Presentasi di Diklat Lajnah Falakiyah PBNU 2006: “Imkan Rukyat: Parameter Penampakan Sabit Hilal dan Ragam Kriterianya”


T. Djamaluddin

Pengantar: Sebagai peneliti astronomi yang tak berafiliasi dengan ormas Islam tertentu, saya sering diundang berbagai ormas Islam (terutama NU, Muhammadiyah, dan Persis) untuk memaparkan konsep-konsep astronomi terkait dengan hisab-rukyat. Saya selalu mengkritisi praktek-praktek hisab rukyat di Ormas Islam yang mengundang untuk penyempurnaan metode dan kriteria yang mereka gunakan agar bisa mengarah pada penyatuan kalender Islam. Astronomi bisa membantu mempersatukan rukyat dan hisab dengan kriteria imkan rukyat. Berikut ini salah satu presentasi saya dalam Diklat Hisab Rukyat yang diselenggaran oleh Lajnah Falakiyah PBNU di Cirebon pada 2006. File presentasi dan makalah lengkapnya dalam format PDF dapat didownload di bawah ini.

Presentasi lengkap: NU-Diklat-Imkan Rukyat-Presentasi

Makalah lengkap: NU-Diklat-Imkan Rukyat-makalah

Makalah ini juga dipublikasi di Republika 14 September 2006.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Jika Ka’bah dijadikan garis bujur 0 derajat, rasanya tepat sekali. Alasannya :

    1) Sesuai yang bapak sampaikan, merupakan titik pangkal perkembangan manusia

    2) dengan demikian garis batas tanggal membelah Samudera Pasifik pada wilayah perairan yang boleh dikatakan kosong (tanpa pulau/manusia)

    3) Ada yang menduga bahwa Ka’bah itu dulu merupakan Kutub Utara bumi dan Kutub Selatan nya adalah Lautan Pasifik (arah ke Amerika Latin). Pergeseran kutub bumi terjadi pada Zaman Nabi Nuh (bersamaan banjir bandang Zaman Nabi Nuh). Masih menurut dugaan itu, peristiwa bergesernya kutub bumi itu disebabkan oleh pergeseran orbit planet Mars yang sangat berpengaruh kepada posisi bumi. Adalah logis kalau Ka’bah (yang dulunya diduga sebagai kutub utara bumi) merupakan titik/garis bujur 0 derajat sebagaimana Pak Ivan sampaikan. Dengan bergesernya kutub bumi, maka bumi mengalami kemiringan (tilt) sebesar 22,5 derajat.

    Terlepas dari benar/salahnya alasan nomor 3), ada fakta alam yang sesunggunhnya memperkuat dugaan itu. Antara lain, jazirah Arab kaya akan minyak, demikian juga Negara Venezuela (yang berdekatan dengan dugaan ex kutub selatan). Lalu, dalam ibadah haji dikenal satu ritual yaitu lari2 mengelilingi Ka’bah. Arah larinya berlawanan dengan arah jarum jam (searah rotasi bumi). Ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan dugaan Ka’bah sebagai awal kutub utara tersebut. Memang di Alquran tidak disinggung soal itu, tapi yang namanya dugaan boleh saja.

    Kalau kita sedikit mencermati bola bumi (globe) sesuai yang dikatakan Pak Ivan, memang posisi2 daratan (benua) dan pulau2 telah diatur sedemikian rupa, dan pantas Ka’bah merupakan titik/garis bujur 0 derajat dan Samudera Pasifik (lebih kurang sepertiga arah daratan Amerika Latin) sebagai garis batas tanggal internasional, baik Masehi (syamsiah) maupun Hijriyah (qomariah), bukan ke arah Australia sebagaimana yang sekarang. Lalu mengapa seperrtiga arah daratan Amerika Latin? Boleh jadi pada lokasi itu, masa (gap) antara masuk tanggal sampai masuk tanggal bagi kawasan benua Australia dan kepulauan di sekitarnya berlangsung agak cukup lama (pergerakan gelap malam yang melintasi 2/3 Samudera Pasifik berlangsung cukup lama).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: