Mengkaji Secara Objektif Hasil Modifikasi Cuaca Pengendalian Banjir Jakarta dengan Fakta Data Satelit


T. Djamaluddin

Deputi Sains (Membawahi Pusat Sains Atmosfer), LAPAN

Awan 17 Januari 2013

(Citra satelit MTSAT 17 Januari 2013 yang diolah LAPAN, http://www.lapanrs.com/simba )

Berita klaim-klaim seolah modifikasi cuaca telah menghasilkan pengendalian cuaca Jakarta yang efektif rasanya perlu dievaluasi ulang agar publik tidak terlalu berharap teknologi cuaca menjadi “pawang modern” yang ampuh mengendalikan curah hujan yang berpotensi membanjiri Jakarta. Sebelumnya saya sudah mengingatkan agar memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca secara cerdas. Sebagai peneliti sains, sekian banyak pertanyaan ilmiah muncul dalam pemikiran saya, jauh dari niatan untuk menggangu program sesama instansi pemerintah, justru sebagai bagian dari edukasi dan keterbukaan informasi untuk diketahui publik secara objektif. Apakah harus ada operasi setiap hari untuk redistribusi awan? Apakah sudah tepat operasi “pencegatan”  awan yang dilakukan dengan memperhatikan dinamika pertumbuhan dan pergerakan awan? Apakah memadai penyemaian awan pada ketinggian 12.000 – 15.000 kaki (3,6 – 4,5 km), padahal awan hujan (kumulonimbus) bisa menjulang lebih dari 11 km. Citra satelit MTSAT di atas menggambarkan awan tebal yang menguyur Jakarta pada saat banjir besar 17 Januari 2013 yang tingginya lebih dari 10 km (warna kuning). Kalau intervensi modifikasi cuaca hanya untuk awan-awan menengah (warna biru), gugusan besar awan hujan tidak terpengaruh gerakannya dan suatu saat akan kembali menguyur Jakarta tanpa bisa dicegah oleh teknologi modifikasi cuaca.

Berikut contoh klaim-klaim keberhasilan yang dibandingkan dengan fakta data satelit:

http://news.detik.com/read/2013/01/28/102217/2153740/10/teriknya-jakarta-pagi-ini-dampak-dari-modifikasi-cuaca-oleh-bppt-hari-minggu

Operasi 27 Januari 2013 berdampak pada cuaca cerah 28 Januari 2013?

Cuaca Jakarta di pagi hari ini cerah cenderung terik. Rupanya hal ini merupakan dampak dari teknologi modifikasi cuaca pada Minggu (27/1) kemarin.  “Secara scientific belum bisa dikatakan seperti itu, tapi secara umum memang hasil dari upaya kemarin,” ujar peneliti Meteorologi Tropis kepada detikcom, Senin (28/1/2013).

Fakta data satelit menunjukkan hal yang bertolak belakang (klik citra satelit untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awannya):

Awan 28 Jan 2013

Awan 28 Jan 2013-malam

Cerahnya Jakarta pada 28 Januari 2013 disebabkan oleh awan yang tumbuh di Laut Jawa yang bergerak menjauhi Jakarta menuju arah Kalimantan. Sementara awan yang tumbuh pada sore harinya di Jawa Barat bagian Selatan bergerak ke arah Jawa Tengah sebelum buyar. Jadi tak ada pengaruh modifikasi cuaca pada hari sebelumnya, karena dinamika atmosfer skala besar seperti itu tidak mampu dimodifikasi oleh manusia.

http://sains.kompas.com/read/2013/02/01/1035565/Efek.Coriolis.Hadang.Bibit.Badai

Operasi 30 Januari 2013

Jakarta pagi itu diliputi mendung tebal dan sejumlah media daring (online) memberitakan informasi yang menyangsikan teknologi modifikasi cuaca tersebut. “Mendung tebal waktu itu diyakini bisa menimbulkan banjir di Jakarta. Pukul 10.00, pesawat kami menyemaikan garam dapur untuk menjatuhkan hujan di Selat Sunda” . Alhasil, Rabu siang, di Jakarta menjadi sangat terik, berbeda drastis dengan beberapa jam sebelumnya yang gelap karena mendung tebal. ”Teknologi modifikasi cuaca mampu mengalihkan hujan yang akan jatuh di Jakarta” .

Fakta data satelit menunjukkan hal yang bertolak belakang (Klik citra satelit untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awannya):

Awan 30 Januari 2013

Awan terbentuk di Laut Jawa, ada awan kumulonimbus tebal (warna kuning) yang tidak begitu besar sebentar melintas Jakarta dalam pergerakannya ke arah Timur sebelum buyar. Tepatkah awan di Laut Jawa “dicegat di Selat Sunda”? Tentunya tidak relevan. Siangnya Jakarta cerah dan terik karena awan yang melintas dari Laut Jawa sudah bergerak ke arah Timur kemudian buyar, bukan karena modifikasi cuaca di Selat Sunda.

http://www.tempo.co/read/news/2013/02/02/083458666/Modifikasi-Cuaca-Berhasil-Kurangi-Hujan-di-Jakarta

Operasi 2 Februari 2013

Kluster awan, sudah terbentuk di barat laut menuju wilayah Jabodetabek pada Sabtu ini. Sorti pertama dengan Hercules membawa 4 ton NaCl terbang pukul 09.39-11.33 WIB mencegat awan-awan di sekitar Teluk Jakarta hingga sebelah barat Lampung. “Pantauan radar menunjukkan awan target jatuh menjadi hujan.”  Sorti kedua pada 14.25-15.40 WIB dengan Hercules membawa 4 ton NaCl menyemai di atas Pandeglang, Serang, Cilegon dan utara Merak. Sorti ketiga dengan Casa membawa 800 kg menyemai sekitar Pandeglang pada ketinggian 15 ribu kaki. Di bawah dioperasikan ground based generator (GBG) dengan membakar 36 flare di 13 lokasi dan GBG sistem larutan diaktifkan di tiga lokasi selama 5 jam. “Hasilnya hujan berkurang di Jabodetabek,” katanya.

Fakta data satelit menunjukkan hal yang bertolak belakang (klik citra satelit untuk menampilkan animasi pertumbuhan dan pergerakan awannya):

Awan 2 Februari 2013

Pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB awan tebal tumbuh di perairan Jakarta-Banten. Saya yang dalam perjalanan di jalan tol dari Bandung menuju Jakarta melihat awan tebal di arah Barat Laut. Apakah efektif modifikais cuaca yang dilakukan disekitar Teluk Jakarta, Pantai Barat Lampung, dan Banten? Pergerakan awan ke Barat Laut menuju arah Sumatra akibat indeks monsoon negatif (angin bertiup ke arah Barat-Utara, berkebalikan dari lazimnya saat musim hujan) sama sekali tidak membahayakan Jakarta. “Pencegatan” semai awan yang dilakukan tim modifikasi cuaca menjadi tidak efektif. Hujan tidak banyak turun di sekitar Jakarta, karena pertumbuhan awan yang sekadar “singgah” di Jakarta, lalu bergerak ke arah Sumatera sebelum buyar.

Jadi, mari kita evaluasi ulang. Kita analisis kecenderungan pertumbuhan dan pergerakan awannya. Operasi penyemaian awan pun sebaiknya hanya dilakukan bila operasi tersebut akan efektif, tidak harus menjadi operasi rutin harian. Hal yang juga paling krusial adalah efektivitas operasi penyemaian pada ketinggian 12.000 – 15.000 kaki (3,6 – 4,5 km) untuk meredistribusikan awan yang sedang tumbuh menjulang sampai lebih dari 10 km. Pertumbuhan awan konvektif yang aktif seperti itu akan sangat membahayakan bagi pesawat dan awaknya bila dipaksakan ditembus. Inilah salah satu keraguan ilmiah saya akan efektivitas modifikasi cuaca selama puncak musim hujan, selain masalah skala ruang yang lebih besar untuk cluster (gugusan) awan di zona konvergensi. Jadi, selama tidak akan membahayakan, biarkan hujan turun secara normal di Jakarta, tak perlu dimodifikasi cuacanya. Bila ada indikasi awan kumulonimbus tebal cenderung stasioner (seperti kasus 17 Januari 2013 lalu), modifikasi cuaca tidak akan efektif. Hal yang harus disiapkan adalah penanggulangan banjirnya. Untuk jangka panjangnya, program komprehensif harus dilakukan untuk perbaikan lingkungan dan prasarana pengendalian limpahan air dari sungai-sungai di Jakarta.

8 Tanggapan

  1. Terima kasih untuk pencerahannya kepada masyarakat pak,..
    Mereka wajib tahu tentang Validasi keberhasilan TMC ini,..
    Klaim keberhasilan TMC sya rasa sangat berlebihan mengingat kondisi atmosfer beberapa waktu yg lalu memang tidak terlalu menghawatirkan,..

    Perlu adanya analisis yang tajam tentang klaim keberhasilan ini, agar uang masyarakat tidak di hamburkan begitu saja. lebih manfaat di gunakan untuk kepentingan masyarakat

    Salam,
    Observer Meteorologi

  2. ane dari awal uda meragukan si bnbp,sombong giman gitu

  3. BNBP kok ndak malu ya? mbohongi rakyat tapi gak sadar kita smua uda pintar? proyek gagal BNBP gak tau malu,

  4. […] Animasi MTSat-1R dari laman blog Mengkaji Secara Objektif Hasil Modifikasi Cuaca Pengendalian Banjir Jakarta dengan Fakta Data Sateli…. […]

  5. Pak Thomas mungkin sistim TMC ini yang lalu kita biarkan saja, toh setelah 1 maret biasanya hujan cenderung ringan. Ini pendapat saya diluar segala teori ilmiah yang ada, hanya kebiasaan hidup kita selama ini. kalau menurut Bapak kapan TMC dengan Pesawat dan GBC nya itu bisa di fungsikan antara 1 Des.2013 – 1 Maret. 2014, 1 Des.2014 – 1 Maret. 2015, 1 Des.2015 – 1 Maret. 2016, 1 Des.2016 – 1 Maret. 2017 , 1 Des.2017 – 1 Maret. 2018. atau tidak perlu di fungsikan sama sekali. karena kalau kita melihat pengalaman yang lalu , seharus nya TMC bekerja antara . 1 Des.2012 – 1 Maret 2013. bukan setelah banjir 17 Januari 2013. baru sibuk . diluar hal yang ilmiah . saya memperkirakankan akan banjir lagi antara . 1 Des.2016 – 1 Maret 2017. atau 1 Des.2017 – 1 Maret 2018. semoga perkiraan saya salah . Mudah mudahan kita mengingat yang namanya preventif .
    Wassalam

    • yang namanya preventif bukan berarti harus mengabaikan hal hal yang bersifat ilmiah,..
      bagaimana bisa anda mengatakan preventif tp menggunakan dasar perkiraan asal-asalan tanpa ilmu yang ilmiah ???

      perkiraan banjir besar yang akan terjadi lagi antara 1 Des.2016 – 1 Maret 2017. atau 1 Des.2017 – 1 Maret 2018 tanpa menggunakan analisis ilmiah sangat menyedihkan,.. anda seperti sudah melebihi Tuhan,…

      Saya semakin yakin “Proyek” TMC ini benar2 di lakukan secara Sporadis dan tanpa analisis ilmiah yang cukup.
      kalau boleh meminjam istilah pak Thomas, Manfaatkanlah TMC ini secara cerdas,..

  6. Reblogged this on iwanb86.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: