Memahami Kemarau Kering 2012


T. Djamaluddin

Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, LAPAN

(Membawahi Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, LAPAN)

Kemarau kali ini diberitakan cukup kering. Kebakaran hutan dan lahan mudah terjadi karena keringnya rumput dan semak yang mudah terbakar. Danau atau waduk yang menyusut airnya terjadi di berbagai daerah. Diberitakan warga di beberapa daerah mulai kesulitan mendapatkan air. Sebenarnya kemarau kali ini bukanlah kemarau berkepanjangan, seperti sering diberitakan oleh beberapa media, karena saat ini memang masih musim kemarau. Hal yang sering ditanyakan adalah mengapa kemarau kali ini begitu kering dan kapan akan berakhir? Sebab utama kemarau kering adalah berkurangnya curah hujan dan minimnya massa uap air akibat mendinginnya laut di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebab lainnya adalah rusaknya lingkungan sehingga cadangan air tanah menjadi berkurang drastis.

(Dari http://trmm.gsfc.nasa.gov/trmm_rain/Events/thirty_day.html)

Data curah hujan dari satelit TRMM menunjukkan di sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi selama Agustus sampai awal September curah hujan di bawah rata-rata (ditandai dengan warna kuning sampai coklat). Mengapa itu bisi terjadi? Dengan pengetahuan sains atmosfer, mari kita memahami terjadinya kemarau yang kering. Ini berbeda dengan kemarau 2010 yang cenderung basah (Baca https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/07/09/memahami-kemarau-basah-2010/).

Musim kemarau di Indonesia adalah kondisi periodik tahunan yang terjadi ketika matahari berada di belahan utara, yang normalnya terjadi antara Juni – Agustus.  Dengan pemanasan di belahan utara, maka tekanan udara di belahan Utara yang mengalami musim panas  menjadi lebih rendah daripada di belahan Selatan yang mengalami musim dingin. Dengan perbedaan tekanan udara itu, maka udara berpindah dari belahan Selatan ke Utara berupa angin musiman (angin monsun). Namun, arah pergerakan angin tidak lurus dari Selatan ke Utara, karena bumi kita berputar pada porosnya. Efek koriolis akibat rotasi bumi menyebabkan angin di belahan Selatan ekuator bergerak dari arah Tenggara ke Barat Laut. Kemudian setelah melintasi ekuator, angin membelok ke arah Timur Laut. Variasi arah angin di beberapa lokasi di pengaruhi oleh faktor tekanan udara lokal atau efek dinamika udara lokal.

(Dari http://www.bom.gov.au/australia/charts/grad_wind_anal_col.shtml)

Gambar aliran angin pasat dari belahan Selatan bergerak dari arah Tenggara lalu membelok ke arah Timur Laut. Pola angin seperti itu adalah pola normal selama kemarau. Pola-pola pusaran menunjukkan kondisi tekanan udara rendah (Low, L), tekanan udara tinggi (High, H), atau dinamika di wilayah peralihan di sekitar ekuator karena pusaran eddy (E).  Angin dari belahan Selatan tidak terus ke arah ktub Utara. Menjelang lintang menengah ada juga angin pasat yang bergerak dari Timur Laut ke arah Barat Daya. Angin dari belahan Utara ini kemudian berkonvergensi (menyatu)  menyebabkan udara hangat menaik sambil membawa uap air yang membentuk awan konveksi yang menjulang.  Wilayah pertemuan angin dari belahan Selatan yang dingin dengan angin dari belahan Utara yang hangat menyebabkan terjadinya daerah pembentukan awan yang aktif yang dinamakan ITCZ (Intertropical Convergence Zona, Zona Penyatuan Wilayah Tropis) yang sering juga disebut oleh para pelaut sebagai “Doldrums”.

(Dari http://www.ux1.eiu.edu/~cfjps/1400/circulation.html)

(Dari Wikipedia)

ITCZ yang tampak sebagai gugusan awan yang tebal umumnya mengikuti wilayah daratan membentang mengelilingi bumi. Di wilayah ITCZ itu sering terjadi pusat badai tropis. Itu sebabnya sekitar Juli-Agustus merupakan musim badai tropis di sekitar Filipina sampai China.  ITCZ mencapai posisi paling Utara sekitar bulan Juli yang dari segi waktu merupakan puncak musim kemarau. Dengan bergesernya daerah konvergensi ke Utara, maka daerah pembentukan awan di wilayah Indonesia juga berkurang. Inilah yang menyebabkan berkurangnya hujan saat msuim kemarau. Kemudian ITCZ akan kembali bergeser ke Selatan secara perlahan.

(Dari http://moklim.dirgantara-lapan.or.id/content/ir1-overlay dengan penambahan gambaran ITCZ)

Sampai awal September ini ITCZ masih berada di Utara wilayah Indonesia. Itu pula sebabnya peluang hujan masih rendah di wilayah Indonesia karena daerah pembentukan awan masih di luar wilayah Indonesia. Efek kekeringan bukan hanya disebabkan bergesernya daerah pembentukan awan secara reguler ke Utara, tetapi yang juga harus diperhatikan adalah massa uap air yang dibangkitkan oleh pemanasan laut di sekitar Indonesia. Ketika laut di wilayah Indonesia relatif lebih dingin dari rata-rata, maka peluang pembentukan uap air pun menjadi minim.

(Dari http://www.ncdc.noaa.gov/oa/climate/research/sst/weekly-sst.php )

Data  satelit menunjukkan pada akhir Agustus 2012,  suhu permukaan laut di sekitar Indonesia lebih dingin dari rata-rata (ditunjukkan dengan warna hijau sampai biru muda) sehingga pembangkitan uap air di wilayah Selatan Indonesia menjadi sangat minim, di bawah rata-rata. Itu pula yang menyebabkan  kemarau 2012 menjadi kemarau yang kering.

Kapan akan berakhir? Secara normal, September – November adalah masa peralihan ketika matahari mulai bergerak ke Selatan. Itulah musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. ITCZ mulai bergeser ke Selatan. Daerah pembentukan awan mulai kembali memasuki Indonesia yang menandai berakhirnya  musim kemarau. Pada musim pancaroba hujan sesekali turun, walau kadang bersifat lokal. Kemudian secara normal Desember-Februari  akan menjadi musim hujan ketika ITCZ berada di wilayah Indonesia. Namun, bila kondisi suhu permukaan laut di sekitar Indonesia masih relatif dingin di tambah efek El Nino lemah (ditandai dengan suhu permukaan laut di Pasifik yang relatif tinggi, lihat peta anomali suhu permukaan laut di Pasifik yang berwarna merah), maka massa uap air pembentuk awan cenderung berkurang juga. Kalau itu masih terjadi, maka diprakirakan akhir musim kemarau pada umumnya agak tertunda.  Namun, berakhirnya musim kemarau setiap daerah akan dipengaruhi juga oleh kondisi lokal yang terkait dengan faktor-faktor pembentukan awan dan penyebarannya. Jadi, memantau pergeseran ITCZ bisa membantu memprakirakan secara garis besar masuknya musim hujan, walau variasi tiap daerah bisa saja terjadi tergantung kondisi lokalnya.

 

Iklan

10 Tanggapan

  1. Subhanallah, smg ini menjd awal yg baik utk Indonesia, Desember – Februari musim hujan? semoga, sama spt kasus 2010, basah ttp kering mengapa qt tdk meneliti dr arah yg ada di dalam bumi, pergerakan magma, dan seberapa besar gas yg dimiliki Indonesia saat itu dan saat ini lalu qt membandingkannya shg ada kesimpulan, ada hal yg menarik jk qt meneliti apakah sumber mata air di bbrp gunung berapi masih berfungsi, jk banyak yg berkurang tentu prediksiq slm ini tak jauh beda spt pakar dr Brazil, ttp klo sy terbuka di sini njenengan akan menghapus krn bbrp hal yg tdk saya mengerti mengapa harus dihapus, mungkin itu utk tdk dijadikn oleh bbrp org yg tdk brtanggung jawab atas informasi dr sy

    • ada kekhawatiran yg mendalam dr analisaq ttg kondisi saat ini, kondisi skrg tdk jauh beda spt kasus Nabi Nuh dan anaknya Kan’an, mungkin belum ada penelitian ttg peristiwa tsb, apakah air bah yang menenggelamkan pegunungan ato pegunungan itu sendiri yg turun ke dasar laut, ciri2 alam yg ada di Indonesia tidak jauh beda, Prof,
      jk njenengan tdk respek ato pun qt, qt yg mengerti bakal mendpt prtanyaan di Padang Mahsyar nnt

  2. Kenapa pemerintah membiarkan keamarau berkepanjangan, padahal pada masa B.J.Habibie langsung dikeluarkan dana untuk pembuatan hujan buatan.Ada sense of crisis. Edukasi kesadaran lingkungan juga tidak cukup jika hanya melalui pelajaran PLH dalam kurikulum pendidikan formal.Penghijauan lahan kritis jangan hanya wacana, letapi harus ada action yang nyata jangan hanya seremonial saja pada setiap memperingati hari lingkungan hidup. Menanam pohon, tapi tak ada tindak lanjut.Seharusnya berkelanjutan,dipantau pohon yang ditanam tumbuh apa mati.kakija(kanan-kiri jalan),kakisu(kanan kiri sungai), seharusnya bisa dihijaukan secara swadaya asal ada contoh dan dorongan dari pemda.Pak Prof bisa mensponsori persatuan umat Islam lewat agenda gerakan penghijauan lahan kering dengan membuat pemetaan lahan kritis,bekerja sama dengan kementerian LH.Peta-peta sebarkan ke Pemda, evaluasi secara periodik perkembangannya.Pemuda Muhammadiyah,Persis,NU dilibatkan bersama,hasilnya pasti lebih positip,produktif,umat bisa bersatu dalam proyek-proyek lingkungah hidup dan kemanusiaan. Soal wujudul hilal,Imkanur rukyat dan rukyat, biar diurus oleh ormas masing-masing.Oke Prof?.

    • Setuju sob prlu reboisasi, sebnarny teori RPP bs digunakn sbg teori mendatangkn hujan n angin, hrus smua pihak kerjasama, Insya Allah hujan lebih terukur n bs istiqomah, tdk prlu banyak dana, solusinya da di Al Qur’an n doa jg tak lupa istighfar yg banyak, ttg WH n VH, itu peluang Prof menambah pundi2 amal jariyah, klo Beliau meninggalkn masalah ke2nya, umat ini spt naik mobil tanpa roda, acuh tak acuh aq selama 1 th hanya membuatq menyesal, mungkin org pilir ngapain pikirin ikan jatul d sungai2, mrk sehrusnya bs lebih lama hidup, mungkin ilmu yg dinrikan Allah pdq bs membantu ikan2 tsb, astaghfirullah aq cuek setlah namaq dihancurkn di sini, smg Allah sadarkn mrk n ampuni mrk

  3. Klo melihat tanda2 ciptaan Allah keberkahan ada d negeri, tp q khawatirkan Jakarta, siap ndak? Smg masyarakat Jakarta bs bekerja sama dgn Pemerintah baru, smg tanda2 ini menandakan akan munculnya or kembalinya sumber air d bbrp daerah d Indonesia, smg Allah tanamkan sifat amanah pd pemimpin2 negeri ini, amiiin

    • Prof Insya Allah gas metan yg keluar dr sumur d Mesuji bnar, klo bs dikelola bangsa sendiri, jangan trlalu brlebihan, akan banyak tanda2 bukti kekuasaan Allah d negeri ini, haram d kelola asing ato individu, itu milik rakyat, Prof, klo qt bs jaga potensi SDA d negeri sekecil apapun, Insya Allah, Allah tulis kemaslahatan d negeri ini scr keseluruhan

      • Mungkin sebagian org brpikir BMKG meleset prediksinya, tp aq menafsirkan lain, segala bentuk informasinya bs membantu negeri ini n bs jadi Allah tulis buat mrk yg beriman dr kalangan BMKG sbg amal jariyah, teruskan sobat2q perjuanganmu

  4. Ada warga Kertosono bilang, Alhamdulillah sumurku masih keluar airnya, tdk sama dgn trkena bencana, qt lupa Kertosono prnah alami kekeringan tdk hanya sungai namun sumur2 jg alami kekeringan, teori RPP memprjelas klo qt cuek thdp bencana yg dialami sodara qt jauh d sana, qt akan trkena juga,
    Hmmm, q dengar HUT TNI datangkn makhluk2 pendatang murka Allah, ginini yg ngga beres, asing dr dulu sedang siap2, eh mendatangkan ulama or pejuang sekelas Pak Sudirman kek, malah datangin pembangkit syahwat, smg Allah memberi mrk kekuatan iman, amiiin

  5. smua hrus fokus k analisa PVMBG, Surono,
    apabila gunung2 meletus,
    haram hukumnya bangsa ini brsukacita,
    haram hukumnya menyerahkn kekayaan gas alam k pihak asing,
    haram hukumnya acuh tak acuh melihat saudara baik muslim maupun non muslim menderita,
    WAJIB HUKUMNYA, membantu mrk nnt,
    klo negeri ini tau teori Reboisasi Padang Pasir, negeri ini akan sangat brterima kasih kpd daerah2 yg trkena bencana,
    Haram tertawa2,
    sampaikan salamq smg Allah menjaganya dlm mengemban tugas berat ini, n membrikn pahala trus menerus kpd Beliau,
    bbrp daerah uda mengalami hujan,
    n banyak2 istighfar dan syukur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: