Hakikat Hilal dan Aplikasinya pada Pembuatan Kalender


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kemenag RI

Pengantar: Setelah pertemuan bersama perwakilan MTT dan PP Muhammadiyah di UHAMKA Jakarta, 30 September 2012, saya dimasukkan dalam milis Muhammadiyah untuk diskusi lebih mendalam. Catatan ini adalah rangkuman tanggapan dan jawaban saya di milis Muhammadiyah_Society@yahoogroups.com.

Bulan sabit dari ISS: “wujud “atau “tampak”? (Sumber gambar: http://spaceflight.nasa.gov)

Pertanyan dasar “apakah hilal” adalah tantangan para ahli hisab ketika mengupayakan menafsirkan rukyat dalam kriteria hisab. Biasanya para ahli falak hanya mendasarkan pada hadits tentang rukyat. Terkait dengan pemahaman astronomi, saya mengkajinya dari ayat-ayat Al-Quran, bahwa rukyat dan hisab itu setara dan semestinya tidak didikhotomikan, seperti yang terjadi pada WH. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/.

Wujudul hilal (WH) di dalam “Pedoman Hisab Muhammadiyah” yang dihitung adalah piringan atas bulan (baca halaman 88). Mengapa piringan atas? Karena konsep WH adalah “ketika bulan terbenam lebih lambat dari matahari”, jadi ketika piringan atas masih di atas ufuk dianggap wujud. Secara astronomi jelas itu bukan hilal, tetapi Muhammadiyah menyebutnya “wujudul hilal”. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/12/13/membongkar-paradoks-wujudul-hilal-untuk-mendorong-semangat-tajdid-muhammadiyah/

Kalau kita telusuri sejarahnya, WH itu muncul dari konsep penyederhanaan hisab. Saya menemukan penggunaan QS 36:39-40 bersumber dari Saadoeddin Djambek dalam bukunya “Hisab Awal Bulan”. Silakan teman-teman Muhammadiyah memeriksa ulang, kalau-kalau ada literatur lebih awal (misalkan Kyai Wardan) yang menyebutkan bahwa WH didasarkan pada QS 36:39-40. Kalau informasi saya benar, maka saya menyimpulkan QS 36:39-40 hanyalah pembenaran atas WH, bukan WH lahir dari interpretasi QS 36:39-40. Karena hanya sebagai pembenaran, maka ada kejanggalan kalau kita merujuk secara utuh QS 36:36 – 40. Ada suatu pemaksaan makna untuk pembenaran WH.  https://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/05/23/konsep-geosentrik-yang-usang-menginspirasi-wujudul-hilal/

Mari kita simak secara utuh QS 36:36-40, khusus yang terkait dengan ayat-ayat kauniyah bumi-bulan-matahari. Tentang  QS 36:37-40, berikut catatan saya:

QS 36:37: Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.

QS 36:38: Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.

QS 36:39: Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua.

QS 36:40: Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Ayat 37 dimaknai secara sains sebagai indikasi gerak rotasi. Bumi berotasi sehingga matahari dan benda-benda langit tampak terbit dan terbenam. Saat matahari terbenam, siang digantikan malam.

Ayat 38 Matahari berjalan di tempat peredarannya. Itu bukan gerak semu, karena gerak semu hanya disebabkan oleh rotasi bumi yang dijelaskan di ayat 37. “Tempat peredarannya” difahamai secara sains adalah orbit matahari mengitari pusat galaksi yang jaraknya 26.000 tahun cahaya. Tentu saja, gerak mengitari pusat galaksi disertai semua anggora tatasurya yang mengitari matahari.

Ayat 39 Menceritakan gerak bulan mengitari bumi, sehingga manzilah-manzilah yang bermakna tempat-tempat kedudukan bulan pada orbitnya menampakkan perubahan bentuk-bentuk bulan, sehingga pada akhirnya menampakkan bulan sabit tipis seperti pelepah kurma yang kering.

Ayat 40 memberikan kesimpulan: Karena matahari dan bulan punya orbit sendiri-sendiri, maka tidak mungkin matahari mendapatkan bulan. Karena bumi berotasi teratur, maka malam tidak dapat mendahului siang. Ada pergantian yang teratur, tidak mungkin siang lalu tiba-tiba malam. Lalu kesimpulan ditegaskan ” masing-masing beredar pada garis edarnya”. Bulan mengorbit bumi. Sementara bumi yang berotasi bersama bulan yang mengitarinya mengorbit matahari. Matahari bersama planet-planetnya mengitari pusat galaksi. Galaksi bersama galaksi lain mengitari pusat massa klaster (grup) galaksi. Grup galaksi mengitari pusat massa super cluster. Dan seterusnya. Dalam astronomi, dinamika benda langit dimodelkan dengan n-body problem. Rumit, tetapi penyederhanaan model bisa dilakukan dengan beberapa koreksi, misalnya bumi-bulan dianggap 2-body problem dengan koreksi efek matahari dan beberapa planet besar. Dalam bahasa agama, gerak benda-benda langit di orbitnya disimbolisasi dengan dengan ritual thawaf, bukti ketaatan makhluk pada khaliqnya.

Hilal Secara Sains dan Apilkasi Kalendar

Terkait dengan hilal, secara sains, astronomi hanya mendefinisikan newmoon/ijtimak dan mengkaji soal prasyarat visibilitas/ketampakan bulan sabit (crescent). Newmoon selalu muncul pada almanak astronomi. Visibilitas bulan sabit (Lunar crescent visibility) sering muncul di jurnal astronomi. Untuk menilai suatu konsep saintifik atau tidak, mudah saja. Lihat/browsing jurnal dan buku-buku teks standar astronomi, apakah konsep itu dibahas atau tidak. Kalau saya mengatakan “tidak ada astronom yang mendukung WH”, itu disebabkan karena konsep WH bukanlah konsep ilmiah astronomis karena tidak akan dijumpai di jurnal atau buku teks standar astronomi. Mohon itu difahami sebagai fakta, sama sekali bukan untuk melecehkan.

Saya sebagai astronom memahami betul aspek fisis bulan yang menjadi kajian sains dan menjadi kajian di jurnal-jurnal astronomi, dengan mengikuti kaidah-kaidah sains yang berlaku umum (bukan interpretasi personal). Di sisi lain, saya sebagai Muslim, saya juga wajib belajar dalil-dalil yang mendasari ibadah yang dilakukan ummat Islam. Ketika berbicara astronomi murni, saya sepenuhnya harus menggunakan kaidah sains yang diterima semua pihak. Tetapi ketika saya berbicara tentang kalender Islam, khsusunya bila dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah, kaidah sains harus diintegrasikan dengan dalil-dalil syar’i. Pemahaman dalil terkait penentuan awal bulan, tidak semata dari hadits. Dengan pemahaman astronomi, saya mencoba untuk memahami dalil dari Al-Quran, seperti yang saya tuliskan di https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/. Intinya, integrasi sains dan syar’i menemparkan hisab dan rukyat setara dan kompatibel.

Validitas tafsir ayat terkait dengan fenomena alam, setidaknya dua sisi harus dilihat. Dari sisi syar’i, kaidah ulumul Quran dan pemaknaan bahasa serta asbabunnuzulnya diperlukan. Dari sisi sains, valitidasnya sangat mudah dikaji, berdasarkan kelaziman pemahaman sains yang bisa diuji semua pihak, karena sains mendasarkan pada makna fisis yang segera dapat disimpulkan dari makna tersurat. Sayangnya, tafsir QS 36:40 yang dimaknai sebagai WH hanya muncul dari kalangan Muhammadiyah. Saya membimbing doktor ilmu falak IAIN Walisongon yang kebetulan aktif di MTT Muhammadiyah Jawa Tengah. Karena disertasinya terkait dengan WH, saya minta mencari kitab tafsir yang mengaitkan QS 36:40 dengan konsep WH. Sayang, tidak menemukannya. Ada atau tidaknya rujukan kitab tafsir yang mengaitkan QS 36:40 dengan WH sebenarnya bisa menjadi penentu validitas WH.

Agar tidak menjadi debat kusir, moderator harus berani memberikan koridor diskusi, “adakah rujukan saintifiknya dan adakah rujukan syar’i”. Kalau tidak ada referensi, apalagi di milis ini  saya belum membaca pendapat syar’i yang lengkap, diskusi validitas QS 36:40 hanya mengarah pada debat kusir yang tak berujung karena hanya didasarkan pada logika pribadi yang bisa saja tidak bersifat umum.

Walau astronomi dan geodesi mempunyai kesamaan pada aspek penentuan posisi dan koordinat, namun harus diakui juga ada nuansa pola pikir yang berbeda. Geodesi cenderung pada aspek “posisinya”. Tetapi astronomi bukan hanya aspek “posisi”, tetapi juga “ketampakan” harus diperhatikan. Mengapa? Karena geodesi hanya menggunakan posisi benda langit untuk membantu menentukan posisi di bumi. Geodesi bukan ilmu untuk mengamati benda langit. Jadi, perbedaan pola pikir seperti itu perlu juga difahami ketika kita mengikuti alur pikir Pak Tono. Astronomi meyakini bulan selalu wujud dan bisa dihitung posisinya, tetapi belum tentu tampak (secara observasi atau hitungan). Sehingga membicarakan objek yang sudah di bawah ufuk bukanlah kelaziman dalam astronomi. Secara astronomi, hilal itu bukan masalah eksistensi (karena posisi yang diukur atau dihitung bukanlah hilalnya, tetapi bulan), tetapi masalah ketampakan (yang berubah tergantung sudut pandang pengamat).

Dalam astronomi memang digunakan bola langit sebagai model untuk penentuan posisi dan gerak tampak benda-benda langit bagi pengamat di suatu posisi. Model bola langit bukan hanya untuk menjelaskan gerak semu, tetapi semua gerak benda langit yang kemudian bisa dihitung posisinya pada suatu saat. Posisi bulan dalam hitungan dinamika benda langit hanya dihitung sebagai titik bermassa yang mengitari bumi juga sebagai titik bermassa. Dari koordinat gerak sejarinya kemudian ditransformasikan menjadi koordinat langit (asenssio rekta dan deklinasi). Kemudian ditransformasikan menjadi koordinat altaazimut dengan bola langit di titik pengamat (altitud dan azimut). Kemudian baru dikoreksi dengan bentu real bumi yang bukan titik dengan koreksi paralaks. Karena ini terkait denga ketampakan, maka harus dikoreksi dengan refraksi atmosfer. Adanya koreksi refraksi atmosfer pada perhitungan WH (R’ di Pedoman Hisab Muhammadiyah, halaman 88)  menunjukkan bahwa WH tidak terlepas dari rukyat. Karena refraksi adalah koreksi KETAMPAKAN, bukan eksistensi/wujudnya.

Dari segi konsep, TIDAK ADA eksistensi/wujudnya hilal, karena hilal adalah fenomena KETAMPAKAN. Dari suatu titik bulan tampak sebagai hilal, tetapi dari sudut lain bulan bisa tampak sebagai purnama. Jadi bukan wujud/eksistensinya hilal.Astronom profesional maupun amatir tidak ada yang mendukung WH karena konsep WH menafikkan rukyat. Astronomi memandang hisab (komputasi) dan rukyat (observasi) setara dan kompatibel, bisa saling menggantikan. Hilal bukanlah fenomena eksistensi/wujud sehingga kita tidak bisa mengatakan “di sana ADA hilal”. Hilal adalah fenomena KETAMPAKAN, sehingga kita mangatakan “hilal bisa/berpotensi DIAMATI ke arah sana”.

Ketika kita berbicara GERAK sistem bumi-bulan-matahari dan benda-benda langit lainnya, geosentrik bermakna “gerak sistem itu berpusat di bumi” (konsep/hipotesis/model geosentrik). Ketika kita bicara POSISI bulan atau matahari, geosentrik bermakna “posisi dilihat dari pusat bumi” yang dibedakan dengan toposentrik yang bermakna “posisi dilihat dari permukaan bumi”. Jadi ketika menggunakan anggapan GERAK matahari atau bulan mengelilingi bumi (anggapan gerak semu), pada hakikatnya kita berbicara konsep geosentrik pra-Copernicus. Apakah ini ranah sains atau syar’i? Menurut saya, ketika kita memahami ayat-ayat yang terkait dengan sains, yang terjadi adalah INTEGRASI sains dan syar’i. Pemaknaan bahasa dan asbabanunuzul serta keterkaitan dengan ayat-ayat serupa merupakan ranah syar’i, tetapi pemaknaan fisik di alam adalah ranah sains. Nah, dalam diskusi ini keduanya kita integrasikan untuk mendapatkan pemaknaan yang komprehensif.

Untuk membantu memahami kriteria visibilitas hilal, silakan baca dan download informasi umum dan makalah teknis astronomi berikut ini:

http://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/islam/islam_lunvis.htm

http://www.staff.science.uu.nl/~gent0113/islam/downloads/naotn_69.pdf

(di dalamnya ada rumus hubungan elongasi (Arch of Light, ARCL) dengan lebar sabit).

http://www.icoproject.org/pdf/2006_cri.pdf

(Kriteria yang dipakai di Accurate Time, bersama pilihan kriteria Yallop).

Ada yang bertahan, toh WH tidak mensyaratkan ketampakan. Ya, pengusul konsep WH tidak sadar, sesungguhnya konsep dasarnya adalah konsep “melihat” piringan bulan di ufuk. Mengapa melihat? Karena dalam perhitungannya efek refraksi (pembiasan) atmosfer diperhitungkan. Maka ketika mengadopsi teknik pengamatan Elsasser/Legault, efek serapan inframerah juga harus diperhitungkan. Demikian juga faktor kontrasnya. Kalau faktor serapan dan kontras diperhitungkan, yang muncul adalah kriteria IR, dengan persyaratan (antara lain) elongasi (atau ARCL, atau tebal sabit) dan ketinggian (atau beda tinggi bulan-matahari, Arc of View, ARCV). WH hanya menggunakan kriteria tunggal (ARCV+SD bulan-SD matahari)>0, dengan SD: semidiameter, sekitar 15′.

Untuk aplikasi kalender, astronom menggunakan kriteria yang dirumuskan oleh pengguna kalender, bukan dirumuskan oleh astronom. Kriteria itu mestinya merupakan kesepakatan, karena implementasi kalender adalah untuk publik, bukan personal. Posisi astronom hanya membantu menjelaskan aspek fisis astronomis yang terkait dengan ketentuan kalender, termasuk memilihkan dari sekian banyak alterantif kriteria visibilitas yang dipublikasikan. Untuk kalender Islam, kriteria itu haruslah mengacu pada dalil-dalil syar’i, karena kalender digunakan juga untuk ibadah selain untuk administratif. Jadi, tidak mungkin kita bicara kalender Islam tanpa mendasarkan pada dalil syar’i.

Astronom hanya memberikan data astronomisnya berdasarkan analisis kriteria visibilitas. Para penggunannya yang memilihnya, baik memilih salah satunya (misalnya pilihan kriteria Odeh, Yallop, dan SAAO di S/W Accurate Time) atau memilih kombinasnya (misalnya yang saya tawarkan,  https://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/08/astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat-lengkap.pdf ). Kesepakatan didasarkan pada kemudahan dalam aplikasi bagi para ahli hisab dan rukyat. Berdasarkan praktek HR di Indonesia, saya usulkan “Kriteria Hisab Rukyat Indonesia”. Selama kriteria tidak berubah, kalender akan stabil. Kalau pun kriteria diubah, penentuan kalendernya pun mudah. Dengan algoritma yang fleksibel memasukkan kriterianya, maka perhitungan kalender mudah dilakukan, termasuk ribuan tahun ke depan. Ada teman ahli hisab NU sudah membuat kalender sampai 2100 dengan berbagai kriteria http://moeidzahid.site90.net/kalender.htm.

Berikut ini tanggapan saya (TD) atas rangkuman pertanyaan moderator milis:

Terkait ayat QS 36:37

  1. apakah ayat ini bertujuan menjelaskan mengenai malam ataukah gerak rotasi bumi?
  2. dari bagian mana dari ayat di atas, yg dpt dijadikan dasar bahwa ayat ini menjelaskan fenomena siang malam akibat rotasi bumi?
  3. masih di ayat ini, terdapat kalimat “serta merta mereka berada dalam kegelapan”, mohon dijelaskan apa maksud kalimat ini?
  4. seperti telah diungkap oleh Pak Tono bahwa krn rotasi bumilah timbul gerak semu matahari. Nah, apakah menurut Pak Thomas ayat ini juga mengungkap gerak semu matahari?
  5. Menurut sy, ini terkait dg keberadaan matahari dan perjalanannya (posisinya), krn ada keyword siang dan prosesnya naslakhu. Kedua kata ini jelas membuktikan yg dikeluarkan adl cahaya dari siang itu. BUKAN bumi digerakkan sedikit demi sedikit, lalu serta merta mereka dalam kegelapan. Kalau Pak Thomas menyimpulkan itu “menjelaskan GERAK ROTASI BUMI”, dari kata apakah dapat disimpulkan begitu?

TD: Ayat QS 36:37 menjelaskan pergantian siang dan malam. Ketika siang manusia dalam kondisi benderang karena mendapat cahaya matahari, lalu beralih menjadi gelap karena matahari tampak terbenam. Secara fisis astronomis, berarti itu menjelaskan GERAK ROTASI BUMI. Ayat itu sama sekali TIDAK membicarakan gerak semu (terbit dan terbenamnya benda-benda langit). Dulu orang mengira malam dan siang terjadi karena matahari mengelilingi bumi (konsep geosentrik, bumi sebagai pusat). Pemahaman lama itu mengganggap gerak sejati matahari, BUKAN gerak semu. Dikeluarkan/ditanggalkannya siang dari malam ada dua kemungkinan: (1) matahari sebagai sumber cahayanya yang bergerak dan buminya diam atau (2) matahari diam, bumi yang bergerak (berotasi). Dulu orang berpendapat (1) dalam konsep geosentrik (bumi sebagai pusat alam semesta). Tetapi dengan pemahaman astronomi, sekarang kita sepakat dengan sebab (2). Maka QS 36:37 kalau dimaknai seperti (1) adalah tafsir lama atas dasar geosentrik. Tafsir baru seperti pendapat (2), bahwa QS 36:37, menjelaskan gerak rotasi bumi. Kalau ada yang masih berpegang pada tafsir lama, sah-sah saja, sama halnya dengan orang yang tetap bersikukuh “matahari mengeliling bumi”, tetapi jangan menyebutnya sesuai dengan logika astronomis. Tafsir (1) bukan bermakna gerak semu matahari.
Tentang QS 36:38:

  1. kalau ayat ini menjelaskan fenomena gerak mthr, memang scr eksplisit demikian. namun, di manakah dalam ayat ini yg menjelaskan yg dimaksud ayat ini adl gerak mthr mengitari titik pusat galaksi?
  2. menurut Pak Thomas, apakah ayat ini terkait dg ayat sebelum dan sesudahnya, yaitu Yasin 37 dan 38? kalau terdapat kaitan, mohon dijelaskan scr singkat apa kaitannya?

TD: Ayat QS 36:38 menjelaskan bahwa matahari berjalan di tempat peredarannya. Artinya matahari tidak diam. Itu membantah konsep heliosentrik, bahwa matahari sebagai pusat alam semesta. Ayat 38 tidak bisa dimaknai sebagai gerak semu yang menjadikan siang berganti malam pada ayat 37, karena ayat 37 secara mandiri menjelaskan gerak rotasi bumi dan ayat 38 secara mandiri menjelaskan gerak matahari di tempat peredarannya. Yang nanti disimpulkan pada akhir ayat 40. Pemahaman gerak matahari mengelilingi pusat galaksi diperoleh dari pemahaman astronomi, bahwa matahari mempunyai gerak sejatinya dengan kecepatan sekitar 125 km/detik.
Tentang QS 36:39-40

  1. Mohon dijelaskan dari segi bahasa, apa arti dari manazil? apakah ini bentuk jamak ataukah bentuk tunggal?
  2. pada ayat ini terdapat kata urjuunil qadim atau bentuk sabit tua, apakah secara bahasa bentuk ini dapat disebut sbg hilal? kalau dapat, mohon dijelaskan apa perbedaan antara manazil dan hilal?
  3. Pak Thomas menyebut soal “ketampakannya”, mohon dijelaskan apakah ini ketampakan urjuunil qadim? lantas ketampakan tsb dilihat dari mana?
  4. Tentu manzilah tidak mungkin dimaknai sbg gerak semu bulan. kalau dikatakan ada gerak semu mthr krn gerak rotasi bumi, begitu pula ada fenomena terkait keberadaan bulan dan gerak rotasi bumi. krn rotasi bumi, ada gerak semu harian bulan. nah, apakah menurut Pak Thomas scr astronomi fenomena gerak semu harian mthr & bulan  itu ada?
  5.  krn Yasin 39 terkait dg Yasin 40, mohon dijelaskan apa kaitan yasin 39 dg yasin 40?
  6. Pertanyaan sebelumnya:
    1. apa maksud matahari mendapatkan bulan?
    2. dari mana fenomena ini dapat dilihat?

TD: Mestinya ahli tafsir yang menjelaskan makna manazil. Dalam pemahaman saya, manazil = manizilah-manzilah=tempat-tempat kedudukan bulan pada orbitnya, yang tampak sebegai fase-fase bulan, dari sabit-setengah lingkaran-purnama-setengah lingkaran-sabit lagi (urjunil qadim). Fase-fase itu adalah ketampakan dari permukaan bumi. Perubahan tempat kedudukan bulan bermakna gerak sejati bulan mengelilingi bumi. Ayat-ayat 37 – 39 semuanya menjelaskan GERAK SEJATI, bukan gerak semu. Gerak semu (terbit dan terbenamnya benda-benda langit) disebabkan oleh gerak rotasi, tetapi rangkaian ayat itu sama sekali tidak mengisyaratkan gerak semu. Karena ayat 38 menjelaskan gerak sejati matahari dan ayat 39 menjelaskan gerak sejati bulan, maka ayat 40 menegaskan tidak mungkinnya matahari mendapatkan bulan dan malam tak dapat mendahului siang. Mengapa? Akhir ayat 40 menjelaskan, karena masing-masing “yasbahun” (bergerak) di orbitnya masing-masing. Bumi, bulan, dan matahari punya gerak sejati masing-masing.

2 Tanggapan

  1. Ayat 38 Matahari berjalan di tempat peredarannya. Itu bukan gerak semu, karena gerak semu hnay disebabkan oleh rotasi bumi yang dijelaskan di ayat 37.

    Kalau saya yang menjadi pembimbing Pak Djamaluddin, saya bakal marah besar-besaran dengan kalimat di atas. Tidak ada argumentasi (apalagi fakta) sebab-akibat yang melandasi kata “karena” dalam kalimat di atas. Yang terjadi adalah pemaksaan penafsiran ayat Qur’an dengan cara mencocok-cocokkan ayat tersebut dengan fakta sains, dengan ditambah konsep-konsep yang belum tentu tersirat, apalagi sesuatu yang tersurat dalam ayat tersebut (baca: hanya sekedar spekulasi). Pak Djamaluddin sepertinya tidak sadar, bahwa apa yang beliau lakukan dengan penafsiran ayat-ayat tersebut tidak ada bedanya dengan sebagian orang yang mengaku mempunyai landasan kuat hanya melalui penafsiran bebas ayat Quran 39:40 sebagai pembenaraan terhadap konsep wujudul hilal. Bedanya sedikit tapi cukup signifikan: Pak Djamaluddin mengklaim bahwa apa yang beliau tawarkan adalah ilmiah (pseudosains?), sedang yang satu tidak mempunyai klaim tersebut.

  2. Assalamualaikum wr wb pak thamas Djamaluddin maaf kalau pernyataan saya ini sangat tidak sesuai dg landasan ilmu teknologi.
    akar dari permasaalahan kemelut penentuan awal dan akhir puasa ramadan adalah ilmu teknologi menetapkan bahwa batas dari bulan ke bulan berikutnya yaitu posisi bulan pada saat bulan berada segaris dengan matahari (ijtimak/kunjungsi), padahal bukan. dan lagi pula di pahami penyusunan kalender hijriyah berdasarkan ketampakan hilal, padahal bukan semua itu sudah saya tuangkan dalam blog saya di http://rotasibulan.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: