi sementara apalagi solusi tetap. Operasi redistribusi awan saat pesta olah raga SEA games di Palembang bukan contoh yang setara, karena saat itu bulan November adalah awal musim hujan dengan pembentukan awan yang belum terlalu aktif. Solusi banjir Jakarta adalah pembenahan daerah resapan dan prasarana pengendalian banjir.

12 Tanggapan

  1. BPPT dan BNPB harus jujur kepada masyarakat bahwa TMC yg mereka lakukan memang tidak efektif ,.. itu bukanlah langkah yang bijak dalam langkah pengendalian banjir,.. Jangan hanya karena Proyek (UANG) anda memaksakan ide TMC ini,..

    klaim keberhasilan 30 % untuk uang milyaran rupiah sangat menyakiti perasaan masyarakat, Terlebih lagi klo harus jujur keberhasilan TMC ini malah kurang dari 30 % itu,… sebaiknya uang milyaran rupiah di gunakan untuk revitalisasi sungai-sungai di jakarta,..

    Jujurlah BPPT dan BNPB,… jangan anda membodohi masyarakat,..

  2. Sebelum perbaikan infrastruktur hidrologi di DKI selesai, saya kira kita tidak perlu terburu-buru untuk mengatakan bahwa upaya TMC tidak berhasil. Saat ini memang hanya sedikit opsi untuk mengurangi resiko banjir.
    Dalam ilmu statistik 1 kejadian tidak berarti apa-apa untuk menarik suatu kesimpulan. Lain halnya dengan ilmu astronomi yang obyeknya terlihat dengan teleskop, barangkali.
    Saya sangat salut atas usaha pak Thomas Djamaluddin dalam memahami ilmu Modifikasi Cuaca. Saya menyarankan beberapa bacaan antara lain seperti A Quest for Effective Hygroscopic Cloud Seeding oleh Rosenfeld yang merupakan hasil penelitian terbaru. Banyak manusia dibelahan bumi yang lain menunggu harap-harap cemas akan keberhasilan modifikasi cuaca dalam mengatasi banjir, siklon dan kejadian cuaca ekstrim lain.
    Awan merupakan benda yang sangat dinamis di atmofer. Awan yang nampak diam, pada hakekatnya melalui siklus growth and dissipation. Jika dissipasi lebih besar, maka awan akan meluruh.
    Kami memang mengadakan penyemaian pada level 12-15 ribu kaki. Namun di dalam awan sendiri terdapat updraft yaitu perputaran udara dan uap air di dalam awan. Dengan updraft, bahan semai terbawa ke level yang lebih tinggi sehingga serbuk garam yang telah berubah menjadi droplet juga terbawa kelapisan yang lebih tinggi dan kemudian berinteraksi dengan awan secara keseluruhan.
    Dari pada kemauan besar untuk menunjukkan ketidak mampuan TMC untuk memodifikasi cuaca mengapa tidak menyumbangkan saja sarana dan prasarana di Lapan yang telah ada dalam bersinergi untuk mengatasi banjir. Saya telah lama mendengar kalau LAPAN telah pula mengembangkan prediksi cuaca. Bagaimana kalau prediksi cuaca yang dihasilkan LAPAN disinergikan untuk menghasilkan prakiraan yang lebih akurat, karena selama ini prakiraan cuaca di Indonesia masih diambil dari BOM, Australia. Saya kurang informed apakah di LAPAN telah dilakukan asimilasi data satelit dan radar ke dalam prakiraan cuacanya. Maaf jika saya salah…Dengan lebih banyak prakiraan cuaca, kita akan mampu memprediksi cuaca dengan lebih tepat (metode ensemble).
    Allah hanya memberikan waktu pada kita sedikit dan ilmu yang diberikan pada kitapun hanya sedikit.

    Wama utitum minal ilmi illa qalilan…

    …dan tidak aku turunkan ilmu itu padamu kecuali sedikit. Surah al-Isra 85.

    Apapun ilmunya hanya sedikit saja yang diberikan Allah kepada kita. Ilmu TMC adalah ilmu yang relatif baru, inilah saat yang tepat untuk mencoba mengeksplor kemampuan TMC walaupun kami beresiko menjadi kambing hitam…..
    Demikian pak, tanggapan saya. Tq.

    • LAPAN adalah lembaga litbang. Data-data satelit (termasuk data cuaca) kami punyai dan menjadi perangkat litbang kami, termasuk litbang dinamika atmosfer ekuator. Layanan prakiraan cuaca adalah kewenangan lembaga operasional, yaitu BMKG, sehingga walau LAPAN menguasainya, LAPAN bukan pada posisi untuk memberikan layanan seperti itu. Untuk kajian TMC, data dinamika pembentukan dan pergerakan awan regional sangat diperlukan. Tampaknya teman-teman TMC lebih fokus menggunakan data radar, sehingga dalam beberapa operasi (setidaknya yang dipublikasi di media massa dan diakui keberhasilannya) tampak bertolak belakang dengan data satelit. BMKG pun menyediakan data satelit dengan animasi 6 jam-an yang bisa dijadikan rujukan prakiraan pertumbuhan dan pergerakan awan.

      BTW, terlalu riskan melakukan operasi penyemaian awan di awan yang sedang aktif updraft membentuk awan Cb yang menjulang sampai lebih dari 10 km. Artinya, kalau ada pilot yang berani menembus awan Cb yang sedang tumbuh dengan updraftnya (udara naik cepat ke atas), lalu dilakukan penyemaian yang berakibat awan cepat “matang” untuk menurunkan hujan dan terjadi downdraft (udara turun dengan cepat, ala puting beliung), risikonya pesawat akan terempas. Saya yakin teman-teman TMC tidak akan mengambil risiko itu.

    • Dulu para sesepuh analyst cuaca pernah berkata… Tuk memahami fenomena cuaca.. Ingat Skala..baik ruang dan waktu… Apakah efektif jika mencoba memodifikasi cuaca saat gangguan cuaca dengan skala synoptik atau yg lebih bsar dri skala lokal sedang dominan. Cobalah berdiskusi dgan sesepuh2 praktisi cuaca yg dah kenyang pngalaman mengamati,menganalisa cuaca indonesia… jgn cuma teoritis saja.. Saran saya juga..coba nanti stelah proyek ini slesai, tolong TMC ini di bikinkan paper tuk di diskusikan di acara seminar2 penelitian baik yg diadakan di otorisas operasional cuaca nasional bmkg maupun pada acara2 sminar kemenristek.. Spy jelas scara ilmiah, nilai keberhasilan 30 % dari TMC itu yg sperti apa… Jdi tidak dianggap klaim kberhasilan sepihak aja sprti yg muncul di media massa.. Slain itu sering2 lah pengamatan cuaca konvensional baik awan maupun hujan di lapangan.. 🙂

    • Tolong BPPT membuat laporan ilmiah tentang “KLAIM” keberhasilan TMC ini…. Soalnya semakin lama saya melihat BPPT semakin hebat Klaim-klaimnya di media,.. Laporan ilmiah ini kemudian di seminarkan secara terbuka dan mengundang beberapa instansi terkait, serta ahli-ahli yang memahami tentang cuaca,.
      ini sebagai bentuk tanggung jawab Moral BPPT terhadap masyarakat dan Keilmuan,…

      Kami masyarakat merasa harus ada pertnggung jawaban secara ilmiah dari penggunaan Uang masyarakat terkait TMC ini,..

      Tolong jawab tantangan ini,..

  3. BPPT dan BNPB adalah lembaga negara yang non profit.. Tidak ada sedikit pun “orientasi proyek” dalam melakukan semua pekerjaan ini.. Mekanisme yang digunakan dalam pemakaian anggaran adalah Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), uang yang diterima BPPT dari BNPB untuk pembiayaan operasi ini, akan disetorkan ke kas negara, bukan ke BPPT. Anggaran yang terpakai pun disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan operasional.. Jika lebih/sisa, maka akan dikembalikan ke kas negara..

    Murah dan mahal itu relatif.. Angka belasan miliaran tentu terlihat mahal jika dilihat dari kacamata awam.. Berapa tanggul yang dapat diperbaiki, sungai yag bisa direvitalisasi, dengan angka sebesar itu.. Mungkin seperti itu pemikiran yang ada di banyak benak masyarakat awam..
    Namun, tentu akan terlihat sangat murah jika dibandingkan dengan potensi kerugian akibat banjir seperti tanggal 17 Januari lalu yang ditaksir mencapai angka triliunan..

    Satu hal lagi, teknologi pada hakikinya diciptakan untuk kemashalahatan umat.. Jadi, sepanjang bisa diaplikasikan untuk kebaikan bersama, mengapa tidak dicoba??
    TMC memang tidak ampuh untuk mengatasi banjir DKI, jika tidak disinergikan dengan upaya lain.. Jadi, tetap harus sejalan dengan upaya revitalisasi sungai2, perbaikan drainase, sikap masyarakat dan tekad pemerintah..

    Mohon agak santun dalam mengeluarkan statement..
    Pernyataan anda yang terakhir, juga sangat2 menyakiti perasaan institusi BPPT dan BNPB..

    • Mohon maaf, komentar saya diatas lebih ditujukan untuk menanggapi komentar Saudara Sakuragi.. Semoga tidak menjadi salah paham.. Terimakasih..

      • Baiklah, Untuk komentar yang di anggap kurang santun di atas saya minta maaf,..
        dan agar lebih santun mungkin sya sependapat dengan komentar pak yono di atas,..

        ” Saran saya juga..coba nanti stelah proyek ini slesai, tolong TMC ini di bikinkan paper tuk di diskusikan di acara seminar2 penelitian baik yg diadakan di otorisas operasional cuaca nasional bmkg maupun pada acara2 sminar kemenristek.. Spy jelas scara ilmiah, nilai keberhasilan 30 % dari TMC itu yg sperti apa… Jdi tidak dianggap klaim kberhasilan sepihak aja sprti yg muncul di media massa.. ”

        Hal ini di maksudkan agar ada verifikasi yang ilmiah, sekaligus sbagai pembelajaran bgi kami masyarkat,.. di logika kami sangat sderhana, Klaim klaim kberhasilan 30 % itu dasarnya apa ??? sudahkah ada verifikasi ilmiah ? sekurang2nya analsis ilmiah sperti yang di lakukan pak T. Djamaluddin ini,.. sehingga lebih bermuatan ilmu yang pasti bukan atas dasar perhitungn kira-kira…
        saya kutip pernyataan pak yono lagi,..
        ” Cobalah berdiskusi dgan sesepuh2 praktisi cuaca yg dah kenyang pngalaman mengamati,menganalisa cuaca indonesia…”

        kalau memang TMC ini terbukti tangguh secara Ilmiah maka kami sebagai masyrkat juga akan senang.
        Mungkin TMC ini nantinya bisa membuat musim hujan di saat kemarau dan membuat kemarau di saat musim hujan,.. Mungkin,…

  4. Assalamu Alaikum Warahmattulloh Wabarakatuh
    YTH. Bpk . Jamaludin tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun sy kepada bapak, dulu sy pernah berkomentar ttg salh satu tulisan bapak.
    Dan skrg sy temukan beberapa tulisan bapak dan laris dengan komentar yg positif dan negati,,,, SALUTE PAK…
    untuk tulisan ini saya cuma mo bertanya beberapa hal:
    1. utk TMC dinyatakan berhasil itu diberi nilai brp persen?
    2. berapa sih total uang yg dikeluar untuk melakukan TMC tsb?
    mungkin itu aja pertanyaan saya pak, oh iya sy hampir lupa, dalam blog bapak sy blm menemukan tentang penjelasan rinci dari cara kerja dan apa itu TMC, so mmungkinn itu aja pak,
    Terima kasih atas ilmu yg dibagi di blog ini,
    Mohon maaf jika ada kata yang salah

    Regards
    Hamdan Nurdin

    • Wa’alaikum salam wr. wb.,
      1. Perbedaan pendapat wajar dalam kajian ilmu. Saya berpendapat penerapan TMC (teknologi modifikasi cuaca atau bahasa awamnya ‘teknologi hujan buatan’) untuk kondisi puncak musim hujan dengan konveksi pembentukan awan yang aktif saya nilai kurang efektif. Klaim keberhasilan pengendalian hujan lokal selama Sea Games di Palembang pada awal musim hujan bukan contoh yang baik. Teman-teman pelaksana TMC mengklaim keberhasilan mengurangi hujan di Jakarta 30%, tetapi saya meragukannya karena tanpa disertai data yang sahih.
      2. Tentang biaya saya tidak memperhatikannya, karena saya tidak ingin masuk pada kajian ekonominya.

      Berdasarkan informasi teman-teman pelaksana TMC, cara kerja TMC adalah menaburkan garam dapur (NaCl) yang bersifat higroskopis (menyerap uap air) pada awan yang diperkirakan akan menuju Jakarta. Ketinggian pesawat penabur garam sekitar 12.000-15.000 kaki atau sekitar 3,6 – 4,5 km. Dengan penaburan garam tersebut, awan cepat matang untuk menurunkan hujan di luar wilayah Jakarta. Dengan cara seperti itu mereka memperkirakan 30% curah hujan Jakarta dikurangi. Kita tunggu saja nanti laporan ilmiahnya yang bersifat objektif, bukan sekadar klaim.

      • Terima kasih, pak udah mau respect ama pertanyaan sy,
        jawaban pertama bapak sangat setuju, jujur saya anak dari timur Indonesia bagian selatan (tepatnya: Pulau SUMBA) dan diwilayah sy itu cuma mendapatkan jatah hujan 3-5 bulan hujan pd saat musim hujan. sejujur nya kami di timur indonesia bagian selatan seperti “di-anak tirikan” di negri ini, kalo memang team TMC yakin bener dengn teknologi tsb kenapa tdak di buktikan disana, saya rasa agak miris juga kalo BPPT cuma pengen tampil disaat masyarakat jkt kebanjiran (ini bukan sinis). krn kalo berdasarkan teori bpk diatas di pulau sumba sering terlihat awan2 konvektif dengn syarat seperti yg bpk bilng diatas….

        untuk jawaban ke-2 bapak: oke untuk masalah ekonomi emang trllu agak kasar jg,pak sy mohon maaf seblm nya ats pertanyaan itu.
        kalo scr teori yg sya pernah denger emang seperti gitu,pak. ijin seblm nya pak, kalo dari sy bca tupoksi LAPAN, saya rasa disinii ada kepentingan LAPAN sebgai team pembukti ats hasil yg diperoleh dr temen2 di TMC.

        saya mohon maaf jk ada kata yg salah

        regards
        Hamdan Nurdin

  5. Reblogged this on iwanb86.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: