Memahami Cuaca Pasca Banjir Jakarta: Manfaatkan Teknologi Modifikasi Cuaca Secara Cerdas


T. Djamaluddin

Deputi Sains (Membawahi Pusat Sains Atmosfer), LAPAN

Banjir Jakarta-UAV LAPANUAV

(Banjir Jakarta Januari 2013 yang dipantau secara autonomous menggunakan UAV LAPAN. Citra satelit di bawah ini diolah LAPAN di situs http://www.lapanrs.com/simba)

Setelah banjir besar melanda Jakarta 17 Januari lalu, muncul berita yang cukup meresahkan bahwa Jakarta akan “tenggelam” pada 27 Januari 2013. Namun, berdasarkan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi cuaca di sekitar Jakarta, peluangnya kecil banjir besar pada 27 Januari tersebut.  Gubernur Jakarta pun bersiap mengantisipasi peluang banjir susulan dan meminta bantuan BNPB untuk mengupayakan modifikasi cuaca bersama BPPT. Maka program pun dilaksanakan, kabarnya mulai 26 Januari sampai Maret 2013. Sebagai peneliti sains antariksa dan sains kebumian, saya meragukan efektivitas modifikasi cuaca untuk kondisi awan yang terbentuk secara cluster (gugusan) akibat konvergensi monsoon Indo-Australia yang menandai puncak musim hujan di Indonesia (khususnya di Sumatra dan Jawa) karena skalanya besar. Bukan berskala kota (seperti awan lokal di Palembang saat SEA games November 2011 lalu), tetapi bisa berskala provinsi atau pulau.

Keraguan ilmiah sah-sah saja, berdasarkan logika ilmiah yang sahih dan karena belum ada bukti keberhasilan modifikasi cuaca untuk puncak musim hujan. Selama ini modifikasi cuaca punya tingkat keberhasilan yang cukup baik untuk awal musim hujan  atau akhir musim hujan, terutama untuk segera mengisi waduk yang kering saat kemarau atau redistribusi awan untuk mengurangi potensi hujan di wilayah tertentu. Penelitian untuk redistribusi awan saat musim hujan merupakan tantangan, walau semestinya bisa dilakukan secara efektif dan efisien, ya secara cerdas. Redistribusi awan semestinya dilakukan kalau gugusan awan memang berpotensi menghujani suatu wilayah yang perlu dilindungi. Masalahnya, pembentukan awan dalam gugusan (cluster) seperti itu kadang terjadi di darat. “Mencegatnya” dengan modifikasi cuaca berpotensi menjatuhkan hujan lebat di wilayah daratan tetangganya. Sementara membuyarkan awan tanpa menjatuhnya sebagai hujan, setahu saya, belum ada teknologinya yang terpercaya. Hal krusial lainnya, teknnologi modifikasi cuaca tidak mampu memodifikasi arah angin, sehingga bisa jadi hujan jatuh di luar wilayah yang direncanakan.

Tidak adanya banjir di Jakarta seperti dikhawatirkan pada 27 Januari 2013 oleh beberapa media massa dikaitkan dengan penerapan modifikasi cuaca yang dilakuan pada 26 Januari yang berhasil menurunkan hujan lebat di sekitar Selat Sunda dan upaya terkait lainnya. Benarkah? Agar publik objektif dalam menaruh harapan pada teknologi modifikasi cuaca saat puncak musim hujan, kita semua pun harus objektif melihat masalah ini. Tidak adanya hujan lebat yang berpotensi menimbulkan banjir besar di Jakarta pada 27 Januari 2013 bukan karena hasil dari modifikasi cuaca, tetapi memang peluangnya kecil . Kita semua harus faham, bahwa teknologi modifikasi cuaca bukanlah “pawang hujan modern yang canggih”, tetapi sebagai upaya iptek membantu mengelola bibit awan hujan agar menjadi awan yang menurunkan hujan atau mendistribusikan awan yang berpotensi  menghujani suatu wilayah. Ketika tidak terjadi hujan (atau terjadi hujan pada kasus lain) di suatu wilayah, bisa jadi bukan karena hasil modifikasi cuaca, tetapi bisa jadi karena memang dinamika pembentukan dan pergerakan awan yang memungkinkan hal itu terjadi walau tanpa campur tangan manusia memodifikasinya.

Tidak terjadinya banjir pada 27 Januari 2013 di Jakarta bukan karena upaya modifikasi cuaca, tetapi karena memang pembentukan dan pergerakan awannya tidak berpotensi untuk itu.  Berikut analisisnya berdasarkan data citra satelit sepanjang 26 pagi sampai 27 Januari sore (klik citra di bawah ini untuk menampilkan animasinya), pukul 07.00 – 18.00 WIB (26 Januari), 19.00-07.00, dan 07.00-18.00 WIB (27 Januari). Terlihat awan yang “mengancam” Jakarta adalah awan yang tumbuh di Selatan Jawa Barat pukul 15.00 WIB (08 UTC 26 Januari) yang berkembang melingkupi Jawa bagian Barat dan Tengah, lalu mulai buyar pada malam harinya. Saya kira dengan radar cuaca, pertumbuhan dan pergerakan awan itu bisa terpantau.  Kalau mau “dicegat” agar tidak menghujani Bogor dan Jakarta, maka awan harus diredistribusi di wilayah Jawa Barat, dengan risiko hujan lebat di wilayah sekitar Bandung. Semestinya “dicegatnya” bukan di Selat Sunda seperti dilakukan pada 26 Januari 2013, karena itu hanya mencegat awan dari Lampung yang sebenarnya tidak berpotensi membahayakan Jakarta. Mari kita dukung upaya memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca secara cerdas.

Awan 26 Januari 2013

Awan 26-27 Januari 2013

Awan 27 Januari 2013

10 Tanggapan

  1. Reblogged this on iwanb86.

  2. Subject: Menanggapi masukan Bapak Thomas Djamaluddin

    Yth: Bapak Thomas Djamaluddin
    Terimakasih atas masukannya dengan memberikan analisis cuaca kepada kami. Kami juga tidak mau memperdebatkan kegiatan kami ini, yang jelas kami telah melakukan sesuatu dengan teknologi yang kami kuasai untuk bisa dimanfaatkan untuk masyarakat. Efek pengaruh penerapan dari TMC dalam meminimalisis banjir saat ini akan kami evaluasi nanti setelah selesai kegiatan. Yang jelas kami melakukan ini dengan niat baik tanpa diembel-embelin supaya dapat proyek ataupun pembohongan publik atau niat jahat yang lain. Kami sebagai insan ilmiah akan sangat senang. Jika bapak berkennan bergabung bersama kami untuk ikut melakukan bersama dalam kegiatan di posko kami di Base Ops Suma 2 Halim Perdana Kusuma dan dapat memberikan masukan kepada kami untuk menyempurnakan teknologi kami agar nantinya bisa lebih bermanfaat untuk umat. Terimakasih

    Salam Hormat dari kami,
    F. Heru Widodo
    Ka.UPT Hujan Buatan BPPT

    • Terima kasih atas respons positif Pak Heru sebagai Kepala UPTHB BPPT. TMC dan dukungan pemahaman dinamika atmosfernya sebagai upaya ilmiah memodifikasi cuaca harus kita dukung agar semakin efektif dan efisien. Tulisan ini sebagai bagian dari edukasi publik memberikan kritik membangun untuk memberi semangat kepada teman-teman TMC UPTHB dengan menjawab tantangan yang saya anggap “tidak mungkin” dengan bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan keniscayaan modifikasi cuaca saat puncak musim hujan. Saya akan berterima kasih kalau nanti mendapat kiriman hasil evaluasi data selama operasi pemanfaatan TMC dalam pengendalian banjir Jakarta. Untuk edukasi publik juga, kita berharap ada catatan evaluasi tersebut yang bisa dibaca juga oleh publik.

    • TMC anda perlu diValidasi, Klaim keberhasilan TMC bebrapa hari ini sangat berlebiha, itu terlihat seperti pembodohan kepada masyrakat,,,,

      sangat disayangkan uang dihambur-hamburkan begitu saja tanpa manfaat yang berarti..

  3. Menurut Marzan A. Iskandar metode yang akan digunakan dalam modifikasi cuaca, yaitu yang mempercepat proses hujan bagi awan-awan yang akan masuk ke Jakarta. Sehingga, ketika curah hujan yang dibawa awan mendung tersebut sudah berkurang ketika sampai di atas area Jabodetabek.

  4. kepada BPPT Jangan Kalian terus membodohi masyarakat dngn TMC …
    Skala ruang Modifikasi cuaca anda tidak sebanding dengan skala ruang penggerak atmosfer, yaitu alam itu sendiri,..

    klaim keberhasilan TMC anda di berbagai media sangat berlebihan,..
    sangat di sayangkan ada orng yg menghamburkan uang rakyat sperti ini,..

  5. Lho, pak Thomas kok tanggapan saya tidak diapprove? Tidak fair ini dong kalau begitu. Semua pembaca apalagi kami yang terlibat mempunyai hak jawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: