Cuaca Ekstrem di Eropa Berdampakkah ke Indonesia?


T. Djamaluddin

Peneliti Hubungan Matahari-Bumi

Deputi Sains, LAPAN

(Membawahi Pusat Sains Atmosfer dan Pusat Sains Antariksa)

Gambar  dari http://www.wunderground.com/

Akhir Januari – awal Februari 2012 Eropa dilanda cuaca ekstrem yang sangat dingin. Lebih dari 150 orang meninggal dunia karena kedinginan. Peta suhu pada awal Februari 2012 (peta di atas) menunjukkan banyak wilayah yang suhunya turun 24 derajat dari rata-ratanya, bahkan ada wilayah yang suhunya mencapai jauh di bawah titik beku es, sampai -32 derajat. Banyak orang bertanya, apa yang sesungguhnya terjadi dan apakah cuaca ekstrem di Indonesai terkait juga dengan cuaca ekstrem di Eropa? Ringkasnya, cuaca esktrem di Eropa dipicu oleh fenomena rutin setiap musim dingin, antisiklon (daerah tekanan tinggi) Siberia, tetapi dengan intensitas yang lebih kuat.  Dalam skala global, antisiklon Siberia berhubungan juga dengan aliran angin di Indonesia, tetapi cuaca ekstrem di Indonesia bukan disebabkan oleh antisiklon Siberia. Cuaca ekstrem akhir Januari – awal Februari di Indonesia disebabkan oleh siklon tropis di Selatan Indonesia. Dalam bahasa sederhana, antisiklon terjadi di wilayah musim dingin bermula dari daratan yang relatif dingin dengan tekanan udara tinggi yang menyebabkan embusan angin dingin ke daerah sekitarnya. Sedangkan siklon (badai topan) terjadi di wilayah musim panas bermula di lautan yang relatif lebih hangat dengan tekanan udara rendah yang menyebabkan sedotan angin dari daerah sekitarnya.

(Gambar dari http://weather.cypenv.eu/)

Antisiklon terbentuk di Utara Rusia dari daerah tekanan tinggi di Siberia. Pada awal Februari tekanan udaranya pada setinggi permukaan laut mencapai 1.064 hPa (hektopaskal), dari rata-rata global 1.013 hPa (lihat gambar di atas). Daerah tekanan tinggi dipicu oleh daerah yang relatif dingin di daratan Siberia yang memicu embusan angin dingin ke wilayah Eropa Timur dan sekitarnya. Angin dingin ini bertemu dengan udara lembab dari wilayah Mediterania sekitar Laut Tengah yang memicu turunnya hujan salju yang lebat di Eropa Timur, lalu menyebar hampir ke seluruh Eropa. Embusan angin dari antisiklon Siberia ini juga menghambat angin hangat dari Atlantik. Jadilah Eropa dilanda cuaca ekstrem yang sangat dingin.

Terkaitkah dengan cuaca ekstrem di Indonesia yang ditandai dengan angin kencang di sebagian Sumatera, seluruh Jawa, Nusatenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua pada akhir Januari sampai awal Februari? Dari segi dinamika atmosfernya, antisiklon Siberia dampaknya bisa sampai ke Indonesia, tetapi dengan skala yang sudah melemah. Cuaca ekstrem di Indonesia dipicu oleh mekanisme siklon yang dipicu oleh pembentukan daerah tekanan rendah di Selatan Indonesia. Daerah tekanan rendah yang kemudian tumbuh menjadi badai bersifat menyedot udara di sekitarnya yang kita rasakan sebagai angin kencang. Penelitian oleh Zhang et al. (1997) menunjukkan bahwa antisiklon Siberia berdampak pada embusan angin dingin (cold surge) ke wilayah Cina Selatan. Selanjutnya dari Cina Selatan angin dingin itu bisa menyebar sampai ke wilayah Indonesia.

(Gambar dari Zang et al., 1997)

Untuk lebih mudah menjelaskan  fenomena ekstrem di Eropa dan di Indonesia, coba perhatikan peta global tekanan udara rata-rata dan anomalinya selama Januari 2012:

Terlihat tekanan udara yang tinggi berada di sekitar Rusia dengan tekanan rata-rata sekitar 1.034 hPa (lebih tinggi dari rata-rata 1.013 hPa) dan daerah tekanan rendah terjadi di sekitar Indonesia dengan tekanan rata-rata 1.006 hPa (lebih rendah dari rata-rata). Perbedaan tekanan itulah yang menyebabkan terjadinya angin, yaitu perpindahan udara dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah. Artinya, secara sekilas kita bisa memahami bahwa pada musim dingin angin mengalir dari belahan Utara ke Selatan. Pembelokan angin disebabkan oleh efek koriolis yang terkait dengan rotasi bumi (penjelasannya ada di sini). Dalam kondisi normal, yang terjadi adalah angin pasat biasa saja, di Eropa musim dingin normal dan di Indonesia musim hujan normal. Tetapi, coba perhatikan anomali (penyimpangannya). Tekanan udara di Siberia meningkat 14 hPa dari rata-ratanya, yang terkait dengan munculnya antisiklon Siberia. Sedangkan di Selatan Indonesia tekanan udara turun 2 hPa dari rata-ratanya yang terkait dengan pembentukan siklon tropis. Analisis tekanan udara harian bisa menjelaskan lebih rinci potensi cuaca ekstrem semacam itu. Angin dingin dari Siberia yang memicu embusan angin dingin (cold surge) di Cina Selatan mungkin sedikit kita rasakan di Indonesia dengan udara yang lebih sejuk, tetapi kecepatannya sudah sangat lemah, jadi tidak terkait dengan angin kencang di Indonesia. Angin kencang lebih disebabkan karena adanya sedotan daerah tekanan rendah di Selatan Indonesia.

Ada pendapat yang mengaitkan embusan angin dingin (cold surge) di Cina Selatan yang menyebar ke Indonesia dengan potensi hujan lebat di Indonesia Barat. Saya berpendapat itu belum tentu, karena hujan lebih terkait dengan proses konveksi pembentukan awan, khususnya di zona konvergensi (ITCZ) yang merupakan daerah pertemuan angin dari Utara dan Selatan. Kalau di Selatan Indonesia dalam kondisi normal, tidak ada daerah tekanan rendah, mungkin saja angin hangat yang lembab dari Selatan bertemu dengan angin dingin dari Utara akan memicu pembentukan awan yang lebih efektif sehingga berpotensi terjadi hujan lebat. Pada kasus akhir Januari – awal Februari 2012, adanya daerah tekanan rendah di Selatan Indonesia yang tumbuh menjadi siklon (badai)  tropis Iggy dan di Tenggara Indonesia yang tumbuh menjadi siklon tropis Jasmine, membuyarkan konveksi pembentuk awan hujan sehingga hujan cenderung berkurang. Kajian Zhang et al. (1997) menunjukkan bahwa lemahnya hubungan embusan angin dingin (cold surge) dengan hujan di benua maritim Indonesia, salah satu sebabnya adalah ada faktor dominan lain yang lebih mempengaruhi curah hujan di Indonesia seperti MJO (Madden-Julian Oscillation).

Iklan

4 Tanggapan

  1. Bapak Thomas Jamaludin yang terhormat, dengan hormat saya mohon untuk menulis artikel tentang mekanisme sidang isbat kementerian agama, yang meliputi proses dalam sidang (agenda acara dalam rapat), mekanisme pengambilan keputusan, dan siapa saja yang hadir dalam rapat tersebut. Artikel tersebut untuk keperluan Saya dalam melakukan penelitian untuk tugas akhir S1. Terima Kasih dan saya tunggu balasanya bapak.

    hiday4t_78@yahoo.co.id

  2. Terima kasih bapak, tapi saya mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sangat jauh untuk datang kesana…

  3. Reblogged this on iwanb86.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: