Ayo Tanam Pohon untuk Menyelamatkan Bumi dan Kota Kita dari Pemanasan


T. Djamaluddin

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, LAPAN

(Kebun Raya Bogor, dari http://www.indonesia.travel)

Bayangkan ketika ego manusia membuat kota kita makin gersang, karena pembangunan tidak lagi memperhatikan ketersediaan ruang terbuka hijau. Bayangkan,  kota kita makin gersang, pepohonan tersingkir oleh gedung, jalan, dan lahan terbuka berlapis semen. Itulah gambaran kecenderungan kota-kota di banyak negara, termasuk di Indonesia. Kota makin panas, sementara daerah sekitarnya masih relatif dingin yang kemudian juga menjadi makin panas. Itulah yang disebut “urban heat island”, pulau panas perkotaan yang makin meluas ke daerah sekitarnya. Mengapa makin panas?

Panas dari matahari langsung diserap oleh permukaan bangunan dan lahan berlapis semen  yang menjadikan sebagai pemancar panas yang sesungguhnya berupa sinar infra merah yang tak tampak. Sinar matahari itu sendiri mengandung sinar infra merah, sehingga ketika mengenai kulit, kita merasakannya terik. Gelombang infra merah diserap oleh uap air dan karbon dioksida (CO2) yang menyebabkan udara terasa panas.  Keberadaan uap air dan karbon dioksida sebenarnya sangat bermanfaat, sehingga saat malam hari panas dari permukaan bumi tidak langsung dilepaskan ke antariksa. Kalau di atmosfer tidak ada uap air dan karbon dioksida, maka bumi kita akan dingin setelah matahari terbenam.

Namun apa jadinya kalau karbon dioksida terus bertambah akibat aktivitas manusia? Pernafasan manusia dan binatang yang makin bertambah serta pembakaran bahan bakar oleh aktivitas rumah tangga, kendaraan bermotor, dan pabrik merupakan proses mengubah bahan-bahan hidrokarbon (ikatan hidrogen dan karbon, berupa makanan atau bahan bakar) dengan bantuan oksigen menjadi energi dengan melepaskan karbon dioksida dan uap air. Makin banyaknya karbon dioksida diudara berarti makin banyak gelombang inframerah (atau gelombang panas) yang diserap atmosfer. Maka udara akan semakin panas. Ingin tahu buktinya?

Inilah contoh pemanasan di kota Bandung dan sekitarnya hasil penelitian Pusat Sains Atmosfer, LAPAN. Dengan menggunakan data citra satelit tahun 1994 dan 2001, terlihat Lembang dan Ciwidey yang pada tahun 1994 suhu rata-ratanya kurang dari 20 derajat, pada tahun 2001 suhu rata-ratanya meningkat di atas 20 derajat (warnanya berubah dari kuning menjadi makin merah).

Pemanasan kota secara kumulatif global berdampak pada pemanasan global. Kini diyakini bahwa peningkatan emisi (pelepasan) karbon dioksida akibat aktivitas manusia merupakan faktor utama penyebab pemanasan kota dan pemanasan global. Pemanasan global kini makin nyata (lihat Bukti pemanasan global ). Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengerem pemanasan? Berbagai metode sedang diupayakan. Tetapi metode paling efektif sesungguhnya adalah kembalikan pada mekanismen alami, biarkan pepohonan menyerap karbon dioksida. Apa buktinya pepohonan efektif menyerap karbon dioksida?

Data pengukuran LAPAN menunjukkan variasi harian konsentrasi karbon dioksida berkurang drastis ketika pepohonan mulai aktivitas fotosintesisnya. Pada saat matahari menyinari dedaunan, karbon dioksida diserapnya lalu bersama air yang diserap melalui akar dibangunlah  hidrokarbon untuk membentuk kayu, buah, dan umbi berupa serat, gula, atau tepung. Data harian itu menunjukkan bahwa konsentrasi karbon dioksida menurun akibat aktivitas fotosintesis oleh pepohonan, mulai matahari terbit sampai sore. Data global pun menunjukkan bahwa keberadaan dedaunan mulai musim semi (April) sampai musim gugur (Oktober) terkait dengan penurunan tahunan karbon dioksida.

Memang aktivitas manusia lebih cepat menambah konsentrasi karbon dioksida di udara. Tetapi kalau tidak ada upaya pengendalian, maka kota kita dan bumi kita akan makin panas. Bersamaan dengan upaya penghematan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batu bara), upaya memperbanyak pohon juga perlu dilakukan. Ayo tanam pohon dan pelihara pohon yang masih ada demi menyelamatkan bumi dan kota kita dari pemanasan.

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Reblogged this on Naneyan's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: